Está en la página 1de 22

BAB 1

PENDAHULUAN

A. JUDUL PERCOBAAN

“Analisa Pengendapan”

B. TUJUAN PERCOBAAN

Mempelajari proses pemisahan suatu partikel padat yang terdapat di dalam


suatu fluida yang didasarkan atas besar kecilnya Diameter Partikel (distribusi
ukuran partikel) berdasarkan Hukum Stoke.

C. LATAR BELAKANG

Endapan merupakan zat yang memisahkan diri dari larutan berfase


padat,terbentuk jika larutan lewat jenuh. Suatu akan zatyang mengendap jika hasil
kali kelarutan ion-ionnya lebih besar dari Ksp. Kelarutan (s) didefinisikan sebagai
konsentrasi molar dari larutan jenuhnya. Pembentukan endapan adlah salah satu
teknik untuk memisahkan anlit dari zat lain ,dan endapan ditentukan dengan
cara di timbang dan dilakukan perhitungan stokiometri.
Cara ini dikenal dengan nama Gravimetri.

aA + rR → AaRr

Dengan:

A : Molekul zat analit A


R : Molekul analit R
AaRr : Zat yang mengendap
Reaksi pengendapan telah digunakan secara meluas dalam kimia analisis dalam
titrasi-titrasi, dalam penetapan gravimetri, dan dalam memisahkan suatu sampel
menjadi komponen-komponenny.Suatu senyawa dapat diuraikan menjadi anion
dan kation. Analisa anion dan kation bertujuan untuk menganalisa adanya ion
dalam sample.

Analisa Anion dominan menggunakan cara yang lebih mudah dibanding


analisa terhadap kation dan berlangsungnya juga sangat singkat sehingga kita
dapat secara cepat mendapatkan hasil percobaan.

Hal dasar yang diperlukan dari titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan
pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak adanya
interferensi yang menggangu titrasi, dan titik akhir titrasi yang mudah diamati.

Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut
antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi
penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari
analit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl.
BAB II

LANDASAN TEORI

A. DEFENISI PERCOBAAN

Pengendapan merupakan salah satu cara untuk memisahkan suatu campuran


menjadi dua fasa yaitu fasa padat berupa endapan dan fasa cair. Pengendapan
terjadi karena zat yang berada dalam bentuk persenyawaan mempunyai nilai hasil
kali konsentrasi ion-ionnya melebihi harga hasil kali kelarutan (Ksp) yang
harganya tertentu dan dalam keadaan jenuh. Ksp merupakan hasil kali konsentrasi
ion-ion dalam larutan jenuh pada suhu tertentu, setelah masing-masing
konsentrasi dipangkatkan dengan koefisiennya menurut persamaan ionisasinya.

Kelarutan (s) didefinisikan sebagai konsentrasi molar dari larutan jenuhnya.


Pembentukan endapan adalah salah satu teknik untuk memisahkan analit dari zat
lain,dan endapan ditentukan dengan cara di timbang dan dilakukan perhitungan
stokiometri.Cara ini dikenal dengan nama Gravimetri.

aA + rR → AaRr

Dengan :A : Molekul zat analit A

R : Molekul analit R

AaRr : Zat yang mengendap

Pereaksi R berlebih biasanya untuk menekan kelarutan endapan. Keberhasilan


analisa Gravimetri bergantung pada kesempurnaan proses pemisahan hingga
kuantitas yang tidak mengendap tak ditemukan (biasanya 0,1 mg). Zat yang
ditimbang mempunyai susunan tertentu yang diketahui murni.
Jika suatu larutan telah lewat jenuh ,maka akan terbentuk larutan. Larutan
merupakan zatyang memisahkan diri atau terpisah dari suatu larutan yang
mempunyai fase padat. Suatu zat yang akan mengendap apabila hasil kali
kelarutan ion-ionnya lebih besar dari Ksp. Kelarutan nya mempunyai lambang “s”
dan didefinisikan sebagai konsentrasi molar dari Larutan jenuhnya.

Reaksi pengendapan telah digunakan secara meluas dalam kimia analisis dalam
titrasi-titrasi, dalam penetapan gravimetri, dan dalam memisahkan suatu sampel
menjadi komponen-komponenny.Suatu senyawa dapat diuraikan menjadi anion
dan kation. Analisa anion dan kation bertujuan untuk menganalisa adanya ion
dalam sample.

Analisa Anion dominan menggunakan cara yang lebih mudah dibanding


analisa terhadap kation dan berlangsungnya juga sangat singkat sehingga kita
dapat secara cepat mendapatkan hasil percobaan.

Hal dasar yang diperlukan dari titrasi jenis ini adalah pencapaian keseimbangan
pembentukan yang cepat setiap kali titran ditambahkan pada analit, tidak adanya
interferensi yang menggangu titrasi, dan titik akhir titrasi yang mudah diamati.

Dasar titrasi argentometri adalah pembentukan endapan yang tidak mudah larut
antara titran dengan analit. Sebagai contoh yang banyak dipakai adalah titrasi
penentuan NaCl dimana ion Ag+ dari titran akan bereaksi dengan ion Cl- dari
analit membentuk garam yang tidak mudah larut AgCl.

Ag(NO3)(aq) + NaCl(aq) -> AgCl(s) + NaNO3(aq)

Setelah semua ion klorida dalam analit habis maka kelebihan ion perak akan
bereaksi dengan indikator. Indikator yang dipakai biasanya adalah ion kromat
CrO42- dimana dengan indikator ini ion perak akan membentuk endapan
berwarna coklat kemerahan sehingga titik akhir titrasi dapat diamati. Indikator
lain yang bisa dipakai adalah tiosianida dan indikator adsorbsi.

Cara untuk meminimalisasi kelewat jenuhan dan mendapatkan cristal dalam


jumlah besar dapat dilakukan dengan cara:

 Pengendapan dilakukan dalam konsentrasi yang rendah/encer.


Penambahan pereaksi perlahan-lahan dan pengadukan yang lambat.
Pengadukan dilakukan pada larutan panas sebab bila suhu dinaikkan
kelarutan zat bertambah → nilai S bertambah
 Pengendapan dilakukan pada pH rendah, karena umumnya kelarutan zat
lebih mudah larut dalam kondisi asam → kecepatan pengendapan lambat
dari suatu larutan.

Ketajaman titik ekuivalen tergantung dari kelarutan endapan yang terbentuk


dari reaksi antara analit dan titrant. Endapan dengan kelarutan yang kecil akan
menghasilkan kurva titrasi argentometri yang memiliki kecuraman yang tinggi
sehingga titik ekuivalen mudah ditentukan, akan tetapi endapan dengan kelarutan
rendah akan menghasilkan kurva titrasi yang landai sehingga titik ekuivalen agak
sulit ditentukan.

Hal ini analog dengan kurva titrasi antara asam kuat dengan basa kuat dan
antara asam lemah dengan basa lemah.Endapan murni adalah endapan yang
bersih, artinya tidak mengandung molekul-molekul lain (zat-zat lain yang
biasanya disebut pengotor atau kontaminan). Pengotor oleh zat-zat lain mudah
terjadi, karena endapan timbul dari larutan yang berisi macam-macam zat.
Sedangkan endapan kasar adalah endapan yang butir- butirnya tidak kecil, halus
melainkan besar.

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGENDAPAN

Keberhasilan proses pengendapan sangat dipengaruhi oleh berbagai macam


faktor diantaranya temperatur, sifat alami pelarut, pengaruh ion lain, pH,
hidrolisis,dan pembentukan kompleks.

1. Temperatur
Kelarutan semakin meningkat dengan naiknya suhu, jadi dengan
meningkatnya suhu maka pembentukan endapan akan berkurang
disebabkan banyak endapan yang berada pada larutannya.
2. Sifat alami pelarut
Garam anorganik mudah larut dalam air dibandingkan dengan pelarut
organik seperti alkohol atau asam asetat. Perbedaan kelarutan suatu zat
dalam pelarut organik dapat dipergunakan untuk memisahkan campuran
antara dua zat. Setiap pelarut memiliki kapasitas yang berbeda dalam
melarutkan suatau zat, begitu juga dengan zat yang berbeda memiliki
kelarutan yang berbeda pada pelarut tertentu.

3. Pengaruh ion sejenis


Kelarutan endapan akan berkurang jika dilarutkan dalam larutan yang
mengandung ion sejenis dibandingkan dalam air saja. Sebagai contoh
kelarutan Fe(OH)3 akan menjadi kecil jika kita larutkan dalam larutan
NH4OH dibanding dengan kita melarutkannya dalam air, hal ini
disebabkan dalam larutan NH4OH sudah terdapat ion sejenis yaitu OH-
sehingga akan mengurangi konsentrasi Fe(OH)3 yang akan terlarut. Efek
ini biasanya dipakai untuk mencuci endapan dalam metode gravimetri.

4. Pengaruh pH
Kelarutan endapan garam yang mengandung anion dari asam lemah
dipengaruhi oleh pH, hal ini disebabkan karena penggabungan proton
dengan anion endapannya. Misalnya endapan AgI akan semakin larut
dengan adanya kenaikan pH disebabkan H+ akan bergabung dengan I-
membentuk HI.

5. Pengaruh hidrolisis
Jika garam dari asam lemah dilarutkan dalam air maka akan dihasilkan
perubahan konsentrasi H+ dimana hal ini akan menyebabkan kation garam
tersebut mengalami hidrolisis dan hal ini akan meningkatkan kelarutan
garam tersebut.

6. Pengaruh ion kompleks


Kelarutan garam yang tidak mudah larut akan semakin meningkat dengan
adanya pembentukan kompleks antara ligan dengan kation garam tersebut.
Sebagai contoh AgCl akan naik kelarutannya jika ditambahkan larutan
NH3, hal ini disebabkan karena terbentuknya kompleks Ag(NH3)2Cl.

Pembentukan endapan ini merupakan salah satu teknik yang digunakan untuk
memisahkan animalit dari gangguan zat-zat yang lain dan menentukan konsentrsi
analit dengan cara menimbang endapan tersebut .Kemudian dilakukan
perhitungan stokiometri.Cara memisahkan dengan pengendapan itu disebut
“Gravimetri”.

Analisis gravimetri adalah proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau
senyawa tertentu. Bagian terbesar dari penentuan senyawa gravimetri meliputi
transformasi unsur atau radikal senyawa murni stabil yang dapat segera diubah
menjadi bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti.

Pada saat sedimen diendapkan, maka ia akan mengikuti hukum alam.


Contohnya, material yang berat akan terendapkan lebih dahulu dibanding yang
ringan.Kecepatan pengendapan material sedimen tergantung pada besar butirnya,
menurut hukum stoke, v = C.r2 cm/s dimana v adalah kcepatan pengendapan, C
suatu konstanta dan r garis tengah butiran.

Berdasarkan pengamatan Nicolaus Steno, ia mengemukakan tiga prinsip dasar


pengendapan yang lebih dikenal sebagai hukum Steno:

1. Hukum Superposisi, yang menyatakan bahwa secara normalnya, batuan


yang berada pada lapisan bawah adalah batuan yang lebih tua
dibandingkan lapisan atasnya. Terkecuali jika terjadi beberapa hal, seperti
interusi batuan beku dll.
2. Hukum Horizontalitas, pada awalnya, sedimen terendapkan secara
mendatar. Jika perlapisan batuan tersebut miring, patah, terlipat, berarti
batuan tersebut telah mengalami deformasi.

3. Hukum Kemenerusan lateral (lateral continuity), yang menyatakan


bahwa mengendapan batuan sedimen menyebar secara mendatar, sampai
menipis atau menghilang pada batas dimana ia diendapkan. Selain itu juga,
kita dapat mengidentifikasi apakah lapisan batuan tertentu terbentuk pada
masa yang sama. Yaitu dengan cara korelasi fosil yang ditemukan pada
batuan tersebut.
Ketiga prinsip dasar tersebut sangat membantu dalm mempelajari atau
menentukan urutan umur lapisan batuan sedimen.
BAB III

MATERI DAN METODA

A. MATERI

1. ALAT
- Seperangkat Peralatan Silinder Andreason Pipet
- Stop watch
- Corong
- Timbangan
- Oven Pengering
- Neraca Analitik
- Gelas Ukur 100 ml
- Thermometer
- Beaker Glass

2. BAHAN
- Bubuk batu bata
- Aquadest
- Bongkahan batu bata
- Kertas saring

B. METODA

1. Kertas saring di timbang dan beratnya di catat.


2. Kedalam Silinder Andreasen Pipet di isi aquadest sampai yang ditentukan
asisten.
3. Sampel (bubuk batu bata) dimasukkan kedalam silinder.
4. Silinder di tutup dan di aduk lebih kurang 3 s/d 5 menit.
5. Silinder diletakkan pada posisi benar-benar tegak lurus.
6. Setelah 7 menit pengadukkan, sampel di ambil secara serentak dengan
menghisap melalui pipet pada ketinggian yang berbeda.
7. Kemudian di saring dan dikeringkan dalam oven.
8. Setelah benar-benar kering, kertas saring beserta endapannya di timbang
kembali dan beratnya di catat.
9. Percobaan di atas diulangi kembali dengan sampel yang sama untuk waktu
pengendapan 14 menit dan 21 menit.

C. GAMBAR RANGKAIAN
BAB IV

HASIL KERJA PRAKTEK DAN PEMBAHASAN

A. HASIL KERJA PRAKTEK

TIME SEDIM SAMPEL

No. Std Ope.O Distance Dish No. Dish Total Net Solid
H.M. H.M. Weight Weight Weight
e.h (gr) m3/10cc
(gr)
(cm)

1. 7 h1 9,5 1 1,2166 1,3372 0,1206

2. 7 h2 5,4 2 1,2261 1,3492 0,1231

3. 14 h1 9,5 3 1,2278 1,2796 0,0518

4. 14 h2 5,4 4 1,2246 1,2447 0,0201

5. 21 h1 9,5 5 1,2310 1,2764 0,0454

6. 21 h2 5,4 6 1,2339 1,2587 0,0248

- Berat sampel : 15,0337 gr


- Volume sampel : 250 ml
- V1 : 5 ml
- V2 : 7 ml
- Suhu air : 32oC
- Viscositas air : 0,7679 cP
- Berat sampel uji : 3,4759 gr
- Density air : 0,99564 gr/ml
- Density bahan : 1,73795 gr/ml

B. PEMBAHASAN

1. Menghitung Densitas Partikel (gr/cm3)


ρp = m.bongkahan
V2 – V1
ρp = 3,4759gr
7 ml-5ml

ρp = 1,73795gr/cm3

2. Menghitung Konsentrasi (Co)

Co = m. sampel
v. sampel
= 15,0337 gr
250 ml
= 0,06013 gr/cm3

3. Menghitung Diameter Partikel (Dp)

18𝜇 ℎ
Dp = √(𝜌P –ρair) × 𝜃
a. Untuk h: 9,5 cm ; θ: 7 menit
gr
18 (0,007679 ) × 9,5 cm
cmdet
Dp =√ gr gr cm
(1,73795 − 0,99502 )(980,70 ) 420 det
cm3 cm3 det2

1,313109
= √306008,388cm2
=
0,002071 cm

b. Untuk h: 5,4 cm ; θ: 7 menit


gr
18 (0,007679 ) × 5,4 cm
cmdet
Dp = √ gr gr cm
(1,73795 − 0,99502 )(980,70 ) 420 det
cm3 cm3 det2

0,7463988
= √306008,388cm2

= 0,001561 cm

c. Untuk h: 9,5 cm ; θ: 14 menit


gr
18 (0,007679 ) × 9,5 cm
cmdet
Dp =√ gr gr cm
(1,73795 − 0,99502 )(980,70 ) 840 det
cm3 cm3 det2

1,313109
= √612016,776cm2

= 0,001467 cm

d. Untuk h: 5,4 cm ; 𝜃: 14 menit


gr
18 (0,007679 ) × 5,4 cm
cmdet
Dp = √ gr gr cm
(1,73795 − 0,99502 )(980,70 ) 840 det
cm3 cm3 det2

0,7463988
= √612016,776cm2

= 0,001104 cm

e. Untuk h: 9,5 cm ; θ: 21 menit


gr
18 (0,007679 ) × 9,5 cm
cmdet
Dp = √ gr gr cm
(1,73795 − 0,99502 )(980,70 ) 1260 det
cm3 cm3 det2

1,313109
= √918025,164cm2

= 0,001195 cm
f. Untuk h: 5,4 cm ; θ: 21 menit
gr
18 (0,007679 ) × 5,4 cm
cmdet
Dp = √ gr gr cm
(1,73795 − 0,99502 )(980,70 ) 1260 det
cm3 cm3 det2

0,7463988
= √ cm2
918025,164

= 0,0009016 cm

4. Menghitung % Berat

𝑚′
% Berat = × 100 %
𝑀

a. Untuk kertas saring no. 1


0,1206 𝑔𝑟
% berat=15,0337 𝑔𝑟 × 100 %

= 0,8022 %

b. Untuk kertas saring no. 2


0,1231 𝑔𝑟
% berat =15,0337 𝑔𝑟 × 100 %

= 0,8188 %
c. Untuk kertas saring no. 3
0,0518 𝑔𝑟
% berat =15,0337 𝑔𝑟 × 100 %

= 0,3445 %
d. Untuk kertas saring no. 4
0,0201 𝑔𝑟
% berat =15,0337 𝑔𝑟 × 100 %
= 0,1337 %
e. Untuk kertas saring no. 5
0,0454 𝑔𝑟
% berat =15,0337 𝑔𝑟 × 100 %

= 0,3019 %
f. Untuk kertas saring no. 6
0,0248 𝑔𝑟
% berat =15,0337 𝑔𝑟 × 100 %

= 0,1649 %

5. Menghitung Bilangan Reynold

𝑚′
R = 1 − 𝐶𝑜 ×10 𝑐𝑚3

a. Untuk kertas saring no. 1


0,1206 𝑔𝑟
R = 1− 0,06013 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 ×10 𝑐𝑚3

0,1206
= 1– 0,6013

= 1 – 0,2005
= 0,7995

b. Untuk kertas saring no. 2


0,1231 𝑔𝑟
R = 1− 0,06013 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 ×10 𝑐𝑚3
0,1231
= 1– 0,6013

= 1 – 0,2047
= 0,7953
c. Untuk kertas saring no. 3
0,0518 𝑔𝑟
R = 1− 0,06013 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 ×10 𝑐𝑚3
0,0518
= 1– 0,6013

= 1 – 0,0861

= 0,9139

d. Untuk kertas saring no. 4


0,0201 𝑔𝑟
R = 1− 0,06013 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 ×10 𝑐𝑚3
0,0201
= 1– 0,6013

= 1 – 0,0334

= 0,9666

e. Untuk kertas saring no. 5


0,0454 𝑔𝑟
R = 1− 0,06013 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 ×10 𝑐𝑚3
0,0454
= 1– 0,6013

= 1 – 0,0755
= 0,9245
f. Untuk kertas saring no. 6
0,0248 𝑔𝑟
R = 1− 0,06013 𝑔𝑟/𝑐𝑚3 ×10 𝑐𝑚3
0,0248
= 1– 0,6013

= 1 – 0,0412
= 0,9588
C. GRAFIK
D. TABULASI DATA

Such Time SEDIM SAMPEL Perhitungan


No
Std Ope.O. Distance Dish no Dishweigh (gr) Total weigh (g) Net solid weight R %berat (%) Diameter partikel
H.M (cm) (gr)
H.M (dp) cm

1. 7 h1 9,5 1 1,2166 1,3372 0,1206 0,7995 0,8022 0,002071

2. 7 h2 5,4 2 1,2261 1,3492 0,1231 0,7953 0,8188 0,001561

3 14 h1 9,5 3 1,2278 1,2796 0,0518 0,9139 0,3445 0,001464

4 14 h2 5,4 4 1,2246 1,2447 0,0201 0,9666 0,1337 0,001104

5 21 h1 9,5 5 1,2310 1,2764 0,0454 0,9245 0,3019 0,001195

6 21 h2 5,4 6 1,2339 1,2587 0,0248 0,9588 0,1649 0,000901

- Berat sampel : 15,0337 gr - Viscositas air : 0,7679 cP


- Volume sampel : 250 ml - Berat sampel uji : 3,4759 gr
- V1 : 5 ml - Density air : 0,99564 gr/ml
- V2 : 7 ml - Density bahan : 1,73795 gr/ml
- Suhu air : 32oC
BAB V

KESIMPULAN

Dari hasil percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Semakin panjang jarak pipet ke batas permukaan air maka lebih banyak
endapan yang terhisap kepada jarak pipet semakin dekat dengan endapan.
2. Semakin lama waktu untuk mengendapkan larutan maka akan semakin
banyak endapan yang mengendap.
3. Viscositas fluida sangat mempengaruhi, Jika viscositas besar, maka waktu
pengendapan menjadi lebih lama dan sebaliknya.
DAFTAR PUSTAKA

Handini, Tri. 2014. Pemisahan Itrium Dari Konsentrat Logam Tanah Jarang
Dengan Pengendapan Fraksional Hidroksida. Yogyakarta: Pustek
Akselerator dan Proses Bahan.

Kevin Alexander, dkk. 2014. Hydrometer. Jakarta : Universitas Indonesia.

Stanley, M. Walas.(1988).“ Chemical Process Equipment “. 10th Butterworth


Publisher USA.
Soetrisno, Yudhi. 2015. Aplikasi Metode Pengendapan Pada Analisis
Fitoplankton dan Tingkat Kesuburan Waduk Sagulung.
Wahyudi, Budi. 2014. Berbagai Teknologi Proses Pemisahan. Yogyakarta:
Fakultas Teknik UGM
Warren, L, Mc Cabe, Julian C. Smith, dan Peter harriot.(1999). ”Operasi Teknik
Kimia”.Jilid 1, Cetakan ke-4.Jakarta:PT. Erlangga.