Está en la página 1de 18

20.

1 SIFAT DAN CONTOH SUBSEQUENT EVENTS

Subsequent event merupakan peristiwa atau transaksi yang terjadi setelah tanggal laporan
posisi keuangan (neraca) tetapi sebelum diterbitkan nya laporan audit, yang memiliki dampak
yang material terhadap laporan keuangan, sehingga diperlukan nya penyesuaian atau
pengungkapan dalam pelaporan tersebut.
Terdapat dua jenis subsequent events adalah sebagai berikut :
1. Peristiwa yang memberikan tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi
yang ada pada tanggal laporan posisi keuangan dan berdampak terhadap taksiran
yang melekat dalam proses penyusunan laporan keuangan. Laporan keuangan harus
disesuaikan untuk setiap perubahan estimasi sebagai akibat dari penggunaan bukti
tambahan tersebut.
Contoh :
- Kerugian sebagai akibat tidak tertagihnya piutang pada pelanggan yang menuju
kebangkrutan setelah tanggal laporan posisi keuangan merupakan indikasi keadaan
yang ada pada pelaporan posisi keuangan, oleh sebab itu laporan keuangan harus
diseseuaikan sebelum diterbitkan.
- Dilain pihak, kerugian yang sama dialami oleh pelanggan tetapi kebangkrutan
tersebut diakibatkan karena kebakaran atau banjir setelah tanggal laporan posisi
keuangan, bukan merupakan kondisi yang ada pada tanggal laporan posisi keuangan,
sehingga tidak perlu disesuaikan.
2. Peristiwa-peristiwa yang menyediakan tambahan bukti yang berhubungan dengan
kondisi yang tidak ada pada tanggal laporon posisi keuangan, namun kondisi
tersebut ada sesudah tanggal laporan posisi keuangan. Peristiwa-peristiwa tersebut
tidak memerlukan penyesuaian terhadap laporan keuangan. Namun beberapa peristiwa
mungkin memerlukan pengungkapan agar laporan keuangan tidak menyesatkan
pembacanya.
Contoh :
- Penjualan obligasi atau penerbitan saham baru
- Pembelian bisnis
- Terjadinya tuntutan hukum yang disebabkan oleh peristiwa yang terjadi sesudah
tanggal laporan posisi keuangan.

1
- Kerugian aset tetap atau persediaan yang diakibatkan oleh kebakaran, bencana alam
atau
- Kerugian yang diakibatkan oleh kondisi (seperti penyebab utama kebangkrutan
pelanggan) yang timbul setelah tanggal laporan posisi keuangan.

Menurut SAK ETAP (IAI, 2009:156)


Peristiwa setelah akhir periode pelaporan adalah peristiwa-peristiwa, menguntungkan
maupun tidak menguntungkan, yang terjadi setelah akhir periode pelaporan sampai dengan
tanggal penyelesaian laporan keuangan.
Ada dua jenis peristiwa setelah akhir periode pelaporan, yaitu sebagai berikut :
1. Peristiwa yang mmberikan bukti atas suatu kondisi yang telah terjadi pada akhir periode
pelaporan (memerlukan penyesuaian).
2. Peristiwa yang mengindikasikan timbulnya suatu kondisi setelah akhir periode pelaporan
(tidak memerlukan penyesuaian).
 Peristiwa Setelah Akhir Periode Pelaporan yang Memerlukan Penyesuaian
Entitan harus membuat penyesuaian jumlah yang diakui dalam laporan keuangan,
termasuk pengungkapan yang terkait, untuk mencerminkan peristiwa setelah akhir periode
pelaporan yang memerlukan penyesuaian.
 Peristiwa Setelah Periode Pelaporan yang Tidak Memerlukan Penyesuaian
Entitas tidak boleh menyesuaikan jumlah yang diakui dalam laporan keuangan atas
peristiwa setelah akhir periode pelaporan yang tidak memerlukan penyesuaian.
Jika entitas mengumumkan dividen kepada pemegang saham setelah akhir periode
pelaporan, maka entitas tidak boleh mengakui dividen tersebut sebagai liabilitas pada akhir
periode pelaporan.

Menurut PSAK No.8 (Revisi 2010) 8.2


Peristiwa setelah periode pelaporan adalah peristiwa yang terjadi antara akhir periode
pelaporan dan tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit, peristiwa yang menguntungkan
maupun yang tidak.
Peristiwa-peristiwa tersebut dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu :

2
1. Peristiwa yang memberikan bukti atas adanya kondisi pada akhir periode pelaporan
(peristiwa penyesuai setelah periode pelaporan).
2. Peristiwa yang mengindikasikan timbulnya kondisi setelah periode pelaporan (peristiwa
nonpenyesuai setelah periode pelaporan).
Tanggal laporan keuangan diotoritan untuk terbit : tanggal yang lebih awal antara
tanggal manajemen telah memberikan asersi bahwa laporan keuangan telah diselesaikan dan
tanggal manajemen menyatakan bertanggung jawab atas laporan keuangan tersebut.
 Peristiwa Penyesuai Setelah Periode Pelaporan
Entitas menyesuaikan jumlah yang diakui dalam laporan keuangan untuk mencerminkan
peristiwa penyesuai setelah periode pelaporan.
 Peristiwa Nonpenyesuai Setelah Periode Pelaporan
Entitas tidak menyesuaikan jumlah yang diakui dalam laporan keuangan untuk
mencerrminkan peristiwa penyesuai setelah periode pelaporan.
Entitas tidak menyusun laporan keuangan dengan dasar kelangsungan usaha jika setelah
periode pelaporan diperoleh bukti kuat bahwa entitas akan diakuidasi atau dihentikan usahanya,
atau jika manajemen tidak memiliki alternatif lain yang realistis kecuali melakukan hal tersebut.
Menurut penulis, subsequent event yang harus di audit oleh akuntan publiik adalah
sebagai berikut :
1. Subsequent collection (penagihan setelah tanggal laporan posisi keuangan sampai
mendekati tanggal selesainya pekerjaan lapangan / audit field work), yang harus
dilaksanakan dalam pemeriksaan piutang dan barang dalam perjalanan.
2. Subsequent payment (pembayaran setelah anggal laporan posisi keuangan sampai
mendekati tanggal selesainya audit field work), yang harus dilaksanakan dalam
pemeriksaan liabilitas.

20.2 TUJUAN PEMERIKSAAN SUBSEQUENT EVENTS


Tujuan pemeriksaan subsequent events adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui apakah ada kejadian – kejadian penting sesudah tanggal laporan posisi
keuangan (neraca) yang membutuhkan penyesuaian terhapadap laporan keuangan atau
memerlukan pengungkapan dalam atatan atas laporan keuangan agar tidak menyesatkan
pengguna laporan keuangan tersebut.

3
2. Untuk menentukan kemungkinan tertagihnya piutang.
Walaupun konfirmasi (positif) piutang tidak dijawab oleh pelanggan, dan piutang
tersebut sudah lama tidak dilunasi pelanggan, namun jika setelah tanggal laporan posisi
keuangan (neraca) ternyata piutang tersebut dilunasi oleh pelanggan, maka perushaan tidak
perlu meragukan collectibillity piutang tersebut.
Dengan kata lain, tidak perlu dibuat penghaposan atau penyisihan atas piutang terebut.
3. Untuk memastian bahwa “barang dalam perjalanan” yang tercantum dilaporan posisi
keuangan (neraca) per tanggal laporan posisi keuangan (neraca), betul – betul masih dalam
perjalanan.
Sebab ada kemungkinan, pada saat membaya uang muka pembelian (L/C) perusahaan
mencatat :
DR. Barang dalam perjalanan
Cr. Kas
Cr. Utang usaha
Pada saat penerimaan barang sebelum tanggal laporan posisi keuangan (neraca),
perusahaan mencatat :
DR. Persediaan
CR. Utang usaha
Akibatnya per tanggal laporan posisi keuangan (neraca) tetap terlihat saldo barang dalam
perjalanan dan terjadi dua kali pencatatan utang usaha.
Seharusnya pada saat penerimaan barang, baik sebelum maupun sesudah tanggal laporan
posisi keuangan (neraca), perusahaan mencatat :
DR. Persediaan
CR. Barang dalam perjalanan
Pada saat utang tersebut dilunasi :
DR. Utang usaha
CR. Kas
4. Untuk memastikan bahwa liabilitas dan beban yang masih harus dibayar yang tercantum
dilaporan posisi keuangan (neraca) per tanggal laporan keuangan (neraca), betul – betul
merupakan liabilitas perusahaan yang akan dilunasi pada saat jatuh temponya (sesudah
tanggal laporan posisi keuangan/neraca).

4
5. Untuk memastikan bahwa tidak ada liabilitas perusahaan yang belum dicatat per tanggal
laporan posisi keuangan (neraca).

20.3 PROSEDUR PEMERIKSAAN SUBSEQUENT EVENTS


1. Periksa pengeluaran kas sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca), sampai
mendekati tanggal selesainya audit field work.
Caranya : Lakukan scanning terhadap buku pengeluaran kas, perhatikan apakah
ada pengeluaran kas di periode setelah tanggal laporan posisi keuangan (neraca) untuk
pelunasan liabilitas yang terjadi di periode yang sedang diaudit.
Misalnya apakah ada pengeluaran kas antara tanggal 1 Januari s.d 15 Maret 2012,
untuk pelunasan pembelian atau beban yang terjadi ditahun 2011.
Jika ada lakukan vouching dan periksa apakahh liabilitas atau beban tahun 2011
tersebut sudah dicatat sebagai libilitas dan/atau beban yang masih harus dibayar per 31
Desember 2011. Jika belum dicatat berarti tterdaoat unrecorded liabilities yang
mmerlukanaudit adjustment.
Contoh kertas kerja untuk pemeriksaan pengeluaran kas sesudah tanggal laporan
posisi keuangan (neraca) bisa dilihat di Exhibit 20-1

5
Exhibit 20-1 Pengeluaran Kas Sesudah Tanggal Laporan Posisi Keuangan

6
2. Periksa penerimaan kas sesudah tanggal laporan posisi keuangan (neraca), smapai
mendekati tanggal selesainya audit field work.
Caranya : lakukan scanning terhadp buku penerimaan kas, perhatikan apakah ada
penerimaan kas diperiode setelah tanggal laporan posisi keuangan (neraca) untuk
pelunasan piutang yang terjadi di periode yang sedang diaudit.
Misalnya apakah ada penerimaan kas antra 1 Januari s.d 15 Maret 2012, untuk
pelunasan penjualan kredit yang terjadi ditahun 2011. Jika belum dicatat, berarti terdapat
unrecorded receivable yang memerlukan audit adjusment.
Contoh kertas kerja untuk pemeriksaan pengeluaran kas sesudah tanggal laporan
posisi keuangan (neraca) bisa dilihat di Exhibit 20-1

7
Exhibit 20-3 Penerimaan Kas Sesudah Tanggal Laporan Posisi Keuangan

8
3. Periksa bukti penerimaan barang sesudah tanggal laporan posisi keuangan
(neraca), sampa mendekati tanggal selesainya audit field work.
Tujuannya adalah :
 Untuk mengetahui apakah barang yang diterima setelah tanggal laporan
posisi keuangan (neraca) merupakan pembelian di thun yang diperiksa
(misal tahun 2011) dan belum dicatat sebagai utang per 31 Desember
2011.
 Untuk memeriksa apakah barang dalam perjalanan yang terlihat dilaporan
posisi keuanga (neraca) per tanggal laporan posisi keuangan (neraca),
sudah diterima di periode sesudah tanggal laporan keuangan (neraca)
dengan memperhatikan juga pakh syarat pengiriman barang fob
destination atau fob shipping point.
4. Periksa bukti pengeluaran barang sesudah tanggal laporan posisi keuangan
(neraca) sampai mendekati tanggal selesainya audit field work.
Tujuannya adalah :
 Untuk mengetahui apakah barang yang dikirim setelah tanggal laporan
posisi keuangan (neraca) sudah dicatat sebagai penjualan ditahun yang
diperiksa (misal tahun 2011) padahal ditahun 2011 sebetulnya masih
merupakan sales commitment sehingga belum dicatat sebagai penjualan
2011.
5. Periksa cut-off pembelian dan cut-off penjualan.
Caranya dengan memriksa dokumen – dokumen pembelan dan penjualan lebih
kurang satu atau dua minggu sebelum dan sesudah tanggal laporan posisi keuangan
(neraca).
Tujuannya untuk mengetahui apak ad apergeseran waktu pencatatan pembelian
dan penjualan.
Contoh kertas kerja pemeriksaan atas cut-off pembelian bisa dilihat di Exhibit 20-
3, sedangkan atas cut-off penjualan bisa dilihat di Exhibit 20-4.

9
Exhibit 20-3 Kertas Kerja Pemeriksaan Atas Cut-off Pembelian

10
Exhibit 20-4 Kertas Kerja Pemeriksaan Atas Cut-off Penjualan

11
6. Review laporan keuangan interim untuk periode sesudah tanggal laporan keuangan
(neraca).
Tujuannya untuk mengetahui apakah diperiode sesudah tanggal laporan posisi
keuagan (neraca) terdapat hal – hal yang unusual dalam jumlah yang besar, sehingga
dapat memengaruhi kewajaran laporan laba rugi atau memerlukan penjalasan dalam
catatan atas laporan keuangan.
7. Minta salinan (copy) notuln rapat direksi, dewa komisaris, pemegang saham dan
pelajari notulen tersebut untuk mengetahui apakah ada commitment yang diuat
perusahaan dan baru dipenuhi di periode setelah tanggal laporan keuangan
(neraca).
Misalnya di rapat direksi yang diadakan tanggal 30Desember 2011 diputuskan
untuk membagi bonus tahun 2011 kepada seluruh karyawan sebesar dua bulan gaji dan
akan dibayarkan di akhir Januari 2012. Berarti per 31 Desember 2011 bonus tersebut
sudah harus dicatat (di-accured)
8. Lakukan tanya jawab dengan pejabat perusahaan yang berwenng, untuk
mengetahui :
a. Apakah ada contingent liabilities.
b. Apakah ada perubahan yang cukup signifikan dalam modal saham, liabilitas
jangka panjang atau kredit modal kerja dalam periode setelah tanggal laporan
posisi keuangan (neraca).
c. Apakah ada kejadian – kejadian yang penting sesudah tanggal laporan posisi
keuangan (neraca) yag memerlukan penyesuaian terhadap laporan keuangan atau
memerlukan penjelas dalam catatan atas laporan keuangan.
9. Kirim konfirmasi ke penasihat hukum perusahaan, untuk mengetahui apakah
perusahaan mempunyai masalah hukum di pengadilan, misalnya karena ada
tuntutan dari pihak ketiga, da bagaimana pendapat penasihat hukum mengenai
status perkara di pengadilan tersebut.
Seperti diketahui, penyelesaian perkara di pengadilan membutuhkan waktu yang sangat
lama; perkara yang sudah diputus di Pengadilan Negeri bisa diajukan banding ke
Pengadilan Tinggi, bisa naik banding lagi ke Mahkamah Agung. Jika per tanggal neraca

12
(laporan posisi keuangan) belum ada keputusan yang jelas, maka perusahaan harus
menjelaskan adanya contingent liability di laporan keungannya.
Selain itu dalam surat konfirmasi ke penasihat hukum perusahaan bisa sekaligus
ditnyakan apakah ada fee untuk penasihat hukum perusahaan yang masih terutang per
tanggal laporan posisi keuangan (neraca).
Contoh surat konfirmasi ke penasihat hukum perusahaan bisa dilihat di Exhibit
16-4.

13
Exhibit 16-4 Surat Konfirmasi ke Penasihat Hukum

14
10. Analisis perkiraan professional fess, untuk mengetahui apakah ada pembebanan fee
dari penasihat hukum perusahaan, yang menyangkut perkara di pengadilan.
(Sudah cukup jelas)
11. Dapatkan surat pernyataan langganan (client representation letter).
(Sudah cukup jelas)

Pengungkapan Peristiwa Setelah Tanggal Laporan Dicatat Atas Laporan Keuangan


Menurut SAK ETAP (IAI, 2009: 158) : Tanggal penyelesaian laporan keuangan, entitas
harus mengungkapkan tanggal penyelesaian laporan keuangan. Entitas harus mengungkapkan
untuk setiap kategori peristiwa setelah akhir periode pelaporan yang tidaj memerlukan
penyesuaian sebagai berikut :
a. Sift dan peristiwa
b. Estimasi dampak keuangannya atau suatu pernyataan bahwa estimasi tersebut tidak dapat
dilakukan.
Menurut PSAK No. 8 (revisi 2010) 8.7 : Tanggal otorisasi untuk terbit. Entitas
mengungkapkan tanggal laporan keuangan diotorisasi untuk terbit dan pihak yang bertanggung
jawab mengotorisasi laporan keuangan.
Jika entitas menerima informasi setelah periode pelaporan tentang kondisi yang ada pada
akhir periode pelaporan, maka entitas memutakhirkan pengungkapan kondisi tersebut sesuai
dengan infomasi terkini.
Peristiwa non penyesuai setelah periode pelaporan yang berdampak material jika tidak
diungkapkan akan memengaruhi pengambilan keputusa pengguna laporan keuangan. Oleh
karena itu, entitas mengungkapkan informasi berikut untuk setiap kelompok peristiwa tersebut:
a. Sifat peristiwa; dan
b. Estimasi atas dampaka keuangan, atau pernyataan bahwa estimasi tersebut tidak dapat
dibuat.

20.4 PENYELESAIAN PEMERIKSAAN AKUNTAN


Sebelum suatu pemeriksaan akuntan dinyatakan selesai, ada beberapa hal yang harus
dilakukan akuntan publik, yaitu sebagai berikut :

15
1. Seluruh kertas kerja pemeriksaan harus diparaf oleh pembuatnya dan di review oleh
atasan dari yang membuat kertas kerja tersebut. Misalnya kertas kerja yang dibuat oleh
junior auditor harus di review oleh senior auditor, yang dibuat senior auditor harus di
review oleh audit supervisor, yang dibuat oleh audit supervisor harus di review oleh
manajer dan seterusnya.
2. Hasil review harus didokumentasikan dalam suatu review notes dan review notes
tersebut harus dijawab secara tuntas oleh staf yang di review (reviewee). Jika ada review
notes yang belum terjawab, audit report belum boleh diserahkan ke klien.
3. Daftar audit adjustment harus disusun, lengkap dengan index working paper nya dan
di diskusikan dengan klient / komite audit. Jika ada kesalahan yang material dan klient
tidak menyetujui usulan audit adjustment nya, maka auditor tidak boleh unqualified
opinion.
4. Audit adjustment yang sudah disetujui oleh klien harus diposting ke masing-masing
kertas kerja yang berkaitan, baik disupporting schedule, top schedule, working balance
sheet maupun working profit and lost.
5. Draft report disusun oleh auditor in-charge (pimpinan tim audit) kemudian di review
oleh audit manager dan audit partner.
6. Sebelum kertas kerja pemeriksaan dan draft report di review oleh audit manager
dan audit partner, maka audit supervisor harus menyusun apa yang disebut notes to
PPM (catatan untuk partner, principal, dan manager). Notes tersebut berisi hal-hal
penting yang perlu mendapat perhatian PPM yang dianggap mempunyai pengetahuan dan
pengalaman lebih luas dari level dibawah nya.
7. Setelah draft report di review dan disetujui PPM, draft tersebut harus di diskusikan
dengan klien dan komite audit/komisaris. Jika klien setuju barulah dibuat final audit
report.
8. Sebelum laporan audit diserahkan kepada klien, auditor harus meminta Surat
Pernyataan Langganan dari klien. Biasanya draft surat tersebut dibuat oleh auditor, lalu
dicetak di kop surat klien yang ditandatangani oleh pejabat klien yang berwenang.
Tanggal surat harus sama dengan tanggal selesaina audit field work dan tanggal laporan
audit.

16
9. Selain itu auditor harus membuat draft management letter yang di review dan
disetujui PPM, harus di diskusikan dengan klien. Setelah klien setuju barulah dibuat
management letter yang final untuk diserahkan kepada klient.
10. Tahap terakhir yaitu menyelesaikan urusan pelunasan audit fee. Audit fee tersebut
ditambah PPN 10% dan dikurangi PPh 23 sebesar 2%.
11. Dalam audit working papers harus dicantumkan “catatan untuk audit tahun
berikutnya”, yang berisi hal-hal penting untuk dipertimbangkan dalam audit tahun
beikutnya.
12. Jenis opini yang harus diberikan terhadap laporan keuangan klien, tergantung pada
hasil pemeriksaan. Jika opini yang diberikan unqualified berart disetiap top schedule
harus ada pernyataan auditor bahwa pos atau perkiraan tersebut disajikan secara wajar.
13. Dalam me-review kertas kerja pemeriksaan, sebaiknya KAP mempunyai suatu daftar
yang disebut “Audit Working Papers Review Guide”.
Selain itu semua audit program harus di cross index kertas kerja yang berkaitan dan
diparaf oleh masing-masing audit staf yang menjalankan audit prosedur yang
bersangkutan. Di KAP yang cukup besar, biasanya pada akhir pemeriksaan masing-
masing staf diberikan penilaian atas hasil kerjanya denganmenggunakan “Audit Staff
Evaluation Sheet”.

17
20.5 KESIMPULAN
Subsequent event adalah peristiwa atau transaksi yang terjadi setelah tanggal neraca
tetapi sebelum diterbitkannya laporan audit.
• Mempunyai akibat yang material terhadap laporan audit
• Memerlukan penyesuaian atau pengungkapan dalam laporan tersebut
Dua jenis subsequent event ( PSA No. 46 )
1. Peristiwa yang memberikan tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi yang ada
pada tanggal neraca dan berdampak terhadap taksiran yang melekat dalam proses
penyusunan laporan keuangan.
2. Peristiwa yang menyediakan tambahan bukti yang berhubungan dengan kondisi yang
tidak ada pada tanggal neraca, namun kondisi tersebut ada sesudah tanggal neraca.
Menurut Sukrisno Agoes (2004:138) subsequent event yang harus diaudit oleh akuntan
public adalah :
1. Subsequent Collection
2. Subsequent Payment

18