PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DALAM PEMAHAMAN RUMUS FISIKA Karya Ilmiah

diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia Dosen : Dewi Rani Gustiasari, S.S

Oleh Ahmad Mulyana Jessica Garci Puspita Rahellia Stefani Rifa Syarifatul Wahidah Ufiq Faishol Ahlif 1001061 1002518 1005197 1001063 1009072

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG

2011

1

LEMBAR PENGESAHAN

PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DALAM PEMAHAMAN RUMUS FISIKA

Oleh Ahmad Mulyana Jessica Garci Puspita Rahellia Stefani Rifa Syarifatul Wahidah Ufiq Faishol Ahlif 1001061 1002518 1005197 1001063 1009072

Mengetahui / Menyetujui, Dosen Mata Kuliah Bahasa Indonesia

Dewi Rani Gustiasari, S.S

2

KATA PENGANTAR

Puji syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkah dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah yang berjudul “Penggunaan Bahasa Indonesia terhadap Pemahaman Rumus Fisika”. Tujuan dari penyusunan karya tulis ilmiah ini umtuk memenuhi tugas mata kuliah Bahasa Indonesia. Selama ini, fisika dianggap sebagai salah satu mata pelajaran “menakutkan” bagi siswa, baik dari segi materi maupun pengajarnya. Untuk memudahkan pemahaman siswa diperlukan penyampaian dengan bahasa yang mudah dimengerti. Maka penulis mengangkat tema Pemahaman pada Rumus Fisika. Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah yang telah disusun ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun untuk pengembangan karya tulis ilmiah ini menuju ke arah yang lebih baik demi kesempurnaan penyusunan karya tulis ilmiah berikutnya. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Penulis berharap karya tulis ilmiah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca maupun penulis.

Bandung, 16 Juni 2011

Penulis,

3

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini tidak akan terwujud tanpa bantuan dari semua pihak. Oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada. 1. Allah SWT yang senantiasa memberikan rahmat serta hidayah-Nya kepada penulis; 2. Orang tua yang telah memberikan dukungan berupa moril maupun materil serta doa yang dipanjatkan untuk penulis; 3. Bapak Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., selaku Rektor Universitas Pendidikan Indonesia; 4. Bapak Taufik Ramlan, M.Si selaku ketua jurusan Pendidikan Fisika UPI; 5. Ibu Dewi Rani Gustiasari, S.S., dan Ibu Dra. Novi Rasmini, M.Pd selaku dosen mata kuliah Bahasa Indonesia, terimakasih atas bimbingan, saran dan nasihat yang sangat berguna bagi penulis; 6. Bapak Parsaoran Siahaan, M.Pd sebagai dosen Statistika yang membantu perhitungan statistik karya tulis ilmiah kami. 7. Seluruh dosen di jurusan Pendidikan Fisika yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, terima kasih atas semua ilmu yang telah diberikan kepada penulis; 8. Kakak-kakak tingkat yang telah memberikan inspirasi dalam

menyelesaikan karya tulis ilmiah ini; 9. Teman – teman Pendidikan Fisika A 2010 yang selalu memberikan

4

motivasi demi kelancaran karya tulis ilmiah ini; 10. Semua pihak yang telah membantu penulis, mohon maaf apabila namanya tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

5

ABSTRAK Pengaruh Bahasa Indonesia dalam Pemahaman Rumus Fisika Oleh kelompok 8 Fokus masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh bahasa Indonesia dalam pemahaman rumus fisika yang mempengaruhi minat siswa terhadap pelajaran fisika, mengingat bahwa kebanyakan siswa tidak menyenangi pelajaran fisika. Ketika banyak siswa yang mengeluh tentang pelajaran fisika bahkan tidak menyukai pelajaran fisika, penulis tertarik untuk menganalisis apa penyebabnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka dirumuskan masalah (1) faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam memahami fisika; (2) pengaruh penggunaan bahasa Indonesia dalam pemahaman rumus fisika. Tujuan penelitian ini terbagi menjadi dua, yaitu tujuan umum untuk mengetahui aspek yang mempengaruhi mengapa siswa tidak menyukai fisika. Tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam memahami fisika; (2) pengaruh penggunaan bahasa Indonesia dalam pemahaman rumus fisika. Metode penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus dengan teknik angket, wawancara, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa bahasa Indonesia berpengaruh dalam pemahaman rumus fisika. Rumus-rumus fisika akan menjadi mudah dipahami siswa jika bahasa yang digunakan benar dan efektif. Penelitian Pengaruh Bahasa Indonesia dalam Pemahaman Rumus Fisika ini diharapkan dapat bermanfaat sehingga menimbulkan kesadaran akan pentingnya mempelajari bahasa Indonesia sebagai pengantar semua pelajaran di negara kita.

6

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Fisika merupakan ilmu yang mempelajari fenomena alam dari benda yang teramati dan terukur. Maksud dari benda yang teramati adalah benda yang bisa disebutkan kualitasnya. Sedangkan maksud dari benda yang terukur adalah benda yang dapat disebutkan kuantitasnya. Misalnya, jatuhnya buah apel, pepohonan yang seakan bergerak ketika kita berada di dalam mobil, dan bumi yang berputar pada porosnya. Fisika berkaitan erat dengan matematika. Teori fisika banyak dinyatakan dalam notasi matematis, dan matematika yang digunakan biasanya lebih rumit daripada matematika yang digunakan dalam bidang sains lainnya. Perbedaan antara fisika dan matematika adalah fisika berkaitan dengan benda yang teramati dan terukur, sedangkan matematika berkaitan dengan pola-pola abstrak yang tak selalu berhubungan dengan dunia material. Namun, perbedaan ini tidak selalu tampak jelas. Ada wilayah luas penelitan yang beririsan antara fisika dan matematika, yakni fisika matematis yang mengembangkan struktur matematis bagi teori-teori fisika. Selama ini, fisika dianggap sebagai salah satu mata pelajaran “menakutkan” bagi siswa, baik dari segi materi maupun pengajarnya. Materi fisika berfokus pada konsep dan penerapan rumus. Setiap rumus sebagian besar saling berkaitan satu sama lain, sehingga siswa dituntut untuk menguasai
7

keseluruhan rumus. Di sisi lain penyampaian dari pengajar juga berpengaruh dalam pemahaman materi dan image pengajar. Setiap gejala alam yang teramati dan terukur dapat dinyatakan dalam persamaan matematis yang lebih dikenal dengan sebutan rumus. Untuk memudahkan pemahaman siswa diperlukan penyampaian dengan bahasa yang mudah dimengerti. Selain itu, hal yang mempengaruhi pemahaman siswa dalam pelajaran fisika adalah referensi buku yang digunakan. Dalam beberapa buku yang menjadi referensi siswa dalam belajar sering menggunakan kata-kata yang sulit difahami oleh siswa. Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis menyusun karya ilmiah dengan judul “PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DALAM

PEMAHAMAN RUMUS FISIKA”. 1.2 Masalah Penelitian Penelitian ini lebih terfokus pada pemahaman siswa dalam bahasa Indonesia sehingga berpengaruh terhadap pemahamannya dalam pelajaran lain, khususnya pelajaran fisika. Sebenarnya seberapa besar pengaruh pemahaman bahasa Indonesia siswa dalam memahami fisika. 1.2.1 Identifikasi Masalah Bahasa Indonesia menjadi hal yang penting dalam kehidupan seharihari, terutama dalam dunia pendidikan. Misalnya, pentingnya membaca, memahami, dan pemilihan kata yang sesuai dan mudah difahami oleh pembaca maupun pendengar. Ketiga hal tersebut memiliki peranan yang penting dalam menunjang siswa untuk memahami pelajaran.
8

I.2.2 Batasan Masalah Agar penelitian dan pembahasan karya ilmiah ini lebih terarah, maka diperlukan pembatasan masalah sehingga solusi yang diinginkan dapat dicapai, difahami dan diterima dengan jelas. Masalah yang akan dibahas dalam penelitian dan pembahasan karya ilmiah ini adalah pengaruh bahasa Indonesia dalam pemahaman pembelajaran fisika. Batasan masalah tersebut adalah. 1. Anggapan siswa terhadap fisika. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam memahami fisika. 3. Pengaruh penggunaan bahasa Indonesia dalam pemahaman rumus fisika. 1.2.3 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, kami merumuskan beberapa masalah sebagai berikut. 1. Bagaimana anggaapan siswa terhadap fisika? 2. Apa faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam memahami rumus fisika? 3. Apa pengaruh bahasa Indonesia dalam pemahaman rumus fisika? I.3. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui. 1. Anggapan siswa terhadap fisika. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi siswa dalam memahami fisika. 3. Pengaruh penggunaan bahasa Indonesia dalam pemahaman rumus fisika.

9

1.4. Manfaat penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah sebagai berikut. 1. Manfaat secara teoritis. Menambah keilmuan untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran fisika. 2. Manfaat secara praktis. Membantu siswa dalam menyelesaikan persoalan fisika. 1.5 Definisi Operasional Untuk menghindari kesalahan penafsiran, maka istilah-istilah pokok dan pengertian khusus dalam penelitian ini akan dipaparkan secara operasional.

10

BAB II KERANGKA BERIKIR DAN HIPOTESIS 2.1 Kerangka Berpikir Sebagai bahasa resmi (negara), usia bahasa Indonesia sudah mencapai bilangan ke-62 tahun. Bahkan, dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia sudah berusia 79 tahun. Jika dianalogikan dengan kehidupan manusia, dalam rentang usia tersebut idealnya sudah mampu mencapai tingkat “kematangan” dan “kesempurnaan” hidup, sebab sudah banyak merasakan liku liku dan pahit-getirnya perjalanan sejarah. Untuk menggetarkan gaung penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar pun pemerintah telah menempuh “politik kebahasaan” dengan menetapkan bulan Oktober sebagai Bulan Bahasa. Namun, seiring dengan bertambahnya usia, bahasa Indonesia justru dihadang banyak masalah. Pertanyaan bernada pesimis pun bermunculan. Mampukah bahasa Indonesia menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang berwibawa dan punya prestise tersendiri di tengah-tengah dahsyatnya arus globalisasi? Mampukah bahasa Indonesia bersikap luwes dan terbuka dalam mengikuti derap peradaban yang terus gencar menawarkan perubahan dan dinamika? Masih setia dan banggakah para penuturnya dalam menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang efektif di tengah-tengah perubahan dan dinamika itu?

11

Sementara itu, jika kita melihat kenyataan di lapangan, secara jujur harus diakui, bahasa Indonesia belum difungsikan secara baik dan benar. Para penuturnya masih dihinggapi sikap inferior (rendah diri) sehingga merasa lebih modern, terhormat, dan terpelajar jika dalam peristiwa tutur sehari-hari, baik dalam ragam lisan maupun tulis, menyelipkan setumpuk istilah asing, padahal sudah ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Agaknya pemahaman, penghayatan, dan penghargaan kita terhadap bahasa nasional dan negara sendiri belum tumbuh secara maksimal dan proporsional. Padahal, tak henti-hentinya pemerintah menganjurkan untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Bahkan, juga telah menunjukkan perhatian yang cukup besar dan serius dalam upaya menumbuhkembangkan bahasa Indonesia. Melalui “tangan panjang”-nya, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa (P3B), pemerintah telah meluncurkan beberapa kaidah kebahasaan baku agar dapat dijadikan sebagai acuan segenap lapisan masyarakat dalam berbahasa Indonesia, seperti Pedoman Umum Ejaan yang Disempurnakan (EYD), Pedoman Umum pembentukan Istilah (PUPI), Tata Bahasa Indonesia Baku (TBIB), maupun Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Akan tetapi, beberapa kaidah yang telah dikodifikasi dengan susah-payah itu tampaknya belum banyak mendapatkan perhatian masyarakat luas. Akibatnya bisa ditebak. Pemakaian bahasa Indonesia bermutu rendah, kalimatnya rancu dan kacau, kosakatanya payah, dan secara semantik sulit dipahami maknanya. Anjuran untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar seolah-olah hanya bersifat sloganistis, tanpa tindakan nyata dari penuturnya.

12

“Mengapa hal itu bisa terjadi? Mengapa masyarakat seolah-olah cuek dan masa bodoh terhadap segala macam kaidah kebahasaan yang telah ditetapkan sebagai acuan?”. Menurut hemat penulis, setidaknya dilatarbelakangi oleh dua sebab yang cukup mendasar. Pertama, dalam kehidupan sehari-hari, bahasa Indonesia hanyalah merupakan bahasa kedua setelah bahasa daerah sebagai bahasa ibu. Keadaan semacam ini, paling tidak ikut memengaruhi rendahnya pemahaman,

penghayatan, dan penghargaan penutur terhadap bahasa Indonesia, sebab mereka telah terbiasa bertutur dengan menggunakan kerangka berpikir bahasa daerah, sehingga menjadi “gagap” ketika mereka harus menggunakan bahasa Indonesia secara langsung. Kedua, kesalahan dalam berbahasa Indonesia lolos dari jerat hukum. Tampaknya tak ada sebuah ayat pun dalam hukum kita yang memberikan perhatian terhadap para penutur yang dengan sengaja “merusak” bahasa. Akibatnya, mereka bisa leluasa dalam mempermainkan dan memanipulasi bahasa sesuai dengan selera dan kepentingannya, tanpa ada rasa takut terkena denda atau sanksi apa pun. Kedua sebab mendasar tersebut diperparah lagi dengan masih banyaknya tokoh masyarakat tertentu yang seharusnya menjadi anutan, tetapi nihil perhatiannya terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dalam situasi masyarakat paternalistik seperti di negeri kita, keadaan semacam itu jelas sangat tidak menguntungkan, sebab masyarakat akan ikut latah, beramai-ramai

13

meniru bahasa tutur tokoh anutannya sebagai bentuk penghormatan dalam versi lain. Selain kondisi yang kurang kondusif semacam itu, bobot dan mutu pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah pun tak henti-hentinya dipertanyakan. Hal ini memang beralasan, lantaran sekolah diyakini sebagai institusi yang diharapkan mampu melahirkan generasi bangsa yang memiliki kebanggaan terhadap bahasa nasional dan negaranya, berkedisiplinan dan berkesadaran tinggi untuk berbahasa yang baik dan benar, serta punya penghargaan yang memadai terhadap bahasa Indonesia. Namun, yang terjadi hingga saat ini, pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah dinilai belum menunjukkan hasil optimal seperti yang diharapkan. Proses pembelajarannya berlangsung timpang, seadanya, tanpa bobot, dan monoton sehingga peserta didik terpasung dalam suasana pembelajaran yang kaku dan membosankan. Singkatnya, pembelajaran bahasa Indonesia masih

memprihatinkan hasilnya. Keterampilan berbahasa siswa rendah sehingga tidak mampu mengungkapkan gagasan dan pikirannya secara logis, runtut, dan mudah dipahami. Keadaan semacam itu jelas sangat memprihatinkan kita semua, sebab – seperti dikemukakan J.S. Badudu (1994)– bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang sangat penting bukan saja karena bahasa Indonesia adalah alat komunikasi yang terpenting dalam masyarakat, melainkan juga karena penguasaan bahasa Indonesia yang baik akan sangat membantu siswa dalam memahami mata pelajaran lain yang menggunakan bahasa Indonesia. Bagaimana

14

mungkin seorang siswa mampu belajar fisika, matematika, biologi, atau kimia, kalau penguasaan bahasanya nol. Kondisi pembelajaran bahasa Indonesia yang demikian memprihatinkan, mau atau tidak, mengharuskan kita untuk melakukan langkah “revitalisasi”, yaitu dengan menghidupkan dan menggairahkan kembali proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah didukung semangat guru yang profesional dan gairah siswa yang terus meningkat intensitasnya dalam belajar dan berlatih berbahasa. Langkah “revitalisasi” yang mesti ditempuh, di antaranya, pertama, menciptakan dan mengembangkan profesionalisme guru. Upaya menciptakan profesionalisme hendaknya dimulai sejak calon guru menempuh pendidikan di LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Keguruan) agar kelak setelah benar-benar menjadi guru tidak asing lagi dengan dunianya dan siap pakai. Jelas, tuntutan ideal semacam ini bukan tugas yang ringan bagi LPTK, sebab selain harus mampu mencetak lulusan yang punya kemampuan akademik tinggi, juga harus memiliki integritas kepribadian yang kuat dan keterampilan mengajar yang andal. Kedua, guru hendaknya tidak terlalu banyak dibebani oleh tuntutan kurikulum yang dapat “memasung” kreativitasnya dalam proses pembelajaran. Tujuan pembelajaran bahasa bukanlah untuk menjadikan siswa sebagai ahli bahasa, melainkan sebagai seorang yang dapat menggunakan bahasa untuk keperluannya sendiri, dapat memanfaatkan sebanyak-banyaknya apa yang ada di luar dirinya dari mendengar, membaca, dan mengalami, serta mampu berkomunikasi pengetahuannya. dengan Ini orang artinya, di guru sekitarnya harus tentang pengalaman keleluasaan dan untuk

diberikan

15

mengekspresikan kreativitas mengajarnya di kelas sehingga mampu menciptakan atmosfer pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM). Hal ini bisa terwujud jika kurikulum tidak semata-mata dijadikan sebagai “kitab suci” yang secara “zakelijk” harus diterapkan di kelas, tetapi juga perlu dikembangkan dan dieksplorasi secara kreatif sehingga pembelajaran benarbenar bermakna bagi siswa didik. Ketiga, buku paket yang “wajib” dipakai hendaknya diupayakan untuk dicarikan buku ajar yang sesuai dengan tingkat kematangan jiwa dan latar belakang sosial-budaya siswa. Hal ini perlu dipikirkan, sebab bahan ajar yang ada dalam buku paket dinilai belum sepenuhnya mampu menarik minat dan gairah siswa untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.

Dan keempat, guru bahasa bahasa hendaknya diberi kebebasan untuk mengembangkan kreativitasnya di sekolah secara bebas dan leluasa, tanpa harus diindoktrinasi dengan berbagai macam bentuk tekanan tertentu yang justru akan menjadi kendala dalam mewujudkan situasi pembelajaran yang ideal. “Revitalisasi” tersebut hendaknya juga diimbangi pula dengan peran-serta masyarakat agar bisa menciptakan sauasana kondusif yang mampu merangsang siswa untuk belajar dan berlatih berbahasa Indonesia secara baik dan benar, dengan cara memberikan teladan yang baik dalam peristiwa tutur sehari-hari. Demikian pula media massa (cetak/elektronik) hendaknya juga menaruh kepedulian yang tinggi untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan kaidah kebahasan yang berlaku.

16

Jika langkah “revitalisasi” di atas dapat terwujud, tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah bukan mustahil diraih, anjuran pemerintah untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar kepada seluruh masyarakat pun tidak akan bersifat sloganistis. Bahkan, mungkin pada gilirannya nanti bahasa Indonesia benar-benar akan menjadi bahasa budaya dan bahasa Iptek yang wibawa dan punya prestise tersendiri di era globalisasi, luwes dan terbuka, dan para penuturnya akan tetap bangga dan setia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa komunikasi yang efektif di tengah derap peradaban zaman. Sebab, jutaan generasi yang memiliki kebanggaan dan kecintaan terhadap bahasa nasional dan negaranya akan lahir dari sekolah. 2.2 Hipotesis Penelitian 2.2.1 Konsep Bahasa Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa adalah: 1. sistem lambang bunyi berartikulasi yang bersifat sewenang-wenang dan konvensional yang dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran; 2. perkataan-perkataan yang dipakai oleh suatu bangsa (suku bangsa, negara, daerah, dan sebagainya); 3. percakapan (perkataan) yang baik; sopan santun; tingkah laku yang baik; menunjukkan karakter bangsa. Berdasarkan pengertian tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa bahasa mempunyai fungsi yang sangat penting dalam kehidupan manusia.

17

Dalam “Hasil Perumusan Seminar Politik Bahasa Nasional” yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 25 s.d. 28 Februari 1975 dikemukakan bahwa di dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai. 1. Bahasa resmi kenegaraan. 2. Bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan. 3. Bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat Nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan. 4. Bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern. 2.2.2 Konsep Fisika Fisika berasal dari bahasa Yunani, yaitu physikos yang berarti “alamiah”, dan physis, “alam”. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, fisika adalah ilmu tentang zat dan energi (seperti panas, cahaya, dan bunyi). Secara ringkasnya, fisika mempelajari gejala alam yang tidak hidup atau materi dalam lingkup ruang dan waktu. Fisikawan mempelajari perilaku dan sifat materi dalam bidang yang sangat beragam, mulai dari partikel submikroskopis yang membentuk segala materi (fisika partikel) hingga perilaku materi alam semesta sebagai satu kesatuan kosmos. Fisika sering disebut sebagai “ilmu paling mendasar”, karena setiap ilmu alam lainnya (biologi, kimia, geologi, dan lain-lain)

18

mempelajari jenis sistem materi tertentu yang mematuhi hukum fisika. Misalnya, kimia adalah ilmu tentang molekul dan zat kimia yang dibentuknya. Sifat suatu zat kimia ditentukan oleh sifat molekul yang membentuknya, yang dapat dijelaskan oleh ilmu fisika seperti mekanika kuantum, termodinamika, dan elektromagnetika.

Fisika juga berkaitan erat dengan matematika. Teori fisika banyak dinyatakan dalam notasi matematis, dan matematika yang digunakan biasanya lebih rumit daripada matematika yang digunakan dalam bidang sains lainnya. Perbedaan antara fisika dan matematika adalah: fisika berkaitan dengan dunia material, sedangkan matematika berkaitan dengan pola-pola abstrak yang tak selalu berhubungan dengan dunia material. Namun, perbedaan ini tidak selalu tampak jelas. Ada wilayah luas penelitan yang beririsan antara fisika dan matematika, yakni fisika matematis, yang mengembangkan struktur matematis bagi teori-teori fisika.

2.2.3 Keterkaitan Bahasa dalam Penyampaian dan Pemahaman Fisika J.S. Badudu (1994)– bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran yang sangat penting bukan saja karena bahasa Indonesia adalah alat komunikasi yang terpenting dalam masyarakat, melainkan juga karena penguasaan bahasa Indonesia yang baik akan sangat membantu siswa dalam memahami mata pelajaran lain yang menggunakan bahasa

19

Indonesia. Bagaimana mungkin seorang siswa mampu belajar fisika, kalau penguasaan bahasanya nol. Kondisi pembelajaran bahasa Indonesia yang demikian

memprihatinkan, mau atau tidak, mengharuskan kita untuk melakukan langkah “revitalisasi”, yaitu dengan menghidupkan dan menggairahkan kembali proses pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah didukung semangat guru yang profesional dan gairah siswa yang terus meningkat intensitasnya dalam belajar dan berlatih berbahasa. Dari pengalaman penulis sewaktu belajar di SMA, banyak dijumpai pengajar fisika yang kurang menguasai bahasa Indonesia sehingga terjadi miskonsepsi fisika, keadaan ini berpengaruh pada pandangan siswa sehingga terbentuk intuisi negatif tentang fisika, yaitu menganggap bahwa mempelajari dan memahami pelajaran fisika sangat sulit. Adapun faktor yang menjadi sumber miskonsepsi adalah siswa cenderung memahami kejadian bagian per bagian dan cenderung tidak mengaitkan satu bagian dengan yang lainnya serta bahasa yang digunakan sehari-hari banyak yang mempunyai arti berbeda dengan yang digunakan dalam fisika. Beberapa kata sehari-hari memiliki arti yang berbeda jika digunakan untuk menerangkan materi fisika seperti : gesekan, gaya, pembiasan dan lain-lain. Penggunaan bahasa dalam penyampaian rumus-rumus fisika juga sangat berpengaruh. Kebanyakan siswa dalam memahami rumus hanya dilakukan dengan cara menghafalnya saja, tanpa memahami secara detail

20

apa yang tersirat dalam rumus tersebut, sehingga diperlukan penggunaan bahasa Indonesia yang tepat untuk mendeskripsikan rumus tersebut agar siswa dapat memahami rumus fisika dengan baik.

21

BAB III METODOLOGI 3.1 Metode Penelitian Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, penelitian adalah kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang dilakukan seara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau menguj suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum. Sedangkan pengertian penelitian menurut Sugiyono (2008) adalah cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Ini menunjukkan bahwa penelitian harus berdasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis. Rasional artinya kegiatan penelitian itu dilakukan dengan cara yang masuk akal sehingga terjangkau oleh penalaran manusia. Empiris artinya cara-cara yang digunakan dalam penelitian itu teramati oleh indra manusia sehingga orang lain dapat mengamati dan mengetahui cara-cara yang akan digunakan. Sistematis artinya proses yang digunakan dalam penelitian itu menggunakan langkahlangkah tertentu yang bersifat logis. (Sugiyono, 2008: 1). Selain itu, data yang diperoleh melalui penelitian harus mempunyai kriteria tertentu, yaitu harus valid, reriabel dan objektif. Valid menunjukan derajat ketepatan, yaitu ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada objek dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Reriabel menunjukan derajat konsistensi yaitu konsistensi data dalam interval waktu tertentu. Objektif menunjukan derajat persamaam persepsi antar orang. (Sugiyono, 2008: 1-2).

22

Untuk mendapatkan hasil yang bagus ketika melakukan penelitian, kita harus menggunakan metode-metode yang mengacu pada aturan yang sudah ada, yaitu metode yang relevan dan dapat membantu memecahkan persoalan dalam penelitian. “Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu penelitiannya” (Sugiyono: 2008:1). Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode survey verifikatif yaitu metode penelitian yang mengambil sampel dari suatu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai alat pengumpulan data yang pokok

(Singarimbun, 1995:3). Statistik deskriptif menurut Sugiyono (2008: 21) adalah statistik yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisis suatu statistik hasil penelitian, tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas (generalisasi/inferensi). Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh data mengenai pegaruh bahasa Indonesia dalam pemahaman rumus fisika. Bentuk yang dipilih dalam penelitian ini adalah penelitian kolaboratif, yakni penelitian yang dilakukan atas kerja sama antara peneliti dan lembaga serta instrumen-instrumen yang ada di dalamnya. 3.2 Sumber Data dan Data Penelitian Sumber data yang dimaksud dalam penelitian adalah subjek darimana data tersebut (Suharsimi Arikunto, 2006: 129). Sumber data penelitian adalah sumber data yang diperlukan untuk penelitian baik diperoleh secara langsung (data

23

primer) maupun tidak langsung (data sekunder) yang berhubungan dengan objek penelitian. a. Sumber data primer Sumber data primer merupakan sumber data dimana data yang diinginkan dapat diperoleh secara langsung dari subjek yang berhubungan langsung dengan penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data primer adalah seluruh data yang diperoleh langsung dari siswa. b. Sumber data sekunder Sumber data sekunder adalah sumber data penelitian dimana subjeknya tidak berhubungan langsung dengan objek penelitian tetapi membantu dan dapat memberikan informasi untuk bahan penelitian. Dalam penelitian ini yang menjadi sumber data sekunder adalah literatur, artikel, dan situs di internet yang berkenaan dengan penelitian yang dilakukan. “Jika kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi, maka penelitian tersebut disebut penelitian sampel” (Arikunto, 1996: 117). Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel bertujuan atau purposive sample,”dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata, random, atau daerah tetapi didasarkan atas tujuan tertentu” (Arikunto, 1996: 127). Penelitian ini berdasarkan judul karya ilmiah “Pengaruh Bahasa Indonesia Terhadap Pemahaman Rumus Fisika” menggunakan pendekatan kemampuan siswa dalam memahami rumus fisika, khususnya mengenai Hubungan

24

penggunaan bahasa indonesia dengan pemahaman siswa terhadap rumus fusika. Adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini diantaranya kemampuan keterbacaan siswa yang terdiri dari seberapa cepat mereka dalam membaca dan memahami rumus fisika, kemampuan mengguakan rumus fisika secara tepat, dan pengaruh bahasa yang digunakan dalam memahami rumus fisika, sebagai variabel bebas (independent variabel) dan keberhasilan siswa di dalam mengerjakan soal sebagai variabel terikat (dependent variabel). 3.3 Teknik Pengumpulan Fase terpenting dari sebuah penelitian adalah pengumpulan data, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data. Menurut Satori dan Komariah (2009: 103) pengumpulan data dalam penelitian ilmiah adalah “Prosedur yang sistematis untuk memperoleh data yang diperlukan”. Pengumpulan data dengan teknik tertentu sangat diperlukan dalam pengujian anggapan dasar dan hipotesis karena teknik-teknik tersebut dapat menentukan lancar tidaknya suatu proses penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah. 1. Angket Angket adalah pengumpulan data melalui penyebaran seperangkat pertanyaan tertulis. Angket yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan skala likert. Skala likert yaitu suatu skala yang terdiri dari sejumlah pertanyaan atau pernyataan yang semuanya menunjukkan sikap terhadap objek yang akan diukur. Untuk setiap pertanyaan disediakan empat pilihan jawaban. Dalam angket ini juga disertakan lembar isian materi fisika yang
25

sebelumnya diberikan waktu terlebih dahulu agar para siswa membaca materi yang akan diujikan dengan format bacaan telah disediakan oleh peneliti dan waktu yang dibatasi. Hal ini adalah untuk mengetahui keefektifan siswa dalam membaca dan memahami rumus-rumus fisika. 2. Studi Dokumentasi Studi dokumentasi menurut Satori dan Komariah (2009: 149) yaitu mengumpulkan dokumen dan data-data yang diperkukan dalam permasalahan penelitian lalu ditelaah secara intens sehingga dapat mendukung dan menambah kepercayaan dan pembuktian suatu kejadian. Studi dokumentasi dilakukan dengan cara mengkaji beberapa buku fisika yang dijadikan referensi oleh sekolah ataupun siswa yang menjadi objek penelitian. 3.4 Instrumen Penelitian “Instrumen penelitian adalah alat bantu yang digunakan oleh peneliti untuk mempermudah dirinya dalam melaksanakan tugas untuk mengumpulkan data” (Arikunto, 1993:153). Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai instrumen utama. Instrumen pendukungnya berupa hasil wawancara dan angket/kuisioner. Adapun langkah-langkah penyusunan angket adalah sebagai berikut : 1. Menentukan tujuan pembuatan angket yaitu mengetahui seberapa faham siswa akan rumus afisika.

26

2. Menjadiakan objek yang menjadi responden yaitu siswa SMA dengan menggunakan metode simple random sampling. 3. Menyusun pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab oleh responden. 4. Memperbanyak angket. 5. Menyebarkan angket. 6. Mengelola dan menganalisis hasil angket. 3.5 Uji Instrumen Penelitian Pengujian instrumen penelitian digunakan untuk menguji apakah instrumen penelitian ini memenuhi syarat-syarat alat ukur yang baik atau tidak sesuai dengan standar metode penelitian. Menurut Cooper dan Schindler, 2001 (Eeng Ahman, 2004: 127), bahwa suatu instrumen dikatakan baik apabila instrumen tersebut memiliki tiga persyaratan utama, yaitu valid atau sahih, reliabel dan praktis. 3.5.1 Uji Validitas Tes Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen (Suharsimi Arikunto, 2006:168). Suatu tes dikatakan memiliki validitas tinggi apabila tes tersebut menjalankan fungsi ukurannya atau memberikan hasil dengan maksud digunakannya tes tersebut. Uji validitas item dalam penelitian ini menggunakan rumus korelasi product moment dari Pearson sebagai berikut (Suharsimi Arikunto,2002:72).

27

√ Keterangan : rxy = koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y x= ̅ dan y = ̅

∑xy = jumlah perkalian x dengan y x2 = kuadrat dari x y2 = kuadrat dari y Pedoman Klasifikasi Validitas
Koefisien Validitas 0,00-0,19 0,20-0,39 0,40-0,59 0,60-0,79 0,80-1,00 Kriteria Sangat rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat tinggi

Keberartian Koefisien Validitas √

Harga t yang dihasilkan dibandingkan dengan harga t pada tabel, dengan dk = n-2 pada taraf nyata tertentu, jika th > tt, korelasi signifikan. 3.5.2 Uji Reabilitas Tes Uji reabilitas menunjukan sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya. Sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya bila pengukuran pada waktu yang berbeda pada kelompok subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama asalkan aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah. Tinggi rendahnya reabilitas secara empirik ditunjukkan oleh suat angka yang disebut nilai koefisien reabilitas. Reabilitas yang
28

tinggi ditunjukkan dengan nilai 1.00, reabilitas dianggap suda cukup memuaskan atau tinggi adalah 0.70.

Koefisien korelasi product-moment:

Keterangan : X = jumlah skor item bernomor ganjil Y = jumlah skor item bernomor genap N = jumlah subjek Koefisien reliabilitas:

Interpretasinya, jika rtt>rhh maka tes tersebut mempunyai reliabilitas yang tinggi (reliabel).

29

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Data Deskripsi data berisikan data yang sudah ditentukan dan dianggap mewakili pembahasan keseluruhan data. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI SMA yang ada diwilayah Bandung menggunakan sistem random. Dalam Bab ini dibahas mengenai hasil penelitian yang telah dilaksanakan yaitu berupa hasil pengolahan data dalam bentuk perhitungan statistik yang data diperoleh dari 40 responden. 4.1.1 Sumber Data 4.1.1.1 Angket 1 Menurut Linda R seorang siswi SMAN yang ada di Bandung , fisika adalah suatu pelajaran yang biasa-biasa saja menurut Linda kalau dimengerti menyenangkan dan sebaliknya, kalau tidak mengerti tidak menyenangkan. Alasan ini yang membuat dia malas membaca buku pengetahuan tentang fisika karena tidak pernah mengerti tentang bacaan-bacaan fisika, saat membaca langsung melihat rumusnya saja. Menurut Linda perhitungan di fisika yang membuat fisika menarik karena fenomenanya, konsep dan teorinya biasa-biasa saja. Pada saat kuliah nanti Linda tidak menginginkan masuk fisika, pada saat kuliah nanti Linda tidak ingin masuk jurusan fisika karena orang tua menyuruh

30

masuk jurusan PGSD, setelah membaca materi dan mengerjakan soal, Linda menganggap ada yang dimengerti dan ada yang tidak dimengerti dengan alasan karena bahasanya kurang dimengerti. 4.1.1.2 Angket 2 Menurut Tiara A W seorang siswi SMAN yang ada di Bandung, pelajaran fisika adalah suatu pelajaran yang biasa-biasa saja karena anggapan Tiara pelajaran fisika kadang mudah kadang susah, alasan ini juga yang membuat dia kadang suka kadang malas membaca buku pengetahuan tentang fisika hanya pada saat ada tugas saja dia membaca. Menurut Tiara fenomena dalam fisika yang membuat pelajaran fisika menarik karena fenomenanya merupakan fenomena di kehidupan sehari-hari. Pada saat kuliah nanti Tiara tidak ingin masuk jurusan fisika karena tidak berminat. Setelah membaca materi dan mengerjakan soal, Tiara merasa ada yang mengerti ada yang tidak di mengerti dengan alasan karena tidak mengerti. 4.1.1.3 Angket 3 Menurut Rahmi M seorang siswi SMAN yang ada di Bandung, fisika adalah suatu pelajaran yang biasa-biasa saja karena menurut dia kalau materinya dimengerti baru menyenangkan dan kebanyakannya tidak dimengerti, alasan ini yang membuat dia malas membaca buku pengetahuan tentang fisika karena begitu membaca tidak mengerti sehingga langsung mengantuk. Rahmi menganggap fenomenanya yang

31

paling menarik di fisika karena merupakan fenomena dikehidupan sehari-hari. Pada saat kuliah nanti Rahmi kurang tertarik masuk ke jurusan fisika karena tidak tertarik. Setelah membaca materi yang diberikan dan mngerjakan soal-soalnya Rahmi menganggap tidak paham karena kurangnya waktu dan ada materi yang tidak dicantumkan dibacaan. 4.1.1.4 Angket 4 Menurut Devi P seorang siswi SMAN di Bandung, fisika adalah pelajaran yang biasa-biasa saja karena menurutnya masih banyak pelajaran yang dia senangi. Alasan ini membuat dia kadang suka kadang malas membaca buku fisika hanya ketika ada tugas saja dia mau membaca. Rahmi menganggap fenomena, konsep dan teorinya yang membuat fisika menjadi menarik, alasannya supaya bisa mengetahui. Ketika kuliah nanti Devi masih bingung untuk memilih mau mengambil jurusan apa. Setelah membaca materi dan mengerjakan soal, Devi

menganggap ada yang dimengerti dan ada yang tidak dimengerti dengan alasan kurang konsentrasi dan ada soal yang melenceng. 4.1.1.5Angket 5 Menurut Noviani D seorang siswi SMAN di Bandung. Pelajaran fisika merupakan pelajaran yang biasa-biasa saja karena menurutnya relatif, alasan ini yang membuat Noviani kadang suka kadang malas membaca buku pengetahuan tentang fisika bagaimana mood saja. Menurut Novi

32

perhitungan dalam fisika yang membuat fisika menarik karena perhitungannya standar sudah ada rumusnya. Saat kuliah nanti Noviani tidak ingin masuk jurusan fisika karena punya jurusan lain yang jadi pilihan. Setelah membaca materi dan mengerjakan soal-soal, Novi merasa ada yang dimengerti ada yang tidak. 4.1.1.6 Angket 6 Menurut Anisa L seorang siswi SMAN di Bandung. Pelajaran fisika merupakan pelajaran yang biasa-biasa saja, bagaimana moodnya, sehingga Lisna kadang suka kadang malas membaca buku pelajaran tentang fisika tergantung dari materinya. Menurutnya perhitungan dalam fisika yang membuat fisika menarik dibanding dengan pelajaran yang lain karena kalau mengetahui rumus dan konsepnya mudah menghitungnya. Saat kuliah nanti Lisna tidak ingin masuk jurusan fisika karna tidak berminat. Setelah membaca materi tentang kinematika dan mengerjakan soalnya Lisna merasa ada yang dimenerti ada yang tidak dimengerti karena tidak konsentrasi membaca. 4.1.1.7 Angket 7 Menurut Ulya seorang siswa SMAN di Bandung. Pelajaran fisika merupakan pelajaran yang biasa-biasa saja karena memang biasa sehingga Ulya kadang suka kadang malas membaca buku pengetahuan tentang fisika. Menurut Ulya perhitungan dalam fisika yang membuat fisika menarik dibanding pelajaran yang lain. Saat kuliah nanti Ulya

33

tidak Ingin masuk jurusan fisika karena tidak berminat. Setelah membaca materi tentang kinematika dan mengerjakan soal-soalnya, Ulya merasa ada yang dimengerti dan ada yang tidak dimengerti. 4.1.1.8 Angket 8 Menurut Haryadi seorang siswa SMAN di Bandung, pelajaran fisika merupakan pelajaran yang biasa-biasa saja karena banyak turunannya. Haryadi kadang suka kadang malas membaca buku pengetahuan tentang fisika tergantung materinya. Menurutnya yang membuat fisika paling menarik dibanding pelajaran lain adalah fenomenanya karena fenomenanya nyata. Pada saat kuliah nanti Haryadi masih bingung untuk masuk fisika karena bimbang mau kuliah dimana. Setelah membaca materinya dan mengerjakan soalnya, Haryadi merasa ada yang dipahami dan ada yang tidak dipahami karena bahasanya kurang baik. 4.1.1.9 Angket 9 Menurut Nesha Ajani R, siswi kelas XI IPA yang bersekolah di salah satu SMA Negeri di Kota Bandung. Fisika adalah pelajaran yang biasabiasa saja karena fisika itu tidak “menyenangkan”. Nesya kadang suka kadang malas membaca buku pengetahuan tentang fisika, kalau materinya tidak terlalu sulit saja dia akan membaca buku. Menurutnya konsep dan teori yang membuat daya tarik di fisika dibandingkan pelajaran lainnya. Disinggung perihal ingin atau tidaknya masuk

34

jurusan fisika saat kuliah nanti, ternyata dia tidak ingin masuk jurusan ini, karena sama sekali tidak terpikirkan akan masuk jurusan fisika. Setelah membaca dan mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh tim penguji, Nesya paham dengan materi yang diberikan. 4.1.1.10 Angket 10 Menurut Cucu Rizkianti, siswi kelas XI IPA yang bersekolah di salah satu SMA Negeri di Kota Bandung . Fisika adalah pelajaran yang biasabiasa saja karena fisika itu kadang dimengerti kadang tidak. Banyak rumuslah yang menjadikan dia malas untuk membaca buku pengetahuan tentang fisika. Menurutnya konsep dan teori yang membedakan fisika dengan pelajaran lainnya. Disinggung perihal ingin atau tidaknya masuk jurusan fisika saat kuliah nanti, Cucu masih bingung. Sebenarnya dia ingin masuk jurusan fisika, tetapi dia tidak mengerti tentang fisika sehingga dia merasa dilema. Setelah membaca dan mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh tim penguji, dia kurang paham dengan materi yang diberikan karena menurut dia waktu yang diberi tim penguji sangat singkat. 4.1.11 Angket 11 Menurut M. Reviansyah, siswa kelas XI IPA yang bersekolah di salah satu SMA Negeri di Kota Bandung. Fisika adalah pelajaran yang biasabiasa saja karena fisika itu kadang mudah dimengerti kadang sulit. Faktor mood yang menjadi alasan Revi kadang suka kadang malas

35

membaca buku pengetahuan tentang fisika.menurutnya konsep dan teori yang menjadi hal menarik dari pelajaran fisika dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Disinggung perihal ingin atau tidaknya masuk jurusan fisika saat kuliah nanti, dia masih bingung. Setelah membaca dan mengerjakan soal-soal yang diberikan tim penguji, dia kurang paham dengan materi yang diberikan karena waktu yang sangat singkat. 4.1.12 angket 12 Menurut Ilham T.H, siswa kelas XI IPA yang bersekolah di salah satu SMA Negeri di kota Bandung. Fisika adalah pelajaran yang biasa-biasa saja karena banyak rumus yang memusingkan. Ilham kadang suka kadang malas membaca buku pengetahuan tentang fisika, kalau materinya tidak terlalu sulit saja dia akan membaca buku. Menurutnya fenomena-fenomena fisika yang membuat pelajaran ini menarik dibandingkan pelajaran lainnya. Disinggung perihal ingin atau tidaknya masuk jurusan fisika saat kuliah nanti, Ilham tidak ingin karena fisika adalah pelajaran yang memusingkan. Setelah membaca dan

mengerjakan soal-soal yang diberikan tim penguji, dia kurang paham karena kurang penjelasan dalam materi tersebut. 4.1.13 angket 13 Menurut Ricky Mulyawan, siswa kelas XI IPA yang bersekolah di salah satu SMA Negeri di kota Bandung. Fisika adalah pelajaran yang biasa-

36

biasa saja karena rumus-rumusnya yang sulit. Faktor mood yang membuat Ricky kadang suka kadang malas untuk membaca buku pengetahuan tentang fisika. Menurutnya fenomena-fenomena fisika yang menjadi daya tarik pelajaran ini dengan pelajaran lain. Disinggung perihal ingin atau tidaknya masuk jurusan fisika saat kuliah nanti, Ricky tidak ingin karena sulit. Setelah membaca dan mengerjakan soal-soal yang diberikan tim penguji, dia kurang paham dengan materinya. 4.1.14 Angket 14 Menurut M. Arief Wicaksono, siswa kelas XI IPA yang bersekolah di salah satu SMA Negeri di kota Bandung. Fisika adalah pelajaran yang biasa-biasa saja karena kadang dimengerti kadang tidak. Dia jarang membaca buku pengetahuan tentang fisika, alasannya karena sulit

dimengerti. Menurut dia, fenomena fisika yang membuat pelajaran ini lebih menarik dibandingkan pelajaran lainnya. Disinggung perihal ingin atau tidaknya masuk jurusan fisika saat kuliah nanti, dia menjawab tidak ingin karena sulit. Setelah membaca dan mengerjakan soal-soal yang diberikan oleh penguji, dia kurang memahami dengan materi karena banyak rumus. 4.1.15 Angket 15 Menurut Aris R, siswa kelas XI IPA yang bersekolah di salah satu SMA Negeri di kota Bandung. Fisika adalah pelajaran yang menyenangkan karena Aris menyukai tantangan. Dia malas membaca buku

37

pengetahuan tentang fisika, karena membosankan. Menurutnya konsep dan teori yang menarik dari fisika dibandingkan pelajaran lainnya. Disinggung perihal ingin atau tidaknya masuk jurusan fisika saat kuliah nanti, dia menjawab tidak ingin karena pusing. Setelah membaca dan mengerjakan soal-soal yang diberikan tim penguji, ternyata dia tidak paham. 4.1.16 Angket 16 Menurut Ayu, siswi kelas XI IPA yang bersekolah di salah satu SMA Negeri di kota Bandung. Fisika adalah pelajaran yang biasa-biasa saja karena kadang susah kadang mudah. Dia jarang membaca buku pengetahuan tentang fisika. Menurut dia, perhitungan di fisika yang paling menarik dibandingkan pelajaran lainnya. Disinggung perihal ingin atau tidaknya masuk jurusan fisika saat kuliah nanti, Ayu menjawab tidak ingin karena tidak berminat. Setelah membaca dan mengerjakan soal-soal yang diberikan tim penguji, ternyata Ayu memahami isi materi tersebut. 4.1.1.17 Angket 17 Menurut Pitria Ulfa, siswi kelas XI IPA 2 di salah satu SMA Negeri di kota Bandung, fisika adalah pelajaran yang menyenangkan karena dia menyukai pelajaran tersebut. Alasan ini pula yang membuatnya gemar membaca buku pengetahuan yang berhubungan dengan fisika. Pitria menganggap konsep dan teori fisika membuat fisika menarik jika

38

dibandingkan dengan pelajaran lainnya, karena lebih dapat dimengerti. Dia ingin sekali masuk jurusan fisika di perguruan tinggi, karena hal tersebut merupakan cita-citanya. Setelah membaca dan mengerjakan soal yang diberikan dia merasa setengah-setengah dalam memahami materi dan soal-soal, menurutnya dia tidak mengerti dan kurang fokus saat soal diberikan. 4.1.1.18 Angket 18 Menurut Gaya Bayu Firmansyah, siswa kelas XI IPA 2 di salah satu SMA Negeri di kota Bandung, fisika adalah pelajaran yang biasa-biasa saja karena menurutnya fisika itu rumit. Alasan ini pula yang membuatnya kadang suka dan kadang malas untuk membaca buku pengetahuan yang berhubungan dengan fisika. Bayu menganggap fenomena fifikalah yang membuat pelajaran ini menarik jika dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Dia sama sekali tidak ingin masuk ke jurusan fisika di perguruan tinggi, karena hal tersebut mungkin akan membuatnya pusing nantinya. Setelah membaca dan mengerjakan soal yang diberikan dia merasa setengah-setengah dalam memahami materi dan soal-soal, menurutnya penjelasan yang diberikan kurang jelas. 4.1.1.19 Angket 19 Menurut Victor, siswa kelas XI IPA 2 di salah satu SMA Negeri di kota Bandung, fisika adalah pelajaran yang menyenangkan karena pelajaran

39

ini merupakan pelajaran yang menantang. Akan tetapi, dia kadang suka dan kadang malas untuk membaca buku pengetahuan yang

berhubungan dengan fisika, jika dia merasa pokok bahasan yang dibacanya sulit dan dia tidak mengerti maka dia tidak akan meneruskan membaca poko bahasan tersebut. Victor menganggap konsep dan teori fisika membuat fisika menarik jika dibandingkan dengan pelajaran lainnya, karena merupakan kejadian sehari-hari sehingga

mempermudah dirinya untuk memahami fisika Dia masih bingung dalam menentukan apakah dia akan mengambil jurusan fisika di perguruan tinggi nantinya atau tidak. Setelah membaca dan

mengerjakan soal yang diberikan dia merasa setengah-setengah dalam memahami materi dan soal-soal, menurutnya waktu yang diberikan untuk memahami semua itu kurang. 4.1.1.20 Angket 20 Menurut M. Glagah Ananda, siswa kelas XI IPA 2 di salah satu SMA Negeri di kota Bandung, fisika adalah pelajaran biasa-biasa saja karena dia lebih menyukai pelajaran lain. Alasan ini pula yang membuatnya kadang suka dan kadang malas untuk membaca buku pengetahuan yang berhubungan dengan fisika. Menurut Ananda, fisika itu materinya terlalu berbelit-belit. Namun, dia mengakui bahwa fenomena fisika lah yang membuat pelajaran ini menarik jika dibandingkan dengan pelajaran lainnya, karena fenomena-fenomena fisika berbanding lurus dengan konsep yang ada. Dia tidak bercita-cita untuk masuk ke jurusan
40

fisika. Setelah membaca dan mengerjakan soal yang diberikan dia merasa sangat memahami materi dan soal-soal, menurutnya soal-soal yang diberikan terlalu sedikit dan mudah untukya. 4.1.1.21 Angket 21 Menurut Annisa Nastiti, siswi kelas XI IPA 2 di salah satu SMA Negeri di kota Bandung, kadang menyenangkan belajar fisika jika dia sedang mengerti. Akan tetapi, pelajaran ini jadi tidak menyenagnkan jika dia tidak mengerti. Sehingga dia merasa bahwa fisika adalah pelajaran yang biasa-biasa saja baginya. Alasan ini pula yang membuatnya kadang suka dan kadang malas untuk membaca buku pengetahuan yang berhubungan dengan fisika. Namun, dia mengakui bahwa fenomena fisika lah yang membuat pelajaran ini menarik jika dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Dia tidak bercita-cita untuk masuk ke jurusan fisika karena dia menggap fisika terlalu sulit untuknya. Setelah membaca dan mengerjakan soal yang diberikan dia merasa tidak paham karean waktu yang diberikan sangat terbatas. 4.1.1.22 Angket 22 Menurut Daniel Maruba Rosidi, siswa kelas XI IPA 2 di salah satu SMA Negeri di kota Bandung, fisika adalah pelajaran yang tidak menyenangkan karena rumus-rumus yang digunakan sulit. Sringkali dia malas untuk membaca buku yang berhubungan dengan fisika karena buku-buku fisika itu tebal dan dia tidak mood untuk membacanya.

41

Namun, dia mengaku bahwa perhitungan fisika menarik karena dia suka menghitung. Dia masih bingung untuk menentukan pilihan jurusan yang akan diambilnya nanti di perguruan tinggi Setelah membaca dan mengerjakan soal yang diberikan dia merasa sangat memahami materi dan soal-soal, karena saat itu dia sedang mood untuk membaca. 4.1.1.23 Angket 23 Menurut Nida Fadhilah, siswi kelas XI IPA 2 di salah satu SMA Negeri di kota Bandung, fisika adalah pelajaran biasa-biasa saja. Menurutnya, fisika akan jadi menyenagkan jika ia memahaminya, tetapi jika bahasa yang digunakan sulit dan membosankan maka pelajaran ini pun menjadi tidak menyenangkan Alasan ini pula yang membuatnya kadang suka dan kadang malas untuk membaca buku pengetahuan yang

berhubungan dengan fisika. Namun, dia mengakui bahwa fenomena fisika lah yang membuat pelajaran ini menarik jika dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Dia tidak bercita-cita untuk masuk ke jurusan fisika karena dia merasa bahwa pasti nantinya kan sulit jiak masuk ke jurusan fisika. Setelah membaca dan mengerjakan soal yang diberikan dia merasa tidak paham, karena waktu yang diberikan untuk memahami dan mengerjakan sangat sebentar. 4.1.1.24 Angket 24 Menurut Firdayani, siswi kelas XI IPA 2 di salah satu SMA Negeri di kota Bandung, fisika adalah pelajaran biasa-biasasaja. Dia akna merasa

42

fisika menyenangkan jika dia mengerti, mood-nya sangat berpengaruh pada kemauannya membaca buku yang berkaitan dengan fisika. Namun, dia mengakui bahwa fenomena fisika lah yang membuat pelajaran ini menarik jika dibandingkan dengan pelajaran lainnya. Dia tidak bercita-cita untuk masuk ke jurusan fisika karena dia tertarik pada jurusan lain. Setelah membaca dan mengerjakan soal yang diberikan dia merasa tidak paham sebab dia hany a membacanya secara sekilas. 4.1.1.25 Angket 25 Menurut Shinta, fisika adalah pelajaran yang biasa-biasa saja. Dia

mengatakan seperti itu karena fisika kadang menyenangkan dan kadang menyulitkan. Menyenangkannya saat dia mengerti dengan apa yang dijelaskan oleh guru, dan tidak menyenangkannya saat dia merasa sulit mengerti dan akhirnya merasa malas untuk belajar. Ia merasa malas untuk membaca buku-buku fisika karena menurutnya buku fisika itu tidak menarik. Namun, ada hal yang membuat fisika berbeda dengan pelajaran yang lain, yaitu konsep dan teorinya, fenomenanya, dan perhitungannya. Dan saat ia kuliah nanti, ia tidak akan mengambi jurusan fisika karena ia tidak tertarik. Dari materi yang diberikan oleh peneliti, ia merasa setengah-setengah dalm memahaminya, karena ia tidak konsertasi.

43

4.1.1.26 Angket 26 Menurut Munzir Mujib, fisika adalah pelajaran yang basa-biasa saja. Dia mengatakan seperti itu karena fisika adalah pelajaran yang monoton. Ia merasa kadang malas untuk membaca buku-buku fisika karena tergantung mood. Ia semangat membaca saat topik yang dibicarakab gampang dan merasa malas saat dia merasa sulit dimengerti. Namun, ada hal yang membuat fisika berbeda dengan pelajaran yang lain, yaitu konsep dan teorinya. Dan saat ia kuliah nanti, ia tidak akan mengambil jurusan fisika karena ia tidak prospek ke depannya. Dari materi yang diberikan oleh peneliti, ia merasa tidak paham, karena ia waktu yang tersedia hanya sebentar. 4.1.1.27 Angket 27 Menurut Bimo Wikantioso, fisika adalah pelajaran yang

menyenangkan.

Dia mengatakan seperti itu karena fisika adalah

pelajaran yang tidak biasa. Ia merasa kadang malas untuk membaca buku-buku fisika karena tergantung mood. Namun, ada hal yang membuat fisika berbeda dengan pelajaran yang lain, yaitu konsep dan teorinya karena ia tidak terlalu suka dengan perhitungannya. Dan saat ia kuliah nanti, ia masih bingung akan mengambil apa karena ia masih hars mempertimbangkannya terlebih dahulu. Dari materi yang diberikan oleh peneliti, ia merasa setengah-setengah dalm memahami, karena ia waktu yang tersedia hanya sebentar.

44

4.1.1.28 Angket 28 Menurut Irfan Saputra, fisika adalah pelajaran yang tidak

menyenangkan karena banyak rumusnya. Ia merasa malas untuk membaca buku-buku fisika karena pada dasarnya ia kurang suka dengan pelajaran fisika. Namun, menurutnya ada hal yang membuat fisika berbeda dengan pelajaran yang lain, yaitu fenomenanya yang banyak terjadi di kehidupan sehari-hari. Dan saat ia kuliah nanti, ia tidak akan mengambil jurusan fisika karena ia tidak suka dengan pelajaran fisika. Dari materi yang diberikan oleh peneliti, ia merasa setengah-setengah dalam memahaminya, karena ia waktu yang tersedia hanya sebentar. 4.1.1.29 Angket 29 Menurut Azizah Fitri, fisika adalah pelajaran yang menyenangkan. Dia mengatakan seperti itu karena fisika adalah pelajaran yang menuntut kita untuk berfikir dan menguji otak. Ia merasa kadang malas untuk membaca buku-buku fisika karena dalam pelajaran fisika banyak angka dan rumus-rumus yang harus diterangkan terlebih dahulu. Namun, ada hal yang membuat fisika berbeda dengan pelajaran yang lain, yaitu perhitungannya karena hitungannya lebih rumit dan harus mendetail. Dan saat ia kuliah nanti, ia bingung akan mengambil apa karena ia takut tidak diterima di Perguruan Tinggi. Dari materi yang diberikan oleh peneliti, ia merasa ada yang paham dan ada yang tidak paham.

45

4.1.1.30 Angket 30 Menurut Priyadhi P., fisika adalah pelajaran yang biasa-biasa saja. Dan Ia merasa malas untuk membaca buku-buku fisika karena membuat otaknya pusing. Namun, ada hal yang membuat fisika berbeda dengan pelajaran yang lain, yaitu perhitungannya yang lebih mementingkan logika dalam menganalisis. Dan saat ia kuliah nanti, ia tidak akan mengambil jurusan fisika karena iaingin menjadi seorang dokter hewan. Dari materi yang diberikan oleh peneliti, ia merasa setengah-setengah dalam memahaminya, karena susah-susah gampang. Sulitnya karena tidak ada rumus aplikasinya dan mdahnya karena menghitung angkanya tidak rumit. 4.1.1.31 Angket 31 Menurut Dhena, fisika adalah pelajaran yang biasa-biasa saja. Dia mengatakan seperti itu karena fisika kadang menyenangkan dan kadang tidak menyenangkan . Ia merasa kadang malas untuk membaca bukubuku fisika karena ia lebih tertark untuk membaca buku sastra. Namun, ada hal yang membuat fisika berbeda dengan pelajaran yang lain, yaitu konsep dan teorinya karena fisika itu lebih rumit dibandingkan dengan pelajaran lain. Dan saat ia kuliah nanti, ia bingug akan mengambil jurusan fisika karena ia lebih tertarik dengan bidang lain. Dari materi yang diberikan oleh peneliti, ia merasa setegah-setenga dalam memahaminya, karena ada materi yang masih kurang paham.

46

4.1.1.32 Angket 32 Menurut Wilman N. A., fisika adalah pelajaran yang biasa-biasa saja. Dia mengatakan seperti itu karena fisika adalah pelajaran yang tidak terlalu menyenangkan. Ia merasa kadang malas untuk membaca bukubuku fisik. Namun, ada hal yang membuat fisika berbeda dengan pelajaran yang lain, yaitu perhitungannya karena lebih menantang. Dan saat ia kuliah nanti, ia tidak akan mengambil jurusan fisika karena ia tidak berminat. Dari materi yang diberikan oleh peneliti, ia merasa setengah-setengah dalam memahamina, karena ia masih ada materi yag membuatnya bingung. 4.1.1.33 Angket 33 Menurut Rina Juwita, siswa kelas XI IPA 2 di salah satu sekolah negeri di Bandung, pelajaran fisika itu bias-biasa saja, tidak terlalu menyenangkan dan juga tidak membosankan. Dia mengaku kadangkadang bisa memahami fisika, dan kadang-kadang juga tidak bisaa. Itulah yang menyebabkan fisika itu biasa-biasa saja baginya. Sejalan dengan hal itu, Rina juga kadang suka baca buku pengetahuan tentang fisika dan kadang malas. Dia mengaku yang menyebabkannya adalah banyak rumus. Hal yang menarika yang dia kagumi dari pelajaran fisika adalah fisika itu diambil dari fenomena-fenomena alam yang terjadi sehari-hari. Namun, jika dia ditawarin untuk masuk fisika dia tidak begitu berminat dengan jurusan yang satu ini. Hal inipun terbukti

47

setelah kami memberi soal dia mengaku setengah-setengah dalam memahami soalnya. 4.1.1.34 Angket 34 Rivan Yuka, siswa kelas XI IPA 2 di salah satu sekolah negeri di Bandung menilai fisika itu pelajaran yang biasa-biasa saja. Dia mengaku dalam pelajaran fisika itu ada yang gampang dan ada yang susah. Ditambah lagi dia terkadang suka membaca buku pengetahuan tentang fisika dan terkadang malas, tergantung bukunya. Namun, Rivan Yuka menyukai konsep dan teori fisika dibandingkan pelajaran lain karena didalamnya banyak hitung menghitung. Ketika Rivan ditawari masuk jurusan fisika saat kuliah nanti, dia mengaku masih bingung, tergantung takdirnya. Saat kami memberi soal kepadanya dia mengatakan memahami konsep dari soal-soal tersebut. 4.1.1.35 Angket 35 Menurut Syahid Abdillah, pelajaran fisika itu biasa-biasa saja karena kebanyakan rumus. Siswa yang sedang duduk di kelas XI IPA 2 di salah satu sekolah negeri di Bandung ini mengaku bahwa dirinya kadang suka membaca buku pengetahuan tentang fisika dan kadang malas, tergantung bukunya. Hal yang menarik di fisika dibandingkan pelajaran lain menurutnya adalah fenomena yang dijelaskan dalam fisika. Saat kuliah nanti, Syahid Abdillah tidak ingin masuk jurusan fisika, karena fisika itu membingungkan dan cukup dialami saat di

48

SMA saja. Saat kami member soal-soal tentang konsep fisika dia mengaku faham akan konsep dan soal yang kami berikan tersebut. 4.1.1.36 Angket 36 Agung Aswin, menilai bahwa pelajaran fisika itu pelajaran yang biasabiasa saja, karena menurut pandangannya fisika kadang menyenangkan dan kadang tidak. Dia sendiri kadang malas dan kadang suka membaca buku-buku pengetahuan tentang fisika, tergantung mood dia. Agung, siswa kelas XI IPA 2 di salah satu sekolah negeri di Bandung mengaku bahwa hal yang menarik di fisika dibandingkan pelajaran yang lain adalah fenomena-fenomena yang dipelajari, karena fenomena yang dipelajari di fisika menarik. Saat kuliah nanti Agung mengaku tidak ingin masuk jurusan fisika karena dia tidak tertarik. Setelah kami member beberapa soal tentang konsep fisika, dia hanya setengahsetengah dalam memahaminya karena dia kurang faham. 4.1.1.37 Angket 37 Menurut Fitri Octaviany, seorang siswa kelas XI IPA 2 di salah satu SMA negeri di Bandung, pelajaran fisika termasuk pelajaran yang biasabiasa saja. Baginya kalau faham, fisika itu menyenangkan tetapi kalau tidak faham fisika itu pelajaran yang memusingkan. Dia kadang suka membaca buku pengetahuan tentang fisika dan kadang malas. Fenomena sehari-hari adalah hal yang paling menarik dipelajarinya. Apalagi kalau pembahasan tentang planet, itulah bagian yang paling menarik di fisika

49

bagi Fitri. Saat ditawari masuk jurusan fisika saat kuliah nanti, siswi yang satu ini mengaku bingung akan masuk jurusan apa. Soalnya dia lebih berminat untuk masuk perguruan tinggi keadministrasian. Hal ini ditunjukkan saat kami memberi beberapa soal tentang fisika, di mengaku setengah faham. 4.1.1.38 Angket 38 Yessi, seorang siswi kelas XI IPA 2 di salah satu sekolah negeri di Bandung menilai fisika itu pelajaran yang biasa-biasa saja. Hal ini dikarenakan fisika itu menyenangkan baginya kalau dia bisa memahami materi. Namun, fisika bisa menjadi pelajaran yang memusingkan baginya kalau dia tidak mengerti tentang materi yang sedang dipelajarinya. Dia sendiri kadang suka membaca buku pengetahuan tentang fisika yang berisikan teori-teori. Namun, jika pembahasan dalam buku yang dibacanya sudah masuk ke rumus-rumus, dia mengaku malas membacanya. Seperti yang kita ketahui bahwa dalam fisika itu mempelajari fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari, begitupun dengan Yessi, fenomena dalam fisika merupakan implementasi dari kehidupan seharihari dan inilah yang menyebabkan fisika itu menarik dibandingkan pelajaran yang lain. Saat disinggung tentang jurusan apa yang akan diambil saat kuliah nanti, Yessi mengaku masih bingung karena ini menyangkut jalan hidupnya, sehingga dia tidak berani memutuskan apakah ingin masuk jurusan fisika atau tidak. Saat kami memberinya beberapa

50

soal tentang fisika, dia setengah mengerti tentang konsep fisika dalam soal tersebut. 4.1.1.39 Angket 39 Restu Ardhya W, salah seorang siswa kelas XI IPA 2 di salah satu SMA negeri di Bandung menganggap fisika adalah pelajaran yang tidak menyenangkan. Banyak hal yang menyebabkannya berkata seperti itu. Tidak masuk akal, pelajarannya tidak logis seperti menghitung kecepatan benda jatuh yang menurut dia ini adalah hal-hal tidak penting. Hal ini berakibat dia malas membaca buku-buku pengetahuan tentang fisika. Hal yang paling menarik di fisika dibandingkan pelajaran lain adalah fenomena alam yang dipelajarinya. Itupun bukan fenomena tentang kecepatan benda jatuh. Saat kuliah nanti, dia tidak ingin masuk jurusan fisika, karena dia ingin masuk perguruan tinggi keadministrasian. Setelah kami member soal-soal tentang fisika, dia mengatakan bahwa dia tidak mengerti tentang apa konsep yang kami tanyakan. 4.1.1.40 Angket 40 Kamilia A, H, salah seorang siswi kelas XI IPA 2 di salah satu SMA negeri di Bandung, berpendapat bahwa fisika itu pelajaran yang biasabiasa saja, kalau sedang mengerti fisika adalah pelajaran yang menyenangka, tetapi kalau sudah diluar kemampuan dia, fisika adalah pelajaran yang membosankan. Dia sendiri, mengaku malas membaca buku-buku pengetahuan tentang fisika. Dia memilih membaca komik yang

51

penuh dengan gambar dari pada membaca buku fisika yang penuh dengan rumus. Saat kuliah nanti, dia mengaku masih bingung ingin masuk jurusan fisika atau tidak. Setelah kami memberikan soal-soal tentang konsep fisika yang berisikan soal cerita, dia mengaku setengah mengerti. Hal ini dikarenakan dia tidak menyukai soal-soal cerita yang sangat

membingungkan baginya. 4.2 Analisis Instrumen Penelitian

Dalam analisis instrumen penelitian digunakan uji validitas dan uji reliabilitas. Dengan menggunakan bantuan rumus dan fungsi statistika pada Microsoft Excel 2007 diperoleh hasil sebagai berikut. 4.2.1 Uji Validitas Uji validitas berkenaan dengan ketepatan alat ukur terhadap konsep yang diukur sehingga benar-benar mengukur apa yang seharusnya Uji validitas dilakukan untuk mengetahui apakah data yang atau tidak. diukur.

digunakan sah

52

4.2.2 Uji Reliabilitas

Pengujian reliabilitas instrumen (Test of reliability) untuk mengetahui apakah data yang telah dihasilkan dapat diandalkan. Pengujian reliabilitas menggunakan rumus Uji Reliabilitas (r11) menggunakan formula Spearman Brown. 4.3 Pengolahan Angket

4.3.1 Pengolahan Angket Pertama Respon siswa terhadap fisika. No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Menyenangkan Tidak Menyenangkan Biasa-Biasa Saja 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

1

53

23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Jumlah

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 5 3 1 32

Grafik dari respon siswa terhadap fisika.

1

2

3

54

Keterangan: 1. Siswa yang menjawab bahwa fisika menyenangkan. Presentasinya = 2. Siswa yang menjawab bahwa fisika tidak menyenangkan. Presentasinya = 3. Siswa yang menjawab bahwa fisika biasa-biasa saja. Presentasinya =

Hal yang disukai siswa dari fisika. No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Konsep dan Teori Fenomena 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 Perhitungan 1

55

23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Jumlah

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 20

11

9

Grafik hal yang disukai siswa dari fisika.

20 15 10 5 0 1 2 3

56

Keterangan: 1. Siswa yang menjawab bahwa hal yang paling disukai di fisika adalah konsep dan teorinya. Presentasinya = 2. Siswa yang menjawab bahwa hal yang paling disukai di fisika adalah fenomenanya. Presentasinya = 3. Siswa yang menjawab bahwa hal yang paling disukai di fisika adalah perhitungannya. Presentasinya =

Kefahaman siswa terhadap fisika Tidak Faham SetengahSetengah 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16

Faham

1

57

17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Jumlah

1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 6 7 1 27

Grafik kefahaman siswa terhadap fisika.

1 2 3

58

Keterangan: 1. Siswa yang menjawab paham. Presentasinya = 2. Siswa yang menjawab tidak paham. Presentasinya = 3. Siswa yang menjawab setengah-setengah. Presentasinya = 4.3.2 Pengolahan Anget kedua Butir Soal 2 13 13 13 10 10 10 0 0 0 10 0 15 10 10 10 0 28 15 10 13 13 13

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22

1 10 7 7 10 10 5 10 5 5 10 0 18 10 10 8 13 10 18 0 10 7 10

3 0 10 0 10 0 0 10 0 0 10 0 0 3 0 0 0 10 0 0 0 10 0

Jumlah 23 30 20 30 20 15 20 5 5 30 0 33 23 20 18 13 48 33 10 23 30 23

59

23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38
39 40

5 7 10 10 10 18 17 8 10 10 10 10 15 10 18 16
28 17

10 15 10 10 13 10 13 10 28 10 10 7 10 5 10 10
0 0

0 10 10 10 8 0 10 10 10 10 10 10 0 0 10 8
5 0

15 32 30 30 31 28 40 28 48 30 30 27 25 15 38 34 33 17

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

X 23 20 20 20 5 0 23 18 48 10 30 15 30 31 40 48 30 25

Y 30 30 15 5 30 33 20 13 33 23 23 32 30 28 28 30 27 15

̅ 2,35 5,35 5,35 5,35 20,35 24,35 2,35 7,35 22,65 15,35 4,65 10,35 4,65 5,65 14,65 22,65 4,65 0,35

̅) 5,2 5,2 9,8 19,8 5,2 8,2 4,8 11,8 8,2 1,8 1,8 7,2 5,2 3,2 3,2 5,2 2,2 9,8

̅ 5,5225 28,6225 28,6225 28,6225 414,1225 592,9225 5,5225 54,0225 513,0225 235,6225 21,6225 107,1225 21,6225 31,9225 214,6225 513,0225 21,6225 0,1225

̅ 27,04 27,04 96,04 392,04 27,04 67,24 23,04 139,24 67,24 3,24 3,24 51,84 27,04 10,24 10,24 27,04 4,84 96,04

̅ 12,22 27,82 52,43 105,93 105,82 199,67 11,28 86,73 185,73 27,63 8,37 74,52 24,18 18,08 46,88 117,78 10,23 3,43
60

̅)

19 20 Jlh

38 33 507

34 17 496

12,65 7,65 198,7 ̅ ̅

9,2 7,8 134,8

160,0225 58,5225 3056,85

84,64 60,84 1245,2

116,38 59,67 1294,78

Uji Validitas ̅̅̅ ̅

√ Uji Reabilitas

rtt = rtt = =

Interpretasinya, 2.36 > -6,48 maka tes tersebut mempunyai reliabilitas yang tinggi (reliabel). Nilai validitas 0.66, termasuk ke dalam data yang validitas yang tinggi. 4.4 Cara Memahami yang Cepat Membaca termasuk salah satu tuntutan dalam kehidupan masyarakat modern. Dengan membaca, kita dapat mengetahui dan menguasai berbagai hal. Banyak orang membaca kata demi kata, bahkan mengucapkannya secara cermat

61

dengan maksud dapat memahami isi bacaannya. Membaca kata demi kata memang bermanfaat, tetapi tidak cocok untuk semua tujuan. Ada beberapa cara untuk memahami bacaan. Di sini akan dijelaskan mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memahami bacaan dengan cepat, di antaranya adalah sebagai berikut. 1. Yang dibaca adalah hanya kata-kata yang penting seperti judul, sub judul, kata bercetak tebal, bergaris miring dan buat peta pikiran. 2. Kemudian renungkanlah apa yang telah diperoleh dari langkah pertama, hubungkan masing-masing sub judul dengan judul. Pikirkan dengan cara menerka-nerka apa yang kira-kira dibahas dalam judul. Dengan menerkanerka berarti mengaktifkan fungsi kerja otak. 3. Ulangilah dengan membaca kembali kata-kata penting satu kalimat pertama untuk setiap paragraph, karena biasanya ide utama setiap paragraph ada di kalimat utama yaitu kalimat pertama masing-masing paragraph, terutama untuk tulisan karya ilmiah. 4. Kemudian renungkan kembali apa yang telah kita peroleh. Biasanya kita telah memahami isi tulisan secara umum dan menyeluruh. Apabila muncul pertanyaan dalam tulisan yang sedang kit abaca untuk mengetahui lebih detil lagi, tebaklah jawaban-jawaban yang mungkin menurut kita. Benar atau salah tebakan kita bukan masalah yang jelas dengan menebak otak kita menjadi lebih aktif.

62

5. Kemudian bacalah bagian bacaan yang menurut kita perlu atau menarik. Renungkan kembali apa yang telah kita peroleh. Ulangi langkah ini, lengkapi dengan membuat peta pikiran. Kecepatan membaca berbeda bagi setiap orang, bergantung pada jenjang usianya. Menurut penelitian pakar, kecepatan membaca bagi orang dewasa antara 900-1000 kata per menit; bagi siswa sekolah dasar kelas 1: 60-80 kata; kelas 2 90110 kata; kelas 3 120- 140; kata kelas 4 150-160 kata; kelas 5 170-180 kata; kelas 6 190-250 kata per menit. Kecepatan itu berlaku bagi kegiatan membaca dalam hati yang tentu saja tidak sama kecepatannya dengan membaca nyaring. Sebagaimana dikatakan, kecepatan membaca erat kaitannya dengan tujuan membaca. Karena itu, perlu dipahami teknik membaca cepat, membaca sepintas, dan membaca cermat. Membaca cepat biasanya dilakukan untuk menemukan sesuatu atau memperoleh kesan umum dari suatu bacaan. Kalau pembaca ingin memahami misalnya, isi bagian-bagian buku, ia cukup memperhatikan judul atau bagian atasnya saja. Membaca sepintas dipergunakan apabila seseorang ingin secara cepat menemukan, misalnya tanggal, nama, nomor telepon, tempat

pertemuan, indeks, atau jumlah halaman. Orang yang sudah terbiasa membaca sepintas, ia akan dapat secara cepat menemukan gagasan yang tertuang dalam buku yang dibacanya. Membaca cermat dilakukan orang untuk memperoleh pemahaman sepenuhnya terhadap isi bacaan atau buku yang dibacanya. Dengan membaca cermat, seseorang akan dapat mengingat dan memahami ide pengarang dan karakter tokoh dalam bacaan fiksi, konsep-konsep khusus, hubungan antar bagian atau gaya penulisan.

63

4.5 Masalah dalam Pembelajaran Fisika

Bagi siswa yang tidak dapat memenuhi standar ketuntasan minimal yang ditetapkan dikatakan bermasalah atau mengalami hambatan dalam belajar. Hambatan siswa dalam belajar fisika, menurut Roestiyah (1998), secara umum faktor-faktor yang menjadi menyebabkan hambatan dalam belajar terdiri dari.

1. Faktor endogen, meliputi.

a. Biologis: kesehatan dan cacat badan; b. Psikologis: minat, perhatian, dan intelegensi.

2. Faktor eksogen, meliputi.

a. Sekolah: interaksi guru murid, cara pengajaran, pengertian orang tua, dan suasana keluarga; b. Masyarakat: teman bergaul.

Istilah lain dari faktor endogen adalah faktor internal dan istilah lain faktor eksogen adalah faktor eksternal. Dalam kegiatan proses belajar fisika aspek-aspek yang hendak dicapai meliputi aspek kualitatif, kuantitatif, dan aspek keterampilan. Misalnya pada pokok bahasan pengukuran, konsep mengukur merupakan aspek kualitatif, hasil mengukur suatu besaran merupakan aspek kuantitatif, dan bagaimana siswa dapat melakukan pengukuran dengan baik merupakan aspek keterampilan. Sesuai taksonomi Bloom, konsep pengukuran dan hasil pengukuran suatu besaran merupakan aspek kognitif, sikap jujur dalam mengukur merupakan

64

aspek afektif dan bagaimana siswa dapat melakukan pengukuran dengan baik merupakan aspek psikomotorik. Apabila kondisi siswa diasumsikan wajar artinya faktor kesehatan, fasilitas, lingkungan, dan sebagainya tidak menemui masalah, maka hambatan yang ditemui siswa dalam belajar fisika dapat diidentifikasikan sebagai berikut.

1. Hambatan yang berkaitan dengan minat Minat adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Kurangnya minat terhadap mata pelajaran fisika menimbulkan kurangnya gairah belajar sehingga mengakibatkan kurangnya intensitas belajar. 2. Hambatan yang berkaitan dengan motivasi Motivasi adalah dorongan atau penggerak untuk melakukan sesuatu. Pada diri siswa motivasi dapat mempengaruhi siswa sehingga mempunyai semangat untuk aktif agar kegiatan belajar dapat tetap berjalan, motivasi juga mempengruhi siswa dalam memilih prioritas kegiatan untuk mengendalikan agar tujuan yang diinginkan dalam belajar dapat tercapai. (Nurdin Ibrahim, 2002:3). Adapun kurangnya motivasi pada diri siswa menyebabkan seorang siswa tidak sungguh-sungguh atau kurang bersemangat dalam melaksanakan kegiatan sehingga terhambat dalam mencapai tujuan belajar. 3. Hambatan yang berkaitan dengan intelegensi dan bakat Intelegensi atau kecerdasan adalah daya reaksi atau penguasaan yang cepat dan tepat, baik secara fisik maupun mental terhadap pengalaman-pengalaman baru, membuat pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki siap untuk dipakai apabila dihadapkan pada fakta-fakta atau kondisi baru. Sedangkan bakat adalah dasar

65

(kepandaian, sifat dan pembawaan) yang dibawa dari lahir. Intelegensi yang rendah pada seseorang menyebabkan lambat berpikir sehingga prestasi belajarnya kurang. Demikian halnya bakat seseorang yang tidak sesuai pada bidang tertentu menyebabkan prestasi pada bidang tersebut kurang. 4. Hambatan yang berkaitan dengan cara siswa belajar cara siswa belajar adalah teknik-teknik belajar yang digunakan siswa dalam belajar yang sangat mempengaruhi keberhasilan siswa. Termasuk cara belajar adalah bagaimana membaca, mencatat, membuat ringkasan, latihan soal, menghafal, berdiskusi, mengatur waktu dan tempat belajar, dan lain sebagainya. Cara belajar yang salah menyebabkan hasil belajar tidak efektif. 5. Hambatan yang berkaitan dengan cara guru mengajar. Cara guru mengajar adalah teknik-teknik yang digunakan guru dalam mengajar yang sangat mempengaruhi keberhasilan siswa. Termasuk cara guru mengajar adalah kesiapan, penguasaan materi, kemampuan menjelaskan/berkomunikasi. Cara guru mengajar yang tidak menarik akan membosankan siswa, sehingga hasil belajar siswa tidak seperti yang diharapkan. Pendapat lain secara rinci menyatakan macam-macam hambatan yang ditemui siswa dalam belajar IPA-fisika adalah. 1. Siswa beranggapan belajar fisika tidak bermanfaat untuk memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan/teknologi. 2. Siswa malas mengulang pelajaran di rumah. 3. Siswa tidak tertarik dengan pelajaran fisika karena banyak hitungan matematiknya.

66

4. Siswa tidak termotivasi untuk menyelesaikan tugas-tugas pelajaran fisika dengan baik. 5. Siswa tidak termotivasi untuk mengajukan pertanyaan kepada guru terhadap hal-hal yang belum jelas dalam belajar fisika. 6. Siswa tidak termotivasi untuk giat belajar agar mendapat nilai yang baik dalam ulangan atau test. 7. Siswa tidak termotivasi untuk memusatkan perhatian pada materi pelajaran saat pelajaran sedang berlangsung di kelas. 8. Siswa sukar menyelesaikan soal yang melibatkan hitungan matematik. 9. Siswa sukar menyusun langkah yang akan ditempuh, hukum/rumus yang dipakai dalam memecahkan soal. 10. Siswa sukar memahami lambang-lambang atau simbul-simbul yang ada dalam pelajaran fisika. 11. Cara belajar siswa yang pasif, jarang minta penjelasan lebih lanjut kepada guru bila ada materi pelajaran yang belum dimengerti/diketahui (belum paham). 12. Siswa jarang mengerjakan tugas yang diberikan guru. 13. Siswa jarang membaca bahan yang akan di ajari di kelas, pada malam hari sebelumnya di rumah. 14. Guru jarang menyajikan pelajaran dengan memberikan contoh-contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual) sehingga pelajaran kurang menarik dan kurang menyenangkan. 15. Penjelasan guru sukar ditangkap (dipahami), tidak urut atau tidak lengkap.

67

16. Guru jarang memberikan tugas (PR). 17. Metode mengajar yang digunakan guru kurang bervariasi. Dengan diketahuinya macam-macam hambatan yang ditemui siswa dalam belajar fisika tersebut, kiranya perlu mendapat perhatian bagi kita semua terutama guru dan orang tua serta pihak-pihak yang terkait dengan masalah pendidikan khususnya masalah pembelajaran fisika. 4.6 Mengatasai Hambata dalam Belajar Upaya mengatasi hambatan siswa dalam belajar fisika yaitu. 1. Memanfaatkan ICT (Teknologi Informasi dan Komunikasi) sebagai media pembelajaran. Sekarang ini telah tersedia berbagai program pembelajaran interaktif yang sangat mendukung kelancaran proses pembelajaran. Peristiwaperistiwa abstrak yang tidak mungkin dapat diamati secara langsung dapat disimulasikan dengan program tersebut, misalnya gerak elektron mengelilingi inti atom, dsb. Penjelasan konsep akan lebih mudah dipahami siswa bila memanfaatkan media ini, dibanding dengsan penjelasan verbal biasa. Ada kesulitan berkaitan dengan mahalnya software pembelajaran tersebut, untuk itu guru bisa mencari alternative clip animasi pembelajaran di internet seperti di http://www. E-dukasi.net. Sekarang sudah saatnya guru mulai akrab dengan presentasi power point dalam pembelajaran di kelas. Karena dengan bantuan power point animasi tampilan baik berupa grafik, diagram ataupun tulisan bisa kita atur sesuai yang dikehendaki. Tampilan ini jauh lebih menarik bagi siswa dibanding dengan tulisan bisa di atas papan tulis. Pihak sekolah juga sudah seharusnya mengupayakan peralatan multi media seperti LCD dan komputer,

68

karena saat sekarang barang tersebut sudah merupakan keperluan primer pendidikan disamping sarana lain seperti gedung, buku-buku dan peralatan laboratorium. 2. Demo real ataupun virtual. Objek yang dipelajarai dalam pelajaran fisika adalah benda, dengan demikian siswa harus dihadapkan dengan peristiwa yang sesungguhnya, sehingga siswa dapat mengamati, memahami dan menghayati gejala yang terjadi. Tidak cukup bagi siswa belajar tentang peristiwa pemuaian hanya dengan mendengarkan penjelasan. Guru harus menunjukkan peristiwa itu secara riil dihadapan siswa. Demonstrasi juga memegang peranan penting untuk menggugah motivasi belajar siswa, juga merupakan stimulan bagi daya nalar dan daya pikir siswa. Untuk hal-hal tertentu yang sulit dilaksanakan demo secara real, terkait dengan ICT guru dapat mengambil potongan video tentang demonstrasi sains melalui internet. Sebagai contoh reaksi kimia yang menghasilkan energi panas, cahaya dan efek ledakan yang besar dapat kita demonstrasikan dengan memutar clip video peristiwa tersebut. Untuk keperluan ini guru bisa mengambil di http://www. youtube.com. 3. Melibatkan siswa secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Eksperimen (percobaan) merupakan salah satu kegiatan pembelajaran fisika yang dapat melibatkan secara aktif siswa, baik fisik, mental, perhatian, maupun pikiran. Ini terjadi karena siswa secara langsung berhadapan dengan proses, dimana didalamnya tahapan-tahapan kerja ilmiah terjadi. Ada beberapa kesulitan yang ditemui guru untuk melaksanakan kegiatan ini, misalnya keterbatasan alat dan

69

sarana laboratorium serta sangat menyita waktu. Perlu ide kreatif guru untuk mengatasinya, misalnya dengan mencari alat atau bahan praktikum yang praktis dan mudah di dapat di sekitar kita. Pelaksanaan kegiatan juga dapat dilakukan di luar laboratorium misalnya di taman, aula atau tempat lain yang memungkinkan. Disamping memperhatikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dari kegiatan eksperimen, faktor keselamatan juga menjadi perhatian penting. Untuk kegiatan yang menggunakan alat atau bahan yang berbahaya misalnya api, bahan kimia, listrik dsb, perlu pengawasan dan bimbingan serius dari guru. 4. Memahami konsep bukan menghafal rumus. Sampai saat ini setiap belajar fisika, dalam benak siswa pasti yang akan dipelajari adalah rumus-rumus rumit serta hitungan sulit yang memusingkan kepala. Untuk itu perlu ditanamkan kepada siswa bahwa penekanan dalam belajar fisika adalah memahami konsep, sedangkan rumus adalah penurunan dari konsep tersebut. Jika ada rumus yang memamang perlu di ingat oleh siswa maka rumus tersebut adalah rumus dasar saja (Yohanes Surya, 2003), sementara rumus lain adalah turunan dari rumus itu. Sebagai contoh hukum Ohm menyatakan bahwa besarnya arus yang mengalir dalam suatu penghantar sebanding dengan besarnya tegangan bilai nilai hambatan penghantar tetap. Dari konsep ini bisa diturunkan rumus V = I . R, bila di gabungkan dengan hukum kirchoff , maka dapat diturunkan rumus turunan yang lain, misalnya nilai hambatan seri, paralel, sampai ke energi listrik.

70

5. Memberikan tugas teknologi. Pemberian tugas kepada siswa hendaknya bukan hanya berupa soal? Soal yang selalu berkaitan dengan rumus dan hitungan saja. Alangkah baiknya secara berkala siswa diberi tugas yang memotivasi siswa untuk memahami konsep yang lebih dalam. Contoh siswa diberi tugas untuk menjelaskan prinsip kerja lemari es yang ada dirumahnya, mulai dari menggambar bagan, bagian-bagian alat sampai proses kerjanya. Siswa diminta mengamati langsung serta mencari referensi dari sumber lain termasuk internet. Jika memungkinkan bisa juga siswa disuruh membuat model alat sederhana yang bekerja berdasarkan prinsip fisika, misalnya pompa air sederhana menggunakan bahan pralon. Tugas membuat presentasi kelompok dengan sumber langsung dari sumber terkait jika itu memungkinkan atau setidaknya dari perpustakaan atau internet juga sangat dianjurkan. 4.7 Bagaimana cara cepat belajar fisika

Fisika masih merupakan mata pelajaran yang menakutkaan, atau dengan kata lain malas untuk dipelajar, berbagai alasan mungkin pernah anda berikan, sulit, banyak rumusnya, ngitungnya banyak, matematikaku lemah dan lain sebaginya. menurut saya kalu dalam pengamatan, fisika merupakan pelajaran yang mengasikkan. Supaya cepat belajar fisika ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu.

1. Belajarlah dengan mengamati dan menganalisis yang termasuk di dalamnya. 2. belajarlah untuk meniru dengan mengerjakan permasalahan yang kasusnya sama.

71

3. kalau kedua langkah itu dengan baik dilaksanakan, mulailah cari modifikasi soal, bereksperimen dengan kasus-kasus lain. Langkah-langkah belajar efektif adalah mengetahui.
1. 2. 3. 4.

Diri sendiri. Kemampuan belajar anda. Proses yang berhasil anda gunakan, dan dibutuhkan. Minat, dan pengetahuan atas mata pelajaran anda inginkan.

72

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan Bagi kebanyakan siswa, fisika adalah pelajaran yang sulit dipahami. Mereka lebih menghindari pelajaran yang satu ini karena materi yang mereka terima selama ini hanya berorientasi kepada pemahaman rumus. Mereka jarang menerima materi fisika yang di dalamnya membahas fenomena-fenomena alam tanpa adanya perhitungan. Sebenarnya tidak ada yang salah kalau materi fisika yang diberikan kepada siswa lebih mengarah kepada pemahaman rumus dan perhitungan. Justru inilah indahnya fisika, bisa memperhitungkan kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pandangan siswa, rumus dan perhitungan di dalam fisika cenderung sulit untuk dipahami. Inilah yang menyebabkan mayoritas siswa terkesan menghindari fisika. Hal yang perlu diperhatikan di sini adalah penggunaan bahasa Indonesia yang mudah dipahami dan efektif. Buku-buku pelajaran fisika yang ada saat ini cenderung menggunakan bahasa yang sulit dipahami. Bahasa yang baik dan mudah dipahami akan menjadi penggerak siswa untuk lebih memahami fisika secara mandiri. Bahasa bisa menjadi alat yang membantu siswa dan bisa juga menjadi alat yang menyesatkan. Di dalam dunia pendidikan, kemampuan kebahasaan sangat penting, baik yang dimiliki guru maupun pengarang buku. Kemampuan penggunaan bahasa Indonesia oleh guru akan dirasakan langsung oleh peserta didik. Sedangkan kemampuan kebahasaan
73

pengarang buku akan dirasakan oleh guru dan siswa. Kesalahan sekecil apapun dalam kebahasaan akan berindikasi missconception siswa tentang suatu materi khususnya fisika. Rumus-rumus fisika akan menjadi mudah dipahami siswa jika bahasa yang digunakan benar dan efektif. Begitupun sebaliknya, rumus-rumus fisika akan sulit dipahami bahkan ada kemungkinan salah diartikan oleh siswa jika bahasa yang digunakan untuk menjelaskannya sumbang dan salah. Siswa telah merasakan dampak dari penggunaan bahasa Indonesia yang digunakan untuk menjelaskan rumus-rumus dan konsep-konsep dalam fisika, mayoritas siswa mengaku tidak begitu mengerti tentang fisika. Kebanyakan mereka bingung tentang rumus fisika yang ada dalam buku. Mereka lebih menyukai fisika tanpa adanya rumus. Padahal yang namanya fisika tidak bisa terlepas dari rumus. Ini mengindikasikan bahasa yang digunakan untuk menjelaskan rumus dan konsep fisika sumbang dan tidak efektif. Problematika seperti ini harus segera diantisipasi agar ke depannya kejadian seperti di atas tidak terulang lagi. 5.2 Saran Berdasarkan kesimpulan di atas, penulis menyampaikan beberapa saran, diantaranya. 1. Biasakan membaca buku-buku pelajaran disertai dengan memahami apa yang dibaca. Setelah itu tulis kembali apa yang telah pahami dari hasil membaca tersebut dengan menggunakan kata-kata sendiri supaya kita lebih

memahaminya.

74

2. Sebelum pembelajaran dimulai, hendaknya kita harus tahu materi apa yang akan dipelajari, manfaatnya, bahkan kalau bisa cari juga relevansinya dengan kehidupan. Jika perlu tanya guru fisikanya. 3. Cari materi penghubung dan pendukung materi yang akan dipelajari. Guru kadang lupa melakukan apersepsi atau menghubungkan materi baru dengan materi sebelumnya padahal selalu ada hubunganya. Jangan malu untuk bertanya pada guru. Hal ini bisa memudahkan kita menarik benang merah antara materi baru dengan materi sebelumnya. 4. Pahami rumus, bukan hafalkan rumus. Rumus fisika kadang merupakan rumus turunan dari rumus pada materi sebelumnya, pahami alurnya. Hindari hanya menghapal rumus. Setelah kita paham rumus, hafal akan mengikuti dengan sendirinya. Kalau guru langsung menyodorkan rumus, jangan segan untuk bertanya. Melalui rumus yang dipahami dengan konsep yang benar kita bisa menjelaskannya dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Insya Allah dengan memahami penurunan rumus, kita akan merindukan belajar fisika. 5. Pelajari materi dasar sebelum ke materi pokok. Sebelum mempelajari rumus akhir, pelajari konsep materi yang disampaikan, pelajari materi dari yang mudah dulu, yang ada relevansinya dengan materi sebelum dan selanjutnya, kemudian ke materi pokok. 6. Mudah dengan banyak berlatih. Banyak berlatih dengan mengerjakan soal adalah salah satu kunci memahami fisika dengan mudah, berlatih dengan soal

75

yang mudah terlebih dulu. Kemudian bertahap dan pahami soal yang relatif lebih sulit. Berlatihlah sesering mungkin. 7. Optimis bahwa kita bisa paham dengan apa yang dipelajari.

76

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful