Está en la página 1de 5

NAMA : FUJI ASTUTI RIZKYLAH

NPM : 170410150077

MATA KULIAH : PROSES LEGISLATIF DI INDONESIA

PEMETAAN AKTOR DALAM PEMBUATAN PERPPU ORGANISASI


KEMASYARAKATAN (ORMAS) NOMOR 2 TAHUN 2017

High - PRESIDEN
- KEMENTRIAN
KOORDINATOR
BIDANG POLITIK,
HUKUM, DAN
KEAMANAN
- KEMENTRIAN HUKUM
Tingkat Keberpihakan

DAN HAM
- KEMENTRIAN DALAM
NEGERI

- TOKOH MASYARAKAT
- TOKOH AGAMA
- AHLI HUKUM
- AKADEMISI

Low

Low Tingkat Kepentingan High


Dalam membicarakan proses kebijakan publik adalah penting untuk melihat siapakah
aktor-aktor yang terlibat di dalam proses perumusan kebijakan tersebut. Setelah masalah-
masalah publik diidentifikasi,maka langkah selanjutnya, bagaimana kebijakan publik harus
dirumuskan dan siapa yang merumuskan. Karena aktor dalam proses kebijakan publik akan
menentukan bentuk dari perumusan kebijakan publik sampai pada tingkat implementasi dan
evalusi kebijakan publik

Gagasan tentang ‘aktor’ biasanya dikaitkan dengan individual manusia yang


berkehendak, dan dibedakan dari sekadar berperilaku rutin atau mekanistis. Aktor sering
dikonsepsikan sebagai manusia individual yang ingin menghimpun kuasa, membuat jaringan
aliansi, dan lantas memperluas kekuasaannya. Aktor dalam ANT (actor network theory)
merupakan definisi yang berwatak semiotis , atau definisi yang relasional, yaitu: sesuatu yang
beraksi atau yang padanya aktivitas didelegasikan oleh pihak-pihak yang lain.

Jaringan ANT memiliki cara analisis berbeda dengan jaringan sosial atau jaringan
teknologi dalam menggambarkan sebuah realitas sosial. Cara kerja ANT berbeda dengan
jaringan sosial maupun jaringan teknologi, karena di dalam jaringan ANT terdapat dua
kategori aktor, yaitu aktor “human” dan aktor “non human”. Kedua kategori dalam ANT
mengacu pada dua prinsip utama, yakni prinsip “heterogenitas substansi” dan prinsip
“simetri” umum. Prinsip heterogenitas substansi adalah bahwa ANT memberikan arahan
bahwa suatu analisa berasal dari jaringan dan asosiasi dimana di dalam jaringan tersebut
mengandung unsur-unsur yang terdiri atas manusia dan mukan manusia (artefak material).
Selanjutnya adalah prinsip simetri umum, dimana dalam menindaklanjuti prinsip
pertama.“yang menyatakan bahwa dalam suatu analisis atas jaringan heterogen, entitas
manusia dan entitas manusia dan entitas non-manusia diperlakukan secara simetris”

Dalam kasus Perppu Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Nomor 2 Tahun 2017


tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 tahun 2013 tentang Organisasi
Kemasyarakatan, aktor non-human adalah kumpulan regulasi yang terkait dengan Organisasi
Kemasyarakatan secara khusus. Sedangkan aktor human antara lain adalah inisiator kebijakan
yaitu Presiden sebagai aktor utama, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Koordinator
Politik, Hukum dan Keamanan, Kementrian Hukum dan HAM, serta aktor lainnya yang
memiliki kepentingan langsung maupuan tidak langsung terkait dengan Organisasi
Kemasyarakatan khususnya dalam Perppu Ormas ini. Adapun peran dari masing-masing
aktor human tersebut, yaitu:
Presiden sebagai aktor human dalam Perppu Ormas memiliki peran sebagai pemegang
kekuasaan eksekutif yang berhak untuk membuat dan menetapkan perppu ormas. Dimana
pembuatan dan penetapan Perppu Ormas ini merupakan contoh penerapan dari Pasal 22 ayat
(1) UUD Tahun 1945 yakni tentang pemberian kekuasaan kepada presiden untuk
membentuk peraturan pemerintah pengganti undang-undang, jadi disnini presiden sebagai
pemegang kekuasaan eksekutif tidak hanya sebagai pelaksana (eksekutor), tetapi juga sebagai
pembentuk aturan. Pada intinya perppu ormas ini merupakan salah satu hasil dari wewenang
ekslusif yang dimiliki oleh presiden.

Kementrian Dalam Negeri sebagai salah satu aktor human dalam pembuatan Perppu
Ormas mempunyai peran sebagai pemberi saran dan pandangan terhadap isu Organisasi
Masyarakat yang berkembang saat ini di Indonesia, dimana pandangan ini nantinya akan
menjadi pertimbangan presiden dalam merumuskan Perppu Ormas. Hal tersebut juga
merupakan salah satu tugas dari Kementrian Dalam Negeri itu sendiri yaitu
menyelenggarakan urusan pemerintahan dalam negeri untuk membantu Presiden dalam
menyelenggarakan pemerintahan negara, dimana permasalahan Ormas ini juga merupakan
salah satu permasalahan dalam negeri.

Peran Kementrian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan sebagai aktor human
dalam pembuatan Perppu Ormas juga sebagai pemberi saran dan pandangan terhadap isu
Organisasi Masyarakat dari perspektif yang berbeda sesuai dengan kajian dari Kementrian
Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan tersebut. Dimana permasalahan ideologi menjadi
salah satu kajiannya, karena adanya Ormas – ormas yang ada saat ini dikhawatirkan dapat
mengancam ideologi negara. Walaupun tidak semua Ormas dianggap mengancam ideologi
negara, tetapi ada beberapa yang dianggap dapat mengancam ideologi negara. Oleh karena itu
dibutuhkan pandangan dari Kementrian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan itu
sendiri tentang bagaimana Ormas tersebut dapat mengancam persatuan dan kesatuan NKRI.

Peran Kementrian Hukum dan HAM sendiri sbenarnya sama dengan yang lainnya
yaitu sebagai sebagai pemberi saran dan pandangan terhadap isu Organisasi Masyarakat yang
berkembang saat ini di Indonesia. Terlagi apabila berbicara Perppu Ormas ini pastilah
menyangkut pada salah satu Hak Asasi Manusia yaitu hak kebebasan warga untuk berserikat
dan berorganisasi. Oleh karena itu dibutuhkan juga saran serta pandangan dari Kementrian
Hukum dan HAM.
Selain aktor-aktor human diatas adapula aktor-aktor human lain yang mempengaruhi
Presiden dalam perumusan Perppu Ormas itu sendiri yang memiliki kepentingan langsung
maupuan tidak langsung terkait dengan Organisasi Kemasyarakatan khususnya dalam Perppu
Ormas ini. diantaranya adalah ahli hukum, akademisi, tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Aktor-aktor ini juga mempunyai peranan penting dalam pembuatan Perppu Ormas ini,
dimana aktor-aktor ini memberikan saran serta pandangannya sesuai dengan bidangnya
masing-masih baik itu dari sisi agama, hukum, sosial dan lain sebagainya. Karena sudah
seharusnya dalam pembuatan Perppu dibuat berdasarkan saran dan pandangan dari berbagai
macam sisi, agar Perppu ini nantinya tidak menjadi Perppu yang “berat sebelah”.

Dari aktor-aktor human diatas pastilah memiliki tingkat kepentingan dan tingakt
keberpihakan yang berbeda-beda. Apabila dilihat dari pemetaan yang sudah dibuat aktor
human seperti Presiden, DPR – RI, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Hukum dan
HAM, dan Kementrian Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan memiliki tingkat
keberpihakan serta tingkat kepentingan yang tinggi. Perlu diingat, dalam perspektif kajian
hukum kritis, bahwa hukum (termasuk Perppu Nomor 2 Tahun 2017) adalah produk politik.
Dalam pembuatan, pelaksanaan, maupun penegakannya, selalu tersembunyi agenda-agenda
politik. Pernyataan-pernyataan politisi yang mengatas-namakan Negara, dan demi bangsa dan
Negara, sungguh tidak mudah diyakini ketulusannya. Tak segan-segan, para yuris dan
lawyers, dilibatkan dan “dibayar” untuk bekerja keras, agar agenda-agenda politik tersebut
dapat terselenggara dengan lancar. Perlu diingat pula, bahwa pada level yang sama, para
pihak yang kontra terhadap Perppu tersebut diduga kuat juga memiliki agenda-agenda politik
sendiri. Di situlah, betapapun tidak tersembul sebagai kontra agenda politik, namun secara
laten publik dapat mencermati bahwa sesungguhnya, “perang agenda politik” , bahkan
“perang ideologi” sedang berlangsung.

Dalam catatan Satjipto Rahardjo, sejak 2000-an tahun lalu, sudah ada kecenderungan
global (termasuk Indonesia) bahwa penyelenggara negara ingin memonopoli kekuasaan,
termasuk membuat hukum, membuat struktur hukum, dan mengatur proses hukum. Kekuatan
dan kekuasaan lawan-lawan politik, cenderung dipinggirkan. Publik dipahamkan seolah-olah
ketertiban, keadilan, dan kedamaianakan muncul bila hukum negara dijalankan secara absolut
oleh aparatur negara, dan tidak perlu campur-tangan pihak lain. Hukum negara, dipandang
sebagai satu-satunya institusi yang dapat digunakan untuk menuntaskan segala urusan.Inilah
pola pikir dan perilaku Hobessian, yakni faham yang diajarkan Thomas Hobess, dalam
rangka mengatasi homo homini lupus.Namun, fakta empiris membuktikan bahwa pola pikir
dan perilaku Hobessian itu, tidak pernah terbukti, hanya “angan-angan”, alias mitos belaka.4

Selain itu adapula akademisi, ahli hukum, tokoh masyarakat, dan tokoh agama yang
menurut saya memliki tingkat keberpihakan dan tingkat kepentingan yang rendah. Rendah
disini bukan berarti tidak sama sekali, mereka tetap memiliki kepentingan dan pastinya
berpihak pada satu “kubu” tetapi disini mereka berusaha bersikap netral dan berbicara seesuai
bidanganya masing-masing sebagai pemberi saran dan pandangan kepada presiden dalam
perumusan Perppu Ormas ini.

Daftar Bacaan:

- Power Point Pembelajaran Proses Legisatif di Indonesia


- Prof. Dr.Sudjito, SH., Msi, ” Membaca ‘Kepentingan Politik’ di Balik Perppu Ormas
dan Implikasi Sosiologisnya pada Masyarakat”.
- Situs Kementrian Dalam Negeri. (17 Oktober 2017). Bagi Pemerintah, Perppu Ormas
untuk Menjamin Prinsip Bernegara. Diperoleh 12 November 2017 dari
http://www.kemendagri.go.id/news/2017/10/17/bagi-pemerintah-perppu-ormas-
untuk-menjamin-prinsip-bernegara . Dibaca pada tanggal 12 November 2017.
- Situs Kementrian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. (13 Juli 2017).
Pemerintah Keluarkan Perppu No. 2/2017 tentang Perubahan atas Undang-Undang
Ormas. Diperoleh 13 November 2017 dari https://polkam.go.id/pemerintah-
keluarkan-perppu-no-22017-tentang-perubahan-atas-undang-undang-ormas/
- Situs Kementrian Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. (18 Juli 2017).
Menko Polhukam : Perppu Ormas Untuk Selamatkan Negara. Diperoleh 13
November 2017 dari https://polkam.go.id/menko-polhukam-perppu-ormas-untuk-
selamatkan-negara/