Está en la página 1de 16

ANTIHIPERLIPIDEMIA

1.1 Definisi
Hiperlipidemia adalah peningkatan salah satu atau lebih kolestrol
total, LDL ataua trigliserida, dan atau penurunan HDL (Wells, Dipiro,
Schwinghammer, dan Dipiro, 2009). Hiperlipidemia dapat terjadisecara
primer maupun sekunder, primer disebabkan oleh faktor genetik, sedangkan
sekundr disebabkan karena penyakit lain ( diabetes melitus, hipotiroid,
obesitas, dll) dan obat (diuretik, β-bloker, kontrasepsi oral, dll) (Priyanto,
2009).
Aterosklerosis merupakan suatu proses terjadinya penimbunan
lemak dan matriks turnika intima yang diikuti dengan pembukaan jaringan
ikat pada dinding pembuluh darah ( Kabo, 2010). Banyak penelitian
membuktikan bahwa kadar kolestrol total, lipoprotein, LDL dan VLDL yang
tinggi di dalam darah akan meningkatkan proses atreklerosis (Tomkin dan
Owes, 2012). Aterosklerosis yang terjadi pada arteri koroner, menyebabkan
ketidak seimbangan antara penyediaan dan kebutuhan oksigen segingga
terjadi penyakit jantung koroner (Price dan Wilson, 2005).
Kadar kolestrol total lebih dari 200 mg/dL akan meingkatkan
prevalensi penyakit jantung koroner (Stapleton, Goodwill, James, Brock, dan
Frisbee, 2010). Menurut riset kesehatan dasar Indonesia tahun 2007 penyakit
jantung koroner di Indonesia sebasar 22454 kasus (Departemen Kesehatan
Republik Indonesia, 2008). Sedangkan menurut Badan Perencanaan
Pembangunan Daerah Provinsi Jawa Tengah (2011), pada tahun 2008
terdapat 20068 kasus dan tahun 209 terdapat 26786 kasus penyakit jantung
koroner.
Obat antihiperlipidemia merupakan obat yang digunakan untuk
dislipidemia (misalnya dengan cara mengurangi level lemak pada darah).
Secara menyeluruh, biasanya obat-obat ini menurunkan jumlah kolesterol dan
LDL (low density lipoprotein) dalam darah dan meningkatkan HDL (high
density lipoprotein). Beberapa obat yang termasuk di dalamnya antara lain
statin (yang lebih dikenal sebagai HMG-CoA (Hydroxymethylglutaryl-
coenzim A) reductase inhibitor), fibrat, ezetimib, bile-acid binding resin
(resin pengikat asam empedu, misalnya colestipol, colestyramine) dan asam
nikotinat (niacin).
Hiperlipidemia adalah suatu keadaan yang ditandai oleh peingkatan
lipid/lemak darah melewati batas normal.
Berdasarkan jenisnya, hiperlipidemia dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Hiperlipidemia Primer
Banyak disebakan oleh karena kelaian genetik. Biasanya kelainan
ini ditemukan pada waktu pemeriksaan laboratorium secara kebetulan.
Pada umumnya tidak ada keluhan, kecuali pada keadaan yang agak berat
tampak adanya Xantoma (penumpukan lemak di bawah jaringan kulit).
2. Hiperlipidemia Sekunder
pada jenis ini, peningkatan kadar lipid darah disebabkan oleh suatu
penyakit tertentu, misal: diabetes mellitus, gangguan tiroid, penyakit
hepar dan penyakit ginjal. Hiperlipidemia sekunder bersifat reversible
(berulang). Ada dua juga obat-obatan yang menyebabkan gangguan
metabolisme lemak. Seperti β-bloker, diuretik, kontrasepsi oral (estrogen,
gestagen).
Lemak (disebut juga lipid) adalah zat yang kaya energi, yang berfungsi
sebagai sumber energi utama untuk proses metabolisme tubuh. Lemak
diperoleh dari makanan atau dibentuk di dalam tubuh, terutama di hati dan
bisa disimpan di dalam sel-sel lemak untuk digunakan di kemudian hari. Sel-
sel lemak juga melindungi tubuh dari dingin dan membantu melindungi tubuh
terhadap cedera. Lemak merupakan komponen penting dari selaput sel,
selubung saraf yang membungkus sel-sel saraf serta empedu. Dua lemak
utama dalam darah adalah kolesterol dan trigliserida. Lemak mengikat
dirinya pada protein tertentu sehingga bisa larut dalam darah; gabungan
antara lemak dan protein ini disebut lipoprotein. Lipoprotein yang utama
adalah :
1. Kilomikron
2. VLDL (Very Low Density Lipoproteins)
3. LDL (Low Density Lipoproteins)
4. HDL (High Density Lipoproteins)
Antihiperlipidemia berkaitan dengan obat-obatan yang digunakan
untukdislipidemia (yaitu terganggu kadar lipid dalam darah).
Dalam istilah sangat luas (dan idealnya) menurunkan kadar darah dari
density lipoprotein kolesterol (LDL), dan meningkatkan high density
lipoprotein (HDL). Obat tersebut termasuk statin (lebih tepat disebut HMG
CoA (hydroxymethylglutaryl-koenzim A) reduktase inhibitor), fibrate, resin
pengikat asam empedu (misalnya colestipol, colestyramine), asam nikotinat
(niacin) dan Penghambat absorpsi Kolesterol (Ezetimibe).
Sintesis dan metabolisme
1. Kilomikron
Kilomikron adalah lipoprotein yang paling besar, dibentuk di usus
dan membawa trigliserida yang berasal dari makanan. Beberapa ester
kolestril juga terdapat pada kilomikron. Kilomikron melewati duktus
toraksikus ke aliran darah. Trigliserida dikeluarkan dari kilomikron pada
jaringan ekstrahepatis melalui suatu jalur yang berhubungan dengan
VLDL yang mencakup hidrolisi oleh sistem lipase lipoprotein (LPL),
suatu penurunan progresif pada diameter partikel terjadi ketika trigliserida
di dalam inti tersebut dikosongkan. Lipid permukaan , yakni apo-A-1, apo-
A-II, dan apo-C, ditransfer ke dalam hepatosit.
2. Lipoportein berdensitas sangat rendah (VLDL)
Hati mensekresikan VLDL yang berfungsi sebagai sarana untuk
mengekspor trigliserida ke jaringan perifer. VLDL mengandung Apo-B-
100 dan Apo-C. trigliserida VLDL dihidrolisis oleh lipase lipoprotein
menghasilkan asam lemak bebas untuk disimpan didalam jaringan seperti
di otot jantung dan otot rangka. Hasil dari deplesi trigliserida
menghasilkan sisa yang disebut lipoprotein berdensitas menengah (IDL).
Partikel LDL mengalami endositosis secara langsung oleh hati, sisa HDL
dikonversi menjadi LDL dengan menghilangkan trigliserida yang
diperantaraioleh lipase hati. Proses tersebut menjelaskan fenomena klinis
pergeseran beta (beta shift). Peningkatan VLDL dalam plasma dapat
disebabkan karena peningkatan sekresi precursor VLDL dan juga
penurunan katabolisme LDL.
3. Lipoprotein berdensitas rendah (LDL)
Katabolisme LDL terutama terjadi didalam hepatosit dan dalam
sebagian besar sel bernukleus melibatkan endositosis yang diperantarai
oleh reseptor berafinitas tinggi. Ester kolesteril dari inti LDL kemudian
dihidrolisis, yang menghasilkan kolesterol bebas untuk sintesis membrane
sel. Ses-sel juga mendapatkan kolesterol dari sintesis de-novo melalui
suatu jalur yang melibatkan pembentukan asam mevalonat yang dikatalisis
oleh HMG koA reduktase. Hati memainkan peran utama dalam
pengolahan kolesterol tubuh. Tidak seperti sel lainnya, hepatosit mampu
mengeliminasi kolesterol dari tubuh melalui sekresi kolesterol dalam
empedu dan mengkonversikan kolesterol menjadi asam empedu yang juga
disekresikan dalam empedu.
4. Lipoprotein Berdensitas Tinggi (HDL)
Apolipoprotein disekresi oleh hati dan usus. Sebagian besar lipid
dari permukaan satu lapis kilomikron dan VLDL selama liposis. HDL juga
mendapatkan kolesterol dari jaringan perifer dari suatu jalur yang
melindungi homeostasis kolesterol sel. HDL juga dapat membawa ester
kolestril langsung ke hati melalui suatu reseptor pengait/ docking (reseptor
scavenger, SR-BI) yang tidak melakukan endositosis terhadap lipoprotein
(Bertram, Katzung).
Interaksi obat dan efek samping obat perlu mendapat perhatian. Sebuah
studi di Amerika menunjukkan bahwa setiap tahun hamper 100.000 orang
harus masuk rumah sakit atau harus tinggal di rumah sakit lebih lama dari
pada seharusnya, bahkan hingga terjadi kasus kematian karena interaksi
dan/atau efek samping obat. Pasien yang dirawat di rumah sakit sering
mendapat terapi dengan polifarmasi (6-10 macam obat) karena sebagai subjek
untuk lebih dari satu dokter, sehingga sangat mungkin terjadi interaksi obat
terutama yang dipengaruhi tingkat keparahan penyakit atau usia.
Interaksi obat yang tidak diinginkan dapat dicegah bila kita mempunyai
pengetahuan farmakologi tentang obat-obat yang dikombinasikan. Tetapi
haruslah diakui bahwa pencegahan itu tidaklah semudah yang kita
bayangkan, mengingat jumlah interaksi yang mungkin terjadi pada orang
penderita yang menerima pengobatan polypharmacy cukup banyak.

2.2 KLASIFIKASI PENYAKIT


Hiperlipidemia herediter ( hiperlipoproteinemia) adalah kadar kolseterol
dan trigliserida yang sangat tinggi, yang sifatnya diturunkan. Hiperlipidemia
herediter mempengaruhi system tubuh dalam fungsi metabolisme dan
membuang lemak (Balai Informasi Tekhnologi Lipi, 2009). Terdapat 5 jenis
hiperlipoproteinemia yang masing-masing memiliki gambaran lemak darah
serta resiko yang berbeda :
1. Hiperlipoproteinemia tipe I
Disebut juga hiperkilomikronemia familial, merupakan penyakit
keturuan yang jarang terjadi dan ditemukan pada saat lahir. Dimana tubuh
penderita tidak mampu membuang kilomikron dari dalam darah. Anak-
anak dan dewasa muda dengan kelainan ini mengalami serangan berulang
dari nyeri perut. Hati dan limpa membesar, pada kulitnya terdapat
pertumbuhan lemak berwarna kuning pink (xantoma eruptif). Pemeriksaan
darah menunjukkan kadar trigliserida yang sangat tinggi. Penyakit ini
tidak menyebabkan terjadi aterosklerosis tetapi bisa menyebabkan
pankreatitis, yang bisa berakibat fatal Penderita diharuskan menghindari
semua jenis lemak (baik lemah jenuh, lemak tak jenuh maupun lemak tak
jenuh ganda).
2. Hiperlipoproteinemia tipe II
Disebut juga hiperkolesterolemia familial, merupakan suatu
penyakit keturunan yang mempercepat terjadinya aterosklerosis dan
kematian dini, biasanya karena serangan jantung. Kadar kolesterol
LDLnya tinggi. Endapan lemak membentuk pertumbuhan xantoma di
dalam tendon dan kulit. 1 diantara 6 pria penderita penyakit ini mengalami
serangan jantung pada usia 40 tahun dan 2 diantara 3 pria penderita
penyakit ini mengalami serangan jantung pada usia 60 tahun. Penderita
wanita juga memiliki resiko, tetapi terjadinya lebih lambat. 1 dari 2 wanita
penderita penyakit ini akan mengalami serangan jantung pada usia 55
tahun. Orang yang memiliki 2 gen dari penyakit ini (jarang terjadi) bisa
memiliki kadar kolesterol total sampai 500-1200 mg/dL dan seringkali
meninggal karena penyakit arteri koroner pada masa kanak-kanak.
Tujuan pengobatan adalah untuk menghindari faktor resiko, seperti
merokok, dan obesitas, serta mengurangi kadar kolesterol darah dengan
mengkonsumsi obat-obatan. Penderita diharuskan menjalani diet rendah
lemak atau tanpa lemak, terutama lemak jenuh dan kolesterol serta
melakukan olah raga secara teratur. Menambahkan bekatul gandum pada
makanan akan membantu mengikat lemak di usus. Seringkali diperlukan
obat penurun lemak.
3. Hiperlipoproteinemia tipe III
Merupakan penyakit keturunan yang jarang terjadi, yang
menyebabkan tingginya kadar kolesterol VLDL dan trigliserida. Pada
penderita pria, tampak pertumbuhan lemak di kulit pada masa dewasa
awal. Pada penderita wanita, pertumbuhan lemak ini baru muncul 10-15
tahun kemudian. Baik pada pria maupun wanita, jika penderitanya
mengalami obesitas, maka pertumbuhan lemak akan muncul lebih awal.
Pada usia pertengahan, aterosklerosis seringkali menyumbat arteri dan
mengurangi aliran darah ke tungkai. Pemeriksaan darah menunjukkan
tingginya kadar kolesterol total dan trigliserida. Kolesterol terutama terdiri
dari VLDL. Penderita seringkali mengalami diabetes ringan dan
peningkatan kadar asam urat dalam darah. Pengobatannya meliputi
pencapaian dan pemeliharaan berat badan ideal serta mengurangi asupan
kolesterol dan lemak jenuh. Biasanya diperlukan obat penurun kadar
lemak. Kadar lemak hampir selalu dapat diturunkan sampai normal,
sehingga memperlambat terjadinya aterosklerosis.
4. Hiperlipoproteinemia tipe IV
Merupakan penyakit umum yang sering menyerang beberapa
anggota keluarga dan menyebabkan tingginya kadar trigliserida. Penyakit
ini bisa meningkatkan resiko terjadinya aterosklerosis. Penderita seringkali
mengalami kelebihan berat badan dan diabetes ringan. Penderita
dianjurkan untuk mengurangi berat badan, mengendalikan diabetes dan
menghindari alkohol. Bisa diberikan obat penurun kadar lemak darah.
5. Hiperlipoproteinemia tipe V
Merupakan penyakit keturunan yang jarang terjadi, dimana tubuh
tidak mampu memetabolisme dan membuang kelebihan trigliserida
sebagaimana mestinya. Selain diturunkan, penyakit ini juga bisa terjadi
akibat :
Penyalahgunaan alcohol
Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik
Gagal ginjal
Makan setelah menjalani puasa selama beberapa waktu.
Jika diturunkan, biasanya penyakit ini muncul pada masa dewasa
awal. Ditemukan sejumlah besar pertumbuhan lemak (xantoma) di kulit,
pembesaran hati dan limpa serta nyeri perut. Biasanya terjadi diabetes
ringan dan peningkatan asam urat. Banyak penderita yang mengalami
kelebihan berat badan. Komplikasi utamanya adalah pankreatitis, yang
seringkali terjadi setelah penderita makan lemak dan bias berakibat fatal.
Pengobatannya berupa penurunan berat badan, menghindari lemak dalam
makanan dan menghindari alkohol. Bisa diberikan obat penurun kadar
lemak.

2.3 Etiologi
Penyebab primer, yaitu faktor keturunan (genetik), sedangkan
penyebab sekunder, seperti:
1. Usia
Kadar lipoprotein terutama LDL meningkat sejalan dengan
bertambahnya usia
2. Jenis kelamin
Pria memliki kadar LDL lebih tinggi dalam keadaan normal, tetapi
monopause kadarnya pada wanita mulai meningkat.
3. Riwayat keluarga dengan hperlipidemia
4. Obesitas
5. Menu makanan yang engandung asam lemak jenuh, seperti : mentega,
margarin, whole, milk es krim, keju, daging.
6. Kurang melakukan olahraga
7. Penggunaan alkohol
8. Merokok Sigaret
9. Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik
Sebagian besar kasus peningkatan kadar trigliserida dan kolesterol total
bersifat sementara dan tidak berat, dan terutama merupakan akibat dari makan
lemak. Pembuangan lemak dari darah pada setiap orang memiliki kecepatan
yang berbeda. Seseorang bisa makan sejumlah besar lemak hewani dan tidak
pernah memiliki kadar kolesterol total lebih dari 200 mg/dl, sedangkan yang
lainnya menjalani diet rendah lemak yang ketat dan tidak pernah memiliki
kadar kolesterol total di bawah 260mg/dl. Perbedaan ini tampaknya bersifat
genetik dan secara luas berhubungan dengan perbedaan kecepatan masuk dan
keluarnya lipoprotein dari aliran darah (Balai Informasi Tekhnologi Lipid,
2009).

2.4 Patofisiologi
Kolestrol adalah jenis lemak yang ada dalam tubuh dan dibagi menjadi
LDL, HDL, total kolestrol dan Trigliserida dari hati, kolestrol di angkut oleh
lipoprtotein yang bernama LDL (low Density Lipoprotein) untuk di bawah ke
sel-sel tubuh yang memerlukan, termasuk ke sel otot jantung, otak dan lain-
lain agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
HDL (high Density Lippoprotein) adalah bentuk lipoprotein yang
memiliki komponen kolestrol paling sedikit. Dibentuk di usus dan hati. HDL
ini akan menyerap kolestrol bebas dari pembuluh darah, atau bagian tubuh
yang lain seperti sel makrofag, kemudian membawanya ke hati. VLDL (very
Low Density Lipoprotein) adalah lipoprotein yang dibentuk di hati yang
kemudian akan diubah di pembuluh darah menjadi LDL. Bentuk Lipoprotein
ini memiliki kolesterol paling banyak dan akan membawa kolesterol tersebut
ke jaringan seperti dinding pembuluh darah (Jeffry Tenggara, 2008).
Kelebihan kolesterol akan diangkat kembali oleh lipoprotein yang
disebut HDL (High Density Lipoprotein) untuk dibawa kembali ke hati yang
selanjutnya akan diuraikan lalu dibuang ke dalam kantung empedu sebagai
asam (cairan) empedu. LDL mengandung lebih banyak lemak dari pada HDL
sehingga ia akan mengambang di dalam darah. Protein utama yang
membentuk LDL adalah Apo-B (Apolipoprotein-B). LDL dianggap sebagai
lemak yang “jahat” karena dapat menyebabkan penempelan kolesterol di
dinding pembuluh darah. Sebaliknya, HDL disebut sebagai lemak yang
“baik” karena dalam operasinya ia membersihkan kelebihan kolesterol dari
dinding pembuluh darah dengan mengangkutnya kembali ke hati. Protein
utama yang membentuk HDL Apo-a (Apolipoprotein-A). HDL ini
mempunyai kandungan lemak lebih sedikit dan mempunyai kepadatan tinggi
sehingga lebih berat. Konsentrasi kolesterol pada HDL dan LDL atau VLDL
lipoprotein adalah prediktor kuat untuk penyakit jantung koroner. HDL
fungsional menawarkan perlindungan dengan cara memindahkan kolesterol
dari sel dan atheroma. Konsentrasi tinggi dari LDL dan konsentrasi rendah
dari HDL fungsional sangat terkait dengan penyakit kardiovaskuler karena
beresiko tinggi terkena ateroklerosis. Keseimbangan antara HDL dan LDL
semata-mata ditentukan secara genetikal, tetapi dapat diubah dengan
pengobatan, pemilihan makanan dan faktor lainnya (Anonim, 2008).
2.5 Diagnosa
Dilakukan pemeriksaan darah untuk mengukur kadar kolestrol total.
Untuk mengukur kadar kolestrol LDL, HDL, dan trigliserida sebaiknya
penderita berpuasa dulu minimal selama 12 jam. Hiperlipidemia memiliki
gejala seperti:
1. Sakit dada
2. Jantung berdebar
3.Berkeringat
4.Cemas
5.Nafas pendek
6.Hilangnya kesadaran atau kesulitan berbicara atau bergerak
7.Sakit abdominal
8.Kematian mendadak
1. Keluhan pokok
- Kemungkinan keturunan
- Kadang-kadang tanpa keluhan
2. Tanda penting
- Xantomatosis
3. Pemeriksaan laboratorium
- Kolesterol (< 200mg%)
- Trigliserida (>200 mg%)
- HDL (> 45 mg %)
- LDL (> 130 mg %)
- Rasio kolestrol total atau HDL harus kurang dari 5

2.6 Terapi Farmakologi dan Non Farmakalogi


Tujuan terapi hiperlipidemia adalah untuk mengurangi resiko pertama
dan kekambuhan terjadinya serangan seperti miokardiak infark, angina
pektoris, gagal jantung, iskemia, stroke, dan bentuk lain dari penyakit arteri
perifer seperti stenosis karotis dan anuerisma aorta.
Pendekatan Umum Terapi
Pendekatan umum terapi hiperlipidemia adalah dengan menetapkan
perubahan yang konsisten tercapai kadar lipid yang optimal dengan
memaksimalkan terapi nonfarmakologis dan mengurangi terapi farmakologis.
Terapi nonfarmakologis yang direkomendasikan diantaranya:
1. Mengurangi asupan lemak jenuh dan kolesterol
2. Pilihan diet untuk mengurangi LDL seperti stanol dan sterol tumbuhan
dan meningkatkan asupan serat larut
3. Penurunan berat badan
4. Peningkatan aktivitas fisik, kecuali pada pasien dengan penyakit arteri
koroner, kegiatn fisik ini harus dievaluasi.
Terapi Nonfarmakologis
Diet individual dengan mengganti asupan makanan yang kurang sehat
diperlukan untuk mencapai efek maksimal. Tujuan terapi diet adalah untuk
mengurangi asupan lemak total, lemak jenuh dan kolesterol secara progresif
dan untuk mencapai berat badan yang diinginkan. Diet ala Amerika saat ini
yaitu 13-20% kalori berasal dari lemak jenuh, dan asupan kolesterol sebesar
350-450 mg/hari jauh melebihi kebutuhan jantung sehat pada orang normal,
terlebih pada pasien dengan hiperlipidemia. Kelebihan asupan lemak jenuh
dan kolesterol menyebabkan penurunan pembersihan LDL oleh hati, sehingga
menyebabkan pengendapan dan oksidasi LDL pada jaringan perifer. Asam
lemak jenuh target merupakan asam lemak dengan rantai karbon panjang
seperti asam laurat (C12), asam miristat (C14), dan asam palmitat (C16).
Dasar pemikiran terapi nonfarmakologis dengan nutrisi seimbang
rendah asam lemak jenuh, dan rendah kolesterol dalam pengobatan
hiperlipidemia didasarkan pada prinsip-prinsip berikut:
1. Merupakan diet yang wajar yang dianjurkan pada masyarakat umum
2. Menurunkan secara progresif jumlah kolesterol dari diet
3. Memfasilitasi penurunan berat badan dengan makanan berkalori tinggi
Keahlian dalam pemilihan bahan makanan dan kebiasaan dalam belanja
bahan makanan juga menentukan keberhasilan diet. Banyak produk yang
dipasarkan dengan informasi dalam label yang menyesatkan, sebagai
contoh creamer sering kali diberi labet "no cholesterol" namun mungkin
mengandung asam lemak jenuh terhidrogenasi atau minyak seperti asam
palmitat, minyak palm atau minyak sawit. Variasi komposisi asam lemak
jenuh, asam lemak tak jenuh dan kolesterol sangat mempengaruhi konsentrasi
LDL, kolesterol memberikan pengaruh yang lebih besar pada peningkatan
kadar LDL. Kadar LDL juga dipengaruhi oleh perbedaan ras, kelompok ras
putih dengan diet tinggi asam lemak jenuh menghasilkan lebih banyak LDL
dibandingkan kelompok ras lainnya. Bentuk isomer asam lemak tak jenuh
juga berpengaruh, isomer cis memberikan efek pembersihan LDL darah
dengan lebih baik dan mengurangi produksi LDL endogen. Sedangkan
isomer trans tidak dapat dimetabolisme dan tidak berpengaruh pada kadar
LDL, namun senyawa itu menyebabkan masalah kesehatan tersendiri.
Idealnya terapi modifikasi gaya hidup yang meliputi penurunan asupan
lemak jenuh dan kolesterol, peningkatan stanol/sterol dan asupan serat,
pengurangan berat badan, peningkatan aktivitas fisik harus digunakan untuk
menurunkan kadar kolesterol LDL dan menurunkan resiko penyakit jantung
koroner. Terapi modifikasi ini seyogyanya dapat meniadakan terapi dengan
antihiperlipidemia, atau setidaknya mengurangi dosis pemakaiannya. Kontrol
berat badan dan peningkatan aktivitas fisik adalah pendekatan manajemen
utama dalam penyakit sindrome metabolisme, tentu saja dibarengi dengan
peningkatan kolesterol HDL dan penurunan kolesterol non HDL.
Terapi Farmakologis
Ada banyak uji klinis yang menunjukan penurunan LDL berimplikasi
terjadinya penurunan resiko penyakit jantung koroner dalam pencegahan
primer, intervensi sekunder dang angiografi. Secara umum untuk setiap
penurunan 1% kadar LDL menurunkan resiko penyakit jantung koroner 1%
pula. Sedangkan peningkatan 1% HDL menurunkan resiko penyakit jantung
koroner sebesar 2%. Ada banyak obat yang efektif menurunkan kadar lipi
darah, namun tidak ada obat yang efektif pada semua gangguan lipoprotein,
dan semua obat tersebut berhubungan dengan beberapa efek samping yang
mungkin merugikan. Obat-obat penurun lipid dikelompokan menurut
mekanisme kerjanya sebagai berikut:
1. Obat yang menurunkan sekresi LDL dan VLDL
2. Obat yang meningkatkan katabolisme LDL
3. Obat yang meningkatkan bersihan VLDL
4. Obat yang mengurangi penyerapan kolesterol
5. Obat yang meningkatkan sekresi HDL
6. Kombinasi beberapa mekanisme tersebut diatas
Terapi hiperlipoproteinemia tipe 1 tidak memerlukan obat, namun dapat
dilakukan dengan diet rendah lemak untuk mengurangi asupan kilomikron
dan menurunkan level trigliserida darah. Asupan lemak total harian sebaiknya
tidak lebih dari 10-25 gram, atau sekitar 15% dari total kalori.
Hiperlipoproteinemia tipe V juga membutuhkan pembatasan ketat lemak dari
asupan makanan dan terapi obat dikontraindikasikan.
Hiperkolesterolemia primer (yaitu hiperkolesterolemia famial,
hiperlipidemia familial campuran, dan hiperlipoproteinemia tipe IIa) dapat
diterapi dengan resin asam empedu dan sequestrans (kolestipol, kolestiramin,
dan kolesevelam), HMG-CoA reduktase (statin), niasin dan ezetimibe. Statin
merupakan pilihan pertama yang paling ampuh untuk menurunkan LDL.
Selain dengan mengganggu konversi HMG-CoA menjadi mevalonat, HMG-
CoA reduktase juga menghambat biosintesis kolesterol de novo. Obat yang
termasuk dalam golongan ini meliputi lovastatin, pravastatin, simvastatin,
fluvastatin, atorvastatin dan rosuvastatin. Rosuvastatin memiliki potensi
paling besar.
Berikut ini daftar obat terhadap efek pada lipid dan lipoprotein:
1. Sequestran (kolestipol, kolestiramin dan kolesevam), bekerja dengan
meningkatkan katabolisme LDL, dan menurunkan absorpsi kolesterol
sehingga menyebabkan penurunan kadar kolesterol dalam darah
(penurunan LDL, peningkatan VLDL). Masalah dalam penggunaan obat
ini berhubungan dengan kepatuhan pasien dan obat ini dapat mengikat
obat-obat yang bersifat asam juga digunakan bersamaan.
2. Probukol, bekerja dengan meningkatkan bersihan LDL sehingga
menurunkan konsentrasi kolesterol darah (menurunkan LDL dan HDL).
Efek rendahnya HDL dapat menyebabkan terhambatnya oksidasi LDL dan
dapat menyebabkan transpor baik kolesterol.
3. Niasin, bekerja dengan menurunkan sintesis LDL dan VLDL, sehingga
menurunkan kadar kolesterol dan trigliserida darah (menurunkan LDL dan
VLDL, meningkatkan HDL). Obat ini dapat menimbulkan flushing.
4. Gemfibrozil, fenofibrat dan klofibrat, bekerja dengan meningkatkan
bersihan VLDL dan menurunkan sintesisnya sehingga menurunkan kadar
kolesterol dan trigliserida darah (menurunkan HDL dan LDL,
meningkatkan HDL). Klofibrat dapat menyebabkan batu empedu.
Gemfibrozil menghambat glukoronidase simvastatin, lovastatin dan
atorvastatin.
5. Statin, bekerja dengan meningkatkan katabolisme LDL dan menghambat
sintesisnya sehingga menurunkan kadar kolesterol darah. Efektif untuk
hiperkolesterolemia familial heterozigot.
6. Ezetimibe, bekerja dengan menghambat absorpsi kolesterol (menurunkan
LDL)
Pemilihan obat yang sesuai dengan tipe gangguan lipoproteinnya dapat
didasarkan pada panduan berikut:
1. Hiperlipoproteinemia tipe I tidak diindikasikan penggunaan obat, terapi
cukup dengan terapi nonfarmakologis
2. Hiperlipoproteinemia tipe IIa dapat diterapi dengan statin tunggal atau
dikombinasikan dengan niasin atau resin asam empedu, niasin tunggal atau
dikombinasikan dengan statin atau resin asam empedu atau ezetimibe,
kolestiramin atau kolestipol tunggal atau dikombinasi dengan statin atau
niasin.
3. Hiperlipoproteinemia tipe IIb dapat diterapi dengan statin tunggal atau
kombinasi dengan resin batu empedu/fibrat/niasin, atau fibrat tunggal atau
kombinasi dengan statin/niasin/resin batu empedu, atau niasin tunggal atau
dikombinasi.
4. Hiperlipoproteinemia tipe III dapat diterapi dengan niasin atau fibrat atau
kombinasi keduanya.
5. Hiperlipoproteinemia tipe IV dapat diterapi dengan niasin atau fibrat atau
kombinasi keduanya.
6. Hiperlipoproteinemia tipe V dapat diterapi dengan niasin atau fibrat atau
kombinasi keduanya, atau kombinasi niasin dan minyak ikan.
Sedangkan panduan dosisnya adalah sebagai berikut:
1. Kolestiramin, 3x8 gram, maksimum 32 gram/hari (sediaan 4
gram/bungkus, atau 4 gram/bar)
2. Kolesevelam, 2x1875 mg, maksimum 4375 mg/hari (sediaan tablet 625
mg)
3. Niasin extended release, 1x500 mg, maksimum 2000 mg ( sediaan tablet
500, 750 dan 1000 mg)
4. Niasin, 2x2 gram, maksimum 9 gram
5. Niasin extended release 500 mg + lovastatin 20 mg, maksimum niasin
1000 mg + lovastatin 20 mg perhari
6. Klofibrat 2x1 gram, maksimum 2 gram/hari
7. Fenofibrat, 54 atau 67 mg/hari, maksimum 201 mg/hari
8. Gemfibrozil, 2x600 mg, maksimum 1200 mg/hari
9. Lovastatin, 20-40 mg, maksimum 80 mg/hari
10. Pravastatin, 10-20 mg, maksimum 40 mg/hari
11. Simvastatin, 10-20 mg, maksimum 80 mg/hari
12. Atorvastatin, 10 mg, maksimum 80 mg/hari
13. Rosuvastatin, 5 mg, maksimum 40 mg/hari
14. Ezetimibe, 10 mg, maksimum 10 mg/hari
15. Atorvastatin 10 mg + amlodipin 5 mg, maksimum atorvastatin 80 mg +
amlodipin 10 mg perhari
16. Pravastatin 20 mg + aspirin 81 mg
17. Simvastatin 20 mg + ezetimibe 10 mg, maksimum simvastatin 40 mg +
ezetimibe 10 mg