Está en la página 1de 41

1

-Akuntansi Keuangan Lanjutan I


Bentuk Kontrak Penjualan Angsuran

1 2 3 4 -

Penjualan Angsuran dengan bentuk-bentuk perjanjian
tersebut sebelumnya biasanya dilaksanakan untuk
barang-barang tidak bergerak.
ex. Gedung, Tanah dan Aktiva-aktiva Tahan lama lainnya.

4
PERHATIAN
HINDARI KERUGIAN

Untuk mengurangi atau menghindarkan kemungkinan kerugian yang terjadi


dalam pemilikan kembali, maka ada faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh
penjual, adalah sebagai berikut.

5
7
Besarnya pembayaran angsuran
periodik harus diperhitungkan
cukup untuk menutup
kemungkinan penurunan nilai-nilai
barang yang ada selama jangka
pembayaran yang satu dengan
pembayaran angsuran berikutnya.
8
9
1 Laba Kotor diakui untuk periode
terjadinya transaksi penjualan
2 Laba Kotor dihubungkan dengan
periode-periode terjadinya realisasi
penerimaan Kas
13
14
15
Jurnal

Transaksi-Transaksi Laba diakui secara proporsional dengan jumlah


Laba diakui pada periode penjualan
penerimaan anggaran

Piutang
Piutang
1 September 1980 (Tuan Hartono) 2.500.000
(Tuan Hartono) 2.500.000,00
1) Dijual sebuah rumah dengan harga : Rumah 1.500.000
Rumah 1.500.000
Rp 2.500.000,00 , harga pokok rumah sebesar : Laba Kotor yang be-
Laba Penjualan
Rp 1.500.000,00 lum direalisasi
Rumah 1.000.000
(Deferred gross profit) 1.000.000
2) Penerimaan pembayaran pertama (down Kas 500.000 Kas 500.000
payment) sebesar Hipotik-U/K 2.000.000 Hipotik-U/K 2.000.000
Rp 500.000 dan Hipotik U/K untuk saldo yang Piutang Piutang
belum dibayar sebesar Rp 2.000.000 (Tuan Hartono) 2.500.000 (Tuan Hartono) 2.500.000
3) Pembayaran biaya-biaya; komisi dan
Ongkos Penjualan 50.000 Ongkos penjualan 50.000
pengurusan akte hipotik dan lain-lain Rp
Kas 50.000 Kas 50.000
50.000

Bunga Hipotik yang Bunga hipotik yang


4) 31 Desember 1980 akan diterima 80.000 akan diterima 80.000
a) Bunga yang masih harus diterima atas Pendapatan Bunga 80.000 Pendapatan bunga 80.000
Hipoti-UK. 12% untuk jangka waktu 4 bulan
= (4/12 x 12% x Rp 2.000.000 = Rp 80.000)

b) Laba kotor yang direalisasi adalah sebagai Laba kotor yang


berikut : % laba kotor = 40% atau belum direalisasi
(1.000.000/2.500.000 x 100% (Deferred Gross Profit) 200.000

Penerimaan Kas tahun 1980, sebesar :


Rp 500.000 = Rp 200.000 Realisasi Laba Kotor
(Realized Gross Profit) 200.000
16
Laba penjualan Realisasi Laba Kotor 200.000
Rumah 1.000.000
5) Menutup rekening-rekening Pendapatan Bunga 80.000 Pendapatan Bunga 80.000
nominal ke Rugi-Laba Ongkos penjualan 50.000 Ongkos Penjualan 50.000
Rugi-Laba 1.030.000 Rugi-Laba 230.000

6) 1 Januari 1981 Pendapatan bunga 80.000 Pendapatan bunga 80.000


Reversal entries untuk bunga yang Bunga hipotik Bunga Hipotik yang
akan diterima pada akhir 1980. Yang akan diterima 80.000 akan diterima 80.000
7) 1 Maret 1981 Kas 320.000 Kas 320.000
Diterima pembayaran angsuran Hipotik U/K 200.000 Hipotik U/K 200.000
hipotik sebesar Pendapatan Bunga 120.000 Pendapatan bunga 108.000
Rp 200.000 dan bunga hipotik sebesar
Rp 120.000
Kas 308.000 Kas 308.000
8) 1 September 1981 :
Hipotik U/K 200.000 Hipotik U/K 200.000
Diterima pembayaran angsuran
Pendapatan bunga 108.000 Pendapatan bunga 108.000
hipotik Rp 200.000 dan bunga dari
pokok hipotik Rp 108.000

9) 31 Desember 1981: Bunga hipotik yang Bunga hipotik yang


a) Adjustmenst bunga hipotik dari akan diterima 64.000 akan diterima 64.000
pokok : Pendapatan bunga 64.000 Pendapatan bunga 64.000
Rp 1.600.000 @12% untuk jangka
waktu 4 bulan
= Rp 64.000
Laba kotor yang be-
b) Laba kotor yang direalisasi = 40%
lum direalisir (Defer-
dan pembayaran angsuran yang
red gross profit) 160.000
diterima tahun 1981 sebesar Rp
Realisasi Laba Kotor
400.000 atau Rp 160.000
(realized gross profit) 160.000
Pendapatan bunga 212.000 Pendapatan bunga 212.000
10) Menutup rekening-rekening
Rugi-Laba 212.000 Realisasi Laba Kotor 160.000
nominal ke Rugi-Laba. 17
Rugi-Laba 372.000

Apabila pembayaran angsuran Hipotik dari Tuan
Hartono dapat diterima sesuai dengan perjanjian yang
ada, maka kedua metode pengakuan laba kotor atas
transaksi penjualan angsuran tidak berakitbat perbedaan
jumlah “Pendapatan Bunga” yang diperoleh dalam
setiap tahun bukunya.

18

Pembatalan kontrak di kemudian hari sebelum
kewajiban-kewajiban pembeli diselesaikan (biasanya
diikuti dengan pemilikan kembali barang-barang oleh
penjual), tergantung dari perlakuan terhadap laba
transaksi penjualan angsuran tersebut.

 Kontrak batal berarti tidak seluruh laba yang


diperhitungkan dapat direalisasikan

19
20
Diumpamakan penilaian kembali atas rumah tersebut pada tanggal 1 Maret 1982 adalah
sebesar Rp 1.200.000. Dengan demikian pencatatan pada masing-masing metode akan
terlihat sebagai berikut:
Jurnal
Laba diakui secara proporsional dengan
Transaksi Laba diakui pada periode penjualan
penerimaan angsuran

Dimiliki kembali rumah


Rumah 1.200.000
yang dibeli Tuan
Rumah 1.200.000 Laba kotor yang
Hartono dinilai kembali
Rugi pemilikan belum direalisasi 640.000
sebesar Rp 1.200.000.
Kembali 400.000 Hipotik U/K 1.600.000
Hipotik yang berjalan
HipotikU/K 1.600.000 Laba pemilikan
ditarik kembali dengan
kembali 240.000
saldo Rp 1.600.000
Perlu diingat bahwa bunga hipotik yang akan diterima pada akhir 1981 sebesar Rp 64.000 harus dicatat
sebagai kerugian; sebab pada tahun 1982 sama sekali tidak bisa diterima, dengan demikian maka laba tahun
1981 harus dikoreksi kembali. Laba atau rugi pemilikan kembali pada masing-masing metode dapat
dibuktikan dengan perhitungan sebagai berikut :

Laba diakui
secara
Laba diakui pada proporsional
periode penjualan dengan jumlah
penerimaan
angsuran

Jumlah pembayaran yang telah diterima Rp 900.000 Rp 900.000

Rugi karena penurunan harga :


Harga pokok - 1.500.000
Harga penilaian - 1.200.000___
(Rp 300.000) (Rp 300.000)
Laba bersih Rp 600.000 Rp 600.000

Laba yang diakui sebelum pemilikan kembali Rp 1.000.000 Rp 360.000

Laba (rugi) dalam pemilikan kembali Rp 400.000 Rp 240.000

22
23 23
PT KARYA BHAKTI, SEMARANG
Neraca, per 31 Desember 1980
Aktiva Pasiva

Kas Rp 625.000
Piutang Rp 100.000 Hutang Dagang Rp 650.000
Piutang penjualan angsuran 1979 Rp 300.000 Wesel Bayar Rp 100.000
Piutang penjualan angsuran Laba Kotor yang belum direalisasi
tahun 1980 Rp 80.000 tahun 1980 Rp 90.000
Persediaan barang-barang Rp 600.000 Laba Kotor yang belum direalisasi
tahun 1980 Rp 20.000
Aktiva tetap lainnya Rp 1.175.000
Akumulasi Penyusutan Rp 380.000 Modal Saham Rp 1.500.000

Rp 795.000 Laba yang Ditahan Rp 140.000


Jumlah aktiva Rp 2. 500.000 Jumlah pasiva Rp 2.500.000

24
25
Transaksi – transaksi Jurnal
1 januari – 31 Des 1981 Kas 1.000.000,00
1) Penjualan : Piutang Dagang 850.000,00
Tunai Rp 1.000.000,00 Penjualan 1.850.000,00
Kredit Rp 850.000,00 Piutang Penjualanan
Angsuran Rp 600.000,00 Angsuran thn 1981 600.000,00
Jumlah Rp 2.450.000,00 Penjualan Angsuran 600.000,00
2) Pembelian barang-barang secara Pembelian 2.500.000,00
kredit sebesar Rp 2.500.000,00 Hutang Dagang 2.500.000,00
3) Penerimaan Kas dan : Kas 1.360.000,00
- Piutang Dagang Rp 800.000,00 Piut.Dagang 800.000,00
- Piutang penj. Ang Piut.penj angsuran 1981 300.000,00
Suran 1981 Rp 300.000,00 Piut.penj angsuran 1980 200.000,00
1980 Rp 200.000,00 Piut.penj angsuran 1979 60.000,00
1979 Rp 60.000,00
Jumlah Rp 1.360.000,00

26
4) Pengeluaran Kas dan Biaya-biaya
Pengeluaran Kas untuk :
- Pembyrn Htg Rp 100.000,00 Hutang Dagang 2.550.000,00
Dagang Macam-macam
Jumlah Rp 2.450.000,00 Biaya Usaha Rp 500.000,00
- Macam-macam Rp 405.000,00 Potongan pembelian 100.000,00
Biaya usaha Kas 2.855.000,00
Jumlah penge Rp 2.855.000,00
luaran kas Akm.penyusutan AT 95.000,00
- Biaya penyusu Rp 95.000,00
nan AT
31 Desember 1981, tutup buku :
5. Mencatat harga pokok barang- HPP Angsuran 390.000,00
barang yg dijual secara angsuran Rp Pengiriman barang”
390.000,00 Penjualan Angsuran 390.000,00
6. Menutup rekening-rekening Penjualan Angsuran 600.000,00
penjualan angsuran & harga HPP angsuran 390.000,00
pokoknya serta mencatat laba kotor Laba kotor penj. yg blm
penjualan selama tahun 1981 Direalisasi 1981 210.000,00
35% x 600.000,00 = 210.000,00
27
7) Mencatat realisasi laba kotor Laba kotor penjualan
penjualan angsuran dalam tahun buku angsuran yg blm
1981 : direalisasi 1981 105.000,00
Penjualan Angsuran : Laba kotor penjualan
Th. 1981 = 35%x300.000 = 105.000,00 angsuran yg blm
Th. 1980 = 30%x200.000 = 60.000,00 direalisasi 1980 60.000,00
Th. 1979 = 25%x 60.000 = 15.000,00 Laba kotor penjualan
angsuran yg blm
Jumlah Rp 180.000,00 direalisasi 1979 15.000,00
Realisasi Laba kotor penj.
angsuran 180.000,00
8) Menutup persediaan awal barang Rugi-laba 2.610.000,00
dagangan pembelian barang-barang, Pengiriman barang”
potongan pembelian dan pengiriman penjualan angsuran 390.000,00
barang-barang yang dijual dengan Pot.pembelian 100.000,00
perjanjian angsuran ke rekening rugi- Pers.barang dagangan (per
laba 1-1-1981) 600.000,00
Pembelian 2. 500.000,00
9) Mencatat persediaan akhir barang Persediaan barang
dagangan, sesuai dengan stock dagangan (per
opname pada tanggal 31 Desember 31-12-1981) 1.210.000,00
1981 sebesar harga pokok Rp Rugi-laba 1.210.000,00
1.210.000,00
10) Menutup saldo rekening Penjualan 1.850.000,00
penjualan regular ke rekening rugi- Rugi-laba 1.850.000,00
laba

28
11) Menutup laba kotor yang Realisasi Laba
direalisasi dari hasil penjualan kotor penjualan
angsuran tahun ini dan tahun-tahun angsuran 180.000,00
sebelumnya ke rekening rugi-laba Rugi-laba 180.000,00
12) Menutup rekening-rekening biaya Rugi-Laba 500.000,00
usaha ke rekening Rugi-Laba Macam” Biaya
usaha 500.000,00
13) Mencatat taksiran pajak perseroan Pajak perseroan 26.000,00
yang akan dibayar sebesar 20% x laba Taksiran hut.P.Ps. 26.000,00
sebelum dipotong P.Ps. (20% x
130.000,00 = 26.000,00)
14) Menutup rekening pajak Rugi-laba 26.000,00
perseroan ke rekening rugi-laba Pajak perseroan 26.000,00
15) Memindahkan laba bersih ke Rugi-laba 104.000,00
rekening laba yang ditahan Laba yg ditahan 104.000,00

29

Apabila perusahaan mempergunakan metode “perpetual inventory” maka
pembelian-pembelian harus dicatat langsung ke rekening persediaan (inventory).
Pencatatan untuk harga pokok penjualan angsuran dan penjualan regular harus
disusun up to date. Rekening “Harga Pokok Penjualan Angsuran” dan “Harga Pokok
Penjualan: (Reguler), segera didebit dan rekening “Persediaan Barang Dagangan”
segera dikredit pada saat barang dikirim kepada pembeli.

30
*

Cara menghitung laba kotor yang direalisasikan pada contoh PT Karya Bhakti
tersebut di muka, dapat dilakukan dengan menentukan terlebih dulu jumlah sisal
aba kotor yang belum direalisasi, pada akhir tahun buku (akhir periode) yang
bersangkutan.

31
Penjualan Angsuran Tahun

1981 1980 1979

Saldo laba kotor yang belum direalisasi 210.000,00 90.000,00 20.000,00


(sebelum adjustment)

Laba kotor yang belum direalisasi pada akhir


periode :
Untuk penjualan angsuran tahun 1981 : 35% 105.000,00 - -
x saldo yang belum dibayar (Rp 300.000,00)
Untuk penjualan angsuran 1980: (30% x Rp - 30.000,00 -
100.000,00)
Untuk penjualan angsuran 1979: (25% x Rp - - 5.000,00
20.000,00)

Realisasi laba kotor sesuai dengan


penerimaan pembayaran piutang penjualan
angsuran selama tahun 1981. 105.000,00 60.000,00 15.000,00
Penyajian Laporan Keuangan pada
Metode Angsuran

33

Didalam neraca akan terdapat rekening “Piutang Penjualan Angsuran” dan “Laba Kotor yang
Belum Direalisasi” yang hubungannya dengan pelaksanaan penjualan angsuran tertentu. Apabila
Piutang Penjualan Angsuran dicatat sebagai aktiva lancar, maka posisinya sama dengan piutang biasa
sehingga dapat diinterpretasikan sebagai aktiva yang dapat dikonversikan menjadi uang kas dalam
siklus operasi normal perusahaan.
Penyajian Laporan
Keuangan pada Metode
Angsuran

35
Penyajian Laporan Keuangan
pada Metode Angsuran

1 2 3

36
Dari contoh no.2 dapat disusun Neraca dan Laporan Laba Rugi PT Karya Bhakti untuk tahun
yang berakhir pada tanggal 31 Desember 1981 sebagai berikut:

PT KARYA BHAKTI SEMARANG


Neraca per 31 Desember 1981
Aktiva Pasiva
Kas Rp 130.000 Hutang Dagang Rp 600.000
Piutang Dagang Rp 150.000 Wesel Bayar Rp 100.000
Piutang Penj. Taksiran hutang
Angsuran P.Ps Rp 26.000
Laba Kotor Yg Blm Direalisasi
Tahun 1981 Rp 300.000 (Pnj.Angsuran)
Tahun 1980 Rp 100.000 Tahun 1981 Rp 105.000
Tahun 1979 Rp 20.000 Tahun 1980 Rp 30.000
Rp 420.000 Tahun 1979 Rp 5.000
Persediaan Brg
dagang Rp 1.210.000 Rp 140.000

Aktiva Tetap lainnya Rp 1.175.000 Modal Saham Rp 1.500.000


Akumulasi Laba Yang
Penyusutan Rp 475.000 Ditahan Rp 244.000
Rp 700.000
Jumlah Aktiva Rp 2.610.000 Jumlah Pasiva Rp 2.610.000
37
PT KARYA BHAKTI SEMARANG
Perhitungan Rugi-Laba untuk periode tahun buku 1981

Penjualan Penjualan
Jumlah
Angsuran Regular
Penjualan 600.000 1.850.000 2.450.000
Harga Pokok Penjualan:
Persedian per 1 Jan 1981 Rp 600.000
Pembelian 2.500.000
Potongan Pembelian 100.000
Rp 2.400.000
Barang yg tersedia untuk dijual Rp 3.000.000
Persediaan Barang per 31 Des 1981 Rp 1.210.000 390.000 1.400.000 1.790.000
Laba Kotor Penjualan 210.000 450.000 660.000

Dikurangi:laba kotor penjualan angsuran tahun 1981


Yang belum direalisasi(lihat lampiran) 105.000 - 105.000
Laba kotor yang direalisasi untuk penjualan tahun 1981 105.000 450.000 555.000
Ditambah:Realisasi laba kotor penjualan angsuran th. 1980 dan
1979(lihat lampiran) 75.000
jumlah realisasi laba kotor tahun 1981 630.000
Macam-macam biaya usaha (termasuk penyusutan) 500.000
Laba bersih sebelum pajak perseroan 130.000
Pajak perseroan 26% 26.000
Laba bersih setelah P.Ps 104.000
38
PT KARYA BHAKTI SEMARANG

Lampiran : Perhitungan Rugi-Laba untuk periode tahun buku 1981.


Realisasi Laba Kotor Penjualan Angsuran

Tingkat laba kotor untuk Penjualan Angsuran 1981:

(Laba Kotor)/(Hasil Penjualan) ×100%= 210.000/600.000 ×100%= 35%R

Laba Kotor Yang Belum Direalisasi untuk penjualan angsuran tahun 1981:

Piutang Penjualan Angsuran Rp 600.000

Penerimaan pembayaran dalam tahun 1981 Rp 300.000

Saldo per 31 Desember 1981 Rp 300.000


Laba Kotor Yang Belum Direalisasi (35% x Rp 300.000) Rp 105.000

39
Realisasi Laba Kotor tahun 1981

1981 1980 1979

Penerimaan pembayaran
300.000 200.000 60.000
piutang penjualan angsuran

% Laba Kotor Penjualan


35% 30% 25%
Angsuran

Laba Kotor Yang Direalisasi 105.000 60.000 15.000

40

Terima Kasih.

41