Está en la página 1de 25

http://www.republika.co.

id/berita/dunia-islam/info-halal/08/12/01/17587-menggugat-bahan-
haram-dalam-obat

Menggugat Bahan Haram dalam Obat

Bagi umat Islam mengkonsumsi makanan yang halal dan thoyib merupakan bagian dari perintah
agama. Demikian juga meninggalkan makanan yang haram adalah kewajiban yang tidak bisa
ditawar-tawar lagi. Kesadaran masyarakat muslim terhadap perkara yang wajib ini tak perlu
dipertanyakan lagi, karena sudah menjadi suatu pedoman hidup. Sebagai konsumen produk pangan,
sudah seharusnya umat Islam mendapatkan jaminan dari para produsen atas kehalalan produk-
produk pangan yang beredar di komunitas muslim. Faktanya, Konsumen sulit untuk mengetahui
apakah suatu produk mengandung bahan haram ataukah tidak, kecuali bila produk tersebut
mendapatkan sertifikat halal dari lembaga berwenang di dalam atau di luar negeri. Meski begitu,
tidaklah berarti produk tak bersertifikat halal semuanya mengandung bahan haram. Selain produk
pangan, ada produk lainnya yang status kehalalannya belum menjadi perhatian masyarakat yaitu
produk obat-obatan, khususnya obat yang digunakan dengan cara ditelan atau diminum. Hingga saat
ini penulis belum pernah melihat obat resep dokter yang berlabel halal. Bagaimanapun juga obat
yang ditelan pada hakekatnya adalah makanan. Sebagaimana yang juga dikatakan oleh para perintis
ilmu kedokteran seperti Hipokrates ataupun Ibnu Sina (Avisena) bahwa obat adalah makanan dan
makanan pun adalah obat. Jelas sekali obat dan makanan adalah dua hal yang tidak bisa dipisah-
pisahkan. Oleh karena itu maka status kehalalan obat-obatan terutama yang ditelan adalah wajib
adanya bagi kaum muslim. Sekarang ini untuk produk minuman dan makanan olahan, sertifikasi
kehalalannya sudah diatur melalui Peraturan Menteri Kesehatan tahun 1996. Sertifikat halal ini
diberikan setelah suatu produk pangan diperiksa oleh Lembaga Pengkajian Pangan, Obat dan
Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI), melalui proses audit yang ketat dalam hal asal-
usul bahannya, komponen campurannya maupun proses produksinya. Namun, sayang sekali pada
prakteknya sertifikasi halal produk pangan ini tidak diwajibkan kepada tiap produsen, tetapi hanya
bersifat sukarela bergantung kepada kemauan produsen apakah mau ataukah tidak untuk
mendapatkan sertifikat halal. Dan yang lebih disayangkan lagi adalah karena sertifikasi halal ini
belum menyentuh kepada produk obat-obatan resep dokter. Sepertinya masyarakat kita sampai saat
ini masih sangat-sangat permisif terhadap status halalnya obat-obatan, meskipun di dalamnya
mungkin terdapat bahan-bahan yang berasal dari barang yang haram, misalnya babi. Sikap permisif
ini barangkali karena adanya pemahaman tentang Hukum Darurat yang kurang terkontrol. Padahal
dalam ajaran Islam, darurat itu ada batasannya. Memang benar bahwa barang yang haram itu bisa
menjadi halal bila dalam keadaan yang sangat darurat, sebagaimana halnya bangkai hewan, darah
ataupun daging babi yang bisa halal dimakan bila dalam keadaan darurat (Alquran Surat Al-Baqarah :
173). Namun dalam kasus obat-obatan sepertinya hukum darurat ini kesannya terlalu diperlebar dan
berlebihan, sehingga bahan obat apapun akan dianggap halal tanpa kecuali, karena berlindung di
balik tameng darurat. Kalau kita menyimak prinsip hukum darurat yang digambarkan dalam Al-
Qur’an maupun Hadist, sebenarnya hukum darurat itu diterapkan hanya bila dalam keadaan yang
sangat terpaksa saja. Sebagaimana juga dalam masalah dihalalkannya bangkai hewan, yaitu
bilamana minimal dalam sehari semalam (misalnya di tengah gurun pasir) tidak menemukan
makanan apapun, kecuali hanya bangkai binatang itu saja satu-satunya. Namun mengkonsumsinya
pun tidak boleh berlebihan, tapi sekedar untuk bisa bertahan hidup. Adapun dalam hal obat-obatan
resep dokter, dengan semakin majunya bidang farmasi, maka banyak sekali variasi dan jenis obat-
obatan yang umumnya berasal dari bahan yang tidak haram. Dengan demikian masyarakat ataupun
para dokter mempunyai banyak pilihan atau alternatif dalam menentukan jenis obat yang tepat dan
rasional untuk diresepkan bagi pasiennya.

Bahan haram dalam obat.

1.Unsur Babi (Porcine)

Menurut ahli farmasi bahwa bahan-bahan aktif obat pada merk obat tertentu, bila diteliti lebih jauh
ada yang menggunakan bahan baku yang diharamkan di dalam ajaran Islam, misalnya babi. Sebagai
contoh, ada obat suntik merk tertentu untuk mengobati penyakit kencing manis (diabetes melitus)
yang berasal dari hormon insulin babi (porcine). Sementara itu banyak pula obat suntik lainnya yang
khasiat dan fungsinya sama untuk kecing manis, tetapi tidak berasal dari porcine atau babi. Lantas
apakah masih bisa diyakini bahwa obat yang berasal dari babi itu masih halal digunakan dengan
alasan darurat, padahal ada obat lainnya yang halal ? Bila hukum darurat ini dipahami dengan
sebenarnya, maka pasti tidak akan ada muslim yang berani menghalalkan obat yang berasal dari
babi ini, karena dasar untuk hukum daruratnya saat ini tidak terpenuhi. Hal ini mengingat masih
banyak pilihan merk obat lainnya yang tidak mengandung unsur babi. Oleh karena itu pemahaman
yang berasumsi bahwa benda apapun akan halal dikonsumsi bila untuk obat, haruslah segera
ditinggalkan jauh-jauh karena tidak sesuai dengan Syariah. Selama ini umumnya masyarakat tidak
mengetahui dari apa saja dibuatnya bahan aktif suatu obat. Demikian juga pada brosur obat-obatan
yang ada, produsen obat biasanya tidak menjelaskan asal-usul bahan aktif dan bahan penyerta pada
produk obatnya secara lengkap. Para dokter pun mungkin belum tentu semuanya mengetahui asal-
usul dibuatnya bahan dasar semua obat-obatan. Hal ini karena di dalam kurikulum pendidikan
dokter, masalah asal-usul bahan dasar pada setiap jenis obat ini tidak dibahas secara lengkap. Dalam
materi kuliah tentang obat bagi mahasiswa kedokteran memang lebih ditekankan kepada
mempelajari masalah mekanisme kerja obat di dalam tubuh, termasuk dalam hal khasiat obat, reaksi
kimia, dosis, efek samping dll. Sedangkan masalah teknologi bahan obat maupun teknis pembuatan
obat tidak dipelajari lebih jauh, karena masalah ini adalah bidangnya kalangan farmasi. Oleh karena
itu para ahli farmasi muslim perlu sekali menjelaskan, bahan aktif obat apa saja yang berasal dari
bahan-hahan yang haram, agar umat Islam mudah untuk menghindarinya. Hal ini mengingat bahwa
obat-obatan itu umumnya adalah produk impor dari luar negeri, yang diciptakan atau diformulasikan
oleh ilmuwan yang belum tentu mengenal masalah halal dan haram.

2. Alkohol (Etanol)

Bahan obat lainnya yang mungkin masih dianggap darurat adalah alkohol (etanol) yang biasa dipakai
sebagai pelarut pada obat-obatan sirup jenis tertentu. Masalah alkohol ini memang ada perbedaan
pendapat di kalangan kaum Muslimin tentang status halal dan haramnya di dalam obat, terutama
dalam penggunaan untuk campuran obat-obat sirup. Namun, perlu juga kita ketahui, hasil rapat
Komisi Fatwa MUI tahun 2001 menyimpulkan bahwa minuman keras adalah minuman yang
mengandung alkohol minimal 1 % (satu persen). Menurut analisis para pakar, memang minuman
beralkohol (etanol) di atas 1% akan berpotensi memabukkan. Hal ini merujuk pada keterangan hadis
Rasulullah SAW riwayat Muslim dan Ahmad. Dalam hadis tersebut disebutkan bahwa Rasulullah
SAW melarang meminum air jus buah-buahan yang sudah didiamkan lebih dari 2 (dua) hari karena
bisa memabukkan (khamar). Menurut pakar teknologi pangan, memang air jus buah yang didiamkan
lebih dari 2 hari di dalam suhu kamar akan menghasilkan alkohol (etanol) dengan kadar sekitar 1 %.
Dengan adanya patokan 1 % ini, maka akan mudahlah bagi kita untuk memilih dan menentukan
apakah suatu produk obat sirup itu dikatagorikan sebagai minuman keras atau bukan. Pembatasan
kadar alkohol ini sangat perlu dan dimaksudkan untuk mencegah, karena prinsip Islam itu adalah
mencegah ke arah yang haram. Pada acara muzakarah tentang alkohol dalam minuman yang
diselenggrakan MUI pada tahun 1993, dr Kartono Muhammad MPH, selaku ketua umum Ikatan
Dokter Indonesia (IDI) saat itu, mengatakan bahwa fungsi alkohol dalam obat yang diminum sudah
dapat digantikan dengan bahan lain sehingga disarankan untuk mencari alternatif pengganti alkohol
dengan jenis pelarut lainnya yang lebih aman secara Syariah. Kenyataan yang ada di masyarakat
sekarang ini tidak sedikit obat-obatan sirup tertentu yang mengandung kadar alkohol yang lebih dari
batas 1 %, baik obat resep dokter maupun obat yang dijual bebas. Akan tetapi ternyata merk obat
sirup yang tanpa alkohol ataupun yang alkoholnya kurang dari 1%, jumlahnya jauh lebih banyak dari
pada obat sirup yang berkadar alkohol lebih dari 1%. Oleh karena itu tidak ada lagi alasan darurat
untuk menghalalkan obat sirup yang kadar alkoholnya lebih dari 1 %, karena masih banyak pilihan
obat lainnya baik yang berbentuk sirup maupun pil atau serbuk puyer yang memang tanpa alkohol.
Bila alkohol atau etanol ini berada pada campuran obat-obatan antiseptik untuk pemakaian pada
tubuh bagian luar atau permukaan kulit, dan bukan untuk diminum, tentunya masih bisa dimaklumi.
Meskipun larutan antiseptik kulit umumnya berkadar alkohol 70 %, hal ini tidak perlu untuk
dipermasalahkan, karena obat luar ini tidak untuk diminum. Bila melihat dalilnya di dalam Alquran
maupun hadis bahwa khamar (minuman keras) itu hanyalah haram untuk diminum. Tetapi, bila
minuman keras ini hanya disentuh atau dioleskan ke permukaan kulit maka tidak akan
menjadikannya haram. Mungkin untuk masalah ini masih terdapat perbedaan pendapat di antara
kaum muslimin. Oleh karena itu walaupun larutan antiseptik ini kadar alkoholnya hingga 70 % dan
sangat berpotensi memabukkan atau bahkan bisa mematikan bila diminum, tapi tidaklah terlarang
untuk dioleskan ke kulit yang luka. Jatuhnya hukum haram itu apabila larutan memabukkan ini
diminum, dan bukannya dioleskan ke kulit. Dengan demikian, penggunaan alkohol yang berkadar
lebih dari 1 % untuk penggunaan antiseptik di permukaan kulit yang terinfeksi atau luka, masih bisa
diterima oleh dalil Syariah. Lantas bagaimanakah hukumnya meminum minuman keras (khamar)
untuk tujuan pengobatan menurut pandangan para fuqoha? Di dalam kitab Fikih Sunnah Sayyid
Sabiq dikatakan bahwa dahulu pada zaman jahiliyah, ada orang-orang yang biasa meminum arak
dengan dalih untuk pengobatan. Namun setelah datang ajaran Islam yang dibawa Rasulullah Saw,
mereka dilarang menggunakannya dan sekaligus diharamkan meminumnya meskipun untuk tujuan
pengobatan. Imam Ahmad, Muslim, Abu Daud dan At-Tirmidzi meriwayatkan dari Thariq bin Suaid
Al Ju'fie, bahwasanya Suaid menanyakan kepada Rasulullah SAW mengenai khamar, lalu Rasulullah
SAW melarangnya. Kemudian ia menjelaskan kepada Rasulullah bahwa minuman keras ini
dibuatnya untuk pengobatan, lalu beliau bersabda : ''Sesungguhnya khamar itu bukan obat, tapi
justru penyakit.'' Dalam hal obat yang berpotensi memabukkan, barangkali hanya obat bius
(anestesi) saja yang bisa dikatagorikan darurat. Bagaimanapun juga, sesungguhnya orang yang
dibius di kamar operasi bedah itu, pada dasarnya adalah orang yang sengaja dibuat mabuk hingga
tak sadarkan diri, hanya saja mabuknya terkendali. Namun status darurat bagi obat bius pun ada
batasannya. Tentu saja batasannya adalah: siapa yang memakainya dan untuk apa tujuannya.
Dengan demikian status darurat obat bius ini hanyalah berlaku bila digunakan oleh ahlinya untuk
tujuan pengobatan yang rasional, dan bukan untuk drug abuse atau penyalahgunaan obat, seperti
untuk teler atau mabuk-mabukan. Oleh karena itu hukum darurat obat bius ini akan berlaku bila
pemakaiannya bukan untuk perilaku yang bertentangan dengan aturan Allah SWT.

3. Plasenta dan air kemih

Akhir-akhir ini organ tubuh yang disebut plasenta sedang tren digunakan dalam produk kosmetika
maupun obat tertentu. Plasenta atau disebut juga ari-ari, adalah jaringan yang tumbuh di dalam
rahim wanita ketika hamil, yang merupakan penghubung antara janin yang dikandung dengan ibu
hamil yang mengandungnya. Plasenta ini berfungsi untuk menyalurkan zat-zat makanan, air,
oksigen, dan zat-zat lainnya dari darah ibu hamil ke darah janin. Sebaliknya plasenta juga berfungsi
untuk membuang karbondioksida, sisa metabolisme atau sampah, serta zat-zat lainnya dari janin ke
tubuh ibu hamil. Plasenta atau ari-ari ini memang selalu ditemukan pada semua makhluk hidup jenis
mamalia yang sedang hamil, dan akan lepas dibuang dari rahim ketika melahirkan setelah keluarnya
bayi. Adapun plasenta yang sering digunakan untuk kosmetika atau produk kesehatan tersebut, bisa
berasal dari plasenta hewan atau dari plasenta manusia. Sebagaimana diketahui bahwa sekarang ini
pada layar televisi sering dijumpai iklan produk kecantikan atau produk untuk kesehatan yang tanpa
kita sadari menggunakan plasenta sebagai salah satu bahan aktifnya. Plasenta dalam bentuk krim
yang dioleskan ke permukaan kulit maupun dalam bentuk pil yang ditelan, diyakini dapat berfungsi
untuk regenerasi sel-sel kulit sehingga dapat mempertahankan kulit agar tetap sehat, segar, muda
dan cantik. Tidak hanya itu, plasenta juga diyakini mampu mengembalikan kemulusan kulit akibat
luka atau penyakit kulit. Tetapi dari manakah plasenta ini berasal? Menurut ahli farmasi, yang paling
banyak digunakan oleh industri obat-obatan di luar negeri, justru adalah plasenta manusia yang
diperoleh dari berbagai rumah sakit bersalin di sana. Kalaupun plasentanya berasal dari hewan,
tentunya konsumen pun tidak akan tahu hewan apa yang diambil plasentanya, apakah babi, sapi
ataukah apa? Dalam ingredien atau daftar komposisi pada kemasan produk obat berplasenta ini
memang biasanya tidak disebutkan asal-usul plasentanya. Meskipun kebanyakan penggunaan
plasenta manusia ini bukan untuk produk pangan, akan tetapi penggunaan organ tubuh atau
setidaknya penggunaan bagian dari kehidupan manusia ini telah menimbulkan pro dan kontra.
Selain dari segi peradaban, sebetulnya yang lebih penting bagi umat Islam adalah halal atau tidaknya
penggunaan plasenta maupun jaringan tubuh manusia lainnya bila dikonsumsi untuk tujuan
pengobatan. Demikian pula pengobatan tradisional dengan cara meminum air kencing (urine) yang
keluar dari alat kelamin orang yang meminumnya, telah menjadi kontroversi di kalangan umat Islam,
mengingat air kencing menurut ajaran Islam termasuk benda yang najis. Di kalangan medis pun
terapi air seni atau urine ini masih mengundang pro dan kontra.

Namun, apa pun khasiat yang bisa ditemukan di dalam air kencing ini, bagi umat Islam tak ada alasan
darurat untuk meminumnya selama masih ada obat lainnya yang bisa digunakan. Apalagi kalau
meminum air seni dari tubuhnya sendiri ini hanya sekedar untuk mencoba-coba saja, maka harus
dihindarkan oleh kaum muslim. Sebenarnya Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah lama menyoroti
masalah pengobatan tradisional dengan air seni maupun tentang penggunaan plasenta manusia
pada obat dan kosmetika. Untuk memberikan kejelasan kepada masyarakat luas dan menghindari
kesalah pahaman, secara khusus MUI dalam Munas tahun 2000 yang lalu telah membahas masalah
plasenta manusia dan terapi urine ini. Dalam Keputusan Fatwa MUI nomor: 2/Munas /VI/ MUI/ 2000
ditetapkan bahwa :

1. Yang dimaksud dengan :

(a) Penggunaan obat-obatan adalah mengkonsumsinya sebagai pengobatan, dan bukan


menggunakan obat pada bagian luar tubuh.

(b) Penggunaan air seni adalah meminumnya sebagai obat.

(c) Penggunaan kosmetika adalah memakai alat kosmetika pada bagian luar tubuh dengan tujuan
perawatan tubuh dan kulit, agar tetap atau menjadi baik dan indah.

(d) Al-Istihalah adalah perubahan suatu benda menjadi benda lain yang berbeda dalam semua sifat-
sifatnya dan menimbulkan akibat hukum dari benda najis atau mutanajis menjadi benda suci dan
dari benda yang diharamkan menjadi benda yang dibolehkan (mubah).

2. Penggunaan obat-obatan yang mengandung atau berasal dari bagian organ tubuh manusia,
hukumnya adalah haram. Kecuali dalam keadaan darurat dan diduga kuat dapat menyembuhkan
menurut keterangan dokter ahli terpercaya.

3. Penggunaan air seni manusia hukumnya adalah haram. Kecuali dalam keadaan darurat dan diduga
kuat dapat menyembuhkan menurut keterangan dokter ahli terpercaya.

4. Penggunaan kosmetika yang mengandung atau berasal dari bagian organ manusia hukumnya
adalah haram. Kecuali setelah masuk ke dalam proses Istihalah.

5. Menghimbau kepada semua pihak agar sedapat mungkin tidak memproduksi dan menggunakan
obat-obatan atau kosmetika yang mengandung unsur bagian organ manusia atau berobat dengan air
seni manusia.

Dengan adanya fatwa MUI tersebut, maka jelaslah bahwa pemakaian air kencing manusia dan
plasenta manusia ini bila tidak dalam status darurat, maka hukumnya adalah haram bagi umat Islam.
Apalagi bila masih ada obat-obat lain yang masih bisa digunakan, maka penggunaan air kencing
maupun plasenta manusia sebagai obat, tidak ada dasar kedaruratannya. Kalaupun memang
darurat, maka ukuran kedaruratannya ini tidak bisa hanya berdasarkan perasaan seseorang belaka,
tetapi harus berdasarkan pertimbangan obyektif dari beberapa orang ahli kesehatan yang
berkompeten, sekurang-kurangnya dari 3 (tiga) orang ahli.

Jadi, kondisi darurat ini tidak bisa hanya berdasarkan kepada pertimbangan satu orang ahli saja.
Adapun ukuran darurat ini menurut pakar hukum Syariah adalah ancaman nyawa atau kematian.
Artinya bila menurut pertimbangan dari minimal 3 orang dokter ahli, misalnya dinyatakan bahwa
seorang pasien akan berisiko meninggal dunia bila tidak segera meminum air kencingnya atau obat
berplasenta, sementara tidak ada satu pun obat lainnya yang bisa digunakan, maka status air kemih
atau plasenta ini akan menjadi halal bagi orang tersebut pada saat itu.

Namun bila ternyata masih ada obat lainnya yang bisa digunakan, maka sifat kedaruratan air seni
atau obat berplasenta ini menjadi batal atau tidak syah secara hukum Syariah alias haram. Bagi kaum
muslim, sudah seharusnya saat ini untuk berhati-hati dalam membeli produk-produk yang
kemungkinan mengandung plasenta manusia, minimal dengan membaca komposisi bahan-bahan
yang tertulis di dalam kemasannya. Tentunya hal ini akan menambah kewaspadaan agar tidak
terjebak oleh produk yang haram untuk dikonsumsi.

Menurut seorang pakar farmasi yang juga staf ahli di LPPOM-MUI, sekarang ini di pasaran ada
beberapa obat pil atau kapsul merk tertentu yang bahan aktifnya terbuat dari plasenta manusia. Di
antaranya adalah obat perangsang atau pelancar air susu ibu (ASI). Penggunaan obat ini yaitu untuk
menstimulasi aktifitas kelenjar air susu ibu, agar setelah melahirkan produksi ASI-nya meningkat.
Namun perlu juga diketahui bahwa masih ada obat jenis lain yang khasiatnya serupa tapi tidak
mengandung plasenta manusia.

Sesungguhnya obat-obatan yang dijual bebas maupun obat resep dokter itu banyak sekali jenis dan
variasinya. Dengan demikian maka banyak sekali alternatif yang bisa dipilih oleh masyarakat atau
oleh dokter dalam menuliskan resepnya. Oleh karena itu sekarang ini tidak ada alasan darurat bagi
umat Islam untuk meminum air kencingnya sendiri maupun menggunakan bahan yang mengandung
plasenta manusia dengan dalih untuk pengobatan.

Obat Berlabel Halal

Dengan semakin banyaknya variasi dan jenis obat, maka obat-obatan yang berasal dari bahan yang
haram atau memabukkan (kecuali obat bius), sudah seharusnya ditinggalkan oleh umat Islam.
Selama masih ada alternatif obat lainnya yang halal, maka tidak ada alasan darurat bagi pemakaian
obat-obatan yang mengandung bahan haram. Berhubung banyaknya obat-obatan yang diragukan
dan tidak dijamin kehalalannya, maka sekarang sudah saatnya Departemen Agama, Departemen
Kesehatan RI dan MUI membahas masalah status halal bagi obat-obatan. Apalagi sekarang ini
populasi berbagai jenis obat cukup banyak seiring dengan semakin majunya bidang farmasi dan
hampir setiap tahun selalu hadir berbagai merk obat-obatan yang baru.

Terlebih lagi karena obat-obatan itu umumnya adalah produk dari luar negeri yang belum dijaminan
kehalalannya, maka perlu sekali adanya perlindungan bagi kalangan konsumen umat Islam agar tidak
terjebak mengkonsumsi produk yang haram. Kalaulah produk makanan dan minuman bisa diberikan
label halal, mengapa produk obat-obatan yang diminum atau ditelan tidak diberi sertifikat halal?
Padahal pada hakekatnya obat itu adalah makanan dan makanan pun adalah obat. Obat dan
makanan adalah dua hal yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Oleh karena itu kepastian dan jaminan halalnya produk pangan khususnya obat-obatan di Indonesia
yang mayoritas muslim ini, sudah selayaknya diprioritaskan oleh produsen dan diatur oleh
pemerintah. Penulis sebagai muslim sekaligus sebagai tenaga medis, secara pribadi sangat
mengharapkan sekali dan menantikan hadirnya obat-obatan yang bersertifikat halal atau ada
jaminan kehalalannya. Bila hal ini terealisasi maka tidak akan ada lagi keraguan ketika menuliskan
resep obat apapun. Semoga saja sertifikasi halal bagi obat-obatan, khususnya jenis obat yang
diminum atau ditelan, baik obat resep dokter maupun obat bebas, akan menjadi kenyataan di kelak
kemudian hari. Rasulullah Saw bersabda : "Setiap daging (jaringan tubuh) yang tumbuh dari
makanan haram, maka api nerakalah baginya." (HR At-Tirmidzi)

Penulis: Mas Ahmad Yasa , Alumnus Fakultas Kedokteran UNPAD Bandung

REPUBLIKA - Jumat, 09 Mei 2003


http://www.kompasiana.com/nurulamalia/halal-atau-haramkah-
obatku_54f9304ea3331112678b4a6c

Halal atau Haramkah Obatku??

Obat adalah produk farmasi yang terdiri dari bahan aktif dan bahan farmasetik (bahan pembantu
eksipien). Jadi dalam satu obat bisa terbuat lebih dari 2 sampai 3 bahan. Sumber berbagai bahan
aktif dan bahan farmasetik bisa berasal dari berbagai sumber. Tumbuhan, hewan dan bahan kimia
dapat dijadikan sebagai sumber obat.

Sebelum obat dipasarkan, obat tersebut telah melalui proses standarisasi keamanan dan mutu
sehingga bahan-bahan yang terdapat dalam obat telah dinyatakan aman bagi tubuh dan tidak
berbahaya. Namun, berbagai bahan farmasetik obat tersebut banyak yang belum mendapatkan
kejelasan halal dari MUI. Menurut Jurnalis Uddin, yang dikutip dari situs www.halalmui.org
mengatakan bahwa berdasarkan buku ISO terbitan ISFI (Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia), ada
sekitar 10.000 obat yang beredar di Indonesia, namun tidak ada tanda atau label yang khusus,
apakah halal atau haram untuk dikonsumsi oleh umat Islam 1.

Sebagai contoh bahan aktif obat yang berasal dari hewan. hewan tersebut haruslah merupakan
hewan halal dan cara penyembelihannya harus menurut syariat islam. Sebagai contoh yakni gelatin.
Gelatin merupakan senyawa lemak (dan turunannya). Gelatin memberikan tekstur kenyal dan
banyak dipakai sebagai bahan kapsul obat. Gelatin dapat berasal dari sapi, kuda, maupun babi. Akan
tetapi, umumnya gelatin yang beredar di pasaran adalah gelatin dari babi. Oleh sebab itu harus
diperhatikan apakah gelatin yang dipakai berasal dari produk nabati atau hewani. Kalau gelatin
hewani, apakah berasal dari hewan halal atau dari hewan haram.

Meskipun bahan aktif obat berasal dari tumbuhan, akan tetapi selain bahan aktif obat juga
mengandung bahan farmasetik yang memudahkan obat diserap dalam tubuh, bahan ini dapat
berasal dari babi, organ manusia, dan bahan lain yang tidak jelas kehalalannya.

Salah satu contoh lain yakni Psikotropika. Psikotropika menurut Undang-Undang Tentang
Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan narkotika, yang berkhasiat
psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas
pada aktivitas mental dan prilaku. Undang-undang tersebut juga menerangkan bahwa Psikotropika
hanya dapat digunakan untuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau ilmu pengetahuan. Hal ini
jelas menunjukkan bahwa pemerintah Indonesia melegalkan pemakaian psikotropika asalkan berada
dalam batasan wajar. Badan Pengawasan Obat dan Makanan pun telah mengizinkan penggunaan
obat psikotropika namun dengan tujuan kesehatan dan pendidikan. Sayangnya, perizinan
penggunaan obat belum menyertakan keputusan Majelis Ulama Indonesia padahal mayoritas
penduduk Indonesia beragama Islam.

Seperti halnya dengan penggunaan narkotika sebagai anastesi, hal ini juga mendapatkan perizinan
dan penggunaannya dalam bidang kesehatan dan pendiidikan. namun sifat narkotika yang dapat
mengilangkan kesadaran mirip dengan sifat khamr yang diharamkan dalam islam.

Hal ini akan menjadi suatu kondisi yang sangat mengkhawatirkan jika baik konsumen maupun
produsen kurang mengetahui kehalalan dari bahan obat yang digunakan.
Menurut sudut pandang saya sebagai seorang farmasis baru, penggunaan sumber bahan haram
tertentu sebagai bahan aktif maupun tambahan untuk pembuatan obat, terdapat bahan yang
tergolong haram namun memiliki manfaat yang besar. Misalnya khamr (minuman yang
memabukkan) dalam bentuk alkohol, etanol, dan lainnya sering ditemukan dalam obat flu cair. Akan
tetapi penggunaan fenol (dan turunannya) ini jika telah ada dalam bentuk obat cair tidaklah menjadi
suatu hal yang memabukkan jika sesuai dengan takaran yang tepat.

Dalam sebuah tulisan yang diterbitkan Mollecular Cancer Therapies Journal, peneliti St.George
University of London, menguraikan pengurangan dramatis terhadap massa kanker otak dengan
metode radiasi yang dikombinasikan dengan senyawa ganja. Yang dalam hal ini ganja tergolong
haram karena dapat menghilangkan kesadaran pada jika penggunaannya sebagai obat sedativ
disalahgunakan. Meskipun demikian, penelitian tersebut merupakan sebuah sumbangan besar bagi
perkembangan tekhnologi dunia kefarmasian.

Hal ini jelas menimbulkan sebuah dualisme apakah bahan obat seperti contoh diatas dapat
digunakan sebagai bahan obat namun tergolong bahan obat yang diharamkan? Apakah setelah
pengujian standarisasi keamanan dan mutu obat maka dapat dikatakan obat tersebut dapat
dikonsumsi bagi masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam?

Dalam islam dijelaskan bahwa ada perkara dimana seorang muslim boleh memakan bahan haram
seperti babi. Sebagai contoh, jika seseorang berada dalam hutan dan ia dalam kondisi yang sangat
kelaparan tanpa ada yang dapat ia makan, semetara di sekitarnya hanya ada babi. Maka ia boleh
memakan babi tersebut asalkan sebelumnya ia telah berusaha mencari bahan makanan lain
sementara ia tidak dapat menemukannya. Maka, babi tersebut berhak ia makan.

Seorang farmasis yang berperan sebagai produsen obat memiliki tanggungjawab untuk menciptakan
terobosan baru dalam produksi obat halal dengan memanfaatkan berbagai sumber-sumber bahan
alam yang halal agar tercipta kemaslahatan umat. Ia memang tidak berhak mengeluarkan surat
keputusan halal dan haramnya suatu obat, tapi ia mampu melakukan hal tersebut.

Sebagai konsumen, diperlukan pula kecermatan dalam memilih obat-obatan. Kesembuhan bukanlah
satu-satunya factor yang paling penting diperhatikan melainkan ridha Allah terhadap apa yang kita
konsumsi.
http://muslimafiyah.com/makanan-dan-obat-yang-ada-kandungan-alkohol-dan-turunan-babi.html

Makanan dan Obat yang Ada Kandungan Alkohol dan Turunan Babi”

Hasil kulwaps (kuliah Whatapps) dengan grop IIP (Institut Ibu Profesional) cabang Bekasi

Oleh: dr. Raehanul Bahraen

Materi:

# Obat Mengandung Alkohol, Halal Gak Ya?

Tidak semua alkohol adalah khamer, alkohol juga istilah untuk nama gugus. tolong bedakan antara
“alkohol” dan “minuman beralkohol”

alkohol sendiri dzatnya tidak bisa dibilang khamer

jika telah dicampur dengan bahan tertentu:

-dia bisa menjadi khamer (contohnya minuman beralkohol)

-atau bukan khamer

jadi pernyataan “Obat mengandung alkohol yang memabukkan” adalah KURANG TEPAT
SEPENUHNYA

dan TIDAK semua obat ada alkoholnya, hanya sebagian kecil saja

semoga tidak ada yang salah paham karena sudah ada konotasi negatif dahulu untuk semua kata-
kata “alkohol”

Beberapa fatwa ulama membolehkan dengan alasan (ringkasan ya)


Pertama:

Tidak semua alkohol adalah khamer /memabukkan

kalau sudah belajar ilmu kimia, alkohol adalah nama suatu gugus dana ada banyak macamnya

karena pengerian khamer ada dua syarat:

1.menghilangkan/mengurangi kemampuan akal

2.ada semacam rasa nikmat (fly)

Karenanya ulama tidak memasukkan obat bius dalam golongan khamer

nah,alkohol ada macam-macam jenis juga, misalnya alkohol untuk disinfektan (alkohol 90%), kalau
diminum bukannya memabukkan tetapi malah mengancam jiwa

kedua:

Terkadang jumlah alkohol pada obat sangat kecil kadarnya sehingga berlaku hukum istihlak yaitu
yang yang terlarut (alkohol) sudah tidak ada lagi pengaruh dan sifatnya pada larutan campuran
karena kalah dengan larutan yang mendominasi. artinya minum obat tersebut tidak memabukkan

Ketiga:

Yang diminum adalah obat. bukan untuk tujuan menikmati dan menjadi pecandu, karena dalil yang
diancam adalah pecandu khamer

Keempat:

Jika seandainya haram, ulama juga yang menggunakan kaidah darurat sehingga membolehkan yang
haram. jika obat tersebut adalah satu-satunya jalan dan tidak ada jalan lainnya. jika ada obat lain
yang bersih, maka tidak boleh menggunakan obat tersebut.

Untuk lebih lengkapnya, silahkan bisa merujuk penjelasan profesor syaikh Abdulah bin Jibrin
rahimahullah di situs beliau

http://ibn-jebreen.com/cache/webpages/0fe8323b30cafe482d1f28f04efef2e3.html

Penyusun: dr. Raehanul Bahraen


sesi tanya jawab:

1⃣ bagaimana cara mendeteksi kandungan babi/alkohol dari obat resep atau obat racikan ?

Jawab 1:

Untuk mendeteksi dgn ciri tertentu agak sulit,

tetapi untuk diindonesia BPOM mengharuskan mencantumkannya dalam kandunngan dan labelnya

Misalnya obat lovenox yg mengandung babi,.maka dicantumkan label dengan jelas mengandung
babi

Atau mengandung alkohol seperti OBH (tetapi itu belum.tentu alkohol yg memabukkan dan
penjelasan ulama dan ahli kimia, itu bukan alkohol yang memabukkan)

2⃣ adakah lembaga sertifikasi halal slain BPOM utk obat2 an?

Jawab 2:

Setahu saya sertifikasi halal yang ada sekarang adalah hanya MUI

Sdgkan BPOM hanya mengawasi dari segi keamanannya

3⃣ apakah benar penggunaan ibuprofen tdk diperuntukkan utk anak usia dbwah 10th?

Jawab 3:
Setahu saya tidak dilarang mutlak, boleh saja ada indikasi, bahkan untuk balita bisa

Hanya saja perlu dipertimbangan karena ibuprofen golongan NSAID yg berefek pada lambung

ibuprofen lebih cepat menurunkan panas dan lebih kuat antinyerinya dari pada paracetamol

Tetapi paracetamol lebih aman dari ibuprofen darisegi efek sampingnya

4⃣ bagaimana hukum penggunaan gelatin pda kapsul dan obat2 an dari plasenta sapi?

Jawab 4:

Sebelumnya saya sampaikan materi ringkasnya dulu: bisa dibaca 3-5 menit

# Dokter Muslim Memilih Obat Turunan Sapi daripada Babi

contoh dalam kasus ini adalah obat lovenox, pencair darah dari ekstrak turunan babi

1. Obat dari babi sangat-super sedikit sekali

2. untuk lovenox (turunan babi) ada yang sejenis dan sama penggunaan dan indikasinya yaitu dari
turunan bovine (sapi)

Jadi dokter muslim sudah tahu semua, kita PASTI insyaAllah pilih yang bovine (sapi)

3. Lovenox (turunan babi) indikasinya untuk penyakit acute coronary syndrom

dan penyakit ini BUKAN penyakit yang banyak ditemui seperti batuk, pilek, demam, darah tinggi dll
jadi sangat jarang sekali, kalaupun dipakai karena sangat-super terpaksa, ini ada kaidah darurat.

Mengingat acute coronary syndrom adalah jenis penyakit kegawatdaruratan jantung dengan
penanganan harus cepat karena berpacu untuk menyelamatkan.nyawa

Tentunya kita pilih yang dari bovine (sapi) terlebih dahulu

Kalau tidak ada baru, semoga dimaafkan dengann kaidah darurat dan jalan satu-satunya

‫المحظورات تبيح الضرورة‬

“Darurat membolehkan yang terlarang”

atau kaidah

‫الضررين أخف ارتكاب‬

“Memilih bahaya yang paling ringan”

Kalau tidak minum obat mungkin bisa mati, kalau minum tapi itu dari babi

_________

Untuk yang dari sapi, maka, boleh karena sapi halal,

Sama saja seperti kita buat makanan dengan daging sapi atau bumbu dari sapi

5⃣ pada obat batuk biasanya ada kadar alkohol d dalamnya.brpa persen batas atas penggunaanny
dlm 1 botol?

Jawab 5:
untuk ini, maaf saya kurang tahu berapa kadarnya

Sebagaimana dijelaskan ulama, hukumnya halal, dengan pertimbangan poin-poin yang kami jelaskan

Apalagi sudah diteliti ternyata kadar sekian tidak.memabukkan sehingga bukan.khamer,

Dan ciri.khamer adalah untuk bernikmat2 sdgkan obat bukan

Jika ada obat lainnya bisa pakai, saya selama praktek bisa dibilang tidak pernah atau sangat jarang
meresepkan OBH obat batuk yg ada alkohol, krna ada obat lainnya

Wallahu a’lam

6⃣ apakah batuk pilek bisa sembuh tanpa antibiotik?

Jawab 6n

Bisa sekali, bahkan kebanyakn batuk dan pilek hanya karena penurunan daya tahan tubuh saja

Virua influenza sudah ada pada kita, hanya saja (yg sudah belajar ilmu virus tahu) akan aktif saat
daya tahan tubuh turun

Bisa sembuh dengan sendirinya asalkan:

Istirahat dan makan bergizi

Yg jdi problem adalah,

kita batuk pilek tetap masuk kerja dan sekolah dan mngkin.naik motor (tidak dapat izin hanya batuk
pilek)
Coba istirahat 2-3 hari, mngkin sembuh sendiri

Jadi kita dokter menggunakan prinsip: antibiotik adalah jalan terakhir, biarkan imun alami dulu
bekerja dan terlatih

jangan “manja” dengan antibiotik

7⃣ apa benar luminal ada kandungan narkotika d dlmnya?klo ada jenis apa dok?

Jawab 7:

Luminal mengandung phenobarbital, itu termasuk psikotropika

Tetapi untuk menjadi.kecanduan sangat lama dan dosis besar, tidak seperti kokain dll

Karenanya dia tidak.masuk golongan narboka pada tingkatnya

Mengenai hukumnya boleh dengan indikasi sebagaimana fatwa ulama

Ini fatwanya:

http://muslimafiyah.com/hukum-menggunakan-obat-antinyeri-kuat-dengan-obat-opioid-golongan-
narkotika.html

Ini fatwanya:

http://muslimafiyah.com/hukum-menggunakan-obat-antinyeri-kuat-dengan-obat-opioid-golongan-
narkotika.html

8⃣ benarkah ada efek sampingny bila luminal d minum dlm jangka waktu yg lama?
Jawab:

Benar, insyaAllah,

bahkan anak yg kena kejang demam atau sering kejang karena epilepsi menggunakan obat semacam
ini

Obat Epilepsi hampir digunakan seumur hidup

Pertanyaan terakhir 9⃣ benarkah diazepam termasuk jenis heroin murah dok?lalu ada kah obat slain
diazepam yg dpt dgunakan utk penanganan kejang pda anak?

Jawab 9:

Diazapam dan heroin sama2 psikotropika

Hanya saja beda jauh golongannya

Untuk kejang, saya belum tahu obat yang paling cepat kerjanya semisal.diazepam dan phenobarbital

Dua obat ini juga bukan khamer krna obat ini sedatif sebagaimana yg sudah kami jelaskan

Wallahu a’lam

Alhamdulillaah, sudah 1 jam kita kuliah bersama dr.Raehan sehingga kita mengetahui bahwasanya
obat yg terbuat dari babi itu boleh digunakan asal ada indikasi darurat yaitu “jika tdk minum obta,
maka mati”. Dan dokter muslim tidak asal begitu saja meresepkan pasiennya dgn obat yg
mengandung babi, karena masih banyak obat2 lainnya. Untuk alkohol dan juga narkotika ternyata
tidak semua alkohol itu memabukkan. Alkohol dalam ilmu kimia merupakan nama gugus. Nama
senyawa yg tentu saja banyak macamnya. Yg tidak boleh menurut para ulama adalah khamer
sesuatu yg memabukkan.
http://muslim.or.id/23082-tidak-ada-sertifikasi-halal-mui-haram.html

Tidak Ada Sertifikasi Halal MUI = Haram ?

Perlu diketahui bahwa metode penetapan halal-haram seperti di atas kurang tepat. Karena untuk
perkara makanan, minuman dan urusan dunia lainnya, hukum asalnya adalah halal sampai ada dalil
yang mengharamkan

By dr. Raehanul Bahraen 23 October 2014

1 1947 13

halal-mui

Sebagian orang ada yang mengatakan:

“Untuk makanan ini, mana fatwa MUI yang menghalalkan?”

“Saya tidak mau minum obat itu sebelum ada fatwa halal MUI”

“Mana fatwa halal MUI untuk restoran Fulan”?

Perlu diketahui bahwa metode penetapan halal-haram seperti di atas kurang tepat. Karena untuk
perkara makanan, minuman, obat dan urusan dunia lainnya, hukum asalnya adalah halal sampai ada
dalil yang mengharamkan.

Namun tentunya patut kita syukuri bahwa di negeri kita ada Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang
meneliti dan memberikan fatwa mengenai halal-haramnya makanan atau obat. Tetapi fatwa MUI
bukanlah tolak ukur utama dalam halal-haram dan tidak merubah kaidah fikih dalam beragama.
Sehingga tidak tepat jika dalam masalah duniawi, makanan, obat dan minuman justru malah
bertanya dalil halalnya terlebih dahulu.

Alhamdulillah MUI membantu mayarakat dengan memberikan fatwa halal terhadap suatu makanan
atau produk tertentu. Akan tetapi karena sering muncul fatwa halal, timbul mindset yang kurang
tepat, yaitu mempertanyakan dalil halal atau fatwa halal untuk makanan atau obat terlebih dahulu.
Harus ada fatwa MUI dahulu baru jadi halal. Yang benar adalah, dalam masalah duniawi baik berupa
makanan, obat-obatan dan masalah muamalah hukum asalnya halal, dan untuk berpindah menjadi
haram perlu bertanya dan meminta bukti haramnya.
Karenanya perlu memahami dua kaidah ushul fikih berikut:

Dalam urusan dan perkara dunia maka hukum asalnya adalah halal

Kaidah mengatakan:

ْ َ ‫ل اْأل َ ْشيَاءُِ فِى اَأل‬


ُ‫صل‬ ُِ ْ‫ل يَدُ َحتَّى َحة بَا ا‬
َُّ ُ‫علَى اْل َّد ِليْل‬
َ ‫التَّحْ ِري ُِْم‬

“Hukum asal dari sesuatu (muamalah/keduniaan) adalah mubah sampai ada dalil yang melarangnya“

ُ ُ‫لَّ َدةُ ِعبَا ت ْش َرع‬


َ‫ل‬ ُ ‫للاِ بِش َْر‬
ُ ‫عِ ِإ‬ ُ ‫لَّ َدةُ عُا َ ت َح َّرمُ َو‬
ُ , َ‫ل‬ ُ ِ‫للاِ بِتَحْ ِري ُِْم إ‬
ُ

“Tidak boleh dilakukan suatu ibadah kecuali yang disyari’atkan oleh Allah, dan tidak dilarang suatu
adat (muamalah) kecuali yang diharamkan oleh Allah“

Misalnya ada makanan atau minuman yang belum kita ketahui, kemudian kita bertanya-tanya
apakah makanan ini haram atau tidak? Maka yang perlu kita tanyakan adalah mana dalil dan bukti
bahwa makanan atau minuman ini haram. Kita tidak bertanya, mana dalil atau bukti yang
menyebabkan makanan ini menjadi halal dengan berkata: “mana dalil halalnya makannan dan obat
ini?”.

Begitu juga dalam hal duniawi lain, bepergian misalnya. Ketika hendak berpergian, hukum asalnya
kita boleh saja pergi ke mana saja sampai ada dalil yang mengharamkan kita dilarang pergi ke sana.
Bepergian yang terlarang misalnya pergi dan bertanya ke dukun dan paranormal untuk masalah
ghaib, masa depan dan peruntungan.

Dalil kaidah ini adalah bahwa dunia dan seisinya ini diperuntukkan untuk manusia dan manusia
boleh memanfaatkannya. Allah Ta’ala berfirman,

ُ‫ض فِي َما لَك ُْم َخلَقَُ الَّذِي ه َو‬


ُ ِ ‫َجمِيعًا ْاأل َ ْر‬
“Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu” (QS. Al Baqarah: 29).

Demikian juga dengan permasalahan vaksin misalnya. Hukum asalnya adalah halal walaupun ada isu
bahwa vaksin menggunakan enzim babi (ini juga perlu ketahui tekniknya, yaitu hanya sebagai
katalisator, tidak bercampur dengan unsur utama dan pada hasil akhir sudah tidak ada lagi). Sampai
ada bukti valid bahwa vaksin itu haram hukumnya. Kita pun bertanya kepada ulama, apakah ini
haram? Kita menceritakan cara kerjanya, cara pembuatannya atau menjelaskan realitanya kepada
ulama, kemudian ulama berijtihad dan menyimpulkan hukumnya. Jadi kita tidak bertanya: “mana
bukti dan dalil bahwa vaksin itu halal?”.

Dalam Ibadah maka hukum asalnya adalah haram

Berikut kaidah fikh mengenai hal ini,

ُ‫صل‬ ْ َ‫لَّ َو ْالب‬


ْ َ ‫طلُ اَلتَّحْ ِريْمُ اْل ِعبَا َدةُِ فِى األ‬ ُ ِ‫ل ال َُّد بِ ُِه َجا َُء َما إ‬
ُِ ‫لى ِل ْي‬
َُ ‫ع‬ ِ ‫ا َ َو‬
َ ‫امِرُِه‬

“Hukum asal dalam beribadah adalah haram dan batal kecuali yang ada dalil yang memerintahkan“

Misalnya shalat shubuh 3 rakaat, hukumnya haram kecuali ada dalil yang membolehkannya. Bukan
malah melegalkannya dengan bertanya mana dalil yang melarang shalat shubuh 3 rakaat? Sehingga
intinya, ketika ada klaim ibadah tertentu, maka kita harus bertanya apa dalil yang membolehkannya.
Bukan sebaliknya, kita bertanya mana dalil yang melarangnya.

Karena yang namanya ibadah itu harus berdasarkan wahyu dan mengikuti ajaran Nabi shalllahu
‘alaihi wa sallam. Kaidah fikih yang berbunyi:

َ ‫أل‬ ْ ‫ل الت َّ ْو ِقيِفُ َدُِة اْل ِع َبا فِى‬


ُ َ ‫صلُ ا‬ ُِ ْ‫ِت ِّ َباعُ َوا‬

“Hukum asal ibadah adalah tauqif dan ittiba’ (bersumber pada ketetapan Allah dan mengikuti
Rasul)“
Berdasarkan hadits-hadits, tidak boleh beramal tanpa ada tuntunan dari Rasulullah shalllahu ‘alaihi
wa sallam karena bisa tertolak, tidak diterima dan tidak mendapatkan pahala. Rasulullah shalllahu
‘alaihi wa sallam bersabda,

ُ‫ل َم ْن‬ َُ ً‫ل‬


َُ ِ‫عم‬ ُ ‫ع َم‬
َ ‫ْس‬ َ ُ‫َردُ فَه َُو نَا أ َ ْمر‬
َُ ‫علَ ْي ُِه لَي‬

“Barang siapa yang membuat suatu amalan dalam agama kita ini yang tidak ada tuntunannya
(contohnya), maka amalan tersebut tertolak”.

Demikian semoga bermanfaat.

Penulis: dr. Raehanul Bahraen

Artikel Muslim.or.id
http://www.halalmui.org/newMUI/index.php/main/detil_page/11/375

Bahan Haram Dalam Obat

Obat adalah produk farmasi yang terdiri dari bahan aktif dan bahan farmaseutik (bahan pembantu
eksipien). Jadi dalam satu obat bisa terbuat lebih dari 2 sampai 3 bahan. Perkembangan teknologi
proses pembuatan obat kini semakin maju dan membuat kita sebagai konsumen tidak menyadari
akan kandungan bahan obat yang ada dipasaran.

Sumber bahan aktif obat dan bahan farmaseutik bermacam-macam. Bisa berasal dari tumbuhan,
hewan, mikroba, bahan sintetik kimia, bahkan dari virus yang dilemahkan atau bahan yang berasal
dari manusia.

Baik bahan aktif maupun bahan farmaseutik memiliki titik kritis kehalalan. Hal ini dimungkinkan oleh
adanya perkembangan teknologi proses pembuatan dan produksi obat yang semakin maju. Selain itu
adanya juga kecenderungan khasiat yang diklaim sang produsen, obat hanya akan efektif jika
menggunakan bahan tertentu saja.

Perhatikan Bahan Aktif Obat

Titik kritis bahan aktif obat bisa dimulai dari asal muasal bahan aktif tersebut. Contoh bahan aktif
obat yang berasal dari hewan adalah protein, asam amino, vitamin, mineral, enzim, asam lemak dan
turunannya, khondroitin, darah, serum, plasma, hormon hingga karbon aktif. Jika berasal dari
hewan, maka hewannya harus hewan halal bukan hewan haram. Sebab bisa saja sebagian bahan
seperti protein, karbon aktif, khondroitin, asam lemak, dan mineral berasal dari babi, seperti tulang,
kulit, lemak hingga jeroannya. Jika berasal dari hewan halal maka proses penyembelihannya pun
harus sesuai dengan syariat Islam.Bagaimana dengan bahan aktif yang berasal dari mikroba. Bahan
aktif obat yang berasal dari mikroba tidak sepenuhnya bisa dimanfaatkan langsung oleh produsen.
Untuk mendapatkan bahan aktif dari mikroba tersebut diperlukan tahapan proses fermentasi. Pada
proses tersebut diperlukan bahan-bahan media. Contohnya adalah pada pembuatan vaksin. Media
pembiakan inilah yang mesti dikritisi, sebab sering menggunakan bahan media yang berasal dari
protein hewan, bisa dari babi maupun hewan lainnya. Belum lagi penggunaan bahan pasca
fermentasi seperti karbon aktif, yang diketahui bisa berasal dari tulang hewan.

Bahan aktif lain yang marak digunakan dalam industry obat-obatan adalah bahan aktif yang berasal
dari manusia. Seperti keratin rambut manusia untuk pembentukan sistein. Maupun placenta
manusia untuk obat-obatan, seperti obat luka bakar dan yang lainnya. Beberapa metode kedokteran
bahkan menggunakan ari-ari atau placenta ini untuk obat leukemia, kanker, kelainan darah, stroke,
liver hingga diabetes dan jantung.

Placenta itu adalah ari-ari, yang sangat berguna pada bayi saat berada di dalam rahim ibu. Pasalnya,
melalui organ ini janin memperoleh zat makanan dan kebutuhan hidup yang lainnya. Lantas
bagaimana dengan bahan aktif yang berasal dari tumbuhan dan sintetik kimia. Jangan senang dulu,
bahan aktif ini bisa saja bersinggungan atau terkontaminasi dengan bahan farmaseutik (penolong)
yang mesti dipertanyakan juga asal-usulnya. Contohnya penggunaan alkohol untuk mengisolasi
bahan aktif dari tumbuhan tersebut seperti alkaloid, glikosida dan bahan lainnya. Bahan yang berasal
dari tumbuhan ini bisa juga melalui proses fermentasi yang menghasilkan alkohol, seperti sari
mengkudu dan yang lainnya.

Sama halnya dengan bahan aktif yang berasal dari tumbuhan, bahan sintetik juga mesti diperhatikan
bahan campurannya. Bisa saja bahan penolong, dan campurannya bercampur atau terkontaminasi
bahan yang tidak jelas kehalalannya. Waspadai Bahan Tambahan Pembuatan Obat

Banyak obat menggunakan bahan farmaseutik sebagai bahan tambahan agar khasiat obat bisa
diserap oleh tubuh. Namun sayang tidak semua bahan farmaseutik itu jelas status kehalalannya.
Bahan farmaseutik terdiri dari 28 macam bahan, seperti yang tercantum di dalam tabel di bawah ini.

Bahan Pengasam

Bahan pembasah

Bahan penjerap

Bahan aerosol

Bahan pengawet

Antioksidan

Bahan pendapar

Bahan Pengkhelat

Bahan pengemulsi
Bahan pewarna

Bahan perisa

Bahan pelembab

Bahan pelembut

Bahan dasar salep

Bahan pengeras

Bahan pemanis

Bahan pensuspensi

Bahan penghancur tablet

Bahan pengisi tablet

Bahan penyalut

Bahan pelincir tablet

Bahan perekat tablet

Bahan pelumas

Bahan pengkilap

Bahan pengisotonis larutan

Pelarut/pembawa

Bahan enkapsulasi

Pengganti udara

Dari ke 28 jenis bahan farmaseutik tersebut terdapat beberapa bahan yang memiliki titik kritis
kehalalan. Yakni bahan pengemulsi, bahan pewarna, bahan perisa, bahan pengisi tablet, bahan
pengkilap, bahan pemanis, bahan pelarut dan bahan enkapsulasi.

Bahan tersebut memiliki titik kritis kehalalannya sebab bisa saja berasal dari bahan haram dan najis
seperti babi, alcohol, organ manusia maupun bahan hewani lain yang tidak jelas asal-usul maupun
proses penyembelihannya.
Selain yang disebutkan di atas, kita juga mesti mengkritisi kehalalan obat dalam dari bentuk
sediannya obatnya. Contohnya adalah obat berbentuk tablet. Bahan yang mesti diwaspadai dalam
proses pembuatan obat berbentuk tablet sering digunakan bahan magnesium stearat, monogliserida
yang berasal dari turunan lema. Demikian juga dengan obat berbentuk serbuk dan kaplet,
penggunaan laktosa dalam proses produksi obat serbuk adalah yang mesti diperhatikan, dimana
enzim hewani bisa saja berperan dalam pembuatan laktosa ini. Termasuk juga penggunaan bahan
pewarna.

Cangkang kapsul pun mesti diperhatikan, sebab sebagian besar bahan yang digunakan dalam proses
pembuatan kapsul mempergunakan gelatin. Seperti diketahui, bahwa gelatin bisa berasal dari tulang
maupun kulit hewan, seperti babi, sapi maupun ikan.

Tidak berhenti sampai di sini saja, obat berbentuk cair atau liquid juga mesti diperhatikan. Terutama
penggunaan etanol atau alkohol dan flavor (perasa) yang digunakan. Sebab bisa saja flavor tersebut
terbuat dari bahan penyusun (ingredient) dan pelarut yang tidak jelas kehalalannya.

Obat berbentuk pil dan injeksi (suntik) juga sama, bahan penyusun obat seperti gliserin yang bisa
saja berasal dari turunan lemak juga mesti diperhatikan. Termasuk juga penggunaan bahan gelatin
yang banyak digunakan. Demikian halnya penggunaan protein darah manusia dalam obat injeksi.
Etanol dan gliserin pun dapat digunakan dalam obat-berbentuk suntik tersebut. Contoh lain adalah
Insulin yang bisa berasal dari pankreas babi, atau lovenox (obat injeksi anti penggumpalan darah)
yang juga bisa berasal dari babi.

Oleh karena itu, kita sebagai konsumen mesti juga cermat dalam memilih obat-obatan. Sebab bukan
hanya ingin mendapatkan kesembuhan semata, namun juga ridha dari Allah SWT. Bertanya dan
mencari tahu bisa menjadi salah satu cara untuk menghindari kita dari obat-obatan yang tidak jelas
kehalalannya. APR & Ah (jurnal halal)