Está en la página 1de 26

PENDAHULUAN

Sistem imun mempunyai fungsi dalam pertahanan tubuh. Untuk menjalankan


fungsi tersebut, sistem imun harus dapat mengenal molekul-molekul asing (non-self)
agar dapat dibedakan dari self. Instrumen yang dapat membedakan itu adalah reseptor
yang ada pada sel sistem imun. Sel-sel imun spesifik dan non spesifik memiliki reseptor
yang dikhususkan untuk mengenal spesifisitas. Hanya molekul yang memiliki epitop
akan dikenal sel sistem imun. Sel B mengenal epitop pada molekul utuh, sedangkan sel T
mengenal epitop pada fragmen antigen (peptida) yang diikat oleh molekul pada
permukaan Antigen Presenting Cell (APC), molekul inilah yang disebut sebagai Major
Histocompability Complex (MHC).1
Major Histocompability Complex (MHC) merupakan suatu wilayah di DNA yang
menyandi suatu grup molekul sebagai pengenal antigen. Molekul yang terdapat pada
wilayah tersebut dikenal sebagai MHC molekul dan kadang disebut sebagai antigen
transplantasi. MHC pada organisme yang berbeda memiliki nama yang spesifik, pada
manusia dikenal sebagai Human Leucocyte Antigen (HLA).
Human Leucocyte Antigen (HLA) merupakan suatu grup dari antigen jaringan
yang memegang peranan penting dalam spesifisitas imunologis, tranplantasi
histokompabilitas dan berperan dalam meningkatkan suseptibilitas terhadap sejumlah
penyakit autoimun.
Antigen HLA pertama kali dideteksi secara serologik pada akhir dasawarsa tahun 1950-an
oleh para dokter yang sedang menyelidiki serum pada pasien yang mendapat transfusi
multipel. Mereka memperhatikan bahwa serum tersebut menggumpalkan leukosit
donor yang bukan keluarga, dan pada pola leukoaglutinasi seperti itu tampaknya
menunjukkan kehadiran antigen-antigen tertentu pada populasi manusia.
Definisi

Human leucocyte antigen (HLA) merupakan suatu glikoprotein pada permukaan


sel yang diproduksi melalui gen-gen spesifik di dalam major histocompatibility complex
manusia, yang bertindak sebagai antigen bila sel-sel tersebut ditransplantasikan ke
orang yang berbeda.1

Sistem human leucocyte antigens (HLA) adalah nama dari major


histocompatibility complex (MHC) manusia. Grup gen ini terdapat pada kromosom 6 dan
mengkode antigen presenting protein permukaan sel dan banyak gen lainnya.2,3

Gambar 1. Lokus HLA pada kromosom 6


Selain dari gen-gen yang mengkode antigen mayor 6, terdapat sejumlah besar
gen, banyak yang terlibat dalam fungsi imun dalam kompleks HLA. Keragaman HLA
manusia merupakan satu aspek dalam pertahanan terhadap penyakit, dan hasilnya,
kemungkinan dua individu yang tidak berkaitan genetik mempunyai molekul HLA yang
sama pada semua loki adalah sangat rendah.2

Protein yang dikode HLA merupakan protein-protein pada permukaan luar sel-sel
tubuh yang unik terhadap individu tersebut. Sistem imun menggunakan HLA untuk
membedakan sel tubuh sendiri dan sel asing. Setiap sel memiliki HLA yang dimiliki
individu tersebut (oleh karenanya bukan sebagai sel asing/ patogen). 2,3

Pembagian HLA

Secara struktural, MHC mayor terbagi atas 3 kelas:

1. Antigen kelas I (AB, BC, & CX) – mempresentasi antigen yang menyerang sel,
karenanya membantu dalam menghancurkan sel yang terinfeksi. MHC kelas I
membentuk reseptor fungsional pada sel-sel nukleus tubuh.
a. HLA-A
b. HLA-B
c. HLA-C
d. Gen-gen minor, antara lain HLA-E, HLA-F, dan HLA-G
e. Mikroglobulin β2 berikatan dengan subunit gen mayor dan minor
membentuk sebuah heterodimer.
Setiap molekul HLA kelas I terdiri dari 44 kD rantai berat dan 12 kD rantai ringan
yang dikenal sebagai β2-mikroglobulin, yang disandi pada kromosom 15. Rantai α
merupakan protein transmembran yang terdiri dari 3 domain (α1, α2, dan α3
dengan 90 asam amino pada setiap rantai), bagian ekstrasel yang bersifat
hidrofilik ditambah dengan fragmen transmembran (25 AA) yang bersifat
hidrofobik dan fragmen intraseluler (30 AA) yang bersifat hidrofilik. Rantai α
membentuk ikatan non-kovalen dengan β2-mikroglobulin ekstraseluler. Peptida
antigen berikatan secara non-kovalen pada celah pengikat seperti yang tampak
pada gambar 2.1
Gambar 2. Kompleks HLA kelas I

Biosintesis HLA kelas I mencerminkan peranannya dalam mempresentasikan


peptida endogen. Proses ini diawali dengan masuknya rantai berat secara
kotranslasi kedalam membran retikulum endoplasma, dimana ia mengalami
glikosilasi dan berhubungan dengan chaperone protein calnexin dan Erp57.
Kemudian berikatan antara β2-mikroglobulin, kompleks ini berhubungan dengan
chaperone calreticulin dan molekul tapasin yang secara fisik menghubungkan
HLA kelas I dengan TAP (Transporter Associated with Antigen Processing).
Bersamaan dengan itu peptida dipecah dari protein intrasel melalui multisubunit,
multikatalitic proteasome complex yang memotong protein tersebut menjadi
fragmen-fragmen pendek. Peptida ini kemudian sebagian besar didegradasi
menjadi asam amino oleh cytosolic atau enzim nuklear dan hanya sebagian kecil
ditransfer secara aktif ke dalam RE oleh TAP. Mulanya rantai α diikat oleh protein
chaperone seperti calnexin, calreticulin, Erp57 yang mana meregulasi pengikatan
peptida. Pada tahap ini peptida yang sesuai berikatan dengan HLA kelas I
membentuk kompleks yang kemudian ditransportasikan menuju permukaan sel.

Gambar 3. Biosintesis HLA kelas I dan presentasi peptida endogen

Molekul HLA kelas I ini didapatkan pada semua sel berinti. Agar satu antigen
dikenal oleh limfosit CD8 maka antigen tersebut harus berkombinasi dengan HLA
molekul kelas I, fenomena ini disebut Rertiksi HLA. Fungsi HLA kelas I adalah
mempresentasikan peptida endogen baik self maupun non-self (asing).

Gambar 4. Mekanisme kerja HLA kelas I


2. Antigen kelas II (DR, DP, & DQ) – mempresentasi antigen sehingga limfosit T (sel
T) dapat membantu sel B spesifik dalam menambah produksi antibodi terhadap
antigen tersebut. Terdapat 3 protein mayor dan 2 protein minor MHC kelas II
yang dikode HLA. Gen-gen HLA kelas II bergabung membentuk reseptor protein
heterodimer (αβ) yang diekspresikan spesifik pada permukaan APC.
a. HLA-DP
i. Rantai α dikode oleh lokus HLA-DPA1
ii. Rantai β dikode oleh lokus HLA-DPB1
b. HLA-DQ
i. Rantai α dikode oleh lokus HLA-DQA1
ii. Rantai β dikode oleh lokus HLA-DQB1
c. HLA-DR
i. Rantai α dikode oleh lokus HLA-DRA
ii. 4 rantai β (hanya 3 yang mungkin pada tiap individu), dikode oleh
lokus HLA-DRB1, DRB3, DRB4, dan DRB5.
d. Protein MHC kelas II lain, DM dan DO berguna dalam proses internalisasi
antigen, memasukkan peptida antigen yang dihasilkan dari patogen ke
dalam molekul HLA antigen presenting cell.
Setiap molekul HLA kelas II terdiri dari 2 rantai, rantai α dengan berat 33-35 kD
dan rantai β dengan berat 26-28 kD. Kedua rantai memiliki dua ekstraseluler
domain dengan berat 90-100 kD untuk setiap rantai (rantai α1, α2 dan β1, β2)
yang bersifat hidrofilik. Setiap unit memiliki fragmen transmembran (20-25 AA)
yang bersifat hidrofobik dan fragmen intraseluler (8-15 AA) yang bersifat
hidrofilik. Domain α2 dan β2 memiliki bentuk tetap sementara α1 dan β1 sangat
polimorfik.

Gambar 5. Kompleks HLA kelas II

Proses yang terjadi pada HLA kelas II yaitu antigen eksogen termasuk molekul
asing atau mikroorganisme harus melalui proses internalisasi, dimana ia dipecah
menjadi fragmen peptida dan terikat pada celah pengikat dari molekul HLA
sebelum sel T mengenalinya. Melalui endositosis yang dimediasi reseptor atau
fagositosis, antigen eksogen masuk kedalam vesikel endosomal. Vesikel
endosomal ini terbentuk dari proses internalisasi sel membran dan memiliki pH
yang netral. Dalam beberapa jam, pH di endosom menurun yang mengakibatkan
dicernanya protein internalisasi oleh cystein protease yang juga disebut
cathepsins. Endosom kemudian mengalami fusi dengan vesikel yang
mengandung molekul HLA kelas II. Sementara sebelumnya HLA molekul
mengalami translokasi dari cytosol ke retikulum endoplasma dimana molekul ini
dibentuk. Awalnya molekul ini muncul sebagai rantai α dan β. Rantai ke tiga,
suatu gamma atau rantai “invariant” (li-chain) yang dikenal dengan nama CLIP
(Class II Associated Invariant chain Peptide), berikatan secara non-kovalen
terhadap rantai α - β heterodimer untuk memblok lokasi ikatan dengan tujuan
mencegah ikatan dengan peptida endogen yang sangat banyak terdapat di RE.
Protein calnexin menahan molekul HLA tesebut sampai tersusun dengan benar
sebelum meninggalkan RE melalui vesikel coatomer-coated. Vesikel ini kemudian
mengalami fusi dengan aparatur golgi untuk dissosiasi protein coatomer-coated.
Kompleks HLA ini kemudian menuju vesikel endosomal. Rantai invariant yang
menutupi celah HLA kemudian membelah dan meninggalkan fragmen CLIP kecil
yang berikatan pada lokasi pengikat HLA kelas II heterodimer. Kompartemen
dimana terjadi fusi antara vesikel transport dengan endosom disebut MHC Class
II Compartment. Kemudian suatu molekul seperti MHC kelas II yang disebut
sebagai HLA-DM menginduksi pelepasan peptida CLIP celah ikatan HLA dan
menstabilkan heterodimer HLA yang kosong sampai berikatan dengan peptida
eksogen yang sesuai. Akhirnya HLA-DM mengalami disosiasi dan kompleks HLA
kelas II ditanspor ke membran sel. Peptida yang tidak dapat berikatan dengan
kompleks HLA mengalami degradasi di lisosom. Tidak seperti pada HLA kelas I,
dimana ikatan HLA molekul dan peptida terjadi pada RE, namun pada HLA kelas II
terdapat rantai invariant yang mencegah penempatan peptida secara prematur.
Setelah ditransport dalam vesikel membranous menuju ke sitoplasma dimana
vesikel ini mengalami fusi dengan endosom yang disebut sebagai MHC Class II
Compartment.

Gambar 6. Biosintesis HLA kelas II


Fungsi molekul kelas II mengekspresikan fragmen peptide antigen pada limfosit T
CD4 yang menginisiasi respons imun. Limfosit T CD4 mengenal fragmen peptide
hanya dalam konteks molekul HLA kelas II.

Gambar 7. Struktur HLA kelas I dan II


Gambar 8. Presentasi Antigen melalui HLA kelas I dan HLA kelas II

Perbedaan MHC kelas I dan II tercantum dalam tabel di bawah ini3:

Unsur HLA kelas I HLA kelas II


Rantai polipeptida α (44-47 kD) α (32-34 kD)
β2-mikroglobulin (12 kD) β (29-32 kD)

Lokasi residu polimorfik Domain α1 dan α2 Domain α1 dan β1

Situs pengikatan untuk ko- Region α3 mengikat CD8 Region β2 mengikat CD4
reseptor sel T

Besar cleft pengikatan Mengakomodasi 8-11 Mengakomodari 10-30 atau


peptida residu peptida lebih residu peptide

Nomenklatur pada HLA-A, HLA-B, HLA-C HLA-DR, HLA-DQ, HLA-DP


manusia

3. HLA kelas III. Terdiri atas Tumor Necrosis Factor (TNF-α), Lymphotoxin (TNF-β),
komponen komplemen (C2, C4, Bf, heat shock protein (HSP) 70, enzim CYP21a, CYP21b).
MHC kelas III bukan merupakan antigen permukaan sel.

Pewarisan HLA
Kompleks HLA diwariskan sesuai dengan hukum Mendel, yaitu setiap anak akan
membawa struktur 2 gen, satu diturunkan oleh ayah dan satu lagi diturunkan oleh ibu,
seperti contoh pada gambar 9. Gen diwariskan sebagai sutu keadaan yang disebut
haplotip, kecuali pada kasus yang sangat jarang dimana terjadi rekombinan di dalam
kompleks HLA itu sendiri. Individu yang heterozygote akan memiliki 2 haplotip yang
berbeda. Semua gen HLA bersifat kodominan, jadi seluruh haplotip yang juga merupakan
genotyp akan diekspresikan sebagai 2 set lengkap antigen HLA dalam bentuk fenotipe.
Gambar 9. Pewarisan HLA
Gambar 10. Pewarisan HLA

Gen-gen MHC diwariskan, dan tiap alel yang diwariskan tersebut diekspresikan.
Semua antigen HLA seorang anak mewakili yang terdapat pada orang tuanya. Tipe HLA
individu tertentu merupakan petunjuk kuat penentuan kecocokan paternitas, namun
sebagian karena terdapat keragaman di antara individu-individu. Pada satu sisi, tidak
mungkin seorang anak memiliki haplotip yang bukan berasal dari ayahnya, namun di sisi
lain, ini mungkin.2
HLA Merupakan Lokus yang Sangat Bervariasi

Lokus MHC adalah beberapa dari lokus yang dikode sangat bervariasi secara
genetik, dan lokus HLA manusia demikian. Walaupun kenyataan bahwa populasi
manusia berjalan melalui konstriksi yang mampu memperbaiki banyak lokus, namun
lokus HLA manusia bertahan dalam konstriksi-konstriksi dengan variasi yang sangat
besar. Dari 9 lokus yang disebut di atas, terdapat selusin atau lebih grup alel dari tiap
lokus, yang lebih lanjut menyebabkan variasi yang sangat besar dari lokus manusia. Hal
tersebut berkaitan dengan heterozigot dan koefisien seleksi keseimbangan dari lokus-
lokus ini. Sebagai tambahan, beberapa lokus HLA merupakan di antara wilayah coding
yang sangat cepat berkembang dalam genom manusia. Suatu mekanisme diversifikasi
tercatat dalam studi suku Amazon di Amerika Selatan yang menghasilkan perubahan gen
yang hebat di antara alel dan lokus dalam kelas gen HLA. 2

Lima lokus memiliki lebih dari 100 alel yang terdeteksi dalam populasi manusia,
di antara yang paling variatif adalah HLA B dan HLA DRB1. Pada tahun 2004 jumlah alel
yang telah ditentukan tercatat dalam tabel di bawah. Untuk menginterpretasi tabel
cukup mengingat bahwa sebuah alel merupakan variasi urutan nukleotida (DNA) pada
suatu lokus, sebagaimana tiap alel berbeda dari semua alel minimal dalam satu posisi
(single nucleotide polymorphism, SNP). Kebanyakan perubahan ini menimbulkan
perubahan dalam urutan asam amino yang menghasilkan perbedaan fungsional mayor
terhadap protein.

Gambar 5. Alel-alel HLA


Struktur dan fungsi HLA

HLA sebagai glikoprotein permukaan mempunyai banyak fungsi, di antaranya:

1. Dalam pertahanan terhadap infeksi


2. Dalam kanker – dapat bersifat protektif atau gagal protektif
3. Agen dalam penyakit manusia:
a. Dalam autoimunitas – dikenal menjadi mediasi berbagai penyakit
autoimun
b. Sebagai antigen – bertanggung jawab terhadap penolakan transplantasi
organ.

Dalam penyakit infeksi


Saat pathogen asing memasuki tubuh, sel spesifik yang disebut sebagai antigen-
presenting cells (APCs) melingkupi keseluruhan patogen tersebut melalui proses yang
disebut fagositosis. Protein patogen tersebut kemudian dicerna menjadi potongan kecil
(peptide-peptida) dan dimuat pada antigen HLA (khususnya MHC kelas II). Mereka
kemudian dipresentasi oleh APC terhadap sel tertentu dalam sistem imun yang disebut
sel T, di mana kemudian memproduksi berbagai efek untuk mengeliminasi patogen.

Melalui proses yang sama, protein (baik sel individu sendiri dan asing, seperti
protein virus) diproduksi di dalam hampir semua sel dipresentasi pada antigen HLA
(khususnya MHC kelas I) pada permukaan sel. Sel terinfeksi dapat dikenali dan
dihancurkan oleh komponen sistem imun (khususnya sel T CD8+).

Gambar 11. Peptida Stafilococcus Enterotoxin Ligand dalam Celah MHC II

Gambar di atas menunjukkan potongan protein bakteri (peptida) diikat dalam


celah ikatan molekul HLA-DR1. Dalam ilustrasi di bawah, dalam sudut pandang lain,
dapat dilihat keseluruhan DQ dengan ikatan peptide dalam celah ikatan yang sama.
Peptida yang berkaitan dengan penyakit menempati tepat pada ruang ini seperti halnya
tangan menempati tepat pada sarung tangan atau anak kunci pada gembok. Dalam
konfigurasi-konfigurasi ini, peptide dipresentasi pada sel T. Sel T dibatasi oleh molekul
HLA ketika peptida tertentu terletak dalam celah ikatan. Sel-sel ini memiliki reseptor
seperti halnya antibodi dan tiap sel hanya mengenali sedikit dari kombinasi peptida-
MHC kelas II. Saat sel T mengenali peptida dalam molekul MHC kelas II, sel T kemudian
menstimulasi sel B yang juga mengenali molekul yang sama dalam antibodi sIgM-nya.
Kemudian sel-sel T membantu sel B memproduksi antibodi terhadap protein yang
dikenali keduanya. Terdapat jutaan sel T yang berbeda pada setiap orang yang dibuat
mengenali antigen-antigen, sebagian dibuang karena mereka mengenali antigen tubuh
sendiri. Setiap HLA dapat berikatan dengan peptida-peptida, dan tiap orang memiliki 3
tipe HLA dan dapat memiliki 4 isoform DP, 4 isoform DQ dan 4 isoform DR (2 dari DRB1,
dan 2 dari DRB4, atau DRB5) sejumlah total 12 isoform. Dalam kondisi heterozigot
tersebut, sangat sulit protein yang berkaitan dengan penyakit tertentu lolos dari
deteksi.4

Gambar 12. Peptida dalam celah HLA-DQ

Dalam Kanker

Beberapa penyakit yang diperantarai HLA langsung terlibat dalam pembentukan


kanker. Enteropati sensitif terhadap gluten berkaitan dengan dengan peningkatan
prevalensi enteritis berkaitan dengan limfoma sel T, dan homozigot DR3-DQ2 dalam grup
yang paling beresiko mendekati 80% dari limfoma sel T yang berkaitan dengan enteritis
sensitif gluten; namun, molekul HLA memainkan peran protektif, mengenali peningkatan
antigen yang tidak dapat ditoleransi karena tingkatnya yang rendah dalam kondisi
normal.
Dalam Autoimunitas

Defek dalam struktur HLA merupakan penyebab beberapa penyakit di mana


sistem imun tubuh mengenali antigen tubuh sendiri sebagai asing dan mulai menyerang
jaringan tubuh sendiri. Sebuah contoh adalah diabetes tergantung insulin, di mana
respon imun tubuh menyebabkan destruksi dari sel pembuat insulin. 4

Tipe HLA diturunkan, dan beberapa di antaranya dikaitkan dengan kelainan


autoimun dan beberapa penyakit. Orang dengan antigen HLA tertentu cenderung
terjangkit penyakit autoimun tertentu, seperti diabetes tipe I, spondilitis ankilosis,
penyakit celiac, SLE (lupus eritematosus), myasthenia gravis, miositis inclusion body, dan
sindrom Sjogren. HLA-typing menghasilkan perkembangan dan percepatan diagnosis
penyakit celiac dan diabetes tipe I; namun DQ2-typing akan berguna bila terdapat
resolusi yang tinggi dari B1-typing, DQA1-typing, atau DR-serotyping. HLA-typing dalam
autoimunitas sangat pesat berkembang dalam alat diagnosis. 2,9

Gambar 13. Linkage disequilibrium DQ2/DQ8


Gambar 14. Resiko relatif penyakit celiac dengan DQ2

Beberapa penyakit utama yang berkaitan dengan HLA ditunjukkan oleh tabel di bawah. Besarnya resiko relatif tercantum dalam tanda

kurung.5

Penyakit Antigen HLA terkait

DR B C A

Rheumatologi
Spondilitis ankilosis - 27(90) - -
Spondilitis ankilosis juvenilis - 27(5) - -
Penyakit Reiter - 27(33) - -
RA dewasa 4(7) - - -
Sindrom Sjogren 3(10) 8 - -
SLE (Caucasian) 2(3) - - -
3(3)
Dermatologi - - w6(13) -
Psoriasis - 12 - -
Alopesia - 5(3) - -
Sindrom Behcet -
Pemfigus 4(25) - - -
(Askenase Jews) - - - 10(3)
(Caucasian) - - - 10(6)
(Jepang)
Gastrointestinal
Kolitis ulseratif - 5 - -
Gastritis atrofi - 7 - -
Hematokromatosis - 14 - -
Penyakit celiac 3(11) 8(8) - -
Endokrin
Penyakit Addison 3(6) 8 - -
IDDM 3(5) 8(10) - -
4(7)
Penyakit Grave 3(4) 8(2) - -
Tiroiditis Hashimoto 5(3) - - -
3(3)
Neurologi
Multipel sklerosis 2(5) 7(2) - -
3(3)
Myastenia gravis (onset dini, - 8(13) - -
wanita) 2(130) - - -
Narcolepsy
Renal
Sindrome Goodpasture 2(13) - - -
Kanker
Tiroid 3(3) - - -
1(6)
Alergi
Pollen Ragweed 2(10) - - -

Tingkat hubungan suatu penyakit dan HLA tertentu tidak menyatakan bahwa
suatu HLA bertanggung jawab terhadap suatu penyakit. Suatu penyakit hanya dapat
dikatakan berkaitan dengan suatu gen bila terdapat linkage disequilibrium terhadap
suatu gen HLA di dalam populasi tersebut. Hal ini mungkin terjadi karena peningkatan
resistensi terhadap suatu penyakit.6,7

Dalam Penolakan Transplantasi

Antigen HLA membantu tubuh membedakan bagian tubuhnya sendiri dari benda
asing. Kenyataannya, antigen HLA merupakan barier utama transplantasi allogenik.
Dengan mengenali antigen HLA yang berbeda pada jaringan transplantasi, sel
imunokompeten resipien distimulasi reaksi imun menyebabkan penolakan transplantasi.
Antigen kelas I merupakan antigen poten kuat dalam hal ini. 1 Karena kepentingan HLA
dalam transplantasi, lokus HLA adalah relatif yang paling sering dideteksi secara serologi
atau PCR di antara alel autosomal lainnya.2,8,10

Jumlah ketidakcocokan HLA dengan 5 years survival rate dalam transplantasi


ginjal tercantum dalam tabel di bawah ini.

Number of HLA % kidneys surviving


mismatches after 5 years
0 68

1 61

2 61

3 58

4 58

5 57

6 56

Penentuan tipe HLA

Ilmu HLA berasal dari tranplantasi organ. Jauh sebelum sekuensi gen dengan PCR
tersedia, antigen-antigen ini dikenali sebagai faktor yang mempengaruhi (interfere)
keberhasilan transplantasi. Organ donor yang ditransplantasi ke dalam resipien
mengeluarkan antibodi yang melawan jaringan donor dan mengubah reseptor HLA
donor menjadi antigen terhadap sistem imun resipien, karenanya disebut sebagai
‘human leucotrophic antigens’. Tipe-tipe reseptor diklasifikasi berdasarkan antibodi
yang diproduksi. Antibodi-antibodi ini, khususnya dari donor yang homozigot pada
haplotip kelas II tertentu digunakan mengidentifikasi reseptor yang berbeda dan
isoform.11,12

Antibodi HLA

Antibodi HLA biasanya tidak terbentuk, dengan beberapa perkecualian terbentuk


sebagai akibat reaksi imunologi dari zat asing yang mengandung HLA asing melalui
transfusi darah, kehamilan (antigen parenteral), atau transplantasi jaringan atau organ.

Antibodi melawan penyakit yang berhubungan dengan haplotip HLA ditujukan sebagai
terapi penyakit autoimun berat.

Antibodi HLA spesifik donor ditemukan berkaitan dengan kegagalan transplantasi


ginjal, jantung, paru dan hati.12
DAFTAR PUSTAKA

1. Braunwald E, Fauci AS, Kasper DL, et al (eds). The Major Histompability Complex;
Disorder of The Immune System, Connective Tissue and Joints. In: Harrison’s
Principles of Internal Medicine 17th ed. McGraw-Hill, New York 2008: 1931-8.

2. Dahl MV. Histocompatibility and immunogenetics. Dalam: Clinical


immunodermatology, edisi ketiga. USA: Mosby; 1996: 107-19.

3. http://en.wikipedia.org/wiki/Human_leukocyte_antigen. Human leukocyte


antigen. Akses: 7 Agustus 2009.

4. Kresno SB. Unsur-unsur yang berperan dalam reaksi imunologik. Dalam:


Imunologi: diagnosis dan prosedur laboratorium, edisi keempat. Jakarta: FKUI;
2001: 14-102.

5. Roitt IM. Interaksi primer dengan antigen, edisi ke-8. Oxford: Blackwell science;
1994: 75-97.

6. http://www.bookrags.com/Human_leukocyte_antigen#br_1. Human leukocyte


antigen (Hla). Akses: 7 Agustus 2009

7. Plafair JHL, Lydyard PM. Clinical immunology. Dalam: Medical immunology for
students. AS: Churchill Livingstone; 1995: 80-7.

8. Perkins HA. The human major histocompatibility complex (MHC). Dalam:


Fuderberg HH, et al. Basic & clinical immunology, edisi kedua. California: Lange
medical publication; 1978: 165-82.

9. Playfair JHL. The major histocompatibility complex. Dalam: Imunology at a


glance, edisi keenam. Great Britain: blackwell science; 1996:32-3.
10. Subowo. Imunologi transplantasi. Dalam: Imunologi klinik. Bandung: Angkasa;
1993: 202-14.

11. http://users.rcn.com/jkimball.ma.ultranet/BiologyPages/T/Transplants.html.
Organ transplant. Akses: 7 Agustus 2009

12. http://www.csa.com/discoveryguides/cancer/review.php. Akses: 7 Agustus 2009