Está en la página 1de 5

Anamnesa:

Fakta Teori
RPD:  Epilepsi merupakan kejang yang tidak
Pasien terakhir mengalami kejang ± 2 tahun yll diprovokasi. Terjadi secara berulang ulang
pasien mengalami kejang sebanyak 1 kali dalam 24 jam.
selama 20 menit, pasien dibawa kerumah sakit  Terdapat 2 macam kejang epilepsy menurut
dan dirawat selama 3 hari. Kejang sudah mulai ILAE yakni kejang parsial (terdiri dari
timbul sejak umur pasien 1 tahun. Sejak umur kejang simple parsial, kejang parisal
pasien 1 tahun sampai sekarang, pasien sudah kompleks dan kejang tonik klonik
mengalami >5 kali yang lama kejangnya generelized sekunder) dan kejang umum
bervariasi dari 15 menit sampai 1 jam. Kejang (kejang absens, kejang tonik, kejang
sering terjadi tiba-tiba, pasien tiba-tiba klonik, kejang myoklonik, kejang tonik
terdiam, bengong dan tidak sadar. Setelah itu klonik generalized primer dan kejang
otot-otot tangan, kaki, badan, dan wajah atonik)
menjadi kaku dan timbul gerakan kejang pada Kejang Tonik-Klonik
tubuhnya. Kejang seluruh tubuh dengan posisi  Diawali dengan hilangnya kesadaran dan
badan lurus dan mata mendelik ke atas. Jika ia saat tonik, kaku umum pada otot
sedang memegang benda ketika kejang, maka ektremitas, batang tubuh, dan wajah, yang
benda tersebut akan terjatuh. Pasien tidak langsung kurang dari 1 menit.
mengeluarkan buih dari mulutnya. Kejang  Dapat disertai dengan hilangnya control
tidak didahului demam. Sebelum dan sesudah kandung kemih dan usus.
kejang pasien sadar.  Tidak adan respirasi dan sianosis
 Saat tonik diikuti dengan gerakan klonik
pada ekstremitas atas dan bawah.
 Penderita tidak memberikan respon
terhadap sekitarnya tetapi tidak terjatuh,
pingsan maupun menyentak-nyentak.
 Pasien segera sadar kembali setelah kejang.
Analisis
Pada kasus ini didapatkan hasil anamnesa yang sesuai dengan manifestasi klinik dari
epilepsi umum tipe tonik-klonik atau grand mal. Dimana diperoleh adanya penurunan kesadaran
disertai gerakan tonik maupun klonik dari anggota tubuh.
Bangkitan tonik-klonik (epilepsi grand mal) merupakan jenis bangkitan yang paling
dramatis, terjadi pada 10% populasi epilepsi. Terdiri atas 3 fase, yaitu fase tonik, fase klonik, dan
fase pasca keja. Fase tonik merupakan kontraksi otot yang kaku, menyebabkan ekstremitas
menetap dalam satu posisi. Biasanya terdapat deviasi bola mata dan kepala ke satu sisi, dapat
disertai rotasi seluruh batang tubuh. Wajah menjadi pucat kemudian merah dan kebiruan karena
tidak dapat bernafas. Mata terbuka atau tertutup, konjungtiva tidak sensitif, pupil dilatasi.
Sedangkan, fase klonik hanya terjadi kejang kelojot dan dijumpai terutama sekali pada anak.

Fakta Teori
Obat: Obat anti epileptic :
Asam Valproat syr 2x5 ml Sodium Valproate
Lamotrigine
Topiramate
Carbamazepine

Analisis
Jenis bangkitan OAE lini pertama OAE lini kedua OAE yang
dipertimbangkan
Bangkitan umum Sodium Valproate Clobazam Clonazepam
tonik-klonik Lamotrigine Levetiracetam Phenobarbital
Topiramate Oxcarbazepine Phenytoin
Carbamazepine Acetazolamide

Selain memberikan terapi farmakologis hendaknya orang tua pasien diberikan edukasi
mengenai epilepsi mengenai pengertian epilepsi, etiologi, lamanya gangguan kejang, efek samping
obat epilepsi, serta akibat sosial dan akademik. Orangtua harus didorong untuk mengobati anaknya
senormal mungkin. Pada kebanyakan anak dengan epilepsi, pembatasan aktifitas fisik tidak
diperlukan kecuali bahwa anak harus diikuti oleh orang dewasa yang bertanggung jawab
sementara anak sedang mandi dan berenang. Nasehat harus meliputi cara pertolongan pertama
yang digunakan jika kejang berulang. Untungnya, kebanyakan orangtua dan anak dengan mudah
menyesuaikan diri pada gangguan kejang dan pada kebutuhan antikonvulsan jangka panjang.
Kebanyakan anak dengan epilepsi yang terkendali baik dengan obat, mempunyai intelegensi
normal, dan dapat diharapkan mengarah pada kehidupan normal. Namun anak ini memerlukan
pemantauan yang cermat karena ketidakmampuan belajar adalah lazim pada anak dengan epilepsi
daripada pada populasi umum. Kerjasama dan pengertian pada orangtua, dokter, guru, dan anak
memperbesar harapan penderita dengan epilepsy
Tabel 3.4 Pemilihan obat antiepilepsi berdasarkan jenis bangkitan (Harsono. Buku Ajar Neurologi
Klinis. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press, 2005. 3 :119-145.)
Jenis OAE lini OAE lini kedua OAE yang OAE yang
bangkitan pertama dipertimbangkan dihindari
Bangkitan Sodium Clobazam Clonazepam
umum tonik Valproat Levetiracetam Phenobarbital
klonik Lamotrigine Oxcarbazepine Phenitoin
Topiramate Acetazolamide
Carbamazepine
Bangkitan lena Sodium valproat Clobazam Carbamazepine
Lamotrigine Topiramate Gabapentin
Oxcarbazepine
Bangkitan Sodium Clobazam Carbamazepine
mioklonik Valproat Topiramate Gabapentin
Topiramate Levetiracetam Oxcarbazepine
Lamotrigine
Piracetam
Bangkitan tonik Sodium valproat Clobazam Phenobarbital Carbamazepine
Lamotrigine Levetiracetam Phenytoin Oxcarbazepine
Topiramate
Bangkitan Sodium valproat Clobazam Phenobarbital Carbamazepine
atonik Lamotrigine Levetiracetam Acetazolamide Oxcarbazepine
Topiramate Phenytoin
Bangkitan fokal Carbamazepine Clobazam Clonazepam
dengan/tanpa Oxcarbazepine Gabapentin Phenobarbital
umum sekunder Sodium Levetiracetam Acetazolamide
valproate Phenytoin
Topiramate Tiagabine
Lamotrigine