Está en la página 1de 21

Keperawatan memiliki Body of

knowledge yang berbeda dengan ilmu


pelayanan kesehatan lainnya. Sebagai
sebuah profesi mandiri, ilmu ini kemudian
dikembangkan dan diaplikasikan dalam
praktek keperawatan.

Berbagai jenis model konseptual


keperawatan berdasarkan pandangan ahli
dalam bidang keperawatan telah banyak
dikemukakan, salah satunya adalah model
adaptasi Calista Roy.
Roy menguraikan bahwa bagaimana individu
mampu meningkatkan kesehatannya dengan
cara mempertahankan perilaku secara adaptif,
karena menurut Roy, manusia adalah makhluk
holistik yang memiliki sistem adaptif yang akan
selalu beradaptasi
Tujuan dari model adaptasi ini adalah membantu
seseorang untuk beradaptasi terhadap
perubahan kebutuhan fisiologis, konsep diri, dan
fungsi peran dan hubungan interdependensi
selama sakit (Marriner-Tomery,1994).
Nursing process
based on the Roy
Adaptation Model

Adaptive system Goal of Adaptation Health

Environment
(internal & External)
Mengumpulkan semua data
mengenai kebiasaan adaptif
klien berhubungan dengan
adaptasi fisiologis, konsep diri,
fungsi tubuh dan
ketergantungan.
Di tingkat kedua ini tahap
penilaian, perawat
mengumpulkan data tentang
stimulus fokal, kontekstual, dan
residual yang berdampak pada
proses klien.
Diagnosa keperawatan menurut
teori adaptasi Roy didefinisikan
sebagai suatu hasil dari proses
pengambilan keputusan
berhubungan dengan kurang
mampunya adaptasi.
Menggunakan 4 (empat) model
adaptif, yaitu fisiologis, konsep diri,
fungsi peran dan interdependen.
Roy (1984) menyampaikan bahwa
secara umum tujuan pada
intervensi keperawatan adalah
untuk mempertahankan dan
mempertinggi perilaku adaptif dan
mengubah perilaku inefektif
menjadi adaptif.

Penentuan tujuan dibagi atas


tujuan jangka panjang dan tujuan
jangka pendek.
Intervensi keperawatan dilakukan
dengan tujuan , mengubah atau
memanipulasi stimulus fokal,
kontekstual dan residual, juga
difokuskan pada koping individu
atau zona adaptasi.
Evaluasi merupakan penilaian
efektifitas terhadap intervensi
keperawatan sehubungan dengan
tingkah laku pasien.
First Level Assessment Second Level Assessment Nursing diagnosis
(focal, contextual , and (Statement of adaptive
(behavior in each adaptive
residual stimuli) and ineffective behavior
mode)
with most relevant
influencing factors or
summary label)

Goal Setting
(behavior outcome)

Evaluation Intervention
(judgement of effectiveness (approach to promote
of intervention) adaptation by managing
stimuli)
Pengkajian I Pengkajian II Pengkajian III
Input Control process Effectors
(Stimuli, Adaptation (Coping mechanisms, (Physiological
level) Regulator, Cognator) function, Self
Concept, Role
function
Interdependence)

Goal Setting, Evaluation


Feedback Output
(Adaptive and
Ineffective
responses)
Perbandingan antara Proses Keperawatan yang umum
digunakan para perawat dan Proses Keperawatan
menurut Teori Calista Roy :

Proses Keperawatan yang Proses Keperawatan dengan


umum digunakan teori Calista Roy
1. Pengkajian 1. Pengkajian Kebiasaan : a. Tahap 1
b. Tahap 2
5. Evaluasi 2. Pengkajian faktor-faktor yang berpengaruh :
identifikasi stimulus fokal,kontekstual dan
residual.

3. Planning 3. Diagnosa Keperawatan


4. Implementasi 4. Penentuan Tujuan
5. Intervensi
6. Evaluasi.
CONTOH KASUS dan APLIKASI TEORI CALLISTA ROY
DALAM ASUHAN KEPERAWATAN
Klien Ny. Z, usia 21 tahun bertempat tinggal Jl. Hos
Cokroaminoto No. 31 Simpang Kawat, klien masuk rumah
sakit tanggal 13 April 2008 dirawat baru pertama kalinya
dengan keluhan sering mendengar suara mantan suaminya,
klien merasa pusing, stress karena ditinggalkan oleh
suaminya, klien mengurung diri dalam kamar dalam waktu
yang lama dan sering duduk sendirian. Keluarga merasa
tidak mampu untuk merawatnya dan akhirnya dibawa ke
RSJ dengan alasan mau diajak jalan-jalan. Dari hasil
observasi didapat data tentang klien yaitu rambut kurang
rapi, baju diganti 1x sehari, klien mengatakan sering
mendengar suara ejekan jika mendengar suara ejekan
ejekan itu, klien merasa tidak tenang dan resah dan klien
tidak tenang dan kadang gelisah.
A. Pengkajian Identitas Klien
Inisial : Ny. Z
Agama : Islam
Umur : 21 Tahun
Status : Menikah
Jenis kelamin : Perempuan
Ruang : Teta
Tgl. Masuk RS : 13 Maret 2007 Dx
Medis : Kehilangan
Alamat : Jl. Hos Cokroaminoto No. 31 Simpang Kawat 2
B. Pengkajian Kebiasaan (Assessment of Behaviour)
Menurut Roy, pengkajian tahap pertama berdasarkan 4 mode
adaptasi:
Model Fisiologis
Tekanan Darah, Heart Rate, Respiratory Rate, Suhu
Model Konsep Diri
Citra Tubuh, Identitas Diri, Ideal Diri, Harga Diri
Model Fungsi Peran
Klien mengalami perubahan fungsi peran
Model Interdependen (Kemandirian)
Segala kebutuhan klien dipenuhi oleh ayah dan kakaknya.
C. Pengkajian Faktor-Faktor yang Berpengaruh
(Assessment Of Influencing Factors)
Menurut Roy, pengkajian tahap kedua adalah mengkaji 3
stimulus yang ada pada klien, diantaraya adalah:
1. Stimulus Fokal
Perubahan konsep diri karena berduka
2. Stimulus Kontekstual
- Internal : Alam perasaan klien
- Eksternal : Lingkungan keluarga klien
3. Stimulus Residual
klien bisa berbagi cerita tentang pengalaman masa lalunya
D. Diagnosis Keperawatan (Nursing Diagnosis)
1. Berduka berhubungan dengan defresi kehilangan : kematian
suami
2. Defresi kehilangan : kematian suami berhubungan koping
individu tidak efektif
3. Tidak efektifnya penatalaksanaan terapeutik berhubungan
dengan koping keluarga tidak efektif
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kurangnya
motivasi
E. Penentuan Tujuan (Goal Setting)
Penentuan Tujuan (Goal Setting)
1. Bina dan tingkatkan hubungan saling percaya.
2. Identifikasi kemungkinan faktor yang menghambat proses
berduka
3. Kurangi atau hilangkan faktor penghambat proses berduka
4. Beri dukungan terhadap respon kehilangan klien
5. Tingkatkanya rasa kebersamaan antara anggota keluarga
E. Intervensi (Intervention)
1. Sapa klien dengan ramah baik verbal, maupun non verbal, perkenalkan
diri dengan sopan, tanyakan nama lengkap klien dan nama panggilan yang
disukai.
2. Bersama klien mendiskusikan hubungan klien dengan orang atau objek
yang pergi atau hilang - Menggali pola hubungan klien dengan orang yang
berarti.
3. Bersama klien mengidentifikasi cara mengatasi perasaan berduka dimasa
lalu, menilai cara yang efektif dan tidak efektif
4. Menjelaskan kepada klien atau keluarga bahwa sikap menghargai, marah,
defresi dan menerima adalah wajar dalam menghadapi kehilangan
5. Menguatkan dukungan keluarga atau orang yang berarti, mendorong
klien agar mau menggali perasaannya bersama anggota keluarga klien
6. Terapi medik : CPZ 100 mg 3 x 1 THP 2 mg 3 x 1 Ledomer 2 mg 3 x 1 14.
F. Evaluasi (Evaluation)
1. Perawatan diri dan personal hygine klien sudah teratasi
2. Masalah klien mengenai berduka tentang kehilangan suami telah teratasi
3. Klien sudah mampu mengatasi emosi diri
4. Perbaikan koping individu masih dilanjutkan
5. Perbaikan koping keluarga direvisi