Está en la página 1de 3

Ancaman Tenaga Kerja Asing di Indonesia

Oleh: Firdaus Baderi Kamis, 22/12/2016

Oleh : Stanislaus Riyanta, Alumnus Pascasarjana S2 Kajian Stratejik Intelijen UI

Masuknya tenaga kerja asing terutama yang berasal dari Tiongkok menjadi bahan perbincangan yang
cukup serius. Arus pekerja dari luar negeri ini mulai gencar sejak pemerintah Presiden Joko Widodo
memprioritaskan proyek infrastruktur dan energi. Tenaga kerja asing ini oleh beberapa pihak dianggap
sebagai masalah.

Indonesia saat ini terdapat tingkat pengangguran terbuka (data BPS Februari 2016) mencapai 7,02 juta
orang atau 5,5%. Masuknya tenaga kerja asing tentu menjadi kontradiktif dengan program mengurangi
angka pengangguran yang masih cukup tinggi. Ancaman terkait keberadaan orang asing yang semakin
banyak terhadap eksistensi bangsa perlu diperhitungkan. Kekhawatiran pengaruh asing terhadap
ideologi dan budaya bangsa tentu cukup beralasan untuk disikapi.

Beberapa kasus terkait tenaga kerja asing yang terjadi akhir-akhir ini sepertipenangkapan 26 tenaga
asing ilegal asal China di Sukabumi karena kedapatan menggunakan visa kunjungan untuk bekerja
sebagai buruh di PT Shanghai Electric Group. Kasus lain yang sempat heboh adalah saat tenaga kerja
asing tertangkap mengebor di area Landasan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Di Kalimantan Barat
delapan warga negara asing (WNA) asal Tiongkok yang bekerja di perusahaan kayu CV Sari Pasifik, Kubu
Raya, diamankan oleh petugas Imigrasi. Mereka ditangkap dalam razia terkait kasus pelanggaran
keimigrasian karena tak memiliki izin resmi bekerja, Kamis (21/4).

Kasus pelanggaran tenaga kerja asing juga terjadi di Kalimantan Tengah. Pada bulan April 2016 sebanyak
empat orang warga negara asing asal Tiongkok yang masuk ke Kalimantan Tengah dan bekerja di lokasi
Wilayah Pertambangan Rakyat ( WPR) Kabupaten Murungraya, diamankan dan dideportasi oleh Pihak
Imigrasi Palangkaraya. Di Maluku Utara, tenaga kerja asing ikut mewarnai pemberitaan. Jumlah tenaga
kerja asing yang tercatat di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Provinsi Maluku Utara mencapai pada
September 2016 935 orang.

Data-data di atas tentu hanya sebagian kecil dari catatan keberadaan tenaga kerja asing di Indonesia.
Saat ini sudah menjadi pengetahuan umum bahwa proyek-proyek seperti PLTU banyak menyerap tenaga
kerja asing terutama dari Tiongkok. Tenaga kerja asing di Indonesia sesuai regulasi harus memiliki
sertifikat kompetensi atau memiliki pengalam kerja sesuai dengan jabatan yang akan diduduki oleh TKA
paling kurang lima (5) tahun. Selain itu tentu tenaga kerja asing harus memenuhi syarat-syarat
keimigrasian dan ketenagakerjaan yang berlaku di Indonesia.

Ancaman Serius

Dilihat dari beberapa kasus tenaga kerja asing ilegal di Indonesia tentu menjadi wajar jika keberadaan
tenaga kerja asing menjadi ancaman serius. Ancaman pertama adalah berkurangnya kesempatan warga
negara Indonesia untuk memperoleh pekerjaan di negaranya sendiri.

Kecemburuan sosial akan muncul jika suatu proyek dikerjakan oleh tenaga kerja asing sementara warga
negara Indonesia menjadi pengangguran. Kecemburuan akan semakin menguat jika ternyata pekerjaan-
pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerja asing tersebut tidak mempunyai keahlian khusus, yang bisa
dilakukan oleh masyarakat pada umumnya.

Ancaman lain adalag terkait dengan kedaulatan negara. Hal ini bukan hanya sekedar dugaan saja.Kasus
pengibaran bendera Republik Rakyat China (RRC) dengan bendera Merah Putih saat peletakan batu
pertama pembangunan smelter PT Wanatiara Persada di Maluku Utara beberapa hari yang lalu
merupakan gejala awal keberadaan tenaga kerja asing mengancam kedaulatan negara.

Pemerintah Provinsi Maluku Utara menyatakan bahwa insiden inisemata-mata karena kesalahan
komunikasi, namun tentu saja tidak bisa dianggap sesederhana itu. Keberadaan tenaga kerja dari RRC di
Maluku Utara dalam konteks bisnis tentu berbeda dengan acara-acara protokoler hubungan antar negara
yang wajar jika benderanya dikibarkana mendampingi bendera merah putih.

Regulasi Pemerintah

Penggunaan tenaga kerja asing telah diatur dengan jelas dalamPasal 37 ayat (1) Peraturan Menteri
Ketenagakerjaan Nomor 35 Tahun 2015 tentang perubahan Atas Peraturan Menteri Ketenagakerjaan
Nomor 16 Tahun 2015 Tentang Tata Cara Penggunaan Tenaga Kerja Asing (Permenaker 35/2015), selain
syarat-syarat lainnya seperti yang diatur oleh pihak Imigrasi.

Selain peraturan yang sudah ditetapkan pemerintah perlu mengkaji dan mempertimbangkan berbagai
hal seperti faktor budaya dan ekonomi masyarakat. Pembangunan PLTU atau proyek infrastruktur di
daerah terpencil dengan menggunakan tenaga kerja asing tentu akan mempengaruhi budaya masyarakat
sekitarnya. Benturan budaya akan terjadi, di tengah kondisi ekonomi yang sedang sulit dan di bawah
tekanan untuk keberhasilan suatu proyek, maka masyarakat mau tidak mau akan menerima dampak-
dampak budaya yang terjadi.
Peran pemerintah dalam menjaga agar keberadaan tenaga kerja asing tidak menjadi ancaman sangat
diperlukan. Selain regulasi pokok, pemerintah perlu mempertimbangkan banyak hal. Pembatasan
keberadaan tenaga kerja asing dari sektor batasan kemampuan dan posisi minimal, pendidikan, batas
waktu bekerja di Indonesia, perlu diatur dengan ketat.

Proyek-proyek yang melibatkan tenaga kerja asing sebaiknya mempertimbangkan transfer teknologi dan
kaderisasi. Jika memang keberadaan tenaga kerja asing tersebut karena belum adanya orang Indonesia
yang mampu, maka sebaiknya dilakukan transfer teknologi dan kaderisasi dengan batas maksimal waktu
tertentu supaya putra-putri bangsa mampu mandiri melakukan di kemudian hari dan memutus
ketergantungan dari pihak asing.

Kebutuhan untuk melakukan percepatan pembangunan terutama di bidang infrastruktur dan energi
merupakan tantangan besar pemerintah Presiden Joko Widodo. Bekerja sama dengan pihak asing
(negara lain) untuk memenuhi kebutuhan ini merupakan hal yang wajar. Di sisi lain tingkat pengangguran
yang masih cukup tinggi dan kerawanan-kerawanan terkait ideologi bangsa perlu mendapat perhatian
serius. Kebutuhan percepatan infratruktur dan energi tentu saja jangan sampai mengorbankan hak
masyarakat untuk memperoleh penghidupan yang layak, apalagi hingga mengorbankan ideologi bangsa.