Está en la página 1de 4

Artinya

1. Katakanlah (Muhammad, “Wahai orang-orang kafir!


2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
3. dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah.
4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,
5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.
6. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”.

“Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Rabbmu, maka barangsiapa yang ingin
(beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir.’
Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang-orang dhalim itu neraka, yang gejolaknya
mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum
dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah seburuk-buruk
minuman dan sejelek-jelek tempat istirahat.” (QS. Al-Kahfi: 29)
Profil Lengkap Soeharto Sebagai Presiden Kedua Republik Indonesia
Jenderal Besar TNI (Purn.) H. M. Soeharto adalah presiden kedua Indonesia, beliau adalah presiden yang
menjabat dengan waktu terlama yaitu 32 tahun (1967-1998). Soeharto adalah putra dari pasangan
Kertosudiro dan Sukirah yang lahir pada 8 Juni 1921 di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan
Sedayu, Bantul, Yogyakarta. Sebelum menjabat menjadi presiden, Soeharto adalah seorang pemimpin
militer pada masa kedudukan Jepang dan Belanda dengan pangkat terakhir Mayor Jenderal.

Biografi Singkat Presiden Soeharto


Nama : Jenderal Besar TNI (Purn.) H. M. Soeharto
Lahir : Kemusuk, Bantul, Yogyakarta, 8 Juni 1921
Meninggal : Jakarta, 27 Januari 2008
Dimakamkan: Astana Giribangun, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah
Ayah : Kertosudiro
Ibu : Sukirah
Istri : Tien Soeharto
Anak :
Siti Hardijanti Rukmana
Sigit Harjojudanto
Bambang Trihatmodjo
Siti Hediati Hariyadi
Hutomo Mandala Putra
Siti Hutami Endang Adiningsih

Jabatan:
Menteri Pertahanan Indonesia ke-14 (28 Maret 1966 – 17 Oktober 1967)
Ketua Presidium Kabinet Indonesia (25 Juli 1966 – 17 Oktober 1967)
Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ke-2 (6 Juni 1968 – 28 Maret 1973)
Presiden Indonesia ke-2 (12 Maret 1967 – 21 Mei 1998)

Masa Kecil Dan Pendidikan Soeharto


Sebelum berumur 40 hari ayah Soeharto yaitu Kertosudiro mentalak cerai ibunya yaitu Sukirah, kemudian
ibunya menikah lagi dengan Pramono dan dikarunia 7 anak.
Soeharto yang semakin besar tinggal bersama kakeknya dari ibu bernama Mbah Atmosudiro dan
Soeharto mulai bersekolah saat berumur 8 tahun, tapisering berpindah-pindah. Tadinya, Soeharto
disekolahkan di SD di Desa Puluhan, Godean kemudian karena ibu dan ayah tirinya pindah ke Kemusuk
kidul Soeharto pindah ke SD Pedes (Yogyakarta). Kemudian ayahnya memindahkan Soeharto ke rumah
bibinya yang menikah dengan seorang mantri tani bernama Prawirowihardjo di Wuryantoro, Wonogiri,
Jawa Tengah. Setamat dari Sekolah Rendah, kemudian ia melanjutkan sekolah lanjutan rendah di
Wonogiri. Setelah berumur 14 tahun, Soeharto tinggal di rumah teman ayahnya yaitu Harjowijono.
Soeharto kemudian kembali ke Kemusuk dan melanjutkan pendidikannya di SMP Muhammadiyah
Yogyakarta, setamat SMP ia ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi tapi orang tuanya tidak
mampu membiayai. Pada 1 juni 1940, Soeharto di terima di sekolah bintara di Gombong, Jawa Tengah.
Setelah menjalani 6 bulan masa pelatihan dasar, Ia lulus dan menerima pangkat kopral dan Ia terpilih
menjadi prajurit teladan dan pada 5 Oktober 1945, Soeharto resmi menjadi anggota TNI.

Menikah Dengan Raden Ayu Siti Hartinah (Tien Soeharto)


Pada Tahun 1947, tepatnya tanggal 26 Desember 1947 Soeharto menikah dengan Raden Ayu Siti
Hartinah yang kita kenal sebagi Tien Soeharto. Raden Ayu Siti Hartinah atau Tien Soeharto adalah putri
dari seorang wedana di Solo bernama KRMT Soemoharyomo. Pada saat menikah Soeharto berumur 26
tahun Dan Siti Hartinah berumur 24 tahu. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai enam orang anak
yaitu Siti Hardiyanti Hastuti (Tutut), Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Harijadi (Titiek) ,
Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).
Karier Kemiliteran Soeharto
Karier kemiliteran Soeharto dimulai dengan pangkat sersan tentara KNIL, kemudian pada masa
penjajahan Jepang Ia menjadi komandan PETA, kemudian menjdi komandan resimen dengan pangkat
Mayur dan kemudian Ia menjabat sebagai komandan batalyon dengan pamngkat Letnal Kolonel.
Pada 1 Maret 1949, Soeharto ikut serta dalam serangan umum. Pada waktu itu Sri Sultan
Hamengkubuwono IX menyarankan kepada Panglima Besar Soedirman agar Brigade X pimpinan Letkol
Soeharto segera melakukan serangan umum ke kota Yogyakarta dan menduduki kota selama enam jam
untuk membuktikan bahwa Republik Indonesia masih ada.
Pada 2 Januari 1962, Soeharto diangkat menjadi Panglima Komando Mandala Pembebasan Irian Barat.
Kemudian pada 14 oktober 1965 Ia dilantik menjadi Menteri Panglima Angkatan Darat dan segera
membubarkan PKI dan ormasnya. Pad 11 Maret 1966, melalui Jenderal Basuki Rachmat, Jenderal Amir
Machmud, dan Jenderal M Yusuf, Soeharto menerima Surat dari Presiden Soekarno yang lebih dikenal
dengan Supersemar yang berisi tentang permberian kekuasaan pada Soeharto untuk mengambil tindakan
untuk terjaminnya keamanan, ketenangan serta kestabilan pemerintahan dan revolusi. Pada 12 Maret,
Soeharto berhasil membubarkan PKI dan Mengatakan Bahwa PKI adalah partai terlarang di Indonesia.

Menjadi Presiden Republik Indonesia


Setelah pertanggungjawaban presiden Soekarno yaitu NAWAKARSA ditolak, pada 12 Maret 1967,
Soeharto ditetapkan oleh MPRS sebagai Pejabat Presiden. Kemudian pada tanggal 27 Maret 1968,
sesuai dengan Sidang Umum MPRS Tap MPRS No XLIV/MPRS/1968 secara resmi Ia menjadi Presiden.
Selai menjadi presiden Ia juga merangkap jabatan menjadi Menteri Pertahanan. Pada 10 Juni 1968, Ia
mengumumkan susunan kabinet yang diberi nama Kabinet Pembangunan.
Pada 23 Maret 1973, Soeharto terpilih kembali menjadi Presiden untuk kedua kalinya berdasarkan sidang
umum MPR dan yang menjadi wakilnya adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Pada 22 Maret 1978,
untuk ketiga kalinya Soeharo diangkat menjadi Presiden dengan wakilnya Adam Malik. Pada sidang
umum MPR 1 Maret 1983, soeharto terpilih kembali menjadi Presiden dengan wakilnya Umar
Hadikusumah. Soeharto ditetapkan sebagi Bapak Pembangunan Republik Indonesia melalui Tap MPR
No. V 1983. Pada 10 Maret 1988, untuk kelima kalinya Soeharto terpilih kembali menjadi Presiden
dengan wakilnya Sudharmono. Pada 10 Maret 1993, untuk keenam kalinya Soeharto terpilih menjadi
Presiden dengan wakilnya Try Sutrisno. Pada tahun 1997 krisis moneter, Asia dilanda krisis moneter
termasuk Indonesia. Namun di tengah krisis ekonomi yang melanda Indonesia, MPR kembali menetapkan
Soeharto untuk menjadi presiden kembali untuk ketujuh kalinya tepatnya pada 10 Maret 1998 dengan
wakilnya Prof. Ing. B.J Habibie.
Tidak lama setelah pengangkatannya sebagai Presiden RI yang ketujuh kalinya yaitu sekitar 70 hari,
Soeharto lengser dari jabatannya sebagai presiden tepatnya pada tanggal 21 Mei 1998 pukul 09.00 WIB
dan pengunduran dirinya disiarkan langsung di televisi. Pengunduran diri tersebut terjadi setelah adanya
beberapa demonstrasi, tekanan politik dan militer, kerusuhan hingga pendudukan gedung DPR/MPR RI
termasuk tragedi Trisakti (12 Mei 1998) yang menewaskan 4 mahasiswa Universitas Trisakti yaitu Hery
Hartanto, Hafidhin Alifidin Royan, Elang Mulia Lesmana dan Hendriawan Sie. Setelah pengunduran diri
Soeharto, B.J Habibie sebagai wakilnya melanjutkan pemerintahan sebagai Presiden.

Wafatnya Presiden Soeharto


Pada 27 Januari 2008 tepat pukul 13.10 di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta pada usia 84 tahun,
Soeharto meninggal dunia setelah menjalani perawatan selama 24 hari. Secara resmi tim dokter
kepresidenan menyampaikan siaran pers tentang wafatnya Soeharto dan menyatakan beliau meninggal
karena kegagalan multi organ. Pada pukul 14.35, jenazah beliau di berangkatkan ke kediamannya di
Jalan Cendana No. 8, Menteng Jakarta dan sampai pada pukul 14.55. Pada 28 januari 2008 pukul 07.30
Jenazah mantan Presiden kedua ini diberangkatkan ke Bandara Halim Perdanakusuma dari rumahnya
untuk diterbangkan ke Solo pukul 10.00 dan untuk kemudian dimakamkan di Astana Giri Bangun, Solo.
Pada pukul 12.00 WIB, jenazah beliau tiba di Astana Giri Bangun dan diturunkan ke liang lahat pada
pukul 12.15 tepat adzan dzuhur. Inspektur upacara pemakaman tersebut di pimpin oleh Susilo Bambang
Yudhoyono.

También podría gustarte