Está en la página 1de 44

http://blogpunyadharbung.blogspot.com/2014/11/askep-pada-klien-dengan-gangguan.

html

ASKEP pada Klien dengan Gangguan Kebutuhan Nutrisi (Pemasangan NGT) Thypoid Fever

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tubuh memerlukan energi untuk fungsi-fungsi organ tubuh, pergerakan tubuh,
mempertahankan suhu, fungsi enzim, pertumbuhan dan pergantian sel yang rusak. Metabolisme
merupakan semua proses biokimia pada sel tubuh. Proses metabolisme dapat berupa anabolisme
(membangun) dan katabolisme (pemecah).
Masalah nutrisi erat kaitannya dengan intake makanan dan metabolisme tubuh serta faktor-
faktor yang mempengaruhinya. Secara umm faktor yang mempengaruhi kebutuhan nutrisi adalah
faktor fisiologis untu kebutuhan metabolisme bassal, faktor patologis seperti adanya penyakit
tertentu yang menganggu pencernaan atau meningkatkan kebutuhn nutrisi, faktor sosio-ekonomi
seperti adanya kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan nutrisi.
Nutrisi sangat penting bagi manusia karena nutrisi merupakan kebutuhan fital bagi semua
makhluk hidup, mengkonsumsi nutrien (zat gizi) yang buruk bagi tubuh tiga kali sehari selama
puluhan tahun akan menjadi racun yang menyebabkan penyakit dikemudian hari. Nutrisi sangat
bermanfaat bagi tubuh kita karena apabila tidak ada nutrisi maka tidak ada gizi dalam tubuh kita.
Sehingga bisa menyebabkan penyakit / terkena gizi buruk oleh karena itu kita harus
memperbanyak nutrisi.
1.2 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui definisi nutrisi.
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemenuhan nutrisi.
3. Untuk mengetahui masalah yang timbul dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi.
4. Untuk mengetahui prosedur tindakan pemenuhan kebutuhan nutrisi.
1) Pemasangan NGT dewasa.
2) Pemberian nutrisi secara oral.
5. Untuk mengetahui format penulisan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan nutrisi.
1.3 Rumusan Masalah
1. Apa itu pengertian nutrisi?
2. Apa saja faktor yang mempengaruhi pemenuhan nutrisi?
3. Masalah apa saja yang timbul dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi?
4. Bagaimana prosedur tindakan pemenuhan kebutuhan nutrisi?
5. Bagaimana format penulisan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan nutrisi?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Nutrisi


Nutrisi adalah ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu energi,
membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur proses-proses kehidupan (Soenarjo, 2000).
Menurut Rock CL (2004), nutrisi adalah proses dimana tubuh manusia menggunakan
makanan untuk membentuk energi, mempertahankan kesehatan, pertumbuhan dan untuk
berlangsungnya fungsi normal setiap organ baik antara asupan nutrisi dengan kebutuhan nutrisi.
Sedangkan menurut Supariasa (2001), nutrisi adalah suatu proses organisme menggunakan
makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses degesti, absorbsi, transportasi,
penyimpanan, metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan
kehidupan, pertumbuhan, dan fungsi normal dari organ-organ, serta menghasilkan energy.

2.2 Faktor Yang Mempengaruhi Pemenuhan Nutrisi


a. Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang tentang manfaat makanan bergizi dapat mempengaruhi pola
konsumsi makan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kurangnya informasi sehingga dapat terjadi
kesalahan.

b. Prasangka
Prasangka buruk terhadap beberapa jenis bahan makanan bergizi tinggi dapat
mempengaruhi gizi seseorang .

c. Kebiasaan
Adanya kebiasaan yang merugikan atau pantangan terhadap makanan tertentu dapat
mempengaruhi status gizi.

d. Kesukaan
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan dapat mengakibatkan kurangnya
variasi makanan, sehingga tubuh tidak memperoleh zat-zat yang dibutuhkan secara cukup.
e. Ekonomi
Status ekonomi dapat mempengaruhi perubahan status gizi karena penyediaan makanan
bergizi membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit, oleh karena itu, masyarakat dengan kondisi
perekonomian yang tinggi biasanya mampu mencukupi kebutuhan gizi keluarganya di bandingkan
masyarakat dengan kondisi perekonomian rendah.
f. Usia
Pada usia 0-10 tahun kebutuhan metabolisme basa bertambah dengan cepat hal ini
sehubungan dengan factor pertumbuhan dan perkembangan yang cepat pada usia tersebut. Setelah
usia 20 tahun energy basal relative konstan.

g. Jenis kelamin
Kebutuhan metabolisme basal pada laki-laki lebih besar di bandingkan dengan wanita pada
laki-laki kebutuhan BMR 1,0 kkal/kg BB/jam dan pada wanita 0,9 kkal/kgBB/jam.

h. Tinggi dan berat badan


Tinggi dan berat badan berpengaruh terhadap luas permukaan tubuh, semakin luas
permukaan tubuh maka semakin besar pengeluaran panas sehingga kebutuhan metabolisme basal
tubuh juga menjadi lebih besar.

i. Status kesehatan
Nafsu makan yang baik adalah tanda yang sehat . Anoreksia (kurang nafsu makan)
biasanya gejala penyakit atau karena efek samping obat.

j. Faktor Psikologis serti stress dan ketegangan


Motivasi individu untuk makan makanan yang seimbang dan persepsi individu tentang diet
merupakan pengaruh yang kuat. Makanan mempunyai nilai simbolik yang kuat bagi banyak orang
(mis. Susu menyimbolkan kelemahan dan daging menyimbulkan kekuatan).

k. Alkohol dan Obat


Penggunaan alcohol dan obat yang berlebihan memberi kontribusi pada defisiensi nutrisi
karena uang mungkin dibelajakan untuk alcohol daripada makanan. Alcohol yang berlebihan juga
mempengaruhi organ gastrointestinal. Obat-obatan yang menekan nafsu makan dapat menurunkan
asupan zat gizi esensial. Obat-obatan juga menghabiskan zat gizi yang tersimpan dan mengurangi
absorpsi zat gizi di dalam intestine.

2.3 Masalah yang Timbul dalam Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi


Secara umum, gangguan kebutuhan nutrisi terdiri atas kekeurangan dan kelebihan nutrisi,
obesitas, malnutrisi, Diabetes Melitus, Hipertensi, Jantung Koroner, Kanker, Anoreksia Nervosa.
a. Kekurangan nutrisi
Kekurangan nutrisi merupakan keadaan yang dialami seseorang dalam keadaan tidak
berpuasa (normal) atau resiko penurunan berat badan akibat ketidakmampuan asupan nutrisi untuk
kebutuhan metabolisme.
Tanda klinis :
Berat badan 10-20% dibawah normal
Tinggi badan dibawah ideal
Lingkar kulit triseps lengan tengah kurang dari 60% ukuran standar
Adanya kelemahan dan nyeri tekan pada otot
Adanya penurunan albumin serum
Adanya penurunan transferin
Kemungkinan penyebab:
Meningkatnya kebutuhan kalori dan kesulitan dalam mencerna kalori akibat penyakit infeksi
atau kanker
Disfagia karena adanya kelainan persarafan
Penurunan absorbsi nutrisi akibat penyakit crohn atau intoleransi laktosa
Nafsu makan menurun

b. Kelebihan nutrisi
Kelebihan nutrisi merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang yang mempunyai resiko
peningkatan berat badan akibat asupan kebutuhan metabolisme secara berlebihan.
Tanda klinis :
Berat badan lebih dari 10% berat ideal
Obesitas (lebih dari 20 % berat ideal)
Lipatan kulit trisep lebih dari 15 mm pada pria dan 25 mm pada wanita
Adanya jumlah asupan berlebihan aktivitas menurun atau monoton
Kemungkinan penyebab :
Perubahan pola makan
Penurunan fungsi pengecapan dan penciuman

c. Obesitas
Obesitas merupakan masalah peningkatan berat badan yang mencapai lebih dari 20% berat
badan normal. Status nutrisinya adalah melebihi kebutuhan asupan kalori dan penurunan dalam
penggunaan kalori.
d. Malnutrisi
Malnutrisi merupakan masalah yang berhubungan dengan kekurangan zat gizi pada tingkat
seluler atau dapat dikatakan sebagai masalah asupan zat gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan
tubuh. Gejala umumnya adalah berat badan rendah dengan asupan makanan yang cukup atau
asupan kurang dari kebutuhan tubuh, adanya kelemahan otot dan penurunan energi, pucat pada
kulit, membrane mukosa, konjungtiva dan lain- lain.

e. Diabetes mellitus
Diabetes melitus merupakan gangguan kebutuhan nutrisi yang ditandai dengan adanya
gangguan metabolisme karbohidrat akibat kekurangan insulin atau penggunaan karbohidrat secara
berlebihan.

f. Hipertensi
Hipertensi merupakan gangguan nutrisi yang juga disebabkan oleh berbagai masalah
pemenuhan kebutuhan nutrisi seperti penyebab dari adanya obesitas, serta asupan kalsium,
natrium, dan gaya hidup yang berlebihan.
g. Penyakit jantung koroner
Penyakit jantung koroner merupakan gangguan nutrisi yang sering disebabkan oleh adanya
peningkatan kolesterol darah dan merokok. Saat ini, penyakit jantung koroner sering dialami
karena adanya perilaku atau gaya hidup yang tidak sehat, obesitas dan lain-lain.

h. Kanker
Kanker merupakan gangguan kebutuhan nutrisi yang disebabkan oleh pengonsumsian lemak
secara berlebihan.

2.4 Prosedur Tindakan Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi


1) Pemasangan NGT pada Dewasa
a. Pengertian
NGT adalah kependekan dari Nasogastric tube. alat ini adalah alat yang digunakan untuk
memasukkan nutsrisi cair dengan selang plasitic yang dipasang melalui hidung sampai lambung.
Ukuran NGT diantaranya di bagi menjadi 3 kategori yaitu:
Dewasa ukurannya 16-18 Fr
Anak-anak ukurannya 12-14 Fr
Bayi ukuran 6 Fr

b. Indikasi pemasangan NGT


Indikasi pasien yang di pasang NGT adalah diantaranya sebagai berikut:
Pasien tidak sadar
pasien Karena kesulitan menelan
pasien yang keracunan
pasien yang muntah darah
Pasien Pra atau Post operasi esophagus atau mulut

c. Tujuan Pemasangan NGT


Tujuan pemasangan NGT adalah sebagai berikut:
Memberikan nutrisi pada pasien yang tidak sadar dan pasien yang mengalami kesulitan
menelan
Mencegah terjadinya atropi esophagus/lambung pada pasien tidak sadar
Untuk melakukan kumbang lambung pada pasien keracunan
Untuk mengeluarkan darah pada pasien yang mengalami muntah darah atau pendarahan pada
lambung
d. Kontraindikasi pemasangan NGT
Pada pasien yang memliki tumor di rongga hidung atau esophagus.
Pasien yang mengalami cidera serebrospinal.

e. Peralatan yang dipersiapkan diantaranya adalah;


Selang NGT ukuran dewasa, anak –anak dan juga bayi. Melihat kondisi pasiennya
Handscon bersih
Handuk
Perlak
Bengkok
Jelli atau lubricant
Spuit 10 cc
Stetoskop
Tongue spatel
Plaster
Pen light
Gunting

f. Prosedur Kerja:
1. Siapkan peralatan di butuhkan seperti yang telah disebutkan diatas termasuk plester 3
untuk tanda, fiksasi di hidung dan leherdan juga ukuran selang NGT.
2. Setelah peralatan siap minta izin pada pasien untuk memasang NGT dan jelaskan pada
pasien atau keluarganya tujuan pemasangan NGT.
3. Setelah minta izin bawa peralatan di sebelah kanan pasien. Secara etika perawat saat
memasang NGT berda di sebelah kanan pasien.
4. Pakai handscoon kemudian posisikan pasien dengan kepala hiper ekstensi.
5. Pasang handuk didada pasien untuk menjaga kebersihan kalau pasien muntah.
6. Letakkan bengkok di dekat pasien.
7. Ukur selang NGT mulai dari hidung ke telinga bagian bawah, kemudian dari telinga tadi
ke prosesus xipoidius setelah selesai tandai selang dengan plaster untuk batas selang yang akan
dimasukkan.
8. Masukkan selang dengan pelan2, jika sudah sampai epiglottis suruh pasien untuk
menelan dan posisikan kepala pasien fleksi, setelah sampai batas plester cek apakah selang sudah
benar2 masuk dengan pen light jika ternyata masih di mulut tarik kembali selang dan pasang lagi.
9. Jika sudah masuk cek lagi apakah selang benar-benar masuk lambung atau trakea dengan
memasukkan angin sekitar 5-10 cc dengan spuit. Kemudian dengarkan dengan stetoskop, bila ada
suara angin berarti sudah benar masuk lambung. Kemuadian aspirasi kembali udara yang di
masukkan tadi.
10. Jika sudah sampai lambung akan ada cairan lambung yang teraspirasi
11. Kemudian fiksasi dengan plester pada hidung, setelah fiksasi lagi di leher. Jangan lupa
mengklem ujung selang supaya udara tidak masuk
12. Setelah selesai rapikan peralatan dan permisi pada pasien atau keluarga.

2) Pemberian nutrisi melalui oral


Pemberian nutrisi melalui oral merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu
memenuhi kebutuhan nutrisi secara mandiri.
a) Persiapan Alat dan Bahan :
Piring
Sendok
Garpu
Gelas
Serbet
Mangkok cuci tangan
Pengalas
Jenis diet

b) Prosedur Kerja
Cuci tangan
Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan
Atur posisi depan
Pasang pengalas
Anjurkan pasien untuk berdoa sebelum berdoa
Bantu untuk melakukan makan dengan menyuapkan makanan sedikit demi sedikit dan berikan
minum sesudah makan.
Bila selesai makan, bersihkan mulut pasien dan anjurkan duduk sebentar.
Catat hasil atau respons pemenuhan terhadap makan
Cuci tangan

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN pada KLIEN dengan
GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI

3.1 PENGKAJIAN
1. IDENTITAS
a. Identitas Pasien
Nama : Ny D
Umur : 35 th
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Menikah
Pendidikan : SMP
Pekerjaan : Petani
Suku Bangsa : Indonesia
Alamat : Jln Dr. Sitanala No. 42
Tanggal masuk : 17/10/2014, pukul 15:00 WIB
Tanggal pengkajian : 18/10/2014, pukul 16:00 WIB
No. Register : 13 241 21
Diagnosa Medis : Thypoid Fever

b. Identitas Penanggung jawab


Nama : Ny SM
Umur : 50 th
Hubungan dgn pasien : Ibu kandung
Pekerjaan : Petani
Alamat : Jln. Dr. Sitanala No. 42

2. RIWAYAT KEPERAWATAN
a. Keluhan utama
Klien mengatakan sudah 4 hari badannya panas.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang
Ny. D berumur 35thn datang ke poli klinik umum RSUD Kab. Tangerang. Saat datang klien
tampak lemas. Saat dikaji oleh perawat, klien mengeluh badannya panas, mual dan muntah,
tidaknafsu makan, mual dan muntah terjadi setelah klien makan cukup banyak dan mual muntah
berkurang saat makan sedikit dan hangat.
c. Riwayat Kesehatan Dahulu
Imunisasi : Klien mengatakan terakhir imunisasi saat masih kecil.
Alergi : Klien mengatakan tidak ada riwayat alergi.
Penyakit yang pernah diderita : Klien mengatakan pernah terkena gastritis.
Obat-obatan yang pernah di digunakan : -
Riwayat masuk RS : Klien mengatakan belum pernah masuk rumah sakit.
Riwayat kecelakan : -
Riwayat tindakan operasi : -
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Pasien mengatakan bahwa keluarga tidak mempunyai penyakit keturunan yang berat atau menular.

3. PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan Umum
Keadaan Umum Sedang, Kesadaran Umum Compos Mentis
2. Tanda-Tanda Vital
• Tekanan Darah : 90/70 mmHg
• Nadi : 80x Permenit
• Suhu : 40ºC
• RR : 24x Permenit
3. Antropometri
• Tinggi Badan : 164cm
• BB : 44kg
• Indeks Masa Tubuh : BB = 46 = 17,1
TB² (1,64)²
4. Kepala
Bentuk kepala simetris, rambut dan kulit kepala klien bersih, distribusi rambut merata, tidak
rontok, tidak mudah dicabut, tidak ada benjolan, tidak ada keluhan.
5. Mata
Letak bola mata simetris, gerakan bola mata simetris, kelopak mata tidak ada oedema,
konjungtiva anemis, sclera tidak ikterik, Tekanan Intra Okuler (TIO) sama, pupil dan refleks
cahaya normal, ketajaman mata normal OD = 2/5 OS 3/5, mata tampak sayu, terdapat kantong
mata.
6. Telinga
Kebersihan telinga bersih, tidak ada oedema dan secret, letak telinga simetris, fungsi
pendengaran baik
7. Hidung
Kebersihan lubang hidung bersih, tidak ada oedema dan secret, letak hidung simetris, tidak ada
peradangan membran mukosa hidung, tidak terdapat polip, funsi penciuman baik.
8. Mulut dan Faring
• Mulut tampak kotor, ada bau mulut, terdapat mukosa pada mulut
• Bibir : Warna pucat, ada stomatitis, tidak ada kelainan bentuk
• Gusi : Warna merah muda pucat, tidak ada gingivitis
• Gigi : Jumlah gigi 33, ada caries gigi pada gigi molar, tidak ada perdarahan, abses, dan benda
asing (gigi palsu)
• Lidah : Warna putih pucat, kotor, dan pergerakan lidah normal
• Faring : Warna merah muda, tidak ada peradangan, tidak ada eksudat, tonsil tidak ada
pembesaran
9. Leher
Bentuk leher normal, tidak ada oedema dan jaringan parut, tidak ada tekanan vena jugularis,
tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfe, tidak ada kaku kuduk dan mobilitas leher
normal.
10. Thorax dan Dada
• Bentuk dada normal, tidak ada kelainan tulang belakang, ada retraksi intercostal, tidak ada
oedema dan jaringan parut, vocal premitus normal
• Suara nafas normal, suara ucapan (vocal resonans) normal, tidak ada suara tambahan
• Pada jantung ada ictus cordis, perkusi jantung normal, bunyi jantung normal
• Pada payudara ukuran, bentuk, dan kesimetrisan payudara normal, warna aerola coklat, puting
susu tidak ada ulcus dan pembengkakan, tidak ada secret.
11. Abdomen
Bentuk abdomen datar dan simetris, tidak ada jaringan parut dan lesi, tidak ada oedema, bising
usus 9x permenit, terdapat nyeri tekan.
12. Ekstremitas atas
Bentuk simetris, kekuatan otot 3 dari 0-5, tidak terdapat oedema, lesi dan jaringan parut, kuku
jari bersih, refleks biceps dan trisep +
13. Ekstremitas bawah
Bentuk simetris, kekuatan otot 3 dari 0-5, tidak terdapat oedema, lesi dan jaringan parut, kuku
jari bersih, tidak ada varices, dan refleks babinski +

4. DATA BIOLOGIS
1. Pola Nutrisi
Makan
a. Frekuensi : 3x Sehari
b. Jenis : Nasi + Lauk + Sayur + Buah
c. Porsi/Jumlah : 1 Piring kecil
d. Keluhan : Tidak nafsu makan, mual, muntah
e. Makanan yang dipantang : Tidak Ada
f. Alergi terhadap makanan : Tidak Ada
g. Suplemen yang dikonsumsi : Vit. C
Minum
a. Jenis : Air putih
b. Jumlah : ± 8 Gelas

2. Pola Eliminasi
Buang Air Besar (BAB)
Klien mengatakan BAB tidak teratur
Buang Air Kecil (BAK)
a. Input : 480cc
b. Output : 300cc
c. Balance : Input – Output = 180cc
d. Warna : Kuning Jernih
e. Keluhan : tidak ada
3. Pola Istirahat/Tidur
a. Tidur Siang : ± 2 jam
b. Tidur Malam : ± 7 Jam
c. Keluhan Tidur : Klien mengatakan terkadang terbangun saat malam hari karena tidak nyaman
tidur
4. Personal Hygiene
a. Mandi : 1x Sehari
b. Jenis Pakaian : Kaos dan daster
c. Perawatan Gigi : Tidak terlalu rutin
d. Vulva Hygiene : Dibersihkan 1x sehari

5. DATA PSIKOLOGIS
a. Status Perkawinan : Menikah
b. Status Emosi : Terkadang sedikit Cemas
c. Pola Koping : Positif ( Klien selalu menceritakan masalah yang dihadapinya
d. Pola Komunikatif : Klien Koperatif
e. Konsep Diri :
Gambaran Diri : Klien terbuka dalam semua pertanyaan
Peran Diri :
Klien mengakui dirinya sebagai istri yang baik bagi suaminya
Klien mengakui dirinya sebagai ibu yang baik bagi anaknya
Harga Diri :
Klien mengakui tidak merasa tidak tersisihkan
Klien mengakui merasa dibutuhkan
Klien mengakui senang menjadi seorang ibu

6. DATA SOSIAL
Klien mengatakan berhubungan baik dengan keluarga dan lingkungan sekitar

7. DATA SPIRITUAL
Klien mengatakan selalu solat 5 waktu dan menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.

8. THERAPHY
a) RL 20 tts/mnt mempunyai fungsi untuk mengatasi kehilangan cairan ektraseluler abnormal yang
akut
b) PCT 3x350 mg mempunyai fungsi sebagai anagesik dan antipeuretik dengan sedikit efek anti
inflamasi dan juga dapat menghilangkan rasa sakit dan suhu tubuh yang tinggi

9. DATA PENUNJANG
a) Pemeriksaan darah rutin
b) Urinalisa
c) Kimia klinik
d) Tes tubex = +5
e) Uji widal = 1/320

3.2 Analisa Data


A. Data
DS:
Klien mengatakan badannya panas selama 4 hari.
Klien mengatakan mual, muntah
Klien mengatakan tidak nafsu makan.
Klien mengatakan lemas.
DO:
Suhu tubuh: 40⁰C
Klien tampak lemas
Dilakukan tes widal dengan hasil 1/320
Dilakukan tes tubex dengan hasil positif 5
Klien tidak menghabiskan makanannya
IMT 17,1
BB sebelum sakit 55kg, BB saat sakit 46kg
TD: 90/70mmHg
Nadi: 80x/menit
RR: 25x permenit

B. Masalah
Hipertermi
Ketidakseimbangan nutrisi

C. Diagnosa Keperawatan
Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit ditandai dengan badan teraba panas, kondisi
lemas, dan suhu tubuh menigkat.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan tidak mampu dalam
memasukkan, mencerna, mengabsorbsi makanan karena faktor biologis, psikologi ditandai
dengan mual, muntah dan tidak nafsu makan

3.3 Perencanaan Tindakan Keperawatan

Dx. Kep Perencanaan


No.
Tujuan Intervensi Rasional
1. Dx 1 Setelah dilakukan1. Observasi 1. Sebagai informasi
intervensi selama perubahan suhu dasar
3x24 jam untuk perencanaan
diharapkan suhu awal dan validasi data
tubuh klien 2. Untuk menurunkan
kembali normal 2. Berikan kompres suhu tubuh klien
dengan kriteria hangat 3. Agar tidak
hasil : kekurangan cairan dan
a. Suhu tubuh 3. Anjurkan pasien eletrolit
37,5⁰c untuk banyak minum 4. Agar keringat tidak
b. Klien tidak air putih mengendap dan
lemas 4. Anjurkan memakai penguapan lebih cepat
c. TTV dalam pakaian yang 5. Untuk menurunkan
rentang normal menyerap keringat panas serta
memperkuat
5. Delegatif pemberian pertahanan tubuh
antiperatik dan klien
antiseptik

2. Dx 2 Setelah dilakukan1. Kaji intake klien 1. Sebagai informasi


intervensi selama dasar
3x24 jam untuk perencanaan
diharapkan awal dan validasi data
pemenuhan 2. Cara khusus
nutrisi klien 2. Tingkatkan intake tingkatakan nafsu
terpenuhi dengan makan melalui : makan
kriteria hasil : Kurangi gangguan Meningkatkan
a. Pemenuhan dari luar intake makanan
nutrisi klien Sajikan makanan Memudahkan
terpenuhi dalam kondisi hangat makanan masuk
b. BB klien Selingi makan Mulut yang bersih
meningkat dengan minum meningkatkan nafsu
c. IMT 18,5 Jaga kebersihan makan
d. Tidak terjadi mulut klien Mencegah mual
mual dan muntah Berikan makan
e. Nafsu makan sedikit tapi sering
klien meningkat 3. Kolaborasi dengan 3. Memberikan asupan
f. Porsi makan ahli giziikan diet dan deit yang tepat
klien habis makanan ringan
dengan tambahan
makanan yang disukai
bila ada

3.4 Catatan Perkembangan dan Evaluasi Sumatif


No Tanggal Dx SOAP TTD
1. 18-10-14 Dx 1 S: Klien mengatakan badannya panas selama 4
07:00 hari, Klien mengatakan lemas
O: Suhu tubuh: 40⁰C, Klien tampak lemas, Saat di
raba badan klien terasa panas
A: Masalah teratasi sebagian
P : Lanjut Intervensi
a. Observasi perubahan suhu
b. Berikan kompres hangat
c. Anjurkan pasien untuk banyak minum air
putih
d. Anjurkan memakai pakaian yang menyerap
keringat
e. Delegatif pemberian antiperatik dan
antiseptik
2. 18-10-14 Dx 1 S: Klien mengatakan mual dan muntah, Klien
10:00 mengatakan tidak nafsu makan, Klien
mengatakan lemas
O: Klien tampak lemas, Klien tidak menghabiskan
makanannya, IMT 17,1, BB 46kg, TD:
90/70mmHg, Nadi: 80x/menit, RR: 25x
permenit
A: Masalah teratasi sebagian
P : Lanjut Intervensi
a. Kaji intake klien
b. Kurangi gangguan dari luar
c. Sajikan makanan dalam kondisi hangat
d. Selingi makan dengan minum
e. Jaga kebersihan mulut klien
f. Berikan makan sedikit tapi sering
g. Kolaborasi dengan ahli gizi akan diet dan
makanan ringan dengan tambahan makanan
yang disukai bila ada
h. Timbang berat badan setiap hari
i. Berikan obat sesuai indikasi.

BAB IV
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Kebutuhan nutrisi berkaitan erat dengan aspek-aspek yang lain dan dapat dicapai jika terjadi
keseimbangan dengan aspek-aspek yang lain. Nutrisi berpengaruh juga dalam fungsi-fungsi organ
tubuh, pergerakan tubuh, mempertahankan suhu, fungsi enzim, pertumbuhan dan pergantian sel
yang rusak. Dan dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tubuh manusia, maka akan terhindar
dari ancaman-ancaman penyakit.

5.2 Saran
Kebutuhan nutrisi dalam tubuh setiap individu sangat penting untuk diupayakan. Upaya untuk
melakukan peningkatan kebutuhan nutrisi dapat dilakukan dengan cara makan-makanan dengan
gizi seimbang dengan di imbangi keadaan hidup bersih untuk setiap individu. Hal tersebut harus
dilakukan setiap hari, karena tanpa makan setiap hari maka tubuh manusia bisa terserang penyakit
akibat imune tubuh yang menurun.

DAFTAR PUSTAKA

Alimul H, A Aziz. 2006. Pengantar KDM Aplikasi Konsep & Proses Keperawatan. Jakarta :
Salemba Medika
Brunner & Suddart, 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Vol.1. Jakarta: EGC
Towarto, Wartonal. 2007. Kebutuhan Dasar & Prose Keperawatan. Edisi 3. Jakarta : Salemba Medika
Perry, dkk. 2005. Buku saku: Keterampilan dan Prosedur Dasar. Jakarta: EGC
Asmadi, 2008, Teknik Prosedural Keperawatan: Konsep dan Aplikasi Kebutuhan Dasar Klien, Jakarta:
Salemba Medika
Hidayat, AAA, Uliyah, Musriful. 2008. Konsep Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan Edisi 2.
Jakarta: Salemba Medika

Diposkan oleh Bunga Dhara di 16.02


http://askepterkini.blogspot.com/2014/05/laporan-pendahuluan-asuhan-keperawatan_7508.html
LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN
GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI

A. PENGERTIAN
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh adalah suatu keadaan individu
memiliki penurunan kemampuan mengonsumsi cairan dan/atau makanan padat dari mulut ke
lambung.(Kim, McFarland dan McLane, 1995 dalam Potter dan Perry, Fundamental Keperawatan
Volume 2).
Atau suatu keadaan ketika individu yang tidak puasa mengalami atau berisiko mengalami
penurunan berat badan yang berhubungan dengan asupan yang tidak adekuat atau metabolisme
nutrient yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik.(Carpenito, Lynda Juall, 2007).
Faktor pendukung dalam ketidakseimbangan nutrisi kurang dari tubuh:
1) Kerusakan Geligi
Keadaan ketika individu mengalami penghentian pola perkembangan /erupsi gigi atau integritas
structural gigi .(Carpenito, Lynda Juall, 2007).
2) Gangguan Menelan
Keadaan ketika seorang individu mengalami penurunan kemampuan untuk secara volunteer
memasukkan cairan dan/atau makanan padat dari mulut ke dalam lambung . (Carpenito, Lynda
Juall, 2007).
3) Ketidakefektifan Pola Menyusu
Suatu keadaan ketika bayi ( dari lahir sampai 9 bulan ) memperlihatkan gangguan kemampuan
mengisap atau mengkoordinasi respons mengisap – menelan , yang mengakibatkan
ketidakadekuatan nutrisi oral untuk kebutuhan metabolik
(Carpenito, Lynda Juall, 2007).
Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh adalah suatu keadaan ketika seorang
individu mengalami atau berisiko mengalami penambahan berat badan yang berhubungan dengan
asupan yang melebihi kebutuhan metabolik.(Carpenito, Lynda Juall, 2007).

B. FAKTOR YANG BERHUBUNGAN


1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan :
Patofisiologis
a. Berhubungan dengan peningkatan kebutuhan kalori dan kesulitan dalam mencerna kalori yang
mencukupi sekunder akibat luka bakar ( fase pasca-akut ) , kanker, infeksi, trauma, atau
ketergantungan bahan – bahan kimia.
b. Berhubungan dengan disfagia sekunder akibat :
1) Cedera serebrovaskular 4) Penyakit Parkinson
2) Sklerosis amiotrofik lateral 5) Kelainan neuromuscular
3) Paralisis serebral 6) Distrofi otot
c. Berhubungan dengan penurunan penyerapan nutrient sekunder akibat penyakit Crohn
,intoleransi laktosa, fibrosis kistik
d. Berhubungan dengan penurunan keinginan untuk makan sekunder akibat perubahan tingkat
kesadaran
e. Berhubungan dengan muntah yang dirangsang sendiri ,latihan fisik karena kelebihan asupan
kalori atau menolak untuk makan sekunder akibat anoreksia nervosa
f. Berhubungan dengan keengganan untuk makan karena takut keracunan sekunder akibat
perilaku paranoid
g. Berhubungan dengan anoreksia, agitasi fisik berlebihan sekunder akibat kelainan bipolar
h. Berhubungan dengan anoreksia dan diare sekunder akibat infeksi protozoa
i. Berhubungan dengan muntah, anoreksia, dan gangguan pencernaan sekunder akibat
pancreatitis
j. Berhubungan dengan anoreksia, gangguan metabolisme lemak dan protein , dan gangguan
penyimpanan vitamin sekunder akibat sirosis.
Berhubungan dengan Tindakan
a. Berhubungan dengan peningkatan kebutuhan protein dan vitamin untuk penyembuhan luka
dan penurunan asupan sekunder akibat :
Pembedahan, medikasi ( kemoterapi kanker ), rekonstruksi bedah mulut, kawat rahang, atau
terapi radiasi
b. Berhubungan dengan ketidakadekuatan absorpsi sebagai efek samping dari :
1) Kolklsin 4) Piremetamin
2) Antasida 5) Neomisin
3) Asam para-aminosalisilat
c. Berhubungan dengan penurunan asupan oral , ketidaknyamanan mulut , mual , muntah
sekunder akibat :terapi radiasi , kemoterapi, tonsilektomi
Situasional ( Personal , Lingkungan )
a. Berhubungan dengan penurunan keinginan untuk makan sekunder akubta anoreksia, depresi,
stress, isolasi social, mual dan muntah atau alergi
b. Berhubungan dengan ketidakmampuan untuk menghasilkan makanan ( keterbatasan fisik ,
masalah financial atau transportasi )
c. Berhubungan dengan ketidakmampuan mengunyah ( kerusakan atau kehilangan gigi, gigi
palsu longgar )
d. Berhubungan dengan diare sekunder.
Maturasional
Bayi/Anak
a. Berhubungan dengan ketidakadekuatan asupan sekunder akibat : kurang stimulasi emosional
/sensoria atau kurang pengetahuan tentang pemberi asuhan
b. Berhubungan dengan malabsorpsi , batasan diet dan anoreksia sekunder akibat penyakit
seliaka, intolerasi laktosa, atau fibrosis kistik
c. Berhubungan dengan kesulitan menghisap ( bayi ) dan disfagia sekunder akibat : paralisis
serebral atau sumbing bibir atau palatum,
d. Berhubungan dengan ketidakadekuatan menelan , keletihan , dan dispnea sekunder akibat :
Penyakit jantung kongenital atau prematuritas.

Lansia
a. Berhubungan dengan efek penurunan laju metabolic , kadar estrogen , dan densitas mineral
tulang ( wanita )
b. Berhubungan dengan dgenerasi membrane periodonatal dengan kehilangan gigi
(Carpenito, Lynda Juall, 2007).

Dalam Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan ada faktor pendukung :


1. Kerusakan Geligi.
2. Gangguan Menelan.
Patofisiologis
a. Berhubungan dengan penurunan /tidak terdapatnya reflex menelan, kesulitan mastikasi , atau
penurunan sensasi sekunder akibat :
1) Gangguan neurologis / neurovascular.
2) Gangguan serebrovaskular.
3) Kerusakan hemisfer otak kanan atau kiri.
4) Kerusakan pada saraf – saraf cranial ke-5, ke-7, ke-9,ke-10 atau ke-11
a) Paralisis serebral e) Distrofi otot
b) Sklerosis lateral amiotrofi f) Miastenia grafis
c) Sindrom Guillain-Barre g) Poliomeilitis
d) Parkinsonisme
b. Berhubungan dengan tumor atau edema trakeosofagus.
Berhubungan dengan Tindakan
a. Berhubungan dengan rekonstruksi bedah mulut dan / atau tenggorokan.
b. Berhubungan dengan obstruksi mekanis sekunder akibat selang trakeostomi.
c. Berhubungan dengan esofagitis sekunder akibat radioterapi.
d. Berhubungan dengan anastesia.
e. Berhubungan dengan viskositas dan penurunan kuantitas saliva ( mis., sekunder akibat obat,
radiasi ).
Situasional ( Personal, Lingkungan )
a. Berhubungan dengan perubahan tingkat kesadaran.
b. Berhubungan dengan keletihan.
c. Berhubungan dengan keterbatasan kesadaran, mudah teralihkan.
d. Berhubungan dengan iritasi rongga orofaring.
e. Berhubungan dengan penurunan saliva.
Maturasional
Bayi /Anak – anak
a. Berhubungan dengan penurunan sensasi atau kesulitan mastikasi.
b. Rujuk ke ketidakefektifan pola menyusu.

3. Ketidakefektifan Pola Menyusu


Patofisiologis
a. Berhubungan dengan peningkatan kebutuhan kalori sekunder akibat :
1) Ketidakstabilan suhu tubuh.
2) Kebutuhan pertumbuhan.
3) Takipnea dgn upaya penigkatan pernafasan.
4) Penyembuhan luka.
5) Kegagalan atau penyakit system organ utama.
6) Infeksi.

b. Berhubungan dengan kelemahan /hipotonia otot sekunder akibat :


1) Malnutrisi 5) Prematuritas
2) Penyakit akut /kronis 6) Letargi
3) Kelainan congenital 7) Kegagalan atau penyakit system organ utama
4) Perlambatan / kerusakan neurologis
Berhubungan dengan Tindakan
a. Berhubungan dengan status hipermetabolik dan peningkatan kebutuhan kalori sekunder akibat
: pembedahan atau prosedur yang menimbulkan rasa nyeri.
b. Berhubungan dengan kelemahan otot dan latergi sekunder akibat : gangguan tidur , obat –
obatan dan relaksan otot ( obat antikejang , agens pembuat paralisis pada masa lalu , sedatife,
narkotik ).
c. Berhubungan dengan hipersensitivitas oral.
d. Berhubungan dengan perpanjangan status puasa terdahulu.

Situasional ( Personal , Lingkungan )


a. Berhubungan dengan ketidakkonsistenan pemberi asuhan ( pemberi makan ).
b. Berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang atau komitmen dan pemberi asuhan.
( pemberi makan ) terhadap kebutuhan atau aturan khusus.
c. Berhubungan dengan adanya wajah cemas dan / atau tidak adanya stimuli oral.

2. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan :


Patofisiologis
a. Berhubungan dengan perubahan pola kepusasan sekunder.
b. Berhubungan dengan penurunan indra pengecapan dan penciuman.
Berhubungan dengan Tindakan
a. Berhubungan dengan perubahan pola kepuasan sekunder akibat :
Obat – obatan ( kortikosteroid ,antihistamin )
Radiasi ( penurunan indra pengecapan dan penciuman )
Situasional ( Personal , Lingkungan )
a. Berhubungan dengan risiko kenaikan berat badan lebih dari 12,5 – 15 kg saat hamil.
b. Berhubungan dengan kurangnya pengetahuan nutrisi dasar.
c. Berhubungan dengan pola aktivitas monoton.

Maturasional
Orang dewasa / Lansia
a. Berhubungan dengan penurunan pola aktivitas dan penurunan kebutuhan metabolik
((Carpenito, Lynda Juall, 2000).

C. DATA MAYOR DAN DATA MINOR


1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan :
a. Mayor ( Harus Terdapat )
Individu yang tidak puasa melaporkan atau mengalami : asupan makanan tidak adekuat kurang
dari yang dianjurkan dengan atau tanpa penurunan berat badanatau Kebutuhan metabolik actual
atau potensial dengan asupan yang lebih
b. Minor ( Mingkin terdapat )
1) Berat badan 10% sampai 20% atau lebih di bawah berat badan ideal untuk tinggi dan kerangka
tubuh
2) Lipatan kulit trisep , lingkar lengan tengah dan lingkar otot lengan tengah kurang dari 60 %
standar pengukuran
3) Kelemahan otot dan nyeri tekan
4) Peka rangsang mental dan kekacauan mental
5) Penurunan albumin serum
6) Penurunan transferin serum atau penurunan kapasitas ikatan – besi
(Carpenito, Lynda Juall, 2007).

1) Kerusakan Geligi
a. Plak berlebihan
b. Gigi lepas
c. Karies pada mahkota atau akar gigi
d. Kalkulus berlebihan
e. Halitosis
f. Kehilangan premature gigi primer
g. Perubahan email gigi
h. Aus dan abrasi gigi
i. Sakit gigi
j. Fraktur gigi
k. Erosi email
l. Kehilangan gigi atau tidak ada
m. Maloklusi atau ketidaksejajaran gigi
n. Ekspresi wajah tidak simetris
o. Erupsi tidak lengkap sesuai usia ( mungkin gigi primer atau sekunder )
2) Gangguan Menelan
a. Mayor ( Harus terdapat )
1) Teramati adanya kesukaran dalam menelan dan/atau.
2) Statis makanan dalam rongga mulut.
3) Tersedak.
4) Batuk setelah asupan makanan / minuman.
b. Minor ( Mungkin terdapat )
1) Bicara tidak jelas.
2) Apraksia ( ideasional , konstruksional , visual ).
3) Suara hidung.
4) Mengiler.

3) Ketidakefektifan Pola Menyusu


a. Mayor ( Harus terdapat, satu atau lebih)
1) Ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan mengisap yang efektif ;
ketidakmampuan untuk mengoordinasi mengisap, menelan, dan bernapas.
2) Kebutuhan metabolik actual dalam keadaan kelebihan asupan oral dengan kehilangan berat
badan dan/atau kebutuhan untuk suplemen makanan enteral.

b. Minor ( Mungkin terdapat )


1) Inkontinensia asupan oral ( volume, interval waktu , durasi ).
2) Keterlambatan perkembangan motorik oral.
3) Takipnea dengan peningkatan upaya pernapasan.
4) Regurgitasi atau muntah setelah makan.
2. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan:
a. Mayor ( harus terdapat )
Kelebihan berat badan ( berat badan 10% melebihi tinggi dan kerangka tubuh idealatau
Obesitas (berat badan 20% atau lebih atas tinggi dan kerangka tubuh ideal ).
Lipatan kulit trisep lebih besar dari 15mm pada pria dan 25mm pada wanita.
b. Minor ( mungkin terdapat )
1) Melaporkan adanya pola makan yang tidak diinginkan.
2) Asupan melebihi kebutuhan metabolic.
3) Pola aktivitas menoton.
(Carpenito, Lynda Juall, 2007).

D. RUMUSAN MASALAH
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh.
2. Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh.

E. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Intervensi Diagnosa I : Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
Mandiri
a. Intervensi : Buat tujuan berat badan minimum dan kebutuhan nutrisi harian.
nal : Malnutrisi adalah kondisi gangguan minat yang menyebabkan depresi, agitasi , dan mempengaruhi
kondisi kognitif atau pengambilan keputusan. Perbaikan status nutrisi meningkatkan kemampuan
berpikir dan kerja psikologis
ensi : Gunakan pendekatan konsisten. Duduk dengan pasien saat makan ; sediakan dan buang makanan
tanpa persuasi dan/atau komentar.tingkatkan lingkungan yang nyaman dan catat masukan
nal : Pasien mendeteksi pentingnya dan dapat bereaksi terhadap tekanan. Komentar apapun yang dapat
terlihat sebagai paksaan memberikan focus pada makanan. Bila staf berespons secara konsisten ,
pasien dapat mulai memepercayai respons staf.
c. Intervensi : Buat pilihan menu yang ada dan diizinkan pasien untuk mengontrol pilihan
sebanyak mungkin.
onal : Pasien yang meningkat kepercayaan dirinya dan merasa mengontrol lingkungan lebih suka
menyediakan makanan untuk makan.
ervensi : Sadari pilihan – pilihan makanan rendah kalori / minuman , menimbun makanan , membuang
makanan dalam berbagai tempat seperti saku atau kantung pembuangan.
onal : Pasien akan mencoba menghindari mengambil makanan bila tampak mengandung banyak kalori
dan mau makan lama untuk menghindari makan.

rvensi : Pertahankan jadwal penimbangan berat badan teratur , seperti Minggu, Rabu, Jumat sebelum
makan pagi pada pakaian yang sama , dan gamnbaran hasilnya.
nal : Memberikan catatan lanjut penuruanan dan/atau peningkatan berat badan yang akurat. Juga
menurunkan obsesi tentang peningkatan dan/atau penurunan.
i
vensi : Berikan terapi nutrisi dalam program pengobatan rumah sakit sesuai indikasi.
nal : Pengobatan masalah dasar tidak terjadi tanpa perbaikan status nutrisi. Perawatan di rumah sakit
memberikan control lingkungan dimana masukan makanan, muntah/eliminasi ,obat , dan aktivitas
dapat dipantau.

rvensi : Libatkan pasien dalam penyusunan /melakukan program perubahan prilaku. Berikan penguatan
untuk peningkatan berat badan seperti dinyatakan oleh penentuan individu ; abaikan penurunan
nal : Memberikan situasi terstuktur untuk makan sementara memungkinkan pasien mengontrol
beberapa pilihan. Perubahan perilaku dapat efektif pada kasus ringan atau untuk peningkatan berat
badan jangka pendek.

2. Intervensi Diagnosa II : Ketidakseimbangan nutrisi lebih dari kebutuhan


a. Intervensi : Buat rencana makan dengan pasien.
ional : Sementara tak ada dasar untuk menganjurkan diet yang satu dari yang lain, penurunan diet yang
baik harus berisi makanan dari semua dasar kelompok makanan dengan focus masukan rendah
lemak. Ini membantu mempertahankan rencana semirip mungkin dengan kebiasaan
pasien. Catatan :Penting mempertahankan masukan protein adekuat untuk mencegah kehilangan
massa otot.

b. Intervensi : Tekankan pentingnya menghindari diet berlemak


ional :Hilangkan kebutuhan komponen yang dapat menimbulkan ketidakseimbangan metabolic, misalnya
penurunan karbohidrat berlebihan yang dapat menimbulkan kelemahan, sakit kepala,
ketidakstabilan, dan kelemahan, asidosis metabolic (ketosis) mempengaruhi keefektifan program
penurunan BB.

rvensi : Diskusikan tambahan tujuan nyata untuk penurunan berat badan mingguan.
ional : Penurunan berat badan beralasan (1-2 lg/minggu) mengakibatkan efek lebih sedikit berefek.
Penurunan berlebihan/cepat dapat mengakibatkan kelemahan dan mudah terangsang dan akhirnya
mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tujuan untuk penurunan berat badan.

d. Intervensi : Diskusikan pembatasan masukan garam dan obat diuretic bila digunakan.
asional : Retensi air dapat menjadi masalah karena meningkatkan masukan cairan juga mengakibatkan
metabolisme lemak.
ntervensi : Konsul dengan ahli diet untuk menentukan kalori/kebutuhan nutrisi untuk penurunan berat
badan individu.
asional : Pemasukan individu dapat dikalkulasi dengan berbagai perhitungan berbeda, tetapi penurunan
berat badan berdasarkan kebutuhan basal kalori selama 24 jam, tergantung pada jenis kelamin,
usia, berat badan saat ini/yang diinginkan dan lama waktu yang diperkirakan mencapai berat badan
yang diinginkan. .

F. KRITERIA EVALUASI
Evaluasi terhadap masalah kebutuhan nutrisi secara umum dapat dinilai dari adanya
kemampuan dalam :
1. Meningkatkan nafsu makan ditunjukkan dengan adanya kemampuan dalam makan serta
adanya perubahan nafsu makan apabila terjadi kurang dari kebutuhan.
2. Terpenuhinya kebutuhan nutrisi ditunjukkan dengan tidak adanya tanda kekurangan atau
kelebihan berat badan.
3. .Mempertahankan nutrisi melalui oral atau parenteral ditunjukkan dengan adanya
proses pencernaan makan yang adekuat.
4. Menyatakan pemahaman kebutuhan nutrisi.
5. Menunjukkan penurunan berat badan dengan pemeliharaan kesehatan optimal.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito-Moyet, Lynda Juall, 2000, Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta. Penerbit
Buku Kedokteran. EGC
Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakara : EGC
NANDA Internasional. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi. Jakarta. Penerbit
Buku Kedokteran. EGC
Potter dan Perry, Fundamental Keperawatan Volume 2.
Nanda NIC-NOC.2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa
Medis Edisi Revisi Jilid 1. Jakarta : ECG
Nanda NIC-NOC.2013.Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis Edisi Revisi
Jilid 2. Jakarta : ECG
http://manipulasiotak.blogspot.com/2012/05/asuhan-keperawatan-pada-pasien-dengan.html

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN


NUTRISI
21.40 TUGAS No comments

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN


NUTRISI
BAB I
PENDAHULUAN

A. Definisi Kebutuhan Nutrisi


Nutrisi adalah proses pengambilan zat-zat makanan penting (Nancy Nuwer
Konstantinides). Nutrisi merupakan proses pemasukan dan pengolahan zat makanan oleh tubuh
yang bertujuan menghasilkan energi dan dipergunakan dalam aktivitas tubuh.

B. Sistem Tubuh Yang Berperan Dalam Pemenuhan Kebutuhan Nutrisi


System yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi adalah system pencernaan dan organ
asesoris. Saluran pencernaan dimulai dari mulut sampai anus, sedangkan organ asesoris terdiri
dari hati, kantong empedu dan pancreas. Ketiga organ ini membantu pencernaan makanan secara
kimiawi.

1. Saluran Pencernaan
Saluran pencernaan merupakan jalur tempat proses pencernaan. Ada enam langkah proses
pencernaan yaitu:
• Ingesti : Proses masuknya makanan kedalam rongga mulut
• Propulsion : Proses pergerakan makanan dalam rongga mulut
• Mechanical digestion: Proses pemecahan makanan.
• Chemical digestion : Proses Katabolisme (Pemecahan makanan menjadi molekul)
• Absorbsion : Proses penyerapan nutrisi makanan
• Defecation proses eliminasi pembuangan sisa pencernaan dr tubuh.
Saluran pencernaan terdiri dari: mulut, farinx, esofagus, lambung, usus halus, usus besar, anus.
a. Mulut
Mulut merupakan bagian awal dari saluran pencernaan dan terdiri dari atas dua bagian luar yang
sempit (vestibula), yaitu ruang diantara gusi, gigi, bibir, pipi, dan bagian dalam, yaitu rongga
mulut. Di dalam mulut makanan mengalami proses mekanis melalui penguyahan yang akan
membuat makanan dapat hancur sampai merata, dibantu oleh enzim amilase yang akan memecah
amilium yang terkandung dalam makanan menjadi maltosa
Proses menguyah ini merupakan kegiatan terkoordinasi oleh lidah, gigi, dan otot menguyah. Di
dalam mulut, juga terdapat kelenjar saliva yang menghasilkan saliva untuk proses pencernaan
dengan cara mencerna hidrat arang, khususnya amilase, melicinkan bolus sehingga mudah
ditelan, menetralkan, serta mengencerkan bolus.
Kelenjar tersebut terdiri atas: kelenjar parotis, kelenjar submandibularis, dan kelenjar
sublingualis.
b. Faring
Faring merupakan merupakan bagian saluran pencernaan yang terletak dibelakang rongga
hidung, mulut dan faring. Faring berbentuk kerucut dengan bagian terlebar di bagian atas hingga
vertebra cervikal ke enam. Faring langsung berhubungan dengan esofagus, sebuah tabung yang
memiliki otot dengan panjang kurang lebih 20-25 cm danterletak dibelakang trakea. Di depan
tulang punggung, kemudian masuk melalui toraks menembus diafraghma yang berhubungan
langsung dengan rongga abdomen serta menyambung dengan lambung.
c. Esofagus
Esofagus merupakan bagian yang berfungsi mengantarkan makanan dari faring menuju lambung.
Esofagus berbentuk seperti silinder yang berongga dengan panjang kuramng lebih 2 cm dengan
kedua ujungnya dilindungi oleh sphinkter. Dalam keadaan normal sphinkter bagian atas selalu
tertutup, kecuali bila ada makanan masuk ke dalam lambung. Keadaan ini bertujuan untuk
mencegah gerakan balik sisi ke organ bagian atas, yaitu esofagus. Proses penghantaran makanan
dilakukan dengan cara peristaltik, yaitu lingkaran serabut otot di depan makanan mengendor dan
yang di belakang makanan berkontraksi.
d. Lambung
Lambung merupakan bagian saluran pencernaan yang terdiri dari bagian atas (disebut fundus),
bagian utama, dan bagian bawah dan berbentuk horizontal (antrum pilorik). Lambung
berhubungan langsung dengan esofagus melalui orifisium pilorik. Lambung terletak dibagian
diafraghma dan di depan pankreas, sedangkan limpa menempel pada sebelah kiri fundus.
e. Usus Halus
Usus halus merupakan tabung berlipat-lipat dengan panjang kurang lebih 2,5 meter dalam
keadaan hidup. Usus halus terletak di daerah umblikus dan dikelilingi oleh usus besar yang
memanjang dari lambung hingga katup illeo secal. Usus halus terdiri atas 3 bagian yaitu;
duodenum dengan panjang kurang lebih 25 cm, jejenum dengan panjang kurang lebih 2 meter,
illeum dengan panjang kurang kurang lebih 1 meter. Lapisan dinding dalam usus halus
mengandung berjuta-juta vili, kira-kira sebanyak 4-5 juta, yang menyerupai mukosa menyerupai
berudu. Pada permukaan setiap vili terdapat tonjolan yang menyerupai jari-jari yang disebut
mikrovili.
f. Usus Besar
Usus besar atau disebut juga sebagai kolon merupakan sambungan dari usus halus yang dimulai
dari katup illeo secal. Usus besar memiliki panjang kurang lebih 1,5 meter. Kolon terbagi atas;
asenden, transversum, desenden, sigmoid. Fungsi utama usus besra adalah mengabsorbsi air
(kurang lebih 90%), elektolit, vitamin dan sedikit glukosa. Kapasitas absorbsi air kurang lebih
5000 cc/hari.
g. Rektum dan Anus
Rektum terletak dibawah colon sigmoid, di dalam rongga pelvis di depan os. Sakrum dan os.
koksigis, panjagnya lebih kurang 12 cm. Anus terletak di dasar pelvis dan dindingnya diperkuat
3 sfingter :
• sphinkter ani internal yang bekerja tdk menurut kehendak
• sphinkter levator ani yang bekerja tidak menurut kehendak
• sphinkter ani eksternal yang bekerja menurut kehendak
Organ Acessoris
Merupakan organ yang tidak dilewati oleh zat makanan, tapi ikut membantu proses pencernaan
dengan mensekresi enzim-enzim. Organ-organ acessoris sistem pencernaan terdiri dari; hepar
(hati), kandung empedu, dan pankreas.
1. Hati
Hati merupakan kelenjar aksesori terbesar dalam tubuh, berwarna merah kecoklatan dengan berat
1000 – 1800 gram. Terletak dalam rongga abdomen sebelah kanan atas, dibawah diafragma. Hati
terdiri dari 4 lobus: sinistra, dekstra, kaudatus & kuadratus. Fungsi hati adalah menghasilkan
cairan empedu, fagositosis bakteri dan benda asing lainnya, memproduksi sel darah merah, dan
menyimpan glikogen.
2. Kantong Empedu
Merupakan kantong yang berbentuk terong, terletak di bawah hati dan memiliki panjang 8-12 cm
dan volumenya 40-60 cm3. Fungsi kantong empedu adalah menghasilkan dan menyimpan cairan
empedu berwarna kuning keemasan (kuning kehijauan) berjumlah ± 500-1000 ml sehari,
membantu pencernaan lemak, memproduksi sterkobilin yg memberikan warna kuning pada feses
dan urin.
3. Pankreas
Sekumpulan kelenjar yg strukturnya mirip kelenjar ludah, panjangnya lebih kurang 15 cm dan
lebar kurang lebih 5 cm. Pankreas teridiri atas tiga bagian; caput, korpus dan caudal. Fungsi
pancreas adalah :
• Fungsi eksokrin : produksi getah pankreas yang berisi enzim dan elektrolit.
• Fungsi endokrin : terdiri dari sekelompok sel epitelium yg disebut pulau langerhans yg
memproduksi insulin untuk transportasi glukosa ke sel dan glukagon untuk metabolisme
karbohidrat.

C. Macam-Macam Nutrien
1. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan zat gizi yang terdapat dalam makanan, pada umumnya dalam bentuk
amilum. Pembentukan amilum terjadi dalam mulut melalui enzim ptialin yang ada dalam air
ludah. Amilum diubah menjadi maltosa kemudian diteruskan ke dalam lambung. Dari lambung
hidrat arang dikirim terus ke usus dua belas jari. Getah pankreas yang dialirkan ke usus dua belas
jari mengandung amilase. Dengan demikian sisa amilum yang belum diubah menjadi maltosa
oleh amilase pankreas diubah seluruhnya menjadi maltosa. Maltosa ini kemudian diteruskan
kedalam usus halus. Usus halus mengeluarkan getah pankreas hidrat arang, yaitu maltose yang
bertugas mengubah maltosa menjadi dua molekul glukosa sakarosa yaitu fruktosa dan glukosa.
Laktose bertugas mengubah laktosa menjadi glukosa dan galaktosa. Setelah berada dalam usus
halus, seluruhnya diubah menjadi monosakarida oleh enzim-enzim tadi.
2. Lemak
Penyerapan lemak dimulai dalam lambung (walau hanya sedikit), karena dalam mulut tidak ada
enzim pemecah lemak. Lambung mengeluarkan enzim lipase untuk menghubah sebagian kecil
lemak menjadi asam lemak dan gliserin, kemudian diangkut melalui getah bening dan
selanjutnya masuk kedalam peredaran darah untuk kemudian di hati. Sintesis kembali terjadi
dalam saluran getah bening, mengubah lemak gliserin menjadi lemak seperti aslinya.
Penyerapan lemak dillakuklan secara pasif setelah lemak diubah menjadi gliserol asam lemak.
Asam lemak mempunyai sifat empedu, asam lemak yang termulsi inimampu di serap melawati
dinding usus halus. Penyerapan membutuhkan tenaga, lagi pula tidak semua lemak dapat diserap,
maka penyerapan lemak dapat dikatakan dengan cara aktif selektif.
3.Protein
Kelenjar ludah tidak dapat membuat enzim protease. Enzim proterase baru terdapat dalam
lambung, yaitu pepsin, yang mengubah protein menjadi albumuminosa dan pepton.
Kemudian, tripsin dalam usus dua belas jari yang berasal dari pankreas mengubah sisa protein
yang belum sempurna menjadi albuminosa dan pepton. Dalam usus halus, albuminosa dan
pepton seluruhnya diubah oleh enzim pepsin menjadi asam-asam amino yang siap untuk diserap.
Protein yang telah diubah kedalam bentuk asam amino yang mudah larut dalam air ini juga dapat
diserap secara pasif dan memasuki langsung pembuluh darah.
4. Mineral
Mineral hadir dalam bentu tertentu sehingga tubuh mudah untuk memeprosesnya. Umumnya,
mineral diserap dengan mudah melalui dinding usus halus secara difusi pasif maupun
transportasi aktif.
Mekanisme transprotasi aktif penting jika kebutuhan tubuh meningkat atau adanya diet rendah
kadar mineral. Hormon adalah zat yang memegang peranan penting dalam mengatur mekanisme
aktif ini. Penyerapan dapat lebih jauh dipengaruhi oleh isi sistem pencernaan.
Beberapa senyawa organik tertentu, seperti asam oxalit, akan menghambat penyerapan kalsium.
Beberapa dari mineral adalah komponen esensial dari jaringan tubuh, sedang yang lainnya
esensial pada proses kimia tertentu.
5. Vitamin
Pencernaan vitamin melibatkan penguraiannya menjadi molekul-molekul yang lebih kecil
sehingga dapat diserap secara efektif. Beberapa penyerapn vitamin dilakukan denagn difusi
sederhana, tetapi sistem transportasi aktif sangat penting untuk memastikan pemasulkan yang
cukup.
Vitamin yang larut dalm lemak diserap oleh sistem transportasi aktif yang juga membawa lemak
ke seluruh tubuh, sedang vitamin yang larut dalam air mempunyai beberapa variasi mekanisme
transportasi aktif.
6. Air
Air merupakan zat makanan paling mendasar yang diperlukan oleh tubuh manusia. Tubuh
manusia terdiri 50%-70 air. Asupan air secara teratur sangat penting bagi makhluk hidup untuk
bertahan hidup dibandingkan dengan pemasukan nutrisi lain.
Bayi memiliki proporsi air yang lebih besar dibandingkan orang dewasa. Semakin tua umur
seseorang, maka proporsi air dalam tubuhnya akan semakin berkurang. Pada orang dewasa
asupan air berkisar antara 1200-1500 cc per hari, namun dianjurkan sebanyak 1900 cc sebagai
batas optimum. Selain itu, air yang masuk ke tubuh melalui makanan lain berkisar antara 500-
900 cc per hari.
D. Faktor Yang Memengaruhi Kebutuhan Nutrisi
1. Pengetahuan
Pengetahuan yang kurang tentang manfaat makanan bergizi dapat memengaruhi pola konsumsi
makan. Hal tersebut dapat disebabkan oleh kurngnya informasi sehinga dapat terjadi kesaalahan
dalam memenuhi kebutuhan gizi.
2. Prasangka
Prasangka buruk terhadap beberapa jenis bahan makanan bergizi tinggi dapat memengaruhi
status gizi seseorang. Misalnya, di beberapa daerah, tempe yang merupakan sumber protein yang
paling murah, tidak dijadikan bahan makanan yang layak untuk dimakan karena masyarakat
menganggap bahwa makanan tersebut dapat merendahkan derajat mereka.
3. Kebiasaan
Adanya kebiasaan yang merugikan atau pantangan terhadap makanan tertentu juga dapat
memengaruhi status gizi. Misalnya di beberapa daerah, terdapat larangan makan pisang dan
pepaya bagi para gadis remaja. Padahal makanan tersebut merupakan sumber vitamin yang baik.
4. Kesukaan
Kesukaan yang berlebihan terhadap suatu jenis makanan dapat mengakibatkan kurangnya variasi
makanan, sehingga tubuh tidak memperoleh zat-zat yang dibutuhkan secara cukup. Kesukaan
dapat mengakibatkan merosotnya gizi pada remaja bila nilai gizinya tidak sesuai dengan nilai
yang diharapkan.
5. Status Ekonomi
Status ekonomi dapat memengaruhi perubahan status gizi karena penyediaan makanan bergizi
membutuhkan pendanaan yang tidak sedikit. Oleh karena itu, masyarakat dengan kondisi
perokonomian yang tinggi biasanya mampu mencukupi kebutuhan gizi keluarganya
dibandingkan masyarakat dengan kondisi perekonomian rendah.
E. Masalah Kebutuhan Nutrisi
1. Kekurangan Nutrisi
Kekurangan nutrisi merupakan keadaan yang dialami seseorang dalam keadaan tidak berpuasa
(normal) atau resiko penurunan berat badan akibat ketidakcukupan asupan nutrisi untuk proses
metabolisme.
Tanda Klinis:
• Berat badan 10-20% di bawah normal.
• Tinggi badan dibawah ideal.
• Lingkar kulit trisep lengan tengah kurang dari 60% ukuran standar.
• Adanya kelemahan dan nyeri tekan pada otot.
• Adanya penurunan albumin serum.
• Adanya penurunan transfersin.
Kemungkinan penyebab:
• Meningkatnya kebutuhan kalori dan kesulitan dalam mencerna kalori akibat penyakit infeksi
atau kanker.
• Disfagia karena adanya kelainan persarafan.
• Penurunan absorbsi nutrisi akibat penyakit crohn atau intoleransi laktosa.
• Nafsu makan menurun.
2. Kelebihan Nutrisi
Kelebihan nutrisi merupakan suatu keadaan yang dialami seseorang yang mempunyai resiko
peningkatan berat badan akibat asupan kebutuhan metabolisme secara berlebih.
Tanda Klinis:
• Berat badan lebih dari 10% berat ideal.
• Obesitas (lebih dari 20% berat ideal).
• Lipatan kulit trisep lebih dari 15 mm pada pria dan 25 mm pada wanita.
• Adanya jumlah asupan yang berlebihan.
• Aktivitas menurun atau monoton.
Kemungkinan Penyebab:
• Perubahan pola makan
• Penurunan fungsi pengecapan dan penciuman
3. Malnutrisi
Malnutrisi merupakan masalah yang berhubungan dengan kekurangan zat gizi pada tingkat
seluler atau dapat dikatakan sebagai asupan zat gizi yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh.
Gejala umumnya dengan adanya berat badan rendah dengan asupan makanan yang cukup atau
asupan kurang dari kebutuhan tubuh, adanya kelemahan otot dan penurunan energi, pucat pada
kulit, membran mukosa, konjungtiva dan lain-lain.
4. Obesitas
Obesitas merupakan masalah peningkatan berat badan uyang mencapai lebih dari 20% berat
badan normal. Status nutrisinya adalah melebihi kebutuhan metabolisme karena kelebihan
asupan kalori dan penurunan dalam penggunaan kalori.
5. Diabetes Militus
Diabetes Militus merupakan gangguan kebutuhan nutrisi yang ditandai dengan adanya gangguan
metabolisme karbohidrat akibat kekurangan insulin atau penggunaan karbohidrat secara
berlebihan.
6. Hipertensi
Hipertensi merupakan gangguan nutrisi yang disebabkan oleh berbagai masalah pemenuhan
kebutuhan nutrisi seperti penyebab dari adanya obesitas serta asupan kalsium, natrium, dan gaya
hidup yang berlebihan.
7. Penyakit Jantung Koroner
Penyakit Jantung Koroner merupakan gangguan pemenuhan nutrisi yang sering disebabakan oleh
peningkatan kolesterol darah dan merokok. Saat ini, gangguan ini sering dialami karena adanya
perilaku atau gaya hidup yang tidak sehat.

BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN

1. Pengkajian

a. Riwayat keperawatan dan diet


1. Anggaran makan, makanan kesukaan, waktu makan
2. Apakah ada diet yang dilakukan secara khusus?
3. Adakah penurunan dan peningkatan BB dan berapa lama periode waktunya?
4. Adakah toleransi makan/minum tertentu?

b. Faktor yang mempengaruhi diet


1. Status kesadaran
2. Kultur dan kepercayaan
3. Status sosial ekonomi
4. Faktor psikologis
5. informasi yang salah tentang makanan dan cara berdiet

c. Pemeriksaan fisik
1. Keadaan fisik : lesu
2. Berat badan : Obesitas, kueus
3. Otot : Lemah, tonus kurang, tidak mampu bekerja
4. Pengukuran tinggi dan berat badan klien diperoleh ketika masuk RS/ lingkungan pelayanan
kesehatan apapun
5. Pengukuran BB pada waktu yang sama setiap hari pada skala yang sama dan dengan pakaian
yang sama
6. Pengukuran antropometri :
- BB ideal : (TB – 100) ± 10 %
- Lingkar pergelangnan tangan
- Lingkar lengan atas (LLA)
Nilai normal wanita : 28,5 cm
Pria : 28,3 cm
- Lipatan kulit pada otot trisep (TSF)
Nilai normal wanita : 16,5 – 18 cm
Pria : 12,5 -. 16,5 cm

d. Laboratorium
- Albumin : (N : 4 – 5,5 mg/100 ml)
- Transferin : (N : 170 – 25 mg/100 ml)
- HB : (N : 12 mg %)
- BUN : ( N : 10 -20 mg/100 ml)

2. Diagnosa Keperawatan

A. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


• Kemungkinan berhubungan dengan :
1. Mual/muntah
2. Gangguan intake makanan
3. gangguan menelan
4. efek dari pengobatan

• Kemungkinan data yang ditemukan :


1. Berat badan menurun
2. Kelemahan
3. kesulitan makan
4. nafsu makan berkurang
5. hipotensi
6. ketidakseimbangan elektrolit
7. kulit kering

• Kondisi kilnis yang mungkin terjadi


1. Anoreksia nervosa
2. AIDS
3. Pembedahan
4. Kehamilan
5. Kanker
6. Anemia

• Tuhuan yang diharapkan :


1. Terjadi penigkatan BB sesuai batasan waktu
2. Penigkatan status nutrisi

• Hasil yang diharapkan :


1. Klien akan bertambah BB rata-rata ¼ sampai 0,5 kg/ minggu
2. Parameter laboratorium akan menunjukkan bukti hidrasi adekuat dan meningkatkan parameter
nutrisi

B. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh


• Kemungkinan berhubungan dengan :
1. Kelebihan intake
2. Gaya hidup
3. Perubahan kultur

• Kemungkinan data yang ditemukan :


1. 20 % lebih berat dari badan ideal
2. Pola makan yang berlebihan

• Kondisi klinis kemungkinan terjadi


1. Obesitas
2. Hipotiroidisme
3. Pasien dengan pemakaian kortikosteroid

• Tujuan yang diharapkan :


1. Teridentifikasinya kebutuhan nutrisi dan berat badan yang terkontrol
2. Pernencanaan kontrol berat badan untuk yang akan datang
3. tidak terjadinya penurunan berat badan yang berlebihan

• Implementasi
Tindakan keperawatan dilakukan sesuai dengan intervensi keperawatan yang sudah dibuat

• Evaluasi
1. Apakah ada peningkatan BB?
2. Apakah rencana makan yang diprogramkan dimana asupan kalori cukup untuk menurunkan
berat badan tercapai?

Daftar Pustaka

• Perry dan Poter, Buku ajar Fundamental Keperawatan. Edisi 4 Volume 2. Jakarta : EGC 2005.

• Dongoes, Marilyn E. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta : EGC, 1993

• Wartonah, Tarwoto. Keebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan. Jakarta, Salemba
Medika 2006
Asuhan Keperawatan adalah merupakan suatu hal yang tidak akan terlepas dari pekerjaan
seorang perawat dalam menjalankan tugas serta kewajibannya serta peran dan fungsinya
terhadap para pasiennya. Karena itulah pentingnya kita mengetahui akan proses pemberian
asuhan keperawatan yang komprehensif.

Asuhan Keperawatan adalah merupakan suatu tindakan kegiatan atau proses dalam praktik
keperawatan yang diberikan secara langsung kepada klien (pasien) untuk memenuhi kebutuhan
objektif klien, sehingga dapat mengatasi masalah yang sedang dihadapinya, dan asuhan
keperawatan dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah ilmu keperawatan

Pengertian Asuhan Keperawatan adalah merupakan proses atau rangkaian kegiatan pada praktik
keperawatan yang diberikan secara langsung kepada klien / pasien di berbagai tatanan pelayanan
kesehatan. Dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah keperawatan sebagai suatu profesi yang
berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, bersifat humanistic,dan berdasarkan pada kebutuhan
objektif klien untuk mengatasi masalah yang dihadapi klien.

Proses Keperawatan adalah metode asuhan keperawatan yang ilmiah, sistematis, dinamis dan
terus-menerus serta berkesinambungan dalam rangka pemecahan masalah kesehatan pasien /
klien, dimulai dari Pengkajian (Pengumpulan Data, Analisis Data dan Penentuan Masalah)
Diagnosis Keperawatan, Pelaksanaan dan Penilaian Tindakan Keperawatan (evaluasi). Menurut
Ali (1997)

Asuhan keperawatan diberikan dalam upaya memenuhi kebutuhan klien / pasien.

Lima kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow yaitu :

Kebutuhan fisiologis meliputi oksigen, cairan, nutrisi.

Kebutuhan rasa aman dan perlindungan.

Kebutuhan rasa cinta dan saling memiliki.


Kebutuhan akan harga diri.

Kebutuhan aktualisasi diri.

Jadi bila menilik hasil dari pengertian di atas maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa
yang dimaksud dengan arti makna pengertian dari asuhan keperawatan adalah merupakan
seluruh rangkaian proses keperawatan yang diberikan kepada pasien yang berkesinambungan
dengan kiat-kiat keperawatan yang di mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi dalam usaha
memperbaiki ataupun memelihara derajat kesehatan yang optimal.

Tujuan Asuhan Keperawatan

Ada beberapa tujuan dan manfaat pemberian asuhan keperawatan diantaranya yaitu :

Membantu individu untuk mandiri.

Mengajak individu atau masyarakat berpartisipasi dalam bidang kesehatan.

Membantu individu mengembangkan potensi untuk memelihara kesehatan secara optimal agar
tidak tergantung pada orang lain dalam memelihara kesehatannya.

Membantu individu memperoleh derajat kesehatan yang optimal.

Fungsi Proses Keperawatan

Proses keperawatan pun mempunyai fungsi dan fungsinya antara lain adalah :

Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi tenaga keperawatan dalam
memecahkan masalah klien melalui asuhan keperawatan.

Memberi ciri profesionalisasi pemberian asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan


masalah dan pendekatan komunikasi yang efektif dan efisien.

Memberi kebebasan pada klien untuk mendapat pelayanan yang optimal sesuai dengan
kebutuhanya dalam kemandirianya di bidang kesehatan.

Tahapan Proses Keperawatan


Tahap-tahapan dalam melakukan dan pengkajian pada proses keperawatan ini adalah lima yaitu :

1. Pengkajian Keperawatan.

Yang dimaksud dengan pengertian definisi Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara
lengkap dan sistematis untuk dikaji dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan
yang di hadapi pasien baik fisik, mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan.

Tahapan pengkajian keperawatan ini mencakup tiga kegiatan, yaitu Pengumpulan Data, Analisis
Data dan Penentuan Masalah kesehatan serta keperawatan.

a. Pengumpulan Data. Tujuan dari pengumpulan data ini adalah untuk mendapatkan data dan
informasi mengenai masalah kesehatan dan masalah keperawatan yang ada pada pasien sehingga
dapat ditentukan tindakan yang harus diambil untuk mengatasi masalah tersebut yang
menyangkut aspek fisik, mental, sosial dan spiritual serta faktor lingkungan yang
mempengaruhinya. Data tersebut harus akurat dan mudah dianalisis.

Jenis data antara lain :

Data Objektif. Data yang diperoleh melalui suatu pengukuran, pemeriksaan, dan pengamatan,
misalnya suhu tubuh, tekanan darah, serta warna kulit.

Data subjekif. Data yang diperoleh dari keluhan yang dirasakan pasien, atau dari keluarga pasien
/ saksi lain misalnya : kepala pusing, nyeri dan mual.

Adapun fokus dalam pengumpulan data meliputi :

Status kesehatan sebelumnya dan sekarang

Pola koping sebelumnya dan sekarang

Fungsi status sebelumnya dan sekarang

Respon terhadap terapi medis dan tindakan keperawatan

Resiko untuk masalah potensial

Hal-hal yang menjadi dorongan atau kekuatan klien


b. Analisa Data. Analisa data adalah kemampuan dalam mengembangkan kemampuan berpikir
rasional sesuai dengan latar belakang ilmu pengetahuan.

c. Perumusan Masalah. Setelah analisa data dilakukan, dapat dirumuskan beberapa masalah
kesehatan. Masalah kesehatan tersebut ada yang dapat diintervensi dengan Asuhan Keperawatan
(Masalah Keperawatan) tetapi ada juga yang tidak dan lebih memerlukan tindakan medis.
Selanjutnya disusun diagnosa keperawatan sesuai dengan prioritas.

Prioritas masalah ditentukan berdasarkan kriteria penting dan segera. Penting mencakup
kegawatan dan apabila tidak diatasi akan menimbulkan komplikasi, sedangkan Segera mencakup
waktu misalnya pada pasien stroke yang tidak sadar maka tindakan harus segera dilakukan untuk
mencegah komplikasi yang lebih parah atau kematian.

Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hierarki kebutuhan menurut Maslow, yaitu :
keadaan yang mengancam kehidupan, keadaan yang mengancam kesehatan, persepsi tentang
kesehatan dan keperawatan.

2. Diagnosa Keperawatan

Yang dimaksud engan manka arti definisi Diagnosa Keperawatan adalah merupakan suatu
pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko perubahan pola) dari
individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan
memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan menurunkan, membatasi,
mencegah dan merubah (Carpenito,2000).

Perumusan Diagnosa Keperawatan meliputi dari hal sebagai berikut :

Aktual : Menjelaskan masalah nyata saat ini sesuai dengan data klinik yang ditemukan.

Resiko : Menjelaskan masalah kesehatan nyata akan terjadi jika tidak dilakukan intervensi.

Kemungkinan : Menjelaskan bahwa perlu adanya data tambahan untuk memastikan masalah
keperawatan kemungkinan.

Wellness : Keputusan klinik tentang keadaan individu, keluarga atau masyarakat dalam transisi
dari tingkat sejahtera tertentu ketingkat sejahtera yang lebih tinggi.
Syndrom : diagnose yang terdiri dari kelompok diagnosa keperawatan actual dan resiko tinggi
yang diperkirakan muncul/timbul karena suatu kejadian atau situasi tertentu.

3. Rencana Keperawatan

Berikut beberapa hal yang terkait dengan pembuatan rencana keperawatan yaitu :

Yang dimaksud dengan pengertian dan definisi rencana keperawatan adalah semua tindakan
yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien beralih dari status kesehatan saat ini kestatus
kesehatan yang di uraikan dalam hasil yang di harapkan (Gordon,1994).

Merupakan pedoman tertulis untuk perawatan klien. Rencana perawatan terorganisasi sehingga
setiap perawat dapat dengan cepat mengidentifikasi tindakan perawatan yang diberikan.

Rencana asuhan keperawatan yang di rumuskan dengan tepat memfasilitasi kontinuitas asuhan
perawatan dari satu perawat ke perawat lainnya. Sebagai hasil, semua perawat mempunyai
kesempatan untuk memberikan asuhan yang berkualitas tinggi dan konsisten.

Rencana Asuhan Keperawatan tertulis mengatur pertukaran informasi oleh perawat dalam
laporan pertukaran dinas. Rencana perawatan tertulis juga mencakup kebutuhan klien jangka
panjang(potter,1997)

4. Implementasi Keperawatan

Yang dimaksud dengan pengertian dan definisi implementasi keperawatan adalah :

Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap
pelaksanaan dimulai dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada nursing orders
untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu rencana tindakan yang
spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi masalah kesehatan
klien.

Adapun Tahapan Implementasi Keperawatan adalah sebagai berikut :

Tahap 1 : Persiapan. Tahap awal tindakan keperawatan ini menuntut perawat untuk
mengevaluasi yang diindentifikasi pada tahap perencanaan.

Tahap 2 : Intervensi. Fokus tahap pelaksanaan tindakan perawatan adalah kegiatan dan
pelaksanaan tindakan dari perencanaan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan emosional.
Pendekatan tindakan keperawatan meliputi tindakan : independen, dependen, dan interdependen.
Tahap 3 : Dokumentasi. Pelaksanaan tindakan keperawatan harus diikuti oleh pencatatan yang
lengkap dan akurat terhadap suatu kejadian dalam proses keperawatan.

5. Evaluasi Keperawatan

Perencanaan evaluasi memuat kriteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan


keperawatan. Keberhasilan proses dapat dilihat dengan jalan membandingkan antara proses
dengan pedoman / rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat dilihat
dengan membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan sehari-hari dan
tingkat kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah di rumuskan sebelumnya.

Adapun tujuan dari sasaran evaluasi keperawatan adalah sebagai berikut :

Proses asuhan keperawatan, berdasarkan kriteria / rencana yang telah disusun.

Hasil tindakan keperawatan ,berdasarkan kriteria keberhasilan yang telah di rumuskan dalam
rencana evaluasi.

Terdapat 3 kemungkinan hasil evaluasi yaitu :

Tujuan tercapai, apabila pasien telah menunjukan perbaikan / kemajuan sesuai dengan kriteria
yang telah ditetapkan.

Tujuan tercapai sebagian, apabila tujuan itu tidak tercapai secara maksimal, sehingga perlu di
cari penyebab dan cara mengatasinya.

Tujuan tidak tercapai, apabila pasien tidak menunjukan perubahan / kemajuan sama sekali
bahkan timbul masalah baru.dalam hal ini perawat perlu untuk mengkaji secara lebih mendalam
apakah terdapat data, analisis, diagnosa, tindakan, dan faktor-faktor lain yang tidak sesuai yang
menjadi penyebab tidak tercapainya tujuan.

Setelah seorang perawat melakukan seluruh proses keperawatan dari pengkajian sampai dengan
evaluasi kepada pasien, seluruh tindakannya harus didokumentasikan dengan benar dalam
dokumentasi keperawatan.

Pengertian definisi Dokumentasi Keperawatan adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak
yang dapat diandalkan sebagai catatan tentang bukti bagi individu yang berwenang (potter 2005).
http://laporanpendahuluanaskep.blogspot.com/2014/09/laporan-pendahuluan-konstipasi.html
Selasa, 02 September 2014

Laporan Pendahuluan Konstipasi


Laporan Pendahuluan Konstipasi

Konsep Dasar

1. Definisi

Konstipasi merupakan defekasi tidak teratur yang abnormal dan juga pengerasan feses tak normal yang
membuat pasasenya sulit dan kadang menimbulkan nyeri.

Konstipasi sering diartikan sebagai kurangnya frekuensi buang air besar, biasanya kurang dari 3 kali per
minggu dengan feses yang kecil-kecil dan keras dan kadang-kadang disertai kesulitan sampai rasa sakit
saat buang air besar (NIDDK, 2000).

Konstipasi adalah suatu keluhan, bukan penyakit (Holson, 2002;Azer, 2001). Pada umumnya konstipasi
sulit didefinisikan secara tegas karena sebagai suatu keluhan terdapat variasi yang berlainan antara
individu (Azer,2001). Penggunaan istilah konstipasi secara keliru dan belum adanya definisi yang
universal menyebabkan lebih kaburnya hal ini (Hamdy, 1984). Sedangkan batasan dari konstipasi klinik
yang sesungguhnya adalah ditemukannya sejumlah feses pada kolon, rektum atau keduanya yang
tampak pada foto polos perut (Harari, 1999).

Para tenaga medis mendefinisikan konstipasi sebagai penurunan frekuensi buang air besar, kesulitan
dalam mengeluarkan feses, atau perasaan tidak tuntas ketika buang air besar. Studi epidemiologik
menunjukkan kenaikan pesat konstipasi berkaitan dengan usia terutama berdasarkan keluhan penderita
dan bukan karena konstipasi klinik. Banyak orang mengira dirinya konstipasi bila tidak buang air besar
setiap hari. Sering ada perbedaan pandangan antara dokter dan penderita tentang arti konstipasi
(cheskin dkk, 1990).

2. Etiologi

 Obat-obatan tertentu (tranquilizer, antikolinergis, antihipersensitif, opioid, antasida dengan


aluminium)
 Gangguan rektal/anal (hemoroid, fisura)
 Obstruksi (kanker usus)
 Kondisi metabolis, neurologis, dan neuromuskuler
 Kondisi endokrin
 Keracunan timah
 Gangguan jaringan pembuluh
Faktor penyebab lainnya mencakup kelemahan, imobilitas, kecacatan, keletihan, dan ketidakmampuan
untuk meningkatkan tekanan intra-abdomen untuk mempermudah pasase feses, seperti yang terjadi
pada emfisema.

3. Manifestasi Klinis
 Distensi abdomen
 Borborigimus
 Rasa nyeri dan tekanan
 Penurunan nafsu makan
 Sakit kepala
 Kelelahan
 Tidak dapat makan
 Sensasi pengosongan tidak lengkap
 Mengejan saat defekasi
 Eliminasi volume feses sedikit, keras, dan kering

4. Patofisiologi

Patofisiologi konstipasi masih belum dipahami. Konstipasi diyakini, berhubungan dengan pengaruh dari
sepertiga fungsi utama kolon : (1) transpor mukosa, (2) aktifitas mioelektrik, atau (3) proses defekasi.
Dorongan untuk defekasi secara normal dirangsang oleh distensi rektal melalui empat tahap kerja :
rangsangan refleks penyekat rektoanal, relaksasi otot sfingter internal, relaksasi otot sfingter external dan
otot dalam region pelvik, dan peningkatan tekanan intra-abdomen. Gangguan salah satu dari empat
proses ini dapat menimbulkan konstipasi.
Apabila dorongan untuk defekasi diabaikan, membran mukosa rektal dan muskulatur menjadi tidak peka
terhadap adanya massa fekal, dan akibatnya rangsangan yang lebih kuat diperlukan untuk menghasilkan
dorongan peristaktik tertentu agar terjadi defekasi. Efek awal retensi fekal ini adalah untuk menimbulkan
kepekaan kolon, dimana pada tahap ini sering mengalami spasme, khususnya setelah makan, sehingga
menimbulkan nyeri kolik midabdominal atau abdomen bawah. Setelah proses ini berlangsung sampai
beberapa tahun, kolon kehilangan tonus dan menjadi sangat tidak responsif terhadap rangsangan
normal, akhirnya terjadi konstipasi. Atoni usus juga terjadi pada proses penuaan, dan hal ini dapat
diakibatkan oleh penggunaan laksatif yang berlebihan.

5. Komplikasi
 Hipertensi arterial
 Imfaksi fekal
 Hemoroid dan fisura anal
 Megakolon

6. Penatalaksanaan
a. Pengobatan non-farmakologis

1. Latihan usus besar : melatih usus besar adalah suatu bentuk latihan perilaku yang
disarankan pada penderita konstipasi yang tidak jelas penyebabnya. Penderita dianjurkan
mengadakan waktu secara teratur setiap hari untuk memanfaatkan gerakan usus besarnya.
dianjurkan waktu ini adalah 5-10 menit setelah makan, sehingga dapat memanfaatkan reflex
gastro-kolon untuk BAB. Diharapkan kebiasaan ini dapat menyebabkan penderita tanggap
terhadap tanda-tanda dan rangsang untuk BAB, dan tidak menahan atau menunda dorongan
untuk BAB ini.
2. Diet : peran diet penting untuk mengatasi konstipasi terutama pada golongan usia lanjut.
Data epidemiologis menunjukkan bahwa diet yang mengandung banyak serat mengurangi angka
kejadian konstipasi dan macam-macam penyakit gastrointestinal lainnya, misalnya divertikel dan
kanker kolorektal. Serat meningkatkan massa dan berat feses serta mempersingkat waktu transit
di usus. untuk mendukung manfaa serat ini, diharpkan cukup asupan cairan sekitar 6-8 gelas
sehari, bila tidak ada kontraindikasi untuk asupan cairan.
3. Olahraga : cukup aktivitas atau mobilitas dan olahraga membantu mengatasi konstipasi
jalan kaki atau lari-lari kecil yang dilakukan sesuai dengan umur dan kemampuan pasien, akan
menggiatkan sirkulasi dan perut untuk memeperkuat otot-otot dinding perut, terutama pada
penderita dengan atoni pada otot perut
b. Pengobatan farmakologis
Jika modifikasi perilaku ini kurang berhasil, ditambahkan terapi farmakologis, dan biasanya dipakai obat-
obatan golongan pencahar. Ada 4 tipe golongan obat pencahar :

1. Memperbesar dan melunakkan massa feses, antara lain : Cereal, Methyl selulose,
Psilium.
2. Melunakkan dan melicinkan feses, obat ini bekerja dengan menurunkan tegangan
permukaan feses, sehingga mempermudah penyerapan air. Contohnya : minyak kastor,
golongan dochusate.
3. Golongan osmotik yang tidak diserap, sehingga cukup aman untuk digunakan, misalnya
pada penderita gagal ginjal, antara lain : sorbitol, laktulose, gliserin
4. Merangsang peristaltik, sehingga meningkatkan motilitas usus besar. Golongan ini yang
banyak dipakai. Perlu diperhatikan bahwa pencahar golongan ini bisa dipakai untuk jangka
panjang, dapat merusak pleksusmesenterikus dan berakibat dismotilitas kolon. Contohnya :
Bisakodil, Fenolptalein.

Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian

Riwayat kesehatan dibuat untuk mendapatkan informasi tentang awitan dan durasi konstipasi, pola
emliminasi saat ini dan masa lalu, serta harapan pasien tentang elininasi defekasi. Informasi gaya hidup
harus dikaji, termasuk latihan dan tingkat aktifitas, pekerjaan, asupan nutrisi dan cairan, serta stress.
Riwayat medis dan bedah masa lalu, terapi obat-obatan saat ini, dan penggunaan laksatif serta enema
adalah penting. Pasien harus ditanya tentang adanya tekanan rektal atau rasa penuh, nyeri abdomen,
mengejan berlebihan saat defekasi, flatulens, atau diare encer.

Pengkajian objektif mencakup inspeksi feses terhadap warna, bau, konsistensi, ukuran, bentuk, dan
komponen. Abdomen diauskultasi terhadap adanya bising usus dan karakternya. Distensi abdomen
diperhatikan. Area peritonial diinspeksi terhadap adanya hemoroid, fisura, dan iritasi kulit.

2. Diagnosa Keperawatan
1. Konstipasi berhubungan dengan pola defekasi tidak teratur
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hilangnya nafsu makan
3. Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada abdomen

3. Intervensi Keperawatan
1. Konstipasi berhubungan dengan pola defekasi tidak teratur

Tujuan : pasien dapat defekasi dengan teratur (setiap hari)

Kriteria hasil :

 Defekasi dapat dilakukan satu kali sehari


 Konsistensi feses lembut
 Eliminasi feses tanpa perlu mengejan berlebihan

Intervensi
Mandiri
 Tentukan pola defekasi bagi klien dan latih klien untuk menjalankannya
 Atur waktu yang tepat untuk defekasi klien seperti sesudah makan
 Berikan cakupan nutrisi berserat sesuai dengan indikasi
 Berikan cairan jika tidak kontraindikasi 2-3 liter per hari
Kolaborasi
 Pemberian laksatif atau enema sesuai indikasi

2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan hilangnya nafsu makan

Tujuan : menunjukkan status gizi baik

Kriteria Hasil :

 Toleransi terhadap diet yang dibutuhkan


 Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam batas normal
 Nilai laboratorium dalam batas normal
 Melaporkan keadekuatan tingkat energy
Intervensi
Mandiri
 Buat perencanaan makan dengan pasien untuk dimasukkan ke dalam jadwal makan.
 Dukung anggota keluarga untuk membawa makanan kesukaan pasien dari rumah.
 Tawarkan makanan porsi besar disiang hari ketika nafsu makan tinggi
 Pastikan diet memenuhi kebutuhan tubuh sesuai indikasi.
 Pastikan pola diet yang pasien yang disukai atau tidak disukai.
 Pantau masukan dan pengeluaran dan berat badan secara periodik.
 Kaji turgor kulit pasien

Kolaborasi
 Pantau nilai laboratorium, seperti Hb, albumin, dan kadar glukosa darah
 Ajarkan metode untuk perencanaan makan

3. Nyeri akut berhubungan dengan akumulasi feses keras pada abdomen


Tujuan : menunjukkan nyeri telah berkurang

Kriteria Hasil :

 Menunjukkan teknik relaksasi secara individual yang efektif untuk mencapai kenyamanan
 Mempertahankan tingkat nyeri pada skala kecil
 Melaporkan kesehatan fisik dan psikologisi
 Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk mencegah nyeri
 Menggunakan tindakan mengurangi nyeri dengan analgesik dan non-analgesik secara tepat.

Intervensi
Mandiri
 Bantu pasien untuk lebih berfokus pada aktivitas dari nyeri dengan melakukan penggalihan
melalui televisi atau radio
 Perhatikan bahwa lansia mengalami peningkatan sensitifitas terhadap efek analgesik opiate
 Perhatikan kemungkinan interaksi obat – obat dan obat penyakit pada lansia

Penutup

1. Kesimpulan

Konstipasi sering diartikan sebagai kurangnya frekuensi buang air besar, biasanya kurang dari 3 kali per
minggu dengan feses yang kecil-kecil dan keras dan kadang-kadang disertai kesulitan sampai rasa sakit
saat buang air besar. Konstipasi merupakan masalah umum yang disebabkan oleh penurunan motilitas,
kurang aktivitas, penurunan kekuatan dan tonus otot.

Manifestasi klinis yang sering muncul adalah distensi abdomen, borborigimus, Rasa nyeri dan tekanan,
penurunan nafsu makan, sakit kepala, kelelahan, tidak dapat makan, sensasi pengosongan tidak
lengkap, mengejan saat defekasi, eliminasi volume feses sedikit, keras, dan kering. Komplikasi yang bisa
terjadi jika konstipasi tidak diatasi adalah hipertensi arterial, imfaksi fekal, hemoroid dan fisura anal,
megakolon
Penatalaksanaan konstipasi pada lansia dengan tatalaksana non farmakologik : cairan, serat, bowel
training, latihan jasmani, evaluasi panggunaan obat. Tatalaksana farmakologik : pencahar pembentuk
tinja, pelembut tinja, pencahar stimulant, pencahar hiperosmolar dan enema.

DAFTAR PUSTAKA
 Brunner & Suddarth. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
 Carpenito, Juall Lynda. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 10. Jakarta: EGC
 Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC.
 http://erni-jasmita.blogspot.com/2012/04/askep-konstipasi.html
Diposkan oleh Wiwik M di 23.02