Está en la página 1de 5

Bulletin PSL Universitas Surabaya, 25 (2011): 3-6.

Ancaman Terhadap Hutan Mangrove di Indonesia


dan
Langkah Strategis Pencegahannya

Hery Purnobasuki
Biologi, FST Universitas Airlangga
hery-p@fst.unsir.ac.id

Wilayah pesisir merupakan habitat perumahan, serta pertanian, adalah


utama dari hutan mangrove di Indonesia. penyebab berkurangnya sumber daya
Wilayah ini dikenal sarat dengan mangrove dan beban berat bagi hutan
keindahan dan sekaligus konflik mangrove yang ada. Selain ancaman yang
kepentingan, sehingga ekosistem di langsung ditujukan pada mangrove melalui
wilayah tersebut menghadapi berbagai pembangunan tersebut, ternyata sumber
ancaman dan masalah perusakan yang daya mangrove rentan terhadap aktivitas
diakibatkan oleh aktivitas manusia, seperti pembangunan yang terdapat jauh dari
pekerjaan reklamasi pantai, pengeboman habitatnya. Ancaman dari luar tersebut
dan peracunan terumbu karang, yang sangat serius berasal dari pengelolaan
pembangunan perumahan, jembatan DAS yang serampangan, dan
penghubung antar pulau, pembangunan meningkatnya pencemar hasil industri dan
dermaga, pencemaran limbah rumah domestik (rumah tangga) yang masuk ke
tangga dan industri, penebangan dan dalam daur hidrologi. Hasil yang terjadi
konversi mangrove menjadi lahan dari erosi tanah yang parah dan
pertanian, tambak, kolam ikan, daerah meningkatnya kuantitas serta kecepatan
industri dan sebagainya, sehingga sedimen yang diendapkan di lingkungan
menghilangkan sebagian besar mangrove, mangrove adalah kematian masal
terutama di negara tropis, seperti Indonesia. (dieback) mangrove yang tidak
Hutan mangrove ditemukan hampir terhindarkan lagi karena lentisel-nya
di seluruh kepulauan di Indonesia di 30 tersumbat oleh sedimen tersebut. Polusi
provinsi yang ada. Tetapi sebagian besar dari limbah cair dan limbah padat
terkonsentrasi di Papua, Kalimantan berpengaruh serius pada perkecambahan
(Timur dan Selatan) Riau dan Sumatera dan pertumbuhan mangrove.
Selatan.Meskipun wilayah hutan mangrove Ancaman langsung yang paling
yang luas ditemukan di 5 provinsi seperti serius terhadap mangrove pada umumnya
tersebut di atas, namun wilayah blok diyakini akibat pembukaan liar mangrove
mangrove yang terluas di dunia tidak untuk pembangunan tambak ikan dan
terdapat di Indonesia, melainkan di hutan udang. Meskipun kenyataannya bahwa
mangrove Sundarbans (660.000 ha) yang produksi udang telah jatuh sejak beberapa
terletak di Teluk Bengal, Bangladesh. tahun yang lalu, yang sebagaian besar
Hutan mangrove di Indonesia diakibatkan oleh hasil yang menurun, para
berada dalam ancaman serius dan terus petambak bermodal kecil masih terus
meningkat dari berbagai pembangunan, membuka areal mangrove untuk
diantara yang utama adalah pembangunan pembangunan tambak baru. Usaha
yang cepat yang terdapat di seluruh spekulasi semacam ini pada umumnya
wilayah pesisir yang secara ekonomi vital. kekurangan modal dasar untuk membuat
Konsevasi kemanfaatan lain seperti untuk tambak pada lokasi yang cocok, tidak
budidaya perairan, infrastruktur pantai dirancang dan dibangun secara tepat, serta
termasuk pelabuhan, industri, dikelola secara tidak profesional. Maka
pembangunan tempat perdagangan dan akibat yang umum dirasakan dalam satu
atau dua musim, panennya rendah hingga Dalam hal ini ada beberapa
sedang , yang kemudian diikuti oleh tindakan atau langkah strategis yang dapat
cepatnya penurunan hasil panen, dan dilakukan untuk menyikapi secara positif
akhirnya tempat tersebut menjadi keadaan tersebut, diantaranya:
terbengkalai. 1. Inventarisasi Data dasar
Di seluruh Indonesia ancaman keberadaan, jenis-jenis dan populasi
terhadap mangrove yang diakibatkan oleh mangrove yang ada di Indonesia sangatlah
eksploitasi produk kayu sangat beragam, diperlukan untuk mengetahui kondisinya
tetapi secar keseluruhan biasanya terjadi hingga saat ini. Kegiatan inventarisasi
karena penebangan yang dilakukan oleh mangrove menjadi sangat penting untuk
perusahaan-perusahaan HPH atau industri menunjang proses pemantauan,
pembuat arang seperti di Sumatera dan pengelolaan dan konservasi dari mangrove.
Kalimantan. Kayu-kayu mangrove sangat Tanpa data inventarisasi kita tidak tahu
jarang yang berkualitas tinggi untuk bahan mangrove di Indonesia ini kondisi seperti
bangunan. Kayu-kayu mangrove tersebut apa, apa terus berkurang menuju ke
biasanya dibuat untuk chip (bahan baku kepunahan atau stganan atau sudah
kertas) atau bahan baku pembuat arang berkembang lebih banyak lagi. Dengan
untuk diekspor keluar negeri. Pada melibatkan masyarakat setempat, LSM,
umumnya jenis-jenis magrove praktisi, peneliti, maupun institusi terkait,
dimanfaatkan secara lokal untuk kayu sudah seharusnya ada kegiatan ini agar
bakar dan bahan bangunan lokal. didapatkan data akurat tentang mangrove
Komoditas utama kayu mangrove untuk di Indonesia. Dengan mengetahui data
diperdagangkan secara internasional tersebut, maka menjadi dasar pijakan
adalah arang yang berasal dari Rhizophora penting bagi strategi pengelolaan maupun
spp., yang mempunyai nilai kalori sangat kebijakan-kebijakan terkait pengembangan
tinggi. daerah pesisir yang notabene banyak
Barangkali ancaman yang paling dihuni mangrove.
serius bagi mangrove adalah persepsi di 2. Pemantauan berkala dan
kalangan masyarakat umum dan sebagian evaluasi, salah satu langkah dalam
besar pegawai pemerintah yang mencegah timbulnya kerusakan ekosistem
menganggap mangrove merupakan sumber mangrove, maka perlu dilakukan usaha
daya yang kurang berguna yang hanya pemantauan secara berkala dan evaluasi
cocok untuk pembuangan sampah atau kondisi ekosistem. Yang selanjutnya hasil-
dikonversi untuk keperluan lain. Sebagian hasil evaluasi yang diperoleh dari kegiatan
besar pendapat untuk mengkonversi pemantauan dapat dibuatkan rekomendasi-
mangrove berasal dari pemikiran bahwa rekomendasi yang berguna bagi pengambil
lahan mangrove jauh lebih berguna bagi keputusan dalam mengelola wilayah
individu, perusahaan dan pemerintah pesisir dan ekosistem mangrove secara
daripada sebagai lahan yang berfungsi berkelanjutan. Dalam melakukan
secara ekologi. Apabila persepsi keliru pemantauan dan evaluasi di wilayah
tersebut tidak dikoreksi, maka masa depan pesisir dan ekosistem mangrove, selain
mangrove Indonesia dan juga mangrove dilakukan secara manual, ternyata
dunia akan menjadi sangat suram. Untuk dibutuhkan teknologi yang efektif dan
itu sudah saatnya kita semua bertindak pro efesien. Hal ini dapat dilakukan dengan
aktif dalam menghadapi dan menyikapi hal memanfaatkan teknik yang dewasa ini
ini. Diperlukan kerjasama dan komitmen sudah terbukti dan banyak digunakan,
bersama dari semua pihak, baik yaitu metode pengindraan jarak jauh
masyarakat, pemerintah, industri, peneliti (remote sensing) melalui citra satelit yang
maupun praktisi-praktisi terkait. dikombinasikan dengan data di lapangan.
Dengan menggunakan citra satelit dapat
dipantau perubahan-perubahan yang berkelanjutan dipraktekan untuk
terjadi pada ekosistem mangrove pada memenuhi kebutuhan saat ini dari
suatu daerah dengan koordinat lokasi yang pengelola, dengan tanpa mengabaikan
tepat dan catatan waktu yang pemenuhan kebutuhan bagi generasi yang
berkesinambungan. Dari gambaran yang akan datang, baik dari segi keberlanjutan
didapatkan tersebut maka selanjutnya hasil maupun fungsi.
dapat dianalisis dan dievaluasi kondisi real 4. Rehabilitasi, secara umum
saat itu dan prediksi yang akan dating, ekosistim mangrove cukup tahan terhadap
serta rekomendasi dalam kegiatan-kegiatan berbagai gangguan dan tekanan
terkait mangrove selanjutnya. lingkungan. Namun sangat dipengaruhi
3. Pengelolaan berkelanjutan, oleh pengendapan atau sedimentasi,
Mangrove sangat penting artinya dalam ketinggian rata-rata permukaan laut dan
pengelolaan sumber daya pesisir di pencemaran perairan itu sendiri. Hal ini
sebagian besar wilayah Indonesia. Fungsi akan mengakibatkan terjadinya penurunan
mangrove yang terpenting bagi daerah oksigen dengan cepat yang selanjutnya
pantai adalah menjadi penghubung antara akan menyebabkan kerusakan. Secara
daratan dan lautan. Tumbuhnya kesadaran umum dengan kondisi semakin rusaknya
akan fungsi perlindungan, produktif dan mangrove, maka sangat diperlukan upaya
sosio-ekonomi dari ekosisitem mangrove pemulihan atau rehabilitasi agar mangrove
di daerah tropika, dan akibat semakin dapat hijau dan lestari kembali. Usaha
berkurangnya sumber daya alam tersebut, penghijauan atau reboisasi hutan mangrove
mendorong terangkatnya masalah di beberapa daerah, baik di pulau Jawa,
kebutuhan konservasi dan kesinambungan Sumatra, Sulawesi, maupun Irian Jaya
pengelolaan terpadu sumber daya-sumber telah berulangkali dilakukan. Upaya ini
daya bernilai tersebut. Tindakan biasanya berupa proyek yang berasal dari
pengelolaan ekosistem mangrove Departemen Kelautan dan Perikanan,
mempunyai tujuan utama untuk maupun Departemen Kehutanan bahkan
menciptakan ekosistem yang produktif dan dari Pemda setempat. Namun hasil yang
berkelanjutan untuk menopang berbagai diperoleh relatif tidak sesuai dengan biaya
kebutuhan pengelolaannya. Oleh karena dan tenaga yang dikeluarkan oleh
itu pengelolaan ekosistem mangrove harus pemerintah. Padahal dalam
diarahkan agar : a. Praktek pengelolaan pelaksanaannya tersedia biaya yang cukup
ekosistem mangrove harus meliputi besar, tersedia tenaga ahli, tersedia bibit
kegiatan eksploitasi dan pembinaan yang yang cukup, pengawasan cukup memadai,
tujuannya mengusahakan agar penurunan dan berbagai fasilitas penunjang yang
daya produksi alam akibat tindakan lainnya. Mengapa hasilnya kurang
eksploitasi dapat diimbangi dengan memuaskan? Salah satu penyebabnya
tindakan peremajaan dan pembinaan. adalah kurangnya peran serta masyarakat
Maka diharapkan manfaat maksimal dari dalam ikut terlibat upaya pengembangan
ekosistem mangrove dapat diperoleh wilayah, khususnya rehabilitasi hutan
secara terus menerus. b. Dalam mangrove dan masyarakat masih
pengelolaan ekosistem mangrove yang cenderungd ijadikan obyek dan bukan
berkelanjutan, pertimbangan ekologi dan subyek dalam upaya pembangunan. Untuk
ekonomi harus seimbang, oleh karena itu itu perlu pelibatan masyarakat setempat
pemanfaatan berbagai jenis produk yang agar lebih tepat sasaran. Dengan
diinginkan oleh pengelola dapat dicapai memberdayakan potensi masyarakat
dengan mempertahankan kelestarian pesisir, tentunya masyarakat juga merasa
ekosistem mangrove tersebut dan bertanggung jawab. Artinya masyarakat
lingkungannya. Dengan demikian secara merasa ikut memiliki (tumbuh sense of
filosofis, pengelolaan ekosistem mangrove belonging) hutan mangrove yang telah
mereka rehabilitasi tersebut. Begitu pula, lapangan kerja dan kesempatan berusaha
seandainya hutan mangrove tersebut telah bagi masyarakat. Program-program
menjadi besar, maka masyarakat juga tersebut harus berorientasi pada manfaat
merasa harus mengawasinya, sehingga sosial, peningkatan fungsi dan peranan
mereka dapat mengawasi apabila ada yang hutan secara umum, peningkatan peran
ingin mengambil atau memotong hutan masyarakat dan pemerintah daearah
mangrove hasil rehabilitasi tersebut secara sampai tingkat desa yang berhubungan
leluasa. Melalui mekanisme ini, dengan upaya rehabilitasi dan
masyarakat tidak merasa dianggap sebagai pemeliharaan lingkungan mulai dari
“kuli”, melainkan ikut memiliki hutan perencanaan sampai dengan
mangrove tersebut, karena mereka merasa implementasinya.
ikut merencanakan penanaman dan lain- Program rehabilitasi dan
lain. Masyarakat merasa mempunyai andil konservasi dimaksudkan untuk
dalam upaya rehabilitasi hutan mangrove memulihkan atau memperbaiki kualitas
tersebut, sehingga status mereka akan tegakan yang sudah rusak serta
berubah, yaitu bukan sebagai kuli lagi mempertahankannya. Hal ini dilakukan
melainkan ikut memilikinya. Pelaksanaan dengan tujuan untuk menjaga fungsi hutan
rehabilitasi hutan mangrove dengan baik sebagai penghasil kayu, penjaga
penekanan pada pemberdayaan masyarakat intrusi air laut, abrasi, serta sebagai
setempat ini biasa dikenal dengan istilah penyangga kehidupan tetap terjaga.
pendekatan bottom up. Melalui konservasi memang kita berupaya
5. Konservasi, banyak arti untuk melindungi sesuatu baik itu kawasan,
konservasi yang telah dijabarkan dan flora atau faunanya serta semuanya itu
diuraikan berbagai kalangan dan ahli untuk menjaga keseimbangan alam.
konservasi. Konservasi dapat diartikan Keseimbangan itu diharapkan membawa
sebagai "perlindungan terhadap", baik itu sebuah makna bahwa kita sebagai makhluk
terhadap hutan, kawasan pesisir maupun yang Maha Kuasa tidak membuat
laut. Ada pula yang mengartikan bahwa kerusakan yang dapat mengundang
kawasan konservasi adalah kawasan yang bencana serta menimbulkan murka sang
tidak boleh samasekali di ganggu. Kini arti Kholik.
konservasi mulai digeserkan kembali 6. Penelitian, kajian-kajian ilmiah
dalam arti " perlindungan, pengawetan tentang mangrove di Indonesia memang
maupun pemanfaatan". Dalam kasus masih sangat diperlukan sekali, walaupun
kawasan mangrove, maka hal ini belum sudah dilakukan namun masih banyak
berlaku secara optimal. Penebangan liar aspek di mangrove yang belum terungkap
dan pembukaan lahan yang tidak dan dikaji. Data base segala aspek tentang
terkontrol dapat mengancam kelestarian mangrove di Indonesia juga masih belum
mangrove dan ekosistemnya. Program ada secara lengkap dan terintegrasi.
pembangunan kehutanan di kawasan Dengan kurangnya data-data ilmihah dari
pantai harus mempertimbangkan aspek- penelitian, maka kelengkapan bagi
aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan landasan pengambilan kebijakan terkait
secara proporsional dengan tujuan dengan pengelolaan dan konservasi
utamanya adalah meningkatkan kawasan mangrove menjadi kurang valid.
kesejahteraan masyarakat. Beberapa aspek yang masih diperlukan
Dengan demikian, setiap program penelitian tentang kawasan mangrove
yang berhubungan dengan pembangunan diantaranya adalah kajian tentang: botani
kehutanan di kawasan pantai bukan hanya dan struktur mangrove, taksonomi,
untuk meningkatkan pendapatan nasional distribusi spesies, keterkaitan dengan
tetapi juga harus mampu memperbaiki cemaran lingkungan, ekologi, potensi obat
kualitas lingkungan melalui penciptaan dan makanan berbahan mangrove, dampak
abrasi dan tsunami, sosio cultural, menghentikan atau mengurangi semakin
silvikultur, iklim mikro, interaksi fauna rusak atau berkurangnya mangrove di
khas, eksplorasi mikroba di rhizorfer Indonesia. Sekarang tinggal kita semua
perakaran mangrove, budidaya melalui mau atau tidak untuk bertindak dan beraksi
kultur jaringan, pendekatan molekuler, dan secara nyata dengan komitmen penuh
yang lainnya. Berharap dengan banyaknya untuk melestarikan mangrove. Bila
kajian-kajian ilmiah mangrove akan manusia terus menerus mengikuti
memberikan kelengkapan data base di kemauannya sendiri tanpa memperhatikan
pusat-pusat penelitian mangrove atau kondisi alam, maka pada saatnya tinggal
mangrove center di Indonesia. Dat tersebut menunggu bencana yang menimpa. Untuk
sangat bermanfaat dan berguna sekali bagi itu segera bertindak sebelum semuanya
penentuan langkah dan sikap ke depan terlambat.
terhadap keberadaan kawasan mangrove di
Indonesia.
7. Pemanfaatan secara lestari,
tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan
mangrove memberikan banyak
kemanfaatan bagi masyarakat baik secara
langsung maupun tidak langsung. Mulai
dari pemanfaatan bahan dasar mangrove
sampai peranan mangrove dalam
memperbaiki atau mempertahankan
kondisi lingkungan di sekitarnya yang
berimbas bagi kehidupan manusia. Namun
demikian yang perlu kita perhatikan dan
kita jaga adalah bagaimana cara kita
memanfatkan mangrove secara lestari
tanpa merusak kawasannya. Tentu saja
dengan kebutuhan manusia yang semakin
bertambah seiring dengan pertambahan
populasinya, maka hal ini akan sulit untuk
diterapkan tanpa adanya komitmen kita
bersama dan adanya perlindungan hokum
bagi kawasan mangrove itu sendiri.
Ada banyak cara dalam
memanfaatkan mangrove secara lestari,
diantaranya ada lima bentuk utama, yaitu:
(a) tambak tumpangsari, dengan
mengkombinasikan tambak dengan
penanaman mangrove; (b) hutan rakyat,
dengan pengelolaan yang berkelanjutan
dengan siklus tebang 15-30 tahun atau
tergantung dari tujuan penanaman; (c)
budaya memanfaatkan mangrove untuk
mendapatkan hasil hutan selain kayu; dan
(d) silvofishery (mina hutan); dan (e)
bentuk kombinasi pemanfaatan mangrove
yang simultan. Dengan adanya tindakan
atau langkah-langkah strategis tersebut di
atas diharapkan paling tidak dapat