Está en la página 1de 132

SKK

KESEHATAN IBU
SKK KESEHATAN IBU

TUJUAN SKK KESEHATAN IBU

PRAMUKA SIAGA (7 – 10 TAHUN)

Seorang Pramuka Siaga harus :

• Dapat menyebutkan tugas ibu sebagai pemelihara kesehatan keluarga

PRAMUKA PENGGALANG (11 – 15 TAHUN)

Seorang Pramuka Penggalang harus:

• Dapat menjelaskan peranan ibu sebagai pemelihara kesehatan keluarga


• Dapat menjelaskan bagaimana perawatan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin dan
nifas, dan ibu menyusui
• Dapat menjelaskan tentang tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas

PRAMUKA PENEGAK (16 – 20 TAHUN)

Seorang Pramuka Penegak harus:

• Menguasai materi SKK untuk golongan Penggalang


• Dapat memberikan penyuluhan tentang peranan ibu sebagai pemelihara kesehatan
keluarga
• Dapat memberikan penyuluhan tentang perawatan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin
dan nifas, dan ibu menyusui
• Dapat memberikan penyuluhan tanda bahaya pada kehamilan, persalinan dan nifas
• Membimbing seorang Pramuka Penggalang untuk mendapatkan TKK kesehatan ibu

PRAMUKA PANDEGA (21 - 25 tahun)

Seorang Pandega harus:

• Menguasai materi SKK golongan Penggalang dan Penegak


• Dapat memberikan penyuluhan tentang peranan ibu sebagai pemelihara kesehatan
keluarga
• Dapat memberikan penyuluhan tentang perawatan kesehatan ibu hamil, ibu bersalin
dan nifas, dan ibu menyusui
• Dapat memberikan penyuluhan tentang tanda bahaya pada kehamilan, persalinan
dan nifas
• Dapat membimbing seorang Penggalang untuk mendapatkan TKK kesehatan ibu
MATERI SKK KESEHATAN IBU

I. PERANAN IBU SEBAGAI PEMELIHARA KESEHATAN KELUARGA


Suatu keluarga umumnya terdiri atas ayah, ibu dan anak. Ketiganya terikat
dalam kehidupan bersama yang dilandasi kasih sayang. Masing-masing anggota
keluarga mempunyai peran tertentu. Ayah berperan sebagai kepala keluarga dan
mencari nafkah untuk kehidupan keluarga itu. Ibu berperan sebagai pendamping
ayah dan umumnya menjadi pengatur urusan rumah tangga atau urusan dalam
keluarga itu. Anak berperan sebagai anggota muda dalam keluarga yang
dengan lingkungan kasih kedua orang tuanya, harus menyiapkan diri menjadi
orang yang berguna sebagai penerus dan pewaris kehidupan bangsa.
Salah satu hal penting dalam kehidupan keluarga adalah kesehatan keluarga.
Kesehatan menjamin kesanggupan manusia untuk bekerja. Karena itu
kesehatan harus dipelihara sebaik baiknya. Pengaturan kehidupan rumah
tangga, khususnya yang menyangkut kebersihan tempat tinggal, makanan
keluarga serta ketertiban dan ketentraman hidup sangat mempengaruhi
kesehatan keluarga. Dengan demikian, ibu sebagai pengatur urusan rumah
tangga memmpunyai peranan yang penting sebagai pemeliharaan kesehatan
keluarga itu.
Sebagai pemelihara kesehatan keluarga melalui pengaturan urusan rumah
tangga seorang ibu harus lebih dulu memelihara kesehatan dirinya supaya
sanggup bekerja mengatur kebersihan, makanan dan keteraturan hidup keluarga
tersebut. Ibu harus mampu membagi waktu sedemikian rupa sehingga pekerjaan
rumah tngga yang diaturnya tidak terlampau melelahkan dirinya dan mengancam
kesehatannya.
Andai kata ibu sakit, rumah tangga menjadi tidak terurus dan penyediaan
makanan terganggu, sehingga setiap anggota keluarga wajib membantu
memelihara kesehatan bersama dan membantu menjaga kesehatan diri dan
kesehatan seluruh keluarga.
Salah jenis bantuan yang dapat dilakukan adalah membantu ibu memelihara
kebersihan rumah tangga menyiapkan makanan dan memelihara suasana kasih
sayang dalam keluarga.

II. PENTINGNYA KESEHATAN IBU


Kesehatan Ibu biasanya harus lebih diperhatikan pada waktu ia hamil,
melahirkan dan menyusui. Pada masa hamil dalam diri Ibu hidup sedikitnya 2
jiwa, yaitu ibu dan anak yang dikandungnya.
Kalau anak yang di dikandungya kembar, sudah terdapat lebih dari 2 jiwa yang
perlu mendapat perhatian kesehatan khusus. Ibu yang sehat akan melahirkan
anak sehat dan menjadi pangkal bagi kebahagiaan keluarga.
Adapun cara menjaga kesehatan ibu hamil antara lain: istirahat yang cukup,
mandi pagi dan sore, menghindari rokok, alkohol dan narkoba.
Jadi penting sekali pemeliharaan kesehatan ibu semasa hamil, melahirkan dan
menyusui tersebut. Untuk ini, perlu dipahami tanda kehamilan dan gangguan
kesehatan yang biasanya mengancam masa kehamilan, persalinan dan nifas.
III. KAPAN SEBAIKNYA IBU HAMIL

Kehamilan yang baik antara usia 20 – 35 tahun, karena ibu lebih siap hamil
secara jasmani dan kejiwaan dengan jarak kehamilan 3-5 tahun.

Tidak dianjurkan hamil di bawah usia 20 tahun, rahim dan panggul sering kali
belum tumbuh mencapai ukuran dewasa. Akibatnya ibu mungkin mengalami
persalinan lama/macet atau gangguan lainnya karena ketidaksiapan ibu untuk
menerima tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua.

Hamil di atas 35 tahun, kesehatan ibu sudah menurun. Akibatnya ibu hamil pada
usia itu mempunyai kemungkinan lebih besar untuk mempunyai anak persalinan
lama dan pendarahan yang dapat menyebabkan kematian ibu.

IV. TANDA KEHAMILAN


Seorang ibu akan hamil selama 9 bulan. Tanda-tanda kehamilan muda, yakni
usia kehamilan sampai 3 bulan adalah tidak haid, payudara membesar, perut
mulai membesar, pusing-pusing dan mual, kadang-kadang muntah. Tanda
kehamilan tua, yakni pada usia kehamilan 6 bulan atau lebih, perut tambah jelas
membesar, gerakan janin yang mulai terasa pada usia kehamilan 4-5 bulan akan
semakin bertambah, teraba bagian janin di perut ibu, dan ketika melahirkan
timbul mulas-mulas yang semakin bertambah dan diikuti dengan keluarnya air
ketuban.

V. TANDA BAHAYA SELAMA KEHAMILAN


Tanda bahaya pada kehamilan adalah tanda/gejala yang menunjukan ibu atau
bayi yang dikandungnya dalam keadaan bahaya dan harus segera
mendapatkan pertolongan tenaga kesehatan. Tanda bahaya itu meliputi:
1) ibu tidak mau makan dan minum dan muntah terus-menerus,
2) berat badan ibu hamil tidak naik,
3) bengkak pada tangan/kaki, pusing dan dapat diikuti kejang,
4) perdarahan/keluar darah dari jalan lahir,
5) gerakan janin berkurang atau tidak ada pada usia kehamilan tua,
6) demam tinggi,
7) kelainan letak janin di dalam rahim,
8) ketuban pecah sebelum waktunya,
9) penyakit ibu yang berpengaruh terhadap kehamilan.

Kurang darah membahayakan ibu dan janin dalam kandungan. Untuk mencegah
kurang darah, ibu hamil perlu memakan banyak sayuran berwarna hijau dan
kacang-kacangan, serta meminum satu tablet penambah darah setiap hari,
minimal selama 90 hari. Sakit kepala hebat serta bengkaknya tungkai bawah
seringkali merupakan gejala keracunan kehamilan, yang pada tingkat lanjut
disertai kejang-kejang yang dapat membahayakan jiwa ibu dan kandungannya

VI. MAKANAN IBU HAMIL


Selama hamil, seorang ibu sehari-hari harus makan 1-2 piring lebih banyak
makanan bergizi karena ia makan paling sedikit untuk 2 orang, yaitu diri ibu
sendiri dan diri anak dalam kandungannya. Ibu perlu merawat payudara setiap
hari, mengatur kegiatan sehari-hari dengan cukup istirahat, menghindari bekerja
keras atau kelelahan dan memeriksakan kehamilan secara teratur sejak
kehamilan muda.
Makanan harus mengandung gizi, buah dan sayuran berwarna.

VII. PEMERIKSAAN KEHAMILAN


Pemeriksaan kehamilan dilakukan untuk mengetahui keadaan kehamilan ini,
sehingga kelainan kehamilan yang ditemukan dapat segera diobati. Disamping
itu, setiap kali diperiksa hamil, ibu akan mendapat tablet tambah darah untuk
mencegah kurang darah, memperoleh suntikan imunisasi anti tetanus (TT atau
Tetanus Texoid). Mendapat nasehat tentang kesehatan dan keluarga
berencana, seperti tentang makanan sehat, kebersihan, kelainan kehamilan,
kelainan persalinan dan sebagainya. Selama hamil ibu harus menghindari
minum obat sembarangan, karena dapat berbahaya bagi kandungannya.
Kehamilan ibu hendaknya diperiksa sedikitnya 1 kali waktu usia kehamilan
kurang dari 3 bulan, 1 kali waktu usia kehamilan 3-6 bulan dan 2 kali waktu usia
kehamilan 6-9 bulan.

VII. PERAWATAN PAYUDARA


Untuk merawat payudara, setiap hari sebelum mandi, tangan diminyaki lalu
dilakukan pengurutan dari pangkal payudara ke arah puting susu, kemudian
puting susu ditarik-tarik keluar dan diputar-putar, dan diakhiri dengan gerakan
memijat air susu keluar. Dengan perawatan ini, setelah melahirkan, air susu ibu
akan banyak keluar, putingnya mudah dihisap dan tidak lecet, ibu dapat
menyusui dengan aman.

VIII. PROGRAM PERENCANAAN PERSALINAN DAN PENCEGAHAN


KOMPLIKASI (P4K) DENGAN STIKER.
Merupakan suatu kegiatan yang difasilitasi oleh Bidan di desa dalam rangka
peran aktif suami, keluarga dan masyarakat dalam merencanakan persalinan
yang aman dan persiapan menghadapi komplikasi bagi ibu hamil, termasuk
perencanaan KB pasca persalinan, dengan menggunakan stiker sebagai media
notifikasi sasaran untuk meningkatkan cakupan dan mutu pelayanan kesehatan
bagi ibu dan bayi baru lahir.
Program pemasangan stiker menjadi media utama dalam P4K, melalui stiker,
pendataan dan pemantauan ibu hamil dapat dilakukan secara intensif oleh bidan
bersama dengan suami, keluarga, kader masyarakat, forum peduli KIA serta
pendeteksian dini kejadian komplikasi sehingga ibu hamil dapat menjalani
kehamilan dan persalinan dengan aman dan selamat serta bayi yang dilahirkan
sehat.
Beberapa hal yang diperoleh dari P4K dengan stiker:
 Mengetahui perkiraan tanggal persalinan sesuai dengan stiker yang
ditempelkan di rumah ibu hamil
 Diskusi suami istri menentukan tempat dan penolong persalinan
 Merencanakan biaya persalinan (Tabungan bersalin/Tabulin, Dana sosial ibu
bersalin/Dasolin)
 Menyiapkan kendaraan/transportasi
 Menyiapkan calon donor darah
 Menyiapkan peralatan persalinan
Pramuka dapat mengajak/memberi penyuluhan kepada ibu hamil untuk datang
ke Pelayanan kesehatan terdekat seperti: Polindes, Poskesdes, Posyandu,
Puskesmas atau Rumah Sakit.

IX. IBU HAMIL YANG MEMERLUKAN PERHATIAN KHUSUS (FAKTOR RESIKO)


Diantara ibu yang hamil, ada ibu tertentu yang karena keadaanya harus bersalin
di puskesmas atau rumah sakit. Mereka adalah ibu hamil dengan:
 Tinggi badan kurang dari 145 cm.
 Menderita penyakit menahun seperti Tuberkulosis paru, penyakit jantung
 Memiliki riwayat kehamilan/persalinan yang jelek
 Memiliki anak lebih dari 4 orang
 Sering mengalami gangguan kesehatan selama hamil

Kepada mereka ini dianjurkan memeriksakan kehamilan secara teratur dan


menyiapkan diri untuk persalinan di puskesmas atau di rumah sakit.

X. TENAGA PENOLONG PERSALINAN


Pertolongan persalinan umumnya dapat diminta kepada tenaga kesehatan
terampil sesuai standar yaitu:
1. Dokter
2. Bidan
3. Perawat Kesehatan (bila tidak ada dokter atau bidan)

XI. TEMPAT PERSALINAN


Tempat persalinan adalah di fasilitas kesehatan antara lain:
1. Rumah bersalin atau rumah sakit
2. Puskesmas
3. Praktek bidang perorangan
4. Pondok bersalin di desa (Polindes)/Pos Kesehatan Desa (Poskesdes)

XII. PERSALINAN NORMAL


Tanda dan urutan persalinan normal (tanpa kelainan) adalah sebagai berikut:
 Mula – mula ke luar lendir berwarna semu merah dari jalan lahir
 Mulas – mulas disebut his yang mengakibatkan pembukaan jalan lahir .
 His dapat menimbulkan rasa nyeri pada perut yang menjalar ke pinggang dan
berulang secara teratur, makin lama makin kuat dan lama, sampai akhirnya
kepala bayi tampak di dasar panggul.
 Bayi siap keluar.
 Pada saat bayi siap keluar, timbul rasa ingin mengejan seperti ingin buang
air besar yang tidak dapat di tahan.
 Bayi lahir kemudian dilakukan pemotongan dan perawatan tali pusat.

XIII. CARA MERAWAT TALI PUSAT ADALAH SEBAGAI BERIKUT:


 Segera bayi lahir
Penolong persalinan akan memotong dan mengikat ujungnya untuk
mencegah pendarahan dan merawat tali pusat.
 Selanjutnya ibu dapat mengganti kasa (pembalut) yang dibubuhi alkohol
setiap hari.
Jangan dibubuhkan apapun pada tali pusat kecuali alkohol. Bila tali pusat
kotor, berbau dan bayi merasa kesakitan bila disentuh, cepatlah bawa ke
puskesmas.
XIV. BAHAYA PERSALINAN
Ada bahaya persalinan yang harus segera mendapatkan pertolongan dari
tenaga kesehatan atau puskesmas, yaitu:
 Persalinan lama, yaitu lebih dari 8 jam, tidak ada kemajuan.
 Persalinan kering, akibat air ketuban telah keluar lama (36 jam).
 Uri tertahan, tidak keluar lebih dari 30 menit
 Bayi tidak keluar dalam 12 jam sejak terasa mulas
 Pendarahan lewat jalan lahir
 Air ketuban keruh dan bau
 Tali pusat atau tangan bayi keluar dari jalan lahir
 Ibu tidak kuat mengejan atau mengalami kejang
 Ibu gelisah atau mengalami kesakitan yang hebat

XV. TANDA BAYI SEHAT


Bayi telah lahir sehat menunjukkan tanda sebagai berikut:
 Segera menangis kuat saat dilahirkan
 Banyak bergerak
 Pernafasan teratur
 Warna kulit merah muda
 Berat badanya 2,5 kg atau lebih

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menjaga kesehatan bayi baru lahir:
 Beri ASI, jangan beri makan lain
 Menjaga kehangatan bayi
 Cegah infeksi tali pusat pada bayi baru lahir
 Periksa kesehatan bayi baru lahir ke bidan sedikitnya 2 kali

Adapun tanda-tanda bayi sakit berat antara lain:


 Tidak mau menyusu
 Kejang
 Kaki dan tangan teraba dingin atau demam
 Badan bayi kuning
 Tali pusat basah dan bau
 Gerakan kedua lengan dan kaki lemah

XVI. PERAWATAN IBU SEHABIS PERSALINAN


Sehabis bersalin selesai di tolong, ibu beristirahat sebentar, bayi ditidurkan di
samping ibunya. Beberapa waktu kemudian, ibu sudah boleh bergerak dan
menyusui bayinya sejak ½ jam semenjak lahir. Selanjutnya ibu harus makan 1 –
2 piring setelah lebih banyak dari pada biasa dan jangan pantang makan.
Susu kuning yang keluar pertama kali sehabis melahirkan mengandung banyak
zat kekebalan. Susu kuning ini langsung diberikan pada bayi karena sangat baik
untuk kesehatan.
Hal-hal yang perlu dilakukan ibu nifas antara lain:
 Segera dekap dan biarkan bayi menyusu dalam 1 jam pertama (IMD/Inisiasi
Menyusu Dini)
 Menyusui bayi sesering mungkin dan setiap kali bayi menginginkan
 Tanyakan ke bidan/dokter cara meneteki secara eksklusif dan merawat bayi
baru lahir
Beberapa cara menjaga kesehatan ibu nifas antara lain:
 Makan makanan bergizi
 Istirahat yang cukup
 Minum 1 tablet tambah darah setiap hari
 Minum 2 kapsul Vitamin A dosis tinggi, pertama setelah melahirkan, kedua 24
jam setelah minum yang pertama
Adapun tanda-tanda bahaya dan penyakit ibu nifas antara lain:
 Pendarahan lewat jalan lahir
 Demam lebih dari 2 hari
 Payudara bengkak kemerahan disertai rasa sakit
 Bengkak di muka, tangan atau kaki, mungkin dengan sakit kepala dan kejang-
kejang.

XVII. MANFAAT MENYUSUI


Adapun manfaat menyusui antara lain:
 Mempercepat pengecilan kandungan, sehinnga ibu cepat pulih.
 Banyak kesempatan untuk mencurahkan kasih sayang kepada anak.
 Dapat mencegah timbulnya kanker payudara.
 Ekonomis, tidak usah beli susu.
 Praktis, tidak sulit menyiapkannya.
 Bersih.
 Dapat mencegah kehamilan.

XVIII. CARA MENYUSUI


Cara menyusui yang sebaiknya adalah sebagai berikut :
 Ibu menyusui makan untuk dirinya dan menghabiskan ASI.
 Ibu perlu banyak minum agar ASI- nya cukup.
 Ibu perlu banyak makan sayuran hijau tua, misalnya daun katuk, daun
mengkudu untuk memperlancar ASI.

XIX. KELAINAN MASA NIFAS/MASA MENYUSUI


 Kejang atau kaki bengkak.
 Keluarnya darah atau cairan berbau dari jalan lahir
 Demam
 Payudara sakit dan nyeri.

Dapat ditolong untuk sementara dengan dikompres air hangat. Kelainan


tersebut memerlukan pertolongan tenaga kesehatan dengan segera. Walaupun
tidak ada kelainan, seorang ibu menyusui perlu memeriksakan diri ke
puskesmas, sedikitnya 4 kali setahun.

XX. PENGATURAN SETELAH KEHAMILAN

Setelah menyelesaikan satu kehamilan, bila ingin melengkapi keluarga dengan


tambahan anak lagi, ibu sebaiknya hamil lagi bila berada dalam keadaan sehat,
anak terdahulu sudah cukup besar (umur 3-5 tahun) dan keadaan keluarga
cukup mampu.

Dalam merencanakan saat yang tepat untuk hamil lagi, ibu dan ayah dapat ber
KB pasca persalinan yaitu pemakaian alat/obat kontasepsi oleh ibu atau suami
segera setelah sampai 42 hari setelahnya dengan metode apapun artinya
memilih cara KB yang cocok dan diyakini pasangan suami istri.
Adapun macam alat/obat kontrasepsi antara lain: kondom, pil suntik,
AKDR/spiral, Implan/AKBK, Kontap Wanita dan Kontap Pria

Pada masa menyusui/nifas tidak dianjurkan menggunakan KB Pil, karena dapat


mengurangi produksi ASI.
SKK
KESEHATAN ANAK
SKK KESEHATAN ANAK

TUJUAN SKK KESEHATAN ANAK

Pramuka Penggalang harus :

1. Mengetahui masalah utama kesehatan anak di masyarakat

2. Mengetahui bagaimana memelihara kesehatan anak

3. Mengetahui tanda-tanda anak sehat

4. Mengetahui tanda-tanda bahaya bayi baru lahir

Pramuka Penegak harus:

1. Mengetahui dan mampu menjelaskan masalah utama kesehatan anak di


masyarakat

2. Mengetahui dan mampu menjelaskan bagaimana memelihara kesehatan anak

3. Mengetahui dan mampu menjelaskan tanda-tanda anak sehat dan tidak sehat

4. Mengetahui dan mampu menjelaskan tanda-tanda bahaya bayi baru lahir

5. Mengetahui bagaimana menangani anak sakit di rumah.

Pramuka Pandega harus:

1. Mengetahui,mampu menjelaskan dan memberikan penyuluhan mengenai masalah


utama kesehatan anak di masyarakat

2. Mengetahui, mampu menjelaskan dan memberikan penyuluhan bagaimana


memelihara kesehatan anak.

3. Mengetahui, mampu menjelaskan dan memberikan penyuluhan mengenai tanda-


tanda anak sehat dan tidak sehat

4. Mengetahui, mampu menjelaskan dan memberikan penyuluhan mengenai tanda-


tanda bahaya bayi baru lahir

5. Mengetahui, mampu menjelaskan dan memberikan penyuluhan bagaimana


menangani anak sakit di rumah.
MATERI SYARAT KECAKAPAN KHUSUS KESEHATAN ANAK

I. Apa masalah utama kesehatan anak di masyarakat?

A. Banyaknya bayi dan anak balita yang meninggal

(Materi bagi SKK bagi Pramuka Penggalang, Penegak dan Pandega)

1 Risiko kematian ibu & anak terjadi paling banyak pada periode kelahiran
2 Kematian Bayi Baru Lahir 45% kematian balita (SDKI 2007 & SKRT
2001)
3 Kematian lebih besar pada masyarakat pedesaan, sosial ekonomi rendah
& pendidikan rendah (SDKI 2007 & SKRT 2001)
4 Sekitar 80-90% kematian dapat dicegah dengan teknologi sederhana
yang tersedia tingkat puskesmas dan jaringannya.
5 Sekitar 10-20% kasus rujukan memerlukan biaya mahal & teknologi
tinggi.
6 Diantara 100 bayi lahir hidup di Indonesia, ada 5-6 anak yang
meninggal sebelum merayakan ulang tahunnya yang kelima. Penyebab
kematian yang paling sering adalah penyakit, biasanya penyakit infeksi,
gizi kurang/buruk dan kecelakaan/cidera.

(Materi SKK bagi Pramuka Penegak dan Pandega)

Risiko persalinan pada ibu < 20 tahun:

1. Angka Kematian Perinatal 56/1.000 KH (tertinggi)

2 Limapuluh enam dari 1000 anak yang dilahirkan ibu berumur 15-19 tahun
tidak mencapai usia 1 tahun

3 Angka Kematian Bayi 50/1.000 KH

4 Persentase Berat Bayi Lahir < 2.5 kg 6,4% (tertinggi)

Angka Kematian Bayi & Balita

1. Kematian Bayi Baru Lahir (0-28 hari) 19/1000 KH 86.000 per tahun
236 per hari 10 per jam (SKRT, 2001 & SDKI 2007)
2. Kematian Bayi (0-12 bulan) 34/1000 KH 146.000 per tahun 401 per
hari 17 per jam (SKRT, 2001 & SDKI 2007)
3. Kematian Balita (0-60 bulan) 44/1000 KH 193.000 per tahun 531 per
hari 22 per jam (SKRT, 2001 & SDKI 2007)
4. Proporsi lahir mati 34,6% dari seluruh kematian perinatal (Riskesdas
2007)
5. Kematian Bayi Baru Lahir dini (0-6 hari) 78,5% dari seluruh jumlah
kematian Bayi Baru Lahir (Riskesdas 2007)
6 Dari 100 bayi lahir hidup, 11,5 diantaranya lahir dengan berat kurang dari
2500 gram, disebut sebagai bayi berat lahir rendah (BBLR)
7 Sekitar 40% kematian bayi terjadi terjadi pada umur di bawah 1 bulan.
Kematian ini umumnya karena kesehatan ibu selama hamil, proses
persalinan serta perawatan bayi baru lahir yang kurang memadai.
B. Banyaknya bayi dan anak balita yang sakit

(Materi SKK bagi Pramuka Penggalang, Penegak dan Pandega).

Penyebab utama kematian pada bayi dan anak balita

1 Penyebab Kematian Neonatal (0 – 28 hari):


o Asfiksia

o Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

o Infeksi

o Kelainan kongenital

2 Penyebab Kematian Bayi (1- 11 bulan) dan Balita (0 - 59 bulan):


o Masalah neonatal (Asfiksia, BBLR, Infeksi)

o Diare

o Pneumonia

o Kelainan kongenital

o Meningitis

o Tetanus

(Materi SKK bagi Pramuka Penegak dan Pandega).

Tanda bahaya bayi baru lahir :

1. Tidak mau menyusu atau memuntahkan semua yang diminum. Ini


tandanya terkena infeksi berat.

2. Bayi kejang. Jika melihat gejala/gerakan yang tidak biasa dan terjadi
secara berulang-ulang (menguap, mengunyah, menghisap, mata
berkedip-kedip, mata mendelik, bola mata berputar-putar, kaki seperti
mengayuh sepeda) yang tidak berhenti jika bayi disentuh atau dielus-
elus, kemungkinan bayi kejang.

3. Bayi lemah, bergerak hanya jika dipegang. Ini tanda bayi sakit berat

4. Sesak napas (= 60 kali/menit)

5. Bayi merintih. Ini tanda bayi sakit berat

6. Pusar kemerahan sampai dinding perut. Ini tanda bayi sakit berat

7. Demam (suhu > 37,5°C) atau tubuh teraba dingin ( suhu < 36,5°C)

8. Mata bayi bernanah banyak. Ini dapat menyebabkan bayi menjadi buta.

9. Bayi diare, mata cekung, tidak sadar, jika kulit perut dicubit akan kembali
lambat. Ini tandanya bayi kekurangan cairan yang berat, bisa
menyebabkan kematian.

10. Kulit bayi terlihat kuning. Kuning pada bayi berbahaya jika muncul pada :

 Hari pertama (kurang dari 24 jam) setelah lahir

 Umur lebih dari 14 ha

 Kuning sampai ke telapak tangan atau kaki

11. Buang air besar/tinja bayi berwarna pucat.

Jika menemukan satu atau lebih tanda bahaya pada bayi, maka segera
periksakan bayi ke dokter/bidan/perawat. Upayakan bayi tetap hangat
selama dalam perjalanan ke tempat pemeriksaan dengan cara:

 Membungkus atau menyelimuti bayi dengan kain yang kering, hangat


dan tebal

 Jangan meletakkan bayi di tepi jendela atau pintu kendaraan

 Kalau memungkinkan dapat dilakukan Perawatan Bayi Melekat


(Kangaroo Mother Care).

 Bayi terus disusui selama dalam perjalanan.

Perawatan Metode Kanguru (Kangaroo Mother Care) :

 Kontak kulit bayi dengan ibu dengan perawatan metode kanguru dapat
mempertahankan suhu bayi dengan mencegah bayi kedinginan.

 Gunakan tutup kepala karena 25% panas hilang pada bayi baru lahir
melalui kepala

 Keuntungan untuk bayi :

• Bayi menjadi hangat

• Bayi lebih sering menyusu

• Bayi banyak tidur

• Bayi tidak rewel

• Kenaikan berat badan bayi lebih cepat

 Keuntungan untuk ibu :

• Hubungan kasih sayang lebih erat

• Ibu bisa bekerja sambil menggendong bayinya.

Rata-rata BALITA sakit 4 kali dalam setahun, 3 diantaranya disebabkan


salah satu atau kombinasi dari penyakit pneumonia, diare, malaria,
campak dan kurang gizi

Dari 100 ibu – ibu yang membawa balitanya berobat ke fasilitas


kesehatan, 75 diantaranya datang dengan keluhan anaknya menderita
batuk, diare, panas dan sakit telinga. Sedangkan besar keluhan tersebut
merupakan gejala penyakit yang menjadi penyebab utama kematian pada
bayi dan anak balita.

C. Tingginya masalah tumbuh kembang bayi dan anak balita

(Materi SKK bagi Pramuka Penggalang, Penegak dan Pendega)

Dari 100 bayi lahir hidup, 11,5 diantaranya lahir dengan berat kurang dari
2500 gram, disebut sebagai Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)

Dari 100 balita di Indonesia

1 Ada 26 anak yang menderita kurang gizi dan lebih dari sepertiganya
menderita gizi buruk

2 Ada 5-18 anak yang berisiko mempunyai gangguan perkembangan


dari yang ringan sampai berat, diantaranya terlambat/kesulitan jalan,
bicara, komunikasi, anak hiperaktif dan sebagainya.

(Materi SKK bagi Pramuka Penegak dan Pendega)

BBLR dan kurang gizi, apabila tidak ditangani secara baik sedini mungkin,
akan mengganggu pertumbuhan dan kecerdasan anak. Anak tumbuh
pendek (kuntet), kurang cerdas dan gampang sekali sakit. Keadaan ini
jelas akan mempengaruhi kualitas hidup anak dikemudian hari. Anak
dengan gizi buruk kondisinya sangat jelak, daya tahan tubuh sangat
lemah sehingga mudah sekali meninggal. Kematian pada bayi baru lahir
paling sering terjadi pada BBLR.

Anak yang mempunyai gangguan perkembangan akan mengalami


kesulitan belajar, kesulitan bicara, kesulitan dalam mengutarakan
pendapatnya, kesulitan dalam bergaul dan kehidupan bermasyarakat,
serta tidak percaya diri dan kemungkinan sangat tergantung pada orang
lain. Keadaan ini mempengaruhi kualitas sumberdaya manusia dimasa
mendatang.

II. Bagaimana memelihara anak agar sehat?

Tanda bayi baru lahir sehat :

1 Bayi lahir segera menangis


2 Bayi bergerak aktif
3 Warna kulit seluruh tubuh kemerahan
4 Bayi bisa menghisap Air Susu Ibu dengan kuat
5 Berat lahir 2,5 – 4 kg
A. Pemeriksaan Kesehatan Bayi Baru Lahir:

1 Periksakan bayi baru lahir 2 kali, pada minggu pertama hari ke 1 dan ke 3
setelah lahir.

2 Pemeriksaan bayi baru lahir bertujuan untuk mengetahui sedini mungkin


adanya kelainan pada bayi, atau bayi sakit. Resiko terbesar kematian bayi
baru lahir terjadi pada 24 jam pertama kehidupannya.

3 Setelah bayi baru lahir, perlu diberikan :

 ASI

 Salep mata Antibiotik

 Suntikan vitamin K1 untuk mencegah pendarahan

 Imunisasi Hepatitis B untuk mencegah penularan penyakit Hepatitis B

4 Periksakan segera bayi ke dokter/bidan/perawat, jika bayi malas menyusui,


demam, kejang, bayi kuning, tali pusat kemerahan atau muncul tanda sakit
lainnya.

Perawatan tali pusat :

1. Jangan membubuhi apapun pad pangkal tali pusat

2 Rawat tali pusat terbuka dan kering

3 Bila tali pusat kotor atau basah, cuci dengan air bersih dan sabun mandi dan
keringkan dengan air bersih

4 Bila tali pusat kemerahan, segera periksakan ke dokter/bidan/perawat.

Memandikan bayi baru lahir :

1 Pada saat lahir, bayi tidak boleh segera dimandikan.

2 Bayi dimandikan paling cepat 6 jam setelah lahir

3 Mandikan dengan air hangat, di ruangan yang hangat

4 Mandikan dengan cepat: bersihkan muka, leher dan ketiak dengan air dan
sabun. Keringkan seluruh tubuh dengan cepat.

5 Pakaikan baju, topi dan dibungkus dengan selimut.

6 Bayi tidak boleh dibedong terlalu ketat.

7 Jangan memandikan bayi jika demam atau pilek.

Menidurkan bayi :

1 Pasang kelambu pada saat bayi tidur, siang atau malam


2 Tidurkan bayi secara terlentang atau miring

3 Bayi perlu banyak tidur dan hanya bangun kalau lapar

4 Jika bayi telah tidur selama 2-3 jam, bangunkan bayi untuk disusui

Hal-hal yang perlu dihindari :

1 Hindarkan bayi dari asap dapur dan asap rokok

2 Hindarkan bayi dari orang sakit

3 Jangan membubuhi ramuan atau apapun pada tali pusat

4 Jangan mengasuh bayi sebelum mencuci tangan dengan sabun

5 Jangan mengobati sendiri jika bayi sakit.

B. Melaksanakan perawatan dasar bayi dan anak balita.

(Materi SKK bagi Pramuka Penggalang Penegak dan Pandega)

1 Pemenuhan kebutuhan dasar anak yang merupakan HAK SETIAP ANAK


yang meliputi:

 Mendapat perhatian, cinta dan kasih saying

 Pemenuhan kebutuhan IMTAQ.

 Makanan bergizi sesuai kebutuhan tumbuh kembang anak.

 Pelayanan kesehatan termasuk pencegahan dan pengobatan penyakit

 Pendidikan usia dini di rumah termasuk sopan santun, persiapan anak


masuk Taman kanak-kanak, dan sebagainya.

 Memberikan kesempatan anak bermain bersama teman-temannya


dengan tetap di bawah pengawasan orang tua, mengikutsertakan anak
dalam kegiatan keluarga.

 Memberikan perlindungan dan membangun rasa aman pada anak


termasuk pencegahan kecelakaan dan cedera di rumah.

 Lingkungan anak yang mendukung termasuk tempat tinggal yang layak


dan lingkungan yang sehat.
Menjaga kehangatan bayi:

(Materi SKK bagi Pramuka Penegak dan Pandega)

1 Suhu normal tubuh bayi baru lahir ; 36,5 – 37,5°C , (bayi hangat).
2 Mengapa perlu menjaga kehangatan tubuh bayi ?
Bayi lebih mudah mengalami perubahan suhu tubuh

Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan


sempurna

Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas

Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakaiannya agar tidak
kedinginan.

3 Panas tubuh bayi bisa hilang karena :


Bayi Memancar

Panas tubuh bayi memancar ke lingkungan sekitar bayi yang lebih


dingin, misal ; bayi baru lahir diletakkan di ruangan yang dingin.

Menguap

Cairan/air ketuban yang membasahi kulit bayi menguap, misal : bayi


baru lahir tidak langsung dikeringkan dari cairan ketuban

Merambat

Dari kulit bayi langsung merambat ke permukaan yang lebih dingin,


missal : popok/celana bayi basah tidak langsung diganti.

Mengalir

Hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara sekeliling bayi, misal :
bayi diletakkan dekat pintu/jendela.

4. Cara mencegah kehilangan tubuh bayi :

a) Jangan memandikan bayi baru lahir sebelum 6 jam


b) Tempatkan bayi di lingkungan yang hangat, jauhkan dari jendela atau
pintu
c) Bayi harus tetap berpakaian dan diselimuti setiap saat, mengenakan
topi, memakai pakaian kering dan lembut
d) Ganti popok dan pakaian setiap kali basah
e) Jangan memandikan atau menyentuh bayi dengan tangan dingin
f) Keringkan bayi dengan segera setelah memandikan
g) Menyusui bayi segera setelah lahir.

5. Tanda – tanda penurunan suhu tubuh bayi :


a) Tanda awal : kedua kaki teraba dingin
b) Tanda lanjut :
 Seluruh tubuh teraba dingin
 Bayi tidak bergerak aktif/bayi lemas
 Bayi tidak mau menyusu
 Bayi menangis lemah.

Memberikan makanan bergizi sesuai kebutuhan tumbuh kembang anak.

(Materi SKK bagi Pramuka Penegak dan Pandega)

Bayi umur 0-6 bulan:

Berikan ASI eksklusif sampai bayi berusia 6 bulan.

Petunjuk pemberian ASI eksklusif :

1 Jangan memberikan makanan atau minuman apapun kepada bayi


2 Menyusui sesuai kebutuhan bayi, minimal 8 kali dalam 24 jam.
3 Jika bayi telah tidur selama 2 – 3 jam, bangunkan bayi untuk
disusui.
4 Jika ibu bekerja atau tidak berada di rumah, ibu memerah ASI dan
minta orang lain untuk memberikan ASI perah dengan sendok
atau cangkir.

Cara menyusui yang benar :

1. Posisi ibu yang nyaman, duduk atau berbaring


2. Posisi menyusui :
 Seluruh badan bayi tersangga dengan baik
 Badan bayi menghadap dan dekat ke dada ibunya
3. Perlekatan menyusui :
 Dagu bayi menempel pada payudara ibu
 Mulut bayi terbuka lebar
 Bibir bawah bayi membuka keluar
4. Bayi menghisap secara efektif :
 Bayi menghisap dalam dan teratur diselingi istirahat
 Hanya terdengar suara menelan.

Air Susu Ibu (ASI) mengandung semua zat gizi yang diperlukan oleh
bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan

Keuntungan menyusui :

1. ASI mengandung zat gizi yang lengkap dan seimbang


2. ASI mudah dicerna dan diserap oleh bayi
3. ASI melindungi bayi dari penyakit
4. Menyusui membantu membentuk jalinan kasih sayang ibu dan
bayi
5. Menyusui membantu menunda kehamilan
6. Menyusui mempercepat pemulihan kesehatan ibu setelah
melahirkan
7. Menyusui menghemat biaya rumah tangga
8. Menyusui praktis karena dapat diberikan kapan saja.
Inisiasi Menyusu Dini (IMD) : bayi yang baru dilahirkan, tidak perlu
dimandikan, segera dilekatkan di dada ibu untuk menyusu secara
mandiri.

Keuntungan IMD ;

1. Mencegah bayi kedinginan


2. Menstabilkan irama nafas, detak jantung bayi
3. Mempercepat keluarnya kolostrum
4. Memberikan kekebalan terhadap penyakit
5. Mengurangi risiko perdarahan ibu melahirkan.

Kolostrum adalah ASI yang keluar selama beberapa hari pertama


setelah melahirkan, yang berwarna kekuningan dan kental.
Mengandung zat kekebalan, vitamin A, factor-faktor pertumbuhan dan
lain-lain. Kolostrum berguna melindungi bayi terhadap infeksi dan
alergi, mencegah bayi kuning, mencegah sakit mata.

ASI Eksklusif adalah pemberian ASI saja pada bayi tanpa tambahan
makanan dan minuman lain. Contoh: susu formula/kaleng, pisang
madu, teh dan lain-lain.

Bayi umur 6-12 bulan:

1. ASI tetap diberikan setiap kali bayi menginginkan.

2. Namun bayi umur 6 bulan ke atas, ASI saja sudah tidak mencukupi
kebutuhan utnuk pertumbuhan dan perkembangannya. Bayi perlu
diberi makanan tambahan yang nantinya menjadi makanan pokok
menggantikan ASI.

3. Berikan makanan lembik, mula-mula 3 kali sepiring sedang dan


secara bvertahap ditingkatkan menjadi 4-5 kali sehari.

4. Menjelang umur 12 bulan, dpat mulai diberi nasi lembik.

5. Latih agar bayi mengunyah makanan yang diberikan.

(Materi SKK bagi Pramuka penegak dan Pandega).

Anak umur 12-24 bulan:

- ASI tetap diteruskan sampai anak umur 2 tahun.

- Beri anak makanan seperti makanan orang dewasa, dengan takaran


sepenuhnya orang dewasa, minimal 3 kali sehari, tetapi tidak pedas.

- Sediakan dahulu makanan di piring terpisah khusus untuk anak, baru


kemudian untuk yang lainnya. Biasanya anak makan bersama orang
muda dan anggota keluarga lainnya.
(Materi SKK bagi Pramuka Penegak dan Pandega).

Pelayanan kesehatan termasuk pencegahan dan pengobatan penyakit.

 Membantu pertumbuhan anak melalui penimbangan secara teratur


setiap bulan di posyandu. Pertumbuhan baik bila tambah umu tambah
berat. Instrumen yang dipakai adalah KS Balita termasuk juga KSM
yang tercantum dalam Buku KIA

(Materi SKK bagi Pramuka Penggalang, Penegak dan Pandega).

 Pemberian kapsul lunak Vitamin A setiap 6 bulan di posyandu.


Vitamin A gunanya untuk mencegah kebutaan pada balita akibat
kekurangan vitamin A.

 Pemberian imunisasi BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis pada


bayi di bawah umur 12bulan di posyandu, sesuai jadwal imunisasi.

 Balita akan dideteksi secara dini aspek tumbuh kembangnya meliputi


kemampuan perkembangananak,lingkar kepala anak (LIKA), perilaku
anak, tes pendengaran dan penglihatan anak. Kegiatan dilaksanakan
di Posyandu, Polindes, Pustu, Puskesmas, sesuai frekuensi
pemeriksaan:

Umur Anak Frekuensi pemeriksaan

0 – 1 bulan 2 kali

1 - 3 bulan 1 kali

3 - 6 bulan 1 kali

6 - 9 bulan 1 kali

9 – 12 bulan 2 kali

12 - 24 bulan 1 kali

24 - 36 bulan 1 kali

36 - 48 bulan 1 kali

48 - 60 bulan 1 kali

- Balita perlu stimulasi dini tumbuh kembang. Di Posyandu, orang tua


akan dibimbing oleh tenaga kesehatan dan kader terlatih, kemudian
dilanjutkan stimulasi di rumah oleh orang tua dan anggota keluarga
lainnya.Instrumen yang dipakai adalah Buku KIA berwarna merah
muda.
- Orang tua membawa setiap balita sakit (dngan keluhan salah satu
atau kombinasi dari penyakit batuk atau sukar bernafas, diare,
demam,sakit telinga) ke fasilitas kesehatan akan ditangani pleh
tenaga kesehatan menggunakan pendekatan Manajemen terpadu
Balita Sakit.

- Pemberian konseling bagi ibu tentang perawatan anak di rumah: cara


menyusui yang benar, perawatan bayi baru lahir, perawatan balita
sakit, pemberian makanan pada balita. Petugas kesehatan dibekali
keterampilan melakukan konseling, buku pedoman dan lembar balik.

III. Perkembangan bayi dan anak balita

1. Memberikan reaksi dengan melihat ke arah sumber cahaya, misalnya dari


lampu senter yang digerakkan ke kiri dan kanan (gerak halus)

2. Mengecoh dan memberikan reaksi terhadap suara (bicara, bahasa dan


kecerdasan).

3. Membalas senyuman (bergaul dan mandiri).

Umur 3-6 bulan

 Mengangkat kepala dengan posisi tegak pada posisi telungkup (gerak


kasar)

 Meraih benda yang menarik/mainan yang terjangkau olehnya

 Menengok ke arah sumber suara, misalnya sendok dipukulkan ke gelas


atau piring.keringcingan). Sumber suara itu dibuat tersembunyi tidak
terlihat oleh anak (bicara, bahasa, kecerdasan).

Umur 6-9 bulan

 Ketika didudukkan, bisa mempertahankan posisi duduk dengan kepala


tegak (gerak kasar).

 Memindahkan benda dari tangan yang satu ke tangan yang lain (gerak
halus)

 Tertawa/berteriak bila melihat benda yang menarik (bicara,


bahasa,kecerdasan)

 Makan biskuit tanpa dibantu (bergaul dan mandiri).

Umur 9-12 bulan

 Berjalan dengan berpegangan (gerak kasar)

 Mengambil benda kecil sebesar biji jagung dengan


meraup/menggunakan kelima jari tangannya (gerak halus)

 Mengatakan dua suku kata yang sama, misalnya pa-pa,ma-ma,da-da


dan lain-lain (bicara, bahasa dan kecerdasan)

 Dapat bermain ciluk-ba (bergaul dan mandiri).

Perkembangan anak balita

1 Umur 12 – 18 bulan

 Berjalan sendiri tanpa jatuh (gerak kasar)

 Mengambil benda kecil sebesar biji jagung denganibu jari dan


telunjuknya/mengimpit (gerak halus).

 Mengungkapkan keinginan secara sederhana (bicara bahasa dan


kecerdasan)

 Minum sendiri dari gelas tanpa tumpah (bergaul dan mandiri).

2 Umur 18-24 bulan

 Berjalan mundur sedikitnya 5 langkah (gerak kasar)

 Mencorat-coret dengan alat tulis (gerak halus).

 Menyebutkan nama dan menunjuk satu bagian tubuh dengan benar


(bicara, bahasa dan kecerdasan)

 Meniru melakukan pekerjaan rumah tangga (bergaul, bahasa dan


kecerdasan)

3 Umur 2 – 3 tahun

 Berdiri dengan satukaki dengan berpegangan

 Meniru membuat garis lurus

 Mengatakan keinginan paling sedikit dengan dua kata

 Mengatakan buang air besar dan buang air kecil

4 Umur 3 - 4 tahun

 Berjalan jinjit (gerak kasar)

 Meniru membuat gambar lingkaran (gerak halus)

 Mengenal dan menyebutkan paling sedikit satu warna (bicara, bahasa


dan kecerdasan)

 Mematuhi peraturan sederhana dalam permainan (bergaul dan


mandiri).

5 Umur 4 – 5 tahun

 Melompat dengan satu kaki (gerak kasar)


 Mengancingkan kancing baju melalui lubang kancing (gerak halus)

6 Bercerita seperti rata-rata anak yang sebayanya (bicara, bahasa dan


kecenderungan)

7 Mencuci dan mengeringkan tanah tanpa dibantu (bergaul dan mandiri).

BAWALAH SEGERA KE PUSKESMAS, BILA ANAK SAKIT ATAU BILA


PERKEMBANGANNYA KURANG BAIK

IV. Penyakit Berbahaya bagi Anak

Penyakit anak yang berbahaya adalah diare, tetanus, infeksi akut saluran
pernafasan, diptheria, pertusis, TB, polio, campak dan lain-lain.

A. TB (Tuberkulosis)

Sebab:

TB yang dulu dikenal dengan TBC adalah penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh kuman TB ( Mycobacterium tuberculosis )

Cara penularan:

Penderita TB pada waktu batuk/bersin menyebarkan kuman ke udara dalam


bentuk percikan dahak, kemudian kuman terhirup oleh orang lain melalui
saluran pernafasan menuju paru-paru dan dapat menyebar ke bagian tubuh
lainnya. Jika daya tahan tubuh kuat, anak tersebut tetap sehat, tapi jika daya
tahan tubuh lemah, anak tersebut menjadi sakit TB.

Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga menyerang


organ atau bagian tubuh lainnya (tulang, kelenjar, kulit dll)

Tanda :

 Batuk selama 2 minggu atau lebih dan nyeri dada

 Berat badan anak tidak naik atau malah turun walaupun gizi sudah
diperbaiki

 Tidak ada nafsu makan.

 Demam tanpa sebab jelas selama 2 minggu atau lebih

 Terdapat pembesaran kelenjar getah bening di leher, ketiak, pangkal paha

 Adanya kontak erat dengan penderita TB dewasa


Pencegahan:

 Imunisasi BCG

 Makanan bergizi

 Menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan Perilaku Bersih dan Hidup
Sehat

 Mengobati penderita TB sampai sembuh.

TB BUKAN PENYAKIT KETURUNAN, BUKAN


DISEBABKAN OLEH KUTUKAN DAN BUKAN PULA
KARENA GUNA-GUNA.

B. Dipteri

Sebab:

 kuman dipteri melalui udara

Tanda:

 Mula – mula panas badannya tinggi dengan batuk ringan, kemudian leher
membengkak, susah bernafas, nafasnya berbunyi.

Pencegahan:

 Imunisasi DPT

 Makanan bergizi

 Menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan Perilaku Bersih dan


Hidup Sehat

 Mengirim penderita dipteri ke Rumah Sakit dengan segera, untuk


mendapatkan pertolongan dan mencegah penularan.

AWAS : DIPTERI SANGAT MENULAR

C Pertusis (batuk rejan, batuk 100 hari, kinkhoest)

Sebab :
• Ketularan kuman pertusis melalui udara
Tanda :
• Tubuh panas dan lemah
• Batuk hebat terus menerus sampai muntah, mata merah
Pencegahan :
• Imunisasi DPT
• Makanan bergizi

• Menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan Perilaku Bersih dan


Hidup Sehat

• Mengobati penderita pertusis sampai sembuh

INGAT: ANAK YANG KURUS KARENA KURANG GIZI,


BILA MENDERITA BATUK REJAN DAPAT
MEMBAHAYAKAN JIWANYA. PERIKSAKAN SEGERA KE
PUSKESMAS

D. Tetanus

Sebab :

- Ketularan kuman tetanus melalui luka atau tali pusat yang kotor

Tanda :

- Tubuh panas, gelisah, anak tidak suka menyusui, kemudian mulut sukar
dibuka, kuduk kaku dan kejang-kejang.

Pencegahan :

- Imunisasi TT 2 kali pada waktu Ibu hamil dan Imunisasi DPT 3 kali pada
waktu bayi.

- Menjaga kebersihan luka

- Jangan bubuhi apapun di tali pusat, selain alkohol pada pembalutnya.

E. Polio

Sebab :

- Ketularan virus polio

Tanda :

- Tubuh panas, anak rewel, kemudian lumpuh


Pencegahan :

- Imunisasi polio 3 kali pada waktu bayi

- Menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan Perilaku Hidup Bersih


dan Sehat

- Makanan bergizi

- Bila terkena, segera minta pertolongan dokter atau Puskesmas terdekat.

F. Campak

Sebab :

- Ketularan virus campak melalui udara

Tanda :

- Demam tinggi, batuk, pilek, mata merah

- Diare

- Ruam/bercak merah seluruh tubuh

Pencegahan :

- Imunisasi polio 3 kali pada waktu bayi

- Menjaga kebersihan diri dan lingkungan dengan Perilaku Hidup Bersih


dan Sehat

- Makanan bergizi

- Bila terkena, segera minta pertolongan dokter atau Puskesmas terdekat.

G. Penyakit kulit

Penyakit kulit yang sering ditemukan pada anak sekolah Taman kanak-kanak
adalah sebagai berikut :

1. Scabies (gudik atau kudis)

Penyebab :

- Parasit (semacam kutu kecil)

Penularan :

- Melalui kulit (kontak langsung, melalui pakaian atau handuk, alas


tempat tidur, dan lain-lain)

Gejala :

- Gatal pada malam hari


- timbul gelembung yang kadang-kadang bernanah

- kulit yang terkena biasanya di daerah lipatan jari tangan, siku, paha,
pantat dan telapak tangan.

Pencegahan :

- Menghindari kontak langsung dengan penderita

- Menghindari barang-barang yang telah dipakai oleh penderita

Tindakan :

- Setelah mandi dengan sabun, badan dikeringkan dan kemudian


dioleskan salep 2-4 pada bagian yang gatal

- Pakaian penderita dan alas tidurnya direbus, dicuci dan dijemur

- Alat tidur penderita dibersihkan dan dijemur setiap hari.

2. Borok

Penyebab :

- Bakteri

Penularan :

- Kontak langsung

Gejala :

- Luka tampak kotor, bernanah, berbau dan kadang-kadang


mengeluarkan darah dan cairan kekuning-kuningan

- Daerah sekitar luka membengkak, nyeri dan gatal

Pencegahan :

- Makan makanan bergizi

- Luka yang baru timbul segera diobati

Tindakan :

- Borok dicuci dengan air bersih, hangat dan matang

- Borok dibersihkan dengan kapas atau kain lunak yang sudah dibasahi
dengan larutan Rivanol dan dibalut

- Penderita dianjurkan agar :

• Tidak menggaruk borok

• Menjaga agar luka tidak dihinggapi lalat


• Mencegah agar cairan borok tidak tercecer

• Berobat ke Puskesmas

3. Kadas

Penyebab :

- jamur

Penularan :

- Kontak langsung

- Melalui bahan yang mengandung jamur, misalnya: pakaian, handuk,


dan lain-lain

Gejala :

- Bekas putih bersisik dan biasanya berbatas jelas

- Gatal

Pencegahan :

- Menjaga kebersihan umum

- Mencegah kontak langsung dengan penderita

- Menghindari bahan pakaian yang dipakai penderita

Tindakan :

- Salisil spiritus 3% atau yodium tincture 1% dioleskan pada kadas.


Pemberian secara teratur sampai kadasnya hilang

- Bila dalam waktu 1 bulan kadas belum hilang, anak dibawa ke


Puskesmas

4. Panu

Penyebab :

- Jamur

Penularan :

- Kontak langsung

- Melalui pakaian, handuk, dan lain-lain yang mengandung jamur

Gejala :

- Bercak putih, bersisik tidak berbatas jelas, kadang-kadang tersebar di


seluruh tubuh
- Sisiknya lebih halus daripada kadas

Pencegahan :

- Menjaga kebersihan umum

- Mencegah persentuhan dengan penderita

- Menghindari pemakaian bahan pakaian penderita

Tindakan :

- Daerah panu diolesi salisil spiritus 3% atau yodium tinctur 1% secara


teratur sampai panunya hilang. Bila daerah yang terkena cukup luas,
pengolesan dilakukan sedikit demi sedikit. Bila dalam waktu 1 bulan
tidak ada perbaikan, anak dibawa berobat ke Puskesmas

5. Biang Keringat

Penyebab :

- Udara panas dan lembab yang mengakibatkan penguapan keringat


tidak sempurna

Gejala :

- Bintik-bintik merah dan gatal, kadang-kadang pedih

Tindakan :

- Daerah yang terkena dibubuhi bedak salisil

H. Penyakit Saluran Pernafasan

Penyakit saluran pernafasan yang sering ditemukan pada anak sekolah


Taman kanak-kanak adalah sebagai berikut :

1. Influenza

Penyebab :

- Virus

Penularan :

- Melalui udara

Gejala :

- Sakit kepala, rasa ngilu pada otot dan sendi

- demam

- bersin-bersin, batuk dan pilek


Pencegahan :

- Anak yang sakit dihindarkan dari anak yang sehat

- Anak yang sakit bila batuk dan bersin dianjurkan menutup hidung dan
mulutnya dan bila membuang ingus tidak disembarang tempat

Tindakan :

- Anak dianjurkan untuk istirahat di rumah, minum banyak, dan makan


makanan bergizi baik

- Anak dibawa ke Puskesmas

2. Radang Cabang Tenggorokan (Bronchitis)

Penyebab :

- Bakteri

Penularan :

- Melalui dahak

Gejala :

- Sering batuk biasanya berdahak

- Sesak nafas

- Demam

Pencegahan :

- Menghindari diri berdekatan dengan penderita

Tindakan :

- Anak dibawa berobat ke Puskesmas

- Anak diistirahatkan sampai sembuh

3. Batuk rejan

Penyebab :

- Bakteri

Penularan :

- Melalui dahak atau air liur

Gejala :

- batuk, pilek, demam, nafsu makan berkurang


- Serangan batuk panjang, dapat disertai muntah

Pencegahan :

- Menghindari kontak dengan penderita

Tindakan :

- Anak dibawa berobat ke Puskesmas

4. Radang Tenggorokan (Faringitis)

Penyebab :

- Bakteri atau virus

Penularan :

- Melalui udara

Gejala :

- Tenggorokan kering dan nyeri padA waktu menelan

Pencegahan :

- Menghindari kontak dengan penderita

Tindakan :

- Anak dibawa berobat ke Puskesmas

5. Tonsilitis

Penyebab :

- Bakteri

Penularan :

- Melalui udara

Gejala :

- Tenggorokan gatal dan nyeri pada waktu menelan

- Tonsil (amandel) membesar dan merah, kadang-kadang berbintik


putih, nafas berbau

- Demam

Pencegahan :

- Menghindari diri berdekatan dengan penderita


Tindakan :

- Anak dibawa berobat ke Puskesmas

I. Penyakit Saluran Pencernaan

Penyakit saluran pencernaan yang sering ditemukan pada anak sekolah


Taman kanak-kanak adalah sebagai berikut :

1. Diare

Penyebab :

- Bakteri/kuman, virus atau keracunan makanan

Gejala :

- BAB (Buang Air Besar), lembek atau cair, tanpa darah lebih dari 3 kali
sehari

- Perut nyeri, mual dan mulas

- Tubuh lemas

Tindakan :

- Berikan oralit atau Larutan Gula Garam (LGG)

- Pada keracunan makanan anak segera dibawa berobat ke Puskesmas

Pencegahan :

- Pendidikan kebersihan perorangan (Perilaku Hidup Bersih dan


Sehat/PHBS) untuk mencegah penularan penyakit.

2. Disentri Basiler dan Amuba

Penyebab :

- Bakteri/kuman dan Amuba

Penularan :

- Melalui makanan dan minuman yang tercemar

Gejala :

- BAB mencret disertai lender, nanah, darah dan bau amis, dapat terjadi
lebih dari 10 kali perhari

- nyeri perut, kadang-kadang muntah

- demam
Tindakan :

- Anak dibawa berobat ke Puskesmas

Pencegahan :

- Memperhatikan kebersihan lingkungan, makanan dan minuman agar


tidak dihinggapi lalat

J. Penyakit Mata

Penyakit mata yang sering ditemukan pada anak sekolah Taman kanak-
kanak adalah sebagai berikut :

1. Penyakit Mata karena Infeksi

Penyakit ini disebabkan oleh adanya kuman penyakit yang merusak


mata. Jenis yang sering mengenai anak-anak TKK adalah :

a. Infeksi Selaput Putih Mata (Conjunctivitis)

b. Trachoma

c. Infeksi Selaput Bening Mata

Tindakan :

- Anak segera dibawa berobat ke Puskesmas

2. Penyakit Mata akibat kekurangan Vitamin A ( Xeropthalmia )

Penyakit ini merupakan penyebab utama kebutaan pada anak di


Indonesia, yang mengenai 20 dari 10.000 anak Balita.

3. Penyakit Mata karena Alergi

4. Kecelakaan pada Mata

Pada anak-anak sering terjadi kecelakaan pada mata yang dapat


disebabkan oleh debu, benda tajam, dan lain-lain.

Penanggulangan :

- Benda asing pada kelopak mata sebelah dalam, seperti debu atau
sayap serangga dapat dilihat dengan membuka kelopak mata.
Kemudian dengan bantuan kapas bersih, benda tersebut dikeluarkan.

- Benda asing yang mengenai selaput putih atau selaput bola mata
dapat dilihat dengan membuka mata anak tersebut dan menyinarinya
dengan senter. Benda asing tersebut dapat dikeluarkan dengan hati-
hati dengan bantuan kapas

- Benda tajam yang mengenai mata biasanya menyebabkan mata


tersebut luka robek atau menembus bola mata. Pada kelainan ini,
anak harus segera dibawa berobat ke Puskesmas.

- Mata yang terkena asam atau basa, seperti air accu, ammonia atau
cuka, perlu segera dicuci dengan air bersih sampai tidak ada zat yang
tersisa. Keadaan ini merupakan keadaan darurat, karena itu anak
harus segera dibawa berobat ke Rumah Sakit.

- Kecelakaan karena benda tumpul, misalnya terpukul atau terkena bola


dapat mengakibatkan kelopak mata bengkat dan luka memar. Dalam
bola mata dapat terjadi perdarahan, keadaan ini merupakan keadaan
darurat dan anak perlu segera dibawa ke Rumah Sakit.

K. Penyakit Telinga, Hidung dan Tenggorokan

Penyakit yang sering ditemukan pada anak sekolah Taman kanak-kanak


adalah sebagai berikut :

1. Radang Telinga Tengah (Congek)

2. Radang Telinga Luar

3. Pilek ( Influenza )

4. Radang Tenggorokan ( Faringitis )

Tindakan :

- Anak dibawa berobat ke Puskesmas

L. Penyakit Kecacingan ( Lihat Krida Penanggulangan Penyakit )

Penyakit Kecacingan yang sering ditemukan pada anak-anak adalah :

1. Penyakit Cacing Gelang

Tindakan :

- Anak dibawa berobat ke Puskesmas

2. Penyakit Cacing Keremi

Tindakan :

- Anak dibawa berobat ke Puskesmas

V. Pertolongan Terhadap Anak Diare/ BAB mencret

Diare/ BAB mencret disebabkan :

- makanan tercemar kuman penyakit

- makanan basi
- salah makan

- dan sebab lain

BAB mencret menyebabkan tubuh kurang cairan dan dapat menyebabkan


KEMATIAN.

Berikanlah segera larutan gula garam (1 gelas air masak ditambah 1sendok teh
gula dan sedikit garam) sehingga rasanya seperti air mata atau larutan oralit.

Larutan oralit:

Campurkanlah:

-1/4 sendok the garam, dapur

- 1 sendok the gula pasir

- dan larutkan ke dalam segelas air matang

Pencegahan mencret:

- Makanan harus bersih

- minuman dimasak dulu

- Jangan memberikan susu botol

- Jaga kebersihan diri

- Buang air besar di jamban

- Lingkungan bersih

Bila anak tersebut : mencret terus menerus, mencret lebih dari 2 hari, panas, mata dan
ubun-ubun cekung, lemah, mencret bercampur darah, setengah hari tidak kencing, muntah
terus

PERIKSALAH SEGERA KE PUSKESMAS ATAU POS PELAYANAN TERPADU


(POSYANDU)

VI. Pertolongan terhadap anak Demam:

- kompres dengan air hangat

- beri minum banyak-banyak

- beri makan seperti biasa, sedikit lembik lebih baik

- mintalah obat pada pos obat atau kader kesehatan

- bila disertai kejang anak sangat gelisah, sehari semalam sakitnya tak sembuh
VII. Imunisasi adalah suatu cara memberikan/meningkatkan kekebalan seseorang
secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila terpapar dengan penyakit
tidak akan sakit/sakit ringan

Imunisasi dasar bagi bayi :

 BCG

 DPT

 Polio

 Hepatitis B

 Campak

Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) :

NO PENYAKIT
1 Hepatitis B
2 TBC
3 Difteri
4 Pertusis
5 Tetanus
6 Polio
7 Campak

Manfaat Imunisasi :

IMUNISASI PENYAKIT YG BISA DICEGAH


Hepatitis B Mencegah hepatits B (kerusakan organ hati)
BCG Mencegah TBC
Polio Mencegah Polio (Lumpuh Layuh pada tungkai kaki & lengan)
DPT/HB Mencegah Diferi (penyumbatan jalan nafas), Batuk Rejan
(batuk seratus hari), Tetanus dan Hepatitis B
Campak Mencegah Campak

Jenis Kegiatan Program Imunisasi :

1. Imunisasi Rutin :

Imunisasi yang harus diberikan secara rutin dan terus menerus dan
pelaksanaannya pada periode waktu yang telah ditetapkan

Imunisasi rutin diberikan berdasarkan kelompok usia sasaran yang dibagi


menjadi :

a. Imunisasi pada bayi (0-11 bl)


b. Imunisasi pada anak SD

c. Imunisasi pada WUS (15-39 th)

2. Imunisasi Tambahan :

Imunisasi yang dilaksanakan atas dasar penemuan masalah hasil


pemantauan atau evaluasi dan pelaksanaannya pada periode tertentu yang
memerlukan dana khusus.

Contoh :

a. Backlog Fighting : upaya aktif melengkapi Imunisasi Dasar pada anak


berumur di bawah 3 tahun.

b. Crash Program : kegiatan yang ditujukan pada satu wilayah yang


memerlukan intervensi cepat untuk mencegah terjadinya KLB (Kejadian
Luar Biasa)

Dimana Diperoleh Imunisasi :

1. Di Posyandu, Puskesmas Pembantu, BKIA, Puskesmas, RS Bersalin dan


Rumah Sakit Pemerintah.

2. Di praktek dokter, bidan atau Rumah Sakit swasta.

INGAT : MENCEGAH PENYAKIT LEBIH BAIK DARIPADA MENGOBATINYA

Jadwal Program Imunisasi adalah :

a. Imunisasi Rutin pada Bayi (0-11 bl) :

UMUR BAYI JENIS IMUNISASI


0-7 Hari HBO
1 Bulan BCG, Polio 1
2 Bulan DPT/HB 1, Polio 1
3 Bulan DPT/HB 2, Polio 2
4 Bulan DPT/HB 3, Polio 3
9 Bulan Campak

b. Imunisasi Rutin pada Usia Anak Sekolah Dasar :

IMUNISASI ANAK SD PEMBERIAN IMUNISASI


Kelas 1 DT & Campak
Kelas 2 TT
Kelas 3 TT
c. Imunisasi Rutin pada WUS (15-39 th) :

IMUNISASI PEMBERIAN SELANG WAKTU


IMUNISASI PEMBERIAN (MINIMAL)
TT WUS TT 1 -
TT 2 4 minggu setelah TT1
TT 3 6 Bulan setelah TT2
TT 4 1 Tahun setelah TT3
TT 5 1 Tahun setelah TT4

INGAT : MINTAKAN IMUNISASI UNTUK BAYI ANDA


TEPAT PADA WAKTUNYA AGAR KESEHATAN BAYI
TETAP TERJAMIN

Yang perlu dilakukan agar bayi tetap sehat :

- Berilah ASI saja samapai bayi umur 6 bulan

- Makanan tambahan bergizi sesudah bayi umur 4 tahun

- Mintakan Imunisasi dasar yang lengkap

- Periksakan kesehatan bayi dan lingkungannya

Manfaat ASI bagi bayi :

- ASI selalu tersedia setiap saat ketika bayi memerlukannya

- ASI disukai bayi dan mudah dicerna

- ASI mengandung semua zat gizi yang diperlukan bayi

- ASI mengandung zat kekebalan terhadap penyakit

- Saat disusui, bayi merasa aman dalam pelukan kasih sayang

INGAT : IBU SEBAIKNYA MENYUSUI BAYI PALING


TIDAK SELAMA 2 TAHUN
SKK
KESEHATAN REMAJA
SKK KESEHATAN REMAJA

TUJUAN SKK KESEHATAN REMAJA

PRAMUKA PENGGALANG (11-15 Tahun)


• Dapat mengetahui dan memahami proses tumbuh kembang pada remaja.
• Dapat mengetahui dan memahami kesehatan reproduksi remaja
• Dapat mengetahui dan memahami gangguan fisik pada remaja dan
penyebabnya
• Dapat mengetahui dan memahami tentang 10 aspek psikososial
Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS)

PRAMUKA PENEGAK (16 – 20 TAHUN)


• Dapat menjelaskan proses tumbuh kembang pada remaja.
• Dapat menjelaskan kesehatan reproduksi remaja
• Dapat menjelaskan gangguan fisik pada remaja dan penyebabnya
• Dapat menjelaskan tentang 10 aspek psikososial Pendidikan
Keterampilan Hidup Sehat (PKHS)

PRAMUKA PANDEGA (21 – 25 TAHUN)


• Dapat membina dan memberikan penyuluhan tentang proses tumbuh
kembang remaja.
• Dapat membina dan memberikan penyuluhan tentang kesehatan reproduksi
remaja
• Dapat membina dan memberikan penyuluhan tentang gangguan fisik pada
remaja dan penyebabnya.
• Dapat membina dan memberikan penyuluhan tentang 10 aspek
psikososial Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS)
MATERI SKK UNTUK
PRAMUKA PENGGALANG, PRAMUKA PENEGAK DAN PRAMUKA PANDEGA

1. Definisi Remaja
UU Perlindungan Anak No 23 tahun 2002, menyebutkan bahwa remaja adalah
mereka yang berusia 10-18 tahun sedangkan menurut WHO yaitu berusia 10 –
19 tahun.

2. Masa Remaja
Masa remaja merupakan masa sangat penting dalam kehidupan manusia
karena dimulainya proses awal kematangan organ reproduksi manusia yang
disebut sebagai masa pubertas, merupakan masa peralihan dari masa anak–
anak menuju masa dewasa. Pada masa ini terjadi perubahan fisik dan jiwa
(psikososial, emosi dan kecerdasan) yang pesat, sehingga terjadi perubahan
perilaku di bandingkan dengan perilaku masa sebelumnya. Masa pubertas
ditandai dengan menarche (haid pertama) pada remaja putri dan mimpi basah
pada remaja putra, selain perubahan fisik dan perkembangan jiwa yang khas
pada remaja.

3. Tumbuh kembang Remaja


a. Masa Pubertas, terjadi perubahan fisik
• Remaja perempuan
Pertumbuhan pesat umumnya pada usia 10 – 11 tahun, pada umumnya
perkembangan payudara merupakan tanda awal dari pubertas, kemudian
tumbuhnya rambut kemaluan. Menarche tejadi pada usia 11 – 14 tahun.
Pematangan seksual penuh remaja perempuan terjadi pada usia 16 tahun,.

• Remaja Laki-laki
Pertumbuhan pesat umumnya terjadi pada usia 12 – 13 tahun, dimulainya
produksi spermatozoa & rambut pubis mulai tumbuh maka secara prinsip
sistem
reproduksi telah matang dan mulai berfungsi. Hal ini ditandai dengan mimpi basah
biasanya dimulai pada usia 10-13 tahun yang merupakan tanda awal pubertas.
Suara parau timbul saat usia 14 – 15 tahun. Setahun sebelum suara pecah, jakun
mulai tumbuh. Pematangan seksual penuh terjadi pada usia 17 – 18 tahun

PERUBAHAN FISIK REMAJA


Laki-laki Perempuan
Otot dada, bahu dan lengan melebar Pinggul melebar
Kening menonjol, rahang dan dagu -
melebar
Perubahan suara -
Pertumbuhan penis Pertumbuhan rahim dan vagina
Pertumbuhan kumis dan jambang -
Ejakulasi awal (mimpi basah) Menstruasi awal
Pertumbuhan rambut kelamin, ketiak, Pertumbuhan rambut kelamin dan
dada dll ketiak
- Payudara membesar
Pertumbuhan lemak dan keringat Pertumbuhan lemak dan keringat
(jerawat) (jerawat)
Pertambahan berat badan dan tinggi Pertambahan berat badan dan tinggi
badan badan

b) Karakteristik Remaja

Manifestasi perubahan pada masa ini membagi masa remaja dalam 3 (tiga)
kelompok,yaitu:

1) Remaja Awal (10 -13 tahun), antara lain ditandai dengan:

• Cemas terhadap penampilan badannya yang berdampak pada meningkatnya


kesadaran diri (self consciousness)
• Perubahan hormonalnya berdampak sebagai individu yang mudah berubah-ubah
emosinya seperti mudah marah, mudah tersinggung atau menjadi agresif
2) Remaja Pertengahan (14 – 16 tahun), antara lain ditandai dengan:

• Merasa perlu mengumpulkan pengalaman baru walaupun berisiko berdampak


mulai bereksperimen dengan merokok, alkohol, seks bebas dan mungkin NAPZA
• Mulai membutuhkan lebih banyak teman dan solidaritas berdampak ingin banyak
menghabiskan waktu untuk berkumpul dengan teman-teman
• Mulai membina hubungan dengan lawan jenis berdampak berpacaran tetapi tidak
menjurus serius

3) Remaja Akhir (17 – 19 tahun), antara lain ditandai dengan:

• Terlibat dalam kehidupan, pekerjaan dan hubungan diluar keluarga berdampak


mulai belajar mengatasi stress yang dihadapi dan sulit diajak berkumpul dengan
keluarga.
• Lebih mampu membuat hubungan yang stabil dengan lawan jenis berdampak
mempunyai pasangan yang lebih serius dan banyak menyita waktu.
• Hampir siap menjadi orang dewasa yang mandiri berdampak mulai nampak ingin
meninggalkan rumah untuk hidup sendiri.

4. Kesehatan Reproduksi Remaja

Pengertian Kesehatan Reproduksi adalah keadaan sehat baik secara fisik, jiwa
maupun sosial yang berkaitan dengan sistem, fungsi dan proses reproduksi.

Reproduksi sendiri merupakan proses alami untuk melanjutkan keturunan. Reproduksi


sehat berkaitan dengan sikap dan perilaku sehat dan bertanggung jawab seseorang
berkaitan dengan alat reproduksi dan fungsi-fungsinya serta pencegahan terhadap
gangguan-gangguan yang mungkin timbul. Maka pemeliharaan kesehatan reproduksi
mutlak diperlukan dalam rangka mengembangkan keturunan yang sehat dan
berkualitas di masa dewasanya.

Manusia diciptakan sebagai makhluk hidup pada umumnya terdiri dari dua jenis
kelamin yaitu Laki-laki dan Perempuan. Ada perbedaan yang unik dari anatomi organ
reproduksi berdasarkan jenis kelamin
a). Perempuan

Anatomi Organ Reproduksi Perempuan

2 3
5

7
1 8a 4

uretra
8b 6

1. Ovarium (Indung Telur)


Organ yang terletak di kiri dan kanan rahim di ujung saluran telur (fimbrae/ umbai-
umbai) dan terletak di rongga pinggul, indung telur berfungsi mengeluarkan sel telur
(ovum), sebulan sekali indung telur kiri dan kanan secara bergiliran mengeluarkan
sel telur. Sel telur adalah sel yang dihasilkan oleh indung telur yang dapat dibuahi
oleh sperma sehingga terjadi konsepsi Bila tidak dibuahi, sel telur akan ikut keluar
bersama darah saat menstrusi.

2. Tuba Fallopii (saluran telur)


Saluran di kiri dan kanan rahim yang berfungsi untuk dilalui oleh sel telur dari indung
telur menuju rahim.

3. Fimbrae (Umbai-umbai).
Dapat di analogikan dengan jari-jari tangan, umbai-umbai ini berfungsi untuk
menangkap sel telur yang dikeluarkan indung telur.

4. Uterus (rahim)
Merupakan tempat janin berkembang, bentuknya seperti buah alpukat gepeng dan
berat normalnya antara 30 – 50 gram. Pada saat tidak hamil, besar rahim kurang
lebih sebesar telur ayam kampung, dindingnya tediri dari:

- Lapisan parametrium merupakan lapisan paling luar dan yang berhubungan


dengan rongga perut.
- Lapisan myometrium merupakan lapisan yang berfungsi mendorong bayi keluar
pada proses persalinan (kontraksi)
- Lapisan endometrium merupakan lapisan dalam rahim tempat menempelnya
sel telur yang sudah dibuahi. Lapisan ini terdiri dari lapisan kelenjar yang berisi
pembuluh darah.
5. Serviks (leher rahim)
Bagian uterus yang berbatasan dengan vagina. Pada saat persalinan tiba, leher
rahin membuka sehingga bayi dapat keluar.

6. Vagina (liang kemaluan)


Merupakan sebuah saluran berbentuk silinder dengan diameter depan ± 6,5 cm dan
dinding belakang ± 9 cm yang bersifat elastis dengan berlipat lipat. Fungsinya
sebagai tempat penis berada saat bersanggama, tempat keluarnya menstruasi dan
bayi.

7. Klitoris (kelentit)
Merupakan organ kecil yang paling peka rangsangan dibanding dengan bagian-
bagian alat kelamin perempuan yang lain. Klitoris banyak mengandung pembuluh
darah dan syaraf.

8. Labia (bibir kemaluan)


Terdiri dari dua bibir, yaitu bibir tebal (labia major) dan bibir tipis (labia minor).

Hormon Estrogen dan Hormon Progesteron pada Perempuan

Tubuh mengalami perubahan fisik disebabkan berfungsinya hormon yang terjadi karena
hipotalamus (pusat pengendali utama otak) bekerja sama dengan hipofisa (kelenjar bawah
otak) yang dimulai saat remaja. Hormon-hormon yang berfungsi pada perempuan, antara
lain hormon estrogen dan progresteron.
Hormon estrogen membuat seorang anak perempuan memiliki sifat keperempuanan setelah
remaja. Perubahan yang disebabkan estrogen adalah sebagai berikut;
a. Merangsang pertumbuhan saluran telur, rongga rahim dan vagina.
b. Membuat dinding rahim makin tebal dan produksi cairan vagina bertambah
banyak.
c. Mengakibatkan tertimbunnya lemak di daerah panggul perempuan.
d. Memperlambat pertumbuhan tubuh yang semula sudah dirangsang oleh kelenjar
bawah otak (itulah sebabnya mengapa perempuan dewasa tidak setinggi anak
laki-laki sebayanya).

Hormon progesteron berefek untuk melemaskan otot-otot halus, meningkatkan produksi zat
lemak di kulit, dan meningkatkan suhu badan, pada rahim progesteron merangsang sekresi
kelenjar-kelenjar.

Perubahan fisik lainnya:


• Kulit dan rambut mulai berminyak (wajah menjadi berjerawat), keringat
bertambah banyak.
• Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang, tangan dan kaki bertambah besar.
• Tulang-tulang wajah mulai memanjang dan membesar (sehingga tidak terlihat
seperti anak kecil lagi).
• Pantat berkembang lebih besar, Vagina mulai mengeluarkan cairan.
• Folikel di dalam indung telur mulai membesar, ditandai dengan menstruasi (haid).
Mekanisme fungsi
organ reproduksi
perempuan yang
terakhir ditunjuk
kan dengan adanya
peristiwa
menstruasi.

Menstruasi adalah
proses peluruhan
lapisan dalam/
endometrium yang
banyak
mengandung
pembuluh darah
dari uterus melalui
vagina

Menstruasi dimulai saat pubertas, berhenti sesaat waktu hamil atau menyusui dan
berhenti menetap saat menopause, ketika seorang perempuan berumur sekitar 40
sampai 50an. Di Indonesia menopause terjadi rata-rata di atas 50 tahun.

b) Laki-laki

Anatomi Organ Reproduksi Laki-laki


Organ reproduksi laki-laki yang penting dalam proses reproduksi adalah :

1. Testis (buah pelir)


Berjumlah dua buah untuk mereproduksi sperma setiap hari dengan bantuan
testosteron. Testis berada dalam scrotum, diluar rongga panggul karena
pembentukan sperma membutuhkan suhu yang lebih rendah dari pada suhu badan
(36,7 o C). Sperma merupakan sel yang berbentuk seperti berudu (kecebong)
berekor hasil dari testis yang dikeluarkan saat ejakulasi bersama cairan mani dan
bila bertemu dengan sel telur yang matang akan terjadi pembuahan.

2. Skrotum
Kantong kulit yang melindungi testis, berwarna gelap dan berlipat lipat. Scrotum
adalah tempat bergantungnya testis. Scrotum mengandung otot polos yang
mengatur jarak testis ke dinding perut dengan maksud mengatur suhu testis agar
relatif tetap.

3. Vas deferens (saluran sperma)


Saluran yang menyalurkan sperma dari testis-epididimis menuju ke uretra/ saluran
kencing pars prostatika. Vas deferens panjangnya ± 4,5 cm dengan diameter ±2,5
mm. Saluran ini muara dari Epididymis yaitu saluran- saluran yang lebih kecil dari
vas deferens. Bentuknya berkelok-kelok dan membentuk bangunan seperti topi.

4. Prostat, vesikula seminalis dan beberapa kelenjar lainnya.


Kelenjar2 yang menghasilkan cairan mani (semen). yang berguna untuk
memberikan makanan pada sperma.

5. Penis
Berfungsi sebagai alat sanggama dan sebagai saluran untuk pengeluaran sperma
dan air seni. Pada keadaan biasa, ukuran penis kecil. Ketika terangsang secara
seksual darah banyak dipompa ke penis sehingga berubah menjadi tegang dan
besar disebut sebagai ereksi. Bagian Glans merupakan bagian depan atau kepala
penis. Glans banyak mengandung pembuluh darah dan syaraf. Kulit yang menutupi
glans disebut foreskin (preputium). Pada laki-laki sunat dilakukan dengan cara
membuang kulit preputium. Secara medis sunat dianjurkan karena memudahkan
pembersihan penis sehingga mengurangi kemungkinan terkena infeksi dan radang.
Dan menurut ajaran agama islam, sirkumsisi bahkan sebagai bagian dari ibadah
dengan alasan kebersihan.

Hormon Testosteron Pada Laki-laki

Tubuh mengalami perubahan fisik disebabkan berfungsinya hormon yang terjadi karena
hypothalamus (pusat pengendali utama otak) bekerja sama dengan hipofisa (kelenjar bawah
otak). Hormon-hormon yang berfungsi pada laki-laki, antara lain hormon testosteron.
Hormon testosteron dihasilkan oleh sel Leydig dalam testis dan kelenjar anak ginjal
(suprarenal). Hormon ini ada di dalam darah dan mempengaruhi alat-alat dalam tubuh serta
menyebabkan terjadinya beberapa pertumbuhan seks primer dan sekunder. Masa puber
hormon-hormon seksual berkembang dengan pesat, Remaja sangat mudah terangsang
secara seksual. Pada laki-laki, reaksi dorongan seks adalah mengerasnya penis (ereksi).
Karena belum stabilnya hormon di dalam tubuh, ereksi bisa muncul tanpa adanya
rangsangan seksual. Kondisi yang sering kali muncul secara tak terduga ini bisa membuat
remaja laki-laki salah tingkah (kebingungan, menyembunyikan tonjolan di celana gara-gara
ereksi). Perubahan fisik antara lain;

• Tubuh bertambah berat dan tinggi, pundak dan dada bertambah besar dan bidang.
• Keringat bertambah banyak, kulit dan rambut mulai berminyak (berjerawat), tumbuh
bulu-bulu halus di sekitar ketiak, kemaluan, wajah (janggut dan kumis).
• Lengan dan tungkai kaki bertambah panjang, tangan dan kaki bertambah besar.
• Tulang wajah mulai memanjang dan membesar (sehingga tidak seperti anak kecil
lagi).
o Tumbuh jakun, suara berubah menjadi berat.
o Penis dan buah zakar membesar, diikuti dengan mimpi basah.

Kebersihan dan Kesehatan Diri

Tips kebersihan diri :

1. Sebaiknya, pakaian dalam diganti minimal 2 kali se hari.


2. Pakailah handuk yang bersih, kering, tidak lembab/bau.
3. Perangkat sholat (mukena, sarung, sajadah, peci, baju sholat, kerudung)
harus secara rutin dicuci dan dijemur supaya tidak berjamur dan berbau.
4. Membersihkan organ reproduksi luar dari depan ke belakang menggunakan
air bersih dan dikeringkan menggunakan handuk atau tissue.
5. Tidak boleh mencuci vagina dengan cairan pembilas perempuan.
6. Jangan memakai panty liner dalam waktu lama.
7. Pergunakan pembalut ketika menstruasi, dan diganti paling lama setiap 4
jam atau setelah buang air.
8. Bagi laki-laki dianjurkan disunat

5. Pengaruh perubahan fisik pada remaja


Perubahan fisik menyebabkan remaja sangat memperhatikan penampilan tubuhnya.
Terjadinya perubahan fisik inilah yang membawa akibat remaja menilai citra dirinya
secara berlebihan, yang dirisaukan remaja adalah ketidak sempurnaan penampilan fisik
ini sehingga melakukan upaya-upaya mengatasinya antara lain dengan cara berdandan,
memakai obat jerawat, mengurangi makanan atau mengatur makannya(diet) dan
sebagainya.
6. Ganguan (kelainan) fisik yang bisa terjadi pada remaja
Pada umumnya remaja jarang sakit, akan tetapi pada mereka dapat terjadi gangguan
atau kelainan fisik dengan akibat yang serius. Secara singkat, terjadinya gangguan fisk
pada remaja umummnya di dorong oleh perubahan pada masa pubertas yang
menyebabkan perubahan fisik dan kejiwaan sehingga membuat remaja cenderung
untuk melakukan coba-coba tanpa perhitungan yang matang yang akan menyebabkan
permasalahan sepertikecelakaan lalu lintas, kelainan gizi atuu kehamilan pada usia
remaja. Faktor-Faktor pendorongnya adalah ketegangan jiwa(“stress”), merasa tidak
puas dengan penampilan dan citra dirinya, sudah mulai mengenal rangsangan seks dan
belum mampu mengedalikan diri.

a. Cedera akibat kecelakaan


Yang terbanyak terjadi adalah cedera karena kecelakaan lalu lintas. Di Indonesia,
khususnya di kota besar, 40% dari semua korban kecelakaan lalu lintas adalah
remaja.
Menurut para ahli,remaja mudah mengalami kecelakaan lalu lintas karena faktor
kejiwaan yang mereka alami. Ketegangan jiwa adalah konsekuensi logis dari
proses tumbuh kembang yang dialami remaja dan adanya rasa “aku ingin coba-
coba” yang menyebabkan remaja berperilaku membahayakan diri dan lingkungan.
Adanya ketegangan jiwa(“stress”) merupakan penyebab menurunnya kemampuan
untuk berkonsentrasi, menguranggi ketepatan koordinasi anggota tubuh, serta
menurunnya ketajaman menilai.Tiga faktortersebut yang mempebesar
kemungkinan terjadinya kecelakaan.

b. Gangguan fisik karena masalah gizi


Pertumbuhan fisik yang pesat memerlukan gizi yang baik dan berimbang. Bila ini
tidak di penuhi akan timbul gangguan fisik.
Dari hasil penelitian diketahui banyak remaja menderita anemi (kurang darah/lesu
darah), yang disebabkan kurang zat gizi yang sangat di perlukan untuk
pertumbuhan. Akibatnya adalah kesegaran jasmani menurun, menyebabkan cepat-
capai, lesu,mengantuk dan konsentrasi belajar yamg berkurang.
Karena sangat memperhatikan penampilan tubuhnya agar tampak langsing
,remaja mengurangi/membatasi makannya, bahkan merubah pola makannya
sehingga tidak lagi memenuhi persyaratan gizi berimbang. Dengan sendirinya ini
menyebabkan ketidak seimbangan gizi pada remaja, yang justru berpengaruh
buruk pada penampilannya seperti kulit yang pucat, kusam, kasar dan tidak
kencang; rambut kusam, bercabang ujungnya dan mudah rontok, kuku yang tipis,
rapuh, berombak dan kadang-kadang ada bintik-bintik putihnya; bibir yang
kering,mudah pecah dan berdarah.
Sebaliknya ada remaja justru makan berlebihan, sehingga menjadi
gemuk(obesitas). Kegemukan dipengaruhi oleh faktor biologik (hormonal),
keturunan dan kejiwaan.
c. Kehamilan pada usia remaja
Pada masa pubertas dimana sudah terjadi pematangan organ reproduksi dan
hormonal maka remaja sudah bisa memperoleh keturunan. Namun, baik secara
fisik maupun kejiwaan belum mantap untuk dapat memikul tanggung jawab selaku
orangtua. Kehamilan pada usia remaja membahayakan baik untuk remaja putri
yang hamil maupun bayi dalam kandungannya.

 Pada kehamilan bawah 20 tahun berisiko terjadi gangguan pada ibu maupun janin
karena perkembangan fisik belum sempurna dengan berbagai risiko kehamilan
(keracunan kehamilan, eklampsi) yang berakibat kematian. Sedangkan bayinya
sendiri belum tentu sehat. Komplikasi yang sering ditimbulkan pada ibu yang
melahirkan dibawah 20 tahun pada jain antara lain kematian janin, bayi berat lahir
rendah (BBLR) dan kemungkinan hidup sampai berumur 1 tahun lebih kecil
dibandingkan ibu yang melahirkan pada umur yang lebih dewasa. Selain itu, dari
hasil penelitian melakukan hubungan seks dini lebih sering menimbulkan kanker
leher rahim.

d. Penyakit menular
Antara lain Infeksi Menular Seksual (IMS), yaitu infeksi yang ditularkan melalui
hubungan seksual yang tidak aman dengan pasangan penderita IMS. Akibat proses
pematangan organ reproduksi dan hormonal pada masa pubertas timbul dorongan
seksual, bila remaja tidak mendapat informasi kesehatan yang tepat dapat
menyebabkan perilaku seksual berisiko tersebut. Penyakit yang tergolong Infeksi
Menular Seksual (IMS) antara lain sipilis, kencing nanah (GO), herpes kelamin,
jengger ayam, bahkan terinfeksi HIV/ AIDS. Akibat IMS dapat menyebabkan
kemandulan, keguguran bahkan cacat bagi janin yang dikandungnya.

7. Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS)

Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS) adalah kompetensi psikososial


seseorang untuk memenuhi kebutuhan dan mengatasi masalah dalam kehidupan
sehari-hari secara efektif.

Yang dimaksud kompetensi psikososial dalam bidang kesehatan itu sendiri adalah
suatu kemampuan yang berorientasi pada aspek kejiwaan seseorang terhadap
dirinya dan interaksi dengan orang serta lingkungan luar dalam konteks kesehatan.
A. Kecerdasan Majemuk (KM)/ Multiple Intelligence (MI)

Kegiatan peningkatan 10 kompetensi pada remaja dilakukan untuk pengembangan


Kecerdasan Majemuk remaja dalam mengembangkan keterampilan sosial,
sensomotorik kasar dan halus, membentuk konsep-konsep sederhana,
menggunakan bahasa untuk menjelaskan kenyataan fisik, emosi dan fakta sosial
untuk terus mengembangan rasa ingin tahu. Maka, pengembangan 10 kompetensi
remaja diarahkan pada Kecerdasan Majemuk (KM)/ Multiple Intelligence (MI, yaitu:

• Linguistic intelligence  kemampuan untuk berkomunikasi dengan bahasa


yang baik

• Logical mathematical intelligence  kemampuan melakukan ketelitian,


kecermatan serta berpikir sistimatis dan lain-lain.

• Visual spatial Intelligence  kemampuan membayangkan suatu hasil akhir,


berpikir sistimatis dan lain-lain

• Bodily_kinesthetic Intelligence  kemampuan menggunakan kelenturan tubuh


untuk mengatasi masalah, menghasilkan suatu produk baru.

• Musical Intelligence  kemampuan menciptakan lagu, mengerti & memahami


musik, menyanyi, dan menampilkan keindahan melalui suara.

• Interpersonal (social) intelligence  kemampuan bekerja sama dengan orang


lain secara efektif, kemampuan berempati & memahami orang lain.

• Intrapersonal Intelligence  kemampuan menganalisis diri sendiri,


menggunakan perasaannya, untuk membuat perencanaan & tujuannya.

• Natural Intelligence  kemampuan mengenali flora & fauna dan melihat


perbedaan & persamaan yang ada pada alam ini

• Spiritual Intelligence  kemampuan meyakini adanya Sang Pencipta dan


kemampuan untuk melakukan hubungan yang dekat dengan Nya melalui ibadah
–ibadah.

• Moral Intelligence  kemampuan memiliki nilai-nilai & norma yang ada di


masyarakat dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari

Contoh-contoh upaya penugasan untuk mengembangkan Kecerdasan Majemuk (KM)/


Multiple Intelligence (MI), antara lain:

• INTERPERSONAL : mengerjakan suatu tugas bersama teman-temannya


• INTRAPERSONAL : memberanikan remaja untuk tampil bicara atau presentasi di
depan orang lain
• NATURAL : menanam dan merawat tanaman
• MORAL : memainkan permainan yang memiliki aturan, seperti mencari jejak.
Untuk merangsang perkembangan Kecerdasan Majemuk (KM) pada remaja, antara lain
dibutuhkan kreativitas, kesesuaian dengan minat & kebutuhan remaja, serta mengenali
modalitas otak dan potensi otak remaja, juga diperlukan test inteligensia dengan tujuan
melihat kemampuan apa yang menonjol sehingga remaja dapat menerima
informasi/pelajaran dengan lebih mudah.

Strategi pembelajaran:

• Lakukan secara bertahap & konsisten, tunggu hingga remaja mulai menguasai.
Lebih baik sedikit namun teratur, daripada sekaligus banyak latihan. Bilamana perlu,
lakukan secara sistematis dan bertahap, dapat dilakukan dalam kelompok-kelompok
diskusi. Beri motivasi remaja agar terus belajar & berkarya. Pemberian hadiah ketika
saat remaja sudah menunjukkan tingkah laku yang diharapkan, dapat dianjurkan.
Namun demikian, untuk menghindari kebosanan, maka pemberian secara sistematik
dapat dilakukan.
• Perlu diingat kembali bahwa tidak ada satu aspek kecerdasan yang berdiri sendiri.
Pada dasarnya seluruh aspek berperan, namun ada satu aspek atau lebih yang
dominan
• Jangan ragu untuk mengulang atau melakukan pekerjaan yang bervariatif meskipun
tujuan kegiatan sama,

B. Kompetensi Psikososial meliputi 10 aspek :

1. Empati :
kemampuan untuk memposisikan perasaan orang lain pada diri sendiri, bahkan
untuk situasi yang tidak terbiasa bagi sekalipun. Empati dapat menolong kita
untuk bisa menerima satu terhadap lainnya, menolong, memberi
dorongan/semangat, dan hidup toleransi dengan sesama.

2. Kesadaran diri :
kemampuan untuk mengenal diri sendiri tentang karakter, kekuatan-kekuatan
dan kelemahan-kelemahannya, keinginan dan ketidakinginan. Hal ini
dikembangkan untuk membantu kita mengetahui bahwa kita berada dalam
keadaan stress atau merasa ada tekanan. Seringkali hal ini dipergunakan
sebagai prasyarat komunikasi yang efektif dan hubungan interpersonal, serta
berempati dengan orang lain.

3. Pemecahan masalah :
kemampuan yang memungkinkan kita dapat menyelesaikan permasalahan
secara konstruktif didalam kehidupan. Persoalan besar yang tidak terselesaikan
akan menyebabkan stress dan menimbulkan gangguan fisik.

4. Pengambilan keputusan :
suatu kemampuan yang dapat membantu kita untuk mengambil keputusan
secara konstruktif, dengan membandingkan pilihan alternatif dan efek samping.
5. Berfikir kreatif :
kemampuan untuk menggali alternatif yang ada dan berbagai konsekwensinya
dari apa yang kita lakukan atau tidak, dalam membuat keputusan atau
penyelesaian masalah.

6. Berfikir kritis :
kemampuan untuk menganalisis informasi dan pengalaman-pengalaman secara
objektif. Dengan berfikir kritis, dapat menolong kita untuk mengenal dan
memperkirakan faktor-faktor yang mempengaruhi sikap dan perilaku, antara lain
: tata nilai/norma, tekanan teman sebaya, dan media.

7. Komunikasi efektif :
kemampuan untuk mengekspresikan diri secara verbal maupun nonverbal yang
mengikuti budaya dan situasi. Dalam hali ini berarti, kemampuan untuk
mengeluarkan pendapat, keinginan, kebutuhan, ketakutan, dan juga untuk
meminta nasihat dan bantuan yang diperlukan.

8. Hubungan interpersonal :
kemampuan yang dapat menolong kita berinteraksi dengan sesama secara
positif. Hal ini menyangkut menjaga persahabatan yang harmonis, dan sangat
penting untuk memelihara kesehatan mental dan sosial bagi kita, dan juga
berarti mampu mengakhiri persahabatan dengan baik.

9. Mengatasi emosi :
kemampuan keterlibatan pengenalan emosi dalam diri sendiri dan orang lain,
sehingga menjadi sadar bagaimana emosi mempengaruhi tingkah laku, dan
dapat menjawab tantangan emosi secara tepat. Emosi yang timbul seperti
kemarahan, kesedihan dapat menimbulkan efek negatif jika tidak diatasi secata
tepat.

10. Mengatasi stress :


kemampuan pengenalan sumber-sumber yang menyebabkan stress dalam
kehidupan, bagaimana efeknya, dan cara mengontrol diri terhadap
derajat/tingkat stress. Ini berarti kita mengambil tindakan untuk mengurangi
sumber-sumber stress, seperti mengubah lingkungan fisik atau gaya hidup.
Dengan kata lain belajar bagaimana seharusnya santai, agar tekanan stress
hilang dan tidak menyebabkan gangguan kesehatan.

C. Metode Penyampaian Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS

Penyampaian Pendidikan Ketrampilan Hidup Sehat (PKHS) dimulai dengan melakukan


penilaian diri (self assessment) yaitu penilaian potensi modalitas untuk mengetahui
kekuatan dan kelemahan berdasarkan hasil modalitas belajar, antara lain : dominasi
otak, tipe belajar, gaya berpikir, kecenderungan kecerdasan dan perkembangan
pembelajaran. Penilaian potensi modalitas ini menggunakan instrumen berupa kuesioner
(lampiran 1).
Tahapan penerapan PKHS melalui 3 metode :
1. Placement test, melalui self assessment untuk mengetahui input profile
2. Pelatihan, yang terdiri dari pembekalan (be confident dan spiritual) dan
penyampaian.
3. Untuk kelangsungan penerapan PKHS, melalui FGD secara periodik
Dalam menyampaikan Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat (PKHS) dapat digunakan
kombinasi metode dari beberapa metode di bawah ini :
a. Metode Ceramah Tanya Jawab (CTJ)
Metode CTJ adalah penyampaian materi yang diiringi dengan tanya jawab.
b. Metode Diskusi
Metode Diskusi adalah penyampaian materi bersifat dua arah dari sumber kepada
penerima, dimana penerima dapat menyampaikan respons terhadap materi tersebut.
c. Metode Pemecahan Masalah
Metode Pemecahan Masalah adalah penyampaian materi dengan memberikan
contoh permasalahan kepada penerima dan diharapkan penerima dapat memahami
permasaalahan tersebut hingga akhirnya menghasilkan contoh pemecahan masalah.
d. Metode Demonstrasi
Metode Demonstrasi adalah penyampaian materi dengan mendemontrasikan materi
tersebut, dengan menggunakan alat bantu.
e. Metode Bermain Peran (role play)
Metode Bermain Peran adalah penyampaian materi melalui permainan dimana
peserta diajak bermain peran sehingga peserta memahami materi tersebut.
f. Metode Meta Plan (Country Fair)
Metode Meta plan adalah penyampaian materi dimana penerima diminta menuliskan
ide/jawaban dari pertanyaan yang berkaitan dengan materi pada kertas meta plan
dan akhinya mampu menyimpulkan materi yang diterima.

Semua metode diatas dapat disampaikan dalam bentuk permainan (lampiran 2)

Lampiran 1
Placement test
Lampiran 2:
Permainan 1
A. NAMA PEMBAHASAN MENCARI IDENTITAS/JATI DIRI SENDIRI
B. TUJUAN KEGIATAN Remaja
akan saling berbagi diantara mereka mengenai identitas dirinya.
C. INFORMASI UNTUK Seseorang yang merasa yakin dan merasa baik dengan dirinya
FASILITATOR akan mempunyai citra diri yang sehat, mengetahui bahwa ia
pantas untuk disayangi, yakin bahwa dia pintar dan berbakat. Ia
memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, memiliki keinginan
yang besar untuk mengetahui apa yang baik dan memiliki harapan
terhadap masa depan. Ia akan menjadi orang yang memiliki
integritas, sikap yang positif, dan tujuan hidup yang jelas. Ia akan
memiliki tingkat energi yang tinggi, antusias, cerdas, kompeten,
teguh dan kreatif, mempunyai kesadaran diri yang baik, seimbang,
tidak kaku, tepat waktu dan cermat.
Ia akan menjadi orang yang memiliki keyakinan yang kuat, orang
dengan daya juang yang tinggi, bijaksana, memiliki visi dan
menggunakan bakatnya secara efektif. Orang seperti ini akan
merasa damai, tenang dan gembira, patuh, setia, bertanggung
jawab, percaya dan optimis, teratur, konsisten, penuh perhatian,
dan dapat diandalkan. Ia tahu apa yang baik bagi dirinya dan akan
melaksanakannya.
• SASARAN Remaja, dengan jumlah peserta sebanyak 15-20 orang.
• METODE Diskusi interaktif
• WAKTU 15 Menit
• TEMPAT Dalam ruangan
D. PERLENGKAPAN Alat bantu
1. Slide proyektor/transparansi
2. Kertas plano, kertas metaplan 2 warna yang berbeda dan spidol
Selotip kertas
E. PROSES KEGIATAN Briefing (5 menit)
1. Fasilitator mengajak peserta berdiri dalam lingkaran untuk
sedikit berelaksasi dengan menggerakkan otot tubuh diringi
nyanyian pendek.
2. Fasilitator menjelaskan tentang judul dan tujuan belajar yang
ingin dicapai
Proses (10 menit)
• Mulailah kegiatan ini dengan menulis di papan tulis sebagai
berikut : “Saya akan mencari tahu tentang diri saya dan
kemudian saya akan menemukan identitas saya”.
• Mintalah peserta latih untuk menulis jawaban pertanyaan
berikut di kertas:
 Bagaimana perasaanmu sebagai anak perempuan atau laki-
laki?
 Bagaimana perasaanmu terhadap umur kamu?
 Bagaimana perasaanmu mengenai agama yang kamu anut
dan status sosialmu?
 Bagaimana perasaanmu kalau kamu cacat atau bila kamu
tidak cacat?
 Bagaimana perasaanmu bersekolah disini?
 Bagaimana perasaanmu menjadi bagian dalam keluarga?
 Bagaimana perasaanmu menjadi bagian dari masyarakat?
• Sekarang mintalah mereka satu persatu untuk maju ke depan
dan membacakan semua yang telah ditulis mengenai dirinya.
• Mintalah setiap peserta latih satu persatu untuk saling berbagi
di depan kelas mengenai reaksi terhadap pertanyaan yang
diberikan dan sejauh mana kesan pelatihan ini bagi mereka.
• Bagikan lembar kegiatan “Apakah kamu menyukai dirimu?”
dan minta mereka bekerja sendiri-sendiri dan menilai dirinya
serta seberapa jauh mereka menyenangi dirinya.
• Katakan kepada peserta latih untuk memilih jawaban yang
sesuai yang ada di lembar kegiatan dan minta mereka untuk
memberikan nilai yang tepat untuk setiap jawaban.
F. PENILAIAN Ukuran
Ada proses pemahaman identitas/ jati diri masing-masing dan
menerima keadaan ini denganpenuh kepercayaan
Cara
Fasilitator dapat mengamati cara peserta memberikan
respon/pendapatnya mengenai paparan lingkungan yang dapat
mempengaruhi mereka dan cara mengatasinya
G. KEMUNGKINAN Reaksi terhadap diri mereka
REAKSI
• Saya bangga menjadi anak perempuan.
• Saya anak tertua berusia 13 tahun. Saya merasa nyaman.
• Saya bangga terhadap agama saya; mengajarkan saya
mengenai persaudaraan.
• Tubuh saya sempurna, saya bersyukur kepada Tuhan.

Bagaimana kesan mereka terhadap kegiatan ini?

• Saya merasa nyaman setelah kegiatan ini.


• Saya merasa senang terhadap diri saya sendiri.
• Saya merasa bangga terhadap diri saya sendiri.
H. PENEGASAN Katakan kepada peserta latih bahwa mereka telah berbagi rasa
mengenai perasaan mereka masing-masing menjadi seorang
anak laki-laki atau anak perempuan, atau lahir di tengah
keluarganya, agama, tingkat sosialnya.

Beritahukan kepada para peserta latih bahwa mereka telah


berbagi beberapa hal yang membuat mereka bangga diantara
mereka sendiri.
Permainan 2
A. NAMA PEMBAHASAN MENUMBUHKAN RASA SENANG TERHADAP DIRI SENDIRI

B. TUJUAN KEGIATAN Peserta latih akan mampu mengenali potensi-potensi yang ada dalam
diri dan menggunakan potensi tersebut untuk mencapai rasa percaya
diri.

Peserta latih akan menelusuri potensi yang mereka punyai yang dapat
menolong mereka untuk meningkatkan rasa percaya diri.

C. INFORMASI UNTUK Harga diri dapat didefinisikan sebagai suatu kesadaran, persepsi kognitif,
dan evaluasi yang dilakukan oleh individu mengenai dirinya sendiri.
FASILITATOR
Keadaan ini merupakan suatu pikiran dan pendapat mengenai dirinya
sendiri. Dengan cara seperti ini ditunjukkan bahwa individu tersebut dapat
menerima dirinya secara konsisten. Selain itu, juga mengembangkan
kesadaran mengenai apa dan siapa dirinya.

Harga diri menggambarkan apa yang dilihat oleh seseorang terhadap


dirinya sendiri dalam konteks karakteristik fisik, keterampilan pribadi, ciri-
ciri, peran-peran, kemampuan kognitif dan status sosialnya.

Rasa percaya diri dipengaruhi oleh kemampuan yang nyata, pencapaian


dan penghargaan dari orang lain, yang dapat digolongkan pada 2
kategori:

• Keinginan untuk mencapai kekuatan, keberhasilan, kepercayaan diri


dalam menghadapi lingkungan dan keinginan untuk berdiri sendiri
• Keinginan untuk mencapai prestise, penghargaan dan kepercayaan
dari orang lain.
5. SASARAN Remaja, dengan jumlah peserta sebanyak 15-20 orang.
6. METODE Diskusi interaktif
7. WAKTU 15 Menit
8. TEMPAT Dalam ruangan
9. PERLENGKAPAN Alat bantu
• LCD/ Slide/transparansi
• Kertas plano, kertas metaplan 2 warna yang berbeda dan spidol
warna emas/ kunig
• Selotip kertas
D. PROSES KEGIATAN Briefing (5 menit)
1. Fasilitator mengajak peserta berdiri dalam lingkaran untuk
sedikit berelaksasi dengan menggerakkan otot tubuh diringi
nyanyian pendek.
2. Fasilitator menjelaskan tentang judul dan tujuan belajar yang
ingin dicapai
Proses (10 menit)
1. Minta peserta latih berpikir mengenai beberapa hal yang positif
dalam dirinya, yang membuat mereka merasa bangga.
Sebagai contoh: bentuk fisik, perilaku, sikap atau bakat.
2. Minta mereka untuk mengambil selembar kertas dan
menggambar dua bintang, warna emas/kuning untuk 2 hal yang
luar biasa yang sangat mereka banggakan tersebut dan tuliskan
hal yang dibanggakan tersebut beserta alasannya (pertanyaan
1)
3. Minta peserta latih berpikir tentang 2 hal yang mereka
banggakan terhadap prestasi diri dan peran orang tua dan
gambarkan dengan 2 bintang berwarna biru serta tuliskan hal
tersebut (pertanyaan 2)
4. Sekarang para peserta latih dibagi berpasangan dan saling
berbagi diantara mereka tentang jawaban pertanyaan 1 dan
pertanyaan 2.
5. Sekarang setiap peserta latih diminta membacakan hasil
jawaban pertanyaan 1 dan pertanyaan 2 dari pasangannya, dan
memberikan alasan mengapa pasangannya memberikan
bintang emas/kuning dan bintang biru.
6. Minta setiap peserta latih untuk berbagi dengan seluruh kelas
tentang kelebihan yang mereka punyai. Dorong peserta latih
untuk maju ke depan dan mendemonstrasikan kelebihannya.
7. Upayakan semua peserta latih bertepuk tangan untuk setiap
penampilan peserta latih.
3. PENILAIAN Ukuran
Ada proses pemahaman potesi masing-masing yang harus disadai
peserta dan menjadi bekal untuk menghadapi perjalanan menuju
masa depan.
Cara
Fasilitator dapat mengamati cara mereka bediskusi terutama
bagaimana mereka menerima dan mengembangkan potensi diri
yang positif
4. KEMUNGKINAN Pertanyaan 1:
REAKSI
• Saya sangat bangga akan mata saya.
• Saya memiliki suara yang indah.

Pertanyaan 2:
• Saya merasa bangga memiliki orang tua yang mendukung dan
memperhatikan saya.
• Saya merasa bangga menjadi orang yang pandai di dalam kelas.

Pertanyaan 1 dan 2 (alasan):

• Saya memberikan bintang emas untuk mata saya karena setiap


orang sangat mengaguminya, sehingga saya merasa sangat
bangga karenanya.
• Saya menaruh bintang biru atas kebiasaan saya yang baik yaitu
menyayangi kakek dan nenek saya.
• Saya menaruh bintang biru atas kebaikan saya di dalam kelas.
Setiap orang di kelas menyukai saya.
• Teman saya Neneng merasa bangga memiliki mata yang indah
karena setiap orang mengatakan bahwa dia memiliki mata yang
indah.
• Teman saya Agus mendapatkan bintang emas atas kebiasaannya
menyediakan waktu untuk kakek dan neneknya, sebagaimana
nenek dan kakeknya bangga terhadap dirinya dan dia juga
bangga terhadap mereka.

5. PENEGASAN Beritahukan kepada para peserta latih bahwa mereka telah berbagi
beberapa hal yang membuat mereka bangga.
Permainan 3
I. NAMA PEMBAHASAN PENTINGNYA PKHS DALAM MENGHADAPI KEHIDUPAN
J. TUJUAN UMUM Untuk mempermudah remaja dalam memahami Kompetensi
Psikososial Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat.
K. TUJUAN KHUSUS 1. Meningkatkan pengetahuan peserta latih tentang berbagai
paparan lingkungan yang dapat mempengaruhi kesehatan dan
kesejahteraan remaja saat ini dan di masa depan.
2. Meningkatkan keterampilan untuk mengatasi pengaruh
lingkungan dan membantu teman sebaya melalui 10
kompetensi psikososial.
L. SASARAN Remaja, dengan jumlah peserta sebanyak 15-20 orang.
M. METODE Diskusi interaktif
N. WAKTU 16 Menit
O. TEMPAT Dalam ruangan
P. PERLENGKAPAN Alat bantu
3. Slide proyektor/transparansi
4. Kertas plano, kertas metaplan 2 warna yang berbeda dan spidol
5. Selotip kertas.
Q. PROSES KEGIATAN Briefing (5 menit)
3. Fasilitator mengajak peserta berdiri dalam lingkaran untuk
sedikit berelaksasi dengan menggerakkan otot tubuh diringi
nyanyian pendek.
4. Fasilitator menjelaskan tentang judul dan tujuan belajar yang
ingin dicapai
Proses (10 menit)
1. Sesi dimulai dari uraian singkat fasilitator:
Galilah pendapat peserta terhadap gambar dibawah ini
B

Tampung dan berikan penjelasan terhadap gambar sebagai


berikut: Tiap orang tentu punya tujuan hidup. Kamu sekarang
ada di A. Tujuan hidupmu kelak supaya dapat mencapai B.
Coba sekarang kita sebutkan tujuan atau harapanmu, B itu apa
? ada yang menjawab: jadi orang kaya, pintar, bahagia,
membina rumah tangga yang baik…dst.
Fasilitator menjelaskan:
Jalan panjang berliku sepanjang A sampai B.
Kadang menyempit, kadang ada halangan berupa batu,
berlobang, becek, banjir, macet berebut jalan, dsb. Dalam
menjalani jalan sepanjang hidupmu mencapai tujuan B itu tidak
berjalan sendiri. Banyak orang lain; orangtuamu, tetangga,
teman sekolah, teman sekampung, guru, dan lingkunganmu
(berupa peraturan, fasilitas: kesempatan, pembelajaran,
hiburan, olahraga, media, dll) Semua itu mempengaruhi
jalanmu baik mendukung atau menjegal. Kamu perlu
keterampilan dalam keseharian sepanjang hidupmu,
menyempurnakan hubungan dengan teman , keluarga dan
orang lain dan menanggulangi hambatan yang ada. agar
dapat meraih kesempatan dan mengurangi faktor risiko dan
meningkatkan faktor pelindung sehingga dapat mencapai B
dengan lebih maksimal, tujuan hidupmu, mempertahankan
atau meningkatkannya. Keterampilan itu berupa keterampilan
psikososial (bukan keterampilan kerja dan sejenisnya). Yang
disebut keterampilan hidup (Life Skills) dan dalam kaitannya
dengan kesehatan (fisik, psikososial) disebut Keterampilan
Hidup Sehat.

2. Fasilitator meminta peserta untuk membayangkan jalan yang


akan mereka lalui itu dan menuliskannya secara singkat
keterampilan yang dibutuhkan, satu keterampilan dalam satu
kartu, semua menulis pada kartu yang disediakan , kadang ada
peserta yang meminta lebih dari satu, lalu fasilitator meminta
peserta untuk menempelkannya di dinding. Fasilitator
kemudian menyebutkan satu demi satu dan
menggolongkannya , mengajak peserta memikirkan nama
untuk penggolongannya dan menambahkan yang belum
tersebut untuk mendapatkan 10 keterampilan psikososial
dalam Life Skills Education yaitu: Pengambilan keputusan ,
pemecahan masalah, berpikir kritis dan berpikir kreatif,
keterampilan komunikasi efektif, Hubungan interpersonal ,
kesadaran diri, empati, mengendalikan emosi dan mengatasi
stres
3. Selanjutnya peserta latih dalam kelas dibagi menjadi dua
kelompok yaitu kelompok paparan lingkungan positif dan
paparan lingkungan negatif. Yang positif ditulis pada kertas
meta plan biru dan yang negatif di kerta metaplan merah
muda.
4. Kemudian peserta latih dipersilahkan menempel kertas meta
plan yang telah terisi tulisan ke dua kertas plano (merah muda
dan biru) yang terpampang pada dinding kelas.
5. Fasilitator membahas semua interaksi antar positif dan negatif
yang ditulis peserta latih. Selanjutnya meyakinkan peserta latih
untuk dapat meminimalkan yang negatif dan memaksimalkan
yang positif.

Debriefing
• Fasilitator menanyakan apa yang dirasakan dan dialami
peserta selama mengikuti diskusi.
• Fasilitator menanyakan manfaat yang didapat dari diskusi
tersebut
• Fasilitator menyimpulkan bahwa peserta harus mampu
menerapkan 10 kompetensi psikososial dalam menghadapi
kehidupan.
• Kegiatan diakhiri dengan berdoa
R. PENILAIAN Ukuran
Ada proses pemahaman kompetensi psikososial, yang meliputi 10
aspek kompetensi psikososial.
Cara
Fasilitator dapat mengamati cara peserta memberikan
respon/pendapatnya mengenai paparan lingkungan yang dapat
mempengaruhi mereka dan cara mengatasinya.
Permainan 4

A. PENGARUH IKLAN
B. TUJUAN UMUM Untuk mempermudah remaja dalam memahami Kompetensi
Psikososial Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat.
C. TUJUAN KHUSUS Untuk meningkatkan kepekaan, kemampuan dan keterampilan
10 komptensi psikososial dalam mengatasi pengaruh
negatif/faktor risiko.
D. SASARAN Remaja, dengan jumlah peserta sebanyak 15-20 orang.
E. METODE Diskusi interaktif
F. WAKTU 16 Menit
G. TEMPAT Dalam ruangan
H. PERLENGKAPAN Alat bantu
• LCD/ Slide/transparansi
• Selembar iklan yang sedang aktual
I. PROSES KEGIATAN Briefing (5 menit)
• Fasilitator membuka kegiatan dengan memperkenalkan diri,
serta berdoa sebelum kegiatan dimulai.
• Fasilitator menjelaskan bahwa ”Setiap kehidupan selalu
mengandung risiko. Demikian pula terjadi pada individu yang
sedang menjalani kehidupan. Risiko yang terjadi mulai dari
yang ringan hingga kepada yang berat, dan dapat berasal dari
iklan-iklan dalam tayangan media TV atan majalah/koran”.
Proses (10 menit)
1. Fasilitator memperlihatkan contoh-contoh iklan yang berisiko
terhadap perilaku remaja.
2. Fasilitator membagi peserta menjadi 3-4 kelompok dan
menugaskan masing-masing kelompok untuk mendiskusikan
satu contoh iklan.
3. Fasilitator memperlihatkan contoh-contoh iklan yang berisiko
terhadap perilaku remaja
4. Fasilitator membagi peserta menjadi 3-4 kelompok dan
menugaskan masing-masing kelompok untuk mendiskusikan
satu contoh iklan.

Iklan 1 Iklan 2

Iklan 3 Iklan 4

5. Masing-masing kelompok menyampaikan hasil diskusinya


tentang iklan dan mengajak peserta dari kelompok lain
memberikan pendapat tentang iklan tersebut.
Debriefing
• Fasilitator menanyakan apa yang dirasakan dan dialami
peserta selama mengikuti diskusi.
• Fasilitator menanyakan manfaat yang didapat dari diskusi
tersebut
• Fasilitator menyimpulkan bahwa peserta harus mampu
menerapkan 10 kompetensi psikososial dalam menghadapi
pengaruh iklan.
• Kegiatan diakhiri dengan berdoa.
J. PENILAIAN Ukuran
Ada proses pemahaman kompetensi psikososial, yang meliputi
10 aspek kompetensi psikososial.
Cara
Fasilitator dapat mengamati cara mereka memberikan
respon/pendapatnya mengenai tayangan iklan-iklan dan cara
mereka mengatasi pengaruh iklan tersebut.
Permainan 5

A. NAMA SKENARIO SAY NO TO……….. (SEX)


B. TUJUAN UMUM Untuk mempermudah remaja dalam memahami Kompetensi
Psikososial Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat.
C. TUJUAN KHUSUS Meningkatkan kemampuan peserta latih untuk menolak tekanan
atau ajakan yang merugikan (Say no to… Sex).
D. SASARAN Remaja, dengan jumlah peserta sebanyak 15-20 orang.
E. METODE Role Play
F. WAKTU 30 Menit
G. TEMPAT Dalam ruangan atau luar ruangan
H. PERLENGKAPAN Alat bantu
• Slide/transparansi
• Skenario bermain peran
I. PROSES KEGIATAN Briefing (5 menit)
• Fasilitator membuka kegiatan dengan memperkenalkan diri,
serta berdoa sebelum kegiatan dimulai.
• Fasilitator menjelaskan tentang judul dan tujuan belajar yang
ingin dicapai
Proses (15 menit)
1. Fasilitator meminta 3 peserta untuk menjadi sukarelawan yang
berperan sebagai :
a. Remaja perempuan yang dipaksa
b. Remaja laki-laki yang memaksa
c. Pengamat.
2. Kemudian fasilitator memberikan skenario yang akan
dimainkan, misalnya kasus di bawah ini :
a. ”Ayu seorang remaja baru saja mendapatkan pacar baru, si
Prasetya namanya. Prasetya adalah pemain basket yang
tampan, populer dan menjadi idola remaja. Suatu hari
Prasetya yang sedang berpacaran dengan Ayu, meminta
atau mengajak Ayu untuk melakukan hubungan intim. Ayu
merasa bingung, dan sangat khwatir karena bila ia menolak
permintaan pacarnya itu, mungkin Prasetya akan
meninggalkan dirinya. Kemudian perankan bagaimana Ayu
menolak ajakan pacarnya dan menjelaskan bahwa
mencintai tidak dengan melakukan hubungan intim”.
3. Kemudian fasilitator meminta pengamat untuk menjelaskan
hasil pengamatannya dan peserta lain memberikan komentar.

Debriefing (10 menit)

• Fasilitator meminta peserta untuk bergabung menjadi satu


kelompok besar.
• Fasilitator menanyakan apa yang dirasakan dalam
memerankan peran masing-masing. Peserta bebas
menyampaikan perasaannya.
• Fasilitator kemudian menyimpulkan bahwa dibutuhkan
keterampilan 10 kompetensi psikososial untuk menghadapi
tekanan lingkungan.
J. PENILAIAN Ukuran
Ada proses pemahaman kompetensi psikososial, yang meliputi 10
aspek kompetensi psikososial.
Cara
Fasilitator dapat mengamati cara mereka bermain peran terutama
bagaimana mereka menolak ajakan temannya yang negatif.
Permainan 6

A. NAMA SKENARIO SAY NO TO………(NAPZA)


B. TUJUAN UMUM Untuk mempermudah remaja dalam memahami Kompetensi
Psikososial Pendidikan Keterampilan Hidup Sehat.
C. TUJUAN KHUSUS Meningkatkan kemampuan peserta latih untuk menolak
tekananatau ajakan yang merugikan (Say no to….(NAPZA)
D. SASARAN Remaja, dengan jumlah peserta sebanyak 15-20 orang.
E. METODE Role Play
F. WAKTU 30 Menit
G. TEMPAT Dalam ruangan atau luar ruangan
H. PERLENGKAPAN Alat bantu
• Slide/transparansi
• Skenario bermain peran.
I. PROSES KEGIATAN Briefing (5 menit)
• Fasilitator membuka kegiatan dengan memperkenalkan diri,
serta berdoa sebelum kegiatan dimulai.
• Fasilitator menjelaskan tentang judul dan tujuan belajar yang
ingin dicapai
Proses (15 menit)
1. Fasilitator meminta peserta untuk menjadi :
a. Berperan sebagai orang yang dibujuk (1 orang)
b. Sisa peserta dibagi menjadi 2 kelompok :
- 1 kelompok sebagaai pembujuk
- 1 kelompok sebagai pengamat
2. Kemudian fasilitator memberikan skenario yang akan
dimainkan, misalnya di bawah ini :
”Iwan adalah seorang remaja yang sedang dirundung masalah
yang berkaitan dengan prestasi belajar. Pada suatu hari
Siswan berjalan –jalan bertemu dengan sekelompok teman-
teman remaja yang menggerombol yang sedang merokok dan
minum-minum minuman keras. Kemudian sekelompok teman-
temannya tersebut mengajak dan membujuk Iwan untuk
bergabung. Kemudian perankan bagaimana Iwan menolak
ajakan teman-temannya”.
3. Kemudian fasilitator meminta pengamat untuk menjelaskan
hasil pengamatannya dan peserta lain memberikan komentar.
4. Fasilitator kemudian merangkum dan menyimpulkan
keterampilan yang dibutuhkan dalam peristiwa tersebut.
5. Peran ini lalu ditukar hingga semua mendapat giliran
memerankan yang berbeda

Debriefing (10 menit)


• Fasilitator meminta peserta untuk bergabung menjadi satu
kelompok besar.
• Fasilitator menanyakan apa yang dirasakan dalam
memerankan peran masing-masing. Peserta bebas
menyampaikan perasaannya.
• mengingatkan kembali keterampilan yang harus dimiliki
seseorang dalam menjalani keseharian kehidupannya
J. PENILAIAN Ukuran
Ada proses pemahaman kompetensi psikososial, yang meliputi 10
aspek kompetensi psikososial.
Cara
Fasilitator dapat mengamati cara mereka bermain peran terutama
bagaimana mereka menolak ajakan temannya yang negatif.
MATERI TAMBAHAN UNTUK PRAMUKA PENEGAK DAN PANDEGA

1. Cara bantu teman sebaya


Gangguan fisik seperti yang di uraikan pada butir 6 tidak perlu terjadi dan dapat
dicegah. Upaya yang harus dilakukan adalah dengan menjadi ‘sahabat’ bagi
remaja dan mendampingi remaja agar dapat memasuki masa remaja dengan
sehat sehingga menciptakan calon penerus generasi yang berkualitas. Upaya
yang harus dilakukan, adalah:

Strategi yang harus dilakukan adalah:


Menjadi perpanjangan tangan tenaga kesehatan menjadi “konselor sebaya”
sebagai agen pengubah di dalam kelompok sebayanya sehingga sebagai
sumber informasi kesehatan, menemukan kasus secara dini, membantu
memberikan alternatif penyelesaian dan merujuk masalah yang tidak dapat
diatasi ke petugas kesehatan. Kegiatan “konselor sebaya” sebagai berikut:
a. Memberi informasi dan membangkitkan pengertian remaja tentang cara –
cara mencegah gangguan fisk, terutama yang di jelaskan pada butir 6.
Dalam hal ini peranan penegak/pandega adalah menghubungi pimpinan
puskesmas atau orang lain yang berkompoten untuk memberi ceramah atau
mengadakan tukar pendapat dengan kelompok remaja tentang ganguan fisik
pada remaja dan langkah-langkah pencegahnnya.
b. Mengajak para remaja mengumpulkan informasi mengenai berbagai masalah
kesehatan di lingkungannya, agar mereka menjadi peka tehadap
permasalahan kesehatan dilingkungan nya, kegiatan yang bisa jijalankan
antara lain suatu penilaian sederhana; informasi yang dikumpulkan bisa
menjadi bahan dasar/masukan untuk ceramah, diskusi atau tukar pendapat
tersebut pada butir a.
c. Mengisi waktu luang dengan kegiatan agar dapat dibangkitkan rasa
tanggung jawab dalam membina kesehatan. Kegiatan yang dapat dijalankan
misalnya dalam Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), membina lingkungan
desa bersih, mengatur tata tertib lalu lintas di desa, dan sebagainya. Kegiatan
demikian ini fungsinya juga sebagai media untuk mempercepat terbentuknya
kembali citra diri remaja

Hal-hal lain yang perlu diingat


1) Perubahan psikologis remaja
Perubahan psikologis ditandai dengan perkembangan pada cara berfikir dan cara
bertindak. Pada masa kanak-kanak setiap informasi diterimanya begitu saja,
sekarang ia menjadi lebih kritis, sehingga orang tua mengeluh bahwa anak
remajanya mulai pandai membantah.
Pada remaja terdapat perasaan yang tidak menentu: di satu pihak ia ingin berdiri
sendiri dengan identitasnya sendiri, tetapi di lain pihak ia ingin sekali dilindungi
dan bergantung pada orang dewasa. Ini seringkali menimbulkan konflik dalam
dirinya. Ia merasa diombang-ambingkan, karena ia tidak pantas lagi untuk
berkelakuan seperti anak-anak. Tetapi remaja belum diberi hak dan kesempatan
seperti orang dewasa. Pada dirinya sering timbul pertanyaan “siapa aku”apa
aku ini”apa jadinya aku nanti”; semuanya ini merupakan cerminan dari problema
identitas diri. Remaja sangat sensitif dan sangat sadar terhadap segala
kegagalan, yang mungkin ia lakukan, sehingga ia menjadi mudah tersinggung,
mudah marah dan cenderung meledak-ledak. Remaja menjadi ingin tahu lebih
banyak dan kalau memungkinkan iapun ingin mencoba melakukan eksperimen.
Oleh karena itu kesempatan untuk keluar dari lingkungan rumah memungkinkan
ia menemukan hal baru yang sebelumnya sama sekali tertutup baginya.
Exsperimentasi selalu disertai dengan bahaya dn tanggungjawab. Ia tertarik
pada hal-hal ekstrim yang oposisionalnya (bertentangan) terutama yang dicela
atau ditentang oleh orang tua, menjadi inti dari eksperimen mengenai dirinya. Ia
seolah-olah ingin membuktikan dirinya dan melihat anggapan orang mengenai
dirinya.

2) Remaja sebagai penerus generasi bangsa.


Remaja harus dapat menempatkan dirinya sebagai calon penerus generasi
bangsa. Untuk itu ia harus mampu “ merencanakan masa depannya “, misalnya:
• Ingin jadi apa aku nanti
• Kapan akau akan berumah tangga/menikah
• Beberapa anak yang aku inginkan
• Bagaimana tipe pasanganku nanti
Maka remaja perlu mengetahui tentang:
a. Masalah kependudukan
Masalah kependudukan adalah masalah yang sangat penting bagi semua
Negara, karena seluruh program pembangunan Negara didasarkan atas
kenyataan kependudukan dari suatu bangsa. Aspek kependudukan yang
sangat penting adalah :
1). Jumlah besarnya penduduk
2). Jumlah penduduk pertumbuhan penduduk,
3). Jumlah kematian penduduk
4). Jumlah kelahiran penduduk
5). Jumlah perpindahan penduduk
Pertumbuhan penduduk yang tinggi dan tidak seimbang dengan
pertumbuhan ekonomi akan membawa beban yang berat bagi sarana
kehidupan seperti pangan, perumahan, pendidikan, lapangan kerja,
kesehatan dan kebutuhan pokok lainnya.

b. Masalah kependudukan dan hubungannya dengan remaja


1). Masalah tingkat penambahan penduduk.
Indonesia adalah negara dengan tingkat pertambahan penduduk yang cukup
tinggi. Angka pertambahan yang tinggi disebabkan oleh dua hal:
a). Angka kelahiran yang tinggi
b). Angka kematian yang cenderung menurun
Dilihat dari pengelompokan penduduk menurut umur, kelompok terbesar
adalah penduduk usia remaja yaitu sekitar 20% dari jumlah populasi
penduduk. Kelompok remaja kelak akan berkeluarga dan akan tergolong
kelompok produktif. Karenanya adalah sangat penting bahwa remaja sadar
akan peranannya dalam membatasi pertambahan penduduk.

2) Masalah Urbanisasi
Urbanisasi (berasal dari kata “Urban” yang artiya kota) adalah berpindahnya
penduduk dari desa ke kota.
Akibat negatif untuk kota:
a). meningkatnya jumlah pengangguran
b). Demoralisasi
c). Meningkatnya ketegangan social
d). Timbulnya daerah pemukman yang tidak sehat.
Akibat negatif desa:
a). Pengolahan lahan yang terbengkelai
b). Desa tidak berkembang
c). Berkembangnya modal desa
d). Tenaga Kerja yang kurang.

Dalam mengatasi masalah Urbanisasi ini perlu diadakan upaya komunikasi,


informasi dan motivasi (KIM), khususnya pada remaja di pedesaan agar
mereka dapat memanfaatkan keterampilan dan sumber alam di desanya
untuk meningkatkan taraf hidupnya.

3) Gangguan mental (sosialisasi) pada remaja


Istilah lain untuk gangguan mental (sosialisasi) adalah gangguan
kepribadian. Kepribadian adalah gabungan dari segala sifat dan perilaku
seseorang yang memberi ciri khas, menentukan sikap dan daya penyesuaian
seseorang terhadap lingkungannya.
a. Gangguan kepribadian.
Gangguan kepribadian merupakan suatu keadaan yang lebih mudah
dirasakan daripada dilukiskan dengan kata-kata atau didefinisasikan pada
orang-orang yang kita jumpai di sekitar kita.
Pada dasarnya seorang dengan gangguan kepribadian menunjukkan sifat
dan sikap yang dimulai sejak kecil dan relatif menetap, antara lain :
1) Orang yang seolah-olah tidak dapat belajar dari pengalaman hidupnya.
2) Orang yang tidak merasa berdosa walaupun berbuat sesuatu yang
menurut ukuran orang lain di masyarakatnya suatu perbuatan yang
sangat tercela.
3) Orang yang melakukan tindakan kekerasan tanpa merasa menyesal
atau iba kepada orang yang menderita.
4) Orang yang tidak mampu mengendalikan diri sehingga sering terjadi
ledakan amarah yang tidak terkendali pada saat kejadian itu.
5). Orang yang bertingkah laku demikian rupa sehingga selalu menarik
perhatian orang lain. Bila ada seorang remaja sejak kecil menunjukkan
sifat yang bandel, sering melakukan tindakan yangmelanggar
peraturan dan perintah orang tuanya walaupun telah diperingatkan
berulangt-ulang dan dihukum, ai mungkin menunjukkan kondisi
permulaan dari suatu gangguan kepribadian.

b. Perubahan psikososial pada remaja


Hubungan psikososial adalah hubungan seorang dengan orang lain dalam
lingkungannya.
1) Hubungan dengan orang tua.
• Pada tahap awal remaja masih tergantung pada orang tua tetapi ia
mulai melihat orang tua sebagai manusia biasa (ingat selama masih
masa anak, orang tua merupakan tokoh ideal).
• Pada tahap kedua, remaja berjuang untuk bebas merdeka, ingin
membuktikan kepada orang tua bahwa ia dapat mandiri.
• Pada tahap ketiga, perjuangan untuk mandiri dapat diselesaikan
dengan si remaja mencapai citra diri orang dewasa dan orang tua
menjadi teman. Pada tahap ini, perjuangan untuk mandiri dapat
diselesaikan dengan si remaja mencapai citra dan orang tua menjadi
teman.

Adanya konflik antara orang tua dan remaja terutama adalah karena
orang tua cenderung membandingkan masalah generasi muda pada
saat ini dengan masalah generasi muda pada masa di mana orang
tua itu sendiri menjadi remaja.
2) Hubungan dengan teman sebaya
Peranan orang tua sebagai sumber perlindungan dan sumber nilai
utama diganti oleh kelompok teman sebaya.
3) Hubungan teman lawan jenis
Dengan matangnya kelenjar-kelenjar seks, sesuatu kekuatan faali
(fisiologis) baru menggerakan pendekatan antara remaja putra dan
remaja putri. Secara umum, hubungan teman lawan jenis akan
mempengaruhi citra diri remaja.
4) “Berpacaran” meminta penyesuaian diri remaja pada norma-norma
sosial baru.Remaja putra diharapkan lebih memainkan peran
maskulinnya dengan si pengambil inisiatif dan memegang tanggung
jawab besar, sedangkan remaja putri harus juga memainkan peran
feminimnya dengan lebih tegas.

2. Mengenali remaja dengan kelainan (gangguan) mental atau kepribadian


Pengendalian dapat dilakukan pada dua tahap yang penting
1) Pengendalian diri pada masa kanak-kanak (masa praremaja) dengan tanda-
tanda :
• Anak tidak dapat mengadakan hubungan emosional yang hangat.
• Anak tidak dapat bergaul secara akrab dengan teman sebaya.
• Sejak kecil anak itu kejam terhadap hewan peliharaan.
• Anak menyediri.
• Anak tidak saying terhadap saudara, bahkan sering memukulnya.
• Anak mengadat hebat (temper tantrums) untuk mendapat sesuatu yang
diinginkannya.
• Perkembangan kemampuan bahasa yang kurang baik.
• Prestasi sekolah yang kurang baik.
2) Pengenalan pada remaja
Agak sukar mengenali gangguan kepribadian pada masa remaja karena
biasanya remaja sudah bisa menutupnya.
Beberapa pegangan untuk mengenalnya adalah :
• Remaja yang terganggu kepribadiannya tidak selalu mempunyai
tampang kriminal, sering mereka berwajah tampan.
• Waspadalah pada remaja yang pandai berbicara atau omong kosong.
• Remaja yang mudah meledak amarahnya tanpa sebab yang wajar.
• Remaja yang tidak dapat hidup dengan tertib.
• Remaja yang peminum atau pemabuk.
3. Perilaku berisiko remaja
Kondisi remaja ini tidak selalu merupakan gangguan Kepribadian. Perilaku
berisiko remaja dapat merupakan satu tahap dalam perkembangan
kepribadian remaja. Setelah umur tertentu remaja sudah dapat melewatkan
masa transisinya dan akan menjadi remaja atau orang dewasa yang
brtanggungjawabl.
Tetapi perilaku berisiko yang cenderung pada suatu tindakan kriminalitas
dapat juga merupakan permulaan dari suatu rangkaian yang panjang dari
gangguan kepribadian pada seseorang yang sepanjang hidupnya memang
bersifat nakal dan jahat.

4. Mengenali remaja dengan gangguan (masalah) kesehatan repdoduksi


Akibat proses pematangan fisik dan hormonalnya, maka pada remaja timbul
dorongan (gairah) seksual yang normal.
Apabila dorongan gairah ini tidak disalurkan pada kegiatan yang positif seperti
olah raga, kesenian atau lainnya, maka akan disalurkan pada hal yang
berisiko pada kesehatannya, seperti:
• Kehamilan yang tidak diinginkan, beserta risiko-risiko seperti kehamilan
usia muda yang berakibat komplikasi kehamilan/persalinan yang
menyebabkan kematian ibu dan bayi, putus sekolah bahkan dapat terjadi
pengguguran kandungan (abortus kriminalis).
• Penyakit menular akibat hubungan seksual, misalnya GO, sipilis, herpers
dan AIDS. Penyakit ini dapat menyebabkan kemandulan, keguguran
bahkan kecacatan janin yang dikandung.

5. Mengenali remaja yang penyalahguna obat atau zat (termasuk


narkotika)
Caranya adalah dengan mengawasi remaja dan mengenai perubahan yang
terjadi antara lain:
• Wajah dan penampilan
• Kebiasaan remaja
• Kelakuan pergaulannya
• Prestasi sekolah

Perubahan yang dapat terjadi antara lain :


• BIASANYA bahagia, suka bergaul, suka bercakap-cakap MENJADI amat
pendiam dan emosi berubah-ubah.
• BIASANYA aktif, sehat dan giat/gesit MENJADI lamban seperti sakit-
sakitan, loyo, kumal.
• BIASANYA percaya diri, tenang, penyabar MENJADI seperti tertekan,
ragu-ragu, kecewa.
• BIASANYA suka menolong, penuh perhatian dan percaya diri. MENJADI
memikirkan diri sendiri, sembrono, tidak bisa diandalkan.
• BIASANYA suka memperhatikan, bersemangat tinggi, MENJADI tidak
mempunyai minat apapun, tertekan dan acuh tak acuh.
• BIASANYA terbuka dan percaya MENJADI tertutup dan penuh curiga.
• BIASANYA berjiwa cerah, bercita-cita, yakin akan hari depannya
MENJADI berjiwa khawatir, takut akan hari depan, tidak bercita-cita.

Mencegah terjadinya penyalahguna obat atau zat (termasuk narkotika). Ada


beberapa macam:
1) Pengenalan diri yaitu mengenal remaja yang tergolong resiko
2) Memberi penyuluhan.
3) Memperhatikan penampilan dan perilaku teman sebaya lalu menghindari
pergaulan erat dengan teman yang menunjukan perubahan atau teman
yang suka mabuk atau teler.

Apakah yang disebut remaja resiko tinggi?


Remaja resiko tinggi adalah remaja yang belum mencoba, apalagi
menyalahgunakan obat atau zat, tetapi yang mempunyai kemungkinan
(resiko) besar untuk menjadi seorang penyalahguna obat/zat.
1). Mudah kecewa dan cenderung menjadi agresif untuk mengatasi
kekecewaannya.
2). Tidak bisa menunggu atau bersabar. Menunggu baginya merupakan suatu
siksaan/ penderitaan.
3). Suka mengambil resiko yang tidak tepat (menyerempet bahaya untuk
membuktikan dirinya itu sehat hebat dan perlu dihargai).
4). Mudah menjadi bosan, merasa tertekan, murung dan merasa dirinya tidak
berguna.

6. Pertolongan sederhana bagi remaja dengan gangguan kepribadian


(mental) dan atau penyalahguna obat/zat.
1). Remaja dengan gangguan kepribadian (mental)
• Adakan pengamatan terlebih dahulu agar yakin bahwa remaja
tersebut memang mengalami gangguan kepribadian (mental)
• Mintalah bantuan dokter atau perawat Puskesmas untuk mendekati
keluarga remaja yang bersangkutan.
• Berikan keyakinan agar membawa remaja tersebut berobat ke dokter
dan janganlah mengucilkannya dari pergaulan
2). Remaja penyalahgunaan obat/zat
• Perlu pengamatan terlebih dahulu agar yakin remaja tersebut adalah
penyalahguna obat/zat.
• Segeralah beri pengertian pada keluarga agar membawa remaja
tersebut untuk di rehabilitasi
• Remaja korban penyalahgunaan obat/zat jangan dimusuhi, usahakan
agar dapat kembali dengan baik ke masyarakat. beri kegiatan sehat
di Pramuka, Karang Taruna, Kader Pembangunan Desa, Koperasi
Desa serta usaha lain yang produktif.
BAHAN ACUAN
1. Materi PKHS, Pelatihan PKPR,Kementerian Kesehatan tahun 2010
2. Modul Pelatihan PKPR, Ditjen Bina Kesehatan Anak, Kementerian
Kesehatan tahun 2007
3. Bahan Pengajaran Kependudukan dan Keluarga Berencana, Pedoman
Penyelenggaraan Latihan Kependudukan dan Keuarga Berencana,
Departemen Kesehatan RI, 1981.
4. Bahan ceramah dan Penetaran Penanggulangan Penyalahgunaan
Obat/Narkotika, Departemen Kesehatan RI, 1985
5. Pengenalan diri Terhadap Gangguan Kesehatan Jiwa Remaja,
Departemen Kesehatan RI, 1981.
6. Yang perlu dikeyahui Generasi MUda tentang Penyalahgunaan Obat,
Departemen Kesehatan RI, 1981.
7. Remaja masa kini Penerus Siapa?, Prisma No. 9, 1985
8. The Child and Adolescent in Society WHO, Euro Report and Studies,
1979.
SKK
KESEHATAN USIA LANJUT
SKK KESEHATAN USIA LANJUT

PENGANTAR
• Manusia tumbuh dan berkembang mulai dari janin hingga dewasa dan kemudian
menjadi tua.
• Lanjut Usia adalah seorang pria atau wanita yang berusia 60 tahun atau lebih.
• Masalah kesehatan lanjut usia bersifat khas dan memerlukan deteksi dini serta
penanganan yang tepat.
• Pelayanan kesehatan bagi usia lanjut dapat dilaksanakan baik di masyarakat melalui
kegiatan posyandu lansia maupun melalui sarana kesehatan yang ada seperti
Puskesmas dan Rumah sakit.

TUJUAN SKK KESEHATAN USIA LANJUT

PRAMUKA PENGGALANG (11-15 TAHUN)


Seorang Pramuka Penggalang harus :
• Dapat menjelaskan pengertian dan tanda-tanda penuaan
• Dapat menjelaskan gangguan yang timbul akibat proses menua dan beberapa
penyakit yang terjadi pada lanjut usia
• Dapat menjelaskan pentingnya aktifitas fisik bagi lanjut usia
• Dapat menjelaskan fasilitas dan pelayanan kesehatan lanjut usia

PRAMUKA PENEGAK (16-20 TAHUN )


• Menguasai materi SKK untuk Pramuka Penggalang
• Dapat memberikan penyuluhan tentang pengertian lanjut usia dan tanda-tanda
penuaan
• Dapat memberikan penyuluhan tentang gangguan yang timbul akibat proses menua
dan beberapa penyakit yang terjadi pada lanjut usia
• Dapat memberikan penyuluhan tentang masalah gizi dan masalah kesehatan jiwa
pada lansia
• Dapat memberikan penyuluhan tentang pentingnya aktifitas fisik bagi lanjut usia.
• Dapat membimbing seorang Pramuka Penggalang untuk mendapatkan TKK lanjut
usia.

PRAMUKA PANDEGA (21-25 TAHUN )


• Menguasai materi SKK untuk Pramuka Penegak
• Mampu membina dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat luas
• Mampu berperan sebagai fasilitator dalam kegiatan kelompok Lansia di
lingkungannya.
• Dapat mendorong pembetukan pelaksanaan kegiatan upaya kesehatan berbasis
masyarakat (Kelompok Lansia/Posyandu Lansia)
• Dapat membimbing seorang Pramuka Penggalang untuk mendapatkan TKK lanjut
usia.
MATERI SKK KESEHATAN USIA LANJUT :

Pramuka Penggalang (11-15 Tahun)


1. Usia lanjut adalah seorang pria atau wanita yang berusia 60 tahun atau lebih. Ciri-
ciri usia lanjut adalah:
• Kulit keriput dan kering karena kelenjar keringat dan kelenjar lemak sudah
berkurang fungsinya.
• Gangguan penglihatan karena terjadinya proses kemudian dari indera
penglihatan.
• Gangguan pendengaran karena terjadinya proses kemunduran dari indera
pendengaran
• Perubahan komposisi tubuh karena berkurangnya lemak dan cairan dalam tubuh.
• Gangguan saluran cerna karena gigi berangsur-angsur tanggal, produksi cairan
ludah berkurang sehingga mulut terasa kering, gangguan pada indera pengecap.
• Menurutnya daya ingat sehingga seringkali terjadi usia lanjut lupa meletakkan
barang, nama tempat atau nama orang.
• Menurunnya fungsi hati sehingga harus hati-hati pemberian obat.
• Menurunnya fungsi ginjal mengakibatkan berkurangnya kemampuan ginjal untuk
mengeluarkan zat-zat yang berbahaya bagi tubuh.
• Perubahan pada system aliran darah, terjadi kekakuan pada pembuluh darah
sehingga akan mengganggu aliran darah dan dapat menyebabkan meningkatnya
tekanan darah.
• Perubahan pada system pernafasan yang menyebabkan usia lanjut rentan
terhadap infeksi saluran napas.
• Menurunnya system hormonal yang akan berakibat terjadinya perubahan fisik
yaitu kerapuhan tulang.
• Gangguan pada jaringan otot dan rangka, menyebabkan terjadinya penyakit
rematik, penyakit otot yang akan mempengaruhi aktifitas usia lanjut.
2. Sebagai orang timur kita menghormati orang tua dan orang yang lebih tua usianya.
Usia lanjut sudah mempunyai pengalaman hidup sebagai sumber kita untuk
menimba ilmu dan pengalaman.
Berilah kemudahan pada usia lanjut, misalnya membantu menyeberangkan jalan,
membantu naik dan turun dari kendaraan, member tempat duduk di kendaraan
umum, dan.
3. Fasilitas pelayanan kesehatan bagi usia lanjut dapat dilaksanakan di
masyarakatmisalnya kelompok usia lanjut, panti, maupun istitusi misalnya
puskesmas, rumah sakit.
Beberapa rumah sakit telah menyediakan loket khusus bagi usia lanjut dan bansal
khusus bagi usia lanjut, misalnya di RSUPN cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUP
Dr. Karyadi Semarang dan RSUP Dr. Sarjito Yogyakarta.
PRAMUKA PENEGAK (16-20 TAHUN)

1. Usia lanjut adalah seorang pria atau wanita yang berusia 60 tahun atau lebih.
Ciri-ciri usia lanjut adalah:
• Kulit keriput dan kering karena kelenjar keringat dan kelenjar lemak sudah
berkurang fungsinya.
• Gangguan penglihatan karena terjadinya proses kemunduran dari indera
penglihatan.
• Gangguan pendengaran karena terjadinya proses kemunduran. dari indera
pendengaran.
• Perubahan komposisi tubuh karena gigi berangsur-angsur berkurang. produksi
cairan ludah berkurang sehingga mulut terasa kering, gangguan pada indera
pengecap.
• Menurunnya daya ingat sehingga seringkali terjadi usia lanjut lupa meletakkan
barang atau nama tempat atau nama orang.
• Menurunnya fungsi hati sehingga harus hati-hati untuk pemberian obat.
• Menurunnya fungsi ginjal mengakibatkan berkurangnya kemampuan ginjal untuk
mengeluarkan zat-zat yang berbahaya bagi tubuh.
• Perubahan pada system aliran darah, terjadi kekakuan pada pembuluh darah
sehingga akan mengganggu aliran darah dan dapat menyebabkan meningkatnya
tekanan darah.
• Perubahan pada system pernafasan yang menyebabkan usia lanjut rentan
terhadap infeksi saluran napas.
• Menurunnya system hormonal yang akan mengakibatkan terjadinya perubahan
fisik yaitu kerapuhan tulang.
• Gangguan pada jaringan otot dan rangka, menyebabkan terjadinya penyakit
rematik, penyakit otot yang akan mempengaruhi aktifitas usia lanjut.
2. Sebagai orang timur kita menghormati orang yang lebih tua usianya daripada usia
kita. Usia lanjut yang sudah mempunyai pengalaman hidup sebagai sumber kita
untuk menimba ilmu dan pengalaman.
Berilah kemudahan pada usia lanjut, misalnya membantu menyeberangkan jalan,
membantu naik dan turun dari kendaraan, member tempat duduk di kendaraan
umum.
3. Fasilitas pelayanan kesehatan bagi usia lanjut dapat dilaksanakan di masyarakat
misalnya kelompok usia lanjut, dip anti, maupun di institusi misalnya puksesmas,
rumah sakit.
Beberapa rumah sakit telah menyediakan loket khusus bagi usia lanjut dan bangsal
yang khusus bagi usia lanjut, misalnya di RSUPN Cipto mangunkusumo Jakarta,
RSUP Dr. Karyadi Semarang dan RSUP Dr. Sarjito Yogyakarta.

4. Usia lanjut dibagi menjadi usia lanjut potensial dan usia lanjut non potensial. Usia
lanjut potensial dibagi menjadi usia lanjut potensial terlantar dan usia lanjut potensial
tidak terlantar.

a. Usia lanjut potensial terlantar, yaitu:


1) Sehat fisik dan mental
2) Masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari maupun pekerjaan yang
produktif.
3) Berada dalam kondisi miskin
b. Usia lanjut potensial tidak tertular, yaitu :
1) Sehat fisik dan mental
2) Masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari maupun pekerjaan. yang
produktif
3) Tidak berada dalam keadaan miskin
c. Usia lanjut non potensial terlantar, yaitu :
1) Menderita sakit kronis
2) Tidak dapat meninggalkan tempat tidur terus menerus.
3) Tidak dapat mengurus dirinya sendiri
4) Berada dalam kondisi miskin dan tidak mempunyai sanak keluarga yang
merawatnya.
d. Usia lanjut non potensial tidak terlantar, yaitu :
1) menderita sakit kronis
2) Tidak dapat meninggalkan tempat tidur sendiri
3) Tidak berada dalam kondisi miskin dan masih ada sanak keluarga yang
merawatnya.

Pada usia lanjut potensial yang tidak terlantar pembinaan kesehatannya


dilaksanakan di masyarakat (kelompok usia lanjut) yang diutamakan untuk tindakan
peningkatan dan pencegahan. Untuk pelayanan kesehatan yang bersifat
pengobatan dapat dilayani di puskesmas ataupun di rumah sakit.
Pada usia lanjut potensial yang terlantar perlu mendapatkan bantuan dana maupun
fasilitas baik dari masyarakat maupun dari pemerintah sehingga mereka dapat
mendapatkan pelayanan kesehatan di Puskesmas maupun di Rumah Sakit.
Pada usia lanjut non potensial tidak terlantar, sanak keluarganya perlu mendapatkan
informasi yang jelas tentang apa dan di mana dapat memperoleh pelayanan
kesehatan, sehingga mereka dapat mengupayakan pelayanan kesehatan bagi usia
lanjut ini di puskesmas maupun di rumah sakit.
Pada usia lanjut non potensial terlantar memerlukan bantuan dana maupun fasilitas
masyarakat dan pemerintah agar mereka dapat mendapatkan pelayanan kesehatan
di puskesmas maupun di rumah sakit.
5. Menyumbangkan tenaga dan pikirannya pada kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan
oleh usia lanjut, misalnya: kegiatan di kelompok usia lanjut, peringatan atau hari-hari
penting yang berkenan dengan usia lanjut.
Kegiatan di kelompok usia lanjut dapat sebagai tenaga administrasi, membantu
petugas kesehatan untuk penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan,
membantu memberikan penyuluhan kesehatan usia lanjut yang sederhana.
PRAMUKA PANDEGA (21-25 TAHUN)

1. Usia lanjut adalah seorang pria atau wanita yang berusia 60 tahun atau lebih. Ciri-
ciri usia lanjut adalah:
• Kulit keriput dan kering karena kelenjar keringat dan kelenjar lemak sudah
berkurang fungsinya.
• Gangguan penglihatan karena terjadinya proses kemunduran dari indera
penglihatan.
• Gangguan pendengaran karena terjadinya proses kemunduran dari indera
pendengaran.
• Perubahan komposisi tubuh karena berkurangnya lemak dan cairan dalam tubuh.
• Gangguan saluran cernak karena jumlah gigi berangsur - angsur berkurang.
Iproduksi cairan ludah berkurang sehingga mulut terasa kering, gangguan pada
indera pengecap.
• menurunnya daya ingat sehingga seringkali terjadi usia lanjut lupa meletakkan
barang atau nama tempat atau nama orang.
• Menurunnya fungsi hati sehingga harus hati-hati untuk pemberian obat.
• menurunnya fungsi ginjal mengakibatkan berkurangnya kemampuan ginjal untuk
mengeluarkan zat-zat yang berbahaya bagi tubuh.
• Perubahan pada system aliran darah, terjadi kekakuan pada pembuluh darah
sehingga akan mengganggu aliran darah dan dapat menyebabkan meningkatnya
tekanan darah.
• Perubahan pada system pernafasan yang menyebabkan usia lanjut rentan
terhadap infeksi saluran nafas.
• Menurunnya system hormonal yang akan mengekibatkan terjadinya perubahan
fisik yaitu kerapuhan tulang.
• Gangguan pada jaringan otot dan rangka, menyebabkan terjadinya penyakit
rematik, penyakit otot yang akan mempengaruhi aktivitas usia lanjut.
2. Sebagai orang timur kita menghormati orang yang lebih tua usianya daripada usia
kita. Usia lanjut yang sudah mempunyai pengalaman hidup sebagai sumber kita
untuk menimba ilmu dn pengalaman.
berilah kemudahan pada usia lanjut, misalnya membantu menyeberangkan jalan,
membantu naik dan turun dari kendaraan, member tempat duduk di kendaraan
umum.
3. Fasilitas pelayanan kesehatan bagi usia lanjut dapat dilaksanakan dimasyarakat
misalnya kelompok usia lanjut, dipanti, maupun di institusi misalnya puskesmas,
rumah sakit. Beberapa rumah sakit telah menyediakan loket khusus bagi usia lanjut
dan bangsal yang khusus bagi usia lanjut. Misalnya di RSUPN Cipto Mngunkusumo
Jakarta, RSUP Dokter. Karyadi Semarang dan RSUP Dokter. Sardjito Yogyakarta.
4. Usia lanjut dibagi menjadi usia lanjut potensial dan usia lanjut non potensial. Usia
lanjut potensial dibagi menjadi usia lanjut potensial terlantar dan usia lanjut potensial
tidak terlantar.
a) Usia lanjut potensial terlantar, yaitu:
1) Sehat fisik dan mental
2) Masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari maupun pekerjaan yang
produktip.
3) Berada dalam kondisi miskin.
b) Usia lanjut potensial tidak terlantar, yaitu :
1) Sehat fisik dan mental
2) Masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari maupun pekerjaan produktif.
3) Berada dalam keadaan miskin
c) Usia lanjut non potensial terlantar, yaitu:
1) Menderita sakit kronis
2) Tidak dapat meninggalkan tempat tinggal terus menerus.
3) Tidak dapat mengurus dirinya sendiri.
4) Berada dalam kondisi miskin dan tidak mempunyai sanak keluarga yang
merawatnya.
d) Usia lanjut non potensial tidak terlantar, yaitu:
1) Menderita sakit kronis
2) Tidak dapat pmeninggalkan tempat tidur sendiri
3) Tidak berada dalam kondisi miskin dan masih ada sanak keluarga yang
merawatnya.
Pada usia lanjut potensial yang tidak terlantar pembinaan kesehatnnya dilaksanakan
di masyarkaat (kelompok usia lanjut) yang diutamakan untuk tindakan
peningkatan dan pencegahan. Untuk pelayanan kesehatan yang bersifat
pengobatan dapat lilayani di puskesmas ataupun di rumah sakit
Pada usia lanjut potensial yang terlantar perlu mendapatkan bantuan dana maupun
fasilitas baik dari masyarakat maupun dari pemerintah sehingga mereka dapat
mendapatkan pelananan kesehatan di Puskesmas maupun di rumah sakit.
Pada usia lanjut non potensial tidak terlantar, sanak keluarganya perlu
mendapatkan informasi yang lejas tentang apa dan dimana dapat memperoleh
pelayanan keseatan, sehingga mereka dapat mengupayakan pelayanan kesehatan
bagi usia la njut ini di puskesmas maupun di rumah sakit.
Pada usia lanjut non potensial terlantar memerlukan bantuan dana maupun fasilitas
masyarakat dan pemerintah agar mereka dapat mendapatkan pelayanan kesehatan
di puskesmas ataupun di rumah sakit.
5. Menyumbangkan tenaga dan pikirannya pada kegiatan-kegiatan yang
dilaksanakannya oleh usia lanjut, misalnya K kegiatan di kelompok usia lanjut,
peringatan atau hari-hari penting yang berkenan dengan usia la njut.
Kegiatan di kelompok usia lanjut dapat sebagai tenaga administrasi, membantu
petugas kesehatan untuk penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan,
membantu memberikan penyuluhan kesehatan usia lanjut yang sederhana.
6. Penyuluhan kesehatan usia lanjut meliputi:
Perubahan faali akibat proses menua: gangguan penglihatan, gangguan
pendengaran, perubahan komposisi tubuh, saluran cerna, hati, ginjal, system
kardiovaskular, system pernafasan, system hormonal, system musculoskeletal,
delirium , jatuh, gizi krang/buruk, osteoporosis, depresi dan dementia, inkontinentia
urin, dekubitus.
7. Berperan sebagai fasilitator untuk pembentukan pelaksanaan kegiatan upaya
kesehatan berbasis masyarakat dengan tokoh masyarkat maupun tokoh agama,
antara lain untuk pembentukan dan pelaksanaan kegitan kelompok usia lanjut.
kelompok usia lanjut ini berbeda-beda namanya di setiap daerah, misalnya Pusaka
di DKI Jakarta, Posbindu di Jawa Barat, dan lain-lain.
MATERI TAMBAHAN SKK KESEHATAN LANJUT USIA UNTUK PRAMUKA
PENGGALANG, PENEGAK DAN PANDEGA

A.Tanda-tanda Penuaan

Menjadi tua ditandai dengan :

1. Kemunduran biologis/fisik
• Rambut mulai beruban
• Penglihatan berkurang
• Pendengaran berkurang
• Gigi mulai ompong
• Kulit mulai mengendur
• Mudah lelah
• Gerakan menjadi kurang lincah
• Perubahan bentuk dan struktur tubuh
• Menopause dan andropause

2. Kemunduran kemampuan berpikir dan mengingat


• Mudah lupa
• Ingatan kepada masa muda lebih baik (kemunduran ingatan pada sesuatu yang
baru dialami
• Tidak mudah menerima hal atau ide baru

3. Kemunduran adaptasi psikososial

B.Gangguan yang dapat timbul akibat proses menua

• Adanya keterbatasan gerak


• Mudah terjatuh
• Mengompol
• Gangguan fungsi intelektual dan kognitif seperti pikun
• Mudah terserang kuman penyakit
• Gangguan penglihatan seperti katarak
• Gangguan pendengaran seperti tuli akibat ketuaan
• Gangguan saluran cerna
• Suka menyendiri
• Kurang gizi dan adanya gangguan mengunyah
• Kemiskinan
• Masalah akibat tindakan medis dan pengobatan yang tidak tepat
• Gangguan tidur
• Daya tahan tubuh menurun
• Gangguan ereksi

C.Beberapa penyakit pada Usia Lanjut

• Radang paru
• Bengek
• Sesak dan nyeri
• Rematik
• Keropos tulang
• Infeksi saluran kemih
• Kencing manis
• Darah tinggi
• Gangguan pembuluh darah otak
• Pikun
• gangguan gigi dan mulut
• Kanker (Pada pria dapat terjadi pembesaran prostat, pada wanita dapat terjadi
kanker rahim, kanker payudara dan kanker paru)

D.Masalah Gizi pada Lanjut Usia

• Kurang gizi
• Kegemukan
• Anemia (Kurang darah)

E.Masalah kesehatan jiwa

• Murung, sedih, tertekan


• Pikun
• Bingung
• Susah tidur
• Cemas

Upaya pencegahan dan mengurangi masalah Kesehatan Jiwa melalui :

• Kegiatan spiritual dan keagamaan


• Mengekspresikan emosi secara positif (misalnya hobi, berkebun)
• Mempertahankan kegiatan intelektual (membaca, menulis, diskusi)
• Mempertahankan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuan
• Mempertahankan interaksi sosial (arisan, jejaring sosial)
• Tetap berperan di keluarga maupun masyarakat

F.Aktivitas fisik dan olahraga

Kesegaran jasmani lansia biasanya diwujudkan dalam bentuk latihan fisik yang
memberikan pengaruh baik terhadap tingkat kemampuan fisik bila dilakukan secara baik,
benar dan terukur

Jenis aktivitas fisik dan olahraga antara lain:

• Melakukan pekerjaan rumah


• Berkebun dilingkungan rumah
• Berjalan kaki
• Senam
• Lari kecil (jogging)
• Berenang
• Bersepeda
Manfaat Program aktivitas fisik dan olah raga:

• Membantu tubuh agar tetap begerak


• Menaikkan kemampuan daya tahan tubuh
• Memberi kontak psikologis dengan sesama, sehingga tidak merasa terasing
• Mencegah terjadinya kekakuan sendi dan cedera
• Memperlambat proses penuaan

G. Perilaku yang dianjurkan bagi Lansia dan manfaatnya :

• Mendekatkan diri kepada Tuhan YME agar Lebih taqwa dan tenang
• Mau menerima keadaan, sabar dan optimis serta meningkatkan rasa percaya diri
dengan melakukan kegiatan yang sesuai dengan kemampuan agar ceria dan
mengisi waktu luang
• Menjalin hubungan yang baik dengan keluarga dan sesama agar keberadaannya
tetap diakui keluarga dan masyarakat
• Melakukan Olahraga ringan setiap hari agar Kesegaran dan kebugaran tubuh tetap
terpelihara
• Makan sedikit tapi sering, dan pilih makanan yang sesuai serta banyak minum agar
Terhindar dari kegemukan /kekurusan dan penyakit-penyakit yang berbahaya di
masa tua
• Berhenti merokok dan minum minuman keras untuk mencegah penyakit jantung,
paru-paru dan kanker
• Minumlah obat sesuai dengan anjuran dokter/petugas kesehatan untuk mencegah
keracunan obat dan efek samping lainnya
• Mengembangkan hobi sesuai dengan kemampuan untuk mengurangi stress dan
kecemasan
• Memeriksakan kesehatan dan gigi secara teratur

H. Posyandu Lansia :

Posyandu Lansia merupakan suatu wadah pelayanan kepada usia lanjut di masyarakat
dimana proses pembentukan dan pelaksanannya dilakukan oleh masyarakat bersama
Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), lintas sektor pemerintah, non-pemerintah,
swasta, organisasi sosial dll dengan menitikberatkan pada upaya preventif dan promotif.
Kegiatan yang dilakukan di Posyandu Lansia dapat berupa pelayanan kesehatan
sederhana dan kegiatan non-kesehatan.

Pramuka diharapkan dapat menyumbangkan tenaga dan pikirannya pada kegiatan-


kegiatan yang dilaksanakan di Posyandu Lansia. Kegiatan di Posyandu Lansia ini dapat
sebagai tenaga administrasi, membantu petugas kesehatan untuk penimbangan berat
badan dan pengukuran tinggi badan serta membantu memberikan penyuluhan
kesehatan usia lanjut yang sederhana.

Jenis pelayanan kesehatan meliputi :

• Pemeriksaan aktifitas kegiatan sehari-hari


• Pemeriksaan status mental
• Pemeriksaan status gizi
• Pengukuran tekanan darah
• Pemeriksaan Hemoglobin
• Pemeiksaan gula darah
• Pemeriksaan protein dalam urin
• Penyuluhan dan konseling
• Pemberian makanan tambahan (PMT)
• Kegiatan Olahraga

Jenis kegiatan non kesehatan meliputi :

• Kegiatan kerohanian
• Arisan
• Kegiatan ekonomi produktif
• Forum diskusi
• Penyaluran hobi
DAFTAR TILIK

PRAMUKA PENGGALANG (11-15 TAHUN).

1. Pengertian usia lanjut :


a. Usia lanjjut adalah seorang pria atau wanita yang berusia 50 tahun.
b. Usia lanjut adalah seorang pria atau wanita yang berusia 60 tahun.
c. Usia lanjut adalah seorang pria atau wanita yang berusia 50 tahun atau lebih.
d. Bukan salah satu di atas.
2. Ciri-ciri usia lanjut:
a. Kulit keriput dan kering
b. Terjadi gangguan penglihatan
c. Terjadi gangguan pendengaran
d. terjadi perubahan komposisi tubuh.
3. Ciri-ciri lain usia lanjut adalah:
a. Trejadi gangguan pada indera pengecap
b. Saluran pencernakannya masih berfungsi baik.
c. Produksi ludah tidak mengalami perubahan
d. Bukan salah satu di atas.
4. Ciri-ciri usia lanjut adalah:
a. Sering lupa
b. Mudah menderita gangguan pada saluran pernafasan
c. Dapat menderita penyakit tekanan darah tinggi
d. Dapat terjadi kerapuhan tulang
5. Menghormati usia lanjut:
a. Kita harus menghormati orang yang dusah berusia lanjut
b. Bantulah para usia lanjut bila mendapatkan kesulitan di tempat-tempat umum.
c. pengalaman yang baik dari para usia lanjut dapat kita jadikan contoh dalam
kehidupan.
d. Benar semua.
6. Fasilitas pelayanan keshatan usia lanjut :
a. Fasilitas pelayanan kesehatan usia lanjut tidak dapat dilaksanakan di
masyarakat dalam bentuk kelompok usia lanjut.
b. Fasilitas pelayanan kesehatan usia lanjut dapat dilaksanakan pula di
puskesmas atau di rumah sakit.
c. Pelayanan kesehatan usia lanjut harus dilaksanakan oleh petugas kesehatan.
d. Benar semua.

PRAMUKA PENEGAK (16-20 TAHUN)

1. Pengertian usia lanjut:


a. Usia lanjut adalah seorang pria atau wanita yang berusia 50 tahun
b. Usia lanjut adalah seorang pria atau wanita yang berusia 60 tahun
c. Usia lanjut adalah seorang pria atau wanita yang berusia 50 tahun
d. Bukan salah satu di atas.
2. Ciri-ciri usia lanjut:
a. Kulit keriput dan kering
b. Terjadi gangguan penglihatan
c. Terjadi gangguan pendengaran
d. terjadi perubahan komposisi tubuh
3. Ciri-ciri lain usia lanjut adalah:
a. Terjadi gangguan pada indera pengecap
b. Saluran pencernaannya masih berfungsi baik
c. Produksi ludah tidak mengalami perubahan
d. Bukan salah satu di atas.
4. Ciri – cirri usia lanjut adalah :
a. Sering lupa
b. Mudah menderita gangguan pada saluran pernapasan
c. Dapat menderita penyakit tekanan darah tinggi
d. Dapat terjadi kerapuhan tulang.
5. Menghormati usia lanjut:
a. Kita harus menghormati orang yang sudah berusia lanjut
b. Bantulah para usia lanjut bila mendapatkan kesulitan di tempat tempat umum.
c. Pengalaman yang baik dari para usia lanjut dapat kita jadikan contoh dalam
kehidupan.
d. Benar semua
6. Fasilitas pelayanan kesehatan usia lanjut:
a. Fasilitas pelayanan kesehatan usia lanjut tidak dapat dilaksanakan di
masyarakat dalam bentuk kelompok usia lanjut.
b. Faasilitas pelayanan kesehatan usia lanjut dapat dilaksanakan pula di
puskesmas atau di rumah sakit.
c. Pelayanan kesehatan usia lanjut harus dilaksanakan oleh petugas kesehatan.
d. Benar semua.
7. Usia lanjut potensial terlantar adalah :
a. Sehat fisik dan mental
b. Masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari maupun pekerjaan produktif
c. berada dalam kondisi miskin
d. a + b + c

8. Usia lanjut potensial tidak terlantar adalah sebagai berikut, kecuali:


a. Sehat fisik dan mental
b. Tidak dapat melakukan pekerjaan sehari-hari maupun pekerjaan yang
produktif
c. Tidak berada dalam keadaan miskin
d. Dapat melakukan pekerjaan sehari-hari maupun pekerjaan yang produktif

9. Usia lanjut non potensial terlantar adalah sebagai berikut, kecuali:


a. Tidak menderita sakit kronis
b. Tidak dapat meninggalkan tempat tidur
c. Tidak dapat mengurus dirinya sendiri
d. Berada dalam kondisi miskin dan tidak mempunyai sanak keluarga yang
merawatnya.
10. Usia lanjut non potensial tidak terlantar adalah:
a. Menderita sakit kronis
b. Tidak dapat meninggalkan tempat tidur sendiri
c. Tidak berada dalam kondisi miskin dan masih ada sanak keluarga yang
merawatnya.
d. Benar semua
11. Peran SBH dalam pelayanan kesehatan usia lanjut di masyarakat adalah,
kecuali:
a. Menimbang berat badan
b. Melakukan pencatatan
c. Memberi obat
d. Memberikan penyuluhan

PRAMUKA PENEGAK (16-20 TAHUN)

12. Pengertian usia lanjut:


a. Usia lanjut adalah seorang pria atau wanita yang berusia 50 tahun
b. Usia lanjut adalah seorang pria atau wanita yang berusia 60 tahun.
c. Usia lanjut adalah seorang pria atau wanita yang berusia 50 tahun atau
lebih.
d. Bukan salah satu di atas
13. Ciri-ciri usia lanjut :
a. Kulit keriput dan kering
b. terjadi gangguan penglihatan
c. terjadi gangguan pendengaran
d. terjadi perubahan komposisi tubuh
e. Semua benar
14. Ciri-ciri lain usia lanjut adalah:
a. terjadi gangguan pada indera pengecap
b. Saluran pencernakannya masih berfungsi baik
c. Produksi ludah tidak mengalami perubahan
d. Bukan salah satu di atas
15. Ciri-ciri usia lanjut adalah :
a. Sering lupa
b. Mudah menderita gangguan pada saluran pernafasan
c. Dapat menderita penyakit tekanan darah tinggi
d. Dapat terjadi kerapuhan tulang
e. Semua benar
16. Menghormati usia lanjut:
a. Kita harus menghormati orang yang sudah berusia lanjut.
b. Bantulah para usia lanjut bila mendapatkan kesulitan di tempat-tempat umum.
c. Pengalaman yang baik dari para usia lanjut dapat kita jadikan contoh dalam
kehidupan.
d. Benar semua
17. Fasilitas pelayanan kesehatan usia lanjut:
a. Fasilitas pelayanan kesehatan usia lanjut tidak dapat dilaksanakan di
masyarkaat dalam bentuk kelompok usia lanjut.
b. Fasilitas pelayanan kesehatan usia lanjut dapat dilaksanakan pula di
puskesmas atau di rumah sakit
c. Pelayanan kesehatan usia lanjut harus dilaksanakan oleh petugas kesehatan
d. Benar semua
18. Usia lanjut potensial terlantar adalah :
a. Sehat fisik dn mental
b. Masih dapat melakukan pekerjaan sehari-hari maupun pekerjaan produktif
c. Berada dalam kondisi miskin
d. a + b + c
19. Usia lanjut potensial tidak terlantar adalah sebagai berikut, kecuali:
a. Sehat fisik dan mental
b. Tidak dapat melakukan pekerjaan sehari-hari maupun pekerjaan yang
produktif.
c. Tidak berada dalam keadaan miskin
d. dapat melakukan pekerjaan sehari-hari maupun pekerjaan yang produktif.
20. Usia lanjut
a. Tidak menederita sakit kronis
b. Tidak dapat meninggalkan tempat tidur terus menerus
c. Tidak dapat mengurus dirinya sendiri
d. Berada dalam kondisi miskin dan tidak mempunyai sanak keluaraga yang
merawatnya.
21. Usia lanjut non potensial tidak terlantar adalah:
a. Menderita sakit kronis
b. Tidak dapat meninggalkan tempat diri sendiri
c. Tidak berada dalam kondisi miskin dan masih ada sanak keluarga yang
merawatnya.
d. Benar semua.

22. Peran SHB dalam pelayanan kesehatan usia lanjut di masyarkat adalah,
kecuali:
a. Menimbnag berat badan
b. Melakukan pencatatan
c. Memberi obat
d. Memberikan penyuluhan
23. Penyuluhan yang diberikan pada usia lanjut meliputi:
a. Gangguan penglihatan
b. Gangguan pendengaran
c. Osteoporosis
d. Benar semua
24. Peran SHB dalam pelaksanaan kegiatan pembinaan kesehatan usia lanjut di
masyarakat adalah:
a. Pendekatan kepada tokoh masyarakat
b. Pendekatan kepada tokoh agama
c. Pendekatan dan kerjasama dengan Puskesmas setempat
d. Semua benar
SKK
KESEHATAN GIGI DAN MULUT
(Diperbaiki Didasarkan Hasil Pertemuan Di Jakarta 17 Desember 2009)

Direktorat Bina Pelayanan Medik Dasar


Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik
Kementerian Kesehatan R. I.
SKK KESEHATAN GIGI DAN MULUT

A. TUJUAN SKK KESEHATAN GIGI DAN MULUT

I. PRAMUKA SIAGA (7 – 10 Tahun)


- Mengetahui cara pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut
- Mampu melakukan sikat gigi yang benar
II. PRAMUKA PENGGALANG ( 11 – 15 TAHUN).
- Mampu melakukan kompetensi yang yang dimiliki Pramuka Siaga tentang
kesehatan gigi dan mulut, antara lain:
o Mengetahui cara pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut
o Mampu melakukan sikat gigi yang benar
- Mampu menjelaskan kepada teman sebayanya mengenai cara pemeliharaan
kesehatan gigi, sikat gigi yang benar serta kelainan pada gigi dan mulut,
penyebab dan pencegahannya.
- Mampu memahami kesehatan gigi dan mulut mengenai kelainan-kelainan pada
gigi dan mulut, penyebab dan cara pencegahannya.
III. PRAMUKA PENEGAK ( 16 – 20 TAHUN )
- Mampu melakukan kompetensi yang yang dimiliki Pramuka Penggalang tentang
kesehatan gigi dan mulut, antara lain:
o Mengetahui cara pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut
o Mampu melakukan sikat gigi yang benar
o Mampu memahami kelainan-kelainan pada gigi dan mulut, penyebab dan cara
pencegahannya.
- Mampu menjelaskan dan mengajak keluarga, teman serta lingkungan mengenai
cara pemeliharaan kesehatan gigi, sikat gigi yang benar serta kelainan pada gigi
dan mulut, penyebab dan pencegahannya.
- Mampu mengetahui kegunaan fluor bagi kesehatan gigi
IV. PRAMUKA PANDEGA ( 21 – 25 TAHUN ).
- Mampu melakukan kompetensi yang yang dimiliki Pramuka Penegak tentang
kesehatan gigi dan mulut, antara lain:
o Mengetahui cara pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut
o Mampu melakukan sikat gigi yang benar
o Mampu memahami kelainan-kelainan pada gigi dan mulut, penyebab dan cara
pencegahannya serta kegunaan fluor bagi kesehatan gigi.
- Mampu membina dan memberikan penyuluhan kepada anggota pramuka dan
masyarakat tentang kesehatan gigi dan mulut.
B. PERAN PRAMUKA DALAM BIDANG KESEHATAN GIGI DAN MULUT.

Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, dikemukakan bahwa


pembangunan kesehatan bertujuan meningkatkan kesadaran, kemampuan dan
kemauan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang optimal. Dengan demikian masyarakat secara luas termasuk generasi
muda bukan hanya menjadi obyek pembangunan kesehatan, melainkan juga menjadi
subyek pembangunan kesehatan.

Salah satu potensi generasi muda adalah Gerakan Pramuka, yang merupakan suatu
organisasi pendidikan kepanduan yang memiliki anggota terbesar di dunia dan sebagai
organisasi non-formal terbesar di Indonesia yang memiliki segmen peserta didik dari
anak-anak, remaja dan orang dewasa. Tujuan Gerakan Pramuka ini mendidik dan
membina kaum muda Indonesia guna mengembangkan mental, moral, spiritual,
emosional, sosial, intelektual dan fisik. Dengan demikian Gerakan Pramuka memiliki nilai
strategis untuk mengadopsi dan menyebarluaskan nilai-nilai yang dimiliki serta tertanam
didalam jiwa kepanduan. Oleh karenanya melalui pramuka diharapkan dapat menjadi
suri tauladan bagi masyarakat dalam mendorong pembangunan bidang kesehatan serta
berperan dalam peningkatan derajat kesehatan melalui kegaiatan Saka Bakti Husada.
Peningkatan yang dilakukan termasuk bidang kesehatan gigi dan mulut yang merupakan
bagian dari syarat kecakapan khusus bina keluarga sehat.

Gerakan pramuka diharapkan dapat menjawab tantangan masyarakat. serta harus


mampu bersaing dengan pesatnya perkembangan masyarakat tanpa harus
meninggalkan jati diri kepramukaannya

C. KONDISI KESEHATAN GIGI


Pada umumnya penyakit gigi dan mulut yang banyak menyerang manusia adalah gigi
berlubang (karies) dan penyakit gusi (penyakit periodontal. Tercatat di seluruh dunia 60
– 90 % anak sekolah mempunyai lubang gigi (WHO 2007).
Ini diperkuat dengan adanya data survei Rumah Tangga 2001 bahwa perilaku menyikat
gigi pada anak usia >5 tahun yang menyikat gigi sangat sesuai anjuran program hanya
9,3%. Data lain juga menyebutkan bahwa prevalensi karies aktif pada penduduk umur
>10 tahun yang belum tertangani sebesar 52,3% dan penduduk yang pernah mengalami
gigi berlubang/ karies sebanyak 71,20%.
Hal yang memprihatinkan bahwa motivasi untuk menambal gigi pada anak umur 12 – 18
tahun masih sangat rendah (4 – 5)% sedangkan besarnya kerusakan gigi yang belum
ditangani dan memerlukan penambalan dan atau pencabutan mencapai 82,5% (SKRT,
2001).
Hasil lain menunjukan bahwa 39 % penduduk umur > 15 tahun mempunyai masalah
kesehatan gigi dan mulut, dan hanya 29 yang menerima perawatan dari perawat gigi,
dokter gigi atau dokter gigi spesialis sedangkan prevalensi yang kehilangan seluruh gigi
sebesar 6,5% (SKRT, 2004).
Dari hasil riset kesehatan menunjukan bahwa Indeks DMF-T sebagai indikator status
kesehatan gigi, dimana banyaknya kerusakan gigi yang pernah dialami seseorang baik
berupa Decay/D (gigi karies atau gigi berlubang), Missing/M (gigi hilang/dicabut), dan
Filling/F (gigi ditumpat) secara nasional sebesar 4,85. Ini berarti rata-rata kerusakan gigi
pada penduduk Indonesia 5 buah gigi per orang. Komponen terbesar adalah gigi
dicabut/M-T sebesar 3,86, sehingga dapat dikatakan rata-rata penduduk Indonesia
mempunyai 4 gigi yang sudah dicabut atau indikasi pencabutan (Riskesdas, 2007).

Hasil Riset Kesehatan Dasar 2007, juga menunjukkan bahwa prevalensi penduduk yang
mempunyai masalah gigi/ mulut dan yang menerima perawatan dari tenaga medis dalam
12 bulan terakhir sebanyak 23,4%, dan penduduk yang telah kehilangan gigi aslinya
sebesar 1,6%. Dari penduduk yang mempunyai masalah gigi dan mulut terdapat 29,6%
yang menerima perawatan atau pengobatan dari tenaga kesehatan gigi.

Tercatat data pelayanan kesehatan gigi yang paling banyak diberikan dalam mengatasi
masalah kesehatan gigi dan mulut, antara lain : pengobatan 85% informasi/ konseling
23%, pencabutan/ operasi gigi mulut dan tambal gigi 45% serta pembuatan gigi palsu
9%. (SKRT 2004)

Melihat kondisi kesehatan gigi dan mulut yang dikemukakan diatas, maka perlu
ditingkatkannya program dan kegiatan kesehatan gigi yang dilakukan dengan
memberdayakan upaya kesehatan berbasis masyarakat/ komunitas melalui kegiatan
kepanduan gerakan pramuka, agar dapat menggerakan serta menanamkan kesadaran
dan kemampuan masyarakat untuk pemeliharaan dan pencegahan kesehatan gigi dan
mulut.
MATERI SKK KESEHATAN GIGI DAN MULUT

I. CARA PEMELIHARAAN KESEHATAN GIGI DAN MULUT

1. Menyikat gigi :
a. Waktu Menyikat Gigi.
Sikatlah gigi secara teratur, Manson (1971) berpendapat bahwa menggosok gigi
sehari cukup 2 X, setelah makan pagi dan sebelum tidur malam.

b. Cara Menyikat Gigi

1. Siapkan sikat gigi dan pasta gigi yang mengandung fluor, banyaknya pasta
gigi sebesar sebutir kacang tanah dan berkumur-kumur sebelum menyikat
gigi.
2. Letakkan posisi sikat 45 derajat terhadap gusi
3. Gerakan sikat dari arah gusi kebawah untuk gigi rahang atas (seperti
mencungkil) atau sikatlah seluruh gigi dengan gerakan maju mundur pendek-
pendek atau memutar selama + 2 menit (sedikitnya 12 kali gerakan setiap 3
permukaan gigi)
4. Gerakan sikat dari arah gusi ke atas untuk gigi rahang bawah
5. Sikat seluruh permukaan yang menghadap bibir dan pipi serta permukaan
dalam dan luar gigi dengan cara tersebut.
6. Sikat permukaan kunyah gigi dari arah belakang ke depan.

Macam Gerakan Cara Menyikat Gigi:

1) Gerakan vertikal.
Arah gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah dalam keadaan rahang atas
dan bawah tertutup. Gerakan ini untuk permukaan gigi yang menghadap ke
pipi (bukal/labial), sedangkan untuk permukaan gigi yang menghadap
lidah/langit-langit (lingual/palatal), gerakan menggosok gigi ke atas ke bawah
dalam keadaan mulut terbuka. Cara ini terdapat kekurangan, yaitu bila
menggosok gigi tidak benar dapat menimbulkan resesi gingival/ penurunan
gusi sehingga akar gigi terlihat.
2) Gerakan horizontal
Arah gerakan menggosok gigi ke depan ke belakang dari permukaan bukal
dan lingual. Gerakan menggosok pada bidang kunyah dikenal sebagai scrub
brush. Caranya mudah dilakukan dan sesuai dengan bentuk anatomi
permukaan kunyah. Kombinasi gerakan vertikal-horizontal, bila dilakukan
harus sangat hati-hati karena dapat menyebabkan resesi gusi/abrasi lapisan
gigi.

3) Gerakan roll teknik/ modifikasi Stillman.


Cara ini, gerakannya sederhana, paling dianjurkan, efisien dan menjangkau
semua bagian mulut. Bulu sikat ditempatkan pada permukaan gusi, jauh dari
permukaan oklusal/ bidang kunyah, ujung bulu sikat mengarah ke apex/ ujung
akar, gerakan perlahan melalui permukaan gigi sehingga bagian belakang
kepala sikat bergerak dalam lengkungan.

c. Sikat Gigi
1) Memilih Sikat Gigi
• Tangkai sikat gigi lurus, sehingga mudah dipegang.
• Kepala sikat gigi kecil (sama panjang dengan lebar empat gigi seri rahang
bawah) atau sama dengan ukuran kepala sikat gigi anak-anak atau
disesuaikan dengan kondisi rongga mulut.
• Bulu sikat gigi sama panjangnya, sehingga membentuk permukaan yang
rata.
• Bulu sikat gigi terbuat dari nilon yang tidak kaku.
2) Cara Memelihara Sikat Gigi
• Ketuk-ketuk sikat gigi supaya sisa air dari sikat gigi yang kita bersihkan
dapat menjadi kering.
• Keringkan sikat gigi secara perlahan-lahan dengan menggunakan handuk
yang halus.
• Usahakan untuk menjemur sikat gigi di tempat yang terkena sinar
matahari.
• Tidak menyimpan sikat gigi di kamar mandi karena udara kamar mandi
sangat lembab sehingga sikat gigi mudah ditumbuhi kuman dan jamur.

• Usahakan setiap anggota keluarga mempunyai sikat gigi sendiri supaya


tidak tertular, berikan tanda atau dengan warna yang berbeda atau diberi
nama.
• Ganti sikat gigi tiap tiga bulan sekali, setelah terlihat bulu sikat gigi tidak
lurus lagi.

d. Pasta Gigi.

Pada waktu menyikat gigi gunakan pasta gigi sebagai salah bahan untuk
membantu membersihkan gigi, pilihan pasta gigi sebaiknya yang mengandung
kadar fluor, karena fluor dapat menguatkan gigi serta dapat mencegah kerusakan
gigi bila digunakan secara teratur dan benar. Peraturan Menteri Kesehatan
nomor 445/Menkes/Per/V/1998 disebutkan bahwa batas maksimum garam
fluorida dan turunannya dalam sediaan higiene mulut adalah 0,15 % (setara
dengan 1500 ppm), jumlah ini sesuai dengan aturan Asean Cosmetic Directive
76/768/EEC Annex III Bagian 1, aturan FDA Amerika Serikat, serta ISO 11609.
Gambar sikat gigi beserta pasta gigi berfluoride

Gb. pasta gigi terlalu penuh Gb. pasta gigi


sebutir kac. tanah

2. Mengatur Pola Makan


Pola makan dapat mempengaruhi kesehatan gigi, maka makanan yang di
konsumsi juga harus diperhatikan, beberapa hal untuk dipertimbangkan:

• Kurangilah makan yang manis yang melekat misalnya permen, dodol,


manisan, coklat, dan sebagainya.
• Perbanyaklah makan makanan yang menyehatkan gigi, antara lain: sayur-
sayuran, buah-buahan yang berserat, ikan dan sebagainya.

3. Penggunaan Benang Gigi/ Dental Floss.


Benang gigi/ dental floss dapat digunakan untuk membantu membersihkan gigi,
dengan cara digunakan yang tepat dan benar. Untuk dapat menggunakan yang
tepat dan benar ikuti langkah-langkah sebagai berikut:
- Langkah 1: Ambil sekitar 45 cm dental floss, kemudian lilitkan pada jari
tengah di masing-masing tangan dan sisakan sekitar 4 cm.
- Langkah 2: Regangkan dengan kencang menggunakan jari telunjuk dan ibu
jari atau dapat juga digunakan dental floss pick yang sudah tersedia bebas di
apotik atau toko dental.

- Langkah 3: Arahkan dental floss yang diregangkan di antara gigi. Saat dental
floss mencapai batas gusi, lekuk menjadi seperti huruf C berlawanan dengan
permukaan gigi. Gerakkan secara perlahan ke atas, bawah , depan, dan
belakang untuk membersihkan permukaan gigi.
- Langkah 4: Selanjutnya pindahkan dental floss ke gigi yang berdekatan (gigi
di sebelahnya) dan bersihkan dengan cara yang sama seperti langkah (3).

- Langkah 5: Dengan gerakan menyerupai gergaji, keluarkan dental floss


setelah seluruh permukaan selesai dibersihkan.
Lakukan langkah yang sama (1) sampai (5) pada gigi yang lain. Coba untuk
bersihkan gigi bagian depan terlebih dahulu sebelum pindah ke gigi bagian
belakang. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, lakukan dental flossing ini di
depan kaca. Waktu terbaik untuk melakukan dental flossing, seperti juga dengan
sikat gigi, adalah sebelum tidur. Apabila terjadi perdarahan saat dibersihkan
dengan dental floss, artinya kondisi gusi tidak sehat seperti seharusnya. Ulangi
pembersihan ini setiap hari dengan cara yang benar, maka perdarahan akan
berhenti. Apabila perdarahan tidak berhenti, sebaiknya konsultasikan ke dokter
gigi.

4. Pemeriksaan Pada Fasilitas Kesehatan Gigi


- Pergilah berobat ke fasilitas kesehatan gigi bila terlihat di dalam mulut ada
gejala kelainan-kelainan gigi dan mulut, seperti:
• Di tingkat Kecamatan: Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan Balai
Pengobatan Gigi.
• Di tingkat Provinsi/ Kabupaten/ Kota:
- Rumah Sakit Gigi Mulut
- Poliklinik Rumah Sakit Umum
- Klinik gigi di Fakultas Kedokteran Gigi
- Klinik gigi di Politeknik Kesehatan Jurusan Kesehatan Gigi
- Praktik Dokter Gigi Perorangan Dan Berkelompok.
- Klinik Gigi Di Kantor-Kantor/ Perusahaan
- Periksalah secara teratur kesehatan gigi dan mulut ke fasilitas kesehatan gigi
setiap enam bulan sekali.
II. KELAINAN – KELAINAN PADA GIGI DAN MULUT, PENYEBAB, AKIBAT DAN
CARA PENCEGAHANNYA :
a. Karies Gigi/Gigi Berlubang

adalah kerusakan pada jaringan keras gigi yang ditandai dengan pelarutan
lapisan luar gigi (email), akibat interaksi beberapa penyebab yaitu adanya gigi,
kuman, makanan yang kariogenik dan waktu.

Gambaran gigi lubang/karies

Karies pada gigi seri Karies pada gigi geraham


• Penyebab Gigi Berlubang
Penyebab gigi berlubang merupakan akumulasi dengan adanya gigi, kuman,
makanan yang kariogenik dan waktu, sedang beberapa peneliti-peneliti
mengemukakan bahwa dalam hitungan tiga sampai empat menit bakteri
streptococcus mutans atau lactobasilus akan memetabolismekan karbohidrat
yang menempel di gigi dan menghasilkan asam. Asam inilah yang sifatnya
merusak email gigi serta jaringan pendukungnya sehingga terjadi karies.

• Proses Terjadinya Gigi Berlubang/ Karies Gigi/ Radang Gusi

Keterangan :
(1) Plak yang terdiri dari bahan perekat dan bakteri, dimana sisa makanan
akan membentuk Asam, Asam + Gigi (email gigi) akan menyebabkan gigi
rusak/ berlubang.
(2) Proses terjadinya penyakit gusi (jaringan penyangga gigi), dimana plak +
sisa makanan + ludah akan menjadi karang gigi.
(3) Kuman yang berada pada karang gigi akan mengeluarkan toksin (racun)
yang merangsang gusi, sehingga timbul radang pada gusi. Makin lama
proses radang pada gusi akan menjalar sepanjang akar gigi dan merusak
jaringan pengikat antara akar gigi dan tulang.
• Akibat Yang Ditimbulkan
Bila gigi dicabut karena karies maupun radang gusi yang parah, maka fungsi/
kegunaan mulut akan terganggu:
– Fungsi bicara akan terganggu terutama bila kehilangan gigi seri misalnya
bila berbicara akan mendesis.
– Fungsi kunyah akan terganggu bila yang mengalami kelainan/ hilang
adalah gigi geraham.
– Fungsi estetik/ kecantikan akan berkurang karena kehilangan gigi depan
maupun gigi geraham yang mengakibatkan pipi jadi kempot/ peot.
• Cara Pencegahannya
Pencegahan terjadinya penyakit gigi dan radang gusi adalah menghilangkan
plak atau kalkulus yang ada didalam rongga mulut, untuk pencegahan yang
harus dilakukan, antara lain:
- Menyikat gigi secara benar dan teratur sesudah sarapan pagi dan malam
sebelum tidur atau berkumur-kumur setiap sesudah makan atau menyikat
gigi setiap sesudah makan.
- Diupayakan lakukan kumur-kumur dengan antiseptik setelah selesai sikat
gigi.
- Meskipun masih ada sisa makanan yang tersisip pada sela-sela gigi,
untuk membersihkannya sebaiknya pakailah benang gigi (dental floss)
dan hindarilah pemakaian tusuk gigi.
- Hindari makanan yang dapat merusak gigi dan makan makanan yang
bermanfaat untuk kesehatan gigi.
- Periksalah secara berkala dan teratur kesehatan gigi ke fasilitas
kesehatan.

b. Radang Gusi/ Penyakit Penyangga Gigi


Adalah kerusakan jaringan penyangga gigi akibat kurangnya menjaga
kebersihan gigi. Penyakit ini mula-mula terlihat perubahan warna lebih merah
dan mengkilap dari gusi sehat. Tahap selanjutnya akan timbul perdarahan pada
sentuhan terutama bila kena sikat gigi sampai timbul perdarahan spontan. Bila
keadaan tersebut dibiarkan, penyakit ini menjalar terus selain ke gusi
tetangganya juga ke dalam jaringan penyangga gigi. Akibatnya tulang jaringan
penyangga gigi mengkerut, sehingga gigi kelihatan memanjang dan menjadi
goyah.

Gambaran radang gusi

• Penyebab Radang Gusi/ Penyakit Penyangga Gigi


Penyebab radang gusi/penyangga gigi dapat merupakan kelanjutan gigi
berlubang yang tidak segera diobati sehingga berpengaruh terhadap
kelaianan pada gusi, beberapa peneliti berpendapat karena adanya bakteri
streptococcus mutans atau lactobasilus yang ada dalam mulut akan
memetabolismekan karbohidrat yang menempel di gigi dan menghasilkan
asam. Asam inilah yang sifatnya merusak jaringan pendukung gigi sehingga
terjadi peradangan gusi.

• Proses Terjadinya Radang Gusi

asam + gigi-»keropos

kuman dalam plak + sisa


makanan
racun + gusi->radang

Radang gusi ini akan lebih parah bila terdapat karang gigi. Kelainan-kelainan
lainnya yang terdapat pada gusi adalah luka tertembus akar gigi susu (pada
anak-anak), pembengkakkan (benjolan berisi nanah) karena infeksi dari gigi
keropos.

• Akibat Yang Ditimbulkan


Bila radang gusi tidak segera diobati, maka fungsi/kegunaan mulut akan
terganggu:
– Fungsi bicara akan terganggu terutama bila radang gusi berkelanjutan
menjadi abses yang besar.
– Fungsi kunyah akan terganggu bila yang karena pengaruh tekanan pada
waktu pengunyahan menimbulkan rasa sakit dan nyeri.
– Estetik/kecantikan/penanpilan menjadi kurang baik bila terjadi
pembengkakan yang besar pada wajah, akibat radang gusi berkelanjutan.
• Cara Pencegahannya
Pencegahan pada radang gusi sama dengan pencegahan yang dilakukan
pada karies gigi/gigi berlubang.

c. Plak pada gigi


Plak adalah endapan lunak sisa-sisa makanan yang melekat erat dan menutupi
permukaan gigi yang terdiri dari atas bahan perekat seperti agar-agar dan
bakteri.
• Ciri-ciri Plak :
- Tidak berwarna/transparan sehingga sulit dilihat.
- Melekat erat pada permukaan gigi teristimewa di bagian leher gigi.
- Meskipun telah dihilangkan dengan menyikat gigi, plak dalam beberapa
jam akan terbentuk kembali.
- Bila dibiarkan melekat pada permukaan gigi plak akan semakin tebal di
mana bakteri akan berkembang biak.
• Cara melihat Plak :
Plak tidak berwarna, sehingga diperlukan zat pewarna untuk melihat plak. Zat
pewarna ini diserap plak, sehingga permukaan gigi yang tertutup plak akan
menampakan warna. Dengan demikian kita akan lebih mudah untuk menyikat
gigi sehingga gigi betul-betul bersih.
Sebagai zat pewarna plak dapat dipakai bubuk pewarna makanan dan
minuman (sumba kue) warna merah.
Cara melihat adalah:
- Pertama-tama gunakan larutan pewarna berwarna merah.
- Kedua teteskan pada ujung lidah, agar anak mengoleskan ujung lidah ke
seluruh permukaan gigi, bila gigi kotor/ adanya plak, warna merah akan
meresap pada gigi kotor tadi hingga gigi tampak merah.
- Selanjutnya lihat pewarnaan yang ada pada permukaan gigi, maka akan
tampak plak pada permukaan gigi yang berwarna merah.

Gambaran plak pada permukaan gigi

Plak Termineralisasi Plak Plak yang sudah diwarnai

III. HUBUNGAN SAKIT GIGI DENGAN KESEHATAN UMUM.


Bila seseorang menderita sakit gigi, maka akan menimbulkan gangguan antara lain:
a. Fungsi gigi terganggu, oleh karena tidak dapat untuk mengunyah makanan,
sehingga selera makan turun, akibatnya jumlah makanan yang dibutuhkan
tubuh berkurang dan daya tahan seseorang menurun, menimbulkan sakit
demam, influensa, dan lain-lain.
b. Focal Infeksi karena gigi yang busuk yang menjadi sumber bakteri dan melalui
aliran darah dapat menimbulkan penyakit di tempat tersebut seperti di jantung,
saluran pernapasan, otak, ginjal, dan lain-lain
IV. PERILAKU TIDAK SEHAT BAGI KESEHATAN GIGI DAN MULUT

Perilaku merupakan salah satu yang dapat mempengaruhi status kesehatan


termasuk kesehatan gigi dan mulut, sehingga perlu diketahui perilaku masyarakat
yang dapat mempengaruhi secara langsung terhadap kesehatan gigi dan mulut,
antara lain seperti:

a. Merokok :
Kebiasaan merokok di Indonesia telah merambah usia. Di masyarakat banyak di
temui remaja belia yang menjadi pencandu rokok, dan sulit bagi mereka terlepas
dari kebiasaan merokok. Hasil Susenas 2001 menyebutkan bahwa 27,7%
penduduk berusia diatas 10 tahun menyatakan merokok dalam satu bulan
terakhir. Laki – laki (54.5%) dan perempuan umur 14 tahun sebanyak 1,5%.

Nikotin yang terdapat pada rokok akan menghasilkan endapan yang melekat erat
di gigi (disebut Stain), berwarna coklat sampai hitam dan menimbulkan bau
menyengat. Apabila stain tersebut tidak dibersihkan maka akan menjadi tempat
mengendapannya makanan karena permukaan gigi yang terdapat stain menjadi
kasar dan memberikan peluang timbunan makanan, dengan adanya kuman
didalam mulut akan terbentuklah suasana asam yang menyebabkan kerusakan
gigi yang disebut gigi berlubang atau peradangan pada jaringan penyangga/gusi.

Gambaran gigi dengan stain

b. NAPZA
NAPZA merupakan singkatan dan Narkotika, Alkohol, Psikotropika dan Zat
Adiktif lainnya. Beberapa keadaan yang dapat dilihat pada gigi dan mulut akibat
dari pengguna NAPZA tersebut antara lain:
- Anorexia nervosa
Adalah suatu keadaan yang sering terjadi pada remaja & wanita muda, di
mana merupakan akibat dari diet yang berlebihan sehingga sering muntah-
muntah yang dapat menyebabkan dehidrasi. Namun akibat muntah-muntah
tersebut, maka mulut menjadi lebih asam sehingga dapat menyebabkan erosi
pada daerah sekitar leher gigi.
- Xerostomia/ mulut kering
Adalah suatu keadaan di mana mulut dalam keadaan kering akibat
penggunaan napza sehingga kadar asamnya meningkat yang selanjutnya
dapat merusak gigi geligi dan mukosa mudah infeksi. Pada pengguna lebih
dari 3 tahun maka akan timbul lesi pada gigi sehingga gigi menjadi rapuh dan
mudah patah.
c. Kebiasaan Yang Tidak Baik
Kebiasaan yang tidak baik dan berakibat terhadap kesehatan gigi dan mulut,
antara lain seperti:
- Membuka botol dengan gigi
- Menggigit-gigit pensil
- Menghisap ibu jari
- Mengkerot-kerot gigi geligi dengan tidak sadar (Bruxism)

V. MANFAAT FLUOR BAGI KESEHATAN GIGI


Penggunaan fluor dalam rongga mulut merupakan salah satu mekanisme
perlindungan terhadap gigi melalui aplikasi fluor dengan cara topikal (pengolesan)
atau sistemik (menyeluruh) yang berfungsi mencegah terjadinya lubang gigi (karies)
oleh dokter gigi.

Kebanyakan penggunaan fluor dengan cara pemolesan kepada gigi melalui gel,
pernis, pasta gigi/tapal gigi, atau obat kumur. Cara aplikasi sistemik melalui
penggunaan suplemen fluor melalui air, garam, tablet, atau obat tetes yang
dikonsumsi.

Manfaat Penggunaan Fluor

• Fluor merangsang terjadinya remineralisasi (pembentukan kembali zat mineral


penyusun email) dalam rongga mulut
• Fluor memperkokoh susunan email gigi dengan pembentukan fluor apatite,
sehingga gigi lebih tahan terhadap invasi bakteri mulut
• Fluor dapat menghambat pembentukan asam bakteri pada gigi.

Indikasi/Kegunaan pada Gigi

Kegunaan fluor untuk gigi, antara lain:

• Bila pada permukaan gigi banyak munculnya bintik putih.


• Karies yang ganas dan luas atau rampant karies.
• Pada perawatan orthodontik (kawat gigi).
• Untuk perlindungan gigi anak-anak..
• Untuk gigi sensitif.
• Melindungi permukaan akar.
Sumber Fluor
Fluor terdapat dimana-mana baik dari alam, makanan, obat-obatan, tumbuhan/
tanaman maupun pada binatang seperti ikan, adapun fluor menurut para ahli antara
lain terdapat pada:
• Air dari sumber mata air atau air hasil pengolahan yang dikelola oleh PDAM,
seperti fluoridasi air di Amerika masyarakat yang telah mengkonsumsi air
fluoridasi mencapi 2/3 dari jumlah populasi.
• Pasta gigi yang mengandung fluoride, penggunaan dengan pasta gigi
merupakan salah cara yang paling efektif untuk mencegah karies gigi, sehingga
cara ini yang paling banyak digunakan orang, karena hampir setiap orang
menggosok gigi dengan pasta gigi berfluor setiap hari. Hasil penelitian WHO,
mengemukakan bahwa dengan menyikat gigi sehari dua kali dengan pasta gigi
berfluor dengan cara yang baik dan benar selama 3 tahun dapat menurunkan
prevalensi karies sebesar 40%.
• Ikan laut seperti teri banyak mengandung fluor, Berdasarkan penelitian Harun A.
Gunawan (2006), ikan teri jengki mengandung kalsium dan fluor dalam bentuk
senyawa CaF2 dalam konsentrasi yang cukup besar. Karena ikan ini mudah
rusak, perlu dilakukan suatu cara untuk mengawetkannya. Cara yang lazim
dipakai adalah pengasinan.
Ternyata, proses pengawetan maupun pemasakan ikan teri jengki ini tidak
mempengaruhi CaF2 yang dikandungnya.

Ikan Teri

• Obat kumur, dimana obat kumur yang digunakan harus mengandung sodium
fluoride. Tetapi untuk pasien dengan kasus karies parah, kumur-kumur manual
tanpa pengawasan dokter gigi kurang efektif.
• Diet suplemen, seperi pil, tablet atau obat tetes. Digunakan khususnya untuk
anak-anak yang tidak mendapat air yang mengandung fluor.
• Tumbuhan/tanaman seperti daun teh mengandung flour, fluoride yang ada
dalam daun teh mengandung sebanyak 35 ppm - 339 ppm serta mampu
berperan sebagai anti mikroba, menghambat translokasi gula sel, dan
menghambat enzym fosfatase sel. Anak-anak Sekolah Dasar di Jepang yang
mengkonsumsi Teh secara rutin dan kontiniu, tidak dtemukan
kasus karies gigi.

Tanaman Teh Minuman Teh


Efek Samping :

• Konsumsi berlebihan sampai batas 45 mililiter larutan fluor 2 % dapat


menyebabkan kematian
• Terjadinya dental fluorosis. Tetapi dengan menghindari pemaparan yang terlalu
lama dan sigap dalam pembilasan akhir (kumur-kumur) dapat mencegah
terjadinya dental fluorosis.

VI. PENANGANAN KEDARURATAN PENYAKIT GIGI DAN MULUT

Penanganan kedaruratan pada penyakit gigi diperlukan apabila diperlukan segera


dan jauh dari fasilitas kesehatan gigi dan ini hanya bersifat sementara, seperti pada
kegiatan kepramukaan, berkemah dan lain sebagainya. Penyakit gigi dan mulut
yang sering terjadi untuk ditangani segera pada kedaruratan, antara lain seperti:
• Sakit Gigi Berdenyut
Gejalanya:
- Kemungkinan rasa sakit.
- Timbul tanpa ada sebabnya yang jelas.
- Menghilang sebentar / mungkin juga terjadi terus-menerus.
- Sakitnya menjalar ke kepala atau leher.
- Menyebabkan tidur terganggu.
Pada umumnya kalau gigi diketok pelan-pelan atau dipakai untuk menggigit
timbul rasa sakit.
Penyebab:
- Karies gigi/gigi berlubang
- Peradangan gusi/jaringan penyangga gigi
Tindakan yang dilakukan:
- Periksalah mulut penderita (lihat petunjuk membuat riwayat sakit).
- Kalau lubang gigi di gigi itu besar, maka sebaiknya dibersihkan dan kemudian
diolesi dengan antiseptik seperti chlorhexidine.
- Kalau ada pos obat berikan obat untuk menghilangkan rasa sakit.
- Anjuran kumur air garam hangat untuk mengurangi sakit sementara.
- Dianjurkan penderita untuk pergi fasilitas kesehatan terdekat seperti
puskesmas atau klinik gigi untuk pengobatan selanjutnya.

• Pipi bengkak
Gejalanya:
- Gigi terasa sakit dan berdenyut serta disertai dengan demam.
- Didaerah pipi terasa menonjol/bengkak.
Penyebab:
- Radang gusi/jaringan penyangga
- Gigi berlubang/karies gigi
- Sesudah pencabutan gigi
- Karang gigi yang masuk kedalam saku gusi
Tindakan yang dilakukan:
- Periksalah apakah penderita dapat membuka mulut, kalau tidak dapat
membuka mulut, maka segera dikirim ke fasilitas kesehatan.
- Kalau mulut bisa dibuka periksalah gigi mana yang menyebabkan bengkak
tersebut.
- Anjuran berkumur – kumur dengan air garam hangat, dan dibagian luarnya
diberi kompres air dingin yang diberi cuka sedikit.
- Kirimkan penderita ke fasilitas kesehatan.

• Menghentikan perdarahan sesudah cabut gigi


Gejalanya:
- Sakit pada gusi
- Gusi/ penyangga gigi terasa mengeluarkan darah
Penyebab:
- Sesudah pencabutan gigi
Tindakannya :
- Gigitkan kapas yang diberi larutan antiseptik seperti betadin/chlorhexidine
kemudian taruh diatas bekas pencabutan gigi serta digigit selama kurang
lebih satu jam.
- Hindari minuman yang terlalu panas
- Anjurkan jangan sering berkumur-kumur untuk sementara.
- Bila tidak ada perubahan kirimkan ke fasilitas kesehatan terdekat.

• Cara pembuatan larutan untuk pengobatan sementara


Pembuatan larutan untuk pengobatan sementara dilakukan dalam keadaan
kedaruratan gigi, ini dilakukan apabila dalam kegiatan yang jauh dari fasilitas
kesehatan seperti kegiatan kepramukaan/ kemah atau dirumah. Larutan yang
dibuat seperti:
o Cara membuat rebusan air sirih
- Siapkan panci dan air bersih
- Ambil daun sirih sebanyak 6 – 7 helai daun yang sudah dicuci bersih
- Masukan kedalam panci yang sudah diisi air bersih
- Rebuslah air sebanyak 2 gelas sampai mendidih.
- Kalau air sudah mendidih, daun sirihnya dimasukkan, tutuplah segera
pancinya dari api selama kurang lebih lima menit.
- Angkatlah pancinya dari api tetapi tutupnya tidak boleh dibuka, biarkan air
rebusan ini menjadi hangat-hangat kuku, baru dipakai untuk berkumur-
kumur.
- Kalau air rebusan ini mau dihangatkan lagi pancinya harus ditutup rapat.

Daun Sirih Tanaman Sirih

o Cara membuat air garam hangat

- Ambilah segelas air masak yang masih hangat


- Tambahkan garam kasar (garam dapur) 1 sendok makan. Kalau
garamnya halus cukup pakai setengah sendok makan.

VII CARA MEMERIKSA GIGI ANTAR TEMAN/SEBAYA


a. Tujuan
Setiap anggota pramuka, agar dapat melakukan pemeriksaan gigi antar
anggota pramuka, dengan harapan mengetahui kondisi kesehatan gigi dan
mulut.
b. Posisi waktu pemeriksaan :
1. Penderita duduk di kursi atau ditempatkan dekat dinding kepalanya
ditengadahkan sedikit dan disandarkan ke dinding.
2.Usahakan adanya penerangan yang cukup, karena itu penderita harus
duduk menghadap arah datangnya cahaya.

3. Alat pembantu sederhana adalah kaca mulut, untuk menarik pipi atau
mendorong lidah.
VIII MANAJEMEN PENYULUHAN
Penyuluhan terkait kesehatan gigi dan mulut yang akan dilakukan kepada orang
lain baik secara perorangan atau kelompok, maka diperlukan kesiapan dari
penyuluh tersebut, untuk ada beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain:
- Tahap persiapan, pada tahap ini penyuluh harus mempersiapkan materi yang
akan sebarluaskan, metode dan cara serta alat peraga yang akan digunakan,
bahasa yang digunakan serta sasaran penyuluhan kepada siapa dan waktu
pelaksanaan.
Contoh sederhana pembuatan rencana penyuluhan:

Materi Metode Alat Peraga Sasaran


- Cara - Cerita/ceramah + - Poster, model - Anggota
pemeliharaan demonstrasi / life model pramuka,
kesehatan gigi perorangan
dan mulut atau
masyarakat
- Kelainan pada - Cerita/ceramah + - Poster - Anggota
gigi dan mulut. demonstrasi pramuka,
perorangan
atau
masyarakat
- -dll
T
ahap pelaksanaan, pada tahap ini disamping penyuluh harus mengusai
materi yang akan disebarluaskan juga dapat memotivasi peserta untuk turut
aktif dalam materi penyuluhan yang diberikan serta penggunaan bahasa yang
mudah dimengerti oleh peserta, sehingga penyuluhan yang dilakukan sesuai
dengan harapan yang akan dicapai.

- Tahap evaluasi, pada tahap ini diharapkan sasaran untuk anggota pramuka
dapat mengerti penyuhan yang diberikan sehingga mampu memenuhi syarat
kecakapan khusus tentang kesehatan gigi dan mulut, sedangkan bagi
masyarakat diharapkan dapat menerapkannya sehingga mandiri untuk hidup
sehat terkait kesehatan gigi meningkat.
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI, 1983


Fluor Dan Kesehatan Gigi Mulut, Ditjen Yan Medik, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1983


Pengetahuan Umum Untuk Promotor Kesehatan Desa (Prokesa), seri Buku
Penuntun Promotif–Preventif Kesehatan Gigi dan Mulut, Dit Kes Gigi Ditjen Yan
Medik, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1983


Penuntun Umum Untuk Guru Sekolah Dasar, Seri Buku Penuntun Promotif–
Preventif Kesehatan Gigi dan Mulut, Dit Kes Gigi Ditjen Yan Medik, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1984


Menggosok Gigi, Mengapa Dan Bagaimana, Dit Kes Gigi Ditjen Yan Medik,
Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1984


Alat Peraga Untuk kader Tentang Kesehatan Gigi dan Mulut, Dit Kes Gigi Ditjen
Yan Medik, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1985


Pengetahuan Umum Petugas Puskesmas, Seri Buku Penuntun Promotif –
Preventif Kesehatan Gigi dan Mulut, Dit Kes Gigi Ditjen Yan Medik, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 1994


Petunjuk Penggunaan Fluor Dalam Pencegahan Penyakit Gigi dan Mulut,
Dit Kes Gigi Ditjen Yan Medik, Jakarta.

Scully C, Cawson R.A, Alih Bahasa Yuwono L, 1992


Atlas Kedokteran Gigi : Penyakit Mulut, Cetakan II, Penerbit Hipokrates, Jakarta.

Departemen Kesehatan RI, 2004


Buku Pedoman Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat, Cetakan Ketiga, Jakarta

Departemen Kesehatan RI, 2004


Buku Pedoman Penyelenggaraan Usaha Kesehatan Gigi Sekolah, Jakarta

Departemen Kesehatan RI, 2007


Buku Pedoman Pengobatan Dasar Di Puskesmas, Jakarta,

Iqbal Sandira, 2009


Terapi Fluor Untuk Pelindungan Mulut, www. iqbalsandira.blogspot.com

Martha Mozartha, 2009


Mengupas Manfaat di Balik Tubuh Mungil Ikan Teri oleh
www.klikdokter.com/article/detail,
SKK
KESEHATAN JIWA
SKK KESEHATAN JIWA

TUJUAN SKK KESEHATAN JIWA

PRAMUKA SIAGA (7-10 TAHUN)

Tidak diadakan

PRAMUKA PENGGALANG (11-15 TAHUN)

A. Dapat menyebutkan perkembangan jiwa remaja.


B. Dapat menyebutkan masalah kesehatan jiwa remaja.
C. Dapat menyebutkan pengaruh lingkungan terhadap perkembangan jiwa remaja serta
cara mencegahnya.
D. Dapat menyebutkan perubahan-perubahan mental pada remaja yang menggangu
pasca suatu bencana.
E. Dapat menyebutkan cara meningkatkan taraf kesehatan jiwa remaja.
F. Dapat menyebutkan definisi Kesehatan Jiwa.

PRAMUKA PENEGAK (16-20 TAHUN)

Seorang Pramuka Penegak harus:


a. Menguasai materi perkembangan jiwa remaja.
b. Menguasai materi masalah kesehatan jiwa remaja.
c. Menguasai pengaruh lingkungan terhadap perkembangan jiwa remaja serta
pencegahannya.
d. Menguasai materi cara meningkatkan taraf kesehatan jiwa remaja.
e. Menguasai defenisi kesehatan jiwa remaja.
f. Membimbing seorang Pramuka Penggalang untuk mendapatkan TKK Kesehatan Jiwa.

PRAMUKA PANDEGA (21-25 TAHUN)

Seorang Pramuka Pandega harus:


a. Menguasai materi SKK untuk golongan Penegak..
b. Dapat memberikan penyuluhan tentang perkembangan jiwa remaja
c. Dapat memberikan penyuluhan tentang maslah kesehatan jiwa remaja.
d. Dapat memberikan penyuluhan tentang pengaruh lingkungan terhadap perkembangan
jiwa remaja serta pencegahannya.
e. Dapat memberikan penyuluhan materi cara meningkatkan taraf kesehatan jiwa remaja.
f. Dapat memberikan penyuluhan defenisi kesehatan jiwa remaja.
g. Membimbing seorang Pramuka Penggalang dan Penegak untuk mendapatkan TKK
Kesehatan Jiwa.
MATERI SKK KESEHATAN JIWA :

Dalam SKK ini akan diuraikan secara singkat dan sederhana mengenai kesehatan jiwa
keluarga secara umum, perkembangan jiwa dan masalah kesehatan jiwa remaja, masalah
penyalahgunaan Napza dan bahaya penggunaan Napza.

Materi yang diberikan pada Pramuka Penggalang adalah materi kesehatan jiwa remaja dan
penyalahgunaan Napza. Sedangkan untuk Pramuka Penegak dan Pandega, diberikan
materi tentang kesehatan jiwa dasar, Napza dan gangguan jiwa yang sering ditemukan di
masyarakat. Selain itu disisipkan pula materi kondisi kesehatan jiwa pada daerah pasca
bencana.

Diharapkan uraian yang sederhana ini dapat lebih menyebarluaskan pengetahuan


kesehatan jiwa pada masyarakat umunya dan Pramuka pada khususnya.

PRAMUKA SIAGA (7-10 TAHUN)


Tidak diadakan

PRAMUKA PENGGALANG (11-15 TAHUN)


A. Perkembangan psikososial remaja yang terdiri dari:
1. Kelompok remaja usia 10-14 tahun
- Cemas terhadap penampilan badan/fisik
- Perilaku memberontak dan melawan
- Setia kepada teman sebaya
- Sangat menuntut keadilan tapi cenderung melihat sesuatu sebagai hitam putih
- Menyatakan kebebasan dan merasa sebagai seorang individu, tidak hanya
sebagai seorang anggota keluarga

2. Kelompok remaja usia 15 -16 tahun


- Lebih mampu berkompromi
- Mulai tertarik pada lawan jenis
- Tidak lagi terfokus pada diri sendiri
- Intelektual lebih berkembang dan ingin tahu tentang banyak hal
- membangun nilai / norma dan mengembangkan moralitas :
o Tahu membedakan antara apa yang benar/baik dengan apa yang
buruk/salah.
o Dapat menyesuaikan diri dengan norma yang berlaku
- Minatnya mulai berkembang (misal: di bidang olah raga, musik, bela diri)
- Senang berpetualang, ingin bepergian secara mandiri ( ke luar daerah, naik
gunung, berlayar)

3. Kelompok remaja usia 17-19 tahun


- Ideal
- Terlibat dalam kehidupan,pekerjaan di luar keluarga
- Mampu membuat hubungan lebih stabil dengan lawan jenis
- Merasa sebagai orang dewasa yang setara dengan anggota keluarga lainnya
- Belajar untuk mandiri secara emosional maupun finansial
B. Mengerti masalah kesehatan jiwa remaja
Masalah kesehatan jiwa remaja antara lain:
1. Kesulitan belajar
Yaitu suatu keadaan dimana remaja tidak menunjukkan prestasi sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya.
Ada 3 faktor saling terkait yang mempengaruhi kesulitan belajar pada remaja yaitu:
a) Biologik dan bawaan
Adanya penyakit, kurang gizi, kelelahan, taraf kecerdasan kurang, gangguan
pemusatan perhatian (sulit berkonsentrasi), gangguan perkembangan spesifik
misalnya disleksia (gangguan membaca) dan lain-lain.
b) Psikologik dan pendidikan
Cara guru atau orang tua mendidik/mengajar yang tidak tepat, dapat
menimbulkan gangguan dalam hubungan remaja dengan guru dan teman
sebayanya, serta konflik intrapsikis (konflik kejiwaan dalam diri sendiri)
c) Lingkungan sosial dan budaya
Situasi keluarga yang tidak kondusif, tidak ada keharmonisan, perilaku orang tua
atau saudara yang sering mempermalukan anak, atau anak dibandingkan
dengan remaja lain, saudara atau temannya yang lebih pandai, beban pekerjaan
rumah yang berlebihan, tersisihkan dari pergaulan teman sebaya dan lain-lain.
2. Kenakalan remaja
Adalah tingkah laku yang melampaui batas toleransi orang lain di lingkungannya,
perbuatan yang melanggar hukum atau sampai melangar hak azasi manusia.
Antara lain: melawan orang tua, naik bis tanpa bayar, membolos, mengompas,
mencuri, tawuran, membunuh dan memperkosa.
Penyebabnya:
a) Faktor genetik/biologik/konstitusional (cedera kepala), misalnya:
• Gangguan tingkah laku tak berkelompok yang sudah mulai terlihat pada
masa kanak-kanak, semakin parah dengan bertambahnya usia yang
antara lain terlihat pada sikap kejam terhadap binatang, suka main api dan
lain-lain.
• Kepribadian akibat kerusakan otak berupa perilaku impulsif (bertindak
tanpa dipikir terlebih dahulu), mudah marah.
• Gangguan pemusatan perhatian dengan hiperaktifitas, yaitu gangguan
yang diakibatkan kerusakan minimal pada otak
b) Faktor pola asuh orang tua yang tidak sesuai dengan kebutuhan
perkembangan anak, misalnya: orang tua yang permisif, otoriter dan masa
bodoh.
c) Faktor Psikososial, misalnya:
• Rasa rendah diri, rasa tidak aman, rasa takut yang dikompensasi dengan
berperilaku resiko tinggi
• Pembentukan identitas diri yang kurang mantap dan keinginan mencoba
batas kemampuannya, menyebabkan remaja berani/nekat
• Proses identifikasi remaja terhadap tindak kekerasan
• Penanaman nilai yang salah, yaitu orang atau kelompok yang berbeda
misalnya seragam sekolah, etnik, agama dianggap “musuh”.
• Pengaruh media massa (majalah, film, televisi) dapat memberi contoh
yang tidak baik bagi remaja.
Penatalaksanaan dengan melalui program konselling baik kepada orang tua, remaja
dan keluarga.

3. Masalah perilaku seksual


Meningkatnya kadar hormon pada remaja, akan mempengaruhi dorongan seksual
sehingga ia dapat melakukan aktivitas seksual.
Bentuk tingkahlaku seksual dapat mulai dari perasaan tertarik, berkencan,
bercumbu sampai bersenggama.
Masalah perilaku seksual antara lain:
- Hubungan seksual pra nikah
- kehamilan di luar nikah
- Pengguguran kandungan (aborsi)

C. Pengaruh Lingkungan Terhadap Perkembangan Jiwa Remaja


1. Lingkungan Keluarga
a) Pola Asuh Keluarga
Proses sosialisasi sangat dipengaruhi oleh pola asuh dalam keluarga.
• Sikap orang tua yang otoriter (mau menang sendiri, selalu mengatur, semua
perintah harus diikuti tanpa memperhatikan pendapat dan kemauan anak) akan
sangat berpengaruh pada perkembangan kepribadian remaja. Ia akan
berkembang menjadi penakut, tidak memiliki rasa percaya diri, merasa tidak
berharga, sehingga proses sosialisasi menjadi terganggu.
• Sikap orang tua yang permisif (serba boleh, tidak pernah melarang, selalu
menuruti kehendak anak, selalu memanjakan) akan menumbuhkan sikap
ketergantungan dan sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial di luar
keluarga.
• Sikap orang tua yang selalu membandingkan anak-anaknya, akan
menumbuhkan persaingan tidak sehat dan saling curiga antar saudara.
• Sikap orang tua yang berambisi dan terlalu menuntut anaknya,akan berakibat
anak cenderung mengalami frustasi, takut gagal dan merasa tidak berharga.
• Orang tua yang demokratis akan mengakui keberadaan anak sebagai individu
dan makhluk sosial serta mau mendengarkan dan menghargai pendapat anak.
Kondisi ini akan menimbulkan keseimbangan antara perkembangan individu
dan sosial, sehingga anak akan memperoleh suatu kondisi mental yang sehat.
b) Kondisi Keluarga
Hubungan orang-tua yang harmonis akan menumbuhkan kehidupan emosional
yang optimal terhadap perkembangan kepribadian anak. Sebaliknya, orangtua
yang sering bertengkar akan menghambat komunikasi dalam keluarga, dan anak
akan “melarikan diri” dari keluarga. Keluarga yang tidak lengkap misalnya karena
perceraian, kematian dan keluarga dengan keadaan ekonomi yang kurang, dapat
mempengaruhi perkembangan jiwa anak.
c) Pendidikan moral dalam keluarga
Pendidikan moral dalam keluarga adalah upaya menanamkan nilai-nilai akhlak
atau budi pekerti kepada anak di rumah. Pengertian budi pekerti mengandung
nilai-nilai:
• Keagamaan, pendidikan agama diharapkan dapat menumbuhkan sikap anak
yang mampu menjauhi hal-hal yang dilarang dan melaksanakan perintah
agama. Remaja yang taat norma agama akan terhindar atau mampu
bertahan terhadap pengaruh buruk lingkungannya.
• Kesusilaan, nlai-nilai yang berkaitan dengan sopan santun, kerjasama dan
saling menghormati.
• Kepribadian, misalnya keberanian, kejujuran, kemandirian dsb.

2. Lingkungan Sekolah
Umumnya orang-tua menaruh harapan yang besar pada pendidikan di sekolah.
a) Suasana Sekolah
Baik buruknya suasana sekolah sangat tergantung pada kepemimpinan kepala
sekolah, sarana pendidikan dan disiplin sekolah.
Dalam upaya mengoptimalkan perkembangan jiwa remaja di sekolah, guru
diharapkan:
• Memperhatikan pendekatan perorangan (individual), karena setiap siswa
memiliki sifat, bakat, minat dan kemampuan yang berbeda.
• Bersedia mendengarkan dan memperhatikan keluhan siswa.
• Memiliki kepekaan dalam membaca kondisi batin (mood) siswa.
• Perilaku guru dapat menciptkan rasa aman bagi seluruh siswa di
sekolah.
• Menghindari sikap mengancam
• Mmberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan diri
• Bersikap sabar

3. Lingkungan Teman Sebaya


Remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama dengan teman sebaya,
sehingga sikap, pembicaraan, minat, penampilan dan perilaku teman sebaya lebih
besar pengaruhnya daripada keluarga.
Di dalam kelompok sebaya, remaja berusaha menemukan konsep dirinya.

4. Lingkungan Masyarakat
• Lingkungan Sosial Budaya
Dalam era globalisasi, dunia menjadi sempit. Budaya lokal dan budaya nasional
akan tertembus oleh buday universal. Dengan demikian akan terjadi pergeseran
nilai kehidupan.
• Media Massa
Melalui radio, televisi, internet manusia saling berhubungan. Hubungan antara
manusia yang manusiawi menjadi pudar. Remaja sibuk “berkomunikasi” dengan
televisi, radio, vcd atau internet. Media elektronik yang saat ini melanda setiap
rumah adalah televisi. Televisi telah merengut waktu luang yang berharga di
rumah. Hubungan antara anggota keluarga menjadi sangat minim.

D. Masalah kesehatan jiwa pada remaja di daerah pasca bencana


Perubahan mental pasca bencana
a) Perubahan mental pada remaja 10 – 19 tahun
• Rasa takut, gelisah sering kurasakan, takut kalau-kalau bencana itu
datang lagi sehingga anak terus saja merasakan kegelisahan
• Menjadi anak yang cengeng dan sering termenung membayangkan
orang-orang atau teman-teman yang dicintainya yang telah meninggal
dunia akibat bencana
• Anak mudah marah tanpa sebab kepada siapa saja, terutama kepada
teman sebaya
• Mengalami ngompol dan ada yang menghisap jari kembali
• Sulit tidur dan mimpi buruk
• Sulit belajar (konsentrasi) dan tidak mau ke sekolah lagi
• Kadang-kadang timbul rasa pusing, mual dan sesak nafas secara tiba-
tiba

Beberapa cara dapat diterapkan dalam membantu anak yang mengalami perubahan
mental pasca bencana :
• Ketika remaja merasa takut, gelisah, sebaiknya anak dipeluk, dibelai dan
dihibur, sehingga mereka merasa aman besama-sama anggota Pramuka
• Mendorong mereka bermain sambil menceritakan pengalaman-
pengalamannya yang tidak mengenakkan
• Mendorong mereka untuk kembali beraktivitas seperti ke sekolah
• Tidak menyalahkan atau memarahi, jika mereka ngompol atau menghisap
jari
b) Perubahan mental pasca bencana pada Remaja 15-18 tahun
• Merasa cemas (gugup, gagap)
• Sulit konsentrasi (sulit belajar)
• Sedih berkepanjangan, sehingga membuat kehilangan minat/hobi dan
kadang menarik diri dari pergaulan dengan teman sebaya
• Ada yang suka merusak diri sendiri seperti menggunakan narkoba, ngebut
dan senang berkelahi sebagai pelarian
• Mereka juga berontak pada orangtua dan guru
• Sering pula melakukan tindak kekerasan seperti menjarah, mencuri.
• Selain itu sering merasakan keluhan fisik tanpa sebab seperti tiba-tiba
pusing, mual dan sesak nafas

Beberapa cara dapat dilakukan untuk membantu remaja yang mengalami perubahan
mental pasca bencana

• Mendorong/mengajak untuk berdoa, beribadah dan berserah diri kepada


Tuhan Yang Maha Esa
• Saling berbagai rasa dengan teman-teman sebaya
• Bersama-sama terlibat dengan kegiatan di sekitarnya seperti membuat tenda,
membersihkan lingkungan, membantu dapur umum atau membagikan
makanan kepada orang orang sekitar
• Merawat diri dengan istirahat cukup, makan makanan bergizi, menolak untuk
minum alkohol, merokok dan narkoba
• Kembali kekegiatan semula seperti bersekolah, berolahraga, berkesenian
PENGERTIAN REMAJA

Masa remaja merupakan suatau fase perkembangan antara masa kanak


dan masa dewasa. berlangsung antara usia 10 sampai 19 tahun.

Terdiri dari masa remaja abak (10-14 tahun), masa remaja pertengahan
(14-17 tahun) dan masa remaja akhir (17-19 tahun). Pada masa remaja,
terjadi perubahan baik biologis, psikologis maupun social, tetapi
umumnya proses pematangan fisik terjadi lebih cepat daripada proses
pematangan kejiwaan (psikososial).

E. Mengerti cara meningkatkan taraf kesehatan jiwa remaja.


Cara meningkatkan taraf kesehatan jiwa remaja antara lain melalui upaya sebagai
berikut:
a) Bisa menyatakan perasaan dengan cara sopan dan baik.
b) Bisa membina hubungan yang harmonis dengan orang tua, keluarga, guru
dan teman sebaya.
c) Bisa melakukan kegiatan yang positif, olah raga kesenian.
d) Bisa menghadapi masalah dan menyelesaikannya.
e) Mengerti saat minta tolong pada orang lain bila menghadapi suatu masalah
yang tidak dapat disesuaikan sendiri.

F. Pengertian Kesehatan Jiwa


Kesehatan Jiwa adalah perasaan sehat dan bahagia serta mampu menghadapi
tantangan hidup, dapat menerima orang lain sebagaimana adanya dan mempunyai
sifat positif terhadap diri sendiri dan orang lain

Kesehatan jiwa bukan sekedar terbatas dari gangguan


jiwa, tetapi merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh
semua orang

Jadi kesehatan jiwa meliputi :

- Bagaimana perasaan seseorang terhadap dirinya


- Bagaimana perasaan seseorang terhadap orang lain
- Bagaimana caranya ia mengatasi stress yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari
Ciri orang yang sehat jiwa :

1. Merasa nyaman terhadap dirinya :

- Mampu menghadapi berbagai perasaan seperti : rasa marah, takut, cemas, cinta, iri,
rasa bersalah, rasa senang dll.
- Mampu mengatasi kekecewaan dalam hidup
- Mempunyai harga diri yang wajar
- Menilai dirinya secara nyata, tidak merendahkan dan tidak pula berlebihan
- Merasa puas dengan kehidupan sehari-hari
2. Merasa nyaman berhubungan dengan orang lain
- Mampu mencintai dan menerima cinta dari orang lain
- Mempunyai hubungan pribadi yang tetap
- Mampu mempercayai orang lain
- Dapat menghargai pendapat orang lain
- Merasa menjadi bagian dari kelompok
- Tidak mengakali orang lain dan tidak membiarkan dirinya diakali orang lain
3. Mampu memenuhi kebutuhan hidup
- Menetapkan tujuan hidup
- Mampu mengambil keputusan
- Menerima tanggung jawab
- Merancang masa depan
- Menerima ide dan pengalaman hidup
- Merasa puas dengan pekerjaannya

Ciri-ciri orang yang Sehat Jiwa :


• Menyadari sepenuhnya kemampuan dirinya
• Mampu menghadapi stress kehidupan yang wajar
• Mampu bekerja secara produktif dan memenuhi kebutuhan hidupnya
• Dapat berperan serta dalam lingkungan hidup
• Menerima baik dengan apa yang ada pada dirinya
• Merasa nyaman bersama orang lain
PRAMUKA PENEGAK (16-20 TAHUN)

Pramuka ini telah memenuhi SKK Kesehatan Jiwa Pramuka Penggalang, sehingga ia
diharapkan dapat:
A. Menjelaskan Ciri Perkembangan Jiwa remaja
B. Menjelaskan Masalah Kesehatan Jiwa Remaja
C. Menjelaskan Ciri remaja yang menyalahgunakan Napza
D. Menjelaskan Bahaya Penggunaan Napza
E. Menjelaskan Cara Meningkatkan Taraf Kesehatan Jiwa remaja
F. Menjelaskan pengertian ketergantungan zat, intoksikasi dan gejala putus zat
H.Dapat menjelaskan dan beberapa solusi terhadap perubahan mental pada remaja
yang menganggu pasca bencana
I. Menjelaskan beberapa gangguan jiwa yang banyak ditemukan di masyarakat
J. Menjelaskan tentang pengertian kesehatan jiwa
K. Menjelaskan cara melapor/merujuk jika menemukan penderita gangguan jiwa berat
yang dipasung, dikurung atau diterlantarkan.
( Jalur rujukan adalah kader kesehatan jiwa, puskesmas, bila tidak dapat ditangani
dapat dirujuk ke RS Jiwa Pemerintah/Swasta )

PRAMUKA PANDEGA (21-25 TAHUN)

Pramuka ini telah memenuhi SKK Kesehatan Jiwa Pramuka Penegak sehingga memenuhi
SKK Kesehatan Jiwa (memperoleh TKK Kesehatan Jiwa), sehingga ia diharapkan dapat:
A. Memberikan penyuluhan tentang ciri perkembangan jiwa remaja
B. Memberikan penyuluhan tentang masalah kesehatan jiwa remaja
C. Memberikan penyuluhan tentang Gangguan Jiwa yang sering ditemukan di
masyarakat
D. Memberikan penyuluhan tentang Bina Keluarga Sehat Jiwa.
E. Memberi penyuluhan tentang beberapa gangguan jiwa yang sering ditemukan di
masyarakat.
F. Memberikan pelatihan kepada Penggalang dan Penegak untuk mendapatkan SKK
Kesehatan Jiwa Keluarga
Materi Bagi Pramuka Penegak dan Pandega

A) Membina keluarga Sehat jiwa

Keluarga merupakan kelompok terkecil di masyarakat.


Keluarga inti terdiri ayah, ibu, dan anak.
Keluarga besar terdiri dari ayah, ibu, anak, kakek, nenek, paman, bibi, keponakan.
Ada keluarga dengan ayah/ibu/anak tiri, anak angkat atau tanpa anak
Ada keluraga dengan orangtua tunggal (single parent) karena pasangan ayah dan ibu
sudah berpisah, mungkin karena perceraian atau kematian.
Keluarga yang tinggal dalam satu rumah saling mempengaruhi. Kalau semua anggota
keluarga memiliki jiwa sehat maka pengaruhnya terhadap perkembangan kesehatan
jiwanya akan baik. Kalau ada anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan
jiwa tentu saja akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya. Saling menjaga
dan membantu agar semua anggota keluarga sehat jiwanya.

a) Agar keluarga sehat jiwa :

- Anggota keluarga saling memperhatikan, menghargai dan saling peduli.


- Ada waktu bersama, baik untuk makan atau duduk-duduk sambil bercakap-
cakap, menonton televisi, mendengarkan radio dan musik
- Ayah, ibu, anak dapat saling mengemukakan pendapat, menunjukkan
perasaannya, menyatakan kegembiraan atau kesedihan hatinya. Mereka mau
menyediakan waktu untuk mendengarkan dan membantu memikirkan jalan
keluarnya
- Setiap orang punya kepentingan pribadi. Keluarga dapat memberi kesempatan
kepada setiap keluarganya untuk memiliki kehidupan pribadi
- Keluarga memberikan perlindungan kepada anggotanya. Mereka saling menjaga
satu sama lain.
- Ciptakan suasana kehidupan beragama dalam keluarga

b) Menjaga Kesehatan Jiwa dalam keluarga


- Menerima keadaan seperti adanya. Tidak membandingkan dengan orang atau
keluarga lain, karena memang berbeda. Setiap orang atau keluarga mempunyai
kehidupan sendiri-sendiri.

- Saling mengemukakan pendapat dan menyampaikan perasaan secara jujur


dengan cara yang baik, agar tidak menyinggung perasaan atau menyakiti hati.

- Saling memuji dengan tulus dan mengingatkan sesuai keadaan dan


keperluannya. Jangan hanya bisa mencela dan mencemooh. Berikan pujian
kalau memang layak dipuji. Dorong semangat agar selalu bangkit kembali dari
kegagalan atau kekecewaan

- Bersikap tanggap, bisa memahami, dan mau membantu kalau ada anggota
keluarga yang memerlukannya. Jangan bersikap tidak peduli

- Janganlah mencaci maki, apalagi memukul, kalau ada perbuatan yang kurang
berkenan atau sukar diterima. Bicarakan baik-baik dan pusatkan perhatian agar
dapat menyelesaikan masalahnya atau mencari jalan keluar
- Miliki harapan yang sesuai dengan kenyataan. Jangan berangan-angan terlalu
muluk. Harapan yang sukar dicapai, apalagi tak mungkin terwujud dalam
kenyataan, akan sangat mengecewakan.

- Bersikap saling setia dan saling percaya. Jangan mudah percaya dengan hal
yang belum jelas. Bersikaplah adil dalam menilai. Jangan cepat-cepat berpihak.
Beri kesempatan dan dengarkan semua pihak supaya bisa menimbang dengan
adil, baru memutuskan.

- Saling membantu adalah sikap yang sangat dianjurkan bagi para anggota
keluarga.

- Menangis, tertawa, sedih, kecewa, gembira adalah perasaan normal. Berikan


kesempatan bagi anggota keluarga untuk mengemukakannya. Jangan dimarahi
kalau menangis. Jangan ditahan kalau ada yang ingin ditertawakan. Perasaan
yang sering tertahan bisa menyebabkan gangguan. Latih anak agar bisa
mengungkapkan perasaannya dengan bebas tapi tetap memperhatikan aturan
dan tidak berlebihan.

Beberapa cara untuk menjaga kesehatan Jiwa :


1. Berbagi cerita
2. Beraktivitas
3. Makan gizi seimbang
4. Tidak minum alkohol
5. Menjalin persahabatan
6. Peduli dengan teman
7. Berani minta tolong
8. Istirahat cukup
9. Menerima diri sendiri
10. Melakukan yang terbaik

B) Kondisi kesehatan jiwa Keluarga yang mengalami bencana

Pada saat terjadi bencana yang selalu menimbulkan kerugian dan kehilangan harta
benda dan orang yang dicintai di dalam keluarga

Pada saat itu beberapa anggota keluarga mengalami masalah kejiwaan karena
kehilangan orang dicintainya seperti: meninggalnya suami/istri, ayah/ibu, anak dan
kakek/nenek dan anak saudara lainnya yang pernah tinggal dalam satu rumah
sebelum terjadinya bencana

Hal ini dapat menimbulkan perubahan pada diri seseorang, seperti:

• Rasa takut, tegang, cemas dan panik sering menghantui, takut kalau bencana itu
terulang kembali
• Mudah tersinggung dan mudah marah
• Sering merasa bersalah, putus asa, sedih dan terkadang ingin mati saja
• Perasaan terasing dan menyendiri kadang –kadang muncul
• Bahakan kadang-kadng merasa solah-olah kembali mengalami bencana
• Tak jarang mengalami sakit kepala, pusing, mual, sesak nafas yang muncul tiba-
tiba tanpa sebab
• Keadaan seperti diatas dialami juga oleh anggota keluarga lain di tempat
pengungsian, bahkan ada yang anggota keluarganya menjadi linglung dan sering
bicara dan tertawa sendiri serta banyak merokok

Beberapa hal yang perlu diinformasikan kepada anggota keluarga di tempat


pengungsian agar menyadari kondisinya dengan melakukan :
• Beribadah, berdoa dan berserah kepada Tuhan Yang Maha Esa
• Berbagai rasa dengan orang lain yang dapat dipercaya
• Merawat diri, seperti istirahat cukup, makanan yang bergizi
• Berbagai informasi tentang pertolongan yang bisa dilakukan
• Terlibat dalam kegiatan di sekitarnya, seperti membantu dapur umum, mendata
orang-orang, membantu membagikan sembako dll
• Kembali melakukan kegiatan sehari-hari, seperti mengurus anak-anak dan
memperhatikan makanan dan pendidikannya untuk masa depan.

C) Mengenali Gangguan Jiwa yang banyak ditemukan di Masyarakat

1. Apa yang disebut dengan Gangguan Jiwa.


Seperti halnya gangguan fisik, maka gangguan jiwa juga terdiri dari berbagai macam
penyebab, gejala dan cara pengobatan yang berbeda pula.
Gangguan Jiwa adalah gangguan pikiran, gangguan perasaan dan gangguan
tingkah laku, sehingga menimbulkan penderitaan dan terganggunya fungsi sehari-
hari (fungsi pekerjaan dan fungsi sosial) dari orang tersebut.

Gangguan Pikiran dapat berupa :


 Pikiran yang berulang-ulang
 Pikiran tentang sakit dan penyakit yang berlebihan
 Pikiran tentang ketakutan yang tidak masuk akal (irasional)
 Keyakina yang tidak sesuai dengan kenyataan/realitas (curiga, merasa
dikejar-kejar, mersa mau dibunhuh dsb.)
 Mengalami halusinasi seperti : mendengar suara bisikan atau melihat
bayang-bayang yang tidak ada obyeknya
Gangguan Perasaan dapat berupa :
 Cemas yang berlebihan dan tidak masuk akal
 Sedih yang berlarut-larut
 Gembira yang berlebihan
 Marah atau kesal yang tidak beralasan
Gangguan Tingkah Laku :
 Gaduh gelisah, mengamuk
 Perilaku yang terus diulang
 Perilaku yang kacau
 Pada anak-anak dapat berupa (kesulitan belajar, gangguan berbahasa,
hiperaktif dan tidak dpat konsentrasi, tidak dapat bergaul dll)
Menimbulkan penderitaan:
 Sulit tidur atau terlalu banyak tidur
 Tidak nafsu makan atau makan berlebihan
 Sulit berkonsentrasi
 Pusing, tegang, sakit kepala, berdebar-debar, kerinngat dingin, sakit perut,
diare, mual, muntah dll
 Menurunnya semangat dan kemampuan kerja
 Berkurangnya gairah seksual

Menimbulkan gangguan fungsi sehari-hari


 Sering melakukan kesalahan pada pekerjaan
 Sering bolos sekolah, prestasi sangat turun
 Pekerjaan tidak bisa diselesaikan, perasaan ingin sempurna
 Sering ditegur atasan dan bentrok dengan teman kerja
 Tidak ingin bertemu orang lain, menarik diri dari pergaulan

8. Penyebab gangguan Jiwa


A. Faktor keturunan
B. Faktor lingkungan dan situasi kehidupan sosial
C. Penyakit Fisik
Penyebab gangguan jiwa merupakan hasil interaksi dari berbagai faktor tersebut.
Misalnya orang yang dilahirkan dengan kecenderungan gangguan jiwa
(orangtua/saudara), tidak selalu mengalami gangguan jiwa apabila dia hidup dalam
kondisi sosial, keadaan atau lingkungan psikologis yang baik
a) Faktor Keturunan (genetik) : beberapa jenis gangguan jiwa cenderung
berhubungan dengan keturunan
b) Lingkungan dan situasi kehidupan sosial : Pengalaman dengan anggota keluarga,
tetangga, sekolah, tempat kerja dll, menciptakan situasi yang menegangkan atau
menyenangkan. Melalui pergaulan seseorang akan belajar bagaimana cara
berbagi dan mengerti perasaan serta sikap orang lain.
c) Penyakit Fisik : umumnya penyakit fisik yang secara langsung maupun tidak
langsung mengenai otak, seperti :
 Trauma kepala/otak
 Penyakit infeksi pada otak
 Stroke
 Tumor otak
 Gizi buruk
 Pengaruh zat psikoaktif seperti narkotika, ganja, ekstasi, shabu, kokain, obat
penenang/obat tidur, alkohol dll
 Gangguan fisik yang tidak langsung berupa penyakit yang membuat
gangguan metabolisme di otak misalnya sakit tifus, HIV AIDS, malaria,
penyakit hati dan penyakit kronis lain yang dapat menimbulkan masalah
psikologis atau penyesuaian diri seperti Kanker, Penyakit jantung dan
Hipertensi, TBC, Asma bronkhialis, radang sendi, sakit gula (Diabetes
Melitus) dan beberapa penyakit kulit.
3. Gangguan Jiwa yang sering ditemukan di masyarakat
a) Gangguan Cemas
Ketegangan mental : cemas, bingung, rasa tegang atau gugup, sulit
memusatkan perhatian.
Ketegangan fisik : gelisah, sakit kepala, gemetaran, tidak dapat santai
Gejala fisik : pusing, berkeringat, denyut jantung cepat, mulut kering dan nyeri
perut
Gejala dapat berlangsung berbulan-bulan, sering muncul kembali dan sering
dicetuskan oleh peristiwa yang mengangkan
b) Depresi
Gangguan depresi adalah perasaan sedih dan tertekan yang menetap,
sehingga membuat yang bersangkutan tak dapat melaksanakan fungsi
pekerjaan dan sosialnya. Ia merasa putus asa dan tak ada lagi kenikmatan
untuk melakukan apa yang sebelumnya sangat senang dilakukannya

Harus dibedakan dengan perasaan sedih karena kehilangan orang


dicintainya atau berkabung yang mendalam dalam waktu tertentu dan orang
tersebut masih mampu melakukan fungsi sehari-harinya.

Gejala dan tanda depresi :


 Suasana perasaan : sedih, murung, kehilangan minat dan rasa senang
terhadap pekerjaan yang biasa dia lakukan. KADANG TIMBUL RASA
CEMAS DAN PANIK BAHWA SESUATU YANG BURUK AKAN
TERJADI.
 Pikiran : Isi pikiran biasanya bertema kegagalan dan rasa bersalah atas
keadaan yang terjadi. Sulit berkonsentrasi dan daya ingat terganggu.
Kadang timbul pikiran putus asa dan ingin mati.
 Keluhan fisik : rasa lelah berkepanjangan, sulit tidur atau terlalu banyak
tidur, tidak mau makan atau banyak makan, kehilangan minat seksual,
rasa sakit di leher, punggung, sakit kepala, nyeri di dada dan keluhan di
perut. Beberapa orang yang mengalami depresi , hanya mengeluh
gangguan fisik dan menolak adanya masalah emosional. Orang ini
disebut sebagai depresi terselubung.
 Aktivitas : Biasanya kegiatannya menurun, banyak berbaring di tempat
tidur sepanjang hari, menarik diri dari pergaulan. Kadang-kadang ada
usaha untuk bunuh diri.

Depresi dan gangguan cemas adalah penyakit yang dapat diobati dan
disembuhkan.

Depresi bukan merupakan kelemahan atau kemalasan. Sebenarnya


mereka telah berusaha untuk mengatasi, tapi tak berdaya

c) Gangguan Psikotik
Orang yang mengalaminya menunjukkan suatu perubahan yang nyata
dan berlangsung lama. Orang tersebut mungkin menunjukkan gejala
sebagai berikut :
 Menarik diri dari lingkungan dan hidup dalam dunianya sendiri
 Merasa tidak mempunyai masalah dengan dirinya
 Kesulitan untuk berpikir dan memusatkan perhatian
 Gelisah dan bertingkah laku atau bicara yang kacau
 Sulit tidur
 Mudah tersinggung dan mudah marah, sering mengamuk dan
merusak barang bahkan mengganggu lingkungan sekitar
 Mendengar atau melihat sesuatu yang tifdak nyata (berhalusinasi)
 Berkeyakinan yang keliru seakan–akan ada yang mengawasinya, atau
ingin membunuhnya.
 Bermasalah dalam melakukan tugas sehari-hari
 Keluhan fisik yang aneh, misalnya ada hewan atau benda yang tak
lazim dalam tubuhnya
 Tidak merawat diri, kadang penampilan yang kotor

Jika ada seseorang yang memperlihatkan dua atau lebih


dari gejala diatas, jangan ragu-ragu membawanya ke
dokter atau puskesmas, atau RSU atau RSJ

Jika seseorang mengalami beberapa gejala gangguan psikotik


yang berlangsung selama sebulan lebih tanpa adanya
perbaikan, bahkan semakin parah, maka orang tersebut dapat
dikatakan menderita skizofrenia

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa yang berat, bukan karena


disebabkan oleh hal-hal yang bersifat klenik atau berhubungan
dengan tahayul dan hal-hal gaib

Gangguan ini dapat disembuhkan dengan berobat yang teratur


walaupun dalam jangka waktu yang lama

Penderita skizofrenia kadang mengalami gaduh gelisah, dengan


merusak barang dan mengganggu orang lain, hal ini merupakan
bagian dari gejalanya, sehingga orang tersebut tidak perlu
dipasung, dirantai atau dikurung dalam kamar, tapi segera dibawah
ke sarana kesehatan terdekat kemudian di rujuk ke RSJ
B) Kesehatan Jiwa bagi Usia Lanjut

Usia lanjut sehat jiwa mempunyai ciri antara lain:

1. Mampu mengambil keputusan dan mengatur kehidupannya sendiri


2. Memiliki tingkat kepuasaan hidup yang relatif tinggi karena merasa hidupnya
bermakna
3. Mampu menerima kegagalan yang dialami sebagai bagian dari hidupnya
4. Memiliki kepribadian yang baik, berupa konsep diri yang mantap
5. Mampu mempertahankan dukungan sosial yang bermakna
6. Merasa dirinya masih diperlukan dan dicintai
7. Dapat memperjuangkan dirinya sendiri, tidak bergantung pada orang lain
8. Dapat menyesuakan diri terhadap perubahan peran, mungkin tidak lagi menjadi
kepala keluarga

Penyakit Kepikunan (Demensia)


Sering terjadi pada usia lanjut. Gambaran utama penyakitnya :

• Penurunan daya ingat mengenai hal baru, misalnya lupa apakah sudah
makan atau mandi, tapi ingat peristiwa masa lalu
• Sering berjalan sendiri tanpa tujuan dan tidak dapat menemukan jalan pulang
• Penurunan daya pikir, misalnya tidak mampu lagi berhitung
• Penurunan daya nilai, sulit membedakan yang baik dan buruk
• Penurunan kemampuan berbahasa, sulit mencari kata-kata untuk
menyatakan pendapat
• Penurunan fungsi sehari-hari, misalnya tidak mampu berpakaian, mandi,
memasak,menggunakan remot TV
• Kehilangan kendali emosi seperti mudah bingung, menangis atau mudah
tersinggung
• Kehilangan daya ingat dapat menyebabkan masalah tingkah laku, misalnya
menjadi gaduh gelisah, pencuriga dan emosi yang meledak-ledak
Rujukan

1. Pedoman Kesehatan jiwa bagi kader kesehatan, Ditkeswa, Ditjen Yanmed


2004
2. Pedoman Kesehatan Jiwa Remaja Ditkeswa 2002
3. Pedoman Kesehatan Jiwa Usila, Ditkeswa 2002