Está en la página 1de 20

AKSIOLOGI

Filsafat Nilai dan


Penilaian
Secara formal baru muncul pada abad ke-19,

meski sejak yunani kuno sudah dibicarakan


orang tapi belum bicara mengenai prinsipprinsip aksiologi.
Aksiologi mempunyai kaitan dengan axia
yang berarti nilai atau yang berharga. Jadi
bisa diartikan sebagai wacana filsofis yang
membicarakan nilai dan penilaian.
Terdapat banyak pendapat menyangkut isi
aksiologi, apakah nilai dan penilaian itu?
Pertanyaan ini tentusaja merupakan masalah
utama filsafat ini.

Dalam filsafat lama, termasuk yunani kuno, tema

lebih banyak bertautan dengan masalah-masalah


yang konkrit, substansi material.
Diperlukan kajian khusus
membahas nilai ini
berdasar dua hal, ialah ada (being) dan nilai (value).
Pada masa lalu nilai berada dibawah masalah ada,
dan menggunakan bahasan dengan tolok ukur yang
sama, sehingga menjadi tidak selaras.
Sebagian
orang
mengartikan
nilai
dengan
menggunakan
berbagai reduksi dengan hasil
terdapatnya tiga sektor besar realitas, yaitu benda,
esensi dan keadaan psikologis.

Nilai yang diberikan orang pada sesuatu akan

dikaitkan antara lain dengan apa yang


diinginkannya, apa yang menyenangkannya,
dan apa yang membuatnya senang atau
nikmat.
Teori-teori lainnya, seperi pendapat Nicolai
Hartmann, bahwa nilai adalah esensi dan ide
platonik. Nilai selalu berhubungan dengan
benda yang menjadi pendukungnya, misalnya
indah dengan kain, baik untuk perilaku,
artinya bahwa nilai tidak nyata.

Pada kenyataan banyak tingkatan dalam kualitas,

yaitu kualitas primer, sekunder dan tersier. Yang


primer bersangkutan dengan adanya benda itu, jika
tidak ada nilai tidak mungkin terbentuk.Kualitas
sekunder, adalah kualitas yang timbul sebagai
suatu yang dapat ditangkap oleh indra kita, seperti
warna, rasa, dan bau. Adapun kualitas tersier,
terjadi ketika penilaian berbeda berdasar
dua
kualitas terdahulu. Jelas bahwa kualitas ini tidak
nyata, tetapi suatu sifat, sui generis, ialah bahwa
nilai itu tidak mandiri kata Husserl.

Aksiologi adalah Masalah SehariHari


De gustibus non disputandum,

artinya selera tidak bisa


diperdebatkan. Masalah ini adalah penting, karena dengan
nilai orang dapat bersikap subyektif sehingga dapat
menimbulkan masalah besar dan esensial.
Masalah ini merupakan masalah serius yang timbul dalam
penggunaan nilai dalam kehidupan sehari-hari, seolah
nilai identik dengan selera.
Timbul pertanyaan, seberapa jauh perbedaan dalam
penilaian itu benar-benar subyektif, dan tertutup untuk
pemikiran yang sifatnya kolektif? Misalnya dalam
kesenian, tata boga, atau pakaian, juga dalam perilaku
dan sikap pada umumnya, atau perilaku khusus dalam
sebuah pesta pada kalangan tertentu.

Timbul

lagi pertanyaan, seberapa jauh suatu


penilaian menjadi obyektif, seperti nilai suatu ilmu
pengetahuan atau hal-hal nyata dan konkrit, seperti
selera makan asam atau pedas. Menurut biolog
selera dapat dibentuk.
Masalah-masalah demikian, dalam arti lebih luas
boleh jadi menjadi sumber konflik antar orang atau
antar ras, pertanyaan berikutnya, apakah nilai itu
subyektif atau obyekyif?
Masalah yang paling banyak dibicarakan antara lain
mengenai kebaikan perilaku, keindahan karya seni,
atau kesucian religius.

Pendapat Langeveld
Aksiologi terdiri dari dua hal utama, yaitu etika

dan estetika, keduanya merupakan


masalah
yang paling banyak ditemukan dan dianggap
penting dalam kehidupan sehari-hari.
Etika adalah bagian dari filsafat nilai dan
penilaian yang membicarakan perilaku orang.
Semua perilaku memiliki nilai dan tidak bebas
nilai, perilaku bisa beretika baik dan tidak baik.
Dalam banyak wacana juga digunakan istilah baik
dan jahat, karena perbuatan yang jahat akan
merusak, perbuatan baik berarti membangun.

Estetika juga bagian dari filsafat nilai dan

penilaian yang memandang karya manusia


dari sudut indah dan jelek. Keduanya
pasangan dikotomis, dalam arti bahwa yang
dimasalahkan
secara
esensial
adalah
pengindraan atau persepsi yang menimbulkan
rasa senang dan nyaman pada suatu pihak,
dan rasa tidak senang dan tidak nyaman pada
pihak lain, dan ini mengisyaratkan bahwa ada
baiknya bagi kita menghargai pendapat orang
lain atau pepatah de gustibus non
disputdum mesti tidak untuk segala hal.

Etika atau Moral


Terdapat

dua perbedaan antara etika dan Moral


(kesusilaan). Pertama, moralitas bersangkutan dengan apa
yang seyogyanya dilakukan atau tidak dilakukan karena
berkaitan dengan prinsip moralitas yang ditegakkan,
sedang etika adalah wacana yang memperbincangkan
landasan-landasan moralitas.
Kedua, etika berkaitan dengan landasan filosofi norma dan
nilai dalam kehidupan kemasyarakatan atau budaya,
sedangkan kesusilaan atau moral, secara khusus berkaitan
dengan nilai perbuatan yang berhubungan dengan
kebaikan dan keburukan perilaku yang bersangkutan
dengan agama. Kesusilaan sering berkaitan dengan norma
agama berhubungan dengan dosa atau pahala.

Suatu perilaku dinyatakan jahat karena perbuatan

buruk manusia memberi akibat kerusakan pada manusia


lain atau umumnya.
Filsafat etis merupakan usaha untuk memberi landasan
terhadap penyelesaikan konflik-konflik secara rasional
jika respons otomatis kita dan aturan implisit tindakan
yang berbelit atau karena realitas respon dan aturan
yang bertentangan.
Craig (2005), dalam The shorter routledge Encyclopedia
of Phylosophy mengemukakan tiga permasalahan utama
dalam etika, yaitu masalah etika dan meta etika, masalah
konsep etis dan teori etis, serta masalah etika terapan.

Masalah etika dan meta


etika
Etika pada dasarnya meliputi empat pengertian: Pertama,

sistem-sistem nilai kebiasaan yang penting dalam


kehidupan kelompok khusus manusia
yang disebutnya
sebagai etika kelompok. Ini bagian tugas para antropolog.
Kedua, digunakan untuk satu diantara sistem-sistem khusus
tersebut, yaitu moralitas yang melibatkan makna
kebenaran dan kesalahan, yang pertanyaan sentralnya apa
yang terbaik untuk memberikan karakter pada sistem ini?
Apakah suatu moral mengemukakan fungsi tertentu, seperti
apa yang memungkinkan seseorang dapat bekerja sama
dengan orang lain? Haruskah dalam bekerjasama dengan
orang lain melibatkan perasaan tertentu atau dengan
hujatan?

Ketiga, dalam sistem moralitas itu sendiri mengacu

pada prinsip-prinsip moral aktual, misalnya mengapa


anda mengembalikan buku pinjaman itu? Hal seperti
itu hanyalah masalah etis dalam suatu lingkungan.
Keempat, etika adalah suatu daerah dalam filsafat
yang memperbincangkan telaahan etika dalam
pengertian-pengertian lain, dan penting diingat bahwa
etika filosofis tidak bebas dari area filsafati lainnya.
Jawaban terhadap masalah etika bergantung pada
jawaban terhadap banyaknya pertanyaan metafisika
dan area lain pemikiran manusia.

Konsep dan Teori Etika


Menurut Edward Craig ada beberapa etika falsafiah

yang bersifat luas dan umum, serta berupaya untuk


mendapatkan prinsip-prinsip umum atau keterangan
dasar mengenai moralitas, yang cenderung lebih
menfokuskan pada
analisis atas masalah sentral
pada etika itu sendiri.
Misalnya masalah otonomi, perhatian terhadap
pemerintahan sejajar dengan masalah-masalah yang
menyangkut diri, hakekat moral, dan relasi etis
masalah lain.
Topik lain yang juga termasuk masalah ini adalah
ideal moral, makna pahala, dan responsibilitas moral.

Yang

baik adalah yang membahagiakan


manusia atau yang memberi kenikmatan
adalah jawaban pertanyaan mengenai apa
yang baik dilakukan manusia pribadi dalam
kehidupannya?
Filsafat
moral
atau
etika
sedikitnya
membicarakan advokasi cara-cara khusus
hidup dan bertindak. Bagaimana seharusnya
cara orang hidup? Saah satu tradisi modern
adalah konsekuensialisme. Pandangan ini
mensyaratkan moralitas untuk membawa
kebaikan menyeluruh yang terbaik.

Yang baik adalah yang membahagiakan dan yang

mensejahterakan manusia, pandangan ini lebih


mementingkan kebaikan daripada kebenaran.
Teori-teori yang berdasar kebenaran dapat
diperikan sebagai deontologis. Puncaknya terjadi
pada abad ke-18 dalam filsafat jerman yaitu
pendapat Immanuel Kant.
Pada abad ke-20 terdapat reaksi perlawanan
terhadap ekses yang dipersepsi dari etika kaum
konsekuensionalis
dan
deontologis
dengan
kembali pada pegangan masa kuno.

Masalah Etika Terapan


Etika filsafati selalu dikaitkan dengan taraf penerapan

tertentu pada kehidupan nyata sehari-hari. Bidang


kedokteran, karena menyangkut hidup mati manusia
merupakan bidang paling bersentuhan dengan masalah
etika dalam penerapannya. Bidang yang lain adalah
bidang ilmu dan teknologi, juga maslah-masalah
kesenian yang berhubungan dengan agama dan normanorma, serta nilai sosial, misalnya masalah pornograsi
dan pornoaksi.
Juga dalam dunia politik menyangkut rebutan kekuasaan
juga merupakan sisi yang bersentuhan dengan etika
terkait dengan pemberian kesejahteraan dan keadilan
pada masyarakat.

ESTETIKA
Estetika merupakan bagian aksiologi yang membicarakan

permasalahan,
pertanyaan
dan
issue
mengenai
keindahan, menyangkut ruang lingkup: nilai, pangalaman,
perilaku dan pemikiran seniman, seni serta persoalan
estetika dan seni dalam kehidupan manusia.
Marcia Eaton menyatakan bahwa estetika merupakan
konsep yang berkaitan dengan deskripsi dan evaluasi
obyek serta kejadian artistik dan estetika.
Immanuel Kant menyatakan bahwa konsep estetika itu
subyektif, tapi pada tarap dasar manusia secara universal
memiliki perasaan yang sma terhadap apa yang membuat
mereka nyaman dan senang atau menyakitkan dan tidak
nyaman.

Estetika Filsafati
Estetika filsafati atau filsafat seni adalan kajian ilmiyah

yang mencari landasan dan asumsi tentang keindahan


atau uapaya membahas fenomena atau wujud kesenian
dari pada dasar-dasar wacana seni.
Adapun yang dimaksud teori lima seni (theory og five art)
adalah teori seni yang menyangkut permasalahan seni
lukis, seni pahat, arsitektur, sajak dan musik yang
dianggap pilar dari kesenian umumnya.
Kedudukan dan peran dalam sejarah pemikiran masa lalu,
menurut Bernard Bosanquet bahwa seni sajak dan seni
formatif hellenik merupakan panggung pertemuan antara
religi praktis populer dab refleksi kritis atau filosofis.

Prinsip Estetika
Bahwa pada antikuitas hellenistik telah ditemukan

peinsip estetika sebagai bahan pertimbangan, dalam


arti bahwa keindahan mengandung ekspresi imajinatif
dan sensuous mengenai kesatuan dalam kemajemukan.
Prinsip yang membangun kerangka kerja spikulasi
hellenistik mengenai alam dan nilai keindalahan adalah
prinsip kondisi ekspresi yang abstrak.
Obyek persepsi, umumnya dianggap sebagai standar
seni. Didalamnya terdapat suatu baris yang tidak
mungkin diatasi dalam menghadapi identifikasi
keindahan dengan ekspresi spiritual yang hanya dapat
ditangkap oleh persepsi tingkat tiggi.