Está en la página 1de 136

1.

PENDAHULUAN

ampak dari globalisasi dan perdagangan bebas yang mau tidak mau
harus dihadapi Indonesia adalah persaingan yang makin ketat di dalam
dunia usaha perdagangan dan industri. Untuk meningkatkan daya
saing, segala upaya harus dilakukan untuk meningkatkan efisiensi.

PLN sebagai pemasok utama energi listrik di Indonesia, pasti akan


menghadapi tuntutan peningkatan keandalan yang terus menerus,
karena peningkatan keandalan akan berarti penekanan kerugian-
kerugian yang tidak perlu terjadi, yang berarti peningkatan efisiensi.
Indikator keandalan terpenting suplai tenaga listrik adalah lama
padam/konsumen/ tahun dan kali padam/konsumen/tahun. Kedua
angka itu harus ditekan terus menerus. Pada konsumen PLN angka
lama padam itu relatif masih tinggi dibandingkan dengan negara maju.

2. MACAM-MACAM GANGGUAN, PENYEBAB, DAN AKIBATNYA

a. Gangguan Beban Lebih


Beban lebih mungkin tidak tepat disebut sebagai gangguan. Namun
karena beban lebih adalah suatu keadaan abnormal yang apabila
dibiarkan terus berlangsung dapat membahayakan peralatan, jadi harus
diamankan, maka beban lebih harus ikut ditinjau.
Beban lebih dapat terjadi pada trafo atau pada saluran karena
konsumen yang dipasoknya memang terus meningkat, atau karena
adanya manuver atau perubahan aliran beban di jaringan setelah
adanya gangguan.

Beban lebih dapat mengakibatkan pemanasan yang berlebihan yang


selanjutnya panas yang berlebihan itu dapat mempercepat proses
penuaan atau memperpendek umur.
Pada trafo tenaga, percepatan proses penuaan itu secara pendekatan
7)
dapat dinyatakan dengan rumus Mountsinger sebagai berikut :

Kecepatan penuaan pada suhu ϑ


ζ = 0
= 2 (ϑ −98) / 6
Kecepa tan penuaan pada suhu 98 C

Dimana :
ζ = Kecepatan penuaan relatif.
ϑ = Suhu belitan bagian terpanas (hot spot).
o
98 C = adalah suhu sebagai dasar disain untuk umur yang wajar (20 –
30 tahun).
o
Rumus Mountsinger tersebut berlaku sampai suhu 140 C.

Tabel berikut menggambarkan hubungan kecepatan penuaan relatif (ζ)


dengan suhu belitan.

o
ϑ ( C) ζ

80 0,125
86 0,25
92 0,5

98 1

104 2,0
110 4,0
116 8,0
122 16,0
128 32,0
134 64,0
140 128,0

Jadi trafo yang seumur hidupnya dibebani sedemikian sehingga suhu


o o
kerjanya (hot spot) 6 di atas 98 C, maka proses penuaannya
dipercepat dua kali atau umurnya diperpendek menjadi separuhnya dari
umur yang wajar. Atau suatu trafo yang dalam suatu perioda (misalnya
0 0
10 jam) dibebani sedemikian sehingga suhu kerjanya 6 diatas 98 C,
maka umurnya akan berkurang dua kali lebih banyak (ekivalen dengan
0
dibebani pada suhu 98 C selama dua kali 10 jam). Sebaliknya jika
o o
suhunya 6 di bawah 98 C, proses penuaannya diperlambat menjadi
setengahnya.

Trafo dapat dibebani lebih untuk sementara tanpa menyebabkan


o
kenaikan suhu melampaui 98 C (jadi tidak mengakibatkan perpendekan
umur) jika beban sebelumnya cukup rendah (suhu hot spot di bawah
o
98 C). Untuk hal ini telah ada petunjuk dari SPLN 17A (IEC 354)
“Loading guide for oil-immersed transformer”.

Gangguan pada sistem pendingin (misalnya matinya fan pada


radiatornya) dapat menyebabkan kenaikan suhu yang berlebihan
meskipun bebannya masih di bawah nominalnya. Dalam hal demikian
trafo juga akan mengalami perpendekan umur.

Panas yang berlebihan pada beberapa kabel yang terpasang paralel


dapat terjadi karena jaraknya satu sama lain terlalu dekat meskipun
bebannya di bawah nominal. Akibatnya sama yaitu perpendekan umur
atau cepat rusak.

b. Gangguan Hubung-Singkat

Hubung-singkat dapat terjadi antar fasa (tiga fasa atau dua fasa) atau
antara satu fasa ke tanah, dan dapat bersifat temporair (non persistant)
atau permanen (persistant).

Gangguan yang permanen misalnya hubung singkat yang terjadi pada


kabel, belitan trafo atau belitan generator karena tembusnya (break
down nya) isolasi padat.

Di sini pada titik gangguan memang terjadi kerusakan yang permanen.


Peralatan yang terganggu tersebut baru bisa dioperasikan kembali
setelah bagian yang rusak diperbaiki atau diganti. Penyebab gangguan
permanen antara lain penuaan isolasi, kerusakan mekanis isolasi,
tegangan-lebih dsb.

Pada gangguan yang temporair, tidak ada kerusakan yang permanen


di titik gangguan. Gangguan ini misalnya berupa flashover antara
penghantar fasa dan tanah atau tiang, travers atau kawat tanah pada
SUTT atau SUTM karena sambaran petir, atau flashover dengan
pohon-pohon yang tertiup angin, atau burung / binatang lain yang
terbang / merayap mendekati konduktor fasa dan sebagainya.

Pada gangguan ini yang tembus (break down) adalah isolasi udaranya,
oleh karena itu tidak ada kerusakan yang permanen. Setelah arus
gangguannya terputus, misalnya karena terbukanya circuit breaker oleh
relay pengamannya, peralatan atau saluran yang terganggu tersebut
siap dioperasikan kembali.

Arus hubung singkat dua fasa lebih kecil daripada arus hubung singkat
tiga fasa. Jika tahanan gangguan diabaikan arus hubung singkat dua
fasa kira-kira : ½ 3 (=0,866) kali arus hubung singkat tiga fasa.

Arus gangguan satu fasa ke tanah hampir selalu lebih kecil daripada
arus hubung singkat tiga fasa, bahkan mungkin lebih kecil dari arus
beban nominalnya, sebab gangguan tanah hampir selalu melalui
tahanan gangguan, misalnya beberapa ohm, yaitu tahanan pembumian
kaki tiang, dalam hal flashover dengan tiang atau kawat tanah, atau
beberapa puluh atau ratusan ohm dalam hal flashover dengan pohon.
Di samping itu untuk sistem dengan pembumian melalui tahanan,
tahanan pembumian netral sistem itu juga akan membatasi arus
gangguan satu fasa ke tanah.

Arus gangguan satu fasa ke tanah pada sistem dengan pembumian


langsung pada umumnya juga sedikit lebih kecil dari pada arus hubung-
singkat tiga fasa sebab impedans urutan nol saluran pada umumnya
lebih besar (empat kalinya) dari pada impedans urutan positifnya,
kecuali jika lokasi gangguannya dekat dengan pusat pembangit, dimana
yang dominan impedansi generatornya yang reaktansi urutan nolnya
tidak termasuk kedalam rangkaian urutan nolnya.

Peralatan yang terganggu dan peralatan yang dilalui arus hubung-


singkat dapat menjadi rusak dengan 2 cara :
• secara thermis
• secara mekanis

Rusak secara Thermis


Panas yang timbul tergantung pada besarnya arus gangguan dan
lamanya arus gangguan itu berlangsung, yaitu sebesar :
t
2
I R.dt
o

Dimana: t = waktu lamanya arus gangguan


R = tahanan konduktor
I = arus gangguan

Panas ini akan menaikkan suhu konduktor yang dilalui arus gangguan
itu. Jika terlalu lama (clearing time-nya lambat) suhu konduktor akan
terlalu tinggi sehingga merusak isolasinya atau mempercepat
penuaannya.

Jadi setiap peralatan mempunyai batas termis tertentu terhadap arus


hubung singkat. “Ketahanan thermis terhadap arus hubung-singkat
dalam waktu singkat” atau disingkat “Arus ketahanan waktu singkat”
(“Short time withstand current”) dari peralatan biasanya dinyatakan
dalam arus (kA) dan waktu 1 detik, 2 detik atau 3 detik. Batas thermis
peralatan bisa juga dinyatakan dalam kurva waktu-arus (damage curve)
dalam diagram Waktu-Arus. Jika batas itu tidak dilampaui maka tidak
ada panas yang berlebihan, peralatan yang dilalui arus gangguan tidak
rusak dan tidak mengalami percepatan penuaan.

Secara Mekanis
Arus gangguan menimbulkan gaya tarik menarik atau tolak menolak
pada konduktor yang dilalui arus gangguan. Busbar pada cubicle atau
switchgear misalnya, harus memiliki isolator yang cukup kuat secara
mekanis sehingga tahan terhadap gaya-gaya tersebut. Demikian pula
belitan trafo juga harus memiliki kekuatan mekanis yang cukup
sehingga tidak rusak oleh arus hubung singkat (through fault current)
yang melaluinya. Gaya mekanis (dynamic force) tertinggi terjadi pada
puncak arus (peak current) pertama dari arus hubung singkat itu yang
nilai maximumnya, dengan maximum DC offset, bisa mencapai 2½ kali
nilai rms (root mean square) dari arus hubung singkat simetrisnya.

Contoh :
Suatu Switchgear mempunyai :
Arus ketahanan waktu singkat pengenal 20 kA/1 sec.
Arus ketahanan puncak pengenal 50 kA.

Dari hasil penelitian kerusakan trafo tenaga di Jawa menunjukkan


bahwa kerusakan trafo akibat through fault current ternyata merupakan
kerusakan yang dominan (lihat tabel kerusakan trafo di Jawa untuk
5)
kurun waktu dari tahun 1988 – 1994).

Dengan disain peralatan/ sistem yang baik serta pengamanan sistem


yang baik, gangguan hubung singkat pada umumnya tidak
mengakibatkan kerusakan peralatan, paling hanya mengakibatkan
terlepasnya bagian sistem yang terganggu yang selanjutnya mungkin
dapat mengakibatkan pemadaman.

c. Gangguan Tegangan-Lebih

Tegangan lebih dapat dibedakan sebagai berikut :


• Tegangan lebih dengan power frequency (di Indonesia 50 Hz)
• Tegangan lebih transient

Selanjutnya tegangan lebih transient dapat dibedakan :


• Surja Petir (lightning surge)
• Surja Hubung (switching surge)

Tegangan lebih dengan power frequency terjadi misalnya karena :


• Kehilangan beban atau penurunan beban di jaringan akibat
switching karena gangguan atau karena manuver.
• Gangguan pada AVR (Automatic Voltage Regulator) pada
generator atau pada sadapan berbeban (on-load tap changer)
dari trafo tenaga.
• Kecepatan-lebih (Over speed) pada generator karena
kehilangan beban.

Tegangan lebih dengan power frequency ini biasanya tidak begitu tinggi
namun bisa berlangsung lama. Peralatan seperti kabel, trafo dan
generator didesain sedemikian sehingga tegangan kerja maksimumnya
masih di bawah “corona inception voltage” isolasinya sehingga
peralatan itu tahan lama. “Corona inception voltage” adalah tegangan di
mana internal corona discharge mulai timbul di dalam isolasinya.

Jika tegangan kerja maksimum dilampaui maka internal corona


discharge akan terjadi yang secara kumulatif merusak isolasi.
Selanjutnya peralatan dapat langsung rusak karena insulation break
down (hubung singkat) atau setidak-tidaknya terjadi percepatan
penuaan (perpendekan umur). Jadi tegangan lebih dengan power
frequency akhirnya dapat berakibat hubung-singkat (insulation break
down) atau sekedar perpendekan umur.

Surja Petir
Petir dapat menyambar langsung ke konduktor fasa, atau menyambar
kawat tanah atau tiang SUTT yang selanjutnya menyebabkan back
flashover, atau menyambar tanah atau obyek lain di dekat SUTM atau
SUTT (induced lightning) yang semuanya dapat mengakibatkan
hubung- singkat atau gangguan tanah.

Oleh karena itu kawat tanah pada SUTT yang berfungsi sebagai
pelindung kawat fasa harus mempunyai tahanan pembumian serendah
mungkin, dan isolatornya harus mempunyai tingkat isolasi (basic
insulation level) yang cukup sehingga sambaran petir pada kawat tanah
atau tiang tidak menyebabkan gangguan (back flashover) kecuali petir
yang arusnya (discharge current) terlalu besar yang kemungkinan
terjadinya (probability) lebih kecil.

Surja Hubung
Hubung-singkat atau bekerjanya Pemutus Tenaga (circuit breaker)
dapat menimbulkan tegangan transient yang tinggi, namun biasanya
tidak setinggi surja petir untuk sistem tegangan menengah atau tinggi.
Untuk sistem tegangan ekstra tinggi, surja hubung bisa lebih dominan
sebagai penyebab gangguan daripada surja petir.

d. Gangguan kekurangan daya

Kekurangan daya dapat terjadi karena tripnya unit pembangkit akibat


gangguan di prime movernya, di generator, atau karena gangguan
hubung-singkat di jaringan yang menyebabkan bekerjanya relay dan
circuit breakernya yang berakibat terlepasnya suatu pusat pembangkit
dari sistem. Jika tingkat pembebanan pusat/ unit pembangkit yang
hilang/ terlepas tersebut melampaui cadangan putar (spinning reserve)
sistem, maka pusat-pusat pembangkit yang masih kerja akan
mengalami pembebanan yang berkelebihan sehingga frequency akan
merosot terus. Jika hal ini tidak diamankan akan mengakibatkan tripnya
pusat-pusat pembangkit itu secara beruntun (cascading) yang
selanjutnya dapat berakibat runtuhnya (collapse) system yang dapat
berarti pemadaman total.
e. Gangguan ketakstabilan (Instability).

Gangguan hubung singkat atau kehilangan pembangkit dapat


menimbulkan ayunan daya (power swing) atau, yang lebih parah lagi,
dapat menyebabkan unit-unit pembangkit lepas singkron (pull out of
synchronism). Ayunan daya dapat mengakibatkan relay pengaman
salah kerja yang selanjutnya menyebabkan gangguan yang lebih luas.
Lepas sinkron dapat mengakibatkan berkurangnya pembangkit karena
tripnya unit pembangkit ybs. atau terpisahnya sistem, yang selanjutnya
dapat menyebabkan gangguan yang lebih luas bahkan keruntuhan
sistem (collapse).
PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK
FILOSOFI, STRATEGI DAN ANALISANYA UNTUK PENINGKATAN KEANDALAN DI PLN

KERUSAKAN TRAFO MENURUT PENYEBAB


DALAM KURUN WAKTU 6 TAHUN (1988-1994) 5)

Angka kerusakan
No. Penyebab Rusak % MVA
K1 % K2 % K3 %
I II III IV V VI VII VIII
1 Hubung singkat external 21 46 696 4.0 0.45 2.0
2 Kelemahan Isolasi (Hubung singkat internal) 6 13 343 1.1 0.13 0.6
3 Petir 1 2 30 0.2 0.02 0.1
4 Proteksi gagal 7 15 242 1.3 0.15 0.7
5 Kelemahan OLTC 1 2 133.3 0.2 0.02 0.1
6 Pemeliharaan kurang 1 2 112 0.2 0.02 0.1
7 Salah operasi 5 10 170 1.0 0.11 0.5
8 Lain-lain 4 8 116 0.8 0.08 0.4
JUMLAH TOTAL 46 100 1842 8.8 0.98 4.3

Jumlah Terpasang 542


Jumlah Umur (transf-years) 4708

Keterangan :
K1 =
dalam prosen
K2 = Ratio antara jumlah Trafo rusak terhadap jumlah umur Trafo terpasang (transf-years) dari kelompok
penyebab dinyatakan dalam prosen
K3 = Ratio antaranilai kerugian akibat Trafo rusak terhadap nilai Trafo terpasang ketika baru dari
kelompok penyebab
3. CARA MENGATASI GANGGUAN

Usaha-usaha untuk mengatasi gangguan dapat dikelompokkan ke


dalam 2 golongan sebagai berikut :
• mengurangi terjadinya gangguan
• mengurangi akibatnya

3.1. Mengurangi Terjadinya Gangguan

Gangguan tidak dapat dicegah sama sekali, tapi dapat dikurangi


kemungkinan terjadinya dengan cara-cara sebagai berikut :
a. Dengan hanya menggunakan peralatan yang dapat
diandalkan. Peralatan yang dapat diandalkan adalah
peralatan yang minimum memenuhi persyaratan standar
yang dibuktikan dengan uji jenis (type test), dan/ atau yang
telah terbukti keandalannya dari pengalaman
penggunaannya. Penggunaan peralatan di bawah mutu
standar akan merupakan sumber gangguan

b. Penentuan spesifikasi yang tepat dan desain yang baik


sehingga baik dalam kondisi kerja normal maupun dalam
keadaan gangguan yang wajar, semua peralatan tahan baik
secara elektris, thermis maupun mekanis. Ini berarti semua
peralatan tidak akan mengalami overstress secara elektris,
thermis ataupun mekanis yang bisa merusak atau
memperpendek umur.

c. Pemasangan yang benar sesuai dengan disain, spesifikasi


dan petunjuk dari pabriknya.

d. Penggunaan kawat tanah pada SUTT/ SUTET (Saluran


Udara Tegangan Tinggi/ Ekstra Tinggi) dengan tahanan
pembumian kaki tiang yang rendah untuk menghindari atau
mengurangi terjadinya gangguan akibat sambaran petir.
Untuk pemeriksaan tahanan pembumian dalam
pemeliharaan rutin, hubungan konduktor pembumiannya
harus bisa dilepas dari kaki tiangnya.

e. Penebangan / pemangkasan pohon-pohon yang berdekatan


dengan kawat fasa pada SUTM dan SUTT. Dalam hal ini
yang perlu diperhatikan tidak hanya jaraknya dalam keadaan
tidak ada angin melainkan juga dalam keadaan ditiup angin
pohon itu harus tetap mempunyai jarak yang cukup terhadap
kawat fasa.

f. Penggunaan kawat / kabel udara berisolasi untuk SUTM


secara selektif.

g. Operasi dan pemeliharaan yang baik.

h. Menghilangkan/mengurangi penyebab gangguan/kerusakan


melalui penyelidikan.

3.2 Mengurangi Akibat Gangguan

Karena gangguan tidak bisa dicegah sama sekali maka usaha


untuk mengurangi akibatnya juga sangat penting :

a. Mengurangi besarnya arus gangguan dengan cara :


• Menghindari konsentrasi pembangkitan (mengurangi
short circuit level)
• Menggunakan reaktor
• Menggunakan tahanan untuk pembumian netralnya
untuk jaringan tegangan menengah.

b. Penggunaan lightning arrester dan penentuan tingkat dasar


isolasi (Basic Insulation Level) peralatan dengan koordinasi
isolasi yang tepat.

c. Melepaskan bagian sistem yang terganggu dengan


menggunakan circuit breaker dan relay proteksi (proteksi
sistem tenaga liatrik).

d. Menghindari atau mengurangi luasnya / lamanya pemadaman


atau kerusakan akibat pelepasan bagian sistem yang
terganggu dengan cara :
• Penggunaan jenis relay yang tepat dan penyetelan relay
yang selektif agar bagian yang terlepas sekecil mungkin.
• Penggunaan saluran double dengan proteksi yang
selektif sehingga jika terjadi gangguan pada salah satu
saluran, tidak terjadi pemadaman karena saluran yang
lain masih tetap befungsi.
• Penggunaan loop dengan proteksi yang selektif sehingga
jika terjadi gangguan pada salah satu seksi tidak terjadi
pemadaman karena hanya seksi itu saja yang terlepas
dan konsumen masih terhubung dengan sumbernya dari
salah satu arah.
• Penggunaan Penutup-Balik Otomatis (PBO) yang cepat
sehingga pemadaman dapat dihindari atau hanya
berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.
• Penggunaan Saklar Seksi Otomatis (automatic
sectionalizer) pada JTM untuk mempercepat pemulihan
dan mempersempit daerah yang padam.
• Penggunaan spindle pada JTM atau setidak-tidaknya ada
titik pertemuan antar saluran (sehingga terbentuk loop
terbuka) sehingga dalam hal ada gangguan, kerusakan
atau pemeliharaan tersedia alternatif supply dari arah lain.
• Penggunaan dua saluran pemasok dari sumber (gardu
induk) yang berbeda dan dilengkapi dengan Saklar
Pindah Otomatis (Automatic Change Over Switch) pada
konsumen yang memerlukan keandalan yang tinggi
• Penggunaan peralatan cadangan (biasa dengan kriteria
N-1).

e. Penggunaan program Pelepasan-Beban (Load Shedding),


Pemisahan Sistem (System Splitting) dan Pembentukan
Pulau (Islanding) untuk mengurangi luasnya pemadaman
dan mempercepat pemulihan sistem setelah gangguan.

f. Penggunaan relay dan circuit breaker yang cepat dan AVR


dengan response yang cepat pula untuk menghindari atau
mengurangi kemungkinan gangguan instability (lepas
sinkron) akibat gangguan hubung-singkat atau jatuhnya unit
pembangkit.

4. PENGERTIAN DASAR PROTEKSI.

4.1 Fungsi Proteksi

Fungsi Proteksi adalah memisahkan bagian sistem yang


terganggu sehingga bagian sistem lainnya dapat terus beroperasi
dengan cara sbb :
a. Mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal
lainnya pada bagian sistem yang diamankannya (fault
detection).
b. Melepaskan bagian sistem yang terganggu (fault clearing).
c. Memberitahu operator adanya gangguan dan lokasinya
(announciation).

Pengaman-lebur (fuse) adalah contoh alat pengaman yang


paling sederhana yang jika dipilih dengan tepat dapat memenuhi
fungsi tersebut.

Untuk pengamanan bagian sistem yang lebih penting, digunakan


sistem proteksi yang terdiri dari seperangkat peralatan proteksi
yang komponen-komponen terpenting nya adalah :

• Relay Proteksi : sebagai elemen perasa yang


mendeteksi adanya gangguan atau keadaan abnormal
lainnya (fault detection).

• Pemutus Tenaga (PMT) : sebagai pemutus arus


gangguan di dalam sirkit tenaga untuk melepaskan
bagian sistem yang terganggu. Dengan perkataan lain
“membebaskan sistem dari gangguan” (fault clearing).
PMT menerima perintah (sinyal trip) dari relay proteksi
untuk membuka.

• Trafo Arus dan/atau Trafo Tegangan untuk


meneruskan arus dan/atau tegangan dengan
perbandingan tertentu dari sirkit primer (sirkit tenaga) ke
sirkit sekunder (sirkit relay) dan memisahkan sirkit
sekunder dari sirkit primernya.

• Battery (aki) : sebagai sumber tenaga untuk mengetrip


PMT dan catu daya untuk relay (relay digital/ relay statik)
dan relay bantu (auxiliary relay).

Hubungan antara komponen-komponen proteksi sebagai suatu


sistem proteksi yang sederhana dapat dilihat pada Gbr. 4.1.a
untuk sistem tegangan menengah (TM) atau tegangan tinggi
(TT), dan Gbr.4.1.b , untuk sistem tegangan ekstra tinggi (TET)
yang menggunakan proteksi dobel (duplicate).
DS
R DS R2
TC

TC1
TC2
CB B R1

CB B1 B2
CT
CT1
VT F
CT2
VT F1 F2
CB : PMT
R : Relay
LINE CT : Trafo Arus
VT : Trafo Tegangan LINE
TC : Trip Coil
F : Fuse
Gbr. 4.1.a B : Battery Gbr. 4.1.b

4.2. Kawasan Pengamanan (Zone of Protection)

Sistem Tenaga Listrik terbagi ke dalam seksi-seksi yang satu


sama lain bisa dihubungkan atau dipisahkan melalui pemutus
tenaga (PMT).

Setiap seksi diamankan oleh suatu relay proteksi (disingkat relay)


dan setiap relay mempunyai kawasan pengamanan. Kawasan
pengamanan suatu relay proteksi adalah bagian dari sistem yang
menjadi tanggung jawab relay proteksi itu untuk mendeteksi
gangguan yang terjadi di dalamnya, dan dengan bantuan PMT
memisahkan seksi yang terganggu itu dari bagian sistem lainnya.
Sebagai contoh relay dan kawasan pengamanannya di dalam
suatu sistem tenaga listrik dapat dilihat pada Gbr. 4.2.a dan
Gbr. 4.2.b.
PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK
FILOSOFI, STRATEGI DAN ANALISA UNTUK PENINGKATAN KEANDALAN

Contoh : Jenis Relay, fungsinya dan Kawasan Pengamanannya


11kV 150kV 20kV

A B
C D E
2 1 2 1 2 1

(1) (2) (3) (4) (5) (7) (6) (8) (9) (10) (11)

Keterangan :
(1) = Overall Differential Relay (5) = Distance Relay Zone II di A1 (9)
= Over Curent Relay Trafo sisi 20kV
Pengaman Utama Gen.-Trafo Pengaman Utama Bus B Pengaman Utama Bus C
(2) = Over Current Relay Pengaman Cadangan-jauh sebagian Trafo di B Pengaman Cadangan-jauh saluran CD
Pengaman Cadangan Lokal Gen.-Trafo (6) = Distance Relay Zone III di A1 (10) = Over Current Relay di C1
Pengaman Cadangan-jauh Bus A Pengaman Cadangan-jauh Trafo di B Pengaman Utama saluran CD
(3) = Pengaman Bus sampai di Bus C Pengaman Cadangan-jauh saluran DE
Pengaman Utama Bus A (7) = Differential Relay Trafo (11) = Over Current Relay di D
(4) = Distance Relay Zone I & PLC di A1 Pengaman Utama Trafo Pengaman Utama saluran DE
(8) = Over Current Relay Trafo sisi 150kV Pengaman Cadangan-jauh seksi berikutnya
Pengaman Utama Saluran AB
Pengaman Cadangan Lokal Trafo
Gbr. 4.2.a Pengaman Cadangan-jauh Bus C
PROTEKSI SISTEM TENAGA LISTRIK
FILOSOFI, STRATEGI DAN ANALISA UNTUK PENINGKATAN KEANDALAN

Contoh : Kawasan Pengamanan Utama dan Kawasan Pengamanan Cadangan

Kawasan Pengaman
Kawasan Pengaman Kawasan Pengaman Kawasan Pengaman
Saluran 20kV CD dan
Utama Busbas A Utama Saluran A-B Utama Busbar B
Cadangan-jauh seksi DE
(2) (3) (5)
(9)
A B

C D E

(1) (4) (6)


Kawasan Pengaman Kawasan Pengaman Kawasan Pengaman
(8)
Overlapping
Utama Gen-Trafo Cadangan Lokal Utama (Diferensial) Trafo Kawasan Pengaman
Saluran A-B yang (7) Utama Bus 20kV yang
Berfungsi pula sebagai berfungsi pula sebagai
Cadangan-jauh bagi Kawasan Pengaman Cadangan-lokal Trafo yang pengaman cadangan-
Bus 150kV B berfungsi pula sebagai Cadangan-jauh Bus C jauh saluran 20kV CD

Gbr. 4.2.b
Karena dengan terpisahnya bagian sistem yang terganggu,
bagian sistem lainnya dapat selamat tidak rusak dan terus
beroperasi, maka suatu relay proteksi dengan mengamankan
kawasannya sendiri pada hakekatnya menyelamatkan seluruh
sistem.

4.3 Pengaman Utama dan Pengaman Cadangan

Ada kemungkinan suatu sistem proteksi gagal bekerja karena


kegagalan komponennya. Misalnya kegagalan/ kelemahan
battery, terputusnya rangkaian trip, gangguan mekanis pada
PMT, kerusakan relay, dsb. Oleh karena itu sistem dilengkapi
dengan pengaman cadangan di samping pengaman utamanya.

Karena pengaman cadangan baru diharapkan bekerja jika


pengaman utamanya gagal bekerja maka pengaman-pengaman
cadangan disertai dengan waktu tunda (time delay) untuk
memberi kesempatan kepada pengaman utama bekerja lebih
dahulu, atau fungsinya sebagai pengaman cadangan diblok
untuk mencegah trip jika pengaman utamanya start.

Cara memberikan pengaman cadangan sebagai berikut :


• Pengaman cadangan-lokal (local back up)
• Pengaman cadangan-jauh (remote back up)
• Pengaman kegagalan PMT

Pengaman cadangan-lokal terletak di tempat yang sama dan


mengetrip PMT yang sama dengan pengaman utamanya,
sedangkan pengaman cadangan-jauh terletak di seksi sebelah
hulunya, jadi PMT yang ditrip juga PMT disebelah hulunya. Suatu
relay (misalnya relay arus-lebih atau relay impedans) dapat
berfungsi rangkap, sebagai pengaman utama bagi seksinya
sendiri sekaligus sebagai pengaman cadangan jauh bagi seksi
berikutnya. Sudah barang tentu terjadi tumpang tindih (over
lapping) antara kawasan pengaman utama dan kawasan
pengaman cadangannya, baik cadangan-lokal maupun
cadangan-jauh (lihat Gbr.4.2.b). Ini berarti gangguan yang
terjadi pada kawasan pengaman utama akan dideteksi baik oleh
pengaman utama maupun pengaman cadangan-lokal ataupun
pengaman cadangan-jauhnya. Untuk menghindari terlepasnya
dua seksi sekaligus (seksi kawasan pengaman utama oleh relay
pengaman utama dan seksi sebelah hulunya oleh relay
pengaman cadangan-jauh), maka relay pengaman cadangan-
jauh diberi waktu tunda, atau diblok pencegah trip {lihat contoh
(2) pada butir 4.4.d.} jika pengaman utamanya berhasil bekerja.

PMT dapat gagal bekerja, misalnya karena lemahnya battery,


terputusnya rangkain trip, gangguan mekanis pada PMT, atau
kegagalan dalam memutuskan arus meskipun kontaknya sudah
bergerak kearah membuka.
Pengaman kegagalan PMT (CB Failure Protection)
mendeteksi arus gangguan pada PMT yang seharusnya sudah
terbuka. Jika arus masih ada, yang berarti terjadi kegagalan
PMT, pengaman kegagalan PMT ini akan mengetrip semua PMT
terdekat di sebelah hulunya yang mensuplai arus gangguan.

Cara mendeteksi kegagalan PMT dilakukan oleh relay arus lebih


yang mendeteksi masih adanya arus setelah PMT itu ditrip oleh
relay proteksi nya. Jadi pengaman kegagalan PMT ini baru bisa
bekerja setelah menerima sinyal trip dari relay proteksinya untuk
start. Jika relay proteksi utama dan juga cadangan-lokal nya
gagal, pengaman-kegagalan-PMT ini juga akan lumpuh karena
sinyal trip dari relay proteksinya sebagai persyaratan untuk start,
tidak diterimanya, maka dalam hal ini menjadi tugas relay
pengaman cadangan-jauh untuk mengamankannya

Contoh : .(lihat Gbr. 4.2.b.)


Jika terjadi gangguan di trafo tenaga 150/20kV, maka relay
proteksinya akan mengetrip PMT 150 kV trafo itu. Jika terjadi
kegagalan pada PMT, maka pengaman kegagalan PMT akan
bekerja dan mengirim sinyal trip ke kedua PMT saluran150 kV
itu.

4.4 Persyaratan Terpenting Pengamanan

a. Kepekaan (Sensitivity)
Pada prinsipnya relay harus cukup peka sehingga dapat
mendeteksi gangguan di kawasan pengamanannya,
termasuk kawasan pengamanan cadangan-jauhnya,
meskipun dalam kondisi yang memberikan deviasi yang
minimum.
Untuk relay arus-lebih hubung-singkat yang bertugas pula
sebagai pengaman cadangan jauh bagi seksi berikutnya,
relay itu harus dapat mendeteksi arus gangguan hubung
singkat dua fasa yang terjadi diujung akhir seksi berikutnya
dalam kondisi pembangkitan minimum.

Sebagai pengaman peralatan seperti motor, generator atau


trafo, relay yang peka dapat mendeteksi gangguan pada
tingkatan yang masih dini sehingga dapat membatasi
kerusakan. Bagi peralatan seperti tsb. diatas hal ini sangat
penting karena jika gangguan itu sampai merusak besi
laminasi stator atau inti trafo, maka perbaikannya akan
sangat sukar dan mahal.

Sebagai pengaman gangguan tanah pada SUTM, relay yang


kurang peka menyebabkan banyak gangguan tanah, dalam
bentuk sentuhan dengan pohon yang tertiup angin, yang
tidak bisa terdeteksi. Akibatnya, busur apinya berlangsung
lama dan dapat menyambar ke fasa lain, maka relay
hubung-singkat yang akan bekerja. Gangguan sedemikian
bisa terjadi berulang kali ditempat yang sama yang dapat
mengakibatkan kawat cepat putus. Sebaliknya, jika terlalu
peka, relay akan terlalu sering trip untuk gangguan yang
sangat kecil yang mungkin bisa hilang sendiri atau risikonya
dapat diabaikan atau dapat diterima.

b. Keandalan (Reliability)

Ada 3 aspek :

b.1 Dependability
Yaitu tingkat kepastian bekerjanya (keandalan
kemampuan bekerjanya).
Pada prinsipnya pengaman harus dapat diandalkan
bekerjanya (dapat mendeteksi dan melepaskan bagian
yang terganggu), tidak boleh gagal bekerja. Dengan
lain perkataan dependability-nya harus tinggi.
b.2. Security
Yaitu tingkat kepastian untuk tidak salah kerja
(keandalan untuk tidak salah kerja).
Salah kerja adalah kerja yang semestinya tidak harus
kerja, misalnya karena lokasi gangguan di luar kawasan
pengamanannya atau sama sekali tidak ada gangguan,
atau kerja yang terlalu cepat atau terlalu lambat. Salah
kerja mengakibatkan pemadaman yang sebenarnya
tidak perlu terjadi. Jadi pada prinsipnya pengaman tidak
boleh salah kerja, dengan lain perkataan securitynya
harus tinggi.

b.3 Availability
Yaitu perbandingan antara waktu di mana pengaman
dalam keadaan berfungsi/siap kerja dan waktu total
dalam operasinya.

Dengan relay eletromekanis, jika rusak/tak berfungsi, tak


diketahui segera. Baru diketahui pada saat uji rutin/periodik
berikutnya,atau ketika terjadinya kegagalan atau salah kerja
dalam gangguan yang sesungguhnya.

Dengan relay digital, karena dilengkapi dengan kemampuan


memeriksa diri sendiri, jika ada kerusakan didalam, akan
muncul alarm, sehingga bisa segera diketahui dan diperbaiki
atau diganti. Disamping itu, sistem proteksi yang baik juga
dilengkapi dengan kemampuan mendeteksi terputusnya sirkit
trip, sirkit sekunder arus, dan sirkit sekunder tegangan serta
hilangnya tegangan searah (DC voltage), dan memberikan
alarm sehingga bisa segera diperbaiki, sebelum kegagalan
proteksi dalam gangguan yang sesungguhnya, benar-benar
terjadi. Jadi availability dan keandalannya tinggi.

c. Selektifitas (Selectivity)
Pengaman harus dapat memisahkan bagian sistem yang
terganggu sekecil mungkin yaitu hanya seksi atau peralatan
yang terganggu saja yang termasuk dalam kawasan
pengamanan utamanya. Pengamanan sedemikian disebut
pengamanan yang selektif.
Jadi relay harus dapat membedakan apakah:
• Gangguan terletak di kawasan pengamanan utamanya
dimana ia harus bekerja cepat, atau
• Gangguan terletak di seksi berikutnya dimana ia harus
bekerja dengan waktu tunda (sebagai pengaman
cadangan-jauh), atau menahan diri untuk tidak trip, atau
• Gangguannya diluar daerah pengamanannya, atau sama
sekali tidak ada gangguan, dimana ia harus tidak bekerja
sama sekali.

Untuk itu relay-relay, yang didalam sistem terletak secara


seri, di koordinir dengan mengatur peningkatan waktu (time
grading) atau peningkatan setting arus (current grading),
atau gabungan dari keduanya.

Untuk itulah relay dibuat dengan bermacam-macam jenis


dan karakteristik nya. Dengan pemilihan jenis dan
karakteristik relay yang tepat, spesifikasi trafo arus yang
benar, serta penentuan setting relay yang terkoordinir
dengan baik, selektifitas yang baik dapat diperoleh.

Pengaman utama yang memerlukan kepekaan dan


kecepatan yang tinggi, seperti pengamanan generator, trafo
tenaga dan busbar pada system Tegangan Ekstra Tinggi
(TET) dibuat berdasarkan prinsip kerja yang mempunyai
kawasan pengamanan yang batasnya sangat jelas dan
pasti, dan tidak sensitive terhadap gangguan diluar
kawasannya, sehingga sangat selektif, tapi tidak bisa
memberikan pengamanan cadangan bagi seksi berikutnya.
Contoh: pengamanan differensial (lihat butir 5.2.)

d. Kecepatan (speed)
Untuk memperkecil kerugian/ kerusakan akibat gangguan,
maka bagian yang terganggu harus dipisahkan secepat
mungkin dari bagian sistem lainnya.
Waktu total pembebasan sistem dari gangguan, atau
disingkat waktu total pembebasan gangguan (total fault
clearing time), adalah waktu sejak munculnya gangguan,
sampai bagian yang terganggu benar-benar terpisah dari
bagian sistem lainnya.
ttotal= tstart+ td+ tPMT
Dimana,
ttotal = waktu total pembebasan gangguan
tstart = waktu start relay (waktu kerja tanpa waktu tunda)
td = waktu tunda relay untuk koordinasi
tPMT = waktu pemutusan arus gangguan PMT.
Dengan peralatan proteksi sekarang, yang mempunyai tstart
sekitar 20-30 milidetik, tPMT = 2–3 cycle (40-60 milidetik),
maka ttotal pengaman utama tanpa waktu tunda bisa kurang
dari 0.1 detik. Sistem Tegangan Ekstra Tinggi memerlukan
ttotal pengaman utama 80-90 milidetik, sedangkan pengaman
arus lebih pada Jaringan Tegangan Menengah (JTM) bisa
mencapai beberapa detik, karena harus dikoordinir dengan
pengaman disebelah hilirnya.

Kecepatan itu penting untuk:


• menghindari kerusakan secara thermis pada peralatan
yang dilalui arus gangguan serta membatasi kerusakan
pada alat yang terganggu.
• mempertahankan kestabilan sistem
• membatasi ionisasi (busur api) pada gangguan disaluran
udara yang akan berarti memperbesar kemungkinan
berhasilnya penutupan-balik PMT (reclosing) dan
mempersingkat dead time nya (interval waktu antara buka
dan tutup).

Untuk menciptakan selektifitas yang baik, mungkin saja suatu


pengaman terpaksa diberi waktu tunda (td) namun waktu
tunda itu harus sesingkat mungkin (seperlunya saja) dengan
memperhitungkan risikonya. Jika risikonya terlalu besar
maka perlu diusahakan cara pengamanan lain yang lebih
cepat.

Misalnya, sebagai contoh:


(1) Bus 150 kV (bus B) suatu GI yang hanya diamankan
oleh pengaman cadangan jauh (distance relay zone II)
pada SUTT di GI disebelah hulunya (lihat Gbr.4.2.a),
yang tentu saja dengan waktu tunda yang biasanya 0.3
detik. Ini berarti bahwa jika terjadi gangguan di bus tsb,
gangguan itu baru dibebaskan dalam waktu
tstart+0.3+tPMT ≈ 0.4 detik (lihat butir 5.7). Jika waktu total
pembebasan gangguan sebesar 0.4 detik ini, yang
karena lokasinya didekat pusat pembangkit yang besar
misalnya, dianggap membahayakan stabilitas sistem,
maka digunakan pengaman-bus (lihat Kawasan
“Pengamanan Busbar 150kV”, bus B, pada Gbr. 4.2.b.)
yang mampu membebaskan gangguan di bus dalam
waktu 0.1 detik.

(2) Relay arus-lebih pada incoming sebagai pengaman


utama bus 20kV (bus C pada Gbr. 4.2.b), yang
berfungsi pula sebagai pengaman cadangan penyulang
20kV, karena perlu dikoordinir dengan relay dipangkal
penyulang (outgoing), diberi waktu tunda. Jika waktu
tunda itu dianggap terlalu besar risikonya dalam hal
gangguan di bus, maka relay incoming itu dapat dibuat
cepat tanpa merusak selektivitasnya, dengan meman-
faatkan sinyal blocking pencegah trip dari relay dipangkal
penyulang. Jadi jika terjadi gangguan dipenyulang, relay
penyulang akan start dan mengirim sinyal blocking
(sebelum dia sendiri trip) ke relay incoming (yang juga
start) untuk mencegah trip. Relay dipenyulang itu sendiri
akan trip dengan waktu tunda.

Namun jika gangguannya di bus, relay penyulang tidak


start, jadi tidak mengirim sinyal blocking. Relay incoming
akan trip dengan sedikit waktu tunda (beberapa milidetik)
sekedar untuk memastikan bahwa tidak ada sinyal
blocking dari relay penyulang.

5. KRITERIA DETEKSI GANGGUAN

5.1. Arus lebih

Arus-lebih adalah arus yang melampaui arus beban maximum yang


dibolehkan.
Arus-lebih bisa dipakai untuk mendeteksi adanya beban-lebih,
gangguan hubung-singkat (dua fasa atau tiga fasa) atau gangguan
satu fasa ketanah dengan menggunakan relay arus lebih (Over
Current Relay). Pengamanan ini disebut proteksi arus-lebih.
Ada 3 macam proteksi arus-lebih:
• Proteksi beban-lebih
• Proteksi hubung-singkat
• Proteksi gangguan-tanah

Relay hubung-singkat terhubung di kawat fasa yang juga dialiri arus


beban, oleh karena itu nilai setting nya harus lebih besar dari arus
beban maximum, demikian pula relay beban-lebih. Gbr. 5.1a
memperlihatkan hubungan antara relay dan Trafo arusnya untuk
relay hubung singkat, relay beban lebih dan relay gangguan tanah

Karena arus beban pada umumnya seimbang, maka relay beban-


lebih sebenarnya cukup dipasang di salah satu fasanya. Namun
banyak pula yang dipasang di ketiga fasanya. Arus hubung-singkat
bisa mencapai sampai 10-20 kali arus nominalnya atau lebih tinggi
lagi, sedangkan arus beban-lebih biasanya hanya 1.05 - 2.0 kali
nominalnya. Oleh karena itu daerah kerja dan karakteristik relay
beban-lebih sangat berbeda dengan relay hubung-singkat.

Relay hubung-singkat tidak dapat berfungsi sebagai pengaman


beban-lebih dengan akurat, yaitu tidak bisa mendeteksi beban-lebih
yang masih rendah, (kurang dari 1,5 kali nilai setting nya), tapi
biasanya akan trip terlalu cepat untuk beban-lebih yang lebih tinggi.

Relay beban-lebih harus dapat menghindari panas yang


berkelebihan pada alat yang diamankannya. Namun harus dapat
memberi kesempatan bekerja dengan beban-lebih selama suhunya
belum berkelebihan. Oleh karena itu karakteristik relay beban-lebih
mengikuti fungsi exponensial sesuai dengan karakteristik
pemanasan dan pendinginan dari alat yang diamankan. Nilai
konstanta thermalnya harus dipilih sesuai dengan konstanta thermal
dari alat yang diamankan. Sebagai alternatif untuk proteksi beban-
lebih dapat dipakai relay suhu.
CT

> > > = Relay hubung-singkat


th
0 > = Relay gangguan tanah
0 >
th > = Relay beban lebih
> CT = Trafo arus

Gbr. 5.1.a

Relay beban-lebih juga dipakai oleh PLN sebagai relay pembatas


untuk membatasi arus beban pelanggan sesuai dengan daya
tersambungnya. Tarif Dasar Listrik 2001 PLN selain mengharuskan
digunakannya relay beban-lebih sebagai relay pembatas, juga
memberikan karakteristiknya dalam kondisi dingin dalam bentuk
tabel waktu trip sebagai fungsi arus. Dari tabel waktu trip tsb. dapat
disimpulkan bahwa sebagai relay pembatas, relay beban-lebih itu
harus disetel pada konstanta waktu thermal kurang lebih 14 menit.

Relay hubung-singkat, meskipun memiliki karakteristik yang


mendekati karakteristik dalam Tarif Dasar Listrik PLN, tidak dapat
dipakai sebagai relay pembatas karena tidak memiliki memori
terhadap pemanasan akibat pembebanan sebelumnya sebagai-
mana relay beban-lebih .

Relay hubung-singkat pada umumnya mempunyai 2 tingkat,


bahkan ada yang 3 tingkat, yaitu:
• tingkat-rendah (low set)
• tingkat-tinggi (high set).
• tingkat seketika (instantanous)

Relay tingkat-rendah digunakan sebagai relay hubung-singkat


yang sekaligus dapat berfungsi pula sebagai pengaman cadangan-
jauh bagi seksi berikutnya. Karakteristik nya adalah inverse time
dan/atau definite time yang harus sesuai dengan karakteristik relay
seksi lainnya dalam seri, supaya bisa dikoordinir dengan mudah.

Karakteristik Inverse Time yang banyak dipakai dan telah dibakukan


dalam IEC Standard 255 adalah Normal Inverse, Very Inverse,
Extreemely Inverse dan Long Time Inverse.

Kriteria penentuan setting arus relay arus-lebih pada umumnya:


IF min > Ipick-up > IL max / κ

dimana:
IL max = arus beban maximum yang diizinkan
IF min = arus gangguan minimum dilokasi relay untuk gangguan
pada batas kawasan pengamanan
Ipick-up = arus pick-up pada harga setting nya
κ = perbanding nilai reset ke pick-up

Untuk motor induksi, nilai setting relay tingkat-rendah ini harus lebih
besar dari pada arus startnya yang biasanya antara 3 sampai 6 kali
arus nominalnya.

Pada relay di jaringan distribusi, yang ditugasi pula untuk


memberikan pengamanan cadangan-jauh (remote back up) bagi
seksi berikutnya, dalam hal ini IF min (lihat rumus kriteria penentuan
setting diatas) adalah arus gangguan minimum (hubung-singkat 2-
fasa) di ujung akhir seksi berikutnya dalam kondisi pembangkitan
minimum.
Dengan demikian terjadi tumpang tindih antara kawasan
pengamanan utama relay diseksi berikutnya dan kawasan
pengamanan cadangan jauh tsb. Maka supaya selektif, waktu kerja
relay sebagai pengaman cadangan jauh harus lebih lambat dari
pada relay pengaman utama di seksi berikutnya dengan beda
waktu (time margin) yang cukup.

Sedangkan Relay tingkat-tinggi digunakan untuk mengamankan


gangguan dihulu yang memerlukan waktu yang cepat karena
besarnya arus gangguan. Supaya tidak salah kerja untuk
gangguan di seksi berikutnya, setting arusnya dibuat lebih besar
dari pada arus gangguan maximum di awal seksi berikutnya.
Biasanya:
Ipick-up (high set) ≥ 1.3 x I’F max .
Dimana
I’F max adalah arus gangguan maximum diawal seksi
berikutnya. (lihat Gbr.5.1.b)

Jadi relay tingkat tinggi ini tidak memberi pengamanan cadangan-


jauh bagi seksi berikutnya. Karakteristik relay tingkat tinggi biasanya
definite time atau instantaneous.
A B C

IF
1.3*I' F.max

I' F.max

tA >
t

t
tB > t C>
t

t A >>

tA>> = Waktu kerja relay A, tingkat tinggi, definite


Gbr. 5.1.b tA> = Karakteristik waktu kerja relay A, tingkat
Koordinasi waktu kerja relay A,B & C, rendah, inverse
tingkat rendah,inverse, dan penggua- tB> = Karakteristik waktu kerja relay B, tingkat
an relay
Jadi tingkat
relay tinggi,
tingkatdefinite,pada,
tinggi ini tidak memberirendah, inverse
pengamanan cadangan
relay A. tC> = Karakteristik waktu kerja relay C, tingkat
rendah, inverse
∆t = Beda waktu (granding time) untuk koordinasi
supaya selektif
Untuk mencegah relay trip akibat arus inrush, misalnya ketika
memasukkan trafo tenaga atau start motor, ada relay yang
dilengkapi dengan kemampuan mendua-kalikan nilai pick-up nya
secara otomatis ketika ada arus inrush. Untuk ini relay dilengkapi
dengan kemampuan mendeteksi arus harmonics kedua (yang
banyak terkandung dalam arus inrush), atau sekedar mendeteksi
munculnya arus tiba-tiba dari kecil sampai lebih dari 1.5 x
nominalnya. Jika tidak dilengkapi dengan kemampuan pendua-
kalian itu maka nilai setting relay tingkat tinggi ini perlu diberi sedikit
waktu tunda atau dengan nilai setting diatas arus inrush tsb.

Relay gangguan tanah terletak di kawat netral dari sirkit sekunder


trafo arusnya. Jadi arus yang diukur adalah perjumlahan dari arus
ketiga-fasanya. Arus ini disebut “arus sisa” (residual current), atau
“arus urutan nol” (3I0), yang memang baru muncul kalau ada
gangguan tanah.

Karena letaknya yang sedemikian itu, relay gangguan tanah tidak


dilalui oleh arus beban, baik yang seimbang ataupun tak seimbang,
juga tidak dilalui arus hubung-singkat antar fasa, 2-fasa atau 3-fasa,
karena perjumlahan arus-arus itu di titik pertemuan ketiga-fasanya
sama dengan nol. Jadi relay gangguan tanah tidak sensitif terhadap
arus beban maupun arus hubung singkat antar fasa. Oleh karena
itu nilai setting nya bisa lebih kecil dari pada arus beban. Nilai
setting yang kecil ini memang diperlukan karena arus gangguan 1-
fasa ketanah bisa lebih kecil dari arus beban. Ini disebabkan karena
2 hal:
• gangguan 1-fasa ketanah hampir selalu melalui tahanan
gangguan.
• titik netral sistem mungkin di bumikan melalui tahanan.

Relay hubung-singkat, yang settingnya diatas arus beban


maximum, kurang atau tidak sensitif terhadap gangguan tanah.

Gangguan tanah sebagai akibat putusnya konduktor 1-fasa dan


menyentuh tanah, biasanya mempunyai tahanan gangguan yang
sangat tinggi sehingga tidak bisa dideteksi oleh relay gangguan
tanah. Gangguan sedemikian bisa dideteksi oleh relay
ketakseimbangan arus fasa atau relay urutan negatif dari arus
beban.

Relay gangguan tanah bisa salah kerja akibat arus hubung-singkat


yang besar jika setting nya terlalu kecil karena adanya kesalahan
trafo arus di ketiga-fasanya. Oleh karena itu jika diperlukan relay
gangguan tanah yang sangat sensitif (setting arusnya sangat kecil),
misalnya untuk proteksi motor, maka untuk memperoleh arus sisa
tsb. lebih baik digunakan trafo arus toroida (zero sequence CT)
yang inti (core) nya melingkari ketiga konduktor fasa yang arusnya
hendak diukur.

5.2. Arus differensial

Disini arus disebelah hulu nya dibandingkan dengan arus disebelah


hilir nya dari alat yang diamankan. Jika tidak ada gangguan didalam
kawasan pengamanannya, selisihnya sama dengan nol.
Jika selisih nya tidak lagi sama dengan nol, berarti ada gangguan
didalam. Selisih arus ini disebut “arus diferensial” ∆I. Arus inilah
yang menjadi dasar bekerjanya relay. Oleh karena itu proteksi yang
bekerjanya berdasarkan prinsip ini disebut proteksi differensial.
Kawasan-pengamanan

A B
CT1 CT2

F1A F1B
F2

lA lB

PD

lA l lB

Gbr. 5.2.a
Dalam keadaan normal, tidak ada gangguan, arus diferensial ∆I
yang mengalir ke alat pengaman PD sama dengan nol, arus hanya
bersirkulasi dalam sirkit sekundair kedua trafo arus (CT).
∆I = IA - IB = 0 → relay tidak trip
Ini berlaku pula untuk kedua fasa lainnya.
Demikian pula untuk gangguan diluar (F1A dan F1B).

Untuk gangguan didalam (F2 ), arus disisi B akan terbalik sehingga:


∆I = IA + IB → relay trip
Jika tidak ada sumber disisi B, IB = 0 , maka
∆I = IA
Dalam keadaan tidak ada gangguan didalam, ada kemungkinan
timbul “arus diferensial” (sebut saja arus diferensial palsu, ∆I”) yang
menyebabkan alat pengaman salah kerja.

Arus diferensial palsu, ∆I” itu bisa disebabkan oleh:


• kesalahan trafo arus karena jenuh oleh “through fault
current”, IF“
• perubahan posisi tap changer trafo tenaga (jika dipakai
untuk proteksi trafo tenaga)
• Koreksi perbandingan transformasi yang kurang tepat
• trafo tenaga yang kelewat jenuh akibat tegangan-lebih atau
frekuensi-kurang yang mengakibatkan arus eksitasinya
(yang hanya ada di sisi sumber) terlalu besar.
• inrush current, dsb.
Makin besar through fault current makin besar pula ∆I” untuk ketiga
penyebab pertama.

Pick up setting dari relay itu harus cukup rendah sehingga dapat
mendeteksi gangguan selagi masih kecil, tapi harus cukup aman
sehingga tidak salah kerja oleh arus diferensial palsu tsb.
Untuk mencegah relay salah kerja akibat arus gangguan diluar
(through fault current = IF“), arus IF“ tsb, disisi sekundernya, dipakai
untuk menahan (restrain) sehingga makin tinggi arus gangguan IF“,
makin tinggi pula ∆I yang diperlukan untuk kerjanya relay sehingga
karakteristik kerjanya seperti Gbr. 5.2.b

l
Daerah kerja
dengan restrain

l"

Arus pick-up tanpa restrain

Gbr. 5.2.b : l"F atau l Restrain


Karakteristik Relay Differential
Bias dan arus differential palsu
Relay diferensial dengan karakteristik sedemikian (dengan restrain)
disebut relay diferensial bias (biased differential relay) atau
percentage diferential relay (karena kemiringan dari
karakteristiknya dinyatakan dalam prosen).

Restrain dengan arus harmonics dipakai untuk mencegah salah


kerja oleh inrush current trafo.

Untuk relay dengan kecepatan tinggi, perilaku transien (transient


behaviour) dari trafo arus perlu diperhitungkan dengan memilih
Oversizing Factor yang cukup untuk mencegah salah kerja.
Salah kerja juga dapat dicegah dengan memakai detector
kejenuhan, atau dengan mengusahakan pendeteksian gangguan
sedemikian cepatnya sehingga sudah selesai sebelum kejenuhan
2)
tercapai.

Proteksi diferensial digunakan untuk mengamankan generator,


motor yang besar, trafo tenaga, busbar, kabel dsb.

Jika digunakan sebagai pengaman trafo tenaga, proteksi diferensial


perlu ditambahkan fasilitas untuk mengoreksi perbandingan arus
dan pergeseran fasa. Untuk ini digunakan trafo arus bantu
(interface CT) khusus. Pada relay digital fasilitas itu sudah ada pada
software didalam relay itu sendiri. Proteksi differensial juga dapat
dipakai sebagai pengaman trafo 3-belitan.

Sebagai pengaman kabel, karena trafo arus di kedua ujung kabel


itu mungkin berjauhan, kawat sekunder antar trafo arus di kedua
ujung kabel (disebut pilot cable) menjadi sangat panjang, maka
supaya tahanan pilot cable tsb.tidak membebani trafo arusnya, arus
sekunder itu dirubah menjadi tegangan yang sebanding, dan
tegangan inilah yang dibandingkan oleh relay melalui pilot cable itu.

Dengan perkembangan teknologi serat optik (optical fiber) yang


dapat dimanfatkan sebagai pilot channel yang dapat diandalkan
karena bebas dari gangguan (noise), maka proteksi diferensial
sekarang juga banyak dipakai sebagai pengaman Saluran Udara
Tegangan Tinggi ataupun Ekstra Tinggi (SUTT ataupun SUTET).
5.3. Beda sudut fasa arus

Kalau pengaman diferensial membandingkan amplitudo, maka


pengaman ini membandingkan sudut fasa dari arus yang masuk
dan arus yang keluar dari unit yang diamanankan melalui pilot
channel, oleh karena itu disebut proteksi perbandingan fasa
(phase comparison protection). Proteksi ini banyak dipakai pada
saluran transmisi tegangan tinggi.

Dalam keadaan pembebanan normal dan gangguan diluar ( F1Adan


F1B), beda sudut fasa antara arus masuk dan arus keluar :
∆ϕ = ϕA- ϕB = 1800
dan dalam keadaan ganguan didalam :
∆ϕ = ϕA- ϕB = 00
Kapasitansi koductor SUTT / SUTET menyebabkan pergeseran
sudut fasa antara IA dan IB dan ini mengharuskan adanya safety
margin untuk mencegah salah kerja.

Gambar dibawah ini memperlihatkan daerah kerja dan daerah


restrain dari suatu pengaman perbandingan fasa. Daerah restrain
0 0
nya membentang ke kedua sisi garis180 sebesar+/-(30--60)

Kawasan-pengamanan

A B

F1A F2 F1B

j ϕA j ϕB
lAε lBε

ϕ TVu ϕ

TVu = Transmisi Variable yang diukur


Melalui pilot chanel
Gbr. 5.3.a
lA
Daerah Kerja

l B (F1A) l B (F1B)

Gbr. 5.3.b Daerah Restrain

5.4. Tegangan-lebih dan tegangan-kurang

Didalam sistem tiga-fasa. tegangan fasa ke-netral dan fasa ke-fasa


disisi beban dipengaruhi oleh jatuh tegangan (voltage drop)
sepanjang saluran, jadi dipengaruhi oleh beban itu sendiri, tapi
tegangan hanya boleh berubah dalam batas tertentu. Jika
perubahan itu melampaui batas, berarti keadaan tidak normal atau
ada gangguan. Tegangan-lebih bisa disebabkan oleh gangguan
pada pengatur tegangan pada generator atau trafo, atau karena
beban-hilang, atau karena jeleknya pengaturan faktor kerja.
Tegangan-lebih akibat petir tidak termasuk dalam golongan ini,
karena biasanya hal ini sudah diamankan oleh arrester. Tegangan-
kurang kebanyakan disebabkan karena gangguan.

Untuk generator, proteksi tegangan-lebih umumnya terdiri dari 2


tingkat:
(1) Tingkat pertama, dengan setting 1.1 – 1.25 UN, dengan
waktu tunda untuk memberi kesempatan kepada
pengatur tegangan untuk mengembalikannya ke
tegangan normal setelah beban hilang.Bekerjanya relay
ini dipakai untuk memperlemah eksitasi generator.

(2) Tingkat kedua, dengan setting 1.3 – 1.4 UN, tanpa waktu
tunda, dipakai untuk menghentikan unit pembangkit.
Proteksi tegangan-kurang dipakai untuk mencegah bekerjanya
motor pada tegangan yang terlalu rendah, atau untuk mencegah
motor start sendiri setelah tegangan pulih kembali.

Kriteria tegangan-lebih kadang-kadang di kombinasikan dengan


kriteria lain, misalnya tegangan-lebih dengan frekuensi-kurang (over
flux protection) pada step-up trafo generator. Tegangan-kurang
dengan arus-lebih (voltage controlled over-current relay) pada
generator kecil. Sebagai alternatif untuk hal terakhir ini bisa dipakai
pengaman impedans-kurang .

5.5. Arah daya (Power direction)

Di tempat dimana kriteria arus-lebih tidak bisa memberikan


pengamanan yang selektif, seperti pada saluran dobel atau loop,
dipakailah unit arah (directional unit) bersama dengan unit arus-
lebih. Unit arah juga dipakai pada generator untuk mendeteksi
peristiwa motoring yang berbahaya, yaitu mendeteksi arah daya
(Megawatt) yang terbalik (reverse power), dan juga pada motor
sinkron untuk mendeteksi kerja asinkron yaitu arah daya VAR
negatif (menyerap VAR).

Dalam sistem arus bolak-balik diperlukan tegangan referensi untuk


menentukan arah daya, dan untuk maksud ini dipakai tegangan
busbar. Karena tegangan referensi ini juga bisa hilang (collapse)
dalam hal terjadi gangguan pada atau di dekat busbar maka
digunakan memori (tuned circuit) yang mampu menyimpan
tegangan dalam waktu yang cukup untuk memastikan pendeteksian
arah daya.
Contoh: Relay arus lebih dengan unit arah pada sirkit dobel / loop.

l F3
1 l F2 1
A B
l F1
F1

2 2 F3

Gbr. 5.5.a : F2 arah relay


Arah arus gangguan dan
Arah relay pada sirkit dobel
I F2 , ( I F3 )

ϕ UB
DAERAH BLOK

180°

I F1
Gbr. 5.5.b :
Vektor arus, vector tegangan DAERAH KERJA
dan arah relay, dilihat dari
Relay B1 (Kotak hitam)

Tanpa unit arah:


Supaya selektif,
Gangguan di F2 : tB2< tB1< tA1
(tB2 =waktu kerja relay B2, dekat B disaluran 2)
Gangguan di F1 : tB1< tB2< tA2
Kedua persyaratan tidak mungkin dipenuhi bersama2.

Dengan unit arah:


Persyaratannya cukup: tB1 = tB2 < tA1 = tA2
B

1 2
I F1
I F2
1 I F3 F3
A
F1

F2
2 1

C
Gbr. 5.5.c :
Arah arus dan arah relay
pada system loop
Tanpa unit arah:
Supaya selektif,
Gangguan di F1 : tB1<tB2<tC1<tC2<tA2
Gangguan di F2 : tC2<tC1<tB2<tB1<tA1
Kedua persyaratan tidak mungkin dipenuhi bersama2.

Dengan unit arah:


Persyaratannya cukup: Gangguan di F1: tB1<tC1<tA2
Gangguan di F2: tC2<tB2<tA1

5.6. Komponen simetris arus dan tegangan

Kadang-kadang komponen simetris dari arus dan tegangan fasa


lebih cocok dipakai untuk proteksi dari pada arus dan tegangan fasa
itu sendiri. Contoh tipikal adalah deteksi ke-takseimbangan
(unbalance) dengan mengukur komponen urutan negatifnya. Dalam
hal ini digunakan filter untuk memisahkan komponen-komponen
simetris dari arus dan tegangan.

Komponen simetris arus atau tegangan dan jenis-jenis gangguan


yang bisa dideteksi nya antara lain:
• komponen urutan nol dari arus : untuk gangguan tanah.
• komponen urutan nol dari tegangan: untuk mendeteksi
pergeseran netral (gangguan tanah pada system yang tak
dibumikan atau dibumikan memalui Kumparan Petersen),
bersama-sama dengan komponen urutan nol dari arus
untuk gangguan tanah yang memerlukan relay directional.
• Komponen urutan negatif dari arus: untuk gangguan
pembebanan yang tak simetris dan terputusnya konduktor
satu fasa. Gangguan tanah dan gangguan hubung-singkat
dua fasa bisa juga dideteksi dengan menggunakan
komponen urutan negatifnya.
• Komponen urutan negatif dari tegangan: untuk mendeteksi
tegangan yang tak simetris yang membahayakan motor.

5.7. Impedans

Kriteria berdasarkan pengukuran impedans ini dipakai untuk


mendeteksi gangguan hubung-singkat atau gangguan tanah pada
saluran transmisi, gangguan hilang-eksitasi (under excitation, loss
of field) atau lepas sinkron pada generator.
Deteksi gangguan hubung-singkat pada sistem transmisi ini
berdasarkan kenyataan bahwa impedans yang terukur di lokasi
relay dalam keadaan pembebanan normal (yaitu impedans beban =
tegangan dibagi arus beban) jauh lebih tinggi dari pada impedans
gangguan (yaitu impedans gangguan = tegangan dibagi arus dalam
keadaan gangguan). Relay akan kerja jika impedans yang terukur
kurang dari settingnya.

Oleh karena itu pada hakekatnya relay yang bekerjanya


berdasarkan kriteria ini adalah relay impedans kurang (under
impedance relay). Karena jarak gangguan sebanding dengan
impedans saluran sampai ketitik gangguan, maka relay ini disebut
juga relay jarak (distance relay).

Sudah menjadi kebiasaan untuk menggambarkan tegangan dibagi


arus yang sama dengan impedans (V/I=Z) itu didalam diagram R-X,
dimana pusat ordinat nya menggambarkan lokasi relay dan
permulaan saluran yang diamankan, ordinatnya reaktansi X dan
absis nya tahanan R.

Didalam R-X diagram itu bisa digambarkan:


Daerah beban : yaitu daerah disebelah kanannya garis
yang dibentuk oleh impedans beban
pada beban maximum (daerah Bb dalam
gambar). Vektor ZB adalah contoh
impedans beban induktif (ϕB positif) pada
beban maximum. Daerah beban yang
kapasitif terletak dibawah garis absis (ϕB
negatif). Makin besar beban, makin
pendek vector ZB.
Impedans saluran : yaitu garis lurus dengan sudut ϕL = arc.tan
XL/RL dari saluran yang diamankan (garis
ABC dalam gambar).
Daerah gangguan : yaitu daerah dengan bentuk kurang lebih
jajaran genjang yang dibentuk oleh
impedans saluran yang harus diamankan
dan tahanan gangguan RF (daerah Gg
dalam gambar). ZFS adalah impedans
sampai ke titik (S), termasuk tahanan
gangguan (RF). ZFS = ZAS + RF.
Daerah kerja relay : yaitu kurva tertutup yang bentuknya
tergantung dari karakteristik kerja relay,
misalnya lingkaran atau quadrilateral
seperti dalam gambar, dimana jika ujung
vector Z = V/I yang terukur terletak
didalamnya, relay akan kerja. Relay
dengan karakteristik seperti pada gambar
mempunyai sifat directional.

Daerah kerja relay harus meliputi seluruh daerah gangguan.


Sebagai contoh daerah kerja relay Zone satu (1) meliputi daerah
yang diarsir dalam Gbr.5.7b dan Gbr.5.7.c.

Daerah kerja relay tidak boleh meliputi bahkan harus cukup jauh
dari daerah beban pada beban maximum dengan margin yang
cukup supaya relay tidak salah kerja oleh arus beban.

A B C

S = Batas daerah pada


saluran A,B yang harus
diamankan RF
RF = Tahanan gangguan

Gbr. 5.7.a :
Saluran A,B,C dengan sumber hanya disisi kiri
diamankan dengan relay jarak

Daerah kerja
jX C Relay :
Z A (I)
B Z A (II)
S RF Z A (III)

Gg Z FS ZB

ϕL ϕB Bb
Gbr. 5.7b: A
R
Relay jarak 3 tingkat dengan
karakteristik lingkaran(Mho)
C Daerah kerja
jX Relay :
Z A (III)
B Z A (II)
S RF Z A (I)

Gg Z FS ZB

ϕL ϕB Bb
A
R

Gbr. 5.7.c :
Relay jarak 3 tingkat dengan
Karakteristik quadrilateral

Relay dengan karakteristik lingkaran (Mho type) mempunyai


jangkauan resistif yang terbatas dan penyetelannya tergantung
pada (bersama-sama dengan) penyetelan reaktif-nya,sedangkan
dengan karakteristik quadrilateral, jangkauan resistif nya bisa diatur
secara independen, yang berarti sensitivity nya sebagai relay
gangguan tanah dapat diatur secara independen pula.

Karena baik relay maupun trafo arus nya ataupun trafo


tegangannya mempunyai kesalahan, yang bisa positif maupun
negatif, maka jangkauannya bisa lebih jauh atau lebih pendek dari
yang seharusnya. Jika diasumsikan jangkauannya mempunyai
kesalahan ±15%, maka daerah kerjanya dibuat 85% dari saluran
yang diamankan. Maksudnya supaya tidak mungkin menjangkau
sampai ke seksi berikutnya. Sisanya, 15% di ujung akhir saluran,
diamankan oleh relay tingkat kedua dengan setting yang lebih
besar.

Jadi untuk relay di A, setting tingkat 1 (disebut Zone I) adalah 85%


impedans saluran AB:
ZA(I) = 0.85 ZAB Ω]
[Ω
Waktu kerja tingkat 1 adalah instantanous (tanpa waktu tunda).
tA(I) = tstart [detik]
Setting relay tingkat 2 {Zone(II)} harus dengan pasti dapat
menjangkau sampai ke bus B, jadi harus dilebihi 15%
ZA(II) ≥ 1.15 ZAB . [Ω Ω]
Biasanya relay dilengkapi sampai tingkat 3 untuk memberi
pengamanan cadangan-jauh bagi seksi berikutnya. Jika diinginkan
memberi pengamanan cadangan saluran BC sepenuhnya, maka
setting tingkat 3 {Zone(III)} nya adalah:
ZA(III) ≥ 1.15 (ZAB + ZBC) [Ω Ω]

Jika di saluran BC diamankan pula dengan relay impedans, maka


daerah kerja ZA(II) akan tumpang tindih dengan sebagian derah
kerja Zone(I) relay B (ZB (I)). Supaya tidak salah kerja oleh
gangguan di saluran BC, maka ZA(II) diberi waktu tunda ∆t misalnya
0.3 detik. Jadi tA(II) = (tstart + 0.3) detik. (tstart adalah waktu kerja
tanpa waktu tunda).
Disamping itu perlu diperhatikan pula agar ZA(II) tidak tumpang
tindih dengan ZB(II). Oleh karena itu ZA(II) harus dibatasi kurang dari
(ZAB+ ZB(I)).
Jadi :
1.15 ZAB ≤ ZA(II) ≤ 0.85(ZAB+ ZB(I) [Ω Ω]
∆t) detik.
tA(II) = (tstart +∆
A B C

Z A (III)

Z A (II)

Z A (I) t A (III)
t A (II)
t A (I)

Gbr. 5.7.d :
Jangkuan dan waktu kerja relay A
untuk saluran A,B dengan sumber
hanya dari satu arah.

Demikian pula karena daerah kerja ZA (III) tumpang tindih dengan


ZB (II), maka perlu diberi waktu tunda ∆t diatas tA(II), disamping itu
agar ZA(III) tidak tumpang tindih dengan ZB(III), ZA(III) harus dibatasi
kurang dari {ZAB+ZB(II)}.
Jadi,
1.15( ZAB + ZBC ) ≤ ZA(III) ≤ 0.85{ZAB+ ZB(II)} (Ω Ω)
∆t) detik.
tA(III) = (tstart +2∆

Jika di B2 dan C2 juga dipasang relay impedans dan ada sumber


dari kanan, gambar waktu kerjanya digambar di bawah garis dalam
gambar Diagram waktu kerja berikut.
A B C

2 1 2 1 2 1

Gbr. 5.7.e :
Saluran A,B,C dengan sumber
dari dua arah, diamankan
dengan relay jarak

A B C
Z A1 (III)
t
Z A1(II)

t A1 (I) Z A1 (I)
Z B1(I) t A1 (III)
t A1 (II) t B1(II)

t B2 (II) Z B2 (I) t C2 (I)


Z C2 (I)
t B2 (I)
t C2 (II) Z C2 (II)

Z C2 (III)

Gbr. 5.7.f :
Diagram waktu kerja relay jarak

Untuk mempercepat waktu trip untuk gangguan di ujung saluran (di


Zone II) digunakan pola inter tripping antara relay pada GI yang
berhadapan (misalnya antara relay A1 dan relay B2) melalui saluran
komunikasi PLC (power line carrier) atau serat optik. Salah satu
pola inter tripping yang banyak dipakai adalah pola permissive
underreach.
Dalam pola ini relay yang melihat gangguan di zone I (misalnya
relay B2) selain mengirim sinyal ke PMTnya untuk trip, juga ke relay
A1 dan relay A1 yang melihat ada gangguan didepan (di zone II)
tidak perlu menunggu sampai t(II), segera trip setelah menerima
sinyal dari B2 .

Generator dalam keadaan gangguan hilang-eksitasi (loss of field)


akan menyerap daya reaktif dari sistem.Jika dilihat dalam R-X
diagram generator itu bekerja didaerah reaktif yang negatif. Oleh
karena itu gangguan hilang-eksitasi dapat dideteksi dengan relay
reaktans-kurang dengan karakteristik seperti pada gambar berikut :

ZB O
jX

Bb R

ZF

ZF
O Bb = Daerah beban
R R = Daerah kerja relay
ZB = Impedans beban sebelum gangguan
ZF - ZF = Gerakan impedans gangguan hilang-eksitasi

-jX

Gbr. 5.7.g :
Karakteristik relay reaktans-kurang sebagai
pengaman gangguan hilang-eksitasi

Vektor ZF bergerak dari kondisi normal ke kondisi gangguan, dan


ketika ujung vektor ZF, melintasi daerah kerja relay, relay akan kerja.

5.8. Frekuensi

Penyimpangan frekuensi dari nilai nominalnya adalah petunjuk


adanya ketidakseimbangan antara daya pembangkitan dan beban,
jika daya pembangkitan lebih kecil frekuensi akan turun, jika lebih
besar frekuensi akan naik.
Dalam hal frekuensi turun karena system kekurangan daya
(misalnya karena ada generator yang terlepas dari system), kalau
tidak segera diatasi, frekuensi akan turun terus sehingga system
bisa kolaps. Untuk mengatasinya dalam praktek sudah biasa
dilakukan pelepasan-beban (load shedding) sebagian bertahap
secara otomatis, sampai keseimbangan tercapai kembali , dan
frekuensi pulih. Untuk ini digunakan relay frekuensi-kurang (under
frequency relay).

Namun jika daya yang hilang itu terlalu besar, agar pelepasan
beban itu segera bisa terjadi tanpa menunggu frekuensi menjadi
lebih rendah, digunakan relay yang mengukur tingkat kecepatan
penurunan frekuensi (frequency gradient) df/dt, bersama-sama
dengan relay yang mengukur frekuensi. Relay df/dt itu tidak pernah
digunakan sendirian (tanpa dikontrol oleh relay frekuensi), karena
gejala penurunan frekuensi yang sama bisa terjadi dalam keadaan
normal ketika terjadi penyambungan bagian system.

Pemilihan feeder beban mana yang dilepaskan / dipadamkan,


tergantung dari prioritas konsumennya berdasarkan pertimbangan
tertentu. Di negara maju, dalam kontrak jual-beli tenaga listrik
konsumen besar/ industri, konsumen boleh memilih prioritas tinggi
atau rendah. Jika memilih prioritas rendah, dengan tarif listrik lebih
murah, aliran listriknya akan dipadamkan lebih dulu dari pada
konsumen dengan prioritas yang lebih tinggi dalam program
pelepasan-beban ini.
F (Hz)
50
P=10%
df/dt=0.6 Hz/s

49
P= 25%
df/dt=1.6 Hz/s

48

47
0 0.5 1.0 1.5 2.0 t(sec)

Gbr. 5.8.a
Untuk menanggulangi gangguan yang sangat besar, program
pelepasan-beban sering dikombinasikan dengan program
pemisahan-sistem (system splitting) dan pembentukan pulau
(islanding), yaitu pemecahan sistem menjadi bagian-bagian sistem,
dimana daya pembangkitan dan bebannya kurang lebih seimbang
atau akan bisa diseimbangkan dengan pelepasan-beban lanjutan
sehingga akhirnya bisa beroperasi dengan selamat.

Untuk ini mungkin perlu digunakan pula relay arah daya. Bagian
sistem sedemikian disebut “pulau”. Terbentuknya pulau-pulau ini
sangat penting karena ini berarti masih ada unit-unit pembangkit
yang selamat (survive) yang akan sangat membantu mempercepat
dan mempermudah pemulihan sistem (system recovery) setelah
gangguan.

Turbin sebagai prime mover juga perlu diamankan terhadap


peristiwa penurunan frekuensi sebab turbin mempunyai frekuensi
resonansi dibawah frekuensi nominalnya, yaitu sedikit dibawah 48
Hz untuk frekuensi nominal 50 Hz. Pengoperasian pada frekuensi
resonansinya sangat membahayakan daun turbin (turbine blade),
jadi harus dihindari. Oleh karena itu jika frekuensi turun sampai 48
Hz, biasanya relay frekuensi-kurang dalam proteksi generator
sudah harus trip menghentikan (shut down) mesin pembangkit.
Setting relay untuk program pelepasan-beban harus lebih tinggi,
biasanya bertingkat diantara 48.5 dan 49.5Hz.

5.9. Kriteria lain


2)
Untuk proteksi masih ada kriteria lain yang digunakan, yaitu :
• Suhu sebagai criteria untuk beban lebih (untuk minyak trafo,
motor, generator)
• Kecepatan aliran minyak trafo, kumpulan gas untuk
mendeteksi adanya gangguan didalam trafo, yaitu pada
relay Buchholze.
• Harmonisa pada arus netral atau tegangan netral untuk
mendeteksi gangguan tanah pada system dengan
pembumian Kumparan Petersen.
• Harmonisa pada arus generator untuk mendeteksi
gangguan didalam generator
• Sinyal transien arus atau transien tegangan, gelombang
berjalan dsb. pada saluran transmisi untuk mendeteksi
gangguan.

5.10 Ikhtisar

Tabel berikut menunjukkan kriteria untuk mendeteksi gangguan dan


keadaan abnormal pada system tenaga listrik.

Jenis gangguan dan variable (kriteria) yang digunakan untuk


2)
mendeteksinya :

No. Jenis Gangguan Variabel yang digunakan untuk


Deteksi
1 Gangguan hubung- - Arus fasa I
singkat Pada umumnya
- Beda arus ∆I
- Beda sudut fasa arus ∆ϕ
- Arah daya P
- Impedans Z
2 Tegangan-lebih dan Tegangan fasa U
tegangan-kurang
3 Gangguan tanah Komponen urut nol :
- Arus I0
- Tegangan U0
- Arah daya P0
Dapat juga digunakan
Komponen urutan negatifnya I2,U2,P2
4 Beban lebih - Arus fasa I
- Suhu ϑ
5 Beban tak simetris - Komponen urutan negatif arus I2
Konduktor terputus
6 Kekurangan daya - Frekuensi f
- Kecepatan perubahan frekuensi df/df
7 Daya-balik (motoring) - Arah daya P

8 Hilang-eksitasi - Reaktans X
9 Tegangan tak simetris - Komponen urutan negatif tegangan U2
6. STRATEGI PENGAMANAN SISTEM TENAGA LISTRIK

6.1 Tujuannya

Terciptanya pengamanan sistem yang dapat meminimumkan


kerugian/ kerusakan akibat gangguan dan memaksimumkan
keandalan suplai tenaga listrik kepada konsumen.

Karena proteksi selalu berurusan dengan gangguan, maka untuk


mencapai tujuan tsb. segala upaya harus dilakukan, mulai dari
mencegah/ mengurangi terjadinya gangguan, mencegah/
mengurangi akibatnya, melakukan evaluasi dan analisa unjuk-kerja
proteksi dan menindak lanjuti dengan tindakan koreksi terus
menerus atas kesalahan/ penyimpangan yang ditemukan dari hasil
evaluasi dan analisa tsb.

6.2 Mencegah atau Mengurangi Gangguan pada Sistem

Lihat butir 3.1.

6.3 Mengurangi Akibat Gangguan pada Sistem

Lihat pula butir 3.2.


6.3.1. Khusus Proteksi Sistem:
• Penggunaan peralatan pengaman yang dapat diandalkan
dengan karakteristik yang sesuai dengan keadaan
sistemnya dengan berpedoman kepada Standard PLN
(SPLN) : Pola Pengamanan yang bersangkutan sehingga
dapat dihindari kegagalan ataupun kesalahan kerja.
SPLN Pola Pengamanan itu sendiri perlu diperbaharui
terus menerus, sesuai dengan perkembangan teknologi.
• Koordinasi yang tepat sehingga tercipta pengamanan
yang selektif.
• Penggunaan pengaman cadangan, cadangan lokal atau
cadangan jauh, sehingga pada prinsipnya seluruh
sistem harus terliput oleh setidak-tidaknya dua lapis
pengamanan yaitu pengaman utama dan pengaman
cadangan.
• Pengaman harus dapat bekerja dengan cepat sehingga
terhindar kerusakan/ pemadaman yang luas yang tidak
semestinya.
• Pengujian periodik serta perawatan yang baik terhadap
perlengkapan proteksi sesuai petunjuk dari pabriknya dan
ketentuan-ketentuan yang berlaku, untuk
mempertahankan dependability dan security-nya.

6.3.2. Karena gangguan di JTM menjadi penyumbang terbesar


terhadap “angka lama padam/konsumen/tahun” maka
perbaikan di JTM perlu mendapat perhatian utama, antara
lain : memperbanyak penggunaan recloser dan automatic
sectionalizer, memperluas cakupan Unit Pengatur Distribusi
dalam monitoring dan manouver jaringan, mulai
dipertimbangkan penggunaan jaringan kabel dengan loop
tertutup atau yang dihubungkan dari GI ke GI dengan proteksi
yang selektif (diffrential relay atau directional relay) untuk
daerah konsumen yang sangat penting, dsb. (lihat butir 8.7)

6.3.3 Untuk menghindari atau mengurangi/ membatasi pemadaman


akibat terlepasnya unit pembangkit :
• Disediakan cadangan putar (spinning reserve) dengan
governor bebas setidak-tidaknya sebesar beban dari unit
pembangkit terbesar, sejauh kondisi sistem
memungkinkannya dan secara ekonomis dapat
dipertanggung jawabkan, sehingga jika unit tsb jatuh tidak
perlu terjadi pelepasan-beban.

6.3.4.Dilakukan pelepasan-beban (load shedding) secara otomatis


untuk gangguan yang lebih besar, atau pemisahan-sistem
(system splitting) disertai dengan pembentukan-pulau
(Islanding). Peristiwa “islanding” adalah peristiwa
terpecahnya sistem menjadi beberapa bagian sistem yang
masing-masing dapat tetap hidup/beroperasi. Adanya unit-
unit pembangkit yang selamat dan tetap beroperasi ini, akan
sangat membantu mempercepat dan memudahkan
pemulihan sistem. (lihat butir 5.8)

6.3.4 Jika perlu, dilakukan “Contigency analysis”, yaitu dengan


komputer yang dilengkapi dengan program-program yang
diperlukan, meniru (simulasi) gangguan yang terpilih pada
sistem dengan parameter dan konfigurasi sistem dan nilai
setting relay yang sesungguhnya atau yang akan dicoba
dengan maksud untuk:
• Menguji relay setting yang ada apakah sudah selektif ,
dan memilih nilai setting yang memberikan dampak yang
paling minimum.
• Melihat kemungkinan adanya bagian-bagian sistem yang
menjadi terbebani lebih (overloaded) setelah gangguan.
• Melihat kemungkinan adanya titik-titik rawan dalam
sistem, yaitu yang bila terjadi gangguan / trip disitu,
dampak nya sangat besar.
• Mencari/ memilih konfigurasi sistem yang lebih aman.
• Dan sebagainya, tergantung masalah yang dihadapi.

6.3.5. Untuk menghindari pemadaman yang lama akibat adanya


sebagian sistem/saluran/peralatan yang rusak atau dalam
perbaikan/pemeliharaan, disediakan saluran alternatif atau
peralatan cadangan (kriteria N-1) secara selektif.

6.4 Perangkat Keras dan Perangkat Lunak dalam Proteksi

Dalam proteksi perlu dikuasai pengetahuan tentang peralatan yang


diamankan, misalnya batas ketahanan elektris ataupun thermisnya,
disamping pengetahuan (hardware) peralatan proteksi itu sendiri.

Selain itu untuk koordinasi relay dan penentuan setting yang tepat,
dalam rangka menciptakan pengamanan yang selektif, diperlukan
studi hubung singkat, studi kestabilan sistem, studi koordinasi relay
dan studi aliran beban, dan mungkin juga “Contingency analysis”
(lihat 6.3.4.diatas) . Sekarang telah tersedia sofware computer
(program) untuk studi tsb. Oleh karena itu perlu dimiliki dan dikuasai
penggunaan program-program tsb. karena program-program tsb.
dapat mempermudah dan mempercepat pelaksanaan studi-studi
yang diperlukan.

6.5. Evaluasi dan Analisa Gangguan serta tindakan koreksi dan


perbaikannya.

Semua gangguan dievaluasi, apakah wajar atau tidak wajar.


Gangguan yang tidak wajar adalah gangguan yang mengandung
kesalahan, penyimpangan atau kelemahan pada proteksinya atau
pada peralatan sistem. Jadi evaluasi dan analisa gangguan ini pada
hakekatnya juga berarti evaluasi dan analisa terhadap unjuk-kerja
proteksinya.

Ketidak wajaran ini bisa dilihat dari akibat gangguan, penyebabnya


atau frekuensi kejadiannya.

Semua gangguan yang tidak wajar harus diteliti dan di analisa


sampai ditemukan kesalahan/ penyimpangannya serta
penyebabnya untuk kemudian di tindak-lanjuti dengan tindakan
koreksi atau perbaikan sehingga kerusakan yang parah dan/atau
pemadaman yang tidak semestinya dengan penyebab yang sama
tidak terulang lagi. Masalah ini akan dibahas lebih lanjut dalam butir
7 (tujuh).

Sedangkan kesalahan atau kelemahan pada peralatan yang


ditemukan dari hasil evaluasi ini perlu disampaikan juga kepada:
• Pabrik pembuatnya, sebagai masukan untuk terus
menerus meningkatkan mutu hasil produksinya (lihat pula
butir 8.1.3).
• Pihak yang berwenang melakukan pengadaan barang,
sebagai masukan untuk menentukan kebijaksanaan
dalam pengadaan barang selanjutnya.

7. EVALUASI DAN ANALISA GANGGUAN

Gangguan pada sistem tenaga listrik seharusnya tidak mengakibatkan


kerusakan apapun pada saluran/ peralatan yang dilalui arus gangguan.
Pemadamannyapun, jika ada, sangat terbatas, yaitu pemadaman
sebagai akibat terlepasnya seksi atau peralatan yang terganggu saja.

Jika ada gangguan yang mengakibatkan kerusakan yang lebih parah


dan atau pemadaman lebih luas yang tidak semestinya, pastilah ada
suatu kesalahan, kelemahan atau penyimpangan pada peralatan
proteksi atau peralatan sistem, atau konfigurasi sistem itu mengandung
kerawanan. Gangguan sedemikian disebut gangguan yang tidak wajar.

Gangguan yang tidak wajar itu perlu diselidiki sampai dapat ditemukan
apa kesalahan, kelemahan atau penyimpangannya, apa penyebabnya
dan bagaimana tindakan koreksi atau perbaikannya agar gangguan
yang tidak wajar tersebut tidak terulang kembali dengan penyebab yang
sama.
7.1 Gangguan yang wajar dan yang tidak wajar.

Tanda gangguan yang wajar atau yang tidak wajar dapat dilihat
dari akibatnya, penyebabnya atau frekuensi kejadiannya :

7.1.1 Dilihat dari akibat gangguan.


Jika gangguan itu tidak mengakibatkan kerusakan
apapun pada peralatan yang dilalui arus gangguan dan
hanya mengakibatkan kerusakan terbatas pada alat yang
terganggu yang menjadi pemicu gangguan itu, dan
pemadamannyapun, jika ada, terbatas semata-mata
karena terlepasnya alat atau seksi yang terganggu saja,
maka gangguan sedemikian termasuk gangguan wajar.

Gangguan yang mengakibatkan kerusakan yang lebih


parah atau pemadaman yang lebih luas dari itu harus
dianggap sebagai gangguan yang tidak wajar.

Misalnya :
• Gangguan di Kabel (penyulang) 20 kV.
Jika yang rusak hanya kabel dititik gangguan dan
konsumen yang padam hanya konsumen yang
disuplai melalui kabel itu, karena hanya PMT kabel
itu saja yang trip/terbuka, maka gangguan itu
gangguan yang wajar.Jika PMT yang trip adalah
PMT disebelah hulunya, yaitu PMT Trafo atau PMT
Unit Pembangkit yang memasok kabel itu sehingga
pemadamannya lebih luas, maka gangguan itu tidak
wajar.
• Gangguan Trafo Tenaga, dimana hanya PMT Trafo
itu saja yang trip, jadi hanya konsumen yang disuplai
melalui Trafo itu saja yang padam, dan tidak terjadi
kerusakan yang parah pada Trafo itu, maka
gangguan itu gangguan yang wajar. Sebaliknya jika
terjadi kerusakan yang parah pada Trafo itu (karena
kegagalan kerja atau kelambatan kerja proteksinya)
maka gangguan itu tidak wajar.

7.1.2 Dilihat dari penyebab gangguan


Gangguan tergolong tidak wajar bila kerusakan alat yang
menjadi penyebab (pemicu) gangguan itu semestinya
tidak/ belum terjadi, misalnya :
• Kerusakan pada Trafo yang relatif masih muda.
Umur Trafo yang wajar dapat diasumsikan 20-30
tahun. Jika Trafo rusak pada umur kurang dari 5
tahun misalnya dan tidak ada gangguan apa-apa di
jaringan, jadi semata-mata karena ada kelemahan
isolasi (sejak dari pabriknya), maka kerusakan itu
tidak wajar.

• Trafo rusak bersamaan dengan gangguan hubung


singkat di jaringan distribusi yang dipasok dari Trafo
itu dan proteksinya bekerja baik (rusak karena
through fault current), sedangkan umur Trafo itu
masih muda. Kerusakan demikian juga tidak wajar.
Trafo yang baik seharusnya tahan terhadap arus
hubung singkat yang melaluinya.

• Salah operasi/pemeliharaan sehingga terjadi


kerusakan peralatan.

7.1.3 Dilihat dari frekuensi kejadiannya.


Misalnya :
• Ganguan pada SUTT akibat sambaran petir (back
flashover) adalah biasa. Namun jika “terlalu sering”
terjadi pada suatu seksi SUTT tertentu (karena
tingginya tahanan pentanahan kaki tiang misalnya)
maka gangguan itu menjadi tidak wajar. Yang
bagaimana yang disebut “terlalu sering” ?

Untuk ini dapat berpedoman kepada statistik


gangguan pada SUTT yang mempunyai tahanan
pentanahan yang cukup rendah, dengan
memperhatikan Tingkat Hari-Guruh (Isokraunic
Level). Untuk SUTT 66 kV dan 150 kV, dapat
berpegang kepada SPLN 13: 1978, Bagian Satu: A.
Kriteria penetapan Angka Keluar,
yaitu :

Untuk SUTT 66 kV : 6 – 9 kali/100km/tahun


Untuk SUTT 150 kV : 1.2 – 1.8 kali/100km/tahun

Angka tsb berdasarkan asumsi Hari-Guruh pertahun


100, tahanan kaki tiang ≤ 10 Ω, dan isolator, tinggi
tiang dan jarak gawang seperti lazimnya.
Jika gangguan lebih sering dari pada angka-angka
tsb. dapat dianggap terlalu sering. Namun dalam
memperbandingkannya, perlu diperhatikan tingkat
Hari-Guruh didaerah yang ditinjau.

• Gangguan pada SUTM karena rusaknya peralatan


(misalnya isolator atau konektor) adalah biasa.

Namun jika terlalu sering menjadi tidak wajar.


Yang bagaimana yang disebut “terlalu sering” ?
Ini adalah relatif, dibandingkan dengan statistik
kerusakan alat sejenis yang dikenal baik mutunya.
Alat/komponen yang tidak baik mutunya biasanya
mempunyai angka kerusakan yang jauh lebih tinggi
dari pada yang mutunya baik, perbedaannya sangat
mencolok.

7.2 Penyebab Ketidakwajaran

Dari butir 7.1.2 sudah terlihat contoh penyebab ketidakwajaran


tersebut adalah karena adanya kesalahan, kelemahan atau
penyimpangan lainnya, disingkat penyimpangan. Adapun bentuk
penyimpangan dan penyebabnya dapat dikelompokkan sebagai
berikut :

7.2.1 Unjuk-Kerja Proteksi.


a. Kegagalan/ kelambatan kerja proteksi
Sebabnya antara lain:
• Kerusakan pada relay/relay bantu
• Kegagalan PMT: gangguan mekanis PMT,
tripping coil nya macet atau terputusnya
rangkaian tripping, kegagalan PMT dalam
memutuskan arus.
• Hilangnya tegangan DC atau lemahnya battery
sebagai sumber tegangan untuk tripping dan catu
untuk relay statik/digital.
• Terbukanya atau hubung singkat pada rangkaian
sekundair trafo arus atau trafo tegangan yang
memasok relay

b. Salah Kerja
Sebabnya bermacam-macam, dapat berupa :
• Salah setting (terlalu sensitif atau terlalu cepat)
• Salah hubungan pengawatan (wiring)
• Kerusakan Relay / Relay bantu
• Ada kejadian yang tidak terduga atau kurang
diperhitungkan, misalnya arus kapasitif pada
SUTM yang mengakibatkan “sympathetic
tripping” (lihat butir 8.5)
• Timbulnya arus diferensial yang bukan karena
gangguan pada pengaman diferensial
(instability), misalnya karena kompensasi rasio
arus atau sudut fasa yang kurang tepat, atau
karena kesalahan trafo arus (terlalu jenuh karena
through fault current), yang mengakibatkan relay
salah kerja.
• dsb.

c. Ketidakselektifan karena :
• Koordinasi/ setting yang kurang tepat.
• Karakteristik relay yang tidak cocok satu sama
lain (misalnya antara definite time dan inverse
time relay)
• Trafo Arus yang terlalu jenuh. dsb

d. Tidak lengkap
Ada bagian/seksi yang peralatan proteksinya tidak
lengkap.

7.2.2 Kelemahan peralatan atau ketidak cocokkan antara


spesifikasi dan kondisi kerjanya.
a. Kelemahan peralatan atau kesalahan dalam disain
dan/atau pabrikasinya.
b. Penentuan spesifikasi peralatan yang tidak sesuai
dengan kondisi kerjanya sehingga tidak tahan lama.
c. Peralatan yang mutunya dibawah standar.
7.2.3 Kesalahan dalam Disain atau Pemasangan Instalasi.
Misalnya :
a. Tidak dilengkapi dengan pentanahan yang baik.
b. Tidak dilengkapi dengan Interlocking.
c. Salah dalam disain atau pemasangan, misalnya
pemasangan kabel yang terlalu dekat satu sama lain
(over heated) sehingga cepat rusak, dsb.

7.2.4 Kelalaian dalam Operasi dan Pemeliharaan.


Misalnya :
• Pemeliharaan/ pemeriksaan pentanahan kaki
tiang tidak dilakukan sehingga terlepasnya atau
hilangnya konduktor pentanahan tidak diketahui.
Ini bisa menyebabkan gangguan pada SUTT
akibat sambaran petir makin sering.
• Penebangan/pemangkasan pohon disekitar
SUTM/SUTT terlambat, gangguan menjadi lebih
sering.
• Penggantian minyak Trafo sangat terlambat. Ini
bisa mengancam keselamatan trafo.
• dsb.

7.3 Langkah-langkah evaluasi dan analisa gangguan serta


tindakan perbaikan.

Gangguan yang tidak wajar perlu diselidiki untuk menemukan


bentuk kesalahan, kelemahan atau penyimpangannya serta apa
penyebabnya sehingga dengan demikian dapat ditentukan
tindakan koreksi, perbaikan atau pencegahannya.
Evaluasi dan analisa dilakukan dengan langkah-langkah dan
cara-cara sebagai berikut :

7.3.1 Kategorisasi Gangguan.


Pertama-tama gangguan perlu dievaluasi untuk
digolongkan apakah gangguan itu termasuk kedalam
gangguan yang wajar atau yang tidak wajar. Untuk
gangguan yang tidak wajar yang mempunyai akibat yang
luar biasa, seperti misalnya kerusakan total di suatu
Gardu Induk atau Pusat Pembangkit, dan/atau
pemadaman total disuatu sistem yang sudah besar, perlu
dikelompokkan tersendiri sebagai gangguan besar.
karena cara penanganannya mungkin akan berbeda dan
pihak-pihak yang terlibat lebih luas.

Jadi ada 3 kategori gangguan :


• gangguan wajar
• gangguan tidak wajar.
• Gangguan besar.
Pengelompokkan (kategorisasi) gangguan dilakukan
melalui 3 macam evaluasi sbb :

7.3.1.1 Evaluasi berdasarkan akibat gangguan.


Tanda-tanda gangguan yang wajar dan yang
tidak wajar dipandang dari segi akibatnya,
sudah diterangkan dalam butir 7.1.1
sedangkan gangguan besar sudah disebutkan
diatas.

7.3.1.2 Evaluasi berdasarkan penyebabnya.


Gangguan yang dari evaluasi yang pertama
(berdasarkan akibat) sudah termasuk (untuk
sementara) kedalam kategori gangguan yang
wajar, dievaluasi lagi berdasarkan
penyebabnya.
Tanda-tanda gangguan yang wajar dan yang
tidak wajar dari segi penyebabnya juga sudah
disebutkan dalam butir 7.1.2

7.3.1.3 Evaluasi Berdasarkan Frekuensi kejadiannya.


Gangguan yang dalam evaluasi pertama dan
kedua termasuk kedalam gangguan yang
wajar, dievaluasi lagi berdasarkan frekuensi
kejadiannya (berdasarkan statistik gangguan).

Ketiga macam evaluasi tersebut tidak selalu harus


dengan urutan seperti tersebut diatas. Mungkin saja dari
frekuensi kejadiannya atau penyebabnya suatu
gangguan sudah dapat langsung dikategorikan sebagai
gangguan yang tidak wajar.
Namun setelah termasuk kedalam kategori tidak wajar,
kedua macam evaluasi lainnya tetap harus dilakukan
dalam rangka analisa selanjutnya.

7.3.2 Statistik gangguan, Indikator keandalan dan Indikator


kerusakan alat.
Semua gangguan dalam kurun waktu tertentu, triwulanan
atau tahunan, di klasifikasikan ke dalam: gangguan
temporair/ permanen, gangguan tanah/ hubung-singkat,
penyebab gangguan, alat yang rusak/ lokasi gangguan,
akibat gangguan (luasnya konsumen yang padam, kWh
yang hilang) dsb. tergantung keperluannya, ditampilkan
dalam Statistik gangguan. Dari sini dibuat Indikator
keandalan (yang terpenting “lama padam per konsumen
per tahun dan “kali pada per konsumen per tahun”) dan
Indikator kerusakan alat (misalnya banyaknya
kerusakan per jenis alat dibagi jumlah terpasang
pertahun).

7.3.3 Analisa Gangguan


Gangguan yang termasuk dalam kategori tidak wajar
dianalisa untuk menemukan :
• bentuk kesalahan/ penyimpangannya.
• penyebab kesalahan/ penyimpangannya.
• bagaimana tindakan perbaikannya.

Gangguan pada hakekatnya adalah serentetan peristiwa


yang berhubungan sebagai sebab-akibat.
Analisa gangguan pada umumnya melalui langkah-
langkah sebagai berikut :
a. Pengumpulan/ pencarian data, fakta dan peristiwa
yang diduga ada kaitannya dengan ketidak wajaran
tersebut.

b. Menghubung-hubungkan fakta itu menjadi rangkaian


sebab-akibat yang logis sehingga terbayang skenario
yang mungkin.
c. Membandingkan rangkaian peristiwa yang nyata
terjadi dengan yang seharusnya untuk menemukan
penyimpangannya. Jika ada ketidak cocokan antara
kenyataannya dan yang seharusnya berarti bisa
ditemukan penyimpangannya, namun jika semuanya
cocok, penyimpangan belum bisa ditemukan, maka
pengumpulan/ pencarian data (langkah a) perlu
diulang.

d. Mencari penyebab penyimpangan yang mungkin


dengan cara mencari fakta-fakta yang
mendukungnya dan fakta-fakta yang
menggugurkannya.

e. Jika tidak ditemukan fakta-fakta yang kuat


mendukungnya atau sebaliknya jika malah
ditemukan fakta yang menggugurkannya maka
diulang mencari penyebab yang mungkin (langkah d)
atau bahkan jika perlu diulang mencari fakta-fakta
lain (langkah a).

f. Jika ditemukan beberapa penyebab yang mungkin,


dipilih penyebab yang paling mungkin. Penyebab
yang paling mungkin adalah penyebab yang paling
kuat fakta-fakta pendukungnya dan/ atau yang paling
lemah fakta-fakta yang menggugurkannya.

g. Menyusun skenario gangguan yang paling mungkin/


paling cocok dengan fakta-fakta beserta
penyimpangan yang telah diketahui penyebabnya.

h. Menguji skenario gangguan itu dengan data, fakta


dan rekaman kejadian (event recorder dan
disturbance recorder). Jika tidak cocok maka
penyusunan skenario gangguan itu perlu diulang
(langkah g). jika masih tidak bisa ditemukan skenario
yang cocok maka terpaksa dicari lagi data dan fakta
baru ( langkah a dan seterusnya diulang).

i. Menentukan tindakan perbaikan berdasarkan


penyimpangan serta penyebab yang telah
ditemukan.

j. Menyusun laporan penyelidikan gangguan.


7.3.4 Tindakan koreksi/ perbaikan.
Setelah kesalahan/ penyimpangannya serta penyebab
yang paling mungkin ditemukan, maka tindakan koreksi/
perbaikannya baru bisa dipikirkan. Jika ditemukan
beberapa alternatif/ tindakan perbaikan, dipilih
berdasarkan urgensinya dan tingkat keandalan yang
diinginkan dengan memperhatikan kelemahan atau
resikonya.

7.3.5 Laporan Gangguan.


Untuk gangguan yang tidak wajar, ada 3 macam laporan
yang harus dibuat :
• Laporan kolektif gangguan.
• Laporan pendahuluan gangguan Untuk setiap
• Laporan penyelidikan gangguan Gangguan
. besar

Laporan kolektif gangguan adalah dalam bentuk tabel


gangguan yang tidak wajar dalam kurun waktu tertentu
(triwulanan atau tahunan) yang berisikan informasi:
tanggal gangguan, penyebab gangguan, akibat
gangguan, bentuk kesalahan/ penyimpangannya serta
penyebabnya dan tindakan perbaikan yang direncanakan
atau yang telah dilaksanakan.

Laporan pendahuluan gangguan adalah laporan yang


segera dibuat setelah terjadi gangguan besar, yang
berisikan :
• Kondisi sistem sebelum gangguan
• Peristiwanya
• Perkiraan penyebabnya
• Akibatnya : kerusakan peralatan, luasnya
pemadaman, kWh yang tak terjual.
• Tindakan pemulihan.

Sedangkan laporan penyelidikan gangguan berisikan :


• Kondisi sistem sebelum gangguan
• Peristiwanya
• Tindakan pemulihan
• Data dan faktanya, rekaman urutan kejadiannya
(sequence of events recorder) dan rekaman
gangguan (disturbance recorder)
• Analisa gangguan sampai menemukan bentuk
penyimpangan / kesalahan serta penyebabnya
• Skenario gangguan.
• Akibat gangguan: kerusakan peralatan, luasnya
pemadaman, kWh yang tak terjual.
• Tindakan perbaikannya.

7.3.6 Langkah-langkah Evaluasi Gangguan dan Analisa


Gangguan digambarkan dengan diagram alir (flowchart)
sebagai berikut : (lihat Gbr 7.3.a, 7.3.b).
GANGGUAN

P en g um p u lan D ata, F akta, R ekam an

S u su n R an g kaian S ebab
A kib at yan g L o gis

B an d in gkan an tara :
- Y an g seharu sn ya", d an
- F aktan ya"

Ya
C oco k?

T idak

B en tu k P enyim pan an

C ari P en yebab yan g m u n gkin

C ari D ata, F akta yan g M en gu atkan (M en d uku ng )


d an yan g M elem ah kan (M eng g ug u rkan )

G u g ur
K uat?
K u at

C ari P en yebab yang


p alin g m u n gkin

M en yu su n S ken ario G an gg u an

U ji S kenario d en gn a D ata, Fakta rekam an kejad ian

T id ak
C o co k?

Ya

M en entu kan Tin d akan P erb aikan

M em b u at L ap o ran P en yelid ikan G an g g uan

Gbr. 7.3.a
Diagram Alir Analisa Gangguan
GANGGUAN

Rekaman Kejadian

Kategorisasi Gangguan

Gangguan Gangguan Gangguan


Wajar Tidak Wajar Besar

Pengolahan Data Analisa Laporan


Gangguan Pendahuluan

- Statistic Gangguan Sudah Pembentukan


Analisa
- Indicator Keandalan Tuntas Tim Penyelidikan
- Indicator kerusakan Alat

Belum

EVALUASI Konsultasi Penyelidikan


Pembahasan Analisa *)

*) Lihat butir 7.33


atau Gbr. 7.3.a
Laporan Evaluasi Laporan Kolektif Laporan
Gangguan Penyelidikan

Tindakan Perbaikan

Gbr. 7.3.b
Diagram Alir Langkah-langkah
Evaluasi Gangguan
Dari diagram alir tersebut tampak bahwa semua langkah-langkah
penanganan gangguan tersebut bermuara ke tindakan perbaikan.
Jika gangguan ditangani secara konsisten seperti yang telah
diuraikan diatas maka jelaslah bahwa penyimpangan-
penyimpangan yang menjadi penyebab ketidak wajaran tersebut,
secara berangsur-angsur tapi pasti, akan berkurang, dan ini
berarti keandalan suplai tenaga listrik makin meningkat.

8. USAHA-USAHA PERBAIKAN LEBIH LANJUT

8.1 Pengadaan peralatan/ material dengan Mutu dan Keandalan


yang baik.

8.1.1 Dalam pengadaan peralatan/ material, hanya membeli


produk dari pabrik yang sudah termasuk dalam Sistem
Pengawasan Mutu dari Lembaga Sertifikasi Produk yang
berwenang (dahulu Sistem Pengawasan Mutu LMK PLN).

8.1.1 Untuk inspeksi dalam acceptance test atau factory test,


hanya menggunakan jasa inspector yang qualified dari
Lembaga Inspeksi Teknik yang berwenang.

8.1.3 Statistik kerusakan peralatan perlu dievaluasi. Peralatan


yang mempunyai angka kerusakan yang tinggi
dikonsultasikan dengan pabriknya, agar pabrik dapat
menyelidikinya dan melakukan perbaikan. Jika perlu
dikenakan sanksi, misalnya pembelian peralatan dari
pabrik itu untuk sementara dihentikan sampai pabrik dapat
menunjukkan perbaikan yang telah dilakukan dengan bukti
type test certificate dari Laboratorium yang diakui PLN.
Kiranya perlu dipikirkan kemungkinan untuk memasukkan
angka kerusakan sebagai salah satu faktor yang perlu
dipertimbangkan dalam evaluasi teknis dalam tender
pengadaan barang.

8.2. Ke- instalatiran

Selama ini yang harus punya SPI (Surat Pengesahan Instalatir)


hanyalah penanggung jawab teknis perusahaan Instalatirnya
saja. Tenaga kerja pelaksana langsung, tidak mempunyai surat
pengesahan (sertifikat/ lisensi) apapun, sehingga mutu Instalasi
tidak terjamin.

Mestinya seseorang baru boleh melaksanakan pemasangan


instalasi jika telah memiliki sertifikat keahlian / keterampilan yang
sesuai dengan tingkat dan bidang pekerjaannya. Untuk
mendapatkan sertifikat harus melalui pendidikan dan latihan
serta ujian oleh instansi yang berwenang.

Dengan keluarnya Undang-undang No.18 tahun 1999,


sebenarnya dasar peraturan yang mengharuskan perencana,
pengawas dan tenaga kerja pelaksana memiliki sertifikat
keahlian/ keterampilan, sudah ada. Penerbitan sertifikat itu
ditugaskan kepada Asosiasi yang bersangkutan. Persiapan
kearah itu kini sedang berjalan.

8.3. Pemborongan pekerjaan dengan masa garansi.

Pekerjaan suplai material beserta pemasangannya yang


memerlukan keahlian yang sukar pengawasannya yang ternyata
selama ini menunjukkan angka kerusakan yang tinggi, misalnya
pekerjaan penyambungan dan terminasi kabel, sebaiknya
diborongkan dengan masa garansi, sehingga kalau rusak
sebelum habis masa garansinya, masih menjadi tanggung jawab
kontraktor untuk memperbaikinya, dan kalau dapat bertahan
dalam masa garansi itu diharapkan dapat bertahan seterusnya
sampai mencapai umur yang wajar.

8.4 Testing, Komissioning dan pernyataan laik operasi

Pada prinsipnya suatu Instalasi yang baru selesai dipasang atau


setelah rehabilitasi/ renovasi, baru boleh dioperasikan setelah
dinyatakan laik operasi oleh comissioning engineer yang qualified
dari Lembaga Inspeksi Teknik (dahulu LMK). Hal ini juga telah
diatur dalam Undang-undang tsb.

8.5 Kegagalan Kerja dan Salah Kerja Proteksi.

Sekarang ini, sebagai contoh, masih banyak dilaporkan adanya


“sympathetic tripping” pada jaringan SUTM dengan pentanahan
tahanan 40Ω (yaitu penyulang yang tak terganggu ikut trip
bersama penyulang yang terganggu), dan tripnya Trafo Tenaga
akibat gangguan di penyulang.

Sympathetic tripping, kalau bukan karena penyebab lain,


mungkin karena ada saluran (SUTM) yang mengandung kabel
yang panjang sehingga arus kapasitif yang muncul sebagai arus
urutan nol (3Io) akibat gangguan satu fasa ketanah di penyulang
lain, besarnya melampaui nilai setting relay gangguan tanah nya.
Sedangkan tripnya Trafo Tenaga mungkin disebabkan oleh
kegagalan kerja proteksi penyulang, koordinasi relai arus-lebih
yang kurang tepat, koreksi perbandingan transformasi pada
differential relay yang kurang tepat atau karena kejenuhan trafo
arusnya. Masalah ini perlu diselidiki kasus demi kasus.

8.6. Masalah kegagalan pengaman cadangan.

Dari penyelidikan beberapa gangguan besar yang mengakibatkan


kerusakan yang sangat parah atau terbakar habis, diperoleh
petunjuk bahwa penyebabnya adalah gagalnya pengaman
cadangan besama-sama dengan pengaman utamanya.

Jika pengaman cadangan mempunyai komponen yang dipakai


bersama dengan pengaman utama, misalnya PMT atau
batterynya, maka kegagalan pada komponen itu akan
menyebabkan kegagalan pengaman utama sekaligus pengaman
cadangannya. Oleh karena itu, idealnya, pengaman cadangan
tidak mempunyai komponen yang dipakai bersama dengan
pengaman utamanya, sehingga kegagalan pengaman utamanya
tidak diikuti oleh pengaman cadangannya. Pengaman cadangan-
jauh yang terletak di Gardu Induk/ Gardu Hubung sebelah
hulunya sudah dengan sendirinya memenuhi kriteria tsb.

Dalam hal pengaman cadangan-lokal, kebanyakan mempunyai


komponen yang dipakai bersama dengan pengaman utamanya,
misalnya PMTnya, batterynya dan bahkan juga trafo arusnya.
Dengan demikian kemungkinan gagal bersama-sama kedua-
duanya cukup besar.

Pada instalasi tegangan ekstra tinggi , telah digunakan pengaman


cadangan lokal atau pengaman kedua (duplikasi), yang hampir
semua komponennya terpisah, yaitu battery, trafo arus dan
tripping coilnya, kecuali PMT (lihat Gbr. 4.1.b).

Pemisahan pengaman cadangan dari pengaman utama


sedemikian itu mungkin perlu juga dilakukan pada instalasi 150
kV yang sangat penting, misalnya pada GI suatu pusat
pembangkit yang sangat besar.

Dari penyelidikan gangguan besar tsb. diatas telah ditemukan


(lihat Laporan gangguan GI Cepu sebagai contoh) bahwa
penyebab kegagalan itu adalah hilangnya tegangan battery yang
dipakai bersama oleh pengaman arus-lebih disisi 150 kV (yang
bertindak sebagai pengaman cadangan jauh) dan pengaman
disisi 20 kV (incoming) yang bertindak sebagai pengaman utama
bus 20 kV, dan gangguannya di bus/ kubikel 20 kV. Sedangkan
Zone III distance relay di GI sebelah hulunya (GI Blora), tidak
dapat menjangkau sampai ke bus 20 kV (Cepu) ini (tidak seperti
(6)pada Gbr. 4.2.a. melainkan seperti (4) pada Gbr.4.2.b.),
sehingga arus hubung-singkat bertahan terus (7 menit 49 detik,
terlihat di UPB Ungaran), sampai kerusakan menjalar kebelitan
150 kV trafo tenaga, maka relay pengaman di GI sebelah hulunya
(Blora) baru trip. Belajar dari pengalaman ini maka pengaman
150 kV sebaiknya mempunyai battery tersendiri yang
terpisah dari pengaman 20 kV.

Catatan:
Di beberapa GI yang ditinjau sebenarnya telah tersedia dua set
battery dimana kalau yang pertama bekerja maka yang kedua
sebagai cadangan tidak aktif secara bergantian. Disarankan, dari
pada ada satu set tidak aktif, lebih baik semua diaktifkan: yang
satu dipakai untuk pengaman 150 kV yang kedua dipakai untuk
pengaman 20 kV yang dalam keadaan normalnya terpisah. Jika
salah satu battery perlu dilepas untuk pemeliharaan, kedua
sistem arus searah (DC system) itu di-interkoneksikan lebih dulu
sebelum dilepas. Jadi fungsinya sebagai battery cadangan yang
satu terhadap lainnya tetap berlaku.

8.7. Mempersempit dan mempersingkat pemadaman.

Penyumbang terbesar terhadap tingginya angka indikator “lama


padam per konsumen pertahun”, ternyata adalah gangguan di
JTM. Oleh karena itu tindakan perbaikan di JTM akan merupakan
tindakan yang efektif dalam memperbaiki indikator tsb.

Di JTM yang radial sekarang ini, masih banyak penyulang yang


hanya mempunyai PMT dan Relay proteksinya tanpa penutup-
balik di pangkal penyulang, sehingga jika terjadi gangguan di
penyulang, seluruh konsumen yang disuplai dari penyulang itu
padam.

Untuk mempersempit dan mempersingkat pemadaman dapat


dilakukan hal-hal berikut :
• Pada SUTM yang panjang, memperbanyak penggunaan
Penutup-Balik Otomatis (PBO) dipangkal penyulang,
ditengah penyulang dan/ atau di percabangan. Dengan
koordinasi yang selektif thd. penutup-balik di pangkal
penyulang, gangguan disebelah hilirnya PBO di tengah
penyulang atau percabangan, tidak akan mnyebabkan
PBO/PMT dipangkal penyulang trip.

• Menggunakan Saklar Seksi Otomatis (Automatic


Sectionalizer) disamping PBO untuk mempersempit
pemadaman lebih lanjut dengan cepat.

• Memasang pengaman lebur di percabangan (jika tidak


terpasang PBO) yang selektif terhadap. relay dipangkal
penyulang sehingga jika gangguan masih ada setelah
penutupan-balik, pengaman leburnya yang putus bukan
PBO nya yang trip (trip yang pertama tetap di PBO).

• Memperbanyak detektor gangguan yang dimonitor di UPD


(Unit Pengatur Distribusi) untuk mempercepat pencarian
lokasi gangguan.

• Memperluas cakupan UPD yang memungkinkan manuver


melalui remote control dari UPD untuk mempercepat
pemulihan setelah gangguan.

• Untuk konsumen industri yang memerlukan keandalan


yang tinggi disediakan dua feeder dari GI yang berbeda
yang dalam operasinya hanya salah satu yang tersambung
dan dilengkapi dengan Saklar Pindah Otomatis. (Automatic
Change Over Switch).

• Untuk daerah konsumen yang penting, mulai


dipertimbangkan penggunaan jaringan kabel dengan loop
tertutup, atau yang menghubungkan dari GI ke GI dengan
proteksi yang selektif (differential relay atau directional O/C
relay), sehingga gangguan di kabel (bukan di switchgear
atau di trafo), tidak akan menyebabkan pemadaman sama
sekali.

Kecuali yang tersebut terakhir, hal-hal tsb diatas sebenarnya


telah dilaksanakan dibeberapa PLN Wilayah/ Distribusi, namun
kiranya pelaksanaannya perlu diperluas sesuai dengan
tuntutan keandalan setempat.

8.8. Kemungkinan Penggunaan Kumparan Petersen untuk


pembumian JTM dengan saluran udara (SUTM).

Kumparan Petersen, sebagai pembumian titik netral jaringan,


akan memberikan arus Induktif yang bisa disetel untuk meng-
kompensir arus kapasitans tanah jaringan sehingga arus
gangguan satu fasa ketanahnya dititik gangguan sangat kecil.

Dengan arus gangguan yang sangat kecil itu dimungkinkan


terjadinya “self clearing”, yaitu gangguan hilang dengan
sendirinya tanpa pemutusan oleh PMT, jika gangguannya
adalah gangguan satu fasa ketanah yang temporair.

Kumparan Petersen telah pernah digunakan untuk


membumikan sistem 70 kV (dan 30 kV) di Jawa Barat dan Jawa
Timur, namun sistem 70 kV waktu itu tidak dilengkapi dengan
pengaman gangguan tanah otomatis. Sehingga pernah dialami
apa yang disebut “cross country fault”, yaitu gangguan tanah
yang permanen, yang karena tidak segera di bebaskan (karena
memang tidak ada pengaman gangguan tanahnya) lalu terjadi
gangguan tanah yang kedua di lokasi lain pada fasa lain.

Gangguan sedemikian menyebabkan Distance relay menjadi


tidak selektif, akibatnya sistem kolaps. Dari kejadian tersebut,
atas saran konsultan, pembumian sistem 70 kV dirubah dari
Kumparan Petersen menjadi Tahanan disertai dengan
penyesuian relay proteksinya.

Namun Kumparan Petersen masih digunakan pada JTM di


negara-negara maju seperti Jerman, Sweden dan negara-
negara Scandinavia lainnya dengan unjuk-kerja yang bagus.

Keuntungan utama dari sistem dengan pembumian Kumparan


Petersen adalah kemampuannya untuk “self clearing” untuk
gangguan satu fasa ketanah yang temporair, seperti telah
disebutkan diatas. Oleh karena itu pembumian dengan
Kumparan Petersen mungkin akan sangat menguntungkan jika
dipakai pada jaringan SUTM yang belum menggunakan
recloser, dimana biasanya gangguan yang dominan adalah
gangguan satu fasa ketanah yang temporair. Di luar negeri,
Jerman, Sweden, gangguan satu fasa ketanah yang temporair
3)
bisa mencapai > 85%.

Sedangkan untuk pengamanan gangguan tanah yang


permanen dapat digunakan pengaman gangguan tanah seperti
yang sudah ada pada jaringan SUTM dengan memanfaatkan
tahanan 40 Ω atau 500 Ω paralel dengan Kumparan Petersen
hanya pada saat gangguan tanah yang permanen. Sehingga
dengan demikian, dalam hal gangguan satu fasa ketanah yang
temporair, gangguan bisa hilang sendiri (Kumparan Petersen
masih sendiri), dan jika gangguan tidak hilang dalam 2-3 detik
detik, berarti gangguan permanen, tahanan masuk paralel
dengan Kumparan Petersen, maka relay gangguan tanah
bekerja membebaskan gangguan itu.

Jika memang benar bahwa sebagian besar gangguan (>80%)


adalah gangguan satu fasa ketanah yang temporair, yang akan
hilang sendiri karena adanya Kumparan Petersen, maka ini
adalah cara lain yang sederhana tapi efektif untuk mengurangi
pemadaman sekaligus penghematan PMT, sebagai alternatif
dari penggunaan penutup-balik.

Di PLN belum pernah diselidiki berapa prosen gangguan 1-fasa


ketanah yang temporair itu. Oleh karena itu sebelum
menggunakan pembumian dengan Kumparan Petersen pada
suatu jaringan, perlu diteliti lebih dulu untuk memastikan bahwa
gangguan satu fasa ketanah yang temporair benar-benar
dominan. Atau dilakukan percobaan pada suatu jaringan SUTM
terpilih sebagai pilot project.

8.9 Mengikuti dan memanfaatkan perkembangan teknologi


mutakhir.

Perkembangan teknologi yang menarik yang perlu diikuti


adalah masuknya teknologi digital kedalam proteksi. Dengan
teknik digital dapat dibuat relay yang cepat, dengan
karakteristik yang lebih sesuai dengan kebutuhan, dan dapat
dilengkapi dengan kemampuan lain, seperti pengukuran,
rekaman arus dan tegangan, rekaman kejadiannya (events
recording), rekaman gangguan (disturbance recording) dan
kemampuan memeriksa diri sendiri untuk mendeteksi
kerusakan didalam, serta dapat dipadukan dengan fasilitas
kontrol untuk PMT dan PMS dan Saklar pembumian, termasuk
penampilan konfigurasi (single line diagram) nya dalam satu
perangkat alat.

9. IKHTISAR / KESIMPULAN

a. Gangguan dapat terjadi dalam sistem tenaga listrik dengan


berbagai macam sebab dan akibatnya oleh karena itu perlu
upaya-upaya untuk mengatasinya.

b. Indikator keandalan yang terpenting bagi konsumen adalah


“lama padam / konsumen/ tahun” dan “kali padam / konsumen
/ tahun” yang di PLN ternyata relatif masih sangat tinggi.

c. Proteksi adalah salah satu usaha untuk mengurangi akibat


gangguan, dengan cara memisahkan bagian yang terganggu
dari bagian sistem lainnya. Oleh karena itu masih banyak
usaha lain yang perlu dilakukan dalam rangka peningkatan
keandalan, mulai dari menghindari atau mengurangi terjadinya
gangguan sampai usaha-usaha untuk menghindari atau
meminimumkan kerugian akibat pemisahan bagian yang
terganggu.

d. Proteksi harus dapat diandalkan (reliable). Disamping tidak


boleh gagal kerja (dependable), proteksi juga tidak boleh salah
kerja. Salah kerja adalah kerja padahal seharusnya tidak, atau
terlalu cepat atau terlalu lambat kerja.

e. Karena proteksi bisa gagal, maka disamping proteksi utama


harus tersedia pula proteksi cadangan, cadangan-lokal
ataupun cadangan-jauh, sehingga seluruh sistem itu pada
prinsipnya harus terliput oleh dua lapis pengamanan, yaitu
pengamanan utama dan pengamanan cadangan.

f. Disamping pengetahuan tentang peralatan proteksi, perlu


dikuasai pula pengetahuan tentang sifat/ karakteristik
peralatan dan system yang diamankan. Selain itu perlu
dimiliki dan dikuasai penggunaan perangkat lunak, yaitu
program-program komputer untuk studi-studi hubung-
singkat, kestabilan sistem, koordinasi relay dan studi aliran
beban, karena software ini akan mempercepat dan
mempermudah pelaksanaan studi-studi tsb. dalam rangka
menciptakan proteksi yang selektif.

g. Jika perlu, dilakukan contingency analysis, yaitu dengan


komputer meniru (simulasi) gangguan terpilih pada sistem
dengan parameter dan relay setting yang sesungguhnya,
dengan maksud antara lain untuk menguji relay setting,
melihat kemungkinan adanya bagian sistem yang menjadi
terbebani lebih setelah trip atau kerawanan lainnya sehingga
dapat dilakukan perbaikan.

h. Karena disamping gagal bekerja, proteksi bisa juga salah


kerja karena adanya kesalahan / penyimpangan, maka
unjuk-kerja proteksi perlu di evaluasi terus menerus. Jika
ditemukan kesalahan / penyimpangan, dilakukan
penyelidikan lebih lanjut untuk menemukan penyebab
penyimpangan itu untuk kemudian diperbaiki / dikoreksi. Jika
ini dilakukan secara konsisten, maka sudah pasti secara
berangsur kesalahan / penyimpangan itu akan berkurang dan
ini berarti keandalan makin meningkat.
i. Kegagalan pengaman cadangan sekaligus bersama pengaman
utamanya yang bisa mengakibatkan kerusakan yang parah,
dapat dihindari/ dikurangi dengan menghindari penggunaan
komponen bersama oleh keduanya.
j. Karena penyumbang terbesar terhadap tingginya angka
keandalan “lama padam perkonsumen per tahun” adalah
gangguan di JTM, maka tindakan perbaikan di JTM akan
merupakan tindakan yang efektif dalam peningkatan
keandalan, yaitu :
Pada SUTM yang panjang, memperbanyak penggunaan
penutup-balik dipangkal penyulang, ditengah dan/ atau di
percabangan dengan koordinasi yang selektif thd. penutup-
balik di pangkal penyulang.

Menggunakan Saklar Seksi Otomatis (Automatic


Sectionalizer) untuk memper-sempit pemadaman dengan
cepat.

Memasang pengaman lebur di percabangan yang panjang


(jika tidak terpasang recloser) yang selektif terhadap relay
dipangkal penyulang sehingga jika gangguan masih ada
setelah penutupan-balik, pengaman lebur nya yang putus
bukan PMT/ recloser nya yang trip (trip yang pertama tetap
di PMT/ recloser).

Memperbanyak detektor gangguan yang dimonitor di UPD


(Unit Pengatur Distribusi) untuk mempercepat pencarian
lokasi gangguan.

Memperluas cakupan UPD yang memungkinkan manuver


secara remote control untuk mempercepat pemulihan
setelah gangguan

Untuk konsumen industri yang memerlukan keandalan yang


tinggi, disediakan dua feeder dari GI yang berbeda yang
dalam operasinya hanya salah satu yang tersambung dan
dilengkapi dengan Saklar-Pindah Otomatis (Automatic
Change Over Switch).

Untuk daerah konsumen yang penting, mulai


dipertimbangkan penggunaan jaringan kabel dengan loop
tertutup, atau yang menghubungkan dari GI ke GI dengan
proteksi yang selektif sehingga gangguan di kabel tidak
akan menyebabkan pemadaman sama sekali.
k. Menyelidiki kemungkinan penggunaan Kumparan Petersen
sebagai pembumian sistem pada jaringan SUTM yang belum
menggunakan recloser.

l. Mengikuti dan memanfaatkan perkembangan technologi


mutakhir secara selektif.
1. C. Russel Mason :The Art and Science of Protective Relaying,
1956. John Wiley & Sons, Inc.

2. Helmut Ungrad, Wilibald Winkler, Andrzej Wiszniewski: Protection


Techniques in Electrical Energy System, 1995. Marcel Dekker, Inc.

3. Wilheim and M. Waters: Neutral Grounding in High Voltage


Transmission, 1956. Elsevier Publishing Company.

4. PLN Pusat, Direktorat Pengusahaan: Laporan Perjalanan Dinas


Luar Negeri, 1988.

5. PLN Pusat, Direktorat Pengusahaan: Laporan Penelitian Kerusakan


Trafo Tenaga 1986-1992.

6. PLN Pusat, Direktorat Pengusahaan: Laporan Gangguan GI Cepu,


1990.

7. PLN Pusat: Diskusi Teknik kerusakan Trafo Tenaga, 29 Sept. 1994,


PT. Pauwels Aryasada Trafo Indonesia.

8. SPLN 13: 1978, Bagian Satu: A. Kriteria Penetapan Angka Keluar.


TAMBAHAN PENJELASAN

1. Dimana diperlukan Directional relay.

Directional relay pada pengaman hubung singkat (OC, 50/51) dan pengaman gangguan tanah
(EF, 50N/51N) diperlukan pada saluran parallel atau system loop:
A1 A A1 B1 B
A B1 B

A2 B2
A2 B2

A1 B1 A1 B1
A

A2 B2
A2 B2

Dengan non directional relay: Dengan directional relay di B1 dan


Supaya selektif, waktu kerja relay B2 (arah relay kearah A):
harus di koordinir sbb: Karena directional relay tidak
Gangguan di penyulang 2: sensitive lagi thd arus yang tidak
tB2 < tB1 < tA1 . sesuai arahnya, maka supaya selektif,
Gangguan di penyulang 1: waktu kerja relay cukup di koordinir
tB1 < tB2 < tA2 . sbb:
Kedua persyaratan tsb tidak mungkin Gangguan di penyulang 2:
dipenuhi bersama-sama tB2 < tA1
Gangguan di penyulang 1:
tB1 < tA2 .
Jadi baik untuk gangguan di
penyulang 1 ataupun 2, dapat dibuat
tB1 = tB2 < tA1 = tA2

Penjelasan tsb diatas berlaku baik untuk pengaman hubung-singkat (OC, 50/51) ataupun
pengaman gangguan tanah (EF, 50N/51N).

Penjelasan tsb diatas berlaku pula untuk penyulang parallel lebih dari dua penyulang dan juga
untuk system loop.
B
A1 B1
A
B2 B1
A1 C2
A2 B2
A
C
B3
A3
A2 C1

D1 D2
tB1 = tB2 = tB3 < tA1 = tA2 = tA3
D
tD1 < tC1 < tB1 < tA1
tB2 < tC2 < tD2 < tA2
2. Directional relay mungkin diperlukan pada pengaman gangguan tanah (EF,
50N/51N) pada penyulang yang mengandung kapasitansi ketanah yang
terlalu besar untuk mencegah “sympathetic tripping”.
Sympathetic tripping adalah salah-trip pada suatu penyulang oleh relay gangguan tanahnya pada
saat ada gangguan tanah di penyulang lain. Ini biasanya disebabkan karena adanya kapasitansi
tanah yang terlalu besar pada penyulang tsb, misalnya karena adanya kabel tanah atau
tersambungnya kapasitor pada penyulang tsb. Kapasitansi tanah tsb menyebabkan mengalirnya
arus kapasitansi tanah (I3Ce) akibat pergeseran potensial netral karena adanya gangguan tanah:
I3Ce = UNEω3Ce =Uphω3Ce
Pada system dengan pentanahan tahanan 40Ω, sympathetic tripping tsb pada umumnya dapat
diatasi dengan inverse time relay, tidak perlu directional relay, karena pada umumnya pada saat
gangguan tanah, arus gangguan (IF ) pada penyulang yang terganggu hampir selalu lebih besar
dari pada arus kapasitansi (I3Ce) pada penyulang lainnya, sehingga relay pada penyulang yang
terganggu akan lebih cepat dari pada relay pada penyulang yang tak terganggu.
Namun jika arus kapasitansi tanah (I3Ce) di suatu penyulang kurang lebih sama atau lebih besar
dari pada arus gangguan pada penyulang lainnya ( ini terjadi misalnya pada system dengan
tahanan pentanahan 500 Ω, seperti di Jawa Timur), sympathetic tripping hanya bisa diatasi
dengan directional relay.
Contoh:
1 I3Ce.1
100km SUTM, I3Ce.1 = 5.5A

2 I3Ce.2
∆Υ
60km SUTM, I3Ce.2 = 3.3A
500Ω
3 I3Ce.3
100km SUTM, I3Ce.3 = 5.5A

4 IF.4 60km SUTM +10km kabel


I3Ce.4 = 3.3 + 10*3 = 33.3A

Setting relay gangguan tanah misalnya 8A


Komponen resistif dari arus gangguan: IRes = (20000/√3)/500 = 23A.
Arus kapasitansi tanah (I3Ce)SUTM/100km = (20000/√3)*ω*3Ce
= (20000/√3)*314*3*0.005*10-6*100 = 5.5A / 100km
Arus kapasitansi tanah(I3Ce) kabel,= 3A / km

Jika terjadi gangguan 1-fasa ketanah di penyulang 4:


IF (4) = IRes + j(I3Ce.1 + I3Ce.2 + I3Ce.3)
IF (4) = 23 + j(5.5+3.3+5.5) = 27.1A
Dengan setting arus 8 A, relay akan trip.
Sedangkan jika gangguannya di penyulang lain, pada penyulang 4 itu akan mengalir arus
kapasitif sebesar:
I3Ce(4) = I3Ce(SUTM) + I3Ce(Kabel)
= (60/100)*5.5 + 10*3 = 33.3A
Jadi jika dipakai non directional relay, penyulang 4 akan trip juga meskipun gangguannya di
penyulang lain.
Dengan directional relay, dengan arah relay yang sesuai dengan arah arus gangguan, penyulang 4
tidak trip karena arus yang mengalir adalah arus kapasitansi tanah yang arahnya tidak sesuai
dengan arah relay (didaerah bloking).
3. Fungsi pendua-kalian nilai setting secara otomatis untuk mencegah salah-
kerja akibat arus inrush.
Relay harus dapat mendeteksi adanya arus inrush dalam pemasukan trafo, yaitu dengan mengukur
kecepatan naiknya dan turunnya arus berdasarkan kriteria tertentu, dan secara otomatis nilai
setting tingkat instantaneous atau tingkat tinggi menjadi dua kalinya jika arus inrush terdeteksi.
Dengan demikian setting arus tingkat instantaneous atau tingkat tinggi tidak perlu di setel lebih
tinggi dari pada arus inrush.
Catatan:
Cara lain untuk mencegah salah kerja akibat arus inrush dapat dipertimbangkan.

4. Fungsi deteksi kawat putus (46).


Prinsip kerja fungsi ini adalah dengan mendeteksi ketakseimbangan arus beban di ketiga fasanya.
∆I = (Imax – Imin)/Imax *100%.
Bekerjanya relay ini dapat dipakai untuk men-trip circuit breaker atau sekedar memberikan sinyal
alarm.
Jika terjadi kawat satu fasa putus maka akan terjadi ketakseimbangan arus karena arus beban pada
fasa yang putus yang dirasakan oleh relay akan berkurang sebesar arus beban fasa tsb disebelah
hilirnya titik putus. Makin jauh kehilir lokasi putus, makin kecil ketakseimbangan yang terjadi.

relay

RF

Kawat putus sering disertai dengan sentuhan ke tanah, jadi menjadi gangguan 1-fasa ketanah,
namun biasanya melalui tahanan gangguan (RF)yang tinggi, apa lagi jika kawat yang jatuh
menyentuh tanah adalah kawat disebelah hilirnya titik putus, sehingga relay gangguan tanah
mungkin tidak bisa mendeteksinya. Dalam hal demikian fungsi 46 ini dapat mendeteksi dengan
mengukur ketakseimbangan arus fasa.

5. Proteksi beban lebih untuk kabel (49)


Disamping sebagai pengaman beban-lebih untuk kabel, fungsi ini juga dapat dipakai sebagai
pembatas arus untuk konsumen, yang menurut TDL PLN 2001 dan sesudahnya, haruslah
menggunakan relay beban-lebih yang mempunyai karakteristik-waktu dalam kondisi
dingin sesuai dengan rumus cold start dari karakteristik thermis overload relay:

I2
t = τ × Ln (1)
I 2 − (k × I S )
2

dimana: t - waktu kerja


τ - adalah konstanta waktu thermis dari relay
IS - setelan arus relay sesuai dengan daya tersambung konsumennya
Ln - logaritma natural
k - konstanta 1.05, jadi k x IS merupakan nilai arus asymptote nya.
Nilai konstanta waktu thermal (τ) harus dipilih sedemikian sehingga memberikan kurva yang
sesuai dengan karakteristik waktu-arus yang diberikan dalam TDL PLN sbb:

Karakteristik waktu sbg fungsi arus menurut TDL PLN

PADA ARUS WAKTU TRIPPING


1.05 x In Tidak trip sebelum 60 menit
1.20 x In Trip sebelum 20 menit
1.50 x In Trip sebelum 10 menit
4.0 x In Dikoordinasikan dengan OCR

Nilai konstanta waktu thermal (τ) yang sesuai dengan tabel tsb adalah kurang lebih 14 menit.

6. Proteksi frekuensi-lebih dan frekuensi-kurang.


Jaringan PLN dilengkapi dengan program pelepasan beban otomatis (automatic load sedding)
secara bertahap untuk mengatasi kekurangn daya pembangkit akibat terlepasnya unit pembangkit
atau terpisahnya sebagian system, dengan menggunakan relay frekuensi-kurang (81U).
Program pelepasan beban melepaskan sebagian beban sesuai dengan tingkat kekurangan daya
pembangkit yang terjadi sehingga terjadi keseimbangan kembali antara daya pembangkit dan
beban, dan frekuensi kembali normal. Makin besar kekurangan daya pembangkit, makin besar
dan cepat penurunan frekuensi dan makin besar pula beban yang harus dilepaskan. Untuk
mempercepat kerja relay dalam hal gangguan kekurangan daya yang besar, digunakan relay df/dt,
yaitu relay yang mendeteksi kecepatan turunnya frekuensi disamping relay frekuensi.

7. Fungsi kegagalan PMT.


Jika terjadi gangguan disuatu penyulang, maka relay proteksinya akan bekerja mengetrip PMT
penyulang itu. Jika arus gangguan masih ada berarti PMT nya gagal membuka/memutuskan arus
gangguan.
Fungsi kegagalan PMT ini mendetekasi masih adanya arus setelah relay proteksi ybs start, dan
mengetrip semua PMT disebelah hulunya yang men-suplai arus gangguan.

8. Fungsi ketakseimbangan fasa pada bank kapasitor.


Untuk unit kapasitor yang terdiri dari beberapa elemen yang diamankan dengan sekering internal,
hampir selalu dihubungkan secara dua bintang yang netralnya tidak ditanahkan.

51

Jika terjadi gangguan di salah satu unit, atau di sebagian elemen kapasitor disalah satu unit, maka
terjadi ketakseimbangan kapasitansi yang selanjutnya menyebabkan pergeseran potential netral
pada bintang kapasitor yang terganggu. Selain itu ketakseimbangan kapasitansi itu juga
menyebabkan over stressed pada unit yang sehat, yang jika tidak diamankan, unit kapasitor yang
sehat akan rusak juga.
Relay ketakseimbangan fasa, yang tidak lain adalah relay arus-lebih yang mengukur arus diantara
kedua titik netral, mendeteksi ketakseimbangan tsb dan melepaskan bank kapasitor yang
tergangu.
9. Deteksi arus kurang dan pencegahan penyambungan kembali kapasitor.
Jika di suatu bus dimana kapasitor tersambung, terjadi tegangan-hilang sebentar kemudian
tegangan muncul kembali, maka ada kemungkinan kapasitor akan dikenai tegangan kembali
dengan polaritas yang berlawanan dengan sisa muatan kapasitor yang masih ada. Ini bisa
mengakibatkan arus inrush yang besar sekali yang membahayakan kapasitor itu.
Relay arus-kurang dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi hilangnya tegangan dan melepaskan
kapasitor, dan relay waktu untuk menunda penyambungan kembali menunggu muatan kapasitor
terbuang (melalui internal discharge resistor nya ataupun melalui peralatan lain yang
berhubungan jika ada) sampai kurang dari 10% tegangan nominalnya.
1. JARINGAN DISTRIBUSI
1.1. GARDU INDUK & JARINGAN DISTRIBUSI

150kV 20kV

Tie Breaker

Gardu Distribusi

CONTOH:

Gardu Induk (GI) 150kV/20kV dengan trafo 2 x 60 MVA, Imp.=13%.

Tie breaker dalam operasi normal terbuka untuk membatasi arus hubung-singkat di jaringan
20kV.
Daya hubung-singkat max.di jaringan 20kV:
MVAk”= 60/0.13 = 461 MVA
Arus hubung-singkat:
Ik” = 461 / 20√3 = 13.3 kA
Jadi dapat digunakan CB dengan breaking capacity 20 atau 25 kA

Gardu distribusi:

° ° ° ° ° °
SDC SDF SDC SDC CBC SDC
×

KONSUMEN
JTR

1
1.2. JARINGAN DISTRIBUSI RADIAL, CB HANYA DI PANGKAL FEEDER

CB LBS LBS
° °

Setiap kali gangguan, CB trip, seluruh konsumen dari feeder itu padam.
Kemudian dilakukan proses seksionalisasi (manuver) untuk mempercepat menghidupkan
kembali konsumen yang pemasokannya tidak melalui bagian yang rusak akibat gangguan itu.
dengan menggunakan LBS sebagai sectionallizer.
Pencarian gangguan dapat dilakukan dengan me-megger seksi2 yang diduga ada ganguan
satu persatu sampai ditemukan. Kemudian seksi yang terganggu di-isolir (LBS dibiarkan
tetap terbuka), sekasi2 yang sehat disebelah hulunya sekasi yang terganggu dihidupkan
kembali.
Namun cara ini memerlukan waktu yang lama.
Cara yang lebih cepat adalah dengan manuver / seksionalisasai yang pada prinsipnya adalah:
-menutup kembali CB dalam keadaan LBS semua menutup, jika trip lagi berarti
gangguan masih ada.
-buka LBS paling hilir
-tutup CB, jika trip lagi, buka LBS kedua (dari hilir).
-dan seterusnya sehingga dicapai kondisi terakhir : (untuk jaringan radial murni)
LBS terdekat dengan lokasi gangguan dibiarkan tetap terbuka untuk memberi
kesempatan dilakukan perbaikan, sehingga konsumen disebelah hilir LBS
tsb.mengalami pemadaman selama perbaikan tsb.
Konsumen disebelah hulu dari LBS tsb sudah bisa dihidupkan.
Seksionalisasi itu bisa dilakukan secara manual, bisa pula secara otomatis dengan
menggunakan Automatic Sectionalizer (AS).
Prinsip kerja AS ada 2 macam:
1. Berdasarkan sensor tegangan.
Jika tegangan hilang, otomatis membuka, jika tegangan muncul kembali, otomatis
M enutup.
2. Berdasarkan hitungan berapa kali dilalui arus gangguan.
Setelah jumlahnya sesuai dengan setting nya, sakelar tidak menutup kembali (blok).
Dengan demikian, dalam hal gangguan yang permanen, CB akan membuka dan menutup
berulang-kali. Makin ke hulu lokasi gangguan, makin sering CB membuka dan menutup.

2
1.3. JARINGAN RADIAL DENGAN LOOP TERBUKA

x
x

Setiap feeder diusahakan dapat bertemu dan dapat dihubungkan dengan feeder lain.

CB A X’ X’ x
° ° ° ° ° °

CB B
° ° ° °

Kondisi mula terbuka di x.


Gangguan diantara x’(kiri) dan x’(kanan)
Kondisi terakhir setelah seksionalisai adalah:
LBS di kedua sisi seksi yang terganggu (x’(kiri) dan x’(kanan) ) dibiarkan tetap
terbuka.
Konsumen disebelah hulunya sekasi yang terganggu (feeder A) dihidupkan dengan
penutupan CB, sedangkan disebelah hilirnya dengan menghubungkannya ke feeder
lainnya (B) yang membentuk loop terbuka tsb.
Dengan demikian, jika yang rusak adalah saluran atau kabel nya (bukan
swichgear/gardu), semua konsumen dapat dihidupkan kembali dengan cepat tanpa
menunggu perbaikan.

3
1.4. JARINGAN SPINDEL

Gardu Induk Gardu Hubung


x
°
x
°

Express feeder °

x
°

x
°

Setiap feeder dari suatu GI terhubung ke Gardu Hubung (GH) dan dapat membentuk loop
terbuka dengan Express feeder.
LBS pada semua feeder di GH dalam keadaan normal terbuka, kecuali express feeder.
Pada prinsipnya express feeder tidak dibebani (tidak ada gardu distribusi yang tersambung
padanya). Jadi ini khusus disediakan untuk memberi suplai ke bagian feeder lainnya
disebelah hilirnya lokasi gangguan.
Manuver untuk mempersingkat pemadaman setelah gangguan, mirip dengan jaringan dengan
loop terbuka. Untuk mempercepat pencarian gangguan, digunakan detektor gangguan di
gardu distribusi yang lokasinya kira2 ditengah feeder (x). Detektor gangguan ini mendeteksi
arus gangguan. Jika lampu detektor ini menyala berarti lokasi gangguan ada disebelah
hilirnya.

4
1.5. JARINGAN DENGAN LOOP TERTUTUP

CB

CB

Di gardu distribusi digunakan CB di kedua sisinya yang dalam operasi normal dalam
keadaan tertutup. Konsumen tersambung ke gardu distribusi, dan tidak ada konsumen yang
tersambung pada seksi feeder diantara gardu distribusi. Sebagai pengaman di setiap seksi
digunakan relay diferensial atau directional O/C relay.
Jika terjadi gangguan di suatu seksi feeder (di kabelnya bukan di gardu/switchgear), CB di
kedua sisi dari seksi yang terganggu itu saja yang trip dan hanya seksi feeder itu saja yang
padam, sehingga tidak ada konsumen yang mengalami pemadaman.

5
2. JARINGAN RADIAL SUTM DENGAN RECLOSER

CB & AR Recloser
° °

Sebagian besar gangguan di jaringan SUTM adalah gangguan yang temporair.


Gangguan temporair adalah gangguan dalam bentuk flashover di udara antara kawat fasa dan
tanah (travers tiang, pohon dsb).
Setelah busur api padam karena bekerjanya relay dan terbuka nya CB, maka feeder siap
diberi tegangan kembali karena tidak ada yang rusak.
Pemasukan kembali CB itu (disebut reclosing) itu bisa dilakukan secara otomatis dengan
menggunakan Automatic Reclosing relay (AR) pada CB (dipangkal feeder) disamping relay
proteksi nya.
Dengan demikian jika ada gangguan, CB trip kemudian menutup kembali secara otomatis.
Jika gangguan sudah hilang, seluruh feeder sudah hidup kembali dengan cepat. Namun jika
gangguan masih ada, berarti gangguan permanen, CB akan trip kembali, lalu dilakukan
manuver seperti tsb diatas.

CB yang telah dilengkapi dengan relay proteksi dan reclosing relay menjadi satu disebut
recloser.
Disamping CB & reclosing relay atau Recloser di pangkal feeder, dapat juga dipasang
Recloser kedua di hilir.
Antara Recloser di pangkal dan Recloser di hilir dapat di koordinir sehingga kalau ada
gangguan di hilir hanya Recloser dihiling itu saja yang terbuka kemudian menutuo kembali.

6
2. PEMBUMIAN SISTEM DISTRIBUSI.

Di PLN ada 4 macam pembumian sistem:


1. Sistem yang tak di bumikan
2. Sistem 4-kawat yang dibumikan langsung
3. Sistem yang dibumikan melalui tahanan rendah
4. Sistem yang dibumikan melalui tahanan tingi.

2.1. Sistem yang tak ditanahkan.

6kV

Ini dipakai pada sistem yang masih kecil, dengan jaringan SUTM 6 kV.
Pada sistem yang sangat sederhana / kecil, jika terjadi gangguan tanah, arus gangguannya
sangat kecil, sulit untuk dipakai sebagai dasar proteksi, oleh karena itu pada sistem yang
masih sangat sederhana ini, tidak ada proteksi gangguan tanah. Jika terjadi gangguan tanah
yang temporair, ada kemungkinan terjadi self clearing (gangguan hilang sendiri). Namun jika
terjadi gangguan tanah yang permanen, tidak ada relay yang mendeteksi, jadi tidak ada CB
yang terbuka. Tapi sistem bisa jalan terus (untuk sementara) dalam keadaan gangguan tanah
yang permanen. Kemudian gangguan dicari dengan coba-coba membuka-tutup CB feeder
sampai ditemukan. Sebagai detektor gangguan tanah, dapat digunakan Over voltge relay
yang mengukur residual voltage.
Sistem ini tidak dikembangkan lagi.

7
2.2. Sistem4-kawat dengan pentanahan langsung.
RSTN
150kV 20kV
• R
• S

• T

• PEN

////////////////////////// R

S
Gardu Induk T
PEN
JTR

/////////////

Trafo Tiang Konsumen


Sistem ini hanya dipakai di Jawa Tengah
JTM – 4-kawat R, S, T, PEN
JTR – 4-kawat R, S, T, PEN
Di jaringan, satu kawat netral (PEN) dipakai bersama sebagai kawat netral JTM dan JTR.
Kawat Netral ini disebut PEN, karena pada hakekatnya berfungsi pula sebagai kawat
pengaman (PE) bagi konsumen disamping sebagai kawat netral (N) yang bisa dialiri arus
beban.
Di instalasi Konsumen, Kawat pengaman (PE) harus ditanahkan ke elektroda pentanahan
konsumen dan tersambung ke kawat (PEN) di PHB.
Body peralatan konsumen tersambung ke kawat PE.
T PEN

PHB Konsumen
T
N
PE

///////

• •

8
2.3. SISTEM DENGAN PENTANAHAN TAHANAN RENDAH

//////////
RN=40Ω /

//////////
/

Dengan RN = 40 Ω maka arus gangguan 1-fasa ke tanah max. = (20000/√3)/40 = 289 A.


Setting relay gangguan tanah biasanya dibuat 45 A (15% x 300A).
Setting sebesar itu cukup tinggi sehingga tidak biasanya menimbulkan masalah sympathetic
tripping, sehingga cukup dipakai non directional relay sebagai relay gangguan tanah (lihat
butir 6.4 dibawah)
Jika jaringannya terdiri dari kabel tanah RN=12 Ω.

2.4. SISTEM DENGAN PENTANAHAN TAHANAN TINGGI

//////////
RN=500Ω /

//////////
/

Dengan RN = 500 Ω maka arus gangguan 1-fasa ke tanah max. = (20000/√3)/500 = 23 A.


Setting relay gangguan tanah biasanya dibuat kurang dari 10 A.
Dengan setting yang begitu sensitif, maka ada kemungkinan relay salah kerja (sympathetic
tripping) akibat gangguan tanah jika digunakan non directional relay.
Sympathetic tripping yaitu feeder yang tak terganggu ikut trip akibat gangguan tanah di
feeder lain. Ini dapat dijelaskan karena adanya arus kapasitansi tanah yang lebih besar dari
pada setting relay gangguan tanah akibat gangguan tanah di feeder lain.
Oleh karena itu digunakan directional relay sebagai relay gangguan tanah.
Arus kapasitansi tanah itu misalnya karena adanya kabel tanah atau kapasitor kompensasi
yang tersambung secara bintang yang titik netralnya ditanahkan.
Pembumian tahanan tinggi ini hanya dipakai di Jawa Timur.

9
JARINGAN DISTIBUSI
PEMBUMIAN DAN PROTEKSINYA

Isi:

1. JARINGAN DISTRIBUSI
1.1. Gardu Induk & Jaringan Distribusi
1.2. Jaringan Distribusi Radial, CB hanya di pangkal feeder
1.3. Jaringan Radial dengan Loop terbuka
1.4. Jaringan Spindel
1.5. Jaringan dengan Loop tertutup
1.6. Jaringan Radial SUTM dengan Recloser

2. Pembumian Sistem Distribusi


2.1. Sistem yang tak dibumikan
2.2. Sistem 4-kawat dengan pembumian langsung
2.3. Sistem dengan pembumian tahanan rendah
2.4. Sistem dengan pembumian tahanan tinggi

3. PROTEKSI ARUS-LEBIH
3.1. Characteristic of O/C relay
3.2. Kinds of Over current Protection
3.3. Coordination with Definite Time Relay
3.4. Coordination with Inverse Time Relay
3.5. High set Chopping
3.6. Advantages and Disadvantages
3.7. General Rules for setting of Over Current Protection
LAMPIRAN: PENGGUNAAN RELAY SPAM 150C

4. DEVICE SELECTION TABLE

5. SHORT CIRCUIT CURRENT AND DEVICE DUTY AND RATING

10
RSNI-1(60947-3(2001-05))

PERLENGKAPAN HUBUNG BAGI DAN KONTROLTEGANGAN RENDAH

Bagian 3: Sakelar, pemisah, sakelar pemisah


dan unit sekering kombinasi

1 Umum

Ketentuan untuk aturan umum yang berkaitan dengan SNI 04-6282.1 berlaku untuk standar
ini, jika khusus diterapkan. Ayat dan sub ayat, tabel, gambar dan lampiran pada aturan
umum yang diterapkan demikian diidentifikasi dengan acuan SNI 04-6282.1, misalnya
4.3.4.1 dari SNI 04-6282.1, Tabel 4 SNI 04-6282.1, atau lampiran A dari SNI 04-6282.1.

1.1 Ruang lingkup dan tujuan

Standar ini berlaku untuk sakelar, pemisah, sakelar pemisah dan unit sekering kombinasi
untuk digunakan dalam sirkit distribusi dan sirkit motor dengan tegangan pengenal yang
tidak melebihi 1 000 V a.b. atau 1 500 V a.s.

Pabrikan harus menentukan jenis, nilai pengenal dan karakteristik menurut standar yang
relevan dari setiap sekering yang terpadu.

Standar ini tidak berlaku untuk perlengkapan yang termasuk dalam ruang lingkup IEC
60947-2, IEC 60947-4-1 dan IEC 60947-5-1; walaupun demikian, jika sakelar dan unit
sekering kombinasi yang termasuk dalam ruang lingkup standar ini biasanya digunakan
untuk mengasut, mempercepat dan atau menghentikan motor individual maka harus juga
memenuhi persyaratan tambahan yang diberikan dalam lampiran A.

Sakelar bantu yang dipasang pada perlengkapan yang termasuk ruang lingkup standar ini
harus memenuhi persyaratan IEC 60947-5-1.

Standar ini tidak mencakup persyaratan tambahan yang perlu untuk radas listrik untuk
atmosfer gas ledak.

CATATAN 1 Tergantung pada rancangannya, sakelar (atau pemisah) dapat diacu sebagai “sakelar
(pemisah) putar”, sakelar (pemisah) digerakkan tuas, sakelar (pemisah) pisau”, dan sebagainya.

CATATAN 2 Dalam standar ini, kata “sakelar” juga digunakan pada radas, yang dimaksudkan untuk
mengubah hubungan antara berbagai sirkit dan antara lain untuk menggantikan bagian dari sirkit
untuk bagian yang lainnya.

CATATAN 3 Pada umumnya, dalam seluruh standar ini sakelar, pemisah, pemisah sakelar dan unit
sekering kombinasi akan diacu sebagai “perlengkapan”.

Tujuan standar ini adalah untuk menyatakan

a) karakteristik dari perlengkapan;


b) kondisi yang harus dipenuhi oleh perlengkapan dengan mengacu pada
1) operasi dan perilaku dalam pelayanan normal;
2) operasi dan perilaku dalam kasus kondisi abnormal yang ditentukan, misalnya
hubung pendek;
3) sifat dielektrik;
c) uji untuk menetapkan bahwa kondisi ini telah dipenuhi dan metode yang digunakan
untuk uji ini;
d) informasi yang harus ditandai pada perlengkapan atau dapat diperoleh dari pabrikan,
misalnya dalam katalog.

1 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

1.2 Acuan normatif

Dokumen normatif berikut memuat ketentuan yang, melalui acuan dalam naskah ini,
memuat ketentuan dari bagian IEC 60947 ini. Untuk acuan bertanggal, perubahan yang
berikutnya, atau revisinya, maka setiap publikasi tersebut tidak dapat diterapkan. Walaupun
demikian, fihak yang bersepakat berdasarkan bagian IEC 60947 ini dianjurkan untuk
menyelidiki kemungkinan penerapan edisi yang paling akhir dari dokumen normatif yang
tercantum di bawah. Untuk acuan tanpa tanggal, berlaku edisi terakhir dari dokumen
normatif yang diacu. Anggota IEC dan ISO menyimpan daftar Standar Internasional yang
sedang berlaku.

IEC 60050(441):1984, International Electrotechnical Vocabulary (IEV), Chapter 441:


Switchgear, control gear and fuses

IEC 60410:1973, Sampling plans and procedures for inspection and attributes

IEC 60417-2:1998, Graphical symbols for use on equipment – Part 2: Symbol originals

IEC 60447:1993, Man-machine-interface (MM) – Actuating principles

IEC 60617-7:1996, Graphical symbols for diagrams – Part 7: Switchgear, conrolgear and
protective devices

SNI 04-6282.1:1999, Low-voltage switchgear and controlgear – Part 1: General rules

IEC 60947-2:1995, Low-voltage switchgear and controlgear – Part 2: Circuit-breakers

IEC 60947-4-1:1990, Low-voltage switchgear and controlgear – Part 4: Contactors and


motor-starters – Section One: Electrotechnical contactors and motor-starters

IEC 60947-5-1:1997, Low-voltage switchgear and controlgear – Part 5: Control circuit


devices and switching elements – Section One: Electromechanical control and circuit
devices

IEC 61000-4-2:1995, Electromagnetic compability (EMC) – Part 4: Testing and


measurement techniques – Section 2: Electrostatic discharge immunity test. Basic EMC
Publication

IEC 61000-4-3:1995, Electromagnetic compability (EMC) – Part 4: Testing and


measurement techniques – Section 3: Radiated, radio-frequency, electromagnetic field
immunity test

IEC 61000-4-4:1995, Electromagnetic compability (EMC) – Part 4: Testing and


measurement techniques – Section 4: Electrical fast transien/burst immunity test, Basic
EMC Publication

IEC 61000-4-5:1995, Electromagnetic compability (EMC) – Part 4: Testing and


measurement techniques – Section 5: Surge immunity test

IEC 61000-4-6:1996, Electromagnetic compability (EMC) – Part 4: Testing and


measurement techniques – Section 6: Immunity to conducted disturbances, induced by
radio-frequency fields

CISPR 11:1997, Industrial, scientific and medical (ISM) radio-frequency equipment –


Electromagnetic disturbance characteristics – Limits and methods of measurement

2 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

CISPR 22:1997, Information technology equipment – Radio disturbance characteristics –


Limits and methods of measurement

2 Definisi

Untuk tujuan standar ini, definisi yang diberikan dalam IEC 60050(441), SNI 04-6282.1 dan
definisi berikutnya berlaku.

2.1
sakelar (mekanis)
gawai sakelar mekanis yang mampu untuk memasukkan, mengalirkan dan memutus arus
pada kondisi sirkit normal yang dapat mencakup kondisi beban lebih operasi yang
ditentukan dan juga mengalirkan selama waktu yang ditentukan arus pada kondisi sirkit
abnormal yang ditentukan seperti pada hubung pendek.

CATATAN Sakelar mungkin mampu untuk memasukkan, tetapi tidak memutuskan arus hubung
pendek [IEV 441-14-10]

2.2
pemisah
gawai putus-hubung mekanis yang, pada posisi terbuka, memenuhi persyaratan yang
ditentukan untuk fungsi pemisahan yang ditentukan.

CATATAN 1 Definisi ini berbeda dengan IEV 441-14-05 dengan mengacu pada fungsi pemisahan
tetapi bukan jarak pemisahan.

CATATAN 2 Pemisah mampu untuk membuka dan menutup sirkit jika arus yang dapat diabaikan
diputus ataupun dimasukkan, atau jika tidak terjadi perubahan yang berarti pada tegangan antara
terminal dari setiap kutup dari pemisah. Pemisah juga mampu untuk mengalirkan arus pada kondisi
sirkit normal dan mengalirkan arus selama waktu yang ditentukan pada kondisi yang abnormal
seperti pada hubung pendek.

2.3
sakelar pemisah
sakelar yang, pada posisi buka, memenuhi persyaratan pemisahan yang ditentukan bagi
pemisah [IEV 441-14-12]

2.4
unit sekering kombinasi
kombinasi gawai putus-hubung mekanis dan satu atau lebih sekering dalam unit gabungan,
dirakit oleh pabrikan atau menurut petunjuknya [IEV 441-14-04]

CATATAN (Tidak termasuk dalam IEV 441-14-04.) Ini adalah istilah umum untuk gawai putus-
hubung sekering (lihat juga definisi 2.5 hingga 2.10 dan Tabel 1)

2.5
sakelar-sekering
sakelar yang dilengkapi dengan sekering dalam seri pada satu kutub atau lebih dalam unit
gabungan [IEV 441-14-14]

2.6
sakelar bersekering
sakelar yang dilengkapi dengan sekering atau rumah sekering dengan sekering yang
merupakan kontak gerak [IEV 441-14-17]

3 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

2.7
pemisah-sekering
pemisah yang dilengkapi dengan sekering dalam seri pada satu kutub atau lebih dalam unit
gabungan [IEV 441-14-15]

2.8
pemisah bersekering
pemisah yang dilengkapi sekering atau rumah sekering dengan sekering yang merupakan
kontak gerak [441-14-18]

2.9
sakelar-pemisah-sekering
sakelar-pemisah yang dilengkapi sekering dalam seri pada satu kutub atau lebih di dalam
unit gabungan [IEV 441-14-19]

2.10
sakelar-pemisah bersekering
sakelar-pemisah yang dilengkapi elemen lebur dudukan beserta elemen leburnya yang
membentuk kontak gerak [IEV 441-14-19]

2.11
operasi manual dependen (dari gawai putus-hubung mekanis)
operasi yang hanya menggunakan energi manusia yang dikenakan langsung sedemikian
sehingga kecepatan dan gaya operasi tergantung pada tindakan operator [iev 441-16-13]

2.12
operasi manual independen (dari gawai putus-hubung mekanis)
operasi energi tersimpan yang energinya berasal dari gaya manusia, disimpan dan dilepas
dalam satu operasi kontinu, sedemikian sehingga kecepatan dan gaya operasi tidak
tergantung dari tindakan operator [IEV-1-16]

2.13
operasi manual semi independen
operasi yang hanya menggunakan langsung energi manusia sedemikian sehingga gaya
manusia dinaikkan hingga nilai ambang sehingga, di atas nilai tersebut operasi putus-
hubung independen tercapai kecuali ditunda oleh operator

2.14
operasi energi tersimpan (dari gawai putus-hubung mekanis)
operasi yang menggunakan energi tersimpan dalam mekanismenya sendiri sebelum
operasi dan cukup untuk mengoperasikan pada kondisi yang ditentukan terlebih dahulu
[IEV 441-16-15]

CATATAN Jenis operasi ini dapat dibagi menurut:


a) cara menyimpan energi (per, pemberat, dan sebagainya);
b) sumber energi (manual, listrik, dan sebagainya);
c) cara melepas energi (manual, listrik, dan sebagainya)

4 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Tabel 1 – Ringkasan definisi perlengkapan

Fungsi
Arus hubung dan putus Pemisahan Penghubungan, pemutusan
dan pemisahan

Sakelar Pemisah Sakelar-pemisah


2.1 2.2 2.3

Unit sekering kombinasi

Sakelar-sekering Pemisah-sekering Sakelar-pemisah-sekering


2.5 2.7 2.9

Sakelar bersekering Pemisah bersekering Sakelar-pemisah bersekering


2.6 2.8 2.10

CATATAN 1 Semua perlengkapan dapat merupakan pemutus tunggal atau pemutus banyak.
CATATAN 2 Nomor adalah acuan subayat dari definisi yang relevan
CATATAN 3 Lambang didasarkan pada IEC 60617-7.
a)
Sekering dapat pada salah satu sisi dari atau dalam posisi tetap antara kontak-kontak perlengkapan

3 Klasifikasi

3.1 Menurut katagori pemanfaatan

Lihat 4.4

3.2 Menurut metode operasi perlengkapan yang dioperasikan secara manual

- operasi manual dependen (lihat 2.11);


- operasi manual independen (lihat 2.12);
- operasi manual semi independen (lihat 2.13)

CATATAN Metode operasi penutupan dapat berbeda dari metode pembukaan

3.3 Menurut kesesuaian untuk pemisahan

- sesuai untuk pemisahan (lihat SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.1.6 dan 7.1.6.1);
- tidak sesuai untuk pemisahan.

5 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

3.4 Menurut tingkat proteksi yang dilengkapi

Lihat SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.1.11.

4 Karakteristik

4.1 Ringkasan karakteristik

Karakteristik perlengkapan harus dinyatakan dalam istilah berikut jika diterapkan:


- jenis perlengkapan (lihat 4.2);
- nilai pengenal dan batas untuk sirkit utama (lihat 4.3);
- katagori pemanfaatan (lihat 4.4);
- sirkit kontrol (lihat 4.5);
- sirkit bantu (lihat 4.6).

4.2 Jenis perlengkapan

Hal berikut harus dinyatakan:

4.2.1 Jumlah kutub

4.2.2 Macam arus

Macam arus (a.b. atau a.s.) dan dalam hal a.b., jumlah fase dan frekuensi pengenal.

4.2.3 Jumlah posisi kontak utama

(jika lebih dari dua)

4.3 Nilai pengenal dan batas dari sirkit utama

Nilai pengenal ditentukan oleh pabrikan. Nilai ini harus dinyatakan sesuai dengan 4.3.1
hingga 4.3.6.4 tetapi mungkin tidak perlu menetapkan semua nilai pengenal yang
tercantum.

4.3.1 Tegangan pengenal

Perlengkapan ditentukan dengan tegangan pengenal berikut.

4.3.1.1 Tegangan operasi pengenal (Ue)

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.1.1.

4.3.1.2 Tegangan insulasi pengenal (Ui)

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.1.2.

4.3.1.3 Tegangan ketahanan impuls pengenal (Uimp)

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.1.3.

4.3.2 Arus

Perlengkapan ditentukan dengan arus berikut:

6 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

4.3.2.1 Arus termal udara bebas konvensional (Ith)

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.2.1.

4.3.2.2 Arus termal berselungkup konvensional (Ithe)

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.2.2.

4.3.2.3 Arus operasi pengenal (Ie) (atau daya operasi pengenal)

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.2.3.

4.3.2.4 Arus tak terputus pengenal (Iu)

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.2.4.

4.3.3 Frekuensi pengenal

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.3.

4.3.4 Tugas pengenal

Tugas pengenal yang dianggap normal adalah sebagai berikut.

4.3.4.1 Tugas delapan jam

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.4.1.

4.3.4.2 Tugas tidak terputus

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.4.2.

4.3.5 Karakteristik beban normal dan beban lebih

4.3.5.1 Kemampuan menahan arus beban lebih putus-hubung motor

Lihat lampiran A.

4.3.5.2 Kapasitas hubung pengenal

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.5.2 dengan tambahan berikut.

Kapasitas hubung pengenal dinyatakan dengan mengacu pada tegangan operasi pengenal
dan arus operasi pengenal dan pada katagori pemanfaatan sesuai dengan Tabel 3.

Tidak dapat diterapkan pada perlengkapan katagori AC-20 dan DC-20.

4.3.5.3 Kapasitas putus pengenal

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.5.3 dengan tambahan berikut.

Kapasitas putus pengenal dinyatakan dengan mengacu pada tegangan operasi pengenal
dan arus operasi pengenal dan pada katagori pemanfaatan sesuai dengan Tabel 3.

Tidak dapat diterapkan pada perlengkapan katagori AC-20 dan DC-20.

7 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

4.3.6 Karakteristik hubung pendek

4.3.6.1 Arus ketahanan waktu singkat pengenal (Icw)

Arus ketahanan waktu singkat pengenal dari sakelar, pemisah atau sakelar-pemisah
adalah nilai arus ketahanan waktu singkat, yang ditentukan oleh pabrikan, yang dapat
mengalir melalui perlengkapan tanpa ada kerusakan pada kondisi uji 8.3.5.1.

Nilai arus ketahanan waktu singkat pengenal tidak boleh kurang dari dua belas kali arus
operasi pengenal maksimum dan, kecuali dinyatakan lain oleh pabrikan, durasi arus harus
1 detik.

Untuk a.b., nilai arus adalah nilai efektif dari komponen a.b. dan diperkirakan nilai puncak
tertinggi yang mungkin terjadi tidak akan melebihi n kali nilai efektif ini, dengan faktor n
diberikan dalam SNI 04-6282.1 Tabel 16.

4.3.6.2 Kapasitas hubung pada saat hubung pendek pengenal (Icm)

Kapasitas hubung pada saat hubung pendek-pengenal dari sakelar atau pemisah sakelar
adalah nilai kapasitas hubung pada saat hubung pendek yang ditentukan untuk
perlengkapan oleh pabrikan pada tegangan operasi pengenal, frekuensi pengenal (jika
ada) dan pada faktor daya atau konstanta waktu yang ditentukan. Hal ini dinyatakan
sebagai arus puncak prospektif maksimum.

Untuk a.b., hubungan antara faktor daya, arus puncak prospektif dan arus efektif harus
sesuai dengan SNI 04-6282.1 Tabel 16.

Tidak dapat diterapkan untuk perlengkapan katagori AC-20 dan DC-20.

4.3.6.3 Kosong

4.3.6.4 Arus hubung pendek bersyarat pengenal

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.6.4.

4.4 Katagori pemanfaatan

Katagori pemanfaatan menentukan penerapan yang dimaksudkan dan diberikan dalam


Tabel 2.

Setiap katagori pemanfaatan dikenali dari nilai arus dan tegangan, dinyatakan sebagai
kelipatan arus operasi pengenal dan tegangan operasi pengenal, maupun sebagai faktor
daya atau konstanta waktu dari sirkit. Kondisi untuk hubung dan putus yang diberikan
dalam Tabel 3 berkaitan dengan prinsip penerapan yang terdapat dalam Tabel 2.

Penentuan katagori pemanfaatan dilengkapi dengan huruf akhir A atau B adalah apakah
penerapan yang dimaksudkan memerlukan operasi yang sering atau tidak sering (lihat
Tabel 4).

Katagori pemanfaatan dengan huruf akhir B sesuai untuk gawai dengan desain atau
penerapan yang hanya untuk operasi yang tidak sering. Hal ini dapat diterapkan, sebagai
contoh, pada pemisah yang biasanya hanya dioperasikan untuk menyediakan pemisahan
untuk pekerjaan pemeliharaan atau gawai putus-hubung dengan pisau sekering yang
merupakan kontak gerak.
Pembedaan antara operasi sering dan tidak sering didasarkan pada operasi pengenal
pabrikan dan jumlah siklus operasi yang digunakan sebagai kriteria uji dalam Tabel 4.

8 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Untuk arus operasional Ie tertentu, gawai didesain untuk penggunaan yang sering (katagori
A) jika usia operasi pengenal dari pabrikan melebihi dari jumlah siklus operasi yang
tercantum dalam kolom 3, 4 dan 5 dari Tabel 4.

Tabel 2 – Katagori pemanfaatan

Katagori pemanfaatan
Sifat arus Penerapan tipikal
Katagori A Katagori B

AC-20A* AC -20 B* - Penghubungan dan pemutusan pada kondisi


tanpa beban
Arus
bolak balik AC-21A AC -21B - Putus-hubung beban resistif termasuk
beban lebih yang sedang

AC-22A AC-22B - Putus-hubung beban campur resistif dan


induktif, termasuk beban lebih yang sedang

AC-23A AC-23B - Putus-hubung beban motor atau beban


induktif tinggi lain

DC-20A* DC-20B* - Penghubungan dan pemutusan pada kondisi


tanpa beban

DC-21A DC-21B - Putus-hubung beban resistif termasuk


Arus searah beban lebih yang sedang

DC-22A DC-22B - Putus-hubung beban campur resistif dan


induktif, termasuk beban lebih yang sedang
(misalnya motor shunt)

DC-23A DC-23B - Putus-hubung beban induktif tinggi


(mosalnya motor seri)

* Penggunaan katagori pemanfaatan ini tidak diperbolehkan di Amerika Serikat

Katagori AC-23 mencakup putus-hubung sewaktu-waktu pada motor itu tersendiri. Putus-
hubung kapasitor atau lampu pijar harus mengikuti kesepakatan antara pabrikan dan
pengguna.

Katagori pemanfaatan yang diacu dari Tabel 2 dan 3 tidak berlaku untuk perlengkapan
yang biasanya digunakan untuk mengasut, mempercepat dan atau menghentikan motor
tersendiri. Katagori pemanfaatan untuk perlengkapan demikian berkaitan dengan lampiran
A.

4.5 Sirkit kontrol

SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.5 berlaku.

4.6 Sirkit bantu

SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.6 berlaku.

4.7 Relai dan pelepas

SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.7 berlaku.

9 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

5 Informasi produk

5.1 Sifat informasi

SNI 04-6282.1 Sub ayat 5.1 berlaku yang sesuai dengan desain tertentu.

5.2 Penandaan

5.2.1 Setiap perlengkapan harus ditandai dengan tanda berikut yang mudah dibaca dan
awet.

Penandaan untuk a), b) dan c) di bawah harus berada pada perlengkapan itu sendiri atau
pada pelat nama yang dilekatkan pada perlengkapan, dan harus ditempatkan pada tempat
yang sedemikian sehingga mudah dibaca dari depan setelah terpasang pada perlengkapan
sesuai dengan petunjuk pabrikan.

a) Indikasi posisi buka dan tutup. Posisi buka dan tutup masing-masing harus ditandai
dengan lambang grafis 60417-IEC-5007 dan 60417-IEC-5008 dari IEC 60417-2 (lihat
SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.1.5.1).

b) Sesuai untuk pemisahan

Lambang yang sesuai dalam Tabel 1 harus digunakan.

Gawai untuk katagori pemanfaatan AC-20A, AC-20B, DC-20A dan DC-20B harus ditandai
“Jangan dioperasikan dalam keadaan berbeban”, kecuali gawai tersebut silih kunci untuk
mencegah operasi demikian.

Gawai untuk katagori pemanfaatan AC-20A, AC-20B, DC-20A dan DC-20B harus ditandai
“Jangan dibuka dalam keadaan berbeban”, kecuali gawai tersebut silih kunci untuk
mencegah pembukaan demikian.

CATATAN Lambang berbagai jenis perlengkapan diberikan dalam Tabel 1.

5.2.2 Data berikut juga harus ditandai pada perlengkapan tetapi tidak perlu dapat terlihat
dari depan jika perlengkapan terpasang:

a) nama pabrikan atau merk dagang;

b) rancangan jenis atau nomor seri;

c) arus operasi pengenal (atau daya pengenal) pada tegangan operasi pengenal dan
katagori pemanfaatan (lihat 4.3.1, 4.3.2 dan 4.4);

d) nilai (atau julat) frekuensi pengenal atau indikasi “a.s.” (atau lambang );

e) untuk unit sekering kombinasi, jenis sekering dan arus pengenal maksimum dan rugi
daya sekering;

f) SNI 04-6282.3, jika pabrikan menyatakan kesesuaian dengan standar ini;

g) tingkat proteksi untuk perlengkapan berselungkup (lihat SNI 04-6282.1 lampiran C).

5.2.3 Terminal berikut harus bertandakan:

a) terminal saluran dan beban kecuali hubungannya tidak penting (lihat 8.3.3.3.1);

10 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

b) terminal kutub netral, jika dapat diterapkan, dengan huruf “N” (lihat SNI 04-6282.1 Sub
ayat 7.1.7.4);

c) terminal pembumian pengaman (lihat SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.1.9.3).

5.2.4 Data berikut harus tersedia dalam informasi yang diterbitkan pabrikan:

a) tegangan insulasi pengenal;

b) tegangan ketahanan impuls pengenal untuk perlengkapan yang sesuai untuk


pemisahan atau jika ditentukan;

c) tingkat polusi, jika selain dari 3;

d) tugas pengenal;

e) arus dan durasi ketahanan waktu singkat pengenal, jika dapat diterapkan;

f) kapasitas masuk hubung pendek-pengenal, jika dapat diterapkan,

g) arus hubung pendek-pengenal yang disyaratkan, jika dapat diterapkan.

5.3 Petunjuk untuk pemasangan, operasi dan pemeliharaan

SNI 04-6282.1 Sub ayat 5.3 berlaku.

6 Kondisi pelayanan normal, pemasangan dan pengangkutan

SNI 04-6282.1 Sub ayat 6 berlaku dengan tambahan berikut.

Tingkat polusi (lihat SNI 04-6282.1 Sub ayat 6.1.3.2).

Kecuali dinyatakan lain oleh pabrikan, perlengkapan dimaksud untuk dipasang pada
kondisi lingkungan dengan tingkat polusi 3.

7 Persyaratan konstruksi dan kinerja

7.1 Persyaratan konstruksi

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.1 berlaku dengan tambahan berikut.

7.1.1 Bahan

Bahan yang digunakan harus diverifikasi sesuai dengan daya tahan terhadap bahang yang
abnormal dan api, dengan melakukan pengujian:

a) pada perlengkapan; atau

b) pada bagian yang diambil dari perlengkapan; atau

c) pada sampel dari bahan identik yang penampangnya mewakili.

11 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Jika bahan identik dengan penampangnya mewakili telah memenuhi persyaratan, maka uji
demikian tidak perlu diulang.

7.1.1.1 Daya tahan terhadap bahang yang abnormal dan api

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.1.1.1 berlaku dengan tambahan berikut.

Bagian bahan insulasi yang perlu untuk menahan bagian yang mengalirkan arus pada
posisinya harus memenuhi uji kawat pijar dari 8.2.1.1.1 dari SNI 04-6282.1 pada suhu uji
960 °C.

Jika uji dilakukan pada bahan sampel dari pabrikan menurut 7.1.1 c), maka harus dilakukan
uji sesuai dengan uji penyalaan dan uji kawat bahang menurut uji kawat pijar pada 960 °C
seperti yang ditentukan dalam 8.2.1.1.2, dan SNI 04-6282.1 lampiran M.

7.1.2 Jarak bebas dan jarak rambat

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.1.3 berlaku dengan tambahan berikut.

Pedoman untuk pengukuran jarak bebas dan jarak rambat diberikan dalam lampiran G dari
SNI 04-6282.1.

7.1.4 Penggerak

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.1.4 berlaku dengan tambahan berikut.

7.1.4.2 Arah gerakan

Arah operasi penggerak pada gawai secara normal harus sesuai dengan IEC 60447. Jika
gawai tidak dapat memenuhi persyaratan ini, misalnya disebabkan oleh penerapan khusus
atau posisi pemasangan alternatif, gawai harus ditandai dengan jelas sedemikian
sehingga tidak terdapat keragu-raguan terhadap posisi “I” atau “O” dan arah operasi.

7.1.6 Persyaratan tambahan untuk perlengkapan yang sesuai untuk pemisahan

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.1.6 berlaku dengan tambahan berikut.

7.1.6.1 Persyaratan konstruksi tambahan untuk perlengkapan yang sesuai untuk


pemisahan

Perlengkapan harus ditandai menurut 5.2.1b).

Jika tidak dilengkapi dengan indikasi posisi kontak, sebagai contoh oleh penggerak atau
penandaan yang terpisah, semua kontak utama harus jelas dapat terlihat dalam posisi
buka.
Kekuatan mekanisme penggerak dan kebenaran indikasi pada posisi buka harus diperiksa
menurut 8.2.5. Tambahan lagi, jika dilengkapi dengan sarana oleh pabrikan untuk
mengunci perlengkapan dalam posisi buka, maka penguncian harus hanya mungkin jika
kontak utama pada posisi buka (lihat 8.2.5).

12 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Persyaratan ini tidak berlaku pada perlengkapan yang posisi kontak utamanya terlihat
dalam posisi buka dan atau posisi bukanya ditandai dengan sarana lain yang bukan
penggerak.

CATATAN Penguncian pada posisi tutup diperbolehkan untuk penerapan tertentu.

Jarak bebas antara kontak terbuka pada kutub yang sama jika pada posisi buka tidak boleh
kurang dari jarak bebas minimum yang diberikan dalam Tabel 13 dari SNI 04-6282.1 dan
harus memenuhi persyaratan 7.2.3.1b) dari SNI 04-6282.1.

7.1.6.2 Persyaratan tambahan untuk perlengkapan yang dilengkapi silih kunci


elektrik dengan kontaktor atau pemutus sirkit

Jika perlengkapan untuk pemisahan dilengkapi dengan sakelar bantu untuk tujuan silih
kunci elektrik dengan kontaktor atau pemutus sirkit dan dimaksudkan untuk digunakan
dalam sirkit motor, persyaratan berikut harus diterapkan kecuali perlengkapan berpengenal
untuk katagori pemanfaatan AC-23.

Sakelar bantu harus berpengenal menurut SNI 04-6282.5.1 seperti yang dinyatakan oleh
pabrikan.

Selang waktu antara pembukaan kontak sakelar bantu dan kontak kutub utama harus
cukup untuk memastikan bahwa kontaktor atau pemutus sirkit yang bersangkutan memutus
arus sebelum kutub utama perlengkapan membuka.

Kecuali dinyatakan lain dalam literatur teknis pabrikan, selang waktu tidak boleh kurang
dari 20 milidetik jika perlengkapan dioperasikan menurut petunjuk pabrikan.

Kesesuaian harus diverifikasi dengn pengukuran selang waktu antara saat pembukaan
sakelar bantu dan saat pembukaan kutub utama pada kondisi tanpa beban ketika
perlengkapan dioperasikan menurut petunjuk pabrikan.

Selama operasi penutupan kontak sakelar bantu harus menutup setelah atau bersamaan
dengan kontak kutub utama.

Selang waktu pembukaan yang sesuai dapat juga diperoleh dengan posisi antara (antara
posisi ON dan MATI) pada saat kontak silih kunci terbuka dan kutub utama tetap tertutup.

7.1.6.3 Persyaratan tambahan pada perlengkapan yang dilengkapi dengan sarana


untuk menggembok posisi buka

Sarana penguncian harus didesain sedemikian sehingga tidak dapat dipindahkan dengan
pemasangan gembok yang sesuai. Jika perlengkapan dikunci bahkan oleh sebuah
gembok, harus tidak mungkin dengan mengoperasikan penggerak, sehingga mengurangi
jarak bebas antara kontak terbuka hingga mencapai jarak yang tidak lagi memenuhi
persyaratan 7.2.3.1 b) dari SNI 04-6282.1.

Sebagai alternatif, desainnya dapat dilengkapi dengan sarana penggembokan untuk


mencegah akses ke penggerak.

Kesesuaian dengan persyaratan untuk menggembok penggerak harus diverifikasi dengan


menggunakan gembok yang ditentukan pabrikan atau alat yang ekivalen, yang
memberikan kondisi yang paling berat, untuk meniru penguncian. Gaya F, yang ditentukan
dalam 8.2.5.2 harus diterapkan pada penggerak dalam usaha untuk mengoperasikan
perlengkapan dari posisi buka ke posisi tutup. Keika diterapkan gaya F , perlengkapan
harus dikenakan tegangan uji di antara kontak yang terbuka. Perlengkapan harus mampu

13 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

untuk menahan tegangan uji yang disyaratkan menurut Tabel 14 dari SNI 04-6282.1 yang
sesuai dengan tegangan ketahanan impuls pengenal.

7.1.8 Persyaratan tambahan untuk perlengkapan yang dilengkapi dengan kutub


netral

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.1.8 berlaku kecuali untuk catatan mengenai pelepas arus lebih.

7.1.11 Tingkat proteksi dari perlengkapan terselungkup

Tingkat proteksi dari perlengkapan berselungkup dan uji yang relevan diberikan dalam
lampiran C dari SNI 04-6282.1.

7.2 Persyaratan kinerja

7.2.1 Kondisi operasi

7.2.1.1 Umum

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.2.1.1 berlaku dengan tambahan berikut.

Persyaratan berikut berlaku pada sakelar bersekering, pemisah bersekering dan pemisah
sakelar bersekering dengan kapasitas masuk hubung pendek pengenal yang melebihi 10
kA yang operasi penutupannya adalah dengan operasi manual langsung tanpa mekanisme
antara (operasi manual dependen dan independen lihat 2.11 dan 2.13).

Kecepatan uji untuk operasi masuk yang ditentukan dalam 8.3.6.2 harus ditentukan
sebagai berikut.

a) Perlengkapan harus dioperasikan 15 kali secara manual pada kondisi tanpa beban
menurut petunjuk pabrikan, 3 orang masing-masing lima kali. Kecepatan penggerak
yang digerakkan dengan tangan pada saat penutupan kontak dari penutupan kontak
yang terakhir harus ditentukan dengan sarana osilograf atau sarana yang sesuai pada
setiap bagian gawai yang mudah dicapai.

Titik tempat melakukan pengukuran dan kecepatan pada titik pengukuran harus
dinyatakan dalam laporan uji. Kecepatan rata-rata harus ditentukan setelah menghapus
nilai tertinggi dan yang terendah.

b) Aparatus uji harus memastikan bahwa perlengkapan yang sedang diuji tertutup
seluruhnya dan tidak terdapat penghalang terhadap gerakan penutupan gawai yang
bebas. Kecepatan uji yang sebenarnya tidak boleh melebihi kecepatan rata-rata yang
ditentukan menurut a).

Massa bagian yang bergerak dari radas uji (tanpa perlengkapan yang sedang diuji) harus
2 kg ± 10 %.

7.2.2 Kenaikan suhu

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.2.2 berlaku dengan tambahan berikut.

Dalam urutan uji 1 unit sekering kombinasi, kenaikan suhu kontak sekering selama uji
menurut 8.3.3.1 tidak boleh menyebabkan adanya kerusakan yang bersifat mengganggu
kinerja berikutnya dari perlengkapan.

14 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

7.2.3 Sifat dielektrik

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.2.3 berlaku dengan tambahan berikut.

7.2.3.1 Tegangan ketahanan impuls

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.2.3 berlaku dengan tambahan berikut.

Jarak bebas diantara kontak yang terbuka dari gawai yang tidak sesuai untuk pemisahan
harus tahan terhadap tegangan uji yang diberikan dalam Tabel 12 dari SNI 04-6282.1,
sesuai terhadap tegangan ketahanan impuls pengenal.

7.2.3.2 Tegangan ketahanan frekuensi daya dari sirkit utama, bantu dan kontrol

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.2.3.2 c) berlaku dengan tambahan berikut.

Untuk perlengkapan yang sesuai untuk pemisahan, nilai maksimum arus bocor ditentukan
untuk semua urutan uji masing-masing dalam 8.3.3.5, 8.3.4.3, 8.3.5.4, 8.3.6.4 dan 8.3.7.3 .

7.2.4 Kemampuan untuk hubung dan putus pada kondisi tanpa beban, beban
normal dan beban lebih

7.2.4.1 Kapasitas penghubungan dan pemutusan

Kapasitas penghubungan dan pemutusan pengenal dinyatakan dengan acuan tegangan


operasi pengenal dan arus operasi pengenal dan katagori pemanfaatan menurut Tabel 3.

Kondisi uji ditentukan dalam 8.3.3.3.1.

Tabel 3 – Verifikasi untuk kapasitas penghubungan dan pemutusan pengenal


(lihat 8.3.3.3) – Kondisi untuk penghubungan dan pemutusan berkaitan dengan
berbagai katagori pemanfaatan

Katagori Katagori a) Pemutusan Jumlah


Penghubungan
pemanfaatan operasi siklus operasi
I/Ie U/Ue cos Ic/Ie U r/ U e cos
pengenal

b b Semua nilai - - - - - -
AC-20A – AC-20B
AC-21A – AC-21B Semua nilai 1,5 1,05 0,95 1,5 1,05 0,95 5
AC-22A – AC-22B Semua nilai 3 1,05 0,65 3 1,05 0,65 5
AC-23A – AC-23B 0<Ie 100 A 10 1,05 0,45 8 1,05 0,45 5
10 1,05 0,35 8 1,05 0,35 3
100A < Ie

b b Semua nilai - - - - - -
DC-20A – DC-20B
DC-21A – DC-21B Semua nilai 1,5 1,05 1 1,5 1,05 1 5
DC-22A – DC-22B Semua nilai 4 1,05 2,5 4 1,05 2,5 5
DC-23A – DC-23B Semua nilai 4 1,05 15 4 1,05 15 5

I = Arus penghubungan
Ic = Arus pemutusan
Ie = Arus operasi pengenal
U = Tegangan yang diterapkan
Ue = Tegangan operasi pengenal
Ur = Tegangan pulih frekuensi operasi atau tegangan pulih a.s.

a
Untuk a.b. arus penghubungan dinyatakan dalam nilai efektif komponen periodik dari arus
b
Penggunaan katagori pemanfaatan ini tidak diperbolehkan di Amerika Serikat

15 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

7.2.4.2 Kinerja operasi

Uji mengenai verifikasi kinerja operasi dari perlengkapan dimaksudkan untuk memverifikasi
bahwa perlengkapan mampu untuk penghubungan dan pemutusan, arus mengalir dalam
sirkit utama tanpa kegagalan untuk penggunaan yang dimaksudkan.

Jumlah siklus operasi dan parameter sirkit uji untuk uji kinerja operasi untuk berbagai
katagori pemanfaatan diberikan dalam Tabel 4 dan 5.

Kondisi uji ditentukan dalam 8.3.4.1.

Tabel 4 – Verifikasi kinerja operasi –


Jumlah siklus operasi berkaitan dengan arus operasi pengenal

1 2 3 4 5 6 7 8

Jumlah siklus operasi


Arus operasi Jumlah siklus
pengenal Ie operasi A.B. dan A.S. A.B. dan A.S.
per jam Katagori A Katagori B
Tanpa Dengan Tanpa Dengan
arus arus Jumlah arus arus Jumlah

0 < Ie 100 120 8 500 1 500 10 000 1 700 300 2 000

100 < Ie 315 120 7 000 1 000 8 000 1 400 200 1 600

315 < Ie 630 60 4 000 1 000 5 000 800 200 1 000

630 < Ie 2 500 20 2 500 500 3 000 500 100 600


2 500 < Ie 10 1 000 500 2 000 300 100 400

Nilai dalam tabel berlaku untuk katagori pemanfaatan kecuali AC-20A, AC-20B, DC-20A dan DC-20B. Katagori ini harus
sesuai dengan jumlah total siklus operasi dalam kolom 5 atau 8, tanpa arus kecuali beberapa kapasitas pemutusan dan
atau penghubungan dinyatakan (lihat catatan pada 4.3.5.2 dan 4.3.5.3). Kolom 2 memberikan laju operasi minimum.
Laju operasi untuk setiap katagori pemanfaatan dapat dinaikkan dengan persetujuan pabrikan.

Tabel 5 – Parameter sirkit uji untuk Tabel 4


a Pemutusan
Penghubungan
Katagori Nilai arus
pemanfaatan operasi
I/Ie U/Ue cos Ic/Ie U r/ U e cos
pengenal Ie

AC-21A AC-21B Semua nilai 1 1 0,95 1 1 0,95


AC-22A AC-22B Semua nilai 1 1 0.8 1 1 0.8
AC-23A AC-23B Semua nilai 1 1 0,65 1 1 0,65

I/Ie U/Ue L/R Ic/Ie U r/ U e L/R


mdet mdet

DC-21A DC-21B Semua nilai 1 1 1 1 1 1


DC-22A DC-22B Semua nilai 1 1 2 1 1 2
DC-23A DC-23B Semua nilai 1 1 7.5 1 1 7.5

I = Arus penghubungan
Ic = Arus pemutusan
Ie = Arus operasi pengenal
U = Tegangan sebelum penghubungan (tegangan yang diterapkan)
Ue = Tegangan operasi pengenal
Ur = Tegangan pulih frekuensi operasi atau tegangan pulih a.s.
a
Untuk a.b., arus penghubungan dinyatakan dalam nilai efektif komponen periodik dari arus.

16 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

7.2.4.3 Keawetan mekanis

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.2.4.3.1 berlaku. Kondisi uji ditentukan dalam 8.5.1.

7.2.4.4 Keawetan listrik

SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.2.4.3.2 berlaku. Kondisi uji ditentukan dalam 8.5.2.

7.2.5 Kemampuan untuk hubung, putus atau menahan arus hubung pendek

Perlengkapan harus dikonstruksi sedemikian sehingga mampu untuk menahan, pada


kondisi yang ditentukan dalam standar ini, stress termal, dinamik dan listrik yang
disebabkan oleh arus hubung pendek.

Arus hubung pendek dapat dialami selama penghubungan arus, pengaliran arus dalam
posisi tutup dan pemutusan arus.

Kemampuan perlengkapan untuk menghubungkan, mengalirkan dan memutuskan arus


hubung pendek dinyatakan dengan besaran dari satu atau lebih dari pengenal berikut.

a) Arus ketahanan waktu singkat pengenal (lihat 4.3.6.1).


b) Kapasitas penghubungan hubung pendek pengenal (lihat 4.3.6.2).
c) Arus hubung pendek yang disyaratkan pengenal (lihat 4.3.6.4).

7.2.6 Kosong

7.2.7 Persyaratan kinerja tambahan untuk perlengkapan yang sesuai untuk


pemisahan

Persyaratan ini hanya berlaku pada perlengkapan dengan tegangan operasi pengenal yang
lebih besar dari 50 V.

Dengan perlengkapan dalam kondisi baru dan kontaknya pada posisi buka perlengkapan
harus tahan terhadap uji dielektrik 8.3.3.2.

Jika uji menurut 8.3.3.3 dan 8.3.4.1 telah dilakukan, perlengkapan pada kondisi setelah uji
harus memenuhi persyaratan arus bocor 8.3.3.5.

7.2.8 Kosong

7.2.9 Persyaratan beban lebih untuk perlengkapan yang dilengkapi sekering

Sirkit utama perlengkapan harus mampu mengalirkan arus beban lebih menurut 8.3.7.1
dan tidak boleh menyebabkan adanya kerusakan yang bersifat mengganggu kinerja
berikutnya dari perlengkapan dalam urutan uji V.

7.3 Kesesuaian elektromagnetik

7.3.1 Kosong

7.3.2 Imunitas

17 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

7.3.2.1 Perlengkapan yang tidak dilengkapi sirkit elektronik

Perlengkapan dalam ruang lingkup SNI 04-6282.3 yang tidak dilengkapi sirkit elektronik
tidak peka terhadap gangguan elektromagnetik dalam kondisi pelayanan normal dan sebab
itu tidak diperlukan uji imunitas.
7.3.2.2 Perlengkapan yang dilengkapi sirkit elektronik

Perlengkapan yang dilengkapi dengan sirkit elektromagnetik (misalnya indicator putusnya


sekering elektronik) harus mempunyai imunitas yang memuaskan terhadap gangguan
elektromagnetik (lihat 8.4.1.2).

Tabel 6 - Uji imunitas

Jenis uji Imunitas Standar dasar yang dapat Tingkat kekerasan yang
diterapkan disyaratkan
Luahan elektrostatik IEC 61000-4-2 Luahan udara 8 kV atau
luahan kontak 4 kV
Medan elektromagnetik IEC 61000-4-3 10 V/m
Transien cepat/ pecah(burst) IEC 61000-4-4 2 kV
Surja IEC 61000-4-5 2 kV ((cara yang biasa)
1 kV (cara difrensial)
Gangguan yang disalurkan IEC 61000-4-6 10 V
disebabkan oleh medan RF

CATATAN Penyearah sederhana tidak peka terhadap gangguan elektromagnetik dalam kondisi layanan normal
dan sebab itu tidak memerlukan uji Imunitas.

7.3.3 Emisi

7.3.3.1 Perlengkapan yang tidak dilengkapi sirkit elektronik

Untuk perlengkapan yang tidak dilengkapi sirkit elektronik, gangguan elektromagnetik


hanya dapat dibangkitkan selama operasi putus-hubung sewaktu-waktu. Durasi gangguan
dalam milidetik.

Frekuensi, tingkat dan akibat dari emisi ini dianggap sebagai bagian dari lingkungan
elektromagnetik normal pada instalasi tegangan rendah.

Sebagai hasilnya, persyaratan terhadap emisi elektromagnetik dianggap memuaskan dan


tidak diperlukan verifikasi.

7.3.3.2 Perlengkapan yang dilengkapi sirkit elektronik

Perlengkapan yang dilengkapi sirkit elektronik (misalnya indikator putusnya sekering


elektronik) dapat membangkitkan gangguan elektromagnetik secara kontinu.

Emisi harus memenuhi persyaratan kelas A, kelompok 1 dari CISPR 11 atau kelas A dari
CISPR 22 (lihat 8.4.2.2).

18 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Tabel 7 – Batas emisi

Julat frekuensi d Standar


Port Batas
MHz
b a CISPR 11
Selungkup 30 hingga 230 30 dB ( V/m) mendekati puncak
c
diukur pada jarak 30 m

a 37 dB( V/m) mendekati puncak


230 hingga 1 000 c Kelas A – Kelompok 1
diukur pada jarak 30 m

Daya A.B. a 37 dB ( V/m) mendekati puncak


0,15 hingga 0,5 atau
66 dB ( V/m) rata-rata

73 dB ( V/m) mendekati puncak


a 60 dB ( V/m) rata-rata
0,5 hingga 5
CISPR 22
73 dB ( V) menyerupai puncak
a 60 dB ( V) rata-rata
5 hingga 30
kelas A

a
Batas yang lebih rendah harus diterapkan pada frekuensi transisi.
b
Hanya dapat diterapkan pada gawai putus-hubung mekanis yang dilengkapi bagian yang beroperaso pada
frekuensi yang lebih tinggi dari 9 kHz, misalnya mikro prosesor.
c
Dapat juga diukur pada jarak 10 m dengan menggunakan batas pada tabel itu dan dinaikkan 10 dB, atau pada jarak
3 m dengan menggunakan batas pada tabel itu dinaikkan 20 dB.
d
Batas ini telah disalin, tanpa perubahan, dari CISPR 11 dan CISPR 22.

Batas ini diberikan untuk gawai putus-hubung mekanis yang khusus digunakan dalam
lingkungan industri. Jika terdapat kesamaan penggunaan di luar lingkungan industri,
peringatan berikut harus tercantum dalam informasi yang diterbitkan pabrikan.

Perhatian

Ini adalah produk kelas A. Dalam lingkungan domestik, produk ini dapat
menimbulkan gangguan radio sehingga pengguna mungkin perlu untuk
mengambil tindakan yang sesuai.

Walaupun demikian, peringatan ini tidak perlu jika batas emisi kelas B yang diberikan
dalam CISPR 22, dipenuhi.

8 Uji

8.1 Jenis uji

8.1.1 Umum

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.1.1.

8.1.2 Uji jenis

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.1.1. Uji jenis diberikan dalam Tabel 9 dari standar ini.

8.1.3 Uji rutin

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.1.1. dengan tambahan berikut.

19 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

8.1.3.1 Umum

Uji berikut diterapkan:

- uji operasi mekanis (lihat 8.1.3.2);


- uji dielektrik (lihat 8.1.3.3).

CATATAN Jika, pada pemeriksaan bahan dan proses pabrikasi, keutuhan sifat dielektrik telah
terbukti, uji ini dapat diganti dengan uji sampel menurut rencana pengambilan sampel yang telah
diakui (lihat IEC 60410).

Walaupun demikian, operasi sakelar, pemisah, pemisah sakelar, atau unit sekering
kombinasi selama pabrikasi dan atau uji rutin lainnya dapat mengantikan uji di atas, dengan
syarat diterapkan kondisi yang sama dan jumlah operasi tidak kurang dari yang ditentukan.

8.1.3.2 Uji operasi mekanis

Uji harus dilakukan untuk memverifikasi operasi mekanis yang benar dari perlengkapan
dengan operasi lima penutupan dan pembukaan.

8.1.3.2 Uji dielektrik

Kondisi uji harus sesuai 8.3.3.4.2 2) dari SNI 04-6282.1, kecuali bahwa penggunaan kertas
logam tidak diperlukan. Nilai dari tegangan uji harus sesuai dengan Tabel 12A dari SNI 04-
6282.1. Durasi uji tidak boleh kurang dari 1 detik dan tegangan uji harus diterapkan
sebagai berikut:

- dengan perlengkapan pada posisi buka, antara setiap pasangan terminal yang secara
listrik saling terhubung ketika perlengkapan menutup;

- dengan perlengkapan dalam posisi tutup, antara setiap kutub dan kutub disebelahnya
dan antara setiap kutub dan rangka;

- untuk perlengkapan yang dilengkapi sirkit elektronik yang dihungkan ke kutub utama,
dengan perlengkapan dalam posisi buka, antara setiap kutub dan kutub disebelahnya
dan antara setiap kutub dan rangka, pada sisi masuk atau sisi keluar tergantung pada
posisi komponen elektronik.

Sebagai alternatif, sirkit elektronik boleh dilepas selama uji dielektrik.

8.1.4 Uji sampel

Uji pengambilan sampel untuk verifikasi jarak bebas menurut 8.3.3.4.3 dari SNI 04-6282.1
masih dipertimbangkan.

8.1.5 Uji khusus

Uji khusus (lihat SNI 04-6282.1 Sub ayat 2.6.4) ditentukan dalam 8.5.

8.2 Uji jenis untuk persyaratan konstruksi

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.2 dengan tambahan berikut.

8.2.4 Sifat mekanis terminal

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.2.4 dengan tambahan berikut.

20 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Jika perlengkapan didesain untuk dilengkapi dengan rancangan terminal yang berbeda, uji
harus dilakukan pada setiap rancangan.

8.2.5 Verfikasi kekuatan mekanisme penggerak dan posisi gawai indikasi

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.2.5 dengan tambahan berikut.

8.2.5.1 Kondisi perlengkapan untuk uji

Pengujian pada penggerak harus merupakan bagian dari urutan uji I (lihat 8.3.3 dan Tabel
11).

Jika terdapat jenis pengerak yang berbeda, atau tambahan ataupun integral, hanya satu
rancangan yang harus diuji selama uji I. Selanjutnya, yang mewakili sampel dari kasus
yang lebih kritis harus diuji menurut 8.3.3.7.

8.2.5.2 Metode uji

8.2.5.2.1 Operasi manual dependen dan independen

Gaya F yang perlu untuk pembukaan harus diukur terlebih dahulu dan gaya harus
dikenakan pada ujung penggerak.

Dengan perlengkapan dalam posisi tutup, kontak magun dan gerak dari kutub yang ujinya
dianggap paling berat harus tetap tertutup dengan sarana yang sesuai. Penggerak harus
dikenai gaya uji seperti ditentukan dalam Tabel 8 menurut jenisnya.

Gaya ini harus diterapkan tanpa kejutan terhadap penggerak pada arah untuk membuka
kontak selama periode 10 detik.

Arah gaya, seperti terlihat pada Gambar 1, harus dijaga selama uji.

Jika sarana penguncian dilengkapi untuk mengunci penggerak pada posisi buka sarana
pengunci ini harus tidak mungkin untuk mengunci penggerak dalam posisi ini saat gaya uji
sedang diterapkan.

8.2.5.2.2 Operasi daya dependen

Dengan perlengkapan dalam posisi tutup, kontak magun dan gerak dari kutub yang ujinya
dianggap paling berat harus dimagun bersama, misalnya dengan pengelasan.

Tegangan suplai ke operator daya harus diterapkan pada 110 % dari nilai pengenal normal
untuk mencoba membuka sistem kontak dari perlengkapan.

Tiga kali usaha harus dilakukan oleh operator daya untuk mengoperasikan perlengkapan
dengan selang waktu 5 menit. masing-masing selama periode 5 detik, kecuali gawai
proteksi yang berkaitan dari operator daya membatasi waktu hingga periode yang lebih
singkat.

Verifikasi harus dilakukan menurut 8.2.5.3.2.

CATATAN Di Kanada dan Amerika Serikat, gawai yang memenuhi persyaratan ini tidak dapat
diterima sebagai pemisahan sendiri.

21 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

8.2.5.2.3 Operasi daya independen

Dengan perlengkapan dalam posisi tutup, kontak magun dan gerak dari kutub yang ujinya
dianggap paling berat harus dimagun bersama, misalnya dengan pengelasan.

Energi yang tersimpan pada operator daya harus dilepas untuk usaha membuka sistem
kontak perlengkapan.

Tiga kali usaha harus dilakukan untuk mengoperasikan perlengkapan dengan melepas
energi yang tersimpan.

Verifikasi harus dilakukan menurut 8.2.5.3.2.

CATATAN Di Kanada dan Amerika Serikat, gawai yang memenuhi persyaratan ini tidak dapat
diterima sebagai pemisahan sendiri.

8.2.5.3 Kondisi perlengkapan selama dan setelah uji

8.2.5.3.1 Operasi manual dependen dan independen

Setelah uji dan ketika gaya uji tidak lagi diterapkan terhadap penggerak dengan penggerak
dibiarkan bebas, indikasi posisi buka tidak boleh salah.

Tabel 8 – Gaya uji penggerak

Jenis penggerak Gaya uji Gaya uji Gaya uji


minimum maksimum
N N

Tombol tekan (lihat gambar 1a) 3F 50 150


Dioperasikan satu jari (lihat gambar 1b) 3F 50 150
Dioperasikan dua jari (lihat gambar 1c) 3F 100 200
Dioperasikan satu tangan (lihat gambar 1d dan 1e) 3F 150 400
Dioperasikan dua tangan (lihat gambar 1f) 3F 200 600
Dioperasikan dua tangan (lihat gambar 1g) 3F 200 600

F adalah gaya operasi normal pada kondisi baru. Gaya uji harus 3F dengan nilai minimum dan
maksimum yang dinyatakan dan harus diterapkan seperti pada gambar 1.

8.2.5.3.2 Operasi daya dependen dan independen

Selama dan setelah uji, posisi buka tidak boleh diindikasikan oleh setiap sarana yang
tersedia dan perlengkapan tidak boleh memperlihatkan adanya kerusakan sedemikian
sehingga mengganggu operasi normal.

Jika perlengkapan dilengkapi dengan sarana penggembokan pada posisi buka, harus tidak
mungkin untuk mengunci perlengkapan selama uji.

22 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Gambar 1a Gambar 1b Gambar 1c Gambar 1d

Gambar 1e Gambar 1f Gambar 1g

Gambar 1 – Penggerak diterapkan gaya F

Tabel 9 – Daftar uji jenis yang diterapkan terhadap perlengkapan yang diberikan

Uji Sakelar Sakelar Sakelar Pemisah Pemisah Pemisah Sakelar Sakelar Sakelar
berse- sekering sekering berse- pemisah pemisah pemisah
kering kering sekering bersekering

Kenaikan suhu o o o o o o o o o

Verifikasi kenaikan suhu o o o o o o o o o

Sifat dielektrik o o o o o o o o o

Verifikasi dielektrik o o o o o o o o o

Arus bocor - - - o o o o o o

Kapasitar penghubungan o o o - - - o o o
dan pemutusan
(beban lebih)

Kinerja operasi o o o o o o o o o

Arus ketahanan waktu o - - o - - o - -


singkat pengenal

Kapasitas penghubungan o - - - - - o - -
hubung pendek pengenal

Arus hubung pendek o o o o o o o o o


bersyarat pengenal

Kekuatan mekanisme - - - o o o o o o
penggerak

Uji beban lebih - o o - o o - o o


o = Diuji
- = Tidak perlu diuji

23 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

8.3 Uji jenis kinerja

Uji jenis kinerja yang mungkin dikenakan pada perlengkapan menurut jenisnya
dicantumkan dalam Tabel 9.

8.3.1 Urutan uji

Uji jenis dikelompokkan bersama dalam sejumlah urutan seperti dalam Tabel 10.

Untuk setiap urutan, pengujian harus dilakukan menurut mutasi dalam daftar sesuai
dengan persyaratan sub ayat terkait, terlepas dari uji kenaikan suhu dan uji sifat dielektrik
dari urutan uji 1, yang boleh dilakukan pada sampel yang terpisah.

Tabel 10 – Skema keseluruhan dari urutan uji

Urutan Uji

Karakteristik kinerja umum f


Kenaikan suhu
(lihat 8.3.3 dan Tabel 11) f
Sifat dielektrik
a
Kapasitas penghubungan dan pemutusan
a
Verifikasi dielektrik
b
Arus bocor
a
Verifikasi kenaikan suhu
Kuat mekanisme penggerak

Kemampuan kinerja operasi Kinerja operasi


(lihat 8.3.4 dan Tabel 13) Verifikasi dielektrik
b
Arus bocor
Verifikasi kenaikan suhu
c
Kemampuan kinerja hubung pendek Arus ketahanan waktu singkat
(lihat 8.3.5 dan Tabel 14) e
Kapasitas penghubungan hubung pendek
Verifikasi dielektrik
b
Arus bocor
Verifikasi kenaikan suhu
c
Arus hubung pendek bersyarat Ketahanan hubung pendek dengan proteksi sekering
(lihat 8.3.6 dan Tabel 15) Penghubungan hubung pendek dengan proteksi sekering
Verifikasi dielektrik
b
Arus bocor
Verifikasi kenaikan suhu
d
Kemampuan kinerja beban lebih Uji beban lebih
(lihat 8.3.7 dan Tabel 16) Verifikasi dielektrik
b
Arus bocor
Verifikasi kenaikan suhu
a
Tidak diperlukan untuk pemisah (AC-20 atau DC-20) Lihat 4.3.5.2 dan 4.3.5.3.
b
Hanya diperlukan untuk perlengkapan yang sesuai untuk pemisahan tegangan pengenal yang lebih besar dari 50 V
c
Urutan uji III atau urutan uji IV dilakukan sesuai dengan pengenal yang dinyatakan pabrikan.
d
Tidak diperlukan untuk sakelar, pemisah dan sakelar pemisah
e
Tidak diterapkan untuk perlengkapan AC-20 atau DC-20
f
Boleh dilakukan di luar urutan, lihat 8.3.1

8.3.2 Kondisi umum pengujian

8.3.2.1 Aturan umum

SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.3.2.1 berlaku terhadap semua uji jenis yang dapat diterapkan.
Perlengkapan pada awal setiap urutan uji harus dalam kondisi baru dan bersih.

24 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Gaya yang diterapkan untuk setiap operasi buka tidak boleh lebih besar dari gaya uji yang
ditentukan dalam 8.2.5.2 dan harus diterapkan dengan cara yang sama tanpa kejutan.

Jika ada keragu-raguan mengenai operasi buka yang benar, tidak lebih dari tiga usaha
yang diperbolehkan untuk mengoperasikan perlengkapan ke posisi buka.

Untuk mengurangi pengujian yang berulang bagi perlengkapan dengan desain yang sama,
persyaratan uji berikut mungkin digunakan.

8.3.2.1.1 Uji yang disederhanakan untuk perlengkapan yang mempunyai desain


dasar yang sama

Ketika menyerahkan secara serempak sekelompok sakelar, pemisah, sakelar pemisah atau
unit sekering kombinasi dengan desain dasar yang sama, variasi berikut diizinkan dengan
syarat perlengkapan memenuhi semua syarat lainnya.

8.3.2.1.2 Persyaratan perlengkapan yang mempunyai desain dasar yang sama

Sakelar, pemisah, sakelar pemisah atau unit sekering kombinasi harus dievaluasi berkaitan
dengan kriteria berikut selama penentuan penerimaan sebagai desain dasar yang sama:

a) bahan, penyelesaian dan dimensi bagian yang mengalirkan arus harus identik, kecuali
untuk variasi desain terminal dan sarana untuk pemasangan sekering;
b) ukuran kontak, bahan, konfigurasi dan metode pemasangan adalah identik;
c) mekanisme operasi harus dari desain dasar yang sama, bahan dan karakteristik fisik
harus identik;
d) kecepatan penutupan dan pembukaan kontak mendekati sama;
e) bahan cetakan dan bahan insulasi harus identik;
f) metoda, bahan dan konstruksi dari semua gawai pemadam busur harus identik.

Variasi berikut juga diperbolehkan, dengan syarat digunakan prosedur uji yang
disederhanakan dalam 8.3.2.1.3:

g) katagori pemanfaatan dan tegangan operasi;


h) diterapkan untuk 50 Hz atau 60 Hz;
i) perlengkapan dengan tiga atau empat kutub (netral bersakelar atau tidak bersakelar),
dengan syarat Sub ayat 7.1.8 dapat diterapkan;
j) desain terminal sedemikian sehingga jarak bebas dan jarak rambat tidak berkurang
(lihat 7.1.3, 8.2.4 dan 8.3.3.2 dari standar ini dan 8.3.3.1 dari SNI 04-6282.1);
k) jenis penggerak yang berbeda, tambahan maupun integral, dengan syarat kekuatan
penggerak diverifikasi (lihat 8.2.5) pada setiap jenis penggerak, satu darinya diuji ketika
urutan uji I;
l) kontak sekering yang beralas sekering dari sakelar sekering, sekering pemisah dan
sakelar pemisah sekering dengan jenis sekering yang berbeda (sekering dilepas hanya
pada kondisi tanpa beban).

8.3.2.1.3 Prosedur uji yang disederhanakan

Prosedur uji yang disederhanakan harus digunakan.

a) Jika perlengkapan yang mempunyai desain dasar yang sama ditandai, yang
menyatakan lebih dari satu katagori pemanfaatan dan atau lebih dari satu tegangan
operasi, jumlah sampel uji boleh dikurangi, dengan syarat uji dilakukan pada kondisi
yang paling berat.

Untuk hubung pendek, penghubungan dan pemutusan, dan uji kinerja operasi, kondisi
dianggap lebih berat jika kondisi berikut dipenuhi secara serempak:

25 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

- tegangan pengenal operasi sama atau lebih tinggi;


- arus uji sama atau lebih tinggi;
- faktor daya sama atau lebih rendah;
- jumlah operasi sama atau lebih tinggi.

b) Uji yang dilakukan pada 50 Hz dianggap mencakup penerapan untuk 60 Hz dan


sebaliknya dengan pengecualian berikut:

- uji kenaikan suhu menurut 8.3.3.1 untuk gawai yang mempunyai arus lebih besar
dari 800 A;

CATATAN Dengan kesepakatan antara pabrikan dan pengguna, uji pada 50 Hz dapat
diterima untuk operasi pada 60 Hz dan sebaliknya untuk arus yang lebih besar dari 800 A.

- kenaikan suhu dan kinerja operasi dari relai dan pelepas (lihat 7.2.2 dan 7.2.2.6 dari
SNI 04-6282.1). Uji kenaikan suhu dari kumparan harus dilaksanakan untuk setiap
frekuensi, tetapi hanya satu yang termasuk dalam urutan uji yang relevan, dan jika
suplai yang terpisah bagi kumparan dan sirkit lainnya mungkin, dapat diterima
bahwa sirkit lain tetap disuplai pada 50 Hz.

c) Uji yang dilakukan pada gawai berkutub tiga dianggap mencakup juga gawai empat
kutub dengan kutub netral tanpa sakelar, dengan syarat uji kutub tunggal pada kutub
netral dilakukan menurut 8.3.3.3.4 dari SNI 04-6282.1.

Uji yang dilakukan pada gawai kutub empat bersakelar dianggap juga mencakup gawai
tiga kutub bersakelar dengan syarat semua kutub identik dan laju penghubungan dan
pemutusan dari kontak mendekati sama (hanya persyaratan 7.1.8 diterapkan mengenai
penutupan atau pembukaan kutub netral).

d) Uji dilakukan pada berbagai jenis kontak beralas sekering yang berbeda.
Jika sakelar sekering, pemisah sekering atau sakelar pemisah sekering didesain untuk
dilengkapi dengan berbagai jenis kontak beralas sekering, uji suhu menurut 8.3.3.1
harus dilakukan pada setiap jenis pada sekering dengan arus pengenal sekering
tertinggi yang berkaitan.
Jenis yang mempunyai kenaikan suhu maksimum diantara yang diuji arus maksimum
harus digunakan untuk uji pada urutan I, II dan V.
Urutan IV harus dilakukan pada setiap jenis kontak beralas sekering yang sarana
hubungan sekering bukan hubungan baut, pada arus hubung pendek bersyarat
pengenal terkait yang tertinggi, dan, jika berlainan, dengan jenis sekering yang
mempunyai energi melintas maksimum pada tegangan uji maksimum.

e) Uji dilakukan dengan rancangan terminal yang berbeda.


Jika perlengkapan didesain untuk dilengkapi dengan rancangan terminal yang berbeda,
persyaratan dan uji sesuai 8.3.3.1 dan 8.2.4 dari SNI 04-6282.1 harus dilakukan pada
setiap desain.
Jika perlengkapan mempunyai terminal untuk digunakan pada rel tusuk, uji menurut
8.3.3.1, 8.3.5.1 atau 8.3.6.2 1a), jika dapat diterapkan, harus dilakukan. Verifikasi
operasi tusuk harus dilakukan. Jumlah siklus operasi harus 50, siklus dimulai posisi
terhubung hingga posisi terlepas dan kembali ke posisi terhubungkan.

Pengujian dianggap memuaskan jika kondisi operasi radas tidak terganggu.

8.3.2.2 Jumlah uji

26 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.3.2.2

8.3.2.3 Evaluasi hasil uji

Perilaku perlengkapan selama pengujian dan kondisinya setelah pengujian ditentukan


dalam ayat uji yang sesuai.

8.3.2.4 Laporan uji

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.3.2.4

8.3.3 Urutan uji I: Karakteristik kinerja umum

Urutan uji ini berlaku untuk jenis perlengkapan yang tertera dalam Tabel 11 dan terdiri dari
uji menurut tabel tersebut.

8.3.3.1 Kenaikan suhu

SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.3.3.3 berlaku dengan tambahan berikut:

Uji harus dilakukan pada arus termal Ithe berselungkup konvensional (lihat 4.3.2.2 dari SNI
04-6282.1).

Unit sekering kombinasi harus dilengkapi dengan sekering yang mempunyai arus pengenal
yang sama dengan arus termal konvensional dari unit kombinasi.

Sekering harus mempunyai rugi daya yang tidak melebihi nilai maksimum yang ditentukan
oleh pabrikan perlengkapan.

CATATAN Pengujian dapat dilakukan dengan sekering “tiruan” dengan desain utama yang sama
yang ditentukan seperti sekering standar dan mempunyai daya.

Rincian sekering yang digunakan untuk uji, misalnya nama pabrikan dan acuannya, arus
pengenal, rugi daya sekering, dan kapasitas pemutusan, harus diberikan dalam laporan uji.
Uji jenis dengan sekering yang ditentukan dianggap mencakup penggunaan setiap
sekering lainnya yang mempunyai rugi daya, pada arus termal konvensional dari unit
kombinasi, tidak melebihi rugi daya sekering yang digunakan untuk uji.

27 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Tabel 11 – Urutan uji I: Karakteristik kinerja umum

Jenis perlengkapan dan perintah uji


Sakelar Pemisah Sakelar Sakelar
berseke- sekering, pemisah pemisah
Uji Sub Sampel
c Sakelar ring dan Pemisah dan sekering
ayat sakelar pemisah dan sakelar
No. sekering ber- pemisah
sekering bersekering

d
Kenaikan suhu 8.3.3.1 A,B,C,F 1 1 1 1 1 1
d
Sifat dielektrik 8.3.3.2 A,C,F 2 2 2 2 2 2

Kapasitas 8.3.3.3 A,D 3 3 a a 3 3


penghubungan
dan
pemutusan a a
8.3.3.4 A,D 4 4 4 4
Verifikasi dielekrik
8.3.3.5 A,D -- -- 3 3 5 5
b
Arus bocor
8.3.3.6 A,D 5 5 -- -- 6 6
Verifikasi
kenaikan suhu
8.3.3.7 A,E -- -- 4 4 7 7
Kekuatan mekanis
penggerak

a
Uji ini tidak perlu untuk pemisah (AC-20 atau DC-20). Lihat 4.3.5.2 dan 4.3.5.3.
b
Uji hanya disyaratkan untuk Ue yang lebih besar dari 50 V.

c
Hanya pengujian yang ditandai huruf yang sama harus diterapkan berurutan dengan sampel yang
diberikan: “A” adalah sampel dari desain yang paling umum, dipilih dari arus pengenal tertinggi Ie ,
dan jika dapat diterapkan, mempunyai kenaikan suhu maksimum menurut 8.3.2.1 3d).

Sampel lain jika dapat diterapkan:


“B” adalah sampel yang lain untuk uji 60 Hz, jika dapat diterapkan, menurut 8.3.2.1.3b);
“C” adalah sampel untuk setiap desain lain dari terminal yang diuji pada arus pengenal maksimum
yang berkaitan;
“D” adalah sampel untuk verifikasi sebanyak kombinasi dari Ue , Ie, tegangan pengenal a.b. atau a.s.,
yang harus diuji (lihat 8.3.2.1.3);
“E” adalah sampel ekstra yang ditentukan dalam 8.2.5.1 dan dapat merupakan sampel B, C atau D;
“F” adalah sampel dari setiap jenis dasar sekering dari unit sekering kombinasi sesuai dengan
8.3.2.1 3d).
d
Dapat dilakukan di luar urutan, lihat 8.3.1.

8.3.3.2 Uji sifat dielektrik

SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.3.3.4.1 berlaku dengan tambahan berikut.

Jika, dalam kesepakatan dengan pabrikan, gawai dilepas untuk uji menurut 8.3.3.4.1 3) c)
dari SNI 04-6282.1, laporan uji harus menyatakan gawai ini.

8.3.3.3 Kapasitas penghubungan dan pemutusan

28 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

8.3.3.3.1 Nilai dan kondisi uji

SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.3.3.5 berlaku mengenai perlengkapan yang dilengkapi dengan
kutub netral.

Nilai uji dinyatakan dalam 7.2.4.1, Tabel 3, menurut katagori pemanfaatan.

Jumlah siklus operasi hubung-putus yang dinyatakan harus dilakukan dengan selang waktu
antara siklus masuk buka 30 detik ± 10 detik kecuali bahwa untuk perlengkapan dengan
arus termal konvensional 400 A atau lebih, selang waktu dapat dinaikkan dengan
kesepakatan antara pabrikan dan pengguna dan selang waktu harus dinyatakan dalam
laporan uji.

Selama siklus operasi hubung-putus, perlengkapan hanya perlu tetap dalam posisi tutup
untuk periode yang cukup lama agar memungkinkan operasi putus-hubung diselesaikan
dan memungkinkan nilai arus yang harus dicapai dan bagian bergerak dari perlengkapan
beristirahat. Setelah siklus operasi, tegangan pulih harus dijaga selama paling sedikit 0,05
detik.

Untuk kemudahan uji, perlengkapan dengan katagori uji AC-23A dan AC-23B, siklus
operasi masuk putus dapat diganti, dengan kesepakatan pabrikan, dengan jumlah siklus
hubung pada 10 Ie dilanjutkan dengan jumlah siklus putus yang sama dengan 8 Ie.

Untuk a.b. faktor daya dari sirkit uji harus ditentukan menurut 8.3.4.1.3 dari SNI 04-6282.1.
Nilainya harus menurut Tabel 3.

Untuk a.s. konstanta waktu dari sirkit uji harus ditentukan menurut 8.3.4.1.4 dari SNI 04-
6282.1. Nilainya harus menurut Tabel 3.

Tegangan uji dan beban harus diterapkan pada terminal yang sesuai dari perlengkapan.
Untuk perlengkapan yang kontak geraknya tetap terhubung ke satu dari terminal jika
perlengkapan pada posisi buka, uji ini harus diulang dengan hubungan suplai dan beban
saling digantikan, kecuali terminal ditandai dengan khusus dan jelas untuk beban dan
suplai.

Dalam hal uji dilakukan pada unit sekering kombinasi, sekering dapat diganti dengan kawat
penghubung tembaga dengan dimensi dan massa secara listrik ekivalen dengan sekering
yang direkomendasikan oleh pabrikan

8.3.3.3.2 Sirkit uji

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.3.3.5.2.

8.3.3.3.3 Tegangan pulih transien

SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.3.3.5.3 berlaku hanya untuk katagori pemanfaatan AC-22 dan
AC-23. Untuk uji katagori pemanfaatan DC-22 dan DC-23 beban sirkit uji dapat diganti
dengan motor yang menghasilkan nilai arus dan nilai konstanta waktu ditentukan jika
disepakati antara pabrikan dan pengguna.

8.3.3.3.4 Kosong

8.3.3.3.5 Perilaku perlengkapan selama uji kapasitas penghubungan dan


pemutusan

29 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Perlengkapan harus bekerja maksimal selama uji di atas sedemikian sehingga tidak
membahayakan operator atau menyebabkan kerusakan pada perlengkapan di sekitarnya.

Tidak boleh terjadi busur api atau loncat denyar yang permanen antar kutub atau antara
kutub dan rangka dan tidak terjadi meleburnya sekering dalam sirkit deteksi.

Perlengkapan harus tetap dapat dioperasikan secara mekanis. Pengelasan kontak, yang
membuat seperti operasi pembukaan tidak bisa dilakukan dengan menggunakan sarana
pembukaan biasa, tidak diperbolehkan.

8.3.3.3.6 Kondisi perlengkapan sesudah uji kapasitas penghubungan dan


pemutusan

Harus dapat diperlihatkan segera setelah uji bahwa perlengkapan akan membuka dan
menutup dengan memuaskan selama operasi tutup/buka tanpa beban.

Operasi penutupan dianggap memuaskan jika operasi normal dari pegangan melalui
gerakan penuhnya akan menutup kontak dengan cukup agar perlengkapan mampu
mengalirkan arus operasi.

Setelah uji dan tanpa pemeliharaan perlengkapan harus memenuhi persyaratan 9.3.3.4.
Kontak harus pada kondisi yang sesuai untuk mengalirkan arus operasi pengenal tanpa
pemeliharaan dan harus sesuai dengan verifikasi kenaikan suhu 8.3.3.6.

Jika perlengkapan sesuai untuk pemisahan, perlengkapan harus sesuai dengan 8.3.3.5
dan 8.3.3.7.

8.3.3.4 Verifikasi dielektrik

Setelah pengujian menurut 8.3.3.3, harus dilakukan uji sesuai 8.3.3.4.1 4) dari SNI 04-
6282.1.

8.3.3.5 Arus bocor

Uji ini hanya dilakukan pada perlengkapan yang sesuai untuk pemisahan tegangan operasi
pengenal Ue yang lebih besar dari 50 V. Arus bocor harus diperiksa di antara celah kontak
dan dari setiap terminal ke rangka.

Nilai arus bocor dengan tegangan uji sama dengan 1,1 kali tegangan operasi pengenal dari
perlengkapan tidak boleh melebihi:
- 0,5 mA per kutub untuk perlengkapan dengan katagori pemanfaatan AC-20A, AC-20B,
DC-20A atau DC-20B;

- 2 mA per kutub untuk perlengkapan katagori pemanfaatan lain.

8.3.3.6 Verifikasi kenaikan suhu

Setelah uji menurut 8.3.3.3, kenaikan suhu dari terminal utama harus diperiksa menurut
8.3.3.1. Terminal tidak boleh melebihi kenaikan suhu 80 K pada arus operasi pengenal
untuk katagori pemanfaatan perlengkapan yang diuji.

8.3.3.7 Kuat mekanisme penggerak

Sub ayat 8.2.5 berlaku terhadap perlengkapan yang sesuai untuk pemisahan.
8.3.4 Urutan uji II : Kemampuan kinerja operasi

30 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Urutan uji ini berlaku terhadap jenis perlengkapan yang terdaftar dalam Tabel 13 dan terdiri
dari uji menurut tabel tersebut.

Pengujian dilakukan untuk verifikasi kesesuaian dengan 7.2.4.2.

Tabel 13 – Urutan uji II: Kemampuan kinerja operasi

Jenis perlengkapan dan perintah uji

Sakelar Sakelar Pemisah Pemisah Sakelar Sekering


Uji Sub c
Sampel berseke- sekering pemisah pemisah
ayat ring dan dan sakelar
No. sakelar pemisah dan
sekering bersekering pemisah
sakelar
bersekering

Kinerja 8.3.4.1 A,B 1 1 a a 1 1


operasi

Verfikasi 8.3.4.2 A,B 2 2 1 1 2 2


dielektrik
b
Arus bocor 8.3.4.3 A,B -- -- 2 2 3 3

Verifikasi 8.3.4.4 A,B 3 3 3 3 4 4


kenaikan suhu

a
Operasi pemutusan beban tidak diperlukan untuk katagori pemanfaatan AC-20 dan DC-20.
Lihat juga 4.3.5.2 dan 4.3.5.3 yang dapat diterapkan.
b
Uji hanya diperlukan untuk Ue yang lebih besar dari 50 V.
c
“A” adalah sampel dari desain yang paling umum, dipilih dari arus pengenal tertinggi Ie, dan jika
dapat diterapkan, mempunyai kenaikan suhu maksimum menurut 8.3.2.1. 3d)

“B” , jika dapat diterapkan, adalah sampel untuk verifikasi sebanyak kombinasi dari Ue, Ie,,tegangan
pengenal a.b atau a.s. yang akan diuji.

8.3.4.1 Uji kinerja operasi

8.3.4.1.1 Nilai uji dan kondisi

Nilai uji dinyatakan dalam Tabel 4 dan 5, menurut katagori pemanfaatan.

Selang waktu antara siklus operasi Tabel 4 dengan arus dan tanpa arus dan urutan
rangkaian uji harus dinyatakan dalam laporan uji.

Selama siklus operasi hubung-putus, perlengkapan hanya tetap pada posisi tutup untuk
periode yang cukup lama untuk memungkinkan operasi sakelar diselesaikan dan
memungkinkan nilai arus tercapai dan bagian yang bergerak dari perlengkapan menjadi
berhenti. Setelah setiap siklus operasi, tegangan pulih harus dijaga selama paling sedikit
0,05 detik.

Untuk a.b. faktor daya sirkit uji harus ditentukan menurut 8.3.4.1.3 dari SNI 04-6282.1.
Nilainya harus menurut Tabel 5.
Konstanta waktu untuk a.s. dari sirkit uji harus ditentukan menurut 8.3.4.1.4 SNI 04-6282.1.
Nilainya harus menurut Tabel 5.

31 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

8.3.4.1.2 Sirkit uji

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.3.3.5.2.

8.3.4.1.3 Tegangan pulih transien

Tidak perlu untuk menyetel tegangan pulih transien.

8.3.4.1.4 Tegangan lebih putus-hubung

Dalam pertimbangan.

8.3.4.1.5 Perilaku perlengkapan selama uji kinerja operasi

Perlengkapan harus berperilaku selama uji di atas sedemikian sehingga tidak membahaya-
kan operator atau menyebabkan kerusakan terhadap perlengkapan di sebelahnya.

Tidak boleh terdapat pembusuran yang permanen atau loncat denyar antar kutub atau
antara kutub dan rangka dan tidak terdapat meleburnya sekering putus dalam sirkit deteksi.

Perlengkapan harus tetap dapat dioperasikan secara mekanis. Pengelasan kontak,


sebagai akibat busur permanen atau loncat denyar sehingga mencegah operasi
pembukaan dengan menggunakan sarana operasi normal, tidak diperbolehkan.

Kerusakan sedikit pada mekanisme dan kontak diperbolehkan asalkan perlengkapan


berfungsi dengan benar.

8.3.4.1.6 Kondisi perlengkapan setelah uji kinerja operasi

Harus diperlihatkan segera setelah uji bahwa perlengkapan akan menutup dan membuka
dengan memuaskan selama operasi tutup/buka tanpa beban.

Operasi penutupan dianggap memuaskan jika operasi normal pada tuas melalui jalur
penuhnya akan menutup kontak dengan baik agar perlengkapan mampu untuk
mengalirkan arus operasi pengenalnya.

Setelah uji dan tanpa pemeliharaan, perlengkapan harus memenuhi persyaratan 8.3.4.2.

Kontak harus dalam kondisi yang sesuai untuk mengalirkan arus operasi pengenal tanpa
pemeliharaan dan harus sesuai dengan verifikasi kenaikan suhu dari 8.3.4.3.

Jika perlengkapan sesuai untuk pemisahan, perlengkapan harus sesuai dengan 8.3.4.3.

8.3.4.2 Verifikasi dielektrik

Berlaku Sub ayat 8.3.3.4.

8.3.4.3 Arus bocor

Berlaku Sub ayat 8.3.3.5.

8.3.4.4 Verifikasi kenaikan suhu

Berlaku Sub ayat 8.3.3.


8.3.5 Urutan uji III : Kemampuan kinerja hubung pendek

32 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Urutan uji ini berlaku untuk jenis perlengkapan yang terdaftar dalam Tabel 14 dan terdiri
dari uji menurut tabel tersebut.

Urutan uji tidak wajib jika nilai kapasitas penghubungan hubung pendek pengenal tidak
dinyatakan oleh pabrikan (lihat 8.3.5.2.1) dan dilakukan urutan uji IV (lihat 8.3.6).

Uji dilakukan untuk verifikasi kesesuaian dengan 7.2.5.

Tabel 14 – Urutan uji III: Kemampuan kinerja hubung pendek

Jenis perlengkapan dan urutan uji

Sakelar Sakelar Pemisah Pemisah Sakelar Pemisah


Uji Sub Sampel berse- sekering pemisah sekering
ayat d)
kering dan sakelar
No. dan pemisah dan
sakelar bersekering sakelar
sekering pemisah
bersekering

Arus ketahanan 8.3.5.1 A 1 1 1


waktu singkat

Kapasitas 8.3.5.2 A,B 2 Tidak -- Tidak 2 Tidak


penghubungan dapat dapat dapat
ab diterapkan diterapkan diterapkan
hubung pendek

Verifikasi dielektrik 8.3.5.3 A,B 3 2 3


c
Arus bocor 8.3.5.4 A,B -- 3 4

Verifikasi 8.3.5.5 A,B 4 4 5


kenaikan suhu

a
Urutan uji III tidak wajib jika dilakukan urutan uji IV.
b
Sakelar dan sakelar pemisah yang tidak mempunyai kapasitas penghubungan hubung pendek pengenal
(lihat 2.1) harus memenuhi persyaratan urutan uji IV (lihat Tabel 15).
c
Uji hanya disyaratkan untuk Ue yang lebih besar dari 50 V.
d
“A” adalah sampel dari rancangan yang paling umum, dipilih dari arus Icw tertinggi.
“B”, jika dapat diterapkan, adalah sampel untuk verifikasi kombinasi sebanyak mungkin dari
Ue , Icw atau Icm , tegangan pengenal a.b. atau a.s., yang akan diuji.

8.3.5.1 Uji arus ketahanan waktu singkat

8.3.5.1.1. Nilai uji dan kondisi

Kondisi uji berlaku 8.3.4.3 SNI 04-6282.1.

Arus uji harus merupakan arus ketahanan hubung pendek pengenal yang dinyatakan
menurut 4.3.6.1.

8.3.5.1.2 Sirkit uji

33 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.3.4.1.2.

Untuk a.b., faktor daya dari sirkit uji harus menurut 8.3.4.1.3 SNI 04-6282.1.

Untuk a.s., konstanta waktu dari sirkit uji harus sesuai dengan 8.3.4.1.4 dari SNI 04-6282.1.

8.3.5.1.3 Kalibrasi sirkit uji

Kalibrasi sirkit uji dilakukan dengan menempatkan penghubung sementara B dengan


impedans yang dapat diabaikan, sedekat mungkin terhadap terminal yang disediakan untuk
menghubungkan perlengkapan yang sedang diuji.

Untuk a.b. resistor R1 dan reaktor X diatur sehingga mendapatkan, pada tegangan yang
dikenakan, diperoleh arus yang sama dengan arus ketahanan waktu singkat pengenal
maupun faktor daya yang ditentukan dalam 8.3.4.1.3 SNI 04-6282.1.

Untu a.s. resistor R1 dan reaktor X diatur sehingga, pada tegangan yang dikenakan,
diperoleh arus dengan nilai maksimum yang sama dengan arus ketahanan waktu singkat
pengenal maupun konstanta waktu seperti dinyatakan dalm 8.3.4.1.4 SNI 04-6282.1.

8.3.5.1.4 Prosedur uji

Penghubung sementara B diganti dengan perlengkapan yang sedang diuji dan arus uji
dikenakan untuk waktu yang ditentukan dengan perlengkapan dalam posisi tutup.

8.3.5.1.5 Perilaku perlengkapan selama uji

Selama pengujian, perlengkapan harus tidak membahayakan operator atau menyebabkan


kerusakan perlengkapan di sebelahnya.

Tidak boleh terdapat pembusuran permanen atau loncat denyar anta kutub atau antara
kutub dengan rangka dan tidak ada sekering putus dalam sirkit deteksi.

Perlengkapan harus secara mekanis tetap dapat dioperasikan. Pengelasan kontak,


sebagai akibat busur permanen atau loncat denyar mencegah operasi pembukaan dengan
menggunakan sarana operasi normal, tidak diperbolehkan.

8.3.5.1.6 Kondisi perlengkapan setelah uji

Harus dapat diperlihatkan segera setelah uji bahwa perlengkapan akan membuka atau
menutup dengan memuaskan selama operasi tutup/buka tanpa beban.

Operasi penutupan dianggap memuaskan jika operasi normal pada tuas melalui jalur
penuhnya akan memasukkan kontak dengan cukup agar perlengkapan mampu untuk
mengalirkan arus operasi pengenal.

Setelah uji tanpa pemeliharaan perlengkapan berupa sakelar atau sakelar pemisah, maka
harus dikenakan uji kapasitas penghubungan hubung pendek, 8.3.5.2, seperti dinyatakan
dalam Tabel 14.

Jika perlengkapan sesuai untuk pemisahan, maka harus sesuai dengan verifikasi dielektrik
8.3.5.3 tanpa pemeliharaan.

Kontak pemisah harus dalam kondisi yang sesuai tanpa pemeliharaan untuk mengalirkan
arus operasi pengenal dan harus sesuai dengan kenaikan suhu dari 8.3.5.5.

34 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

8.3.5.2 Uji kapasitas penghubungan hubung pendek

8.3.5.2.1 Nilai uji dan kondisi

Uji harus dilakukan pada perlengkapan yang sama seperti untuk uji 8.3.5.1 tanpa adanya
pemeliharaan.

Arus uji harus ditentukan oleh pabrikan seperti dinyatakan dalam 4.3.6.2.

8.3.5.2.2 Sirkit uji

Berlaku Sub ayat 8.3.5.1.2.

8.3.5.2.3 Kalibrasi sirkit uji

Kalibrasi sirkit uji dilakukan dengan menempatkan penghubung sementara B dengan


impedans yang dapat diabaikan, sedekat mungkin terhadap terminal yang disediakan untuk
menghubungkan perlengkapan yang sedang diuji.

Tergantung apakah perlengkapan digunakan untuk a.b. atau a.s. kalibrasi dilakukan
sebagai berikut.

a) Untuk a.b.:
Uji harus dilakukan pada frekuensi pengenal dari perlengkapan
Arus prospektif harus dikenakan sekurang-kurannya 0,05 detik dan nilainya adalah nilai
efektif yang ditentukan dari rekaman kalibrasi. Nilai ini harus sama dengan atau lebih
tinggi dari nilai yang ditentukan pada sedikitnya satu kutub.
Nilai rata-rata dari semua fase harus sesuai dengan toleransi dalam 8.3.2.2 SNI 04-
6282.1.
Nilai puncak tertinggi arus prospektif selama siklus pertama tidak boleh kurang dari n
kali arus hubung pendek pengenal, nilai n seperti dinyatakan dalam kolom ketiga dari
Tabel 16, SNI 04-6282.1.

b) Untuk a.s.:
Arus harus dikenakan selama waktu yang ditentukan dan nilai rata-rata, yang
ditentukan dari rekaman, harus paling sedikit sama dengan nilai yang ditentukan.
Jika balai uji tidak mampu untuk melakukan uji ini pada a.s., uji boleh, jika disepakati
antara pabrikan dan pengguna, dilakukan pada a.b., asalkan tindakan yang sesuai
diambil, misalnya, nilai puncak arus tidak boleh melebihi arus yang diperbolehkan.

Untuk perlengkapan yang mempunyai arus pengenal yang sama untuk a.b. dan a.s., uji
a.b. harus diambil yang juga berlaku untuk pengenal a.s.

8.3.5.2.4 Prosedur uji

Penghubung sementara B diganti dengan perlengkapan yang sedang diuji dan


perlengkapan harus dimasukkan dua kali dengan selang waktu kira-kira 3 menit antara
operasi ini pada arus puncak prospektif yang tidak kurang dari kapasitas penghubungan
hubung pendek pengenal dari perlengkapan. Arus harus dijaga selama paling sedikit 0,05
detik.

Mekanisme penutupan harus dioperasikan sehingga sedekat mungkin mensimulasikan


kondisi pelayanan.

35 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

8.3.6.2.5 Perilaku perlengkapan selama pengujian

Perlengkapan harus berperilaku selama uji di atas dalam cara sedemikian sehingga tidak
membahayakan operator atau menyebabkan kerusakan pada sirkit deteksi di sebelahnya.

Tidak boleh ada pembusuran yang permanen atau loncat denyar antar kutub dan antara
kutub dengan rangka dan tidak ada sekering putus dalam sirkit deteksi.

Perlengkapan harus secara mekanis dapat dioperaikan. Pengelasan kontak, sebagai akibat
busur permanen atau loncat denyar sehingga mencegah operasi pembukaan dengan
menggunakan sarana normal, tidak diperbolehkan.

8.3.6.2.6 Kondisi perlengkapan setelah pengujian

Harus dapat diperlihatkan segera setelah uji bahwa perlengkapan akan membuka dan
menutup dengan memuaskan selama operasi buka/tutup tanpa beban.

Operasi penutupan dianggap memuaskan jika operasi normal dari tuas melalui jalur
penuhnya akan menutup kontak dengan cukup sehingga perlengkapan mampu mengalir-
kan arus operasi pengenal.

Setelah uji dan tanpa pemeliharaan perlengkapan harus sesuai dengan verifikasi dielektrik
8.3.5.3.

Kontak harus pada kondisi yang sesuai tanpa pemeliharaan untuk mengalirkan arus
operasi pengenal tertinggi dan sesuai dengan verifikasi kenaikan suhu 8.3.5.5.

8.3.5.3 Verifikasi dielektrik

Berlaku Sub ayat 8.3.3.4.

8.3.5.4 Arus bocor

Berlaku Sub ayat 8.3.3.5, kecuali bahwa nilai maksimum dari arus bocor tidak boleh
melebihi 2 mA per kutub untuk semua katagori pemanfaatan.

8.3.5.5 Verifikasi kenaikan suhu

Berlaku Sub ayat 8.3.3.6.

8.3.6 Urutan uji IV: Arus hubung pendek bersyarat

Urutan uji ini berlaku untuk jenis perlengkapan yang terdaftar dalam Tabel 15 dan terdiri
dari uji menurut tabel tersebut.

Urutan uji tidak wajib jika nilai arus hubung pendek bersyarat pengenal tidak dinyatakan
oleh pabrikan dan urutan uji III (lihat 8.3.5) dilakukan.

Untuk sakelar, pemisah dan sakelar pemisah gawai proteksi hubung pendek dari
perlengkapan dapat merupakan pemutus sirkit atau sekering dan harus dipasang pada sisi
beban dari perlengkapan yang sedang diuji.

Jenis pemutus sirkit atau sekering harus yang ditentukan oleh pabrikan sesuai untuk
perlengkapan.

36 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Rincian gawai proteksi yang digunakan untuk uji, misalnya nama pabrikan, penandaan
jenis, tegangan pengenal, arus dan kapasitas pemutusan hubung pendek harus diberikan
dalam laporan uji.

Uji jenis dengan gawai proteksi yang ditentukan, harus mencakup penggunaan dari setiap
gawai proteksi yang lain yang mempunyai integral Joule (I2t ) dan arus pemutusan pada
tegangan pengenal, arus prospektif dan faktor daya yang tidak melebihi nilai yang
ditentukan untuk jenis gawai proteksi yang digunakan untuk uji.

Uji dilakukan untuk verifikasi kesesuaian dengan 7.2.5.

8.3.6.1 Ketahanan hubung pendek dengan proteksi pemutus sirkit

Dalam pertimbangan.

8.3.6.2 Ketahanan hubung pendek diproteksi dengan sekering

8.3.6.2.1 Nilai uji dan kondisi

Sekering harus dari jenis arus maksimum pengenal dan kapasitas pemutusan pengenal
yang dinyatakan sesuai oleh pabrikan untuk digunakan dengan perlengkapan.

Uji harus dilakukan sebagai berikut.

a) Uji ketahanan
Arus prospektif berkaitan dengan arus hubung pendek bersyarat pengenal yang
dinyatakan pabrikan harus digunakan dengan perlengkapan dalam posisi tutup.

b) Uji hubung
Setelah uji ketahanan sesuai butir a), semua perlengkapan menurut Tabel 15 harus
dilengkapi dengan sekering yang baru dengan nilai yang mendekati arus hubung
pendek bersyarat pengenal.

37 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Tabel 15 – Urutan uji IV: Arus hubung pendek bersyarat

Jenis perlengkapan dan perintah uji

a) Sakelar Pemisah Sekering Sakelar Pemisah


Sakelar
c)
Uji Sub ayat Sampel berseke- pemisah pemisaha) sekering
No. ring dan dan sakelar
sakelar pemisah dan
sekering berse- sakelar
kering pemisah
berse-
kering

Ketahanan a) A,B 1 1 1 1 1 1
8.3.6.2.1
hubung pendek
diproteksi
sekering
b)
8.3.6.2.1
Penghubung A,B 2 2 -- -- 2 2
hubung pendek
diproteksi
sekering
8.3.6.3
Verifikasi A,B 3 3 2 2 3 3
dielektrik
8.3.6.4
b) A,B
Arus bocor 8.3.6.5.
-- -- 3 3 4 4
Verivikasi
kenaikan suhu A,B 4 4 4 4 5 5

a
Urutan uji IV tidak wajib jika dilakukan urutan uji III (lihat Tabel 14)..
b
Uji hanya diperlukan untuk Ue yang lebih besar dari 50 V.

c “A” adalah sampel dari rancangan yang paling umum, dipilih dari arus huhung pendek bersyarat
pengenal tertinggi, atau jika dapat diterapkan, “A” adalah sampel dari setiap jenis menurut 8.3.2.1.3d).
“B”, jika dapat diterapkan, adalah sampel untuk verifikasi kombinasi sebanyak mungkin dari Ue , Iq,
tegangan pengenal a.b. atau a.s yang akan diuji.

8.3.6.2.2 Sirkit uji

Berlaku Sub ayat 8.3.5.1.2.

8.3.6.2.3 Kalibrasi sirkit uji

Berlaku Sub ayat 8.3.5.2.3.

8.3.6.2.4 Prosedur uji

Untuk sakelar sekering, pemisah sekering dan sakelar pemisah bersekering, mekanisme
penutupan harus dioperasikan menurut 7.2.1.1.

Penghubung sementara diganti dengan perlengkapan yang sedang diuji dan arus uji
dikenakan menurut 8.3.6.2.1.

Tegangan pulih harus dijaga selama paling sedikit 0,05 detik setelah arus uji diputuskan
oleh sekering.

38 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

8.3.6.2.5 Perilaku perlengkapan selama pengujian

Berlaku Sub ayat 8.3.5.2.5.

8.3.6.2.6 Kondisi perlengkapan setelah pengujian

Berlaku Sub ayat 8.3.5.2.6.

8.3.6.3 Verifikasi dielektrik

Berlaku Sub ayat 8.3.3.4.

8.3.6.4 Arus bocor

Berlaku Sub ayat 8.3.5.4.

8.3.6.5 Verifikasi kenaikan suhu

Berlaku Sub ayat 8.3.3.6.

8.3.7 Urutan uji V: Kemampuan kinerja beban lebih

Urutan uji ini berlaku untuk jenis perlengkapan yang terdaftar dalam Tabel 16 dan terdiri
dari uji menurut tabel tersebut.

8.3.7.1 Uji beban lebih

Perlengkapan terlebih dahulu harus diatur suhunya pada suhu ruangan. Arus uji adalah 1,6
Ithe atau 1,6 Ith (lihat 4.3.3.2 dari SNI 04-6282.1) untuk periode 1 jam, atau hingga satu
sekering atau lebih putus.

Sub ayat 8.3.3.1 berlaku dengan pengecualian jika tidak ada pengukuran suhu.

Dalam 3 menit setelah sekering beroperasi, perlengkapan harus dioperasikan satu kali,
misalnya buka dan tutup. Perlengkapan tidak boleh memperlihatkan kerusakan yang
menghalangi operasi tersebut.

Durasi waktu uji beban lebih harus diukur dan dicantumkan dalam laporan uji.

8.3.7.2 Verifikasi dielekrik

Berlaku Sub ayat 8.3.3.4.

8.3.7.3 Arus bocor

Berlaku Sub ayat 8.3.3.5.

8.3.7.4 Verifikasi kenaikan suhu

Berlaku Sub ayat 8.3.3.5 dengan tambahan berikut.

Sekering yang menjadi menua selama uji beban lebih menurut 8.3.7.1 harus diganti
dengan sekering baru dari jenis dan pengenal yang sama.

39 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Tabel 16 – Urutan uji V: Kemampuan kinerja beban lebih

Jenis perlengkapan dan urutan uji


Sakelar Pemisah sekering Sekering
Uji Sub ayat Sampelb bersekering dan dan sakelar pemisah
No. sakelar sekering pemisah dan
bersekering sakelar pemisah
bersekering

Uji beban lebih 8.3.7.1 A 1 1 1

Verifikasi dielektrik 8.3.7.2 A 2 2 2


a
Arus bocor 8.3.7.3 A -- 3 3

Verifikasi kenaikan suhu 8.3.7.4 A 3 4 4

a
Uji hanya diperlukan untuk Ue yang lebih besar dari 50 V.
b
“A” adalah sampel dari rancangan yang paling umum, dipilih dari arus pengenal tertinggi Ie , dan
jika dapat diterapkan, mempunyai kenaikan suhu maksimum menurut 8.3.2.1.3d).

8.4 Uji kompatibilitas elektromagnetik

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 8.4 dengan tambahan berikut.

Selama pengujian, kriteria kinerja berikut berlaku:

- pemisahan atau penutupan yang tidak disengaja dari kontak tidak boleh terjadi.

8.4.1 Imunitas

8.4.1.1 Perlengkapan yang tidak dilengkapi sirkit elektronik

Tidak diperlukan uji (lihat 7.3.2.1).

8.4.1.2 Perlengkapan yang dilengkapi sirkit elektronik

Berlaku persyaratan 7.3.2.2. Untuk verifikasi kesesuaian dengan persyaratan ini, uji yang
terdapat dalam Tabel 6 harus dilakukan.

8.4.2 Emisi

8.4.2.1 Perlengkapan yang tidak dilengkapi sirkit elektronik

Tidak diperlukan uji (lihat 7.3.3.1).

8.4.2.2 Perlengkapan yang dilengkapi sirkit elektronik

Berlaku persyaratan 7.3.3.2. Batas yang terdapat dalam Tabel 7 harus diverifikasi dengan
uji.

Pengukuran harus dilakukan dalam moda operasi, termasuk kondisi pembumian, yang
menghasilkan emisi tertinggi dalam pita frekuensi yang sedang diperiksa yang konsisten
dengan kondisi pelayanan normal (lihat ayat 6).

40 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Setiap pengukuran harus dilakukan pada kondisi yang ditentukan dan pada kondisi yang
dapat diulang.

8.5 Uji khusus

Daya tahan terhadap keausan mekanis dan atau elektris diperlihatkan oleh uji kinerja
operasi yang dirinci dalam 8.3.4.1.

Jika diperkirakan ada kondisi pelayanan abnormal (lihat juga catatan pada 7.2.4.3 SNI 04-
6282.1), uji berikut mungkin diperlukan:

8.5.1 Keawetan mekanis

Uji keawetan mekanis (lihat 7.2.4.3 dan 8.1.5), jika diperlukan, dilakukan menurut
persyaratan yang sesuai dari 8.3.4.1, kecuali untuk perlengkapan yang sesuai untuk
pemisahan, nilai maksimum arus bocor tidak boleh melebihi 6 mA per kutub untuk semua
katagori pemanfaatan.

Jumlah total siklus operasi harus seperti yang dinyatakan oleh pabrikan.

8.5.2 Keawetan elektris

Uji keawetan elektris (lihat 7.2.4.4 dan 8.1.5), jika diperlukan, dilakukan menurut
persyaratan yang sesuai dari 8.3.4.1, kecuali bahwa untuk perlengkapan yang sesuai untuk
pemisahan, nilai maksimum arus bocor tidak boleh melebihi 6 mA per kutub untuk katagori
pemanfaatan AC-21, AC-22, AC-23, DC-21, DC-22 dan DC-23.

Perlengkapan dengan katagori pemanfaatan AC-20A, AC-20B, DC-20A dan DC-20B tidak
dikenakan uji ini.

Jumlah total siklus operasi harus seperti yang dinyatakan oleh pabrikan.

41 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Lampiran A
(normatif)

Perlengkapan untuk putus-hubung langsung motor tunggal

Sakelar, sakelar pemisah dan unit sekering kombinasi yang secara normal untuk putus-
hubung langsung motor individual harus memenuhi persyaratan tambahan dari lampiran ini.
Persyaratan ini sama pentingnya seperti sub ayat yang sesuai dari SNI 04-6282.1 dan
perlengkapan yang sesuai dengan lampiran ini dapat dinyatakan dalam pelat nama
katagori pemanfaatan yang sesuai menurut Tabel A.1.

A.1 Tugas pengenal

Tugas pengenal tambahan yang dianggap sebagai standar adalah sebagai berikut.

A.1.1 Tugas periodik intermiten atau tugas intermiten

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.4.3 dengan tambahan berikut.

A.1.1.1 Kelas tugas intermiten

Menurut jumlah siklus operasi yang harus mampu dilakukan per jam, perlengkapan dibagi
dalam kelas berikut:

- Kelas 1: hingga 1 siklus operasi per jam,


- Kelas 3: hingga 3 siklus operasi per jam,
- Kelas 12: hingga 12 siklus operasi per jam,
- Kelas 30: hingga 30 siklus operasi per jam,
- Kelas 120: hingga 120 siklus operasi per jam.

A.1.2 Tugas sementara

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 4.3.4.4.

A.2 Kapasitas penghubungan dan pemutusan

Perlengkapan ditentukan oleh kapasitas penghubungan dan pemutusan, menurut katagori


pemanfaatan seperti yang ditentukan dalam Tabel A.2 (lihat A.3).

A.3 Katagori pemanfaatan

Katagori pemanfaatan seperti yang diberikan dalam A.1 dianggap sebagai standar dalam
lampiran ini. Setiap jenis katagori pemanfaatan lain harus berdasarkan pada kesepakatan
antara pabrikan dan pengguna tetapi keterangan yang diberikan dalam katalog pabrikan
atau pelelangan dapat menggantikan kesepakatan demikian.

Tiap katagori pemanfaatan dikelompokkan berdasarkan nilai arus dan tegangan, dinyata-
kan sebagai perkalian arus operasi pengenal dan dengan tegangan operasi pengenal, dan
dengan faktor daya atau konstanta waktu seperti terlihat dalam Tabel A.2 dan kondisi uji
lainnya yang digunakan dalam definisi dari kapasitas penghubungan dan pemutusan
pengenal.

Untuk perlengkapan yang dikelompokkan dengan katagori pemanfaatannya, tidak perlu


menentukan secara terpisah kapasitas penghubungan dan pemutusan pengenal oleh
karena nilai tersebut tergantung langsung pada katagori pemanfaatan seperti terlihat dalam
Tabel A.2.

42 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Katagori pemanfaatan Tabel A.2 dalam prinsip berkaitan dengan penerapan yang terdaftar
dalam Tabel A.1.

Tabel A.1 - Katagori pemanfaatan

Katagori Penerapan tipikal


pemanfaatan

AC-2 a
Motor slip-ring: pengasutan, plugging , dimatikan

AC AC-3 Motor sangkar: pengasutan, dimatikan motor selama berputar

AC-4 a
Motor sangkar: pengasutan, plugging , inching
b

a b
DC-3 Motor shunt: pengasutan, plugging , inching , pengereman dinamik
DC motor a.s
a b
DC-5 Motor seri: pengasutan, plugging , inching , pengereman dinamik
motor a.s

CATATAN Memutus atau menghubung sirkit rotor, kapasitor atau lampu pijar harus berdasarkan
kesepakatan antara pabrikan dan pengguna.

a
Plugging diartikan sebagai dengan sengaja menghentikan atau membalik putaran motor secara cepat
dengan membalik hubungan primer motor pada keadaan motor berputar.
b
Inching (jogging) diartikan sebagai dengan sengaja memberi tegangan pada motor sekali atau
berkali-kali untuk periode singkat untuk mendapatkan gerakan kecil pada mekanisme yang digerakkan

43 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Tabel A.2 – Kondisi kapsitas penghubungan dan pemutusan pengenal


berkaitan dengan beberapa katagori pemanfaatan
Kondisi hubung dan putus
Katagori Waktu hidup Waktu mati Jumlah
Ic/Ie Ur/Ue cos b
pemanfaatan detik detik siklus operasi

AC-2 4,0 1,05 0,65 0,05 c 50


e 8,0 1,05 a 0,05 c 50
AC-3
e 10,0 1,05 a 0,05 c 50
AC-4
L/R
mdetik
4,0 1,05 0,05 f
DC-3 2,5 c 50
4,0 1,05 15,0 0,05 c
50
f
DC-5
Kondisi hubung
Waktu hidup Waktu mati Jumlah
Katagori Ic/Ie Ur/Ue cos b detik siklus operasi
detik
pemanfaatan

AC-3 10 d a 0,05 10 50
1,05
AC-4 12 d a 0,05 10 50
1,05

I = Arus hubung. Arus hubung dinyatakan dalam a.s. atau a.b. nilai simetris efektif, tetapi dapat
dimengerti bahwa untuk a.b. nilai puncak dari arus asimetris yang berkaitan dengan faktor daya
dari sirkit tersebut dapat memperoleh nilai yang lebih tinggi.
Ic = .Arus hubung dan putus,dinyatakan dalam a.s. atau a.b. nilai simetris efektif.
Ie = Arus operasi pengenal
U = Tegangan yang dikenakan
Ur = Tegangan frekuensi daya atau tegangan pulih a.s.
Ue = Tegangan operasi pengenal
cos = Faktor daya dari sirkit uji
L/R = Konstanta waktu dari sirkit uji
a cos = 0,45 untuk Ie 100 A, 0,35 untuk Ie > 100 A.
b Waktu dapat kurang dari 0,05 detik asalkan kontak tepat berada ditempatnya sebelum dibuka kembali.
c Lihat Tabel A.3
d Untuk Ur/Ue toleransi ± 20 % dapat diterima
e Kondisi hubung harus juga diverifikasi tetapi boleh dikombinasikan dengan uji hubung dan putus jika disetujui
pabrikan. Perkalian arus penghubungan diperlihatkan sebagai I/Ie dan arus pemutusan diperlihatkan sebagai
Ic/Ie . Waktu mati diambil dari Tabel A.3.
f Dua puluh lima siklus operasi dengan satu polaritas dan dua puluh lima siklus operasi dengan polaritas
dibalik.

Tabel A.3 – Hubungan antara arus putus Ic dan waktu mati untuk verifikasi
kapasitas penghubungan dan pemutusan pengenal

Arus putus Ic Waktu mati


A detik
Ic 100 10
100 < Ic 200 20
200 < Ic 300 30
300 < Ic 400 40
400 < Ic 600 60
600 < Ic 800 80
800 < Ic 1 000 100
1 000 < Ic 1 300 140
1 300 < Ic 1 600 180
1 600 < Ic 240

Nilai dari waktu mati boleh dikurangi jika disetujui pabrikan.

44 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

A.4 Kinerja operasi

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.2.4.2 dengan tambahan berikut.

Perlengkapan harus mampu untuk menghubungkan dan memutuskan arus tanpa


kegagalan pada kondisi konvensional yang dinyatakan dalam Tabel A.4 untuk katagori
pemanfaatan yang disyaratkan dan jumlah operasi yang dinyatakan didalamnya.

Tabel A.4 - Kinerja operasi –


Kondisi untuk penghubungan dan pemutusan berkaitan dengan beberapa katagori
pemanfaatan

Kondisi hubung dan putus


Katagori Waktu Waktu Jumlah
pemanfaatan Ic/Ie Ur/Ue cos hidup mati siklus
b detik operasi
detik

AC-2 2,0 1,05 0,65 0,05 c 6 000


AC-3 2,0 1,05 a 0,05 c 6 000
AC-4 6,0 1,05 a 0,05 c 6 000
L/R
mdetik

DC-3 2,5 1,05 2,0 0,05 c d


6 000
DC-5 2,5 1,05 7,5 0,05 c fd
6 000

Ic = .Arus hubung atau putus. Arus penghubungan dinyatakan dalam a.s atau a.b nilai simetris efektif
tetapi dapat dipahami bahwa nilai aktual adalah nilai puncak yang berkaitan dengan faktor daya
sirkit.
Ie = Arus operasi pengenal
Ur = Tegangan frekuensi daya atau tegangan pulih a.s.
Ue = Tegangan operasi pengenal

a cos = 0,45 untuk Ie 100 A, 0,35 untuk Ie > 100 A.


b Waktu boleh kurang dari 0,05 detik asalkan kontak dapat berada menjadi mantap ditempatnya sebelum
dibuka kembali.
c Kondisi waktu mati tidak boleh lebih besar dari nilai yang ditentukan dalam Tabel A.3.
d 3 000 siklus operasi dengan satu polaritas dan 3 000 siklus operasi dengan polaritas dibalik

A.5 Keawetan mekanis

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.2.4.3.1 dengan tambahan berikut.

Jumlah siklus operasi yang disukai tanpa beban yang sebaiknya dipilih yang dinyatakan
dalam juta adalah

0,001 – 0,003 – 0,01 – 0,03 – 0,1 – 0,3 dan 1

Jika tidak dinyatakan daya tahan mekanis oleh pabrikan, kelas tugas intermiten berarti
daya tahan mekanis minimum dari siklus operasi yang berkaitan dengan 8 000 jam operasi
pada frekuensi tertinggi yang terkait.

A.6 Keawetan elektris

Berlaku SNI 04-6282.1 Sub ayat 7.2.4.3.2 dengan tambahan berikut.

Jumlah total siklus operasi tanpa beban harus dinyatakan oleh pabrikan.

45 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

A.7 Verifikasi kapasitas penghubungan dan pemutusan

Lihat 8.3.3.3 kecuali bahwa nilai uji harus menurut Tabel A.2 dan A.3.

A.8 Uji kinerja operasi

Lihat 8.3.4.1 kecuali kondisi uji harus menurut Tabel A.4.

A.9 Uji khusus

Daya tahan terhadap keausan mekanis dan atau elektris diperlihatkan oleh uji kinerja
operasi yang dirinci dalam A.8.

Jika diperkirakan ada kondisi layanan yang abnormal (lihat juga catatan 7.2.4.3 SNI 04-
6282.1) uji berikut mungkin diperlukan.

A.9.1 Uji keawetan mekanis

A.9.1.1 Kondisi perlengkapan untuk pengujian

Perlengkapan harus dipasang seperti dalam layanan normal; khususnya, konduktor harus
dihubungkan dengan cara yang sama seperti untuk penggunaan normal.

Selama uji tidak boleh ada tegangan atau arus dalam sirkit utama. Perlengkapan boleh
dilumasi sebelum uji jika pelumas ditetapkan dalam layanan normal.

A.9.1.2 Kondisi operasi

Perlengkapan harus dioperasikan seperti dalam layanan normal.

A.9.1.3 Prosedur uji

a) Uji dilakukan pada frekuensi operasi yang berkaitan dengan kelas tugas intermiten.
Walaupun demikian, jika pabrikan menganggap bahwa perlengkapan dapat memenuhi
kondisi yang disyaratkan jika menggunakan frekuensi yang lebih tinggi untuk operasi,
dapat dilakukan demikian.
b) Jumlah siklus operasi yang dilakukan tidak boleh kurang dari jumlah siklus operasi
tanpa beban yang dinyatakan oleh pabrikan.
c) Setelah setiap jumlah operasi yang ke sepuluh dilakukan, diperbolehkan sebelum
melakukan uji lanjut untuk
- membersihkan seluruh perlengkapan tanpa membongkar;
- melumasi bagian yang pelumasannya ditetapkan oleh pabrikan untuk layanan
normal;
- menyetel gerakan dan tekanan kontak jika rancangan perlengkapan memungkinkan
hal ini dilakukan.
d) Pekerjaan pemeliharaan ini tidak boleh mencakup penggantian bagian.

A.9.1.4 Hasil yang akan diperoleh

Sesudah uji untuk keawetan mekanis, perlengkapan harus masih mampu untuk memenuhi
kondisi operasi normal pada suhu ruang. Tidak boleh ada pengenduran bagian yang
digunakan untuk hubungan ke konduktor,

A.9.2 Uji keawetan elektris

Berkaitan dengan daya tahan terhadap keausan elektris, perlengkapan adalah, sesuai
kesepakatan, dikelompokkan dengan jumlah siklus operasi tanpa beban, menurut katagori

46 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

pemanfaatan yang berbeda yang diberikan dalam Tabel A.5 yang dapat dilakukan tanpa
perbaikan atau penggantian.

Dalam semua hal, kecepatan dan jumlah siklus operasi harus dipilih oleh pabrikan.

Pengujian harus dianggap berlaku jika nilai yang direkam dalam laporan uji berbeda
dengan nilai yang ditentukan hanya berada dalam toleransi yang dinyatakan dalam
8.3.2.2.2 SNI 04-6282.1.

Jika dapat diterapkan, pengujian harus dilakukan dengan perlengkapan pada kondisi yang
sesuai dari A.9.1.1 dan A.9.1.2 dengan menggunakan prosedur uji, A.9.1.3, kecuali
penggantian kontak tidak diperbolehkan.

Setelah pengujian, perlengkapan harus memenuhi kondisi operasi normal yang ditentukan
dalam 8.3.3.2 dan tahan terhadap tegangan uji dielektrik sebesar dua kali tegangan operasi
pengenal Ue, tetapi tidak kurang dari 900 V, hanya dikenakan seperti yang ditentukan
dalam 8.3.3.4.1 2) c) i) dan 8.3.3.4.1 2) c) ii) SNI 04-6282.1, dengan kontak utama tertutup.

Tabel A.5 – Verifikasi jumlah siklus operasi berbeban -


Kondisi penghubungan dan pemutusan berkaitan dengan beberapa katagori pemanfaatan

Katagori Nilai arus Hubung Putus


pemanfaatan operasi
a a a
pengenal I/Ie U/Ue cos Ic/Ie Ur/Ue cos

AC-2 Semua nilai 2,5 1 0,65 2,5 1 0,65

AC-3 Ie 17A 6 1 0,65 1 0,17 0,65


Ie > 17A 6 1 0,35 1 0,17 0,35

AC-4 Ie 17A 6 1 0,65 6 1 0,65


Ie > 17A 6 1 0,35 6 1 0,35

b b
I/Ie U/Ue L/R Ic/Ie Ur/Ue L/R
mdetik mdetik

DC-3 Semua nilai 2,5 1 2 2,5 1 2

DC-5 Semua nilai 2,5 1 7,5 2,5 1 7,5

Ie = Arus operasi pengenal


Ue = Tegangan operasi pengenal
I = Arus hubung. Dalam a.b. kondisi untuk penghubungan dinyatakan dalam nilai simetris efektif,
tetapi dapat dimengerti bahwa nilai puncak dari arus asimetris, berkaitan dengan faktor daya
sirkit, dapat memperoleh nilai yang lebih tinggi.
U = Tegangan yang dikenakan
Ur = Tegangan frekuensi daya dan tegangan pulih a.s.
Ic = Arus putus

a Toleransi untuk cos : ± 0,05.

b Toleransi untuk L/R : ± 15 %

47 dari 48
RSNI-1(60947-3(2001-05))

Lampiran B
(informatif)

Hal yang perlu kesepakatan antara pabrikan dan pengguna

CATATAN Untuk tujuan lampiran ini


- “kesepakatan” digunakan dalam pengertian yang sangat luas;
- “pengguna” mencakup balai pengujian

Berlaku Lampiran J dari SNI 04-6282.1 yang berkaitan dengan ayat dan sub ayat standar ini,
dengan tambahan berikut.

Nomor ayat atau sub ayat Hal


dari standar ini

4.4 Putus-hubung kapasitor atau lampu pijar

7.1.6.1 catatan Waktu operasi kontak bantu yang disediakan untuk silih kunci

7.2.4.2 dan Tabel 4 Menaikkan laju operasi untuk verifikasi kinerja operasi

8.3.3.3.1 Selang waktu yang lebih besar dari 30 detik ± 10 detik antara siklus
buka-tutup untuk kapasitas penghubungan dan pemutusan dari
perlengkapan dengan Ith > 400 A.

Untuk katagori AC-23A dan AC-23B uji kapasitas penghubungan dan


pemutusan dengan siklus hubung pada 10 Ie diikuti dengan jumlah yang
sama untuk siklus putus-hubung pada 8 Ie.

8.3.3.3.3 Verifikasi kapasitas penghubungan dan pemutusan untuk katagori


pemanfaatan DC-22 dan DC-23: penggantian beban sirkit uji dengan motor.

8.3.5.2.3 Kalibrasi sirkit uji a.b. untuk uji kapasitas penghubungan hubung pendek
dalam hal perlengkapan a.s.

Lampiran A Katagori pemanfaatan selain yang terdaftar dalam Tabel A.2.


A.3

Tabel A.1 Putus-hubung sirkit rotor, kapasitor atau lampu pijar.

48 dari 48