Está en la página 1de 27

ASKEP KLIEN

DENGAN
CEDERA KEPALA
ASNANI, S.Kep.Ns.M.Ked 2015
Anatomi Kepala
Anatomi Kepala OTAK
• 2 % dari BB.
• Konsumsi
Oksigen 20%
dari Oksigen
total (45 mL
O2/min).
• Konsumsi
Glukosa 25%.
DEFINISI
CEDERA / TRAUMA KEPALA
 trauma yg mengenai otak akibat kekuatan fisik
ektsernal yg mengakibatkan keterbatasan atau
ggn tingkat kesadaran (Dona D,1999).
 cedera yg tjd pada kulit, tulang kepala dan
otak (disebut juga kranioserebral trauma) yg
disertai dg penurunan / perubahan kesadaran.
Insiden sangat tinggi, terutama pada usia
produktif.
KLASIFIKASI
CEDERA KEPALA
Secara praktis dikenal 3 deskripsi klasifikasi
yaitu berdasarkan:
1.Mekanisme cedera kepala
2.Beratnya cedera kepala
3.Morfologi cedera kepala.
1. MEKANISME CEDERA KEPALA
• Cedera kepala tumpul biasanya berkaitan
dengan kecelakaan mobil-motor, jatuh atau
pukulan benda tumpul.
• Cedera kepala tembus disebabkan oleh peluru
atau tusukan.
Adanya penetrasi selaput dura menentukan
apakah suatu cedera kepala termasuk cedera
tembus atau cedera tumpul.
Trauma tumpul / tembus kepala
COUP-COUNTER COUP
MEKANISME CEDERA
2. BERATNYA CEDERA
Berdasarkan GCS maka cedera kepala dibagi
menjadi cedera:
• ringan dengan GCS 14-15,
• sedang dengan GCS 9-13 dan
• berat dengan GCS 3-8
Menilai GCS
EYE (MATA)
• Membuka mata spontan 4
• Membuka mata dengan stimulus suara 3
• Membuka mata dengan stimulus nyeri 2
• Tak dapat membuka mata 1
VERBAL (SUARA)
• Orientasi baik 5
• Gelisah (confused) 4
• Kata tak jelas (inappropriate) 3
• Suara yg tdk jelas artinya (unintelligible-sounds) 2
• Tak ada suara 1
MOTOR (REAKSI MOTORIK)
• Mengikuti perintah 6
• Melokalisir nyeri 5
• Menghindari nyeri 4
• Reaksi fleksi 3
• Reaksi ekstensi 2
• Tak ada reaksi 1
1. Cedera kepala ringan 13-15
* Mula kecelakaan penurunan
kesadaran < 10 menit /=
* Defisit neorologis (-)
Pusing, sakit kelapa, vertigo, muntah,
* CT Scan Normal
2. Cedera kepala sedang
* Lama penurunan kesadaran >10 mnt s/d < 6 jam
* Defisit neorlogis (+)
* CT Scan abnormal
* LCS berdarah
3. Cedera kepala berat
* Lama penurunan kesadaran > 6 jam
* Defisit neorologis (+)
* CT Scan abnormal
* LCS berdarah
* Coma
* PTIK
Fraktur Kranium
• Dpt tjd pada atap (kalvaria) / dasar tengkorak.
• Pada kalvaria dpt berbentuk garis bintang,
sedangkan pada dasar tengkorak bisa disertai
dg / tanpa kebocoran CSS dan dg / tanpa
paresis nervus VII (saraf fasialis).
• Tanda-tanda klinis fraktur basis kranii antara
lain: ekimosis periorbita, kebocoran CSF
(rhinorrhea, otorrhea) dan paresis nervus
fasialis.
Lesi Intrakanial
Diklasifikasikan menjadi lesi fokal dan lesi difus.
1.Lesi fokal yaitu pendarahan epidural, subdural,
dan kontusio atau pendarahan intraserebral).

2.Lesi / Cedera otak difus umumnya


menunjukkan gambaran CT-Scan yang normal
namun keadaan neurologis penderita sangat
buruk bahkan keadaan koma.
PATOFISIOLOGI
• Kontusio/benturan memar otak / cedera otak.
• Fenomena coup dan counter coup 
kerusakan di dua sisi area otak.
• Pada kontusio, kejadian perdarahan minimal,
namun ishemia, nekrosis dan infarck tjd akibat
edema yg berkembang disebabkan oleh respon
inflamasi jar. otak yg cedera  pompa Na dan
K tidak optimal  fungsi axon tgg.
• Bila tjd laserasi akibat pecahnya batok kepala,
kejadian perdarahan resikonya sangat besar.
• Akibat perdarahan dan edema, tekanan
intrakranial meninggi
Tekanan Intra Kranial (TIK)
• Tek. Normal 5-15 mmHg / antara 60-180 mmH2O
• Tekanan > 250 mmH2O disebut PTIK
Gejala PTIK :
• Penurunan tingkat kesadaran, gelisah (nyeri kepala
berat), iritabel, papil edema, muntah (trias TIK).
• Penurunan fungsi neurologis seperti : perubahan :
bicara, reaksi pupil, sensori motorik.
• Sakit kepala, mual, muntah dan diplopia
• TTV tidak stabil
• Triad Cushing yaitu tekanan sistolik meningkat,
nadi besar, napas irigular merupakan respon PTIK
terlalu tinggi.
PENGKAJIAN CEDERA KEPALA
1. Primary Survey
• Mengamankan jalan nafas dengan
menstabilkan tulang servikal dan mengecek
tingkat kesadaran awal;
• Mengkaji status pernafasan;
• Mengkaji sirkulasi dan mengendalikan
pendarahan utama. (lakukan tindakan jika
diperlukan sebelum melakukan pemeriksaan
sekunder)
2. Pemeriksaan Sekunder
• S – symtoms (gejala)
• A – alergies (alergi)
• M – medication (pengobatan)
• P – post medical history (riwayat penyakit
masa lalu)
• L – last oral intake (intake oral terakhir)
• E – events preceding the accident (kejadian
yang mempercepat kecelakaan)
2. Survey Sekunder
• TTV
• Pengkajian head to toe (termasuk neurologi).
Catat keutuhan batok kepala, termasuk adanya
rhinorhea (perdarahan hidung) dan otorhea
(perdarahan telinga). Kaji adanya kemungkinan
tanda-tanda fraktur servikal
Pemeriksaan Diagnostik
• CT Scan
• MRI
• Lab: DPL, Gds, Ur/Cr, Elektrolit
• Foto kepala
• Foto Cervikal
• EEG
Diagnosa Keperawatan
• Penurunan adaptasi kapasitas intrakranial b.d
trauma/gangguan neurologi
• Inefektif perfusi jaringan serebral b.d
peningkatan ICP, penurunan aliran darah
• Gangguan pertukaran gas b.d penurunan suplai
oksigen dan peningkatan produksi CO2
sekunder terhadap penurunan pengendalian
pusat pernafasan
• Risiko ketidakseimbangan volume cairan b.d
pemberian cairan/medikasi
• Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari
kebutuhan tubuh b.d peningkatan status
metabolik
TINDAKAN MENURUNKAN
EDEMA CEREBRAL
 Osmotik diuretik : Manitol 20%. Hiperosmolar,
edema berlebihan pada pasien tertentu. Dosis
1 ml/kg BB.
 Diuretik/Forosemide : 20 - 40 mg.
 Koreksi natrium dan protein.
 Steroid (deksametason)
 Antihipertensi
 Antikonvulsan
Tindakan Keperawatan
• Tindakan medik dan keperawatan pada fase ini
adalah mempertahankan perfusi cerebral dan
mencegah terjadinya ishemia
• Amankan jalan nafas dan memberikan
oksigenasi adekuat, nasal kanul atau non
rebreathing mask. Otak tidak toleran terhadap
hipoksia, sehingga oksigenasi adekuat penting
dilakukan jika pasien mengalami koma, oksigen
bisa juga diberikan melalui endotracheal. Hal ini
untuk mencegah aspirasi karena pasien cedera
kepala mudah mengalami muntah.
• Siapkan untuk log-rolling, dan sunction
orofaring bila produksi sekret berlebihan.
• Stabilisasikan pasien pada papan spinal, leher
harus diimobilisasikan dengan colar rigid dan alat
imobilisasi kepala.
• Setiap cedera kepala diperlakukan fraktur spinal
sampai hal ini tidak terbukti.
• Mencatat tekanan darah, pernafasan (laju dan
pola), pupil (ukuran dan reaksi terhadap cahaya),
sensasi dan aktivitas motorik volunter, GCS,
tandan peningkatan tekanan intra kranial, juga
saturasi O2. Catat pada lembar observasi.
• Pasang dua buah IV line keteter dengan ukuran
besar. Star pemberian NaCl 09% atau RL. Kontrol
adanya perdahan eksternal dengan bebat tekan.
• Posisikan pasien dengan bagian kepala 30 derajat
lebih tinggi untuk memfasilitasi venus return lebih
baik
• Gunting pakaian, jika tidak memungkinkan
untuk dilepas. Tutupi dengan selimut.
• Pertahankan suhu tubuh tidak tinggi untuk
menurunkan metabolisme otak. Suhsu tinggi
berdampak pada meningkatnya TIK.
• Pasang penghalang tempat tidur untuk
menghindari pasien jatuh