Está en la página 1de 63

PLENO SKENARIO III

BLOK GU-PER
“ Obstruksi Sistem Urinaria”

Disusun oleh :
Kelompok tutorial 7
Debby Cinthya DV 1418011048
Echa Putri Anjani 1418011067
Fistana Bella Valani
Gita Cahaya
1418011087
1418011092
Anggota :
Innou Dhanu M 1418011107
Monika Rai Islamiah 1418011126

Naufal Rafif P 1418011147


Natasya Hayatillah 1418011146
Putu Amrita Kirana 1418011167

Kelompok 7 Rini Safitri 1418011187


Sutansya Ahmad I 1418011207
Tri Lamtiur P 1218011155
Zafira Pringgoutami 1418011227
STEP 1
Tidak di temukan kata yang sulit.
STEP 2
1. Bagaimana anatomi dan histologi ogan genitourinaia?
2. Apa yang menyebabkan keluhan pasien pada skenario?
3. Apa interpretasi pemeriksaan fisik yang ada di skenario?
4. Apa yang terjadi pada pasien? (diagnosis)
5. Apakah faktor resiko yang menyebabkan penyakit
pasien?
6. Apa saja pemeriksaan penunjang yang di perlukan?
7. Bagaiamana tatalaksana penyakit pada pasien?
STEP 3
1. Bagaimana anatomi dan histologi ogan genitourinaia?

GENITOURINARIA

URINARY GENITAL

TESTIS
GINJAL
EPIDIDIMIS
URETER
VAS DEFERENS
VESICA URINARIA
GLANDULA ACCESORIUS
URETRA
PENIS
2. Apa yang menyebabkan keluhan pasien pada skenario?

• Hematuria: BPH, Ca Sal.Kemih, Nefrolithiasis


• Retensi Urin: Nefrolithiasis, Obstruksi
Sal.Kemih.
• Kencing terputus: Nefrolithiasis,
Obstruksi Sal.Kemih.
3. Apa interpretasi pemeriksaan fisik yang ada di
skenario?

• Nefrolithiasis: - Nyeri pinggang , - Hematuria,


- Nausea dan vomitus
• BPH: -Kencing terputus, - ColokDuburMassa
• Ca Sal.Kemih: - Gross Hematuria (x) rasa sakit,
- Limfadenopati,
- ColokDuburMassa
• Obstruksi Sal.kemih: - Retensi Urin
4. Apa yang terjadi pada pasien? (diagnosis)

•Obstruksi Saluran Kemih


•BPH
•Nefrolithiasis
5. Apakah faktor resiko yang menyebabkan penyakit
pasien?

Obstruksi
BPH Nefrolithiasis
Saluran Kemih
• genetika • Faktor • Faktor
• Biologis endogen Ekstrinsik
• Prilaku • Faktor • Faktor
• Lainnya eksogen Intrinsik
6. Apa saja pemeriksaan penunjang yang di perlukan?

a. Nefrolitiasis b. BPH
Dapat dilakukan • Pemeriksaan sedimen urin,
pemeriksaan urinalisis faal ginjal, dan menghitung
untuk melihat hematuria, kadar PSA.
asam urat urin, • Foto polos abdomen dan
leukosituria, kadar USG
elektrolit; kultur urin bila • Pemeriksaan derajat
dicurigai adanya batu oleh obstruksi prostat.
penyebab infeksi; dan
pemeriksaan radiologi
dengan foto polos
abdomen, IVP, CT Scan
non kontras, dan USG.
7. Bagaiamana tatalaksana penyakit pada pasien?

LO
STEP 4
GINJAL

• Posisi hepar membuat ginjal kanan


lebih rendah dari ginjal kiri.
• Dextra : L1-L3 dan Sinistra: T12-L2
• Hilus renal setinggi L2 : A.renalis,
v.renalis, pembuluh limfe & saraf.
• Lapisan ginjal
1. Kapsul fibrosa
2. Lemak perinephric
3. Fascia Gerota
4.Lemal paranephric
SIMPATIS
T12-L2
Kontriksi aliran darah &
menurunkan kidney output

PARASIMPATIS
N. Vagus
Meningkatkan aliran darah
& filtrasi
URETER

Penyempitan ureter:
1. Ureteropelvic junction
2. pelvic brim
3. Ureterovesico junction

3 Lapisan
1. Mukosa : Epitel transisional
2. Muscular :
• Longitudinal interna
• Sirkular
• Longitudinal eksterna
3. Adventitia
VESICA URINARIA
2. Apa yang menyebabkan keluhan pasien pada
skenario?

• Nefrolithiasis: Genetik/Herediter,
Hiperkalsiuria, Hiperuricuria,
Infeksi (Struvit),
Hyperparathyroidism, etc.
• BPH: -Teori DHT, -Teori interaksi stroma-epitel,
-Teori estrogen-testosteron,
-Teori Apoptosis
• Ca Sal.Kemih: LO
• Obstruksi Sal.kemih

- Intrinsik :
-Terjadi kegagalan proses kanalisasi pada ureter proksimal.
- Adanya serat kolagen di antara otot polos
- adanya lipatan mukosa (klep) pada uvj

- Ekstrinsik :
-Ureter proksimal disilang oleh Pembuluh darah/PD
asksesoria yang menuju kutub bawah ginjal, PD ini menekan
ureter proksimal sehingga terjadi pengosongan pelvis 
hidronefrosis
3. Apa interpretasi pemeriksaan fisik yang ada di
skenario?

A. Nefrolithiasis
 Tanda & Gejala Utama:  Gejala tambahan:
Nyeri pinggang Gejala ISK
Nyeri abdomen Demam atau menggigil
Pyuria
Nausea dan vomitus
Dysuria
Fatigue Persistent urge to void
Demam, HT, dan Gejala gagal ginjal
Tachypnea
Hematuria
Passing stone
B. Obstruksi Sal.Kemih
 Gambaran Klinis: Massa pinggang:
Nyeri pinggang - Hidro/Pionefrosis
Nyeri abdomen Colok Dubur:
Demam -Ca Buli/Prostat

C. Retensi Urin
 Gambaran Klinis:
Obstruksi Uretra:
M. Detrusor lemah
Cedera Cauda Equina
(Inkoordinasi antara M.Detrusor-Uertra)

D. Ca Sal.Kemih (LO)
4. Apa yang terjadi pada pasien? (diagnosis)

Keluhan pasien:
• BAK berdarah (sejak 1 bulan lalu)
• Kesulitan BAK (sekitar 3 bulan lalu)
• Air kemih keluar tersendat, menetes pada akhir BAK
• Rasa tidak tuntas saat berkemih
• Berkemih tiap 30 menit sekali, dan terasa sakit
• Keluhan dirasakan terutama malam hari
• BAK berdarah+nyeri pinggang hilang timbul
Pemeriksaan Fisik:
• Nyeri tekan suprapubik (+)
• Nyeri ketok costovertebrae (+/+)
• Rectal toucher = eksternal tidak ada kelainan,
sfingter baik, benjolan dengan konsistensi
kenyal-padat arah jam 11-1, permukaan rata,
nyeri tekan(-). Sarung tangan lendir darah(-)
Suspect:
 Obstruksi saluran genitourinari et causa BPH
dan Nephrolithiasis
5. Apakah faktor resiko yang menyebabkan penyakit
pasien?

1. Obstruksi Saluran Kemih


Genetika Biologis Perilaku Lainnya
• Status • Kelainan • senggama • Operasi
nonsekretoris Kongenital • Penggunaan urogenital
• Antigen gol. • Riwayat infeksi Diafragma, • Terapi estrogen
Darah ABO sal. Kemih kondom,
• Diabetes spermisida
inkontinensi • Kebersihan
organ genital
2. BPH

Faktor Endogen Faktor Eksogen

• Riwayat • Faktor
Keluarga Lingkungan
• Hormon
• Usia
• Stress
3. Nephrolithiasis

Faktor intrinsik Faktor Ekstrinsik

• Herediter • Geografi
• Umur • Iklim dan temperatur
• Asupan Air
• Jenis kelamin
• Diet
• Pekerjaan
STEP 5
1. Apa saja hal yang menyebabkan hematuria ?
2. Jelaskan kegananasan pada : ginjal, buli-buli
prostat dan penis !
3. Jelaskan ganguan kongenital genitalia pada anak
:hipospadia, epispadia, hidrokel, varikokel!
4. Jelaskan pemeriksaan penunjang BPH dan
Nephrolithiasis !
5. Jelaskan tatalaksana BPH, nephrolithiasis, dan
disfungsi ereksi!
STEP 6
Sumber belajar :
• Treatment and prevention of kidney stone vol.84
numb.11. American family physician
• Pedoman penatalaksanaan BPH di Indonesia
• Urologi Basuki edisi 4
• Guideline Ikatan Ahli Urologi Indonesia
STEP 7
1. Apa saja hal yang menyebabkan hematuria ?

• A : Gangguan obstruksi dan iritasi saluran


kemih
BPH • PF: Pembesaran prostat pada digital dubur,
vesika urinary bulging (+)
• PP: PSA (+), BNO-IVP

• A: disuria, nokturia, nyeri suprapubik, riwayat


ISK sebelumnya
• PF: demam, nyeri tekan suprapubik, distensi
ISK kandung kemih
• PP: pem urinalisis  leukositosis, piuria,
kultur urin > 104 bakteri/ml
• A: hematuria tanpa nyeri, disuria, frekuensi,
urgensi, usia > 50 th, hx iradiasi panggul,
penurunan BB, riwayat merokok
Kanker buli • PF: massa panggul, nyeri tekan sudut
costovertebral
• PP: sitologi urin, CT scan abdomen
• A: lanjut usia, riwayat keluarga dengan
kanker, gejala obstruktif berkemih,
Kanker penurunan BB
• PF: pada rectal toucher ditemukan
prostat pembesaran prostat dengan konsistensi keras
dan permukaan yang ber nodul
• PP: peningkatan PSA

• A: nyeri pinggang yang menjalar ke


Batu selangkangan
• PF: nyeri ketok costo vertebra (+)
ginjal • PP: non contras CT scan abdomen, BNO

• A: trauma tumpul pada pinggang, menembus


panggul atau luka perut (tembakan atau tikaman),
Trauma patah tulang rusuk yang lebih rendah
ginjal • PF: hipotensi, nyeri panggul, memar panggul,
nyeri perut, perut kembung
• PP: kontras CT scan abdomen
• A: trauma tumpul panggul, luka menembus
panggul atau perut (tembakan atau tikaman),
Trauma fraktur panggul, ketidakmampuan berkemih
• PF: nyeri tekan suprapubik, ekimosis pada
buli lower abdominal
• PP: retrograde sistogram
• A: trauma genitalia eksterna, straddle injury, bilateral
pubic rami fracture and malgaigne’s fracture,
perirenal lacerations, tidak bisa berkemih, riwayat
Trauma intervensi kolorektal atau ginekologi
• PF: hematom scrotum, floating prostat, cimosis pada
uretra batang penis, butterfly ecchymosis pada perineum
• PP: retrograde sistogram, kontras CT scan abdomen,
sistoskopi
• A: nyeri pinggang, hematuria dan massa pada
pinggang merupakan tanda tumor dalam
Grawitz stadium lanjut, nyeri pada sisi ginjal yang
terkena, penurunan berat badan, kelelahan,
tumor demam yang hilang timbul, anemi
• PF: masa di perut
• PP: CT scan, USG
2. Jelaskan kegananasan pada : ginjal, buli-buli
prostat dan penis !
Keganasan Pada Prostat
Keganasan pada kelenjar prostat yang paling banyak dijumpai pada pria
usia >50 tahun
Ditandai oleh hiperplasia prostat diffuse, konsistensi padat, tanpa batas
yang jelas

Etiologi dan faktor risiko


• Genetik : faktor resiko bertambah jika terdapat saudara
sekandung, ayah yg menderita
•Pengaruh hormonal : hiperaktivitas DTH, androgen (testosteron)
•Pengaruh lingkungan : kebanyakan dialami oleh bangsa afro-
amerika kulit hitam dibanding kulit putih
•Diet : pemicu (lemak, susu binatang, daging merah, hati, merokok),
penurun resiko (beta karoten, isoflavon,
• Infeksi
Patologi:
Prostat normal - PIN (proatate intraepithelial neoplasia) -
karsinoma prostat - karsinoma prostat stad.lanjut -
karsinoma prostat metastasis - HRPC (hormone refractory
prostate cancer)
Sebagian besar berupa adeno-karsinoma (asal sel dari sel
stroma atau sel epitelial)
Manifestasi klinis:
Gangguan sal.kemih : kesulitan miksi, nyeri kencing,
hematuria (kanker menekan uretra)
Keluhan hampir menyerupai BPH dengan LUTS berat
Metastasis tulang : nyeri tulang, fraktur metastasis,
kelainan neurologis (metastasis vertebrae)
Colok dubur : nodul besar keras pada perabaan prostat
Pemeriksaan pencitraan:
• USG transrektal (TRUS) : 60persen (+) Ca prostat jika
ditemukan area hipo-ekoik
• CT scan dan MRI : dilakukan pada pasien dgn indikasi
metastasis limfonodi (N) jika kadar PSA tinggi atau
gleason +7
• Bone scan (sintigrafi) : indikasi metastasis ke tulang

Tatalaksana:
T1-T2 (A-B) : radikal prostatektomi, observasi (pasien tua)
T3-T4 (C) : radiasi, prostatektomi
N atau M (D) : radiasi, hormonal
Terapi hormonal
Orkidektomi : menghilangkan sumber androgen dari testis
Estrogen : anti androgen (DES)
LHRH agonis : kompetisi LHRH (leuprolide, biserelin, goserelin)
Antiandrogen non-steroid
Keganasan pada Ginjal

Renal Cell Carcinoma (RCC) : 85%


Transitional Cell Carcinoma : 12%
Tumor ganas lain: 2%
Renal Cell Carcinoma (RCC)
Etiologi:
-Berasal dari tubulus convolutus proksimal  tipe clear cell dan
papiler
-Komponen yg lbh distal dari nefron  tipe chromophobe dan
collecting duct RCC
Faktor Risiko:
Merokok
Obesitas
Hipertensi
Radiasi
Diet : > lemak/protein, < sayur/ buah)
Paparan (logam, karet, zat kimia, industri percetakan)
Anamnesis:
Trias: nyeri pinggang, gross hematuria, teraba massa abdomen
Gejala metastasis: nyeri tulang, batuk menetap
Gejala paraneoplastik
Pemeriksaan Fisik:
•Massa abdomen
•Limfadenopati
•Demam
•Edema ekstremitias inferior bilateral
Staging RCC AJCC 2010
Staging RCC AJCC 2010
Keganasan pada Penis
Faktor Risiko:
•Fimosis
•Hygiene yg bruruk
•Merokok
•Fotokemoterapi UV A
•Riwayat hub seksual dini danberganti-ganti
Gejala Klinis: •Indurasi
•Nyeri (-) •Pustula
•Lemah •Kutil
•BB turun •Ulkus
•Discharge berbau busuk
Staging Tatalaksana:
•Kategori T1a:
Eksisi lokal dg/tanpa sirkumsisi
Terapi laser dg CO2 atau Nd:YAG
Terapi lokal dg 5-fluorourancil atau
5% imiquinod cream
• Katergori T1b:
Eksisi laser dg operas
rekonstruksi/total glans resurfacing
Neoadjuvant chemotheraphy
Radioterapi
Glansektomy
• Kategori T2 (Terbatas pd glans)
Glansectomy total
Tatalaksana:
•Kategori T2 (dg invasi Corpus Cavernosum)
Amputasi parsial
(surgical margin 5-10mm)

•Kategori T3 (Invasi Uretra)


Amputasi total dg urethronostmoy

•Kategori T4
Neoadjuvant Chemotherapy
Radiasi (alternatif)
3. Jelaskan ganguan kongenital genitalia pada anak:
hipospadia, epispadia, hidrokel, varikokel!
Hipospadia
Suatu kelainan yang terjadi bila penyatuan di garis tengah lipatan
uretra tidak lengkap sehingga meatus uretra terbuka

Etiologi:
 Faktor genetik
 Kurangnya fusi lipatan uretra
selama perkembangan
embrio

KLASIFIKASI
Terapi
Operasi Hipospadia dua tahap :
Tahap 1 :
dilakukan untuk meluruskan penis supaya posisi
meatus (lubang tempat keluar kencing) nantinya
letaknya lebih proksimal (lebih mendekati letak
yang normal), memobilisasi kulit dan preputium
untuk menutup bagian ventral / bawah penis.
Tahap 2 :
dilakukan urethroplasti (pembuatan saluran
kencing / urethra).
Epispadia

Epispadia merupakan suatu


kelainan bawaan pada bayi laki-
laki, dimana lubang uretra
terdapat di bagian punggung
penis atau uretra tidak berbentuk
tabung, tetapi terbuka.

ETIOLOGI
• Gangguan dan ketidakseimbangan hormon
 hormon androgen atau reseptornya
yang kurang / tidak ada
• Genetika  karena gagalnya sintesis
androgen
• Lingkungan  polutan dan zat yang bersifat
teratogenik yang dapat mengakibatkan
mutasi.
Tiga jenis epispadia Tatalaksana:
Pembedaan rekonstruksi
Hidrokel
• penumpukan cairan yang berlebihan diantara lapisan
prietalis dan viseralis tunika vaginalis.
Etiologi
 Belum sempurnanya penutupan prosesus vaginalis sehingga
terjadi aliran cairan peritoneum ke prosesus vaginalis
 Belum sempurnanya system limfatik di daerah skrotum dalam
melakukan reabsorpsi cairan hidrokel.
Terdapat 3 jenis hidrokel:
• Hidrokel testis
Testis tak dapat diraba, kantong hidrokel tidak berubah
sepanjang hari.
• Hidrokel funikulus
Testis teraba, kantong hidrokel tidak berubah sepanjang
hari.
• Hidrokel komunikan
Kantong hidrokel membesar saat anak menangis dan
dapat dimasukkan ke rongga abdomen.

Terapi
Hidrokel pada bayi ditunggu sampai usia 1 tahun dengan
harapan akan sembuh
sendiri. Tindakan untuk mengatasi cairan hidrokel
adalah dengan operasi.
Varikokel
• Dilatasi abnormal dari vena pada pleksus pampiniformis akibat
gangguan aliran darah balik vena spermatika interna.

Pemeriksaan  posisi pasien berdiri dengan melakukan maneuver


valsava (mengedan).
Jika ada varikokel, maka akan didapatkan gambaran-gambaran
berikut ini:
 Derajat kecil
 Derajat sedang
 Derajat besar

Terapi :
Ligasi tinggi vena spermatika interna secara
Palomo melalui operasi terbuka atau bedah
laparoskopi.
4. Jelaskan pemeriksaan penunjang BPH dan Nephrolithiasis !

BPH
Pemeriksaan lainnya
Pemeriksaan Lab
• Pemeriksaan uroflowmeter
-flow rate max : 15ml/detik non obstruktif
• Darah lengkap -10-15ml/detik border line
• Faal ginjal -10ml/detik obstruktif
• Pemeriksaan imaging dan rontgenologik
• Elektrolit serum
a.BOF ( buih overzich ) untuk melihat adanya batu
• Urinalisis dan metastase pada tulang
• Kadar gula b. USG ( Ultra SonoGrafi ) digunakan untuk
• PSA ( Prostatic Spesific memeriksa konsistensi, volume dan besar prostat
Antigen ) penting diperiksa juga keadaan buli-buli termasuk residual urin
sebagai kewaspadaan c. IVP ( Pyelografi Intra Vena ) digunakan untuk
adanya keganasan melihat fungsi ekskresi ginjal dan adanya
hidronefrosis
(Goldstandard)
d. pemeriksaan panendoskop untuk mengetahui
keadaan urethra dan buli-buli
Pemeriksaan penunjang Nefrolithiasis

Pemeriksaan Lab Pemeriksaan lainnya


Darah rutin
Pemeriksaan radiografi imaging
Urin rutin
a. CT-Scan (Goldstandard)
Faal ginjal
b. USG
Kadar elektrolit
c. Foto polos abdomen
d. BNO-IVP
5. Jelaskan tatalaksana BPH, nephrolithiasis &
disfungsi ereksi!

a. Tatalaksana BPH

**Di Indonesia, tindakan Transurethral Resection of the prostate


(TURP) masih merupakan pengobatan terpilih untuk pasien BPH.
Skema pengelolaan BPH di
Indonesia untuk dokter umum
dan spesialis non urologi
a. Tatalaksana BPH

• Watchful waiting (edukasi dan pengawasan)


a. Jangan banyak mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah makan malam
b. Kurangi makanan/minuman yang sebabkan iritasi pada VU (kopi atau cokelat)
c. Batasi penggunaan obat-obat influenza yang mengandung fenilpropanolamin
d. Kurangi makanan pedas dan asin
e. Jangan menahan kencing terlalu lama

• Medikamentosa
1. Antagonis adrenergik reseptor -α , dapat berupa:
a. preparat non selektif: fenoksibenzamin
b. preparat selektif short acting : prazosin, afluzosin, dan indoramin
c. preparat selektif long acting : doksazosin, terazosin, dan tamsulosin
2. Inhibitor 5 a redukstase, yaitu finasteride dan dutasteride
3. Fitofarmaka
a. Tatalaksana BPH

• Pembedahan
Indikasi terapi pembedahan :
a. BPH yang telah menimbulkan keluhan sedang hingga berat
b. Tidak menunjuk-kan perbaikan setelah pemberian terapi non bedah
c. Pasien yang menolak pemberian terapi medikamentosa
d. BPH yang sudah menimbulkan komplikasi

**Prosedur TURP merupakan 90% dari semua tindakan pembedahan prostat


pada pasien BPH.

**TURP lebih sedikit menimbulkan trauma dibandingkan prosedur bedah


terbuka dan memerlukan masa pemulihan yang lebih singkat. Secara umum
memper-baiki gejala BPH hingga 90%, meningkatkan laju pancaran urine
hingga100%.
a. Tatalaksana BPH

 Secara rutin pemeriksaan


IPSS, uroflometri, atau
pengukuran volume residu
urine.

 Pasien yang menjalani


tindakan intervensi perlu
pemeriksaan kultur urine
untuk melihat kemungkinan
penyulit infeksi saluran
kemih akibat tindakan itu.
b. Tatalaksana Nephrolithiasis

American Family Physician Voume 84 Number 1


b. Tatalaksana Nephrolithiasis

American Family Physician Voume 63 Number 7


c. Tatalaksana Disfungsi Ereksi

Inhibitor PDE-5 : sidenafil sitrat, vardenafil,


tadalavil
Oral
Obat Lain : apomorphine sublingual,
pentolamin, pentoksifillin, trazodone
Lini Pertama
Pompa Vakum -

Psikoseksual -

Injeksi
Papaverin, fentolamin, prostaglandin E1
intrakavernosa
Lini Kedua
Instilasi intraurethral PGE 1

Lini Ketiga Prostesis penis Infatable, non infatable