Está en la página 1de 31

ASPEK KEPERILAKUAN PADA PENGAMBIL

KEPUTUSAN DAN PARA PENGAMBIL KEPUTUSAN

Makalah
Akuntansi Keperilakuan

Dosen Pengampu :
Siti Noor Khikmah, S.E., M.Si.

Disusun Oleh :
Heru Saputro (15.0102.0008)
Dini Anis K (15.0102.0031)
Dian Puteri R (15.0102.0050)
Yuni Asih (15.0102.0055)

PROGRAM STUDI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAGELANG
2018
BAB I

PENDAHULUAN

Perusahaan dalam proses kegiatan operasionalnya pastinya akan mengalami

proses pengambilan keputusan. Proses ini menentukan langkah mana yang akan

diambil atau jalan mana yang akan diambil dimana keputusan tersebut berdasarkan

banyak pertimbangan dan dapat diterima oleh semua pihak. Keputusan dibuat semata-

mata untuk kepentingan perusahaan untuk itu tentunya ada campur tangan beberapa

pihak dalam pengambilan keputusan. Pengambilan keputusan terjadi sebagai suatu

reaksi dari suatu masalah. Terdapat penyimpangan antara harapan dan kenyataan

yang menuntut pertimbangan alternative. Semua keputusan menuntut penadsiran dan

evaluasi terhadap informasi. Lazimnya data diterima dari berbagai sumber dan data

itu perlu disaring, diproses, dan ditafsirkan. Dan keputusan untuk memilih data yang

relevan juga perlu dipertimbangkan terlebih dahulu untuk menghasilkan keputusan

yang baik.

Dalam proses pengambilan keputusan ada banyak perilaku-perilaku yang

mempengaruhi pengambilan keputusan tersebut misal kemampuan berpikir mereka

yang kritis dan analitis sangat dibutuhkan dalam proses ini karena dengan begitu akan

mempertimbangkan dengan matang setiap masalah yang terjadi dan soslusi yang bisa

diambil untuk menyelesaikannya. Selain itu data akauntansi juga bisa mempengaruhi

pengambilan keputusan, seperti investor yang akan berinvestasi akan


mempertimbangkan keputusannya dengan laporan keuangan perusahaan. Untuk itu

dalam hal ini akan dibahas lebih lanjut mengenai aspek keperilakuan dalam

pengembilan keputusan oleh entitsa dan para pengambil keputusan terkait.


BAB II

PEMBAHASAN

A. PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Pengambilan keputusan dapat diartikan sebagai proses memikirkan,

mengelola, dan memecahkan masalah. Dalam organisasi, pengambilan keputusan

merupakan proses memilih diantara berbagai alternative tindakan yang akan

berdampak di masa depan. Berikut ini langkah- lagkah dalam pengambilan

keputusan yaitu :

1. Pengenalan dan pendefinisian atas suatu masalah atau suatu peluang.

Langkah ini merupakan respon terhadap suatu masalah, ancaman

yang dirasakan, atau kesempatan dibayangkan. Untuk mengenali dan

mendefinisikan masalah atau peluang, para pengambil keputusan

memerlukan informasi mengenai lingkungan, keuangan, dan operasi.

2. Pencarian atas tindakan alternatif dan kuantifikasi atas konsekuensinya.

Ketika definisi dari masalah atau peluang selesai, pencarian untuk

program alternatif tindakan dan kuantifikasi konsekuensi mereka dimulai.

Pada langkah ini, sebagai alternatif praktis sebanyak mungkin

diidentifikasi dan dievaluasi. Pencarian sering dimulai dengan melihat

masalah serupa yang terjadi di masa lalu dan tindakan yang dipilih pada

saat itu. Jika saja dipilih tindakan bekerja dengan baik, mungkin akan

diulangi. Jika tidak, pencarian alternatif tambahan akan


diperpanjang.Dalam tahap ini, sebanyak mungkin alternatif yang praktis

didiefinisikan dan dievaluasi.

3. Pemilihan alternatif yang optimal atau memuaskan.

Tahap yang paling penting dalam proses pengambilan keputusan

adalah memilih salah satu dari beberapa alternatif. Meskipun langkah ini

mungkin memunculkan pilihan rasional, pilihan terakhir sering didasarkan

pada pertimbangan politik dan psikologis daripada fakta ekonomi.

4. Penerapan dan tindak lanjut.

Kesuksesan atau kegagalan dari keputusan akhir bergantung pada

efisiensi penerapannya. Pelaksanaan hanya akan berhasil jika individu-

individu yang memiliki kontrol atas sumber daya organisasi yang

diperlukan untuk melaksanakan keputusan (misalnya, uang, orang, dan

informasi) benar-benar berkomitmen untuk membuatnya bekerja.

a. Motif Kesadaran

Motif kesadaran ialah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk

bertindak melakukan sesuatu yang masih berada dalam tingkat kesadaran

seseorang. Terdapat dua faktor penting dari motif kesadaran dalam konteks

pengambilan keputusan, yaitu :

i. Keinginan akan kestabilan atau kepastian.

Keinginan akan kestabilan menegaskan adanya kemampuan

untuk memprediksikan Ini menjadi pendorong bagi keinginan kita

untuk membuat bagian- bagian dari konsep yang cocok satu sama lain
secara konsisten. Motif ini mengaktifkan baik pikiran sadar dan bawah

sadar untuk membuat masuk akal suatu ketidakseimbangan, ambigu,

atau ketidakpastian informasi.

ii. Keinginanan akan kompleksitas dan keragaman.

Motif kompleksitas menimbulkan keinginan akan suatu

stimulus dan eksplorasi serta mengaktifkan pikiran sadar dan bawah

sadar untuk mencari data baru dari ingatan atau lingkungan, kemudian

menyeimbangkannya dan mengaturnya dengan motif. Selain itu,

faktor yang berhubungan erat dengan prediksi adalah perbedaan dalam

teori keputusan secara matematis antara kepastian, risiko, dan

ketidakpastian. Kepastian didapat ketika semua akibat dari suatu

alternatif keputusan tidak diketahui. Risiko dapat terjadi ketika

seseorang menentukan suatu pilihan dari berbagai alternatif yang ada.

Ketidakpastian timbul ketika seseorang tidak dapat menentukan

kemungkinan konseuensi yang timbul dari tindakan yang

dilakukannya.

Dengan menggunakan dimensi-dimensi kompleksitas dan kemampuan

untuk membuat prediksi, para ahli psikologi telah mengembangkan empat

jenis model keputusan :

a) Model keputusan yang diprogram secara sederhana.

Model ini ditandai dengan aturan-aturan prediksi yang tidak

kompleks, yang ditetapkan oleh orang lain yang bukan si pengambil


keputusan. Alternatif yang memuaskan, ketika pertama kali ditemukan,

biasanya langsung dipilih. Alternatif-alternatif tersebut dinilai

berdasarkan kriteria-kriteria yang sederhana dengan risiko yang

minimum, yang penerapannya dilakukan secara individu.

b) Model keputusan yang tidak diprogram secara sederhana.

Pada model ini, apa pun akan terlihat baik pada saat itu bagi si

pengambil keputusan yang langsung memilih alternatif tersebut.

Informasi bersumber dari prasangka melalui keyakinan-keyakinan

umum. Dalam organisasi, informasi juga dapat berasal dari sistem

informasi manajemen dengan akuntansi yang menjadi komponen

utama. Alternatif pertama yang dipilih harus mampu menyesuaikan

diri dengan tujuan laba jangka pendek yang diinginkan dengan

mengabaikan risiko yang ada.

c) Model keputusan yang diprogram secara kompleks.

Pada model ini melibatkan perencanaan yang begitu rinci.

Masalah dan peluang diantisipasi dengan skala prioritas yang begitu

hati-hati. Alternatif-alternatif yang ada dievaluasi berdasarkan

pertimbangan memaksimalkan manfaat jangka panjang.

d) Model keputusan yang tidak diprogram diprogram secara kompleks

Model ini memiliki ciri khas yaitu partisipasi yang terus-

menerus dari semua orang yang terlibat untuk memaksimalkan

perolehan informasi dan koordinasi.


b. Jenis-jenis dari Model Proses

Tiga model utama dalam pengambilan keputusan dari seorang

pengambilan keputusan dalam suatu organisasi, model-model tersebut adalah:

1) Model Ekonomi

Model tradisional mengasumsikan bahwa semua tindakan

manusia dan keputusan secara sempurna rasional dan bahwa dalam

sebuah organisasi, ada konsistensi antara berbagai motif dan tujuan.

Diasumsikan bahwa semua alternatif adalah dikenal dan bahwa

probabilitas yang terkait dengan alternatif dapat dihitung dengan pasti.

Keputusan tidak tergantung pada preferensi pribadi, tetapi lebih

merupakan didikte oleh tujuan yang konsisten dari organisasi.

2) Model Sosial

Model ini merupakan kebalikan ekstrem dari model ekonomi.

Model ini mengasumsikan bahwa manusia pada dasarnya tidak rasional

dan bahwa keputusan dihitung berdasarkan interaksi sosial. Model ini

merasakan bahwa tekanan dan ekspektasi adalah kekuatan

motivasiutama.

3) Model Kepuasan Simon

Model ini lebih berguna dan model yang lebih praktis. Hal ini

didasarkan pada konsep Simon pada orang administrasi, di mana

manusia dipandang sebagai rasional karena mereka memiliki


kemampuan untuk berpikir, memproses informasi, membuat pilihan, dan

belajar.

B. CARA PENGAMBILAN KEPUTUSAN DALAM ORGANISASI

1. Rasional Terbatas

Dengan mengasumsikan bahwa suatu masalah mempunyai lebih dari

satu solusi potensial, pilihan yang cukup memuaskan akan menjadi pilihan

pertama yang dapat diterima dengan baik oleh pengambil keputusan.

2. Intuisi

Pengambilan keputusan intuitif merupakan suatu proses tidak sadar

yang diciptakan dari pengalaman tersaring. Intuitif ini tidak harus berjalan

secara independen dari analisis rasional. Lebih tepatnya, keduanya saling

melengkapi. Pengambilan keputusan intuitif kemungkinan diambil dalam

kondisi: 1) bila ada ketidakpastian dalam tingkat yang tinggi, 2) bila hanya

sedikit preseden untuk diikuti, 3) bila variabel-variabel dapat diramalkan

secara ilmiah, 4) bila fakta terbatas, 5) bila fakta tidak dengan jelas

menunjukan jalan untuk diikuti, 6) bila data analitis kurang berguna, 7) bila

terdapat beberapa penyelesaian alternatif yang masuk akal untuk dipilih,

dengan argumen yang baik untuk masing-masing alternatif, dan 8) bila waktu

terbatas dan ada tekanan untuk segera mengambil keputusan yang tepat.

3. Identifikasi Masalah

Masalah-masalah yang tampak cenderung memiliki kemungkinan

terpilih lebih tinggi dibandingkan dengan masalah-masalah yang penting.


Pernyataan ini didasarkan setidaknya pada dua alasan. Pertama, mudah untuk

mengenali masalah-masalah yang tampak. Kedua, perlu diingat bahwa semua

orang menaruh perhatiaan yang besar terhadap pengambilan keputusan dalam

organisasi.

4. Membuat Pilihan

Untuk menghindari informasi yang terlalu padat, para pengambil

keputusan mengandalkan heuristik atau jalan pintas pengambian keputusan.

Terdapat dua ketegori umum heuristik, yaitu ketersediaan dan keterwakilan.

5. Perbedaan Individual: Gaya Hidup Pengambilan Keputusan

Riset tentang gaya pengambilan keputusan telah mengidentifikasi

empat pendekatan individual yang berbeda terhadap pengambilan keputusan.

Pertama adalah cara mereka berpikir. Ada orang yang logis dan rasional.

Sebalinya ada yang intuitif dan kreatif. Kedua adala toleransi pribadi terhadap

ambiguitas. Ketiga adalah para individu dengan gaya konseptual cenderung

menjadi sangat luas dalam pandangan mereka dan mempertimbangkan banyak

alternatif. Keempat adalah gaya perilaku yang dicirikan oleh pengambil

keputusan yang dapat bekerja baik dengan pihak lain.

6. Keterbatasan Organisasi

Organisasi itu sendiri merupakan penghambat bagi para pengambil

keputusan. Para manajer, misalnya membentuk keputusan-keputusannya

untuk mencerminkan sistem penilaian kinerja dan pemberian imbalan, untuk


mematuhi peraturan-peraturan formal, dan untuk memenuhi batas waktu yang

ditetapkan organisasi.

C. ASUMSI KEPERILAKUAN DALAM PENGAMBILAN KEPUTUSAN

ORGANISASI

a. Perusahaan sebagai Unit Pengambilan Keputusan

Untuk mengatasi kelebihan beban dan pengambilan keputusan,

organisasi megembangkan “prosedur operasi standar” yang formal atau tidak

formal untuk masalah-masalah yang berulang yang menjadi “aturan

pengambilan keputusan” untuk keputusan-keputusan rutin dalam bidang-

bidang, seperti manajemen persediaan, perhitungan biaya, penetapan harga,

dan pemrosesan pesanan. Keputusan dibuat berdasarkan aturan pengambilan

keputusan yang telah ditentukan sebelumnya, yang disebut dengan keputusan

yang diprogram.

Cybert dan March menggambarkan empat konsep dasar relasional

sebagai inti dari pengambilan keputusan bisnis:

1. Resolusi semu dari konflik

Teori keputusan klasik mengasumsikan bahwa konflik dapat

diselesaikan dengan menggunakan rasionalitas lokal, aturan-aturan

pengambilan keputusan yang dapat diterima, dan perhatian secara

berurutan pada tujuan. Rasionalitas dicapai dengan membagi masalah

pengambilan keputusan itu ke dalam sub-sub masalah dan dengan

menyerahkannya kepada sub-sub organisasi untuk diselesaikan.


2. Menghindari ketidakpastian

Solusi yang ditawarkan sebagian besar bersifat kuantitatif dan

melibatkan prosedur pengambilan keputusan secara statistik guna

mendapatkan angka ekuivalen dari kepastian, serta alat untuk hidup

berdampingan dengan ketidakpastian (game theory, simulasi, dan model-

model lainnya).

Schiff dan Lewin (1974) menambahkan kelonggaran (slack)

organisasi ke alat-alat yang digunakan untuk menghindari ketidakpastian.

Slack diciptakan selama proses alokasi sumber daya dengan cara

mengestimasikan pendapatan yang terlalu rendah sementara biaya yang

akan dikeluarkan untuk situasi pengambilan keputusan tersebut terlalu

tinggi, sehingga meningkatkan probabilitas keberhasilan ketika keputusan

tersebut diterapkan.

3. Pencarian masalah

Cybert dan March (1963) mengembangkan suatu teori pencarian

organisasional yaitu “pencarian masalah”, yang bertujuan untuk mencari

solusi masalah yang dihadapi. Pencarian organisasional mempunyai empat

karakteristik. Pertama, dimotivasi oleh adanya suatu masalah atau peluang

dan tidak akan berhenti sampai masalah itu terpecahkan atau peluang itu

ditindak lanjuti. Kedua, pencarian tersebut bersifat sederhana. Ketiga,

setiap pencarian bersifat bias. Yang pada akhirnya bias tersebut dapat

dirusak oleh bias komunikasi yang mencerminkan konflik yang tidak


terselesaikan di suatu bagian dalam organisasi dan yang dengan sendirinya

memerlukan perhatian segera.

4. Pembelajaran organisasi

Organisasi memperlihatkan perilaku adaptif dari karyawannya.

Mereka belajar mengurusi bagian tertentu dari lingkungan tersebut dan

bukan lainnya, atau untuk menggunakan sutau kriteria dan mengabaikan

kriteria lainnya.

b. Manusia – Para Pengambil Keputusan Organisasi

Manusialah yang memilih kriteria pengambilan keputusan, memilih

alternatif yang optimal, dan menerapkannya. Masalah pengambilan keputusan

berkisar dari yang sederhana sampai yang rumit. Masalah-masalah keputusan

bervariasi, dari yang sederhana hingga kompleks.

Masalah sederhana yang ditemukan sehari-hari kemungkinan besar

akan diselesaikan oleh seorang individu, memiliki pelatihan dan keahlian

khusus dalam bidang tersebut. Untuk keputusan yang berulang dan rutin,

organisasi kemungkinan besar akan menggunakan aturan-aturan pengambilan

keputusan atau prosedur operasi standar yang telah ditentukan sebelumnya.

c. Kekuatan dan Kelemahan Individu sebagai Pengambil Keputusan

Manusia merupakan makhluk yang rasional karena memiliki kapasitas

unutk berpikir, memilih, dan belajar. Akan tetapi rasionalitas manusia sangat

terbatas.
Batasan pengambilan keputusan secara rasional dari individu bervariasi

menurut:

1. Lingkup pengetahuan yang tersedia dalam kaitannya dengan seluruh

alternatif yang mungkin dan konsekuensinya.

2. Gaya kognitif mereka (misalnya kemampuan untuk berfikir secara kritis

dan analitis, ketergantungan pada orang lain, kemampuan asosiatif, dan

sebagainya), dengan asumsi bahwa tidak ada satu pun gaya kognitif yang

unggul karena dalam situasi masalah tertentu, lebih dari satu pendekatan

dapat mengarah pada hasil yang diinginkan.

3. Struktur nilai mereka yang berubah.

4. Tendensi mereka yang lebih cenderung untuk “memuaskan” daripada

untuk melakukan optimalisasi.

d. Peran Kelompok sebagai Pembuat Keputusan dan Pemecah Masalah

Komite menyatukan orang-orang dengan karakterisitk yang heterogen,

yang menawarkan keunggulan dari keragaman dalam pengalaman,

pengetahuan, dan keahlian serta luasnya ide, dan keahlian dapat menghasilkan

dialog yang lebih baik, pemahaman akan masalah, dan tindakan alternatif

yang kreatif.

Kemampuan kelompok untuk menganalisis masalah, mendefinisikan,

dan menilai alternatif secara kritis, serta untuk mencapai keputusan yang valid

dapat diperlemah oleh dua fenomena perilaku, yaitu pemikiran kelompok dan

pergeseran yang berisiko atau dampak diskusi kelompok.


1. Fenomena pemikiran kelompok

Group think menggambarkan situasi di mana tekanan untuk mematuhi

mencegah anggota-anggota kelompok individual untuk mempresentasikan

ide atau pandangan yang tidak populer. Untuk menghindari atau

mengoreksi pemikiran kelompok, seseorang sebaiknya:

a) Menugaskan anggota tim yang berbeda untuk memainkan peran

“antagonis” pada setiap pertemuan

b) Memasukkan pakar-pakar eksternal yang berbeda pada setiap

pertemuan

c) Membagi kelompok tersebut menjadi dua atau lebi subkelompok dan

meminta mereka untuk melakukan investigasi atas berbagai alternatif

secara terpisah.

d) Menghindari untuk menyatakan solusi preferensial pada awal diskusi,

tetapi membiarkan kelompok tersebut untuk melanjutkan proses

diskusi tanpa ada solusi yang sudah diambil terlebih dahulu.

Tindakan perbaikan lainnya yang efektif adalah penggunaan

kelompok yang heterogen.

2. Fenomena pergeseran yang berisiko (dampak diskusi kelompok)

Merupakan produk sampingan dari interaksi manusia, yang

dicirikan oleh kelompok yang lebih memilih alternatif yang lebih agresif
dan berisiko dibandingkan dengan apa yang mungkin dilakukan oleh

individu-individu jika mereka bertindak sendirian.

Clark (1971) menawarkan penjelasan mengenai penyebab

timbulnya pergeseran yang berisiko:

a) Hipotesis familiarisasi menjelaskan bahwa diskusi kelompok dimulai

dengan periode “perasaan asing” atau “mulai perlahan-lahan”, namun

ketika individu-individu tersebut sudah lebih mengenal situasi yang

dibahas dan mengenal satu sama lain, mereka menjadi lebih berani dan

lebih rela mengambil lebih banyak risiko.

b) Hipotesis kepemimpinan, para pengambil risiko dikagumi dan

dipandang oleh anggota-anggota kelompok sebagai pemimpin karena

mereka biasanya dominan dalam diskusi kelompok.

c) Hipotesis risiko sebagai nilai mengamati bahwa dalam kondisi

masyarakat saat ini, risiko moderat memiliki nilai budaya yang lebih

kuat dibandingkan dengan konservatisme dan bahwa orang yang mau

mengambil risiko dikagumi.

d) Hipotesis difusi tanggung jawab, keputusan kelompok membebaskan

individu dari tanggung jawab langsung terhadap pilihan akhir

kelompok.

Salah satu pendekatan untuk menghindari dampak buruk dari

pilihan keputusan yaitu pemilihan secara hati-hati atas angota-anggota tim

berdasarkan sikap mereka dalam hal pengambilan risiko. Suatu kelompok


pengambilan keputusan sebaiknya selalu terdiri atas campuran antara

pengambil risiko konservatif dan para pengambil risiko moderat guna

mengendalikan kandungan risiko dari hasil keputusan.

3. Kesatuan Kelompok

Kesatuan kelompok didefinisikan sebagai tingkat dimana anggota-

anggota kelompok tertarik satu sama lain dan memiliki tujuan kelompok

yang sama. Tingkat kesatuan kelompok dipengaruhi oleh jumlah waktu

yang dihabiskan bersama oleh para anggota kelompok, tingkat kesulitan

dari penerimaan anggota baru ke dalam kelompok, ukuran kelompok,

ancaman eksternal yang mungkin, dan sejarah keberhasilan dan kegagalan

kelompok dimasa lalu. Pada umumnya, kesatuan kelompok akan menurun

ketika ukuran kelompok meningkat karena interaksi antaranggota

kelompok yang lebih besar menjadi lebih sulit dan ketaatan terhadap

tujuan bersama kelompok menjadi semakin tidak mungkin. Juga terdapat

bahaya terjadinya formasi klik (kelompok didalam kelompok).

Faktor lainnya yang memengaruhi kesatuan kelompok secara

menguntungkan adalah riwayat dari kelompok itu. Kesatuan suatu

kelompok juga akan meningkat ketika kelompok tersebut diserang oleh

sumber eksternal seperti atasan mereka atau kelompok lain. Jika anggota

kelompok memandang bahwa kelompok mereka mungkin tidak dapat

menghadapi serangan dengan baik, maka kelompok tersebut akan menjadi

kurang penting sebagai sumber rasa aman, dan kesatuan tidak selalu akan
meningkat. Selain itu, jika para anggota yakin bahwa serangan ditujukan

pada kelompok hanya karena kelompok tersebut ada dan ancaman itu akan

berhenti jika kelompok tersebut diabaikan atau tercerai-berai, maka

kemungkinan besar akan terdapat penurunan dalam tingkat kesatuan.

e. Pengambilan Keputusan dengan Konsensus vs Aturan Mayoritas

Konsensus dalam konteks pengambilan keputusan didefinisikan oleh

Holder (1972) sebagai “kesepakatan semua anggota kelompok dalam pilihan

keputusan”. Dalam kebanyakan situasi, konsensus hanya dapat diambil

setelah pertimbangan yang matang serta evaluasi yang kritis atas plus dan

minusnya. Pengambilan keputusan dengan konsensus memerlukan lebih

banyak waktu dibanding dengan pengambilan keputusan dengan aturan

mayoritas. Sehingga konsensus kurang tepat jika diterapkan dalam waktu

krisis.

f. Kontroversi yang Disebabkan oleh Hubungan Atasan dan Bawahan

Kualitas dari pemilihan keputusan akan sangat bergantung bagaimana

atasan menangani kontroversi tersebut. Terdapatnya kontroversi dalam situasi

pengambilan keputusan tidak terlalu berpengaruh buruk terhadap

berfungsinya kelompok.

Menurut Vroom dan Yetton (1973), atasan sebagai pemimpin

memiliki pilihan-pilihan keprilakuan sebagai berikut:

1. Menyelesaikan masalah atau mengambil keputusan sendiri dengan

menggunakan informasi yang tersedia pada saat itu.


2. Memperoleh informasi yang diperlukan dari bawahan, kemudian

menggunakannya untuk memutuskan suatu solusi bagi masalah tersebut.

3. Menceritakan masalah tersebut dengan bawahan yang relevan secara

pribadi, memperoleh ide-ide serta saran-saran mereka. Kemudian buat

keputusan yang dapat saja dipengaruhi atau tidak dipengaruhi oleh ide

bawahan tersebut.

4. Menceritakan masalah tersebut pada bawahannya sebagai suatu kelompok,

memperoleh ide-ide serta saran-saran mereka. Kemudian buat keputusan

yang dapat saja dipengaruhi atau tidak dipengaruhi oleh ide bawahan

tersebut.

5. Menceritakan masalah tersebut pada bawahannya sebagai suatu kelompok,

mendiskusikan kelebihan dan kekurangan yang ada serta mencoba untuk

mencapai suatu kesepakatan.

Masing-masing pilihan keperilakuan dapat megarah pada keputusan

yang memuaskan, tapi riset yang menguji validitasnya menemukan bahwa

teori partisipasi unggul ketika kualitas dari keputusan tersebut penting dan

penrimaan serta implementasi yang dipaksakan bersifat meragukan.

g. Pengaruh Dasar Kekuasaan

Elemen kekuasaan yang paling sering disebutkan adalah kekuasaan

posisi, keahlian, sumber daya, atau kekuasaan politik. Seseorang dapat

memiliki lebih dari satu elemen kekuasaan dan menggunakannya pada

tingkatan yang berbeda dalam situasi pengambilan keputusan tertentu.


a. Kekuasaan posisi, ada ketika pengaruh seseorang itu diperoleh dari posisi

orang tersebut dalam organisasi, wewenang yang diberikan, serta tugas,

tanggungjawab, dan fungsi yang terkandung didalamnya. Pengaruh

kekuasaan posisi dirasakan disetiap situasi pengambilan keputusan.

b. Kekuasaan keahlian, mempengaruhi keputusan ketika hasil dari keputusan

itu merupakan hasil dari pengetahuan seseorang mengenai situasi yang

sedang diinvestigasi, keterampilan atau keahlian teknis khusus,

pengalaman dalam menangani situasi yang serupa, dan penilaian ahli yang

di demonstrasikan.

c. Kekuasaan sumberdaya, ada ketika seseorang mengendalikan sumber-

sumber daya organisasi atau sumber-sumber daya yang diperlukan untuk

menerapkan suatu keputusan dan menggunakannya sebagai alat untuk

memengaruhi hasil keputusan.

d. Kekuasaan politik, dapat digambarkan sebagai keunggulan kepemimpinan

pribadi seseorang dan keterampilannya dalam membujuk, melakukan

negosiasi, membentuk koalisi, dan berbagai strategi politik lainnya.

h. Dampak dari Tekanan Waktu

Tekanan waktu menyebabkan para anggota kelompk menjadi lebih

sering setuju guna mencapai konsensus kelompok; lebih kurang menuntut dan

lebih bersifat mendamaikan dalam situasi tawar-menawar; lebih membatasi

partisipasi dalam proses pengambilan keputusan hanya pada relative sedikit

anggota; dan lebih banyak menyukai aturan mayoritas. Dengan kata lain,
dalam situasi tekanan waktu, anggota kelompok yang dominan akan

mengambil alih.

D. PERAN KEPRIBADIAN DAN GAYA KOGNITIF DALAM

PENGAMBILAN KEPUTUSAN

Perbedaan psikologis individu dapat dibagi menjadi dua kategori:

kepribadian dan gaya kognitif. Kepribadian mengacu pada sikap atau keyakinan

individu, sementara gaya kognitif mengacu pada cara atau metode dengan mana

seseorang menerima, menyimpan, memproses, serta meneruskan informasi.

Dalam suatu situasi pengambilan keputusan, kepribadian dan gaya kognitif saling

berinteraksi dan memengaruhi (menambah atau mengurangi) dampak dari

informasi akuntansi.

E. PERAN INFORMASI AKUNTANSI DALAM PENGAMBILAN

KEPUTUSAN

Secara definisi, keputusan manajemen memengaruhi kejadian atau

tindakan masa depan, sedangkan informasi akuntansi memfokuskan pada

peristiwa-peristiwa di masa lalu tidak dengan sendirinya dapat mengubah

kejadian atau dampaknya kecuali jika hal itu dilakukan melalui proses

pengambilan keputusan dengan mana kejadian masa depan beserta

konsekuensinya ditentukan. Karena pengambilan keputusan dan informasi

mengenai hasil kinerja akuntansi fokus pada periode waktu yang berbeda, maka

keduanya hanya dihubungkan oleh fakta bahwa proses pengambilan keputusan


menggunakan data akuntansi tertentu yang dimodifikasi selain informasi

nonkeuangan.

F. PENGAMBILAN KEPUTUSAN OLEH PENDATANG BARU VS OLEH

PAKAR

Walaupun kedua kelompok tersebut menggunakan proses evaluasi yang

sama, perbedaan besar muncul pada pendekatan-pendekatan khusus mereka, yaitu

dalam penggunaan data. Untuk menggambarkan perbedaan ini, peneliti membagi

tugas tersebut ke dalam tiga komponen.

a. Pengujian Informasi

Pengujian didefinisikan sebagai kegiatan menganalisis informasi yang

disajikan dan menyeleksi untuk dipertimbangkan lebih lanjut, hanya informasi

yang terlihat sangat relevan dengan tugas keputusan itu yang harus

dilaksanakan.

b. Integrasi Pengamatan dan Temuan

Integrasi pada konteks ini melibatkan pengelompokan atas

pengamatan, baik berdasarkan hubungan sebab akibat maupun berdasarkan

komponen fungsional dari perusahaan.

c. Pertimbangan

Pertimbangan yang digunakan dalam pengambilan keputusan tampak

lebih jelas dalam formulasi hipotesis, pengembangan petunjuk dalam

formulasi keputusan akhir, dan dalam penyusunan ringkasan temuan.


G. PERAN AKUNTANSI DALAM PROSES PENGAMBILAN KEPUTUSAN

a. Data Akuntansi Sebagai Stimuli dalam Pengenalan Masalah

Akuntansi dapat berfungsi sebagai stimuli dalam pengenalan masalah

melalui pelaporan deviasi kinerja actual dari sasaran standar atau anggaran

atau melalui pemberian informasi kepada manajer bahwa mereka gagal untuk

mencapai target output atau laba yang ditentukan sebelumnya. Misall

Penurunan rasio perputaran persediaan akan mengarahkan perhatian

manajemen atas tingkat persediaan dan penjualan. Rasio akuntansi periodic,

laporan kinerja dan data akuntansi lainnya akan mengarahkan pada suatu

solusi yang bergantung pada factor berikut :

1. Hal tersebut akan bergantung pada seberapa cepat kondisi lingkungan

eksternal dan internal memungkinkan suatu stimuli. Misal, seorang

pengusahaa ritel memiliki fleksibilatas yang cukup cepat untuk

bereaksi terhadap kondisi permintaan dan biaya yang cepat berubah,

mereka dapat menurunkan harga atas sebagian atau seluruh persediaan

dan melakukan obral.

2. Tingkat stimulus juga bergantung pada kapabilitas manajemen (para

pengambil keputusan) untuk mengelola serta menggunakan informasi

akuntansi dan pada preferensi pribadi mereka untuk informasi

kualitatif dan kuantitatif. Manajer yang kualitatif cenderung

menggunakan perasaan mereka ketka mengamati gejala defisiensi dan

jarang menggunakan informasiakuntansi, sebaliknya manajer yang


cenderung kuantitatif akan memandang informasi akuntansi sebagai

alat pengarah perhatian penting.

Agar dapat berfungsi sebagai stimuli dalam pengenalan dan

penyelesaian masalah, data akuntansi yang mengarahkan perhatian tersebut

harus disertai :

1. Latar belakang pendidikan dan keahlian khusus manajer

2. Ukuran perusahaan dan desentralisasinya

Dalam perusahaan yang besar dan tersentralisasi dimana

perencanaan, pengendalian, dan evaluasi kinerja dilakukan di kantor pusat,

informasi akuntansi akan menjadi stimulus yang kuat karena merupakan

alat satu-satunya pengarah perhatian.pada organisasi yang terdesentralisasi

dampak stimuli tergantung pada system evaluasi kinerja yang dilakukan.

Pada perusahaan kecil,observasi ditempat dan intuisi akan menjadi stimuli

yang kuat dibanding data akuntansi periodic.

3. Data industry yang langsung tersedia

Dimana data eksternal yang relevan langsung tersedia,manajer

dapat mempertimbangkan data tersebut sebagai data penting dan sumber

acuan. Data akuntansi internal digunakan untuk membandingkan

perusahaannya dengan pesaing dan rata-rata industry.

b. Dampak Data Akuntansi dalam Pilihan Keputusan

Jika produk baru melibatan metode produksi yang sama dengan

produk yang sudah ada maka data akuntansi yang dimdifikasi akan digunakan.
Jika karakter produksi sangat bervariasi,maka informasi internal hanya

memiliki sedikit kegunaan. Jika tingkat ketidakpastian sangat tinggi dan

informasi non-akuntansi dan informasi eksternal adalah langka dan mahal,

maka perusahaan harus menggunakan informasi akuntansi sebagai pngganti.

Perusahaan yang mengalami sedikit persaingan dan memiliki

permintaan yang tidak elastic akan lebih banyak bergantung pada biaya yang

disediakan oleh system akuntansinya ketika membuat keputusan mengenai

penentuan harga dan lini produk. Informasi akuntansi juga memainkan

peranan penting dalam keputusan jangka pendek dibandingkan keputusan

yang melibatkan konsekuensi jangka panjang karena informasi akuntansi

hanya mencerminkan biaya dan pendapatan yang berkaitan dengan operasi

sekarang. Para pengambil keputusan lebih memilih informasi eksternal ketika

informasi tersebut langsung tersedia dan tidak begitu mahal disbanding data

akuntansi internal. Dampak dari informasi akuntansi yaitu ketidakmampuan

untuk mengukur biaya kesempatan, karena akuntansi melaporkan biaya masa

lalu sementara biaya kesempatan adalah pengorbanan.

c. Hipotesis Keperilakukan dari Dampak Data Akuntansi

Informasi keuangan merupakan salah satu input dalam model

pengambilan keputusan dimana input tersebut dapat berupa keuangan,non-

kuangan,atau bahkan tidakdapat dikuantifikasi. Pada dasarnya, tingkat

pengaruh informasi akuntansi bervariasi tergantung jenis pengambil


keputusan. Bruns (1981) mengelompokkan para pengambil keputusan ke

dalam tiga kelompok yaitu :

1. Para pembuat keputusan dalam perusahaan yang mengambilkeputusan

mengenai operasi dan system akuntansi digunakan untuk menyusun

laporan (manajemen puncak)

2. Para pengambil keputusan dalam perusahaan yang membuat keputusan

mengenai operasi saja (manajer operasi)

3. Mereka yang berada diluar perusahaan yang membuat keputusan

mengenai perusahaa,dan dapat memengaruhi lingkungan dan operasinya,

tetapi tidak memiliki kendali langsung atas operasi perusahaan.

Bruns merangkum beragam hipotesis yang disusunya dalam model

dampak sebagai berikut:

1. Informasi akuntansi akan mempengaruhi keputusan mengenaisistem

akuntansi,jika:

a. Informasi akuntansi relevan untuk keputusan itu

b. Pengambil keputusan memandang akuntansi sebagai tujuan

c. Perngambil keputusan adalah anggota perusahaan yang

mengendalikan seleksidan operasi dari system akuntansi

2. Informasi akuntansi akan mempengaruhikeputusan jika:

a. Informasi akuntansi relevan untuk keputusan tersebut

b. Pengambil keputusan memandang akuntansi sebagai tujuan


c. Perngambil keputusan adalah anggota perusahaan yang

mengendalikan seleksi dan operasi dari system akuntansi

d. Pengambil keputusan adalah orang-orang diluar perusahaan

e. Pengambil keputusan memandang akuntansi sebagai ukuran yang

sempurna

f. Informasi non-akuntansi tidak relevan untuk keputusan tersebut

3. Informasi akuntansi mungkin mempengaruhi keputusan jika:

a. Informasi akuntansi relevan untuk keputusan tersebut

b. Pengambil keputusan memandang akuntansi sebagai ukuran yang

sempurna

c. Informasi non-akuntansi tidak relevan untuk keputusan tersebut

d. Pengambil keputusan memandang akuntansi sebagai ukuran yang

tidak sempurna

e. Informasi akuntansi tidak relevan untuk keputusan itu.

4. Informasi akuntansi tidak akan mempengaruhi keputusan jika :

a. Informasi akuntansi tidak relevan untuk keputusan itu.

b. Informasi akuntansi relevan untuk keputusan tersebut, tetapi

pengambil keputusan memandang informasi akuntansi sebagai ukuran

yang tidak sempurna

c. Informasi non-akuntansi relevan untuk keputusan itu.

Para peneliti menemukan bahwa ada dua factor yang menentukan

tingkat penyesuaian perubahan metode dan terminology akuntansi,yaitu :


a) Umpan Balik

Untuk melihat pengambil keputusan sama sekali tidak

memiliki umpan balik apapun mengenai perubahan tersebut adalah

mustahil. Jika seseorang mengabaikan dampak jangka pendek yang

mungkin akibat perubahan dan indikasinya, maka kecil

kemungkinannya bahwa tidak terdapat umpan balik sama sekali

b) Fiksasi Fungsional

Hal ini mengimplikasikan ketidakmampuan dipihak pengguna

informasi untuk memahami apa yang tersirat di balik label yang

diberikan kepada suatu angka. Ketika mereka menerima suatu istilah

atau pendekatan pengukuran akuntansi, mereka jarang akan

dipengaruhi oleh perubahan metode atau terminology akuntansi yang

digunakan.

Sehingga dalam hal ini ditemukan bahwa, baik individu

maupun kelompok gagaluntuk menyesuaikan diri secara memadai

terhadap perbedaan metode penyusutan, tetapi bahwa

kelompomenunjukkan tingkat fiksasi fungsionalyang lebih tinggi

dibandingkan dengan pengambil keputusan individu.


BAB III

KESIMPULAN

Pengambilan keputusan dapat diartikan sebagai proses memikirkan,

mengelola, dan memecahkan masalah. Dalam organisasi, pengambilan keputusan

merupakan proses memilih diantara berbagai alternative tindakan yang akan

berdampak di masa depan. Berikut ini langkah- lagkah dalam pengambilan keputusan

yaitu :

1. Pengenalan dan pendefinisian atas suatu masalah atau suatu peluang.

2. Pencarian atas tindakan alternatif dan kuantifikasi atas konsekuensinya.

3. Pemilihan alternatif yang optimal atau memuaskan.

4. Penerapan dan tindak lanjut.

Dalam pengaturan organisasi, pengambilan keputusan biasanya didefinisikan

sebagai proses memilih dari antara program alternatif tindakan yang mempengaruhi

masa depan.

Bouwman (1984) mengungkapkan sejumlah perbedaan yang menarik dalam

strategi dan pendekatan yang digunakan serta data spesifik yang dipilih oleh pakar

dan pendatang baru ketika mengambil keputusan berdasarkan informasi akuntansi

atau informasi keuangan lainnya. Pendatang baru mengumpulkan data tanpa

melakukan deskriminasi dan menunggu untuk melihat apa yang terjadi. Sebaliknya,

para pakar mengumpulkan data secara diskriminatif guna menindaklanjuti observasi

tertentu. Untuk menggambarkan perbedaan dalam penggunaan data dibagi kedalam

kedalam tiga komponen:1) Pengujian Informasi, 2) integrasi pengamatan dan temuan,


3) Pertimbangan. Karena pengambilan keputusan dan informasi mengenai hasil

kinerja akuntansi fokus pada periode waktu yang berbeda, maka keduanya hanya

dihubungkan oleh fakta bahwa proses pengambilan keputusan menggunakan data

akuntansi tertentu yang dimodifikasi selain informasi nonkeuangan.

Ketika informasi akuntansi digunakan sebagai alat pengenalan masalah, maka

informasi tersebut juga digunakan sebagai dasar untuk menentukan konsekuensi yang

dapat dikuantifikasi atas tindakan alternatif yang perlu dipertimbangkan lebih lanjut.

Informasi akuntansi memainkan peran yang lebih penting dalam keputusan jangka

pendek dibandingkan dalam keputusan yang melibatkan konsekuensi jangka panjang,

karena informasi akuntansi hanya mencerminkan biaya dan pendapatan yang

berkaitan dengan operasi sekarang. Dan kelihatannya para pengambil keputusan lebih

memilih informasi ekternal jika informasi tersebut langsung tersedia dan tidak begitu

mahal dibandingkan dengan data akuntansi yang dikembangkan secara internal.

Informasi akuntansi menjadi tujuan ketika penghargaan atau sanksi dikaitkan dengan

hasilnya. Misalnya, jika seorang manajer berharap untuk dipromosikan jika ia dapat

mengurangi biaya, maka manajer tersebut akan melihat informasi akuntansi sebagai

dasar untuk menentukan apakah ia telah berhasil atau tidak.


DAFTAR PUSTAKA

Lubis, Arfan Ikhsan. 2010. Akuntansi Keperilakuan, Edisi 2. Jakarta: Salemba Empat.