Está en la página 1de 5

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No.

2, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-114

STUDI PEMILIHAN DESAIN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ARUS LAUT


(PLTAL) MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
Fivid Rivantoro, Irfan Syarif Arief
Jurusan Teknik Sistem Perkapalan, Fakultas Teknologi Kelautan, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail : irfansya@its.ac.id

Abstrak— Desain dari Pembangkit Listrik Tenaga Arus laut, jenis mooring yang bisa digunakan untuk turbin arus
Laut (PLTAL) secara umum terdiri dari turbin dan laut, yaitu pile dan vertical lift mooring.
mooring. Pemilihan desain PLTAL ini mengacu pada Pemilihan desain yang terbaik dari PLTAL jelas perlu
kondisi yang ada di Selat Nusa Penida, Bali. Pemilihan dilakukan, agar ketika PLTAL telah dibangun dapat
desain terbaik dari PLTAL , yaitu memilih jenis turbin menghasilkan energi yang optimal dan juga harapannya
dan jenis mooring yang terbaik menggunakan metode tidak terjadi kerugian yang sia - sia. Pada tugas akhir ini
AHP (Analytical Hierarchy Process). Metode AHP akan dilakukan studi pemilihan mengenai turbin dan
merupakan salah satu metode pemilihan dengan mooring untuk PLTAL dengan membandingkan kelebihan
menggunakan hirarki, langkah pertama adalah dan kekurangan jenis – jenis turbin dan mooring.
menentukan kriteria yang dibandingkan baik untuk Dalam menentukan jenis turbin dan mooring yang akan
turbin dan mooring. Kriteria pemilihan untuk turbin dipakai sebagai PLTAL, terdapat beberapa faktor yang
adalah daya yang dibangkitkan, keandalan, perawatan, diperhitungkan , diantaranya kecepatan arus laut, lokasi,
faktor lingkungan, lokasi, biaya. Sementara kriteria energi yang dihasilkan, keandalan, dan lain – lain. Maka
untuk mooring adalah teknologi, biaya investasi, dalam penelitian ini akan diulas mengenai pemilihan desain
perawatan dan lokasi. Langkah selanjutnya adalah Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) yang
mengumpulkan data mengani pilihan – pilihan baik terbaik dengan membandingkan jenis – jenis turbin dan
turbin dan mooring. Pilihan untuk turbin adalah mooring dengan memperhitungkan faktor – faktor yang
straight axis, inclined axis, savonnius turbine, darrieus bersangkutan.
turbine dan h-rotor turbine. Sementara pilihan untuk Penelitian ini diambil berdasarkan data yang diambil
mooring adalah vertical lift, monopole, dan tripod pile. dari arus laut di wilayah perairan selat Nusa Penida, Bali.
Langkah terakhir adalah penyebaran kuesioner, Karena di wilayah Nusa Penida merupakan daerah yang
kuesioner disebar kepada para ahli energi laut. Hasil kebutuhan listriknya belum tersuplai dengan bagus dan
perhitungan menghasilkan urutan pilihan turbin adalah perairan sekitarnya mempunyai kecepatan arus laut yang
h-rotor turbine, straight axis, inclined axis, darrieus tinggi dan cocok untuk dimanfaatkan sebagai Pembangkit
turbine dan savonnius turbine. Sementara urutan dari Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL).
mooring adalah vertical lift, tripod pile dan mono pile.
Sehingga desain PLTAL di Nusa Penida yang akan II. DASAR TEORI
dibangun menggunakan h-rotor turbine dan vertical lift
mooring. A. Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut
Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL)
Kata Kunci — PLTAL, turbin, mooring, AHP. memanfaatkan energi arus laut sebagai sumber energi, arus
laut yang merupakan energi kinetik dimanfaatkan untuk
I. PENDAHULUAN menggerakkan sudu turbin. Pengembangan teknologi

K
konversi energi arus laut pada dasarnya mengadopsi prinsip
eterbatasan akan adanya sumber energi saat ini telah
kerja konversi energi angin yang telah berkembang.
memicu para peneliti untuk meneliti dan
Arus laut didefinisikan sebagai aliran massa air laut dari
mengembangkan sumber enrgi terbarukan. Beberapa contoh
suatu tempat ke tempat lain. Potensi sumber yang ada pada
sumber energi yang terbarukan seperti, pemanfaatan energi
arus laut tidak semuanya bisa dikonversikan menjadi energi
surya, energi angina, energi laut dll. Energi laut merupakan
listrik , terdapat banyak jenis arus laut ditinjau dari letak,
salah satu energi bersih , terbarukan dan melimpah.
penyebab, dan suhu.
Di Indonesia , potensi energi arus laut yang cukup besar
Jika ditinjau dari letaknya, arus laut dibedakan menjadi
terdapat di wilayah perairan Jawa Bali dengan kecepatan
3, yaitu :
arus laut sekitar 2,5 . Energi arus laut dapat
1. Arus Permukaan
dimanfaatkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut
Arus laut jenis ini terletak di permukaan laut,
(PLTAL). PLTAL pada dasarnya menggunakan turbin
dengan kedalaman < 20 m..
sebagai alat untuk mengubah energi kinetik menjadi energi
2. Arus Sedang
listrik yang disalurkan menuju electrical generator.
Arus sedang berada pada kedalaman air laut 20-
Terdapat beberapa jenis turbin yang bisa dipakai untuk
40m.
PLTAL, yaitu horizontal axis turbine dan vertical axis
3. Arus Dalam
turbine. Selain kebutuhan turbin , teknologi yang tidak
Sementara arus ini terletak di kedalamn >40 m.
kalah penting adalah mooring, mooring merupakan alat
Secara garis besar teknologi yang dibutuhkan untuk
yang digunakan menahan turbin agar tidak terbawa arus
membangkitkan listrik dari energi arus laut adalah turbin,
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 2, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-115

mooring, sistem transmisi dan generator. Namun pada


penelitian ini teknologi hanya dibatasi untuk turbin &
mooring.

Gambar 3. Horizontal axis turbine [3]


C. Mooring
Dalam Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL),
selain penggunaan turbin juga ada penggunaan mooring.
Gambar 1. Contoh PLTAL Sea Flow [1] Mooring digunakan untuk menahan turbin dari pengaruh
arus laut sendiri, sehingga turbin tidak bergerak akibat
B. Turbin Arus Laut pengaruh arus laut. Terdapat 2 jenis mooring yang sering
Turbin diputar oleh arus laut, putaran turbin tersebut digunakan, yaitu vertical lift dan pile.
digunakan untuk membangkitkan energi listrik generator, Jenis mooring vertical lift bisa dipakai untuk
terdapat beberapa jenis turbin yang digunakan pada penggunaan turbin di segala jenis permukaan laut, karena
konversi energi arus laut, yang dijelaskan dalam bagan jenis ini melayang di laut sehingga bisa digunakan dan tidak
dibawah ini. tergantung pada jenis permukaan laut
Hydrokinetic
Turbine

Horizontal Vertical Axis


Axis Turbine Turbine

Straight Axis Inclined Axis Savonius Darrieus


Turbine Turbine Turbine Turbine Gambar 4. Vertical Lift Mooring [4]

Gambar 2. Bagan macam – macam turbin air laut Sedangkan jenis pile dibagi menjadi 2, yaitu mono pile
dan tripod pile. jenispile diletakkan di dasar permukaan
Dari bagan diatas, turbin air dibagi menjadi 2 jenis laut.
turbin berdasarkan arah putaran turbinnya yaitu turbin
horizontal axis dan turbin vertical axis.
Turbin horizontal axis berputar terhadap sumbu
horizontalnya, Jenis turbin ini dibagi menjadi 2 , yaitu
straight axis turbine yang poros turbinnya sejajar dengan
sumbu x nya, dan inclined axis yang poros turbinnya
mempunyai sudut kemiringan tertentu dengan sumbu x-nya.

Gambar 5. Mono Pile dan Tripod Pile [5]


D. ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS (AHP)
Analytical Hierarchy Process merupakan salah satu
metode decision making dengan menyusun prioritas dari
Gambar 2. Horizontal axis turbine [2] berbagai pilihan berdasarkan kriteria tertentu. Metode AHP
didasarkan pada penyusunan yang terstruktur.
Sementara vertical axis turbine dibagi menjadi 3 jenis Terdapat 3 tahapan AHP dalam menyusun prioritas,
turbin yaitu, savonnius turbine, darrieus turbine dan h-rotor yaitu:
turbine. Ketiga jenis turbin itu dibedakan berdasarkan jenis 1. Dekomposisi masalah
blade-nya. Pada tahap ini ditentukan tujuan (goal), identifikasi
pilihan (options) dan penentuan kriteria (criteria)
GOAL

CRITERIA CRITERIA CRITERIA


1 2 3
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 2, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-116

Tabel 3. Penjumlahan Penilaian

CR1 CR2 CR3 CR4 Prioritas


OP1 bo11 bo12 bo13 bo14 bop1
OP2 bo21 bo22 bo23 bo24 bop2
OP3 bo31 bo32 bo33 bo34 bop3
OP4 bo41 bo42 bo43 bo44 bop4

4. Penyebaran Kuesioner
Gambar 6. Bagan Contoh Dekomposisi Masalah Kuesioner bisa digunakan pada metode
2. Penilaian Elemen AHP , penyebaran kuesioner harus dilakukan
Setelah masalah terdekomposisi, tahapan kepada para ahli dalam energi laut. Langkah –
selanjutnya adalah penilaian elemen, terdapat 2 tahap langkah dalam mengolah hasil dari kuesioner
penilaian elemen, yaitu perbandingan antar kriteria dan adalah sebagai berikut :
perbandingan antar pilihan untuk setiap kriteria . Untuk 1. Menghitung rata – rata geometri hasil
aturan penilaian dalam metode ini adalah sebagai berikut : kuesioner.
Tabel 1. Skala Penilaian AHP ….. (2)
Definisi Nilai Dimana : GM = Geometric Mean
Kedua pilihan mempunyai nilai yang 1 X1 = Pakar ke-1
sama X2 = Pakar ke-2
Salah satu pilihan mempunyai nilai 3 2. Menyusun matriks perbandingan
sedikit lebih baik dibanding pilihan Tabel 4. Matriks Perbandingan
lain Kriteria 1 2 3 n
Salah satu pilihan mempunyai nilai 5 1 1 GM12 GM13 GM1n
lebih baik dibanding pilihan lain 2 GM21 1 GM23 GM2n
Salah satu pilihan mempunyai nilai 7 3 GM31 GM32 1 O3n
jauh lebih baik dibanding pilihan n GMn1 GMn2 GMn3 1
lain
Salah satu pilihan mempunyai nilai 9 3. Menghitung bobot relatif
sangat jauh lebih baik dibanding ternormalisasi
pilihan lain Tabel 5. Bobot Relatif Ternormalisasi
Nilai dimana salah satu pilihan 2,4,6,8 Kriteria 1 2 n
berada diantara kriteria – kriteria 1 1/ GM11-n1 GM12/ GM12-n2 GM1n/ GM14-n4
diatas 2 GM21/ GM11-n1 1/ GM12-n2 GM2n/ GM14-n4
n GMn1/ GM11-n1 GMn2/ GM12-n2 1/ GM14-n4
Penilaian dilakukan terhadap perbandingan antar
kriteria , maupun antar pilihan. Sebagai contoh tabel 4. Menghitung CI (consistency index)
penilian dapat dilihat pada tabel 2. Nilai CI digunakan untuk
Tabel 2. Perbandingan Antar Kriteria menentukan apakah nilai dari
Kriteria CR1 CR2 CR3 CR4 Jumlah Nilai kuesioner konsisten atau tidak. CI
CR1 - C12 C13 C14 C1 C1 / C akan konsisten bila memiliki nilai 0
CR2 C21 - C23 C24 C2 C2 / C
CR3 C31 C32 - C34 C3 C3 / C ………… (3)
CR4 C41 C42 C43 - C4 C4 / C Dimana : CI = consistency index
Jumlah C max = nilai jumlah eigen
faktor dari matriks berordo n.
Keterangan :
- Cij : hasil penilaian antar kriteria i dengan j max = GM11-n1 x X1 + .. +GM1n-n1 x Xn
- Ci : penjumlahan nilai dari kriteria ke i
- C : merupakan penjumlahan semua nilai Ci. Jika nilai CI lebih besar dari 0,
maka harus diuji dengan consistency
3. Penjumlahan Penilaian ratio (CR).
Tahap ini adalah tahap akhir dari proses
ini, tahap ini merupakan tahap penjumlahan ……………….. (4)
dari bobot yang diperoleh saat setiap pilihan
pada kriteria telah diberi nilai. Secara umum Nilai RI berdasarkan ordo matriks
nilai suatu pilihan adalah sebagai berikut :
III. METODOLOGI
bopi = ………….. (1) Dalam penelitian ini, akan dilakukan pemilihan desain
yaitu pemilihan jenis turbin dan mooring dari PLTAL yang
Keterangan : akan ditempatkan di Nusa Penida, Bali.
- bopi = nilai untuk pilihan ke i
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 2, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-117

Sesuai dengan metode yang digunakan , yaitu AHP. Maka Torsi dan fatique bagus,
langkah pertama yang dilakukan adalah menentukan kriteria Straight Axis kontroling mudah, penggunaan
dan pilihanbaik dari turbin dan mooring. Kriteria untuk Turbine pada kondisi ekstrem
pemilihan turbin adalah : daya , keandalan, perawatan, Putaran tidak tergantung arus,
biaya , lingkungan dan lokasi. Sementara jenis pilihan , Savonnius
Turbine torsi bagus
seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, yaitu : straight
axis, inclined axis, savonnius, egg-beater, dan h-rotor. Putaran tidak tergantung arus,
Sedangkan kriteria untuk pemilihan mooring adalah Egg Beater penggunaan pada kondisi
teknologi, biaya, perawatan dan lokasi. Sedangkan jenis Turbine ekstrem
pilihannya adalah vertical lift, single pile, dan tripod pile. Putaran tidak tergantung arus,
Langkah selanjutnya adalah penyebaran kuesioner , H-Rotor fatique bagus, penggunaan pada
kuesioner disebarkan kepada para ahli energi laut. Turbine kondisi ekstrem
Kemudian menghitung nilai consistency index sesuai
langkah sebelumnya. 3. Analisa Biaya
Secara umum jenis horizontal axis lebih
IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN mempunyai biaya pembuatan yang lebih murah,
karena horizontal axis mempunyai desain lebih
A. Analisa Kriteria Pemilihan Turbin mudah karena menggunakan straight blade jika
Pemilihan dibandingkan vertical axis.
Turbin 4. Analisa Perawatan
Tabel 8. Penjabaran perawatan turbin
Daya yang
dibangkitkan
Keandalan Perawatan
Biaya
Investasi
Faktor
Lingkungan
Lokasi Jenis Turbin Keterangan
Inclined Axis
Kavitasi rendah, fatique bagus.
Straight Axis Inclined Axis Savonnius Darrieus H-Rotor
Turbine
Turbine Turbine Turbine Turbine turbine

Straight Axis Kavitasi rendah, fatique bagus,


Turbine penggunaan di kondisi ekstrem
Gambar 7. Hirarki Pemilihan Turbin Kavitasi tinggi, perawatan
Savonnius
Turbine murah
Nilai consistency ratio dari pengolahan kuesioner
sebesar 2 %, sehingga hasil kuesioner konsisten. Kavitasi tinggi, perawatan
Pengolahan kuesioner menghasilkan urutan kriteria dan Egg Beater murah, penggunaan kondisi
nilai : perawatan (0,32), biaya (0,28), lokasi (0,12), Turbine ekstrem
keandalan (0,11), lingkungan (0,09), daya(0,07). H-Rotor Kavitasi tinggi, perawatan
Turbine murah, fatique tinggi.
B. Analisa Pilihan Turbin
1. Analisa Daya 5. Analisa lingkungan
Estimasi nilai daya yang bisa dihasilkan Faktor ini dipengaruhi oleh RPM dari turbin,
dari setiap turbin adalah sebagai berikut : sehingga langkah yang dilakukan adalah
mengestimasi nilai RPM.
(5) Tabel 9. Perkiraan RPM Turbin
Dimana : Jenis Inclined Straight Savonnius Egg H-
Turbin Axis Axis Beater Rotor
P = Daya yang dibangkitkan
RPM 69 49 7 34 34
= Efisiensi turbin
p = Massa jenis air laut (1025 ) 6. Analisa lokasi
A = Swept area Lokasi yang digunakan berada pada 18meter
v = Kecepatan arus kedalaman dibawah permukaan air laut. Secara
Untuk kecepatan arus diasumsikan kecepatan umum yang paling bagus adalah jenis inclined axis
rata-rata arus laut Nusa Penida yaitu 2,5 m/s karena cocok digunakan pada arus permukaan.
sedangkan diamter turbin 4m.
Tabel 6. Perkiraan daya yang dibangkitkan turbin 7. Hasil Penilaian
Berikut ini hasil penilaian dari pengolahan
Jenis Inclined Straight Savonnius Egg H-
kuesioner yang telah dilakukan.
Turbin Axis Axis Beater Rotor
Tabel 10. Hasil Penilaian
Daya 24 KW 26 KW 7 KW 25 KW 38 KW
Jenis Inclined Straight Savonnius Egg H-
Turbin Axis Axis Beater Rotor
2. Analisa Keandalan
Tabel 7. Penjabaran keandalan turbin Nilai 0,16 0,22 0,14 0,14 0,33
Jenis Turbin Keterangan Hasil perhitungan akhir dari nilai kriteria dan
Inclined Axis Torsi dan fatique bagus, nilai pilihan sebagai berikut : H-Rotor (033) ,
Turbine kontroling mudah.
JURNAL TEKNIK ITS Vol. 4, No. 2, (2015) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) B-118

Straight Axis (0,22), Inclined Axis (0,16) , Tabel 12. Hasil Penilaian
Savonnius (0,14) dan Egg Beater (0,14). Jenis Vertical Mono Tripod
Mooring Lift Pile Pile
C. Analisa Kriteria Pemilihan Mooring Nilai 0,69 0,21 0,10
Hasil perhitungan akhir dari nilai kriteria dan
Pemilihan
Mooring nilai pilihan sebagai berikut : vertical lift (0,69),
mono pile (0,21) dan tripod pile (0,10).

Teknologi Perawatan Biaya Lokasi V. KESIMPULAN


Berdasarkan analisis dan pembahasan di atas, didapatkan
kesimpulan sebagai berikut:
Tripod Pile Mono Pile Vertical Lift 1. Urutan perbandingan turbin dengan memakai kriteria
daya yang dibangkitkan, keandalan, perawatan,
Gambar 8. Hirarki Pemilihan Mooring biaya, dampak terhadap lingkungan dan lokasi
adalah H-Rotor turbin, Straight turbin, Inclined Axis,
Nilai consistency ratio dari pengolahan kuesioner Egg beater (Darrieus) dan Savonnius turbin.
sebesar 4 %, sehingga hasil kuesioner konsisten. 2. Urutan perbandingan mooring dengan memakai
Pengolahan kuesioner menghasilkan urutan kriteria dan kriteria teknologi, perawatan , biaya, lokasi adalah
nilai : lokasi (0,37), biaya (0,33), perawatan (0,19), Vertical Lift,Tripod Pile, Mono Pile
teknologi (0,11) . 3. Jenis PLTAL (Pembangkit Listrik Tenaga Arus
Laut) yang dipilih untuk selat Nusa Penida pada
D. Analisa Pilihan Mooring
kedalaman 18 meter adalah H-Rotor Turbine dengan
1. Analisa Teknologi jenis mooring Vertical Lift.
Analisa ini dimaksudkan pada kelebihan yang
diberikan antar mooring.
2. Analisa Perawatan DAFTAR PUSTAKA
Secara umum perawatan mengenai [1]. STTPLN.(2014). Arus laut sebagai sumber energi
mooring PLTAL akan dilakukan secara listrik. http://www. Getsttpln .com/2014/03 / arus-laut-
berkala dalam jangka waktu tertentu bisa sebagai-sumber-energi-listrik.html
setiap 1 bulan sekali, ataupun dalam jangka [2]. Khan M.J. (2009). Hydrokinetic energy conversion
waktu 6 bulan . Dari segi kemudahan systems and assessment of horizontal and vertical axis
perawatan sudah jelas jenis verticallift lebih turbines for river and tidal applications: A technology
menguntungkan karena letaknya berada di status review
permukaan laut, sehingga saat dilakukan [3]. Alam Jahangir. (2009). Design and Development of a
survey akan lebih mudah , begitu pula jika marine current energy conversion system using hybrid
vertical axis turbine.
terjadi kerusakan akan mudah untuk
[4]. MECORKNEY.2008.Tidal Devices. http :// www.
menggantinya.
emec.org.uk
3. Analisa Biaya
[5]. Scottish Enterprise.(2005).Marine Renewable (Wave
Secara umum biaya yang dikeluarkan untuk
and Tidal ) Opportunity Review.
pembuatan seubah item ditentukan dari kemudahan
pembuatan, untuk mooring yang paling murah
adalah vertical lift
4. Analisa Lokasi
Peletaka lokasi ditentukan pada kedalaman 18
meter dibawah permukaan air laut. Masing –
masing jenis mooring mempunyai karakteristik
masing – masing pada setiap lokasinya.
Tabel 11. Perbandingan analisa lokasi
Jenis Permukaan Tanah Kedalaman
Vertical -Bisa dipakai pada semua -Cocok dipakai
Lift jenis permukaan tanah pada arus
permukaan
Mono -Kurang cocok dipakai pada -Bagus dipakai
Pile permukaan berbatu pada arus
-Tidak cocok pada permukaan permukaan
lumpur
Tripod -Kurang cocok dipakai pada -Cocok pada
Pile permukaan berbatu semua kedalaman
-Tidak cocok pada lumpur

5. Hasil Penilaian