Está en la página 1de 19

LAPORAN KASUS

Wanita G1P0A0 Usia Kehamilan 6 Minggu dengan


Abortus Inkomplit

Disusun Oleh :
Harumi Kusuma Wardani
1710221053

Pembimbing :

dr. Hary Purwoko, Sp.OG, KFER

DEPARTEMEN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI


RSUD AMBARAWA
PERIODE 6 AGUSTUS – 13 OKTOBER 2018
FAKULTAS KEDOKTERAN UPN “VETERAN” JAKARTA
2018
LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN
ILMU KEBIDANAN DAN KANDUNGAN

LAPORAN KASUS DENGAN JUDUL :

Wanita G1P0A0 Usia Kehamilan 6 Minggu dengan


Abortus Inkomplit

Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan


Klinik di Bagian Ilmu Kebidanan dan Kandungan

Rumah Sakit Umum Daerah Ambarawa

Disusun Oleh :

Harumi Kusuma Wardani


1710221053

Telah disetujui dan disahkan oleh pembimbing :

Nama pembimbing

dr. Hary Purwoko, SpOG, K.FER


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
limpahan rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan penulisan laporan
kasus ini dengan judul “Wanita G1P0A0 Usia Kehamilan 6 Minggu dengan Abortus
Inkomplit”. Penulisan laporan kasus ini merupakan salah satu syarat mengikuti ujian
kepaniteraan klinik Pendidikan Profesi Dokter di Departemen Kesehatan Kebidanan
dan Kandungan.

Dalam menyelesaikan tugas ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih


kepada dr. Hary Purwoko, Sp.OG, KFER selaku dokter pembimbing dan teman –
teman coass yang membantu dalam pembuatan laporan kasus ini.

Penulis menyadari dalam penyusunan laporan kasus ini masih banyak


kekurangan sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari
pembaca. Semoga laporan kasus ini dapat memberikan pengetahuan kepada pembaca
dan bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan dalam ilmu kedokteran.

Ambarawa, September 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin


dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan adalah kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Angka kejadian abortus sukar
ditentukan karena banyak kasus abortus provokatus tidak dilaporkan, kecuali bila
sudah terjadi komplikasi. Abortus spontan dan tidak jelas umur kehamilannya
hanya sedikit memberikan gejala atau tanda sehingga biasanya ibu tidak melapor
atau berobat. Sebagian besar kegagalan kehamilan ini disebabkan oleh kegagalan
gamet (misalnya sperma dan disfungsi oosit).
Di Indonesia saat ini hukum tentang aborsi provokatus didasarkan pada
hukum kesehatan tahun 1992. Walaupun bahasa yang digunakan untuk aborsi
adalah samar – samar, secara umum hukum tersebut mengizinkan aborsi bila
perempuan yang akan melakukan aborsi mempunyai surat dokter yang
mengatakan bahwa kehamilannya membahayakan kehidupannya, surat dari suami
atau anggota keluarga yang mengijinkan pengguguran kandungannya, test
laboratorium yang menyatakan perempuan tersebut positif dan pernyataan yang
menjamin bahwa setelah melakukan aborsi perempuan tersebut akan
menggunakan kontrasepsi.
BAB II
STATUS PASIEN

II.1 Identitas Pasien


 Nama : Ny. Ayu Soraya
 Jenis kelamin : Perempuan
 Usia : 21 tahun
 Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
 Status : Menikah
 Agama : Islam
 Alamat : Gedat 2/6 Kalikurmo bringin
 Pendidikan : SMP
 No. RM : 053271
 Tanggal masuk : 27 Agustus 2018
 Pembiayaan : BPJS non PBI

II.2 Anamnesis
Autoanamnesis dilakukan pada tanggal 28 Maret 2018 pukul 13.00 WIB di
ruang Boegenville, RSUD Ambarawa.

Keluhan Utama
Pasien datang dengan keluhan keluar darah dari jalan lahir sejak 12 jam
SMRS

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien G1P0A0 hamil 6 minggu datang dengan keluhan keluar darah dari
jalan lahir sejak 12 jam SMRS (09.00 WIB). Awalnya flek, lalu keluar darah
berwarna merah sedikit kehitaman, disertai gumpalan, berjumlah sedikit namun
tidak kunjung berhenti, pasien sudah mengganti pembalut 3 kali. Pasien juga
mengeluh nyeri pada perut bagian bawah 9 jam SMRS, disaat itu pasien pertama
kali keluar gumpalan dari jalan lahir. Pinggang pasien terasa sangat pegal. Pusing
seperti kepala tertekan. Mual dan muntah disangkal.
Diketahui pasien melakukan hubungan seksual saat 2 hari SMRS sebanyak
1 kali. Riwayat trauma disagkal. Riwayat infeksi disagkal. Pasien tidak memiliki
hewan pelliharaan dirumahnya, disekitar rumahnya juga tidak ada yang
memelihara hewan. Selama ini pasien melakukan pemeriksaan kehamilan di bidan
dan baru 1 kali. Sebelum mengalami keluhan keluar darah dari jalan lahir, pasien
sedang melakukan menyapu dan mengepel rumah dan saat pagi hari pasien
mencuci baju.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien tidak memiliki riwayat darah tinggi, diabetes mellitus, asma, sakit
jantung. Pasien memiliki alergi udang dengan reaksi kulit bentol bentol merah.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang memiliki riwayat darah tinggi, diabetes mellitus,
asma, alergi, sakit jantung. Tidak ada riwayat sakit kanker di keluarga.

Riwayat Pengobatan
Pasien tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan rutin selama ini. pasien
tidak pernah mengkonsumsi jamu-jamuan.

Riwayat Menstruasi
 Menarche : 13 tahun
 Lama haid : 7 hari
 Siklus : 28 hari
 HPHT : 10 Juli 2018
 HPL : 17 April 2019

Riwayat Obstetri
G1P0A0
Anak I : Hamil saat ini
Perilaku Kesehatan
 Merokok : disangkal
 Minum alcohol : disangkal
 Memelihara hewan : disangkal

Riwayat KB
Pasien belum pernah menggunakan KB apapun

Riwayat Pernikahan
Saat ini merupakan pernikahan pertama bagi pasien. Pasien telah menikah
dengan suaminya selama 3 bulan.

Riwayat Sosial Ekonomi


Pasien merupakan seorang ibu rumah tangga dengan pendidikan terakhir
SMP. Suami pasien merupakan seorang buruh serabutan dengan pendidikan
terakhir SMP. Pasien tinggal bersama orang tua dan suami. Biaya pengobatan
ditanggung oleh BPJS non PBI.

II.3 Pemeriksaan Fisik


Status Generalis
 Keadaan umum : Baik, tampak sakit ringan
 Kesadaran : Compos mentis
 Tanda vital :
- Tekanan darah : 120/80 mmHg
- Nadi : 91 x/menit
- Nafas : 20 x/menit
- Suhu : 36,7oC
- Saturasi Oksigen : 98%
 Kepala : Normocephale
 Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), pupil
isokor (3mm/ 3mm), refleks pupil (+/+)
 Hidung : Septum deviasi (-), secret (-), mukosa hiperemis (-)
 Telinga : Normotia, secret (-)
 Leher : Pembesaran KGB (-), trakea di tengah, tiroid tidak
membesar
 Thorax :
Paru
- Inspeksi : Bentuk normal, gerak nafas kedua dada simetris
- Palpasi : Vokal fremitus +/+ simetris
- Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
- Auskultasi : Vesikuler Sound +/+, rhonki -/-, wheezing -/-
Jantung
- Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
- Palpasi : Iktus cordis teraba
- Perkusi :
 Batas Atas Jantung : ICS II Linea Parasternal Sin
 Batas Jantung Kanan : ICS II-III Linea Parasternal Dextra
 Batas Pinggang Jantung: ICS V Linea Midclavicularis Sin
- Auskultasi : BJ I-II reguler, gallop (-), murmur (-)
 Abdomen :
- Inspeksi : Permukaan datar, warna sama seperti kulit di
sekitar, bekas operasi (-),
- Auskultasi : Bising usus 6x / menit
- Palpasi : Supel, tidak ada nyeri tekan maupun nyeri lepas
- Perkusi : Timpani seluruh regio abdomen. Nyeri ketok (-)
 Ekstremitas :
Superior Inferior
Akral hangat +/+ +/+
Sianosis -/- -/-
Varises -/- -/-
Oedem -/- -/-
Capillary Refill < 2 detik <2 detik
 Genitalia : Tidak tampak kelainan pada vagina, perdarahan (+),
Chadwick Sign (-), perineum dalam batas normal.

Status Obstetri
 Pemeriksaan luar (palpasi)
 TFU : teraba 2 jari diatas simfisis pubis
 DJJ : (-)
 Leopold : (-)
 Pemeriksaan dalam (Vaginal toucher)
PV (+), Vulva/uretra tidak ada kelainan, dinding vagina dalam batas
normal, ostium uterus eksterna terbuka

II.4 Pemeriksaan Penunjang


Laboraturium

Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan


Hb 12,2 11.7-15.5 g/dL
Leukosit 8,2 3.6-10 Ribu
Eritrosit 4,81 3.8-5.2 Juta
Hematokrit 35,6 35-47 %
MCV 83,3 82-98 fl
MCH 28,7 27-32 Pg
MCHC 34,8 32-37 g/dL
RDW 17,2 10-16 %
Trombosit 317 150-400 Ribu
MPV 10,1 7-11 Mikro m3
Limfosit 1,79 1.0-4.5 103/mikro
Monosit 1,78 0.2-1.0 103/mikro
Limfosit % 28,8 25-40 %
Monosit % 6,3 2-8 %
PCT 0.318 0.2-0.5 %
HbsAg Non Reaktif
PTT 10,4 9.7-13.1 detik
APTT 26,5 23.9-39.8 detik
Ureum 11,4 10-50 Mg/dl
Kreatinin 0.70 0.45-0.75 Mg/dl
GDS 84 74-106 Mg/dl
SGOT 21 0-35 U/L
SGPT 17 0-35 IU/L

Ultrasonografi
Terdapat sisa jaringan didalam cavum uteri pro curetase

II.5 Resume
Pasien G1P0A0 hamil 6 minggu datang dengan keluhan keluar darah dari
jalan lahir sejak 12 jam SMRS. Awalnya flek, lalu keluar darah berwarna merah
sedikit kehitaman, disertai gumpalan, berjumlah sedikit namun tidak kunjung
berhenti, pasien sudah mengganti pembalut 3 kali. Pasien juga mengeluh nyeri
pada perut bagian bawah. Pinggang pasien terasa sangat pegal. Pusing seperti
kepala tertekan. Mual dan muntah disangkal. Sebelum terjadi keluhan pasien
sedang melakukan pekerjaan rumah. Diketahui pasien melakukan hubungan
seksual saat 2 hari SMRS. Selama ini pasien melakukan pemeriksaan kehamilan
di bidan dan baru 1 kali. Riwayat trauma disagkal. Riwayat infeksi disagkal.
Pasien tidak memiliki hewan peliharaan dirumahnya. Riwayat hipertensi, diabetes
mellitus, asma disangkal, pasien memiliki alergi udang. Pada pemeriksaan fisik
saat pasien pertama kali datang status generalisnya dalam batas normal, hanya
saat pemeriksaan genitalia ditemukan PPV (+). Pada pemeriksaan obstetri
didapatkan TFU: 1 jari di atas simfisis pubis, VT : ostium uterus eksterna terbuka,
darah: (+), Pada pemeriksaan laboratorium dalam batas normal.

II.6 Diagnosis
G1P0A0 usia 21 tahun hamil 6 minggu dengan abortus inkomplit

II.7 Penatalaksanaan dan Sikap


Sikap
 Tingkatkan keadaan umum
- Bed rest.
- IVFD RL 20 tpm
 Pengawasan keadaan umum dan tanda vital
Penatalaksanaan
 Medikamentosa
- Injeksi biocombim 2x1
- Hyosin 3x1

Edukasi
 Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit yang ia derita.
 Menjelaskan kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi dari penyakit
yang di derita.
 Menganjurkan untuk istirahat dan menenangkan pikiran.

II.8 Prognosis
 Quo ad vitam : Dubia Ad Bonam
 Quo ad fungtionam : Dubia Ad Bonam
 Quo ad sanationam : Dubia
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

III. 1 DEFINISI
Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin
dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan adalah kehamilan kurang dari 20
minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. Abortus inkomplit adalah
pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20 minggu dan
masih ada sisa yang tertinggal di dalam uterus.

III.2 EPIDEMIOLOGI
Lebih dari 80% abortus terjadi dalam 12 minggu pertama kehamilan dan
angka tersebut kemudian menurun secara cepat pada umur kehamilan selanjutnya.
Insiden abortus inkomplit belum diketahui secara pasti, namun demikian
disebutkan sekitar 60 persen dari wanita hamil dirawat dirumah sakit dengan
perdarahan akibat mengalami abortus inkomplit. Inisiden abortus spontan secara
umum disebutkan sebesar 10% dari seluruh kehamilan. Angka- angka tersebut
berasal dari data-data dengan sekurang-kurangnya ada dua hal yang selalu
berubah, kegagalan untuk menyertakan abortus dini yang tidak diketahui, dan
pengikutsertaan abortus yang ditimbulkan secara ilegal serta dinyatakan sebagai
abortus spontan.

III.2 ETIOLOGI
Berikut adalah penyebab yang umum didapatkan dalam kasus aborsi :
Faktor janin
a. Aborsi aneuploidi 95% dari kelainan kromosom yang berkaitan dengan aborsi
disebabkan oleh kesalahan gametogenesis. Trisomi autosomal paling sering
ditemukan berkaitan dengan kelainan kromosom pada aborsi pada trimester
pertama. Sedangkan monosomi X adalah kelainan kromosom tunggal spesifik
yang paling sering ditemukan.
b. Aborsi euploidi merupakan janin dengan kromosom normal cenderung untuk
aborsi lebih jauh di kemudian hari dibandingkan dengan aborsi aneuploidi.
Angka kejadian dari aborsi euploidi berkurang dramatis setelah umur ibu
lebih dari 35 tahun.

Faktor ibu
a. Infeksi tidak umum menyebabkan aborsi. Studi lain yang dilakukan Oakshet
dkk (2002) menunjukkan hubungan antara aborsi pada trimester kedua
dengan bakterial vaginosis.
b. Hipotiroid atau defisiensi tiroid yang berat mungkin berkaitan dengan aborsi.
Efek dari hipotiroid sendiri terhadap aborsi belum banyak diteliti namun
peningkatan autoantibodi terhadap tiroid berkaitan dengan peningkatan angka
kejadian dari aborsi.
c. Diabetes mellitus atau Kadar gula darah yang tidak terkontrol meningkatkan
angka kejadian aborsi.
d. Kebiasaan merokok berkaitan dengan meningkatnya resiko dari aborsi
euploidi. Resiko ini meningkat sesuai dengan peningkatan frekuensi dan dosis
dari merokok itu sendiri.
e. Konsumsi alkohol pada 8 minggu pertama kehamilan berkaitan erat dengan
peningkatan angka kejadian aborsi.
f. Peningkatan resiko aborsi baru terjadi pada mereka yang mengkonsumsi
kafein lebih dari 500 mg per hari.
g. Defek uterus Resiko aborsi meningkat pada sindrom Asherman.
h. Servik inkompeten Servik inkompeten adalah terjadinya dilatasi servik yang
tidak sakit pada trimester kedua. Kejadian tersebut bisa diikuti oleh prolap
dan penggembungan dari membran ke vagina sehingga terjadi ekspulsi dari
janin prematur.

III.3 PATOGENESIS
Proses abortus inkomplit dapat berlangsung secara spontan maupun
sebagai komplikasi dari abortus provokatus kriminalis ataupun medisinalis. Proses
terjadinya adalah berawal dari pendarahan pada desidua basalis yang
menyebabkan nekrosis jaringan diatasnya. Selanjutnya sebagian atau seluruh hasil
konsepsi terlepas dari dinding uterus. Hasil konsepsi yang terlepas menjadi benda
asing terhadap uterus sehingga akan dikeluarkan langsung atau bertahan beberapa
waktu. Pada kehamilan kurang dari 8 minggu hasil konsepsi biasanya dikeluarkan
seluruhnya karena villi korialies belum menembus desidua secara mendalam.
Pada kehamilan antara 8 minggu sampai 14 minggu villi koriales menembus
desidua lebih dalam sehingga umumnya plasenta tidak dilepaskan sempurna yang
dapat menyebabkan banyak perdarahan. Pada kehamilan lebih dari 14 minggu
umumnya yang mula-mula dikeluarkan setelah ketuban pecah adalah janin,
disusul kemudian oleh plasenta yang telah lengkap terbentuk. Perdarahan tidak
banyak jika plasenta segera terlepas dengan lengkap.

III.4 GAMBARAN KLINIS


Gejala klinis pada abortus pada umumnya sama, antara lain :
a. Perdarahan atau bercak darah dari jalan lahir pada trimester pertama
b. Jumlah darah umumnya sedikit
c. Warna darah bervariasi dari kecoklatan hingga merah segar
d. Perdarahan bisa berlangsung hingga beberapa hari
e. Biasa didahului oleh mulas – mulas atau sakit pinggang

III.5 DIAGNOSIS
Diagnosis abortus inkomplit ditegakkan berdasarkan gambaran klinis
melalui anamnesis dan hasil pemeriksaan fisik, setelah menyingkirkan
kemungkinan diagnosis banding lain, serta dilengkapi dengan pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan fisik mengenai status ginekologis meliputi pemeriksaan
abdomen, inspikulo dan vaginal toucher. Palpasi tinggi fundus uteri pada abortus
inkomplit dapat sesuai dengan umur kehamilan atau lebih rendah. Pemeriksaan
penunjang berupa USG akan menunjukkan adanya sisa jaringan.
Tidak ada nyeri tekan ataupun tanda cairan bebas seperti yang terlihat
pada kehamilan ektopik yang terganggu. Pemeriksaan dengan menggunakan
spekulum akan memperlihatkan adanya dilatasi serviks, mungkin disertai dengan
keluarnya jaringan konsepsi atau gumpalan-gumpalan darah. Bimanual palpasi
untuk menentukan besar dan bentuk uterus perlu dilakukan sebelum memulai
tindakan evakuasi sisa hasil konsepsi yang masih tertinggal. Menentukan ukuran
sondase uterus juga penting dilakukan untuk menentukan jenis tindakan yang
sesuai.

III.6 DIAGNOSIS BANDING


Abortus inkomplit dapat di diagnosis banding dengan abortus iminens,
abortus insipien, abortus komplit, kehamilan ektopik tuba, dan abortus mola.

III.7 PENATALAKSANAAN
Terlebih dahulu dilakukan penilaian mengenai keadaan pasien dan
diperiksa apakah ada tanda-tanda syok. Penatalaksanaan abortus spontan dapat
dilakukan dengan menggunakan teknik pembedahan maupun medis. Teknik
pembedahan dapat terdiri dari dilatasi serviks yang diikuti dengan pengosongan
isi uterus baik dengan cara kuretase, aspirasi vakum, dilatasi dan evakuasi,
maupun dilatasi dan ekstrasi, teknik induksi haid, dan laparotomi yang dapat
dilakukan dengan histerotomi maupun histerektomi. Induksi abortus dengan
tindakan medis menggunakan preparat antara lain : oksitosin intravenus, lamtan
hiperosmotik intraamnion seperti larutan salin 20% atau urea 30%, prostaglandin
Ez, F2a dan analog prostaglandin yang dapat berupa injeksi intraamnion, injeksi
ekstraokuler, insersi vagina, injeksi parenteral maupun per oral, antiprogesteron -
RU 486 (meferiston), atau berbagai kombinasi tindakan tersebut diatas.
Pada kasus-kasus abortus inkomplit, dilatasi serviks sebelum tindakan
kuretase sering tidak diperlukan. Pada banyak kasus, jaringan plasenta yang
tertinggal terletak secara longgar dalam kanalis servikalis dan dapat diangkat dari
ostium ekstema yang sudah terbuka dengan memakai forsep ovum atau forsep
cincin. Bila plasenta seluruhnya atau sebagian tetap tertinggal di dalam uterus,
induksi medis ataupun tindakan kuretase untuk mengevakuasi jaringan tersebut
diperlukan untuk mencegah terjadinya perdarahan lanjut.
Perdarahan pada abortus inkomplit kadang-kadang cukup berat, tetapi
jarang berakibat fatal. Evakuasi jaringan sisa di dalam uterus untuk menghentikan
perdarahan dilakukan dengan cara:
a. Jika perdarahan tidak seberapa banyak dan kehamilan kurang dari 16
minggu, evakuasi dapat dilakukan secara digital atau cunam ovum untuk
mengelaurkan hasil konsepsi yang keluar melalui serviks. Jika pendarahan
berhenti, beri ergometrin 0,2 mg intramuskular atau misoprostol 400 mcg
per oral.
b. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang
dari 16 minggu, evakuasi hasil konsepsi dengan: • Aspirasi Vakum
merupakan metode evakuasi yang terpilih. Evakuasi dengan kuret tajam
sebaiknya dilakukan jika aspirasi vakum manual tidak tersedia. • Jika
evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri ergometrin 0,2 mg
intramuskular (diulangi setelah 15 menit jika perlu) atau misoprostol 400
mcg per oral (dapat diulangi setelah 4 jam jika perlu). 3. Jika kehamilan
lebih dari 16 minggu: • Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml
cairan intravena (garam fisiologis atau Ringer Laktat) dengan kecepatan
40 tetes per menit sampai terjadi ekspuisi hasil konsepsi. • Jika perlu
berikan misoprostol 200 mcg pervaginam setiap 4 jam sampai terjadi
ekspuisi hasil konsepsi (maksimal 800 mcg). • Evakuasi sisa hasil
konsepsi yang tertinggal dalam uterus.

Teknik kuretase dengan penyedotan (aspirasi vakum) sangat bermanfaat


untuk mengosongkan uterus, dilakukan dengan menyedot isi uterus menggunakan
kanula yang terbuat dari bahan plastik atau metal dengan tekanan negatif.
Tekanan negatif dapat menggunakan pompa vakum listrik atau dengan syringe
pump 60 ml. Aspirasi vakum merupakan prosedur pilihan yang lebih aman jika
dibandingkan dengan teknik kuretase tajam, digunakan pada kehamilan kurang
dari 12 minggu, dapat dilakukan hanya dengan atau tanpa analgesia lokal pada
serviks maupun analgesia sistemik sedang. Aplikasi aspirasi vakum bahkan dapat
dilakukan sampai pada umur kehamilan 15 minggu, tergantung pada ketrampilan
dan pengalaman operator. Complete abortion rate aspirasi vakum berkisar antara
95 - 100%. Metode ini merupakan pilihan untuk mengatasi abortus inkomplit.
Evakuasi jaringan sisa dapat dilakukan secara lengkap dalam waktu 3- 10
menit. Sebelum melakukan tindakan kuretase, pasien, tempat dan alat kuretase
disiapkan terlebih dahulu. Pada pasien yang mengalami syok, atasi syok terlebih
dahulu. Kosongkan kandung kencing, selanjutnya dapat diberikan anestesi (jika
diperlukan). Lakukan pemeriksaan ginekologik ulang untuk menentukan besar
dan bentuk uterus, kemudian lakukan tindakan antisepsis pada ginitalia ekstema,
vagina dan serviks. Spekulum vagina dipasang dan selanjutnya serviks
dipresentasikan dengan tenakulum. Uterus disoride dengan hati-hati untuk
menentukan besar dan arah uterus. Masukan kanula yang sesuai dengan dalam
kavum uteri melalui serviks yang telah berdilatasi (tersedia ukuran kanula dari 4
mm sampai 12 mm). Selanjutnya kanula dihubungkan dengan aspirator (60 Hg
pada aspirator listrik atau 0,6 atm pada syringe). Kanula digerakkan perlahanlahan
dari atas kebawah dan sebaliknya, sambil diputar 360°. Bila kavum uteri sudah
bersih dari jaringan konsepsi, akan terasa dan terdengar gesekan kanula dengan
miometrium yang kasar, sedangkan dalam botol penampung jaringan akan timbul
gelembung udara. Pasca tindakan tanda-tanda vital diawasi selama 15-30 menit
tanpa anestesi dan selama 1 - 2 jam bila dengan anestesi umum. Pemeriksaan
lanjut dapat dilakukan 1-2 minggu kemudian.
Berbagai kemungkinan komplikasi tindakan kuretase dapat terjadi, seperti
perforasi uterus, laserasi serviks, perdarahan, evakuasi jaringan sisa yang tidak
lengkap dan infeksi. Komplikasi ini meningkat pada umur kehamilan setelah
trimester pertama, dengan demikian, tindakan evakuasi yang dilakukan pada
kehamilan diatas trimester pertama berupa dilatasi dan evakuasi. Panas bukan
merupakan kontraindikasi untuk kuretase apabila pengobatan dengan antibiolik
yang memadai segera dimulai.
Penatalaksanaaan abortus dengan teknik medis dibuktikan aman dan
efektif. Efikasi terapi mifepriston dengan misoprostol dilaporkan sebesar 98%
pada kehamilan trimester pertama awal. Namun demikian, pada abortus
inkomplit, metode ini tidak memberikan keuntungan yang signifikan. Untuk
mencapai ekspuisi spontan yang lengkap dengan terapi prostaglandin
(misoprostol) diperlukan waktu rata-rata selama 9 hari. Regimen mefepriston,
antiprogesteron digunakan secara luas, bekeria dengan cara mengikat reseptor
prigesteron, sehingga terjadi inhibisi efek progesteron untuk menjaga kehamilan.
Dosis yang digunakan 200 mg. Kombinasi selanjutnya (36 - 48 jam) dengan
pemberian prostaglandin 800 µg insersi vagina mengakibatkan kontraksi uterus
lebih lanjut yang kemudian diikuti dengan ekspuisi jaringan konsepsi.
Efek yang terjadi pada terapi dengan obat-obatan ini berupa kram pada
perut yang disertai dengan perdarahan yang menyerupai menstruasi namun
dengan fase yang memanjang, selama 9hari bahkan dapat terjadi selama 45 hari.
Kontraindikasi penggunaan obat-obat tersebut adalah pada keadaan dengan gagal
ginjal akut, kelainan fimgsi hati, perdarahan abnormal, perokok berat dan alergi.

III.8 PROGNOSIS
Angka kesembuhan yang terlihat sesudah mengalami tiga kali abortus
spontan akan berkisar antara 70 dan 85% tanpa tergantung pada pengobatan yang
dilakukan. Abortus inkomplit yang di evakuasi lebih dini tanpa disertai infeksi
memberikan prognosis yang baik terhadap ibu.

III.9 KOMPLIKASI
Abortus inkomplit yang tidak ditangani dengan baik dapat
mengakibatkan syok akibat perdarahan hebat dan terjadinya infeksi akibat retensi
sisa hasil konsepsi yang lama didalam uterus. Sinekia intrauterine dan infertilitas
juga merupakan komplikasi dari abortus. Komplikasi juga dapat terjadi akibat
tindakan kuretase antara lain dapat terjadi refleks vagal yang menimbulkan
muntah-muntah, bradikardi dan cardiac arrest. Perforasi uterus dapat disebabkan
oleh sonde atau dilatator. Bila perforasi oleh kanula, segera diputuskan hubungan
kanula dengan aspirator. Selanjutnya kavum uteri dibersihkan sedapatnya. Pasien
diberikan antibiotika dosis tinggi. Biasanya pendarahan akan berhenti segera. Bila
ada keraguan, pasien dirawat. Serviks robek yang biasanya disebabkan oleh
tenakulum. Bila pendarahan sedikit dan berhenti, tidak perlu dijahit. Pendarahan
yang biasanya disebabkan sisa jaringan konsepsi. Pengobatannya adalah
pembersihan sisa jaringan konsepsi. Infeksi dapat terjadi sebagai salah satu
komplikasi. Pengobatannya berupa pemberian antibitoka yang sensitif terhadap
kuman aerobik maupun anaerobik. Bila ditemukan sisa jaringan konsepsi,
dilakukan pembersihan kavum uteri setelah pemberian antibiotika profilaksis
minimal satu hari.
DAFTAR PUSTAKA

1. Wibowo B. Wiknjosastro GH. Kelainan dalam Lamanya Kehamilan. Dalam :


Wiknjosastro GH, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, editor. Hmu Kebidanan.
Edisi 5. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo ; 2002 : hal.
302 - 312.
2. Abortion. In: Leveno KJ, et all. Williams Manual of Obstetrics. USA:
McGrawHill Companies, 2003 : p. 45 – 55
3. Ministry of Health Republic of Indonesia. Indonesia Reproductive Health
Profile 2003. Available at: http:/w3.whosea.org/LinkFiles/Reproduc-
tive_Health__Profile_RHP-Indonesia.pdf. Di akses 15 Juli 2017
4. Pedoman Diagnosis – Terapi Dan Bagian Alir Pelayanan Pasien, Lab/SMF
Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana RS
Sanglah Denpasar. 2003
5. Abortion. In : Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, Hauth JC, Bilstrap
LC, Wenstrom KD, editors. William Obsetrics. 22nd ed. USA : The
McGrawHills Companies, Inc ; 2005 : p. 231-247
6. Abortion. In: Leveno KJ, et all. Williams Manual of Obstetrics. USA:
McGrawHill Companies, 2003 : p. 45 – 55
7. Stovall TG. Early Pregnancy Loss and Ectopic Pregnancy. In : Berek JS, et
all. Novak's Gynaecology. 13th ed. Philadelphia; 2002 : p. 507 - 9.
8. Griebel CP, Vorsen JH, Golemon TB, Day AA. Management of Spontaneus
Abortion. AAFP Home Page>New & Publications>Joumals>American
Family Physician. October 012005;72;1.
9. Lindsey.J.L.Missed Abortion. Available from htpp ://
www.emedicine.com/med/topic last update : Juli 18, 2005