Está en la página 1de 4

PEMERINTAH KOTA PEMATANGSIANTAR

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH


DR. DJASAMEN SARAGIH PEMATANGSIANTAR
Jl. Sutomo No. 230 Telp (0622) 23823 – 23824 – 22959 Fax. (0622) 23824
PEMATANGSIANTAR
Kode Pos 21121

TELAAHAN STAF

Kepada : Plh Walikota Pematangsiantar


Dari : dr. Harlen Saragih, MARS
Tanggal : Mei 2017
Sifat : Penting
Lampiran :
Hal : Peningkatan Pelayanan di RSUD.dr. Djasamen Saragih

1. Pokok Persoalan :
1. Rendahnya kunjungan masyarakat berobat ke RSUD.dr. Djasamen Saragih
2. Lambannya penanganan dokter terhadap pasien
3. Adanya blok-blok antara pegawai (masalah internal).
4. Dokter sebagai pegawai ASN
5. Kunjungan berobat masyarakat Kota Pematang Siantar peserta BPJS

2. Pra Anggapan : Kualitas pelayanan kesehatan di RSUD dr. Djasamen Saragih


masih rendah

3. Fakta dan data yang berpengaruh terhadap persoalan :


1. Pimpinan gagal memenej staf
2. Transparansi pimpinan kepada pejabat struktural dan staf tidak ada
3. Arogansi pimpinan
4. Pembagian jasa layanan kepada dokter dan staf yang tidak berkeadilan
5. Sarana, alat kesehatan dan obat-obatan yang tidak mendukung.
6. Penerapam managemen konflik yang dilakukan pimpinan
7. Tidak adanya perlindungan hukum terhadap dokter
8. Kurangnya tenaga dokter spesialis dan perawat.

4. Pembahasan/Analisis :

RSUD dr. Djasamen Saragih sebagai salah satu Lembaga Tekhnis Daerah, merupakan
ujung tombak dalam pembangunan kesehatan masyarakat. Namun, tidak sedikit keluhan
selama ini diarahkan pada kualitas pelayanan rumah sakit yang dinilai masih rendah.
Penyebabnya sangat klasik, yaitu masalah kualitas pelayanan yang rendah dan keterbatasan
dana yang dimiliki oleh rumah sakit, sehingga tidak bisa mengembangkan mutu layanannya,
baik karena peralatan medis yang terbatas maupun kemampuan sumber daya manusia (SDM)
yang rendah. Hal ini disebabkan karena panjangnya birokrasi yang harus dilalui ketika akan
mengadakan suatu peralatan medis dan penambahan serta peningkatan SDM meskipun untuk
peralatan yang sangat murah.
Untuk itu perlu komitmen bersama antara Pemerintah Kota dengan RSUD dr. Djasamen
Saragih untuk mewujudkan RSUD dr. Djasamen Saragih sebagai pilihan utama masyrakat
kota Pematang Siantar dan masyarakat luar kota Pematang Siantar.
Adanya konflik yang terjadi dan demonstrasi pegawai RSUD dr. Djasamen Saragih
yang terjadi selama ini adalah akibat kegagalan pimpinan rumah sakit untuk mengayomi dan
merangkul seluruh pegawai khususnya dokter yang bekerja di rumah sakit. Menurut penulis
gagalnya komunikasi direktur dengan dokter adalah disebabkan arogansi dan pembagian jasa
pelayanan yang tidak transparan dan tidak berdasarkan kinerja. Tujuan utama masyarakat
datang ke rumah sakit adalah mencari dokter untuk berobat, bukan untuk mencari pejabat
direktur (pejabat struktural) atau pejabat lainnya, hal ini yang kurang dipahami oleh pimpinan
rumah sakit terdahulu.
Sesuai dengan Undang-Undang No.44 Tahun 2009 tentang rumah sakit , rumah sakit
sebagai layanan kesehatan masyarakat harus buka 24 jam untuk melayani tidak seperti
kantor/dinas yang buka hanya sebatas jam kerja ASN, hal ini tentu tidak berlaku bagi sebuah
rumah sakit yang notabene dokter dan tenaga kesehatan lainnya adalah seorang ASN, hal ini
harus disikapi seorang direktur rumah sakit harus memahami bagaimana seorang dokter ASN
yang harus siap sedia 24 jam untuk di panggil untuk melayani pasien. Dokter dan perawat
bukanlah segalanya dalam sebuah institusi rumah sakit harus didukung tenaga kesehatan
lainnya, intinya setiap pasien yang datang ke rumah sakit harus dilayani dokter. Lambanya
penanganan dokter hal ini dipengaruhi minimnya tenaga dokter spesialis yang bekerja di
RSUD dr. Djasamen Saragih Pematang Siantar, hal ini perlu disikapi Pemerintah Kota
Pematang Siantar untuk menambah tenaga dokter spesialis agar dapat bekerja 3 shift di
rumah sakit dan jika perlu diberikan insentif sesuai dengan kemapuan keuangan daerah agar
kinerja dan tanggung jawab para dokter dapat kita tingkatkan.
Pembagian jasa pelayanan kepada dokter yang selama ini tidak proporsional,
mengakibatkan banyak dokter tidak bekerja secara maksimal hal ini harus diperbaiki.
Kenyataan yang terjadi selama ini berbanding terbalik dimana jasa pelayanaan lebih besar
diterima seorang perawat dibanding dengan dokter, hal ini tentu tidak dapat dibiarkan karena
tujuan utama masyarakat datang berobat ke rumah sakit adalah bertemu dengan dokter bukan
mencari perawat atau direktur rumah sakit. Penulis berkeyakinan apabila metode pembagian
jasa dokter ini diperbaiki, rekan-rekan dokter akan lebih mengutamakan bekerja di RSUD dr.
Djasamen Saragih Pematang Siantar daripada rumah sakit yang lain.
Masalah internal yang terjadi selama ini di RSUD dr. Djasamen Saragih yakni adanya
konflik anatar pegawai, menurut penulis adalah diakibatkan kurangnya komunikasi antara
pimpinan dengan staf, dimana pimpinan selama ini mengkondisikan perbedaan antara
kelompok manajemen dengan kelompok dokter dan staf fungsional dalam hal pekerjaan,
tanggung jawab dan pembagian jasa. Adapun blok-blok pegawai yang terjadi selama ini
hanyalah sebatas kelompok manajemen pendukung direktur dan kelompok staf fungsional
yang seharusnya ini tidak bisa terjadi dalam sebuah organisasi. Menurut penulis blok-blok ini
akan mudah diatasi dengan menjalin komunikasi yaang baik terhadap seluruh pegawai dan
mau mendengarkan seluruh aspirasi yang disampaikan dokter dan pegaawai.
Banyaknya pegawai yang magang di RSUD dr.Djasamen Saragih khususnya perawat
dan bidan adalah karena minimnya tenaga perawat ASN yang bekerja di rumah sakit, dan
pada umumnya tenaga perawat dan bidan ASN yang bekerja selama ini rata-rata sudah senior
dan sudah tua hal ini tentu akan menyebabkan kurang terampil dan kurang cekatan dalam
memberikan asuhan keperawatan kepada pasien. Minimnya tenaga perawat dan bidan ASN
ini mengakibatkan direkrutnya tenaga magang perawat dan bidan agar dapat memenuhi
jumlah tenaga yang bekerja disetiap shift jaga (3 shift), tentu hal ini akan menjadi beban dari
RSUD dr. Djasamen Saragih. Menunggu penambahan tenaga ASN dari Pemerintah Kota
Pematang Siantar ke RSUD dr.Djasamen Saragih, untuk mengatasi banyaknya tenaga
magang ini penulis menyarankan agar para tenaga pegawai magang dapat diangkat secara
bertahap menjadi pegawai BLUD non ASN, karena RSUD dr. Djasaamen telah menerapkan
PPK-BLUD (sesuai Permendagri No.61 Tahun 2007) pemimpin BLUD dapat mengangkat
pegawai BLUD setelah koordinasi dengan walikota Pematang Siantar, tentunya disesuaikan
dengan kemampuan pendapatan yang diperoleh rumah sakit.
Program pemerintah tentang JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang pelaksanaannya
dilaksanaakan oleh BPJS adalah merupakan peluang untuk meningkatkan kunjungan pasien
berobat ke RSUD dr.Djasamen Saragih, dimana masyarakat kota Pematang Siantar peserta
BPJS baik yang preminya dibayarkan oleh Pemerintah pusat dan premi yang dibayar oleh
Pemerintah Kota Pematang Siantar dan seluruh ASN yang bekerja di lingkungan Pemerintah
Kota Pemataang Siantar dapat diarahkan agar berobat ke RSUD dr.Djasamen Saragih sebagai
pilihan utama, tentu dengan menjalin kerjasama (MOU) dengan BPJS kota Pematang Siantar,
hal ini dapat terwujud dengan bantuan Pemerintah Kota Pematang Siantar bersama legislatif.
Permenkes RI No.001 Tahun 2012 tentang sistem rujukan nasional selama ini disalah artikan
oleh BPJS Kota Pematang Siantar, hal ini salah satu yang mengakibatkan minimnya peserta
BPJS berobat ke RSUD dr. Djasamen Saragih, sehingga peserta BPJS lebih diarahkan
berobat ke rumah sakit lain yang lebih rendah kelas rumah sakitnya daripada RSUD dr.
Djasamen Saragih Kelas B Pendidikan, dengan tujuan agar pembayaran klaim lebih rendah
dari kelas rumah sakit kelas D dan Kelas C.

5. Kesimpulan : 5.1. Untuk dapat mencapai visi rumah sakit yaitu


terwujudnya rumah sakit yang mantap, maju dan jaya
menuju masyarakat sehat yang mandiri dan
berkeadilan tahun 2015, maka RSUD dr. Djasamen
Saragih harus menjadi Badan Layanan Umum daerah

Saran : 6.1. Pembuatan Kesepakatan bersama antara Walikota, Ketua DPRD, Kepala
Bapeda, Kabag Hukum Pemerintah Kota Pematangsiantar, Direktur RSUD dr. Djasamen
Saragih Pematangsiantar dan Seluruh pokja yang terlibat untuk mewujudkan RSUD dr.
Djasamen Saragih Pematangsiantar menjadi