Está en la página 1de 25

LAPORAN KASUS

I. Pengkajian
1. Identitas Klien
Nama : Tn K
Umur : 78
Alamat : Jl Lembur situ RT 01 RW 26 Kel Ciamis Kec Ciamis
Pendidikan : SMP
Kelamin : Laki Laki
Suka : Makan
Agama : Islam
Status Perkawinan : Menikah
Tanggal Pengkajian : 23 September 2016

2. Status Kesehatan Saat Ini


 Keluhan Utama : Pusing
 Riwayat kesehatan Sekarang :
Pada tanggal 23 september 2016 dilakukan pengkajian kepada Tn K
dengan keluhan pusing. Pusing terjadi akibat dari hipertensi yang di miliki
oleh Tn K. Pusing di rasa cukup mengganggu aktivitas. Pusing dirasa
ketika Tekanan Darah meningkat, pusing berkurang ketika Tn K
beristirahat

3. Riwayat Kesehatan Dahulu


Tn R mengidap hipertensi menginjak umur 60 tahunan
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Tidak ada anggota keluarga Tn K yang menderita enyakit seperti beliau
5. Genogram
Ket :

: Laki Laki

: Perempuan

/ : Meninggal

6. Pemeriksaan Fisik
 Keadaan Umum
Tanda Tanda Vital :
Nadi : 50 kali / menit
Pernafasan : 24 kali / menit
Tensi : Tidur : 160/110 mmHg
Duduk : 190/110 mmHg
Berdiri : 170/110 mmHg
o
Suhu : 36,3 C

 Integumen Ya Tidak
Lesi/luka ........... v
Pruritus ........... v
Perubahan pigmentasi v ..........
Perubahan tekstur ........... .........
Sering memar ........... v
Perubahan rambut v .........
Perubahan kuku v .........
Pemajanan lama terhadap matahari ........... v

 Hemopoietik Ya Tidak
Perdarahan/memar abnormal ........... v
Pembengkakan kelenjar limfa ........... v
Anemia v .........
Riwayat tranfusi darah v .........

 Kepala Ya Tidak
Sakit kepala v .........
Trauma berarti pada masa lalu ........... v
Pusing v .........
Gatal kulit kepala v .........
 Mata Ya Tidak
Perubahan penglihatan ........... v
Kaca mata/lensa kontak v .........
Nyeri ........... v
Air mata berlebihan ........... v
Pruritis ........... v
Bengkak sekitar mata ........... v
Diplopia ........... v
Kabur v .........
Foto pobia ........... v

 Telinga Ya Tidak
Perubahan pendengaran v .........
Tinitus ........... v
Vertigo ........... v
Sensitivitas pendengaran ........... v
Alat-alat protesa ........... v
Riwayat infeksi ........... v
Tanggal pemeriksaan paling akhir 2014
Kebiasaan perawatan telinga v .........

 Hidung dan Sinus Ya Tidak


Rinorea ........... v
Rabas ........... v
Epistaksis ........... v
Obstruksi ........... v
Mendengkur ........... v
Nyeri pada sinus ........... v
Alergi ........... v
Riwayat infeksi ........... . v

 Mulut dan Tenggorokan Ya Tidak


Sakit tenggorokan ......... v
Lesi/ulkus ......... v
Serak ......... v
Perubahan suara v .........
Kesulitan menelan ......... v
Alat-alat protesa ......... v
Riwayat infeksi ......... v
Tanggal pemeriksaan gigi paling akhir 2014
Pola menggosok gigi 4 kali sehari
 Leher Ya Tidak
Kekakuan v .........
Nyeri/nyeri tekan ......... v
Benjolan/massa ......... v
Keterbatasan gerak ......... v

 Payudara Ya Tidak
Benjolan/massa ......... v
Nyeri/nyeri tekan ......... v
Bengkak ......... v
Keluar cairaan dari puting susu ......... v
Perubahan pada puting susu ......... v

 Pernafasan Ya Tidak
Batuk v .........
Sesak nafas ......... v
Hemopteses ......... v
Sputum v .........
Mengi ......... v
Asma/alergi pernafasan ......... v

 Kardiovaskuler Ya Tidak
Nyeri/ketidaknyamanan dada ......... v
Palpitasi v .........
Sesak nafas ......... v
Dispnea pada aktivitas ......... v
Dispnea noktural paroksimal ......... v
Ortopnea ......... v
Murmur ......... v
Edema ......... v
Varises v .........
Kaki timpang ......... v
Parestesia v .........
Perubahan warna kaki ......... v

 Gastro Intestinal Ya Tidak


Disfagia ......... v
Tak dapat mencerna ......... v
Nyeri ulu hati ......... v
Mual/muntah ......... v
Hematemesis ......... v
Perubahan nafsu makan v .........
Intoleran makanan v .........
Ulkus ......... v
Nyeri ......... v
Ikterik ......... v
Benjolan/massa ......... v
Perubahan kebiasaan defekasi ......... v
Diare ......... v
Konstipasi ......... v
Melena ......... v
Hemoroid ......... v
Perdarahan rektum ......... v

 Perkemihan Ya Tidak
Disuria v .........
Hematuria ......... v
Poliuria v .........
Oliguria ......... v
Nokturia ......... v
Inkontinensia ......... v
Nyeri saat berkemihan ......... v
Batu ......... v
Infeksi ......... v
Frekuensi ±4–5

 Genito Reproduksi Pria Ya Tidak


Lesi ......... v
Masalah prostat ......... v
Penyakit kelamin ......... v
Perubahan hasrat seksual v .........

 Muskuloskeletal Ya Tidak
Nyeri persendian v .........
Kekakuan v .........
Pembengkakan sendi ......... v
Spasme ......... v
Kram ......... v
Kelemahan otot v .........
Masalah cara berjalan v .........
Nyeri punggung v .........
Protesa ......... v
Pola kebiasaan latihan/olah raga Peregangan setiap pagi
 Sistem Syaraf Pusat Ya Tidak
Sakit kepala v .........
Kejang ......... v
Serangan jatuh ......... v
Paralisis ......... v
Paresis ......... v
Masalah koordinasi ......... v
Tic/tremor/spasme ......... v
Parastesia v .........
Cedera kepala ......... v
Masalah memori ......... v

 Sistem Endokrin Ya Tidak


Intoleran panas ......... v
Intoleran dingin ......... v
Goiter ......... v
Perubahan rambut v .........
Polifagia ......... v
Polidipsi v .........
Poliuria v .........

7. Pengkajian Psikososial dan Spiritual


7.1 Psikososial
Hubungan Tn K dengan tertangga sedikit terganggu karena keterbatasan gerak Tn
K sehingga jarang bersosialisasi dengan tetangga

7.2 Identifikasi Masalah Emosional


Tn K tidak memiliki masalah emosialnal di tandai dengan pola tidur yang cukup
baik dan tidak ada yang gangguan pada pola tidur , Tn K juga terlihat sering
tersenyum.

7.3 Spiritual
Tn K taat beribadah meski mengalami keterbatasan dalam bergerak, serta Tn K
juga terlihat cukup bahagia di tandai dengan sikapnya yang ramah serta perhatian
dari istrinya
8. Pengkajian Status Fungsional
8.1 KATZ Indeks

INDEKS KATZ
SKORE KRITERIA
A Kemandirian dalam hal makan, kontinen, berpindah, ke kamar kecil,
berpakaian dan mandi
B Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali satu dari
fungsi tersebut
C Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali mandi dan
satu fungsi tambahan
D Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali mandi,
berpakaian dan satu fungsi tambahan
E Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali mandi,
berpakaian, ke kamar kecil dan satu fungsi tambahan
F Kemandirian dalam semua aktifitas hidup sehari-hari, kecuali mandi,
berpakaian, berpindah dan satu fungsi tambahan
G Ketergantungan pada enam fungsi tersebut
Lain- Ketergantungan pada sedikitnya dua fungsi, tetapi tidak dapat
lain diklasifikasikan sebagai C, D, E, F dan G

Tn K memiliki skore A karena beliau masih bisa memenuhi kebutuhan pribadinya


secara mandiri

9. Modifikasi dari Barthel Indeks

NO KRITERIA DENGAN MANDIRI KETERANGAN


BANTUAN
1 Frekuensi : 3 kali sehari
Makan 5 10 Jumlah : 1 porsi
Jenis : Nasi
2 Frekuensi : ±10 kali sehari
Minum 5 10 Jumlah : 2500 ml
Jenis : air Mineral
3 Berpindah dari kursi roda
ke tempat tidur, 5-10 15
sebaliknya
4 Personal toilet (cuci Frekuensi : 3 kali sehari
muka, menyisir rambut, 0 5
gosok gigi).
5 Keluar masuk toilet
(mencuci pakaian,
5 10
menyeka tubuh,
menyiram)
6 Mandi 5 15 Frekuensi : 3 kali sehari
7 Jalan di permukaan datar 0 5
8 Naik turun tangga 5 10
9 Mengenakan pakaian 5 10
10 Kontrol bowel (BAB) Frekuensi : 2 kali sehari
5 10
Konsistensi : padat
11 Kontrol Bladder (BAK) 10 Frekuensi : ±5 kali sehari
5
Warna : kuuning khas
12 Olah raga atau latihan Frekuensi : 1 kali sehari
5 10
Jenis
13 Rekreasi atau 10 Frekuensi : Setiap hari
5
pemantapan waktu luang Jenis : menonton TV
Jumlah 125 Ketergantungan sebagian

Keterangan :
a. >130 : Mandiri
b. 65-125 : Ketergantungan Sebagian
c. > 60 : Ketergantungan total

10. Pengkajian Status Mental Gerontik


10.1 Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan short
Portable Mental Status Questioner (SPMSQ)
BENAR SALAH NO PERTANYAAN
v 01 Tanggal berapa hari ini?
v 02 Hari apa sekarang?
v 03 Apa nama tempat ini?
v 04 Dimana alamat anda?
v 05 Berapa umur anda?
06 Kapan anda lahir? (minimal tahun
v
lahir)
v 07 Siapa presiden Indonesia sekarang?
v 08 Siapa presiden indonesia sebelumnya?
v 09 Siapa nama ibu anda?
10 Kurangi 3 dari 20 dan tetap
v pengurangan 3 dari setiap angka baru,
semua secar menurun
Σ=8 Σ=2

Score Total = 2
Interpretasi hasil :
a. Salah 0-3 : Fungsi intelektual utuh
b. Salah 4-5 : Kerusakan intelektual ringan
c. Salah 6-8 : Kerusakan intelektual sedang
d. Salah 9-10 : Kerusakan intelektual berat

10.2 Identifikasi aspek kognitif dari fungsi mental dengan menggunakan MMSE ( Mini
mental status exam)

Item Tes Nilai maks. Nilai


ORIENTASI

Sekarang (tahun),
1 (musim), (bulan), 5 5
(tanggal), hari apa?

Kita berada dimana?


(negara), (propinsi),
2 5 5
(kota), (Desa),
(RT/RW)
REGISTRASI
Sebutkan 3 buah nama
benda ( jeruk, uang,
mawar), tiap benda 1
detik, pasien disuruh
mengulangi ketiga nama
benda tadi. Nilai 1
3 untuk tiap nama benda 3 3
yang benar. Ulangi
sampai pasien dapat
menyebutkan dengan
benar dan catat jumlah
pengulangan

ATENSI DAN KALKULASI


Kurangi 100 dengan 7.
Nilai 1 untuk tiap
jawaban yang benar.
Hentikan setelah 5
4 5 0
jawaban. Atau disuruh
mengeja terbalik kata “
WAHYU” (nilai diberi
pada huruf yang benar
sebelum kesalahan;
misalnya uyahw=2
nilai)

MENGINGAT KEMBALI (RECALL)


Pasien disuruh
5 menyebut kembali 3 3 3
nama benda di atas
BAHASA
Pasien diminta
menyebutkan nama
6 benda yang ditunjukkan 2 2
( pensil, arloji)

Pasien diminta
mengulang rangkaian
7 1 1
kata :” tanpa kalau dan
atau tetapi ”
Pasien diminta
melakukan perintah: “
Ambil kertas ini dengan
8 3 3
tangan kanan, lipatlah
menjadi dua dan
letakkan di lantai”.
Pasien diminta
membaca dan
9 melakukan perintah 1 1
“Angkatlah tangan kiri
anda”
Pasien diminta menulis
10 sebuah kalimat 1 1
(spontan)
Pasien diminta meniru
11 1 1
gambar di bawah ini
Skore Total 30 26
Interoeretasi hasil :
 > 23 : Aspek kognitif dari fungsi mental baik
 18 – 22 : Kerusakan Aspek fungsi mental ringan
 ≤ 17 : Terdapat kerusakan aspek fungsi mental berat
11. Pengkajian Keseimbangan
Resiko jatuh pada Tn K tergolong resiko jatuh rendah di karena kan nilai yang
di peroleh dari perhitungan saat pengkajian hanya 4 poin.

12. Analisis Data


No Symtom Etiologi Problem
1 Do : Menurunnya fungsi Penurunan Cardiac
 Nadi : 50 kali/menit jantung Output
 TD : Tidur : 160/110 mmHg
Duduk : 190/110 mmHg
Berdiri :170/110 mmHg
 Palpitasi
Ds :
 Klien mengatakan gampang
lelah
2 Do : Kaku sendi Kerusakan
 Nyeri sendi Mobilitas Fisik
 Kelemahan otot
 Masalah cara berjalan
Ds :
 Klien mengatakan adanya
nyeri sendi
 Klien mengatakan cukup sulit
berjalan
3 Do : Agen injury Nyeri
 Nyeri sendi
Ds :
 Ekspresi wajah meringis

II. Diagnosa Keperawatan


1. Penurunan cardiac output berhubungan dengan adanya perubahan
irama/denyut jantung dan palpitasi
2. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri sendi dan kelemahan
otot
3. Nyeri berhubungan dengan agen injury
III. Intervensi keperawatan
Diagnosa Perencanaan
No
keperawatan Tujuan dan Kriteria Intervensi
1 Penurunan Setelah dilakukan asuhan - Evaluasi adanya
cardiac keperawatan dalam 1 x 24 jam nyeri dada
output menunjukan curah jantung - Lakukan
berhubungan adekuat. Dengan kriteria : penilaian
dengan - TD dalam rentang Normal komperhesif
adanya - Denyut jantung dalam terhadap
perubahan batas normal sirkulasi perifer
irama/denyut - Tidak ada kelelaha - Catat adanya
jantung dan disritmia
palpitasi - Monitor vital
sign
- Kenali adanya
perubahan
tekanan darah
2 Kerusakan Setelah dilakukan tindakan - Tentukan
mobilitas keperawatan dalam 1 x 24 jam keterbatan
fisik
diharapkan klien dapat rentang gerak
berhubungan
dengan nyeri menunjukan tingkat mobilitas sendi, efek dan
sendi dan degan kriteria : fungsinya
kelemahan - Klien menunjukan - Jelaskan pada
otot pergerakan sendi lebih klien/keluarga
nyaman tentang maksud
- Klien dapat berpindh dan rencana
dengan aman latihan gerak
- Klien dapat berjalan lebih sendi
baik - Bantu klien
untuk mengatur
posisi yang
optimal dalam
ROM aktif/pasif
- Motivasi klien
untuk latihan
ROM aktif/pasif
dan
merancanakan
jadwal
- Bantu latihan
ROM sesuai
indikasi
3 Nyeri Setelah dilakukan tindakan - Kaji secara
berhubungan keperawatan dalam 1 x 24 jam komperhensif
dengan agen diharaokan klien dapat : tentang nyeri,
injury 1. Mengontrol nyeri meliputi : lokasi,
- Klien dapat karakteristik, dan
mengetahui beratnya nyeri
penyebab nyeri, - Gunakan
mampu komunikasi
menggunakan teurapeutik agar
teknik non klien dapat
farmakologi untuk mengekspresikan
mengurangi nyeri nyeri
dan tindakan - Berikan
pencegahan nyeri. informasi tentang
- Klien mampu nyeri seperti :
mengenal tanda penyebab, berapa
tanda pencetus lama terjadi, dan
nyeri untuk tindakan
mencari pencegahan.
pertolongan
2. Menunjukan tingkat nyeri
- Klien melaporkan
nyeri dan
pengaruhnya pada
tubuh.
- Klien mengatakan
rasa nyaman
setelah nyeri
berkurang
- Ekspersi wajah
tenang
IV. Implementasi
Waktu
No Diagnosa Implementasi Evaluasi dan
Paraf
1 Penurunan Monitor vital sign S : Klien mengatakan
cardiac output dirinya memiliki Tekanan
berhubungan darah tinggi
dengan adanya O : klien terlihat
perubahan mengerutkan kening tapi
irama/denyut tetap tenang
jantung dan
palpitasi
2 Penurunan Evaluasi adanya S : klien mengatakan tidak
cardiac output nyeri dada merasakan nyeri di daerah
berhubungan dada
dengan adanya O : tidak ada nyeri tekan
perubahan pada bagian dada
irama/denyut
jantung dan
palpitasi
3 Kerusakan Tentukan S : klien mengatakan ada
mobilitas fisik keterbatan rentang nyeri pada bagian sendi
berhubungan
gerak sendi, efek serta sedikit kesulitan saat
dengan nyeri
sendi dan dan fungsinya berjalan
kelemahan otot O : klien memiliki masalah
berjalan, kelemahan otot,
serta nyeri sendi
4 Kerusakan Bantu latihan ROM S : klien mengatakan sangat
mobilitas fisik sesuai indikasi nyaman setelan\h
berhubungan
melakukan ROM
dengan nyeri
sendi dan O : klien terlihat lebih segar
kelemahan otot dan mudah bergerak setelah
melakukan ROM
5 Nyeri Gunakan S : klien mengatakan nyeri
berhubungan komunikasi sendi dirasa karena dirinya
dengan agen
teurapeutik agar sudah tua
injury
klien dapat O : klien terlihat cukup
mengekspresikan terganggu karena nyerinya
nyeri
V. Evaluasi
No Diagnosa Evaluasi Paraf dan waktu
1 Penurunan cardiac
S : klien mengatakan tidak
output berhubungan merasakan nyeri di daerah dada
dengan adanyaO : tidak ada nyeri tekan pada
perubahan bagian dada
irama/denyut jantungA : masalah teratasi sebagian
dan palpitasi P lanjutkan intervensi
selanjutnya
2 Kerusakan mobilitas S : klien mengatakan sangat
fisik berhubungan nyaman setelan\h melakukan
dengan nyeri sendi
ROM
dan kelemahan otot
O : klien terlihat lebih segar
dan mudah bergerak setelah
melakukan ROM
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjukan intervensi
selanjutnya.
3 Nyeri berhubungan S : klien mengatakan nyeri
dengan agen injury sendi dirasa karena dirinya
sudah tua
O : klien terlihat cukup
terganggu karena nyerinya
A : masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
selanjutnya.
LAPORAN PENDAHULUAN

1. Pengertian
 Hipertensi menurut Caraspot merupakan peningkatan tekanan sistolik lebih besar
atau sama dengan 160 mmHg dan atau tekanan diastolic sama atau lebih besar 95
mmHg
 Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan
sistoliknya di atas 140 mmHg dan diastolik di atas 90 mmHg. Pada populasi lansia,
hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik
90 mmHg.
 Hipertensi dikategorikan ringan apabila tekanan diastoliknya antara 95 – 104
mmHg, hipertensi sedang jika tekanan diastoliknya antara 105 dan 114 mmHg, dan
hipertensi berat bila tekanan diastoliknya 115 mmHg atau lebih. Pembagian ini
berdasarkan peningkatan tekanan diastolik karena dianggap lebih serius dari
peningkatan sistolik

2. Klasifikasi
Klasifikasi hipertensi menurut WHO
1) Tekanan darah normal yaitu bila sistolik kurang atau sama dengan 140 mmHg
dan diastolik kurang atau sama dengan 90 mmHg
2) Tekanan darah perbatasan (broder line) yaitu bila sistolik 141-149 mmHg dan
diastolik 91-94 mmHg
3) Tekanan darah tinggi (hipertensi) yaitu bila sistolik lebih besar atau sama
dengan 160 mmHg dan diastolik lebih besar atau sama dengan 95mmHg
Klasifikasi menurut The Joint National Committee on the Detection and Treatment of
Hipertension :
1. Diastolik
a. < 85 mmH : Tekanan darah normal
b. 85 – 99 : Tekanan darah normal tinggi
c. 90 -104 : Hipertensi ringan
d. 105 – 114 : Hipertensi sedang
e. >115 : Hipertensi berat
2. Sistolik (dengan tekanan diastolik 90 mmHg)
a. < 140 mmHg : Tekanan darah normal
b. 140 – 159 : Hipertensi sistolik perbatasan terisolasi
c. > 160 : Hipertensi sistolik teriisolasi
3. Etiologi
Pada umumnya hipertensi tidak mempunyai penyebab yang spesifik (idiopatik).
Hipertensi terjadi sebagai respon peningkatan cardiac output atau peningkatan
tekanan perifer. Namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya
hipertensi:
a. Genetik: Respon neurologi terhadap stress atau kelainan eksresi atau
transport Na.
b. Obesitas: terkait dengan level insulin yang tinggi yang mengakibatkan
tekanan darah meningkat.
c. Stress Lingkungan.
d. Hilangnya Elastisitas jaringan dan arterosklerosis pada orang tua serta
pelebaran pembuluh darah.

Berdasarkan etiologinya Hipertensi dibagi menjadi 2 golongan yaitu:


a. Hipertensi Esensial (Primer)
Penyebab tidak diketahui namun banyak factor yang mempengaruhi
seperti genetika, lingkungan, hiperaktivitas, susunan saraf simpatik,
system rennin angiotensin, efek dari eksresi Na, obesitas, merokok dan
stress.
b. Hipertensi Sekunder
Dapat diakibatkan karena penyakit parenkim renal/vaskuler renal.
Penggunaan kontrasepsi oral yaitu pil. Gangguan endokrin dll.

Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan –
perubahan pada :
a. Elastisitas dinding aorta menurun
b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah

4. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak
dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula jaras saraf
simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla
spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor
dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf
simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan
asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke pembuluh darah,
dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh
darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon
pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu dengan hipertensi sangat
sensitiv terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui dengan jelas mengapa hal
tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan
steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah.
Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan
pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian
diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang pada gilirannya
merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi
natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler.
Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan structural dan
fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada perubahan tekanan
darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis,
hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi otot polos pembuluh
darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi dan daya regang
pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya
dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa oleh jantung (volume sekuncup)
mengakibatkan penurunan curang jantung dan peningkatan tahanan perifer (Smeltzer,
2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu”
disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff
sphygmomanometer (Darmojo, 1999).
Menurunnya tonus vaskuler merangsang saraf simpatis yang diteruskan ke sel
jugularis. Dari sel jugularis ini bisa meningkatkan tekanan darah. Dan apabila
diteruskan pada ginjal, maka akan mempengaruhi eksresi pada rennin yang berkaitan
dengan Angiotensinogen. Dengan adanya perubahan pada angiotensinogen II
berakibat pada terjadinya vasokontriksi pada pembuluh darah, sehingga terjadi
kenaikan tekanan darah.Selain itu juga dapat meningkatkan hormone aldosteron yang
menyebabkan retensi natrium. Hal tersebut akan berakibat pada peningkatan tekanan
darah. Dengan peningkatan tekanan darah maka akan menimbulkan kerusakan pada
organ-organ seperti jantung.

5. Tanda dan gejala


Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
a. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan
peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter
yang memeriksa. Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah
terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
b. Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi
nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala
terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan
medis.

Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita


hipertensi yaitu :
a) Mengeluh sakit kepala
b) pusing Lemas
c) kelelahan
d) Sesak nafas
e) Gelisah
f) Mual Muntah
g) Epistaksi
h) Kesadaran menurun

Manifestasi klinis pada klien dengan hipertensi adalah :

a) Peningkatan tekanan darah > 140/90 mmHg 2.


b) Sakit kepala
c) Pusing / migraine
d) Rasa berat ditengkuk
e) Penyempitan pembuluh darah
f) Sukar tidur
g) Lemah dan lelah
h) Nokturia
i) Azotemia
j) Sulit bernafas saat beraktivitas

6. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang dilakukan dua cara yaitu :
1) Pemeriksaan yang segera seperti :
 Darah rutin (Hematokrit/Hemoglobin): untuk mengkaji hubungan dari
sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan dapat mengindikasikan
factor resiko seperti: hipokoagulabilitas, anemia.
 Blood Unit Nitrogen/kreatinin: memberikan informasi tentang perfusi /
fungsi ginjal.
 Glukosa: Hiperglikemi (Diabetes Melitus adalah pencetus hipertensi)
dapat diakibatkan oleh pengeluaran Kadar ketokolamin (meningkatkan
hipertensi).
 Kalium serum: Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron
utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
 Kalsium serum : Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan
hipertensi
 Kolesterol dan trigliserid serum : Peningkatan kadar dapat
mengindikasikan pencetus untuk/ adanya pembentukan plak
ateromatosa ( efek kardiovaskuler )
 Pemeriksaan tiroid : Hipertiroidisme dapat menimbulkan
vasokonstriksi dan hipertensi
 Kadar aldosteron urin/serum : untuk mengkaji aldosteronisme primer
(penyebab)
 Urinalisa: Darah, protein, glukosa, mengisaratkan disfungsi ginjal dan
ada DM.
 Asam urat : Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko
hipertensi
 Steroid urin : Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
 EKG: 12 Lead, melihat tanda iskemi, untuk melihat adanya hipertrofi
ventrikel kiri ataupun gangguan koroner dengan menunjukan pola
regangan, dimana luas, peninggian gelombang P adalah salah satu
tanda dini penyakit jantung hipertensi.
 Foto dada: apakah ada oedema paru (dapat ditunggu setelah
pengobatan terlaksana) untuk menunjukan destruksi kalsifikasi pada
area katup, pembesaran jantung.
2) Pemeriksaan lanjutan ( tergantung dari keadaan klinis dan hasil pemeriksaan
yang pertama ) :
 IVP :Dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyakit
parenkim ginjal, batu ginjal / ureter.
 CT Scan: Mengkaji adanya tumor cerebral, encelopati.
 IUP: mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti: Batu ginjal,
perbaikan ginjal.
 Menyingkirkan kemungkinan tindakan bedah neurologi: Spinal tab,
CAT scan.
 (USG) untuk melihat struktur gunjal dilaksanakan sesuai kondisi klinis
pasien

7. Penatalaksanaan
Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat
komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan pemeliharaan
tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :

I. Terapi tanpa Obat


Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk hipertensi ringan dan
sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan berat. Terapi tanpa obat
ini meliputi :
a) Diet
b) Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
 Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr
 Diet rendah kolesterol dan rendah asam lemak jenuh

c) Penurunan berat badan


d) Penurunan asupan etanol
e) Menghentikan merokok
f) Latihan Fisik
Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang dianjurkan
untuk penderita hipertensi adalah olah raga yang mempunyai empat
prinsip yaitu: Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari,
jogging, bersepeda, berenang dan lain-lain. Intensitas olah raga yang
baik antara 60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut
nadi maksimal yang disebut zona latihan. Lamanya latihan berkisar
antara 20 – 25 menit berada dalam zona latihan Frekuensi latihan
sebaiknya 3 x perminggu dan paling baik 5 x perminggu
g) Edukasi Psikologis
Pemberian edukasi psikologis untuk penderita hipertensi meliputi :

1. Tehnik Biofeedback
Biofeedback adalah suatu tehnik yang dipakai untuk
menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai keadaan
tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi
gangguan somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk
gangguan psikologis seperti kecemasan dan ketegangan.
2. Tehnik relaksasi
Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang bertujuan
untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara
melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam
tubuh menjadi rileks Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan )
Tujuan pendidikan kesehatan yaitu untuk meningkatkan
pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan
pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan
hidupnya dan mencegah komplikasi lebih lanjut.

II. Terapi dengan Obat


Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan tekanan darah saja
tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat hipertensi agar
penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya perlu
dilakukan seumur hidup penderita.
Pengobatan standar yang dianjurkan oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi
(JOINT NATIONAL COMMITTEE ON DETECTION, EVALUATION
AND TREATMENT OF HIGH BLOOD PRESSURE, USA, 1988)
menyimpulkan bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau
penghambat ACE dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan
memperhatikan keadaan penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.
Pengobatannya meliputi :

a. Step 1
Obat pilihan pertama : diuretika, beta blocker, Ca antagonis, ACE inhibitor
b. Step 2
Alternatif yang bisa diberikan :
a. Dosis obat pertama dinaikkan
b. Diganti jenis lain dari obat pilihan pertama
c. Ditambah obat ke –2 jenis lain, dapat berupa diuretika , beta
blocker, Ca antagonis, Alpa blocker, clonidin, reserphin,
vasodilator
c. Step 3 : Alternatif yang bisa ditempuh
1) Obat ke-2 diganti
2) Ditambah obat ke-3 jenis lain

d. Step 4 : Alternatif pemberian obatnya


1) Ditambah obat ke-3 dan ke-4
2) Re-evaluasi dan konsultasi
3) Follow Up untuk mempertahankan terapi
Untuk mempertahankan terapi jangka panjang memerlukan interaksi dan
komunikasi yang baik antara pasien dan petugas kesehatan (perawat, dokter )
dengan cara pemberian pendidikan kesehatan.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam interaksi pasien dengan petugas
kesehatan adalah sebagai berikut :
a. Setiap kali penderita periksa, penderita diberitahu hasil pengukuran
tekanan darahnya
b. Bicarakan dengan penderita tujuan yang hendak dicapai mengenai
tekanan darahnya
c. Diskusikan dengan penderita bahwa hipertensi tidak dapat sembuh,
namun bisa dikendalikan untuk dapat menurunkan morbiditas dan
mortilitas
d. Yakinkan penderita bahwa penderita tidak dapat mengatakan tingginya
tekanan darah atas dasar apa yang dirasakannya, tekanan darah hanya
dapat diketahui dengan mengukur memakai alat tensimeter
Penderita tidak boleh menghentikan obat tanpa didiskusikan lebih
dahulu Sedapat mungkin tindakan terapi dimasukkan dalam cara hidup
penderita Ikut sertakan keluarga penderita dalam proses terapi
e. Pada penderita tertentu mungkin menguntungkan bila penderita atau
keluarga dapat mengukur tekanan darahnya di rumah
f. Buatlah sesederhana mungkin pemakaian obat anti hipertensi misal 1 x
sehari atau 2 x sehari
g. Diskusikan dengan penderita tentang obat-obat anti hipertensi, efek
samping dan masalah-masalah yang mungkin terjadi
h. Yakinkan penderita kemungkinan perlunya memodifikasi dosis atau
mengganti obat untuk mencapai efek samping minimal dan efektifitas
maksimal
i. Usahakan biaya terapi seminimal mungkin
j. Untuk penderita yang kurang patuh, usahakan kunjungan lebih sering
k. Hubungi segera penderita, bila tidak datang pada waktu yang
ditentukan.
l. Melihat pentingnya kepatuhan pasien dalam pengobatan maka sangat
diperlukan sekali pengetahuan dan sikap pasien tentang pemahaman
dan pelaksanaan pengobatan hipertensi.
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC
Hamzah, : Ensiklopedia Artikel Indonesia, Surabaya
Santosa, Budi. 2007. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima
Medika
Smet, Bart.1994. Psikologi Kesehatan. Pt Grasindo:Jakarta

Soeparman dkk,2007 Ilmu Penyakit Dalam , Ed 2, Penerbit FKUI, Jakarta

Smeljer,s.c Bare, B.G ,2002 Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah,

Imam, S Dkk.2005. Asuhan Keperawatan Keluarga.Buntara Media:malang

Aspiani, reny yuli. 2014. Buku Ajar : Asuhan Keperawatan Gerontik. Jakarta.TIM
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK
PADA Tn K DENGAN HIPERTENSI
Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Keperawatan gERONTIK
Dosen Pembimbing Ns.Elis Nopianti.,S.Kep.,M.Kep

Disusun Oleh
Gita Aldhila Nathalia
Hary Rahman
Ika Rospika
Mia Widihastuti
Taufik Hidayat

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH CIAMIS

Jalan KH. Ahmad Dahlan 20 Ciamis 26216 Telepon (0265) 771913

2016/2017