Está en la página 1de 1

ABSTRAK

Singkawang, Kalimatan Barat, merupakan Kota yang terkenal dengan keragaman pada
masyarakatnya dan dinobatkan sebagai kota paling toleran. Keragaman ini diwujudkan dengan
banyaknya festival-festival multikultural serta budaya masyarakatnya yang saling mempengaruhi
antaretnis. Selain itu, di pusat Kota Singkawang terdapat Masjid, Vihara, dan Gereja yang dibangun
berdampingan. Hal ini menjadi identitas dari Kota Singkawang dan menjadikannya salah satu
destinasi wisata Kalimantan Barat. Namun yang paling menonjol di Kota Singkawang adalah
banyaknya masyarakat Tionghoa serta bangunan viharanya. Padahal penduduk Buddha memiliki
jumlah penduduk terbanyak kedua setelah Islam. Sehingga identitas keragaman dari segi arsitektur
tidak terlihat. Saat ini Pemerintah sedang mengembangkan Kota Singkawang untuk meningkatkan
potensi wisatanya. Oleh karena itu perancangan dan pembangunan Kota Singkawang sedang
dilakukan dengan desain-desain bangunan baru di kawasan pusat kota. Desain-desain terbaru ini
memiliki suatu ciri khas namun kesan yang ditampilkan lebih ke arah modern. Terkait dengan
kondisi Kota Singkawang ini, apakah perencanaan Kota yang dilakukan mewujudkan toleransi
dalam keragaman Kota. Maka dari itu penelitian ini dilakukan untuk mengkaji secara visual
mengenai wajah kota yang ditampilkan desain-desain ini. Penelitian mengkaji bagaimana
penerapan Urban Acupuncture dan New Urbanism sebagai metode Urban Design yang digunakan
terhadap identitas Kota Singkawang. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan menganalisis
hasil observasi lapangan berupa data tampilan fisik dari bangunan dan hubungannya dengan Urban
Design yang digunakan. Hasil penelitian ini yaitu bahwa respon dari desain baru tersebut terhadap
keragaman tidak terlihat menonjol. Penerapan urban design yang dilakukan fokus pada aktivitas
masyarakat heterogen namun tidak diwujudkan dalam bentuk fisik. Desain hanya menonjolkan
salah satu etnis, sehingga perlu ditelusuri lebih dalam lagi cara mengharmonisasikan keragaman
tersebut untuk menjaga identitas Kota Singkawang yang kaya akan keberagaman.
Kata kunci : Perancangan kota, Urban Acupuncture, New Urbanism, Singkawang,
Multietnis
Singkawang, West Kalimantan, is a city that famous with its diversity and harmony in society,
and also crowned as a tolerance city. The multicultural festivals and the culture that affect each
other is the form of its harmony in diversity. Mosque, Buddhist temple, anf Church is develop side
by side in the downtown. This is become the identity of the city and make it as the destination of
West Kalimantan. But Tionghoa is the one that stand out in Singkawang City. Even though the
Buddhist population is the second biggest after Islam. So that from architectural side not showing
the identity of diversity. This city is undergoing development to improve its tourism potential.
Therefore the development is conducted intensively including the designs plan that is being
proposed. However, the proposed designs have a characteristic but more looks like modern designs.
Related to this conditions, is the urban design of Singkawang consider tolerance city. This research
is conducted in order to study the effect of the proposed designs to the Singkawang city’s image.This
will see what is the application of Urban Acupuncture and New Urbanism methods to the identity
of Singkawang . This is a qualitative study and the data was collected by observing the location in
the form of physical display of the designs related to cultural elementsand the two methods before.
The result of this research is the proposed designs is not responding mulculturalism physicaly even
though the approach of Urban Acupuncture and New Urbanism have should. They just showinh
one of the ethnic, so that have to be studied about the ethnicity and how to harmonize the
multiculturalism in Urban Design.
Keywords : Urban design, Urban Acupuncture, New Urbanism, Singkawang, Multiethnic