Está en la página 1de 13

Kelainan Refraksi pada Mata menyebabkan Penglihatan yang Kurang Jelas

Niko Julian 102016052


Kevin Wikanata Prakasa 102016240
Nia Uktriae 102014113
Aenul Khopiah 102015181
Luky Dea Clara 102016064
Sonia Dwi Reina Tumanggor 102016118
Christina Sonia Wibowo 102016197
Nor Umi Izati Binti Khalidi 102016261
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
Telp : (021) 5694-2061

Pendahuluan
Tidak semua gangguan pada mata itu disebut penyakit mata. Ada pula yang namanya
kelainan refraksi mata. Kelainan refraksi mata adalah kelainan pembiasan cahaya yang masuk
pada bola mata dimana sumbu jatuh tidak tepat pada retina melainkan didepan atau dibelakang
retina. Secara umum disebut mata minus, plus dan silinder. Untuk kelainan refraksi mata dapat
dikoreksi dengan lensa mata dan lasik atau operasi. Gejala awal kelainan refraksi mata biasanya
pusing di kepala, mata kabur saat terkena lampu motor atau mobil di waktu malam hari dan tidak
bisa melihat tulisan dalam jarak tertentu.
Fisiologi Mata
Mata memiliki struktur bulat yang berisi cairan yang dibungkus oleh tiga lapisan yaitu
sklera,koroid, dan retina. Sedangkan cairannya ada dua jenis. Cairan vitreous dimana cairan ini
yang mempertahankan bentuk bola mata agar tetap bulat, bentuknya seperti gel,jernih. Cairan
aqueous yang jernih dan enceh dimana cairan jenis ini berfungsi untuk memudahkan cahaya
masuk ke reseptor dan juga membawa nutrien bagi kornea dan lensa.
Tidak semua cahaya yang melewati kornea mencapai fotoreseptor peka-cahaya karena
adanya iris. Lubang bundar yang berada ditengah iris, tempat masuknya cahaya ke interior mata
adalah pupil. Ukuran pupil dapat disesuaikan oleh iris untuk menerima sinar lebih banyak atau
lebih sedikit.
Berkas cahaya yang mencapai mata harus dibelokkan ke dalam, agar dapat difokuskan
kembali ke suatu titik di retina agar diperoleh bayangan akurat sumber cahaya. Struktur yang
paling penting dalam kemampuan refraktif mata adalah kornea dan lensa.1
Anamnesis
Anamnesis merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien dengan
memperhatikan petunjuk-petunjuk verbal dan non-verbal mengenai riwayat penyakit pasien.
Riwayat pasien merupakan suatu komunikasi yang harus dijaga kerahasiaannya yaitu segala hal
yang diceritakan penderita. Anamnesis merupakan serangkaian tindakan dokter untuk
mengetahui masalah pasien.2
Tujuan anamnesis adalah untuk mengumpulkan keterangan yang berkaitan dengan
penyakitnya dan yang dapat menjadi dasar penentuan diagnosis. Mencatat riwayat penyakit,
sejak gejala pertama, perkembangan gejala dan keluhan. Selain itu, proses ini juga
memungkinkan dokter untuk mengenal pasien dan juga sebaliknya. Dengan bertanya, dokter
sudah mengantongi sebagian besar kemungkinan-kemungkinan diagnosisnya yang disebut
diagnosis banding.2
Anamnesis yang baik terdiri dari identitas (nama, alamat, pekerjaan, keadaan sosial
ekonomi, budaya, kebiasaan, obat-obatan), keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat
penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, kondisi lingkungan tempat tinggal untuk mengetahui
apakah itu penyakit menular atau tidak.2
Anamnesis yang terdiri dari pertanyaan yang harus ditanyakan mengenai kemungkinan
penyebab, keluhan dan gejala klinis antara lain: 2
 Riwayat penyakit Sekarang2
o Keluhan utama
 Sejak kapan keluhan utama muncul?
 Apakah keluhan hilang timbul atau terus menerus?
 Keluhan tambah berat/ringan pada saat kondisi apa?
 Keluhan terjadi pada satu mata atau kedua-duanya?
 Bagaimana onset terjadinya? Mendadak atau tidak?
o Keluhan tambahan2
 Apakah disertai dengan nyeri dan pengelihatan terganggu?
 Apakah terdapat mata merah, sakit mata, fotofobia, secret, merasa dan
kelilipan?
 Adakah gejala lain akibat kemasukan benda asing dan pemakaian kontak
lensa?
o Riwayat Penyakit Dahulu2
 Apakah dulu pernah kelainan seperti ini?
 Adakah riwayat trauma mata?
 Adakah riwayat hipertensi?
 Adakah riwayat diabetes mellitus?
 Adakah riwayat pemakaian obat yang mungkin menyebabkan gejala
gangguan penglihatan atau pemakaian obat untuk mengobati penyakit
mata dulu maupun sekarang?
 Apakah pasien pernah menderita infeksi mata berat atau pernah berada di
negara endemik trakoma seperti di Afrika dan negara-negara timur
tengah?
 Apakah pasien memiliki riwayat penyakit autoimmune seperti pemphigoid
sikatrik?
 Apakah ada riwayat mengalami sindrom steven johnson sebelumnya?
 Apakah pasien pernah menjalani operasi mata sebelumnya?
o Riwayat Kesehatan Keluarga2
 Apakah ada keluarga dengan riwayat penyakit mata turunan?
 Adakah riwayat gejala gangguan mata dalam keluarga (misalnya
penularan konjungtivits infektif)?
o Riwayat Pribadi Sosial dan Alergi2
 Adakah orang disekitar yang menderita penyakit mata?
 Adakah konsumsi obat-obatan tertentu?
Hasil anamnesis dari skenario seorang laki-laki 22tahun dengan keluhan utam tulisan di
proyektor LCD dan TV kurang jelas. Pasien tidak ada memiliki riwayat mata merah dan berair.
Keluhan ini sudah dirasakan sejak umur 15 thn, perlahan bertambah parah. Dan pasien sering
memicingkan mata dan mengucekkan kedua matanya.
Pemeriksaan Fisik
Setelah melakukan anamnesis terhadap pasien, untuk menunjang anamnesis dapat
dilakukan pemeriksaan fisik pada pasien. Pemeriksaan fisik yang pertama dilakukan adalah
melihat keadaan umum dan juga kesadaran pasien. Selanjutnya pemeriksaan fisik yang dilakukan
adalah memeriksa tanda-tanda vital yang terdiri dari suhu, tekanan darah, nadi, dan frekuensi
pernapasan. Suhu tubuh yang normal adalah 36-37oC. Pada pagi hari suhu mendekati 36oC,
sedangkan pada sore hari mendekati 37oC. Tekanan darah diukur dengan menggunakan
tensimeter dengan angka normalnya 120/80 mmHg. Pemeriksaan nadi biasa dilakukan dengan
melakukan palpasi a. radialis. Frekuensi nadi yang normal adalah sekitar 60-80 kali permenit.
Dalam keadaan normal, frekuensi pernapasan adalah 16-24 kali per menit.Pada pemeriksaan
fisik khususnya pemeriksaan fisik tiroid terdapat beberapa pemeriksaan fisik tambahan.
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan sebagai berikut:
1. Pemeriksaan Keadaan Umum, Kesadaran dan TTV (Tanda Tanda Vital)
2. Pemeriksaan mata dasar
 Segmen anterior : 3
Cara pemeriksaan : arahkan lampu senter dari arah pinggir temporal ke arah kornea,
gerakkan ke arah anterior dan nasal. Penilaian :
 palpebra superior / inferior : apakah terdapat vesikel / krusta, hiperemi, hematom,
posisi normal atau ptosis, lagoftalmus
 konjungtiva bulbi : apakah terdapat injeksi konjungtiva/injeksi siliar, pterigium,
skleritis/episkleritis, apakah tampak perdarahan subkonjungtiva, flikten, sekret?
 konjungtiva tarsalis inferior : apakah terdapat papil, vesikel, sekret, sikatriks?
 Konjungtiva tarsalis superior (palpebra superior di balik) : apakah terdapat papil,
vesikel, sekret, sikatriks?
 Kornea : apakah jernih, terdapat infiltrat, sikatrik (makula, nebula, lekoma), ulkus,
perforasi/perlukaan, neovaskular?
 C O A , sinari mata dari bagian lateral 45 derajat : apakah dalam, atau dangkal,
hifema, hipopion?
 Pupil : besar pupil apakah kecil atau lebar (diameter normal : 2 - 4 mm), bentuknya
bulat atau ireguler/sinekia posterior, apakah terdapat koloboma (gangguan
pembentukan iris yang tidak penuh 360°), cek juga refleks pupil langsung dan tak
langsung.
 Iris : sinekia, iris bombe?
 Lensa : apakah jernih, katarak?
Seringkali iris, pupil, dan lensa sulit oleh karena adanya kekeruhan pada kornea.
Hiperemis didapatkan oleh karena adanya injeksi konjungtiva ataupun perikornea.4
 Ketajaman visus /VA
Pada pemeriksaan visus atau VA kita menilai ketajaman penglihatan, manusia
normal memiliki ketajaman penglihatan 1,0, atau 20/20, atau 6/6 yang berarti pasien
dapat melihat dalam jarak 6 meter (numerator) dan secara normal seseorang dapat
melihat dalam jarak 6 meter (denominator). Pemeriksaan visus dilakukan pertama kali
sebelum pemeriksaan lain kecuali pada suatu trauma yang emergensi misalnya trauma
kimia. Pemeriksaan dengan memakai Snellen chart (umumnya, dan pada orang normal
yang tidak buta huruf).Pemeriksaan dilakukan dalam jarak 6 meter, pasien duduk tenang
dan mencoba melihat dan membaca huruf yang kita tunjuk.Perlu diingat bahwa
pemeriksaan dilakukan kepada 1 mata secara bergantian, dan dimulai dengan mata
kanan.Baris terakhir yang bisa dibaca itulah visus pasien. Jika pasien tidak dapat
melihat huruf terbesar artinya visus kurang dari 6/60 atau 20/200 maka kita memakai
cara finger counting.3
Tes finger counting dilakukan pertama dalam jarak 1 meter, dilakukan maksimal
sampai 5 meter. Misalnya pasien dapat menghitung jari dalam sampai jarak 3 meter
maka laporannya ialah visus 3/60. Jika pasien tidak dapat menghitung jari, maka kita
melakukan tes hand movement. Uji ini dilakukan hanya 1 kali pada jarak 1 meter.Jika
pasien mampu melihat gerakan (lambaian) tangan maka laporannya visus 1/300. Jika
visus sudah sangat buruk sehingga tes hand movementpun gagal, maka kita lakukan uji
persepsi cahaya. Uji ini sebaiknya dilakukan di dalam dark room. Pada uji light
perception ini dapat dilihat dari arah mana proyeksi cahayanya. Jika pasien tidak dapat
membedakan lagi maka artinya no light perception atau visus 0.
Suatu penurunan visus kita asumsikan menjadi kelainan pada media refraksi, maka
dapat dikoreksi dengan lensa. Kita bisa memberi lensa pin hole agar membantu
memfokuskan cahaya yang masuk tepat di macula.3 Tujuan tes ini adalah untuk
membedakan antara kelainan refraksi dan kelainan media refraksi. Bila ada kelainan
refraksi, maka dengan melakukan uji pinhole didapatkan perbaikan pada ketajaman
penglihatan.Hal ini dikarenakan fungsi dari pinhole yang dapat memfokuskan cahaya
yang masuk sehingga jatuh tepat pada makula lutea.Didapatkan adanya penurunan visus
pada mata yang mengalami infeksi oleh karena adanya defek pada kornea sehingga
menghalangi reflaksi cahaya yang masuk ke dalam media refraktan.
 TIO palpasi
Tonometri ialah cara memeriksanya, yang paling sederhana tentunya tonometri
perpalpasi, kita bisa membandingkan TIO kiri dan kanan maupun TIO pasien dengan
kita sebagai pemeriksa (dianggap normal).3
 Funduskopi
Pemeriksaan oftalmoskopi direk dapat digunakan untuk memeriksa segmen
anterior (termasuk lensa) maupun fundus.3
Diagnosis
A. Astigmatisma
Astigmatisma adalah kelainan refraksi yang mencegah berkas cahaya jatuh sebagai suatu
fokus titik di retina karena perbedaan derajat refraksi di berbagai meridian kornea atau lensa
kristalina. Pada astigmatisma, mata menghasilkan suatu bayangan dengan titik atau garis
fokus multiple, dimana berkas sinar tidak difokuskan pada satu titik dengan tajam pada retina
akan tetapi pada 2 garis titik api yang saling tegak lurus yang terjadi akibat kelainan
kelengkungan di kornea.4
Etiologi
Bisa disebabkan karena kelainan kornea dimana terjadinya perubahan pada kelengkungan kornea
dan di uji dengan tes Placido. Dan bisa disebabkan karena adanya kelainan pada lensa dimana
terjadinya kekeruhan pada lensa seperti katarak insipien atau imatu.
Klasifikasi Astigmatisma:4
1. Astigmat regular, berdasarkan axis dan sudut yang dibentuk antara dua principal
meridian, regular astigmatisma dapat dibagi dalam 3 bentuk, yaitu :
a. Horizontal-vertikal astigmatisma: Astigmatisma ini merupakan dua meridian yang
o o
membentuk sudut satu sama lain secara horizontal (180 ±20 ) atau vertical
o o
(90 ±20 ). Astigmat ini terbagi menjadi dua jenis:
i. With-in-the-rule astigmatism. Dimana meridian vertical mempunyai
kurvatura yang lebih kuat (melengkung) dari meridian horizontal. Disebut
with the rule karena mempunyai kesamaan dengan kondisi normal mata
mempunyai kurvatura vertical lebih besar oleh karena penekanan oleh
kelopak mata. Astigmatisma ini dapat
ii. Against-the rule astigmatism. Suatu kondisi dimana meridian horizontal
mempunyai kurvatura yang lebih kuat (melengkung) dari meridian
vertical.
b. Oblique astigmatism: Merupakan suatu astigmatisma regular dimana kedua
principle meridian tidak pada meridian horizontal atau vertical. Principal
o
meridian terletak lebih dari 20 dari meridian vertical atau horizontal.
2. Astigmatisma irregular, suatu keadaan refraksi dimana setiap meridian mempunyai
perbedaan refraksi yang tidak teratur bahkan kadang-kadang mempunyai perbedaan pada
meridian yang sama. Principle meridian tidak tegak lurus satu dengan lainnya. Biasanya
astigmatisma irregular ini dikoreksi dengan lensa kontak kaku. Berbicara mengenai
induksi astigmatisma pasca operasi (induced astigmatism), seperti kita ketahui, penderita
astigmatisma sebagian besar adalah with the rule astigmatism. Insisi yang ditempatkan
pada kornea akan menyebabkan pendataran pada arah yang berhadapan dengan insisi
tersebut. Artinya, jika melakukan insisi dari temporal cenderung menyebabkan
pendataran pada sumbu horizontal kornea, dimana hal ini akan mengakibatkan induksi
with-the-rule astigmatism. Sebaliknya jika melakukan insisi kornea dari superior
cenderung mengakibatkan induksi againts-the-rule astigmatism. Biasanya induksi
astigmatisma ini bergantung dari panjangnya insisi, yaitu semakin panjang insisi akan
semakin besar induksi astigmatisma.4
Berdasarkan letak titik fokus meridiannya astigmatisma terbagi atas:5
1. Astigmatisma miopia simpleks: fokus bayangan pada salah satu meridian jatuh di depan
retina.
2. Astismatisme miopia komposium: fokus bayangan kedua meridian jatuh di depan retina.
3. Astigmatisma campuran: fokus bayangan salah satu meridian jatuh di depan retina dan
meridian jatuh di belakang retina.
4. Astigmatisma hipermetropia simpleks: fokus bayangan salah satu meridian jatuh di
belakang retina.
5. Astigmatisma hipermetropia komposius: fokus bayangan kedua meridian jatuh di
belakang retina.
Manifestasi Klinis
Yang dialami oleh pasien yang mengalami astigmatisma mulai dari penglihatan buram, terdapat
head tilting, pasien sering kali menengok untuk dapat melihat dengan jelas, pasien sering kali
menyipitkan mata untuk dapat melihat dengan jelas, bahan bacaan didekatkan agar menjadi lebih
jelas.5
Penatalaksanaan Astigmat
Kelainan astigmatisma dapat dikoreksi dengan lensa silindris, sering kali dikombinasi dengan
lensa sferis. Karena tak mampu beradaptasi terhadap distorsi penglihatan yang disebabkan oleh
kelainan astigmatisma yang tidak terkoreksi.4
B. Hipermetropia
Hipermetropia atau rabun dekat atau hiperopia merupakan keadaan gangguan kekuatan
pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokusnya
terletak di belakang retina. Pada hipermetropia sinar sejajar difokuskan di belakang macula
lutea.4
Etiologi
Hipermetropia ini disebabkan karena bentuk bola mata yang pendek atau sumbu
anteroposteriornya pendek(hipermetropia aksial), kelengkungan kornea atau lensa
datar(hipermetropia kurvatur) sehingga bayangan jatuh di belakang retina, adanya dislokasi dari
lensa ke arah posterior(hipermetropi posisional), indeks biasnya kurang karena lensanya yang
tipis bahkan tidak ada lensa sama sekali(hipermetropia indeks). Pada anak-anak baru lahir dapat
mengalami hipertropi fisiologi sekitar 80% ukuran bola mata yang lebih kecil.6
Terdapat tiga bentuk hipermetropia:7
1. Hipermetropia total, adalah hipermetropia yang ukurannya didapatkan stelah pemberian
siklopegik(melumpuhkan m.siliaris).
2. Hipermetropia manifes, dimana hipertropi ini dapat dikoreksi dengan kacamata positif
maksimal yang memberikan visus terbaik. Terbagi atas dua:
a. Fakultatif, dimana mata hipertropi dan dikoreksi dengan kacamata positif tetapi masih
bisa diperbaiki dengan akomodasi. Contoh:pasien dikoreksi dengan kacamata
S+3.50D, tetapi karena ada tenaga akomodasi menjadi S+0.50D.
b. Absolut, dimana mata hipertropi dikoreksi dengan kacamata positif dan tidak ada
perbaikan dengan akomodasi.
3. Hipermetropia laten, hipermetropi fisiologi yang dapat diatasi dengan m.siliaris, ini
terjadi pada usia muda. Semakin muda maka semakin tinggi hipermetropi latennya.
Tetapi saat sudah semakin tua terjadi kelemahan akomodasi sehingga yang awalnya
hipermetropi laten berubah menjadi hipertrofi fakultatif dan berubah menjadi absolut.
Manifestasi Klinis
Biasanya pada pasien yang lebih dari 3dioptri, atau pasien berusia tua, penglihatan jauh kabur,
penglihatan dekat cepat buram, nyeri kepala, sensitif terhadap cahaya, spasme akomodasi.5
Penatalaksanaan Hipermetropia
Pengobatan hipermetropia adalah diberikan koreksi hipermetropia manifes dimana tanpa
sikloplegia didapatkan ukuran lensa positif maksimal yang memberikan tajaman penglihatan
normal. Bila terdapat juling ke dalam atau esotropia diberikan kacamata koreksi hipermetropia
total. Bila terdapat tanda atau bakat juling keluar (eksoforia) maka diberikan kacamata koreksi
positif kurang. Bila terdapat ambliopia diberikan koreksi hipermetropia total. Pada pasien dengan
hipermetropia sebaiknya diberikan kacamata sferis positif terkuat atau lensa positif terbesar yang
masih memberikan tajam penglihatan maksimal. Bila pasien dengan +3.0 ataupun dengan +3.25
memberikan ketajaman penglihatan 6/6, maka diberikan kacamata +3.25. Hal ini untuk
memberikan istirahat pada mata. Pada pasien dimana akomodasi masih sangat kuat atau pada
anak-anak, maka sebaiknya pemeriksaan dilakukan dengan memberikan sikloplegik atau
melumpuhkan otot akomodasi.4
Dengan melumpuhkan otot akomodasi, maka pasien akan mendapatkan koreksi kacamata
dengan mata yang istirahat. Pada pasien muda dengan hipermetropia tidak akan memberikan
keluhan karena matanya masih masih mampu melalukan akomodasi kuat untuk melihat benda
dengan jelas. Pada pasien dengan banyak membaca atau mempergunakan matanya, terutama
pada pasien yang telah lanjut, akan memberikan keluhan kelelahan setelah membaca. Keluhan
tersebut berupa sakit kepala, mata terasa pedas dan tertekan. Pada pasien ini diberikan kacamata
sferis positif terkuat yang memberikan penglihatan maksimal.4
C. Miopia
Miopia atau rabun jauh merupakan keadaan dimana bayangan dari obyek yang jauh
difokuskan di depan retina oleh mata yang tidak berakomodasi. Hal ini disebabkan karena mata
memiliki kekuatan optik yang terlalu tinggi karena kornea yang terlalu cembung atau panjang
aksial bola mata yangterlalu besar.5
Etiologi
Miopia bisa terjadi karena bentuk bola mata yang panjang atau sumbu anteroposteriornya
panjang(miopia aksial), kelengkungan kornea atau lensa yang terlalu melengkung (miopia
kurvatur) sehingga bayangan jatuh di depan retina, adanya dislokasi dari lensa ke arah
anterior(miopia posisional).6
Miopia berdasarkan drajat terbagi atas:
1. Miopia ringan, yaitu kurang dari -3,00 dioptri.
2. Miopia sedang, yaitu antara -3.oo s/d -6.00 dioptri.
3. Miopia berat, yaitu jika ukuran dioptri lebih dari -6.00 dioptri.
Miopia berdasarkan klinis
1. Miopia kongengital
Miopia yan timbul sampai usia 3 tahun dapat merupakan kelainan yang tersendiri ataupun
menyertai kelainan kongengital lain dan dapat disertai atau tanpa kelainan fundus,
dimana dalam perkembangan selanjutnya dapat statis ataupun progresif.
Miopia kongengital yang terdapat pada prematur akan menghilang setelah beberapa
bulan,kecuali bila disertai retrolental fibroplasia.
2. Miopia degeneratf
Miopia yang terjadi saat usia 12-20 tahun yang harusnya bisa stabil, justru terjadi
peningkatan drajat miopia.
3. Miopia didapat
Biasanya terjadi akibat sakit seperti demam atau malnutrisi atau pada orang dewasa yang
menderita tuberkulosis dan goiter.8
Manifestasi Klinis

Pada pasien miopia yang dirasakan mulai dari penglihatan jarak jauh buram dan penglihatan
jarak dekat lebih baik, nyeri kepala, terdapat kecendrungan untuk mengalami juling saat melihat
jauh.5
Penatalaksanaan Miopia
1. Lensa konkaf/negatif
2. Lensa kontak
3. Jika agak berat bisa di lakukan LASIK(laser in situ keratomileusis)6
D. Anisometropia
Anisometropia adalah suatu keadaan dimana mata mempunyai kelainan refraksi yang tidak
sama pada mata kanan dan mata mata kiri. Dapat saja satu mata myopia sedang mata yang
lainnya hypermetropia. Perbedaan kelainan ini paling sedikit 1.0 Dioptri. Jika terdapat
anisometropia 2.5 - 3.0 Dioptri maka akan dirasakan terjadi perbedaan besar bayangan 5%, yang
mengakibatkan akan terganggunya fusi. Pada keadaan ini dapat terjadi supresi penglihatan pada
satu mata.4
E. Ambliopia
Ambliopia atau yang sering disebut dengan lazy eye adalah beberkurangnya ketajaman
penglihatan walaupun sudah dikoreksi terbaik tanpa ditemukannya kelainan struktur pada mata
atau lintasan visual bagian belakang. Biasanya disebabkan oleh kurangnya rangsangan untuk
meningkatkan perkembangan penglihatan dan tidak dikoreksi. Bila ambliopia ini ditemukan pada
usia dibawah 6tahun maka masih bisa dilakukan latihan untuk perbaikan penglihatan.5,8,10
Manifestasi Klinis
Biasanya yang dirasakan pada pasien ambliopia seperti berkurangnya penglihatan satu mata,
menurunnya tajam penglihatan walaupun sudah diberikan lensa koreksi dan saat di tes crowding
fenomena positif, biasanya daya akomodasi menurun.4,7
Klasifikasi ambliopia secara klinis:
1. Ambliopia strabismus, ini disebabkan karena mata yang juling
2. Ambliopia deprivasi, terjadi karena kelainan bawaan pada mata/kekeruhan media
penglihatan sejak awal.
3. Ambliopia anisometria, disebabkan karena mata kanan dan kiri memiliki perbedaan
ketajaman penglihatan yang cukup jauh.7
Pencegahan
Pada kelainan refraksi perlunya pencegahan untuk mengurangi tingkat keparahan dari kelainan
refraksi ini diantaranya: melakukan tes skrining sedini mungkin dan rutin,istirahat yang cukup,
menjaga jarak kerja dekat seperti (menonton, menulis, menjahit, membaca yang terlalu
dekat),jangan mengucek-ngucek mata, mengkonsumsi buah dan sayur yang mengandung vitamin
A,C,E dan lutein. Atur suhu ruangan jangan yang terlalu dingin yang bisa menyebabkan mata
cepat kering. Segera beri kacamata yang sesuai dengan kelainannya jika sudah diketahui jenis
kelainan refraksinya.4,7
Prognosis
Prognosis baik jika ditangani dengan segera. Jika terlambat ditangani bisa mengakibatkan
hilangnya penglihatan yang tidak dapat dikembalikan lagi.
Kesimpulan
Kelainan refraksi dapat berdampak langsung terhadap penglihatan, yaitu terjadi
penurunan visus. Deteksi dini sengat penting untuk mengetahui apakah ada kelainan refraksi atau
tidak apabila terdapat penurunan visus. Penatalaksanaan yang cepat dan tepat akan memberikan
hasil koreksi yang maksimal sehinga visus dapat kembali normal ataupun mendekati normal.

Daftar Pustaka
1. Sherwood L. Fiologi manusia dari sel ke sistem. Ed.8. Jakarta: EGC; 2014.h.210-29
2. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Erlangga, 2007.h.44
3. James B, Chew C, Bron A. Oftalmologi. Ed.9. Jakarta: Penerbit Erlangga, 2005. h. 18-9,
71, 79-83
4. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata. Ed. 3. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2004. h. 72-82
5. Pambudy I M, Irawai Y. Kapita selekta kedokteran. Ed 4(1). Jakarta: Media Aesculapius;
2014. h.390-3.
6. Medical mini notes – Ophthalmology. Makasar: Fakultas kedokteran Universitas
Hassanudin;2016. h.63-72.
7. Morosidi SA, Paliyama MF. Ilmu penyakit mata. Jakarta: Fakultas Kedokteran Ukrida;
2011. h.22-32.
8. Widodo A, Prillia T. 2017. “Miopia Patologi” Jurnal Oftalmologi Indonesia. Vol 5(1). h.
19-26. Diunduh pada tanggal 30 maret 2019 http://journal.unair.ac.id/download-fullpapers-
TinjPus3.pdf
9. Jhon T. Mata dan kedaruratan mata. Jakarta: EGC, 2014.h333-4.