Está en la página 1de 19

NAMA : AGUNG JAYA NUGRAHA

STAMBUK : N 111 15 042


Pembimbing Klinik
dr. Dewi suriany angdjaja,Sp.Kj

REFLEKSI KASUS

Nama

: Ny. A
Umur : 50
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat : Desa Tulo
Agama : Islam
Status Perkawinan : Sudah Menikah
Pendidikan terakhir : SMP
Tanggal Pemeriksaan: 19 Januari 2016
Tempat Pemeriksaan: Poli Jiwa RSUD Undata
Palu

Identitas Pasien

Seorang

perempuan umur 50 tahun, sudah menikah, datang


sendiri ke RSUD Undata tanggal 19 Januari 2016, keluhan
cemas yang terlalu tinggi. Keluhan cemas ini sudah dirasakan
sejak 3 tahun yang lalu. Cemas ini dirasakan pada saat melihat
keramaian dan sesaat mendengar pengumuman di masjid yang
mengumumkan tentang orang yang meninggal. Pada saat di
kondisi tersebut pasien merasa jantung berdebar-debar dan
sedikit pusing. Pasien juga mengeluhkan gelisah dan pada saat
pertama mengalami ini pasien sulit tidur dan merasa otot-otot
tegang. Pasien kadang-kadang merasakan nyeri dada yang
menjalar hingga ke belakang. Selain ke datang ke poli jiwa
pasien juga pernah konsul ke poli jantung dan dokter jantung
mengatakan tidak terdapat kelainan pada jantung pasien.

Deskripsi Kasus

Pasien

merupakan pasien yang rajin


kontrol di poli, dan kontrol kembali sebab
obatnya sudah habis. Pasien mulai
berobat di Poli Jiwa RSUD Undata sejak 3
tahun lalu, dengan keluhan yang sama
yakni kecemasan yang terlalu tinggi, dan
melanjutkan pengobatan di poli jiwa RSUD
Undata sampai sekarang.

Lanjutan ..

Kasus

ini menarik untuk dibahas karena


pasien dengan terbuka dan kooperatif
dapat menjelaskan masalahnya sehingga
informasi yang dibutuhkan terkait untuk
mendiagnosis
gangguan
dapat
dikumpulkan.

Emosi Yang Terlibat

Pengalaman

Baik
Pasien saat dianamnesis bersifat terbuka dan
sangat koperatif, dan mengakui senang
ditanya-tanya
oleh
pemeriksa,serta
tidak
sungkan untuk menceritakan yang dia alami.
Pengalaman Buruk
Pada saat dianamnesis di Poli waktu yang
terlalu singkat tidak cukup untuk melengkapi
anamnesis, sehingga pemeriksa melakukan
anamensis via telefon.

Evaluasi

Seorang perempuan umur 50 tahun, sudah menikah,


datang sendiri ke Poli RSUD Undata pada 19 Januari 2016
dengan keluhan cemas yang terlalu tinggi. Keluhan cemas ini
sudah dirasakan sejak 3 tahun yang lalu.
Pasien merupakan anak ke-5 dari 6 bersaudara. Menurut
pengakuan pasien, ia lahir normal di RS Budi Agung dan tidak
mengalami masalah saat lahir. Hubungan pasien dengan
orang tua serta saudara baik. Ayah pasien meninggal saat
pasien berumur 4 tahun, Suami pasien meninggal sekitar 1
tahun yang lalu. Pasien dibesarkan oleh ibunya seorang diri
sampai dewasa. Menurut pengakuan pasien, di dalam
keluarga tidak ada yang mengalami keluhan yang sama
dengan pasien, maupun yang pernah berobat di poli jiwa.

Analisis

Pasien merupakan pasien yang rajin


kontrol di poli, dan kontrol kembali sebab
obatnya sudah habis. Pasien mulai berobat
di Poli Jiwa sejak 3 tahun yang lalu, dengan
keluhan yang sama yakni kecemasan, dan
melanjutkan pengobatan di RSUD Undata
sampai sekarang.

Lanjutan

Berdasarkan deskripsi kasus diatas, kasus


ini merupakan pasien dengan ganguan
cemas menyeluruh. Hal ini dapat
dijelaskan
dari
terpenuhinya
kriteria
diagnostik berdasarkan DSM IV TR.

Diagnosis

Ansietes

dan kekhawatiran berlebihan (perkiraan yang menakutkan), terjadi hampir setiap hari selama setidaknya
6 bulan, mengenai sejumlah kejadian dan aktivitas (seperti bekerja atau bersekolah).
Orang tersebut menjadi sulit mengendalikan kekhawatirannya.
Ansietes dan kekhawatiran dikaitkan dengan tiga (atau lebih) dari keenam geajala berikut (dengan beberapa
geajal setidaknya muncul hampir setiap hari selama 6 bulan).
Perhatikan. Hanya satu gejala yang diperlukan pada anak-anak :
Gelisah atau merasa terperangkap atau terpojok.
Mudah merasa lelah.
Sulit berkonsentrasi atau pikiran menjadi kosong.
Mudah marah
Otot tegang
Gangguan tidur (sulit tertidur atau tetap tidur, atau tidur yang gelisah dan tidak puas).
Fokus dari ansietes dan kekhawatiran tidak terbatas hanya pada gambaran aksis I, misalnya ansietes atau cemas
bukan karena mengalami serangan panik (seperti pada gangguan panik), merasa malu berada dikeramaian (seperti
pada fobia sosial), merasa kotor (seperti pada gangguan kompulsif), jauh dari rumah atau kerabat dekat (seperti
pada gangguan ansietes perpisahan), bertambah berat beadan (anoreksia nervosa), mengalami keluhan fisik
berganda (seperti pada gangguan somatisasi), atau mengalami penyakit serius (seperti pada hipokondriasis), juga
ansietes dan kekhawatiran tidak hanya terjadi selama gangguan stress pasca trauma.
Ansietes, kekhawatiran, atau gejala fisis menyebabkan distres yang secara klinis bermakna dan hendaya sosial,
pekerjaan, atau area penting fungsi lainnya.
Gangguan tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung dari zat (mis. Penyalahgunaan obat, obat-obatan) atau
keadaan medis umum (mis., hipertiroidisme) dan tidak terjadi hanya selama gangguan mood, gangguan psikotik,
atau ganguan perkembangan pervasif.

Kriteria DSM IV

Fobia

khas

Gangguan

Somatoform

Diagnosis Banding

Pada pasien dengan gangguan cemas


menyeluruh, terapi yang paling efektif untuk
gangguan ansietes menyeluruh mungkin
adalah
terapi
yang
menggabungkan
pendekatan psikoterapeutik, dan suportif.
Teapi ini dapat memakan waktu yang cukup
lama bagi klinisi yang terlibat, baik bila
klinisi tersebut adalah seorang psikiater,
dokter keluarga atau spesialis lain.

Terapi

Benzodiazepin.

Merupakan obat pilihan untuk


gangguan ansietes menyeluruh. Obat ini diresepkan
bila
perlu
sehingga
pasien
mengonsumsi
benzodiazepin kerja cepat saat mereka terutama
merasa
cemas.
Pendekatan
alternatif
adalah
meresepkan benzodiazepin untuk suatu periode
waktu yang terbatas, selama pendekatan terapeutik
psikososial diterapkan. Terapi untuk sebagian besar
keadaan ansietes berlangsung 2 hingga 6 minggu
diikuti 1 atau 2 minggu untuk menurunkan dosis
obat secara bertahap sebelum dihentikan.

Farmakoterapi

Buspiron.

Adalah agonis parsial reseptor 5


HT1A dan tampaknya paling efektif pada
60 sampai 80% pasien gangguan ansietes
menyeluruh.

Lanjutan

Venlavaksin.

Efektif untk mengobati


insomnia,
konsentrasi
yang
buruk,
kegelisahan, iritabilitas, dan gangguan
otot yang berlebihan akibat gangguan
ansietes menyeluruh.

Lanjutan ..

Gangguan

ansietes menyeluruh adalah


ansietes dan kekhawatiran berlebihan
mengenai
beberapa
peristiwa
atau
aktivitas hampir sepanjang hari selama
sedikitnya 6 bulan.
Terapi yang paling efektif untuk gangguan
ansietes menyeluruh mungkin adalah
terapi yang menggabungkan pendekatan
psikoterapeutik, dan suportif.

Kesimpulan

Maslim

R, 2001. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari


PPDGJ-III. Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya, Jakarta.
Elvira S, Hadisukanto G, 2013. Buku Ajar Psikiatri Edisi Kedua. Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.
Arozal & Gan, 2012. Farmakologi dan Terapi FK UI,Edisi 5,Badan Penerbit FK UI,
Jakarta.
Sadock B.J. & Sadock V.A., 2010. Buku Ajar Psikiatri Klinis, Edisi 2. EGC,
Jakarta.
Mancebo,et all, 2009. Substance Use Disorder in an Obsessive Compulsive
Disorder Clinical Sample, Journal Anxiety Disroder, Mineesota, page : 1.
Koran L.,M et all, 2006. Practice Guideline Treatment of Patient with Obsessive
Compulsive Disorder, American Psychiatric Association, America, page 11.
Bandelow B., et all, 2012. Guidelines for the pharmacological treatment of
anxiety disorder, obsessive-compulsive disorder and posttraumatic stress
disorder in primary care, International Journal of Psychiatry in Clnical Practice,
America, page 80.

Daftar Pustaka

Terimaksih