Está en la página 1de 30

 M.

IBERAHIM MAHMUD
 DWI AGUS SUSANTO
 ACHMAD HUSAINI MULYADI
 M. FADHILLAH ILAHINAMA
Sadd Adz-
ISTIHSAN
Dzara’i
Syar’u Man
ISTISHAB Qablana

MASLAHAH Qaul
MURSALAH Shahabi

‘URF
back

ISTIHSAN

Menurut bahasa ) ‫)استحسن‬diartikan meminta berbuat


kebaikan, yakni menghitung-hitung sesuatu
menganggapnya kebaikan, mengembalikan sesuatu
kepada yang baik,

Menurut istilah ushul yaitu memperbandingkan, dilakukan


oleh mujtahid dari qias jalli (jelas) kepada qias khafi
(tersembunyi), atau dari hukum kulli kepada hukum
istinai’/juz’i
‫‪back‬‬

‫‪ISTIHSAN‬‬

‫اإلستحسان‬ ‫اإلستحسان‬ ‫اإلستحسان‬


‫بالنص‬ ‫باإلجماع‬ ‫بالقياس الخفى‬

‫اإلستحسان‬ ‫اإلستحسان‬ ‫اإلستحسان‬


‫بالمصلحة‬ ‫بالعرف‬ ‫بالضرورية‬
back

KEHUJJAHAN ISTIHSAN

Menurut Ulama Hanafiyyah, Malikiyyah dan sebagian


ulama Hanabilah, istihsan merupakan dalil yang kuat
dalam menetapkan hukum syara’.

Imam Syafi’i membatalkan dalil istihsan. Karena itu ia


menguraikannya dalam pasal tersendiri dalam kitabnya
Al-Umm dengan judul “Ibthalul Istihsan” (pembatalan dalil
istihsan).
back

ISTISHAB

Secara lughawi (etimologi) istishab itu berasal dari kata is-


tash-ha-ba (‫ )استصحب‬yang berarti: ‫استمرار الصحبة‬. Sehingga
istishab itu secara lughawi artinya adalah: “selalu
menemani” atau “selalu menyertai”.

Imam Ibnu As Subki mendefinisikan, “Menetapkan hukum


atas masalah hukum yang kedua berdasarkan hukum
yang pertama karena tidak ditemukan dalil yang
mengubahnya”
back

SYARAT-SYARAT ISTISHAB

Syafi’iyyah dan Hanabillah serta Zaidiyah dan Dhahiriyah


berpendapat bahwa hak-hak yang baru timbul tetap
menjadi hak seseorang yang berhak terhadap hak-haknya
terdahulu.

Hanafiyyah dan Malikiyah membatasi istishab terhadap


aspek yang menolak saja dan tidak terhadap aspek
yang menarik (ijabi) menjadi hujjah untuk menolak,
tetapi tidak untuk mentsabitkan.
back

ISTIHSAN
Istishhab al- Istishab al-
Bara`ah al- ibahah al-
Ashliyyah asliyah

Istishab al- Istishab al-


hukm washf
back

KEHUJJAHAN ISTISHAB
Mayoritas ulama dari madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hanbali
menyatakan bahwa istishab merupakan hujjah secara penuh, baik
dalam mempertahankan sesuatu yang sudah ada (daf’i), maupun
menetapkan sesuatu yang belum ada (istbat).

Ulama muta’akhirin dari Madzhab Hanafi, diantaranya Imam Abu


Zaid dan Shadrul Islam Abul Yusr berpendapat, istishab merupakan
hujjah dalam mempertahankan sesuatu yang sudah ada (daf’i),
bukan menetapkan sesuatu yang belum ada (istba).

Mayoritas ulama mazhab hanafi, sebagian ulama Madzhab


Syafi’i, Abul Husein al-Bashri, dan sekelompok ulama ilmu
kalam berpendapat, istishab bukan merupakan hujjah sama
sekali.
back

MASHLAHAH AL MURSALAH

Secara etimologi, Mashlahah sama dengan manfaat,


baik dari segi lafal maupun makna. Mashlahah juga
berarti manfaat atau suatu pekerjaan yang mengandung
manfaat.

Secara terminologi, menurut Imam Ghazali, Mashlahah ialah


mengambil manfaat dan menolak kemudaratan dalam rangka
memelihara tujuan-tujuan syara’. Tujuan syara’ yang harus dipelihara
tersebut menurut Imam Ghazali ada lima bentuk, yaitu: memelihara
agama, jiwa, akal, keturunan dan harta
back
PEMBAGIAN MASHLAHAH AL MURSALAH

Berdasarkan
Kualitas dan
Kepentingan

Mashlahah al- Mashlahah al- Mashlahah al-


Dharuriyyah Hajiyah Tahsiniyyah
back
PEMBAGIAN MASHLAHAH AL MURSALAH

Berdasarkan Segi
Kandungan

Mashlahah al- Mashlahah al-


‘Ammah Khashshah
back
PEMBAGIAN MASHLAHAH AL MURSALAH

Berdasarkan Segi
Ketetapan

Mashlahah al- Mashlahah al-


Tsabitah Mutaghayyirah
back
PEMBAGIAN MASHLAHAH AL MURSALAH

Berdasarkan segi
keberadaan
Mashlahah

Mashlahah al- Mashlahah al- Mashlahah al-


Mu’tabarah Mulghah mursalah
back
SYARAT-SYARAT
MASHLAHAH AL MURSALAH
a. Mashlahah ini tidak berbenturan dengan dalil nash maupun ijma’

b. Mashlahah ini keberadaannya harus berpijak pada pemeliharaan maqâshid


syari’ah

c. Sebuah kemashlahatan tidak dapat merubah ketetapan hukum


yang sudah ada yakni dalam dalil nash dan ijmâ’

d. Sebuah kemashlahatan tidak dapat berbenturan dengan


kemashlahatan lain yang lebih unggul dan kuat keberadaannya.
back
KEHUJJAHAN MASHLAHAH AL MURSALAH

Golongan Maliky sebagai pembawa bendera Mashlahah Mursalah,


mengemukakan alasannya, yaitu seperti praktek para sahabat yang
telah menggunakan Mashlahah Mursalah, di antaranya sahabat
mengumpulkan al-Qur’an ke dalam beberapa mushaf.

Golongan yang tidak memakai dalil maslahat, mengemukakan


alasan, mashlahat yang tidak didukung oleh dalil khusus akan
mengarah pada salah satu bentuk pelampiasan dari keinginan
nafsu dan cenderung mencari keenakan
back

‘Urf (Adat Istiadat)

‘Urf menurut bahasa berarrti mengetahui, kemudian


dipakai dalam arti sesuatu yang yang diketahui, dikenal,
diangap baik dan diterima oleh pikiran yang sehat.

Menurut para ahli ushul fiqh adalah sesuatu yang


yang telah saling dikenal oleh manusia dan
mereka maenjadikan tradisi.
back
PEMBAGIAN ‘URF (ADAT ISTIADAT)

Berdasarkan Bentuk

‘Urf Qauliyah ‘Urf Fi’liyah


back
PEMBAGIAN ‘URF (ADAT ISTIADAT)

Berdasarkan Nilai

‘Urf Shahih ‘Urf Fasid


back
PEMBAGIAN ‘URF (ADAT ISTIADAT)

Berdasarkan
Cakupan

‘Urf ‘Amm ‘Urf Khash


back
SYARAT-SYARAT
‘URF
a. Tidak ada dalil yang khusus untuk sutau masalah baik dalam al
Qur’an atau as Sunnah.

b. Pemakian tidak mengankibatkan dikesampingkanya nas syari’at termasuk juga


tidak mengakibatkan masadat, kesulitan atau kesempitan.

c. Telah berlaku secara umum dalam arti bukan hanya dilakukan


beberapa orang saja.
back

KEHUJJAHAN ‘URF
Ulama Malikiyah banyak menetapkan hukum berdasarkan
perbuatan-perbautan penduduk madinah. Berarti menganggap
apa yang terdapat dalam masyarakat dapat dijadikan sumber
hukum dengan ketentuan tidak bertentangan dengan syara’.

Imam Asy-Syafi’i terkenal dengan Qaul Qadim dan Qaul jadid-nya, karena
melihat praktek yang belaku pada masyarakat Baghdad dan Mesir yang
berlainan. Sedangkan urf yang fasid tidak dapat diterima, hal itu jelas karena
bertentangan dengan syarat nash maupun ketentuan umum nash.

Golongan Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa urf adalah


hujjah untuk menetapkan hukum islam.
back

Sadd Adz-Dzara’i
Menurut Bahasa, Sadd adz-dzarai’ terdiri dari dua kata. Sadd dan adz-dzarai’. Kata
sadd dapat kita artikan mencegah (al-man’u, al-hasmu), dan adz-dzarai’ adalah
bentuk jamak dari kata dzari’ah. Secara etimotologi, kata dzari’ah memiliki arti at
taharruk wa al imtidad. Sesuatu yang menunjukan adanya perubahan.

Menurut istilah ialah :


1. “menghambat segala sesuatu yang menjadi jalan kerusakan”
2. “mencegah/menyumbat sesuatu ygang menjadi kerusakan, atau
menyumbat jalan yang dapat menyampaikan seseorang pada kerusakan”.

Setiap perbuatan yang akan mengantarkan kepada mafsadat, ada yang hukum
asalnya haram, dan ada juga yang hukumnya boleh. Adapun yang hukum asalnya
haram, para ulama tidak mempertentangkan mengenai ketetapan hukumnya.
Seperti minum khamar yang akan menyebabkan mabuk dan merusak akal
manusia. Hal ini tidak termasuk dalam pembahasan sadd adz-dzarai’.
back
OBJEK SADD ADZ-DZARI’AH

1) Perbuatan yang akibatnya menimbulkan kerusakan/bahaya,

2) Perbuatan yang jarang, berakibat kerusakan /bahaya,

3) Perbuatan yang menurut dugaan kuat akan menimbulkan bahaya;

4) Perbuatan yang lebih banyak menimbulkan kerusakan, tetapi


belum mencapai tujuan kuat timbulnya kerusakan itu.
back
KEHUJJAHAN SADD ADZ-DZARI’AH

1) Imam Malik dan Imam Ahmad Ibnu Hambal dikenal sebagai dua
orang Imam yang memakai saddu dzari’ah. Oleh karena itu, kedua
Imam ini menganggap bahwa saddu dzari’ah dapat menjadi hujjah.

Imam Ibnu Qayyim mengatakan, bahwa penggunaan saddu dzari’ah merupakan


satu hal yang penting sebab mencakup seperempat dari urusan agama. Di
dalam saddu dzari’ah termasuk Amar (perintah) Nahi (larangan).

Ulama Hanafiyyah, dan syafi’iyah, menerima saddu dzari’ah


sebagai dalil dalam masalah-masalah tertentu dan
menolaknya dalam kasus-kasus lain.
back

Qaul Shahabi
Secara etimologis qaul artinya perkataan, ucapan, sabda. Secara terminologis
ialah pendapat atau suatu pandangan yang tertuju pada suatu hukum Fiqh, dan
sabab musabab mengapa Qaul dimaknai dengan pandangan atau pendapat
ialah karena pada umumnya pendapat dari seseorang tidaklah dapat diketahui
sampai ia mengatakannya.

Shahabi diartikan sahabat nabi, yaitu orang mukmin yang pernah bertemu
langsung dengan nabi serta bergaul lama dengan beliau.

Menurut pandangan Imam Syafi’i, qaul shahabi adalah fatwa-


fatwa yang dikeluarkan oleh sahabat Nabi Muhammad SAW
menyangkut hukum masalah-masalah yang tidak diatur di dalam
nash, baik Al-Qur’an maupun Sunnah.
back
KEHUJJAHAN QAUL SHAHABI
Imam Ahmad ibnu Hanbal yang menyatakan jika Qaul Shahabi
dapat dijadikan Hujjah bila betul-betul nyata wujudnya. Adapun
dasar yang dipakai ialah

“Berpeganglah sekalian kamu kepada cara-caraku dan cara


Khulafaur Rasyidin” (HR.Abu Daud)

Mahzab Asy-Syafi’i dalam qaul qadimnya. Dan di antara ulama mazhab ini yang
berpendapat bahwa qaul Shahabi bukan hujjah adalah Al-Ghazali, Al-Amidi.
Selain itu pendapat ini juga merupakan pendapat dari Al-Imam Ahmad yang
mewakili mazhab Al-Hanabilah menurut riwayat kedua.
Dari kalangan mazhab Al-Hanafiyah, yang ikut dalam pendapat ini adalah Al-
Karkhi dan Ad-Dabbusi. Mazhab Adz-Dzahiri dan Mu’tazilah juga termasuk yang
berpendapat bahwa qaul Shahabi bukan hujjah.
back

Syar’u Man Qablana

Secara Etimologis adalah hukum-hukum yang disyariatkan oleh Allah


bagi umat-umat sebelum kita

. Secara Terminologis yaitu ajaran agama sebelum datangnya ajaran agama


islam melalui perantara nabi Muhammad SAW. Seperti ajaran nabi Musa, Isa,
ibrahim, dan lain lain
back

Kehujjahan Syar’u Man Qablana

Jumhur ulama’ Hanafiah, sebagian ulama’ Maikiyah dan syafi’iyah


berpendapat bahwa Syar’u Man Qablana disyariatkan juga pada kita
dan kita berkewajiban mengikuti dan menerapkannya selama hukum
tersebut telah diceritakan kepada kita serta tidak terdapat hukum yang
menasakhnya

Sebagian ulama mengatakan bahwa syari’at kita itu menasakh atau


menghapus syari’at terdahulu, kecuali apabila dalam syari’at
terdapat sesuatu yang menetapkannya.
‫شكرا جزيال‬
‫جزاكم هللا خيرا ك ثيرا‬