Está en la página 1de 1

Perguruan Tinggi, serta Permendikbud No 73 tahun 2013 tentang penyelenggaraan KKNI di

Perguruan Tinggi menetapkan bahwa Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah di Indonesia
diselenggarakan di Fakultas Kedokteran Universitas Negeri sebagai salah satu Pendidikan
Dokter Spesialis 1 (PDSp1) di bawah koordinasi Dekan, Kolegium Ilmu Bedah Indonesia (KIBI) dan
Direktur Rumah Sakit Pendidikan. Sedangkan gelar yang diraih pada program pendidikan ini
adalah Dokter Spesialis Bedah atau disingkat Sp.B.. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri
Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia no 154 tahun 2014 tentang Rumpun Ilmu
Pengetahuan dan Teknologi serta Gelar Lulusan Perguruan Tinggi.

A. Pengertian umum

Standar kompetensi adalah suatu dokumen yang terstruktur yang dapat menjadi acuan
kerja dalam melakukan suatu keahlian. Standar kompetensi dibutuhkan untuk mengukur
berbagai dimensi yang bila dipergunakan secara utuh, pelakunya telah dapat disebut
“kompeten”.
Setiap organisasi menggunakan standar kompetensi sebagai :
 Kerangka acuan untuk menilai bagaimana suatu keahlian dilakukan.
 Parameter apakah seseorang telah kompeten dalam melakukan tindakan keahlian.

B. Pengertian Standar Kompetensi Dokter Spesialis Bedah Indonesia

Standar Kompetensi Dokter Spesialis Bedah Indonesia (SKDSBI) merupakan standar


kompetensi minimal lulusan Program Pendidikan Dokter Spesialis Bedah di Indonesia. SKDSBI
juga menjadi acuan dalam pengembangan struktur pendidikan dan sistem evaluasi uji
kompetensi dokter spesialis bedah yang bersifat nasional.

C. Manfaat Standar Kompetensi Dokter Spesialis Bedah Indonesia

Pelayanan bedah yang paripurna dapat dicapai dengan mengacu pada SKDSBI. Berbagai
pemangku kepentingan yang mendapatkan manfaat dari Standar Kompetensi Dokter Spesialis
Bedah Indonesia adalah sebagai berikut :
 Kolegium Ilmu Bedah Indonesia sebagai organisasi profesi dapat mengukur kinerja setiap
institusi pendidikan yang mengampu program pendidikan dokter spesialis bedah di
Indonesia dari hasil keluaran yang diluluskan.
 Program studi pendidikan dokter spesialis sebagai institusi pendidikan dapat
mengembangkan kurikulum yang mengacu pada standar kompetensi yang telah ditetapkan
oleh KIBI.
 Lembaga akreditasi Perguruan Tinggi Kesehatan (LAMPTKes) dapat menjadikan standar
kompetensi sebagai salah satu parameter untuk mengukur kinerja institusi pendidikan.
 Rumah sakit sebagai pengguna lulusan dapat memperkerjakan seorang dokter spesialis
bila telah memenuhi standar kompetensi.
 Peserta didik program pendidikan dokter spesialis bedah dapat mengukur diri dalam
pencapaian kompetensi