Está en la página 1de 36

1

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada dekade belakangan ini populasi usia lanjut meningkat di Negara-

negara sedang berkembang, yang awalnya hanya terjadi di negara maju. Demikian

halnya di Indonesia populasi lanjut usia juga mengalami peningkatan (Tanaya,

1997). Adanya jumlah peningkatan lansia, masalah kesehatan yang di hadapi

bangsa Indonesia menjadi kompleks, terutama yang berkaitan dengan gejala

penuaan.

Masalah kesehatan lansia sangat bervariasi, selain erat kaitanya dengan

degenerative (menua) juga secara progresif tubuh akan kehilangan daya tahan

tubuh terhadap infeksi, di samping itu juga sesuai dengan bertambahnya usia

muncul masalah-masalah psikologis yang menuntut adanya perubahan secara terus

menerus. Sejalan dengan bertambahnya umur mereka, mereka sedah tidak

produktif lagi, kemampuan fisik maupun mental mulai menurun, tidak mampu lagi

melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih berat, memasuki masa pensiun, di

tinggal pasangan hidup, stres menghadapi kematian, munculnya berbagai penyakit,

dan lain-lain.

Keadaan stres yang kronik adalah salah satu faktor pencetus terjadinya

penyakit hipertensi, baik pada dewasa muda, pertengahan maupun lansia.

Berdasarkan data (WHO) World Health Organization menunjukan, diseluruh

dunia, sekitar 972 orang atau 26,4% penghuni bumi pengidap hipertensi dengan

1
2

perbandingan 26,6% pria dan 26,1% wanita. Angka ini kemungkinan akan

meningkat menjadi 29,2% ditahun. Dari 972 juta pengidap hipertensi, 333 juta

berada di negara maju dan 639 sisanya berada di negara sedang berkembang,

termasuk Indonesia.

Prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar 30% dengan insiden komplikasi

penyakit kardiovaskular lebih banyak pada perempuan (52%) dibandingkan laki-

laki (48%). Data Riskesdas juga menyebutkan hipertensi sebagai penyebab

kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis, jumlahnya mencapai 6,8% dari

proporsi penyebab kematian pada semua umur di Indonesia (Dinkes, 2011). Jawa

Timur menempati posisi pertama untuk provinsi dengan prevalensi hipertensi

tertinggi yaitu sebesar 37,4%. Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten

Jember penderita hipertensi adalah 55.691 penderita (Dinkes Kabupaten Jember

,2011).

Menurut pinson 2009 prevalensi hipertensi semakin meningkat,sesuai

peningkatan usia.walaupun peningkatan tekanan darah bukan bagian normal dari

ketuaan,insiden hepertensi lanjut usia adalah tinggi.hipertensi lebih banyak

menyerang setengah baya pada usia 55-64 tahun. Setelah umur 69 tahun,prevalensi

hepertensi meningkat sampai 50%.

Bardasarkan hasil penelitin yang dilakukan Prabowo Anis Hasil

penelitiannya menyebutkan bahwa mayoritas pasien dilihat dari stres

tergolong mempunyai stres berat dengan kejadian hipertensi.


3

Data Dinas Kesehatan Kabupaten Poso.menunjukan pasien yang

menderita hipertensi sejak bulan Januari s/d Desembar 2014 sebanyak 3628

pasien. Sementara bulan januari s/d Desember 2015 sebanyak 2478 pasien yang

menderita hipertensi (Dinkes 2016).

Berdasarkan data awal yang didapat peneliti dari Puskesmas Kayamanya

pada 6 bulan terakhir pada tahun 2015 jumlah pasien yang menderita Hipertensi

sebesar 504 jiwa pada lansia, dengan menempati urutan ke 2 dari 10 penyakit

terbasar yang terdapat di Puskesmas Kayamanya.Berdasarkan data yang di

dapatkan dari Posyandu Lansia jumlah Lansia sebanyak 123 orang.

Berdasarkan data tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian

tentang “ Hubungan Antara Tingkat Stres Dengan Kejadian Hipertensi pada

Lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Gebang Rejo Kecamatan Poso Kota”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka permasalahan yang dapat

dirumuskan adalah “apakah ada Hubungan antara Tingkat Stres dan Kejadian

Hipertensi pada Lansia di Posyandu Lansia Kelurahan Gebang Rejo, Kabupaten

Poso Kota”?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara

tingkat stres dan kejadian Hipertensi pada Lansia di Posyandu Lansia di

Kelurahan Gebang Rejo, Kabupaten Poso Kota.


4

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi institusi posyandu lansia

Sebagai bahan informasi yang dapat membantu tenaga kesehatan untuk

memberikan pelayanan kesehatan yang optimal di posyandu lansia

2. Bagi institusi pendidikan

Dapat dijadikan sebagai sumbangan pemikiran dan bahan perbandingan bagi

para pembaca untuk menambah pengetahuan mahasiswa.

3. Bagi peneliti

Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan

khususnya tentang hubungan antara stres dengan terjadinya kejadian

hipertensi pada lansia


5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar Stres

1. Pengertian Stres

Stres adalah respons tubuh yang sifatnya non spesifik terhadap tuntutan

beban yang merupakan respon fisiologis, psikologis dan perilaku dari manusia

yang mencoba untuk mengadaptasi dan mengatur baik tekanan internal dan

eksternal (stresor). Stresor dapat mempengaruhi semua bagian dari kehidupan

seseorang, menyebabkan stres mental, perubahan perilaku, masalah-masalah

dalam interaksi dengan orang lain dan keluhan-keluhan fisik lain yang salah

satunya adalah gangguan siklus menstruasi ((Banjari, 2009).

2. Penyebab stres

Menurut Mardiana Y dkk, 2014 Stresor terbagi atas dua klasifikasi,

yaitu stressor internal dan stressor eksternal. Stressor internal adalah penyebab

stres yang berasal dari dalam diri individu, dan stressor eksternal adalah

penyebab stres yang berasal dari luar diri individu. Terjadinya stres pada

seseorang yang berumur tua terbagi atas dua yaitu :

a. Pertama adalah konsekuensi biologik dari penyakit fisik yang diderita

pasien yang berhubungan dengan perubahan neurohumoral pada sistem

saraf pusat.

b. Kedua, akibat efek samping obat yang dikonsumsinya. Ketiga, reaksi

psikologis terhadap penderitaan akibat penyakit fisik yang dialaminya.


6

3. Jenis stres

Menurut Mardiana Y dkk, 2014 terdapat dua jenis stres yaitu :

a. Distres yang artinya stres yang merugikan dan merusak.

b. Eustres artinya stres yang bersifat menguntungkan dan membangun.

4. Sumber – sumber stress

Menurut Wirawan (2012), terdapat tiga sumber stres yaitu :

a. Lingkungan

Lingkungan merupakan salah satu sumber stress pada individu.

Sebagai contoh pada seorang Lansia. Lansia dihadapkan pada beban

dan tuntutan dari lingkungan.

b. Tubuh

Tubuh juga berespon terhadap perubahan yang terjadi, kecemasan dan

beban pikiran muncul. Tubuh akan melakukan serangkaian proses

homeostasis dalam mempertahankan keseimbangan. Ketika stress

terjadi, seseorang akan terfokus pada permasalahan yang dihadapi.

c. Pikiran

Pikiran dapat menimbulkan stres. Berbagai problematika yang kompleks

jika dipikirkan secara mendalam dapat menyebabkan seseorang

kehilangan gairah untuk melakukan suatu kegiatan.

5. Tanda – tanda stres

Gejala fisik yang muncul akibat stres adalah lelah, insomnia,

nyeri kepala, berdebar-debar, nyeri dada, napas pendek, gangguan lambung,


7

mual, gemetar, ekstremitas dingin, wajah terasa panas, berkeringat, sering flu,

menstruasi terganggu, otot kaku dan tegang terutama pada bagian leher,

bahu, dan punggung bawah (maryam dkk 2011). Gejala mental atau psikologis

yang muncul akibat stres seperti berkurangnya konsentrasi dan daya ingat,

ragu-ragu, bingung, kosong, pikiran jenuh.

6. Tingkat Stres

Menurut Mardiana Y dkk, 2014. stres terbagi menjadi tiga tahapan yang

meliputi:

a. Stres Ringan

Pada fase ini seseorang mengalami peningkatan kesadaran dan lapang

persepsinya.

a. Stres Sedang

Stres sedang ditandai dengan kewaspadaan, fokus pada indera penglihatan

dan pendengaran, peningkatan ketegangan dalam batas toleransi, dan

mampu mengatasi situasi yang dapat mempengaruhi dirinya

b. Stres Berat

Stres kronis yang terjadi beberapa minggu sampai tahun. Semakin sering

dan lama situasi stres, semakin tinggi risiko kesehatan yang

ditimbulkan.

7. Pengukuran Stres

Beberapa alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat stres

pada individu antara lain:


8

a. Depression Anxiaty Stress Scale 42 DASS 42)

Depression Anxiaty Stress Scale 42 DASS 42) merupakan alat

ukur stres yang dikemukakan oleh Loviband dan Loviband pada tahun

1995. Alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat stressalah

satunya adalah DASS (Depression Anxiaty Stress Scale). DASS adalah

laporan yang diisi oleh orang yang bersangkutan yang didesain untuk

mengukur tingkat emosi negative dari depresi, ansietas dan stres. Item

pertanyaan untuk mengukur stres terdiri dari 40 pertanyaan dengan 4 poin

jawaban. Pertanyaan yang dituliskan mengukur apa yang dirasakan selama

seminggu kebelakang. Pengkaterogian dari hasil pengisian kuesioner

dibagi dalam 5 jenjang untuk menghndari kesalahan interpretasi yaitu

normal, ringan, sedang, berat, dan sangat berat. Alat ukur ini terdiri dari 40

item pertanyaan yang masing-masing dinilai sesuai dengan intensitas

kejadian. Tingkatan stres pada instrument ini berupa normal, ringan,

sedang, berat, sangat berat. Psychohometric properties of TheDepression

Ansiety Stres Scale 40 (DASS) terdiri dari 40 item. Jumlah skor dari

pernyataan item tersebut, memiliki makna 0-29 (normal); 30-59 (ringan);

60-89 (sedang); 90-119 (berat); > 120 (sangat berat).

8. Strategi Pencegahan Stres

a. Lapis Pertama (primary privention), dengan cara merubah

caraseseorang melakukan sesuatu, maka dalam hal ini perlu memiliki

skills yang relevan, misalnya : skill mengatur waktu, skill


9

menyalurkan, skill mendelegasikan, skill mengorganisasikan, menata,

dst.

b. Lapis kedua (Secondary prevention), strateginya dengan menyiapkan

diri menghadapi stressor, dengan cara exercise, diet, rekreasi, istrahat,

meditasi, dst.

c. Lapis ketiga (Tertiary prevention), strateginya yaitu dengan

menangani dampak stres yang terlanjur ada, kalau diperlukan meminta

bantuan jaringan supportive ( social-network ) ataupun bantuan

professional.

B. Konsep Dasar Hipertensi

1. Definisi hipertensi

Hipertensi atau penyakit “darah tinggi” merupakan kondisi ketika

seseorang mengalami kenaikan tekanan darah baik secara lambat atau

mendadak. Diagnosis hipertensi ditegakkan jika tekanan darah sistol

seseorang menetap pada 140 mmHg atau lebih. Nilai tekanan darah yang

paling ideal adalah 115/75 mmHg (Agoes , 2011).Hipertensi adalah

peningkatan tekanan darah secara terus menerus hingga melebihi batas

normal, tekanan normal adalah 140/ 90 mmHg.

2. Penyebab Hipertensi

a. Hipertensi Primer ( Hipertensi Esensial)


10

Tidak jelas penyebabnya dan merupakan sebagian besar ± 90%

dari seluruh kejadian hipertensi. Hipertensi esensial adalah

penyakit multifaktoral yang timbul terutama karena interaksi antara

faktor-faktor ri siko tertentu (Yogiantoro, 2006). Hipertensi primer

ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat dikontrol (Ditjen Bina

Kefarmasian dan Alat Kesehatan, 2006).

b. Hipertensi Sekunder (Hipertensi non Esensial)

Hipertensi yang penyebabnya dapat diketahui, sering berhubungan

dengan beberapa penyakit misalnya ginjal, jantung koroner,

diabetes, kelainan sistem syaraf pusat. Jumlah kejadiannya mencapai ±

10% (Sunardi, 2000).

3. Komplikasi

a. Arterosklorosis

Arterosklorosis atau pengerasan pembuluh darah tersebut

mengakibatkan tekanan darah didalam pembuluh menjadi tinggi. Selain

itu nikotin yang terkandung dalam asap rokok menyebabkan

perangsangan terhadap hormone adrenalin yang bersifat memacu

jantung dan tekanan darah. (Husaini, 2007). Jantung akan bekarja

keras, sedangkan tekanan darah akan semakin meninggi dan berakibat

timbulnya hipertensi.
11

b. Penyakit Jantung koroner

Penyakit Jantung Koroner (PJK) ialah penyakit jantung yang

terutama disebabkan karena penyempitan arteri koronaria akibat

proses aterosklerosis atau spasme atau kombinasi keduanya. Hasil

laporan riset kesehatan dasar (RISKESDAS 2007).

c. Penyakit Ginjal kronik

Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan masalah kesehatan

masyarakat di seluruh dunia. Penyakit ginjal kronik sendiri adalah

penurunan fungsi ginjal dan atau kerusakan ginjal yang berkelanjutan

selama minimal 3 bulan.

4. Faktor Resiko Hipertensi

a. Umur

Hipertensi dapat timbul pada semua usia walaupun sebagian

besar pasien pada umumnya berusia lebih dari 40 tahun. Ada beberapa

faktor yang secara gabungan menyebabkan hal tersebut terjadi,

misalnya kurang aktifitas fisik, berat badan berlebihan dan gangguan

dari perubahan hormonal. Satu dari lima pria berusia antara 35 sampai

44 tahun memiliki tekanan darah yang tinggi. Angka tersebut menjadi

dua kali lipat pada usia 45 – 54 tahun dan pada usia 65 – 74 tahun

prevalensinya menjadi lebih tinggi lagi, sekitar 60% menderita

hipertensi (Vitahealh, 2005)


12

b. Jenis kelamin

Hipertensi lebih sering ditemukan padapria terjadi setelah usia

31 tahun sedangkan pada wanita terjadi setelah umur45 (setelah

menopause). Di Jawa Barat prevalensi hipertensi pada laki – laki

sekitar 23,1% sedangkan pada wanita sekitar 6,5%. Pada usia 50 – 59

tahun prevalensi hipertensi pada laki – laki sekitar 53,8% sedangakan

pada wanita sekitar 29% dan pada usi lebih dari 60 tahun prevalensi

hipertensi sekitar 64,5% (Mervin, L. 2010)

c. Status sosial ekonomi

Di negara-negara yang berada pada tahap paska-peralihan

perubahan ekonomi dan epidemiologi selalu dapat ditunjukkan bahwa

aras tekanan darah dan prevalensi hipertensi yang lebih tinggi terdapat

pada golongan sosiol ekonomi rendah. Hubungan yang terbalik itu

ternyata berkaitan dengan tingkat pendidikan, penghasilan, dan

pekerjaan. Akan tetapi, dalam masyarakat yang berada dalam masa

peralihan atau pra-peralihan, aras tinggi tekanan darah dan prevalensi

hipertensi lebih tinggi terdapat pada golongan sosioekonomi yang lebih

tinggi.

d. Genetika

Sekitar 20-40% variasi tekanan darah di antara individu

disebabkan oleh faktor genetik. Penelitian menunjukkan bahwa tekanan

darah seorang anak akan lebih mendekati tekanan darah orangtuanya


13

bila mereka memiliki hubungan darah dibanding dengan anak adopsi.

Hal ini menunujukkan bahwa gen yang diturunkan, dan bukan hanya

faktor lingkungan (seperti makanan dan status sosial), berperan besar

dalam menentukan tekanan darah.

e. Ras atau suku bangsa

Kajian populasi selalu menunjukkan bahwa aras tekanan darah

pada masyarakat kulit hitam lebih tinggi ketimbang aras pada golongan

suku lain. Suku mungkin berpengaruh pada hubungan antara umur dan

tekanan darah, seperti yang ditunjukkan oleh kecenderungan tekanan

darah yang meninggi bersamaan dengan bertambahnya umur secara

progresif pada orang Amerika berkulit hitam keturunan Afrika

ketimbang orang Amerika berkulit putih.

Sementara itu ditemukan variasi antar suku di Indonesia. Di

lembah Baliem Jaya, Papua kejadian hipertensi terendah yaitu 0,6%,

sedangkan yang tertinggi terdapat di Jawa Barat pada suku Suku Sunda

yaitu 28,6%.

f. Lemak dan kolestrol

Pola makan penduduk yang tinggi di kota-kota besar berubah

dimana fastfood dan makanan yang kaya kolesterol menjadi bagian

yang dikonsumsi sehari-hari. Mengurangi diet lemak dapat

menurunkan tekanan darah 6/3 mmHg dan bila dikombinasikan dengan

meningkatkan konsumsi buah dan sayuran dapat menurunkan tekanan


14

darah sebesar 11/6 mmHg. Makan ikan secara teratur sebagai cara

mengurangi berat badan akan meningkatkan penurunan tekanan darah

pada penderita gemuk dan memperbaiki profil lemak.

g. Konsumsi garam

Penelitian menunjukkan adanya kaitan antara asupan natrium

yang berlebihan dengan tekanan darah tinggi pada beberapa individu.

Asupan natrium yang meningkat menyebabkan tubuh meretensi cairan,

yang meningkatkan volume darah. Di samping itu, diet tinggi garam

dapat mengecilkan diameter dari arteri. Jantung harus memompa lebih

keras untuk mendorong volume darah yang meningkat melalui ruang

sempit, akibatnya adalah hipertensi. Hal ini sebaliknya juga terjadi,

ketika asupan natrium berkurang maka begitu pula volume darah dan

tekanan darah pada beberapa individu.

h. Alkohol

Alkohol juga mempengaruhi tekanan darah. Orang-orang yang

minum alkohol terlalu sering atau yang terlalu banyak memiliki

tekanan darah yang lebih tinggi dari pada individu yang tidak minum

atau minum sedikit alkohol.Lebih dari dua minuman keras sehari akan

menimbulkan peningkatan signifikan. Diperkirakan 5-10% hipertensi

pada laki-laki Amerika disebabkan langsung oleh konsumsi alkohol.

Berdasarkan laporan Komisi Pakar WHO mengatakan bahwa

pada beberapa populasi, konsumsi minuman keras selalu berkaitan


15

dengan tekanan darah tinggi. Jika minuman keras diminum sedikitnya

dua kali per hari, TDS naik kira-kira 1,0 mmHg dan TDD kira-kira 0,5

mmHg per satu kali minum. Peminum harian ternyata Universitas

Sumatera Utara mempunyai aras TDS dan TDD lebih tinggi, berturut-

turut 6,6 mmHg dan 4,7 mmHg dibandingkan dengan peminum sekali

seminggu.

i. Kelebihan berat badan (Overweight)

Anak dan dewasa yang kegemukan menderita lebih banyak

hipertensi dan penambahan berat badan biasanya diikuti oleh kenaikan

tekanan darah. Walaupun kalori tambahan yang bertanggung jawab

bagi kenaikan berat badan, dapat menginduksi hipertensi karena ia

membawa natrium tambahan.

Berdasarkan laporan Komisi Pakar WHO pada kebanyakan

kajian, kelebihan berat badan berkaitan dengan 2-6 kali kenaikan risiko

mendapat hipertensi. Pada populasi Barat, jumlah kasus hipertensi yang

disebabkan oleh kelebihan berat badan diperkirakan 30-65%

j. Rokok

Rokok mengandung ribuan zat kimia yang berbahaya bagi tubuh,

seperti tar, nikotin dan gas karbon monoksida. Selain orang merokok

(perokok aktif), orang yang tidak merokok tetapi menghisap asap rokok

juga memiliki resiko hipertensi. Orang ini disebut perokok pasif, resiko

perokok pasif 2X dari perokok aktif (Muhammadun, 2010).


16

k. Stres

Hubungan antara stres dengan hipertensi di duga melalui saraf

simpatis yang dapat meningkatkan tekanan darah secara intermiten.

Apabila stres berlangsung lama dapat mengakibatkan peninggian

tekanan darah yang menetap (Suyono, 2004).

l. Status olahraga

Orang dengan gaya hidup yang tidak aktif akan lebih rentan

terhadap tekanan darah tinggi. Melakukan olahraga secara teratur tidak

hanya menjaga bentuk tubuh dan berat badan, tetapi juga dapat

menurunkan tekanan darah. Jenis latihan yang dapat mengontrol

tekanan darah adalah berjalan kaki, bersepeda, berenang, dan aerobik.

5. Pencegahan Hipertensi

a. Pencegahan primodial

Pencegahan primordial yaitu upaya pencegahan munculnya

faktor predisposisi terhadap hipertensi dimana belum tampak adanya

faktor yang menjadi risiko. Upaya ini dimaksudkan dengan

memberikan kondisi pada masyarakat yang memungkinkan pencegahan

terjadinya hipertensi yang dapat dilakukan melalui pendekatan

populasiataupun perorangan. Pendekatan populasi secara khusus

mengandalkan program untuk mendidik masyarakat. Pendidikan

masyarakat yakni masyarakat harus diberi informasi mengenai sifat,


17

penyebab, dan komplikasi hipertensi, cara pencegahan, gaya hidup

sehat, dan pengaruh faktor risiko kardiovaskular lainnya.

b. Pencegahan primer

Pencegahan primer dilakukan dengan pencegahan terhadap

faktor risiko yang tampak pada individu atau masyarakat. Sasaran pada

orang sehat yang berisiko tinggi dengan usaha peningkatan derajat

kesehatan yakni meningkatkan peranan kesehatan perorangan dan

masyarakat secara optimal dan menghindari faktor risiko timbulnya

hipertensi.

primer penyebab hipertensi adalah sebagai berikut:

1) Mengurangi/menghindari setiap perilaku yang memperbesar risiko,

yaitu menurunkan berat badan bagi yang kelebihan berat badan dan

kegemukan, menghindari meminum beralkohol, mengurangi atau

menghindari makanan yang mengandung makanan yang berlemak

dan berkolesterol tinggi.

2) Peningkatan ketahanan fisik dan perbaikan status gizi, yaitu

melakukan olahraga secara teratur dan terkontrol seperti senam

aerobik, jalan kaki, berlari, naik sepeda, berenang, diet rendah

lemak dan memperbanyak mengonsumsi buahbuahan dan sayuran,

mengendalikan stress dan emosi.


18

c. Pencegahan sekunder

Sasaran utama adalah pada mereka terkena penyakit hipertensi

melalui diagnosis dini serta pengobatan yang tepat dengan tujuan

mencegah proses penyakit lebih lanjut dan timbulnya komplikasi.

Pemeriksaan diagnostik terhadap pengidap tekanan darah tinggi

mempunyai beberapa tujuan.

1) Memastikan bahwa tekanan darahnya memang selalu tinggi

2) Menilai keseluruhan risiko kardiovaskular

3) Menilai kerusakan organ yang sudah ada atau penyakit yang

menyertainya

C. Konsep Dasar Lansia

1. Definisi lansia

Menurut pengertian Gerontologi, lansia adalah suatu tahap

dalam hidup manusia mulai dari bayi, anak-anak, remaja, tua, dan usia

lanjut, dan bukan penyakit melainkan suatu prose salami yang tidak

bisa dihindarkan. Umur manusia sebagai makhluk hidup terbatas oleh

suatu peraturan alam, maksimal sekitar enam kali masa bayi sampai

dewasa atau 6x20 tahun sama dengan 120 tahun (Depkes RI, 2001).

Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur

kehidupan manusia. Sedangkan menurut Pasal 1 ayat (2), (3), (4) UU No.

13 Tahun 1998 tentang kesehatan dikatakan bahwa usia lanjut adalah


19

seseorang yang telah mencapai usia lebih dari 60 tahun (Maryam dkk,

2011).

Lanjut usia (lansia) adalah tahap akhir perkembangan pada daur

kehidupan manusia. Pembagian lansia menurut Depkes yaitu lansia

dengan usia pertengahan adalah kelompok usia dalam masa virilitas, yaitu

masa persiapan usia lanjut yang menampakkan keperkasaan fisik dan

kematangan jiwa (45 -54 tahun). Lansia dini adalah lansia dengan usia 55

-64 tahun. Kelompok lanjut usia adalah kelompok yang berumur 65 tahun

keatas, serta kelompok lansia be resiko tinggi adalah lansia dengan usia

lebih dari 70 atau kelompok lansia yang hidup sendiri, terpencil,

tingal di panti, menderita penyakit berat atau cacat.

2. Batasan Umur Lanjut Usia

Menurut pendapat berbagai ahli (Efendi 2009 dalam Dian Fithria

Hidayanty 2012) batasan-batasan umur yang mencakup batasan umur

lansia adalah sebagai berikut:

a. Menurut Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 dalam Bab 1 Pasal 1

ayat 2 yang berbunyi “Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai

usia 60 (enam puluh) tahun ke atas”.

b. Menurut World Health Organization (WHO), usia lanjut dibagi

menjadi empat kriteria berikut : usia pertengahan (middle age) ialah

45-59 tahun, lanjut usia (elderly) ialah 60-74 tahun, lanjut usia tua
20

(old) ialah 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) ialah di atas 90

tahun.

c. Menurut Dra. Jos Masdani (Psikolog UI) terdapat empat fase yaitu :

pertama (fase inventus) ialah 25-40 tahun, kedua (fase virilities) ialah

40-55 tahun, ketiga (fase presenium) ialah 55-65 tahun, keempat (fase

senium) ialah 65 hingga tutup usia.

d. Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro masa lanjut usia

(geriatric age): > 65 tahun atau 70 tahun. Masa lanjut usia (getiatrik

age) itu sendiri dibagi menjadi tiga batasan umur, yaitu young old

(70-75 tahun), old (75-80 tahun), dan very old ( > 80 tahun)

3. Klasifikasi Lansia

Klasifikasi berikut ini adalah lima klasifikasi pada lansia yang

terdiri dari : pralansia (prasenilis) yaitu seseorang yang berusia antara

45-59 tahun, lansia ialah seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih,

lansia resiko tinggi ialah seseorang yang berusia 70 tahun atau

lebih/seseorang yang berusia 60 tahun atau lebih dengan masalah

kesehatan, lansia potensial ialah lansia yang masih mampu melakukan

pekerjaan dan/atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang/jasa, lansia

tidak potensial ialah lansia yang tidak berdaya mencari nafkah, sehingga

hidupnya bergantung pada bantuan orang lain.


21

4. Karakteristik Lansia

Lansia memiliki karakteristik sebagai berikut: berusia lebih dari 60

tahun (sesuai dengan pasal 1 ayat (2) UU No.13 tentang kesehatan),

kebutuhan dan masalah yang bervariasi dari rentang sehat sampai sakit,

dari kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif

hingga kondisi maladaptif, lingkungan tempat tinggal bervariasi (Maryam

dkk, 2008).

5. Tipe lansia

Beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter, pengalaman

hidup, lingkungan, kodisi fisik, mental, sosial, dan ekonominya (Maryam

dkk, 2008). Tipe tersebut dijabarkan sebagai berikut.

a. Tipe arif bijaksana.

Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan

perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah

hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi

panutan.

b. Tipe mandiri.

Mengganti kegiatan yang hilang dengan yang baru, selektif dalam

mencari pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.


22

c. Tipe tidak puas.

Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi

pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik

dan banyak menuntut.

d. Tipe pasrah.

Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama, dan

melakukan pekerjaan apa saja.

e. Tipe bingung.

Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder, menyesal,

pasif, dan acuh tak acuh.

f. Tipe lain

dari lansia adalah tipe optimis, tipe konstruktif, tipe independen

(ketergantungan), tipe defensife (bertahan), tipe militan dan serius,

tipe pemarah/frustasi (kecewa akibat kegagalan dalam melakukan

sesuatu), serta tipe putus asa (benci pada diri sendiri).

6. Proses Penuaan

Penuaan adalah normal, dengan perubahan fisik dan tingkah laku

yang dapat diramalkan yang terjadi pada semua orang pada saat mereka

mencapai usia tahap perkembangan kronologis tertentu. Ini merupakan

suatu fenomena yang kompleks multidimensional yang dapat diobservasi

di dalam satu sel dan berkembang sampai pada keseluruhan sistem. Tahap

dewasa merupakan tahap tubuh mencapai titik perkembangan yang


23

maksimal. Setelah itu tubuh mulai menyusut dikarenakan berkurangnya

jumlah sel-sel yang ada di dalam tubuh. Sebagai akibatnya, tubuh juga

akan mengalami penurunan fungsi secara perlahan-lahan. Itulah yang

dikatakan proses penuaan (Maryam dkk, 2008)

7. Teori – teori Proses Penuaan

Menurut Maryam, dkk (2008) ada beberapa teori yang berkaitan

dengan proses penuaan, yaitu : teori biologi, teori psikologi, teori sosial,

dan teori spiritual.

a. Teori biologis Teori biologi mencakup teori genetik dan mutasi,

immunology slow theory, teori stres, teori radikal bebas, dan teori

rantai silang.

Teori genetik dan mutasi. Menurut teori genetik dan mutasi, semua

terprogram secara genetik untuk spesies-spesies tertentu. Menua

terjadi sebagai akibat dari perubahan biokimia yang diprogram oleh

molekul-molekul DNA dan setiap sel pada saatnya akan mengalami

mutasi.

Immunology slow theory. Menurut immunology slow theory, sistem

imun menjadi efektif dengan bertambahnya usia dan masuknya virus

ke dalam tubuh yang dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh.

b. Teori psikologis

Perubahan psikologis yang terjadi dapat dihubungkan pula dengan

keakuratan mental dan keadaan fungsional yang efektif. Adanya


24

penurunan dan intelektualitas yang meliputi persepsi, kemampuan

kognitif, memori, dan belajar pada usia lanjut menyebabkan mereka

sulit untuk dipahami dan berinteraksi. Persepsi merupakan

kemampuan interpretasi pada lingkungan. Dengan adanya penurunan

fungsi sistem sensorik, maka akan terjadi pula penurunan kemampuan

untuk menerima, memproses, dan merespons stimulus sehingga

terkadang akan muncul aksi/reaksi yang berbeda dari stimulus yang

ada.

c. Teori sosial

Ada beberapa teori sosial yang berkaitan dengan proses penuaan,

yaitu teori interaksi sosial (social exchange theory), teori penarikan

diri (disengagement theory), teori aktivitas (activity theory), teori

kesinambungan (continuity theory), teori perkembangan (development

theory), dan teori stratifikasi usia(age stratification theory).

d. Tugas perkembangan lansia

Lansia harus menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik yang terjadi

seiring penuaan. Waktu dan durasi perubahan ini bervariasi pada tiap

individu, namun seiring penuaan sistem tubuh, perubahan penampilan

dan fungsi tubuh akan terjadi. Perubahan ini tidak dihubungkan

dengan penyakit dan merupakan perubahan normal. Adanya penyakit

terkadang mengubah waktu timbulnya perubahan atau dampaknya

terhadap kehidupan sehari-hari.


25

Adapun tugas perkembangan pada lansia dalam adalah :

beradaptasi terhadap penurunan kesehatan dan kekuatan fisik,

beradaptasi terhadap masa pensiun dan penurunan pendapatan,

beradaptasi terhadap kematian pasangan, menerima diri sebagai

individu yang menua, mempertahankan kehidupan yang memuaskan,

menetapkan kembali hubungan dengan anak yang telah dewasa,

menemukan cara mempertahankan kualitas hidup.

8. Penyakit – penyakit pada lansia

a. Diabetes mellitus

Diabetes mellitus adalah penyakit kronik, progresif yang

dikarakteristikan dengan ketidakmampuan tubuh untuk melakukan

metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein dari awal terjadinya

hiperglikemia (kadar gula dalam darah tinggi dalam darah) (Black &

Hawk, 2009).

b. Osteoporosis

Osteoporosis adalah penyakit metabolik tulang yang mempunyai sifat-

sifat khas berupa massa tulang yang rendah disertai mikroaksitektur

tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang akhirnya dapat

menimbulkan kerapuhan tulang dan menyebabkan fraktur.

Osteoporosis disebut sebagai silent desease karna proses kepadatan

tulang berukuran secara perlahandan berlangsung secara progresif

selama bertahun - tahun tampa disadari disertai tanpa adanya gejala.


26

Bahkan pasien Osteoporosis yang dapat didentiikasi setelah terjadi

fraktur hanya kurang dari 25% (Cosman, 2009).

c. Gout (asam urat)

Asam urat adalah merupakan penyakit arthritis yang menyerang

daerah persendian dan disebabkan karena kelainan metabolisme

purin, pada tahap kronis akan terjadi pembentukan tofi (garam

natrium urat) yang mengakibatkan kecacatan permanen pada daerah

persendian.

d. Demensia

Demensia merupakan salah satu gangguan yang terjadi pada lansia

sebagai efek perubahan dari fisiologis yang berupa kemunduran

kognitif. Perubahan khas pada demensia terjadi pada kognisi, memori,

bahasa, kemampuan, visouspasial, dan gangguan perilaku serta

pemenuhan kebutuhan lainnya. Lansia yang mengalami demensia

dilaporkan jugaq memiliki deficit aktifitas kehidupan sehari-hari

(AKS) dan aktifitas instrumen kehidupan sehari-hari (AIKS) (Palestin,

2006).

e. Osteoporosis

Terjadi penurunan metabolism kalsium. Hal ini menurunkan

persenyawaan organik dan anorganik sehingga masah tulang menipis

dan tulang menjadi keropos. (Nurarif dan Kusuma 2015)


27

D. Kerangka teori

Sumber – sumber stres Pencegahan hipertensi


a. Pencegahan primodial
a. Lingkungan
b. Pencegahan primer
b. tubuh
c. Pencegahan sekunder
c. Pikiran

Stres

Faktor resiko hipertensi

Penyebab hipertensi a. Umur


b. Status sosial ekonomi
a. Hipertensi primer
c. Lemak dan kolestrol
b. Hipertens sekunder d. Konsumsi garam
e. Alkohol
f. Kelebihan berat badan
g. Rokok
h. Stres

Gambar 2.1.Bagan Kerangka Teori


28

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS

A. Kerangka konsep

Kerangka konsep merupakan model konseptual yang berkaitan

dengan bagaimana seorang peneliti menyusun teori atau menghubungkan

secara logis beberapa faktor yang dianggap penting untuk masalah

(Alimul,2008).

variabel independen variabel dependen

Tingkat stres lansia Kejadian hipertensi pada


lansia

3.1. Bagan Kerangka Konsep

B. Hipotesis

Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara penelitian, Patokan

duga atau sementara, yang kebenarannya akan dibuktikan dalam penelitian

tersebut (Notoatmodjo 2010).


29

Adapun hipotesis penelitian dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

Ha : Ada hubungan antara tingkat stres dengan kejadian hipertensi pada

lansia di posyandu lansia di Kelurahan Gebang Rejo Kecamatan poso

Kota.

Ho:Tidak ada hubungan antara tingkat stres dengan kejadian hipertensi pada

lansia di posyandu lansia di Kelurahan Gebang Rejo Kecamatan Poso

Kota.
30

BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain peneltian

Penelitian ni menggunakan jenis analitik dengan desain penelitian

potong lintang (cross sectional) yaitu desain penelitian yang mengukur

hubungan antara variabel bebas (faktor resiko) dengan variabel terikat (efek)

dalam waktu yang bersamaan (Notoatmodjo 2010).

B. Populasi, sampel dan sampling

1. Populasi

Populasi merupakan seluruh subjek atau objek dengankarakteristik

tertentu yang akan diteliti (Notoadmojo,2010). Populasi

dalam penelitian ini yaitu semua pasien yang berumur > 60 tahun dan

yang mengalami penyakit hipertensi di posyandu lansia kelurahan gebang

rejo, Kabupaten Poso Kota. Jumlah lansia yang berumur > 60 sebanyak

123 orang.

2. Sampel dan Sampling

Sampel merupakan bagian populasi yang akan diteliti atau sebagian

jumlah dari karakteristik yang dimilki oleh populasi (Notoadmodjo,

2010). Teknik pengambilan sampel secarapurposivesampling. Yaitu

berdasarkan pertimbangan peneliti (tujuan tertentu).Selain itu, dalam

mengambil sampel juga harus memperhatikan kriteria-kriteria sampling

yaitu sebagai berikut :


31

a. Kriteria inklusi:

1) Pasien yang menderita hipertensi

2) Lansia yang berumur ≥ 60 tahun ke atas

3) Mau menjadi responden

b. Kriteria eksklusi :

1) Tidak menderita hipertensi

2) Tidak bersedia menjadi responden

3) Lansia yang berumur ≤ 60 tahun

C. Variabel penelitian

1. Variabel Independen

Variabel independen adalah variabel yang menyebabkan atau

mempengaruhi suatu masalah. Variabel independen dalam penelitian ini

adalah tingkat stres lansia

2. Variabel dependen

Variabel dependen adalah variabel yang merupakan efek atau akibat dari

variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah

kejadian hipertensi pada lansia

D. Definisi Operasional

1. Tingkat stres

Stres adalah respon tubuh yang tidak spesifik terhadap tuntutan

(stresor) yang di terima.

Alat Ukur : kuesioner


32

Cara ukur : Pengisian kuesioner

Skala ukur : Ordinal

Hasil ukur : 1. Dikatakan Stres jika > Nilai Median


2. Dikatakan Tidak stres jika < Nilai Median
2. Hipertensi

Hipertensi adalah tekanan darah responden yang di ukur

menggunakansphygmomanometerdengan nilai rentangnya sistolik ≥ 140

mmHg, dan diastolik ≥ 90 mmHg.

Alat ukur : Tensi Meter

Cara ukur : Pengukuran langsung

Skala ukur : Ordinal

Hasil ukur:

1. Dikatakan Hipertensi jika Sistolik >140 mmHg dan diastolik >90

mmHg.

2. Dikatakan tidak Hipertensi jika Sistolik < 140 mmHg dan diastolik<

90

E. Tempat dan waktu penelitian

1. Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di Posyandu Lansia Kelurahan Gerbang Rejo,

Kabupaten Poso Kota.

2. Waktu

Penelitian ini akan dilakukan selama bulan mei tahun 2016.


33

F. Instrument penelitian

Instrument penelitian yang di gunakan dalam penelitian ini adalah

kuesioner. Kuesioner adalah sejumlah pertanyaan yang tertulis yang

digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan

tentang pribadinya, atau hal-hal yang ia ketahui (Arikunto, 2006). Jenis

kuesioner yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden

dimana pertanyaan tertulis tersebut sudah disediakan jawabanya, sehingga

responden tinggal memilih (Arikunto, 2006).

G. Prosedur pengumpulan data

1. Data primer

Data primer di peroleh secara langsung dari responden dengan

menggunakan kuesioner yang telah disediakan terlebih dahulu untuk

memperoleh data yang akurat

2. Data sekunder

Pengumpulan data dalam data sekunder ini yaitu data yang di dapatkan

langsung dari dinas kesehatan dan puskesmas kayamanya.

H. Pengolahan Data dan Analisis Data

1. Pengolahan Data

Prosedur pengolahan data yang dilakukan adalah :


34

a. Editing

Editing adalah upaya untuk memriksa kembali kebenaran data yang

diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap

pengumpulan data atau setelah data terkumpul.

b. Coding

Coding merupakan kegiatan pemberian kode numerik (angka)

terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini

sangat penting bila pengolahan dan análisis data menggunakan

komputer. Biasanya dalam pemberian kode dibuat juga daftar kode

dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan kembali

melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel.

c. Entri Data

Data entri adalah kegiatan memasukkan data yang telah dikumpulkan

ke dalam master tabel atau database komputer. Kemudian membuat

distribusi frekuensi sederhana atau bisa juga dengan membuat tabel

kontigensi.

d. Melakukan teknik analisis

Dalam melakukan análisis, khususnya terhadap data penelitian akan

menggunakan ilmu statistik terapan yang disesuaikan dengan tujuan

yang hendak dianalisis. Apabila penelitiannya deskriptif, maka akan

menggunakan statistik deskriptif. Sedangkan análisis analitik akan

menggunakan statistika inferensial. Statistika deskriptif


35

(menggambarkan) adalah statistika yang membahas cara-cara

meringkas, menyajikan dan mendeskripsikan suatu data dengan tujuan

agar mudah dimengerti dan lebih mempunyai makna. Statistika

inferensial (menarik kesimpulan) adalah statistika yang digunakan

untuk menyimpulkan parameter (populasi) berdasarkan statistika

(sampel) atau lebih dikenal dengan proses generalisasi dan inferensial.

2. Analisis Data

a. Analisa univariat

Analisa univariat dilakukan terhadap setiap variabel dari hasil

penelitian. Analisa ini untuk melihat gambaran deskriptif dari setiap

variabel penelitian.

b. Analisa bivariat

Analisa bivariat dilakukan untuk melihat hubungan variabel

independen terhadap variabel dependen. Data yang telah terkumpul

akan dianalisa menggunakan program SPSS 20 dengan uji Chi Square

pada α ≤ 0,05, artinya bila p<0,05 maka hipótesis H0 ditolak, Ha

diterima berarti ada hubungan yang bermakna dari variabel yang

diukur.

I. Etika penelitian

Masalah etika penelitian keperawatan merupakan masalah yang sangat

penting dalam penelitian, mengingat penelitian keperawatan berhubungan


36

langsung dengan manusia, maka segi etika penelitian harus diperhatikan.

Masalah etika yang harus diperhatikan antara lain adalah sebagai berikut:

1. Lembar persetujuan menjadi responden (Informed Consent) Lember

persetujuan diberikan kepada subyek yang akan diteliti. Peneliti

menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan

serta dampak yang mungkin akan terjadi selama dan sesudah

pengumpulan data. Jika calon responden bersedia untuk diteliti, maka

mereka harus menandatangani lembar persetujuan tersebut. Bila calon

responden menolak untuk diteliti, maka peneliti tidak akan memaksa

dengan tetap menghormati hak – haknya.

2. Tanpa nama (Anonimity)

Dalam penelitian ini kerahasiaan identitas responden harus dijaga. Oleh

Karena itu peneliti tidak akan mencantumkan nama responden pada

lembar kuesioner. Peneliti hanya akan memberikan nomor kode pada

masing – masing lembar tersebut.

3. Kerahasiaan (Confidentiality)

Kerahasiaan informasi responden dijamin oleh peneliti karena hanya

kelompok data tertentu saja yang akan disajikan atau dilaporkan sebagai

hasil riset.