Está en la página 1de 2

Renungan Pagi (Sabtu, 29 september 2018)

Mengenal Allah (bagian 2): Allah Maha Adil

Bacaan: Nahum 1:2-8, Pengkotbah 12:14

Pada bacaan semalam, kita telah melihat salah satu sifat Allah yaitu Allah yang penuh kasih.
Akan tetapi Allah bukanlah Allah yang hanya memiliki sifat kasih saja, melainkan Allah juga
adalah Allah yang adil.

Salah satu karakter Tuhan yang Alkitab tunjukkan adalah, Allah adalah Allah yang adil. Dalam
menegakkan keadilan-Nya, Allah bersikap sangat tegas tanpa kompromi ( Kej 3:16-19, Kej
6:13, Zef 3:8, dll). Ia bukan Pribadi yang lemah, yang bisa diatur dan dikuasai dan tidak
berpendirian, tetapi sebaliknya, Allah adalah Allah yang tegas dalam keputusan dan
berintegritas tinggi terhadap diri-Nya sendiri dalam menegakkan keadilan-Nya. Berintegritas
tinggi terhadap diri-Nya sendiri artinya bahwa Allah dalam seluruh tindakan dan keputusan-
Nya tidak terlepas dari hakikat-Nya yang tidak berubah. Harus diperhatikan tatanan dalam diri
Allah yang juga menjadi kodrat Nya, bahwa selain Allah adalah Allah yang Mahakasih, Ia juga
Allah yang Mahaadil. Banyak orang hanya memperhatikan dan menekankan kasih-Nya, tetapi
tidak memperhatikan hakikat Allah yang lain, yaitu keadilan-Nya. Seharusnya kita memandang
dengan seimbang, selain memandang kasih Allah, juga memandang keadilan-Nya.

Sikap keadilan dan ketegasan Allah juga nampak dalam perlakuan-Nya kepada bangsa Israel.
Walaupun mereka umat pilihan Allah, tetapi waktu mereka tidak mau mengerti kehendak-Nya
dan melakukan pelanggaran terhadap hukum-Nya, maka Allah bersikap tegas terhadap mereka,
yaitu membuang mereka (2 Raj 17:6-23). Demikian pula terhadap umat Perjanjian Baru, Allah
menyatakan keadilanNya yang sangat tegas (Kis 5:1-10, Kis 12:21-23).

Dalam Roma 11:19-21 dikatakan bahwa “Tuhan pun tidak menyayangkan“. Hal ini harus
sungguh-sungguh diperhatikan, sebab banyak orang ‘Kristen’ merasa bahwa jika dirinya mati
pasti masuk surga. Selama ini banyak orang ‘Kristen’ yang mengaku sudah disayang Tuhan,
lalu merasa aman-aman saja dan hidup seenaknya. Mereka tidak menyadari bahwa Tuhan
adalah Tuhan yang tegas yang tidak dapat dipermainkan.

Dalam Roma 2:6-8 dikatakan bahwa Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya,
murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada
kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. Kata “geram dan murka” dalam ayat ini,
menunjukkan hakikat Tuhan, bahwa Ia bisa murka dan geram. Karenanya orang percaya tidak
boleh hanya memahami keramahan Tuhan, tetapi juga kenyataan bahwa Allah memiliki geram
dan murka.

Tuhan tidak pandang bulu atau tidak pandang muka, setiap kesalahan akan mendapat
hukuman. Dalam Roma 2:11 tertulis: Sebab Allah tidak memandang bulu. Kebenaran inilah
yang sering ditutup-tutupi penguasa kegelapan agar tidak diketahui manusia atau kurang
diperhatikan, agar banyak orang tidak takut Allah, menganggap sepi kemurahan Allah (Rm.
2:4), manusia berdosa berkepanjangan, menolak pertobatan. Bagaimanapun Allah akan
membawa setiap perbuatan ke dalam perhitungan dalam pengadilan-Nya (Nah. 1:2-3).

Sekarang kita tahu bahwa Allah bukan sekedar Allah yang penuh dengan kasih, tapi Dia juga
adalah Allah yang penuh keadilan. Sudahkah kita melihat Allah sebagai Allah yang maha adil?
Lalu bagaimana kita manusia yang berdosa/bersalah ini bisa berkenan di hadapan Allah yang
maha adil? Kita akan melihat jawabannya di sesi-sesi kedepan.

Sumber: http://www.rehobot.org/beranda_renungan/keadilan-allah/ yang telah disunting.