Está en la página 1de 12

Fraud Examination & Forensic Accounting

RMK Ini Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Akuntansi Forensik
Dosen Pengampuh: Dr. Roekhudin, Ak.,CA.,CSRS.

Oleh:
YUDIANTO

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG 2014
A. Fraud dan Implikasinya
1. Definisi Fraud

Ada dua metode utama untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain secara
ilegal. baik secara fisik memaksa seseorang untuk memberikan apa yang
diinginkan dengan menggunakan senjata seperti pistol, pisau dan senjata lainnya,
atau bisa dengan kekerasan dalam bentuk lain. Ada dua jenis pencurian. Yang
pertama kita sebut perampokan, dan yang kedua kita sebut penipuan.
Perampokan pada umumnya lebih dalam kekerasan dan lebih traumatis daripada
penipuan dan menarik lebih banyak perhatian media, namun kerugian dari
penipuan jauh melebihi kerugian dari perampokan.

Fraud adalah memanfaatkan sesuatu tidak pada tempatnya untuk


kepentingan diri sendiri. Fraud adalah tindakan curang, yang dilakukan
sedemikian rupa, sehingga menguntungkan diri-sendiri/kelompok ATAU
merugikan pihak lain (perorangan, perusahaan atau institusi).
Chartered Global Management Accountant (CGMA) menyebutkan:
“Fraud essentially involves using deception to make a personal gain
dishonestly for oneself and/or create a loss for another.”
Dari definisi di atas, bisa kita lihat bahwa fraud mengandung beberapa
unsur, yaitu:
 Tindakan yang disengaja
 Kecurangan
 Keuntung pribadi/kelompok atau kerugian di pihak lain

Fraud berbeda dengan kesalahan yang tidak disengaja. Jika seseorang


keliru memasukkan angka yang salah pada laporan keuangan, hal tersebut tidak
bisa dikatakan sebagai fraud karena hal tersebut dilakukan tidak disertai maksud
atau tujuan untuk memperoleh keuntungan. Akan tetapi, dalam situasi yang
sama, seseorang dengan sengaja memasukkan angka dalam laporan
keuangannya untuk mengelabuhi investor, maka hal tersebut dapat
dikategorikan sebagai fraud atau penipuan.
2. Jenis-jenis Fraud
Di dalam perusahaan tindakan fraud bisa macam-macam bentuknya. Oleh
Association of Certified Fraud Examiners (ACFE), internal fraud (tindakan
penyelewengan di dalam perusahaan ata institusi) digolongkan menjadi 3 (tiga)
jenis, yaitu:
a. Fraud Terhadap Aset (Asset Misappropriation)
Penyalahgunaan aset perusahaan (institusi), baik itu dicuri atau digunakan
untuk keperluan pribadi tanpa ijin dari perusahaan. Seperti kita ketahui, aset
perusahaan bisa berbentuk kas (uang tunai) dan non-kas. Sehingga, asset
misappropriation dikelompokan menjadi 2 macam:
 Cash Misappropriation
Penyelewengan terhadap aset yang berupa kas (Misalnya: penggelapan
kas, cek dari pelanggan, menahan cek pembayaran untuk vendor)
 Non-cash Misappropriation
Penyelewengan terhadap aset yang berupa non-kas (Misalnya:
menggunakan fasilitas perusahaan untuk kepentingan pribadi).
b. Fraud Terhadap Laporan Keuangan (Fraudulent Statements)
ACFE membagi jenis fraud ini menjadi 2 macam, yaitu financial dan non-
financial. segala tindakan yang membuat Laporan Keuangan menjadi tidak
seperti yang seharusnya (tidak mewakili kenyataan), tergolong kelompok
fraud terhadap laporan keuangan, misalnya:
 Memalsukan bukti transaksi;
 Mengakui suatu transaksi lebih besar atau lebih kecil dari yang seharusnya;
 Menerapkan metode akuntansi tertentu secara tidak konsisten untuk
menaikkan atau menurunkan laba;
 Menerapkan metode pangakuan aset sedemikian rupa sehingga aset
menjadi nampak lebih besar dibandingkan yang seharusnya;
 Menerapkan metode pangakuan liabilitas sedemikian rupa sehingga
liabiliatas menjadi nampak lebih kecil dibandingkan yang seharusnya.
c. Korupsi (Corruption)
ACFE membagi jenis tindakan korupsi menjadi 2 kelompok, yaitu:
 Konflik kepentingan (conflict of interest)
Untuk mendeskripsikan secara sederhana, seperti ilustrasi berikut:
Seseorang atau kelompok orang di dalam perusahaan (biasanya
manajemen level) memiliki “hubungan istimewa” dengan pihak luar (entah
itu orang atau badan usaha). Dikatakan memiliki “hubungan istimewa”
karena memiliki kepentingan tertentu, misalnya: memiliki saham, anggota
keluarga, sahabat dekat, dan lain-lain. Ketika perusahaan bertransaksi
dengan pihak luar, apabila seorang manajer/eksekutif mengambil
keputusan tertentu untuk melindungi kepentingannya, sehingga
mengakibatkan kerugian bagi perusahaan, maka ini termasuk tindakan
fraud. Kita di Indonesia menyebut ini dengan istilah kolusi dan nepotisme.
 Menyuap atau menerima suap, imbal-balik (briberies and excoriation)
Suap, apapun jenisnya dan kepada siapapun, adalah tindakan fraud.
Menyuap dan menerima suap, merupakan tindakan fraud. Tindakan lain
yang masuk dalam kelompok fraud ini adalah: menerima komisi,
membocorkan rahasia perusahaan (baik berupa data atau dokumen)
apapun bentuknya, kolusi dalam tender tertentu.

Dari jenis-jenis korupsi di atas saja sudah jelas terlihat, betapa banyaknya
macam fraud itu. Masing-masing jenis fraud bisa terjadi dalam berbagai modus.

3. Contoh Modus Internal Fraud


Berikut ini adalah beberapa contoh modus internal fraud yang kerap terjadi
di dalam perusahaan atau instutusi, yang diambil dari tulisan “FRAUD RISK
MANAGEMENT, A guide to good practice,” oleh Gillian Lees (CIMA, Head of
Corporate Governance).
a. Fraud terhadap kas
 Mencuri dari kas kecil (petty cash);
 Mengambil uang dari kasir;
 Skimming uang tunai sebelum pengakuan pendapatan atau piutang
(mengecilkan penjualan atau piutang) dilakukan;
 Mencuri kas/cek masuk dengan mengalihkannya ke rekening pribadi;
 Membuat invoice tagihan palsu dengan tanda tangan palsu, seolah-olah itu
tagihan dari vendor, tentunya dengan slip penerimaan barang palsu juga.
b. Fraud Pada Barang Persediaan dan Aktiva Tetap
 Mencuri barang persediaan perusahaan;
 Membuat memo debit untuk akun persediaan, untuk kemudiaan bisa
mengeluarkan barang persediaan;
 Mengeluarkan barang dari gudang dalam jumlah yang lebih besar dari
packing list (surat jalan);
 Menggelapkan piranti kerja portable (kamera, scanner, keyboard, maouse,
monitor, komputer, laptop, tablet, handphone, dll);
 Mencuri informasi tentang pelanggan yang dirahasiakan oleh perusahaan
untuk dijual ke perusahaan pesaing atau pihak ketiga lainnya;
 Menjual desain atau informasi yang sehubungan dengan itu, untuk
kemudian dijual kepada perusahaan pesaing atau pihak ketiga lainnya;
 Menerima barang hadiah (souvenir) apapu bentuknya dari pemasok, diluar
kebijakan perusahaan, tanpa seijin pihak yang berwenang dalam
perusahaan;
c. Fraud dalam proses pembelian
 Mengubah Purchase Request dan Purchase Order (PO) yang sah, tanpa
seijin pihak yang memiliki otoritas di dalam perusahaan;
 Menyalin atau memalsukan tandatangan approval Purchase Request dan
Purchase Order;
 Memalsukan kelengkapan dokumen tagihan;
 Menyalin atau memalsukan tandatangan otorisasi pembayaran;
 Mengajukan faktur pembayaran palsu dari pemasok fiktif;
 Mengubah termin pembayaran/kredit yang sah tanpa persetujuan dari
pihak yang berwenang di dalam perusahaan;
 Mengubah daftar harga barang-barang yang dibeli oleh perusahaan;
 Menahan pembayaran ke vendor untuk alasan dan kepentingan pribadi;
 Membocorkan informasi kepada vendor sehubungan dengan tender
pembelian yang diselenggarakan oleh perusahaan;
 Memberikan perioritas pembayaran istimewa kepada vendor tertentu di
luar analisa umur utang tanpa seijin pihak yang berwenang di dalam
perusahaan.
d. Fraud dalam proses penggajian
 Memasukan nama dan identitas karyawan fiktif yang sesungguhnya tidak
ada;
 Memalsukan atau mengubah jam/hari kerja karyawan yang dibayar
berdasarkan jam kerja atau hari kerja ;
 Memasukan catatan lembur fiktif;
 Memotong pembayaran gaji pegawai, seolah-olah hukuman dari
perusahaan, untuk kemudian selisihnya dikantongi sendiri;
 Berkolusi dengan pegawai lain untuk menaikan nominal komisi penjualan;
 Menaikan upah/gaji, mengubah rate lembur tanpa instruksi dari pihak yang
berwenang;
 Memanipulasi catatan jumlah cuti yang telah diambil;
 Mengajukan klaim pembayaran perawatan kesehatan fiktif;
 Memalsukan atau mengubah angka nominal klaim penggantian biaya
berobat;
 Membuat klaim kompensasi pegawai kontrak/borongan untuk pekerjaan
yang sesungguhnya tidak ada;
 Dengan sengaja menunda penghapusan nama pegawai yang berhenti,
untuk kemudian gajinya tetap dibayarkan untuk dikantongi sendiri (kerap
terjadi di perusahaan-perusahaan besar);
 Membayarkan dana tunjangan (kesehatan, asuransi, pendidikan) untuk
pegawai yang sudah berhenti;
e. Fraud pada laporan keuangan
 Dengan sengaja melakukan pengakuan pendapatan terlalu besar atau
terlalu kecil;
 Dengan sengaja tidak melakukan penutupan buku di akhir periode (untuk
melakukan perubahan-perubahan tanpa perlu adjustment);
 Dengan sengaja menaikan nilai penjualan menjelang penutupan buku,
untuk kemudian di adjust setelah periode berlalu;
 Dengan sengaja memundurkan tanggal kontrak (PO) penjualan;
 Mencatat penjualan dan pengiriman barang fiktif;
 Memasukan nilai penjualan yang lebih besar dari kenyataannya;
 Tidak mencatat dan menghilangkan bukti transaksi penjualan agar laba
nampak kecil (untuk penghindaran pajak);
 Dengan sengaja memasukaan jenis penjualan non-operasional ke
kelompok pendapatan opersional, atau sebaliknya;
 Memanipulasi angka diskon atau rabat;
 Membuat estimasi barang kembali, melakukan perubahan harga dan jenis
konsesi lainnya;
 Dengan sengaja tidak mencatat barang retur;
 Mengakui pendapatan atas tagihan yang jelas-jelas ditolak oleh pelanggan;
 Mengakui pendapatan (revenue) atas contoh produk (sample/mock
up/model) yang terkirim, padahal aslinya tidak dibayar, agar pendapatan
nampak besar pada Laporan Laba Rugi;
 Mengakui pengiriman barang konsinyasi sebagai penjualan putus;
 Dengan sengaja menghilangkan bukti transaksi biaya atau pendapatan
untuk menghindari pengakuan biaya atau pendapatan;
 Dengan sengaja membuat bukti transaksi biaya atau pendapatan untuk
menaikan atau menurunkan pendapatan;
 Dengan sengaja menggunakan metode penilaian barang persediaan secara
tidak konsisten;
 Mengakui nilai tagihan lebih besar dari yang sesungguhnya;
 Dengan sengaja mengakrualkan biaya yang sesungguhnya telah terjadi dan
nilai nominalnya sudah diketahui secara pasti (sudah ada tagihan);
 Mengakui nilai utang yang lebih kecil dari yang seharusnya; dan lain-lain.
f. Fraud dalam bentuk Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)
 Memberi perlakuan istimewa kepada pelanggan dan/atau vendor guna
memperoleh suap yang biasa disebut dengan “balas jasa” (kickback);
 Berkolusi dengan pihak pelanggan dan/atau vendor;
 Menerima suap dari vendor, setelah memberi perlakuan istimewa (yang
menguntungkan vendor);
 Menerima suap atas pemberian kontrak;
 Menyetujui pemberian order kepada supplier guna memperoleh suap;
 Membayar atau tidak membayar vendor, yang secara langsung-tidak
langsung memberi keuntungan komersial atau bentuk manfaat kompetitif
lainnya bagi pada vendor lain, dan memperoleh suap darinya;
 Menyuap petugas/pejabat pemerintah guna memperoleh perlakuan
istimewa atau keuntungan tertentu misalnya auditor pajak, bea cukai,
imigrasi dan lain-lain;
 Menerima suap dari perusahaan terakuisisi, sehubungan dengan akuisi
bisnis, setelah memberikan perlakuan istimewa yang menguntungkan bagi
perusahaan terakuisisi. (biasanya dilakukan oleh senior management)
 Menjual property perusahaan di bawah harga pasar, guna memperoleh
suap dari pembeli dan atau Membeli property untuk perusahaan guna
memperoleh suap dari penjual atau agennya.
 Menjual konsultasi pribadi dengan pihak ketiga yang bergerak di bidang
usaha yang sama atau sejenis.
 Merekrut staf yang memiliki “hubungan istimewa” dengannya, sementara
ada kandidat yang memiliki kualifikasi yang lebih baik.

4. Faktor-faktor Penyebab Terjadinya Fraud


Pada umumnya fraud terjadi karena tiga hal yang mendasarinya terjadi
secara bersama, yaitu:
a. Insentif atau tekanan untuk melakukan fraud (pressure)
Opportunity biasanya muncul sebagai akibat lemahnya pengendalian inernal
di organisasi tersebut. Terbukanya kesempatan ini juga dapat menggoda
individu atau kelompok yang sebelumnya tidak memiliki motif untk
melakukan fraud.
b. Peluang untuk melakukan fraud (opportunity)
Pressure atau motivasi pada sesorang atau individu akan memebuat mereka
mencari kesempatan melakukan fraud, beberapa contoh pressure dapat
timbul karena masalah keuangan pribadi, Sifat-sifat buruk seperti berjudi,
narkoba, berhutang berlebihan dan tenggat waktu dan target kerja yang tidak
realistis.
c. Sikap atau rasionalisasi untuk membenarkan tindakan fraud (rationalization)
Rationalization terjadi karena seseorang mencari pembenaran atas
aktifitasnya yang mengandung fraud. Pada umumnya para pelaku fraud
meyakini atau merasa bahwa tindakannya bukan merupakan suatu
kecurangan tetapi adalah suatu yang memang merupakan haknya, bahkan
kadang pelaku merasa telah berjasa karena telah berbuat banyak untuk
organisasi. Dalam beberapa kasus lainnya terdapat pula kondisi dimana
pelaku tergoda untuk melakukan fraud karena merasa rekan kerjanya juga
melakukan hal yang sama dan tidak menerima sanksi atas tindakan fraud
tersebut.

Ketiga faktor tersebut digambarkan dalam segitiga fraud (Fraud Triangle)


berikut:
B. Ruang Lingkup Forensic Accounting and Fraud Examination
1. Definisi Akuntansi Forensik
Akuntansi forensik adalah penerapan disiplin akuntansi dalam arti
luas, termasuk auditing pada masalah hukum untuk penyelesaian hukum
di dalam atau di luar pengadilan (Tuanakotta, 2010).
2. Ruang Lingkup Forensic Accounting and Fraud Examintaion
Akuntansi forensik memiliki ruang lingkup yang sangat spesifik untuk
lembaga yang menerapkannya atau untuk tujuan melakukan audit
investigatifnya (Tuanakota, 2010). Ruang lingkup tersebut adalah praktik di
sektor swasta dan praktik di sektor pemerintahan. Sebenarnya praktik di kedua
sektor tersebut serupa, namun untuk praktik di sektor pemerintahan terdapat
tahap-tahap dalam seluruh rangkaian akuntansi forensik yang terbagi-bagi
diantara berbagai lembaga. Lembaga tersebut antara lain adalah lembaga yang
melakukan pemeriksaan keuangan negara, lembaga pengawasan internal,
lembaga pemerang kejahatan seperti PPATK dan KPK, serta lembaga swadaya
masyarakat yang berfungsi sebagai pressure group. Lembaga-lembaga tersebut
memiliki mandat dan wewenang yang diatur dalam konstitusi, undang-undang
atau ketentuan lainnya. Selain itu praktik di sektor pemerintahan juga
dipengaruhi oleh keadaan politik dan kondisi-kondisi yang lain.
Akuntansi forensik sangat dibutuhkan dalam dunia bisnis saat ini. Namun
tidak semua orang memiliki karakteristik dan kualitas yang dibutuhkan untuk
menjadi akuntan forensik yang berkualitas. Seorang akuntan forensik harus
memiliki keterampilan komunikasi yang kuat, baik lisan maupun tertulis. Seorang
akuntan forensik juga memerlukan latar belakang akuntansi yang kuat dan
pengetahuan mendalam tentang audit, penilaian resiko, pengendalian, deteksi
penipuan serta pemahaman dasar mengenai sistem hukum. Selain itu penting
bagi akuntan forensik untuk memiliki kemampuan untuk mewawancarai dan
mendapatkan informasi secara efektif dari orang-orang yang mungkin tidak
bersedia memberikan jawaban yang jujur. Maka dari itu penting bagi akuntan
forensik untuk berpikiran skeptis. Menurut Crumbley (2009), karakteristik kunci
akuntan forensik adalah pengetahuan dan pengalaman dalam perencanaan
keuangan dan teknik manajemen serta kemampuan komputer yang baik
termasuk kemampuan untuk memahami dan menerapkan berbagai teknologi
informasi dan sistem akuntansi.
Sedangkan menurut Lindquist (1995) seperti yang dikutip dalam Tuanakota
(2010), kualitas yang harus dimiliki oleh akuntan forensik, yaitu sebagai berikut:
a. Kreatif, kemampuan untuk melihat sesuatu yang orang lain
mengganggap situasi bisnis yang normal dan kemudian
mempertimbangkan interpretasi lain.
b. Rasa ingin tahu, keinginan untuk menemukan apa yang sesungguhnya
terjadi dalam rangkaian peristiwa dan situasi.
c. Tak menyerah, kesempatan untuk terus maju pantang mundur
walaupun fakta (seolah-olah) tidak mendukung.
d. Akal sehat, kemampuan untuk mempertahankan perspektif dunia
nyata.
e. Business sense, kemampuan untuk memahami bagaimana bisnis
sesungguhnya berjalan, dan bukan hanya sekedar memahami
bagaimana transasksi dicatat.
f. Percaya diri, kemampuan untuk mempercayai diri dan temuan.
DAFTAR PUSTAKA

Tuanakota, Theodorus M. 2010. Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif. Jakarta:


Salemba Empat.
Albert, W. Steve. 2012. “Fraud Examination, Fourth Edition”. Ohio: South Western.
Adhysti Kartika Zamira. 2014. Persepsi Akademisi Dan Praktisi Akuntansi Terhadap
Akuntansi Forensik Sebagai Profesi di Indonesia. Skripsi: Fakultas Ekonomi
Universitas Diponegoro Semarang.
http://jurnalakuntansikeuangan.com/2012/05/apa-itu-fraud-apa-saja-jenis-modusnya-plus-
contoh-di-bag-mana-terjadi/ (Diakses 14 Oktober 2014 pukul 22.30 WIB)
http://akuntansibisnis.wordpress.com/2010/12/22/mengupas-seluk-beluk-fraud-dan-cara-
mengatasinya/ (Diakses 14 Oktober 2014 pukul 23.00 WIB)