Está en la página 1de 10

Musyawarah Umat K.

Sorong: Kasih Pastoral Amoris Laetitia____________________1

Kasih Pastoral Keluarga


Dalam Terang Amoris Laetitia

Pengantar

Anjuran Apostolik Amoris Laetitia (AL) Paus Fransiskus


ditandatangani pada tanggal 19 Maret 2016 pada Hari Raya Santo Yusuf.
dan dipromugasikan tanggal 8 April 2016 oleh Kardinal Christoph
Schönborn OP. Dokumen yang terdiri dari 9 Bab dengan 325 paragraf ini
merupakan buah dari dua sinode para uskup tentang keluarga, yakni sinode
luar biasa pada tanggal 5-19 Oktober 2014 tentang “Tantangan-tantangan
Pastoral Keluarga Dalam Konteks Evangelisasi” dan sinode biasa pada
tanggal 4- 25 Oktober 2015 tentang “Panggilan dan Perutusan Keluarga
Dalam Gereja dan Dunia Sekarang Ini”. Anjuran Apostolik ini
membicarakan tentang Keluarga dalam terang Kitab Suci; Situasi Konkret
keluarga dewasa ini, Ajaran Gereja tentang Keluarga; Cinta dalam
Perkawinan, Pastoral Keluarga, Pendidikan Anak dan Spiritualitas
Keluarga.

1. Roh “Semangat” Amoris Laetitia


Paus Fransiskus mengajak kita untuk memahami kehidupan
berkeluarga secara positip yakni memandang kehidupan berkeluarga
sebagai rahmat dan bukan sebagai persoalan. Maka, dalam berpastoral,
perlulah memahami situasi konkret keluarga dengan berpijak pada realitas/
“menjejak tanah”, terutama dengan melihat kompleksitas tantangan yang
dihadapi. Menyadari keluasan dari persoalan yang ada, di bagian awal Paus
menyatakan, ”Tidak semua diskusi persoalan doktrinal, moral atau
pastoral perlu diselesaikan oleh campur tangan magisterium. Kesatuan
dalam pengajaran dan praktek tentunya diperlukan dalam Gereja, namun
ini tidak berarti menutup kemungkinan berbagai macam cara dalam
menginterpretasikan sejumlah aspek dari suatu pengajaran atau menarik
konsekuensi tertentu dari pengajaran tersebut. Ada persoalan-persoalan
Musyawarah Umat K. Sorong: Kasih Pastoral Amoris Laetitia____________________2

dimana “setiap negara atau daerah dapat mencari pemecahan yang lebih
baik selaras dengan budaya dan kebutuhan tradisi lokal, karena “pada
kenyataannya setiap budaya itu berbeda dan mempunyai prinsip-prinsip
yang berlainkan…. maka pemecahan masalah itu membutuhkan
inkulturasi, jika mau dihargai dan diterapkan” (AL 3).
Semangat untuk “menjejak tanah” dengan bertitiktolak dari kehidupan
konkret keluarga seraya mempertimbangkan segala kompleksitas
masalahnya, menjadi pilihan yang harus diutamakan tanpa meninggalkan
sebuah ideal perkawinan. Semangat itu ditunjukkan dengan ajakan beliau
untuk memahami budaya lokal, inkulturasi, “desentralisasi”, dll.
Semangat kedua dari dokumen ini selaras dengan Tahun Yubileum
Agung Kerahiman Ilahi yakni perlunya sikap belaskasih dan kemurahan
hati. Anjuran Apostolik ini adalah undangan kepada kita semua agar
bersedia menjadi tanda kerahiman dengan mengulurkan kasih persaudaraan
dan kemurahan hati bagi keluarga-keluarga terutama meraka yang dalam
kondisi belum ideal ( AL 5).

2. Membaca Tiga Alur Utama Anjuran Apostolik Amoris Laetitia

Uskup Agung Dakka, Patrick D‟Rozario, C.S.C, sekaligus Ketua


FABC untuk Urusan Awam dan Keluarga, menyampaikan tiga pesan
pokok dari Amoris Laetitia1 untuk menunjukkan alur sederhana dalam
memahami Dokumen ini, yakni:

a. Keluarga adalah tempat dimana Allah dan cinta-Nya hadir dan


bekerja

Refleksi Paus tentang keluarga bertitiktolak dari Kitab Suci karena


menurut beliau “Injil penuh dengan kisah tentang keluarga, kelahiran,
cinta, dan krisis keluarga (AL 8). Amoris Laetitia memaparkan bagaimana

1
Uskup Agung Patrick D‟Rosario menyampaikan Tiga Pesan Pokok dari Anjuran Apostolik Amoris
Laetitia ini dalam seminar dan workshop saat Pertemuan FABC Office Laity and The Family, di Hua Hin
Thailand pada tanggal 16-20 Mei 2016.
Musyawarah Umat K. Sorong: Kasih Pastoral Amoris Laetitia____________________3

kitab suci, yang dimulai dari kitab kejadian sampai kitab wahyu,
menampilkan kisah-kisah dan simbol-simbol keluarga. Diawali dengan
keberadaan institusi keluarga sebagai proyek Allah dalam segala bentuk
relasi suami isteri (misalnya: “penolong sepadan”) dan kesatuan yang erat
sebagai satu daging. Juga diungkapkan seluruh dinamika dalam keluarga
seperti keberadaan anak, penderitaan, pekerjaan manusia dan harapan agar
keluarga menjadi komunitas kasih sebagai mana Komunitas Kasih
Tritunggal. Relasi dengan Allah diungkapkan dengan hubungan cinta
orangtua dan anak yang penuh keakraban.
Relasi cinta itu rusak ketika cinta itu direduksi /berubah dalam
“kuasa”/dominasi (dosa asal)2. Kenyataan itu ditandai dengan banyaknya
tantangan dalam hidup keluarga masa kini yang disampaikan dalam Amoris
Laetitia seperti: individualisme, mentalitas anti kelahiran, eksploitasi tubuh
manusia, pornografi, sekularisme, persoalan ekonomi, perselingkuhan,
aborsi, sterilisasi, kelahiran anak di luar nikah, migrasi, orang lanjut usia,
dll.
Hal lain yang diungkapkan dan diingatkan adalah tentang tema
indisolubilitas, sakramentalitas perkawinan, penerusan hidup dan
pendidikan anak sebagaimana yang dipahami Gereja, yang dalam
kenyataannya nilai yang indah itu tidak mudah dihayati3.
Berhadapan dengan situasi konkret ini, Paus mengajak kita untuk
memberikan perhatian pada berbagai kenyataan hidup, karena “dorongan
dan panggilan Roh bergema juga dalam peristiwa-peristiwa hidup”.
Harapannya adalah adanya suatu kesadaran bahwa ketika sebuah ajaran
dinyatakan dengan jelas, maka perlu dihindari penilaian-penilaian yang
2
Menarik menyimak inspirasi bagian ini dengan membandingkan tulisan dari Kardinal W. Kasper, Injil
Tentang keluarga (Das Evangelium von der familie) ceramah yang diberikan di hadapan Dewan
Kardinal tanggal 20 dan 21 Februari atas undangan Paus Fransiskus untuk persiapan Sinode Luar biasa
Uskup sedunia tahun 2014 dan Sinode Uskup sedunia tahun 2015. Kasper menyampaikan pemikiran
tentang: Hidup Keluarga yang ideal dalam kitab kejadian, namun kemudian struktur keluarga itu rusak
karena terjangkit dosa (digunakan kata “pengasingan” dalam keluarga); lalu bagaimana keluarga itu
ditebus dan diselamatkan dalam kisah keluarga kudus dan pada akhirnya keluarga menjadi Gereja kecil,
dimana rumah menjadi pusat iman dan doa, kasih, dan belarasa.
3
Santiago del Campo MSF, Sintesis Amoris Laetitia (terjemahan Indonesia oleh Rm Aristanto
MSF),makalah disampaikan dalam Pertemuan Internasional Pastoral Keluarga Tarekat MSF, pada tanggal
21-25 Maret 2017 di Semarang, Indonesia.
Musyawarah Umat K. Sorong: Kasih Pastoral Amoris Laetitia____________________4

tidak memperhitungkan kompleksitas dan keadaan yang berbeda-beda,


serta perlu memberi perhatian pada mereka yang hidup dan menderita
karena situasi tersebut” (AL 79).
Pemahaman tentang Keluarga yang menjadi tempat dimana Allah
hadir dan bekerja bisa kita cermati dalam beberapa bagian berikut:

 Misteri keluarga Kristen dapat sepenuhnya dipahami hanya dalam


terang kasih Bapa yang tak terbatas yang terwujud dalam diri
Kristus yang telah menyerahkan diri untuk kepentingan kita dan
yang terus tinggal di tengah-tengah kita. Sekarang saya ingin
mengarahkan pandangan saya kepada Kristus yang hidup, yang
berada di jantung dari begitu banyak cerita cinta ( AL 59)
 “Kasih orangtua merupakan sarana yang dengannya Allah Bapa
kita menunjukkan kasihNya sendiri ( AL 170)
 “Di dalam semua keluarga Kabar Baik perlu didengungkan, di masa
baik dan buruk, sebagai suatu sumber terang di sepanjang jalan.
Semua dari kita harus bisa berkata, terima kasih kepada
pengalaman hidup kita di dalam keluarga; “Kita telah mengenal
dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita”(1 Yoh 4:16)
(AL 290)
 “Hadirat Tuhan tinggal di dalam keluarga-keluarga yang nyata dan
konkrit, dengan semua masalah dan pergumulan sehari-hari,
berbagai sukacita dan harapan ( AL 315)

b. Keluarga-Keluarga perlu dibantu untuk tumbuh dalam cinta

Paus berbicara tentang cinta dalam perkawinan bertitik tolak dari 1


Korintus 13,4-7. Kutipan-kutipan dalam surat ini berbicara tentang kasih
manusiawi yang konkret, yang mengandung nilai-nilai psikologis, emosi
suami isteri dan dimensi erotis cinta. Dengan mengutip ungkapan cinta
yang konkret, diharapkan semakin bertumbuhnya cinta dalam keluarga
dengan bahasa sehari-hari dan dalam kehidupan konkret sehingga “kita
tidak perlu meletakkan atas dua orang terbatas, beban yang luar biasa
berat untuk menghasilkan gambaran sempurna kesatuan yang ada di
Musyawarah Umat K. Sorong: Kasih Pastoral Amoris Laetitia____________________5

antara Kristus dan Gereja-Nya, sebab perkawinan sebagai tanda


mencakup "suatu proses yang dinamis..., sesuatu yang maju secara
perlahan dalam Rahmat (AL 122). Pertanyaannya adalah, mengapa
keluarga perlu dibantu untuk bertumbuh dalam cinta?

 KESADARAN: bahwa “tidak ada keluarga yang jatuh dari surga,


sudah sempurna terbentuk; keluarga-keluarga perlu terus menerus
bertumbuh dan menjadi matang dalam kemampuannya mencintai
(AL 325)

 KENYATAAN: bahwa banyak keluarga tetap bertahan dan terus


berjuang meskipun dalam situasi yang tidak mudah. Sukacita
perkawinan dapat dialami meski ditengah-tengah kesedihan; Hidup
perkawinan dan keluarga merupakan perpaduan tak terelakkan dari
kenikmatan dan pergumulan, ketegangan dan istirahat, kesakitan
dan kelegaan, kepuasan dan kerinduan, gangguan dan kesenangan,
tetapi selalu dalam jalur persahabatan, yang mengilhami pasangan
suami-istri untuk peduli satu sama lain: "mereka menolong dan
melayani satu sama lain (AL 126). Dapat dikatakan bahwa
perkawinan itu dibentuk dalam pengalaman “sukacita dan
pergumulan, tekanan dan kelegaan, sakit dan pemulihan, kepuasan
dan kerinduan, godaan dan kesenangan”.
Paus bersyukur atas ketangguhan dan keteguhan keluarga ini ketika
beliau mengungkapka:, “Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa
banyak keluarga, yang jauh dari menganggap diri mereka
sempurna, hidup dalam kasih, memenuhi panggilan mereka dan
terus melangkah maju, walaupun mereka jatuh berkali-kali
sepanjang jalan mereka ( AL 57)

 REFLEKSI PASTORAL: Paus menyatakan bahwa usaha untuk


menumbuhkan kasih dalam keluarga perlu dimulai dari dalam
keluarga itu sendiri (keluarga sebagai subyek), “Sebab kita tidak
dapat mendorong suatu jalan kesetiaan dan pemberian diri timbal-
Musyawarah Umat K. Sorong: Kasih Pastoral Amoris Laetitia____________________6

balik tanpa mendorong pertumbuhan, penguatan dan pendalaman


dari kasih suami-istri dan keluarga (AL 89).
Untuk itulah, keluarga dibiasakan untuk mengambil peran sebagai
agen aktif kerasulan keluarga untuk melakukan "suatu upaya
evangelisasi dan katekese di dalam keluarga ( AL 200)

Agar kehidupan keluarga semakin maju dan harmonis, relasi cinta


harus dipelihara, dimaknai secara baru dan dikembangkan dalam bahasa
cina yang khas. Dengan kata lain, relasi cinta dan kasih sayang harus
berkembang melalui transformasi kasih karena “kelangsungan hidup suami
isteri itu menghasilkan hal yang tidak biasa yaitu: relasi intim dan saling
mengikatkan diri. Relasi ini harus diperlihara untuk empat, lima atau enam
dekade, dan relasi ini akan berubah menjadi kebutuhan untuk membangun
komitmen kembali sekali lagi dan berulang kali.” (AL 163).

c. Keluarga-keluarga dalam kesulitan dan pribadi-pribadi dalam


relasi yang tidak ideal dirawat dan dibantu dengan Cinta dan
Belaskasih

Kenyataan yang terjadi di tengah umat adalah banyaknya keluarga


yang terluka dan mengalami kesulitan dalam kehidupan dan relasi mereka.
Berhadapan dengan keluarga-keluarga dalam situasi demikian, kita
diingatkan akan prinsip umum dalam Anjuran Familiaris Consortio Paus
Yohanes Paulus II: 'Para Pastor/gembala harus tahu bahwa, demi
kebenaran, mereka diwajibkan untuk berlatih memahami situasi ini dengan
jelas” (FC 84). Ajakannya sederhana yakni agar kita menghindari
penghakiman-penghakiman yang tidak mempertimbangkan kondisi dan
situasi mereka yang menghadapi kesulitan. Kita tidak boleh memberikan
beban berat kepada dua pribadi yang terbatas karena sebuah kehidupan
perkawinan dan keluarga merupakan “sebuah proses dinamis, proses
penyatuan diri dengan rahmat Allah, yang bertumbuh tahap demi bertahap”
(AL 122).
Musyawarah Umat K. Sorong: Kasih Pastoral Amoris Laetitia____________________7

3. Sikap Pastoral: Pendampingan, Discerment, Merangkul Kelemahan


( Bab VIII)

Di dalam kesadaran akan kerapuhan pribadi dalam diri umat


(konteksnya: pasangan suami isteri yang menikah dan kemudian berpisah),
Paus mengajak kita untuk memberikan tempat pada kasih Allah yang tanpa
syarat dalam semangat pastoral kita, sekaligus untuk menunjukkan bahwa
kerahiman adalah hal yang mendasar dalam hidup Gereja4. Secara khusus
sikap pastoral dalam bab 8, merupakan undangan pada tindakan
berbelaskasih dan discerment pastoral atas situasi keluarga tidak sesuai
dengan kehendak Allah. Paus memberikan contoh sikap Gereja saat Konsili
Yerusalem berhadapan dengan mereka yang lemah, dimana cara yang
diambil adalah dengan adalah merangkul kembali dengan penuh kasih dan
tidak membuang mereka yang lemah dan tersesat. Maka tiga kata kerja
yang diungkapkan oleh Paus untuk menunjukkan sikap pastoral ini adalah:
Mendampingi – Discerment dan Merangkul kelemahan/Menyatukan
kelemahan.

a. Discerment Pastoral
Berkaitan dengan Keluarga-Keluarga dalam situasi khusus tersebut,
Paus menyatakan bahwa “dibutuhkan sikap untuk tidak menghakimi,
mengingat kompleksitas situasi yang ada; dan diperlukan perhatian yang
sungguh-sungguh atas penderitaan dan kesulitan yang sedang mereka
alami. Untuk membantu mereka, Paus berbicara tentang pentingnya
discernment. yakni pembedaan atas berbagai kasus dan situasi, karena tidak
ada formula yang cocok untuk semua situasi. Dalam proses ini, perlu
dijauhi penilaian-penilaian yang tidak memperhitungkan kompleksitas dan
aneka situasi, dan pentingnya sikap cermat pada hidup dan penderitaan
orang yang diakibatkan oleh situasi tersebut”.
Gereja perlu membantu setiap orang, khususnya pasangan suami
isteri yang bercerai dan menikah kembali, agar mendapatkan pemeliharaan
4
Misericordiae Vultus 10,”Kerahiman merupakan dasar dari hidup Gereja… Kredibilitas Gereja terlihat
dalam bagaimanaia menunnjukkan kasih yang penuh kerahiman dan berbelaskasih”.
Musyawarah Umat K. Sorong: Kasih Pastoral Amoris Laetitia____________________8

pastoral yang penuh kerahiman dan pertolongan. Maka perlu dipikirkan


dan dicari cara-cara yang wajar agar mereka dapat mengambil bagian
dalam komunitas gerejani sekaligus mereka mengalami bagaimana
disentuh oleh „belas kasih yang berlimpah, tanpa syarat dan murah hati”
(AL 297)5. Inilah yang dimaksudkan Paus dengan sebuah Logika integrasi
dimana mereka yang bercerai dan menikah kembali secara sipil perlu
untuk lebih penuh diintegrasikan ke dalam komunitas Kristiani dengan
berbagai cara yang mungkin. Yang terpenting adalah bahwa “dihindari
munculnya sandungan/skandal bagi umat yang lain” (AL 299).

b. Logika Belaskasih Pastoral:


Dalam berpastoral, dituntut kesabaran dalam mendampingi mereka;
memahami secara cermat dan mendalam atas situasi-situasi khusus mereka
dengan memperhatikan prinsip kebertahapan/gradualitas (pemahaman akan
ajaran, hukum, perkembangan suara hati moral, situasi konkret, budaya
yang membingkai, dll), tanpa mengaburkan ajaran-ajaran yang menjadi
tradisi iman selama ini. Paus menyebutnya dengan “Logika belaskasih
pastoral”: di satu sisi Gereja tetap menyampaikan idealisme kristiani, di sisi
lain Gereja memahami dengan jujur kondisi konkret umatnya. Gereja perlu
bersikap murah hati seperti Allah Bapa murah hati dengan tidak melupakan
bahwa Hukum Kasih adalah aturan yang utama. Tindakan kasih pastoral ini
tidak diartikan sebagai usaha meredupkan kepenuhan ajaran ideal namun
sebagai usaha pastoral untuk memperkuat perkawinan dan mencegah
terjadinya perpecahan.
Secara pribadi ataupun bersama-sama, semangat belaskasih dan
kemurahan hati perlu dikembangkan dalam setiap tindakan pastoral kita
khususnya dalam mewujudkan semangat “mencari dan menyelamatkan”
umat yang membutuhkan uluran tangan kita. Harapan yang mau dicapai
adalah agar umat dalam situasi yang tidak mudah mendapatkan sebuah

5
FC 84: Para gembala hendaklah menyadari bahwa demi kebenaran, mereka wajib menjalankan
penegasan rohani yang saksama terhadap situasi-situasi. …. Membantu mereka yang sudah bercerai, dan
berusaha sebaik mungkin, supaya mereka itu jangan menganggap diri seolah-olah sudah terpisah dari
Gereja, sebab sebagai orang yang dibaptis mereka dapat dan memang wajib ikut menghayati hidup
Gereja.
Musyawarah Umat K. Sorong: Kasih Pastoral Amoris Laetitia____________________9

terang yang akan membantu mereka untuk memahami lebih baik apa yang
terjadi dalam hidup mereka dan mereka akan dapat menemukan jalan bagi
perkembangan kedewasaan pribadi mereka.

4. Refleksi Atas Amoris Laetitia dalam Pastoral

Anjuran apostolik Amoris Laetitia, setidaknya mengajak kita untuk


merenungkan beberapa hal berikut:
Pertama, Seruan Apostolik Amoris Laetitia mau menegaskan tentang
kompleksitas kenyataan hidup berkeluarga dalam kehidupan umat beriman.
Kita perlu memperhatikan realitas tantangan yang dihadapi “menjejak ke
tanah” tanpa mengabaikan suatu ideal atau cita-cita dari perkawinan yang
termuat dalam Kitab Suci dan Ajaran Gereja.
Kedua, Dokumen ini merupakan undangan bagi kita untuk
memberikan cara pandang yang terbuka sekaligus undangan untuk
mempunyai belaskasih pastoral yang positip dengan 3 kata kunci:
mendampingi - discernment - merangkul kelemahan.
Ketiga, Perlunya tindakan kasih Pastoral dari Pemimpin Gereja lokal
dalam kebersamaan dengan seluruh gembala kepada umatnya, terutama
mereka (keluarga-keluarga) yang mengalami kesulitan.
Musyawarah Umat K. Sorong: Kasih Pastoral Amoris Laetitia____________________10

Sumber bacaan:

Franscesco, Amoris Laetitia, Esortazione Apostolica Post Sinodale


sull’amore nella Famiglia, Con guida alla lettura di Antonio Spadaro,
Librería Editrice Vaticana, 2016

Fransiskus, Bulla Misericordiae Vultus, tanggal 11 April 2015 dalam


Rangka Tahun Yubelium Kerahiman Ilahi (terjemahan Indonesia).

Yohanes Paulus II, Familiaris Consortio, Jakarta, Dokpen KWI, 1993


Seri Dokumen Gerejawi N0.26, Lineamenta Sidang Umum Biasa XIV,
Panggilan dan Perutusan Keluarga dalam Gereja dan Dunia jaman
sekarang, Jakarta, DokPen KWI, 2015

Walter Kardinal Kasper, Injil tentang Keluarga, Jakarta, Cipta Loka


Caraka, 2014

Basilio Petra, Amoris Laetitia: Accompagnare, Discernere e integrale la


fragilita, Assisi, Cittadella Editrice 2016

Andrea Grillo, Le cose nuove di Amoris Laetitia, Assisi, Cittadella


Editrice, 2016

Al. Purwo Hadiwardoyo, Intisari Ajaran Paus Fransiskus: Laudato Si


dan Amoris Laetitia, Yogyakarta, Kanisius 2016.

Patrick D’Rozario C.S.C., Amoris Laetitia, An Introduction, makalah


disampaikan dalam Pertemuan FABC Laity and Family,tanggal 16-25 Mei
2016 di Hua Hien, Thailand.

Santiago del Campo MSF, Sintesis Amoris Laetitia (terjemahan Indonesia


oleh Rm Aristanto MSF),makalah disampaikan dalam Pertemuan
Internasional Pastoral Keluarga Tarekat MSF, pada tanggal 21-25 Maret
2017 di Semarang, Indonesia.