Está en la página 1de 35

CACAT GANDA

Disusun Oleh :Kelompok 4


1. Dian Rahmayani
2. Dina Puyang Sari
3. RahmaliaAyuPratiwi
4. Putri Maharani
5. RatihAgustriani
6. SelviAgustria
7. Sissy Lestari
8. SitiNurdeva
9. Sonia Christina M

DosenPembimbing : Ns. Yunike S.Kep., M.Kes

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN


PALEMBANG

PRODI DIV JURUSAN KEPERAWATAN


2018-2019

1
Kata Pengantar

Dengan menyebut nama Allah SWT yang maha pengasih lagi maha
Penyayang,dengan ini kami panjatkan puji syukur atas kehadirat-nya, yang telah
melimpahkan rahmatnya kepada kami,sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini yang telah kami usahakan semaksimal mungkin dant entunya dengan
bantuan dari banyak pihak , sehingga dapat memperlancar proses prmbuatan
makalah ini . Oleh sebab itu , kami juga ingin menyampaikan rasa terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan
makalah ini. Selain itu kritik dan saran dari anda kami tunggu untuk perbaikan
makalah ini nantinya.

Palembang, Desember 2018

2
3
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................................ii
BAB 1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang.................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah............................................................................... 2
BAB 2 Pembahasan
2.1 Pengertian cacatganda……………………......................................... 3
2.2 Proses Perkembangan Bicara dan Mendengar................................... 4
2.3 Etiologi………………………………………………….................... 8
2.4 Patofisiologi.........................................................................................9
2.5 Manifestasi Klinik…………………………………………………...10
2.6 Pemeriksaan Diagnostik……………………………………....….….13
2.7 Asuhan Keperawatan……………………………………........…...…14
BAB 3 Penutup
3.1 Kesimpulan......................................................................................... 22
3.2 Saran…………………………………………………………..…..….22
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………..……23

4
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Pendengaran merupakan lintasan sensorik yang primer melalui anak, secara normal
memperkembangkan kemampuan berbicara serta bahasa mereka. Gangguan
pendengaran pada usia berapapun dapat terjadi, kendati hanya merupakan
gangguan pendengaran dengan derajat yang ringan sekalipun, akan dapat
mengakibatkan terjadinya permasalahan pada kemampuan berbicara, penguasaan
bahasa serta belajar. Oleh karena itu merupakan sesuatu yang esensial bahwa
terdapatnya kehilangan pendengaran pada anak dapat dikenali sedini mungkin serta
pengelolahannya direncanakan dengan segera. Ketrampilan yang dimiliki oleh
audiologist yang bersangkutan adalah esensial dalam mengenali terdapatnya derajat
tipe gangguan pendengaran yang bersangkutan.
Komunikasi merupakan kebutuhan dasar manusia sebagai suatu sarana untuk
mengungkapkan konsep pikiran, perasaan dan emosi. Salah satu komponen utama
dalam berkomunikasi adalah kemampuan untuk berbicara dan berbahasa. Wicara
merupakan salah satu kemampuan yang diperoleh melalui suatu proses
perkembangan yang rumit, dimulai segera setelah bayi lahir. Secara umum
gangguan wicara diakibatkan oleh faktor organik, fungsional, ataupun keduanya.
Wicara adalah kemampuan berbahasa vokal (motorik) dengan mengartikulasikan
bahasa. Untuk dapat berbahasa membutuhkan kemahiran reseptif (memahami
bahasa), mengelolah infformasi yang diterima dan kemampuan ekspresif
(mengemukakan ide/kehendak, gagasan, dan pengetahuan kepada orang lain).
Ekspresi bahasa dapat disampaikan dalam bentuk wicara, mimik, isyarat, tulisan
maupun bahasa tubuh. Gangguan wicara pada anak erat kaitannya dalam proses
tumbuh kembang. Ada tidaknya gangguan wicara pada anak dapat dinilai dan
dievaluasi dengan membandingkan proses pematangan dan kemampuan inividu
normal.
Pada anak kemampuan berbahasa dan/atau wicara dapat normal, terlambat,
terganggu atau menyimpang dari pola normal. Ketidaktahuan akan tahap
perkembangan mendengar dan wicara menyebabkan kelambatan penemuan dini

5
kasus-kasus gangguan wicara yang tentu saja berakibat pada terlambatnya
penanganan kasus.
Saat ini di Indonesia beluam ada data pasti mengenai jumlah kasus anak dengan
gangguan wicara dan berbahasa. Data dari 808 anak yang datang dengan masalah
gangguan wicara di Pusat Kesehatan Telinga dan Gangguan Komunikasi bagian
THT RSCM menunjukan 82.79 % disebabkan gangguan pendengaran, sedangkan
15.35 % anak dengan gangguan wicara tanpa masalah pendengaran.

I.2 Rumusan Masalah


1. Apa yang dimaksudkan dengan cacat ganda ?
2. Bagaimana proses perkembangan mendengar dan berbicara pada anak ?
3. Faktor-faktor apa sajakah yang menjadi penyebab terjadinya (etiologi)
gangguan bicara dan gangguan pendengaran ?
4. Bagaimana pathofisiologi, manifestasi klinis yang terjadi serta pemeriksaan
penunjang yang dapat dilakukan pada cacat ganda ?
5. Bagaimana penatalaksanaan dan asuhan keperawatan yang diberikan kepada
klien (anak) yang menderita cacat ganda ?

6
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian
Cacat ganda merupakan keadaan dimana terjadi kerusakan atau disfungsi
perkembangan pendengaran yang bersifat sensorineural yang diikuti oleh
kerusakan perkembangan berbahasa atau komunikasi. Gangguan pendengaran pada
usia berapapun dapat terjadi, kendati hanya merupakan gangguan pendengaran
dengan derajat ringan sekalipun akan dapat mengakibatkan timbulnya
permasalahan pada kemampuan berbicara, penguasaan bahasa serta belajar.
Permasalahan yang paling utama dalam perkembangan anak-anak yang menderita
kehilangan pendengaran yang parah sampai berat/mendalam, adalah kemampuan
mereka untuk mengadakan komunikasi secara lisan dan bahasa yang mengalami
gangguan. Anak yang tuli memang memperkembangkan suatu bahasa serta serta
anak tuli, yang lahir pada orang tua yang tuli pulah mampu melakukan komunikasi
satu sama lainnya serta serta dengan para orang tua mereka dengan efektif.
Kemampuan berbicara seseorang erat kaitannya dengan kemampuan mendengar.
Stimulus bunyi dalam perjalannya akan sampai pada pusat pendengaran yang
terletak pada salah satu bagian belahan otak kiri. Informasi bunyi ini akan
diteruskan kebagian lainnya dari otak yang berperan sebagai pusat bicara dan akan
menghasilkan sinyal bicara. Berdasarkan sinyal bunyi ini dimulai proses produksi
bunyi.
Untuk menghasilkan bunyi prosesnya juga tidak sederhana karena dibutuhkan
kerjasama berbagai organ tubuh dimulai dari aliran udara pernafasan yang berasal
dari paru-paru, getaran pita suara (fonasi) yang dilewati aliran udara sehingga di
hasilkan nada tertentu, pipa tenggorokan yang berperan sebagai tabung udara yang
menimbulkan getaran pada saat dilalui udara (resonansi), penutupan langit-langit
lunak agar udara tidak memasuki rongga hidung dan pengatupan bibir dengan
maksud udara terkumpul di rongga mulut, yang akan membuka pada saat telah
terjadi getaran pita suara. Proses ini masih diikuti dengan gerakan tertentu dari otot-
otot lidah, rongga mulut dan gigi sehingga terjadi penyusupan suara kedalam
bentuk kata-kata yang akan menandai karakter ujaran manusia (artikulasi).

7
Kerja berbagai organ tubuh ini dalam waktu yang hampir bersamaan dan
terkoordinasi dimungkinkan oleh gerakan berbagai otot yang berada dalam kendali
otak melalui syaraf-syaraf terkait. Berdasarkan keterangan tersebut di atas, sudah
jelas bahwa gangguan pendengaran bilateral pada anak (terutama derajat sedang
dan berat), yang terjadi didalam masa perkembangan wicara akan mengakibatkan
gangguan wicara.

2.2 Proses Perkembangan Bicara dan Mendengar


1. Proses Perkembangan Mendengar
Kemampuan mendengar pada manusia diperoleh melalui suatu proses tumbuh
kembang sehingga dipengaruhi oleh berbagai faktor terutama faktor usia. Pada bayi
spektrum frekuensi suara masih terbatas dan umumnya lebih sensitif terhadap bunyi
dengan nada inggi. Demikian pulah dengan reaksi yang diperlihatkan terhadap
bunyi dipengaruhi oleh faaktor usia. Sampai beberapa minggu setelah setelah lahir
reaksi bayi terhadap bunyi masih bersifat refleks, seperti menangis, terkejut,
mengejapkan mata, membuka mata, gerakan menarik lengan kearah tubuh, dan
bernapas cepat.
Pada usia sekitar 4 bulan, saat otot-otot mata telah cukup kuat maka iaa akan
berupaya mencari sumber bunyi dengan menggerakan bola matanya dan bila otot-
otot lehernya telah kuat bayi akan mampu mencari sumber bunyi dengan
menolehkan kepalanya. Reaksi terhadap bunyi juga dipengaruhi oleh pengalaman
yang diperoleh sebelumnya, baik berupa hal yang menyenangkan maupun yang
tidak menyenangkan. Kekerasan bunyi (intesitas) yang dibutuhkan untuk
menimbulkan respon juga dipengaruhi oleh faktor usia.

8
Secara lebih terperinci tahap perkembangan fungsi pendengaran dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel. 1 Perkembangan Fungsi Pendengaran

Usia
Perkembangan fungsi Pendengaran
(bulan)
Lahir - Berespon terhadap bunyi keras dengan refleks jejak
- Berespon terhadap suara manusia dibandingkan dengan
suara lain
- Menjadi tenang dengan bunyi bernada rendah, seperti
ninabobok atau denyut jantung.
2–3 Memalingkan kepala kesamping bila bunyi dibuat setinggi
telinga
3–4 Melokalisasi bunyi dengan memalingkan kepala ke
samping melihat kearah yang sama.
4–6 - Dapat melokalisasi bunyi yg dibuat dibawah telinga,
diatas telinga, akan memalingkan muka keatas atau
kebawah.
6–8 - Mulai membuat bunyi tiruan
- Melokalisasi bunyi dengan memalingkan kepala kearah
melengkung
8 – 10 - Berespon terhadap nama sendiri
Melokalisasi bunyi dengan memalingkan kepala secara
10 – 12 diagonal dan langsung kearah bunyi.
- Mengetahui beberapa kata dan artinya seperti tidak atau
nama anggota keluarga.
- Belajar untuk mengendalikan dan menyesuaikan respon
18 sendiri pada bunyi.
Mulai mendiskriminasikan antara bunyi yang sangat
24 berbeda, seperti mendengarkan bunyi bel pintu dan telpon.
36 Menyaring keterampilan diskriminatif kasar

9
Mulai membedakan perbedaan yang lebih halus dalam
48 bunyi bicara, seperti antara e dan er.
- Mulai membedakan bunyi serupa seperti f dan th atau
antara s dan f.
- Mendengarkan menjadi lebih halus
- Mampu untuk diuji dengan audiometer

2. Proses Perkembangan Bicara


Ada beberapa tahap perkembangan berbicara pada seorang anak. Pada bayi baru
lahir kontak dengan lingkungan telah dimulai walaau hanya berupa ekspresi wajah
atau menangis. Tahap perkembangan berbicara paling awal adalah menangis
(refleks vocalization), yang akan diikuti oleh tahap kedua yang berlangsung pada
usia 5 – 6 bulan berupa ocehan ulang (babbling). Bunyi yang dihasilkan merupakan
penggabungan konsonan atau huruf mati seperti p, m, b, g dengan huruf vokal yang
diulang, misalnya: papapa, mamama, atau gagaga seperti sedang berguman.
Pada usia sekitar 6 – 7 bulan, penggulangan bunyi tidak lagi bersifat refleks namun
karena bayi benar-benar mendengarkannya dan menyukaianya (lailing), bunyi yang
diproduksi misalnya: pa..pa, ma..ma, mi..mi dan sebagainya. Pada usia 10 bulan
suara yang dihasilkan merupakan peniruan terhadap sejumlah bunyi suara sendiri
atau bunyi yang didengar dari lingkungannya (echolalia). Selanjutnya pada usia 12-
18 bulan telah dapat memproduksi kelompok kjata atau kalimat pendek (true
speech), anak sudah memperlihatkan kemampuan pemahaman bicara dan bahasa.
Anak telah dapat mengerti pembicaraan orang lain sebatas pengalaman dengar yang
telah dimilikinya. Apabila pada usia ini anak tidak mampu mengoceh atau meniru
pembicaraan orang lain maka perlu diwaspadai terhadap kemungkinan adanya
gangguan berbicara.

10
Secara lebih terperinci tahap perkembangan kemampuan berbicara serta
berbahasa dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel. 2 Karakteristik utama perkembangan bahasa dan bicara


Usia Perkembangan Perkembangan
Kejelasan
(tahun) bahasa normal bicara normal
1 - Mengatakan 2 – 3 - Mengabaikan- Biasanya tidak
kata dengan arti. hampir semua lebih dari 25%
- Meniru bunyi- konsonan akhir dan kejelasan untuk
bunyi binatang. beberapa konsonan pendengaran
awal. yang tidak di
kenal.
- Mengganti- Ketinggian
konsonan m, w, p, bahasa tertentu
b, k, g, n, t, d, dan h yang tidak jelas
dengan bunyi yang pada usia 18
lebih sulit. bulan

2 - Menggunakan Pada usia 2


frase 2 atau tiga tahun kejelasan
kata. - Menggunakan kon- 50% dalam
- Mempunyai sonan diatas dengan konteks.
perbenda-haraan huruf hidup, tetapi
kata kira-kira 300 secara tidak
kata. konsisten dgn
- Menggunakan banyak penggan-
‘saya’, ‘aku’ dan tian.
‘kamu.’ - Pengabaian
konsonan akhir

11
- Keterlambatan
3 artiku-lasi
dibelakang perben- Pada usia 3
daharaan kata. tahun, kejelasan
- Mengatakan empat 75%.
sampai lima - Menguasai ‘b, t, d,
kalimat. k dan g’, bunyi ‘r’
- Mempunyai 900 dan ‘l’ mungkin
per-bendaharaan masih tidak jelas,
kata. mengabai-kan atau
- Menggunakan menambahkan ‘w’
4–5 siapa, apa, dimana - Pengulangan dan
dalam bertanya. keragu-raguan
- Menggunakan kata umum terjadi. Bicara jelas
majemuk & kata 100% meskipun
ganti. - Menguasai ‘f’ dan bunyi ma-sih
‘v’ mungkin masih tidak sempurna.
- Mempunyai 1500 tidak jelas ‘r’, ‘l’,
sa-mpai 2100 ‘s’, ‘z’, ‘ch’, ‘y’,
perbenda-haraan dan ‘th.’
kata. - Sedikit atau tidak
- Mampu ada pengabaian dari
menggunakan konso-nan awal
bentuk gramatik atau akhir.
dgn benar seperti
kalimat masa
5–6 lampau dari kata
kerja ‘kemarin.’
- Menggunakan
kalimat lengkap

12
dengan kata benda,
kata kerja, pre-
disposisi, kata sifat, Mengiasai r, l, dan
kata keterangan dan th mungkin
penghubung. menyimpang pada
s, z, sh, dan j
- Mempunyai (biasanya dikuasai
perbenda-haraan pada usia 7,5
kata 3000 kata, sampai 8 tahun)
memahami ‘jika’,
‘ka-rena’ dan
‘mengapa’

2.3 Etiologi
Secara umum diketahui beberapa faktor yang diketahui menjadi faktor penyebab
terjadinya kerusakan pendengaran yang berdampak pada gangguan berbicara (cacat
ganda) yaitu sebagai berikut :
1. Masa Prenatal
a. Genetik herediter
b. Non genetik, seperti gangguan pada masa kehamilan (infeksi oleh bakteri atau
virus: TORCH, campak, parotis), kelainan struktur anatomik (misalnya akibat
obat-obatan ototoksik, atresia liang telinga, aplasia koklea), dan kekurangan zat
gizi.
2. Masa Perinatal
Prematuritas, berat badan lahir rendah (< 2.500 gram), tindakan dengan alat pada
proses kelahiran (ekstraksi vacum, forcep), hiperbilirubinemia (> 20 mg/100ml),
asfiksia, dan anoksia otak merupakan faktor resiko terjadinya cacat ganda.
3. Masa Postnatal
Adanya infeksi bakterial atau virus seperti rubela, campak, parotis, infeksi otak,
perdarahan pada telinga tengah dan trauma temporal dapat menyebabkan tuli
konduktif yang dapat mengakibatkan gangguan wicara.

13
2.4 Patofisiologi
Permasalahan yang paling utama dalam perkembangan anak-anak yang menderita
kehilangan pendengaran yang parah sampai berat/mendalam, adalah kemampuan
mereka untuk mengadakan komunikasi secara lisan dan bahasa yang mengalami
gangguan. Untuk menghasilkan bunyi prosesnya juga tidak sederhana karena
dibutuhkan kerjasama berbagai organ tubuh dimulai dari aliran udara pernafasan
yang berasal dari paru-paru, getaran pita suara (fonasi) yang dilewati aliran udara
sehingga di hasilkan nada tertentu, pipa tenggorokan yang berperan sebagai tabung
udara yang menimbulkan getaran pada saat dilalui udara (resonansi), penutupan
langit-langit lunak agar udara tidak memasuki rongga hidung dan pengatupan bibir
dengan maksud udara terkumpul di rongga mulut, yang akan membuka pada saat
telah terjadi getaran pita suara. Proses ini masih diikuti dengan gerakan tertentu dari
otot-otot lidah, rongga mulut dan gigi sehingga terjadi penyusupan suara kedalam
bentuk kata-kata yang akan menandai karakter artikulasi.
Berbagai faktor penyebab seperti kelainan struktur anatomi, infeksi oleh
mikroorganisme, atau penyebab lain akan menyebabkan kerusakan pada struktur
koklea dan nervus akustik berupa atrophi dan degererasi sel-sel rambut penunjang
pada organ dan reseptor corti disertai perubahan vasculer pada stria vaskularis. Hal
ini akan menyebabkan gangguan penghantaran/transmisi impuls pada nuclei
cochlearis (sebagai tempat untuk merespon frekuensi bunyi) dan nuclei olivaris
superior (sebagai penentu ketepatan lokasi dan arah sumber bunyi) yang
menyebabkan impuls ini tidak dapat dipersepsikan oleh nervus auditorius melalui
serabut eferent.
Kerja berbagai organ tubuh ini dalam waktu yang hampir bersamaan dan
terkoordinasi dimungkinkan oleh gerakan berbagai otot yang berada dalam kendali
otak melalui syaraf-syaraf terkait. Berdasarkan keterangan tersebut di atas, sudah
jelas bahwa gangguan pendengaran bilateral pada anak (terutama derajat sedang
dan berat), yang terjadi didalam masa perkembangan wicara akan mengakibatkan
gangguan wicara.

14
2.4 Pathway

Kelainan struktur Infeksi oleh


anatomi mikroorganisme

Kerusakan struktur
koklea &vervus asustik

Gangguan penghantaran/transmisi
implus pada nucles cochlearis &
nuclel olivaris superior

Implus tdk dpt dipersepsi oleh


nervus auditotius

Cacat ganda

Gangguan saraf-
saraf

inflamasi hipertermi

Resiko tinggi
infeksi
cedera

Perubahan sensorik

Coping keluarga Kerusakan Kerusakan ketulian


pendengaran komunikasi

kecemasan Perubahan Perubahan


pertumbuhan proses keluarga

15
2.5 Manifestasi Klinik
Manifestasi klinik yang timbul pada anak yang mengalami gangguan
pendengaran yang diikuti oleh gangguan berkomunikasi adalah :
a. Pendengaran akan berkurang secara perlahan-lahan, progresif dan simetris
pada kedua telinga.
b. Telinga berdenging
c. Klien dapat mendengar suara tetapi sulit memahaminya
d. Dapat disertai oleh nyeri, tinitus, dan vertigo

Berdasarkan perkembangan fungsi pendengaran diatas, ada beberapa indikator


yang dapat digunakan untuk mendeteksi adanya adanya kerusakan
pendengaran :
1. Respon Orientasi
a. Kurangnya refleks beguman atau mengedip pada bunyi keras
b. Menetapnya refleks Moro diatas 4 bln (dihubungkan dengan retardasi
mental)
c. Kegagalan untuk terbangun oleh kebisingan lingkungan yang keras selama
masa bayi
d. Kegagalan untuk melokalisasi sumber bunyi pada usia 6 bln
e. Kesamaan umum pada bunyi
f. Kurangnya respon terhadap kata yang diucapkan, gagal untuk mengikuti
petunjuk verbal
g. Respon terhadap bising keras sebagai perlawanan terhadap bunyi

2. Vokalisasi dan Produksi Bunyi


a. Kualitas monoton, bicara tidak jelas, kurang tertawa
b. Kualitas normal pada kehilangan auditorius pusat
c. Kurang pengalaman bermain bunyi dan menjerit
d. Penggunaan normal jargon selama awal masa bayi kehilangan auditorius
pusat.
e. Tidak ada gumanan atau perubahan nada suara pada usia 7 tahun.

16
f. Kegagalan untuk mengembangkan bicara yang jelas pada usia 24 bulan.
g. Bermain vokal, membenturkan kepala, atau ketukan kaki untuk sensasi
vibrasiBerteriak atau bunyi melengking untuk mengekspresikan
kesenangan, kejengkelan, atau kebutuhan.

3. Perhatian Visual
a. Menambah kesadaran visual dan perhatian
b. Berespon lebih banyak pada ekspresi wajah daripada penjelasan verbal.
c. Waspada pada sikap tubuh dan gerakan
d. Penggunaan sikap tubuh bukan verbalisasi untuk mengekspresikan
keinginan, khususnya setelah 15 bulan

4. Hubungan Sosial dan Adaptasi


a. Kuang berminat dan kurang terlibat dalam permainan vokal preokupasi terus-
menerus dengan benda daripada orang
b. Menghindari interaksi sosial, sering bingung dan tidak bahagia dalam situasi
tersebut
c. Ekspresi wajah bertanya, kadang bingung
d. Kesadaran curiga, kadang diintepretasikan sebagai paranoia, bergantian
dengan kerjasama
e. Reaktivitas nyata terhadap pujian, perhatian, dan afeksi fisik
f. Menunjukan kurang minat kepada teman sebaya dalam percakapan
g. Sering tidak memperhatikan kecuali jika lingkungan tenang dan pembicara
dekat dengan anak
h. Lebih responsif pada gerakan darpada bunyi
i. Terus menerus memperhatikan kecuali wajah pembicara, berespon lebih
terhdap ekspresi wajah daripada verbalisasi
j. Sering meminta pengulangan pertanyaan
k. Mungkin tidak mengikuti pengarahan dengan tepat
5. Perilaku Emosional

17
a. Menggunakan kemarahan untuk memancing perhatian pada dirinya atau
kebutuhannya
b. Sering keras kepala karena kurangnya pemahaman
c. Peka rangsang karena tidak memahami
d. Malu, takut dan menarik diri
e. Sering tampak bermimpi dalam dunianya sendiri atau tidak perhatian sama
sekali.

Selain itu adapun petunjuk yang dapat dijadikan sebagai pedoman rujukan
mengenai kerusakan komunikasi yaitu sebagai berikut :

Tabel. Pedoman rujukan mengenai kerusakan komunikasi

Usia Temuan Pengkajian


2 tahun - Gagal untuk berbicara kata-kata bermakna secara spontan
- Penggunaan sikap tubuh yang konsisten bukan vokalisasi
- Kesulitan dalam mengikuti petunjuk verbal
- Gagal untuk berespon secara konsisten terhadap bunyi

3 tahun - Bicara sangat tidak jelas


- gagal untuk menggunakan kalimat dari tiga kata-kata atau
lebih
- Sering mengabaikan konsosnan awal
- Penggunaan huruf hidup bukan konsonan
5 tahun
- Gagap atau jenis ketidakfasihan yang lain
- Struktur kalimat secara nyata terganggu
- Mengganti suara-suara yang mudah dihasilkan dengan bunyi-
bunyi yang sulit
- Menghilangkan ujung kata (jamak, kalimat kerja, dan
sebagainya)

18
Usia
Sekolah - Kualitas suara buruk (monoton, keras, atau hampir tidak
terdengar)
- Nada suara tidak jelas untuk usianya
- Adanya distorsi, pengabaian atau penambahan bunyi setelah 7
tahun
- Bicara yang berhubungan dicirikan dengan penggunaan
Umum konfusi yang tidak biasa atau kebalikan

- Ada anak dengan tanda-tanda yang menunjukan kerusakan


pendengaran
- Ada anak yang malu atau terganggu oleh bicaranya sendiri
- Orang tua yang perhatiannya terlalu berlebihan atau yang
terlalu menekan anak untuk bicara pada tingkat diatas usia yang
seharusnya.

2.6 Pemeriksaan Diagnostik


Terdapat berbagai jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk menilai
kemampuan mendengar yang dapat merusak gangguan wicara anak/bayi yaitu :
1) Pemeriksaan secara kualitatif dengan menggunakan garpu tala yang meliputi
:
 Tes penala
 Tes Rinne
 Tes Weber
 Tes Schwabach
2) Pemeriksaan secara kuantitatif yang meliputi :
 Free field test untuk menilai kemampuan anak dalam memberikan respon
terhadap sumber bunyi.
 Behavioral observation, (0-6 bulan)
 Conditioned test, (2-4 tahun)

19
 Audiometri nada murni (anak > 4 tahun yang kooperatif)
 BERA (brain evoked response audiometry), yang dapat memberikan
informasi obyektif tentang fungsi pendengaran pada bayi baru lahir.
2.7 Penatalaksanaan
Penemuan kasus gangguan pendengaran dan bicara serta berbahasa dalam bentuk
apapun harus dilakukan sedini mungkin, sehingga dapat dilakukan penanganan
lebih cepat sehingga cacat bicara ataupun komunikasi ini dapat diatasi. Dengan
memahami tahapan perkembangan bicara dan mendengar, diharapkan orang tua
dapat segera membawa anak yang diduga mengalami keterlambatan atau gangguan
berbicara dan mendengar tersebut pada ahlinya.
Untuk memastikan bentuk gangguan bicara dan jenis kerusakan pendengaran serta
upaya penanganan yang sesuai diperlukan kerjasama dengan sejumlah ahli dari
berbagai disiplin ilmu, antara lain: dokter THT, dokter syaraf anak, ahli psikologi,
ahli jiwa, dan ahli terapi bicara.

2.8 Asuha Keperawatan


1.Pengkajian
A. Pengkajian Fisik
B. Anamnese, yang meliputi :
1. Riwayat Keluarga :
a. Gangguan genetik yang berhubungan dengan kerusakan
pendengaran atau berbicara.
b. Anggota keluarga, khususnya saudara ataupun orang tua dengan
gangguan pendengaran atau bicara.
2. Riwayat Prenatal :
a. Keguguran/abortus
b. Penyakita yang menyeratai kehamilan (rubella, sifilis, diabetes)
c. Pengobatan yang diperoleh selama kehamilan
d. Eklamsia
3. Riwayat Persalinan :
a. Durasi persalinan, tipe persalinan

20
b. Gawat janin
c. Presentasi (terutama letak sungsang)
d. Pengobatan yang digunakan
e. Ketidakcocokan darah
4. Riwayat Kelahiran
a. Berat badan lahir < 1500 g
b. Hiperbilirubinemia yang berlebihan merupakan indikasi untuk
exchange transfusi
c. Asfiksia berat
d. Prematuritas
e. Infeksi virus perinatal kongenital (sitomegalivirus, rubela, herpes,
sifilis, toksoplasmosis)
f. Anomali kongenital yang mengenai kepala dan leher
5. Riwayat Kesehatan Masa lalu
a. Immunisasi
b. Penyakit sistem syarat seperti meningitis bakterial
c. Kejang
d. Demam tinggi yang tidak diketahui penyebabnya
e. Obat ototoksik
f. Pilek, infeksi telinga dan alergi
g. Kesulitan penglihatan
h. Terpapar bising yang berlebihan
6. Perkembangan Pendengaran
a. Kekhawatiran orang tua mengenai kerusakan pendengan (apa
petunjuknya serta usia berapa)
b. Respon terhadap suara, bising yang keras, bunyi dengan frekuensi
yang berbeda.
c. Akibat pengujian audiometrik sebelumnya
7. Perkembangan Bicara
a. Usia berguman, kata pertama yang bermakna dan frase
b. Kejelasan bicara

21
c. Perbendaharaan kata terakhir
8. Perkembangan Motorik
a. Usia duduk, berdiri dan berjalan
b. Tingkat kemandirian dalam perawatan diri, makan, toileting, dan
berdandan
9. Perilaku Adaptif
a. Aktivitas bermain
b. Sosialisasi dengan anak lain
c. Perilaku; tempertranum, menyerang, self-vexation, stimulus fibrasi
d. Pencapaian pendidikan
e. Perilaku terbaru/atau perubahan kepribadian

22
2.8 Diagnosa Keperawatan

NO DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI RASIONAL


KRITERIA HASIL KEPERAWATAN
1. Perubahan Sasaran :  Bantu keluarga  Untuk menentukan satu alat
sensori/persepsi Pasien mengalami potensial mencari penyalur alat yang dapat dipercaya.
(auditorius) pendengaran maksimum. bantu dengar.  Untuk menjamin keuntungan
berhubungan dengan Hasil yang diharapkan :  Diskusikan tipe alat yang lebih maksimum.
kerusakan  Anak memerlukan dan bantu dengar dan  Untuk mencegah anak
pendengaran. menggunakan alat perawatannya yang memakan alat bantu dan
bantu dengar dengan tepat. memanfaatkannya secara
tepat.  Tekankan pada maksimum.
 Anak tidak keluarga pentingnya  Untuk memaksimalkan
memakan/teraspirasi penyimpanan alat pendengaran. Untuk
batere alat bantu dengar batu dengar dan ajari membuatnya tidak menyolok
anak untuk dimata/dilihat.
menggunakan dan

23
mengatur alat bantu
dengar tersebut.
 Bantu anak berfokus
pada semua bunyi
dilingkungan dan
mendiskusikan hal
tersebut.
 Untuk anak yang
lebih besar,
diskusikan metode
penyamaran alat
bantu.

2. Kerusakan Sasaran :  Dorong keluarga untuk  Melanjutkan pembelajaran


komunikasi verbal  Pasien terlibat ikut dalam program dirumah dengan bahasa isyarat
berhubungan dengan dalam proses rehabilitasi dengan sebagai metode komunikasi.
ketidakmampuan komunikasi dalam mempelajari bahasa  Membantu dalam proses
batas kerusakan isyarat. komunikasi.

24
untuk mendengar  Pasien menunjukan  Ajari bahasa untuk  Merangsang komunikasi verbal
petunjuk audiotorius. kemampuan menyampaikan tujuan dan meningkatkan perkembangan
membaca gerak yang bermanfaat. normal. Meningkatkan
bibir.  Dorong penggunaan perkembangan bicara.
Hasil yang diharapkan : bahasa dan buku  Mengidentifikasi masalah
 Klien terlibat dalam dirumah. Dorong klien penglihatan yang dapat
proses komunikasi untuk memperbaiki mengganggu pembelajaran
dalam batas bicara dan menggunakan membaca gerak bibir atau
kerusakan. bahasa spontan. penggunaan bahasa isyarat.
 Pasien menunjukan  Melakukan tes untuk  Meningkatkan proses komunikasi.
kemampuan untuk masalah penglihatan.
membaca gerak  Ajari keluarga dan orang
bibir. lain yang terlibat dengan
 Anak anak tentang perilaku
berkomunikasi yang memudahkan
dengan orang lain untuk membaca gerak
dengan cara yang bibir.
diajarkan.

25
 Individu yang
berkomunikasi
denga anak
menggunakan
teknik komunikasi
yang baik.

3. Perubahan Sasaran :  Bantu keluarga  Meningkatkan perkembangan


pertumbuhan dan  Pasien mencapai mengalihkan praktik optimal.
perkembangan yang kemandirian optimal membesarkan anak  Membantu meningkatkan
berhubungan dengan sesuai dengan usia. normal pada klien. perkembangan yang optimal.
kerusakan  Pasien mendapatkan  Membantu meningkatkan  Merangsang anak memenuhi
komunikasi. kesempatan untuk perkembangan yang kebutuhan ini.
berpartisipasi dalam optimal.  Memaksimalkan penggunaan
aktivitas bermain dan  Diskusikan dengan indera penglihatan dan taktil, serta
sosialisasi. keluarga tentang pendengaran residual.
pentingnya disiplin dan

26
 Pasien mendapat penyusunan batasan-  Membantu meningkatkan
kesempatan pendidikan batasan. sosialisasi dan menciptakan
dikelas reguler.  Bantu keluarga dalam kesenangan pada anak.
Hasil yang diharapkan : memilih mainan.  Membantu dalam mendengar
 Anak melakukan  Dorong anak untuk dan/atau membaca gerak bibir.
aktivitas hidup sehari- berpartisipasi dalam  meningkatkan kesenangan pada
hari sesuai dengan aktivitas kelompok dan anak.
tingkat perkembangan. mengembangkan  Memfasilitasi pendidikan anak
 Anak mempunyai persahabatan dengan
hubungan dan teman sebaya.
pengalaman dengan  Bantu anak mengikuti
teman sebaya. diskusi kelompok dengan
 Anak masuk sekolah menunjuk pembicara dan
dengan teratur. mengatur kelompok untuk
 Anak berkomunikasi duduk semi lingkaran.
dengan orang lain  Anjurkan menggunakan
dikelas. televisi yang memakai
tulisan. Diskusikan

27
dengan guru dan anak
tentang cara
berkomunikasi efektif..
 Diskusikan dengan guru
dan anak tentang cara
berkomunikasi efektif.

4. Perubahan proses Sasaran :  Beri kesempatan pada  Meningkatkan penyesuaian.


keluarga berhubungan  Pasien (keluarga) keluarga untuk  Meminimalkan perasaan bersalah
dengan diagnosa menyesuaikan diri mengekspresikan dan dan sebagai penyesuaian terhadap
ketulian pada anak. terhadap kehilangan kekhawatirannya kehilangan.
pendengaran.  Antisipasi reaksi berduka  Membantu keluarga untuk
Resiko tinggi cedera
 Pasien (keluarga) dan bantu keluarga membuat keputusan berdasarkan
berhubungan dengan
mendapat dukungan menghadapi perasaannya informasi.
bahaya lingkungan,
emosional. tentang respon  Membantu mengembangkan
infeksi.
 Keluarga menunjukan sebelumnya terhadap pertumbuhan dan perkembangan
kedekatan pada anak. anak. normal anak.

28
Hasil yang diharapkan :  Diskusikan keuntungn dan  Meningkatkan koping dan
 Keluarga batasan alat bantu dengan membantu memberikan dukungan
mengekspresikan jenis kehilangan bagi klien.
kekhawatirannya pendengaran  Meningkatkan perkembangan
terhadap kehilangan yangberbeda. optimal pada anak.
pendengaraan pada anak  Dorong rehabilitasi formal  Membantu meningkatkan
 Keluarga menunjukan sesegera mungkin. kemampuan komunikasi sebagai
pemahaman tentaang  Bantu keluarga untuk bagian penting dari proses
implikasi kehilangan bepartisipasi dan kedekatan.
pendengaran. mendiskusikan perasaan  Meningkatkan normalisasi dan
 Keluarga terlibat dalam mereka. membantu anak memahami
program yang tepat dan  Tekankan kemampuan penggunaan bahasa isyarat.
menyediakan diri anak bukan
menjadi sumber. ketidakmampuannya.
 Keluarga menunjukan  Bantu keluarga
hubungan yang positif. mengidentifikasi
petunjuk-petunjuk verbal

29
untuk meningkatkan
komunikasi anaknya.
 Dorong keluarga untuk
menstimuli anak dengan
isyarat visual dan
tekankan untuk terus
berbicara dengan anak
meskipun ia tidak
mendengar.
5. Resiko tinggi cedera Sasaran :  Bagi bayi, anjurkan untuk  Mencegah kehilangan
berhubungan dengan  Pasien tidak mengalami imunisasi pada usia yang pendengaran sesorineural yang
bahaya lingkungan kehilangan pendengaran tepat. didapat karena penyakit masa
infeksi. yang lebih parah.  Minimalkan tingkat anak-anak.
Hasil yang diharapkan : kebisingan.  Mencegah kerusakan atau
 Anak tidak mengalami  Cegah infeksi telinga kehilangan pendengaran.
pendengaran. dengan melakukan deteksi  Mencegah kehilangan
ini. pendengaran sesorineural.

30
 Anak tidak terpapar pada  Tingkatkan kepatuhan  Mencegah terjadinya kerusakan
tingkat kebisingan yang terhadap terhadap pendengaran akibat otitis media
berlebihan. program pengobatan dan membantu perbaikan.
 Anak diimunisasi terhadap otitis media.  Mendeteksi dini kerusakan
dengan cepat.  Evaluasi kemampuan pendengaran.
auditorius yang cenderung  Kebisingan yang berlebihan
mengalami masalah menyebabkan kehilangan
telinga. pendengaran sesorineural.
 Kaji sumber-sumber
kebisingan yang
berlebihan disekitar anak
dan lakukan tindakan
untuk mengurangi tingkat
kebisingan.

6. Hipertermi Hasil yang diharapkan :  Pantau suhu tubuh anak  Untuk memantau peningkatan
berhubungan dengan Anak menunjukan suhu setiap 1-2 jam, perhatikan suhu tiba-tiba. Suhu 38,9˚C –
apakah anak menggigil. 41,1˚C menunjukan proses

31
proses tubuh dalam batas normal  Pertahankan lingkungan infeksi. Menggigil sering
inflamasi/peradangan. (37˚C) yang sejuk. mendahului puncak peningkatan
 Beri kompres hangat dan suhu.
hindari penggunaan  Suhu ruangan harus diubah untuk
alkohol/es. mempertahakan suhu mendekati
 Beri antipiretik normal.
(asetaminofen, ibuprofen)  Membantu mengurangi demam.
esuai indikasi. Alkohol/air es dapat menyebabkan
kedinginan dan mengeringkan
kulit.
 Mengurangi demam dengan aksi
sentral pada hipotalamus.

7. Kecemasan orang tua Hasil yang diharapkan :  Berikan informasi yang  Informasi yang adekuat
berhubungan dengan Kecemasan orang tua adekuat pada orang tua merupakan suatu apek penting
kurangnya berkurang yang ditandai dan keluarga. dalam membantu proses
pengetahuan tentang dengan meningkatnya perawatan klien.
konisi anaknya. kemampuan mereka dalam

32
mendampingi dan memberi  Biarkan orang tua tetap  Orang tua dapat mengetahui
dukungan pada anak dengan mendampingi klien perkembangan informasi tentang
menjelaskan kondisinya. selama hospitalisasi. kondisi anaknya.
 Kaji pehaman orang tua  Mengetahui seberapa jauh
tentang kondisi anaknya pemahaman orang tua tentang
dan gambaran perawatan. konsi anaknya dan gambaran
 Jelaskan semua prosedur perawatan sehingga dapat
pada anak dan orang tua membantu dalam melaksanakan
(keluarga). intervensi selanjutnya.
 Untuk meminimalkan rasa
takut/cemas terhadap hal-hal yang
tidak diketahui

33
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka dapat dismpulkan beberapa hal yaitu sebagai berikut
:
1. Cacat ganda merupakan keadaan dimana terjadi kerusakan / ketidakmampuan dalam proses
pendengaran yang baik itu konduktif ataupun sensorineural, yang diikuti oleh gangguan dalam
berbicara/berbahasa sebagai manifestasi dari kerusakan reseptor yang berfungsi sebagai
transmisi impuls suara.
2. Gangguan pendengaran ini disebabkan oleh berbagai faktor terutama selama masa pre-nataal,
perinatal dan post-natal. Tidak semua gangguan pendengaran akan menyebabkan
kerusakan/gangguan pada komunikasi.
3. Untuk memastikan bentuk gangguan bicara dan jenis kerusakan pendengaran serta upaya
penanganan yang sesuai diperlukan kerjasama dengan sejumlah ahli dari berbagai disiplin
ilmu. Oleh karenya penting untuk mengenal sejak dini tanda-tanda perkembangan
pendengaran yang abnormal.

3.2 Saran
Makalah kecil ini mencoba mengupas konsep medis dan konsep keperawatan tentang cacat
ganda. Kelompok menyadari bahwa apa yang disajikan masih jauh dari kesempurnaan, dan
oleh karenya kelompok sangat mengharapkan masukan dari rekan-rekan mahasiswa dan
terlebih kepada Ibu dosen pembimbing mata kuliah ini, sehingga apa yang dibahas diatas tidak
hanya merupakan sesuatu yang sifatnya hanya merupakan sebuah konseptual, melainkan
dapat menjadi pijakan bagi mahasiswa dalam konteks aplikatifnya.

34
DAFTAR PUSTAKA

Nelson, Ilmu Kesehatan Anak, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1988.

Suwanto R. Hendarmin, Deteksi Dini Gangguan Pendengaran pada Anak untuk Optimalisasi
Perkembangan Kecerdasan, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 1996.

Roamadewi, Terapi Wicara pada Anak dengan Gangguan Keterlambatan Wicara dan Bahasa,
Akademi Terapi Wicara – YBC, Jakarta, 2000.

Donna L. Wong, Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik, Penerbit Buku Kedokteran EGC,
Jakarta, 2003.

Arif Manjoer dkk., Kapita Selekta Kedokteran, Media Aesculapius, FKUI, Jakarta, 2001.

35