Está en la página 1de 58

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KELUARGA PADA KELUARGA DENGAN


ANAK REMAJA

Dosen Pembimbing :
Faisal Ibnu, M. Kep
Disusun Oleh :

Kelompok 5
Kelas 3D / 6

Iga Imania (201601131)


Galuh Novia Putri (201601135)
Chandra Nur Khumairo (201601145)
Alif Nur Meyriska (201601147)

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN STIKES BINA SEHAT PPNI

MOJOKERTO

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas limpahan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas Keperawatan
Keluarga yang berjudul Asuhan Keperawatan Keluarga pada keluarga dengan
anak remaja dengan tepat waktu tanpa halangan apapun.
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas mata
kuliah Keperawatan Keluarga. Makalah ini tidak akan selesai tanpa adanya
bantuan dari berbagai pihak, untuk itu dalam kesempatan ini penulis
mengucapkan terima kasih kepada :
1. Dr. M. Sajidin, S.Kp., M.Kes selaku Ketua STIKes Bina Sehat PPNI.
2. Ana Zakiyah.M.Kep selaku Kepala Prodi Ilmu Keperawatan.
3. Faisal Ibnu, S.Kep,Ns.,M.Kep selaku Dosen Mata Kuliah Keperawatan
Keluarga.
4. Ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak, Ibu serta
keluraga dan teman-teman kelas 3D yang telah mendukung, mendorong
memberikan fasilitas kepada penulis sehingga terselesainya makalah
ini.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini masih banyak
kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran dari
semua pihak demi kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Penulis
berharap semoga Makalah ini dapat memberikan kontribusi yang positif bagi
perkembangan pendidikan khususnya keperawatan. Semoga Allah SWT
senantiasa meridhoi segala usaha kita, Amin.
Mojokerto, Mei 2019

Tim Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

bab I PENDAHULUAN ......................................................................................... 1

1.1 Latar belakang .......................................................................................... 1

1.2 Tujuan penulisan ...................................................................................... 2

bab II TINJAUAN TEORITIS ................................................................................ 3

2.1 Konsep Dasar Keperawatan Keluarga ...................................................... 3

2.2 Konsep Keperawatan Keluarga Dengan Tahap Perkembangan Anak Usia

Remaja .................................................................................................................... 9

2.3 Masalah-masalah kesehatan ................................................................... 17

2.4 Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Tahap Perkembangan Anak Usia

Remaja Secara Teoritis ......................................................................................... 19

bab III .................................................................................................................... 24

3.1 Kasus ..................................................................................................... 24

3.2 Asuhan Keperawatan Pada Keluarga Bp. S Pada Tahap Perkembangan

Keluarga Dengan Anak Usia Remaja ................................................................... 24

bab IV PENUTUP ................................................................................................. 52

4.1 Kesimpulan ............................................................................................. 52

4.2 Saran ...................................................................................................... 53


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Keluarga merupakan suatu kumpulan yang memiliki hubungan darah,

ikatan perkawinan,dan adopsi serta tinggal dalam satu rumah tangga, saling

berinteraksi satu sama lain dan saling ketergantungan. Dalam keluarga biasanya

terdiri dari orang tua yaitu ayah dan ibunya, serta anak-anaknya, dan masing-

masing individu memiliki perannya masing-masing.

Tantangan utama bagi keluarga dengan anak remaja meliputi perubahan

perkembangan yang dialami oleh remaja dalam batasan perubahan kognitif,

pembentukan identitas, dan pembentukan biologis, serta konflik-konflik dan krisis

yang didasarkan perkembangan. Ada tiga aspek proses perkembangan remaja

yang menyita banyak perhatian, yakni emasipasi (otonomi yang meningkat),

budaya orang muda (perkembangan hubungan teman sebaya), kesenjangan antara

generasi (perbedaan nilai-nilai dan norma-norma antara orang tua dan remaja).

Banyak masalah yang sering timbul pada keluarga dengan tahap

perkembangan anak remaja karena pada tahap ini, anak berusaha mencari identitas

diri, sehingga mereka sering membantah orang tuanya, karena mulai mempunyai

pendapat sendiri, cita-cita dan nilai-nilai sendiri yang berbeda dengan orang

tuanya. Orang yang dianggap penting pada usia ini adalah teman sebaya, mereka

berusaha untuk mengikuti pendapat dan gaya teman-temannya karena dianggap

memiliki kesamaan dengan dirinya, sehingga pada usia ini sering terlibat dalam

geng-geng. Masalah lain yang sering mengganggu anak remaja adalah masalah

1
yang berkaitan dengan organ reproduksi (seksual). Mereka memiliki dorongan

untuk pemuasan seksual. Oleh karena itu, para remaja mencari kepuasan dalam

bentuk khayalan, membaca buku atau menonton film porno.

Peran perawat dalam asuhan keperawatan keluarga dengan tahap anak

usia remaja adalah membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan

dengan cara meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas

perawatan kesehatan keluarga, sehingga keluarga dapat melakukan program

asuhan kesehatan secara mandiri, dan masalah yang timbul bisa teratasi.

1.2 Tujuan penulisan

1. Tujuan umum

Mahasiswa dapat memahami konsep dasar keluarga dengan tahap

perkembangan usia remaja dan asuhan keperawatan pada keluarga dengan tahap

perkembangan usia remaja

2. Tujuan khusus

Adapun tujuan khusus penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

a. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami konsep dasar keluarga dengan

tahap perkembangan usia remaja

b. Mahasiswa dapat mengetahui dan memahami asuhan keperawatan pada

keluarga dengan tahap perkembangan usia remaja

2
BAB II

TINJAUAN TEORITIS

2.1 Konsep Dasar Keperawatan Keluarga

1. Pengertian Keluarga

Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan

perkawinan, adaptasi, dan kelahiran yang bertujuan untuk menciptakan dan

mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental,

dan emosional serta sosial individu-individu yang ada didalamnya dilihat dari

interaksi yang reguler dan ditandai dengan adanya ketergantungan dan hubungan

untuk mencapai tujuan umum ( Duval 1972, dalam Ali 1999, hal. 4 ).

Keluarga adalah dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga dan

beberapa orang yang terkumpul dan tinggal disuatu tempat dibawah satu atap

dalam keadaan saling ketergantungan ( Departemen Kesehatan RI 1988, dalam

Ali 1999, hal. 5 ).

Keluarga adalah dua atau lebih individu yang bergabung karena hubungan

darah perkawinan dan adopsi dalam satu rumah tangga berinteraksi satu dengan

yang lainnya dalam peran dan menciptakan serta mempertahankan suatu budaya (

Bailon dan Magloya 1989, dalam Ali 1999, hal. 5 ).

2. Tipe Keluarga

a. Menurut Friedman (1986, dalam Ali, 1999, hal.8 ) terdapat delapan tipe

keluarga :

1) Nuclear family

3
Suatu keluarga yang terdiri dari orang tua dan anak yang masih menjadi

tanggungannya dan tinggal dalam satu rumah terpisah dari sanak keluarga

lainnya.

2) Extended family (keluarga besar)

yakni satu keluarga yang terdiri dari satu atau dua keluarga inti yang

tinggal dalam satu rumah dan saling menunjang satu sama lainnya.

3) Single parent family

Yakni satu keluarga yang dikepalai oleh satu kepala keluarga dan hidup

bersama dengan anak-anak yang masih bergantung padanya.

4) Nuclear dyatd

Yakni keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri tanpa anak, tinggal

dalam satu rumah yang sama.

5) Reconti tuened atau blended family

Yakni suatu keluarga yang terbentuk dari perkawinan pasangan yang

masing-masing pernah menikah dan masing-masing membawa anak hasil

perkawinan terdahulu.

6) Three generation family

Yakni keluarga yang terdiri dari tiga generasi yaitu kakek, nenek, bapak,

ibu, dan anak dalam satu rumah.

7) Single adult living alone

Yaitu bentuk keluarga yang hanya terdiri dari seorang dewasa yang hidup

dalam rumahnya.

8) Midle age atau ederly couple

4
Yakni keluarga yang terdiri dari sepasang suami istri usia pertengahan.

b. Marilyn M. Friedmen (1998, dalam Ali, 1999, hal.9 )

Tipe keluarga :

1) Keluarga inti (konjugal)

Adalah keluarga yang menikah sebagai orang tua, atau pemberi nafkah.

Keluarga inti terdiri dari suami, istri, dan anak (anak kandung, anak adopsi).

2) Keluarga orientasi (keluarga asal)

Adalah unit keluarga yang didalamnya seseorang dilahirkan.

3) Keluarga besar

Adalah keluarga inti dan orang-orang yang berhubungan (oleh darah),

yang paling lazim terjadi anggota keluarga, orientasi yaitu salah satu teman

keluarga inti, sanak keluarga, kakak, nenek, tante, paman dan sepupu

3. Tugas Keluarga Di Bidang Kesehatan

Sesuai dengan fungsi pemeliharaan kesehatan, keluarga mempunyai tugas di

bidang kesehatan yang perlu dipahami dan dilakukan meliputi (Suprajitno 2004,

hal 17 ):

a. Mengenal masalah kesehatan keluarga

Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan

karena tanpa kesehatan, segala sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah

kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu

mengenal keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang dialami anggota

keluarga. Perubahan sekecil apapun yang dialami anggota keluarga secara tidak

langsung menjadi perhatian orang tua/keluarga. Apabila menyadari adaanya

5
perubahan keluarga, perlu dicatat kapan terjadinya, perubahan apa yang terjadi,

dan seberapa besar perubahannya.

b. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga

Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari

pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan

siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk

menentukan tindakan keluarga. Tindakan keehatan yang dilakukan oleh keluarga

diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat dikurangi atau bahkan teratasi.

Jika keluarga mempunyai keterbatasan dapat meminta bantuan kepada orang

dilingkungan tinggal keluarga agar memperoleh bantuan.

c. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan

Sering kali keluarga telah mengambil tindakan yang tepat dan benar, tetapi

keluarga memiliki keterbatasan yang telah diketahui oleh keluarga sendiri. Jika

demikian, anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan perlu

memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan agar masalah yang lebih parah

tidak terjadi. Perawatan dapat dilakukan diinstitusi pelayanan kesehatan atau

dirumah apabila keluarga telah memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk

pertolongan pertama.

d. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan keluarga.

e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan disekitarnya bagi keluarga.

4. Fungsi Keluarga

Friedman (dalam Ali, 1999, hal.14) mengemukakan ada 5 fungsi keluarga

yaitu:

6
a. Fungsi afektif

Yaitu yang berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang merupakan

dasar kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan

kebutuhan psikososial. Anggota keluarga mengembangkan gambaran

dirinya yang positif, peranan yang dimiliki dengan baik dan penuh rasa

kasih sayang.

b. Fungsi sosialisasi

Yaitu proses perkembangan dan perubahan yang dimulai individu yang

menghasilkan interaksi sosial dan melaksanakan perannya dalam

lingkungan sosial.

c. Fungsi reproduksi

Yaitu fungsi untuk meneruskan kelangsungan keturunan dan menambah

sumber daya manusia.

d. Fungsi ekonomi

Yaitu fungsi memenuhi kebutuhan keluarga, seperti makanan, pakaian,

perumahan, dan lain-lain.

e. Fungsi perawatan keluarga

Yaitu keluarga menyediakan makanan, pakaian, pelindungan, dan

asuhan kesehatan/keperawatan. Kemampuan keluarga melakukan asuhan

keperawatan atau pemeliharaan kesehatan mempengaruhi status kesehatan

keluarga dan individu.

5. Peran Perawat Keluarga

7
Perawatan kesehatan keluarga adalah pelayanan kesehatan yang ditujukan

pada keluarga sebagai unti pelayanan untuk mewujudkan keluarga sehat. Fungsi

perawat membantu keluarga untuk menyelesaikan masalah kesehatan dengan cara

meningkatkan kesanggupan keluarga melakukan fungsi dan tugas perawatan

kesehatan keluarga.

Peran perawat dalam melakukan perawatan kesehatan keluarga adalah sebagai

berikut :

1. Pendidik

Perawat perlu melakukan pendidikan kesehatan kepada keluarga agar :

a. Keluarga dapat melakukan program asuhan kesehatan secara mandiri.

b. Bertanggung jawab terhadap masalah kesehatan keluarga

2. Koordinator

Koordinasi diperlukan pada perawatan agar pelayanan sskomperhensif

dapat dicapai. Koordianasi juga diperlukan untuk mengatur program kegiatan atau

terapi dari berbagai disiplin ilmu agar tidak terjadi tumpang tindih dan

pengulangan

3. Pelaksana

Perawat dapat memberikan perawatan langsung kepada klien dan keluarga

dengan menggunakan metode keperawatan.

4. Pengawas kesehatan

Sebagai pengawas kesehatan harus melaksanakan hime visit yang teratur

untuk mengidentifikasi dan melakukan pengkajian tentang kesehatan keluarga.

5. Konsultan

8
Perawat sebagai narasumber bagi keluarga dalam mengatasi masalah

kesehatan. Agar keluarga mau meminta nasehat kepada perawat, hubungan

perawat dan klien harus terbina dengan baik , kemampuan perawat dalam

menyampaikan informasi yang disampaikan secara terbuka dapat dipercaya

6. Kolaborasi

Bekerja sama dengan pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan anggota

tim kesehatan lain untuk mencapai kesehatan keluarga yang optimal.

7. Fasilisator

Membantu keluarga dalam menghadapi kendala seperti masalah sosial

ekonomi, sehingga perawat harus mengetahui sistem pelayanan kesehatan seperti

rujukan dan penggunaan dana sehat

8. Penemu kasus

Menemukan dan mengidentifikasi masalah secar dini di masyrakat

sehingga menghindari dari ledakan kasus atau wabah

9. Modifikasi lingkungan

Mampu mmemodifikasi lingkungan baik lingkungan rumah maupun

masyarakat agar tercipta lingkungan sehat.

2.2 Konsep Keperawatan Keluarga Dengan Tahap Perkembangan Anak Usia

Remaja

1. Pengertian

Ketika anak pertama melewati umur 13 tahun, tahap kelima dari siklus

kehidupan keluarga dimulai. Tahap ini berlangsung selama 6 hingga 7 tahun,

9
meskipun tahap ini dapat lebih singkat jika anak meninggalkan keluarga lebih

awal atau lebih lama jika anak masih tinggal dirumah hingga berumur 19 atau 20

tahun ( Friedman, 1998, hal. 124).

Dimulai saat anak pertama berusia 13 tahun dan berakhir saat anak berusia

19-20 tahun. Keluarga dengan anak remaja berada dalam posisi dilematis,

mengingat anak sudah mulai menurun perhatiannya terhadap orang tua

dibandingkan dengan teman sebayanya. Pada tahapan ini seringkali ditemukan

perbedaan pendapat antara orang tua dan anak remaja, apabila hal ini tidak

diselesaikan akan berdampak pada hubungan selanjutnya. ( diadaptasi dari Duval,

dalam Setiawati & Dermawan, 2008, hal. 20).

Tahap ini dimulai pada saat anak pertama berusia 13 tahun dan biasanya

berakhir sampai pada usia 19 sampai 20 tahun, pada saat anak meninggalkan

rumah orang tuanya. Tujuan keluarga adalah melepas anak remaja dan memberi

tanggung jawab serta kebebasan yang lebih besar untuk mempersiapkan diri

menjadi lebih dewasa ( Mubarak, 2009, hal. 89 ).

Berlangsung di usia 13-19 tahun (selama 6-7 tahun). Metamorfosis:

pergeseran yang luar biasa pada pola-pola hubungan antar generasi, pergeseran

dimulai dengan kematangan fisik remaja, sejalan dengan peran orangtua

memasuki pertengahan hidup (Preto, 1988, dalam perawatindonesia.org, 2010).

2. Peran, Tanggung Jawab, dan Masalah Orang Tua

Tidak perlu dikatakan bahwa orang tua mengasuh remaja merupakan tugas

paling sulit saat ini. Namun demikian, orang tua perlu tetap tegar menghadapi

ujian batas-batas yang tidak masuk akal tersebut, yang telah terbentuk dalam

10
keluarga ketika keluarga mengalami proses ”melepaskan”. Duvall (1977) juga

mengidentifikasi tugas-tugas perkembangan yang penting karena masa ini yang

menyelaraskan kebebasan dengan bertanggung jawab ketika remaja menjadi

matang dan mengatur diri mereka sendiri. Friedman (1957) juga mendefinisikan

bahwa tugas orang tua selama tahap ini adalah belajar menerima penolakan tanpa

meninggalkan anak ( Friedman, 1988, hal. 125 )

Ketika orang tua menerima remaja apa adanya, dengan segala kelemahan

dan kelebihan mereka, dan ketika mereka menerima sejumlah peran mereka pada

tahap perkembangan ini tanpa konflik atau sensitivitas yang tidak pantas, mereka

membentuk pola untuk semacam menerima diri yang sama. Hubungan antara

orang tua dan remaja seharusnya lebih mulus bila orang tua merasa produktif,

puas, dan dapat mengendalikan kehidupan mereka sendiri ( Kidwell et al, 1983)

dan orang tua/keluarga berfungsi secara fleksibel (Preto, 1988, dalam Friedman,

1988, hal. 125 ).

Schultz (1972) dan lain-lain telah mengungkapkan pandangan mereka bahwa

kompleksitas kehidupan mereka yang meningkat telah membuat peran orang tua

tidak jelas. Orang tua merasa berkompetensi dengan berbagai kekuatan sosial dan

institusi mulai dari otoritas sekolah dan konselor hingga keluarga berencana dan

seks pra nikah dan pilihan kumpul kebo. Faktor-faktor lain menambah pengaruh

mereka yang semakin berkurang tersebut. Karena adanya spesialisasi jabatan

profesi, orang tua tidak lagi bisa membantu anak-anak mereka dengan rencana-

rencana untuk bekerja. Mobilitas penduduk dan kurangnya hubungan orang

dewasa yang kontinu bagi remaja dan orang tua, selain ketidakmampuan banyak

11
orang tua untuk mendiskusikan masalah-maslah pribadi, seks, dan masalah-

masalah yang berkaitan dengan obat-obatan secara terbuka dan tidak menghakimi

bersama anak-anak mereka memberikan kontribusi pada masalah-masalah orang

tua-remaja ( Friedman, 1988, hal. 125 ).

3. Tugas Perkembangan Keluarga

Tugas perkembangan yang pertama dan utama adalah menyeimbangkan

kebebasan dengan tanggung jawab ketika remaja matur dan semakin mandiri.

Orang tua harus mengubah hubungan mereka dengan remaja putri atau putranya

secara progresif dari hubungan dependen yang dibentuk sebelumnya kearah suatu

hubungan yang makin mandiri. Pergeseran yang terjadi dalam hubungan anak dan

orang tua ini salah satu hubungan khas yang penuh dengan konflik-konflik

sepanjang jalan ( Friedman, 1998, hal. 126).

Agar keluarga dapat beradaptasi dengan sukses selama tahap ini, semua

anggota keluarga, khususnya orang tua, harus membuat “perubahan sistem” utama

yaitu, membentuk peran-peran dan norma-norma baru dan “membiarkan” remaja.

Kidwell dan kawan-kawan (1983) meringkas perubahan yang diperlukan ini

“secara paradoks sistem keluarga yang dapat membiarkan anggotanya adalah

sistem yang akan bertahan dan menghasil sistem itu sendiri secara efektif pada

generasi-generasi berikutnya” ( Friedman, 1998, hal. 126).

Orang tua yang dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka

sendiri, tidak membiarkan anak-anaknya, seringkali menemukan “revolusi”. Oleh

remaja bila perpisahan berlangsung kemudian. Orang tua dapat juga mempercayai

anak agar mandiri secara prematur, dengan menyampaikan kebutuhan-kebutuhan

12
ketergantungannya. Dalam hal ini remaja ini dapat gagal mencapai kemandirian

(Wright an Leahey, 1984, dalam Friedman, 1998, hal. 126).

Menyangkut tiga tahap terakhir, hubungan perkawinan juga merupakan

pusat perhatian. Tugas perkembangan keluarga yang kedua bagi pasangan suami

istri adalah memfokuskan kembali hubungan perkawinan (Willson, 1988). Banyak

sekali pasangan suami istri yang telah begitu terikat dengan berbagai tanggung

jawab sebagai orang tua sehingga perkawinan tidak lagi memainkan suatu peran

utama dalam kehidupan mereka. suami biasanya menghabiskan banyak waktu

diluar rumah, karena bekerja dan melanjutkan karirnya, sementara itu, istrinya

juga bekerja sementara mencoba meneruskan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga

dan tanggung jawab sebagai orang tua. Dalam situasi seperti ini, hanya tersisa

sedikit waktu dan energy untuk hubungan perkawinan ( Friedman, 1998, hal.

126).

Akan tetapi disisi lain, karena anak-anak lebih bertanggung jawab terhadap

mereka sendiri, pasangan suami istri meninggalkan rumah untuk meniti karir

mereka atau dapat menciptakan kesenangan-kesenangan perkawinan setelah

anaknya telah meninggalkan rumah (postparental). Mereka dapat mulai

membangun pondasi untuk tahap siklus kehidupan keluarga berikutnya (

Friedman, 1998, hal. 126).

Tugas perkembangan keluarga yang ketiga yang mendesak adalah untuk

para anggota keluarga, khususnya orang tua dan remaja, untuk berkomunikasi

secara terbuka. Karena adanya kesenjangan antara generasi, komunikasi terbuka

seringkali hanya merupakan suatu cita-cita, bukan suatu realita. Orang tua yang

13
berasal dari keluarga dengan berbagai masalah terbukti seringkali menolak dan

memisahkan diri dari anak mereka paling tua, sehingga mengurangi saluran-

saluran komunikasi terbuka yang mungkin telah ada sebelumnya ( Friedman,

1998, hal. 126).

Mempertahankan etika dan standar keluarga merupakan tugas-tugas

perkembangan keluarga lainnya (Duvall dan Miller, 1985). Meskipun aturan-

aturan dalam keluarga belum diubah, etika dan standar moral keluarga belum

tetap dipertahankan oleh orang tua. Remaja sangat sensitive terhadap

ketidakcocokan antara apa dikatakan dengan apa yang dipraktekkan. Namun

demikian, orang tua dan anak-anak dapat belajar dari satu sama lain dalam

masyarakat yang majemuk dan berubah dengan cepat saat ini. Transformasi nilai

dari kaum muda juga mentransformasikan keluarga. Adopsi gaya hidup yang

lebih bebas dan sederhana melambangkan transformasi nilai yang mempengaruhi

setiap tahap kehidupan keluarga (Yankelowich, 1975, dalam Friedman, 1998, hal.

126).

4. Masalah-Masalah yang Terjadi Pada Keluarga dengan Tahap Perkembangan

Anak Usia Remaja

Ketidakmatangan dalam hubungan keluarga seperti yang ditunjukkan oleh

adanya pertengkaran dengan anggota-anggota keluarga,terus menerus mengritik

atau buat komentar-komentar yang merendahkan tentang penampilan atau

perilaku anggota keluarga, sering terjadi selama tahun-tahun awal masa remaja.

Pada saat ini hubungan keluarga biasanya berada pada titik rendah.

14
Hubungan keluarga yang buruk merupakan bahaya psikologis pada setiap

usia, terlebih selama masa remaja karena pada saat ini anak laki-laki dan

perempuan sangat tidak percaya pada diri sendiri dan bergantung pada keluarga

untuk memperoleh rasa aman. Yang lebih penting lagi, mereka memerlukan

bimbingan atau bantuan dalam menguasai tugas perkembangan masa remaja.

Kalau hubungan-hubungan keluarga ditandai dengan pertentangan, perasaan-

perasaan tidak aman berlangsung lama, dan remaja kurang memiliki kesempatan

untuk mengembangkan pola perilaku yang tenang dan lebih matang. Remaja yang

hubungan keluarganya kurang baik juga dapat mengembangkan hubungan yang

buruk dengan orang-orang diluar rumah. Meskipun semua hubungan, baik dalam

masa dewasa atau dalam masa kanak-kanak, kadang-kadang tegang namun orang

ang selalu mengalami kesulitan dalam bergaul dengan orang lain dianggap tidak

matang dan kurang menyenangkan. Hal ini menghambat penyesuaian sosial yang

baik.

Masa remaja dikenal banyak orang sebagai masa yang indah dan penuh

romantika, padahal sebenarnya masa ini merupakan masa yang penuh dengan

kesukaran. Bukan hanya bagi dirinya tetapi bagi keluarga dan lingkungan sosial.

Masa ini akan membuat remaja mengalami kebingungan disatu pihak masih anak-

anak, tetapi dilain pihak harus bertingkah laku seperti orang dewasa. Situasi ini

membuat mereka dalam kondisi konflik, sehingga akan terlihat bertingkah laku

aneh, canggung dan kalau tidak dikontrol dengan baik dapat menyebabkan

kenakalan. Dalam usahanya mencari identitas diri, mereka sering membantah

15
orang tuanya, karena memulai mempunyai pendapat sendiri, cita-cita dan nilai-

nilai sendiri yang berbeda dengan orang tuanya.

Pendapat orang tua tidak lagi dapat dijadikan pegangan, meskipun

sebenarnya mereka juga belum memiliki dasar pegangan yang kuat. Orang yang

dianggap penting dalam masa ini adalah teman sebaya. Mereka berusaha untuk

mengikitu pendapat dan gaya teman-temannya karena dianggap memiliki

kesamaan dengan dirinya. Karenanya sering kali remaja terlibat dalam geng-geng,

dengan menjadi anggota geng mereka akan saling memberi dan mendapat

dukungan mental. Beberapa kasus terakhir seperti geng-geng motor yang terlibat

kegiatan merupakan bentuk dari kecenderungan tersebut. Mereka akan berani

melakukan tindakan-tindakan kejahatan ketika dilakukan dalam kelompok dan

tidak akan berani melakukannya secara individual. Masalah lain yang sering

mengganggu anak remaja adalah masalah yang berkaitan dengan organ reproduksi

(seksual). Satu sisi mereka sudah mencapai kematangan seksual, yang

menyebabkan mereka memiliki dorongan untuk pemuasan tetapi disisi lain

kebudayaan dan norma sosial melarang pemuasan kebutuhan seksual diluar

pernikahan. Padahal untuk menikah banyak persyaratan yang harus dipenuhi,

bukan hanya kemampuan dalam melakukan hubungan seksual, tetapi diperlukan

ekonomi, kematangan psikologi, dan sebagainya.syarat-syarat ini sangat berat dan

mungkin belum dicapai pada usia remaja. Oleh karena itu, para remaja mencari

kepuasan dalam bentuk khayalan, membaca buku atau menonton film porno.

Meskipun tingkah laku ini sebenarnya tetap melanggar norma masyarakat, tetapi

mereka melakukannya dengan sembunyi-sembunyi.

16
Untuk menghadapi situasi ini orang tua harus lebih bijaksana dalam

menyikapi, cara yang tepat dilakukan adalah dengan mengurangi control secara

bertahap terhadap anaknya, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi diri sendiri

secara bertahap sampai akhirnya dewasa.

2.3 Masalah-masalah kesehatan

Pada tahap ini kesehatan fisik anggota keluarga biasanya baik. Tapi promosi

kesehatan tetap menjadi hal yang penting. Faktor-faktor resiko harus diidentifikasi

dan dibicarakan dengan keluarga, seperti pentingnya gaya hidup keluarga yang

sehat mulai dari usia 35 tahun, resiko penyakit jantung koroner meningkat

dikalangan pria dan pada usia ini anggota keluarga yang dewasa mulai merasa

lebih rentan terhadap penyakit sebagai bagian dari perubahan-perubahan

perkembangan dan biasanya mereka ini lebih menerima strategi promosi

kesehatan. Sedangkan pada remaja, kecelakaan terutama kecelakaan mobil

merupakan bahaya yang amat besar, dan patah tulang dan cedera karena atletik

juga umum terjadi (Friedman, 1998, hal. 127).

Penyalahguanaan obat-obatan dan alkohol, keluarga berencana, kehamilan

yang tidak dikehendaki, dan pendidikan dan konseling seks merupakan bidang

perhatian yang relevan. Dalam mendiskusikan topik ini dengan keluarga, perawat

dapat terjebak dalam perselisihan atau masalah antara orang tua dan kaum muda,

remaja biasanya mencari pelayanan kesehatan mencakup uji kehamilan,

menggunakan obat-obatan, uji AIDS, keluarga berencana, dan aborsi, diagnosis

dan perawatan penyakit kelamin. Agaknya telah menjadi trend yang sah bagi

remaja untuk menerima perawatan kesehatan tanpa ijin orang tua. Bila orang tua

17
diikutsertakan maka dilakukan wawancara terpisah sebelum mereka dikumpulkan

(Friedman, 1998, hal. 127).

Kebutuhan kesehatan yantg lain adalah dalam bidang hubungan dan bantuan

untuk memperkokoh hubungan perkawinan dan hubungan remaja dengan orang

tua. Konseling langsung yang bersifat menunjang atau mulai rujukan ke sumber-

sumber dalam komunitas untuk konseling, dan juga pendidikan yang bersifat

rekreasional, dan pelayanan lainnya mungkin diperlukan, pendidikan promosi

kesehatan umum juga diindikasikan (Friedman, 1998, hal. 127).

A. Peran Perawat

Peran perawat pada tahap ini adalah mengarahkan keluarga pada

peningkatan dan pencegahan penyakit. Penyuluhan tentang penyakit

kardiovaskuler pada usia lanjut, penyuluhan tentang obat-obatan terlarang,

minuman keras, seks, pencegahan kecelakaan pada remaja, serta membantu

terciptanya komunikasi yang lebih efektif antara orang tua dengan anak remajanya

( Mubarak, 2009, hal. 90 ).

Peran perawat dalam peningkatan kesehatan dan pencegahan penyakit pada

tahap keluarga dengan anak remaja menurut Stanhope (1998, Hal. 52):

a. Guru tentang faktor-faktor kesehatan

b. Guru dalam isu-isu pemecahan masalah mengenai alkohol dan merokok, diet dan

gerak badan

c. Fasilitator keterampilan interpersonal dengan anak belasan tahun bersama orang

tua

18
d. Penolong langsung, konsultan atau pihak yang merujuk ke sumber-sumber

kesehatan mental

e. Konsultan keluarga berencana

f. Pihak yang merujuk ke bagian penyakit yang ditularkan melalui seksual

g. Peserta dalam organisasi masyarakat untuk pengendalian penyakit.

2.4 Asuhan Keperawatan Keluarga dengan Tahap Perkembangan Anak Usia

Remaja Secara Teoritis

1. Pengkajian

Tahap pertama pada asuhan keperawatan keluarga, yaitu perawat

melakukan pengkajian dengan menggunakan formulir yang dapat digunakan pada

semua tahap perkembangan keluarga ( Suprajitno, 2004, hal. 37 ).

Menurut Suprajitno ( 2004, hal. 38 ) meskipun demikian perawat perlu

melakukan pengkajian fokus pada tiap perkembangan yang didasarkan oleh:

a. Dalam tiap tahap perkembangan keluarga, karakteristik keluarga akan berbeda

karena adda perubahan anggota keluarga ( dapat bertambah atau berkurang )

b. Pada tiap tahap perkembangan, keluarga mempunyai tugas perkembangan

keluarga yang harus dilakukan.

c. Pada tiap tahap perkembangan keluarga, kewajiban keluarga berbeda.

Pengkajian data fokus keluarga dengan anak usia remaja dalam Suprajitno

( 2004, hal. 37 ) meliputi:

a) Bagaimana karakteristik teman disekolah atau di lingkungan rumah


19
b) Bagaimana kebiasaan anak menggunakan waktu luang

c) Bagaimana perilaku anak selama dirumah

d) Bagaimana hubungan antara anak remaja dengan adiknya, dengan teman

sekolah atau bermain

e) Siapa saja yang berada dirumah selama anak remaja dirumah

f) Bagaimana prestasi anak disekolah dan prestasi apa yang pernah diperoleh

anak

g) Apa kegiatan diluar rumah selain disekolah, berapa kali, berapa lama, dan

dimana

h) Apa kebiasaan anak dirumah

i) Apa fasilitas yang digunakan anak secara bersamaan atau sendiri

j) Berapa lama waktu yang disediakan orang tua untuk anak

k) Siapa yang menjadi figur bagi anak

l) Seberapa peran yang menjadi figur bagi anak

m) Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga

2. Diagnosa

Pada tahap ini ada beberapa kegiatan yang perlu dilakukan perawat

sebagai berikut (Suprajitno, 2004, Hal. 42-47) :

a. Pengelompokan Data

Kegiatan ini tidak berbeda dengan analisis dan sintesis pada asuhan

keperawatan klinik. Perawat mengelompokan data hasil pengkajian

dalam data subjektif dan objektif setiap kelompok diagnosis

keperawatan.

20
b. Perumusan Diagnosis Keperawatan

Perumusan diagnosis keperawatan dapat diarahkan kepada sasaran

individu dan atau keluarga. Kompenen diagnosis keperawatan meliputi

masalah ( problem ), penyebab ( etiologi ), dan atau tanda ( sign ).

c. Penilaian ( skoring ) diagnosis keperawatan

Skoring dilakukan bila perawat merumuskan diagnosis keperawatan

lebih dari satu. Proses skoring menggunakan skala yang telah

dirumuskan oleh Bailon dan Maglaya ( 1978 ).

d. Penyusunan prioritas diagnosis keperawatan

Prioritas didasarkan pada diagnosa keperawatan yang mempunyai skor

tertinggi dan disusun berurutan sampai yang mempunyai skor

terendah. Namun, perawat perlu mempertimbangkan juga persepsi

keluarga terhadap masalah keperawatan mana yang perlu diatasi

segera.

3. Perencanaan Keperawatan Keluarga

Perencanaan keperawatan mencakup tujuan umum dan khusus yang

didasarkan pada masalah yang dilengkapi dengan kreteria dan standar yang

mengacu pada penyebab. Selanjutnya merumuskan tindakan keperawatan yang

berorientasi pada kreteria dan standar ( Suprajitno, 2004, hal. 49 ).

Rencana tindakan keperawatan terhadap keluarga, meliputi kegiatan-

kegiatan yang bertujuan ( Suprajitno, 2004, hal. 49 ) :

a. Menstimulasi kesadaran atau penerimaan keluarga mengenai masalah dan

kebutuhan kesehatan dengan cara:

21
1. Memberi informasi yang tepat

2. Mengidentifikasi kebutuhan dan harapan keluarga tentang kesehatan

3. Mendorong sikap emosi yang mendukung upaya kesehatan

b. Menstimulasi keluarga untuk memutuskan cara perawatan yang tepat, dengan

cara :

1. Mengidentifikasi konsekuensinya bila tidak melakukan tindakan

2. Mengidentifikasi sumber-sumber yang dimiliki dan ada di sekitar

keluarga

3. Mendiskusikan tentang konsekuensi tipe tindakan

c. Memberikan kepercayaan diri selama merawat anggota keluarga yang sakit,

dengan cara :

1. Mendemonstrasikan cara perawatan

2. Menggunakan alat dan fasilitas yang ada dirumah

3. Mengawasi keluarga melakukan perawatan

d. Membantu keluarga untuk memelihara (memodifikasi lingkungan) yang

dapat meningkatkan kesehatan keluarga dengan cara :

1. Menemukan seumber-sumber yang dapat digunakan keluarga

2. Melakukan perubahan lingkungan bersama keluargha seoptimal

mungkin

e. Memotivasi keluarga untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan yang ada

disekitarnya, dengan cara :

22
1. Menggunakan fasilitas kesehatan yang ada di sekitar lingkungan

keluarga

2. Membantu keluarga menggunakan fasilitas kesehatan yang ada

Hal penting dalam penyusunan rencana asuhan keperawatan ( Suprajitno,

2004, hal. 50 ) :

a. Tujuan hendaknya logis, sesuai masalah, dan mempunyai jangka waktu yang

sesuai dengan kondisi klien

b. Kriteria hasil hendaknya dapat diukur dengan alat ukur dan diobservasi dengan

pancaindra perawat yang objektif

c. Rencana tindakan disesuaikan dengan sunber daya dan dana yang dimiliki oleh

keluarga dan mengarah ke kemandirian klien sehingga tingkat ketergantungan

dapat diminimalisasi.

23
BAB III

3.1 Kasus

Bp S 40 tahun dan Ibu L 38 tahun adalah pasangan suami istri. Mereka


memiliki dua anak, laki-laki bernama An Y berumur 16 tahun dan perempuan
bernama An M berumur 12 tahun. Bp.S tinggal satu rumah dengan istri, dan
kedua anaknya. Bp.S bertempat tinggal di Jawa. Bp.S dan Ibu L pendidikan
terakhirnya adalah SMP. Bp.S bekerja sebagai pekerja swasta dan Ibu L adalah
seorang Ibu rumah tangga. Bp.S menderita Hipertensi, turunan dari orang tuanya
yang telah meninggal. Dalam keluarganya, Bp.S belum memberikan kebebasan
secara penuh dan bertanggung jawab kepada anak remajanya, keluarga Bp.S juga
belum membangun dengan efektif komunikasi terbuka antara orang tua dan
anaknya.

3.2 Asuhan Keperawatan Pada Keluarga Bp. S Pada Tahap Perkembangan

Keluarga Dengan Anak Usia Remaja

A INDENTITAS UMUM KELUARGA

1. INDENTITAS KEPALA KELUARGA

Nama : Bp. S

Umur : 40 tahun

Agama : Islam

Suku : Jawa

Pendidikan : SLTP

Perkerjaan : Swasta

Alamat : Pasinan RT 14/ RW 07

No. Telpon :-

2. KOMPOSISI KELUARGA
24
No Nama L/P Umur Hub. Perkerjaan Pendidikan

Klg

Bp1 S L 40 Ayah Swasta SLTP

kandung

Ibu2 L P 38 Ibu IRT SLTP

kandung

An.Y
3 L 16 Anak Pelajar SMA

kandung

An.M
4 P 12 Anak Pelajar SD

kandung

3. GENOGRAM

: Perempuan

: Laki-laki
Bp.S
40 th Ib. L
38 th
: klien

: Serumah

An. Y An.M
16 th 12 th

Ket:

= laki-laki = remaja/pasien kelolaan

= perempuan = tinggal serumah

25
4. TYPE KELUARGA

a. Jenis Type Keluarga : Tipe Tradisional; Nuclear family/Keluarga inti,

dimana terdiri dari Kepala keluarga, ibu dan anak.

b. Masalah Yang terjadi dg type tersebut : Tidak terjadi masalah pada keluarga

Bp. S dengan tipe keluarga ini.

5. SUKU BANGSA

a. Asal Suku Bangsa : Jawa

b. Tidak ada Budaya Yang bertentangan dengan Kesehatan

6. AGAMA DAN KEPERCAYAAN YANG MEMEPENGARUHI

KESEHATAN

Perempuan tidak boleh memotong kuku dan potong rambut pada saat

menstruasi.

7. STATUS SOSIAL EKONOMI KELUARGA

a. Anggota yang keluarga yang mencari nafkah : Bp. S dan Ibu L

b. Penghasilan : Rp. 2.000.000,00/bulan

c. Usaha lain

Membuka Toko Sembako dan bertani

d. Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan

Rp 1.500.000,00/bulan

8. AKTIVITAS REKREASI KELUARGA

Setiap hari libur keluarga biasanya keluarga jalan-jalan ke pantai atau tempat lain

bersama-sama, dan menonton TV di rumah di waktu senggang.

26
B. RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA

1. Tahap perkembangan keluarga saat ini

Keluarga dengan Anak Remaja (families with teenagers)

2. Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi dan kendalanya

Keluarga belum memberikan kebebasan secara penuh dan bertanggung jawab

kepada anak remajanya, keluarga belum membangun dengan efektif

komunikasi terbuka antara orang tua dan anaknya, serta keluarga belum

melakukan secara penuh perubahan sistem peran dan peraturan untung tumbuh

kembang keluarga.

3. Riwayat kesehatan keluarga inti

a. Riwayat kesehatan keluarga saat ini

Keluarga mengatakan saat ini setiap anggota keluarganya dalam keadaan

sehat-sehat saja. Hanya ada beberapa anggota keluarga yang sering terkena

sakit seperti Bp. S yang menderita Hipertensi.

b. Riwayat penyakit keturunan

Keluarga mengatakan penyakit keturunan yang ada pada anggota

keluarganya yaitu Tekanan darah tinggi / Hipertensi yang dimiliki oleh

Bp. S dari keluarga sebelumnya.

c. Riwayat kesehatan masing – masing anggota keluarga

No Nama BB Umur Keadaan Imunisasi Masalah Tindakan

kesehatan BCG/Polio kesehatan yang telah

27
/DPT/HB/Campak dilakukan

1 Bp. S 60 kg 40 - Hipertensi Berobat ke

mantri swasta

/ Puskesmas

2 Ibu L 58 kg 38 - - -

3 An. Y 47 kg 16 Lengkap - -

4 An. M 35 kg 12 Lengkap - -

d. Sumber pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan

Puskesmas dan Mantri swasta

e. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya

Keluarga mengatakan pada keluarga sebelumnya tidak memiliki masalah

kesehatan yang serius baik dari pihak Suami maupun Istri. Hanya pada

pihak keluarga Bp. S yang mempunyai riwayat penyakit hipertensi.

C. PENGKAJIAN LINGKUNGAN

1. Karakteristik rumah

a. Luas rumah : 8 X 12 meter persegi

b. Type rumah

Rumah Konvensional

c. Kepemilikan

Milik Sendiri
28
d. Jumlah dan ratio kamar/ruangan

Terdapat 3 buah kamar tidur, 1 ruangan tamu, 1 ruangan keluarga, 1

ruangan dapur, dan 1 ruangan dapur.

e. Ventilasi/jendela

Terdapat 13 ventilasi dan 10 Jendela yang berada di Rumah keluarga Bp.

f. Pemanfaatan ruangan

Ruang tamu digunakan untuk apabila ada tamu yang berkunjung,

Ruang tengah/ keluarga digunakan keluarga untuk bersantai dan menonton

TV,

Ruang Dapur digunakan untuk memasak dan makan bersama keluarga.

g. Septic tank : Ada, letak dibelakang rumah berjarak 1 meter dari rumah

h. Sumber air minum : air leiding, air hujan, atau air galon.

i. Kamar Mandi/ WC : Terdapat 1 buah kamar mandi, dan 1 buah Wc.

j. Sampah limbah RT : Sampah dibakar dibelakang rumah, jaraknya sekitar

6 meter dari rumah.

k. Kebersihan lingkungan : Lingkungan didalam maupun dilingkungan luar

rumah tidak tampak kotor, dan terlihat bersih.

2. Karakteristik tetangga dan komunitas RW

a. Kebiasaan : Di lingkungan RW keluarga Bp. S selalu mengadakan

kegiatan Gotong royong setiap 1 bulan sekali, serta mengadakan yasinan

setiap jumat malam.

29
b. Aturan/kesepakatan : Kesepekatan di lingkungan RW tersebut setiap

kepala keluarga atau anggota keluarga yang lainnya harus mengikuti

kegiatan gotong royong dilingkungan tersebut.

c. Budaya : Budaya yang berada di sekitar lingkungan keluarga Bp. S rata-

rata merupakan budaya melayu.

3. Mobilitas geografis keluarga : Sejak pertama kali menikah sudah tidak tinggal

dengan orang tua baik sebelah laki-laki maupun perempuan, dan sudah

menetap dipurun. Dan selama ini belum pernah berpindah rumah.

4. Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat

Keluarga biasa berkumpul di waktu senggang, dan interaksi dimasyarakat

dilakukan setiap hari karena Bp. S membuka Toko sembako untuk masyarakat

disekitarnya.

5. System pendukung keluarga

Disini keluarga memiliki jaminan pemeliharaan kesehatan berupa Kartu

Jamkesmas.

D. STRUKTUR KELUARGA

1. Pola/cara komunikasi keluarga : Keluarga berkomunikasi secara terbuka,

menggunakan bahasa melayu, komunikasi secara langsung didalam rumah,

frekuensinya tergantung pertemuan setiap anggota keluarga.

2. Struktur kekuatan keluarga : Kekuatan keluarga dipegang oleh Kepala

keluarga. Keputusan yang diambil dalam keluarga dipegang oleh Bp. S.

30
Model kekuatan atau kekuasaan yang digunakan keluarga dalam membuat

keputusan menggunakan musyawarah dan kadang-kadang langsung diambil

keputusan oleh kepala keluarga.

3. Struktur peran ( peran masng – masing anggota keluarga ) : Bp S : Sebagai

kepala keluarga bertanggung jawab dalam mengatur rumah tangga dan bekerja

untuk menafkahi setiap anggota keluarganya.

Ny L : berperan sebagai ibu rumah tangga didalam rumah, serta membantu

kepala keluarga dalam bekerja.

An. Y : Sebagai anak pertama, sekarang sedang Sekolah dibangku kelas 2

SMA.

An. M : sebagai anak yang kedua atau bungsu, sekarang sedang sekolah

dibangku kelas 6 SD.

4. Nilai dan norma keluarga

Nilai dan norma yang berlaku dalam keluarga menyesuaikan dengan nilai dan

norma yang berlaku di masyarakat, serta nilai dalam agama yang dianut oleh

keluarga.

D. FUNGSI KELUARGA

1. Fungsi Afektif

Keluarga merasakan perasaan saling memiliki setiap anggota keluarga, serta

berusaha mengembangkan sikap saling menghargai.

2. Fungsi sosialisasi

a. Kerukunan hidup dalam keluarga

31
Keluarga cukup rukun dan perhatian dalam membina hubungan rumah

tangga.

b. Interaksi dan hubungan dalam keluarga

Interaksi dalam keluarga cukup baik, walaupun An. Y tidak terlalu sering

berinteraksi dengan anggota keluarga lainnya karena sering berada diluar

rumah.

c. Anggota keluarga yang dominan dalam mengambil keputusan

Keluarga yang dominan dalam pengambilan keputusan adalah Bp. S

d. Kegiatan keluarga waktu senggang

Menonton Tv di rumah, pergi kerumah tetangga, atau bepergian ke tempat

wisata.

e. Partisipasi dalam kegiatan sosial

Kegiatan gotong royong setiap bulan dan yasinan setiap minggu.

3. Fungsi perawatan kesehatan

Disini keluarga sudah mengetahui masalah kesehatan yang terjadi pada

salah satu anggota keluarga. Keluarga sudah mengambil keputusan dalam masalah

kesehatan yang terjadi pada Bp. S dengan pergi ke puskesmas atau mantri untuk

mengatasi masalah kesehatannya. Keluarga kurang memperhatikan dalam

merawat anggota keluarga yang sakit, apalagi selama anggota keluarga yang sakit

tidak mengganggu aktivitas sehari-harinya. Keluarga sudah baik dalam

memilihara lingkungan rumah baik didalam rumah itu sendiri, maupun disekitar

lingkungan luar rumah. Dalam menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan

32
keluarga lebih memilih pergi ke mantri swasta, meskipun sudah memiliki kartu

Jaminan pelayanan kesehatan. Karena di puskesmas pelayanan serta hasil

pengobatan yang diberikan kurang terasa memuaskan oleh keluarga.

4. Fungsi reproduksi

a. Perencanaan jumlah anak : 2 orang anak satu laki – laki dan satu

perempuan

b. Akseptor : ya, yang digunakan pil KB lamanya sekitar 3 bulan terakhir.

c. Keterangan lain : Sebelumnya Ibu L menggunakan menggunakan

kontrasepsi suntik selama 12 tahun mulai dari setelah kelahiran anak

kedua.

5. Fungsi ekonomi

a. Upaya pemenuhan sandang pangan : upaya pemenuhan kebutuhan

sandang pangan dipenuhi oleh Bp. S sebagai kepala keluarga serta dibantu

oleh Ibu L.

b. Pemanfaatan sumber dimasyarakat : Masyarakat lingkungan dan sekitar

lainnya sebagai pelanggan dalam membeli kebutuhan pokok dan lainnya

di Toko keluarga Bp. S.

E. STRESS DAN KOPING KELUARGA

1. Stressor jangka pendek

Keluarga merasa kecewa dengan prestasi anak An. Y yang akhir-akhir ini

menurun dari sebelumnya.

2. Sressor jangka panjang

33
Penyakit hipertensi yang sering kali menganggu produktivitas Bp. S.

3. Respons keluarga terhadap stressor

Keluarga berharap anaknya yang pertama prestasinya kembali meningkat. Dan

keluarga menganggap sudah terbiasa dengan penyakit hipertensi yang dialami

Bp. S karena merupakan penyakit keturunan.

4. Strategi koping

Keluarga biasanya berdiskusi dalam menghadapi masalah.

5. Strategi adaptasi disfungsional

Bp. S menganggap penyakit hipertensi yang dideritanya adalah penyakit biasa,

karena merupakan keturunan.

F. KEADAAAN GIZI KELUARGA

a. Pemenuhan gizi : Pemenuhan gizi keluarga dilakukan oleh Ibu L dengan

menyediakan pemenuhan kebutuhan makan 3 kali sehari.

b. Upaya lain : Tidak ada upaya lain yang dilakukan.

G. HARAPAN KELUARGA

1. Terhadap masalah kesehatan

Keluarga mengatakan harapan agar setiap anggota keluarganya selalu sehat

dan tidak pernah menderita sakit yang parah.

2. Terhadap petugas kesehatan yang ada

Keluarga berharap pelayanan kesehatan Puskesmas yang ada didaerahnya agar

kualitasnya lebih baik dari sekarang, dan dalam penggunaan pengobatan

dengan menggunakan Jamkesmas agar lebih dimudahkan.

34
H PEMERIKSAAN FISIK

No Variabel Nama anggota keluarga

Bp. S Ibu L An. Y An. M

1 Riwayat penyakit Hipertensi - - -

saat ini

2 Keluhan yang - - - -

dirasakan

3 Tanda dan gejala - - - -

4 Riwayat penyakit Hipertensi - - -

sebelumnnya

5 Tanda – tanda 135/90 mmhg 120/80 110/80 110/75

vital S=36,5 mmhg mmhg mmhg

RR=21 S=36,5 S=36,5 S=36,

N=95 RR=18 RR=19N=80 5

N=80 RR=18

N=80

6 Sistem Inspeksi : Pada bagian dada - - -

kardiovaskuler tidak terdapat lesi, jaringan

parut, terlihat iktus kordis di

mid klavikula iktus kordis ke 5

Palpasi : teraba iktus kordis di

mid clavikula interkosta ke 5

JVP : 6 cm

35
Perkusi : batas jantung

interkosta ke 2-5 strenum kiri,

interkosta 2-3 sternum kanan

Auskultasi : terdengar bunyi

S2 di intercosta 2 sternum kiri

dan kanan.

Dan terdengar bunyi S1 di

intercosta ke-5 di samping

sternum dan mid klavikula

kiri.

7 Sistem Respirasi - - - -

8 System GI Tract - - - -

9 System - - - -

Persyarafan

10 System - - - -

Muskulokeletal

11 Sistem Genetalia - - - -

I. TIPOLOGI MASALAH KESEHATAN

NO DAFTAR MASALAH KESEHATAN

1 KURANG/TIDAK SEHAT

36
2 ANCAMAN

Penyakit keturunan Hipertensi Pada Bp. S

3 DIFISIT

Kurang Pengetahuan tentang Tugas dan Perkembangan Keluarga

J. DAFTAR MASALAH PENGKAJIAAN KHUSUS BERDASARKAN 5

TUGAS KELUARGA

NO KRITERIA PENGKAJIAN

1 Mengenal Masalah - Keluarga telah mengenal masalah

kesehatan yang terjadi pada anggota

- Keluarga yang mempunyai masalah pada

kesehatannya.

- Keluarga belum mengetahui tentang tugas

perkembangan keluarga saat ini.

- Keluarga belum memiliki pengetahuan

yang benar tentang pertumbuhan dan

perkembangan serta masalah yang biasa

terjadi pada anak remaja.

2 Mengambil Keluarga mengambil keputusan dengan

Keputusan yang tepat membawa anggota keluarga yang sakit ke

Puskesmas atau Mantri.

37
Keluarga belum mengambil keputusan

untuk meningkatkan proses keluarga

Keluarga belum bisa mengambil

keputusan karena kurangnya pengetahuan

tentang kondisi saat ini.

3 Merawat anggota Keluarga belum mampu merawat

keluarga yang sakit anggota keluarga yang sakit, karena hanya

ataupun punya beranggapan harus merawat anggota

masalah keluarga yang sakit apabila anggota

keluarga yang sakit tidak lagi mampu

melakukan aktivitas dengan baik.

4 Memodifikasi Terkait masalah kesehatan yang terjadi

lingkungan sekarang keluarga belum melakukan

modifikasi lingkungan, karena dirasakan

keluarga tidak perlu.

Keluarga belum melakukan modifikasi

lingkungan khususnya secara psikologis,

terkait kesiapan untuk meningkatkan proses

keluarga.

5 Memanfaatkan sarana Keluarga telah memanfaatkan fasilitas

kesehatan pelayanan kesehatan, baik berupa pergi ke

Mantri maupun Puskesmas.

38
K. DAFTAR MASALAH

NO DATA ETIOLOGI PROBLEM

1. Ds : Ketidakmampuan Ketidakefektifan

-Keluarga Keluarga dalam Manajemen

mengatakan merawat anggota Regimen Terapeutik

didalam keluarga yang sakit Keluarga Pada

keluarganya ada Keluarga Bp.S

yang memilki

riwayat penyakit

keturunan berupa

hipertensi

-Keluarga

mengatakan bahwa

Bp. S sering

mengalami

hipertensi dan

apabila gejalanya

berat dibawa ke

tenaga kesehatan.

Do:

-Penyakit

Hipertensi Bp. S

39
sering kambuh

karena keluarga

hanya melakukan

perawatan

kesehatan pada saat

Bp. S sakitnya

mengganggu

aktivitasnya.

TD= 135/90mmhg

S=36,5

RR=21

N=95

2. Ds : Kesiapan

-Kekuatan keluarga Meningkatkan

dipegang oleh Proses Keluarga

Kepala keluarga. Pada keluarga Bp. S

Keputusan yang

diambil dalam

keluarga dipegang

oleh Bp. S.

- Model kekuatan

atau kekuasaan

yang digunakan

40
keluarga dalam

membuat

keputusan

menggunakan

musyawarah dan

kadang-kadang

langsung diambil

keputusan oleh

kepala keluarga.

Do:

-Saat ini keluarga

berada dalam tahap

perkembangan

keluarga dengan

anak remaja.

- Interaksi dalam

keluarga cukup

baik, walaupun An.

Y tidak terlalu

sering berinteraksi

dengan anggota

keluarga lainnya

karena sering

41
berada diluar

rumah.

- Anggota Keluarga

yang dominan

dalam pengambilan

keputusan adalah

Bp. S

42
3. Ds: Ketidakmampuan Defisiensi

- Keluarga tidak keluarga dalam Pengetahuan tentang

mengetahui secara mengenal masalah tugas perkembangan

pasti mengenai keluarga serta

kegiatan anak pertumbuhan dan

remajanya. perkembangan

- Keluarga merasa remaja Pada

kecewa dengan Keluarga Bp.S

prestasi anak An. Y

yang akhir-akhir ini

menurun dari

sebelumnya.

- Pemenuhan gizi

keluarga dilakukan

oleh Ibu L dengan

menyediakan

pemenuhan

kebutuhan makan 3

kali sehari. Tidak

ada upaya lain yang

dilakukan.

Do:

-Saat ini keluarga

43
berada dalam tahap

perkembangan

keluarga dengan

anak remaja.

- keluarga belum

mengetahui secara

baik mengenai

pertumbuhan dan

perkembangan

pada anak remaja

- Interaksi dalam

keluarga cukup

baik, walaupun An.

Y tidak terlalu

sering berinteraksi

dengan anggota

keluarga lainnya

karena sering

berada diluar

rumah.

L. SKORING

1. Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapeutik Keluarga

44
KRITERIA SKOR Hasil Pembenaran

SIFAT MASALAH (bobot= 1) -pada Bp S

o Tidak sehat 3 2/3x1= sering

o Ancaman kesehatan 2 2/3 mengalami

o Krisis atau keadaan sejahtera 1 hipertensi

KEMUNGKINAN -karena

MASALAH DAPAT DIUBAH keluarga

(bobot=2) 2 1/2x2= mengatakan

o Dengan Mudah 1 1 apabila sudah

o Hanya Sebagian 0 mengganggu

o Tidak dapat aktivitas Bp.S

keluarga baru

membawa ke

tenaga

kesehatan

PONTESIAL MASALAH -karena

DAPAT DICEGAH (bobot= 1) 2/3x1= keluarga sudah

o Tinggi 3 2/3 mampu

o Cukup 2 mengenal

o Rendah 1 masalah dan

mampu

mengambil

keputusan

45
tetapi belum

mampu

melakukan

perawatan

MENONJOLNYA MASALAH 1/2x1= - Tidak sedang

(bobot= 1) ½ dalam keadaan

o Masalah berat, harus segera 2 yang

ditangani membahayakan

o Ada masalah, tapi tidak perlu 1 kesehatan Bp.

segera ditangani S

o Masalah tidak dirasakan 0

2. Kesiapan Meningkatkan Proses Keluarga

KRITERIA SKOR Hasil Pembenaran

SIFAT MASALAH 1/3x1= - pengambilan

(bobot= 1) 3 1/3 keputusan

o Tidak sehat 2 dalam keluarga

o Ancaman kesehatan 1 biasanya

o Krisis atau keadaan dilakukan oleh

sejahtera Bp.S dengan

KEMUNGKINAN -karena keluarga

MASALAH DAPAT 2/2x2= seperrtinya mempunyai

46
DIUBAH (bobot=2) 2 2 keinginan untuk

o Dengan Mudah 1 membangun hubungan

o Hanya Sebagian 0 keluarganya menjadi

o Tidak dapat lebih baik

PONTENSIAL -keluarga dalam

MASALAH DAPAT 2/3x1= keadaan baik

DICEGAH (bobot= 1) 3 2/3 untukmeningkatkan

o Tinggi 2 proses keluarga

o Cukup 1

o Rendah

MENONJOLNYA -keluarga berkeinginan

MASALAH (bobot= 1) untuk meningkatkan

o Masalah berat, harus segera 2 proses keluarga

ditangani 1/2x1= menjadi lebih baik

o Ada masalah, tapi tidak 1 1/2

perlu segera ditangani

o Masalah tidak dirasakan 0

3. Defisiensi Pengetahuan

KRITERIA SKOR Hasil Pembenaran

47
SIFAT MASALAH (bobot= 1) -Keluarga

o Tidak sehat 3 1/3x1= harus

o Ancaman kesehatan 2 1/3 ditingkatkan

o Krisis atau keadaan sejahtera 1 pengetahuan

untuk

meningkatkan

tugas

perkembangan

keluarga

KEMUNGKINAN MASALAH -latar belakang

DAPAT DIUBAH (bobot=2) 2 2/2x2= pendidikan

o Dengan Mudah 1 2 keluarga

o Hanya Sebagian 0 adalah SLTP

o Tidak dapat dan SMA

PONTESIAL MASALAH -keluarga mau

DAPAT DICEGAH (bobot= 1) 2/3x1= diajak dalam

o Tinggi 3 2/3 bekerjasama

o Cukup 2 (kooperatif)

o Rendah 1

MENONJOLNYA MASALAH -klien belum

(bobot= 1) 1/2x1= mengetahui

o Masalah berat, harus segera 2 ½ tentang proses

ditangani dan tugas

48
o Ada masalah, tapi tidak perlu 1 perkembangan

segera ditangani keluarga saat

o Masalah tidak dirasakan 0 ini.

4. RENCANA TINDAKAN

No Diagnosa Tujuan dan Intervensi Rasional

keperawatan Kriteria Hasil Keperawatan

Ketidakefektifan
1 Manajemen -kaji -untuk

manajemen regimen tingkat mengetahui

regimen terapeutik pengetahuan tingkat

terapeutik keluarga tentang pengetahuan

keluarga b.d efektif dengan penyakit -agar

kerumitan kreteria hasil: hipertensi keluarga lebih

regimen Ds: - mengetahui

terapeutik -klien berikan tentang hipertensi

mengatakan penkes - untuk

sudah bisa tentang mengetahui

menentukan hipertensi tingkat

keputusan -kaji pengetahuan

49
yang tingkjat setelah penkes

diambilnya pengetahuan

setelah penkes

Kesiapan
2 Peningkatan -kaji tingkat -untuk

peningkatan proses perkembangan mengetahui

proses keluarga keluarga keluarga tingkat

b.d Perubahan dengan perkembangan

fungsi setiap kreteria hasil -berikan -agar keluarga

anggota keluarga penjelasan mengetahui

keluarga sesuai mengetahui fungsi dan fungsi dan tugas

tahap perubahan tugas tiap tiap anggota

perkembangan fungsi setiap anggota keluarga sesuai

keluarga anggota keluarga dengan tahap

keluarga sesuai dengan perkembangannya

sesuai tahap tahap

perkembangan perkembangan

Defisiensi
3 Pengetahuan -kaji tingkat -mengetahui

pengetahuan b.d keluarga pengetahuan seberapa jauh

Kurang meningkat keluarga pengetahuan

terpajannya dengan mengenai keluarga

Informasi kreteria hasil: pertumbuhan mengenai

50
mengenai -keluarga dan masalah tersebut

pertumbuhan lebih perkembangan

dan mengetahui bio-psiko-

perkembangan dan sosial pada

bio-psiko-sosial memahami anak remaja

pada anak mengenai serta

remaja serta pertumbuhan masalahnya -agar keluarga

masalahnya dan mengetahui

perkembangan -berikan tentang

bio-psiko- penkes perkembangan

sosial pada tentang tugas psikososial

anak remaja perkembangan remaja

serta psikososial

masalahnya pada keluarga -untuk

- -kaji mengetahui

tingkat seberapa jauh

pengetahuan pengetahuan

setelah keluarga setelah

dilakukan dilakukan penkes

penkes

51
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pada saat anak beranjak usia menjadi tigabelas tahun, maka disinilah

dimulainya perkembangan keluarga pada tahap yang ke-lima, yaitu tahap

perkembangan keluarga dengan anak usia remaja. Pada tahap perkembangan ini,

keluarga mempunyai beberapa tugas perkembangan yang harus dikerjakan, dan

apabila beberapa tugas perkembangan keluarga ini tidak diselesaikan maka tentu

saja akan mengakibatkan terganggunya perkembangan keluarga pada tahap ini,

baik untuk keluarga secara utuh maupun kepada setiap-setiap individu di

keluarga, terutama pada anak remajanya. Adapun tugas perkembangan tersebut

meliputi; memberikan kebebasan tanggung jawab yang seimbang kepada remaja,

mempertahankan komunikasi terbuka didalam keluarga, membina hubungan

intim, serta melakukan perubahan proses peran didalam keluarga terkait dengan

perkembangan keluarga pada saat ini.

Dari asuhan keperawatan kasus yang kami lakukan pengkajian, disini kami

menemukan beberapa data maupun masalah yang berhubungan dengan

perkembangan keluarga dengan anak usia remaja, seperti disini kami menemukan

bahwa orangtua masih memakai pengambilan keputusan sepihak tanpa mengajak

anak remajanya untuk mendiskusikan apa yang ada dipikirannya. Disini juga

tampak bahwa keluarga belum mengetahui mengenai tugas dan perkembangan

keluarga yang pada saat ini berada pada tahap perkembangan keluarga denagan

anak usia remaja. Pada keluarga ini juga ditemukan penyakit yang berkaitan

52
dengan masalah kesehatan didalam keluarga pada tahap perkembangan anak usia

remaja serta tugas dan peran perawat didalamnya. Dari sini kami mencoba untuk

menyusun diagnosis keperawatan yang tepat serta merencanakan intervensi yang

akan dilakukan nanti untuk mengatasi masalah yang terjadi serta meningkatkan

keluarga dalam menyelesaikan tugas dan tahap perkembangan keluarga saat ini.

Peran perawat pada tahap ini adalah mengarahkan keluarga pada

peningkatan dan pencegahan penyakit. Penyuluhan tentang penyakit

kardiovaskuler pada usia lanjut, penyuluhan tentang obat-obatan terlarang,

minuman keras, seks, pencegahan kecelakaan pada remaja, serta membantu

terciptanya komunikasi yang lebih efektif antara orang tua dengan anak

remajanya.

4.2 Saran

1. Keluarga

Kepada setiap keluarga diharapkan untuk mengetahui dan memahami tahap

perkembangan keluarga dengan anak usia remaja, memahami tugas-tugas

perkembangan keluarga pada tahap ini, permasalahan-permasalahan yang biasa

terjadi pada tahap ini, peran dan tanggung jawab orang tua, dan dapat memenuhi

lima tugas perawatan keluarganya. Serta dapat menyelesaikan dan mencapai

tujuan tahap perkembnagan keluarga dengan anak usia remaja.

2. Perawat

Untuk perawat diharapkan dapat memahami dan mengerti tentang konsep dan

asuhan keperawatan keluarga dengan anak remaja agar dapat menerapkan dan

53
memberikan pelayanan yang efektif kepada anak dan keluarga yang mungkin

mengalami masalah yang ditimbulkan oleh kebutuhan akan tugas dan

perkembangan keluarga dengan anak usia remaja ini.

54
DAFTAR PUSTAKA

Friedman Marilyn. 1998.Keperawatan Keluarga.EGC:Jakarta

Perry & potter .2005.Fundamental of nursing.EGC:Jakarta

Rahmad hidayat,Dede.2009.Ilmu perilaku manusia.CV Trans Info

Media:Jakarta

Suprajitno.2004. Asuhan keperawatan keluarga.EGC:Jakarta

Hurlock B Elizabeth.1980.Psikologi Perkembangan.Erlangga:Jakarta

Mubarak Wahit Iqbal.2009.Ilmu Keperawatan Komunitas.Salimba

Medika:Jakarta

55