Está en la página 1de 15

ANGGOTA KELOMPOK :

1. AUDI AMALIA 151610713024


2. MIFTAHUL ARIFIN 151610713026
3.YOHANA RAHMANINGTYAS 151610713028
4. INAYATI 151610713036
5. NABILLA FIRDAUS P.
6.YUNARA SATRIVA
151610713045
151610713047
KELOMPOK 7
7. MAULANA ROBBI FELANI 151610713052
8. APRILIA WIRA YUDIANTI 151610713088
9. DIMAS FAISAL 151610713094
10. ZULHAM FARDIANSYAH 151610713101
11. AKBAR PUTRA DHANANTA 151610713115
OUTLINE
 DEFINISI LABA DI TAHAN (RETAINED EARNINGS)
 PERLAKUAN PAJAK PADA LABA DITAHAN
 KETENTUAN PERPAJAKAN MENGENAI LABA DITAHAN
 PERHITUNGAN LABA DITAHAN
 CONTOH KASUS
 KESIMPULAN
DEFINISI LABA DI TAHAN
(RETAINED EARNINGS)
 Laba Ditahan (Retained Earnings) merupakan
kumpulan laba tahun berjalan dari sejak tahun
pertama perusahaan berdiri sampai dengan sekarang
setelah dikurangi dengan dividen yang dibagi.
(Menurut pendapat Martono dan Agus Harjito
(2005:201)

DEFINISI  Laba Ditahan (Retained Earnings) biasanya ada pada


perusahaan yang berbentuk PT (Perseroan Terbatas).
Pendistribusian laba kepada para pemegang saham
LABA DITAHAN disebut dividen. Pembagian laba ditahan dapat
dilakukan dalam bentuk :
a. Uang tunai (kas)
b. Saham perusahaan
c. Harta selain kas
(Menurut akutansi pajak Dr. Gunadi, Msc, Akt halaman
118)
ALUR LABA DITAHAN
Pendapatan

Laba
(Dikurangi) Laba Bersih Laba Bersih Setelah Pajak Dividen
Ditahan

(Dikurangi Pembagian
Pajak) kpd
Pemegang
Saham
Beban

Rugi Bersih
mengurangi
Laba ditahan
 Laba yang ditahan akan digunakan kembali oleh
perusahaan untuk mendanai berbagai macam aktivitasnya,
seperti :
 Pengembangan Usaha
a. Membangun pabrik baru
b. Pengembangan produk baru

MENGAPA c. Investasi pasar modal

 Membayar Hutang, khususnya Hutang Jangka Panjang yang


LABA akan jatuh tempo, seperti:
a. Hutang Obligasi

HARUS b. Hutang Hipotik

 Kegiatan Operasional, digunakan untuk membiayai

DITAHAN? kebutuhan perusahaan, seperti:


a. Bahan Baku
b. Tunjangan dan Bonus
c. Sewa Gudang
d. Gaji Pegawai
(Menurut http://nichnotes.blogspot.com/2018/01/laba-
ditahan.html)
ketentuan Perpajakan
Atas Laba Ditahan
)
(Retained Earnings
KETENTUAN PERPAJAKAN TENTANG
LABA DITAHAN
Menurut UU PPh Pasal 23 tentang objek pajak, Laba Ditahan baru bisa dipajaki apabila
telah dibagikan kepada pemegang saham atau dalam bentuk dividen.
Ditegaskan pula pada Pasal 4 ayat 3 huruf f angka 1 Undang-Undang Nomor 36 Tahun
2008 tentang Pajak Penghasilan, laba ditahan dikecualikan dari objek pajak.
“Dividen atau bagian laba yang diterima atau diperoleh PT sebagai WP dalam negeri,
Koperasi, BUMN atau BUMD dari penyertaan modal atau badan usaha yang didirikan
dan bertempat kedudukan di Indonesia, dengan syarat:
1. Dividen berasal dari cabang laba yang ditahan
2.Bagi PT, BUMN, atau BUMN yang menerima Dividen kepemilikan saham pada Badan
yang memberikan Dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor.”
CONTOH KASUS
SAAT PEMBAGIAN LABA
DITAHAN
PT Ahok menerima dividen sebesar Rp 750.000.000 dari PT Cheng Ho dan telah dipotong
atas PPh 23 (15%) sebesar Rp 112.500.000. Jadi dividen yang diterima PT Ahok sebesar Rp
637.500.000 . Lalu, PT Ahok membagikan dividen yang diterima tersebut Rp 637.500.000
ke WP OP dan telah dipotong PPh 4 (2) sebesar 10% Rp 63.750.000 . Jadi, dividen yang
diterima PT Cheng Ho sebesar Rp 573.750.000 . Bagaimana jurnal pada sisi Akuntansi dan
Perpajakannya?

TRANSAKSI SISI PERPAJAKAN SISI AKUNTANSI

Pada saat pengumuman Laba ditahan 637.500.000 Laba ditahan 637.500.000


dividen Utang dividen 573.750.000 Utang dividen 637.500.000
Utang PPh 4(2) 63.750.000
Pada saat pencatatan Utang PPh 4(2) 63.750.000 Tidak ada jurnal
Kas/Bank 63.750.000

Pada saat pembayaran dividen Utang dividen 537.750.000 Utang dividen 537.750.000
Kas 537.750.000 Kas 537.750.000
 Pada bulan Januari 2017 PT ABC melakukan
pembayaran dividen tahun 2016 kepada pemiliknya
yaitu : PT SEJAHTERA (20%), PT MAKMUR (50%) dan
sisanya kepada WP OP. Jumlah seluruh dividen
dibayar sebesar Rp. 300.000.000
 PPh 23 yang harus dipotong, disetor dan dilaporkan
adalah :
Dividen ke PT SEJAHTERA, PPh 23 = 15% x (20% x Rp.
300.000.000) = Rp. 9.000.000
Dividen ke PT MAKMUR = Tidak dipotong PPh 23
karena kepemilikan sahamnya > 25%
Dividen ke OP, PPh Final dengan tarif pasal 17 ayat (2C)
UU PPh Nomor 36 Tahun 2008 jo PP 19 tahun 2009 =
10% x (30% x Rp. 300.000.000) = Rp. 9.000.000
JURNAL BAGI PT ABC :
Tanggal Keterangan Debit Kredit
Januari Dividen – PT Sejahtera 60.000.000
2017 Dividen – PT Makmur 150.000.000
Dividen – OP 90.000.000
Utang PPh 23 9.000.000
Utang PPh Final 9.000.000
Kas 282.000.000

JURNAL PPH 23 ATAS DIVIDEN DAPAT DIKREDITKAN OLEH PT


SEJAHTERA :
Tanggal Keterangan Debit Kredit
Januari Kas 51.000.000
2017 PPh 23 Dibayar dimuka 9.000.000
Pendapatan Dividen 60.000.000

JURNAL UNTUK PT MAKMUR

Tanggal Keterangan Debit Kredit


Januari Kas 150.000.000
2017 Investasi dalam saham PT ABC 150.000.000
KESIMPULAN
1. Laba ditahan bukan merupakan objek PPh karena sudah dikenakan
pajak pada saat laba tahun berjalan.
2. Laba ditahan akan dikenakan PPh apabila dibagikan kepada pemegang
saham pada Badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari
jumlah modal saham dan dividen yang berasal dari cadangan saldo
laba.
3. Laba ditahan yang terdapat pada PT akan dibagikan kepada para
pemegang saham sesuai dengan ketentuan pembagian pada saat Rapat
Umum Pemegang Saham (RUPS), pada CV laba ditahan bukan
merupakan objek Pajak Penghasilan. Apabila pemilik mengambil uang
atau apapun hal tersebut merupakan prive bagi pemilik tersebut.
TERIMA
KASIH