Está en la página 1de 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Campak dalam sejarah anak telah dikenal sebagai pembunuh terbesar,
meskipun adanya vaksin telah dikembangkan lebih dari 30 tahun yang lalu, virus
campak ini menyerang 50 juta orang setiap tahun dan menyebabkan lebih dari 1 juta
kematian. Insiden terbanyak berhubungan dengan morbiditas dan mortalitas penyakit
campak yaitu pada negara berkembang, meskipun masih mengenai beberapa negara
maju seperti Amerika Serikat.
Campak adalah salah satu penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan
imunisasi dan masih masalah kesehatan di Indonesia. Penyakit ini umumnya
menyerang anak umur di bawah lima tahun ( balita ) akan tetapi campak bisa
menyerang semua umur. Campak telah banyak diteliti, namun masih banyak terdapat
perbedaan pendapat dalam penanganannya. Imunisasi yang tepat pada waktunya dan
penanganan sedini mungkin akan mengurangi komplikasi penyakit ini.
Campak adalah penyakit menular yang dapat menginfeksi anak-anak pada
usia dibawah 15 bulan, anak usia sekolah atau remaja. Penyebaran penyakit
Campak berdasarkan umur berbeda dari satu daerah dengan daerah lain, tergantung
dari kepadatan penduduknya, terisolasi atau tidaknya daerah tersebut. Pada daerah
urban yang berpenduduk padat transmisi virus Campak sangat tinggi.
Berdasarkan tempat penyebaran penyakit Campak berbeda, dimana daerah
perkotaan siklus epidemi Campak terjadi setiap 2-4 tahun sekali, sedangkan di
daerah pedesaan penyakit Campak jarang terjadi, tetapi bila sewaktu-waktu
terdapat penyakit Campak maka serangan dapat bersifat wabah dan menyerang
kelompok umur yang rentan
Campak merupakan penyakit endemis, terutama di Negara yang sedang
berkembang seperti Indonesia. Karena hampir semua anak Indonesia yang mencapai
usia 5 tahun pernah terserang penyakit campak, walaupun yang dilaporkan hanya
sekitar 30.000 kasus pertahun.
Mortalitas/kematian kasus campak yang dirawat inap di Rumah Sakit pada
tahun 1982 adalah sebesar 73 kasus kematian dengan angka fatalitas kasus atau case
fatality rate (CFR) sebesar 4,8%. Kemudian pada tahun 1984-1988 berdasarkan studi
kasus di rawat inap di rumah sakit terjadi peningkatan kasus pada bulan maret,dan
mencapai puncak pada bulan mei,agustus,September dan oktober. Dengan
menunjukkan proporsi yang terbesar dalam golongan umur balita dengan perincian
17,6% berumur<1 tahun, 15,2% berumur 1 tahun, 20,3% berumur 2 tahun, 12,3%
berumur 3 tahun dan 8,2% berumur 4 tahun. Wabah terjadi pada kelompok anak
yang rentan terhadap campak,yaitu daerah dengan populasi balita banyak mengidap
gizi buruk dan daya tahan tubuh yang lemah serta daerah dengan cakupan imunisasi
yang rendah.
Distribusi kelompok umur pada KLB umumnya terjadi pada kelompok umur
1-4 tahun dan 5-9 tahun, dan pada beherapa daerah dengan cakupan imunisasi tinggi
dan merata cenderung bergeser pada kelompok umur yang lebih tua (10-I4 tahun).
Selanjutnya kasus campak mengalami penurunan sebesar 80% pada tahun 1996 (16
kematian,CFR 0,6%).

1.2 Tujuan
1.2.1 Untuk mengetahui Definisi Campak.
1.2.2 Untuk mengetahui Klasifikasi Campak.
1.2.3 Untuk mengetahui Etiologi Campak.
1.2.4 Untuk mengetahui Manifestasi Klinis Campak.
1.2.5 Agar kita mengetahui Patofisiologi Campak.
1.2.6 Agar kita mengetahui Pemeriksaan Diagnostik Campak.
1.2.7 Agar kita mengetahui Penatalaksanaan Campak.
1.2.8 Agar kita mengetahui Pencegahan Campak.
1.2.9 Agar kita mengetahui Komplikasi Campak.
1.2.10 Agar kita mengetahui Prognosis Campak.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Campak


Campak atau Rubeola adalah suatu infeksi virus yang sangat menular.Penyakit
ini ditandai oleh beberapa gejala, diantaranya demam, batuk, konjungtivis
(peradangan pada selaput ikat mata/ konjungtiva) serta terdapatnya ruam kulit.
Penyakit campak adalah penyebab kematian terbesar bayi dan anak dengan usia 1-4
tahun. Setiap tahunnya, 30.000 anak di Indonesia diperkirakan meninggal akibat
komplikasi campak.Penyakit campak juga berpotensi menyebabkan KLB (Kejadian
Luar Biasa) atau pandemik. (Cahyono, 2010)

2.2 Klasifikasi Campak


Penyakit campak terdiri dari 3 stadium,yaitu:
1. StadiumKataral(prodormal)
Biasanya stadium iniberlangsung selama4-5 haridengan gejalademam, malaise,
batuk, fotofobia, konjungtivitis dan koriza.Menjelangakhirstadium kataral dan 24
jam sebelum timbul eksantema, timbul bercak Koplik. Bercak Koplik berwarna
putih kelabu, sebesar ujung jarum timbul pertama kali pada mukosa bukal yang
menghadap gigi molar dan menjelang kira-kira hari ke 3 atau 4 dari masa
prodormal dapat meluas sampai seluruh mukosa mulut.Secara klinis, gambaran
penyakit menyerupai influenza dan sering didiagnosis sebagai influenza.
2. Stadium Erupsi
Stadium ini berlangsung selama 4-7 hari.Gejala yang biasanya terjadi adalah koriza
dan batuk-batuk bertambah.Timbul eksantema dipalatum durum dan palatum
mole.Kadang terlihat pula bercak Koplik.Terjadinya ruam atau eritema yang
berbentuk makula-papula disertai naiknya suhu badan.Mula-mula eritema timbul
dibelakang telinga, dibagian atas tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang
bawah. Kadang-kadang terdapat perdarahan ringan pada kulit.Rasa gatal, muka
bengkak.Ruam kemudian akanmenyebar kedada dan abdomen dan akhirnya
mencapai anggota bagian bawah pada hari ketiga dan akan menghilang
denganurutan seperti terjadinya yang berakhir dalam 2-3hari.
3. Stadium konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua (hiperpigmentasi)
yang lama-kelamaan akanmenghilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak
Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik.Selanjutnya suhu menurun
sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi.

2.3 Etiologi Campak


Penyebab campak adalah measles virus (MV), genus virus morbili,
familiparamyxoviridae. Virus ini menjadi tidak aktif bila terkena panas, sinar, pH
asam, ether, dan trypsin dan hanya bertahan kurang dari 2 jam di udara terbuka. Virus
campak ditularkan lewat droplet, menempel dan berbiak pada epitel nasofaring. Virus
ini masuk melalui saluran pernafasan terutama bagian atas, juga kemungkinan melalui
kelenjar air mata. Dua sampai tiga hari setelah invasi, replikasi dan kolonisasi
berlanjut pada kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. Virus
menyebar pada semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah
5-7 hari dari infeksi awal. Adanya giant cells dan proses keradangan merupakan dasar
patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru. Juga terdapat udema, bendungan dan
perdarahan yang tersebar pada otak. Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan
kulit menyebabkan batuk, pilek, mata merah (3 C : coryza, cough and conjuctivitis)
dan demam yang makin lama makin tinggi. Gejala panas, batuk, pilek makin lama
makin berat dan pada hari ke 10 sejak awal infeksi (pada hari penderita kontak dengan
sumber infeksi) mulai timbul ruam makulopapuler warna kemerahan. Virus dapat
berbiak juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan gejala klinik encefalitis.
Setelah masa konvelesen pada turun dan hipervaskularisasi mereda dan menyebabkan
ruam menjadi makin gelap, berubah menjadi desquamasi dan hiperpigmentasi. Proses
ini disebabkan karena pada awalnya terdapat perdarahan perivaskuler dan infiltrasi
limfosit.

2.4 Manifestasi Klinis Campak


1. Inkubasi
Biasanya tanpa gejala dan berlangsung 10-12 hari.
2. Prodromal
Biasanya berlangsung 2-5 hari. Gejala yang utama muncul adalah
demam, yang terus meningkat hingga mencapai puncaknya suhu 39,40–
40,60C pada hari ke- 4 atau 5, yaitu pada saat ruam muncul. Gejala lain yang
juga bisa muncul batuk, pilek, farings merah, nyeri menelan, stomatitis, dan
konjungtivitis.
Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dikelilingi
eritema hampir selalu didapatkan pada akhir stadium prodromal. Bercak
Koplik ini muncul pada 1-2 hari sebelum muncul rash (hari ke-3 – 4) dan
menghilang setelah 1-2 hari munculnya rash. Cenderung terjadi berhadapan
dengan molar bawah, terutama molar 3, tetapi dapat menyebar secara tidak
teratur pada mukosa bukal yang lain.

3. Erupsi (Rash)
Terjadinya eritema berbentuk makula-papula disertai menaiknya suhu
badan. Ruam ini muncul pertama pada daerah batas rambut dan dahi, serta
belakang telinga kemudian menyebar dengan cepat pada seluruh muka, leher,
lengan atas dan bagian atas dada pada sekitar 24 jam pertama. Selama 24 jam
berikutnya ruam menyebar ke seluruh punggung, abdomen, seluruh lengan, dan
paha. Ruam umumnya saling rengkuh sehingga pada muka dan dada
menjadi confluent. Bertahan selama 5-6 hari. Suhu naik mendadak ketika ruam
muncul dan sering mencapai 40-40,5 °C. Penderita saat ini mungkin tampak
sangat sakit, tetapi dalam 24 jam sesudah suhu turun mereka pada dasarnya
tampak baik. Selain itu, batuk dan diare menjadi bertambah parah sehingga anak
bisa mengalami sesak nafas atau dehidrasi. Tidak jarang pula disertai muntah dan
anoreksia. Otitis media, bronkopneumonia, dan gejala-gejala saluran cerna,
seperti diare dan muntah, lebih sering pada bayi dan anak kecil. Kadang-kadang
terdapat perdarahan ringan pada kulit. Terjadi pembesaran kelenjar getah bening
di sudut mandibula dan di daerah leher belakang. Dapat pula terjadi sedikit
splenomegali.
Ketika ruam mencapai kaki pada hari ke 2-3, ruam ini mulai menghilang
dari muka.Hilangnya ruam menuju ke bawah pada urutan yang sama dengan
ketika ruam muncul.Ruamkulit menjadi kehitaman dan mengelupas
(hiperpigmentasi) yang akan menghilang setelah 1-2 minggu. Hiperpigmentasi
merupakan gejala yang patognomonik untuk morbili.

2.5 Patofisiologi Campak


Campak merupakan infeksi virus yang sangat menular, dengan sedikit virus
yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang.Lokasi utama infeksi
virus campak adalah epitel saluran nafas nasofaring.
Campak disebabkan oleh paramiksovirus dan biasa dijumpai pada anak serta
menular melalui percikan liur (droplet) yang terhirup.Masa inkubasi asimtomatiknya
adalah 7-12 hari sebelum penyakit muncul. Ditandai dengan gejala awal (masa
prodormal) yang diikuti oleh ruam .Penyakit Campak mempunyai masa inkubasi 10-
14 hari.Mula-mula hanya seperti flu biasa (selama 24 jam) hingga kemudian demam
tinggi, menggigil, malaise, sakit kepala, fotopobia, batuk-batuk, yang berlangsung 4-7
hari.Timbul lesi, dimulai di palatum molle (langit-langit lunak), lalu bintik-bintik
Koplik (bintik-bintik putih dikelilingi halo terang di daerah mukosa pipi) dan
akhirnya timbul erupsi (macula) diwajah, ekstremitas atas dan badan.
Virus campak ditularkan lewat infeksi droplet lewat udara, menempel dan
berkembang biak pada epitel nasofaring. Tiga hari setelah invasi, replikasi dan
kolonisasi berlanjut pada kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang
pertama.Virus menyebar pada semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia
kedua setelah 5-7 hari dari infeksi awal. Adanya giant cells dan proses keradangan
merupakan dasar patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru. Juga terdapat
udema, bendungan dan perdarahan yang tersebar pada otak. Kolonisasi dan
penyebaran pada epitel dan kulit menyebabkan batuk, pilek, mata merah (3C : coryza,
cough and conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin tinggi. Gejala panas,
batuk, pilek makin lama makin berat dan pada hari ke 10 sejak awal infeksi (pada hari
penderita kontak dengan sumber infeksi) mulai timbul ruam makulopapuler warna
kemerahan.Virus dapat berbiak juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan
gejala klinik encefalitis. Setelah masa konvelesen pada turun dan hipervaskularisasi
mereda dan menyebabkan ruam menjadi makin gelap, berubah menjadi desquamasi
dan hiperpigmentasi. Proses ini disebabkan karena pada awalnya terdapat perdarahan
perivaskuler dan infiltrasi limfosit.
Virus masuk ke dalam tubuh melalui system pernafasan, dimana mereka
membelah diri secara setempat; kemudian infeksi menyebar ke jaringan limfoid
regional, dimana terjadi pembelahan diri selanjutnya.Bertambah banyaknya virus
didalam kelenjar limfe mengakibatkan terjadinya viremia primer, kemudian virus
menyebar ke berbagai jaringan dan organ limpoid termasuk kulit, ginjal, saluran
cerna, dan hati yang mungkin dibawa oleh makrofag paru-paru.Pada organ-organ ini
virus bereplikasi pada sel endothelial, epielial, dan monosit/makrofag.Karena sel yang
diinfeksi virus campak mempunyai kemampuan untuk mengadakan fusi maka
terbentuk sel raksasa multinukleus. Sel ini cenderung berada di bagian perifer
germinal center, dan pada jaringan limfe submukosa serta diperkirakan merupakan
sumber utama penyebaran virus ke jaringan lain.
Setelah terjadi amplikasi virus pada kelenjar limfe regional, maka terjadi
viremia dimana virus menyebar melalui darah dan menginfeksi organ-organ didalam
tubuh.Banyak studi telah membuktikan bahwa viremia mengikuti sel terjadi sebelum
dan pada saat timbulnya ruam, tetapi sangat jarang dapat ditemukan adanya viremia
didalam plasma, dan bila ada hanya ditemukan sebelum munculnya antibody
netralisasi.Sel pertama yang diinfeksi didalam darah adalah monosit. Infeksi virus
campak pada garis keturunan sel makrofag dapat meningkatkan ekspresi LFA-1,
merupakan molekul penempel yang dapat mendorong masuknya sel ke dalam
jaringan, sehingga ia ikut berpartisipasi untuk menyebar virus. Sel leukosit selain
monosit dapat juga diinfeksi secara in vitro, dan mungkin juga dapat diinfeksi secara
in vivo, yang juga dapat membantu untuk menyebarkan infeksi.Pada fase akhir
viremia dapat disertasi dengan leukopenia.

2.6 Pemeriksaan Dagnostik Campak


Menurut Suharjo B dkk (2010), bagi dokter yang sudah berpengalaman,
penyakit campak dapat diketahui melalui tanya jawab dan pemeriksaan terhadap
tanda-tanda yang muncul pada pasien. Namun bila diperlukan kepastian terhadap
penyakit campak, maka perlu dilakukan pemeriksaan khusus, yaitu pembiakan virus
atau serologi campak.
Kemudian menurut Kathleen Meehan Arias (2009), terdapat kriteria
laboratorium untuk diagnosis campak. Yaitu:
 Suatu uji serologik yang positif untuk antibody IgM camapk, atau
 suatu kenaikan yang signifikan di dalam kadar antibodi campak oleh suatu uji kadar
serologik standar, atau
 isolasi virus campak dari suatu spesimen klinis.
Suatu kasus yang dikonfirmasi oleh laboratorium tidak perlu memenuhi
definisi kasus klinis. Konfirmasi serologik harus dilakukan untuk setiap kasus dugaan
(suspected) campak dan yang sangat penting, uji serologik harus dilakukan juga
untuk setiap kasus yang tidak dapat dihubungkan secara epidemiologik melalui
sebuah rantai penularan dengan sebuah kasus yang confirmed. Kendati demikian,
pelaporan kasus suspected atau probable, investigasi kasus dan implementasi
tindakan pengendalian seharusnya tidak ditunda sampai hasil laboratorium keluar.
Darah untuk pengujian serologik seharusnya dikumpulkan selama pertemuan
klinis pertama dengan seorang yang diduga menderita campak (suspected) atau
mungkin menderita campak (probable). Serum sebaiknya diuji untuk antibodi IgM
campak sesegera mungkin dengan menggunakan sebuah uji assay yang sensitif dan
spesifik (misalnya, metode direct-capture IgM EIA). Interpretasi data serologik yang
benar tergantung pada waktu pengumpulan spesimen dalam hubungannya dengan
onset ruam dan pada karakteristik uji kadar antibodi yang di gunakan. Waktu
pengumpulan ini sangat penting dalam interpretasi hasil negatif karena antibodi IgM
tidak terdeteksi dengan beberapa uji assay yang kurang sensitif hingga paling sedikit
72 jam setelah awitan ruam. IgM campak terdeteksi pada awitan ruam, puncaknya
kira-kira 10 hari setelah awitan ruam, dan biasanya tidak dapat terdeteksi 30-60 hari
setelah awitan ruam. Pada umumnya, jika IgM campak tidak terdeteksi di dalam
sebuah spesimen serum yang didapatkan 72 jam setelah awitan ruam dari seseorang
yang menderita sakit yang memenuhi definisi kasus klinis untuk camapk, sebaiknya
diambil spesimen lainnya paling sedikit 72 jam setelah awitan ruam dan diuji untuk
antibody IgM campak. igM campak dapat terdeteksi paling sedikit 1 bulan setelah
awitan ruam. Orang-orang dengan sakit demam yang disertai ruam dan memiliki
seronegatif untuk capak hendaknya diuji untuk rubella.
Dengan makin sedikitnya campak di Amerika Serikat, kemungkinan
mendapatkan hasil serologik positif palsu dari antibody IgM campak semakin
meningkat. Hasil positif palsu yang didapatkan dengan menggunakan sebuah uji
assay ELISA yang tersedia secara komersial untuk IgM campak pada orang-orang
dengan (penyakit kelima). Pengujian konfirmasi dengan menggunakan sebuah uji
assay baik yang sensitif dan spesifik (misalnya, metode direct-capture IgM EIA)
seharusnya dipertimbangkan ketika IgM dideteksi pada seorang pasien dengan
dugaan campak yang tidak memiliki sumber infeksi yang teridentifikasi dan tidak ada
hubungan epidemiologik dengan kasus yang confirmed lainnya. Measles Virus
Laboratory of CDC`s National Center for Infectious Disease telah menyediakan
pelatihan kepada semua petugas laboratorium kesehatan masyarakat di seluruh
negara bagian untuk melakukan pengujian seperti demikian.
Diagnosis serologik campak dapat juga dikonfirmasikan oleh suatu
peningkatan yang signifikan di dalam titer antibodi diantara spesimen serum fase
akut dan fase penyembuhan.Biasanya, spesimen serum fase akut didapatkan dalam
waktu 1-3 hari setelah awitan ruam dan spesimen fase penyembuhan didapatkan kira-
kira 2-4 minggu setelahnya. Metode ini telah digantikan oleh uji assay IgM yang
dapat dilakukan pada sebuah spesimen serum tunggal yang diperoleh segera setelah
awitan ruam.
Infeksi ulang campak asimtomatik dapat terjadi pada orang yang sebelumnya
pernah memiliki antibodi dari vaksinasi atau dari penyakit alamiah.Infeksi ulang
dengan gejala yang disertai peningkatan di dalam titer antibodi campak jarang sekali
terjadi.Peningkatan di dalam titer antibodi IgM campak yang dapat terdeteksi bahkan
sangat jarang terjadi.
Karakteristik molekular isolat virus campak telah menjadi suatu alat penting
untuk menentukan gambaran epidemiologik campak selama periode insidens
penyakit yang rendah dan untuk mendokumentasikan dampak dari upaya eliminasi
campak.Disamping itu, untuk konfirmasi serologik, sebuah spesimen (misalnya
mukosa nasofaring atau urine) untuk isolasi virus campak dan karakterisasi genetik
hendaknya dikumpulkan sedekat mungkin pada waktu awitan ruam.Keterlambata di
dalam pengumpulan spesimen klinis ini mengurangi kesempatan untuk mengisolasi
virus campak. Dokter yang memiliki pasien dengan dugaan cmpak sebaiknya segera
menghubungi departemen kesehatan daerah atau negara bagian mereka berkenaan
dengan informasi tambahan mengenai pengumpulan dan pengiriman spesimen nasal
dan urine untuk isolasi virus campak.

2.7 Penatalaksanaan Campak


Masalah yang sering terjadi pada anak dengan campak adalah:
a. Hipertermia
b. Kurang nutrisi

c. Risiko komplikasi

Pasien campak tanpa komplikasi dapat berobat jalan,pengobatan bersifat


simtomatik dengan pemberian antipiretik, antitusif, ekspektoran, dan antikonvulsan
bila diperlukan. Indikasi rawat inap untuk penderita campak yaitu hiperpireksia
(suhu >39 °C), dehidrasi, kejang, asupan oral sulit atau adanya komplikasi.Beberapa
anak membutuhkan suplemen vitamin A. Anak-anak dengan defisiensi vitamin A
lebih mudah untuk terkena infeksi, termasuk campak.WHO merekomendasikan
vitamin A untuk semua anak dengan campak disetiap negara dimana defisiensi
vitamin A menjadi masalah dan berhubungan dengan angka kematian.Serum dengan
konsentrasi vitamin A yang rendah ditemukan pada anak-anak dengan campak yang
berat. Ribavirin merupakan obat anti virus, yang dapat membantu mengobati
penyakit campak yang berat atau saat anak dengan daya tahan tubuh yang lemah.

Penatalaksanaan Teraupetik

1. Pemberian vitamin A
2. Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik
3. Pemberian antibiotic pada anak-anak yang berisiko tinggi
4. Pemberian obat batuk dan sedativum

2.8 Pencegahan Campak


Upaya pencegahan penyakit campak dilakukan dengan caramenghindari
kontak dengan penderita, meningkatkan daya tahan tubuh dengan istirahat yang cukup
dan konsumsi makanan bergizi. Pencegahan penyakit campak bisa juga dilakukan
dengan vaksinasi campak.Vaksin campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada
anak-anak. Vaksin biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan
dan campak Jerman (vaksin MMR/ mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot
paha atau lengan atas. Jika hanya mengandung campak, vaksin diberikan pada umur 9
bulan. Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis
kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.
Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif, dan
kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir dari ibu yang telah kebal (berlangsung
selama 1 tahun).Kelompok yang rentan terhadap campak adalah bayi berumur lebih
dari 1 tahun, bayi yang tidak mendapatkan imunisasi dan remaja serta dewasa muda
yang belum mendapatkan imunisasi kedua sehingga merekalah yang menjadi target
utama pemberian imunisasi campak.
Kadar antibody campak tidak dapat dipertahankan sampai anak menjadi
dewasa. Pada usia 5-7 tahun, sebanyak 29,3% anak pernah menderita campak
walaupun pernah diimunisasi. Sedangkan kelompok 10-12 tahun hanya 50%
diantaranya yang mempunyai titer antibody di atas ambang pencegahan.Berarti, anak
usisa sekolah separuhnya rentan terhadap campak dan imunisasi campak satu kali saat
berumur 9 bulan tidak dapat member perlindungan jangka panjang.
Efek samping atau KIPI (Kejadian Ikutan Pasca-Imunisasi) MMR berupa:
1. Demam lebih dari 39,50C yang terjadi pada 5%-15% kasus, demam dijumpai pada
hari ke-5 sampai ke-6 sesudah imunisasi dan berlangsung selama 2 hari.
2. Kejang demam
3. Ruam timbul pada hari ke-7 sampai ke-10 sesudah imunisasi dan berlangsung
selama 2-4 hari
4. Memar karena berkurangnya trombosit
5. Infeksi virus campak pada imunodefisiensi
6. Reaksi KIPI berat dapat menyerang sistem saraf, yang reaksinya diperkirakan
muncul pada hari ke-30 sesudah imunisasi.

2.9 Komplikasi Campak


Pada penyakit campak terdapat resistensi umum yang menurun sehingga dapat
terjadi alergi (uji tuberculin yang semula positif berubah menjadi negative).Keadaan
ini menyebabkan mudahnya terjadi komplikasi antara lain:
a. Bronkopnemonia
Bronkopnemonia dapat disebabkan oleh virus campak atau oleh pneumococcus,
streptococcus, staphylococcus.Bronkopnemonia ini dapat menyebabkan kematian
bayi yang masih muda, anak dengan malnutrisi energy protein, penderita
penyakit menahun seperti tuberculosis, leukemia dan lain-lain.Oleh karena itu
pada keadaan tertentu perlu dilakukan pencegahan.
b. Komplikasi neurologis
Komplikasi neurologis pada morbili seperti hemiplegi, paraplegi, afasia,
gangguan mental, neuritis optica dan ensefalitis.
c. Encephalitis morbili akut
Encephalitis morbili akut ini timbul pada stadium eksantem, angka kematian
rendah. Angka kejadian encephalitis setelah infeksi morbili ialah 1:1000 kasus,
sedangkan encephalitis setelah vaksinasi dengan virus morbili hidup adalah 1,16
tiap 1.000.000 dosis.
d. SSPE (Subacute Scleroting Panencephalitis)
SSPE yaitu suatu penyakit degenerasi yang jarang dari susunan saraf
pusat.Ditandai oleh gejala yang terjadi secara tiba-tiba seperti kekacauan mental,
disfungsi motorik, kejang, dan koma.Perjalanan klinis lambat, biasanya
meninggal dalam 6 bulan sampai 3 tahun setelah timbul gejala spontan.Meskipun
demikian, remisi spontan masih dapat terjadi. Biasanya terjadi pada anak yang
menderita morbili sebelum usia 2 tahun. SSPE timbul setelah 7 tahun terkena
morbili, sedang SSPE setelah vaksinasi morbili terjadi 3 tahun
kemudian.Penyebab SSPE tidak jelas tetapi ada bukti-bukti bahwa virus morbili
memegang peranan dalam patogenesisnya. Anak menderita penyakit campak
sebelum umur 2 tahun, sedangkan SSPE bias timbul sampai 7 tahun kemudian
SSPE yang terjadi setelah vaksinasi campak didapatkan kira-kira 3 tahun
kemudian. Kemungkinan menderita SSPE setelah vaksinasi morbili adalah 0,5-
1,1 tiap 10.000.000, sedangkan setelah infeksi campak sebesar 5,2-9,7 tiap
10.000.000.
e. Immunosupresive measles encephalopathy
Didapatkan pada anak yang dengan morbili yang sedang menderita defisiensi
imunologik karena keganasan atau karena pemakaian obat-obatan imunosupresif.

2.10 Prognosis Campak


Prognosis baik pada anak dengan keadaan umum yang baik, tetapi prognosis
buruk bila keadaan umum buruk, anak yang sedang menderita penyakit kronis atau
bila ada komplikasi.Morbiditas campak dipengaruhi oleh beberapa factor antara
lain:
a. Diagnosis dini, pengobatan yang adekuat terhadap komplikasi yang timbul.
b. Kesadaran dan pengetahuan yang rendah dari orang tua penderita.
c. Penggunaan fasilitas kesehatan yang kurang (Maldonaso, 2002).
BAB III
WEB OF CAUTION ( WOC )
Paramyxoviridae Mengendap
morbili virus pada organ
Epitel saluran
Masuk sel Kulit napas
nafas

Poliferasi sel ↓Fungsi


Ditangkap oleh endotel silia
makrofag kapiler dalam
korium ↑ sekret
Menyebar ke Eksudasi
kelenjar limfa serum/eritrosit Reflek
regional dalam epidermis batuk

Mengalami Ruam Ketidakefektifan


replikasi bersihan jalan
napas
Gangg.
Virus dilepas ke
Integritas Kulit
dalam aliran
darah (viremia
primer)
Histamin Sel point ↑
Virus sampai RES
Gatal (nyeri
ringan) Suhu tubuh ↑
Replikasi kembali

Virus sampai ke Gangg. Rasa Hipertermi


multiple tissue site Nyaman
(viremia sekunder)

Reaksi radang

Mempengaruhi
Pengeluaran thermostat dalam
mediator kimia hipotalamus

BAB IV
ASUHAN KEPERAWATAN

4.1 Kasus
An. B laki – laki berusia 10 tahun, berat badan 20 kg dan tinggi badan 120 cm,
dibawa ke rumah sakit oleh ibunya. Anak terlihat lemas, rewel, sering menggaruk
kulitnya dan suka menangis.Kulitnya terlihat kusam, rambut tipis, terdapat eritema di
belakang telinga.Anak batuk – batuk dan pilek sejak 2 minggu yang lalu, terdapat
suara tambahan pernapasan dan terdapat nyeri tenggorokan.Pada kulit anak terdapat
ruam, kulit bersisik dan tugor kulit menurun.Suhu badan anak 38 derajat celcius.

4.2 Pengkajian
Pengkajian merupakan langkah utama dan dasar utama dari proses
keperawatan yang mempunyai 2 kegiatan pokok yaitu :
a) Pengumpulan Data (Anamnesa)
1 Identitas penderita
Meliputi nama anak, umur : rentan pada anak berumur 1-14 th dengan status
gizi yang kurang dan sering mengalami penyakit infeksi, jenis kelamin (L dan
P pervalensinya sama), suku bangsa, no register, tanggal masuk rumah sakit,
diagnosa medis.
2 Keluhan utama
Anak masuk rumah sakit biasanya dengan keluhan adanya eritema dibelakang
telinga, di bagaian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang
bawah, badan panas, enantema ( titik merah ) dipalatum durum dan palatum
mole.
3 Riwayat kesehatan sekarang
Pada anak yang terinfeksi virus campak biasanya ditanyakan pada orang tua
atau anak tentang kapan timbulnya panas, batuk, konjungtivitis, koriza, bercak
koplik dan enantema serta upaya yang telah dilakukan untuk mengatasinya.
4 Riwayat kesehatan dahulu
Anak belum pernah mendapatkan vaksinasi campak dan pernah kontak dengan
pasien campak.
5 Riwayat kesehatan keluarga
Apakah anak belum mendapatkan vaksinasi campak.
6 Riwayat imunisasi
Imunisasi apa saja yang sudah didapatkan misalnya BCG, POLIO I,II, III;
DPT I, II, III; dan campak.
7 Riwayat nutrisi
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori untuk
umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari.Untuk pertambahan berat badan ideal
menggunakan rumus 8 + 2n. Status Gizi
Klasifikasinya sebagai berikut :
- Gizi buruk kurang dari 60%
- Gizi kurang 60 % - <80 %
- Gizi baik 80 % - 110 %
- Obesitas lebih dari 120 %
8 Riwayat tumbuh kembang anak.
a. Tahap pertumbuhan
Pada anak umur lima tahun, perkiraan berat badan dalam kilogram
mengikuti patokan umur 1-6 tahun yaitu umur ( tahun ) x 2 + 8. Tapi ada
rata-rata BB pada usia 3 tahun : 14,6 Kg, pada usia 4 tahun 16,7 kg dan 5
tahun yaitu 18,7 kg. Untuk anak usia pra sekolah rata – rata pertambahan
berat badan 2,3 kg/tahun.Sedangkan untuk perkiraan tinggi badan dalam
senti meter menggunakan patokan umur 2- 12 tahun yaitu umur ( tahun ) x 6
+ 77.Tapi ada rata-rata TB pada usia pra sekolah yaitu 3 tahun 95 cm, 4
tahun 103 cm, dan 5 tahun 110 cm. Rata-rata pertambahan TB pada usia ini
yaitu 6 – 7,5 cm/tahun.Pada anak usia 4-5 tahun fisik cenderung bertambah
tinggi.
b. Tahap perkembangan.
- Perkembangan psikososial ( Eric Ercson ) : Inisiatif vs rasa bersalah.Anak
punya insiatif mencari pengalaman baru dan jika anak dimarahi atau
diomeli maka anak merasa bersalah dan menjadi anak peragu untuk
melakukan sesuatu percobaan yang menantang ketrampilan motorik dan
bahasanya.
- Perkembangan psikosexsual ( Sigmund Freud ) : Berada pada fase
oedipal/ falik ( 3-5 tahun ).Biasanya senang bermain dengan anak berjenis
kelamin berbeda.Oedipus komplek ( laki-laki lebih dekat dengan ibunya )
dan Elektra komplek ( perempuan lebih dekat ke ayahnya ).
- Perkembangan kognitif ( Piaget ) : Berada pada tahap preoperasional
yaitu fase preconseptual ( 2- 4 tahun ) dan fase pemikiran intuitive ( 4- 7
tahun ). Pada tahap ini kanan-kiri belum sempurna, konsep sebab akibat
dan konsep waktu belum benar dan magical thinking.
- Perkembangan moral berada pada prekonvensional yaitu mulai
melakukan kebiasaan prososial : sharing, menolong, melindungi,
memberi sesuatu, mencari teman dan mulai bisa menjelaskan peraturan-
peraturan yang dianut oleh keluarga.
- Perkembangan spiritual yaitu mulai mencontoh kegiatan keagamaan dari
ortu atau guru dan belajar yang benar – salah untuk menghindari
hukuman.
- Perkembangan body image yaitu mengenal kata cantik, jelek,pendek-
tinggi,baik-nakal, bermain sesuai peran jenis kelamin, membandingkan
ukuran tubuhnya dengan kelompoknya.
- Perkembangan sosial yaitu berada pada fase “ Individuation – Separation
“. Dimana sudah bisa mengatasi kecemasannya terutama pada orang yang
tak di kenal dan sudah bisa mentoleransi perpisahan dari orang tua
walaupun dengan sedikit atau tidak protes.
- Perkembangan bahasa yaitu vokabularynya meningkat lebih dari 2100
kata pada akhir umur 5 tahun. Mulai bisa merangkai 3- 4 kata menjadi
kalimat. Sudah bisa menamai objek yang familiar seperti binatang, bagian
tubuh, dan nama-nama temannya. Dapat menerima atau memberikan
perintah sederhana.
- Tingkah laku personal sosial yaitu dapat memverbalisasikan
permintaannya, lebih banyak bergaul, mulai menerima bahwa orang lain
mempunyai pemikiran juga, dan mulai menyadari bahwa dia mempunyai
lingkungan luar.
- Bermain jenis assosiative play yaitu bermain dengan orang lain yang
mempunyai permainan yang mirip.Berkaitan dengan pertumbuhan fisik
dan kemampuan motorik halus yaitu melompat, berlari, memanjat,dan
bersepeda dengan roda tiga.
b) Pemeriksaan fisik ( had to toe )
1. Status kesehatan umum
Meliputi keadaan penderita, kesadaran, tinggi badan, berat badan, dan tanda-
tanda vital.
2. Kepala dan leher
- Inspeksi :
Kaji bentuk kepala, keadan rambut, kulit kepala, konjungtivitis, fotofobia,
adakah eritema dibelakang telinga, di bagian atas lateral tengkuk, sepanjang
rambut dan bagian belakang bawah.
- Palpasi :
adakah pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan didaerah
leher belakang,
3. Mulut
- Inspeksi :
Adakah bercak koplik di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah,
enantema di palatum durum dan palatum mole, perdarahan pada mulut dan
traktus digestivus.
4. Toraks
- Inspeksi :
Bentuk dada anak, Adakah batuk, secret pada nasofaring, perdarahan pada
hidung.Pada penyakit campak, gambaran penyakit secara klinis menyerupai
influenza.
- Auskultasi :
Ronchi / bunyi tambahan pernapasan.
5. Abdomen
- Inspeksi :
Bentuk dari perut anak.Ruam pada kulit.
- Auskultasi
Bising usus.
- Perkusi
Perkusi abdomen hanya dilakukan bila terdapat tanda abnormal, misalnya
masa atau pembengkakan.
6. Kulit
- Inspeksi :
Eritema pada kulit, hiperpigmentasi, kulit bersisik.
- Palpasi :
Turgor kulit menurun

Pengkajian Kasus
a) Anamnese
1 Identitas penderita
- Nama anak : An. B
- Umur :10 tahun
- Jenis kelamin : Laki-laki
2 Keluhan utama : -
3 Riwayat kesehatan sekarang
Sudah 2 minggu yang lalu batuk-batuk, pilek dan nyeri tenggorokan
4 Riwayat kesehatan dahulu
Anak diduga belum pernah mendapatkan vaksinasi campak
5 Riwayat kesehatan keluarga: -
6 Riwayat imunisasi
Anak belum mendapat imunisasi campak
7 Riwayat tumbuh kembang anak.
a Tahap pertumbuhan
BBI = (umur (thn) x 2 ) + 8= (10x2)+8= 28 Kg
BB pasien : 20 Kg
TB : 120 cm
b Tahap perkembangan; -
b) Pemeriksaan fisik :
1. Mata: terdapat konjungtivitis,mata tampak merah
2. Kepala: sakit kepala
3. Hidung dan tenggorokan : Banyak terdapat secret, suara tambahan
pernapasan dan terdapat nyeri tenggorokan
4. Mulut dan bibir: Mukosa bibir kering, batuk, mulut terasa pahit.
5. Kulit : Permukaan kulit (kering ) kusam,rasa gatal, keringat berlebihan
panas (demam).
6. Pernafasan : Pola nafas (reguler), RR (24x/menit )( n : 20-30/menit),
batuk, sesak nafas, wheezing,sputum
7. Tumbuh kembang: BB (20 kg), TB (120cm), BB Lahir (3 kg), belum
pernah vaksinasi.
8. Pola Defekasi : BAK (950 ml/hari) ( n 3-5 thn : 600-700 ml / hari)
9. Status Nutrisi : nafsu makanan menurun
10. Keadaan Umum : sadar TTV (N:80x/menit, TD:110/60 mmHg, S:
38OC, RR: 24x/menit).

4.3 Analisis Data

Data Etiologi Masalah


DS : Klien batuk-batuk Droplet campak yang Ketidak efektifan
dan pilek sejak 2 minggu terhirup masuk saluran bersihan jalan nafas
yang lalu pernafasan

DO : Terdapat suara Berkembang & menempel


tambahan pernapasan dan pada nasofaring
nyeri tenggorokan
Fungsi silia menurun

Sekret meningkat

Reflek batuk

Ketidakefektifan bersihan
jalan nafas
DS : Klien merasa lemas, Efek perjalanan penyakit Hipertermi
rewel dan suka menangis terhadap tubuh
DO :Suhu badan klien 38
derajat celcius. Menimbulkan peradangan

Pengeluaran mediator kimia

Mempengaruhi thermostat
dalam hipotalamus

Sel point meningkat

Suhu tubuh meningkat

Hipertermi
DS : Klien mengungkapkan Virus yang menyerang kulit Gangguan integritas kulit
rasa ketidaknyamanan
terhadap bintik yang timbul Respon imunitas pada kulit
pada kulit tubuhnya
Histamine
DO : Pada kulit klien
terdapat ruam, kulit bersisik Vasodilatasi&permeabilitas
dan tugor kulit menurun meningkat

Leukositosis bergerak dari


kapiler ke jaringan kulit

Reaksi hipersensifitas

Ruam kulit

Gangguan integritas kulit


DS : Klien mengeluh gatal- Inveksi virus Gangguan rasa nyaman
gatal pada kulit dan terdapat
bercak merah Menyebar pada semua sistem
retikuloen dotelial
DO : Klien sering menggaruk
garuk kulit yang terdapat Replikasi kembali
bercak merah
Terjadi viremia kedua

Reaksi radang

Pengeluaran mediator kimia


Histamine

Gatal

Gangguan rasa nyaman

4.4 Diagnosa Keperawatan


1. Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolic
2. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan penumpukan secret
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perkembangan penyakit.
4. Gangguan rasa aman dan nyaman berhubungan dengan adanya demam, tidak
enak bedan, pusing, mulut terasa pahit, kadang-kadang muntah dan gatal.

4.5 Intervensi Keperawatan


1. Diagnosa Keperawatan : Hipertermi berhubungan dengan peningkatan metabolic
Kriteria Hasil :
 Tidak terdapatnya tanda dan gejala hipertermia, kulit
kemerahan dan pusing
 Normotermia, pernafasan, nadi dan tekanan darah dalam batas
normal

Intervensi Keperawatan Rasional


1. Monitor suhu inti melalui rute yang Suhu timpani dan rektal hampir mendekati
sesuai ( misalnya timpani, rectal) suhu inti. Pengukuran suhu rektal lebih
dan catat adanya kenaikan suhu akurat.
2. Gunakan tindakan-tindakan
pendinginan internal dan eksternal Penggunaan mattres dingin dapat menurunkan
yang sesuai, seperti mandi dingin suhu secara bertahap untuk mencegah
atau mattres dingin menggigil karena hal tersebut menyebabkan
Kolaborasi peningkatan kebutuhan oksigen
3. Berikan cairan dan elektrolit sesuai
intruksi Dehidrasi mungkin timbul sehubungan
dengan kehilangan cairan melalui diaphoresis
4. Berikan antipiretik, secara oral dan peningkatan ventilasi
maupun rektal (aspirin, Obat tersebut dapat menurunkan suhu tubuh.
asetaminofen) sesuai intruksi

2. Diagnosa Keperawatan : Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan


dengan penumpukan secret
Kriteria Hasil :
 Penurunan jumlah secret
 Bunyi napas normal
 Klien dapat bernafas tanpa bantuan alat bantu
pernapasan

Intervensi Keperawatan Rasional


Airway Management
1. Kaji tanda-tanda vital, status Takipnea biasanya menandakan adanya
pernapasan klien (RR, kedalaman dan stress respiratori. Beberapa derajat
suara napas) bronkospasme dikarenakan oleh obtruksi
jalan napas dan bisa dimanifestasikan dengan
suara napas yang tidak normal seperti
crackles, wheezing, maupun absent breath
sound
2. Beri posisi semifowler/ fowler jika Posisi semifowler/fowler dapat
tidak ada kontra indikasi memaksimalkan perluasan paru-paru.
Mobilize Secretions
1. Elevasikan kepala atau mengubah Posisi elevasi/ up right memfasilitasi fungsi
posisi yang diperlukan respiratori dengan menggunakan gravitasi.
2. Mengajarkan latihan batuk efektif dan Untuk memaksimalkan kemampuan batuk
teknik napas dalam efektif, perluasan paru-paru dan drainase,
serta mengurangi nyeri.
3. Lakukan suction jika secret tidak Membersihkan jalan napas ketika secret
dapat keluar dengan batuk efektif. menghambat jalan napas.

4. Berikan oksigen dengan konsentrasi Tindakan suction dapat menghisap oksigen


100% yang berada di jalan napas.

Kolaborasi Obat yang diberikan digunakan untuk


5. Berikan ekspektoran, anti –inflamasi, merelaksasikan otot polos respiratori,
bronkodilator dan mukolitiks mengurangi edema di jalan napas, dan
berdasarkan resep mencairkan secret.
Assess Changes
1. Auskultasi suara napas Memastikan status pernapasan dan
memastikan pengaruh tindakan bahwa jalan
napas sudah bersih
2. Monitor vital sign, catat tekanan Apakah ada distress respiratori
darah atau perubahan nadi
3. Monitor ABG dan pulse oximetry Mengidentifikasi status dasar, pengaruh
intervensi yang diberikan dan memonitor
perkembangan dari kondisi dan respon
perawatan.

3. Diagnosa Keperawatan : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan


perkembangan penyakit.
Kriteria Hasil :
 Temperatur kulit dalam rentang normal
 Daya sensasi tubuh dalam rentang normal
 Elastisitas kulit dalam rentang normal
 Pigmentasi kulit dalam rentang normal
 Tekstur kulit rata dan halus

Intervensi Keperawatan Rasional


1. Kaji kebutuhan hygiene dan Kulit klien bisa jadi berminyak, kering atau
perawatan kuli klien sensitive yang dapat mempengaruhi frekuensi
kebutuhan mandi, suhu air, tipe sabun dan
agen pembersih lainnya
2. Berikan hidrasi yang adekuat (oral, Untuk mengganti cairan dan elektrolit akibat
selang, IV (infus), dll) kehilangan cairan transepidermal
3. Atur dan monitor patensi selang infus, Mempertahankan patensi masuknya cairan
apabila menggunakan infus dan elektrolit ke tubuh
4. Berikan nutrisi yang optimal Untuk membantu kesembuhan kulit dan
(termasuk protein yang adekuat, mempertahankan kesehatan tubuh.
lemak, kalori, mineral dan
multivitamin)
5. Monitor respon pasien (anak)
terhadap terapi cairan dan elektrolit
yang diberikan

4. Diagnosa Keperawatan :Gangguan rasa aman dan nyaman berhubungan dengan


adanya demam, tidak enak bedan, pusing, mulut terasa pahit, kadang-kadang muntah
dan gatal.
Kriteria Hasil :
o Pasien menunjukkan kenyamanan, tidak merasa gatal lagi.
o Badan kelihatan segar dan tidak merasa pusing.
Intervensi Rasional
1. Bedaki tubuh anak dengan bedak Bedak salisil 1% dapat mengurangi rasa
salisil 1% atau lainnya atas resep gatal pada tubuh anak.
dokter.
2. Menghindari anak tidak tidur di Lampu yang terlalu terang membuat anak
bawah lampu karena silau dan silau dan menambah rasa tidak nyaman.
membuat tidak nyaman.
3. Selama demam masih tinggi tidak Tubuh yang dibedaki akan membuat rasa
boleh dimandikan dan sering-sering nyaman pasa pasien.
dibedaki.

4. Jika suhu tubuh turun, untuk Air hangat / PK dapat mengurangi gatal dan
mengurangi gatal dapat dimandikan menambah rasa nyaman.
dengan PK atau air hangat atau dapat
juga dengan bethadine.

4.7Evaluasi
1. Suhu tubuh kembali dalam batas yang normal
2. Fungsi pernapasan kembali normal
3. Integritas kulit kembali dalam batas yang normal
4. Nyeri hilang atau terkontrol dengan baik
5. Mempunyai pengetahuan atau informasi tentang imunisasi campak dengan
benar

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Campak atau rubella adalah suatu infeksi virus yang sangat menular. Penyakit
ini ditandai oleh beberapa gejala, diantaranya demam, batuk, konjungtivis
(peradangan pada selaput ikat mata atau konjungtiva) serta terdapat ruam kulit.
Penyakit campak adalah penyebab kematian terbesar bayi dan anak usia 1 – 4 tahun.
Setiap tahunnya, 30000 anak di Indonesia diperkirakan meninggal akibat komplikasi
campak. Penyakit campak juga berpotensi menyebabkan KLB ( Kejadian Luar Biasa)
atau pendemik. Virus dalam menginfeksi tubuh melelui 3 fase yaitu: masa inkubasi,
fase prodromal, fase nampaknya bercak merah. Campak merupakan penyakit yang
menular dan dikaitkan pada tingkat kematian tertinggi pada bayi dan anak. Upaya
yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit campak dapat dilakukan dengan cara
menghindari kontak dengan penderita, meningkatkan daya tahan tubuh dengan
istirahat yang cukup , konsumsi makanan bergizi dan vaksin campak. Vaksin biasanya
diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan dan campak jerman ( vaksin
MMR atau mumps, measles, rubella) disuntikkan pada otot paha atau lengan atas.
Jika hanya mengandung campak, vaksiin diberikan pada umur 9 bulan.Efek setelah
diberikan vaksin biasanya demam tinggi sampai kejang, memar karena berkurangnya
trombosit, dan ruam yang timbul pada hari ke 7.Penderita campak beresiko
bronkopenumonia, ganguan neurologis, dan imunosupresive. Asuhan keperawatan
pada anak penderita campak akan dilakukan pengkajian hingga pemeriksaan fisik.
Dan akan ditemukan diagnose hiprtermi b.d peningkatan metabolic, ketidakefektifan
jalan napas b.d penumpukan secret, kerusakan integritas kulit b.d perkembangan
penyakit, nyeri akut b.d agen injury (faktor biologi : virus morbili), kurang
pengetahuan b.d kurangnya informasi mengenai imunisasi campak (orang tua)

5.2 Saran
Campak merupakan penyakit yang tingkat kematiannya tertinggi pada bayi
dan anak.Untuk mencegah penyakit campak setiap anak wajib melakukan vaksinasi
campak. Keberhasilan vaksinasi campak pada anak akan tercapai jika semua tenaga
kesehatan berperan aktif dalam program tersebut. Salah satunya memberikan
penyuluhan kepada msyarakat terkait penyakit campak, serta pencegahanyya.Sebagai
perawat tidak hanya softskill tetapi harus memiliki pengetahuan yang adekuat terkait
penyakit campak, pencegahan dan pemberian vaksin.Sehingga dapat memberikan
intervensi yang benar dan tepat kepada klien.
DAFTAR PUSTAKA

Andriani, Julia. 2009. Morbili/Measles/Campak. Pekanbaru: Universitas Riau


Anonimous (1). 2006. Measles. (Online, http://www.cdc.gov/nip/publications/pink/
meas.pdf, diakses tanggal 11 Desember 2006
Arias, Kathleen Meehan. 2009. Investigasi dan Pengendalian Wabah di Fasilitas
Pelayanan Kesehatan. Jakarta: EGC.

Berhrman, Richard E.2003. Nelson Textbook of Pediatrics. 17th edition. WB


Saunders Company.
Cahyono, J.B Suharjo B, dkk. 2010.Vaksinasi; Cara Ampuh Cegah Infeksi.
Yogyakarta:Kanisius
Cronan, Kate. 2005. Measles. (Online, http://www.kidshealth.org/
parent/infections/lung/measles.html, diakses tanggal 11 Desember 2006).
Doenges, Marilynn E., et al. 2005. Nursing Diagnosis Manual:
Planning,Individualizing and Documenting Client Care. Philadelphia : F.A Davis Company

Fennelly, Glenn J.
2006. Measles. (Online, http://www.emedicine.com/PED/topic1388.htm, diakses tanggal 11
Desember 2006)
Hidayat, A. Aziz Alimul. PengantarIlmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan
Kebidanan. Jakarta. Salemba Medika. 2008
Kenneth Todar University of Wisconsin-Madison Department of Bacteriology.
2006.Measles. Online, www.bact.wisc.edu/themicrobialworld/Measles.jpg, diakses tanggal
11 Desember 2006).

Nelson, 2000.Ilmu Kesehatan Anak Vol 2. Jakarta. EGC

Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC.

Rampengan, T. H. 1993. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak. Jakarta: EGC.


Rodolfh.Dkk. 2006.Buku Ajar Pediatri Rodolfh Edisi 20 Volume I.
Jakarta:EGC Santosa,B.
Setiawan, I Made. 2008. Penyakit Campak. Jakarta: CV. Sagung Seto
SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair, 2006. Pedoman Diagnosis & Terapi.
Surabaya: Bag/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSU Dr. Soetomo.
Soegijanto, 2001. Buku Imunisasi di Indonesia Edisi Pertama. Jakarta: Pengurus
Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia.1985. Ilmu Kesehatan Anak 2. Jakarta: Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
Suriadi,Yuliani,R.2001.Asuhan Keperawatan Pada Anak.Jakarta:PT Fajar
Interpratama.

William, W. 2002. Current Pediatric Diagnosis & Treatment 16 th edition. USA:


MacGraw-Hill Education
MAKALAH
KEPERAWATAN IMUN DAN HEMATOLOGI II
“ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN CAMPAK”

Oleh kelompok 2 Kelas A Angkatan 2012 :

Imawati Annisa Safitri 131211133015


Wulan Oktavianti 131211133023
Winda Kusumawardani 131211131013
Wimar Anugrah R. 131211132051
Wayan Tania S. 131211131003
Rega Setiananda 131211133007
Nasischa Ayu W. 131211132062
Alfita Nadziir 131211131019
Chiza Ulazzuharo 131211133031
Novi Ikhyarul H. 131211131095
Agnes Sevelina A. 131211132003
Inka Noveliana 131211132022
Indah Nur Rahmawati 131211132012
Virki Widoyanti 131211133003
Natalia Christin Tiara R. 131211132027
Rifqi Fuadi 131211133038
Qamila Anindita 131211133025
Nurul Azizah 131211131101
Lailatul Mafula 131211133009
Aulia F. U. 131211133021

PROGRM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA 2014

Ny. K (perempuan) dengan usia 32 tahun dibawa ke RS-KI Universitas Airlangga oleh
suaminya dengan keluhan panas tinggi mencapai 39oC. Selama 4 hari pasien sering pusing,
batuk, pilek dan terdapat nyeri tenggorokan mulai hari ke 2. Saat dilakukan pemeriksaan fisik
pasien terlihat lemas, sering menggaruk tubuhnya, turgor kulit menurun, bersisik dan muncul
bercak-bercak merah hampir di seluruh tubunya. Saat dilakukan auskultasi terdapat suara
tambahan napas di bagian kiri. Berdasarkan informasi yang disampaikan suami pasien,
istrinya mengalami penyakit tersebut setelah melakukan kunjungan ke rumah penderita
campak, sehingga diduga Ny. K juga menderita campak. Saat ini BB pasien 39 kg, TB 152
cm, N 98 x/menit, TD 110/87 mmHg, RR 24 x/menit. Pada pemeriksaan laboratorium
menunjukkan nilai leukosit 3000 sel/ mm3 dan pada pemeriksaan serologi ditemukan antibodi
IgM.