Está en la página 1de 13

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah yang masih memberikan kesehatan dan kesempatan-Nya
kepada kita semua, terutama kepada penulis. Sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini.
Berikut ini, penulis mempersembahkan sebuah makalah yang berjudul “Al Qur’an
Sebagai Sumber Kajian Islam” Penulis mengharapkan makalah ini dapat bermanfaat bagi
pembaca semua, terutama bagi penulis sendiri.
Kepada pembaca yang budiman, jika terdapat kekurangan atau kekeliruan dalam
makalah ini, penulis mohon maaf, karena penulis sendiri dalam tahap belajar.
Dengan demikian, tak lupa penulis ucapkan terimakasih kepada para pembaca.
Semoga Allah memberkahi makalah ini sehinga benar-benar bermanfaat.

Indralaya, November 2018

Penulis
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL..................................................................................... i
KATA PENGANTAR.................................................................................. 1
DAFTAR ISI................................................................................................. 2
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.................................................................................... 3
B. Rumusan Masalah................................................................................ 4
C. Tujuan Penulisan.................................................................................. 4
BAB II PEMBAHASAN
A. Al Qur’an............................................................................................. 5
B. Peranan dan Fungsi Al Qur’an............................................................ 8
C. Pendekatan Memahami Al Qur’an...................................................... 11
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan.......................................................................................... 16
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 17
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Berbicara tentang Al Qur’an, takkan pernah ada habisnya. Al Qur’an mengandung
berbagai kisah dari sejarah zaman lampau hingga masa yang akan datang, termuat juga
hukum-hukum islam, rahasia alam semesta, serta masih banyak lagi.
Al-Qur’an menjadi salah satu mukjizat besar Nabi Muhammad SAW, sebab
turunnya Al Qur’an melalui perantara beliau, Al Qur’an mempunyai peranan yang sangat
penting untuk keberlangsungan umat manusia di Dunia. Betapa tidak, semua persoalan
manusia di dunia sebagian besar dapat ditemukan jawabannya pada Al Qur’an. Oleh
karenannya kemudian Al Qur’an di yakini sebagai firman Allah yang menjadi sumber
hukum Islam pertama sebelum Hadist serta menjadi sumber ajaran bagi Agama Islam.
Kewajiban manusia untuk mengimani, membaca, menelaah, menghayati, dan
mengamalkan ajaran Al Quran secara keseluruhan, serta mendakwahkannya (Q.S. Al-
'Ashr:1-3). Jika kita memang benar-benar beriman kepada Allah SWT atau mengaku
Muslim. Membacanya saja sudah berpahala, bahkan kata Nabi Saw satu huruf
mengandung 10 pahala, apalagi jika mengamalkannya.
Dikalangan ulama terdapat kesepakatan bahwa sumber ajaran yang utama adalah
Al Qur’an dan As Sunnah. Sedangkan penalaran atau akal pikiran sebagai alat untuk
memahami Al Qur’an dan As Sunnah. Ketentuan ini sesuai dengan Agama Islam itu
sendiri sebagai wahyu dari allah SWT yang penjabarannya dilakukan oleh nabi
Muhammad SAW. Di dalam Al Qur’an (QS an nisa :156) kita dianjurkan agar menaati
Allah dan rosulNya, serta ulil amri(pemimpin). Ketaatan kepada Allah dan rosulNya ini
mengandung konsekuensi ketaatan kepada ketentuanNya yang terdapat di dalam Al
Qur’an, dan ketentuan nabi Muhammad SAW yang terdapat di dalam HaditsNya.
B. Rumusan Masalah
1. Apa makna Al Qur’an?
2. Apa makna Agama Islam?
3. bagaimana peranan dan fungsi Al Qur’an dalam kehidupan?
4. Bagaimana pemahaman dalam pendekatan Al Qur’an?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui makna Al Qur’an
2. Mengetahui makna Agama Islam
3. Mengetahui peranan dan fungsi Al Qur’an
4. Mengetahui pemahaman dalam pendekatan Al Qur’an
BAB II
PEMBAHASAN
Hadits Rasulullah SAW, yaitu:
”Kutinggalkan kepadamu dua perkara, dan kamu sekalian tidak akan sesat selama
berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya)”.
A. Al Qur’an
Al Qur’an adalah sumber ajaran Islam yang utama. Al-Qur’an adalah wahyu Allah
yang diturunkan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW. Al-Qur’an dijaga dan
dipelihara oleh Allah SWT, sesuai dengan firmannya sebagai berikut:
”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur’an dan sesungguhnya Kami
benar-benar memeliharanya.” (QS 15:9)
”Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an. Kalau sekiranya Al-Qur’an
itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapatkan pertentangan yang banyak di
dalamnya.” (QS 4:82)
Al Qur’an menyajikan tingkat tertinggi dari segi kehidupan manusia. Sangat
mengagumkan bukan saja bagi orang mukmin, melainkan juga bagi orang-orang kafir. Al
Qur’an pertama kali diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan (Nuzulul Qur’an). Wahyu
yang perta kali turun tersebut adalah Surat Alaq, ayat 1-5. Al-Qur’an memiliki beberapa
nama lain, antara lain adalah Al-Qur’an:
Al Qur’an (QS. Al-Isra: 9), Al-Kitab (QS. Al-Baqoroh: 1-2), Al-Furqon (QS. Al-
Furqon: 1), At-Tanzil (QS As-Syu’ara: 192), Adz-Dzikir (Surat Al-Hijr: 1-9) dan lain-lain.
Kandungan Al-Qur’an, antara lain adalah:
1. Pokok-pokok keimanan (tauhid) kepada Allah, keimanan kepada malaikat, rasul-
rasul, kitab-kitab, hari akhir, qodlo qodar, dan sebagainya.
2. Prinsip-prinsip syari’ah sebagai dasar pijakan manusia dalam hidup agar tidak
salah jalan dan tetap dalam koridor yang benar bagaimanamenjalin hubungan
kepada Allah (hablun minallah, ibadah) dan kepada manusia (hablun minannas,
mu’amalah).
3. Janji atau kabar gembira kepada yang berbuat baik (basyir) dan ancaman siksa bagi
yang berbuat dosa (nadzir).
4. Kisah-kisah sejarah, seperti kisah para nabi, para kaum masyarakat terdahulu, baik
yang berbuat benar maupun yang durhaka kepada Tuhan.
5. Dasar-dasar dan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan antara lain : astronomi, fisika,
kimia, ilmu hukum, ilmu bumi, ekonomi, pertanian, kesehatan, teknologi, sastra,
budaya, sosiologi, psikologi, dan sebagainya.

Keutamaan Al Qur’an ditegaskan dalam Sabda Rasullullah, antara lain:


a. Sebaik-baik orang di antara kamu, ialah orang yang mempelajari Al Qur’an dan
mengajarkannya
b. Umatku yang paling mulia adalah Huffaz (penghafal) Al Qur’an (HR. Turmudzi)
c. Orang-orang yang mahir dengan Al Qur’an adalah beserta malaikat-malaikat yang
suci dan mulia, sedangkan orang membaca Al Qur’an dan kurang fasih lidahnya
berat dan sulit membetulkannya maka baginya dapat dua pahala (HR. Muslim).
d. Sesungguhnya Al Qur’an ini adalah hidangan Allah, maka pelajarilah hidangan
Allah tersebut dengan kemampuanmu (HR. Bukhari-Muslim).
e. Bacalah Al Qur’an sebab di hari Kiamat nanti akan datang Al Qur’an sebagai
penolong bagai pembacanya (HR. Turmuzi).
Adapun pengertian al qur’an dari segi istilah dapat dikemukakan berbagai pendapat
berikut ini:
Mana’ alqaththan, secara ringkas mengutip pendapat para ulama pada umumnya yang
menyatakan bahwa al quran adalah firman allah yang diturunkan kepada nabi Muhammad
S.A.W dan dinilai ibadah bagi pembacanya. Kemudian Al-Zarqoniberpendapat bahwa al
qur’an adalah lafat yang diturunkan kepada nabi Muhammad S.A.W mulai dari surat al-
fatikhah sampai an-nas. KemudianAl-Wahhab Al-Khallafberpendapat menurutnya, al
qur’an adalah firman allah S.W.T yang diturunkan kepada hati rosulullah S.A.W.
Dari beberapa kutipan tersebut dapat diketahui bahwa al qur’an adalah kitab suci yang
isinya mengandung firman allah, turunnya bertahap, melalui malaikat jibril, susunannya
dimulai dari surat al-fatikhah dan diakhiri dengan surat an-nas serta bagi yang
membacanya bernilai ibadah, fungsinya antara lain menjadi hujjah yang kuat atas
kerosulan nabi Muhammad SAW.
Berkenaan dengan definisi tersebut maka berkembanglah studi tentang Al Qur’an baik
dari segi kandungan ajarannya, maupun metode penafsirannya. Oleh sebab itu di kalangan
ulama berpendapat bahwa Al Qur’an lah sumber utama ajaran Agama Islam.
B. Peranan dan Fungsi Al Qur’an
Berikut ini beberapa fungsi al qur’an dan peranannya dari segi kandungan ajarannya
1. Al-Qur’an sebagai Kalamullah
Kalam (perkataan) Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW
melalui Malaikat Jibril dengan lafal dan maknanya. Al-Qur’an sebagai kitab Allah
menempati posisi sebagai sumber pertama dan utama dari seluruh ajaran Islam dan
berfungsi sebagai petunjuk atau pedoman bagi umat manusia dalam mencapai kebahagiaan
hidup di dunia dan akhirat.
Sebagai Kalamullah, Al-Qur’an dalam bentuk aslinya berada dalam induk Al-Kitab
(Lauh Mahfuzh) dalam lindungan Tuhan. Lalu diturunkan kepada Nabi dalam bahasa
kaumnya (bahasa Arab).
Wahyu Allah SWT yang diturunkan kepada nabi-nabi-Nya adalah suatu ilmu yang
dikhususkan untuk mereka. Kumpulan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad
SAW disebut al Qur’an, yang merupakan pembawa rahmat bagi alam semesta dan
petunjuk bagi manusia dalam hidup dan kehidupannya.
Wahyu turun dalam berbagai cara seperti ; Malaikat Jibril langsung atau
menyerupai manusia, berupa suara atau gemuruh, atau lonceng.
2. Al-Qur’an sebagai Sumber Hukum Islam
Sumber hukum ajaran Islam ada tiga. Yakni; Al Quran, As-Sunnah, dan Ijtihad. Al-
Qur’an adalah firman Allah, dan hadist merupakan sabda Rasulullah Muhammad
SAW.Sedangkan ijtihad didapatkan dari hasil pemikiran para ulama mujtahid (yang
berijtihad), dengan tetap mengacu kepada Al Quran dan As-Sunnah.
Isi Al Quran meliputi segala hal, mulai soal keimanan atau akidah hingga
fenomena alam. Al Quran mengajari manusia bersikap ilmiah atau berdasarkan ilmu (Q.S.
Al-Isro’:36), mendorong manusia melakukan penelitian untuk menyibak tabir alam
(Q.S.Yunus:101), menaklukkan angkasa luar (Q.S. Ar-Rahman:33), mengabarkan prediksi
ilmiah tentang rahim ibu (Q.S. Az-Zumar:6), gaya berat atau gravitasi (Q.S. Ar-
Rahman:7), pemuaian alam semesta (Q.S. Adz-Dzariyat:47, Q.S Al-Anbiya: 104,Q.S
Yasin:38), tentang ruang hampa di angkasa luar (Q.S. Al-An’am:125), tentang geologi,
gerak rotasi, dan revolusi planet bumi (Q.S. An-Naml:88) dan masih sangat banyak lagi.
3. Al-Qur’an sebagai Mukjizat
Dalam Bahasa Arabmukjizat berasal dari kata ‘ajz yang berarti lemah, kebalikan
dari qudrah(kuasa) sedangkan i’jaz berarti membuktikan kelemahan. Mu’jizadalah sesuatu
yang melemahkan atau membuat yang lain menjadi lemah, tidak berdaya. Setiap mukzijat
biasanya turun untuk memberikan tantangan bagi situasi zaman itu. Ketika pada zaman
Nabi Musa para tukang sihir sangat berkuasa dan mereka mencapai puncak
kemampuannya dalam ilmu sihir, Nabi Musa datang dengan membawa mukjizat yang
mampu melumpuhkan tipu daya para tukang sihir tersebut. Rasulullah SAW. pun hadir
pada suatu zaman ketika sastra Arab mencapai puncak ketinggiannya. Beliau datang
dengan Al-Quran yang memiliki gaya bahasa tingkat tinggi yang mampu melumpuhkan
seluruh penyair yang ada pada zaman itu.
Selain keindahan gaya bahasanya, ada petunjuk-petujuk sangat jelas lainnya yang
memperlihatkan bahwa Al-Quran datang dari Allah Swt. dengan segala kemukjizatannya.
Ayat-ayat yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan misalnya, dapat meyakinkan setiap
orang yang mau berpikir bahwa Al-Quran adalah firman-firman Allah Swt., tidak mungkin
ciptaan manusia apalagi ciptaan Nabi Muhammad saw. yang ummi (QS 7:158) yang hidup
pada awal abad keenam Masehi (571-632 M). Di antara ayat-ayat tersebut umpamanya:
QS 39:6; QS 6:125; QS 23:12,13,14; QS 51:49; QS 41:11-41; QS 21:30-33; QS 51:7,49,
dan lain-lain.
Ada pula ayat-ayat yang berhubungan dengan sejarah seperti tentang kekuasaan di
Mesir, Negeri Saba’. Tsamud, ’Aad, Nabi Adam, Nabi Yusuf, Nabi Dawud, Nabi
Sulaiman, Nabi Musa, dan sebagainya. Ayat-ayat ini dapat memberikan keyakinan kepada
kita bahwa Al-Quran adalah wahyu Allah bukan ciptaan manusia. Ayat-ayat yang
berhubungan dengan ramalan-ramalan khusus yang kemudian dibuktikan oleh sejarah
seperti tentang bangsa Romawi, berpecah-belahnya Kristen, dan lain-lain juga menjadi
bukti lagi kepada kita bahwa Al-Quran adalah wahyu dari Allah Swt. yang disampaikan
melalui lisan utusan-Nya.
4. Al Quran sebagai Pedoman Hidup
Sebagai pedoman hidup, Al Qur’an banyak mengemukakan pokok-pokok serta
prinsip-prinsip umum pengaturan hidup dalam hubungan antara manusia dengan Allah dan
mahluk lainnya. Di dalamnya terdapat peraturan-peraturan seperti:beribadah
langsung kepada Allah Swt, berkeluarga, bermasyarakat, berdagang,utang-
piutang, kewarisan, pendidikan dan pengajaran, pidana, dan aspek-aspek kehidupan
lainnya yang oleh Allah Swt. Dijamin dapat berlaku dan dapat sesuai pada setiap tempat
dan setiap waktu.
Setiap Muslim diperintahkan untuk melakukan seluruh tata nilai tersebut dalam
kehidupannya. Sikap memilih sebagian dan menolak sebagian tata nilai itu dipandang Al
Quran sebagai bentuk pelanggaran dan dosa. Melaksanakannya dinilai ibadah,
memperjuangkannya dinilai sebagai perjuangan suci, mati karenanya dinilai sebagai mati
syahid, hijrah karena memperjuangkannya dinilai sebagai pengabdian yang tinggi, dan
tidak mau melaksanakannya dinilai sebagai zalim, fasiq, dan kafir.
5. Al-Quran sebagai Korektor
Sebagai korektor, Al-Quran banyak mengungkapkan persoalan-persoalan yang
dibahas oleh kitab-kitab suci sebelumnya, semacam Taurat dan Injil yang dinilai tidak lagi
sesuai dengan ajaran yang telah diturunkan oleh Allah Swt. Ketidaksesuaian tersebut
menyangkut sejarah orang-orang tertentu, hukum-hukum, prinsip-prinsip ketuhanan, dan
sebagainya.
Ada beberapa contoh koreksian yang diungkapkan oleh Al-Quran terhadap kitab-
kitab terdahulu tersebut, antara lain:
a) Tentang ajaran Trinitas (QS 5:73)
b) Tentang Nabi Isa (QS 3:49,59; QS 5:72,76)
c) Tentang peristiwa penyaliban Nabi Isa (4:157-158)
d) Tentang Nabi Luth (QS 29:28-30; QS 7:80-84)
e) Tentang Nabi Harun (QS 20:90-94)
f) Tentang Nabi Sulaiman (QS 2:102; QS 27:15-44) dan sebagainya.
C. Pendekatan Memahami Al Qur’an
Dalam upaya menggali dan memahami maksud dari ayat-ayat Al Qur’an, terdapat
dua term atau istilah, yakni Tafsir dan Takwil. Imam al-Alusi berpendapat, bahwa
menurutnya tafsir adalah pejelasan makna Al Qur’an yang zahir (nyata), sedangkan takwil
adalah penjelasan para ulama dari ayat yang maknanya tersirat, serta rahasia-rahasia
ketuhanan yang terkandung dalam ayat Al Qur’an. Dapat juga dipahami bahwa Takwil
mempunyai beberapa arti yang mendalam, yaitu berupa pengertian-pengertian tersirat yang
di istinbathkan (diproses) dari ayat-ayat Al Qur’an, yang memerlukan perenungan dan
pemikiran serta merupakan sarana membuka tabir. Apabila mendapati ayat yang
mempunyai kemungkinan beberapa pengertian, para mufassir menentukan pengertian yang
lebih kuat, lebih jelas dan gamblang. Namun, hal tersebut sifatnya tidak pasti, sebab kalau
makna atau arti tersebut dipastikan berarti mufasir tersebut telah menguasai Al Qur’an,
sedangkan hal tesebut tidak dibenarkan sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur;an (Q.S Ali
Imran : 7).
Secara garis besar istilah antara tafsir dengan takwil tidak terdapat perbedaan yang
mendasar, kedua-duannya mempunyai semangat untuk menggali, mengkaji dan
memahami maksud dari ayat-ayat Al Qur’an guna dijadikan sebagai pedoman dan rujukan
umat Islam tatkala mengalami berbagai macam persoalan dalam kehidupan di dunia.
Sebagai upaya untuk menjelaskan maksud dari ayat Al Qur’an, obyek yang
dijadikan kajian dalam menafsirkan Al Qur’an adalah kalam Allah, maka dalam konteks
ini tidak perlu diragukan dan diperdebatkan kembali mengenai kemuliaannya.
Kandungannya meliputi aqidah-aqidah yang benar, hukum-hukum syara’ dan lain-lain.
Tujuan akhirnya adalah dapat diperolehnya tali yang amat kuat dan tidak akan putus serta
akan memperoleh kebahagiaan baik di dunia ataupun di akhirat. Dan oleh karenanya, ilmu
tafsir merupakan pokok dari segala ilmu agama, sebab ia diambil dari Al Qur’an, maka ia
menjadi ilmu yang sangat dibutuhkan oleh manusia.
Metodologi tafsir adalah ilmu tentang metode menafisirkan Al Qur’an dan
pembahasan ilmiah tentang metode-metode penafsiran Al Qur’an, pembahasan yang
berkaitan dengan cara penerapan metode terhadap ayat-ayat Al Qur’an disebut Metodik,
sedangkan cara menyajikan atau memformulasikan tafsir tersebut dinamakan teknik atau
seni penafsiran. Metode penafsiran Al Qur’an, secara garis besar dibagi dalam empat
macam metode, namun hal tersebut tergantung pada sudut pandang tertentu :
1) Metode Penafsiran ditinjau dari sumber penafsirannya.
2) Metode penafsiran ditinjau dari cara penjelasannya.
3) Motede penafsiran ditinjau dari keleluasan penjelasan.
4) Metode penafsiran ditinjau dari aspek sasaran dan sistematika ayat-ayat yang
ditafsirkan.
Ayat-ayat Al Qur’an yang sangat banyak ini sejatinya dapat menjawab semua
persoalan yang terjadi pada masyarakat. Namun kesan yang ada pada saat ini seakan-akan
ayat Al Qur’an masih mengandung misteri, sehingga belum mampu menjawab semua
persoalan yang ada. Kesan dan pemahaman yang keliru ini adalah akibat dari ”miskin”nya
cara, metode dan pendekatan dalam memahami dan menafsirkan ayat Al Qur’an.
Metodologi tafsir Al Qur’an adalah salah satu cara untuk mengkaji, memahami dan
menguak lebih jauh maksud dan kandungan dari ayat-ayat Al Qur’an. Metode tafsir yang
adapun sangat beragam model, bentuk dan pendekatannya.
suatu hal yang sangat penting bagi kita untuk mengetahui dan memahami macam-
macam metode tafsir ayat Al Qur’an yang ada dengan berbagai macam pendekatannya,
jika hal ini telah kita ketahui, maka ayat-ayat Al Qur’an semakin hidup dan mampu untuk
menjawab segala persoalan masyarakat yang berkembang begitu cepat. Hal ini semakin
mempertegas bahwa Al Qur’an adalah wahyu Allah yang menjadi rujukan dan sumber
utama ajaran semua umat Islam.
a. Ulumul Qur’an
Secara etimologi, kata Ulumul Qur’an berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari
dua kata, yaitu “ulum” dan “Al-Qur’an”. Kata ulum adalah bentuk jama’ dari kata “ilmu”
yang berarti ilmu-ilmu. Kata ulum yang disandarkan kepada kata Al Qur’an telah
memberikan pengertian bahwa ilmu ini merupakan kumpulan sejumlah ilmu yang
berhubungan dengan Al Qur’an, baik dari segi keberadaanya sebagai Al Qur’an maupun
dari segi pemahaman terhadap petunjuk yang terkandung di dalamnya.
Ulumul Qur’an menurut Assuyuthi dalam kitab itmamu al-Dirayah :
“Ilmu yang membahas tentang keadaan Al-Qur’an dari segi turunya, sanadnya,
adabnya makna-maknanya, baik yang berhubungan lafadz-lafadznya maupun yang
berhubungan dengan hukum-hukumnya, dan sebagainya”.
Ulumul Qur’an merupakan suatu ilmu yang mempunyai ruang lingkup pembahasan
yang luas. Ulumul Qur’an meliputi semua ilmu yang ada kaitanya dengan Al-Qur’an, baik
berupa ilmu-ilmu agama, seperti ilmu tafsir maupun ilmu-ilmu bahasa Arab. Disamping
itu, masih banyak lagi ilmu-ilmu yang tercakup di dalamnya.
Secara garis besar Ilmu alQur’an terbagi dua pokok bahasan yaitu :
1) Ilmu yang berhubungan dengan riwayat semata-mata, seperti ilmu yang membahas
tentang macam-macam qira’at, tempat turun ayat-ayat Al-Qur’an, waktu-waktu turunnya
dan sebab-sebabnya.
2) Ilmu yang berhubungan dengan dirayah, yakni ilmu yang diperoleh dengan jalan
penelaahan secara mendalam seperti memahami lafadz yang ghorib (asing) serta
mengetahui makna ayat-ayat yang berhubungan dengan hukum.
Pertumbuhan dan perkembangan Ulumul Qur’an menjelma menjadi suatu disiplin ilmu
melalui proses secara bertahap dan sesuai dengan kebutuhan dan kesempatan untuk
membenahi Al Qur’an dari segi keberadaanya dan segi pemahamanya.
b. Tafsir Al-Qur'an
Tafsir Al Qur’an Adalah ilmu pengetahuan untuk memahami dan menafsirkan
yang bersangkutan dengan Al Qur'an dan isinya. Berfungsi sebagai mubayyin,
menjelaskan tentang arti dan kandungan Al Qur’an, khususnya menyangkut ayat-ayat yang
tidak dipahami dan samar artinya. Tafsir berasal dari kata al-fusru yang mempunyai arti al-
ibanah wa al-kasyf (menjelaskan dan menyingkap sesuatu). Menurut pengertian
terminologi, seperti dinukil oleh Al-Hafizh As-Suyuthi dari Al-Imam Az-Zarkasyi ialah
ilmu untuk memahami kitab Allah SWT yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW,
menjelaskan makna-maknanya, menyimpulkan hikmah dan hukum-hukumnya.
Perkembangan ilmu Tafsir
Ilmu tafsir Al Qur'an terus mengalami perkembangan sesuai dengan tuntutan
zaman. Perkembangan ini merupakan suatu keharusan agar Al Qur'an dapat bermakna bagi
umat Islam. Pada perkembangan terbaru mulai diadopsi metode-metode baru guna
memenuhi tujuan tersebut. Dengan mengambil beberapa metode dalam ilmu filsafat yang
digunakan untuk membaca teks Al Qur'an maka dihasilkanlah cara-cara baru dalam
memaknai Al Qur'an. Di antara metode-metode tersebut yang cukup populer antara lain
adalah Metode Tafsir Hermeneutika dan Metode Tafsir Semiotika.
Ilmu yang terkait dengan Ilmu Tafsir
a) Lughat (fitologi), yaitu ilmu untuk mengetahui setiap arti kata AlQur'an. Mujahid
rah.a., berkata, "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhirat, ia tidak layak
berkomentar tentang ayat-ayat Al Qur'an tanpa mengetahui ilmu lughat. Sedikit
pengetahuan tentang ilmu lughat tidak cukup karena kadangkala satu kata mengandung
berbagai arti. Jadi hanya mengetahui satu atau dua arti, tidaklah cukup. Dapat terjadi, yang
dimaksud kata tersebut adalah arti yang berbeda.
b) Nahwu (tata bahasa). Sangat penting mengetahui ilmu nahwu, karena sedikit saja
i'rab (bacaan akhir kata) berubah akan mengubah arti kata tersebut. Sedangkan
pengetahuan tentang i'rab hanya di dapat dalam ilmu nahwu.
c) Sharaf (perubahan bentuk kata) sama halnya dengan ilmu nahwu, ilmu sharaf pun
juga penting, karena sedikit saja beda hurufnya maka akaan dapat mengubah arti,
karenanya ilmu sharaf dan ilmu nahwu sangat berkaitan erat.
d) Asbabun Nuzul adalah sebuah ilmu yang menerangkan tentang latar belakang
turunnya suatu ayat. Atau bisa juga keterangan yang menjelaskan tentang keadaan atau
kejadian pada saat suatu ayat diturunkan, meski tidak ada kaitan langsung dengan turunnya
ayat. Tetapi ada konsideran dan benang merah antara keduanya. Seringkali peristiwa yang
terkait dengan turunnya suatu ayat bukan hanya satu, bisa saja ada beberapa peristiwa
sekaligus yang menyertai turunnya suatu ayat. Atau bisa juga ada ayat-ayat tertentu yang
turun beberapa kali, dengan motivasi kejadian yang berbeda. Dan masih banyak lagi ilmu-
ilmu yang lainnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Al Qur’an adalah sumber ajaran Islam yang utama. Al-Qur’an adalah wahyu Allah
yang diturunkan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW. Al Qur’an menyajikan
tingkat tertinggi dari segi kehidupan manusia. Sangat mengagumkan bukan saja bagi orang
mukmin, melainkan juga bagi orang-orang kafir. Al Qur’an pertama kali diturunkan pada
tanggal 17 Ramadhan (Nuzulul Qur’an). Wahyu yang perta kali turun tersebut adalah Surat
Alaq, ayat 1-5.
Didalam al qur’an di jelaskan bahwa islam merupakan nama bagi agamaa allah
yang disampaikan oleh para nabi dan juga rosulullah SAW (QS al maidah : 3) islam
merupakan hakekat agama allah (QS ali imron : 19).
Fungsi atau peranan Al Quran yang sangat penting untuk dipahami seorang
Muslim, Yakni Al Qur’an berfungsi sebagai mukjizat bagi Rasulullah Muhammad saw,
sebagai Kalamullah,sebagai Sumber Hukum Islam, sebagai pedoman hidup bagi setiap
Muslim, serta sebagai korekter atau penyempurna terhadap kitab-kitab yang pernah Allah
Swt. bernilai abadi atau berlaku sepanjang zaman.
Sedangkan pendekatan untuk memahami al qur’an yakni dengan ulumul qur’an dan
tafsir al qur’an yang didalamnya berisi tentang sumber utama ajaran agama islam.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Khallaf Al-Wahhab, Ilmu Ushul Al-Fiqh Jakarta: Al-Majelis Al-A’la Al-Indonesia Li


Al Da’wah Al-Islamiyah, 1972
Kaelany HD , Islam Agama Universal (Edisi Revisi), Midada Rahma Press, 2009
Nata Abuddin, Metodologi Studi Islam, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004