Está en la página 1de 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Campak adalah organisme yang sangat menular ditularkan melalui rute udara
dari seseorang yang terinfeksi pada orang lain yang rentan (Smeltzer, 2013).
Penyakit campak adalah penyakit menular dengan gejala kemerahan berbentuk
mukolo papular selama tiga hari atau lebih yang disertai panas 380c ata lebih dan
disertai salah satu gejala batuk, pilek, dan mata merah (WHO, 2009).

Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium,
yaitu stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi,
yang dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik ( Ilmu
Kesehatan Anak Edisi 2, th 1991. FKUI ).

B. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana asuhan keperawatan campak?

C. TUJUAN

Tujuan umum :

Mahasiswa keperawatan mengerti tentang campak

Tujuan khusus :

- Untuk mengetahui pengertian campak


- Untuk mengetahui etiologi campak
- Untuk mengetahui cara penularan campak
- Untuk mengetahui patofisiologi campak
- Untuk mengetahui manifestasi klinis campak

1
- Untuk mengetahui komplikasi campak
- Untuk mengetahui pemeriksaan diagnostik campak
- Untuk mengetahui penatalaksanaan medis campak
- Untuk mengetahui asuhan keperawatan campak

2
BAB II

PEMBAHASAN

1. Pengertian

Campak adalah organisme yang sangat menular ditularkan melalui rute udara
dari seseorang yang terinfeksi pada orang lain yang rentan (Smeltzer, 2013).
Penyakit campak adalah penyakit menular dengan gejala kemerahan berbentuk
mukolo papular selama tiga hari atau lebih yang disertai panas 380c ata lebih dan
disertai salah satu gejala batuk, pilek, dan mata merah (WHO, 2009).

Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium,
yaitu stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi,
yang dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik ( Ilmu
Kesehatan Anak Edisi 2, th 1991. FKUI ).

Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan
gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam,
scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi ( Ilmu Kesehatan Anak vol 2, Nelson,
EGC, 2010)

Campak disebut juga rubeola, morbili, atau measles. Penyakit ini ditularkan
melalui droplet ataupun kontak dengan penderita. Penyakit ini memiliki masa
inkubasi 8-13 hari. Campak ditandai dengan gejala awal demam, batuk, pilek, dan
konjungtivitis yang kemudian diikuti dengan bercak kemerahan pada kulit (rash).
Dampak penyakit campak di kemudian hari adalah kurang gizi sebagai akibat
diare berulang dan berkepanjangan pasca campak, sindrom radang otak pada anak
diatas 10 tahun, dan tuberkulosis paru menjadi lebih parah setelah sakit campak
berat.

3
2. Etiologi

Penyebabnya adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring


dan darah selama masa prodormal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak.
Virus ini berupa virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus
Morbilivirus. Cara penularannya adalah dengan droplet infeksi. Virus campak
termasuk golongan paramyxovirus. Virus ini berbentuk bulat dengan tepi yang
kasar dan begaris tengah 140 mm, dibungkus oleh selubung luar yang terdiri dari
lemak dan protein, didalamnya terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri
dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA), merupakan sruktur
heliks nukleoprotein yang berada dari myxovirus.

Selubung luar sering menunjukkan tonjolan pendek, sa tu protein yang


berada di selubung luar muncul sebagai hemaglutinin.

Virus Campak adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan yang
kuat, apabila berada diluar tubuh manusia virus Campak akan mati. Pada
temperatur kamar virus Campak kehilangan 60% sifat infektisitasnya selama 3 – 5
hari. Tanpa media protein virus Campak hanya dapat hidup selama 2 minggu dan
hancur oleh sinar ultraviolet. Virus Campak termasuk mikroorganisme yang
bersifat ether labile karena selubungnya terdiri dari lemak, pada suhu kamar dapat
mati dalam 20% ether selama 10 menit, dan 50% aseton dalam 30 menit.
Sebelum dilarutkan, vaksin Campak disimpan dalam keadaan kering dan
beku, relatif stabil dan dapat disimpan di freezer atau pada suhu lemari es (2-8°C;
35,6-46,4°F) secara aman selama setahun atau lebih. Vaksin yang telah dipakai
harus dibuang dan jangan dipakai ulang.

3. Cara Penularan Penyakit Campak

Virus Campak ditularkan dari orang ke orang, manusia merupakan satu-


satunya reservoir penyakit Campak . Virus Campak berada disekret nasoparing
dan di dalam darah minimal selama masa tunas dan dalam waktu yang singkat
setelah timbulnya ruam. Penularan terjadi melalui udara, kontak langsung dengan

4
sekresi hidung atau tenggorokan dan jarang terjadi oleh kontak dengan benda-
benda yang terkontaminasi dengan sekresi hidung dan tenggorokan. Penularan
dapat terjadi antara 1 – 2 hari sebelumnya timbulnya gejala klinis sampai 4 hari
setelah timbul ruam. Penularan virus Campak sangat efektif sehingga dengan
virus yang sedikit sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang.

4. Patofisiologi

Penyebab campak adalah measles virus (MV), genus virus morbili, famili
paramyxoviridae. Virus ini menjadi tidak aktif bila terkena panas, sinar, pH asam,
ether, dan trypsin dan hanya bertahan kurang dari 2 jam di udara terbuka. Virus
campak ditularkan lewat droplet, menempel dan berkembang biak pada epitel
nasofaring. Virus ini masuk melalui saluran pernafasan terutama bagian atas, juga
kemungkinan melalui kelenjar air mata.

Dua sampai tiga hari setelah invasi, replikasi dan kolonisasi berlanjut pada
kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. Virus menyebar pada
semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah 5-7 hari dari
infeksi awal. Adanya giant cells dan proses peradangan merupakan dasar
patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru.

Juga terdapat udema, bendungan dan perdarahan yang tersebar pada otak.
Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan kulit menyebabkan batuk, pilek, mata
merah (3 C : coryza, cough and conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin
tinggi. Gejala panas, batuk, pilek makin lama makin berat dan pada hari ke 10
sejak awal infeksi (pada hari penderita kontak dengan sumber infeksi) mulai
timbul ruam makulopapuler warna kemerahan.

Virus dapat berkembang biak juga pada susunan saraf pusat dan
menimbulkan gejala klinik encefalitis. Setelah masa konvelesen pada turun dan
hipervaskularisasi mereda dan menyebabkan ruam menjadi makin gelap, berubah
menjadi desquamasi dan hiperpigmentasi. Proses ini disebabkan karena pada
awalnya terdapat perdarahan perivaskuler dan infiltrasi limfosit

5
5. Manifestasi Klinis

Masa tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari


dan kemidian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium :

1) Stadium kataral (prodormal)

Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demam


ringa hingga sedang, batuk kering ringan, coryza, fotofobia dan konjungtivitis.
Menjelang akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbul enantema, timbul
bercak koplik yang patognomonik bagi morbili, tetapi sangat jarang dijumpai.
Bercak koplik berwarna putih kelabu, sebesar ujung jarum dan dikelilingi oleh
eritema.Lokalisasinya dimukosa bukalis berhadapandengan molar dibawah, tetapi
dapat menyebar tidak teratur mengenai seluruh permukaan pipi. Meski jarang,
mereka dapat pula ditemukan pada bagian tengah bibir bawah, langit-langit dan
karankula lakrimalis. Bercak tersebut muncul dan menghilang dengan cepat dalam
waktu 12-18 jam. Kadang-kadang stadium prodormal bersifat berat karena diiringi
demam tinggi mendadak disertai kejang-kejang dan pneumoni. Gambaran darah
tepi ialah limfositosis dan leukopenia.

2) Stadium erupsi

Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul eritema / titik merah


dipalatum durum dan palatum mole. Terjadinya eritema yang berbentuk makula
papula disertai dengan menaiknya suhu tubuh. Eritema timbul dibelakang telinga
dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah.
Kadang-kadang terdapat perdarahan primer pada kulit. Rasa gatal, muka bengkak.
Terdapat pembesaran kelenjar getah bening disudut mandibula dan didaerah leher
belakang. Juga terdapat sedikit splenomegali, tidak jarang disertai diare dan
muntah. Variasi dari morbili yang biasa ini adalah “Black Measles” yaitu morbili
yang disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.

3) Stadium konvalesensi

Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua


(hiperpigmentasi) yang bisa hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada anak

6
Indonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi ini
merupakan gejala patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit lain
dengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpa hiperpigmentasi.
Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila ada komplikasi.

6. Komplikasi

a. Otitis media akut

b. Pneumonia / bronkopneumoni

c. Encefalitis

d. Bronkiolitis

e. Laringitis obstruksi dan laringotrakkhetis

7. Pemeriksaan Diagnostik

Pada pemeriksaan darah didapatkan jumlah leukosit normal atau


meningkat apabila ada komplikasi infeksi bakteri. Pemeriksaan antibodi IgM
merupakan cara tercepat untuk memastikan adanya infeksi campak akut. Karena
IgM mungkin belum dapat dideteksi pada 2 hari pertama munculnya rash, maka
untuk mengambil darah pemeriksaan IgM dilakukan pada hari ketiga untuk
menghindari adanya false negative. Titer IgM mulai sulit diukur pada 4 minggu
setelah muncul rash.

Sedangkan IgG antibodi dapat dideteksi 4 hari setelah rash muncul,


terbanyak IgG dapat dideteksi 1 minggu setelah onset sampai 3 minggu setelah
onset. IgG masih dapat ditemukan sampai beberapa tahun kemudian. Virus
measles dapat diisolasi dari urine, nasofaringeal aspirat, darah yang diberi
heparin, dan swab tenggorok selama masa prodromal sampai 24 jam setelah
timbul bercak-bercak. Virus dapat tetap aktif selama sekurang-kurangnya 34 jam
dalam suhu kamar.

7
8. Penatalaksanaan

Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi


demam tinggi. Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat.
Mungkin diperlukan humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk
mengganggu dan lebih baik mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.

Penatalaksanaan Teraupetik :

a. Pemberian vitamin A

b. Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik

c. Pemberian antibiotik pada anak-anak yang beresiko tinggi

d. Pemberian obat batuk dan sedativum

Penatalaksanaan Keperawatan :

a. Kebutuhan Nutrisi

Campak menyebabkan anak menderita malaise dan anoreksia. Anak sering


mengeluh mulut pahit sehingga tidak mau makan atau minum. Demam yang
tinggi menyebabkan pengeluaran cairan lebih banyak. Keadaan ini jika tidak
diperhatikan agar anak mau makan ataupun minim akan menambah kelemahan
tubuhnya dan memudahkan timbulnya komplikasi.

b. Gangguan suhu tubuh

Campak selalu didahului demam tinggi. Demam yang disebabkan infeksi virus ini
pada akhirnya akan turun dengan sendirinya setelah campaknya keluar banyak,
kecuali bila terjadi komplikasi demam akan tetap berlangsung lebih lama. Untuk
menurunkan suhu tubuh biasanya diberikan antipiretik dan jika tinggi sekali
diberiakan sedative untuk mencegah terjadinya kejang.

8
c. Gangguan rasa aman nyaman

Gangguan ini dirasakan anak karena adanya demam, tak enak badan, pusing,
mulut terasa pahit dan kadang muntah-muntah. Biasanya anak juga tidak tahan
meluhat sinar karena silau, batuk bertambah banyak dan akan berlangsung lebih
lama dari campaknya sendiri. Anak kecil akan sangat rewel, pada waktu malam
anak sering minta digendong saja. Jika eksantem telah keluar anak akan merasa
gatal, hal ini juga menambah gangguan aman dan kenyamanan anak.

Untuk mengurangi rasa gatal tubuh anak dibedaki dengan bedak salisil 1%
atau lainnya ( atas resep dokter ). Selama masih demam tinggi jangan dimandikan
tetapi sering-sering dibedaki saja.

d. Resiko terjadinya komplikasi

Campak sering menyebabkan daya tahan tubuh sangat menurun. Hal ini dapat
dibuktikan dengan uji tuberculin yang semula positif berubah menjadi negative.
Ini menunjukkan bahwa antigen antibody pasien sangat kurang kemampuannya
untuk bereaksi terhadap infeksi. Oleh karena itu resiko terjadinya komplikasi
lebih besar terutama jika keadaan umum anak kurang baik, seperti pada pasien
dengan malnutrisi atau dengan penyakit kronik lainya

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

1. Pengkajian

a. Identitas penderita

Biasanya Meliputi nama anak, umur : rentan pada anak berumur 1-14 th
dengan status gizi yang kurang dan sering mengalami penyakit infeksi, jenis
kelamin (L dan P pervalensinya sama), suku bangsa, no register, tanggal masuk
rumah sakit, diagnosa medis DLL.

b. Keluhan utama

9
Keluhan utama pada pasien dengan morbili yaitu demam terus-menerus
berlangsung 2 – 4 hari. (Pusponegoro, 2004 : 96). Anak masuk rumah sakit
biasanya dengan keluhan adanya eritema dibelakang telinga, di bagaian atas
lateral tengkuk, sepanjang rambut dan bagian belakang bawah, badan panas,
enantema ( titik merah ) dipalatum durum dan palatum mole.

c. Riwayat kesehatan dahulu

Anamnesa pada pengkajian apakah klien pernah dirawat di Rumah Sakit


atau pernah mengalami operasi (Potter, 2005 : 185). Anamnesa riwayat
penyakit yang pernah diderita pada masa lalu, riwayat imunisasi campak
(Wong, 2003 : 657). Anamnesa riwayat kontak dengan orang yang terinfeksi
campak. (Suriadi, 2001 : 213). Biasanya Anak belum pernah mendapatkan
vaksinasi campak dan pernah kontak dengan pasien campak.

d. Riwayat kesehatan sekarang

Anamnesa adanya demam terus-menerus berlangsung 2 – 4 hari, batuk, pilek,


nyeri menelan, mata merah, silau bila kena cahaya (fotofobia), diare, ruam
kulit. (Pusponegoro, 2004 : 96). Adanya nafsu makan menurun, lemah, lesu.
(Suriadi, 2001 : 213

Pada anak yang terinfeksi virus campak biasanya ditanyakan pada orang
tua atau anak tentang kapan timbulnya panas, batuk, konjungtivitis, koriza,
bercak koplik dan enantema serta upaya yang telah dilakukan untuk
mengatasinya.

e. Riwayat kesehatan keluarga

Dapatkan data tentang hubungan kekeluargaan dan hubungan darah,


apakah klien beresiko terhadap penyakit yang bersifat genetik atau familial.
(Potter, 2005 : 185)

f. Riwayat imunisasi

Imunisasi apa saja yang sudah didapatkan misalnya BCG, POLIO I,II, III;
DPT I, II, III; dan campak.

10
g. Riwayat nutrisi

Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari.Pembatasan kalori


untuk umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan
ideal menggunakan rumus 8 + 2n.

Status Gizi

Klasifikasinya sebagai berikut :

Gizi buruk kurang dari 60%

Gizi kurang 60 % - <80 %

Gizi baik 80 % - 110 %

h. Pengkajian Fungsional Gordon

Pola-pola fungsional kesehatan Gordon :

- Persepsi kesehatan – pola managemen kesehatan, menggambarkan pola


pemahaman klien tentang kesehatan, dan kesejahteraan, dan bagaimana
kesehatan mereka diatur.
- Pola metabolik – Nutrisi, menggambarkan konsumsi relatif terhadap
kebutuhan metabolik dan suplai gizi, meliputi pola konsumsi makanan dan
cairan, keadaan kulit, rambut, kuku, dan membran mukosa, suhu tubuh,
tinggi, dan berat badan.
- Pola eliminasi, menggambarkan pola fungsi ekskresi (usus besar, kandung
kemih, dan kulit); termasuk pola individu sehari-hari, perubahan atau
gangguan, dan metode yang digunakan untuk mengendalikan ekskresi.
- Pola aktivitas – olahraga, menggambarkan pola olahraga, aktivitas,
pengisian waktu senggang, dan rekreasi, termasuk aktivitas kehidupan
sehari-hari, tipe dan kualitas olah raga, dan faktor-faktor yang
mempengaruhi pola aktivitas (seperti otot – saraf, respirasi, dan sirkulasi).

11
- Pola tidur – istirahat, menggambarkan pola persepsi-sensori dan pola
kognitif; meliputi keadekuatan bentuk sensori (penglihatan, pendengaran,
perabaan, pengecapan, dan penghidu), pelaporan mengenai persepsi nyeri,
dan kemampuan fungsi kognitif.
- Pola persepsi – kognitif, menggambarkan pola persepsi sensori dan pola
kognitif; meliputi keadekuatan bentuk sensori (penglihatan, pendengaran,
perabaan, pengecapan, dan penghidu), pelaporan mengenai persepsi nyeri,
dan kemampuan fungsi kognitif.
- Pola persepsi diri – konsep diri, menggambarkan bagaimana seseorang
memandang dirinya sendiri; kemampuan mereka, gambaran diri, dan
perasaan.
- Pola hubungan peran, menggambarkan pola keterikatan peran dengan
hubungan; meliputi persepsi terhadap peran utama dan tanggung jawab
dalam situasi kehidupan saat ini.
- Pola reproduksi – seksualitas, menggambarkan kepuasan atau
ketidakpuasan dalam seksualitas : termasuk status reproduksi wanita.
- Pola koping – toleransi stres, menggambarkan pola koping umum dan
keefektifan keterampilan koping dalam mentoleransi stres.
- Pola nilai – kepercayaan, menggambarkan pola nilai, tujuan atau
kepercayaan (termasuk kepercayaan spiritual) yang mengarahkan pilihan
dan keputusan gaya hidup.
(Potter, 1996 : 16)

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik adalah mengukur tanda-tanda vital dan pengukuran


lainnya serta pemeriksaan semua bagian tubuh dengan menggunakan teknik
inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. (Potter, 2005 : 159)

a. Status kesehatan umum

Meliputi keadaan penderita, kesadaran, tinggi badan, berat badan, dan


tanda-tanda vital.

12
b. Kepala dan leher

- Inspeksi :

Kaji bentuk kepala, keadan rambut, kulit kepala, konjungtivitis, fotofobia,


adakah eritema dibelakang telinga, di bagian atas lateral tengkuk, sepanjang
rambut dan bagian belakang bawah.

- Palpasi :

Adakah pembesaran kelenjar getah bening di sudut mandibula dan


didaerah leher belakang,

c. Mulut

Adakah bercak koplik di mukosa bukalis berhadapan dengan molar bawah,


enantema di palatum durum dan palatum mole, perdarahan pada mulut dan
traktus digestivus.

d. Toraks

- Inspeksi :

Bentuk dada anak, Adakah batuk, secret pada nasofaring, perdarahan pada
hidung. Pada penyakit campak, gambaran penyakit secara klinis menyerupai
influenza.

- Auskultasi :

Ronchi / bunyi tambahan pernapasan.

e. Abdomen

- Inspeksi :

Bentuk dari perut anak. Ruam pada kulit.

- Auskultasi

13
Bising usus.

- Perkusi

Perkusi abdomen hanya dilakukan bila terdapat tanda abnormal, misalnya


masa atau pembengkakan.

f. Kulit

- Inspeksi :Eritema pada kulit, hiperpigmentasi, kulit bersisik.

- Palpasi : Turgor kulit menurun

2. Diagnosa Keperawatan
- Ketidakefektifan pola napas b.d. sindrom hipoventilasi
- Hipertermi b.d. penyakit
- Kerusakan integritas kulit b.d. gangguan metabolisme

No Diagnosa Keperawatan NOC NIC

1 Ketidakefektifan pola Status pernafasan : Manajemen Jalan Napas


napas b.d. sindrom ventilasi
- Buka jalan napas dengan teknik
hipoventilasi
KH : chin lift atau jaw thrust
- Posisikan pasien untuk
- Frekuensi
memaksimalkan ventilasi
pernafasan
- Masukkan alat NPA
- Irama pernafasan
- Lakukan fisioterapi dada
- Kedalaman
- Buang sekret
pernafasan

Terapi Oksigen

- Bersihkan mulut, hidung, dan


sekresi trakea
- Batasi aktivitas merokok

14
- Pertahankan kepatenan jalan
napas
- Siapkan peralatan oksigen dan
berikan melalui sistem
humadifier
- Berikan oksigen tambahan
Monitor Pernapasan

- Monitor kecepatan, irama,


kedalamana dan kesulitan
napas
- Monitor suara napas tambahan
- Monitor pola napas
- Catat pergerakan dada,
penggunaan otot bantu napas
- Monitor sekresi pernapasan
pasien
2 Hipertermi b.d. penyakit Termoregulasi Perawatan Demam

KH : - Pantau suhu dan tanda-tanda


vital
- Merasa merinding
- Monitor warna kulit dan suhu
saat dingin
- Monitor asupan dan keluaran
- Berkeringat saat
- Beri obat
panas
- Jangan aspirin untuk anak-anak
- Tingkat
pernafasan Kontrol Infeksi

- Alokasikan kesesuaian luas


ruang per pasien
- Bersihkan lingkungsn dengan
baik
- Ganti peralatan perawatan per
pasien

15
- Isolasi rang yang terkena
penyakit menular
- Batasi jumlah pengunjung

Pengaturan Suhu

- Monitor suhu paling tidak


setiap 2 jam
- Monitor suhu bayi baru lahir
- Pasang alat monitor suhu inti
secara kontinu
- Monitor td
- Monitor suhu dan warna kulit

3 Kerusakan integritas kulit Integritas jaringan : Manajemen Elektrolit


b.d. gangguan kulit & membran
- Monitor nilai serum elektrolit
metabolisme mukosa
yang abnormal
KH :
- Monitor manifestasi
- Suhu kulit ketidakseimbangan elektrolit
- Hidrasi
- Pertahankan kepatenan akses IV
- Keringat
- Berikan cairan sesuai resep jika
diperlukan

- Pertahankan pencatatan asupan


dan keluaran yang akurat

Monitor Cairan

- Tentukan jumlah dan jenis


intake atau asupan cairan serta
kebiasaan eliminasi

- Monitor BB

16
- Monitor asupan dan keluaran

- Monitor nilai kadar serum dan


elektrolit urin

- Monitor kadar serum albumin


dan protein total

Manajemen Nutrisi

- Tentukan status gizi pasien dan


kemampuan pasien untuk
memenuhi kebutuhan gizi

- Identifikasi adanya alergi atau


intoleransi makanan yang dimikili
pasien

- Tentukan apa yang menjadi


preferensi makanan bagi
pasien

- Instruksikan pasien mengenai


kebutuhan nutrisi (yaitu
membahas pedoman diet dan
piramida makanan)

- Tentukan jumlah kalori dan


jenis nutrisi yang dibutuhkan
untuk memenuhi persyaratan gizi

17
WOC

18
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Campak adalah organisme yang sangat menular ditularkan melalui rute udara
dari seseorang yang terinfeksi pada orang lain yang rentan (Smeltzer, 2013).
Penyakit campak adalah penyakit menular dengan gejala kemerahan berbentuk
mukolo papular selama tiga hari atau lebih yang disertai panas 380c ata lebih dan
disertai salah satu gejala batuk, pilek, dan mata merah (WHO, 2009).

Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium,
yaitu stadium prodormal ( kataral ), stadium erupsi dan stadium konvalisensi,
yang dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis dan bercak koplik ( Ilmu
Kesehatan Anak Edisi 2, th 1991. FKUI ).

19
DAFTAR PUSTAKA

Poorwo Soedarmo, SS., dkk. (Ed.). Buku Ajar Infeksi & Pediatri Tropis. Edisi
Kedua.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta. 2008;109-121.

Rampengan, T.H. Penyakit Infeksi Tropik pada Anak Edisi 2. EGC. Jakarta.
2008;4;79-87.

Hasan,R.2005. Buku Kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta : Bagian


Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Universitas Indonesia.

Wong, D.L. 2003. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC.

Hidayat, Aziz Alimul A. 2008. Pengantar Ilmu Keperawatan Anak. Jakarta


: Salemba Medika.

20