Está en la página 1de 139

PRODI - S1 AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS GUNADARMA
Pokok Bahasan :

1. Pembukuan
2. Hubungan akuntansi pajak dengan
akuntansi komersial
3. Konsep dasar dan tujuan akuntansi pajak

2
A. Pentingnya Pembukuan Untuk
Perpajakan

Informasi pembukuan diperlukan untuk


menghitung pajak terhutang dan verifikasi,
serta pemeriksaan dan investigasi terhadap
kebenaran penghitungan jumlah utang
pajak tersebut.

3
 Pentingnya pembukuan untuk perpajakan :

1. Mempermudah Wajib Pajak (WP)


mengisi SPT.
2. Mempermudah perhitungan pengahsilan
kena pajak.
3. Penyajian informasi tentang posisi
financial dan hasil usaha untuk bahan
analisis atau pengambilan keputusan
ekonomi perusahaan.
4
B. Persyaratan Pembukuan

1. Diselenggarakan dengan itikad baik dan mencerminkan


keadaan yang sebenarnya
2. Sekurang-kurangnya terdiri dari catatan tentang harta,
kewajiban, utang, modal, penghasilan dan biaya, serta
penjualan dan pembelian
3. Ditutup setiap akhir tahun dengan membuat Neraca dan
Laporan L/R berdasarkan prinsip pembukuan yang taat
azas (konsisten) dengan tahun sebelumnya.
4. Diselenggarakan dengan huruf latin, angka Arab, dengan
bahasa Indonesia dan satuan mata uang rupiah (atau
dengan bahasa Inggris dan mata uang US$ dengan ijin
Menteri Keuangan.
5. Pembukuan dan dokumen yang menjadi dasarnya serta
dokumen lain yang berhubungan dengan kegiatan usaha
(pekerjaan bebas) harus disimpan selama 10 tahun.
5
C. Sanksi Tidak Diselenggarakannya Pembukuan

WP yang sudah mampu melakukan pembukuan


untuk tujuan Pajak, namun tidak
melakukannya :
penghasilan netonya dihitung berdasar norma
perhitungan, pajak yang kurang dibayar dari
hasil
penerapan norma perhitungan akan dikenai
sanksi
berupa kenaikan pajak 50% atau 100% dari
pajak
yang kurang dibayar (pasal 13 ayat 3) UU KUP.
6
A. Tujuan Akuntansi

 Komersial
Menyediakan laporan & informasi keuangan
serta info lain kepada pihak pengambil
keputusan.
 Pajak
Menyajikan laporan keuangan & informasi lain
(tax compliance) kepada administrasi pajak.
 UU Pajak memiliki prioritas untuk dipatuhi di
atas praktek dan kelaziman akuntansi

7
B. Lembaga Pembuat Ketentuan
Metode, prosedur dan teknik akuntansi
dipengaruhi hukum pajak berdasarkan :
 UU Perpajakan
 Peraturan pemerintah
 Keputusan Presiden
 Keputusan Menteri
 Keputusan Direktorat Jenderal Pajak

Keputusan pengadilan pajak merujuk kepada ketentuan


akuntansi perpajakan seperti :Majelis pertimbangan
pajak,
peradilan tata usaha negara, peradilan pidana, dan
lembaga peradilan lainnya.

8
A. Konsep Dasar Akuntansi Perpajakan
 Tujuan Kebijakan Perpajakan :
1. Aspek Alokasi
Tax policy diarahkan pada sikap netral
(tidak/cenderung pengaruhi alokasi & diserahkan pada
mekanisme pasar).
2. Aspek Distribusi
Diarahkan untuk pengaruhi penyebaran pemilikan atau
penguasaan faktor-2 produksi dan pemerataan hasil
pembangunan.
3. Aspek Stabilisasi
dilakukan melalui politik perpajakan, dimana
pemerintah melakukan stabilitas ekonomi dengan
tingkat pendayagunaan tertentu, SDM, stabilitas harga
dan tingkat inflasi.
9
 Konsep dasar akuntansi berlaku umum
Laporan Keuangan Fiskal dan Komersial
meliputi :
 Accrual Basis : pengakuan transaksi saat
terjadi, dilaporkan pada periode tsb.
 Going Concern : mengasumsikan aktivitas
perusahaan akan tetap berlangsung terus.

10
B. Tujuan pelaporan keuangan perpajakan
Menyajikan informasi sebagai bahan
menghitung Penghasilan Kena Pajak,
terutama dalam sistem self assesment
sebagai laporan pertangungjawaban atas
kepercayaan menghitung pajak terhutang
bagi setiap WP.

C. Ciri kualitatif pelaporan keuangan perpajakan :


Sama dengan ciri kualitatif pelaporan akuntansi komersial meliputi :
1. Relevan
2. Dapat dimengerti
3. Keandalan
4. Dapat diperbandingkan

11
D. Sifat dan keterbatasan pelaporan keuangan
fiskal
1. Laporan Keuangan bersifat historis
2. Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari
penggunaanestimasi dan berbagai pertimbangan
3. Lebih mengutamakan hal yang material (tanpa
mengurangi kelengkapan materi)
4. Laporan keuangan terutama menekankan makna
ekonomis (substansi) setiap transaksi (tanpa, dalam
kondisi tertentu, memperhatikan bentuk yuridis
formalnya).
5. Terdapatnya alternatif yang dapat digunakan
mengakibatkan variasi dalam pengukuran sumber
ekonomis dan tingkat kesuksesan antar WP.
6. Informasi kualitatif, sedangkan fakta (yang tidak
mendasar) yang tidak dapat dikuantifikasikan umumnya
dikesampingkan.

12
Pokok Bahasan :
• Pendekatan Umum
• Perbedaan Orientasi Pelaporan
• Prinsip Akuntansi Sebagai Subyek
Perbedaan
• Proses Penyusunan

13
Pendekatan penyusunan laporan keuangan fiskal sebagai
solusi antara
ketentuan Akuntansi dan Pajak :

• Ketentuan pajak secara dominan mewarnai praktek


akuntansi.
 Terdapat dua pembukuan oleh perusahaan : ketentuan
pajak & praktek komersial
 Ketentuan pajak untuk tujuan penyusunan laporan
keuangan merupakan standar independen terpisah dari
prinsip akuntansi.
 Pembukuan perusahaan sesuai praktek komersial,
kemudian melakukan rekonsiliasi sesuai ketentuan
pajak.
 Ketentuan pajak merupakan sisipan terhadap standar
akuntansi
 Pembukuan perusahaan sesuai SAK, namun preferensi
diberikan pada ketentuan pajak jika ada pengaturan
yang tidak sejalan dengan SAK.
14
Terdapat perbedaan orientasi dan sifat pelaporan
komersial dan fiskal, walaupun saling terkait secara
ekstensif, terutama menyangkut tingkat toleransi
fleksibilitas pemilihan standar.

 Laporan Keuangan Komersialkonsep kewajaran


penyajiansolusi keraguan pengukuran : prinsip
konservatif

 Laporan Keuangan Fiskalmenyimpang dari konsep


kewajaranbergantung pada kebijakan & keputusan
otoritas perpajakan

15
A. Penetapan Beban Dan Pendapatan
 Praktek Komersial : pengakuan penghasilan pada
saat realisasi transaksi pertukaran &
pembebanan biaya dalam masa yang sama
dengan pengakuan penghasilan.
 Praktek Fiskal : kadang menyimpang dari prinsip
tersebut.

B. Konsistensi
 Praktek Komersial : penerapan metode,
kebijakan akuntansi yang konsisten dari tahun
ke tahun, kecuali ada alasan kuat penggantian.
 Praktek Fiskal : juga seperti komersial, tetapi
dalam konteks konsepsional ketentuan pajak
dapat menentukan lain.

16
C. Konservatisme

 Praktek Komersial : konservatis terhadap


transaksi yang belum terjadi fakta
pencadangan terhadap risiko kerugian.
 Praktek fiskal : menganut realitas, dengan
meneliti tiap elemen pengurang basis
pengenaan pajak, kecuali bank & asuransi

17
18
 Terdapat pembukuan ganda terhadap pos-pos yang
berbeda (timing difference) aantara ketentuan
perpajakan dengan standar akuntansi komersial untuk
kontinuitas rekonsiliasi.

 Perhitungan PPh berdasarkan laba akuntansi dan laba


kena pajak (perpajakan) menimbulkan selisih, dicatat
pada pos aktiva lain-lain di Neraca, yang secara teoritis
dialokasikan dari waktu ke waktu.

19
Pokok Bahasan :
 Kas dan Bank
 Sekuritas
 Deposito
 Wesel Tagih
 Piutang
 Persediaan
 Biaya dibayar di muka

20
Kas : Alat pembayaran yang siap dan bebas digunakan untuk membiayai
kegiatan umum perusahaan. PSAK 2 setara kas adalah investasi yang
sifatnya paling likuid, berjangka pendek dan dapat cepat dicairkan
menjai kas tanpa menghadapi risiko
Bank : sisa rekening giro perusahaan di bank yang dapat digunakan secara
bebas untuk membiayai kegiatan umum perusahaan.
Adapun yang bukan termasuk kas & bank yaitu dana yang disishkan
untuk tujuan tertentu seperti : perangko, cek mundur, cek kosong,
rekening giro pada bank luar negeri yang tidak dapat segera dibayar.

Bunga rekening giro :


 Akuntansi Komersial : dicatat sebagai pengahasilan
 Akuntansi Fiskal : tidak dicatat sebagai penghasilan, karena bunga
sudah dikenakan PPh dengan tarif final 20% dan tidak boleh digabung
dengan penghasilan yang lain (dikenakan tarif umum).

21
Merupakan surat berharga yang mudah diperjualbelikan untuk
investasi sementara memanfaatkan dana yang tidak digunakan
(secondary cash reserves).

Jenis Sekuritas :
a. Saham Biasa & Saham Preferen
Penghasilan dari Saham : dividen, saham bonus, hak membeli emisi
saham & capital gains. Penghasilan dividen tidak dikenakan pajak.
 Praktek Komersial :
Mencatat nilai sekuritas berdasarkan Cost Method & Lower Cost or
Market
 Praktek Fiskal :
Mencatat nilai sekuritas berdasarkan Cost Method
Penghasilan dari penjualan saham tidak perlu dilaporkan dalam SPT
dan dikonsolidasikan dengan penghasilan lainnya yang tidak
dikenakan pajak final.
22
b. Obligasi
Bunga Obligasi dihitung sebagai penghasilan PPh
yang dipungut atas bunga obligasi tidak boleh
dikapitalisasi, tetapi harus dicatat sebagai pajak
yang dibayar di muka (pasal 23).

c. Sekuritas yang lain


 Commercial paper, promissory notes, bill of
exchange, bankers acceptance, sertifikat
deposito, repurchase agreement
 Selisih nilai beli dan nilai jual / pelunasan
merupakan penghasilan bagi pemegang sekuritas
dan biaya bagi penerbit sekuritas.

23
d. Deposito
Merupakan satuan mata uang rupiah atau valas, jangka pendek
atau jangka panjang di dalam atau di luar negeri.
Untuk tujuan perpajakan termasuk deposito on call. Bunga
deposito dikenakan pajak 20% dan final. Bunga deposito merupakan
penghasilan kena pajak yang bersifat final dan pajaknya tidak
dapat dikreditkan.

e. Wesel Tagih
Wesel tagih timbul dari utang piutang penyerahan barang atau
jasa.
Bunga yang diterima pada saat pelunasan merupakan penghasilan
pemegang wesel dan biaya bagi penerbit promes.
Penghasilan bunga diskonto merupakan obyek potongan PPh pasal
23 (WP dalam negeri) atau PPh pasal 26 (WP luar negeri) .

24
Wesel milik PT. Andi, nominal Rp. 1 juta
tertanggal 10 Juni 1996, jangka waktu 60
hari (jatuh tempo 9 Agustus 1996),
didiskontokan kepada PT. Iwan pada 25 Juni
1996. Jika disepakati tarif diskonto 12%, uang
yang akan diterima PT. Andi pada setiap
kondisi berikut : wesel tanpa bunga, dengan
bunga 9% dan 15%.

25
Penjelasan Jenis Wesel
Tanpa bunga Bunga 9% Bunga 15%
Nominal 1.000.000 1.000.000 1.000.000
Bunga :
- Tidak ada - -
- 9%x(60/360)x1.000.000 - 15.000 -
- 15%x(60/360)x1.000.000 - - 25.000
Nilai jatuh tempo : 1.000.000 1.015.000 1.025.000
Diskonto :
a. 12%x(45/360)x1.000.000 = 15.000 - -
b. 12%x(45/360)x1.015.000 = - 15.225 -
c. 12%x(45/360)x1.025.000 = - - 15.375
Hasil Penjualan : 985.000 999.775 1.009.625

26
Pencatatan penyesuaian penghasilan bunga dalam masa kepemilikan wesel
(holding period) sbb :

Wesel dengan bunga 9% Wesel dengan bunga 15%


1. Penyesuaian penghasilan bunga(10-25 juni 1993)
Piutang bunga 3.750 Piutang bunga 6.250
Pengahsilan bunga 3.750 Penghasilan bunga 6.250
2. Pencatatan penjualan wesel
Kas 999.775 Kas 1.009.625
Rugi penjualan wesel 3.975 Piutang bunga 6.250
Piutang bunga 3.750 Piutang wesel 1.000.000
Piutang wesel 1.000.000 Laba penjualan wesel
3.375

27
Piutang usaha timbul karena penjualan barang atau penyerahan
jasa secara kredit.
 Untuk tujuan PPh : saat pencatatan penjualan mengikuti
praktek akuntansi komersial.

 Untuk tujuan PPn : dapat berbeda dengan akuntansi


komersial & PPh. Pengusaha diminta untuk menerbitkan
faktur pajak selambatnya 30 hari setelah penyerahan barang
dari penjualan (faktur standar) atau bersama-sama pada
akhir bulan (faktur gabungan).

 Untuk tujuan perpajakan : pembukuan penyisihan untuk


potongan tunai & retur penjualan tidak diperkenankan,
tetapi memberlakukan metode penghapusan piutang langsung
(direct written off).

28
Merupakan piutang yang terjadi karena
transaksi di luar aktivitas usaha.
 Untuk tujuan pajak : ketentuan pasal 18
ayat 4 UU PPh piutang kepada perusahaan
afiliasi dikarakteristik sebagai modal.
 Untuk pembukuan komersial : diakui
sebagai piutang afiliasi untuk laporan
keuangan fiskal dimasukkan dalam
kelompok penyertaan pada perusahaan
afiliasi/investasi.
29
Merupakan aktiva :
• Tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha normal
(barang dagang & dan produk jadi)
• Berada dalam proses produksi
• Bahan baku dan bahan pembantu

 Untuk tujuan PPN, pasal 1 bagian (e) UU PPN 1984


menyatakan penyerahan barang kena pajak ke
pedagang perantara dianggap transaksi penyerahan
penjualan. Barang konsinyasi tidak termasuk
persediaan consignor.
 Akuntansi persediaan berkaitan dengan sistem
pencatatan dan penilaian. Untuk tujuan perpajakan,
pasal 10 ayat (6) UU PPh menganut Metode FIFO &
Harga Pokok Rata-rata.
30
Merupakan biaya yang telah terjadi yang akan
digunakan untuk aktivitas perusahaan yang akan
datang.
 Untuk tujuan perpajakan, pasal 11 ayat (10) UU
PPh 1984 menyebutkan biaya yang mempunyai
masa manfaat > 1 tahun diamortisasi dengan
tarif yang berlaku untuk aktiva golongan 1 (50%),
golongan 2 (25%), golongan 3 (10%) atau metode
satuan produksi.

Namun sejak berlaku UU No. 10 tahun 94 biaya


tidak dibebankan melalui amortisasi lagi
melainkan dialokasi menurut masa manfaatnya.
31
UU PAJAK PENGHAILAN NO. 38 TAHUN 2008

32
Pengeluaran untuk mendapatkan, menagih, dan
memelihara penghasilan yang mempunyai masa
manfaat lebih dari satu tahun tidak boleh dibebankan
sekaligus, melainkan melalui penyusutan atau
amortisasi .
Harta Berwujud yang tidak dapat disusutkan
:Rumah milik perusahaan (bukan daerah terpencil )
yang ditempati pegawai merupakan pemberian
kenikmatan, sehingga tidak dapat disusutkan
kecuali pegawai yang menempati diberikan
tunjangan perumahan sebesar biaya penyusutan
rumah tersebut

33
Tarif Penyusutan
Garis Lurus Saldo Menurun
Kelompok Harta Masa Manfaat

Bukan Bagunan : 4 tahun 25% 50%


Kelompok 1 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok 2 16 tahun 6,25% 12,5%
Kelompok 3 20 tahun 5% 10%
Kelompok 4

Bangunan :
Permanen 20 tahun 5% -
Tidak Permanen 10 tahun 10% -

34
Tarif Penyusutan
Kelompok Harta Masa Manfaat Garis Lurus Saldo Menurun
Tak Berwujud

Kelompok 1 4 tahun 25% x HP 50% x NSB


Kelompok 2 8 tahun 12,5% 25%
Kelompok 3 16 tahun 6,25% 12,5%
Kelompok 4 20 tahun 5% 10%

35
1. Penyusutan dimulai pada bulan
dilakukannya pengeluaran, kecuali
untuk harta yang masih dalam
proses pengerjaan, penyusutannya
dimulai pada bulan selesainya
pengerjaan harta tersebut.
2. Penyusutan dimulai pada bulan
dilakukannya pengeluaran untuk harta
berwujud yang diperoleh setelah tanggal
1 Januari 2001, sedangkan untuk
sebelumnya dimulai pada tahun saat
digunakan aktiva tersebut.
36
3. Dengan persetujuan Direktur Jendral Pajak
(KPP), WP dapat memulai penyusutan sejak
harta tersebut digunakan atau menghasilkan
(bulan produksi komersial)
4. Dasar penyusutan fiskal adalah harga perolehan
tanpa dikurangi taksiran nilai residu
5. Penyusutan fiskal dilakukan perjenis aktiva
tetap

37
Small tools /perlengkapan yang sama atau
sejenis dapat disusutkan dalam satu
golongan, misal sendok untuk usaha hotel,
pembebanan biaya dapat berdasarkan jumlah
pengantian atau pembelian baru

38
a. Perangkat Lunak Komputer adalah semua
program yang dapat digunakan pada sistem
operasi komputer atas biaya pengeluaran dan
up grade berupa program aplikasi
Umum :
1. Dapat dibebankan sebagai biaya pada tahun
pengeluaran
2. Dikapitalisasi pada harga perolehan
komputer, pembebanannya melalui
penyusutan fiskal (kel 1)

39
b. Program aplks khusus (kel 1) adalah program yang
dirancang khusus untuk keperluan otomatisasi
sistem administrasi, pekerjaan, kegiatan usaha
tertentu, misalnya perbankan, asuransi, rumah
sakit dsb, pembebanannya melalui penyusutan
fiskal kelompok 1
Penyusutan komputer, printer, scanner, dan
sejenisnya
Diperoleh sebelum 8 April 02, disusutkan
berdasarkan
kel 2 (April 02), sebelumnya disusutkan kel. 1,

40
1. Kendaraan sedan atau yang sejenis termasuk juga
kendaraan jenis minibus sepanjang digunakan untuk
seorang pegawai tertentu karena jabatannya atau
pekerjaannya, dan penggunaannya full time baik
untuk kepentingan perusahaan maupun keperluan
pribadi dan keluarga pegawai yang bersangkutan
2. Atas biaya pemeliharaan kendaraan dan perbaikan
rutin termasuk pengeluaran rutin untuk pembelian
atau pemakaian bahan bakar, dapat dibebankan
sebagai biaya perusahaan (deductible) sebesar 50%
3. Atas biaya perolehan atau pembelian atau
perbaikan besar, dapat dibebankan sebagai biaya
perusahaan (deductible) sebagai 50% melalui
penyusutan fiskal kel 2
41
3. Atas biaya perolehan atau pembelian atau
perbaikan besar, dapat dibebankan sebagai biaya
perusahaan (deductible) sebagai 50% melalui
penyusutan fiskal kel 2
4. Yang dimiliki sebelum tanggal 18 April 2002,
dihitung Nilai Sisa Buku Fiskal Kel.2 tanggal 30 April
2002, 50% nya dapat dibebankan sebagai biaya
peruahaan melalui penyuutan fiskal

42
Masa manfaat penyusutan fiskal lebih pendek
dibandingkan masa penyusutan komersial
mengakibatkan pada awal tahun investasi,
penyusutan fiskal lebih besar dibanding
penyusutan komersial, laba fiskal lebih kecil
dibandingkan laba komersial dan PPh
terhutang menurut fiskal lebih kecil dari
beban PPh menurut akuntansi, dengan PSAK
No. 46 akan dibukukan dalam Kewajiban
Pajak Tangguhan (Deffered Tax Liabilities)

43
44
Untuk mendapatkan pajak yang masih harus
dibayar pada suatu tahun pajak maka atas
pajak
yang terutang perlu dikurangi dengan kredit
pajak.

Kredit pajak penghasilan adalah pajak-pajak


yang
telah dibayar sendiri atau telah dipotong oleh
pihak lain yang berkaitan dengan transaksi
antara
Wajib Pajak dengan pihak lain

45
 Yag perlu diperhatikan atas pajak-pajak
yang dapat di kresitkan antar lain :
1. PPh yang dapat dikreditkan tersebut
berhubungan dengan kegiatan usaha
Wajib Pajak dalam rangka mendapatkan,
menagih, dan memlihara penghasilan
2. Masa bulan perolehan PPh yang
dikreditkan berada pada masa tahun PPh
yang terutang

46
 PPh 21
 PPh 22
 PPh 23
 PPh 24

Kredit Pajak Yang Dibayar Sendiri


 PPh Pasal 25
 Fiskal Luar Negeri

Surat Tagihan Pajak (STP)

47
 Kewajiban adalah pengorbanan ekonomis
yang wajib dilakukan di masa yang akan
datang dalam bentuk penyerahan aktiva atau
pemberian jasa, yang timbul karena adanya
transaksi pada masa sebelumnya

48
 1. Kewajiban Jangka Pendek
 2. Kewajiban Jangka Panjang
 3. Kewajiban Lain

49
Adalah : kewajiban yang diharapkan akan dilunasi dalam waktu satu
tahun atau satu siklus operasional perusahaan mana yang lebih lama
(PSAK No. 9 Buku SAK 1994)

Kewajiban Lancar mencakup antara lain :

◘Hutang Dagang
berasal dari transaksi pembelian barang dan jasa yang diperlukan
dalam kegiatan usaha normal.

Hutang dagang dapat dicatat dengan Metode:


◑ Metode Bruto → jumlah yang harus dibayar,tanpa
potongan tunai
◑ Metode Netto → jumlah yang harus dibayar jika ada
potongan tunai

Untuk pembelian BKP, maka dalam jumlah hutang, termasuk PPN


50
Contoh:
Tanggal 15 Januari 2008 dibeli barang kena pajak Rp. 10.000.000. Tanggal 10 Pebruari 2008 hutang
itu dilunasi
Pencatatan berdasarkan metode bruto:

15 Januari 2008
Pembelian 10.000.000
PPN Masukan 1.000.000
Hutang Dagang 11.000.000

10 Pebruari 2008
Hutang Dagang 11.000.000
Kas 11.000.000

◘ Hutang Wesel
Dapat terjadi sebagai transformasi hutang dagang atau yang dikeluarkan untuk mendapatkan
pinjaman
Apabila atas wesel, harus dibayar bunga/dipotong bunga (diskonto), maka bunga (diskonto) yang
dibayar atas wesel harus dicatat terpisah.

Contoh:
Tanggal 1 Juli 2008 PT Adhitya meminjam uang dari bank dengan menyerahkan surat promes Rp.
10.000.000 dengan diskonto 12% dan jangka waktu 12 bulan

Pencatatan pinjaman:
1 Juli 2008
Kas 8.800.000
Diskonto wesel bayar 1.200.000
Wesel bayar 10.000.000

51
31 Desember 2008
Biaya bunga 600.000
Diskonto wesel bayar 600.000

Rugi-Laba 600.000
Biaya bunga 600.000

Pelunasan Wesel
Wesel bayar 100.000.000
Kas 100.000.000

◘ Hutang Deviden
Utang dividen timbul, jika sudah ada pengumuman pembagian laba.
Sesuai dengan ketentuan UU PPh, maka terutangnya dividen akan menimbulkan
kewajiban pemotongan PPh 23 sebesar 10 % Final, (ketentuan ini mulai berlaku 1
Januari 2009) apabila dividen dibagikan kepada WPOP, sedangkan bagi WP Badan harus
dilihat berdasarkan kepemilikan sahamnya.
Contoh:
Tanggal 20 Desember 2008 PT Radhitya mengumumkan akan membayar deviden tunai
Rp. 10.000.000 pada 10 Januari 2009.
52
Pencatatan:

20 Desember 2008

Laba ditahan 10.000.000


Hutang deviden 8.500.000
PPh ps 23 harus dibayar 1.500.000

10 Januari 2009

Hutang deviden 8.500.000


Kas 8.500.000

Saat Pelunasan PPh 23

PPh 23 harus dibayar 1.500.000


Kas 1.500.000

Berdasarkan Akuntansi Komersial, pengumuman dividen saham, tidak menimbulkan hutang dividen bagi perusahaan

◘ Biaya yang Masih harus dibayar


Ada beberapa jenis biaya yang telah terjadi , tetapi pembayarannya akan dilakukan di kemudian hari. Contohnya : gaji
karyawan dan bunga pinjaman. Biaya yang masih harus dibayar, diketahui pad sat penutupan buku dan dicatat sebagai biaya
pada periode terjadinya biaya.

◘ Pendapatan diterima dimuka


: penghasilan dari penjualan barang atau penyerahan jasa, yang diterima sebelum terjadi transaksi penyerahan barang atau
jasa. Hal ini disebabkan oleh adanya kewajiban penerima pembayaran untuk menyerahkan barang dan jasa di kemudian hari.

53
2. Kewajiban Jangka Panjang
◘ Hutang Obligasi
Obligasi merupakan surat pengakuan hutang jangka panjang yang akan dibayar pada
tanggal tertentu
Menurut spesifikasi dan sifat kewajiban yang melekat pad emitennya terdiri dari :
∙ obligasi hipotik
∙ obligasi dengan jaminan surat berharga
∙ obligasi dengan jaminan pihak ketiga
∙ obligasi tanpa jaminan
∙ obligasi dengan bunga yang bergantung pada penghasilan penerbit
∙ obligasi dengan hak atas laba
∙ obligasi konversi

Menurut pembuktian atas kepemilikan


∙ obligasi terdaftar
∙ obligasi tanpa registrasi

Menurut cara pelunasan dan tanggal jatuh tempo


∙ obligasi dengan satu tanggal jauth tempo
∙ obligasi seri
∙ obligasi dengan hak penarikan kembali dengan kurs tertentu sebelum jatuh tempo
54
Sebagaimana saham, pada obligasi juga dapat terjadi adanya agio dan disagio. Hal ini
merupakan penyesuaian terhadap tarif bunga nominal , yaitu agio mengurangi biaya
bunga dan sebaliknya disagio menambah biaya bunga. Untuk penyesuaian rugi laba,
penyesuaian dilakukan dengan amortisasi tahunan terhadap jumlah agio atau disagio.
Penghasilan bagi pemodal baik berupa bunga maupun amortisasi disagio merupakan
Penghasilan Kena Pajak.
Menurut Penjelasan Pasal 4 ayat (1) UU PPh, disebutkan bahwa bagian keuntungan
yang didistribusikan kepada pemegang obligasi yang mempunyai hak terhadap laba
merupakan dividen, sehingga bagi emiten obligasi, hanya bunga tetap yang dianggap
sebagai biaya pengurang PKP, sedangkan bagian laba variabelnya diperlakukan sama
dengan dividen.

55
3. Restrukturisasi Hutang

⇨mencegah penyitaan dan pengaduan kepailitan. Restrukturisasi dapat berupa


pertukaran aktiva, pertukaran ekuitas dan modifikasi persyaratan. Restrukturisasi
dapat menyebabkan total pembayaran melebihi nilai utang terbaru

4. Kewajiban yang lain


• hutang yang besarnya bergantung pada hasil usaha
• ∙piutang dagang yang digadaikan
• ∙penjualan piutang wesel
• ∙ endosemen atau wesel bayar
• ∙ sengketa hukum
• ∙ kewajiban sesuai dengan kontrak
• ∙ pembelian aktiva tetap atau pembangunan aktiva tetap berdasarkan kontrak

56
 Hutang Pajak Penghasilan
 Hutang Pihutang PPN dan PPn BM

57
Pajak Penghasilan Pasal 25
∙ pelunasan sendiri oleh wajib pajak selama tahun berjalan dilakukan dengan
membayar angsuran bulanan sesuai dengan ketentuan pasal 25 (misalnya 1/12
dari PPh terhutang menurut SPT tahun lalu setelah dikurangi dengan kredit
pajak)
∙ pembayaran angsuran merupakan pembayaran dimuka terhadap hutang pajak
penghasilan yang akan dihitung sendiri oleh wajib pajak pada akhir tahun pajak

Pajak Penghasilan Pasal 21


⇨ Pajak penghasilan atas gaji, upah, honorarium, tunjangan, pensiun, kegiatan, dan
imbalan sehubungan dengan pekerjaan atau jasa (termasuk jasa tenaga ahli yang
melakukan pekerjaan bebas) dipungut melalui sistem pemotongan (withholding
system) pada saat penghasilan itu dibayarkan

Contoh:
PT Adhitya pada januari 2009 membayarkan gaji dan upah sebagai berikut:
Jumlah brutto Rp. 100.000.000
Potongan:
Iuran pensiun Rp. 5.000.000
Premi astek 2.500.000
Pajak penghasilan 12.500.000
20.000.000
Dibayarkan Rp. 80.000.000
58
Pencatatan oleh perusahaan
a. Pada saat penghitungan dan pemotongan pajak iuran pensiun & premi astek:
Biaya gaji 100.000.000
Hutang iuran pensiun 5.000.000
Hutang premi astek 2.500.000
Hutang PPh pasal 21 12.500.000
Kas 80.000.000

b. Pada saat penyetoran pajak dan iuran lainnya ke kas negara


Hutang PPh ps 21 12.500.000
Hutang iuran pensiun 5.000.000
Hutang premi astek 2.500.000
Kas 20.000.000

Pajak Penghasilan Pasal 22


⇨ dipungut dari potensi penghasilan yang terdapat dalam transaksi impor atau
penghasilan yang terdapat dalam transaksi impor atau kegiatan dibidang lain

59
Contoh:
PT Adhitya ditunjuk sebagai pemungut PPh ps 22 atas transaksi yang dilakukan melalui
badan itu. Januari 200, PT Iwan melakukan transaksi senilai Rp. 100.000.000
dengan PT Adhitya. Tarif PPh pasal 22 misalnya 2,5%. Oleh karena itu, PT Iwan
selain membayar nilai transaksi Rp. 100.000.000 masih harus menambah
pembayaran PPh ps 22 Rp. 2.500.000 ( 2,5% x 100.000.000)
Pencatatan yang dilakukan PT Adhitya
a. Pada waktu memungut PPh pasal 22
Kas 102.500.000
Hutang PPh ps 22 2.500.000
Penjualan 100.000.000
b. Pada waktu penyetoran PPh pasal 22
Hutang PPh pasal 22 2.500.000
Kas 2.500.000

Pajak Penghasilan Pasal 23


⇨ pemotongan pajak penghasilan yang berupa dividen, bunga, royalti, hadiah, sewa
dan imbalan atas jasa.
⇨ tarif potongan 15% atas jumlah penghasilan brutto atau prakiraan penghasilan netto
⇨pengecualian: pembayaran bunga kepada bank, sewa kepada perusahaan sewa guna
usaha, bunga simpanan tertentu
60
Contoh:
PT Adhitya membayar bunga kepada PT Iwan Rp. 50.000.000
Pencatatan:
a. Pemotongan PPh pasal 23 sebanyak 15%
Biaya bunga 50.000.000
Hutang PPh pasal 23 7.500.000
Kas 42.500.000

b. Pembayaran pajak ke kas negara


Hutang PPh pasal 23 7.500.000
Kas 7.500.000

Pajak Penghasilan pasal 26


⇨ pemotongan pembayaran dividen dan bunga kepada wajib pajak luar negri
⇨ tarif 20% dari jumlah brutto
Contoh:
PT Adhitya membayar premi asuransi Rp. 10.000.000 kepada X Co. Ltd. Dan atas premi
itu diperkirakan penghasilan 50%, maka PT Adhitya harus memotong pajak Rp.
1.000.000 (20% x 50% x Rp. 10.000.000)

61
II. PPN dan PPn BM
⇨ Penghasilan yang diperoleh atau diterima perusahaan dikenakan pajak penghasilan,
sedangkan atas transaksi penyerahan barang dan jasa dikenakan PPN dan PPn BM

Contoh:
PT Adhitya pada januari 2008 melakukan pembelian barang dan jasa kena pajak Rp.
10.000.000 dan menyerahkan barang kena pajak Rp. 15.000.000. Tarif PPN 10%, kalau
semua pajak masukan dapat dikreditkan maka pencatatan:

62
a. Pembelian barang dan jasa
Pembelian 10.000.000
PPn masukan 1.000.000
Kas/Hutang 11.000.000

b. Penjualan barang
Kas/ Piutang 16.500.000
Penjualan 15.000.000
PPn keluaran 1.500.000

c. Pada saat penyetoran PPN


PPN keluaran 1.500.000
PPN masukan 1.000.000
PPN harus dibayar 500.000

PPN harus dibayar 500.000


Kas 500.000

63
Hutang Pajak yang lain
⇨ PBB, pajak yang dipungut pemerintah daerah (misalnya pajak kendaraan bermotor),
retribusi
⇨ pajak tersebut umumnya dapat dikurangkan dari penghasilan bruto perusahaan
⇨ pada penutupan tahun, pajak itu dipindahkan sebagai biaya pada laporan laba-rugi

64
 Modal Saham
 Saldo Laba
 Right, Warrant, dan Opsi atas Saham
 Penyesuaian Modal
 Selisih Penilaian Kembali

65
⇨ merupakan bagian dari ekuitas suatu perseroan terbatas yabg dikontribusikan pemilik.

Jenis saham:
∙ saham biasa
∙ saham preferen, hak preferensi:
a. pembagian aktiva lebih dulu pada saat likuidasi
b. pembagian deviden
c. convertible
d. dapat ditebus kembali

Agio : selisih lebih antara nilai nominal dan harga pasar


Disagio : selisish kurang antara nilai nominal dan harga pasar

Cara pembayaran saham: tunai, angsuran, penukaran dengan saham perusahaan lain
Contoh:
∙ PT Darma menempatkan 1000 lembar saham biasa dengan nilai nominal Rp. 10.000 dengan
harga Rp. 15.000 per lembar
Pencatatan:

Kas 15.000.000
Modal saham 10.000.000
Agio saham 5.000.000

66
Treasury Stock: pembelian kembali saham oleh perusahaaan penerbit saham tersebut

Pencatatan treasury stock:


∙ Cost method : sebesar jumlah yang semula diterima apabila saham itu akan
dikeluarkan lagi
∙ Par value method : apabila saham dianggap ditarik dari peredaran

Penerimaan dari treasury stock dapat dianggap sebagai deviden apabila:


a. Dalam tahun lampau diperoleh laba
b. Kelebihan penerimaan diatas harga perolehannya

Saham preferen dapat ditukar dengan saham biasa:


⇨selisih NB saham preferen (nominal + agio) dengan NNom saham biasa dapat
merupakan agio saham biasa (kalau lebih besar)
⇨ dibebankan kepada laba yang ditahan (kalau lebih rendah)

Contoh:
PT Iwan mempunyai 1000 lembar saham prioritas convertible dengan harga nominal
@Rp. 10.000.000. Agio saham Rp. 2.500.000. Pada 2 Januari 2009 diumumkan
saham itu dapat ditukarkan dengan saham biasa dengan nilai nominal @
5.000.000, dengan proporsi 1 lb saham prioritas mendapat 3 lb saham biasa

67
Pencatatan oleh PT Iwan

Modal saham prioritas 10.000.000


Agio saham prioritas 2.500.000
Laba ditahan 2.500.000
Saham biasa (3.000 x 5.000) 15.000.000

Untuk tujuan pajak:


⇨ pembebanan kepada laba ditahan 2.500.000 dianggap sebagai pembagian deviden
kepada pemegang saham prioritas
⇨ PT Iwan harus memotong PPh pasal 23 sebesar 15%, kecuali pemegang saham itu
sebuah badan
⇨ penerima saham memperhitungkan dividen 2.500.000 dan mengkreditkan PPh pasal
23

68
B. Saldo Laba dan Distribusi Laba
1. Saldo Laba(laba ditahan)
⇨ PSAK No. 21 : saldo laba menunjukkan akumulasi hasil usaha periodik setelah
memperhitungkan pembagian deviden dan koreksi laba periode lalu.

Contoh:
PT Darma dalam tahun 2008 memperoleh penghasilan kena pajak Rp. 100.000.000.
Penghasilan itu diperoleh setelah eliminasi penghasilan antar badan Rp. 34.000.000
dan pengeluaran untuk karyawan yang berupa fasilitas dan kenikmatan

Untuk keperluan perpajakan, penghasilan dan laba 2008 PT Darma yang dapat
ditransfer
ke saldo laba dihitung sbb:
Penghasilan kena pajak Rp. 100.000.000
Pajak penghasilan 21.250.000
78.750.000
Penghasilan bukan objek pajak 34.000.000 +
112.750.000
Pengeluaran bukan pengurang PKP 20.000.000 –
Penghasilan dan laba 92.750.000

69
2. Distribusi Laba
⇨ deviden : distribusi laba kepada para pemegang saham
Bentuk pembagian deviden:
⇨ uang kas, harta selain kas, surat hutang, saham perusahaan sendiri

Distribusi dividen menyebabkan berkurangnya jumlah saldo laba


Pengecualian :
a. dividen saham dalam bentuk pemecahan saham
b. Dividen likuidasi
c. Pembagian lainnya yang bukan merupakan dividen dalam pengertian akuntansi
komersial, tetapi diperlakukan seperti itu dalam perpajakan
Pengertian deviden dalam perpajakan:
a. Pencatatan tambahan modal yang dilakukan tanpa penyetoran
b. Penerimaan atau perolehan dari pembelian kembali sebagian atau seluruh saham
yang disetor
c. Pembayaran kembali sebagian atau seluruh penyetoran modal, sepanjang terdapat
laba dari tahun-tahun lampau, kecuali dalam pengecilan modal statuter
d. Pembayaran kepada atau penerbitan tanda-tanda laba
e. Laba yang dibagikan kepada pemegang obligasi yang berpartisipasi dalam laba
f. Pengeluaran perusahaan untuk keperluan pribadi persero yang dibebankan sebagai
biaya perusahaan

70
Yang dipertimbangkan dalam pembagian deviden:
Tanggal pengumuman, pendaftaran, dan pembayaran

∙ deviden secara resmi terhutang saat dilakukan pengumuan pembagian deviden

Contoh1:
Tanggal 20 Desember 2008 PT Darma mengumumkan akan membagi deviden sejumlah
Rp. 10.000.000. Pada tanggal 5 Januari 2009 dividen dibayar tunai

Pencatatan:
a. 20 Desember
Saldo laba 10.000.000
Hutang deviden 8.500.000
Hutang PPh pasal 23 1.500.000

b. 5 Januari
HUtang dividen 8.500.000
Hutang PPh pasal 1.500.000
Kas 10.000.000

71
Jika dividen, dilunasi dengan penyerahan sekuritas PT Q yang mempunyai nilai nominal
Rp. 10.00.000 dengan kurs 110 (semula diperoleh dengan kurs 105) maka pencatatan
berdasarkan nilai pasar tampak sebagai berikut:

Investasi sekuritas PT Q 500.000


Laba atas investasi sekuritas 500.000

Saldo laba 11.000.000


Hutang deviden 11.000.000

Hutang deviden 11.000.000


Investasi sekuritas PT Q 11.000.000

Contoh 2:
PT Darma membagikan deviden yang berupa treasury stock dengan harga pasar Rp.
11.500.000. Harga perolehan saham itu Rp. 10.500.000. Pencatatan yang dibuat oleh
badan (tanpa memperhatikan PPh pasal 23 dan pasal 26) sebagai berikut:
Saldo laba 11.500.000
Treasury stock 10.500.000
Agio saham transaksi TS 1.000.000
72
C. Riht, Warrant, dan Opsi atas Saham
 Perusahaan yang berkeinginan melakukan emisi saham dapat memberikan
kesempatan pertama untuk membeli saham kepada:
• pemegang saham lama (dalam bentuk pre-emptive stock right)
• pemegang sekuritas yang lain
• opsi kepada pejabat atau karyawan perusahaan

 Pencatatan penerbitan right : dalam memorial


 Bagi investor, pengumuman right secara komersial diikuti dengan relokasi biaya
(harga) perolehan saham.
 Harga perolehan relokasi dipakai sebagai unsur penambah harga saham baru

Contoh:
PT Iwan memiliki 100 lembar saham PT Andi (dari total 1000 lembar). Nilai Nominal
saham Rp. 10.000 dan dibeli dengan harga Rp. 18.000 per lembar. PT Andi
mengumumkan tiap 4 lembar saham lama dapat membeli 1 lembar saham emisi baru
dengan harga Rp. 11.000. Saham lama dijual di pasar dengan harga sebesar Rp. 14.500
(tanpa right), sedangkan right dapat dijual dengan harga Rp. Rp. 500. Alokasi harga
perolehan yang dilakukan PT Iwan sebagai berikut:

73
a. Right = 500/(14.500 + 500) x Rp. 18.000 = Rp. 600 per lembar
b. Saham = Rp. 18.000 - Rp.600 = Rp. 17.400

Atas alokasi harga perolehan dicatat:


Hak atas saham PT Andi (600 x 100) Rp. 60.000
Investasi saham PT Andi Rp. 60.000

Bila hak atas saham itu dimanfaatkan, dicatat:


Investasi saham PT Andi Rp. 335.000
Kas Rp. 275.000
Hak atas saham PT Andi Rp. 60.000

Nilai saham baru sebanyak 25 lembar yang dibeli sebesar 25 x Rp. 11.000, ditambah
dengan harga right Rp. 60.000 dan jumlah totalnya Rp. 335.000
Kalau right dijual semua dengan harga Rp. 875 per lembar, dibuat catatan sbb:

Kas (100 x 875) Rp. 87.500


Hak beli saham PT Andi Rp. 60.000
Laba penjualan hak beli saham PT Andi Rp. 27.500

74
• Warrant
 Penerbitan saham preferen atau obligasi sering diikuti dengan hak untuk membeli
saham biasa perusahaan.

Contoh:
PT Surya menerbitkan 100 lembar saham preferen dengan nominal Rp. 10.000 dengan
harga Rp. 12.000. Pemegang saham preferen itu dapat memesan saham biasa
dengan nominal Rp. 5.000 dengan harga Rp. 6.500. Segera setelah penerbitan saham
preferen warrant terjual dengan harga Rp. 1.000, sedangkan saham preferen tanpa
warrant dijual dengan harga Rp. 11.500
Harga perolehan warrant = 1.00/(11.500 + 1.000) x 12.000 = Rp. 960.000 atau sebesar
Rp. 960 per lembar.

Pada saat penjualan 100 lembar saham preferen oleh PT Surya dibuat catatan sbb:
Kas Rp. 12.000.000
Saham preferen Rp. 10.000.000
Agio saham preferen 1.040.000
Warrant saham biasa 960.000

75
Bila warrant dipakai semua, dicatat:
Kas Rp. 6.500.000
Warrant atas saham biasa 960.000
Saham biasa Rp. 5.000.000
Agio saham biasa 2.460.000

Bila warrant dibiarkan kadaluarsa, dicatat:


Warrant atas saham biasa 960.0000
Tambahan setoran modal kadaluarsa-warrant 960.000

 secara komersial, kadaluarsanya warrant dianggap sebagai transaksi modal  tidak


ada keuntungan yang dilaporkan

• Opsi saham
 Merupakan pemberian hak berpartisipasi karyawan dalam pemilikan perusahaan
 Nilai yang dicatat dalam realisasi program sebesar nilai pertukaran yang terjadi

76
D. Penyesuaian Modal karena Kuasi Reorganisasi
Kuasi reorganisasi (atau restrukturisasi kapital) merupakan prosedur penataan kembali
modal yang dilakukan untuk menutup kerugian struktural (kerugian terus-menerus)
atau defisit dalam jumlah yang material  tampilan struktur perusahaan menjadi
lebih baik

Contoh: Neraca PT Darma per 31 Desember 2008, sebagai berikut

Aktiva lancar 300.000 Hutang 400.000


Peralatan 2.000.000 Modal saham 1.500.000
Akumulasi depresiasi (600.000) Tambahan modal distr 300.000
Saldo laba (500.000)
1.700.000 1.700.000

77
Untuk menutup jumlah negatif saldo laba, dilakukan kuasi reorganisasi sbb:
1. Peralatan dinilai kembali sebesar harga pasar menjadi Rp. 920.000 (semula
1.400.000)
2. Dalam aktiva lancar terdapat persediaan yang overstated Rp. 80.000 dan
Rp. 40.000 merupakan piutang tak tertagih
3. Nilai nominal saham diturunkan menjadi Rp. 40 per saham (semula Rp. 100)

Pencatatan yang dilakukan sbb:


1. Saldo laba Rp. 480.000
Akumulasi depresiasi Rp. 480.000

2. Saldo laba Rp. 120.000


Aktiva lancar Rp, 120.000

3. Modal saham (nom Rp.100) Rp. 1.500.000


Modal saham (nom Rp. 40) Rp. 1.500.000
Tambahan modal disetor Rp. 900.000

4. Tambahan modal disetor Rp. 1.100.000


Saldo laba Rp. 1.100.000

78
Setelah kuasi reorganisasi

Aktiva lancar 180.000 Hutang 400.000


Peralatan 2.000.000 Modal saham 600.000
Akumulasi depresiasi (1.080.000) Tambahan modal disetor 100.000
Saldo laba -
1.100.000 1.100.000

Kuasi reorganisasi PT Darma dapat menimbulkan beberapa implikasi sbb:


1. Pengurangan nilai persediaan dan penghapusan piutang memerlukan suatu
penelitian yang seksama sebab ketentuan pajak menganut asas material
(bagaimana faktanya). Secara jelas pengurangan nilai persediaaan tidak
diperkenankan, sedangkan penghapusan piutang harus didukung oleh beberapa
fakta.
2. Devaluasi peralatan (aktiva tetap) tak mudah diizinkan karena pajak menganut
harga historis
3. Penghapusan rugi (defisit Rp. 500.000) dapat menghilangkan hak konpensasi
kerugian sebagaimana diatur dalam pasal 6 ayat (3) UU PPh 1984

79
E. Selisih Penilaian Kembali Aktiva Tetap
 Akuntansi menganut harga historis dan harga pertukaran.
 Penyimpangan dasar harga historis dapat diterima apabila:
a. Terdapat perubahan harga yang cukup material dan secararelatif bersifat permanen
b. Memperoleh fasilitas perpajakan
c. Untuk penjualan saham di pasar modal
d. Untuk tujuan penggabungan usaha
.
Ketentuan revaluasi sejak tahun 1996:
 Harus dilakukan dengan bantuan lembaga appraisal yang disahkan Mentri Keuangan
berdasarkan harga pasar wajar
 Hanya boleh dilakukan terhadap aktiva yang dimiliki lebih dari 5 tahun.
 Nilai sisa lebih dari penilaian kembali aktiva dikenakan pajak penghasilan final 10% setelah
terlebih dahulu dikompensasikan dengan kerugian yang masih berhak atas kompensasi
kerugian.
 Bila ada selisih penilaian kembali setelah pajak itu dikapitalisasikan dan dibagikan dalam
bentuk saham bonus, pembagian deviden tidak dikenakan pajak penghasilan
 Penyusutan dari aktiva yang dinilai kembali itu dilakukan bukan berdasarkan sisa manfaat,
tetapi berdasarkan masa manfaat (semula) sesuai dengan ketentuan perpajakan

80
Contoh:
PT Dian, selain aktiva kelompok 1 (masa manfaat 4 tahun) dan kelompok 2 (masa
manfaat 8 tahun), mempunyai harta berupa tanah dan bangunan Rp. 300.000.
Nilai buku dari harta kelompok 2 Rp. 150.000.000. Perusahaan berniat
melakukan revaluasi dengan jasa appraisal “Iwan & rekan”. Nilai appraisal tanah
dan bangunan Rp. 500.000.000, nilai harta kelompok 2 Rp. 200.000.000.
Perusahaan masih mempunyai kerugian yang dapat dikompensasikan Rp.
125.000.000. Dengan penilaian kembali itu akan diperoleh nilai lebih Rp.
250.000.000. Karena kerugian yang masih dapat dikompensasikan Rp.
125.000.000, pajak penghasilan yang dapat dibayar final 10% sebesar Rp.
12.500.000. Nilai lebih itu kemudian dikapitalisasi dalam bentuk saham dan
dibagikan kepada para persero.

Pencatatan yang dilakukan:


1. Untuk mencatat revaluasi
Tanah dan bangunan Rp. 200.000.000
Harta kelompok 2 50.000.000
Pajak penghasilan terhutang Rp. 12.500.000
Selisih penilaian kembali aktiva 237.500.000

2. Untuk mencatat pembayaran pajak penghasilan


Pajak penghasilan terhutang Rp. 12.500.000
Kas Rp. 12.500.000

81
3. Untuk mencatat kapitalisasi selisih penilaian kembali
Selisih penilaian kembali aktiva Rp. 237.500.000
Modal saham Rp. 237.500.000

 Untuk pembagian saham bonus tidak dilakukan pencatatan pembukuan, cukup


dalam buku memorial
 Bila terlebih dahulu ditentukan, saldo rugi akan ditutup ke selisih penilaian kembali
aktiva yang berarti jumlah yang dikapitalisasi Rp. 112.500.000
 Biaya yang dikeluarkan untuk kantor appraisal sehubungan dengan jasa yang lain,
misalnya Rp. 12.500.000 karena sesuai dengan ketentuan perpajakan biaya itu tidak
boleh dikurangkan dari penghasilan kena pajak yang lain, jumlah yang dikapitalisasi
menjadi Rp. 100.000.000
 Penyusutan atas nilai buku baru harta kelompok 2 Rp. 200.000 dilakukan selama
masa 8 tahun, apakah memakai metode garis lurus atau saldo menurun bergantung
pada metode yang dipakai perusahaan sebelum revaluasi.
 Nilai buku bangunan Rp. 500.000.000 disusutkan selama 20 th dengan menggunakan
metode garis lurus.

82
TAHUN 2008

83
 Subjek Pajak Penghasilan
 Objek Pajak Penghasilan
 Penghasilan yang Bukan Objek Pajak
Penghasilan
 Penghasilan yang dikenakan pajak Final
 Penghasilan yang Merupakan Objek Pajak
 Penghasilan Luar Negeri

84
Subjek Pajak Penghasilan : Wajib Pajak yang
menurut ketentuan harus membayar,
memotong atau memungtu pajak yang
terhutang atas objek pajak .

Subjek Pajak dibedakan


1. Subjek Pajak Dalam Negeri
2. Subjek Pajak Luar Negeri

85
 Subjek Pajak Penghasilan Dalam Negeri :
1. Orang pribadi yang bertempat tinggal di
Indonesia atau orang pribadi yang berada di
Indonesia lebih dari 183 hari dlm jangka
waktu 12 bulan, atau wp orang pribadi
berniat untuk bertempat tinggal di Indonesia
2. Badan yang didirikan atau bertempat tinggal
di Indonesia,
3. Warisan yang belum terbagi sebagao
kesatuan, menggantikan yang berhak.

86
 Subjek Pajak Luar Negeri
Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di
Indonesia atau orang pribadi yang berada di
Indonesia lebih dari 183 hari dlm jangka waktu 12
bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak
bertempat kedudukan di Indonesia yang :
a. Menjalankan usaha atau melakukan kegiatan
melalui bentuk usaha tetap di Indonesia
b. Dapat menerima atau memperoleh penghasilan dari
Indonesia bukan dari menjalankan usaha atau
melakukan kegiatan melalui bentuk usaha tetap di
Indonesia

87
 Yang menjadi Objek Pajak Penghasilan
adalah PENGHASILAN, yaitu setiap
tambahan kemampuan ekonomis yang
diterima atau diperoleh Wajib Pajak, baik
yang berasal dari Indonesia maupun dari
luar Indonesia, yang dapat dipakai
untuk konsumsi atau untuk menambah
kekayaan Wajib Pajak yang bersangkutan,
dengan nama dan dalam bentuk apa pun

88
Beberapa bentuk penghasilan menurut akuntansi
komersial sudah dibukukan sebagai penghasilan , tetapi
dalam akuntansi pajak bukan merupakan penghasilan
yang menjadi Objek Pajak Penghasilan. Artinya
penghasilan tersebut tidak perlu lagi di perhitungkan
PPh terhutangnya. Bukan objek PPh
1. Bantuan atau sumbangan,
2. Zakat
3. Harta hibahan
4. Warisan
5. Harta termasuk setoran tunai yang diterima oleh
Badan sebagai pengganti saham atau sebagai
pengganti penyertaan modal
89
6. Pemberian dalam bentuk Natura
7. Klaim Asuransi
8.Deviden Tertentura
9. Iuran Dana Pensiun
10. Penghasilan Dana Pensiun
11. Pembagian Laba Komanditer yang tidak
Terbagi atas saham
12. Bunga Obligasi perusahaan Reksadana
13. Penghasilan Modal Vent
14. Pembebansan Hutang Tertentu
90
No. Jenis Penghasilan Tarif Dari Diatur
1. Bunga Deposito dan Tabungan 20% Bunga Ps 4(2) UU PPh
2. Bunga dan Premium SWAP / Forward 20% Bungan dan Premium Ps 4(2) UU PPh
3. Bunga diterima Anggota Koperasi 15% Bunga Ps 4(2) UU PPh
Hadiah Undian 25% Bruto PP No.132/2000
Pesangon, Tebusan Pensiun, THT, tabungan hari tua yang Psl 17 PB- Rp 25 jt Kep. 545/PJ/2000
dibayar sekaligus
4. Transaksi saham serta sekuritas lainnya di Bursa Efek antara 0,1% Bruto Ps 4(2) UU PPh
lain saham saham diterima orang pribadi atau badan
5. Saham diterima Pendiri 0,5% Seluruh saham saat IPO Ps 4(2) UU PPh
6. Bunga Obligasi Dengan Kupon 20% Bruto Bunga Ps 4(2) UU PPh
Diskonto Obligasi dengan Kupon
7. Diskonto Obligasi tanpa bunga 20% Selisih Lebih Ps 4(2) UU PPh
8. Penghasilan Tanah dan/bangunan 5% N.tertinggi H.Jual dan NJOP Ps 4(2) UU PPh
9. Sewa tanah dan/ bangunan 10% Sewa bruto Ps 4(2) UU PPh
10. Jasa Konsultan Manajemen 4% Bruto -PPN Ps 4(2) UU PPh
11. Jasa Maklon Internasional 2,1% Biaya pembuatan –Bhn Baku KMK 543/2002
12 Penerbangan Luar Negeri 2,64% Bruto KMK 417/1996
13. Pelayaran Dalam Negeri 1,2% Peredaran Bruto KMK 417/1996
14. Konstruksi Pengusaha Kecil, pengadaan s.d Rp 1M 2% DPP PPN Ps 4(2) UU PPh

15. Bahan bakar minyak jenis Premix, Super TT dan gas 0,3% Penjualan Kep 417/2001
penyalur/agen PERTAMINA
16. Hasil Tembakau 0,15% Harga Bandrol KMK.384/2001
17. Semen 0,25% DPP PPN KMK 401/2001
18. Selesih lebih hasil revaluasi 10% Selisih lebih-komps kerugian
91
 Penghasilan yang merupakan Objek Pajak dapat
dibedakan :
1. Penghasilan dari kegiatan usaha
2. Penghasilan sebagai Karyawan
3. Penghasilan dari pemberi jasa
4. Penghasilan dari Modal atas harta yang bergerak
5. Penghasilan dari Modal atas harta tak bergerak
6. Penghasilan dari Pembebasan hutang

92
1. Penghasilan dari kegiatan usaha
Penghasilan dari suatu kegiatan usaha yang
merupakan objek pajak terdiri dari kegiatan usaha
maupun luar usaha seperti :
a. Laba Usaha
b. Penghasilan dari Luar Usaha
 Laba Usaha :

Penjualan Rp xxx
Harga Pokok Penjualan Rp xxx
Laba Bruto Rp xxx
Biaya Usaha Rp xxx
Laba Usaha Rp xxx

93
 Laba Bruto Usaha
a. Penjualan atau peredaran bruto dihitung
berdasarkan akrual Stelsel
b. Potongan Penjualan diakui kalau sudah direalisasi,
penyisihan potongan penjualan tidak diakui
c. Retur penjualan yang tidak diganti barang, diakui
berdasarkan realisasi, penyisihan tidak diakui
d. Penilaian persediaan berdasarkan Harga Perolehan
(tidak diperkenankan dengan dasar harga pokok dan
harga pasar mana yg lebih rendah)
e. Metode Penilaian Persediaan dengan FIFO atau
Rata-rata (LIFO tidak diperkenankan)
94
 Laba Bruto Usaha
f. Kerugian atas barang hilan atau kecurian harus
didukung dengan laporan kepolisian
g. Pemusnahan barang harus dibuat berita acara dan
diotorisasi oleh pejabat yang berwenang
h. Hilang dalam proses produksi, dalam penyimpanan
atau penguapan harus sesuai dengan rendemen
yang wajar

95
2. Penghasilan sebagai Karyawan
 Gaji
 Upah
 Tunjangan
 Honorarium
 Komisi, Bonus, THR, Gratifikasi,
 Hadiah

96
3. Penghasilan dari pemberi jasa
 Jasa Pelayaran (Sewa kapal tanpa awak 6%)
 Jasa Konstruksi (perecanaan, pelaksanaan,
pengawasan)
 Jasa Perencana dan jasa Pengawasan
 Jasa Tenaga Ahli (Dokter, Akuntan, Arsitek, Pengacara
dll)

4. Penghasilan dari Modal atas harta yang bergerak


 Keuntungan karena selisih Kurs
 Keuntungan karena penjualan / krn pengaliahan harta
 Sewa harta yang bergerak

97
5. Penghasilan dari Modal atas harta tak bergerak,
berupa:
 Bunga (premium, diskonto, imbalan krn jaminan
hutang)
 Dividen (pembagian laba baik langsung maupun
tidak langsung dalam nama dan bentuk apapun)
 Royalti (Hak atas harta tak berwujud, harta
berwujud, informasi)

98
6. Penghasilan dari Pembebasan Hutang
Pembebasan hutang oleh pihak yang berpiutang
dianggap sebagai penghasilan bagi pihak yang
semula berhutang, sedangkan bagi pihak yang
berpiutang dapat dibebankan sebagai biaya. Dengan
peraturan pemerintah dpt dikecualikan dari
ketentuan tsb:
1. Hutang dari debitur kecil, misalnya Kukesra, KUT,
kredit perumahan sangat sederhana
2. Kredit kecil sampai batasan Rp 300.000.000

99
a. Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar
negeri :
 Penghasilan dari usaha dilakukan dalam tahun pajak
diperolehnya penghasilan tersebut (akrual stelsel)
 Penghasilan lainnya dilakukan dalam tahun pajak
diperolehnya penghasilan (Kas Stelsel)
 Penghasilan berupa dividen dilakukan dalam tahun
pajak saat perolehan tersebut ditetapkan sesuai
dengan MKRI 650/KMK04/1994, SE 22/pj.4/1995
b. Kerugian yang diderita di luar negeri tidak boleh
dikompensasikan dengan penghasilan dalam negeri
c. Pajak Penghasilan yang dibayar/terutang di luar negeri
dapat dikreditkan dalam tahun pajak
100
d. Jumlah kredit pajak luar negeri tidak boleh
melebihi jumlah tertentu
e. Dalam hal jumlah Pajak Penghasilan yang dibayar
atau terutang di luar negeri melebihi jumlah
kredit pajak luar negeri yang diperkenankan,
kelebihannya tidak dapat:
- Diperhitungkan dengan PPh tahun berikutnya,
- Dikurangi
- Restutusi

101
102
Biaya  adalah  pengorbanan  yang
dinyatakan  dalam  rupiah   untuk
memperoleh barang dan jasa.

Berdasarkan Periode Akuntansi Pemanfaatannya

1.Pengeluaran Kapital ( Capital expenditure ) yaitu
 pengeluaran yang memberi manfaat lebih dari satu periode dan
 dibuku atau dicatat sebagai aktiva.
2.Pengeluaran Penghasilan ( Revenue Expenditure ) yaitu
 pengeluaran yang dapat memberi manfaat hanya satu periode
 yang bersangkutan dan dibuku atau dicatat sebagai beban.

103
Stetsel Acrual

Beban diakui pada saat terutang.

Stetsel Kas

Beban diakui pada saat pembayaran.

104
1. Biaya  untuk  mendapatkan,  menagih,  dan 
memelihara  penghasilan  yang  meliputi  biaya 
pembelian  bahan,  biaya  berkenaan  dengan 
pekerjaan,  atau  jasa  termasuk  upah,  gaji, 
honorarium,  bonus,  gratifikasi,  dan  tunjangan 
yang  diberikan  dalan  bentuk  uang,  bunga  sewa, 
royalti,  biaya  perjalanan,  biaya  pengolahan 
limbah,  piutang yang nyata – nyata tidak dapat 
ditagih,  premi  asurasni,  biaya  administrasi  dan 
pajak kecuali Pajak Penghasilan.
2. Penyusutan  atas  pengeluaran  untuk 
memperoleh  harta  berwujud  dan  amortisasi   
untuk memperoleh hak dan atas biaya lain yang 
mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun 
105
3. Iuran  kepada  dana  pensiun  yang  mendapatkan 
persetujuan dari Menteri Keuangan .
4. Kerugian  yang  diderita  karena  penjualan  atau 
pengalihan barang dan atau hak yang dimiliki dan 
dipergunakan  dalam  perusahaan  atau  yang 
dimiliki  untuk  mendapatkan,  menagih,  dan 
memelihara penghasilan,
5. Kerugian karena selisih kurs mata uang asing
6. Biaya  penelitian  dan  pengembangan  perusahaan 
yang dilakukan di Indonesia
7. Biaya  yang  dikeluarkan  untuk  keperluan  bea 
siswa,  magang  dan  pelatihan  dalam  rangka 
pengikatan kualitas SDM
8. Piutang  yang  nyata­nyata  tidak  dapat  ditagih, 
dengan syarat­syarat yang telah ditentukan.
106
1. Pembagian  laba  dengan  nama  dan  dalam  bentuk  apapun 
seperti dividen yang dibayarkan oleh perusahaan asuransi 
kepada  pemegang  polis,  dan  pembagian  sisa  hasil  usaha 
koperasi
2. Biaya  yang  dibebankan  atau  dikeluarkan  untuk 
kepentingan  pribadi  pemegang  saham,  sekutu,  atau 
anggota
3. Pembentukan  atau  pemupukan  dana  cadangan  kecuali 
cadangan piutan yang tak tertagih untuk usaha bank dan 
sewa guna usaha dengan hak opsi, cadangan untuk usaha 
asuransi,  dan  cadangan  biaya  reklamasi  untuk  usaha 
pertambangan,  yang  ketentuan  dan  syarat­syaratnya 
ditetapkan dengan Keputusan Menkeu.
4. Premi  asuransi  kesehatan,  asuransi  kecelakaan,  asuransi 
jiwa,  asuransi  dwiguna  dan  asuransi  beasiswa  yang 
dibayar  oleh  Wajib  Pajak  orang  pribadi,  kecuali  jika 
dibayar  oleh  pemberi  kerja  dan  premi  tersebut  dihitung 
sebagai penghasilan bagi Wajib Pajak yang bersangkutan
107
5. Penggantian  atau  imbalan  sehubungan  dengan  pekerjaan  atau  jasa 
yang  diberikan  dalam  bentuk  natura  dan  kenikmatan,  kecuali 
penyediaan  makanan  dan  minuman  bagi  seluruh  pegawai  serta 
penggantian  atau  imbalan  dalam  bentuk  natura  dan  kenikmatan 
didaerah tertentu dan yang berkaitan dengan pelaksanaan pekerjaan 
yang ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan.
6. Jumlah yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang 
saham  atau  kepada  pihak  yang  mempunyai  hubungan  istimewa 
sebagai imbalan sehubungan dengan pekerjaan yang dilakukan.
7. Harta  yang  dihibahkan,bantuan  atau  sumbangan,  dan  warisan, 
kecuali  zakat  atas  penghasilan  yang  nyata­nyata  dibayarkan  oleh 
WPOP  pemeluk  agama Islam dan  atau  WP Badan DN yang dimiliki 
oleh  pemeluk  agama  Islam  kepada  badan  amil  zakat  atau  lembaga 
amil zakat yang dibentuk atau disyahkan oleh pemerintah
8. Pajak Penghasilan
9. Biaya atau pengeluaran untuk kepentingan pribadi wajib pajak atau 
orang yang menjadi tanggungannya
10. Gaji  yang  dibayarkan  kepada  anggota  persekutuan,  firma,  atau 
perseroan komanditer yang modalnya tidak terbagi atas saham
11. Sanksi perpajakan 

108
 Pengeluaran  untuk  mendapatkan,  menagih  dan  memelihara 
penghasilan yang mempunyai masa manfaat lebih dari 1 (satu) 
tahun tidak dibolehkan untuk dibebankan sekaligus, melainkan 
dibebankan  melalui  penyusutan  atau  amortisasi  sebagaimana 
dimaksud dalam Pasal 11 atau Pasal 11A
 Pajak Masukan sepanjang tidak dapat dibuktikan bahwa Pajak 
Masukan tersebut benar­benar telah dibayar
 Biaya  untuk  mendapatkan,  menagih,  dan  memelihara 
penghasilan  yang  bukan  merupakan  Objek  Pajak,  pajaknya 
bersifat  final,  berdasarkan  Norma  Penghitungan  Penghasilan 
Neto.
 Pajak  Penghasilan  yang  ditanggung  oleh  pemberi  penghasilan, 
kecuali  pajak  atas  penghasilan  sebagaimana  dimaksud  dalam 
Pasal  26  ayat  (1)  UU  PPh  tetapi  tidak  termasuk  dividen 
sepanjang  Pajak  Penghasilan  tersebut  ditambahkan  dalam 
penghitungan dasar untuk pemotongan pajak, dan
 Kerugian dari harta atau hutang yang tidak dimiliki dan tidak 
dipergunakan dalam usaha atau kegiatan untuk mendapatkan, 
menagih,  dan  memelihara  penghasilan  yang  merupakan  Objek 
Pajak.

109
Jika  penghasilan  bruto  sesudah  dikurangi  biaya 
yang  diperkenankan  menurut  pajak  didapat 
keruigian  maka  kerugian  tersebut  dapat 
dikompensasikan  dengan  penghasilan  selama  5 
( lima ) tahun sejak tahun yang berikutnya sesudah 
tahun dideritanya kerugian tersebut.

110
Untuk  mendorong  investasi,  pemerintah  dapat 
memberikan fasilitas pajak yang berupa :

   Masa  Bebas  Pajak  (  Tax  Holiday  ),  berarti  Laba 


setelah  pajak  yang  tersedia  untuk  dibagi  (  tanpa 
memperhatikan  elemen  yang  lain  )  sama  besar 
dengan  jumlah  laba  komersial    yang  ditransfer  ke 
saldo  laba  (  walaupun  secara  yuridis  dapat  saja 
terjadi  perbedaan  perlakuan  antara  ketentuan 
fiskal dan komersial )
 Perangsang Penanaman ( Investmen allowance ), 
yang  diberikan  dalam  bentuk  pengurang 
penghasilan  dihitung  sebesar  sekian  persen  dari 
realisasi  investasi,  meyebabkan  jumlah  laba  kena 
pajak lebih kecil dari laba komersial  tanpa adanya 
beban biaya (komersial ) 
111
 Kredit  (pajak)  Investasi  (  Invesment  Credit  ), 
memberikan  pengurangan  pajak  yang  dihitung 
sebesar sekian persen dari realisasi investasi
 Akselerasi penyusutan ( Accelerated Depreciation ), 
merupakan  beban  penyusutan  yang  dipercepat 
yang  merupakan  pengurang  penghasilan  untuk 
tujuan komersial dan pajak.
 Pengurangan  Tarif  (  Rate  Reduction  ),  potongan 
pajak penghasilan 26 atas deviden dan laba setelah 
pajak  BUT  yang  perlakuannya  dapat 
dipersamakan dengan masa bebas pajak.

112
Studi Kasus SPT PPh
WP Badan

113
 Rekonsiliasi (koreksi) fiskal adalah peroses
penyesuaian atas laba komersial yang
berbeda dengan ketentuan fiskal untuk
menghasilkan penghasilkan neto/laba
yang sesuai dengan ketentuan pajak.

 Perbedaan-perbedaan antara akuntansi


dan fiskal tersebut dapat dikelompokkan
menjadi beda tetap / Permanen dan beda
waktu sementara
114
Beda tetap terjadi karena adanya
perbedaan pengakuan penghasilan dan
biaya menurut akuntansi dengan menurut
pajak yaitu adanya penghasilan dan biaya
yang diakui menurut akuntansi komersial
namun tidak diakui menurut fiskal, atau
sebaliknya. Beda tetap mengakibat
laba/rugi menurut akuntansi berbeda
secara tetap dengan laba kena pajak
menurut fiskal (taxable income)

115
Berda tetap timbul karena peraturan perpajakan
mengharuskan hal-hal berikut dikeluarkan dari
perhitungan Penghasilan Kena Pajak :
1. Penghasilan yang telah dikenakan PPh Final (Psl
4 ayat 2 UU PPh)
2. Penghasilan yang bukan objek pajak (Psl 4 ayat
3 UU PPh)
3. Pengeluaran yang tidak berhubungan langsung
dengan kegiatan usaha, yaitu mendapat,
menagih dan memelihara penghasilan atau jlhnya
melebihi kewajaran (Psl 9 ayat 1 UU PPh)

116
 Beda waktu merupakan perbedaan perlakuan
akuntansi dan perpajakan yang sifatnya
temporer. Artinya seara keseluruhan beban atau
pendapatan akuntansi maupun perpajakan
sebenarnya sama, tetapi berbeda alokasi setiap
tahunnya.
 Beda waktu biasanya timbul karena perbedaan
metode yang dipakai antara pajak dengan
akuntansi dalam hal:
1. Akrual dan realisasi
2. Penyusutan dan Amortisasi
3. Penilaian Persediaan
4. Kompensasi kerugian Fiskal
117
Rekonsiliasi fiskal dilakukan oleh wajib
pajak untuk mempermudah mengisi Surat
Pemberitahuan (SPT) Tahunan PPh dan
menyusun laporan keuangan fiskal yang
harus dilampirkan pada saat
menyampaikan SPT Tahunan PPh.

Contoh soal :
Data laporan keuangan PT. Fast tahun 2008
(dalam Rp)
118
Penjualan 1.250.000.000
HPP 500.000.000
Penghasilan Bruto Usaha 750.000.000
Biaya Operasional :
1. Gaji 55.000.000
2. Tunjangan Transpor Karyawan 45.000.000
3. Makan kantor 6.000.000
4. Pengobatan ditanggung perusahaan 20.000.000
5. Training Karyawan 15.000.000
6. Seragam Satpam 12.000.000
7. Saksi adm pajak 10.000.000
8. Pengangkutan 4.500.000
9. Bunga pinjaman 7.000.000
10. Cadangan penghapusan piutang 5.000.000
11.Jamuan tamu tanpa daf.normatif 10.000.000
12. Listrik dan Telpon kantor 24.000.000
13. PBB dan Bea Meterai 3.000.000
14. Penyusutan Aktiva Tetap 40.000.000
15. Premi Asurani Kebakaran Pebrik 10.000.000
16. Bantuan HUT RI 5.000.000
Total Biaya Operasional 271.500.000
Laba Usaha 478.500.000
Pendapatan lain-lain:
1. Dividen (20%) PT. Jaya (setelah PPh) 85.000.000
2. Sewa mobil box (stlh PPh) 9.700.000
3. Keuntungan selisih kurs 5.000.000
4. Penerimaan Pengembalian PBB 5.000.000
5. Jasa giro Bank Mandiri (sblm PPh) 2.000.000
Total Pendaptan lain 106.700.000
Laba Usaha sebelum PPh 585.200.000
119
Keterangan tambahan :

Jenis Aset Tahun Beli Harga Beli Nilai Residu


(Rp) (Rp)
Bangunan 06-07-2004 400.000.000 50.000.000
Permanen
Kelompok 1 10-12-2005 60.000.000 10.000.000

Diminta :
1. Buatlah rekonsiliasi fiskal untuk PT Fast
2. Berapakah Penghasilan Neto Fiskal
3. Berapakah PPh Penghasilan untuk tahun pajak 2008
4. Isikanlah SPT 1771 wajib pajak Badan / PT Fast

120
PASAL 28 (8) KUP

121
 Pasal 28 ayat 8 KUP
Pembukuan dengan menggunakan bahasa
asing dan mata uanga asing selain rupiah
dapat diselenggarakan oleh WP setelah
mendapat izin Mentri Keuangan
 Keputusan MKRI No. 533/KMK.04/2000
Penyelenggaraan pembukuan dalam
bahasa asing (bahasa inggris) dan mata
uang asing selain Rupiah (Dollar Amerika
Serikat) serta penyampaian SPT Tahunan
122
1. Wp dalam rangka Penanaman Modal Asing
(PAM), yaitu wajib Pajak yang beroperasi
berdasrkan ketentuan undang-undang yang
menegatur mengenai PMA
2. WP dalam rangka Kontran Karya yaitu WP
yang beroperasi berdasakan kontrak dengan
pemerintah RI sebagai dimaksud dalam
undang-undang yang mengatur mengenai
pertambangan

123
 Wp dalam rangka Kontrak Bagi Hasil, yaitu
WP yang beroprasi berdasarkan undang-
undang yang mengatur mengenai
pertambangan minyak dan gas bumi.
 Bentuk Usaha Tetap (BUT)
 WP yang mendaftar emisi sahamnya, baik
sebagian maupun seluruhnya dibursa efek
luar negeri
 WP yang berafiliasi langsung dengan
perusahaan induk di luar negeri yaitu
124
Perusahaan anak yang dimiliki dan atau
dikuasai
oleh perusahaan induk di luar negeri dalam
hubungan istimewa
 Kontrak Investasi Kolektif (KIK) yang
menerbitkan Reksadana dalam demonisasi
mata uang asing USD dan telah memperoleh
Surat Pemberitahuan Efektif Pernyataan
Pendaftaran dari Badan Pengawas Pasar-
Modal –Lembaga keuangan sesuai dengan
Peratuan Perundang-undangan
125
 WP mengajukan permohonan tertulis ke
KPP paling lambat 3 bulan sebelum tahun
buku diselenggarakan dalam USD atau 3
bulan sejak tanggalpendirian bagi WP
baru
 Dirjen Pajak atas nama MKRI memberikan
putusan paling lama 30 hari sejak tanggal
permohonan WP diterima. Apabila sudah
lewat 30 hari belum diterbitkan
keputusan, permohonan WP dianggap
diterima

126
 WP dalam rangka Kontrak Karya atau
Kontrak Bagi Hasil yang akan
menyelenggarakan pembukuan dengan
menggunakan bahasa inggris dan mata
uang USD, wajib menyampaikan
pemberitahuan secara tertulis ke KPP
tempat wajib pajak terdaftar
palinglambat 1 bulan sebelum tahun buku
yang diselenggarakan dalam bahasa
inggris dan mata uang USD tersebut
dimulai
127
Dimulai dari neraca akhir tahun buku
sebelumnya
(dalam Rp) yang dikonversikan ke mata uang
USD dengan menggunakan Kurs.
 Untuk harga perolehan harta berwujud dan
ayau harta tidak berwujud yang mempunyai
masa manfaat lebih dari satu tahun
menggunakan kurs yang sebenarnya berlaku
pada saat perolehan harta tersebut.
 Akumulasi penyusutan atau amortisasi harta
tersebut menggunakan kurs yang sebenarnya
berlaku pada saat perolehan harta tersebut
128
 Untuk harta lainnya dan kewajiban
menggunakan kurs yang sebenarnya
berlaku pada akhir tahun buku sebelmnya,
berdasarkan sistem pembukuan
yangdianut dilakukan secara taat asas
 Apabila terjadi revaluasi aktiva tetap,
disamping menggunakan nilai historis,
atau nilai selisih lebih dikonversi ke dalam
mata uang USD dengan menggunakan kurs
yang sebenarnya berlaku pada saat
dilakukannya revaluasi

129
 Laba ditahan atau sisa kerugian dalam
mata uang Rupiah dari tahun-tahun
sebelumnya, dikonversi ke dalam mata
uang USD dengan menggunakan kurs
sebenarnya berlaku pada akhir tahun buku
sebelumna, berdasarkan sistem
pembukuan yang dianut yang dilakukan
secara taat asas
 Untuk modal saham dan ekuitas lainnya
menggunakan kurs yang sebenarnya
berlaku pada saat terjadinya transaksi

130
 Dalam hal terdapat selisih laba atau rugi
sebagai akibat konversi dari mata uang
rupiah ke mata uang USD, maka selisih laba
atau rugi tersebut dibebankan pada rekening
laba ditahan
 Sisa kerugian fiskla dalam mata uang Rupiah
dari tahun-tahun sebelumnya yang dapat
dikompensasikan ke tahun pajak dimulainya
pembukuan dalam bahasa inggris dan mata
uang USD dengan menggunakan kurs yang
yang ditetapkan dalam keputusan MK yang
berlaku pada akhir tahun buku pada saat
kerugian fiskal tersebut terjadi
131
 Untuk Transaksi yang dilakukan dengan mata
uang USD pembukuannya dicatat sesuai
dengan dokumen transaksi yang
bersangkutan
 Untuk transaksi, baik dalam negeri maupun
luar negeri yang menggunakan mata uang
selain USD, dikonversikan ke dalam mata
uang USD dengan menggunakan kurs yang
sebenarnya berlaku pada saat terjadinya
transaksiyaitu :
a. Apabila dari dokumen transaksi diketahui
kurs yang berlaku mana kurs yang dipakai
adalah kurs yang diketahui dari transaksi
tersebut
132
b. Apablia dari dokumen transaksi tidak
diketahui kurs yang berlaku, maka kurs yang
dipakai adalah kurs yang sebenarnya berlaku
berdasarkan sistem pembukuan yang dianut
yang dilakukan secara taat asas

133
 Besarnya Pajak Penghasilan Pasal 25
untuk tahun pajak pertama adalah
sebesar PPh Psl 25 dalam satuan mata
uang rupiah dikonversi dengan
menggunakan kurs tengah BI yang berlaku
 Pembayaran PPh Psl 25 dan Psl 29 serta
PPh Final yang dibayar sendiri oleh WP
yang diizinkan untuk menyelenggarakan
pembukuan dalam bahasa dan mata uang
USD, dapat dilakukan dalam uang Rupiah

134
 Dalam hal pembayaran PPh Psl 25, Psl 29
dan PPh Final dilakukan dalam mata uang
Rupiah, WP harus mengkonversikan
pembayaran dalam mata uang Rupiah
tersebut ke mata uang USD dengan
menggunakan kurs yang ditetapkan dalam
Kep-Menkeu yang berlaku pada tanggal
pembayaran

135
 WP yang diizikan untuk menyelenggarakan
pembukuan dalam bahasa inggris dan mata
uang USD, wajib menyampaikan SPT Tahunan
PPh. Badan berserta lampirannya dalam hal
bahasa Indonesia kecuali lampiran berupa
laoran keuangan, dan dalam mata uang USD
 Dalam penerapan tarif Psl 17 penghasilan
Kena Pajak dikonversi kedalam mata uanga
USD dengan menggunakan kurs yang
ditetapkan dalam KepMenKeu yang berlaku
pada akhir tahun pajak yang bersangkutan
136
 Dalam hal terdapat bukti pembayaran
atau pemotongan/pemungutan PPh Psl 22
dan Psl 23 dalam mata uang rupiah yang
akan dikresitkan dalam SPT Tahunan PPh.
Badan harus dikonversi ke dalam mata
uang USD dengan menggunakan krs yang
ditetapkan dalam KMK yang berlaku pada
tanggal pembayaran atau
pemotongan/pemungutan pajak tersebut

137
 WP yang tidak mengajukan permohonan
untuk menyelenggarakan pembukuan
dalam bahasa inggris dalam mata uang
USD, atau permohonannya ditolak, atau
tidak menyampaikan pemberitahuan
secara tertulis ke KPP tempat WP
terdaftar, namun tetap menyelenggarakan
pembukuan dalam bahasa inggris dan
mata uang USD, terhadap WP tersebut
diperlakukan sebagai WP yang tidak
menyelenggarakan pembukuan
138
 Telah diizinkan untuk menyelenggarakan
pembukuan dalam bahasa inggris dan
mata uang USD atau pemberitahuan ke
KPP tempat WP terdaftar, namun
pembukuannya tetap diselenggarakan
dalam bahasa Indonesia atau mata uang
rupiah, maka izinnya dicabut dan WP
tidak boleh lagi mengajukan permohonan
untuk penyelenggaraan pembukuan dalam
bahasa inggris dan mata uang USD

139