Hak Asasi Manusia dalam Bayangbayang Pragmatisme

Kekuatan negara dengan berbagai kebijakan dan institusi reformis ternyata belum mampu memenuhi kebutuhan hak asasi warga negara secara layak. Publik bahkan tergiring dalam pandangan pragmatis terkait dengan hak asasi manusia. Sejak negeri ini dibentuk pengakuan hak asasi manusia, hak hidup merdeka, dan hak sederajat merupakan tulang punggung bersatunya berbagai etnis dan kelompok. Pandangan antidiskriminasi dan hormat kepada hidup manusia menjadikan Indonesia salah satu negara yang paling awal mengakui hak asasi manusia, bahkan lebih awal daripada Deklarasi HAM PBB, 10 Desember 1948. Perjalanan sejarah bangsa ini kemudian memberi bukti, pemaknaan ”hak asasi” di negeri ini bisa ”maju-mundur” sesuai dengan konsep rezim yang berkuasa di pemerintahan. Pada masa pemerintahan Soeharto hak asasi diberi makna sebagai hak hidup dari Tuhan Yang Maha Esa, sejauh serasi dan tidak menjadi penghalang bagi laju pembangunan nasional. Era reformasi, yang sebagian energinya menyembur dari kawah tekanan represi politik atas nama stabilitas, memberikan warna lain pemaknaan hak asasi. Salah satu yang kentara adalah formalisasi simbol hak asasi dalam bentuk perundang-undangan terkait HAM (Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999), kebijakan birokrasi yang prohak asasi dan pembentukan institusi nasional, seperti Dephuk dan HAM serta Komnas HAM. Jika dihitung-hitung, bisa dibilang saat ini mungkin tinggal soal niat saja yang tidak ”diinstitusikan” untuk menjamin terselenggaranya pemenuhan hak asasi di negeri ini. Namun, dengan segenap kekuatan negara seperti itu, apakah persoalan pelanggaran HAM di negeri ini bisa segera diselesaikan? Sebatas kebebasan Dibandingkan era Orde Baru, reformasi yang digembar-gemborkan sejauh ini ditengarai masih sebatas memberikan jaminan kebebasan berekspresi, menyatakan pendapat, dan unjuk rasa. Rangkaian jajak pendapat Litbang Kompas mendapati, bagian terbesar responden senantiasa menilai positif berbagai perubahan yang terjadi dalam batas-batas kebebasan berpendapat dan berekspresi. Lebih dari itu, kondisi tampak masih tertatih-tatih. Pemenuhan aspek pendidikan, pekerjaan, dan tempat tinggal yang layak masih menyisakan ”lubang” besar. Ambil contoh soal tempat tinggal. Becermin dari suara responden, mayoritas responden (61,3 persen responden) menyatakan tidak puas dengan upaya pemerintah. Demikian juga terhadap hak masyarakat atas pendidikan yang layak, dinilai lebih separuh responden (56,4 persen) belum berjalan memuaskan. Jika menengok lebih jauh, persoalan HAM yang lebih mengusik publik adalah penanganan terhadap pelaku dan korban kasus lumpur Lapindo. Eksekusi hukum yang tak kunjung selesai, baik terhadap PT Lapindo Brantas maupun ganti rugi

negara yang diwakili oleh Panitia Khusus DPR ketika itu justru berperan mementahkan penyidikan khusus dengan menyatakan peristiwa itu sebagai pelanggaran HAM biasa. (lihat tabel) Sikap tak abai oleh negara seharusnya juga tak hanya ditujukan terhadap pelanggaran HAM skala besar. ataupun yang berbasis primordial (etnis dan agama) masih terjadi secara sporadis hingga saat ini. Parahnya. Dalam hal ini. Sebagaimana terjadi dalam penyelesaian kasus Munir. lebih sulit lagi bagi publik menerima fakta bahwa peristiwa itu bukan pelanggaran HAM berat.4 persen) atas upaya pemerintah menangani berbagai kasus pelanggaran HAM. ketidakpuasan ini juga bersifat relatif. Cerminan sikap publik atas kondisi tersebut adalah ketidakpuasan bagian terbesar responden (71. serta tragedi Trisakti 1998. Bagian terbesar responden (73. pelanggaran hak asasi dalam konteks keluarga (KDRT).9 persen) bahkan. Meski penegakan HAM dinilai belum memuaskan. tenaga kerja anak). Pada kenyataannya. hiruk-pikuk aktor politik menjelang pemilihan umum tak satu pun yang berani menyentuh isu pelanggaran HAM berat masa lalu. Aspek mendasar dari hak asasi tidak lagi terfokus pada persoalan idealisme kebebasan. perspektif hak asasi warga negara sebagai pihak yang ”dijamin” hidupnya oleh negara menjadi lebih mengemuka. berubah-ubahnya nuansa keputusan hakim terhadap terdakwa menyebabkan sebagian publik hilang kepercayaan kepada institusi hukum negara. kal ini lebih diapresiasi dan dinilai lebih baik oleh mayoritas responden. ketenagakerjaan (TKI. menyatakan lebih mendahulukan pemenuhan ekonomi ketimbang pemenuhan hak asasi. persoalan pelanggaran HAM paling menonjol adalah dampak dari kasus-kasus pertentangan elite politik ketimbang sengketa horizontal antarwarga. Nyaris semua elite dan . jika dilihat secara keseluruhan. Ironisnya. Meski demikian. dibandingkan masa Orde Baru. Risiko yang muncul dari hilangnya kepastian dalam penyelesaian sebuah kasus pelanggaran HAM berat ialah munculnya sebuah pandangan pragmatis sebagai buah dari sikap apatis.terhadap korban. Sebagian besar responden saat ini memandang pelaksanaan pemenuhan HAM sangat terkait dengan aspek ekonomi. Jika merunut ke penyelesaian kasus Tragedi Trisakti dan kerusuhan Mei 1998. dan aktivis buruh. tampak betapa sulitnya komponen bangsa ini menemukan benang merah penegakan hak asasi atas nama kebenaran substantif. Munir. suatu hal yang mungkin tidak muncul pada masa Soeharto. kemerdekaan dan hak hidup. Seperti hasil jajak pendapat sebelumnya. jika harus memilih. kasus-kasus yang paling menonjol diingat publik ialah kasus terbunuhnya aktivis HAM. Marsinah. Pragmatisme pandangan Dari perjalanan penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM berat. Memang. tetapi bergeser pada sekadar pemenuhan kebutuhan ekonomi. menjadikan kasus itu dinilai publik sebagai salah satu persoalan HAM yang paling belum terselesaikan.

the majority of respondents (61. 39 of 1999). express opinions. as well as Dephuk and Human Rights Commission. View antidiscrimination and respect for human life. Di sisi lain. you could say this might be a matter of intention that is not "instituted" to ensure the fulfillment of human rights in this country. the reforms heralded so far identified is still limited to providing guarantees of freedom of expression. hilangnya militansi kepada kebenaran merupakan kondisi yang bisa menjerumuskan bangsa dalam ilusi materialisme Human Rights in the Shadow of Pragmatism Strength of the various policy and institutional reform was not able to meet the needs of citizens rights are worth. If the count is calculated. the bulk of respondents always positive rate of change that occurs within the limits of freedom of opinion and expression. the condition was still limping. One of the obvious is the formalization of rights symbol in the form of legislation related to human rights (Act No. employment. providing another color interpretation rights. as far as harmonious and not become a barrier to the rate of national development. However. publik tampaknya juga makin pesimistis ada elite politik atau parpol yang bisa menyelesaikan pelanggaran HAM. Namun. Reform era. the right to live free. and demonstrations. bureaucratic policies that pro-human rights and the establishment of national institutions. making Indonesia one of the earliest recognized human rights. 1948. Since this country was formed recognition of human rights. and housing still leaves "holes" big.parpol berlindung di balik tema-tema ”populis” seperti perekonomian. meaning "human rights" in this country could be "forward-backward" in accordance with the concept of the ruling regime in the government. Fulfillment aspects of education. even earlier than the United Nations Declaration on Human Rights. Public tergiring even in pragmatic view associated with human rights. Travel history of this nation and give evidence. Sulit dimungkiri arus utama isu di dalam masyarakat senantiasa didominasi oleh aspek terpenuhinya kebutuhan mendasar. and equal rights is the backbone and the merging of various ethnic groups. which some of his energy burst from the crater pressure political repression in the name of stability. December 10. During the Suharto government was given the meaning of human rights as the right to life from God Almighty. with all such state power. Moreover. R & D series Compass poll found. whether the issue of human rights violations in this country can be solved? Limited freedom Compared to the New Order era.3 per . Take the example of housing problems. Reflect the voices of respondents.

independence and rights of life. In this case. Most of the respondents currently looking at the implementation of human rights compliance is closely related to economic aspects. Indeed. and labor activists. Although enforcement of human rights have not considered satisfactory. The bulk of respondents (73. the right of people to a decent education. Pragmatism views Completion of travel cases gross human rights violations. Similarly. but simply shifted to the economic needs. compared to the New Order period. assessed over half the respondents (56.4 percent) had not run satisfactorily. making the case that the public considered as one of the most human rights issues unresolved. Fundamental aspect of human rights no longer focused on the issue of freedom of idealism. when viewed as a whole. both the PT Lapindo Brantas and the compensation for the victim. However. if you had to . the perspective of citizens rights as those who "guaranteed" his life by the state becomes more prominent. something that may not appear at the time of Suharto. violations of human rights in the context of the family (domestic violence). and the tragedy Trisakti 1998. employment (workers. the state represented by the Special Committee of the House when it was actually played mementahkan special investigation by declaring it as a regular human rights violations. more human rights issues which disturb the public is against the perpetrators and the handling of cases of Lapindo mudflow victims. child labor). this dissatisfaction is relative. was how difficult component of this nation to find threads of human rights enforcement on behalf of the substantive truth. Ironically. Risks that arise from the loss of certainty in the settlement of a case of gross human rights violations is the emergence of a pragmatic view as the result of apathy. the cases of the most prominent public mind is the murder case of human rights activist. or based primordial (ethnic and religious) still occur sporadically to the present. the issue of human rights violations is the most striking impact of the conflict cases the political elite rather than the horizontal antarwarga dispute. Munir.cent of respondents) said not satisfied with government efforts. cal is more appreciated and better judged by the majority of respondents. If you look further.9 percent) and even. Law execution was finished. Marsinah. In fact. A reflection of public attitudes on these conditions is the greatest dissatisfaction with the respondents (71. If the trace to the resolution of the case Trisakti tragedy and the riots in May 1998. change nuance of change that the judge's decision against the defendant caused some loss of public confidence in the institution of state law.4 percent) over the government's efforts to address human rights violations. As the results of previous polls. it's harder for the public to accept the fact that the incident was not a gross human rights violations. As happened in the resolution of Munir's case. (see table) Attitude did not neglect by the state should also not only directed against the largescale human rights violations.

Difficult denied mainstream issues in the community is always dominated by aspects of the fulfillment of basic needs. Almost all the elites and political parties hide behind the themes of "populist" like the economy. the public seems there are also more pessimistic political elites or political parties can resolve human rights violations. giving priority to fulfilling the state more than the fulfillment of economic rights.choose. On the other hand. However. Worse. . the loss of militancy in the truth is a condition that could plunge the nation in the illusion of materialism. the din of political actors towards the general election none of them dared to touch the issue of gross human rights violations of the past.