Está en la página 1de 10

ABSTRAK

DERMATITIS KONTAK AKIBAT PENGGUNAAN BAHAN IRITAN


PADA PEGAWAI PENCUCI PIRING
RUMAH MAKAN WARUNG MENANTU

Yolanda Eva Pratisia , Ilmu Kesehatan Masyarakat, Ilmu Kesehatan Komunitas,


Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.

Latar belakang: Dermatitis Kontak merupakan peradangan pada kulit yang


disebabkan oleh adanya alergen kontak atau bahan iritan dengan tubuh. Salah satu
penyebab yang umum di kalangan pekerja, termasuk pencuci piring adalah akibat
penggunaan sabun cuci piring yang digunakan sebagai alat dalam aktivitas kerja
di berbagai tempat yang basah. Insidens dermatitis kontak semakin tinggi
berkaitan dengan semakin berkurangnya kesadaran akanpenggunaan alat
pelindung diri tersebut dalam aktivitas kerja.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidens dermatitis kontak


akibat penggunaan sabun pencuci pada petugas pencuci piring di Rumah Makan
Makassar.

Metode: Penelitian ini dilakukan dengan metode walk trought survey


menggunakan checklist (daftar temuan) untuk mengetahui aspek-aspek kesehatan
dan keselamatan kerja (K3) pada Rumah Makan Prasmanan Makassar terkait
dengan kejadian dermatitis kontak pada petugas.

Hasil: Dari 6 orang karyawan yang bertugas sebagai Pencuci Piring di Rumah Makan
Prasmanan Makassar terdapat 2 orang karyawan (33,3%) yang menderita Dermatitis
Kontak Alergi akibat penggunaan sabun pencuci piring dengan pemakaian sekitar 6 jam
per hari.

Kesimpulan: Insidens Dermatitis Kontak akibat penggunaan sabun cuci piring di


Rumah Makan Prasmanan Makassar pada tahun 2018 adalah 33,3% dengan karakteristik
umur >25 tahun, masa kerja >1 tahun, lama penggunaan sarung tangan dalam 1 hari kerja
≥ 6 jam, dan memiliki riwayat alergi dalam keluarga.

Kata kunci: dermatitis kontak ,bahan iritan.

1
PENDAHULUAN dermatitis kontak akibat kerja terkait
Dermatitis kontak adalah dengan pestisida terdapat pada
peradangan akibat bahan atau selokan - selokan. Bahan-bahan
substansi yang menempel pada kulit. lainnya yang dapat menyebabkan
Dermatitis kontak terbagi menjadi terjadinya dermatitis kontak yaitu
dua jenis, yaitu dermatitis kontak seperti emulsifier, surfaktan, ataupun
alergi dan dermatitis kontak iritan. biosida.Contoh bahan iritan yang
Dermatitis Kontak Iritan (DKA) banyak ditemukan dan
adalah suatu dermatitis yang timbul mengakibatkan dermatitis kontak
setelah kontak dengan bahan iritan akibat kerja pada pekerja pencuci
sehingga menyebabkan gejala piring dan tukang sapu jalan adalah
sensitisasi (Siregar, 2002). Terdapa`t sabun dan deterjen, pestisida, debu,
dua tahap dalam terjadinya dermatitis kotoran, keringat, desinfektan,
kontak alergi, yaitu tahap sensitisasi petroleum, pupuk buatan,dan
dan tahap elisitasi. Dermatitis kontak sejenisnya
iritan (DKI) merupakan kerusakan
Menurut Perhimpunan Dokter
pada kulit yang disebabkan
Spesialis Kulit Indonesia (Perdoski)
terkenanya kulit dengan bahan yang
2009, sekitar 90% penyakit kulit
bersifat iritan (Firdaus, 2002).
akibat kerja merupakan dermatitis
Dermatitis Kontak Akibat Kerja
kontak, baik iritan maupun alergik.
merupakan dermatitis pada kulit
Insiden dermatitis kontak akibat
yang disebabkan oleh oleh adanya
kerja diperkirakan sebanyak 0,5
alergen atau bahan iritan dari
sampai 0,7 kasus per 1000 pekerja
lingkungan kerja yang kontak dengan
per tahun. Dermatitis kontak akibat
tubuh (Beltrani, 2006).
kerja biasanya terjadi di tangan dan
Pencuci piring adalah bahan
angka insiden untuk dermatitis
yang sering digunakan dalam
bervariasi antara 2% sampai
membersihkan peralatan makan.
10%.Perlu dicatat bahwa 80% dari
Terjadinya Penyakit Kulit Akibat
dermatitis kontak akibat kerja atau
Kerja akibat bahan iritan menjadi
Namun, data terakhir dari Inggris dan
meningkat. Insiden tertinggi

2
Amerika Serikat menunjukkan pada pegawai pencuci piring di
bahwa persentase dermatitis kontak Rumah Makan prasmanan Makassar.
akibat kerja karena alergi mungkin
jauh lebih tinggi, berkisar antara 50 TINJAUAN PUSTAKA
dan 60 persen, sehingga Penyakit Akibat Kerja
meningkatkan dampak ekonomi dari Dalam Peraturan Menteri
kerja DKA. Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Besarnya insidensi penyakit kulit No.01/1981 tentang kewajiban
akibat kerja yang merupakan melaporkan penyakit akibat kerja
dermatitis kontak sebesar 92,5%, disebutkan bahwa :penyakit akibat
sekitar 5,4% karena infeksi kulit dan kerja adalah setiap penyakit yang
2,1% penyakit kulit karena sebab disebabkan oleh pekerjaan atau
lain. Pada studi epidemiologi, lingkungan kerja.
diIndonesia memperlihatkan bahwa Penyakit akibat dan atau
97% dari 389 kasus adalah dermatitis berhubungan dengan pekerjaan dapat
kontak, dimana 66,3% diantaranya diakibatkan oleh pemaparan terhadap
adalah dermatitis kontak iritan dan lingkungan pekerjaan. Telah
33,7% adalah dermatitis kontak disebutkan bahwa lingkungan kerja
alergi.5 Pada wilayah Lampung dapat dikelompokkan ke dalam
sendiri, didapatkan data prevalensi lingkungan sosial, fisik, kimia dan
pekerja terkenanya dermatitis kontak biologis. Apabila tidak ada
sekitar 63%, ini didapat menurut perlindungan bagi tenaga kerja
survailence tahunan yang dilakukan tersebut atau tidak ada pencegahan
oleh dinas kesehatan provinsi terhadap kemungkinan pemaparan
Lampung pada tahun 2012 dan terhadap faktor-faktor lingkungan
menjadi peringkat pertama penyakit yang melebihi ambang batas,hal ini
kulit yang paling sering dialami dapat berakibat timbulnya penyakit
Berdasarkan keadaan di atas, atau kecelakaan akibat kerja.
penulis tertarik untuk mengetahui Telah disebutkan dalam
insidens penyakit dermatitis kontak Undang-Undang No.2 Tahun 1951
akibat penggunaan sabun cuci piring dinyatakan bahwa tiap-tiap penyakit

3
yang timbul karena pekerjaan badan yang kurang baik dapat
diangap sebagai kecelakaan. menyebabkan kelelahan fisik.
Sehingga tenaga kerja yang terbukti 5. Golongan mental psikologis
menderita penyakit akibat kerja antara lain hubungan kerja yang
berhak atas penggantian biaya tidak baik,keadaan membosankan
pengobatan dan mendapat tunjangan dan sebagainya.
kompensasi kerja. Pada dasarnya penyakit yang
Penyakit dapat terjadi akibat timbul akibat kerja dapat
dari lingkungan pekerjaan yang dikelompokkan menjadi dua
buruk. Pengaruh lingkungan kerja ini golongan yaitu penyakit umum dan
tidak hanya diderita oleh tenaga kerja penyakit akibat kerja. Penyakit
tapi dapat pula menimpa manusia umum berasal dari kondisi semula
yang ada disekelilingnya. Oleh para tenaga kerja,termasuk penyakit
karena itu karakteristik pekerja umum adalah infeksi, penyakit
sangat erat kaitannya dengan endemic dan penyakit karena
karakteristik lingkungan kerja cacing/parasit. Sedangkan penyakit
tersebut. akibat kerja ini terjadi karena
Beberapa faktor penyebab pengaruh lingkungan pekerjaan yang
penyakit yang sering dijumpai pada kurang baik di tempat kerja maupun
lingkungan kerja adalah: hasil sisa buangan yang dapat
1. Golongan fisik meliputi suhu, mempengaruhi lingkungan
tekanan, suara, penerangan, sekitarnya misalnya debu ,racun
radiasi, getaran. kimia ,dan lain-lain.
2. Golongan kimia meliputi debu,
Teori Alergi (Hipersensitivitas)
uap, gas, larutan, awan/kabut
Alergi adalah suatu keadaan
3. Golongan biologis disebabkan
hipersensitivitas yang diinduksi oleh
oleh bibit penyakit seperti bakteri,
pajanan suatu antigen tertentu yang
virus, jamur, dan parasit.
menimbulkan reaksi imunologi yang
4. Golongan fisiologis disebabkan
berbahaya pada pajanan berikutnya
kesalahan konstruksi mesin, sikap
(Dorland, 2002).

4
World Allergy Organization memproduksi sitokin-sitokinnya
(WAO) menunjukkan prevalensi (Kapsenberg, 2003).
alergi terus meningkat dengan angka Sel makrofag berperan sebagai
30-40% populasi dunia. Di Indonesia sel yang mempresentasikan antigen
sendiri, walaupun belum ada angka (antigen presenting cell = APC)
pastinya, namun beberapa peneliti (Siregar, 2008).
memperkirakan bahwa peningkatan Makrofag diaktifkan oleh
kasus alergi di Indonesia mencapai berbagai rangsangan, dapat
30% per tahunnya (Mardiani, 2012). menangkap, memakan, dan
Anak usia sekolah lebih 40% mencerna antigen eksogen, seluruh
mempunyai 1 gejala alergi, 20% mikroorganisme, partikel tidak larut
mempunyai asma, 6 juta orang dan bahan endogen seperti sel
mempunyai dermatitis (alergi kulit). penjamu yang cedera atau mati
Penderita hay fever lebih dari 9 juta (Baratawidjaja & Rengganis, 2009).
orang (Clinical for children, 2009). Proses yang memerlukan pengenalan
Alergi terjadi melalui tahap antigen, menelan, mencerna, dan
aktivasi sel-sel imunokompeten, degradasi disebut fagositosis
aktivasi sel-sel struktural, aktivasi (Siregar, 2008). Antibodi seperti
dan rekrutmen sel-sel mast, eosinofil halnya dengan komplemen (C3b)
dan basofil, reaksi mediator dengan dapat meningkatkan fagositosis
target organ dan tahap timbulnya (Pantas, 2009). Aktivitas fagositosis
gejala (Kapsenberg, 2003). makrofag dapat dinilai dari
Alergen yang berhasil masuk persentase makrofag yang
tubuh akan diproses oleh Antigen memfagositosis partikel lateks,
Presenting Cells (APC). Peptida dihitung dari 100 makrofag yang
alergen yang dipresentasikan oleh terlihat di bawah mikroskop cahaya,
APC menginduksi aktivasi Limfosit dan rerata jumlah partikel lateks
T. Aktivasi Limfosit T oleh APC yang difagositosis oleh setiap
yang memproses alergen akan makrofag (Tjahajati et al 2004).
mengaktivasi Limfosit TH2 untuk Alergi secara tidak langsung
memberikan dampak buruk seperti,

5
menurunnya kualitas hidup dan disebabkan oleh reaksi
besarnya biaya pengobatan. Pada hipersensitivitas tipe lambat terhadap
anak, pengaruhnya bahkan sampai bahan-bahan kimia yang kontak
pada terganggunya kemampuan dengan kulit dan dapat mengaktivasi
belajar. Untuk itu pencegahan efektif reaksi alergi (National Occupational
sangat diperlukan. Pencegahan Health and Safety Commision,
primer sangat efektif namun masih 2006). Dermatitis kontak iritan
sulit dilaksanakan, karena adalah suatu kerusakan kulit akibat
menyangkut rekayasa in-utero, efek langsung dari bahan-bahan
sedangkan pencegahan sekunder, kimia ataupun komponen lain yang
misalnya diet eliminasi, tidak mudah diperantarai proses iritan (Djuanda,
diterapkan di masyarakat luas, 2007).
karena setiap masyarakat atau bangsa Penyebab terjadinya DKA
telah mempunyai kepercayaan kuat yaitu alergen, paling sering berupa
mengenai apa yang menjadi bahan kimia dengan berat molekul
kebiasaan tentang jenis makanan kurang dari 500-1000 Da. Dermatitis
(Endaryanto & Harsono, 2011). yang timbul dipengaruhi oleh potensi
sensitisasi alergen, derajat pajanan,
Dermatitis Kontak
dan luasnya penetrasi di kulit.
Dermatitis kontak akibat kerja
Terjadinya DKI yaitu bahan yang
didefinisikan sebagai penyakit kulit
bersifat iritan, misalnya bahan
dimana pajanan di tempat kerja
pelarut, deterjen, minyak pelumas,
merupakan faktor penyebab yang
asam, alkali, dan serbuk (Sularsito
utama serta faktor konstributor yaitu
dan Djuanda, 2007).
berupa alergen dan iritan (HSE UK,
DKA dibagi berdasarkan
2000).
patogenesisnya merupakan reaksi
Terdapat dua jenis dermatitis
hipersensitivitas tipe lambat (IV)
kontak yaitu dermatistis kontak iritan
yang terdiri atas 2 fase, yaitu fase
(DKI) dan dermatitis kontak alergi
sensitisasi dan fase elisitasi.
(DKA) (Soebaryo, 2005). Dermatitis
kontak alergi adalah dermatitis yang

6
Sedangkan Dermatitis kontak lain, sehingga memperkuat
iritan (DKI) merupakan reaksi perubahan vaskular.
peradangan kulit nonimunologik, Adapun faktor yang dapat
dengan patofisiologi yang kompleks menyebabkan hal tersebut adalah
dan kerusakan kulit terjadi langsung bahan-bahan iritan seperti, minyak,
tanpa didahului proses sensitisasi. alcohol, glycol, sodium hidroksida
Dermatitis kontak iritan sangat dan asam hidroflurat yang
berbeda dengan dermatitis kontak merupakan asam kuat dengan
alergi dari proses terjadinya yaitu konsentrasi 100%. Selain faktor di
dimana bahan iritan atau toksin atas, banyak faktor yang
merusak membrane lemak menimbulkan kelainan kulit pada
keratinosit, tetapi sebagian dapat dermatitis kontak iritan, seperti
menembus membran sel dan merusak faktor individumisalnya, ras, usia,
lisosom, mitokondria, atau lokasi, atopi, penyakit kulit lain,
komponen inti. Kerusakan membran faktor lingkungan misalnya, suhu,
akan mengaktifkan enzim fosfolipase kelembaban, udara, oklusi.15
yang akan merubah fosfolipid Dermatitis kontak iritan
menjadi asam arakhidonat (AA), memiliki manifestasi klinis yang
diasilgliserida (DAG), platelet dapat dibagi dalambeberapa kategori,
activating factor (PAF), dan inositida berdasarkan bahan iritan dan pola
(IP3). AA diubah menjadi paparan. Setidaknya ada beberapa
prostaglandin (PG) dan leukotrin tipe klinis dari dermatitis kontak
(LT). PG dan LT menginduksi iritan, yaitu :
vasodilatasi dan meningkatkan 1. Reaksi iritasiyang muncul
permeabilitas vaskular sehingga sebagai reaksi monomorfik akut yang
mempermudah transudasi meliputi bersisik,
komplemen dan kinin. PG dan LT eritema derajat rendah, vesikel,
juga bertindak sebagai kemoatraktan atau erosi dan selalu berlokasi di
kuat untuk limfosit dan neutrofil, punggung tangan dan jari.
serta mengaktivasi sel mast 2. Reaksi dermatitis kontak
melepaskan histamin, PG dan LT iritan akutbiasanya timbul akibat

7
paparan bahan kimia asam atau basa METODE PENELITIAN
kuat, atau paparan singkat serial Penelitian ini dilakukan dengan
bahan kimia, atau kontak fisik. metode walk trought survey (WTS)
3. Reaksi Iritasi akut tertunda menggunakan checklist (daftar
merupakan reaksi akut tanpa tanda temuan) untuk mengetahui aspek-
yang terlihat akibat reaksi inflamasi aspek kesehatan dan keselamatan
hingga 8 sampai 24 jam. Setelah kerja (K3) pada Rumah Makan
gejala klinis timbul, maka tampilan Prasmanan Makassar terkait dengan
klinisnya sama dengan dermatitis insidens dermatitis kontak akibat
kontak iritan akut. penggunaan bahan iritan pada
4. Reaksi dermatitis kontak petugas.
iritan kronik kumulatif Jenis ini Penelitian dilakukan selama 1
akibat adanya paparan berulang pada hari pada tanggal 16 Juli 2018 di
kulit, dimana bahan kimia yang Rumah Makan Prasmanan Makassar,
terpapar sering lebih dari satu jenis Jl. Hertasning Makassar.
dan bersifat lemah karena dengan Sampel dalam penelitian
paparan tunggal tidak akan mampu adalah seluruh pegawai pencuci
timbulkan dermatitis iritan. Bahan piring Rumah Makan Prasmanan
iritan ini biasanya berupa sabun, Makassar yang bekerja
deterjen, surfaktan, pelarut organik menggunakan bahan iritan saat kerja
dan minyak. dan bersedia berpartisipasi dalam
penelitian. Kriteria eksklusi pada
penelitian ini yaitu terkena atau
TUJUAN
kontak dengan alergi dan iritan selain
Penelitian ini bertujuan untuk
dari bahan iritan , kerusakan kulit
mengetahui insidens dermatitis
yang sudah ada di tangan, dan tangan
kontak akibat penggunaan bahan
yang mudah berkeringat.
iritan pada pegawai Rumah Makan
Prasmanan Makassar.

8
HASIL bertugas sebagai pegawai pencuci piring
Deskripsi Sampel Penelitian di Rumah Makan Prasmanan Makassar
Tabel 1. Karakteristik Sampel Penelitan terdapat 2 orang karyawan (50%) yang
Karakteristik Jumlah
menderita Dermatitis Kontak akibat
Jenis Kelamin
- Laki-laki 0 orang ( 0%) penggunaan bahan iritan dengan
- Perempuan 4 orang (66,7%)
Umur karakteristik umur >25 tahun, masa
- <25 Tahun 1 orang (25%)
- >25 Tahun 3 orang (75%) kerja >1 tahun, lama penggunaan sarung
Masa Kerja
- <1 tahun 1 orang (25%) tangan dalam 1 hari kerja ≥6 jam, dan
- >1 tahun 3 orang (75%)
Lama Terpajan bahan tidak memiliki riwayat alergi dalam
iritan/hari
- <6 jam 1 orang (25%)
keluarga.
- ≥6 jam 3 orang (75%)
Riwayat Alergi Tabel 2. Insidens DKI Akibat Penggunaan
- Ada 0 orang (0 %)
Bahan Iritan
- Tidak ada 4 orang (100%)
Karakteristik Jumlah
Sumber: Data Primer 2 orang (50%)
DKI
Pada penelitian ini, terlibat 4 Tidak DKI 2 orang (50%)
Sumber: Data Primer
orang sampel yang merupakan
pegawai Rumah Makan Prasmanan KESIMPULAN
Makassar dengan karatristik sebagai Dari hasil penelitian di atas
berikut: a) Jenis kelamin: wanita 4 dapat disimpulkan bahwa Insidens
orang (100%), Pria 0 orang (0%); Dermatitis Kontak akibat penggunaan

b) Umur: <25 tahun= 1 orang (25%) bahan iritan pada pegawai pencuci
piring di Rumah Makan Prasmanan
dan >25 tahun= 3 orang (75%);
Makassar pada tahun 2018 adalah 50%
c) Masa kerja: <1 tahun= 1 orang
dengan karakteristik umur >25 tahun,
(25%) dan >1 tahun= 3 orang (75%);
masa kerja >1 tahun, lama penggunaan
Lama terpajan bahan iritan dalam 1
sarung tangan dalam 1 hari kerja ≥6 jam,
hari kerja: <6 jam= 1 orang (25%) dan tidak memiliki riwayat alergi dalam
dan ≥6 jam= 3 orang (75%); dan keluarga.
Riwayat alergi dalam keluarga: Ada
riwayat= 0 orang (0%) dan Tidak ada SARAN

riwayat= 8 orang (100%). Dermatitis Kontak merupakan


penyakit yang dapat diatasi dengan
Insidens Dermatitis Kontak menghindari faktor penyebab
Hasil penelitan menunjukkan (alergen dan iritan), oleh karena itu
bahwa dari 4 orang karyawan yang

9
diperlukan kebijakan dari 3. Ahmed DD, Sobczak SC, Yunginger JW.,
2003, Occupational allergies caused by
manajemen Rumah Makan
Irritand agent Am.;23(2):205-19.
Prasmanan untuk menyediakan 4. Bernadette, M., 2010, Update on medical

sarung tangan bagi para petugas yang and surgical gloves, Eur J Dermatol; 20(4):
434-42
memiliki riwayat alergi untuk
5. Buss, Z.S., Frode, S.S., 2007, Latex
mendukung hasil kerja yang lebih Allergen Sensitization and Risk Factor Due

baik dan menghindarkan petugas dari use by Health Care Workers at Public Health
Units in Florianopolis Brazil, J Investig
bahaya kesehatan di tempat kerja.
Allergol Clin Immunol 2007; Vol. 17(1):27-
Bagi para peneliti selanjutnya, 33\

diharapkan dapat menggali lebih 6. Cohen. DE., 1999, Occupational


Dermatosis, Handbook of Occupational
dalam berbagai karakteristik yang
Safety and Health, second edition.
mungkin memiliki keterkaitan 7. Dorland, W.A., 2002, Kamus Kedokteran,

dengan kejadian dermatitis kontak EGC, Jakarta


8. Filon, F., 2006. Latex allergy: a follow up
akibat penggunaan bahan iritan guna
study of 1040 healthcare workers.
mengetahui lebih jauh langkah- OCCUPATIONAL AND

langkah yang tepat untuk mencegah ENVIRONMENTAL MEDICINE. 63(2):


121–125
terjadinya penyakit tersebut terutama
9. HSE, 2000, The Prevalence of Occupational
bagi para petugas kesehatan di rumah Dermatitis among Work in The Printing

makan yang memiliki frekuensi Industry and Your Skin dalam


hsebooks.co.uk,.
kontak cukup tinggi dengan bahan
10. Lubis, R.D., 2009, Dermatitis Kontak ,
iritan. http://repository
.usu.ac.id/handle/123456789/3426,

REFERENSI
1. Suryani M Florence, 2008 , Analisa
dermatitis kontak pada pekerja pencuci botol
di PT.X Medan, Universitas Sumatera Utara
2. Singgih Suhan Nanto, 2015, Kejadian
timbulnya dermatitis kontak pada petugas
kebersihan, Fakultas Kebersihan Universitas
Lampung

10