Está en la página 1de 2

Ancaman Terhadap Keanekaragaman Hayati

Beragam kegiatan manusia telah menjadi ancaman terhadap keanekaragaman hayati.


Kegiatan yang mengancam tersebut secara umum dapat dikelompokkan menjadi empat
yaitu pembunuhan yang tidak terkendali (perburuan liar), fragmentasi dan kerusakan
habitat, introduksi spesies eksotis dan adanya rantai kepunahan.

1. Pembunuhan yang tidak terkendali

Pembunuhan yang terjadi secara eksesif bias terjadi melalui perburuan liar dan
penangkapan ikan secara tidak terkendali. Pada Negara yang sedang berkembang, kasus
pembunuhan yang tidak terkendali sangat memprihatinkan. Beberapa hewan diketahui
rentan terhadap perburuan tidak terkendali seperti gajah, badak, paus dll. Contoh klasik
adalah kasus perburuan Gajah Afrika untuk diambil dagingnya. Pada tahun 1970-an
ketika harga gading meningkat, terjadilah perburuan yang tidak terkendali. Kasus
kepunahan Harimau Jawa di Indonesia juga diduga disebabkan oleh perburuan tidak
terkendali pada tahun 1950-an, ketika populasi harimau tinggi.

2. Kerusakan dan fragmentasi habitat

Implikasi fragmentasi habitat untuk Indonesia adalah bahwa beberapa ratus


spesies hilang dalam setahun. Diperkirakan kebanyakan merupakan hewan
invertebrata yang belum dideskripsikan. Perkiraan tingkat kepunahan itu merupakan
suatu keprihatinan, karena angka tersebut diduga sedang bergerak cepat bersamaan
dengan punahnya fragmen- fragmen habitat yang unik, lagi pula populasi hewan
menjadi terlalu sedikit untuk mampu mendukung dirinya sendiri. Masalah kehilangan
habitat di Indonesia paling serius dialami pulau- pulau berpenduduk padat seperti
Jawa dan Bali karena hutan alam yang tersisa kebanyakan berupa peninggalan saja
dan daratan rendah yang subur sudah terlalu lama dikelola secara intensif (WCMC/
PHPA, 1991). Di tempat lain yang kurang begitu padat penduduknya, bentuk
ancaman terhadap keanekaragaman hayati agak berbeda dan degradasi hutan secara
besar- besaran merupakan suatu fenomena yang relatif baru.

3. Introduksi spesies eksotis

Di Indonesia spesies eksotik yang sering dilaporkan menimbulkan masalah


adalah ikan. Jumlah spesies ikan yang sengaja diintroduksikan ke dalam perairan
Indonesia dari luar negeri ada 16 jenis. Kelompok pertama misalnya kerabat ikan mas
Carassius auratus dan ikan karper Cyprinus carpio yang berasal dari Cina dan Jepang
yang secara luas dikenal sebagai ikan hias maupun budidaya. Kelompok berikutnya
adalah introduksi yang dianggap paling berhasil yaitu ikan nila dan mujair. Ikan nila
(Oreochromis nilotica) yang secara alami tersebar luas. Ikan ini seharusnya hidup di
perairan terbuka dan memakan plankto, umumnya memghuni relung yang masih
kosong , misalnya bendungan yang baru. Tetapi dalam kenyataannya ikan ini juga
mengkoloni banyak habitat lainnya. Introduksi yang terjadi secara kebetulan adalah
ikan mujair (Oreochromis mossambica) dan ikan seribu (Poecillia reticulata) dan
Poecillia sphenops dan jenis- jenis lain yang lepas dari aquarium atau dari kolam-
kolam peternakan ikan hias. Pada beberapa kasus, introduksi tidak bersifat
membahayakan dan pengaruhnya hanya sedikit terhadap komunitas ikan asli. Tetapi
menurut pengalaman yang dilakukan di seluruh dunia, introduksi sering bersifat
sangat merugikan. Dampak yang ditimbulkan dapat berupa penurunkan kualitas
lingkungan induk semang, gangguan terhadap komunitas induk semang, penurunan
sifat- sifat genetik asli, masuknya penyakit dan parasit serta kesulitan sosial ekonomi
bagi nelayan di daerah sekitarnya. Risiko yang paling berat misalnya karena jenis
yang diintroduksikan dapat berkembang biak dengan sangat cepat dan bersaing
dengan jenis yang sudah ada.

4. Rantai Kepunahan

Kepunahan satu spesies dapat berakibat pada terjadinya rantai kepunahan


spesies yang tergantung pada spesies yang telah punah tersebut. Satu contoh rantai
kepunahan yang terjadi adalah kepunahan elang hutan di New Zealand. Elang ini
memangsa burung tanah. Karena burung tanah punah maka elang ini juga ikut punah.