Está en la página 1de 27

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS) DAN


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELOMPOK ANAK SEKOLAH

Tanggal 20 November 2017 – 13 Januari 2018

OLEH:
Fajar Rizki Rahayu, S.Kep
NIM.1630913320019

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2017
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN

KONSEP USAHA KESEHATAN SEKOLAH (UKS) DAN


ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELOMPOK ANAK SEKOLAH

Tanggal 20 November 2017 – 13 Januari 2018

Oleh :
Fajar Rizki Rahayu, S.Kep
NIM.1630913320019

Banjarbaru, November 2017

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Kurnia Rachmawati, S. Kep., Ns., MNSc Yomah Yuliana, S. Kep, Ns


NIK. 1990 2014 1 139 NIP.
A. Definisi Usaha Kesehatan Sekolah
Menurut Oka (2008) yang dimaksud dengan usaha kesehatan sekolah
adalah segala usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kesehatan anak usia
sekolah pada setiap jalur, jenis dan jenjang pendidikan mulai dari Taman
Kanak-Kanak sampai tingkat SMA/SMK/MA. UKS merupakan bagian dari
program kesehatan anak usia sekolah. Anak usia sekolah adalah anak yang
berusia 6-21 tahun, yang sesuai dengan proses tumbuh kembangnya dibagi
menjadi 2 sub kelompok yakni pra remaja (6-9 tahun) dan remaja (10-19 tahun).
Prioritas pelaksanaan UKS diberikan kepada SD mengingat SD merupakan
dasar dari sekolah-sekolah lanjutannya (Depkes, 2001).
Usaha kesehatan sekolah adalah salah satu wahana untuk meningkatkan
kemampuan hidup sehat dan derajat kesehatan peserta didik sedini mungkin,
selanjutnya di sebutkan UKS harus sudah mendapat tempat dan perhatian yang
baik di dalam lingkungan pendidikan. Secara garis besar UKS dapat
dikelompokan dalam tiga bidang atau di sebut dengan 3 program UKS atau
yang dikenal sebagai Trias UKS yaitu: a. pendidikan kesehatan, b. pemeliharaan
atau pelayanan kesehatan c. kehidupan lingkungan yang sehat. Usaha ini
dijalankan mulai dari Sekolah Dasar sampai sekolah lanjutan, sekarang
pelaksanaanyadiutamakan di sekolah Dasar. Hal ini disebabkan karena Sekolah
merupakan komunitas (kelompok) yang sangat besar, rentan terhadap berbagai
penyakit, dan merupakan dasar bagi pendidikan selanjutnya. Meskipun
demikian bukan berarti mengabaikan pelaksanaan selanjutnya di sekolah
sekolah lanjutan,(Mu’rifah,1991: 251).
B. Manfaat Usaha Kesehatan Sekolah
Manfaat UKS adalah :
1. Tempat pemeriksaan kesehatan umum
2. Tempat kesehatan gigi dan mulut siswa SD dan setingkat melalui
penyaringan kesehatan terhadap murid sekolah dasar yang di laksanakan
oleh tenaga kesehatan bersama dengan guru UKS terlatih dan dokter kecil
secara berjenjang (penyaringan awal oleh guru dan dokter kecil,
penyaringan lanjutan oleh tenaga kesehatan)
C. Tujuan Usaha Kesehatan Sekolah
1. Tujuan umum
Meningkatkan kemampuan hidup bersih dan sehat, serta derajat kesehatan
siswa dan menciptakan lingkungan yang sehat, sehingga memungkinkan
pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal.
2. Tujuan khusus
Memupuk kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat dan meningkatkan
derajat kesehatan siswa yang mencakup :
a. Memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melaksanakan
prinsip hidup bersih dan sehat serta berpartisipasi aktif di dalam usaha
peningkatan kesehatan di sekolah, di rumah tangga maupun di
lingkungan masyarakat.
b. Sehat baik dalam arti fisik, mental maupun social
c. Memiliki daya hayat dan daya tangkal terhadap pengaruh buruk,
penyalahgunaan narkotika, obat dan bahan berbahaya, alkohol, rokok
dan sebagainya.
D. Landasan Landasan Hukum Usaha Kesehatan Sekolah
Landasan hukum Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sebagai berikut:
1. UU NO. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
2. UU NO. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Daerah
3. UU NO. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
4. SKB 4 Menteri NO1/U/SKB/2003, NO.1067/MENKES/SKB/VII/2003,
NO MA/230 A/2003, NO.26 tahun 2003 tentang Pembinaan dan
Pengembangan UKS
5. SKB 4 Menteri NO.2/P/SKB/2003, NO 1068/MENKES/SKB/VII/2003,
NO 4415-404 Tahun 2003 tentang Tim Pembina UKS Pusat
E. Sarana dan Prasarana Usaha Kesehatan Sekolah
Mengenai sarana dan prasarana UKS dijelaskan oleh Djonet Soetatmo
(1982, 122 – 123) meliputi : 1) ruang UKS atau klinik sekolah, 2) alat-alat
pemeriksaan yang diperlukan, 3) alat- alat P3K, 4) Obat-obatan sehari-hari yang
diperlukan. Berdasarkan kelengkapannya dapat dibagi menjadi :
1. Sarana dan Prasarana Sederhana meliputi :
a. Tempat tidur
b. Timbangan berat badan, alat ukur tinggi badan, Snellen Chart.
c. Kotak P3K dan obat-obatan (Betadin, Oralit, Parasetamol).
d. Minimal melaksanakan TRIAS UKS yang Pendidikan Kesehatan.
e. Memiliki kader Tiwisada/ KKR sebanyak 5% dari jumlah siswa.
2. Sarana dan Prasarana Lengkap meliputi :
a. Tempat tidur.
b. Timbangan berat badan, alat ukur tinggi badan, Snellen Chart.
c. Kotak P3K dan obat-obatan (Betadin, Oralit, Parasetamol).
d. Lemari obat, buku rujukan KMS, poster-poster, struktur organisasi,
jadwal piket, tempat cuci tangan, data kesakitan murid.
e. Melaksanakan TRIAS UKS yang Pendidikan Kesehatan dan pelayanan
kesehatan.
f. Memiliki kader Tiwisada/ KKR sebanyak 6-9% dari jumlah siswa.
3. Sarana dan Prasarana ideal meliputi :
a. Tempat tidur
b. Timbangan berat badan, alat ukur tinggi badan, Snellen Chart.
c. Kotak P3K dan obat-obatan (Betadin, Oralit, Parasetamol).
d. Lemari obat, buku rujukan KMS, poster-poster, struktur organisasi,
jadwal piket, tempat cuci tangan, data kesakitan murid.
e. Peralatan gigi dan unit gigi.
f. Contoh-contoh model organ tubuh.
g. Melaksanakan TRIAS UKS yang Pendidikan Kesehatan, pelayanan
kesehatan, dang pembinaan hidup lingkungan kehidupan sekolah.
h. Memiliki kader Tiwisada/ KKR sebanyak 10% dari jumlah siswa
F. Struktur Organisasi Usaha Kesehatan Sekolah di Sekolah Dasar
Bagian struktur organisasi UKS di Sekolah Dasar dapat diketahui tugas
dan kewajibannya masing-masing. Antara lain:
1. Pembina
Pembina dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh
kepala sekolah.
2. Ketua
Ketua dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh
dewan guru.
3. Sekretaris
Sekretaris dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh
dewan guru.
4. Bendahara
Bendahara dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas dijabat oleh
dewan guru.
5. Anggota
Anggota dalam struktur organisasi UKS Sekolah Dasar diatas terdiri dari
siswa yang terpilih sebagai anggota UKS.
G. Sasaran Usaha Kesehatan Sekolah
Sasaran pelayanan UKS adalah seluruh peserta didik dari tingkat
pendidikan Sekolah Taman Kanak-Kanak, Pendidikan Dasar, Pendidikan
Menengah, Pendidikan Agama, Pendidikan Kejuruan, dan Pendidikan Khusus
(SLB).
Untuk sekolah dasar usaha kesehatan sekolah diprioritaskan pada kelas
I, III dan kelas VI alasannya adalah :
1. Kelas I, merupakan fase penyesuaian dalam lingkungan sekolah yang baru
lepas dari pengawasan orang tua, kemungkinan kontak dengan berbagai
penyebab penyakit lebih besar karena ketidaktahuan dan ketidakmengertian
tentang kesehatan
2. Kelas III dilaksanakan dikelas 3 untuk mengevaluasi hasil pelaksanaan UKS
dikelas I dahulu dan langkah-langkah selanjutnya yang akan dilakukan
dalam program pembinaan UKS
3. Kelas VI, dalam rangka mempersiapkan kesekolah peserta didik kejenjang
pendidikan selanjutnya, sehingga memerlukan pemeliharaan dan
pemeriksaan kesehatan yang cukup.
H. Peran Perawat dalam Program Usaha Kesehatan Sekolah
Peranan perawat komunitas dalam upaya kesehatan sekolah adalah:
1. Sebagai pelaksana asuhan keperawatan di sekolah
a. Mengkaji masalah kesehatan dan keperawatan peserta didik dengan
melaksanakan pengumpulan data, analisas data dan perumusan masalah
serta prioritas masalah kesehatan anak sekolah
b. Melaksanakan kegiatan UKS sesuai dengan rencana kegiatan yang
disusun.
c. Penilaian dan pemantauan hasil kegiatan UKS.
d. Pencatatan dan pelaporan sesuai dengan prosedur yang diterapkan.
2. Sebagai Pengelola Kegiatan UKS
Perawat kesehatan yang bertugas di Puskesmas dapat menjadi salah satu
anggota dalam TPUKS atau dapat juga ditunjuk sebagai seorang
koordinator, maka pengelolaan pelaksanaan UKS menjadi tanggung
jawabnya atau paling tidak ikut terlibat dalam tim pengelola UKS.
3. Sebagai Penyuluh dalam Bidang Kesehatan
Peran perawat kesehatan dalam memberikan penyuluhan kesehatan dapat
dilakukan secara langsung melalui penyuluhan kesehatan yang bersifat
umum dan klasikal atau secara tidak langsung sewakktu melakukan
pemeriksaan kesehatan peserta didik secara perorangan.
I. Kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah
Nemir mengelompokkan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) menjadi 3
kegiatan pokok : yaitu
1. Pendidikan kesehatan di sekolah (Health Education in School)
a. Kegiatan intrakurikuler, maksudnya adalah pendidikan kesehatan
merupakan bagian dari kurikulum sekolah
b. Kegiatan ekstrakurikuler, maksudnya adalah pendidikan kesehatan
dimasukkan dalam kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler dalam rangka
menanamkan perilaku sehat peserta didik
2. Pemeliharaan Kesehatan Sekolah (School Health Service)
Pemeliharaan kesehatan sekolah untuk tingkat sekolah dasar, dimaksudkan
untuk memelihara, meningkatkan dan menemukan secara dini gangguan
kesehatan yang mungkin terjadi terhadap peserta didik maupun gurunya.
Pemeliharaan kesehatan di sekolah dilakukan oleh petugas puskesmas yang
merupakan tim yang dibentuk dibawah seorang koordinator usaha
kesehatan sekolah yang terdiri dari dokter, perawat, juru imunisasi dan
sebagainya.
Perlengkapan PPPK (P3K)
Pertolongan pertama adalah suatu perawatan yang diberikan sementara
menunggu bantuan datang atau sebelum dibawa kerumah sakit atau
puskesmas. Pertolongan pertama pada dimaksudkan untuk menentramkan
dan menyenangkan si korban sebelum ditangani oleh orang yang lebih ahli.
Diharapkan dengan keadaan yang lebih tenang dan tenteram dapat
mengurangi rasa sakit si korban (Yudiawan. 2002).
3. Lingkungan kehidupan sekolah yang sehat mencakup
a. Lingkungan fisik
Lingkungan sekolah yang dimaksud dalam program usaha kesehatan
sekolah untuk tingkat sekolah dasar meliputi lingkungan fisik, psikis
dan sosial. Kegiatan yang termasuk dalam lingkungan fisik berupa
pengawasan terhadap sumber air bersih, sampah, air limbah, tempat
pembuangan tinja, dan kebersihan lingkungan sekolah. Kantin sekolah,
bangunan yang sehat, binatang serangga dan pengerat yang ada
dilingkungan sekolah, pencemaran lingkungan tanah, air dan udara di
sekitar sekolah juga merupakan bagian dari lingkungan fisik sekolah.
b. Lingkungan psikis
Kegiatan yang dilakukan berhubungan dengan lingkungan psikis
sekolah antara lain memberikan perhatian terhadap perkembangan
peserta didik, memberikan perhatian khusus terhadap anak didik yang
bermasalah, serta membina hubungan kejiwaan antara guru dengan
peserta didik.
c. Lingkungan social
Kegiatan yang berhubungan dengan lingkungan sosial meliputi
membina hubungan yang harmonis antara guru dengan guru, guru
dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, serta membina
hubungan yang harmonis antara guru, murid, karyawan sekolah serta
masyarakat sekolah.
J. Ruang Lingkup Kegiatan Usaha Kesehatan Sekolah
Kegiatan utama Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) disebut dengan Trias
UKS, yang terdiri dari :
1. Pendidikan Kesehatan
Usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar dapat tumbuh kembang
sesuai, selaras, seimbang dan sehat baik fisik, mental, sosial dan lingkungan
melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan yang diperlukan
bagi peranannya saat ini maupun di masa yang akan datang.
Adapun tujuannya adalah:
a. Memiliki pengetahuan tentang ilmu kesehatan, termasuk cara hidup
sehat dan teratur.
b. Memiliki nilai dan sikap yang positif terhadap prinsip hidup sehat.
c. Memiliki keterampilan dalam melaksanakan hal yang berkaitan dengan
pemeliharaan, pertolongan dan perawatan kesehatan.
d. Memiliki kebiasaan dalam hidup sehari-hari yang sesuai dengan syarat
kesehatan.
e. Memiliki kemampuan untuk menularkan perilaku hidup sehat dalam
kehidupan sehari-hari.
f. Memiliki pertumbuhan termasuk bertambahnya tinggi badan dan berat
badan yang seimbang.
g. Mengerti dan dapat menerapkan prinsip-prinsip pencegahan penyakit
dalam kaitannya dengan kesehatan dan keselamatan dalam kehidupan
sehari-hari.
h. Memiliki daya tangkal terhadap pengaruh buruk dari luar.
i. Memiliki tingkat kesegaran jasmani dan derajat kesehatan yang optimal
serta mempunyai daya tahan tubuh yang baik terhadap penyakit.
Pelaksanaannya dapat melalui:
a. Kegiatan Kurikuler
Pelaksanaan adalah pelaksanaan pendidikan kesehatan pada jam
pelajaran sesuai dengan garis-garis besar program pengajaran mata
pelajaran sains dan ilmu pengetahuan sosial. Pelaksanaannya dilakukan
melalui peningkatan pengetahuan, penanaman nilai dan sikap positif
terhadap prinsip hidup sehat dan peningkatan keterampilan dalam
melaksanakan hal yang berkaitan dengan pemeliharaan pertolongan dan
perawatan kesehatan. Kegiatan kurikuler mencakup kebersihan dan
kesehatan pribadi, makanan bergizi, pendidikan kesehatan reproduksi
dan pengukuran tingkat kesegaran jasmani.
b. Kegiatan Ekstrakurikuler
Adalah kegiatan di luar jam pelajaran biasa (termasuk kegiatan pada
waktu libur) yang dilakukan di sekolah ataupun di luar sekolah dengan
tujuan antara lain memperluas pengetahuan dan keterampilan siswa
serta melengkapi upaya pembinaan manusia Indonesia seutuhnya.
Kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan pendidikan kesehatan
antara lain: kemah, ceramah dan diskusi, apotek hidup, dan lain-lain.
Kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan
antara lain; dokter kecil, Palang Merah Remaja (PMR), dan lain-lain.
Kegiatan ekstrakurikuler yang berkaitan dengan pembinaan lingkungan
kehidupan sekolah sehat antara lain: kerja bakti kebersihan, lomba
sekolah sehat, dan lain-lain.
2. Pelayanan Kesehatan
Upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan (preventif),
pengobatan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang dilakukan secara
serasi dan terpadu terhadap peserta didik pada khususnya dan warga sekolah
pada umumnya. Dibawah koordinasi guru Pembina UKS dengan bimbingan
teknis dan pengawasan puskesmas setempat.
Tujuannya secara umum adalah meningkatnya derajat kesehatan peserta
didik dan seluruh warga masyarakat secara optimal. Sedangkan tujuan
khususnya:
a. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan melakukan tindakan hidup
sehat dalam rangka membentuk perilaku hidup sehat.
b. Meningkatkan daya tahan tubuh peserta didik terhadap penyakit dan
mencegah terjadinya penyakit, kelainan, dan cacat.
c. Menghentikan proses penyakit dan pencegahan komplikasi akibat
penyakit/kelainan, pengembalian fungsi dan peningkatan kemampuan
peserta didik yang cedera/cacat agar dapat berfungsi optimal.
d. Meningkatkan pembinaan kesehatan baik fisik, mental, sosial maupun
lingkungan.
Pelaksanaannya sebagai berikut:
a. Kegiatan peningkatan kesehatan (Promotif)
Kegiatan promotif kesehatan tersebut berupa: latihan ketrampilan teknis
dalam rangka pemeliharaan kesehatan, dan pembentukan peran serta
aktif peserta didik dalam pelajaran kesehatan, antara lain:
1) Dokter kecil
2) Kader kesehatan remaja
3) PMR (Palang Merah Remaja)
4) Pembinaan warung sekolah sehat
5) Pembinaan lingkungan sekolah yang terpelihara dan bebas dari
vektor pembawa penyakit
6) Pembinaan perilaku hidup bersih dan sehat
b. Kegiatan pencegahan (Preventif)
Merupakan kegiatan peningkatan daya tahan tubuh, kegiatan pemutusan
rantai penularan penyakit dan kegiatan penghentian proses penyakit
pada tahap dini sebelum timbul kelainan. Kegiatan preventif ini berupa:
1) Pemeliharaan kesehatan yang bersifat umum maupun yang bersifat
khusus untuk penyakit-penyakit tertentu.
2) Penjaringan kesehatan anak sekolah.
3) Memonitor/memantau pertumbuhan peserta didik.
4) Imunisasi peserta didik.
5) Usaha pencegahan penularan penyakitdengan jalan memberantas
sumber infeksi dan pengawasan kebersihan lingkungan sekolah.
6) Konseling kesehatan di sekolah.
c. Kegiatan penyembuhan dan pemulihan (Kuratif dan Rehabilitatif)
Berupa kegiatan mencegah komplikasi dan kecacatan akibat proses
penyakit atau untuk meningkatkan kemampuan peserta didik agar dapat
berfungsi optimal. Kegiatan kuratif dan rehabilitatif ini adalah:
1) Diagnosa dini
2) Pengobatan ringan
3) Pertolongan pertama pada kecelakaan, pertolongan pertama pada
penyakit
4) Rujukan medik
3. Pembinaan Lingkungan Sekolah
Pembinaan mencakup lingkungan sekolah, keluarga dan mesyarakat sekitar.
Dilaksanakan dalam rangka menjadikan sekolah sebagai institusi
pendidikan yang dapat menjamin berlangsungnya proses belajar mengajar
yang mampu menumbuhkan kesadaran, kesanggupan dan keterampilan
peserta didik untuk menjalankan prinsip hidup sehat, kegiatan ini meliputi:
a. Program pembinaan lingkungan sekolah
1) Lingkungan fisik sekolah meliputi penyediaan air bersih,
pemeliharaan penampungan air bersih, pengadaan dan pemeliharaan
tempat pembuangan sampah, pengadaan dan pemeliharaan air
limbah, pemeliharaan wc/kakus, pemeliharaan kamar mandi,
pemeliharaan kebersihan dan kerapihan ruang kelas, perpustakaan,
laboratorium dan tempat ibadah, pemeliharaan kebersihan dan
keindahan halaman dan kebun sekolah, pengadaan dan
pemeliharaan warung/kantin sekolah.
2) Lingkungan mental dan sosial program pembinaan lingkungan
mental dan sosial ini dilakukan dalam bentuk kegiatan konseling
kesehatan, bakti sosial masyarakat sekolah terhadap lingkungan,
PMR, dokter kecil, kader kesehatan remaja.
b. Pembinaan lingkungan keluarga
Tujuannya adalah meningkatan pengetahuan orang tua peserta didik
tentang hal – hal yang berhubungan dengan kesehatan dan
meningkatkan kemampuan dan partisipasi orang tua peserta didik dalam
pelaksanaan hidup sehat.
Pembinaan ini dapat dilakukan dengan:
1) Kunjungan rumah yang dilakukan oleh pelaksana UKS.
2) Ceramah kesehatan yang dilakukan di sekolah.
c. Pembinaan masyarakat sekitar
Pembinaan masyarakat sekitar Pembinaan masyarakat sekitar dengan
cara:
1) Penyelenggaraan ceramah kesehatan dan pentingnya arti pembinaan
lingkungan sekolah sebagai lingkungan sekolah yang sehat.
2) Penyuluhan baik melalui media cetak dan audio visual.
K. Strata Usaha Kesehatan Sekolah
Keberhasilan 3 program UKS yang mencakup pendidikan kesehatan,
pelayanan kesehatan dan pembinaan lingkungan sehat ditunjukkan dalam suatu
strata UKS. Strata pelaksanaan UKS dibagi ke dalam 4 tingkatan yaitu strata
minimal, strata standard, strata optimal dan strata paripurna. Setiap strata terdiri
dari tiga variabel utama yaitu 3 program pokok UKS yang terdiri dari
Pendidikan Kesehatan, Pelayanan Kesehatan dan Pembinaan Lingkungan
Sekolah Sehat.
1. Pendidikan Kesehatan
a. Strata Minimal
Pendidikan jasmani dilaksanakan secara kurikuler, pendidikan
kesehatan dilakukan secara kurikuler, guru membuat rencana
pembelajaran pendidikan kesehatan dan adanya buku pegangan guru
dan bacaan tentang pendidikan kesehatan.
b. Strata Standar
Dipenuhinya strata minimal dan memiliki guru mata pelajaran jasmani.
c. Strata Optimal
Dipenuhinya strata standar, pendidikan kesehatan terintegrasi pada mata
pelajaran lain, pendidikan kesehatan dilaksanakan secara
ekstrakulikuler, memiliki alat peraga pendidikan kesehatan, memiliki
media pendidikan kesehatan (poster dan lain-lain).
d. Strata Paripurna
Meliputi dilaksanakannya strata optimal, memiliki guru pembina UKS,
adanya program kemitraan pendidikan kesehatan dengan instansi terkait
seperti Puskesmas, Kepolisian, Palang Merah Indonesia (PMI), Petugas
Penyuluh Lapangan (PPL) pertanian dan lain-lain.
2. Pelayanan Kesehatan
a. Strata Minimal
Meliputi dilaksanakannya penyuluhan kesehatan, dilaksanakannya
imunisasi, penyuluhan kesehatan gigi dan sikat gigi masal minimal kelas
1, 2, 3 SD.
b. Strata Standar
Meliputi dilaksanakannya strata minimal, ada penjaringan kesehatan,
pemeriksaan kesehatan berkala tiap 6 bulan, termasuk pengukuran
tinggi dan berat badan, pencatatan hasil pemeriksaan kesehatan siswa
pada buku Kartu Menuju Sehat (KMS), ada rujukan bila diperlukan, ada
dokter kecil, melaksanakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
(P3K), dan pengawasan warung/kantin sekolah.
c. Strata Optimal
Meliputi memenuhi strata standar, dana sehat/dana UKS, dan pelayanan
medik gigi dasar atas permintaan siswa.
d. Strata Paripurna
Meliputi memenuhi strata optimal, konseling Kesehatan Remaja bagi
siswa, pengukuran tingkat kesegaran jasmani.
3. Pembinaan Lingkungan Sekolah Sehat
a. Strata Minimal
Meliputi ada air bersih, tempat cuci tangan, WC/jamban yang berfungsi,
tempat sampah, saluran pembuangan air kotor yang berfungsi,
halaman/pekarangan/lapangan, memiliki pojok UKS, melakukan
kegiatan mengubur, menguras dan membakar (3M) plus, sekali
seminggu.
b. Strata Standar
Meliputi memenuhi strata minimal, kantin/warung sekolah, memiliki
pagar, penghijauan/perindangan, ada air bersih di sekolah dengan
jumlah yang cukup, memiliki ruang UKS tersendiri, dengan peralatan
sederhana, memiliki tempat ibadah, lingkungan sekolah bebas jentik,
jarak papan tulis dengan bangku terdepan 2,5 m, dan melaksanakan
pembinaan sekolah kawasan tanpa rokok, bebas narkoba dan miras.
c. Strata Optimal
Meliputi memenuhi strata standar, tempat cuci tangan di beberapa
tempat dengan air mengalir/kran, tempat cuci peralatan masal/makan di
kantin/warung sekolah, petugas kantin yang bersih dan sehat, tempat
sampah di tiap kelas dan tempat penampungan sampah akhir di sekolah,
jamban/WC siswa dan guru yang memenuhi syarat kesehatan dan
kebersihan, halaman yang cukup luas untuk upacara dan berolahraga,
pagar yang aman, memilki ruang UKS tersendiri dengan peralatan yang
lengkap, dan terciptanya sekolah kawasan tanpa rokok, bebas narkoba
dan miras.
d. Strata Paripurna
Meliputi memenuhi strata optimal, tempat cuci tangan di setiap kelas
dengan air mengalir/kran dilengkapi sabun, kantin dengan menu gizi
seimbang dengan petugas kantin yang terlatih, air bersih yang
memenuhi syarat kesehatan, sampah langsung diangkut dan dibuang ke
tempat pembuangan sampah di luar sekolah/umum, ratio
WC:siswa=1:20, saluran pembuangan air tertutup, pagar yang aman dan
indah, taman/kebun sekolah yang dimanfaatkan dan diberi label dan
pengolahan hasil kebun sekolah, ruang kelas memenuhi syarat
kesehatan (ventilasi dan pencahayaan cukup), ratio kepadatan siswa
1:1,5-1,75 m2, dan memiliki ruang dan peralatan UKS yang ideal.
L. Masalah Kesehatan yang Dapat Dikurangi Melalui Usaha Kesehatan
Sekolah
Adapun masalah kesehatan yang dapat dicegah dengan pelaksanaan
UKS adalah: a) sanitasi dan air bersih, b) kekerasan dan kecelakaan, c) masalah
kesehatan reproduksi remaja, d) kecacingan dan kebersihan diri maupun
lingkungan, e) masalah gizi dan anemia, f) imunisasi, g) merokok, alkohol dan
penyalahgunaan narkoba, h) kesehatan gigi, i) penyakit infeksi (malaria,
gangguan saluran nafas), j) HIV/AIDS dan IMS lainnya, k) gangguan kesehatan
mental.
M. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah
PHBS merupakan singkatan dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yaitu
sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar kesadaran sebagai upaya
agar dirinya sehat dan aktif membantu kesehatan masyarakat di sekitarnya.
PHBS memang sepertinya mudah dikatakan tapi penerapannya sangat sulit
karena membutuhkan kesadaran dan kesungguhan akan pentingnya menjaga
kesehatan. Semua perilaku manusia sebenarnya pasti punya pengaruh terhadap
kesehatan, apapun bentuknya, mulai dari makan, tidur, mandi, berpakaian,
sampai cara belajar, hanya saja diprioritaskan mana perilaku yang berpotensi
menimbulkan penyakit.
Pada anak usia 6-12 tahun PHBS dilakukan tidak hanya di lingkungan
rumah tapi juga di lingkungan sekolah. PHBS pada usia dini baik untuk
mendidik dan menanamkan kesadaran akan pentingnya kebersihan sebagai
upaya menjaga kesehatan diri dan lingkungan. Upaya PHBS yang dapat
dilakukan pada usia anak-anak diantaranya:
1. Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun
Mencuci tangan dilakukan setiap selesai beraktivitas apakah itu membantu
orang tua atau bermain serta setiap sebelum makan. Mencuci tangan yang
baik adalah mencuci tangan di air yang mengalir, tujuannya agar kotoran
dari hasil cuci sebelumnya tidak ikut digunakan saat membilas, karena jika
membilas dengan air kotoran bekas mencuci maka kotorannya kan kembali
menempel di tangan. Mencuci tangan juga sebaiknya dilakukan dengan
sabun dengan tujuan agar kuman-kuman penyakit bisa lebih mudah
diangkat dan dibunuh.
2. Makan sayur buah dan daging
Makan tidak hanya cukup dengan nasi, utamakan makan dengan sayuran,
jika bisa lauknya bervariasi setiap harinya. Makan yang sehat bukan berarti
makan yang mewah yang penting lengkap, ada nasi, sayur, daging, dan buah
jika perlu tambahkan susu. Belajarlah untuk menyukai makan sayur sejak
kecil.
3. Jajan di kantin sekolah yang sehat
Saat jajan di kantin sebaiknya pilih jajan yang sehat, jajan yang sehat itu
adalah jajan yang bersih dan jauh dari jangkauan lalat. Jajan makanan yang
banyak dihinggapi lalat bisa menyebabkan diare karena lalat yang tadinya
hinggap di kotoran akan membawa kuman penyakit pada makanan yang
akan ia hinggapi.
4. Menggosok gigi secara teratur
Menjaga kesehatan mulut dan gigi penting terutama saat masa pergantian
dari gigi susu. Cara yang paling mudah menjaga kesehatan mulut dan gigi
adalah dengan menggosok gigi secara teratur. Menggosok gigi sebaiknya
dilakukan setiap selesai makan dan sebelum tidur karena saat itulah kuman
berkembang dengan cepat dan berpotensi merusak gigi.
5. Mandi dan keramas teratur
Mandi penting agar kulit terhindar dari penyakit jamur seperti kada dan
kurap. Mandi bisa dilakukan 2 kali sehari atu jika kekurangan air 1 kali
sehari cuku, sedangkan keramas sebaiknya dilakukan setiap 3 hari sekali.
Keramas bertujuan agar rambut tetap sehat dan menghindari tumbuhnya
kutu dan jamur
6. Membuang sampah pada tempatnya
Sampah merupakan tempat berkembangnya lalat dan kuman penyakit,
dengan mengurangi jumlah sampah berarti juga mengurangi lalat dan bibit
penyakit. Cara mengurangi jumlah sampah yaitu dengan membuang sampah
pada tempatnya, jika perlu pisahkan antara sampah plastik, kaca, kaleng,
dan daun-daunan (organik) dengan membuang dan memisahkan sampah,
maka akan mempermudah pengelolaannya, sampah plastik, kaca dan kaleng
bisa dijual dan didaur ulang sedangkan sampah daun bisa dijadikan pupuk
atau dibakar saja.
7. Tidak merokok
Saat ini banyak kasus di mana anak-anak sudah bisa merokok, mereka
merokok karena melihat orang tua atau kakaknya yang juga perokok.
Merokok sama sekali tidak memiliki dampak positif, tapi dampak
negatifnya sangat banyak mulai dari segi kesehatan dan juga keuangan,
uang jajan bisa terpotong hanya untuk membeli rokok, alangkah baiknya
jika uang rokok itu dibelanjakan untuk makan atau keperluan sekolah,
karena itu jika ada orang dewasa yang menawari rokok, sebaiknya langsung
menghindar jika perlu bantu menyadarkan orang tua dan kakak akan bahaya
rokok.
8. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan
Mengukur tinggi dan berat badan penting untuk memantau pertumbuhan
sehingga apabila terjadi kekurangan gizi bisa cepat ditangani.
9. Mengikuti kegiatan olah raga di sekolah
Olahraga bertujuan untuk menjaga tubuh agar tetap sehat, olahraga seperti
senam memang terlihat sepele tapi sebenarnya memiliki manfaat yang besar
karena melatih otot tubuh agar tidak kaku selain untuk mendapatkan udara
segar dan sinar matahari pagi sebagai sumber vitamin D.
10. Memberantas jentik nyamuk secara rutin
Jika di sekolah atau rumah ada bak penampungan air seperti gebeh atau bak
mandi sebaiknya rajin dikuras setiap minggu agar tidak menjadi sarang
perkembangbiakan nyamuk.
11. Buang air besar dan buang air kecil di jamban sekolah
Buang air besar di jamban bertujuan agar kotoran tidak dihinggapi lalat
selain untuk mencegah bau dan pemandangan yang tidak sedap.
12. Tidur yang cukup
Tidur yang baik anak usia 6-12 tahun adalah selama 9-10 jam, tidur bisa
dilakukan mulai jam 9 malam sampai jam 6 pagi, sedangkan jamnya lagi
untuk tidur siang setiap selesai mengerjakan tugas di sekolah. Saat tidur di
malam hari sebaiknya dengan mematikan lampu, selain menghemat listrik
tidur tanpa nyala lampu membuat tubuh lebih cepat beristirahat.
N. Asuhan Keperawatan Usaha Kesehatan Sekolah
1. Pengkajian
Pengumpulan Data
Pengkajian pada kelompok khusus anak sekolah dapat menggunakan model
Betty Neuman yang terdiri atas data inti komunitas dan data subsistem
komunitas meliputi:
Data inti
a. Sejarah berdirinya sekolah
1) Tanyakan kepada kepala sekolah atau guru yang mengetahui sejarah
berdirinya sekolah tersebut.
2) Tanyakan tentang perkembangan sekolah dari awal berdiri sampai
sekarang meliputi nama, tempat, dan bangunan sekolah dan kepala
sekolah yang menjabat serta siswa yang bersekolah.
b. Values (nilai-nilai yang dianut siswa), beliefs (keyakinan), dan agama
1) Tanyakan tentang nilai-nilai dan keyakinan yg dianut oleh siswa dan
guru terkait pola kebiasaan.
2) Tanyakan tentang tata tertib yg berlaku di sekolah.
3) Identifikasi tentang pola budaya yg banyak diyakini siswa dan guru
terkait dengan kesehatan.
4) Apakah terdapat masjid atau musholla (sarana ibadah) di sekolah?
5) Apakah keyakinan agamanya homogen?
c. Data siswa
1) Jumlah siswa, umur, dan jenis kelamin
2) Suku siswa dan guru di sekolah
3) Bahasa yang digunakan saat proses belajar mengajar serta saat siswa
berkomunikasi ketika jam istirahat
d. Vital statistik
1) Hasil pemeriksaan fisik
2) Kejadian siswa sakit saat di sekolah
3) Kejadian siswa sakit sehingga tidak dapat hadir di sekolah
4) Kejadian kecelakaan di sekolah
Data subsistem
a. Lingkungan fisik
1) Kondisi fisik bangunan sekolah: denah sekolah, jumlah kelas, jenis
lantai, dinding, dan atap sekolah
2) Sumber air bersih yang ada di sekolah
3) Jumlah dan kondisi WC sekolah
4) Kondisi bangku dan meja dalam kelas
5) Papan tulis yang digunakan
6) Alat-alat kebersihan kelas
7) Tempat sampah di kelas
8) Kebersihan kelas, UKS, dan lingkungan sekolah
9) Kebersihan kantin sekolah
b. Pelayanan kesehatan
1) Fasilitas pelayanan kesehatan yang digunakan siswa dan guru ketika
sakit
2) Pemeriksaan kesehatan yang pernah dilakukan oleh tenaga
kesehatan pada siswa sekolah
c. Ekonomi
1) Uang saku siswa per hari
2) Tabungan yang dimiliki siswa
3) Iuran kelas dan sekolah
4) SPP yang dibayarkan siswa
d. Keamanan dan transportasi
1) Keamanan sekolah dan kelas
2) Alat transportasi yang digunakan siswa untuk pergi ke sekolah
3) Alat transportasi yang digunakan siswa untuk pergi ke fasilitas
pelayanan kesehatan
e. Politik dan pemerintahan
Jenis santunan yang diberikan pada siswa jika siswa sakit, kecelakaan,
atau meninggal dunia
f. Sistem komunikasi
1) Alat komunikasi yang dibawa siswa ke sekolah
2) Sumber informasi yang digunakan siswa untuk mendapatkan
informasi kesehatan
g. Pendidikan
Penyuluhan atau pendidikan kesehatan yang pernah didapatkan siswa
h. Rekreasi
1) Tempat siswa bermain saat jam istirahat
2) Jenis permainan yang dilakukan saat jam istirahat
3) Kegiatan ekstrakurikuler yang ada di sekolah dan diikuti siswa
4) Kegiatan organisasi yang ada di sekolah dan diikuti siswa
5) Fasilitas bermain dan olahraga yang ada di sekolah
Pengolahan Data
Setelah data diperoleh, kegiatan selanjutnya adalah pengolahan data dengan
cara sebagai berikut:
a. Klasifikasi data atau kategori data
b. Penghitungan prosentase data
c. Tabulasi data
d. Interpretasi data
Analisis Data
Berdasarkan data yang telah diolah, dapat ditentukan masalah kesehatan
atau masalah keperawatan di sekolah. Jenis masalah yang sering terjadi,
antara lain:
a. 6-12 tahun, : ISPA, Gangguan pada gigi, Malnutrisi, Kecacingan,
Pneumonia, Kecelakaan
b. 13-18 tahun : Merokok, Minuman keras, Penyalahgunaan obat,
Pornografi dan pergaulan bebas, Kehamilan, Bunuh diri dan Kecelakaan
2. Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan ditetapkan berdasarkan masalah yang ditemukan.
Diagnosis keperawatan akan memberikan gambaran masalah dan status
kesehatan siswa sekolah baik yang nyata (aktual) maupun yang mungkin
terjadi (potensial) (Mubarak, 2005). Masalah aktual adalah masalah yang
diperoleh pada saat pengkajian, sedangkan masalah potensial adalah
masalah yang mungkin timbul kemudian (American Nurses of Association
(ANA). Dengan demikian diagnosis keperawatan adalah suatu pernyataan
yang jelas, padat, dan pasti tentang status dan masalah kesehatan pasien
yang dapat diatasi dengan tindakan keperawatan.
Diagnosis keperawatan mengandung komponen utama yaitu problem
(masalah) yang merupakan kesenjangan atau penyimpangan dari kondisi
normal, etiologi (penyebab dari masalah kesehatan atau keperawatan yang
dapat memberi arah intervensi keperawatan), serta sign & symptom (tanda
dan gejala) (Mubarak, 2005).
Contoh Diagnosis Keperawatan
a. Kerusakan gigi berhubungan dengan kurang hygiene oral
b. Risiko Perilaku Kekerasan terhadap orang lain berhubungan dengan
pola perilaku kekerasan terhadap orang lain (memukul/menendang)
c. Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri dengan faktor risiko usia
15-19 tahun
d. Perilaku kesehatan cenderung berisiko berhubungan dengan kurang
pemahaman
3. Perencanaan
Perencanaan keperawatan terdiri dari penentuan prioritas masalah dan
penentuan intervensi yang akan dilakukan. Dalam menentukan prioritas
masalah keperawatan perlu mempertimbangkan berbagai faktor sebagai
kriteria diantaranya yaitu (Mubarak, 2005):
a. Perhatian siswa dan guru
b. Prevalensi kejadian
c. Berat ringannya masalah
d. Kemungkinan masalah untuk diatasi
e. Tersedianya sumber daya di sekolah
f. Aspek politis
Prioritas masalah juga dapat ditentukan berdasarkan hirarki kebutuhan
menurut Abraham H. Mashlow yaitu:
a. Keadaan yang mengancam kehidupan
b. Keadaan yang mengancam kesehatan
c. Persepsi tentang kesehatan dan keperawatan
Dalam menyusun atau mengurutkan masalah atau diagnosis keperawatan
komunitas sesuai dengan prioritas (penapisan) yang digunakan dalam
keperawatan komunitas adalah format penapisan menurut Stanhope,
Lancaster, 1988:
a. Kesadaran siswa dan guru terhadap masalah
b. Motivasi siswa dan guru untuk mengatasi masalah
c. Kemampuan perawat untuk mengatasi masalah
d. Fasilitas yang tersedia untuk mengatasi
e. Adanya hambatan-hambatan dalam menyelesaikan masalah
f. Waktu yang diperlukan untuk mengatasi masalah
Langkah-langkah dalam perencanaan keperawatan komunitas mencakup
perumusan tujuan, rencana tindakan keperawatan yang akan dilakukan dan
kriteria hasil untuk menilai pencapaian tujuan (Mubarak, 2005).
a. Kriteria perumusan tujuan:
1) Fokus pada siswa
2) Jelas dan singkat
3) Dapat diukur dan diobservasi
4) Realistik
5) Ada target waktu
6) Melibatkan peran serta siswa dan guru
b. Langkah rencana tindakan keperawatan
1) Identifikasi alternatif tindakan keperawatan: penyuluhan atau
pelatihan
2) Tetapkan teknik dan prosedur yang akan digunakan
3) Melibatkan peran serta siswa dan guru dalam penyusunan
perencanaan kegiatan
4) Pertimbangkan fasilitas dan sumber daya sekolah yang tersedia
5) Tindakan sesuai dengan kebutuhan siswa
6) Mengarah pada tujuan
7) Tindakan yang realistik
8) Disusun berurutan
c. Kriteria hasil digunakan untuk menilai pencapaian tujuan dan bersifat
spesifik. Kriteria evaluasi yang dapat ditentukan yaitu kriteria verbal
dan kriteria psikomotor
NO Diagnosa NOC NIC
1 Kerusakan Gigi Oral Hygiene Oral Health Promotion
berhubungan dengan Setelah dilakukan 1. Instruksikan perlunya
kurang pengetahuan tindakan keperawatan perawatan gigi sehari-
tentang kesehatan gigi selama 1 x 60 menit hari
masalah teratasi dengan 2. Monitor mukosa mulut
BK: gigi karies, sakit kriteria hasil: secara teratur
gigi, plak yang berlebih, 1. Kebersihan mulut (4) 3. Mompromosikan
halitosis (mulut bau), 2. Kebersihan gigi (4) pemeriksaan gigi secara
gigi goyang, gigi 3. Kebersihan gusi (4) teratur
ompong. 4. Kebersihan lidah (4) 4. Mengajarkan cara
5. Kebersihan peralatan menyikat gigi yang
gigi (4) benar
Ket:
1. Severely
compromised
2. Substatially
compromised
3. Moderately
compromised
4. Mildly compromised
5. Not compromised
2 Risiko Perilaku Menahan Diri dari Latihan Kontorl Impuls
Kekerasan terhadap kemarahan 1. Pilih strategi yang tepat
orang lain berhubungan Setelah dilakukan untuk pemecahan
dengan pola perilaku tindakan keperawatan masalah sesuai dengan
kekerasan terhadap selama 1 x 60 menit tingkat perkembangan
orang lain pasien dapat menahan dan fungsi kognitif
(memukul/menendang) diri dengan kriteria hasil: pasien
2. Ajari pasien untuk
1. Mengidentifikasi melakukan tindakan
alasan perasaan “berhenti dan berfikir”
marah (4) sebelum bertindak secara
2. Menggunakan impulsif
keterampilan 3. Bantu pasien untuk
resolusi konflik mengidentifikasi akibat
yang efektif (4) dari suatu tindakan serta
3. Menggunakan keuntungan kerugian
strategi untuk 4. Bantu pasien untuk
mengendalikan memilih tindakan yang
marah (4) paling tidak merugikan
Ket: 5. Sediakan dukungan
1. Tidak pernah positif misalnya pujian
dilakukan
2. Jarang dilakukan
3. Kadang-kadang
dilakukan
4. Sering dilakukan
5. Dilakukan secara
konsisten
3 Risiko perilaku Student Health Status Counseling
kekerasan terhadap diri Setelah dilakukan 1. Membangun hubungan
sendiri dengan faktor tindakan keperawatan terapeutik
risiko usia 15-19 tahun selama 1 x 60 menit 2. Menunjukkan empati
masalah teratasi dengan dan kehangatan
kriteria hasil: 3. Memberikan informasi
1. Kesehatan fisik (2) faktual yang diperlukan
2. Kesehatan mental (2) 4. Membantu siswa
3. Penggunaan alkohol mengidentifikasi
(5) kekuatan
4. Merokok (5) 5. Mendorong
pengembangan
Ket 1-2: keterampilan yang baru
1. Severely
compromised
2. Substatially
compromised
3. Moderately
compromised
4. Mildly compromised
5. Not compromised
Ket 3-4:
1. Sever
2. Substantial
3. Moderate
4. Mild
5. None
4 Perilaku kesehatan Knowledge: Health Health Education
cenderung berisiko Promotion 1. Identifikasi kebutuhan
berhubungan dengan Setelah dilakukan pendidikan kesehatan
kurang pemahaman tindakan keperawatan pada siswa
selama 1 x 60 menit 2. Tentukan pengetahuan
masalah teratasi dengan siswa tentang kesehatan
kriteria hasil: 3. Rumuskan tujuan untuk
1. Perilaku yang program pendidikan
meningkatkan kesehatan
kesehatan (4) 4. Gunakan presentasi
2. Sumber terkemuka grup untuk memberi
perawatan kesehtan dukungan
(4)

Ket:
1. No knowledge
2. Limited knowledge
3. Moderate knowledge
4. Substantial
knowledge
5. Extensive knowledge
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek G.M., Howard K.B., Joanne M.D. (Eds.). 2008. Nursing Intervention
Classification (NIC), Fifth Edition. St. Louis Missouri: Mosby Inc.

Departemen Kesehatan RI, 2008, . Pedoman Pelatihan Kader Kesehatan di


Sekolah, Jakarta : Departemen Kesehatan

Djatmiko, Yayat Hayati, Prof. Dr. (2008). Perilaku Organisasi. Bandung : Alfa
Beta

Herdman, T. Heather, 2012, Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klassifikasi


2012- 2012, Jakarta : EGC

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar.


2012. Pedoman Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan
SekolahKementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pedoman pelaksanaan
UKS di sekolah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar, 2012.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar.


2012. Pedoman Pelaksanaan UKS di Sekolah.

Keputusan Bersama Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri


Agama dan Menteri Dalam Negeri. Nomor 26 Tahun 2003 tentang
Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan

Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia. Keputusan Bersama Menteri


Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri Agama, dan Menteri
Dalam Negeri Republik Indonesia No. 1/U/SKB/2003, No.
1067/MENKES/VII/2000, No. MA/230 A/2003, No. 26 Tahun 2003
Tentang Pembinaan dan Pengembangan Usaha Kesehatan Sekolah.

Moorhead Sue, Marion Johnson, Meridean L.M., et al. (Eds.). 2008. Nursing
Outcomes Classification (NOC), Fifth Edition. St. Louis Missouri: Mosby
Inc.
Sumantri, M., 2007, Pendidikan Wanita, dalam Ali, M., Ibrahim, R., Sukmadinata,
N.S., dan Rasjidin, W. (Penyunting). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan:
Handbook.. Bandung : Pedagogiana Press

Yuniar Tanti, Sip. Kamus Bahasa Indonesia. Jakarta : Agung Media mulia.