Está en la página 1de 16

KORTIKOSTEROID

CRISTOPHER ELLON
17330041
PENDAHULUAN

Kortikosteroid adalah obat yang memiliki efek sangat


luas sehingga banyak digunakan untuk mengobati
berbagai penyakit. Meskipun kortikosteroid
mempunyai efek terapi yang luas, tetapi
penggunaannya dalam jangka panjang menimbulkan
berbagai efek samping yang dapat merugikan pasien.
Efek samping yang muncul akibat penggunaan
kortikosteroid diantaranya gangguan keseimbangan
cairan elektrolit, ulkus pepticum, infeksi / penurunan
sistem imun, miopati, osteoporosis, osteonekrosis,
gangguan pertumbuhan (Azis, 2011).
TUJUAN
Mengetahui pengertian kortikosteroid

Mengetahui mekanisme kerja kortikosteroid

Mengetahui dosis dan mekanisme pemberian

Mengetahui klasifikasi kortikosteroid

Mengetahui penggunaan klinik kortikosteroid

Mengetahui efek samping kortikosteroid

Mengetahui Penanganan efek samping kortikosteroid


PENGERTIAN
Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan
di bagian korteks kelenjar adrenal sebagai tanggapan atas
hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang dilepaskan oleh kelenjar
hipofisis. Hormon ini berperan pada banyak sistem fisiologis pada
tubuh, misalnya tanggapan terhadap stres, tanggapan sistem
kekebalan tubuh, dan pengaturan inflamasi, metabolisme karbohidrat,
pemecahan protein, kadar elektrolit darah, serta tingkah laku.
MEKANISME KERJA

Metabolisme kortikosteroid sintetis sama dengan kortikosteroid


alami. Kortisol (juga disebut hydrocortison) memiliki berbagai
efek fisiologis, termasuk regulasi metabolisme perantara,
fungsi kardiovaskuler, pertumbuhan dan imunitas. Sintesis dan
sekresinya diregulasi secara ketat oleh sistem saraf pusat yang
sangat sensitif terhadap umpan balik negatif yang ditimbulkan
oleh kortisol dalam sirkulasi dan glukokortikoid eksogen
(sintetis). Kortisol dan analog sintetiknya dapat mencegah atau
menekan timbulnya gejala inflamasi akibat radiasi, infeksi, zat
kimia, mekanik, atau alergen. Secara mikroskopik obat ini
menghambat fenomena inflamasi dini yaitu edema, deposit
fibrin, dilatasi kapiler, migrasi leukosit ke tempat radang dan
aktivitas fagositosis. Selain itu juga dapat menghambat
manifestasi inflamasi yang telah lanjut yaitu proliferasi kapiler
dan fibroblast, pengumpulan kolagen dan pembentukan
sikatriks
DOSIS DAN MEKANISME
PEMBERIAN

Pada saat memilih kortikosteroid topikal dipilih yang


sesuai, aman, efek samping sedikit dan harga murah,
disamping itu ada beberapa faktor yang perlu di
pertimbangkan yaitu jenis penyakit kulit,
jenis vehikulum, kondisi penyakit yaitu stadium penyakit,
luas/tidaknya lesi, dalam/dangkalnya lesi dan lokalisasi
lesi. Perlu juga dipertimbangkan umur penderita. Steroid
topikal terdiri dari berbagai macam vehikulum dan bentuk
dosis.
Kortikosteroid secara sistemik dapat diberikan
secara intralesi, oral, intramuskular, intravena.
Ada beberapa cara pemakaian dari
Pemilihan preparat yang digunakan tergantung
kortikosteroid topikal, yakni :
dengan keparahan penyakit. Pada suatu
1. Pemakaian kortikosteroid topikal poten penyakit dimana kortikosteroid digunakan
tidak dibenarkan pada bayi dan anak. karena efek samping seperti pada alopesia
areata, kortikosteroid yang diberikan adalah
2. Pemakaian kortikosteroid poten orang
kortikosteroid dengan masa kerja yang
dewasa hanya 40 gram per minggu, sebaiknya
panjang. Kortikosteroid biasanya digunakan
jangan lebih lama dari 2 minggu. Bila lesi
setiap hari atau selang sehari. Initial dose yang
sudah membaik, pilihlah salah satu dari
dIgunakan untu mengontrol penyakit rata-rata
golongan sedang dan bila perlu diteruskan
dari 2,5 mg hingga beberapa ratus mg setiap
dengan hidrokortison asetat 1%.
hari. Dosis yang paling kecil dengan masa
3. Jangan menyangka bahwa kortikosteroid kerja yang pendek dapat diberikan setiap pagi
topikal adalah obat mujarab (panacea) untuk untuk meminimal efek samping karena
semua dermatosis. Apabila diagnosis suatu kortisol mencapai puncaknya sekitar jam 08.00
dermatosis tidak jelas, jangan pakai pagi dan terjadi umpan balik yang maksimal
kortikosteroid poten karena hal ini dapat dari seekresi ACTH. Sedangkan pada malam
mengaburkan ruam khas suatu dermatosis. hari kortikosteroid level yang rendah dan
Tinea dan scabies incognito adalah tinea dan dengan sekresi ACTH yang normal sehingga
scabies dengan gambaran klinik tidak khas dosis rendah dari prednison (2,5 sampai 5mg)
disebabkan pemakaian kortikosteroid. pada malam hari sebelum tidur dapat
digunakan untuk memaksimalkan supresi
adrenal pada kasus akne maupun hirsustisme.
KLASIFIKASI
Meskipun kortikosteroid mempunyai berbagai macam aktivitas
biologik, umumnya potensi sediaan alamiah maupun yang sintetik
ditentukan oleh besarnya efek retensi natrium dan penyimpanan
glikogen di hepar atau besarnya khasiat anti-inflamasinya. Sediaan
kortikosteroid sistemik dapat dibedakan menjadi tiga golongan
berdasarkan masa kerjanya, potensi glukokortikoid, dosis ekuivalen
dan potensi mineralokortikoid.
Tabel perbandingan potensi relatif dan dosis ekuivalen
beberapa sediaan kortikosteroid
Potensi
Dosis ekuivalen
Kortikosteroid Lama kerja
Mineralkortikoid Glukokortikoid (mg)

Glukokortikoid
Kortisol (hidrokortison) 1 1 S 20

Kortison 0,8 0,8 S 25


6-α-metilprednisolon 0,5 5 I 4
Prednisone 0,8 4 I 5
Prednisolon 0,8 4 I 5
Triamsinolon 0 5 I 4
Parametason 0 10 L 2
Betametason 0 25 L 0,75
Deksametason 0 25 L 0,75
Mineralokortikoid
Aldosteron 300 0.3 S -
Fluorokortison 150 15.0 I 2.0
Desoksikortikosteron 20 0.0 - -
asetat
* hanya berlaku untuk pemberian oral atau IV.
S = kerja singkat (t1/2 biologik 8-12 jam)
I = intermediate, kerja sedang (t1/2 biologik
12-36 jam)
L = kerja lama (t1/2 biologik 36-72 jam)

 Pada tabel diatas terlihat bahwa triamsinolon, parametason, betametason,


dan deksametason tidak mempunyai efek mineralokortikoid. Hampir semua
golongan kortikosteroid mempunyai efek glukokortikoid. Pada tabel ini
obat disusun menurut kekuatan (potensi) dari yang paling lemah sampai
yang paling kuat. Parametason, betametason, dan deksametason
mempunyai potensi paling kuat dengan waktu paruh 36-72 jam. Sedangkan
kortison dan hidrokortison mempunyai waktu paruh paling singkat yaitu
kurang dari 12 jam. Harus diingat semakin kuat potensinya semakin besar
efek samping yang terjadi. Efektifitas kortiksteroid berhubungan dengan 4
hal yaitu vasokonstriksi, antiproliferatif, immunosupresif dan antiinflamasi.
Pada tabel diatas terlihat bahwa triamsinolon, parametason, betametason, dan
deksametason tidak mempunyai efek mineralokortikoid. Hampir semua golongan
kortikosteroid mempunyai efek glukokortikoid. Pada tabel ini obat disusun menurut
kekuatan (potensi) dari yang paling lemah sampai yang paling kuat. Parametason,
betametason, dan deksametason mempunyai potensi paling kuat dengan waktu paruh
36-72 jam. Sedangkan kortison dan hidrokortison mempunyai waktu paruh paling
singkat yaitu kurang dari 12 jam. Harus diingat semakin kuat potensinya semakin besar
efek samping yang terjadi. Efektifitas kortiksteroid berhubungan dengan 4 hal yaitu
vasokonstriksi, antiproliferatif, immunosupresif dan antiinflamasi.
PENGGUNAAN KLINIK

Kortikosteroid topikal dengan potensi kuat belum tentu


merupakan obat pilihan untuk suatu penyakit kulit. Perlu
diperhatikan bahwa kortikosteroid topikal
bersifat paliatifdan supresif terhadap penyakit kulit dan bukan
merupakan pengobatan kausal. Biasanya pada kelainan akut
dipakai kortikosteroid dengan potensi lemah contohnya pada
anak-anak dan usia lanjut, sedangkan pada kelainan subakut
digunakan kortikosteroid sedang contonya pada dermatitis
kontak alergik, dermatitis seboroik dan dermatitis
intertriginosa. Jika kelainan kronis dan tebal dipakai
kortikosteroid potensi kuat contohnya pada psoriasis,
dermatitis atopik, dermatitis dishidrotik, dan dermatitis
numular. Pada dermatitis atopik yang penyebabnya belum
diketahui, kortikosteroid dipakai dengan harapan
agar remisi lebih cepat terjadi. Yang harus diperhatikan adalah
kadar kandungan steroidnya.
Pada pemberian kortikosteroid sistemik yang paling banyak digunakan adalah
prednison karena telah lama digunakan dan harganya murah. Bila ada gangguan hepar
digunakan prednisolon karena prednison dimetabolisme di hepar menjadi prednisolon.
Kortikosteroid yang memberi banyak efek mineralkortikoid jangan dipakai pada
pemberian long term (lebih daripada sebulan). Pada penyakit berat dan sukar menelan,
misalnyatoksik epidermal nekrolisis dan sindrom Stevens-Jhonson harus diberikan
kortikosteroid dengan dosis tinggi biasa secara intravena. Jika masa kritis telah diatasi
dan penderita telah dapat menelan diganti dengan tablet prednison.
EFEK SAMPING
KORTIKOSTEROID

Manfaat yang diperoleh dari penggunaan glukokortikoid sangat


bervariasi. Harus dipertimbangkan dengan hati-hati pada setiap
penderita terhadap banyaknya efek pada setiap bagian organism ini.
Efek utama yang tidak diinginkan dari glukokortikoidnya dan
menimbulkan gambaran klinik sindrom cushing iatrogenik. Jika
diberikan dalam jumlah lebih besar dari jumlah fisiologi, steroid
seperti kortison dan hidrokortison yang mempunyai efek
mineralokortikoid selain efek glukokortikoid, dapat menyebabkan
retensi natrium dan cairan serta hilangnya kalium. Pada penderita
dengan fungsi kardiovaskular dan ginjal normal, hal ini dapat
menimbulkan alkalosis hipokloremik hipokalemik, dan akhirnya
peningkatan tekanan darah. Pada penderita hiponatremia, penyakit
ginjal, atau penyakit hati, dapat terjadi edema. Pada penderita penyakit
jantung, tingkat retensi natrium yang sedikit saja dapat menyebabkan
gagal jantung kongestif.
PENANGANAN EFEK SAMPING
KORTIKOSTEROID

 Penanganan yang disarankan untuk saat ini pada penderita


yang mendapatkan efek samping kortikosteroid adalah dengan
melakukan penurunan konsumsi dosis kortikosteroid secara
perlahan-lahan (tapering off). Jika timbul diabetes, diobati
dengan diet dan insulin. Sering penderita yang resisten dengan
insulin, namun jarang berkembang menjadi ketoasidosis. Pada
umumnya penderita yang diobati dengan kortikosteroid
seharusnya diberi diet protein tinggi, dan peningkatan
pemberian kalium serta rendah natrium seharusnya digunakan
apabila diperlukan.
Thank you