Está en la página 1de 5

ERA DISRUPSI

Tugas Mata Kuliah Mikro Ekonomi

Oleh : Andika Alnas

NIM : 1710246668

Magister Ilmu Ekonomi Universitas Riau

A. PENGERTIAN ERA DISRUPSI

Era Disrupsi adalah situasi di mana pergerakan dunia industri atau persaingan
kerja tidak lagi linear. Perubahannya sangat cepat, fundamental dengan mengacak-
acak pola tatanan lama untuk menciptakan tatanan baru. Disrupsi menginisiasi
lahirnya model bisnis baru dengan strategi lebih inovatif dan disruptif. Cakupan
perubahannya luas mulai dari dunia bisnis, perbankan, transportasi, sosial
masyarakat, hingga pendidikan. Era ini akan menuntut kita untuk berubah atau punah.

Pemikiran mengenai era disrupsi ini berawal dari tesis Ray Kurzweil, Co-
Founder Singularity University. Pada tahun 1999 ia menulis buku "The Age of
Spiritual Machines", dan mengeluarkan tesis tentang "The Law of Accelerating
Return". Menurut penelitiannya, Law of Moore tidak hanya berlaku dalam 50 tahun
terakhir, tapi polanya telah hadir sejak 120 tahun terakhir, di mana teknologi bergerak
secara eksponensial. Artinya, kecepatan prosesor komputer, daya tampung hard disk,
dan segala hal yang disentuh keajaiban teknologi informasi, berlipat dua setiap 18
bulan, atau jadi lebih murah setengahnya.

Era Disrupsi diyakini telah mempengaruhi berbagai relasi bangsa dalam


memenangkan persaingan global, sistem negara dan sumber daya sedang menuju ke
suatu sistem yang saling terkait, sharing economy guna mendapatkan kecepatan dan
efesiensi penggunaan sumber daya. Fenomena disrupsi telah mendorong dunia global
berpikir tentang bagaimana menerapkan ilmu “masa depan” dalam kondisi

1
“sekarang”. Disisi lain, banyak pemimpin, politisi, birokrat, bahkan pengusaha masih
berkutat dengan logika “masa lalu” untuk diterapkan “sekarang”.

B. 6D OF EXPONENTIAL GROWTH

Peter Diamandis, membuktikan bahwa kemajuan teknologi pemicu era disrupsi


secara eksponensial melalui 6 tahapan, yang disebut dengan "6D of Exponential
Growth", yaitu:

1. Digitalization yakni transformasi dari analog menuju digital di hampir semua


sektor.

2. Deception yakni banyak orang terlena karena awalnya kelihatan pelan dan
cuma riak-riak kecil, sampai pertumbuhan eksponensialnya menyentuh "knee
of the curve" alias "titik lejit".

3. Disruption yakni titik lejit menjadi reaksi atom yang mengguncang


kemapanan. Ini yang sedang kita ributkan sekarang dan bikin banyak orang
dan perusahaan panik. Tapi ini hanya fase transisi menuju 3D terakhir.

4. Dematerialization yaitu semua produk kehilangan wadah fisik untuk


ditransfer di "Cloud" alias awan digital tak bertepi.

5. Demonetization yakni di dalam "awan digital", tempat menyimpan segala hal


itu, hampir semua biaya jadi turun drastis. Buku, musik, film, ilmu, informasi,
komunikasi, dan lain-lain, tiba-tiba jadi membludak volumenya dan makin
lama makin murah harganya.

6. Democratization yakni pada puncaknya, karena semua serba berkelimpahan


dan berbiaya minimal sekali, maka terjadilah era Abundance atau disebut Free
Economy dan Sharing Economy.

2
C. DAMPAK ERA DISRUPSI

Manfaat yang timbul akibat era disrupsi ini adalah:

1. Dimudahkannya konsumen dalam mencukupi kebutuhan. Dengan memotong


biaya yang dikeluarkan, perusahaan yang menggunakan teknologi terbaru mampu
menekan biaya sehingga dapat menetapkan harga jauh lebih rendah daripada
perusahaan incumbent. Dengan demikian, semakin murah biaya yang dikeluarkan
konsumen semakin membuat konsumen sejahtera.
2. Teknologi yang memudahkan. Munculnya inovasi yang baru tentu akan
membawa teknologi yang baru dan canggih, setidaknya dibandingkan dengan
teknologi yang telah lama ada. Dengan demikian dapat dikatakan terjadi transfer
teknologi menuju yang lebih modern.
3. Memacu persaingan berbasis inovasi. Indonesia merupakan negara yang tidak
dapat begitu saja makmur tanpa adanya inovasi. Dengan adanya inovasi yang
mengganggu, maka perusahaan dalam industri dipaksa untuk melkakukan inovasi
sehingga terus memperbaiki layanannya.
4. Mengurangi jumlah pengangguran. Inovasi yang dilakukan akan memberikan
kesempatan lapangan kerja yang baru. Jika tidak membuka lapangan baru,
setidaknya dapat memperluas lapangan kerja yang sudah ada. Terlebih dengan
inovasi dapat memberikan kesempatan kerja baru dengan upah yang lebih baik
dibanding dari lapangan pekerjaan yang sudah ada sebelumnya.
5. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Teknologi yang mengganggu sesuai
dengan teori Schumpeter akan meningkatkan produktivitas akibat efisiensi.
Dengan adanya kedua hal tersbut maka akan menambah kualitas dan kuantitas
barang yang diproduksi. Di lain sisi, inovasi juga akan meningkatkan konsumsi
masyarakat setelah sebelumnya pendapatannya meningkat. Perkembangan yang
menjadi titik akhir adalah meningkatnyajumlah Produk Domestik Bruto. Jika
setiap inovasi dapat menghasilkan nilai tambah yang lebih besar dan relatif
bertahan setiap tahunnya, maka akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi dalam
jangka panjang.

3
Adapun kerugian yang diakibatkan oleh era disrupsi ini adalah:
1. Munculnya konflik kepentingan dari perusahaan incumbent. Sebagai perusahaan
yang telah konsisten berada dalam pasar, tentu akan merasa terganggu oleh
perusahaan baru yang masuk membawa teknologi yang dapat menggantikan
teknologinya. Tentu hal ini akan disikapi oleh incumbentdengan berusaha
menghalangi pendatang baru masuk pasar. Dengan demikian tentu akan terjadi
konflik. Maka perlu adanya peran pemerintah sebagai regulator.
2. Biaya finansial dari negara untuk mengatur dan membuat peraturan bagi inovasi
baru yang mengganggu. Dalam mengatur dan membuat peraturan, tentu tidak
sedikit biaya yang haru dikeluarkan pemerintah. Mulai dari studi yang dilakukan,
hingga penertiban memerlukan biaya yang pasti relatif besar.
3. Kemungkinan disruptive yang berubah menjadi dispute. Dalam skala besar,
penolakan akan inovasi ini sangat mungkin terjadi. Dengan adanya penolakan
tersebut tentu akan mematikan dunia bisnis. Pengembangan dan peningkatan
produk tidak akan tercapai sehingga tujuan pembagunan ekonomi justru tidak
tercapai.

4
REFERENSI

Suandy, Hamid. Disruptive Innovation: Manfaat Dan Kekurangan Dalam Konteks


Pembangunan Ekonomi. 2017. Universitas Islam Indonesia.

http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/11/24/ozw649440-
menghadapi-era-disrupsi . Diakses tanggal 6 April 2018 pukul 17.59.

http://mediaindonesia.com/read/detail/133700-menyusun-strategi-mengatasi-disrupsi
Diakses tanggal 6 April 2018 pukul 17.39.