Está en la página 1de 6

Arang

Kaya Manfaat Ramah Lingkungan

Oleh :
Endang Dwi Hastuti
Siwi Tri Utami

Arang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari‐hari. Arang merupakan salah satu
produk yang dihasilkan dari teknologi arang terpadu yang ramah lingkungan. Arang
memiliki banyak manfaat, tidak hanya dijadikan bahan bakar saja tapi juga dapat
diaplikasikan dalam berbagi bidang pertanian dan peternakan. Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hasil Hutan telah mensosialisasikan teknologi ini sejak tahun 2000‐an,
pada berbagai instansi terkait, maupun kelompok‐kelompok masyarakat. Beberapa
penyuluh kehutanan telah sukses mengaplikasikan teknologi ini.

Arang Terpadu, Teknologi Terapan Ramah Lingkungan


Arang terpadu merupakan teknologi yang dalam proses dan aplikasinya dilakukan
secara terpadu. Arang terpadu adalah teknologi terapan yang ramah lingkungan, karena
memanfaatkan berbagai jenis limbah biomassa serta menerapkan teknologi yang rendah
emisi.Teknologi arang terpadu selain menghasilkan arang juga arang kompos dan asap
cair.
Arang dapat diolah lebih lanjut menjadi briket arang untuk energi Gambar 1 juga
dapat diolah lebih lanjut menjadi arang aktif.

Gambar 1.  Berbagai bentuk briket arang untuk energi alternatif. 

1
Briket Arang memiliki beberapa kelebihan antara lain : Bersih dan tidak berdebu;
Mengeluarkan sedikit asap; Abu sisa pembakaran kecil; Menghasilkan kalor panas yang
tinggi dan konstan; Menyala terus tanpa dikipas; Ramah lingkungan; serta tersedianya
bahan baku yang melimpah.

Beberapa penelitian tentang teknologi arang terpadu pernah dilakukan dengan


mengunakan :
 1 drum bekas yang tutup/sungkupnya disambung dengan bambu sepanjang 4
meter yang berfungsi sebagai pendingin alami Gambar 2 , yang disebut dengan
cara konvensional atau tradisional.
 Tungku kubah yang terbuat dari batu bata, dilengkapi unit pendingin,
 Tungku baja dan tungku sakuraba, masing‐masing dilengkapi dengan unit
pendingin air.
 Tungku arang terpadu 3 in 1 terbuat yang dari bahan stainless stell dengan dual
pendingin yang bagian dalam dilapisi dengan bata Gambar 3 .

Penggunaan tungku drum yang diberi sungkup bambu lebih sesuai bagi masyarakat
karena
p teknologi ini lebih murah dan mudah diaplikasikan. Namun dari beberapa
penelitian penggunaan tungku ini masih ada kelemahanya itu kualitas asap cair
yang dihasilkan masih terlihat kotor dan berwarna hitam, sehingga harus dilakukan
penyulingan.

(foto: gusmailina)

Gambar 2.Tungku konvensional/tradisional dengan pendingin bambu, dalam lingkaran putih terdapat 
botol penampung asap cair 

2
A
B
(foto: gusmailina) 
 
Gambar 3.Tungku 3 in 1 (A); Tungku 2 drum dengan pendingin stainless steel (B)  

(sumber foto: gusmailina) 
 
Gambar 4.Tungku kubah kapasitas 3 m3 untuk produksi arang dan asap cair 

Asap yang terbentuk dalam proses pembuatan arang, akan mengalami perubahan
bentuk menjadi cairan apabila terjadi proses pendinginan. Cairan ini disebut asap cair
atau cuka kayu wood vinegar .

Arang Sebagai Pembangun Kesuburan Tanah PKT
Arang atau Biochar merupakan hasil dari pembakaran tidak sempurna sehingga
menyisakan unsur hara yang menyuburkan lahan. Jika pembakaran berlangsung
sempurna, arang berubah menjadi abu dan melepas karbon.
Arang bukan pupuk tetapi arang dapat membangun kualitas dan kondisi tanah baik
secara fisik, kimia dan biologi tanah. Arang memiliki pori pada permukaannya sehingga
jika digunakan sebagai campuran media tanam dapat memperbaiki sirkulasi air dan
udara di dalam tanah. Arang dapat menyerap dan menyimpan air dan hara, kemudian
air dan hara tersebut akan dikeluarkan kembali sesuai kebutuhan. Selain itu arang dapat
meningkatkan pH tanah. Kondisi ini bagus untuk perkembangan mikroba tanah yang
berfungsi dalam penyediaan unsur hara dalam tanah untuk diserap tanaman. Oleh sebab
itu arang disebut sebagai pembangun kesuburan tanah.

3
Beberapa hasil penelitian juga menunjukkan bahwa penambahan arang pada media
tumbuh dapat mempercepat pertumbuhan tanaman di persemaian maupun di lahan.

Arang Meningkatkan pH dan Aktivitas Mikrorganisme Tanah
Arang bersifat alkali dengan pH diatas 8, sehingga arang digunakan sebagai pengganti
kapur atau dolomit yang harganya lebih mahal. Arang dapat memperbaiki sifat kimia,
fisik dan biologi tanah sehingga apabila tanaman diberi arang maka pertumbuhan akan
meningkat, antara lain tinggi, diameter dan produksi. Pemberian arang pada tanah dapat
meningkatkan ph dan aktivitas mikroorganisme tanah.
Arang juga dapat meningkatkan kelembaban dan kesuburan tanah dan dapat bertahan
ribuan tahun dalam tanah. Arang juga baik sebagai campuran pakan, maupun untuk
meningkatkan higienis, kebersihan dan kesehatan kandang ternak. Arang digunakan
sebagai pelapis alas kandang untuk mengurangi bau, selalu hangat dan menyerap
berbagai penyakit yang akan menyerang ternak, sehingga ternak menjadi sehat dan
lingkungan terjaga kebersihannya.
Pertumbuhan dan produktivitas buahnya akan selalu membutuhkan pupuk sebagai
nutrisi dalam jumlah tertentu sehingga ketersediaan pupuk yang memadai harus
terjamin. Namun penyediaan pupuk dengan jumlah yang memadai memerlukan biaya
yang besar. Disamping itu, pupuk pada umumnya akan banyak tercuci/leaching rata‐
rata 50% sehingga menimbulkan banyak pemborosan yang merugikan.
Aplikasi arang adalah salah satu solusi dengan memanfaatkan limbah biomasa sebagai
bahan baku arang, murah dan mudah didapat. Hasil suatu riset menunjukkan bahwa
keberadaan arang di dalam tanah tidak akan terpengaruh selama 130 tahun lamanya.

Aplikasi Arang Sudah Ratusan Tahun
Para ilmuwan dunia menemukan unsur arang dalam kandungan tanah hitam di lembah
Amazon yang disebut Terra Preta. Diperkirakan merupakan hasil pengelolaan bangsa
Amerindian sejak 500 tahun hingga 2.500 tahun silam. Selanjutnya, arang juga terdapat
buku kuno di Jepang dengan istilah pupuk‐api fire‐manure sebagai penyubur
pertanian pada tahun 1697. Demikian pula di China, tradisi menyuburkan lahan sudah
sejak lama dikembangkan melalui pembakaran biomassa. Sejak 1915 penelitian ilmiah
peran arang terhadap pertumbuhan bibit padi sudah dikembangkan.

4
Ramah Lingkungan
Arang bersifat karbon negatif sehingga telah menjadi tumpuan keberlanjutan sistem
usaha tani dan sekaligus mengurangi dampak perubahan iklim global di negara maju
dan berkembang seperti Indonesia. Selain dapat meningkatkan produktivitas lahan dan
tanaman, penggunaan arang juga dapat mengurangi kerusakan lingkungan yang
disebabkan oleh kegiatan pertanian.
Di Indonesia, pemanfaatan arang dalam skala luas merupakan hal yang relatif baru.
Masih perlu penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya arang untuk
keberlanjutan usaha pertanian dalam arti luas.

Membuat Arang Secara Sederhana
Pembuatan arang secara sederhana sudah banyak dilakukan oleh masyarakat. Cara ini
sederhana, mudah dan murah, menggunakan drum bekas minyak tanah atau oli dengan
kapasitas 200 liter.
Bahan baku yang digunakan adalah berbagai jenis limbah biomassa antara lain
tempurung kelapa, tempurung kemiri, limbah kulit, ranting atau sebetan.
Proses pembuatan arang secara sederhana adalah sebagai berikut :
 Bahan baku dimasukkan kedalam drum,
 Dibakar dengan pancingan di bagian bawah drum yang telahdilubangi.
 Jika bahan baku sudah mulai terbakar, yang ditandai dengan kepulan asap tebal,
drum ditutup dengan penutup,
 Pasang bambu sepanjang 4 meter yang berfungsi sebagai pendingin alami jika
pengarangan dilakukan secara konvensional.

Arang terbukti memiliki banyak manfaat dan menjadi solusi berbagai permasalahan
terkait dengan peningkatan kualitas kesuburan lahan dan pencemaran lingkungan.

Cara pembuatan arang juga sangat sederhana dan bahan bakunya banyak tersedia di
sekitar masyarakat, serta tidak membutuhkan modal yang besar. Oleh karenanya, arang
diharapkan dapat menjadi salah satu komoditas ramah lingkungan yang bermanfaat dan
dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

Informasi ini perlu disebarluaskan dalam rangka pemberdayaan masyarakat untuk


meningkatkan pemahaman dan kesadarannya terhadap pengelolaan lingkungan yang

5
baik dan berguna, serta menumbuhkan lapangan pekerjaan dan menambah pendapatan
keluarga yang berujung pada meningkatnya kesejahteraan keluarga.

*) Dirangkum dari Materi Pertemuan Forum Komunikasi Peneliti, Widyaiswara, Penyuluh dan Guru
SKMA tanggal 21 Juli 2016, berjudul “Teknologi Arang Terpadu” oleh Gusmailina, Gustan Pari, Sri
Komarayati & Djeni Hendra