Está en la página 1de 43

LAPORAN PENDAHULUAN

PROSES MENUA

A. Konsep Dasar Menua

Proses menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi

normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki

kerusakan yang diderita (Nugroho, 2010).

Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang

telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak, masa dewasa dan masa tua

(Nugroho, 2010). Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis.

Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun psikis.

Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor, rambut memutih,

penurunan pendengaran, penglihatan memburuk, gerakan lambat, kelainan berbagai

fungsi organ vital, sensitivitas emosional meningkat dan kurang gairah.

Beberapa faktor yang mempengaruhi proses menua dari seorang atau individu :

1. Teori biologi

Berkurangnya sel pada usila dipengaruhi oleh faktor ketidakmampuan regenarasi

pada individu yang telah lanjut usia.

2. Teori psikologis

Sterss dalam kehidupan, sesorang secara tidak langsung mempengaruhi proses

penuaan.

1
3. Faktor lingkungan

Merupakan faktor predisposisi dan kedua faktor sebelumnya, radikal bebas,

pekerjaan dan pola hidup berpengaruh terhadap proses penuaan.

B. Konsep Dasar Lansia

1. Pengertian Usia Lanjut

Dalam buku keperawatan gerontik dan geriatric, Wahyudi Nugroho (2008)

mengatakan bahwa menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan

kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti diri dan

mempertahankan struktur dan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

dari jejas (termasuk infeksi) dan memperbaiki kerusakan yang di derita.

Pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa manusia secara perlahan

mengalami kemunduran struktur dan fungsi organ. Kondisi ini jelas

menunjukkan bahwa proses menua itu merupakan kombinasi dari bermacam-

macam factor yang saling berkaitan yang dapat mempengaruhi kemandirian dan

kesehatan lanjut usia, termasuk kehidupan seksualnya.

2. Proses Menua

Proses menua merupakan proses sepanjang hidup yang hanya di mulai dari

satu waktu tertentu, tetapi dimulai sejak permulaan kehidupan. Menua merupakan

proses alamiah, yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya,

yaitu anak, dewasa, dan tua. Tiga tahap ini berbeda, baik secara biologis, maupun

psikologis. Memasuki usia tua berarti mengalami kemunduran, misalnya

kemunduran fisik yang ditandai dengan kulit mengendur, rambut memutih, gigi

mulai ompong, pendengaran kurang jelas, penglihatan semakin memburuk,

2
gerakan-gerakan lambat, dan postur tubuh yang tidak proforsional (Nugroho,

2010).

Proses menua merupakan proses yang terus-menerus secara alami.

Menua bukanlah suatu proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi

rangsangan dari dalam maupun luar tubuh. Memang harus diakui bahwa ada

berbagai penyakit yang sering menghinggapi kaum lanjut usia. Lanjut usia akan

selalu bergandengan dengan perubahan fisiologi maupun psikologi (Nugroho,

2010).

3. Klasifikasi Lansia

Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), lanjut usia meliputi:

a. Usia pertengahan (middle age) ialah kelompok usia 45 sampai 59 tahun.

b. Lanjut usia (elderly) antara 60 – 74 tahun

c. Lanjut usia tua (old) antara 75 – 90 tahun

d. Usia sangat tua (very old) di atas 90 tahun

4. Faktor – faktor Yang Mempengaruhi Penuaan

a.Hereditas atau ketuaan genetik

b. Nutrisi atau makanan

c. Status kesehatan

d. Pengalaman hidup

e. Lingkungan

f. Stres

3
5. Perubahan-perubahan yang Terjadi pada Lanjut Usia.

a. Perubahan-perubahan Fisik

1) Sel

a) Lebih sedikit jumlahnya.

b) Lebih besar ukurannya.

c) Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler.

d) Menurunnya proporsi protein di otak, otot, ginjal, darah, dan hati.

e) Jumlah sel otak menurun.

f) Terganggunya mekanisme perbaikan sel.

g) Otak menjadi atrofis beratnya berkurang 5-10%.

2) Sistem Persarafan.

a) Berat otak menurun 10-20%. (Setiap orang berkurang sel saraf otaknya

dalam setiap harinya).

b) Cepatnya menurun hubungan persarafan.

c) Lambat dalam respon dan waktu untuk bereaksi, khususnya dengan

stres.

d) Mengecilnya saraf panca indra.Berkurangnya penglihatan, hilangnya

pendengaran, mengecilnya saraf penciumdan perasa, lebih sensitif

terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin.

e) Kurang sensitif terhadap sentuhan.

3) Sistem Pendengaran.

a) Presbiakusis ( gangguan dalam pendengaran ). Hilangnya kemampuan

pendengaran pada telinga dalam, terutama terhadap bunyi suara atau nada-

4
nada yang tinggi, suara yang tidak jelas, sulit mengerti kata-kata, 50%

terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.

b) Otosklerosis akibat atrofi membran tympani .

c) Terjadinya pengumpulan serumen dapat mengeras karena meningkatnya

keratin.

d) Pendengaran bertambah menurun pada lanjut usia yang mengalami

ketegangan jiwa/stres.

4) Sistem Penglihatan.

a) Timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.

b) Kornea lebih berbentuk sferis (bola).

c) Kekeruhan pada lensa menyebabkan katarak.

d) Meningkatnya ambang, pengamatan sinar, daya adaptasi terhadap

kegelapan lebih lambat dan susah melihat dalam cahaya gelap.

e) Hilangnya daya akomodasi.

f) Menurunnya lapangan pandang, berkurang luas pandangannya.

g) Menurunnya daya membedakan warna biru atau hijau.

5) Sistem Kardiovaskuler.

a) Elastisitas dinding aorta menurun.

b) Katup jantung menebal dan menjadi kaku.

c) Kemampuan jantung memompa darah menurun, hal ini menyebabakan

menurunnya kontraksi dan volumenya.

d) Kehilangan elastisitas pembuluh darah, kurangnya efektivitas pembuluh

darah perifer untuk oksigenisasi,. Perubahan posisi dari tidur ke duduk

5
atau dari duduk ke berdiri bisa menyebabkan tekanan darah menurun,

mengakibatkan pusing mendadak.

e) Tekanan darah meninggi akibat meningkatnya resistensi pembuluh

darah perifer.

6) Sistem Pengaturan Temperatur Tubuh.

a) Temperatur tubuh menurun ( hipotermia ) secara fisiologis akibat

metabolisme yang menurun.

b) Keterbatasan refleks menggigil dan tidak dapat memproduksi panas

akibatnya aktivitas otot menurun.

7) Sistem Respirasi

a) Otot-otot pernafasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku.

b) Menurunnya aktivitas dari silia.

c) Paru-paru kehilangan elastisitas, menarik nafas lebih berat, kapasitas

pernafasan maksimum menurun, dan kedalaman bernafas menurun.

d) Alveoli ukuranya melebar dari biasa dan jumlahnya berkurang.

e) Kemampuan untuk batuk berkurang.

f) Kemampuan kekuatan otot pernafasan akan menurun seiring dengan

pertambahan usia.

8) Sistem Gastrointestinal.

a) Kehilangan gigi akibat Periodontal disease, kesehatan gigi yang buruk

dan gizi yang buruk.

b) Indera pengecap menurun, hilangnya sensitivitas saraf pengecapm di

lidah terhadap rasa manis, asin, asam, dan pahit.

6
c) Eosephagus melebar.

d) Rasa lapar menurun, asam lambung menurun.

e) Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi.

f) Daya absorbsi melemah.

9) Sistem Reproduksi.

a) Menciutnya ovari dan uterus.

b) Atrofi payudara.

c) Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun

adanya penurunan secara berangsur-angsur.

d) Kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia asal kondisi

kesehatan baik.

e) Selaput lendir vagina menurun.

10) Sistem Perkemihan.

a) Ginjal

b) Merupakan alat untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh melalui

urin, darah yang masuk ke ginjal disaring di glomerulus (nefron). Nefron

menjadi atrofi dan aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%.

c) Otot-otot vesika urinaria menjadi lemah, frekuensi buang air kecil

meningkat dan terkadang menyebabkan retensi urin pada pria.

11) Sistem Endokrin.

a) Produksi semua hormon menurun.

7
b) Menurunnya aktivitas tyroid, menurunnya BMR (Basal Metabolic Rate),

dan menurunnya daya pertukaran zat.

c) Menurunnya produksi aldosteron.

d) Menurunnya sekresi hormon kelamin misalnya, progesteron, estrogen,

dan testosteron.

12) Sistem Kulit ( Sistem Integumen )

a) Kulit mengerut atau keriput akibat kehilangan jaringan lemak.

b) Permukaan kulit kasar dan bersisik karena kehilangan proses

keratinisasi, serta perubahan ukuran dan bentuk-bentuk sel epidermis.

c) Kulit kepala dan rambut menipis berwarna kelabu.

d) Rambut dalam hidung dan telinga menebal.

e) Berkurangnya elastisitas akibat dari menurunya cairan dan

vaskularisasi.

f) Pertumbuhan kuku lebih lambat.

g) Kuku jari menjadi keras dan rapuh, pudar dan kurang bercahaya.

h) Kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungsinya.

13) Sistem Muskuloskletal

a) Tulang kehilangan density (cairan) dan makin rapuh.

b) Kifosis

c) Pergerakan pinggang, lutut, dan jari-jari terbatas.

d) Persendiaan membesar dan menjadi kaku.

e) Tendon mengerut dan mengalami skelerosis.

8
f) Atrofi serabut otot ( otot-otot serabut mengecil ).Otot-otot serabut

mengecil sehingga seseorang bergerak menjadi lamban, otot-otot kram

dan menjadi tremor.

g) Otot-otot polos tidak begitu berpengaruh.

9
KONSP DASAR KEPERAWATAN

A. PENGERTIAN
Artritis Rheumatoid (AR) merupakan suatu penyakit inflamasi sistemik kronik
yang walaupun manifestasi utamannya adalah poliartritis yang progresif, akan tetapi
penyakit ini juga melibatkan seluruh organ tubuh. Pada umumnya selain gejala
artikular, AR dapat pula menunjukkan gejala konstitusional berupa kelemahan umum,
cepat lelah atau gangguan organ non artikular lainnya.
Penyakit ini adalah salah satu dari sekelompok penyakit jaringan ikat difus
yang diperantarai oleh imunitas dan tidak diketahui penyababnya. Artritis reumatoid
kira-kira 2 ½ kali lebih sering menyerang perempuan daripada laki-laki. Insiden
meningkat dengan bertambahnya usia, terutama pada perempuan. Insedens puncak
adalah antara usia 40 sampai 60 tahun.
B. ETIOLOGI
Penyebab AR sampai sekarang belum diketahui. Beberapa faktor di bawah ini
diduga berperan dalam timbulnya penyakit artritis rheumatoid.
1. Faktor genetik dan lingkungan
Terdapat hubungan antara HLA-DW4 dengan AR seropositif yaitu penderita
mempunyai resiko 4 kali lebih banyak terserang penyakit ini.
2. Hormon seks
Faktor keseimbangan hormonal diduga ikut berperan karena perempuan lebih
banyak menderita penyakit ini dan biasanya sembuh sewaktu hamil.
3. Infeksi
Dugaan adanya infeksi timbul karena permulaan sakitnya terjadi secara
mendadak dan disertai tanda-tanda peradangan. Penyebab infeksi diduga
bakteri, mikoplasma, atau virus.
4. Heat Shock Protein (HSP)
HSP merupakan sekelompok protein berukuran sedang yang dibentuk oleh
tubuh sebgai respons terhadap stres.

10
5. Radikal bebas
Contohnya radikal superokside dan lipid peroksidase yang merangsang
keluarnya prostaglandin sehingga timbul rasa nyeri, peradangan dan
pembengkakan.
6. Umur
Penyakit ini terjdai pada usia 20-60 tahun, tetapi terbanyak antara umur 35-45
tahun.
Artritis reumatoid ini merupakan bentuk artritis yang serius, disebabkan
oleh peradangan kronis yang bersifat progresif, yang menyangkut persendian.
Ditandai dengan sakit dan bengkak pada sendi-sendi terutama pada jari-jari
tangan, pergelangan tangan, siku, dan lutut. Penyebab artritis reumatoid masih
belum diketahui walaupun banyak hal mengenai patogenesisnya telah
terungkap. Penyakit ini tidak dapat ditunjukkan memiliki hubungan pasti
dengan genetik. Terdapat kaitan dengan penanda genetik seperti HLA-DW4
(Human Leukocyte Antigens) dan HLA-DR5 pada orang Kaukasia. Namun
pada orang Amerika, Afrika, Jepang, dan Indian Chippewa hanya ditentukan
kaitan dengan HLA-DW4. Destruksi jaringan sendi terjadi melalui dua cara.
Pertama adalah destruksi pencernaan oleh produksi, protease, kolagenase, dan
enzim hidrolitik lainnya. Enzim ini memecah kartilago, ligamen, tendon, dan
tulang pada sendi, serta dilepaskan bersama – sama dengan radikal O2 dan
metabolit asam arakidonat oleh leukosit polimorfonuklear dalam cairan
sinovial. Proses ini diduga adalah bagian dari respon autoimun terhadap
antigen yang diproduksi secara lokal Destruksi jaringan juga terjadi melalui
kerja panus reumatoid. Panus merupakan jaringan granulasi atau vaskuler
yang terbentuk dari sinovium yang meradang dan kemudian meluas ke sendi.
Di sepanjang pinggir panus terjadi destruksi, kolagen, dan proteoglikan
melalui produksi enzim oleh sel di dalam panus tersebut.

11
C. PATOFISIOLOGI
Pada artritis reumatoid, reaksi autoimun (yang sudah dijelaskan sebelumnya)
terutama terjadi dalam jaringan sinovial. Proses fagositosis menghasilkan enzim-
enzim dalam sendi. Enzim-enzim tersebut akan memecah kogen sehingga terjadi
edema, proliferasi membran sinovial dan akhirnya pembentukan pannus. Pannus akan
menghancurkan tulang rawan dan menimbulkan erosi tulang. Akibatnya adalah
menghilangnya permukaan sendi yang akan mengganggu gerak sendi. Otot akan
terkena karena serabut otot akan mengalami perubahan degeneratif dengan
menghilangnya elastisitas otot dan kekuatan kontraksi otot.
D. GAMBARAN KLINIS
Ada beberapa gambaran klinis yang lazim ditemukan pada seseorang artritis
reumatoid. Gambaran klinis ini tidak harus timbul sekaligus pada saat bersamaan oleh
karena penyakit ini memiliki gambaran klinis yang sangat bervariasi.
1. Gejala-gejala konstitusional, misalnya lelah, anoreksia, berat badan menurun dan
demam. Terkadang kelelahan dapat demikian hebatnya.
2. Poliartritis simetris terutama pada sendi perifer: termasuk sendi-sendi di tangan,
namun biasanya tidak melibatkan sendi-sendi interfalang distal. Hampir semua
sendi diartrodial dapat diserang.
3. Kekakuan di pagi hari selama lebih dari 1 jam; dapat bersifat generalisata tetapi
terutama menyerang sendi-sendi. Kekakuan ini berbeda dengan kekakuan sendi
pada osteoartritis, yang biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit dan
selalu berkurang dari satu jam.
4. Artritis erosif; merupakan ciri khas penyakit ini pada gambaran radiologik.
Peradangan sendi yang kronik mengakibatkan erosi di tei tulang.
5. Deformitas; Kerusakan jaringan penungjang sendi meningkatdengan pejalanan
penyakit. Pergeseran ulnar atau deviasi jari, subluksasi sendi metekarpofalangeal,
deformitas boutonniere dan leher angsa adalah beberapa deformitas tangan
yangsering dijumpai. Pada kaki terdapat protrusi (tonjolan) kaput metersal yang
timbul sekunder dari subluksasi metetersal. Sendi-sendi yang besar juga dapa

12
teserang dan mengalami pengurangan kemampuan bergerak terutama dalam
melakukan gerakan ekstensi.
6. Nodul-nodul reumatoid: adalah massa subkutan yang ditemukan pada sekitar
sepertiga orang dewasa pasien artritis reumatoid. Lokasi yang paling sering dari
deformitas ini adalah bursa olekranon (sendi siku) atau di sepanjang permukaan
ekstensor dari lengan; walaupun demikian nodula-nodula ini dapat juga timbul
pada tempat-tempat lainnya. Adanya nodula-nodula ini biasanya merupakan suatu
petunjuk suatu penyakit yang aktif dan lebih berat.
7. Manifestasi dekstra-artikular; artritis reumatoid juga dapat menyerangorgan-
organ lain di luar sendi. Jantung (perikarditis), paru-paru (pleuritis), mata, dan
pembuluh darah dapat rusak.
E. KRITERIA DIAGNOSTIK
Diagnostik artritis reumatoid dapat menjadi suatu proses yang kompleks. Pada
tahap dini mungkin hanya akan ditemukan sedikit atau tidak ada uji laboratorium
yang positif; perubahan apda sendi dapat minor; dan gejala gejalanya dapat hanya
bersifat sementara. Diagnosis tidak hanya bersandar pada satu karakteristik saja tetapi
berdasarkan pada suatu evaluasi dari sekelompok tanda dan gejala. Kriteria diagnostik
yang dipakai adalah sebagai berikut:
1. Kekakuan pagi hari (lamanya paling tidak satu jam)
2. Artritis pada tiga atau lebih sendi
3. Artritis sendi-sendi jari-jari tangan
4. Artritis yang simetris
5. Nodul reumatoid
6. Faktor reumatoid dalam serum
7. Perubahan-perubahan radiologik (erosi atau dekalsifikasi tulang)
Diagnosis artritis reumatoid dikatakan positif apabikla sekurang-kurangnya
empat dari tujuh kriteria ini terpenuhi. Empat kriteria yang disebutkan terdahulu
harus sudah berlangsung sekurang-kurangnya 6 minggu.

13
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak banyak berperan dalam diagnosis reumatoid, namun dapat menyokong
bila terdapat keraguan atau untuk melihat prognosis gejala pasien.
1. Pemeriksaan laboratorium
a. Cairan synovial
1) Kuning sampai putih; derajat kekeruhan menggambarkan peningkatan
jumlah sel darah putih; fibrin clot menggambarkan kronisitas.
2) Mucin clot. Bekuan yang berat dan menurunnya viskositas
menggambarkan penurunan kadar asam hyaluronat.
3) Leukosit 5.000 – 50.000/mm3, menggambarkan adanya proses inflamasi,
didominasi oleh sel neutrophil (65%).
4) Glukosa: normal atau rendah.
5) Rheumatoid factor positif, kadarnya lebih tinggi dari serum, berbanding
terbalik dengna kadar komplemen cairan sinovium.
6) Penurunan kadar komlemen menggambarkan pemakaiannya pada reaksi
imunologis.
7) Peningkatan kadare IgG dan kompleks imun.
8) Phagocites – neutrophils yang “difagosit” oleh kompleks immun.
b. Darah tepi
1) Leukosit: normal atau meningkat (<12.000/mm3). Leukosit menurun bila
terdapat splenomegali; keadaain ini dikenal sebagai Felty’s syndrome.
2) Anemia normositer atau mikrositer, tipe penyakit kronis.
c. Pemeriksaan Sero-imunologi
1) Rheumatoid factor + (IgM) - 75% penderita; 95% + pada penderita dengan
nodul subkutan.
2) Anti CCP antibodies positif telah dapat ditemukan pada AR dini.
3) Antinuclear antibodies positif (10%-50% penderita) dengan titer yang
lebih rendah dibandingkan dengan Lupus Eritematosus Sistemik.
4) Anti-DNA antibodies negatif.

14
5) Peningkatan CRP, fibrinogen dan laju endap darah, menggambarkan
aktivitas penyakit.
6) Meningkatnya kadar alpha1 dan alpha2 globulin sebagai acute phase
reactans.
7) Meningkatnya kadar γ-gobulin menggambarkan kenaikan/akselerasi dari
katabolisme protein pada penyakit kronis.
8) Kadar komplemen serum normal; menurunnya kadar komplemen dapat
terjadi pada keadaan penyakit dengan gejala ekstra artikular yang berat
seperti vaskulitis.
9) Adanya circulating immune comlexes – serta ditemukan pada penyakit
dengan manifestasi sistemik.
2. Pemerikasaan Gambaran Radiologik
Pada awal penyakit tidak ditemukan, tetapi setelah sendi mengalami kerusakan
yang berat dapat terlihat penyempitan ruang sendi karena hilangnya rawan sendi.
Terjadi erosi tulang pada tepi sendi dan penurunan densitas tulang. Perubahan ini
sifatnya tidak reversibel. Secara radiologik didapati adanya tanda-tanda
dekalsifikasi (sekurang-kurangnya) pada sendi yang terkena.
G. PENATALAKSANAAN
1. Pengobatan Medis
Belum ada penyembuhan untuk AR. Penyakit biasanya berlangsung seumur
hidup, sehingga memerlukan penanganan seumur hidup pula. Walaupun hingga
kini belum berhasil didapatkan suatu cara pencegahan dan pengobatan AR yang
sempurna, saat ini pengobatan pasa pasien AR ditujukan untuk:
a. Menghilangkan gejala inflamasi aktif baik lokal maupun sistemik
b. Mencegah terjadinya destruksi jaringan
c. Mencegah terjadinya deformitas dan memelihara fungsi persendian agar tetap
dalam keadaan baik
d. Mengembalikan kelainan fungsi organ dan persendian yang terlibat agar
sedapat mungkin menjadi normal kembali.

15
Dalam pengobatan AR umumnya selau dibutuhkan pendekatan
multidisipliner. Suatu tim yang idealnya terdiri dari dokter, perawat, ahli
fisioterapi, ahli terapi okupasional, pekerja sosial, ahli farmasi, ahli gizi dan ahli
psikologi, semuanya memiliki peranan masing-masing dalam pengelolaan pasien
AR baik dalam bidang edukasi maupun penatalaksanaan pengobatan penyakit ini.
Beberapa jenis obat yang digunakan pada AR antara lain sebagai berikut:
1. Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS)
Obat ini diberikan sejak mulai sakit untuk mengatasi nyeri sendi akibat proses
peradangan. Golongan obat ini tidak dapat melindungi rawan sendi maupun
tulang dari proses kerusakan akibat penyakit AR. Contoh obat golongan ini
yaitu Asetosal, Ibuprofen, Natrium Diclofenak, Indometasin, Asam
flufenamat, Piroksikam, Fenilbutason, dan Naftilakanon.
2. Kortikosteroid
Obat ini berkhasiat sebagai antiradang dan penekan reaksi imun
(imunosupresif), tetapi tidak bisa mengubah perkembangan penyakit AR.
Kortikosteroid bisa digunakan secara sistemik (tablet, suntikan IM) maupun
suntikan lokal di persendian yang sakit sehingga rasa nyeri dan
pembengkakan hilang secara cepat. Pengobatan kortikosteroid sistemik jangka
panjang hanya diberikan kepada penderita dengan komplikasi berat dan
mengancam jiwa, seperti radang pembuluh darah (vaskulitis).
3. Desease Modifing Anti Rheumatoid Drugs (DMARDs)/ Obat pengubah
perjalanan penyakit
Bila diagnosis AR telah ditegakkan, oabt golongan ini harus segera diberikan.
Beberapa ahli bahkan menganjurkan pemberian DMARDs, baik sebagai obat
tunggal maupun kombinasi dengan DMARDs lain pada tahap dini, baru
kemudian dikurangi secara bertahap bila aktivitas AR telah terkontrol. Bila
penggunaan satu jenis DMARDs dengan dosis adekuat selama 3-6 bulan tidak
menampakkan hasil, segera hentikan atau dikombinasi dengan DMARDs yang
lain. Contoh obat golongan ini yaitu Klorokuin, Hidroksiklorokuin,

16
Sulfazalazine, D-penisilamin, Garam Emas (Auro Sodium Thiomalate, AST),
Methothexate, Cyclosporin-A dan Lefonomide.
4. Obat imunosupresif
Obat ini jarang digunakan karena efek samping jangka panjang yang berat
seperti timbulnya penyakit kanker, toksik pada ginjal dan hati.
5. Suplemen antiokdsidan
Vitamin dan mineral yang berkhasiat antioksidan dapat diberikan sebagai
suplemen pengobatan seperti beta karoten, vitamin C, vitamin E, dan
selenium.
2. Pengobatan Tradisional
Perawatan dan pengobatan terhadap penyakit rheumatik adalah sebagai berikut.
a. Diusahakan agar badan dalam keadaan hangat.
b. Gunakan campuran garam 1 sendok makan, tawas ½ sendok makan, dan air
rebusan sirih untuk merendam/mengompres bagian badan yang terserang
rheumatik.
c. Daun seledri sebanyak 10 batang dimakan sebagai lalap.
d. Daun kumis kucing sebanyak 1 genggam, daun meniran 7 batang, temulawak
10 potong, daun murbei 1 genggam, dan bidara upas 1 jari. Semua bahan ini di
rebus dalam air sebanyak 2 gelas, kemudian disaring untuk diminum airnya.
e. Dengan obat gosok alami:
1) Air jeruk nipis, minyak kayu putih dan kapur sirih dicampur dan
digunakan untuk menggosok bagian tubuh yang sakit.
2) Daun kecubung wuluh 5 lembar dan kapur siri ditumbuk dan digosokkan
pada bagian tubuh yang sakit.
3) Bengle lempu yang dan cabe ditumbuk halus, kemudian dicampur dengan
minyak kayu putih dan digosokkan pada bagian tubuh yang sakit.

17
H. KOMPLIKASI
Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus
peptikum yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat obat anti inflamasi
non-steroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit (desease modifying
antirhematoid drugs, DMARD) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan
mortalitas utama pada arthritis rheumatoid.
Komplikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas, sehingga sukar
dibedakan akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan
myelopati akibat ketidakstabilan vertebra vertical dan neuropati iskemik akibat
vaskulitis.
I. ANJURAN BAGI PENDERITA ARTRITIS RHEUMATOID
1. Makan sayuran (bayam, lobak, wortel, daun singkong, daun ubi jalar, seledri)
2. Mengkonsumsi buah-buahan segar (tomat, kesemek, pepaya, mangga)
3. Tiga hari berturut-turut minumlah susu dan telur ayam kampung setengah matang.
4. Jangan mengkonsumsi makanan/minuman yang dingin.
5. Mandi berendam dengan air hangat.
6. Istirahat yang cukup.
7. Jangan sampai kedingingan
Beberapa jenis makanan yang harus dihindari bagi semua penderita rematik
adalah sebagai berikut.
1. Minuman berarkohol, teh, kopi, coklat.
2. Mentega, telur ayam negeri, rempah-rempah yang pedas.
3. Kue-kue dari tepung dan gula putih.
4. Sayur kangkung, melinjo (daun dan buah), rebung dan daging.
J. PROGNOSIS
Pada umumnya pasien artritis reumatoid akan mengalami manifestasi penyakit
yang bersifat monosiklik (hanya mengalami satu episode artritis reumatoid dan
selanjutnya akan mengalami remisi sempurna). Tapi sebagian besar penyakit ini telah
terkena artritis reumatoid akan menderita penyakit ini selama sisa hidupnya dan
hanya diselingi oleh beberapa masa remisi yang singkat (jenis polisiklik). Sebagian

18
kecil lainnya akan menderita artritis reumatoid yang progresif yang disertai dengan
penurunan kapasitas fungsional yang menetap pada setiap eksaserbasi.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, bahwasannya penyakit ini bersifat
sistemik. Maka seluruh organ dapat diserang, baik mata, paru-paru, jantung, ginjal,
kulit, jaringan ikat, dan sebagainya. Bintik-bintik kecil yang berupa benjolan atau
noduli dan tersebar di seluruh organ di badan penderita. Pada paru-paru dapat
menimbulkan lung fibrosis, pada jantung dapat menimbulkan pericarditis,
myocarditis dan seterusnya. Bahkan di kulit, nodulus rheumaticus ini bentuknya lebih
besar dan terdapat pada daerah insertio dan otot-otot atau pada daerah extensor. Bila
RA nodule ini kita sayat secara melintang maka kita akan dapati gambaran: nekrosis
sentralis yang dikelilingi dengan sebukan sel-sel radang mendadak dan menahun yang
berjajar seperti jeruji roda sepeda (radier) dan membentuk palisade. Di sekitarnya
dikelilingi oleh deposit-deposit fibrin dan di pinggirnya ditumbuhi dengan fibroblast.
Benjolan rematik ini jarang dijumpai pada penderita-penderita RA jenis ringan.
Disamping hal-hal yang disebutkan di atas gambaran anemia pada penderita RA
bukan disebabkan oleh karena kurangnya zat besi pada makanan atau tubuh penderita.
Hal ini timbul akibat pengaruh imunologik, yang menyebabkan zat-zat besi terkumpul
pada jaringan limpa dan sistema retikulo endotelial, sehingga jumlahnya di daerah
menjadi kurang. Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gratitis dan
ulkus peptik yang merupakan komplikasi utama penggunaan obat antiinflamasi
nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit (desease modifying
antiremathoid drugs, DMARD) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan
mortalitas utama pada artritis reumatoid. Komplikasi saraf yang terjadi tidak
memberikan gambaran jelas, sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikular dan
lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan
vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.

19
KONSEP DASAR KEPERAWATAN

A. DASAR DATA PENGKAJIAN PASIEN


1. AKTIVITAS/ISTIRAHAT
Gejala:Nyeri sendi karena gerakan, nyeri tekan, memburuk dengan stress pada
sendi : kekakuan pada pagi hari. Keletihan.
Tanda: malaise, keterbatasan rentang gerak ; atrofi otot, kulit : kontraktur atau
kelainan pada sendi dan otot
2. KARDIOVASKULER
Gejala : Jantung cepat, tekanan darah menurun.
3. INTEGRITAS EGO
Gejala: Faktor-faktor stress akut atau kronis : Misalnya finansial, pekerjaan,
ketidakmampuan, faktor-faktor hubungan, keputusasaan dan ketidak berdayakan,
ancaman pada konsep diri, citra tubuh, identitas pribadi misalnya ketergantungan
pada orang lain
4. MAKANAN ATAU CAIRAN
Gejala: Ketidakmampuan untuk menghasilkan/ mengkonsumsi makanan/ cairan
adekuat : mual, anoreksia, Kesulitan untuk mengunyah.
Tanda: Penurunan berat badan, kekeringan pada membran mukosa.
5. HIGIENE
Gejala: Berbagai kesulitan untuk melaksanakan aktivitas pribadi, ketergantungan
pada orang lain.
6. NEUROSENSORI
Gejala: kebas/kesemutan pada tangan dan kaki, hilangnya sensasi pada jari tangan
Tanda: Pembengkakan sendi
7. NYERI / KENYAMANAN
Gejala: fase akut dari nyeri, terasa nyeri kronis dan kekakuan

20
8. KEAMANAN
Gejala: Kesulitan dalam menangani tugas/pemeliharaan rumah tangga,
kekeringan pada mata dan membran mukosa
9. INTERAKSI SOSIAL
Gejala: kerusakan interaksi dan keluarga/orang lain : perubahan peran: isolasi

B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. DIAGNOSA 1: Nyeri b/d proses inflamasi.
Kriteria hasil: nyeri hilang atau tekontrol

INTERVENSI RASIONAL
Mandiri

- kaji keluhan nyeri, catat - membantu dalam menentukan


lokasi dan intensitas (skala 0 kebutuhan managemen nyeri dan
– 10). Catat faktor-faktor keefektifan program
yang mempercepat dan
tanda-tanda rasa sakit non
verbal
- matras yang keras, bantal yang
- berikan matras atau kasur kecil akan melihara kesejajaran
keras, bantal kecil. tubuh yang tepat, menempatkan
Tinggikan linen tempat tidur setres pada sendi yang sakit.
sesuai kebutuhan Peninggian linen tempat tidur
menurunkan tekanan pada sendi
yang terinflamasi / nyeri

- pada penyakit berat, tirah baring


mungkin diperlukan untuk
- biarkan pasien mengambil membatasi nyeri atau cedera
posisi yang nyaman pada sendi.

21
waktu tidur atau duduk di
kursi. Tingkatkan istirahat di
tempat tidur sesuai indikasi - Mencegah terjadinya kelelahan
umum dan kekakuan sendi.
- dorong untuk sering Menstabilkan sendi, mengurangi
mengubah posisi. Bantu gerakan/rasa sakit pada sendi
pasien untuk bergerak di
tempat tidur, sokong sendi
yang sakit di atas dan di
bawah, hindari gerakan yang - Panas meningkatkan relaksasi otot
menyentak dan mobilitas, menurunkan rasa
sakit dan melepaskan kekakuan di
- anjurkan pasien untuk mandi pagi hari. Sensitifitas pada panas
air hangat atau mandi dapat dihilangkan dan luka dermal
pancuran pada waktu dapat disembuhkan
bangun. Sediakan waslap
hangat untuk mengompres
sendi-sendi yang sakit - Meningkatkan
beberapa kali sehari. Pantau relaksasi/mengurangi tegangan
suhu air kompres, air mandi otot

- berikan masase yang lembut


Meningkatkan relaksasi, mengurangi
ketegangan otot, memudahkan ikut
serta dalam terapi.
Kolaborasi
beri obat sebelum aktivitas atau
latihan yang direncanakan
sesuai petunjuk seperti asetil
salisilat (aspirin)

22
23
2. DIAGNOSA 2 : Intoleran aktivitas b/d perubahan otot.
Kriteria Hasil : Klien mampu berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan.
INTERVENSI RASIONAL
- Pertahankan istirahat tirah - Untuk mencegah kelelahan dan
baring/duduk jika diperlukan. mempertahankan kekuatan.

- Bantu bergerak dengan bantuan - Meningkatkan fungsi sendi,


seminimal mungkin. kekuatan otot dan stamina umum.

- Dorong klien mempertahankan - Memaksimalkan fungsi sendi dan


postur tegak, duduk tinggi, berdiri mempertahankan mobilitas.
dan berjalan.

- Berikan lingkungan yang aman dan - Menghindari cedera akibat


menganjurkan untuk menggunakan kecelakaan seperti jatuh.
alat bantu.

- Berikan obat-obatan - Untuk menekan inflamasi sistemik


akut

3. DIAGNOSA 3 : Resiko tinggi cedera b/d penurunan fungsi tulang.


Kriteria Hasil : klien dapat mempertahankan keselamatan fisik.
INTERVENSI RASIONAL
- Kendalikan lingkungan dengan : - Lingkungan yang bebas bahaya akan
Menyingkirkan bahaya yang tampak mengurangi resiko cedera dan
jelas, mengurangi potensial cedera membebaskan keluaraga.
akibat jatuh ketika tidur misalnya
menggunakan penyanggah tempat tidur,
usahakan posisi tempat tidur rendah,
gunakan pencahayaan malam siapkan

24
lampu panggil.

- Memantau regimen medikasi Izinkan - Hal ini akan memberikan pasien merasa
kemandirian dan kebebasan maksimum otonomi, restrain dapat meningkatkan
dengan memberikan kebebasan dalam agitasi, mengegetkan pasien
lingkungan yang aman, hindari
penggunaan restrain, ketika pasien
melamun alihkan perhatiannya

4. DIAGNOSA 4 : Perubahan pola tidur b/d nyeri.


Kriteria Hasil : klien dapat memenuhi kebutuhan istirahat atau tidur.
INTERVENSI RASIONAL
Mandiri
- Tentukan kebiasaan tidur biasanya yang - Mengkaji perlunya dan
terjadi. mengidentifikasi intervensi yang tepat.

- Berikan tempat tidur yang nyaman. - Meningkatkan kenyamanan tidur serta


dukungan fisiologis/psikologis

- Buat rutinitas tidur yang baru yang - Bila rutinitas baru mengandung aspek
dimasukkan dalam pola lama dan sebanyak kebiasaan lama, stress dan
lingkungan baru. ansietas yang berhubungan dapat
berkurang. Membantu menginduksi
tidur.
- Instruksikan tindakan relaksasi - Meningkatkan efek relaksasi
- Tingkatkan regimen kenyamanan waktu
tidur, misalnya mandi hangat dan
massage.

- Gunakan pagar tempat tidur sesuai - Dapat merasakan takut jatuh karena

25
indikasi: rendahkan tempat tidur bila perubahan ukuran tinggi tempat tidur,
mungkin. pagar tempat tidur memberikan
keamanan untuk membantu mengubah
posisi.
- Berikan sedative, hipnotik sesuai - Mungkin diberikan untuk membantu
indikasi pasien tidur atau istirahat.

26
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, Sylvia Price, McCarty, Wilson Lorraine. 2006. PATOFISIOLOGI Konsep


Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6, volume 2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.

Dalimartha, Setiawan. 2007. 96 Resep Tumbuhan Obat untuk Reumatik. Jakarta:


PENEBAR SWADAYA.

Gunadi, W. Rachmat, Et all. 2006. Diagnosis & Terapi Penyakit Reumatik. Bandung:
SAGUNG SETO.

Smeltzer, Suzanne C., Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth. Volume 2. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Sudoyo, Aru, Et all. 2006. Buku Ajar ILMU PENYAKIT DALAM. JILID III, EDISI IV.
Jakarta: Pusat Penerbitan Depertemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia.

Utomo, Prayogo. 2005. APRESIASI PENYAKIT PENGOBATAN SECARA


TRADISIONAL DAN MODERN. Jakarta: Penerbit RINEKA CIPTA.

Winoto, Pandi. 2003. Pengobatan Alternatif. Yogyakarta: PENERBIT KANISIUS.

27
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN NY “ A ”
DI DUSUN PADANG IRING

Pengkajian
Identitas
1. Nama : Ny. A
2. Usia : 62 tahun
3. Jenis Kelamin : Perempuan
4. Suku : Toraja
5. Agama : Kristen Protestan
6. Pekerjaan : IRT
7. Pendidikan :-
8. Alamat : Ria Padang Iring
B. Fisik / Biologis
1. Pandanagan Lansia tentang kesehatannya :
Ny. A merasa lansia itu sebagai keadaan dimana ia sudah tidak mampu lagi
berbuat banyak, masa yang serba terbatas dan kebanyakan tergantung pada orang
lain.
2. Kegiatan yang mampu dilakukan lansia :
Ny. A sekarang sudah tidak mampu bekerja untuk mencari nafkah secara penuh
karena ia merasa lemas, hanya mampu melaksanakan kegiatan ringan seperti
mengambil makanan ternaka dan memenuhi kebutuhan ADLnya seperti mandi,
makan, mencuci pakaian sendiri.
3. Kekuatan fisik lansia
 Kekuatan otot dan sendi:
Lansia sudah mengalami penurunan kekuatan otot, baik ekstermitas atas
maupun bawah.
 Penglihatan
Kemampuan melihat sudah berkurang secara drastis baik jauh maupun dekat.

28
 Pendengaran
Ny. A sudah mengalami penurunan pendengaran jika berkomunikasi, jika kita
komunikasi dengan An. S harus berhadapan dengan suara yang agak keras.
4. Kebiasan lansia merawat diri : Ny. A masih mampu merawat diri sendiri tanpa
bantuan orang lain.
5. Kebiasaan makan, minum,istirahat/tidur,buang air besar/kecil
Kebiasaan makan : Ny. A mengatakan selera makannya berkurang sudah tidak
mampu lagi makan sampai satu piring.
Kebiasaan minum : Minum klien setiap hari cukup banyak.
Kebiasaan Tidur : Klien mengatakan cukup banyak waktu yang digunakan
untuk tidur.
Kebiasaan BAB : Klien mengatakan BAB teratur, dan tidak mengalami
kesulitan.
6. Perubahan – perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan
Klien mengatakan bahwa kemampuannya untuk berjalan sudah berkurang, sering
terasa sakit pada kedua lututnya, dan cepat merasa lelah.
7. Kebiasaan lansia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan minum obat
Lansia jarang berobat kecuali bila ia merasa penyakitnya cukup berat.
C. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan pandang, perabaan, ketok dan dengar pada system – system :
1. Integumen
Terjadi perubahan pada kulit yaitu tampak keriput, sudah ada perubahan
pigmentasi, turgor dan teksture.
2. Muskuloskletal
Kadang-kadang nyeri pada kedua lutut dan tangan jika berjalan.
3. Respirasi
Tidak ada keluhan yang berarti.
Pernafasan : 20 x / menit
4. Kardiovaskuler
TD : 110 / 80 mmHg

29
DN : 88 x / menit.
5. Perkemihan
Frekuensi BAB 1 kali sehari ( Pagi hari ), BAK tidak masalah (4 – 5 x / hari).
6. Persyarafan
Tidak ada kleuhan yang berarti
7. Fungsi sensoris
 Penglihatan, pandangan jarak jauh dan dekat sudah sangat berkurang
 Pendengaran, sudah sangat terbatas.
 Pengecapan, sensitivitas pengecapan berkurang,terjadi perubahan nafsu
makan.
 Penciuman,masih baik.
D. Psikologis
1. Daya ingat, sudah mulai berkurang
2. Proses fikir, sudah lambat
3. Alam perasa, Cukup baik
4. Orientasi, lansia masih mampu mengenali sekitarnya.
E. Sosial Ekonomi
1. Kesibukan lansia mengisi waktu luang mengambil makanan ternak atau
membersihkan rumah.
2. Sumber keuangan semua dari anak yang juga tinggal serumah dengannya.
3. Kegiatan organisasi yang diikuti klien tidak ada.
4. Yang sering mengunjungi klien adalah keluarga / kemanakan yang bertetangga
dekat dengan klien.
E. Spritual
1. Klien adalah orang yang taat beribadah.
2. Klien jarang mengikuti kegiatan keagamaan oleh karena kelemahan yang terjadi.
3. Dalam menyelesaikan masalah, klien hanya berdoa.
4. Manjalani kehidupannya klien cukup tabah dengan keadaannya.

30
RIWAYAT KESEHATAN

A. Pengkajian
Riwayat Klien/ Data Biografis
Nama : Ny. A
Usia : 62 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Janda
Suku : Toraja
Agama : Kristen Protestan
Pekerjaan : IRT
Pendidikan :-
Alamat : Ria Padang Iring
Riwayat Keluarga
Pasangan hidup : Alm. M
Riwayat pekerjaan
Status pekerjaan saat ini :-
Pekerjaan sebelumnya :-
Sumber-sumber pendapatan :Tidak ada (keperluannya ditanggung oleh
anaknya)
Riwayat Lingkungan Hidup
Tipe tempat tinggal : Rumah milik pribadinya
Jumlah kamar : 3 kamar
Jumlah Orang yang tinggal di rumah : 3 orang.
Derajat privasi : Baik
Riwayat Rekreasi
Hobbi / minat : Tidak ada yang specifik
Sumber / system pendukung yang digunakan
Puskesmas, pustu atau tenaga kesehatan yang ada di sekitar tempat tinggal.
Deskripsi hari khusus ( termasuk kebiasaan ritual waktu tidur )

31
Tidur siang : Tidak teratur ( kadang siang sampai sore )
Tidur malam : Mulai jam 20.00 s/d jam 05.00 .Klien mengatakan sering
terbangun malam.
Status kesehatan saai ini
Status kesehatan umum selama 3 bulan terakhir : sakit persendian terutama
lutut dan pandangan mata kabur kadang – kadang berair, badan terasa lemas jika
baru bangun dari tidur.
1. Obat - Obatan
Saat di kaji Ny. A tidak sedang mengkonsumsi obat – obatan.
Alergi ( catatan agen dan reaksi sfecifik )
Obat – obatan : Tidak ada
Makanan : Tidak ada
2. Nutrisi :
Jadwal makan tidak bermasalah, hanya jumlah yang dimakan sedikit
berkurang di banding biasanya, jenis makan tergantung kondisi keuangan
keluarga ( Nasi + ikan + sayur kadang lauk pauk dan susu.)
Status Kesehatan yang lalu
Penyakit masa kanak –kanak : Tidak ingat lagi.
Penyakit serius kronik : Tidak pernah mengalami sakit yang
serius
Trauma : Tidak pernah terjadi trauma
Perawatan di RS : Ternah dirawat di RS
Operasi : Tidak Pernah
Riwayat obstetric : G6. P6. A0

32
Riwayat Keluarga

62

Keterangan :
: Laki - laki
: Perempuan
: Garis perkawinan
: Garis Keturunan
: Klien

Tinjauan system
Umum
Ny. A mengeluh akhir – akhir ini merasa lemas saat terbangun seperti nampak
pada saat pengkajian, terasa nyeri pada sendi khususnya kedua lutut dan kaki
jika banyak berjalan, mata sudah sangat terbatas dalam melihat dan kadang –
kadang berair, kulit sudah keriput rambut sebagian sudah putih.
Kepala
Tidak ada keluhan yang berarti
Mata
Klien mengatakan sudah mengalami keterbatasan dalam melihat terutama
untuk jarak jauh, kadang-kadang mata terasa pedis dan berair.

33
Telinga
Klien sudah tidak mampu mendengar pembicaraan dengan nada yang rendah
tapi jika kita ingin bicara dengannya harus dengan suara yang agak keras
dalam posisi berhadapan untuk memperjelas maksud pembicaraan
Mulut dan Tenggorokan
Klien mengatakan giginya sudah sebagian besar tanggal sehingga susah untuk
mengunyah makanan, kesulitan menelan kadang terjadi bila makanan yang
dikonsumsi tidak lembut.
Hidung dan sinus
Tidak ada keluhan
Payudara
Tidak dilakukan pengkajian.
Leher
Tidak teraba adanya kelainan.
Kardiovaskuler
Tidak ada kelainan bunyi jantung 1 dan 2 masih terdengar baik.
Pernafasan
Tidak ada keluhan yang berarti.
Gastrointestinal
Nafsu makan berkurang, defekasi normal (tiap hari)
Muskuloskletal
Klien mengatakan sekarang sering sakit persendian, nyeri pada punggung
terutama bila banyak aktivitas.
Sistem syaraf pusat
Tidak ada keluhan yang berarti
Sistem Endokrin
Terjadi perubahan pigmentasi kulit, perubahan rambut.

34
Psikososial
Klien menyadari bahwa sekarang dia sudah tua, sehingga ia sudah tidak
memaksa-kan diri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, ia menerima apa
adanya tentang keadaanya.

35
B. Analisa Data

NO DATA ETIOLOGI MASALAH


SUBJEKTI/OBJEKTIF

1 Data Subjektif : Proses penuaan mobilitas fisik


- Klien mengatakan
nyeri pada persendian
terutama lutut. Penurunan fungsi tubuh
- Klien mengeluh cepat
merasa lelah jika
beraktivitas Terganggunya system
- Klien merasa lemas muskuloskletal
saat bangun dari tidur.
- Klien mengatakan
bahwa kemampuannya Berkurangnya massa otot
untuk berjalan sudah Perubahan degeneratif jar.
berkurang, sering Connective
terasa sakit pada
kedua lututnya, dan
cepat merasa lelah Kekuatan otot menurun
- Klien sudah Endurance dan koordinasi
mengalami menurun.
keterbatasan dalam ROM terbatas
melihat terutama
untuk jarak jauh,
kadang-kadang mata Hambatan mobilitas fisik
terasa pedis dan
berair.
Data Objektif :
- Nampak lemah saat
dibangunkan dari tidur
waktu di kaji.

Risiko cedera fisik


2. Data Subyektif Proses penuaan
- Klien mengatakan
sudah mengalami
keterbatasan dalam Penurunan fungsi tubuh
melihat terutama
untuk jarak jauh,
kadang-kadang mata Gg.sist Gg. Sist.
terasa pedis dan berair Penglihatan Persyarafan

37
- Klien mengatakan
tangannya tremor bila
memegang sesuatau Penurunan Kurang
terlalu lama. Sensitivitas koordinasi
Pada cahaya.
Respon me gerakan
lambat. tubuh
Lap. Pandang Tremor
Menyempit

Resiko cedera
Perubahan nutrisi
3. Data Subjektif : ( kurang dari kebutuhan
- Klien mengatakan Proses penuaan tubuh )
porsi makannya sdh
berkurang.
- Klien mengatakan Penurunan fungsi tubuh
giginya sudah
sebagian besar tanggal
sehingga susah untuk Gangguan system pencernaan

mengunyah makanan,
kesulitan menelan
kadang terjadi bila Sensitivitas indra
makanan yang Pengecapan menurun
dikonsumsi tidak
lembut
Rasa lapar menurn

Tidak ada nafsu makan

Intake kurang

Perubahan nutruisi
( kurang dari kebutuhan
tubuh )

38
Gangguan pola tidur
4. Data subjektif : Proses penuaan
- Klien mengatakan
kalau tidur siang
hanya sebentar saja, Perubahan fisiologis secara
tidur malam dari jam degeneratif pada RAS
23.00 s/d 03.00, klien
mengatakan susah
untuk tidur kembali Mudah terjaga
jika sudah terjaga dari
tidurnya.
Stress baru

Gangguan pola tidur

Masalah Keperawatan / Diagnosa Keperawatan

Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan penurunan fungsi system


muskuloskletal.

Risiko cedera fisik berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan /


persayarafan.

Perubahan nutrisi ( kurang dari kebutuhan tubuh ) berhubungan dengan


penurunan nafsu makan.

Gangguan pola tidur berhubungan dengan perubahan fisiologis secara degeneratif


pada RAS.

39
40
41
13
14