Está en la página 1de 5

Dasar Teori EKG 2 dan Interprestasinya

klik gambar untuk memperbesar

A. Kelistrikan Jantung
Pencetus impuls listrik jantung muncul dari SA Node terus menjalar ka AV Node, Berkas His,
Cabang Berkas Kiri dan Kanan, Serabut Purkinje dan akhirnya sampai ke otot ventrikel jantung.

Arus listrik yang menjalar dari SA Node ke Berkas His membentuk Interval PR (lihat garis
merah pada gambar diatas), dan arus listrik dari Cabang berkas sampai serabut purkinje
membentuk Kompleks QRS (lihat garis hijau pada gambar diatas).
Durasi normal Interval tidak lebih dari 5 kotak kecil (kk), dan Kompleks QRS tidak lebih dari 3
kk. Untuk menghitung frekwensi detak jantung digunakan rumus : 1500: Interval R-R ( jarak R
satu ke R berikutnya dalam kotak kecil).

B. Irama Jantung
Irama jantung terdiri dari 3 macam yaitu Irama Sinus, Irama Junction, dan Irama Ventrikel.
Masing-masing irama dinamai sesuai dengan asal impuls listrik yang keluar. Bila pencetus
impuls listrik keluar dari SA Node maka irama yang muncul disebut Irama Sinus, dari SA Node
muncul Irama Junction dan dari Ventrikel disebut Irama Idioventrikuler (baca: Irama Ventrikel).

A. Irama Sinus
Yaitu irama jantung yang sumber pacemakernya berasal dari SA node atau Impulsnya berasal
dari SA Node, ada beberapa irama yang impulsnya berasal dari SA Node diantaranya :

 Normal Sinus Rhytm


 Sinus Bradikardia
 Sinus Takikardia
 Sinus Aritmia

I. Ciri Irama Normal Sinus adalah :


Gambar EKG normal

Ciri-ciri
1. Gelombang P (+) (membentuk gambar cembung seperti bukit)
2. Kompleks QRS sempit tidak lebih dari 3 kotak kecil atau 0,12 detik.

Untuk menentukan sumber utama pacemaker berasal dari mana adalah dengan membuat
rekaman EKG strip panjang yang diambil salah satu EKG 12 lead yang dianggap jelas morfologi
gelombangnya. Tapi biasanya semua dokter atau semua interpreter EKG akan memilih dan
membuat panjang EKG strip yang diambil dari lead II dan V1. Menurut saya ambilah rekaman
strip panjang dari lead yang mempunyai morfologi gelombang yang bagus dan jelas, tapi
prioritaskan kita ambil dari lead II dan V1.

Setelah itu kita identifikasi morfologi gelombang P antara beat yang satu dengan beat yang
lainnya dalam lead panjang yang kita ambil. Tentunya gelombang yang berasal dari SA node
akan mempunyai bentuk/ukuran gelombang P dan PP interval dari beat ke beat akan sama.

Gelombang yang berasal dari SA node akan mengeluarkan impuls berkisar antara 60 sampai 100
x/menit, bagaimana cara menghitungnya? Penghitungannya sama dengan cara menghitung
frekfensi jantung umumnya. Tapi untuk menghitung impuls atau frekfensi dari SA node atau
atrial adalah dengan menghitung PP intervalnya. Baik pada lead panjang yang kita pilih maupun
pada semua 12 lead yang kita rekam, antara atrial dan ventrikel harus berbanding 1 : 1 atau
dengan kata lain setiap 1 (satu) gelombang P harus diikuti oleh 1 (satu) komplek QRS. Dan
morfologi gelombang serta jaraknya sama, sehingga akan membentuk irama jantung yang
teratur.

Pada saat membaca EKG 12 lead dengan gambaran EKG normal sinus rhytm, kita harus
menemukan gelombang P akan selalu berdefleksi positip di lead II dan akan selalu berdefleksi
negatif di lead aVR. Kecuali terdapat 2 kemungkinan yaitu kesalahan penempatan elektroda dan
EKG dextrocardia atau posisi jantung bergeser ke kanan.

Normal Sinus Rhytm adalah gambaran murni EKG normal tanpa adanya intervensi subtansi lain
yang mempengaruhinya.

II. Ciri Irama Sinus Bradikardi

Ciri-cirinya :

 Irama teratur
 RR interval jaraknya sama dalam 1 lead panjang
 PP interval jaraknya sama dalam 1 lead panjang
 Komplek QRS harus sama dalam 1 lead panjang
 Impuls dari SA node yang ditandai dengan adanya gel P yang mempunyai bentuk sama
dalam 1 lead panjang.
 Frekwensi (HR) dibawah 60x/menit
 Adanya gel P yang selalu diikuti komplek QRS
 Gel P dan komplek QRS normal dan sama bentuknya dalam satu lead.

Yang membedakan antara sinus bradikardi dengan normal sinus rhytm adalah Frekfensi
jantungnya.
Pada sinus bradikardia frekfensi jantungya kurang dari 60 x/menit, sedangkan ciri yang lainya
persis sama dengan normal sinus rhytm.

Seringkali kita menemukan pasien dengan frekfensi jantung yang kurang dari 60 x/menit dan
bahkan kurang dari 50 x/menit tanpa ada keluhan yang berarti, ini biasanya kita temukan pada
jantung olah ragawan atau orang yang melakukan kegiatan olah raga yang teratur seperti para
atlit. Jadi siapapun orangnya yang melakukan olah raga secara teratur dan benar, akan
didapatkan frekfensi jantung yang kurang dari 60 atau bahkan kurang dari 50 x/menit tanpa
adanya keluhan.

Frekfensi jantung yang kurang dari 60 x/menit juga bisa disebabkan oleh beberapa penyebab
seperti obat-obatan (digoxin, beta blockers, calcium channel blockers) dan biasanya terjadi
setelah pasca serangan jantung dan stroke.
Jadi kita hanya melakukan intervensi pada pasien dengan frekfensi jantung yang kurang dari 60
x/menit apabila si pasien mengalami gejala-gejala yang menganggu haemodinaik pasien.

Untuk itu kita tidak boleh memutuskan hasil analisa EKG hanya dengan melihat EKG saja tanpa
mempertimbangkan keadaan klinis pasien maupun riwayat kesehatan pasien.

Ingat !!! jangan obati EKG tapi obati klinis pasiennya.

III. Ciri Irama Sinus Takikardi

Ciri-cirinya :
Sama dengan sinus bradikardia, yang membedakanya adalah frekwensi jantung (HR) lebih dari
100x/menit.

Seperti halnya dengan sinus bradikardia, hanya satu yang membedakan antara sinus takikardia
dengan normal sinus rhytm yaitu frekfensi jantungnya.

Pada sinus takikardia, frekfensi jantungnya lebih dari 100 x/menit. Ada batas atasnya abu? Saya
tidak mengatakan ada atau tidak adanya batasan atas (upper limit) untuk sinus takikardia,
semuanya kita jawab pada prakteknya nanti.

Kalau kita batasi upper limitnya seperti yang tertulis pada buku-buku EKG dengan batasan
antara 100 – 150 x/menit, saya akan balik tanya dengan beberapa pertanyaan. Apakah anda akan
masih mengatakan sinus takikardi jika menemukan frekfensi jantung lebih dari 100 x/menit dan
kurang dari 150 x/menit, walaupun morfologi gelombang P nya tidak sama dari beat to beat?
Anda yakin gelombang Pnya berasal dari SA node??

Peningkatan frekfensi jantung pada pasien dengan sinus takikardia biasanya terjadi oleh adanya
respon fisiologi dari tubuh terhadap suatu keadaan yang menggangu hemostasis tubuh. Dari
sekian banyak penyebab frekfensi jantung melebihi 100 x/menit pada kasus sinus takikardia, kita
mengenal beberapa keadaan yang harus kita tahu seperti :

 Keadaan normal respon : sehabis melakukan aktivitas, kesakitan, demam, stress dan
cemas.
 Hypovolemik
 Anemia
 Obat-obatan
 Gagal jantung
 Perdarahan
 Emboli pulmonal dan Distress pernapasan
 Sepsis
 Perikarditis
 Dll

Jadi kita tidak boleh serta merta melakukan intervensi untuk menurunkan frekfensi jantungnya.

IV. Irama Sinus Aritmia

Untuk membedakan sinus aritmia dengan normal sinus rhytm dan sinus bradikardia adalah pada
sinus aritmia iramanya tidak teratur yang disebabkan oleh pengaruh pernapasan, baik inspirasi
maupun ekspirasi. Biasanya kita akan menemukan pada anak ABG atau anak-anak yang masih
muda.

Sumner Referensi : http://perawatgawatdarurat.blogspot.com http://abu-


nazmah.blogspot.com htt