Está en la página 1de 3

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

VCT
Di Klinik PTRM RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung

I. Dasar Kebijakan:
1. Pengguna napza suntik (Penasun) sangat berisiko untuk tertular dan
menularkan HIV melalui penggunaan jarum suntik yang tidak steril dan
hubungan sexual yang berisiko. Sehingga setiap penasun yang masuk
program Metadon harus menjalani VCT.
2. VCT adalah suatu konseling dan test yang bersifat sukarela bagi orang-
orang yang berisiko tertular, menularkan, atau tersangka HIV dan
dilakukan sebelum dan sesudah tes HIV. VCT merupakan strategi yang
efektif untuk pencegahan dan mengubah perilaku berisiko serta sebagai
pintu masuk perawatan bagi pasien HIV.
3. VCT dilakukan oleh konselor VCT yang terlatih. Konselor terlatih adalah
perawat, dokter umum, psikiater atau pekerja sosial yang telah dilatih
menjadi konselor dan mendapat sertifikasi.
4. Pelaksanaan VCT berdasar pada 3 prinsip yaitu konseling, inform consent
dan rahasia.

II. Tujuan :
1. Untuk mengetahui status HIV dari pasien
2. Untuk memperluas penjangkauan kasus HIV di Klinik PTRM
3. Untuk mencegah dan mengurangi angka penularan HIV pada pasien dan
pasangannya.
4. Memberikan pelayanan yang cepat dan tepat bagi pasien yang menderita
HIV.

III. Prosedur umum :


1. Konseling VCT diwajibkan bagi semua pasien yang masuk program
Metadon. Sedangkan tes HIV bersifat sukarela.
2. Konseling VCT dilakukan setelah pasien dalam dosis stabil.
3. Pasien menandatangani informed consent apabila setuju menjalani tes
HIV.
4. VCT dilaksanakan di Klinik PTRM sesuai jadwal yang berlaku
5. Konseling VCT dilakukan oleh konselor VCT yang terlatih.
6. VCT dilaksanakan pada ruangan yang nyaman, tertutup, dan pasien
terjaga kerahasiaannya.
7. Konseling tidak dikenakan biaya. Tes HIV dikenakan biaya sesuai dengan
ketentuan yang berlaku.
8. Konseling pra dan post tes dilakukan oleh konselor yang sama

IV. Prosedur khusus:


1. Setelah pasien dalam kondisi dosis stabil, perawat menanyakan kepada
pasien kapan pasien siap untuk menjalani konseling VCT.
2. Apabila pasien sudah siap untuk konseling VCT, perawat memberitahu
konselor VCT kapan pasien konseling.
3. Konselor menentukan waktu konseling dilakukan.
4. Apabila waktu sudah ditentukan, konselor datang ke klinik PTRM untuk
memberikan konseling VCT pra tes.
5. Konselor menulis dan mengisi data pada form VCT dan mengirimkan
form tersebut ke Klinik Teratai.
6. Apabila pasien menyetujui untuk menjalani tes HIV, pasien harus
menandatangani surat informed consent, dan selanjutnya surat ini
disimpan di Klinik Teratai.
7. Petugas lab datang ke Klinik PTRM untuk mengambil darah pasien, untuk
tes HIV.
8. Hasil tes diserahkan kepada konselor yang melakukan konseling pre tes
9. Konseling post tes dilakukan oleh konselor yang sama, dan dilakukan
apabila pasien telah siap untuk membuka hasil tes. Hasil tes dibuka
bersama-sama antara pasien dan konselor.
Daftar Rujukan:
1. Kaplan & Sadocks, Synopsis of Psychiatry, Lippincott Williams & Wilkins,
Philadelphia, 2007
2. DirJenYanMedik, DirJenP2PL; Modul Pelatihan Konselor Konseling dan Tes
Sukarela, Manual untuk peserta, 2004